The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by firdaus.3nur, 2023-08-30 09:10:15

SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN

SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN

Nama Peneliti Judul MeTriwidarti, Suyadi, dan Sukidin (2015) Peran Kelompok Tani Sampurna Dalam Meningkatkan Pengetahuan Petani Dan Hasil Produksi Padi Di Desa Jenggawah Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember Metode deskriptWastika, Hariadi, dan Subejo (2014) Peran Kelompok Tani Dalam Penerapan Sri (System Of Rice Intensification) Di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo Metode deskript


33 etode Kesimpulan tif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran Kelompok Tani Sampuna terdiri dari: Kolaborasi penyululuhan yaitu Kelompok Tani Sampurna melakukan kerja sama dengan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) serta Formulator yang memang berkompeten dalam bidang pertanian. . Wadah pernyataan aspirai petani, anggota Kelompok Tani Sampurna dibebaskan mengutarakan pendapat dan saling bertukar pendapat serta pengalaman hingga tercapai tujuan yang sama. Berdasarkan peran Kelompok Tani Sampurna tersebut pengetahuan para anggota kelompok tani mengalami peningkatan., dengan bekal peningkatan pengetahuan tersebut berdampak pada hasil produksi padi yang semakin meningkat. tif 1. Sebesar 68,33% petani di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo menilai kelompok tani memiliki peran tinggi terhadap penerapan SRI. 2. Peran kelompok tani secara keseluruhan mencapai persentase sebesar 72,17% yang berarti kelompok tani sering menjalankan perannya sebagai media belajar, media kerjasama, dan unit produksi di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo


Nama Peneliti Judul MeKasogi, Lestari, dan Rosanti (2014) Perananan Kelompok Tani Dalam Peningkatan Pendapatan Usahatani Dan Kesejahteraan Petani Padi Di Desa Negara Ratu Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Tengah Metode


34 etode Kesimpulan Survei 1. Faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mengikuti kelompok tani adalah pendapatan, pendidikan dan status kepemilikan lahan. Semakin tinggi tingkat pendapatan dan pendidikan petani maka semakin tinggi peluang petani dalam mengikuti kelompok tani dan petani penggarap memiliki peluang lebih tinggi untuk bergabung ke dalam kelompoktani dibandingkan dengan petani pemilik. 2. Kelompok tani berperan dalam meningkatkan pendapatan petani padi. Hal ini dilihat dari perbedaan pendapatan yang diterima antara petani anggota dengan non-anggota kelompok tani, dimana pendapatan petani anggota kelompok tani lebih tinggi dibandingkan dengan petani non anggota kelompok tani. 4. Kelompok tani berperan dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani padi. Hal ini dilihat dari rata-rata tingkat kesejahteraan petani anggota kelompoktani yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata tingkat kesejahteraan petani non-anggota kelompok tani dengan tingkat kepercayaan 95%.


35 C. Kerangka Pemikiran Tanaman pangan merupakan subsektor pertanian yang menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung kegiatan perekonomian di Indonesia. Salah satu subsektor tanaman pangan yang cukup besar potensinya dalam perekonomian Indonesia adalah ubi kayu. Ubi kayu merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, selain ituberperan juga dalam mewujudkan pembangunan wilayah, pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, penyedia bahan baku industri,penghematan dan penerimaan devisa negara serta menjadi penarik bagiindustri hulu dan pendorong pertumbuhan bagi industri hilir (Dirjen Tanaman Pangan, 2011). Kecamatan Seputih Banyak merupakan salah satu sentra penghasil ubi kayu di Kabupaten Lampung Tengah. Produktivitas di Kecamatan Seputih Banyak pada tahun 2015 mengalami kenaikan. Kenaikan produktivitas ubi kayu di Kecamatan Seputih Banyak menunjukkan nilai positif atau selalu bertambah setiap tahunnya. Ironisnya tinggi angka produktivitas berbanding terbalik dengan harga jual ubi kayu ditingkat petani. Desa Siswo Bangun merupakan salah satu sentra ubi kayu di Kecamatan Seputih Banyak. Petani di Desa Siswo Bangun berusahatani ubi kayu. Hal ini dikarenakan lahan yang ada di Desa Siswo Bangun merupakan lahan kering. Sehubungan dengan itu maka peneliti tertarik untuk meneliti Peranan Kelompok Tani Dalam Peningkatan Pendapatan Petani Ubi Kayu.


36 Wirutomo dalam Berry (1995) mengemukakan bahwa dalam peranan yang berhubungan dengan pekerjaan, seseorang diharapkan menjalankan tugas dan fungsi yang berhubungan dengan peranan yang dipegangnya. Peranan didefinisikan sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan kepada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Peranan kelompok tani dalam penelitian ini mengacu kepada Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia (2013), yang menyatakan bahwa peranan kelompok tani adalah sebagai berikut: a) Kelas belajar, yaitu kelompok dapat berfungsi menjadi media untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap anggota. b) Unit produksi, yaitu kelompok dapat berfungsi sebagai satu unit produksi untuk dapat mencapai skala ekonomi yang efisien dalam memproduksi hasil usahataninya. c) Wahana kerja sama, yaitu kelompok dapat berfungsi sebagai wahanakerja sama diantara sesama anggota, kerja sama dengan kelompok dan atau pihak lain sehingga produktivitas kelompok dan masing-masing anggota meningkat. Peranan kelompok tani dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan peranan kelompok tani pada penilitian ini mengacu pada Van den Ban dan Hawkins (1999), yang meliputi tingkat peran penyuluh (X1),kepemimpinan ketua kelompok tani (X2),tingkat motivasi petani (X3), interaksi sosial petani (X4). Peran penyuluh berhubungan dengan peranan kelompok tani, dengan adanya peran penyuluh suatu kelompok tani dapat berjalan dengan baik karena


37 penyuluh dapat membantu untuk membimbing, memfasilitasi, memotivasi anggota agar program dapat berjalan dengan baik. Kepemimpin ketua berhubungan dengan peranan kelompok tani karena semakin tinggi kemampuan ketua kelompok dalam mempengaruhi anggota kelompok maka akan semakin efektif dalam mencapai tujuan kelompok, yaitu meningkatkan pendapatan anggota kelompok. Tingkat motivasi berhubungan dengan peranan kelompok tani kerena suatu program kelompok tani akan terlaksana dengan baik apabila ada dorongan dari luar maupun dari dalam anggota kelompok tani itu sendiri dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Interaksi sosial berhubungan dengan peranan kelompok tani karena semakin tinggi tingkat interaksi yang terjadi dalam suatu kelompok tani maka akan lebih mudah suatu kelompok tani dalam menjalankan program nya. Pada penelitian ini juga dilihat tingkat pendapatan usahatani petani. Penerimaan bersih usahatani ubi kayu akan didapat setelah dikurangi biayabiaya (peralatan, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja) sehingga diperoleh pendapatan bersih usahatani ubi kayu. Berdasarkan kerangka pemikiran diatas maka dapat dibuat paradigma penelitian yang disajikan pada gambar 1 berikut ini :


38 Gambar 1. Kerangka pemikiran peranan kelompok tani dan pendapatan usahatani ubi kayu Petani ubi kayu Kelompok Tani (Variabel Y1) Peranan kelompok tani: 1. Kelas belajar 2. Wahana kerja sama 3. Unit produksi (Variabel Y2) Pendapatan usahatani Petani Ubi Kayu Faktor-faktor yang berhubungan dengan Peranan kelompok tani (X): Peran Penyuluh (X1) Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani (X2) Tingkat Motivasi Petani (X3) Interaksi Sosial Petani (X4)


39 D. Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut maka hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini adalah 1) Diduga terdapat hubungan yang nyata antara peran penyuluh dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah. 2) Diduga terdapat hubungan yang nyata antara kepemimpinan dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah. 3) Diduga terdapat hubungan yang nyata antara tingkat motivasi dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah. 4) Diduga terdapat hubungan yang nyata antara interaksi sosial dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah. 5) Diduga terdapat hubungan yang nyata antara peranan kelompok tani dengan tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah.


III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional 1. Konsep Dasar Konsep dasar dan definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data dan melakukan analisis sehubungan dengan tujuan penelitian. Peranan adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada penyuluh sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peranan yang berhubungan dengan pekerjaan, seseorang diharapkan menjalankan tugas dan fungsi yang berhubungan dengan peranan yang dipegangnya (Wirutomo dalam Berry, 1995). Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan kelompok tani antara lain: peran penyuluh, kepemimpinan, motivasi dan interaksi sosial. Peran penyuluh merupakan penyuluh sebagai pemberi informasi kepada petani, dimana semakin tinggi intensitas penyuluhan dan sesuai informasi


41 yang dibutuhkan petani akan membuat petani bertahan dalam kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi (Thoha, 2003). Motivasi merupakan suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan (Mangkunegara, 2000). Interaksi sosial merupakan intisari kehidupan, artinya kehidupan sosial dapat terwujud dalam berbagai bentuk pergaulan. Hubungan antarmanusia sebagai makhluk sosial dapat dicirikan dengan adanya tindakan untuk berhubungan (Soekanto, 2002). Peranan kelompok tani merupakan serangkaian perilaku kelompok petani yang diharapkan untuk saling berhubungan dengan komunitas petani dalam rangka mempermudah pengadaan sarana produksi pertanian seperti bibit, pupuk dan obat-obatan. Peranan kelompok tani juga berpengaruh terhadap biaya pengadaan sarana produksi pertanian yang dapat di tanggung bersama serta memiliki kekuatan untuk menentukan harga hasil pertanian anggotanya. Pengembangan kelompok tani merupakan pemberdayaan petani untuk merubah pola pikir petani agar mau meningkatkan usahataninya dan meningkatkan kemampuan kelompok tani dalam melaksanakan fungsinya.


42 Fungsi kelompok tani merupakan aktivitas yang tergolong pada jenis yang sama berdasarkan atau pelaksanaan, yang terdiri dari kelas belajar, wahana kerja sama, unit produksi, fungsi kelompok tani mampu mengembangkan usaha agribisnis dan menjadi kelembagaan petani yang kuat dan mandiri. Kelas belajar merupakan wadah belajar kelompok tani mengajar bagi anggota guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap agar tumbuh dan berkembang menjadi usahatani yang mandiri sehingga dapat meningkatkan produktivitas, pendapatan serta kehidupan yang lebih baik. Wahana kerja sama merupakan tempat kelompok tani untuk memperkuat kerja sama baik di antara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompok tani maupun dengan pihak lain. Melalui kerja sama diharapkan usahatani lebih efisien dan lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, gangguan serta lebih menguntungkan. Unit produksi merupakan usahatani yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota kelompok tani secara keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomis usaha, dengan menjaga kuantitas kualitas maupun kontinuitas. Kelompok adalah himpunan atau kesatuan–kesatuan manusia yang bersama, oleh karena adanya hubungan mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong antar sesama manusia.


43 Kelompok tani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan sumberdaya, kesamaan komoditas, dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Usahatani adalah kegiatan dalam bidang pertanian, mulai dari produksi/budidaya, penanganan pasca panen, pengolahan, sarana produksi, pemasaran hasil, dan/atau jasa penunjang. Usahatani ubi kayu adalah serangkaian kegiatan menanam dan mengelolah tanaman ubi kayu untuk menghasilkan produksi, sebagai sumber utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani. Penerimaan usahatani adalah jumlah total produksi ubi kayu selama satu tahun dikalikan dengan harga ubi kayu ditingkat petani. Penerimaan diukur dalam satuan rupiah (Rp). Pendapatan usahatani adalah penerimaan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan selama produksi dalam satu kali musim tanam. Pendapatan diukur dalam satuan nilai rupiah (Rp). Produktivitas usahatani ubi kayu adalah tingkat produksi ubi kayu yang dihasilkan dalam satu hektar. Produktivitas usahatani ubi kayu diukur dalam satuan kilogram per hektar (kg/ha).


44 2. Definisi Operasional Definisi operasional ini mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan data yang akan dianalisis sehubungan dengan tujuan penelitian, mencakup variabel X (faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan kelompoktani), variabel Y1 (peranan kelompoktani) dan variabel Y2 (pendapatan petani). A. Variabel X Adapun variabel X yang akan diukur untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan peranan kelompoktani yaitu: a) Peran penyuluh (X1) merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan pada penyuluh sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Tingkat peran penyuluh dilihat berdasarkan 4 indikator yaitu: (1) Penyuluh sebagai pembimbing (2) Penyuluh sebagai organisator dan motivator (3) Penyuluh sebagai konsultan dan (4) Penyuluh sebagai fasilitator, Tingkat peran penyuluh diukur dengan skor 1-3 dengan klasifikasi kelas (tinggi, sedang, rendah). b) Kepemimpinan ketua kelompok tani (X2) merupakan kemampuan mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok untuk bekerjasama mencapai tujuan (Kartono, 2006). Indikator kepemimpinan ketua kelompok tani mengacu pada penelitian (Zakaryya, 2010), yaitu: (1) sifat pemimpin (2) perilaku pemimpin (3) kekuasan pemimpin. Tingkat kepemimpinan ketua kelompok


45 tani diukur dengan skor 1-3 dengan klasifikasi kelas (tinggi, sedang, rendah). Data yang digunakan dalam variabel kepemimpinan ketua kelompok tani adalah data dari ketua kelompok, sekretais kelompok, dan anggota kelompok, untuk analisis rank spearman data yang digunakan adalah data rata-rata kelompok. c) Motivasi petani (X3) merupakan dorongan yang mengakibatkan seorang anggota kelompok, mau atau suka rela untuk menggerakkan kemampuannya dalam bentuk keahlian atau keterampilan tenaga dalam waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan (Siagian, 2003). Tingkat motivasi petani dilihat berdasarkan 6 indikator yaitu: (1) kebutuhan fisiologis (2) kebutuhan ekonomi (3) kebutuhan rasa aman (4) kebutuhan sosial (5) kebutuhan penghargaan dan (6) aktualisasi diri. Tingkat motivasi diukur dengan skor 1-3 dengan klasifikasi kelas (tinggi, sedang, rendah). d) Interaksi sosial petani (X4) adalah interaksi petani dengan lingkungannya untuk memperoleh informasi mengenai ubi kayu. Interaksi sosial dilihat berdasarkan 4 indikator yaitu: (1) interaksi anggota kelompok tani dengan tetangga, (2) interaksi anggota kelompok tani dengan anggota kelompok tani, (3) interaksi kelompok tani dengan penyuluh, (4) interaksi kelompok tani dengan kelompok tani. Interaksi sosial petani diukur dengan skor 1-3 dengan klasifikasi kelas (tinggi, sedang, rendah).


46 B. Variabel Y1 Variabel Y1 (peranan kelompok tani) yang dianalisis dalam penelitian ini terdapat 3 indikator, yaitu: a) Kelas belajar merupakan wadah belajar kelompok tani mengajar bagi anggota guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap agar tumbuh dan berkembang menjadi usahatani yang mandiri sehingga dapat meningkatkan produktivitas, pendapatan serta kehidupan yang lebih baik. Pengukuran indikator tersebut menggunakan sub indikator yaitu: (1) perencanaan dan persiapan kebutuhan belajar (2) menumbuhkan kedisiplinan dan motivasi anggota kelompok tani. Sub indikator diukur dengan skor 1-3 dengan klasifikasi kelas (tinggi, sedang, rendah). b) Wahana kerja sama merupakan tempat kelompok tani untuk memperkuat kerja sama baik di antara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompok tani maupun dengan pihak lain. Melalui kerja sama diharapkan usahatani lebih efisien dan lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, gangguan serta lebih menguntungkan. Pengukuran indikator tersebut menggunakan sub indikator yaitu: (1) menciptakan suasana saling kenal, saling mempercayai dan selalu berkeinginan untuk bekerja sama. (2) menciptakan suasana keterbukaan dalam menyatakan pendapat dan pandangan diantara anggota kelompok tani, Sub


47 indikator diukur dengan skor 1-3 dengan klasifikasi kelas (tinggi, sedang, rendah). c) Unit produksi merupakan usahatani yang dilaksanakan oleh masing masing anggota kelompok tani secara keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomis usaha, dengan menjaga kuantitas, kualitas maupun kontinuitas. Pengukuran indikator tersebut menggunakan sub indikator yaitu: (1) mengambil keputusan dalam menentukan pengembangan produksi yang menguntungkan berdasarkan informasi yang tersedia dalam bidang teknologi, sosial, permodalan, sarana produksi dan sumberdaya alam lainnya, (2) menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan bersama, serta rencana kebutuhan kelompok tani atas dasar pertimbangan efisiensi, Sub indikator diukur dengan skor 1-3 dengan klasifikasi kelas (tinggi, sedang, rendah). C. Variabel Y2 Variabel Y2 (pendapatan petani ubi kayu). Pendapatan usahatani ubi kayu adalah total penerimaan yang diperoleh oleh pelaku usahatani ubi kayu dikurangi total biaya yang dikeluarkan dalam usahatani tersebut dan dihitung dalam Rp/Ha. Adapun rumus pendapatan usahatani adalah sebagai berikut: Pd = Tr-Tc Keterangan : Pd = Pendapatan usahatani padi sawah


48 Tr = Total penerimaan Tc = Total Biaya Penentuan interval kelas data lapangan dirumuskan berdasarkan pada rumus Sturges (dalam Dajan, 1996) dengan rumus : Keterangan : Z = Interval kelas X = Nilai tertinggi Y = Nilai terendah K = Banyaknya kelas atau kategori B. Lokasi Penelitian, Waktu Penelitian dan Responden Penelitian ini dilaksanakan di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive (sengaja). Kecamatan Seputih Banyak dipilih menjadi daerah penelitian atas dasar pertimbangan bahwa Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah merupakan salah satu sentra penghasil ubi kayu. Pengambilan data dilaksanakan bulan Januari 2018. Populasi anggota kelompok tani di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah adalah 771 petani dari 18 kelompok tani. Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak dipilih menjadi tempat penelitian dikarenakan kecamatan tersebut yang memiliki potensi pengembangan ubi kayu. Dari jumlah populasi petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun ditentukan jumlah sampel dengan menggunakan rumus penentuan sampel yang merujuk pada teori Sugiarto, dkk (2003) sebagai berikut:


49 ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) Keterangan: n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi petani binaan (771 orang) S² = Variasi sampel (5% = 0,05) Z = Tingkat kepercayaan (90% = 1,645) d = Derajat penyimpangan (5% = 0,05) Berdasarkan rumus diatas diperoleh responden yang berjumlah 51 orang, penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel petani ubi kayu yang termasuk kedalam anggota kelompok tani secara random sampling dan ditambah dengan pengurus kelompok tani yaitu ketua dan sekretaris sebanyak 36 orang, sehingga total responden dalam penelitian ini sebanyak 87 orang. Dalam penelitian ini penentuan jumlah unit sampel dari 18 kelompok tani diambil sampel dengan menggunakan metode alokasi proporsional dari rumus Keterangan: na = Jumlah sampel petani n = Jumlah sampel petani keseluruhan N = Jumlah populasi petani keseluruhan Na = Jumlah populasi petani di kelompok tani


50 Tabel 6. Jumlah responden setiap kelompok tani di Desa Siswo Bangun, Kecamatam Seputih Banyak No Kelompok Tani Pengurus Jumlah anggota (orang) Jumlah Responden (orang) Total Jumlah Responden (orang) Kelas Ketua Sekretaris Kelompok 1 Suka Makmur 1 1 48 3 5 Lanjut 2 Sinar Maju 1 1 44 3 5 Lanjut 3 Sinar Jaya 1 1 25 2 4 Lanjut 4 Sido Makmur 1 1 50 3 5 Lanjut 5 Ngudi Makmur 1 1 60 4 6 Lanjut 6 Melati 1 1 47 3 5 Lanjut 7 Mekar Sari 1 1 40 3 5 Lanjut 8 Sedio Rukun 1 1 33 2 4 Pemula 9 Makmur Tani 1 1 50 3 5 Pemula 10 Tani Jaya 1 1 50 3 5 Pemula 11 Harapan Jaya 1 1 42 3 5 Pemula 12 Makmur Jaya 1 1 31 2 4 Pemula 13 Budi Usaha 1 1 29 2 4 Pemula 14 Sido Mulyo 1 1 49 3 5 Pemula 15 Sumber Pangan 1 1 40 3 5 Pemula 16 Sumber Rezeki 1 1 43 3 5 Pemula 17 Fajar Tani 1 1 50 3 5 Pemula 18 Mekar Bayu 1 1 44 3 5 Pemula Total 18 18 771 51 87 Tiap-tiap unit analisis yang terpilih pada setiap kelompok akan diambil secara Stratified berdasarkan pada status keanggotaan yaitu ; ketua, sekretaris dan anggota kelompok. Metode pengambilan responden ditentukan dari anggota kelompok tani secara acak sederhana dan berstrata secara proporsional (Proportional Stratified random sampling). Dalam penelitian ini jumlah responden adalah 87 petani yang terdiri dari 18 ketua kelompok, 18 sekretaris kelompok dan 51 anggota kelompok, untuk menguji dan menganalisis data dilihat bedasarkan dari jumlah dan rata-rata masing-masing kelompok sehingga sampel yang di dapat adalah 18 kelompok tani. C. Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data Metode penelitian yang akan digunakan adalah metode survey, yaitu


51 penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (Singarimbun, 1995). Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden (petani ubi kayu) di lokasi penelitian dengan menggunakan kuesioner dan data tersebut adalah data untuk satu kali musim tanam. Data sekunder diperoleh dari beberapa literatur diantaranya buku bacaan, laporan terpublikasi (gapoktan), hasil penelitian terdahulu, Badan Pusat Statistik Propinsi Lampung dan Lampung Tengah, Badan Penyuluh Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kecamatan Seputih Banyak, serta Instansi yang berkaitan dengan penelitian ini. D. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sedangkan pengujian hipotesis menggunakan analisi statistik non parametric. Tujuan pertama pada penelitian ini dijawab secara deskriptif . Selanjutnya untuk menguji tujuan yang kedua dan ketiga mengunakan statisitik non parametrik dengan uji koefisien korelasi Rank Spearman (rs). Menurut Siegel (1997) rumus koefisien korelasi Rank Spearman (rs) adalah : ∑ Keterangan : rs = Penduga koefisien korelasi di = Perbedaan setiap pasangan rank N = Jumlah responden


52 Pengujian dilanjutkan untuk menjaga tingkat signifikasi pengujian bila terdapat rank kembar baik pada variabel X maupun pada variabel Y sehingga dibutuhkan faktor koreksi t dengan rumus sebagai berikut : ∑ ∑ ∑ √∑ ∑ ∑ ∑ ∑ ∑ Keterangan : ∑ = Jumlah kuadrat variabel X yang dikoreksi ∑ = Jumlah kuadrat variabel Y yang dikoreksi ∑ = Jumlah faktor koreksi variabel X ∑ = Jumlah faktor koreksi variabel Y T = Faktor koreksi t = Banyaknya observasi berangka sama pada peringkat tertentu n = Jumlah sampel Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan SPSS 16.0 (Statistical Package For Social Science) untuk melihat hubungan antara kedua variabel dilihat berdasarkan nilai signifikasi, maka kaidah pengambilan keputusan adalah: 1. Jika nilai signifikasi ≤ α pada α = 0,01 atau α = 0,05 maka H1 diterima dan H0 ditolak, artinya terdapat hubungan yang nyata antara kedua variabel. 2. Jika nilai signifikasi > α pada α = 0,01 atau α = 0,05 maka H1 ditolak dan H0 diterima, artinya tidak ada hubungan yang nyata antara kedua variabel.


53 Kemudian untuk menjawab tujuan keempat, pendapatan usahatani petani ubi kayu anggota kelompok tani digunakan rumus sebagai berikut (Soekartawi,1995): Pd = Tr-Tc Keterangan : Pd = Pendapatan usahatani ubi kayu Tr = Total penerimaan Tc = Total Biaya


120 A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang mengkaji peranan kelompok tani dalam peningkatan pendapatan petani ubi kayu di Desa Siwo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Lampung Tengah, dapat disimpulkan bahwa: 1. Tingkat peranan kelompok tani dalam peningkatan pendapatan usahatani petani ubi kayu tergolong dalam klasifikasi sedang, hal ini disebabkan masih banyak anggota kelompok tani yang tidak mengerti akan tugas dan fungsi nya di dalam kelompok dan masih rendah nya kesadaran anggota yang melakukan usahatani sesuai dengan arahan yang telah di berikan oleh penyuluh. 2. Faktor-faktor yang berhubungan nyata dengan peranan kelompok tani petani ubi kayu adalah peran penyuluh dan kepemimpinan ketua kelompok tani, sedangkan yang tidak berhubungan nyata dengan peranan kelompok tani adalah tingkat motivasi petani dan interaksi sosial petani . 3. Tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah adalah sebesar Rp27.845.592 per 1,27 ha atau sebesar Rp21.925.801 per ha. Hal ini V. KESIMPULAN DAN SARAN


121 menunjukkan bahwa pendapatan usahatani petani ubi kayu tergolong sedang. 4. Hubungan antara peranan kelompok tani dengan tingkat pendapatan usahatani petani ubi kayu di Desa Siswo Bangun Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah adalah tidak nyata. Hal ini menunjukkan bahwa peranan kelompok tani tidak selamanya akan mempengaruhi tingkat pendapatan usahatani. B. Saran 1. Perlu adanya kegiatan dalam kelompok tani yang membuat daya tarik para petani sehingga motivasi petani dalam mengikuti kelompok tani tidak hanya untuk mendapatkan bantuan, melainkan benar-benar menjadi kesadaran petani akan pentingnya mengikuti kelompok tani sebagai wadah yang mampu menumbuhkan kemandirian dan meningkatakan kemampuan anggotanya dalam melaksanakan kegiatan usahatani. 2. Peran Penyuluh, ketua kelompok tani, serta instansi terkait sangat diperlukan agar pengetahuan para anggota kelompok meningkat, dan dapat mengambil keputusan yang tepat untuk kebaikan kelompok tani serta yang berkaitan dengan kegiatan – kegiatan kelompok tani sehingga dengan adanya kelompok tani dan mengikuti kelompok tani dapat meningkatkan pendapatan maupun kesejahteraan anggota kelompok tani.


122 DAFTAR PUSTAKA Andrew J, Dubrin. 2006. The Complete Idiot’s Guides to Leadership 2nd Edition. Prenanda. Jakarta. Anggunanda, F.T., Hasanudin, T., Nurmayasari, I. 2016. Efektivitas Kepemimpinan Ketua Kelompok Tani dalam Difusi Inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi di Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Ilmu- Ilmu Agribisnis. Vol. 4 No. 4, Oktober 2016. Universitas Lampung. Aria, R., Hasanudin, T., Prayitno, R.T. 2016. Peranan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Terhadap Keberhasilan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) di Kecamatan Sungkai Selatan Kabupaten Lampung Utara. Jurnal Ilmu- Ilmu Agribisnis. Vol. 4 No. 4, Oktober 2016. Universitas Lampung. Berry, D. 1995. Pokok-pokok Pikiran Dalam Sosiologi. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Statistik Indonesia (Jumlah dan persentase penduduk miskin menurut provinsi). BPS. Jakarta. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Tengah. 2016. Lampung Tengah Dalam Angka. BPS Kabupeten Lampung Tengah. Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. 20116. Lampung Dalam Angka. BPS Propinsi Lampung. Bandar Lampung. Badan Pusat Statistik Kecamatan Seputih Bayak. 2017. Seputih Banyak Dalam Angka. BPS Kecamatan Seputih Bayak. Departemen Pertanian. 2013. Peraturan Menteri Pertanian Nomor;61/permentan/ot.140/11/2008 Tentang Pedoman Pembinaan Penyuluh Pertanian Swasta dan Penyuluh Pertanian Swadaya. Dirjen Tanaman Pangan. 2011. Rapat Pimpinan Dirjen Tanaman Pangan 2011. Jakarta. 11-13 Januari 2011.


123 Effendi, I. 2005. Dasar-Dasar Penyuluhan Pertanian. Buku Ajar Penerbit Universitas Lampung. Bandar Lampung. Friedman, M. 1998. Basic role Theory & Practice. EGC. Jakarta. Irsa, R., Nikmatullah, D., Rangga, K.K. 2018. Persepsi Petani dan Efektivitas Kelompok Tani dalam Program UPSUS PAJALE di Kecamatan Banjar Baru Kabupaten Tulang Bawang . Jurnal Ilmu- Ilmu Agribisnis. Vol. 6 No. 1, Oktober 2018. Universitas Lampung. Kartono, K. 1994. Pemimpin dan Kepemimpinan. PT. Raja Grafindo. Jakarta. Kasogi, M.I., Lestari, D.A.H., Rosanti, N. 2015. Perananan Kelompok Tani Dalam Peningkatan Pendapatan Usahatani Dan Kesejahteraan Petani Padi Di Desa Negara Ratu Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Jurnal Ilmu- Ilmu Agribisnis. Vol. 2 No. 2, Oktober 2014. Universitas Lampung. Kementrian Pertanian Republik Indonesia. 2013. Pemberdayaan Kelompok Tani dan Gapoktan. Kementan RI. Jakarta. Kementrian Pertanian. 2013. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82/Permentan/Ot.140/8/2013 Pedoman Pembinaan Kelompoktani Dan Gabungan Kelompoktani. Kementan RI. Jakarta. Kementrian Pertanian. 2011. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 17/Permentan/OT.140/3/2011tentang Pedoman Penilaian Gabungan Kelompoktani Berprestasi. Kementan RI. Jakarta. Mangkunegara, A.P. 2000. Evaluasi Peranan Sumber Daya Manusia. PT Rifika Aditama. Bandung. Mantra, I. B. 2004. Demografi Umum. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Mardikanto, T. 1998. Peranan Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta. Mardikanto, T. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta. Maslow. 1970. Motivation and Personality. PT Pustaka Binaman Presindo. Jakarta Matanari, D., Salmiah., Emalisa. 2014. Peranan Kelompok Tani Terhadap Peningkatan Produksi Padi Sawah (Oriza Sativa) Di Desa Hutagugung Kecamatan Sumbul Kabupaten Dairi. Jurnal Universitas Sumatera Utara. Vol. 4 No. 7, Juli 2014. Universitas Sumatera Utara.


124 Mills. 1967. Psikologi Kelompok Dan Sosial. Bina Aksara. Jakarta. Mosher, A.T. 1968. Menggerakan Dan Membangun Pertanian-Sjarat-sjarat Mutlak Pembangunan dan Modernisasi. Jakarta. Mutmainah, R., Sumardjo. 2014. Peran Kepemimpinan Kelompok Tani dan Efektivitas Pemberdayaan Petani. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 2 No. 5, Juli 2014. Institut Pertanian Bogor. Rakhmat, J. 2004. Metode Penelitian Komunikasi. Rosda Karya. Bandung. Rahmat, R. 1997. Budidaya dan Pasca Panen Ubi Kayu. Swadaya. Jakarta. Roucek, J.S. dan Warren, R.L. 1984. Pengantar Sosiologi Diterjemahkan Oleh Sahat Simamora. Bina Aksara. Jakarta. Rukmana, R. 1997. Ubi jalar-Budidaya dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta. Sajogyo, Pudjiwati, 1992, Sosiologi Pedesaan - Jilid 2, Gadjah Mada University. Yogyakarta. Samsudin. 2005. Dasar-Dasar Penyuluhan dan Moderenisasi Pertanian. Angkasa Offset. Bandung Sari, J., Nurmayasari, I., Yanfika H. 2015. Persepsi Petani Terhadap Kinerja Penyuluh dalam Pengembangan Padai Organik di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu. Jurnal Ilmu- Ilmu Agribisnis. Vol. 3 No. 4, Oktober 2015. Setiana L. 2005. Teknik Penyuluhan dan Pemberdayaan masyarakat. Ghalia Indonesia. Bogor Siagian, S.P. 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara. Jakarta. Singarimbun, M. 1995. Metode Penelitian Survey. LP3ES. Jakarta. Siegel, S. 1997. Statistik Non Parametrik. PT Gramedia. Jakarta. Soekanto, S. 2002. Sosiologi suatu pengantar. Rajawali persada. Jakarta. 517 hlm Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta. Suhardiyono, L. 1988. Penyuluh: Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta. Sugiarto, Siagian D, Sunarto L.S, Oetomo D.S. 2003. Teknik Sampling. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


125 Sumaryo., Listiana, I., Gultom, D.T., 2012. Dasar-dasar Penyuluhan dan Komunikasi. Anugerah Utama Raharja (AURA). Bandar Lampung. Thoha, M. 2003. Kepemimpinan Dalam Manajemen. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Triwidarti, T., Suyadi, B., Sukidin. 2015. Peran Kelompok Tani Sampurna Dalam Meningkatkan Pengetahuan Petani Dan Hasil Produksi Padi Di Desa Jenggawah Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember. Jurnal Sosial Ekonomi Petanian. Vol 8 No 2. Juli 2015. Universitas Jember. Van den Ban A.W dan Hawkins H.S. 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta Wastika, C.Y., Hariadi, S.S., Subejo. 2015. Peran Kelompok Tani Dalam Penerapan Sri (System Of Rice Intensification) Di Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. Vol 25 No1. Juni 2015. Universitas Gajah Mada. Widayatun. 1999. Ilmu Perilaku. Sagung Seto Wirutomo, P. 1983. Optimalisasi peranan dalam perkembangan masyarakat kelurahan. Rajawali. Jakarta.


Click to View FlipBook Version