The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Berisi tentang strukur dan muatan kurikulum pada penyusunan KOSP Jenjang SMA dan sederajat

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sisnila1, 2024-05-03 21:51:16

KOSP BAB III

Berisi tentang strukur dan muatan kurikulum pada penyusunan KOSP Jenjang SMA dan sederajat

Keywords: KOSP

Jadwal Pelaksanaan USP 1. Jadwal USP mengikuti peraturan yang ditetepkan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur biasanya dilaksanakan pada hari efektif sekolah, tanpa mengganggu proses pembelajaran kelas X dan XI. 2. USP dilaksanakan berkisar 10 hari, 3. USP Susulan dilaksanakan selama 2 hari 4. USP dilaksanakan sebanyak 2 mata pelajaran dalam sehari 5. Jadwal USP dibuat sepenuhnya oleh sekolah (tes tulis dan praktik ) 3.8.3 TARGET KELULUSAN SMA Negeri 18 Surabaya selalu menetapkan target kelulusan 100% pada setiap Tahun pelajaran , dan 50% lebih peserta didik diterima di Perguruan Tinggi Negeri. 3.8.4 PROGRAM SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS LULUSAN Ada beberapa hal yang menjadi indikator dalam menentukan dan mencapai mutu sebagai berikut : a. Peningkatan etos kerja Tenaga Pendidik Tenaga kependidikan, terutama guru, merupakan jiwa dari sekolah. Tenaga kependidikan yang dapat meningkatkan mutu lulusan adalah tenaga kependidikan yang mampu dan sanggup menjalankan tugasnya dengan baik. b. Pembelajaran : Peningkatkan Mutu Pembelajaran Terdapat Tujuan pendidikan pada tiap mata pelajaran. Ruang lingkup materi jelas pada tiap mata pelajaran. SK dan KD pada tiap mata pelajaran jelas d. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan) e. Kerjasama dengan Lembaga Bimbingan dari luar sekolah. 199


3.8.5 PROGRAM PASKA UJIAN SEKOLAH DAN KELULUSAN Program SMA Negeri 18 Surabaya untuk peserta didik Kelas XII setelah selesai mengikuti Ujian Sekolah antara lain memberikan bimbingan belajar untuk mata pelajaran diagnostik, literasi, dan numerasi. Pengampunya adalah Bapak/Ibu Pendidik sendiri, atau bisa juga dari luar sekolah. 3.9 MUTASI PESERTA DIDIK 3.9.1 MEKANISME DAN PROSEDUR MUTASI Perpindahan peserta didik antar Sekolah dalam satu daerah kabupaten/kota, antarkabupaten/kota dalam satu daerah provinsi, atau antar provinsi dilaksanakan atas dasar persetujuan Kepala Sekolah asal dan kepala Sekolah yang dituju. Dalam hal terdapat perpindahan peserta didik maka Sekolah yang bersangkutan wajib memperbaharui Dapodik. Perpindahan peserta didik wajib memenuhi ketentuan persyaratan yang diatur dalam Peraturan Menteri Nomor 44 Tahun 2019 tentang perpindahan peserta didik. Berkas Persyaratan : 200


Surat Permohonan Orang Tua Surat Kesediaan dari Sekolah yang dituju Surat Pelepasan dari Sekolah Asal Rekomendasi dari Dinas Pendidikan kab/Kot. Sekolah Asal Raport Asli dan Foto Copy KTP/KK Alamat Asal KTP/KK/Surat Domisili dari RT Alamat Tujuan Prosedur : Prosedur Mutasi Siswa/Peserta Didik Masuk (dengan syarat Kurikulumnya sama) : 1. Pemohon membawa berkas 2. Berkas diverifikasi petugas 3. Petugas membuatkan Surat Rekomendasi untuk dimintakan Legalisasi kepada Kepala Dinas . Jika dalam satu Wilayah Cabang Dinas Pendidikan , maka surat rekomendasi cukup di legalisasi ke Cabang Dinas Pendidikan Jika antar Provinsi, maka surat rekomendasi dilegalisasi ke Cabang Dinas Pendidikan dengan Dinas Pendidikan Provinsi 4. Petugas akan mengarsipkan dan mengagendakan Surat Rekomendasi 5. Surat Rekomendasi di berikan ke Pemohon. 201


3.10 PENUMBUHAN KARAKTER 3.10.1 NILAI UTAMA DALAM PENUMBUHAN KARAKTER Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya disingkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikanuntukmemperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa,olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat . PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab Dilakukan dengan menggunakan prinsip sebagai berikut: a. berorientasi pada berkembangnya potensi Peserta Didik secara menyeluruh dan terpadu; b. keteladanan dalam penerapan pendidikan karakter pada masing-masing lingkungan pendidikan; dan c. berlangsung melalui pembiasaan dan sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu berkaitan dengan dunia pendidikan, pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu dan hasil pendidikan. Prinsip implementasi pendidikan karakter yaitu pembelajaran dibuat agar peserta didik dapat mengikuti dengan aktif dan menyenangkan. Pembelajaran aktif berpusat pada peserta didik berarti peserta didik berpartisipasi dalam proses belajar sebanyak mungkin. 202


Pendidik dapat menyelipkan nilai religius dan toleransi pada sela-sela pemaparan materi. Pendidik juga harus mengimplementasikan nilai menghargai prestasi peserta didik dengan memberikan reward berupa pujian atau bahkan barang jika ia mempunyai kelebihan dalam mengikuti pembelajaran daring yang telah berlangsung. Akhirnya, pendidik harus mampu berinovasi membuat pembelajaran daring ini sekreatif mungkin sehingga nilai-nilai karakter dapat tetap diimplementasikan 3.10.2 PROFIL PELAJAR PANCASILA Kompetensi profil pelajar Pancasila memperhatikan faktor internal yang berkaitan dengan jati diri, ideologi, dan cita-cita bangsa Indonesia, serta faktor eksternal yang berkaitandengan konteks kehidupan dan tantangan bangsa Indonesia di Abad ke-21 yang sedang menghadapi masa revolusi industri 4.0. Selain itu, Pelajar Indonesia juga diharapkan memiliki kompetensi untuk menjadi warga negara yang demokratis serta menjadi manusiaunggul dan produktif di Abad ke-21. Oleh karenanya, Pelajar Indonesia diharapkan dapatberpartisipasi dalam pembangunan global yang berkelanjutan serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan. 1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia. 2. Berkebinekaan global. 3. Bergotong-royong. 4. Mandiri. 5. Bernalar kritis. 6. Kreatif . 203


Dimensi-dimensi tersebut menunjukkan bahwa profil pelajar Pancasila tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif, tetapi juga sikap dan perilaku sesuai jati diri sebagai bangsa Indonesia sekaligus warga dunia. Profil pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dandihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budayasatuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler, projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan ekstrakurikuler Profil Pelajar Pancasila yaitu sebagai berikut: 1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia Pelajar Indonesia yang berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pelajar Pancasila memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia adalah akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara. 2. Berkebinekaan global Pelajar Indonesia mempertahankan kebudayaan luhur, lokalitas, dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain. Perilaku pelajar Pancasila ini menumbuhkan rasa saling menghargai dan memungkinkan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen kunci berkebinekaan global adalah mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan. 204


3. Gotong royong Pelajar Indonesia memiliki kemampuan gotong royong, yaitu kemampuan pelajar Pancasila untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen kunci gotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. 4. Mandiri Pelajar Indonesia adalah pelajar mandiri, yaitu pelajar Pancasila yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci mandiri adalah kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi dan regulasi diri. 5. Bernalar Kritis Pelajar yang bernalar kritis adalah pelajar Pancasila yang mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi, dan menyimpulkannya. Elemen kunci bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil keputusan. 6. Kreatif Pelajar yang kreatif adalah pelajar Pancasila yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. 205


3.11 PENGEMBANGAN LITERASI 3.11.1 KETENTUAN UMUM PENGEMBANGAN LITERASI DI SEKOLAH Ada beberapa prinsip penting dalam pengembangan literasi di suatu lembaga pendidikan. Beberapa prinsip pengembangan literasi sekolah: Bersifat Berimbang: Setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda satu dengan yang lain. Sekolah harus menerapkan prinsip ini dengan menerapkan strategi dalam membaca dan variasi bacaan. Bahasa Lisan Sangat Penting: Setiap sistwa harus dapat berdiskusi tentang suatu informasi dalam diskusi terbuka yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Dengan begitu, diharapkan siswa mampu menyampaikan pendapatnya dan melatih kemampuan berpikir lebih kritis. Berlangsung Pada Semua Kurikulum: Program literasi diterapkan pada seluruh siswa dan tidak tergantung pada kurikulum tertentu. Dengan kata lain, kegiatan literasi menjadi suatu kewajiban bagi semua guru dan bidang studi. Pentingnya Keberagaman: Keberagaman adalah sesuatu yang layak untuk dihargai dan dirayakan di setiap sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyediakan berbagai buku bertema kekayaan budaya negara Indonesia sehingga siswa lebih mengenal budaya bangsa dan turut serta melestarikannya. 206


3.11.2MODEL PROGRAM LITERASI YANG DIKEMBANGKAN DAN TAHAPTAHAP KEGIATAN Literasi bukan hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis karena melibatkan pengetahuan bahasa (lisan dan tulisan), kemampuan kognitif, serta pengetahuan mengenai genre dan kultural. Model Program Literasi yang Dikembangkan dan Pentahapan Kegiatan. Kegiatan literasi di sekolah wajib karena untuk menumbuhkan kesadaran pada masing-masing individu siswa mengenai pentingnya membaca untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang dimiliki. Kegiatan literasi dapat diwujudkan dengan program literasi di sekolah. Berikut ini adalah model program literasi sekolah yang dikembangkan di SMA Negeri 18 Surabaya : 1. Membaca buku non pelajaran sebelum proses belajar dimulai. Buku non pelajaran yang dibaca seperti buku cerita motivasi, teknologi, cerita rohani dan tentunya buku tersebut memuat pelajaran tentang kearifan, budi pekerti yang baik, nasionalisme. Kemudian peserta didik menuliskan resume di buku tulis dan dikumpulkan per kelas setiap hari. 2. Membuat dinding motivasi di kelas. Kata-kata yang letakkan di dinding merupakan kata-kata yang menginspirasi siswa sehingga dapat meningkatkan semangat belajar siswa. 207


Gambar 10. Pojok baca Gambar 11. Pojok baca 208


3.11.3 EVALUASI PROGRAM LITERASI Evaluasi Program Literasi Tabel 66.Contoh Program Literasi Sekolah No Program Alokasi Waktu Sarana Koordinator Tujuan Realisasi Tagihan 1 Satu siswa membaca Satu semester Bukubuku Guru matapelajaran Untuk meningkatkan Sudah dilaksanakan Mengutip 10 kalimat terbaik satu buku yang pengetahuan dari buku yang bukan bukan peserta didik dibaca, dan pelajaran pokok pada bidang menuliskan pelajaran bersangkutan kalimat tersebut pada selembar kertas , dengan membubuhkan halaman kalimat tersebut 209


3.12 PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN 3.12.1 KETENTUAN UMUM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DI SEKOLAH Tahap 1 : Rintisan Pengembangan Program Kewirausahaan Pengembangan Kewirausahaan di SMA Negeri 18 Surabaya dimulai dengan langkah yaitu : a. Menentukan mata pelajaran PKWU ( Prakarya dan Kewirausahaan ) yang sesuai dengan lingkungan sekolah b. Menyiapkan sarana prasarana penunjang seperti pojok wirausaha dan sumber belajar penunjang c. Melakukan persiapan awal proses kolaborasi dengan dengan cara pendekatan kepada setiap elemen untuk dapat bekerjasama dalam proses pendidikan kewirausahaan d. Pemilihan Jenis kegiatan Kewirausahaan yang dilakukan sekolah dengan mempehatikan aspek potensi lingkungan sekolah , kreatifitas dan kolaborasi ekosistem kewirausahaan. e.Kemampuan pendidik dan peserta didik dalam mengembangkan kewirausahaan kreatif f. Menghasilkan barang dengan bentuk baru yang bernilai ekonomis. Di SMA Negeri 18 Surabaya mata pelajaran Prakarya dan kewirausahaan diampu dan berkolaborasi dengan bapak/ibu pendidik dari mata pelajaran Biologi. Kelas XII : Kerajinan 210


3.13 BIMBINGAN KONSELING 3.13.1 KONSEP BIMBINGAN KONSELING Konsep bimbingan konseling SMA diharapkan dapat terlaksana di semua sekolah. Peran serta bimbingan konseling dalam bimbingan akademik, bimbingan karier dan bimbingan pribadisosial baik dengan cara preventif maupun cara kuratif di harapkan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan membantu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya serta membangun masyarakat Indonesia yang merupakan tujuan pembangunan nasional Indonesia. Harapan yang paling utama dengan pelaksanaan konsep bimbingan konseling peserta didik adalah Peserta Didik di SMA Negeri 18 Surabaya mampu berperan positif dalam hidup bermasyarakat 3.13.2 FUNGSI, AZAS DAN PRINSIP LAYANAN BK 1. Fungsi layanan bimbingan dan konseling terdiri dari; a. Pemahaman yaitu membantu konseli agar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, budaya, dan norma agama). b. Fasilitasi yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi,selaras dan seimbang seluruh aspek pribadinya. c. Penyesuaian yaitu membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri dan dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. d. Penyaluran yaitu membantu konseli merencanakan pendidikan, pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan, yang sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya. 211


e. Adaptasi yaitu membantu para pelaksana pendidikan termasuk kepala satuan pendidikan, staf administrasi,dan guru mata pelajaran atau guru kelas untuk menyesuaikan program dan aktivitas pendidikan dengan latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik/konseli. f. Pencegahan yaitu membantu peserta didik/konseli dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah dan berupaya untuk mencegahnya, supaya peserta didik/konseli tidak mengalami masalah dalam kehidupannya. g. Perbaikan dan Penyembuhan yaitu membantu peserta didik/konseli yang bermasalah agar dapat memperbaiki kekeliruan berfikir, berperasaan, berkehendak, dan bertindak. Konselor atau guru bimbingan dan konseling melakukan memberikan perlakuan terhadap konseli supaya memiliki pola fikir yang rasional dan memiliki perasaan yang tepat, sehingga konseli berkehendak merencanakan dan melaksanakan tindakan yang produktif dan normatif. h. Pemeliharaan yaitu membantu peserta didik/konseli supaya dapat menjaga kondisi pribadi yang sehat-normal dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. i. Pengembangan yaitu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli melalui pembangunan jejaring yang bersifat kolaboratif. j. Advokasi yaitu membantu peserta didik/konseli berupa pembelaan terhadap hak-hak konseli yang mengalami perlakuan diskriminatif. 212


2. Asas layanan bimbingan dan konseling a. Kerahasiaan yaitu asas layanan yang menuntut konselor atau guru bimbingan dan konseling merahasiakan segenap data dan keterangan tentang peserta didik/konseli, sebagaimana diatur dalam kode etik bimbingan dan konseling. b. Kesukarelaan, yaitu asas kesukaan dan kerelaan peserta didik/konseli mengikuti layanan yang diperlukannya. c. Keterbukaan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam memberikan dan menerima informasi. d. Keaktifan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli memerlukan keaktifan dari kedua belah pihak. e. Kemandirian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang merujuk pada tujuan agar peserta didik/ konseli mampu mengambil keputusan pribadi, sosial, belajar, dan karir secara mandiri. f. Kekinian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berorientasi pada perubahan situasi dan kondisi masyarakat di tingkat lokal, nasional dan global yang berpengaruh kuat terhadap kehidupan peserta didik/konseli. g. Kedinamisan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berkembang dan berkelanjutan dalam memandang tentang hakikat manusia, kondisi-kondisi perubahan perilaku, serta proses dan teknik bimbingan dan konseling sejalan perkembangan ilmu bimbingan dan konseling. h. Keterpaduan yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang terpadu antara tunjuan bimbingan dan konseling dengan tujuan pendidikan dan nilai – nilai luhur yang dijunjung tinggi dan dilestarikan oleh masyarakat. 213


i. Keharmonisan yaitu asaslayanan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang selaras dengan visi dan misi sekolah, nilai dan norma kehidupan yang berlaku di masyarakat. j. Keahlian yaitu asas layanan konselor atau guru bimbingan dan konseling berdasarkan atas kaidah-kaidah akademik dan etika profesional, dimana layanan bimbingan dan konseling hanya dapat diampu oleh tenaga ahli bimbingan dan konseling. k. Tut wuri handayani yaitu suatu asas pendidikan yang mengandung makna bahwa konseloratau guru bimbingan dan konseling sebagai pendidik harus memfasilitasi setiap peserta didik/konseli untuk mencapai tingkat perkembangan yang utuh dan optimal. 3.Prinsip bimbingan dan konseling a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik/konseli dan tidak diskriminatif. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik/konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak, remaja, maupun dewasa tanpa diskriminatif. b. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap peserta didik bersifat unik (berbeda satu sama lainnya) dan dinamis, dan melalui bimbingan peserta didik/konseli dibantu untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh. c. Bimbingan dan konseling menekankan nilai-nilai positif. Bimbingan dan konseling merupakan upaya memberikan bantuan kepada konseli untuk membangun pandangan positif dan mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada dirinya dan lingkungannya. 214


d. Bimbingan dan konseling merupakan tanggung jawab bersama. Bimbingan dan konseling bukan hanya tanggung jawab konselor atau guru bimbingan dan konseling, tetapi tanggungjawab guruguru dan pimpinan satuan pendidikan sesuai dengan tugas dan kewenangan serta peran masing-masing. e. Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling diarahkan untuk membantu peserta didik/konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan serta merealisasikan keputusannya secara bertanggungjawab. f. Bimbingan dan konseling berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan. Pemberian pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya berlangsung pada satuan pendidikan, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. g. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan. Penyelenggaraan bimbingan dan konseling tidak terlepas dari upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional. h. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam bingkai budaya Indonesia. Interaksi antar guru bimbingan dan konseling atau konselor dengan peserta didik harus senantiasa selaras dan serasi dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh kebudayaan dimana layanan itu dilaksanakan. i. Bimbingan dan konseling bersifat fleksibel dan adaptif serta berkelanjutan. Layanan bimbingan dan konseling harus mempertimbangkan situasi dan kondisi serta daya dukung sarana dan prasarana yang tersedia. 215


j. Bimbingan dan konseling diselenggarakan oleh tenaga profesional dan kompeten. Layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh tenaga pendidik profesional yaitu Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor dari Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan yang terakreditasi. k. Program bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dalam berbagai aspek perkembangan. l. Program bimbingan dan konseling dievaluasi untuk mengetahui keberhasilan layanan dan pengembangan program lebih lanjut. 3.13.3 KOMPONEN PROGRAM BK Layanan bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional yang diselenggarakan pada satuan pendidikan mencakup komponen program, meliputi : • layanan dasar, • layanan peminatan dan perencanaan individual, • layanan responsif, dan dukungan sistem, bidang layanan, • bidang layanan pribadi, • sosial, • belajar, dan • karir. 216


struktur dan program layanan, kegiatan dan alokasi waktu layanan. Komponen program dan bidang layanan dituangkan ke dalam program tahunan dan semesteran dengan mempertimbangkan komposisi, proporsi dan alokasi waktu layanan, baik di dalam maupun di luar kelas. Program kerja layanan bimbingan dan konseling disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dan struktur program dengan menggunakan sistematika minimal meliputi: rasional, visi dan misi, deskripsi kebutuhan, komponen program, bidang layanan, rencana operasional, pengembangan tema/topik, pengembangan RPLBK, evaluasi-pelaporan-tindak lanjut, dan anggaran biaya. 1. Komponen Program Layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan secara keseluruhan dikemas dalam empat komponen layanan, yaitu komponen: (a) layanan dasar, (b) layanan peminatan dan perencanaan individual, (c) layanan responsif, dan (d) dukungan sistem. a. Layanan Dasar 1) Pengertian Layanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepad seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalamanterstruktur secara klasikal atau kelompok yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dalam rangka mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang efektif sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian). 217


2) Tujuan Layanan dasar bertujuan membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan hidup, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal. Secara rinci tujuan pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar a) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama), b) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya, c) mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan mampu mengatasi masalahnya sendiri, dan d) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling dalam komponen layanan dasar antara lain; asesmen kebutuhan, bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, pengelolaan media informasi, dan layanan bimbingan dan konseling lainnya. 3) Fokus Pengembangan Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus pengembangan kegiatan yang dilakukan diarahkan pada perkembangan aspek-aspek pribadi, sosial, belajar dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu peserta didik/konseli dalam upaya mencapai tugas-tugas perkembangan dan tercapainya kemandirian dalam kehidupannya.


b. Layanan Peminatan dan Perencanaan Individual 1) Pengertian Peminatan adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi pilihan minat, bakat dan/atau kemampuan peserta didik/konseli dengan orientasi pemusatan, perluasan, dan/atau pendalaman mata pelajaran dan/atau muatan kejuruan. 2)Tujuan Peminatan dan perencanaan individual secara umum bertujuan untuk membantu konseli agar (1) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya. 2)Fokus Pengembangan Fokus pengembangan layanan peminatan peserta didik diarahkan pada kegiatan meliputi; (1) pemberian informasi program peminatan; (2)melakukan pemetaan dan penetapan peminatan peserta didik (pengumpulan data, analisis data, interpretasi hasil analisis data dan penetapan peminatan peserta didik); (3) layanan lintas minat; (4) layanan pendalaman minat; (5)layanan pindah minat; 219


(6) pendampingan dilakukan melalui bimbingan klasikal, bimbingankelompok, konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi, (7) pengembangan dan penyaluran; (8) evaluasi dan tindak lanjut. Konselor atau guru bimbingan dan konseling berperan penting dalam layanan peminatan peserta didik dalam implementasi kurikulum 2013 dengan cara merealisasikan 8 (delapan) kegiatan tersebut. c. Layanan Responsif 1) Pengertian Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli yang menghadapi masalah dan memerlukan pertolongan dengan segera, agar peserta didik/konseli tidak mengalami hambatan dalam proses pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Tujuan Layanan responsif bertujuan untuk membantu peserta didik/konseli yang sedang mengalami masalah tertentu menyangkut perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir. 2) Fokus Pengembangan Fokus layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli yang secara nyata mengalami masalah yang mengganggu perkembangan diri dan secara potensial menghadapi masalah tertentu namun dia tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah. 220


d. Dukungan Sistem 1) Pengertian Ketiga komponen program (layanan dasar, layanan peminatan dan perencanan individual, dan responsif) sebagaimana telah disebutkan sebelumnya merupakan pemberian layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infrastruktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor atau guru bimbingan dan konseling secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik/konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik/konseli dan mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. 2) Tujuan Komponen program dukungan sistem bertujuan memberikan dukungan kepada konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam memperlancar penyelenggaraan komponen-komponen layanan sebelumnya dan mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. 3) Fokus Pengembangan Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor atau guru bimbingan dan konseling yang meliputi 221


(1) konsultasi, (2) menyelenggarakan program kerjasama, (3) berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan satuan pendidikan, (4) melakukan penelitian dan pengembangan. Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara dan tujuannya tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah. 2. Bidang Layanan Bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan mencakup empat bidang layanan, yaitu bidang layanan yang memfasilitasi perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Pada hakikatnya perkembangan tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam setiap diri individu peserta didik/konseli. a. Bimbingan dan konseling pribadi 1) Pengertian Suatu proses pemberian bantuan dari konselor atau guru bimbingan dan konseling kepada peserta didik/konseli untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab tentang perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan pribadinya secara optimal dan mencapai kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupannya. 222


2) Tujuan Bimbingan dan konseling pribadi dimaksudkan untuk membantu peserta didik/konseli agar mampu (1) memahami potensi diri dan memahami kelebihan dan kelemahannya, baik kondisi fisik maupun psikis, (2) mengembangkan potensi untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupannya, (3) menerima kelemahan kondisi diri dan mengatasinya secara baik, (4) mencapai keselarasan perkembangan antara ciptarasa-karsa, (5) mencapai kematangan/kedewasaan ciptarasa-karsa secara tepat dalam kehidupanya sesuai nilai-nilai luhur, dan (6) mengakualisasikan dirinya sesuai dengan potensi diri secara optimal berdasarkan nilai-nilai luhur budaya dan agama. 3) Ruang Lingkup Secara garis besar, lingkup materi bimbingan dan konseling pribadi meliputi pemahaman diri, pengembangan kelebihan diri, pengentasan kelemahan diri, keselarasan perkembangan cipta-rasa-karsa, kematangan/kedewasaan cipta-rasa-karsa, dan aktualiasi diri secara bertanggung jawab. b. Bimbingan dan konseling sosial 1) Pengertian Suatu proses pemberian bantuan dari konselor kepada peserta didik/konseli untuk memahami lingkungannya dan dapat melakukan interaksi sosial secara positif, terampil berinteraksi sosial, mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang dialaminya,


mampu menyesuaikan diri dan memiliki keserasian hubungan dengan lingkungan sosialnya sehingga mencapai kebahagiaan dan kebermaknaan dalam kehidupannya. 2) Tujuan Bimbingan dan konseling sosial bertujuan untuk membantu peserta didik/konseli agar mampu (1) berempati terhadap kondisi orang lain, (2) memahami keragaman latar sosial budaya, (3) menghormati dan menghargai orang lain, (4) menyesuaikan dengan nilai dan norma yang berlaku, (5) berinteraksi sosial yang efektif, (6) bekerjasama dengan orang lain secara bertanggung jawab, dan (7) mengatasi konflik dengan orang lain berdasarkan prinsip yang saling menguntungkan. 3) Ruang Lingkup Secara umum, lingkup materi bimbingan dan konseling sosial meliputi pemahaman keragaman budaya, nilai-nilai dan norma sosial, sikap sosial positif (empati, altruistis, toleran, peduli, dan kerjasama), keterampilan penyelesaian konflik secara produktif, dan keterampilan hubungan sosial yang efektif. 224


3.13.4 STRUKTUR PROGRAM Struktur Program Layanan a. Sistematika Program layanan. Program layanan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan disusun sekurang-kurangnya dengan menggunakan sistematika sebagai berikut. 1) Rasional Perlu dirumuskan dasar pemikiran tentang urgensi bimbingan dan konseling dalam keseluruhan program satuan pendidikan. Rumusan konsep dasar kaitan antara bimbingan dan konseling dengan pembelajaran/implementasi kurikulum, dampak perkembangan iptek dan konteks sosial budaya hidup masyarakat (termasuk peserta didik), dan halhal lain yang dianggap relevan. 2) Visi dan Misi Sajian visi dan misi bimbingan dan konseling harus sesuai dengan visi dan misi sekolah/madrasah, oleh karena itu sajikan visi dan misi sekolah/madrasah kemudian rumuskan visi dan misi program layanan bimbingan dan konseling. 3) Deskripsi Kebutuhan Rumusan didasarkan atas hasil asesmen kebutuhan (need assessment) peserta didik/konseli dan lingkungannya ke dalam rumusan perilakuperilaku yang diharapkan dikuasai peserta didik/konseli. 4) Tujuan Rumusan tujuan yang akan dicapai disusun dalam bentuk perilaku yang harus dikuasai peserta didik/ konseli setelah memperoleh layanan bimbingan dan konseling.


5) Komponen Program. Komponen program bimbingan dan konseling di satuan pendidikan meliputi: (1) Layanan Dasar, (2) Layanan Peminatanan peserta didik dan Perencanaan Individual (3) Layanan Responsif, dan (4) Dukungan sistem. 6) Bidang layanan Bidang layanan bimbingan dan konseling meliputi pribadi, sosial, belajar dan karir. Materi layanan bimbingan klasikal disajikan secara proporsional sesuai dengan hasil asesmen kebutuhan 4 (empat) bidang layanan. 7) Rencana Operasional (Action Plan) Rencana kegiatan (action plans) diperlukan untuk menjamin program bimbingan dan konseling dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Rencana kegiatan adalah uraian detil dari program yang menggambarkan struktur isi program, baik kegiatan untuk memfasilitasi peserta didik/konseli mencapai kemandirian dalam kehidupannya. 8) Pengembangan Tema/Topik. Tema/topik ini merupakan rincian lanjut dari identifikasi diskripsi kebutuhan peserta didik dalam aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karir. Pengembangan Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling (RPLBK). RPLBK dikembangkan sesuai dengan tema/topikdan sistematika yang diatur dalam panduan penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan.


9) Evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut. Rencana evaluasiperkembangan peserta didik/konseli didasarkan pada rumusan tujuan yang ingin dicapai dari layanan yang dilakukan. Di samping itu, perlu dilakukan evaluasi keterlaksanaan program, dan hasilnya sebagai bentuk akuntabilitas layanan bimbingan dan konseling. Hasil eveluasi harus dilaporkan dan diakhiri dengan rekomendasi tentang tindak lanjut pengembangan program selanjutnya. 3.13.5 BENTUK LAYANAN BK DALAM KELAS DAN LUAR KELAS 1) Layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas. a) Layanan bimbingan dan konseling di dalam kelas (bimbingan klasikal) merupakan layanan yang dilaksanakan dalam seting kelas. b) Khusus di kelas X Volume kegiatan tatap muka secara klasikal (bimbingan klasikal) adalah 2 (dua) jam per kelas (rombongan belajar) perminggu dan dilaksanakan secara terjadwal di kelas. c) Materi layanan bimbingan klasikal meliputi empat bidang layanan Bimbingan dan Konseling diberikan secara proporsioal sesuai kebutuhan peserta didik/konseli yang meliputi aspek perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karirdalamkerangka pencapaian perkembangan optimal peserta didik dan tujuan pendidikan nasional. d) Materi layanan bimbingan klasikal disusun dalam bentuk rencana pelaksanaan layanan bimbingan klasikal (RPLBK). e) Bimbingan klasikal diberikan secara runtut dan terjadwal di kelas 227


2) Layanan bimbingan dan konseling di luar kelas. Kegiatan layanan bimbingan dan konseling di luar kelas, meliputi konseling individual, konseling kelompok, kunjungan rumah (home visit), dengan tetap menjaga Protokol kesehatan, pengelolaan media informasi yang meliputi website dan/atau leaflet dan/atau papan bimbingan dan konseling, pengelolaan kotak masalah, dan kegiatan lain yang mendukung kualitas layanan. Kegiatan BK ini selalu berkolaborasi dengan Wali kelas, dan selalu melaporkan hasilnya kepada Kepala Sekolah. Gambar 10. Pemanggilan peserta didik yang bermasalah dengan didampingi orangtua 228


3.14 EKSTRAKURIKULER 3.14.1 EKSTRAKURIKULER WAJIB PENDIDIKAN KEPRAMUKAAN Sesuai Permendikbud Nomor 62 dan Nomor 63 Tahun 2014,Kepramukaan merupakan ekstrakurikuler wajib untuk Kurikulum 2013 dan ekstra pilihan untuk kurikulum Merdeka Penilaian Pendidikan Kepramukaan mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Penilaian dilakukan secara kualitatif. b. Kriteria keberhasilan lebih ditentukan oleh proses dan keikutsertaan peserta didik. c. Peserta didik diwajibkan untuk mendapatkan nilai minimal baik pada kegiatan ekstrakurikuler wajib pada setiap semester. d. Nilai yang diperoleh pada kegiatan Pendidikan Kepramukaan sebagai Ekstrakurikuler Wajib berpengaruh terhadap kenaikan kelas peserta didik. e. Bagi peserta didik yang belum mencapai nilai minimal baik perlu mendapat bimbingan terus menerus untuk mencapai nilai baik. 3.14.2 EKSTRAKURIKULER PILIHAN Sesuai Permendikbud Nomor 62 Tahun 2014 Kegiatan Ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan merupakan Kegiatan Ekstrakurikuler yang dikembangkan dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan sesuai bakat dan minat peserta didik. 229


Pengembangan berbagai bentuk Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan dilakukan dengan mengacu pada prinsip: a. partisipasi aktif; dan b. menyenangkan. Pengembangan berbagai bentuk Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan dilakukan melalui tahapan: a. identifikasi kebutuhan, potensi, dan minat peserta didik; b. analisis sumber daya yang diperlukan untuk penyelenggaraannya; c. pemenuhan kebutuhan sumber daya sesuai pilihan peserta didik atau menyalurkannya ke satuan pendidikan atau lembaga lainnya; d. penyusunan program Kegiatan Ekstrakurikuler; dan e. penetapan bentuk kegiatan yang diselenggarakan; Program Kegiatan Ekstrakurikuler disosialisasikan kepada peserta didik dan orangtua/wali pada setiap awal tahun pelajaran. Pelaksanaan program Kegiatan Ekstrakurikuler mempertimbangkan penggunaan sumber daya bersama yang tersedia pada gugus sekolah atau klaster sekolah. Penggunaan sumber daya bersama difasilitasi oleh pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. SMA Negeri 18 memberikan penilaian terhadap kinerja peserta didik dalam Kegiatan Ekstrakurikuler secara kualitatif dan dideskripsikan pada rapor peserta didik. SMA Negeri 18 melakukan evaluasi Program Kegiatan Ekstrakurikuler pada setiap akhir tahun ajaran untuk mengukur ketercapaian tujuan pada setiap indikator yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi Program Kegiatan Ekstrakurikuler digunakan untuk penyempurnaan Program Kegiatan Ekstrakurikuler tahun ajaran berikutnya. 230


TUJUAN, FUNGSI DAN RUANG LINGKUP KEGIATAN EKSTRAKURIKULER 1. Tujuan Tujuan dari pelaksanaan ekstrakurikuler menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan a) Meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, efektif dan psikomotor. b) Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif. c) Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler harus berpangkal pada kegiatan yang dapat menunjang serta dapat mendukung program intrakurikuler dan program kurikuler. 2. Fungsi Fungsi dari kegiatan ekstrakurikuler dalam satuan pendidikan adalah: a) Fungsi pengembangan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan. b) Fungsi sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik. Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktek keterampilan sosial, dan internalisasi nilai moral dan nilai sosial.


c) Fungsi rekreatif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan sehingga menunjang proses perkembangan peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat menjadikan kehidupan atau atmosfer sekolah lebih menantang dan lebih menarik bagi peserta didik. d) Fungsi persiapan karir, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik melalui pengembangan kapasitas. 3. Ruang Lingkup Ruang lingkup dari kegiatan ekstrakurikuler adalah: a) Pengembangan pengetahuan dan kemampuan penalaran siswa. b) Pengembangan keterampilan melalui hobi dan minat siswa. c) Pengembangan sikap yang menunjang program kurikuler dan kokurikuler. JENIS KEGIATAN EKSTRAKURIKULER Kegiatan ekstrakurikuler dapat berbentuk; 1. Krida, meliputi Kepramukaan, Palang Merah Remaja (PMR), Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA). 2. Karya ilmiah, meliputi Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR). 3. Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, meliputi pengembangan bakat olah raga, seni dan budaya, cinta alam, jurnalistik, teater, keagamaan 4. Seminar, lokakarya, dan pameran/bazar, dengan substansi antara lain karir, pendidikan, kesehatan, perlindungan HAM, keagamaan, seni budaya. 232


PELAKSANAAN DAN PENILAIAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER Pelaksanaan Peserta didik harus mengikuti program ekstrakurikuler wajib dan dapat mengikuti suatu program ekstrakurikuler pilihan baik yang terkait maupun yang tidak terkait dengan suatu mata pelajaran di satuan pendidikan tempatnya belajar. Penjadwalan waktu kegiatan ekstrakurikuler sudah harus dirancang pada awal tahun atau semester dan di bawah bimbingan kepala sekolah atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan peserta didik. Jadwal waktu kegiatan ekstrakurikuler diatur sedemikian rupa sehingga tidak menghambat pelaksanaan kegiatan kurikuler atau dapat menyebabkan gangguan bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan kurikuler. Senin ( 16.00 – 17.00 ) di sekolah : Bola tangan Selasa ( 16.00 – 17.00 ) di sekolah : futsal, Basket , Jurnalistik Rabu ( 16.00 – 17.00 ) di sekolah : Voli, Paduan Suara Kamis ( 16.00 – 17.00 ) di sekolah : B a s k e t , Ecoschool, English Club Jum’at ( 14.00 – 15.00 ) di sekolah : Jurnalis,Pramuka Sabtu ( 8.00 – 10.00 ) di sekolah : SKI, KIR , PMR, Cheer,Band,Paskib, Di: luar sekolah : Bola tangkis ( 16.00 – 17.00 ) : sepak bola 233


3.15 PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP Kecakapan hidup (Life Skills) adalah kemampuan untuk perilaku adaptif dan positif yang memungkinkan manusia untuk secara efektif menghadapi tuntutan dan tantangan hidup. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) adalah Pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri. Tujuan umum pendidikan kecakapan hidup diantaranya yaitu: Mengaktualisasikan potensi siswa sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai prinsip pendidikan yang berbasis luas . Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah . GB.11. Kunjungan ke kelurahan terdekat , belajar tentang pembibitan 234


Gb.12.Kunjungan ke kelurahan, belajar tentang pembuatan Takakura/ pengolahan sampah Gb.13.Membatik Pendidikan Kecakapan hidup di SMA Negeri 18 Surabaya menitikberatkan pada Penerapan pendidikan kecakapan hidup yang menggambarkan kewirausahaan dan ekonomi kreatif. 235


Implementasi Pendidikan kecakapan hidup dalam proses pembelajaran dapat dilakukan karena pembekalan kecakapan hidup merupakan pesan Pendidikan yang keberhasilannya sangat tergantung pada cara penyampaian bukan pada materi pesannya. Untuk seluruh peserta didik, secara Umum prinsip implementasi konsep kecakapan hidup mencakup tiga hal yaitu; sikap, pengetahuan, dan keterampilan praktis dengan fokus; 1) Menekankan pada pola pembelajaran yang mengarahkan kepada prinsip learning to think, learning to do, learning to be, learning to live together. 2) Menggunakan pendekatan saintifik dalam pembelajaran. 3) Pola pendekatan diarahkan kepada proses pembiasaan. 4) Perancangan pembelajaran mengacu pada keterpaduan penguasaan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 5) Perancangan strategi pembelajaran diarahkan pada prinsip cara belajar peserta didik aktif yaitu peserta didik sebagai subyek bukan obyek. 6) Menerapkan penggunaan metode dalam pembelajaran yang bermacam-macam. 7) Peran guru lebih sebagai perancang dan fasilitator untuk terjadi proses belajar, bukan pada terjadinya proses mengajar. 8) Diskusi kelas, dapat digunakan untuk melatih kemampuan berkomunikasi, mengeluarkan pendapat, menghargai pendapat orang, tidak memaksakan kehendak pribadi, tidak emosional dalam diskusi, dan menghargai adanya perbedaan sudut pandang. Strategi Pelaksanaan Pendidikan kecakapan hidup yang diterapkan oleh sekolah merupakan bagian dari pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Dengan demikian, materi kecakapan hidup akan diperoleh peserta didik melalui kegiatan pembelajaran sehari – hari yang diemban oleh mata pelajaran yang bersangkutan. 236


Materi Pendidikan Kecakapan Hidup yang diterapkan di SMA Negeri 18 Surabaya antara lain; 1. Pendidikan Agama; Bisa Baca Tulis Al-Qur’an , Penyelenggaraan shalat jenazah dan Ceramah agama 2. Bahasa Indonesia; Penulisan puisi, Penulisan cerpen, Penulisan Naskah Drama, dan Jurnalistik. 3. Dapat juga di kolabarasikan kedalam program P 5 di Kelas X dan Kelas XI pada Kurikulum Merdeka 237


Click to View FlipBook Version