44 31. Muhammad Umar, dengan gelar Sultan Qaimuddin (Sangia Yi Bariya). la memerintah 1886-1905 M. Dimasa pemerintahan sultan ini terjadi hal seperti perjanjian di tahun 1873 M dengan Belanda. Perjanjian tahun 1873 tersebut sebenarnya akan diadakan pada zaman Sultan Salihi tetapi terlambat dikabarkan sehingga beliau tidak mau menyepakatinya. Selanjutnya semua gudang arang di Bau-Bau dicobanya hendak dibakar dan Sultan memerintahkan kepada tentara yang menjaga gudang-gudang itu supaya kembali ke Makassar. tetapi tidak diindahkan. Tahun 1887 M Gubernur Makassar waktu mengunjungi Buton tidak diterima dengan baik, sehingga tiga bulan kemudian sebanyak empat buah kapal perang datang dengan tujuan mengancam Buton sehingga sultan terpaksa menandatangani perjanjian itu. 32. Muhammad Asyikin, yang bergelar Sultan Aidilirrahim (Antara Maedani). Ia memerintah 1906 1911 M. Pada tahun 1906 M Residen Brugman datang di Buton dengan membawa beberapa kapal perang. Sultan Buton menyetujui suatu perjanjian. Pada tanggal 8 April 1906 M di Buton ditempatkan pasukan infantri di bawah pimpinan Letnan Levan Figh Mantingh Navius.
45 33. Muhammad Husain, dengan gelar Sultan Dayan Ikhsan Qaimuddin (Oputa Talumbulana). la memerintah 1912-1914 M. Pada tanggal 30 Agustus 1912 sultan Buton menandatangani Surat Keterangan Pendek. Dari tahun 1914-1918 M Sapati Abdul Latief mewakili sultan Buton dalam melaksanakan roda pemerintahan. Pada tanggal 15 April 1914 Zelfbestuur Buton melepaskan kekuasaanya atas Pulau Wawonii. 34. Muhammad Ali, dengan gelar Sultan Qaimuddin (Oputa Yi Dalana Uwe ). la memerintah 1918-1921 M. Pada tanggal 30 Maret 1918 M sultan Buton menandatangani Surat Keterangan Pendek. Tahun 1921 1922 M Sapati La Ode Falihi mewakili sultan dalam menjalankam roda pemerintahan sambil menunggu pemilihan sultan. 35. Muhammad Nafiu, bergelar Sultan Muhammad Safiul Anamiwal Adil Yatim Ibnu Abdullah (Oputa Motembana Karon /Moilana Yi Waara). la memerintah pada tahun 1922 1924 M. Pada tanggai 8 juli 1922 Suitan ini menandatangani Surat Keterangan Pendek. Tanggal 24 Agustus 1924 M sultan ini membunuh diri di Waara. Sapati La Ode Falihi menjadi wakil sultan dari tahun 1924-1928 M. La Ode Hamid kepala distrik
46 Sampolawa mengisi kekosongan sementara dengan status mewakili sultan. 36. La Ode Abdul Hamid, yang bergelar Sultan Abdul Hamid Qaimuddin (Moilana Yi Malige). la memerintah pada tahun 1928-1937 M. Pada tanggal 30 Agustus 1928 M sultan ini menandatangani surat perjanjian dengan pemerintah Belanda dan pada 22 Februari 1937 M, sultan ini wafat. Selanjutnya Sapati La Ode Falihi menjadi wakil sultan dalam menjalankan roda pemerintahan sambil menunggu pengangkatan sultan baru. 37. La Ode Muhammad Falihi, yang bergelar Sultan La Ode Muhammad Falihi Qaimuddin. Beliau dilantik menjadi Sultan pada tanggal 24 Juli 1938 M. la memerintah 1938-1960 M. Sultan ini wafat pada tanggal 23 Juli 1960 M/29 Muharram 1380 H. Dengan wafatnya beliau maka berakhirlah masa Kesultanan Buton. Selanjutnya dengan Undang Undang No. 29/1959 daerah Swapraja dihapuskan dan diganti dengan daerah Swatantra Tingkat II Buton. Tanggal 1 Maret 1960 La Ode Abdul Halim dilantik menjadi Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Buton sampai dengan 6 Desember 1964 M. La Ode Abdul Halim meninggal dunia pada
47 tanggal 4 Juli 1971 M dan dimakamkan di Loji Desa Nganganaumala. 2.3. Tata Cara Pelantikan Sultan Menurut ketentuan adat yang dapat diangkat menjadi sultan adalah golongan bangsawan (Kaomu). Kaomu ini terdiri dari 3 golongan yaitu: (1) Golongan Tanailandu, (2) Golongan Tapi-tapi, dan (3) Golongan Kumbewaha. Dalam ketentuan adat juga disebutkan yang berhak menetapkan seorang Kaomu untuk menjadi sultan adalah Dewan Siolimbona yang terdiri dari 9 orang Bonto yaitu: Bontona Baaluwu, Bontona Gundu-Gundu, Bontona Peropa, Bontona Barangkatopa, Bontona Gama, Bontona Siompu, Bontona Wandailolo, Bontona Rakia, dan Bontona Melai. Berkaitan dengan pencalonan Sultan maka setiap anggota Kamborumboru dijaga atau diawasi oleh tiga orang Bonto Siolimbona, yaitu: 1. Anggota Kamboru-mboru Tanailandu diawasi oleh Bontona Gundu-Gundu, Bontona Peropa dan Bontona Rakia. 2. Anggota Kamboru-mboru Tapi-tapi diawasi oleh Bontona Barangkatopa, Bontona Baaluwu dan Bontona Wandailolo. 3. Anggota Kamboru-mboru Kumbewaha diawasi oleh Bontona Gama, Bontona Siompu dan Bontona Melai.
48 Yang dijaga itu bukan saja pada saat ada pencalonan sultan melainkan setiap ada Kamborumboru, terutama yang diawasinya bagaimana perilakunya sehari-hari, bagaimana tindak-tanduknya, perbuatannya dan sebagainya. Pendek kata ia harus mengetahui kebaikannya dan keburukannya yang menjadi catatan dalam hatinya. Yang menjadi andalan setiap anggota Kamboru-mboru, tetap dipegang dan dipantau terus sehingga bila nanti diperlukan sudah ada persiapan. Namun sesuai tradisi yang ada, mekanismenya adalah pertama dicari di Kamboru-mboru Tanailandu, bila tidak ditemukan di Tanailandu barulah pindah ke Țapi-Tapi, juga bilamana tidak barulah pindah ke Kumbewaha. Tentunya dari pantauan Siolimbona, akan mencari putera yang terbaik (1orang ) dari salah satu Kamboru-mboru. Hal demikian harus melalui rapat khusus Siolimbona sehingga dapat menetapkan pilihan. Keputusan Siolimbona harus disampaikan kepada Bonto Ogena yang dikenal dalam bahasa adat Buton Katangena artinya menyampaikan bungkusannya (isi hatinya). Di saat itulah Bontona Peropa mengatakan: Jou Bonto ogena, Yikawata yingkita Siy temanga andimiu akamiu, padamo tapomapeloa yi kabumbu taluanguna siy incana kauaindana laki wolio siy modangaiana Siy yi ………….. (salah satu anggota
49 Kamboru-mboru dan sebutkan nama yang bersangkutan). Setelah calon diterima oleh Bonto Ogena, mereka kembali dan meminta pertimbangan. Calon tambahan dari semua pejabat-pejabat tinggi yang ada disebut Kambojai. Tetapi saat setiap anggota Siolimbona terus menjaga kerahasiaan calon untuk siapa pun tak dapat dibocorkan. Kambojai untuk Tapi-tapi dikambojai oleh tiga orang Siolimbona yang menjadi pengawasnya. Sedangkan untuk dan golongan Tanailandu dan Kumbewaha dikambojai oleh 6 Siolimbona sekaligus oleh gabungan 2 pengawasnya. Dalam menyampaikan Kambojoi bahasanya telah dipolakan sebagai berikut: Siy Jou Yumbaakamami ingkita siy atumpu kami opuamiu tapa rua tapana. Tamagimpi temalalanda yi sapuluruanguna. Kamondo mami siy tapepesusuaka dala makate mosakalina kakate tee dala mainawa mosakalina kainawa. Maka pejabat yang dikunjungi itu menjawab: Siy Jou padamo kurangoa, mbakanamo kulawani kitamo. Okalalaki yinda taposala- sala maka yikama
50 kamata siy somo mini …………….…….. (sebut namanya). Salapasi inciasumai yaku inda kupogaa te sara. Siapa-siapa saja yang diusulkan melalui Kambojai ini harus dilaporkan kepada Bonto Ogena. Proses selanjutnya Bonto Ogena menetapkan hari yang baik untuk menetapkan calon tetap dengan istilah di "Paso" dikukuhkan untuk dilanjutkan di Fali di Masjid Agung Keraton untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT pada jam 00.00 malam Jum'at. Yang menghadiri Fali ini kesembilan orang Bonto Siolimbona dan Juru Tulis (kurang lebih sekjen dalam jabatan sekarang ini) Kesultanan. Bilamana yang di fali hanya seorang yaitu yang telah di Paso maka fali hanya sekali. Di sini telah nampak hasilnya yaitu baik atau buruk masa pemerintahannya. Bilamana pelaksanaan fali, selalu seorang Siolimbona keturunan Juru Tulis Mancuana (Lamanjipou) melaksanakan Shalat Hajat 2 rakaat (istikhorah) dengan maksud meminta petunjuk Allah SWT, kemudian seorang Siolimbona lagi keturunan Lamanjipou membuka Al-Qur'an sembarang halaman dengan disaksikan seluruh hadirin yang lain. Setelah terbuka maka dibuka lagi (dihitung) 7 lembar dari pertemuan Huruf H dan KH. Masing-masing dicatat jumlahnya sampai akhir surat yang bersangkutan. Bila
51 ternyata huruf KH lebih banyak dari H maka itulah yang terbaik. Bilamana calon lebih dari 1 orang maka fali harus diulang lagi. Dari kedua calon yang ada maka KH yang ada dibandingkan, dan yang mempunyai lebih banyak KH maka calon itu yang keluar sebagai yang dirahmati. Hasil fali ini dilaporkan kepada Bonto Ogena. Selanjutnya Bonto Ogena menetapkan hasil yang baik untuk pengukuhan sebagai calon mutlak melalui upacara "Sokayana Pau" (peresmian Calon Sultan di Baruga Keraton). Yang dimaksud adalah tindak lanjut dari proses untuk menjadi Sultan Buton yang definitif berupa pengumuman resmi dengan mengambil tempat di Baruga Keraton. Bonto Ogena mengadakan undangan kepada para penjabat kesultanan untuk hadir di Baruga. Setelah semua undangan hadir dan telah menempati posisinya masing-masing maka Bontona Peropa atau Bontona Baaluwu mengundang kedua orang Kapitalau (panglima perang) untuk datang di dekatnya dengan kata-kata "Jou Kapitalau Tatangkumo”. Setelah kedua Kapitalau datang maka Bontona Peropa atau Baaluwu membisikkan ke telinga kedua Kapitalau bahwa yang akan menjadi sultan adalah. (disebutkan namanya), Kedua Kapitalau mundur, Kapitalau yang akan mengumumkan menghadap ke
52 Timur sedangkan Kapitalau yang satunya juga menghadap di Barat mereka berdiri di tengah Baruga dengan pedang terhunus. Kapitalau yang menghadap ke Timur berkata: Tarango Tarango Tarango bari bari kita siy yi nunca yi sambali imondoakana Baaluwu peropa to kabolosina Laki Wolio siy ………………... (nama yang ditetapkan) incema incema mokowala walana incana mokosingku singkuna incana maimo yitanga tanga siy be kulae lae akea hancu si. Setelah yang menghadap ke Barat mengajak semua hadirin untuk berteriak dengan kata-kata Ha….. Ha…... Ha….... Kemudian kedua Kapitalau duduk kembali melapor kepada Baaluwu Peropa dengan katakata: "Alapasimo Jou”. Kemudian kedua Kapitalau duduk kembali ke tempatnya semula bilamana dalam sidang itu yang bersangkutan ada maka oleh Bonto Ogena memintanya untuk meninggalkan tempat, pulang ke rumahnya. Dalam proses selanjutnya masih di Baruga, Bonto Ogena masih memimpin sidang tentang langkah selanjutnya berkaitan dengan telah lahirnya sultan. Bonto Ogena mangirimkan dua delegasi kepada sultan baru, yaitu:
53 - Delegasi I terdiri dari beberapa orang Bonto dan Bobato untuk datang ke tempat sultan terpilih dengan permintaan untuk tetap di rumah jangan keluar-keluar karena akan ada penyampaian dari syara. - Delegasi II adalah delegasi resmi ini terdiri dari 8 orang Bonto (5 Bonto Siolimbona + 3 Bonto Isyara) dan 8 orang Bobato dan 8 orang Talombo (penjaga keamanan). Delegasi ini dipimpin oleh Bontona syara. Kedatangannya adalah penyampaian secara resmi penyampaian Bontona Syara kepada sultan terpilih sebagai berikut: Siy atumpu kami Syara baribaria te manga amamiu opua miu temanga andimiu akamiu mia ogena te opua miu Baaluwu Peropa te pua miu tapa rua tapana dangiapo mini ingkita momataua sapulu ruanguna momataua inunca isambali patapatawalea patapata singkua te batu batuna te singku singkuna dangiapo mini ingkita mo kawara wara akea mokambena mbenakea yinunca yisambali patapata walea pata patasingkua mokantuntuakea tana siy. Pelantikan Sultan secara keseluruhan terdiri atas dan tahap tahap yaitu tahap persiapan dua pelaksanaan. 2.3.1 Tahap Persiapan
54 Pada tahap persiapan ini mencakup 2 hal yaitu: persiapan yang berhubungan langsung dengan pribadi sultan, dan persiapan yang berhubungan tempat dan perlengkapan upacara. 1. Persiapan yang berhubungan dengan pribadi sultan meliputi: Persiapan air suci dalam wadah tingko (bambu/tombula) untuk memandikan sultan sebelum menuju tempat pelantikan. Penyediaan mayang kelapa gading sebagai peiengkap air persiraman Sultan. Penyediaan gendang dan gong. Penyediaan kelambu sebagai sundung air suci dan mayang kelapa gading sebelum diantar ke kediaman calon sultan. Air dan mayang tersebut disiapkan oleh pengalasa dari Tobe-tobe. Persiapan perlengkapan tersebut disiapkan sehari sebelum hari pelantikan. 2. Persiapan tempat pelaksanaan upacara. Upacara pelantikan dilakukan di Baruga yang terletak di depan Masjid Agung Kesultanan. Persiapan tempat pelantikan tidak lain adalah menyiapkan Baruga dengan segala fasilitas pelantikan yaitu: a. Penataan ruang dan tempat duduk masingmasing pejabat kesultanan sesuai dengan tingkatan jabatannya.
55 b. Penyiapan perlengkapan upacara pelantikan, terutama payung lumbu-lumbu (pau lumbulumbu) yang berwarna kuning di samping perlengkapan lainnya, seperti gala, kiwalu, sulosulo, gambi soda, kambero Jawa 2.3.2 Tahap Pelaksanaan Pada tahapan pelaksanaan ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu: 1. Penjemputan Sultan terpilih. 2. Memandikan Sultan. 3. Mengganti busana Sultan. 4. Pemberangkatan Sultan di Masjid. 5. Sultan dilantik di Masjid. 6. Sultan dilantik di Batu Popaua. 7. Sultan dilantik di Baruga. 2.3.2.1 Penjemputan Sultan Penjemputan Sultan dilakukan pada hari Jum'at pagi di rumah kediamannya oleh empat orang Bonto Siolimbona yakni Bontona Peropa, Bontona Baaluwu, Bontona Gundu-gundu dan Bontona Barangkatopa, dilengkapi dengan pasukan pengawal Tamburu dan Karimpani Pataanguna, 8 orang anak usia antara 8 - 10 tahun dari kerabat Walaka (Anana Baaluwu Peropa) yang bertugas membawa air suci dan
56 mayang kelapa gading. Sementara itu di rumah sultan terpilih telah menunggu didampingi oleh 11 orang Bonto yinunca. 2.3.2.2 Memandikan Sultan Setibanya rombongan Bonto Patalimbona di kediaman Sultan segera Bontona Dete melaporkan kepada sultan terpilih tentang kehadiran Bonto Patalimbona. Adapun laporan tersebut bahasa adatnya "Akawamo Opuamiu Baaluwu Peropa" (Telah tiba kakek Tuan Baaluwu Peropa). Selanjutnya dilangsungkan acara memandikan Sultan terpilih menggunakan air dari tingko yang telah disiapkan oleh Bonto Patalimbona. Pada saat yang bersamaan Permaisuri Sultan dimandikan oleh Istri Bonto Patalimbona. Menjelang selesainya memandikan sultan dan permaisuri, Bontona Gundu-gundu menguraikan mayang kelapa dari selendangnya untuk selanjutnya dikipas-kipaskan di belakang Sultan sebelah kiri 8 kali dan sebelah kanan 9 kali oleh Bontona Barangkatopa. Di samping itu juga dilakukan pemberian tanda di jidat Sultan berupa bedak (tandea) yang diramu dari 120 macam bahan yang dilakukan oleh Bonto
57 Patalimbona. Dalam hal tersebut Bonto Patalimbona mengeluarkan perkataan: "Rango La Ode Todukumumo Welalomumo. Tandakomo La Ode boli upoande-andea Tana Siy te daga moumba te mingku mokawa. Boli dawu dawuakea kampurui ibaamu. Barangkala poande-andeakea Tana siy te daga moumba, dawu dawuakea kampurui yibaamu maropu masoka anamu te anana Baaluwu Peropa". 2.3.2.3 Mengganti Busana Sultan Usai dimandikan, Sultan mengganti busana yang telah disediakan oleh Bontona Kalau dengan Bontona Wabero Ngalu. Pakaian Sultan serba putih mulai dari dasar sampai sarung. 2.3.2.4 Pemberangkatan Setelah Sultan siap, Sultan segera diberangkatkan ke masjid didampingi Bonto Patalimbona dengan pasukan pengawal (Tamburu). Di Masjid Suitan langsung masuk dan menempati posisi yang telah disiapkan pada sisi utara mimbar, untuk selanjutnya melaksanakan Shalat Jum'at.
58 2.3.2.5 Sultan Dilantik di Masjid Setelah Shalat Jum'at, Sultan mengambil posisi duduk tasyahud di depan mimbar untuk selanjutnya dilantik dengan pemutaran payung di atas kepala oleh petugas khusus dari keturunan Saidi Raba. Usai pemutaran payung dilakukan, penulisan punggung Sultan dengan tulisan tertentu oleh keturunan Saidi Raba dari garis keturunan Sapati Waolima dan ditutup dengan pembacaan do'a yang dilakukan oleh keturunan Saidi Raba dari garis keturunan Kenepulu Tanailandu. Selanjutnya Sultan meninggalkan masjid menuju Batu Popaua. 2.3.2.6 Sultan Dilantik di Batu Popaua Setelah prosesi pelantikan Sultan di masjid selesai, dilanjutkan dengan pelantikan Sultan secara adat di Batu Popaua dengan memutarkan kembali payung kebesaran Sultan.
60 Sultan menghadap ke Barat, dengan kaki kiri diletakkan ke Batu Popaua sambil diputarkan paying kearah kanan sebanyak 9 kali. Sultan menghadap ke Timur dengan meletakkan kaki kanan di Batu Popaua sambil diputarkan payung kea rah kanan sebanyak 9 kali putara. 2.3.2.7 Sultan Menuju Baruga Setelah pelantikan di Batu Popaua, Sultan segera menuju Baruga untuk bertatap muka langsung dengan seluruh perangkat Kesultanan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Di Baruga selanjitnya Sultan menjalani prosesi “Tuturingi” di hadapan Majelis Sarana Wolio. Usai acara Tuturungi, Bontona Peropa menyampaikaan kepada Majelis Sarana Wolio bahwa “Jou Bonto Ogena, Alapasimo Tuturakana Baaluwu Peropa” dilanjutkan oleh Bonto Ogena “Jou Sapati Alapasimo Tuturakana Baaluwu Peropa Osara Bealamo Kabarakati’’. Selanjutnya sultan menghormati penghormatan dari seluruh pejabat kesultanan mulai dari pejabat tertinggi (sapati) sampai pejabat terendah. Usa pemberian penghormatan, Sultan langsung diiringkan menuju Kamali kediamannya.
61 2.3.3 Sumpah Sultan Pada saat sultan dilantik di Batu Popaua, Sultan mengangkat sumpah yang berbunyi: DE SULTANSINSTALLA THE IN BOETON ('Ise, djoea, taloe, apa, lima, ana, pitoe) Waloe, Oelagi, Sio, Oemanoeroe, Sapoeloeaka ingko La Ode) ! Rango! Rango! Rango, La Ode ! Daangiapomini ingko imondomondoakana isaasaangoeakana manga amamoe manga opoeamoe Bontona Wolio Baribaria, te manga andimoe manga akamoe Bobato baribaria, te manga andimioe manga kamioe pangka baribaria te manga opoeamoe. Tapa Roeatapana , te manga opoeamoe Baaloewoe Peropa . Daangiapo mini o ingko mokantoea ntoeakea mokambena mbenaakea mokawara waraakea i Sarana Wolio o tana siy La Ode i noentja i Sambali tee Batoe batoena te kaoekaoena. Boli oepomataakea roeambali, boli oepoandeandeaakea, boli oe peboelaakea o tana sii. Laode. Boli oealaakea kantjiana bia i tangamoe, boli oe alaakea kantjiana sala i tanga moe, boli oealaakea kantjiana kampoeroe i
62 baamoe. Oesoesoe bagamoe, Laode Oetoentoe oelagi, oetoewoe manoewoe noewoe, oedadi maloembaloemba. Boli amapiipii ba moe, boli amagarigari boekoemoe. Oe anamoe, oanamoe te anana baaloewoe o peropa; opoeamoe, opoeamoe te opoeana Baaloewoe Peropa; o ingko te iakoe. Rango, Laode! Rango, Laode! Rango, Laode! Oe ntjoeramikimea o poe langamoe te poe sakamoe i sarana Wolio. Dangiapomini oemembali anaana mangoerana imadjilisina Sarana Wolio. Atandoeakako kaoerae, Asipoko kaoepenganga, Atandoeakako waa indamo oemangaoe, soa mangaoemo motandoakako. Asipoko ratjoe indamo oe malango soamatangemo mosipoko. Asipoko koekoe, indamo atongkoko, soatongkomo mosipoko, ingko soomo tangi te potawa imataoemoe i tana sii Laode Sombakita Waopoe ! Ikawaakamami i randana aeta eaboeatakamo sapoeloe roea angoena manga opoeamioe, te koelikoelina te antoantona. Baabana isarongi koelinasapoeloe roea angoena itoe, baabaana o sara Djawa. O sara djawa itoe pata angoe o kabarina: Baabana o paoe bia. Roeangoeaka o para madani Taloeangaoeaka o gambi isoda. Pataangoeaka o somba.
63 BAB III KEDATANGAN BANGSA ASING (BELANDA) DI BUTON Sumber-sumber sejarah lokal menjelaskan bahwa sejak awal abad ke-16 Buton telah dikunjungi oleh bangsabangsa asing antara lain Bangsa Spanyol yang tiba di pantai timur Pulau Buton (Lasalimu) tahun 1521. Hal ini ditandai oleh kedatangan Magelhaens dengan bertepatan pemerintahan Raja Buton ke-5 (..... - 1538).
64 Selain itu Bangsa Portugis juga telah tiba di Buton yang ditandai dengan kunjungan Wiliam Dampier di pantai timur Pulau Buton tahun 1687 pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-12 yakni La Tumpamana (Sultan Zainuddin) (1680-1689). Kedua bangsa tersebut (Spanyol dan Protugis) tidak membawa pengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat, karena bangsa-bangsa tersebut tidak membawa misi politik. Selain kedua bangsa tersebut, Bangsa Belanda telah lebih dahulu mengunjungi Buton tahun 1613 bertepatan dengan pemerintahan Sultan Buton ke-4 La Elangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin, 1597-1631). Bangsa Belanda merupakan bangsa asing yang banyak pengaruhnya di berbagai aspek kehidupan masyarakat Buton. Falsafah pemerintahan Kesultanan Buton yang menjadi landasan perjuangan para pemimpinnya adalah "Bolimo karo Somanamo lipu" dan seterusnya "Bolimo lipu Somanamo syara dan agama". Falsafah ini mengandung doktrin atau ajaran yang mengharuskan para pemimpin dan rakyat Buton untuk melepaskan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompok atau negara, dan sekaligus juga memperjuangkan pemerintahan dan agama sebagai wujud dari perjuangan umat. Keputusan-keputusan yang diambil oleh para pemimpin Kesultanan Buton adalah merupakan pengejawantahan dari makna falsafah tersebut.
65 Dalam sejarah diketahui bahwa Kesultanan Buton telah menerima dan membina kerja sama di bidang pelayaran, perdagangan dan pertahanan dengan Kompeni Belanda (VOC). Buton adalah salah satu kerajaan yang paling awal mengadakan ikatan perjanjian dengan VOC pada tanggal 5 Januari 1613. Hubungan itu masih bersifat terselubung mengingat masa itu Kerajaan Ternate dan Makassar menyatakan berkuasa atas Buton (Cerpus Diplomaticum Eerste Deal: 104-105, Susanto, 1994:12). Adalah suatu kecerdikan dan keberhasilan VOC mempengaruhi para pembesar Kesultanan Buton dengan politik "kerjasama" yang tentunya di luar kemampuan para pemimpin Kesultanan Buton bahwa dibalik kerjasama itu ada niat Kompeni Belanda (VOC) mencari keuntungan politik dan ekonomi. Apa yang dilakukan oleh Sultan Dayanu Ikhsanuddin, Sultan Mardan Ali, dan Sultan La Simbata yang mengadakan perjanjian kerja sama dengan Kompeni Belanda (VOC) adalah agar Kesultanan Buton menjadi aman dari ancaman khususnya para bajak laut dari Ternate dan serangan dari Kerajaan Gowa dan terutama VOC sebagai kekuatan besar tidak ikut memusuhi Kesultanan Buton. Semua kekuatan besar ini semakin mengancam eksistensi Buton yang pada akhirnya akan menambah ketidaktenangan di wilayah kesultanan Buton dan perairan di sekitarnya. Tawaran Kompeni Belanda (VOC) untuk tidak saling menyerang adalah suatu keberuntungan bagi kedua belah pihak sebab musuh-
66 musuh kesultanan Buton juga adalah musuh Kompeni Belanda (VOC). Selain itu bagi VOC dengan terjalinnya hubungan dengan Kesultanan Buton berarti telah menguasai jalur dagang dan pelayaran ke Timur dan ini adalah tujuan utama bagi kepentingan pelayaran dan perdagangan VOC. Keputusan-keputusan yang diambil oleh para pemimpin Kesultanan Buton saat itu untuk bekerja sama dengan Kompeni Belanda (VOC), juga disebabkan karena Buton diapit oleh dua kekuatan yaitu Ternate dan Gowa, sedang Buton sebagai jembatan penghubung di antara keduanya. Ternate sebagai kerajaan yang menguasai pusat penghasil rempah-rempah dan Gowa menjadi penghubung distributor, penyalur ke bagian Barat Nusantara dan sekaligus juga menguasai pelayaran dan perdagangan. Sering kali Kesultanan Buton bekerja sama dengan Kompeni Belanda (VOC), hanya merupakan suatu taktik guna menghadapi ancaman dari luar, terutama yang datang dari dua kerajaan tersebut yang selalu berusaha untuk menguasainya, atau hanya karena dibayangi oleh kekhawatiran atas kekuatan VOC sebagai kekuatan besar yang selalu berusaha untuk memaksakan kehendaknya dengan penyelesaian melalui perang, sekiranya pihak Buton menolak untuk mengikat perjanjian. Namun secara jelas Kesultanan Buton juga berusaha untuk mengembangkan pengaruh dan melebarkan
67 sayapnya pada kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Oleh sebab itu kerjasama dengan kompeni juga dimanfaatkan oleh Kesultanan Buton, karena di perairan Buton dan sekitarnya bukanlah merupakan kawasan yang aman dan seringkali terjadi perang antarkerajaan. Oleh karena itu, ajakan Kompeni Belanda (VOC) untuk membina hubungan kerja sama disambut dengan baik. Tentunya pihak Buton mempunyai perhitungan diplomatik bisa memanfaatkan kompeni dan terutama belajar dari cara-cara mereka. Kalau dipertanyakan apakah kesultanan Buton mengadakan perlawanan terhadap Kompeni Belanda (VOC)? Tidak mudah untuk menjawab bahwa Kesultanan Buton tidak mengadakan perlawanan. Setuju atau tidak, setiap sikap yang diambil, sudah merupakan suatu strategi perjuangan serta keputusan dari para pemimpinnya untuk berjuang melalui diplomasi dengan jalan koperasi demi keselamatan kerajaannya. Tetapi dalam perjalanan panjang ikatan perjanjian kerja sama ini ternyata kondisi saat itu memaksa pihak Buton mengadakan perlawanan terhadap Kompeni Belanda (VOC) yang telah berubah menjadi Hindia Belanda. Hubungan yang dibina Sultan Mardan Ali dengan Kompeni Belanda (VOC) juga diperlihatkan pada saat Gubernur Amboina menuju ke Batavia yang terlebih dahulu singgah di Buton. Pada saat berada di Buton mendapat kunjungan dari Sultan Mardan Ali di atas kapal tumpangannya. Dalam pertemuan itu mereka membicarakan bahwa meski terjadi ketegangan karena tindakan rakyat Buton terhadap peristiwa di Pulau Sagori, namun menurut De Vlaming
68 (Gubernur Amboina) tidak akan merasak citra hubungan baik Buton dan Kompeni Belanda (VOC). De Vlaming Van Autshoorm sebelum meneruskan perjalanan ke Batavia terlebih dahulu mengadakan kunjungan balasan di istana Sultan Mardan Ali (Ligtvoet 1877:27, de Jong, 1916). Pada tahun 1650 De Vlaming Van Autshoorm singgah lagi di Kesultanan Buton dalam perjalanan pulang menuju Ternate. Singgahnya di Buton untuk menyampaikan ucapan terima kasih Kompeni (VOC) atas bantuan Sultan Mardan Ali yang memberikan bantuan kepada orang-orang Belanda pada peristiwa kandasnya kapal Kompeni (VOC) di Pulau Sagori. Pada saat De Vlaming ada di Buton juga diadakan perjanjian dengan Sultan Mardana Ali yang oleh rakyat Buton mengenal atau menyebut perjanjian ini dengan "Janji Pataanguna" artinya perjanjian yang keempat (Ligthvoet 1878: 7-41). Sebagai realisasi perjanjian antara Buton dan VOC yang saling membantu, musuh kompeni berarti juga musuh Buton . Demikian sebaliknya apabila ada yang menyerang Buton berarti juga menyerang Kompeni Belanda (VOC). Ketika itu di Amboina tepatnya di Ambalau sedang terjadi perlawanan rakyat menentang Kompeni Belanda (VOC), maka De Vlaming segera meninggalkan Buton menuju Amboina (Maluku). Dalam rombongan Gubernur De Vlaming ikut serta tentara bantuan dari Buton untuk ikut ambil bagian memadamkan perlawanan Ambalau yang
69 dipimpin oleh Majira yang dapat bantuan pasukan dari tentara Kerajaan Gowa dipimpin oleh "Daeng ri Bulekang" yang mengambil posisi pertahanan di Teluk Hoamoa. Akan tetapi perlawanan rakyat Ambalau dapat dipadamkaan Kompeni Belanda (VOC) pada tahun 1655. Setelah berakhirnya perlawanan rakyat Ambalau Kompeni De Vlaming Van Autshoorm kembali lagi di Buton untuk memberikan bantuan pengawal tentara VOC kepada Sultan Mardan Ali sebanyak 2 orang dan 10 pound obat (mesiu). Pada bulan Desember 1653 pengawal Sultan Mardan Ali dari tentara VOC bertambah lagi menjadi 13 orang dan kepada Sultan Mardan Ali, De Vlaming Van Autshoorm berjanji untuk membangun 2 buah loji sebagai benteng pertahanan pantai di tepi Kali Bau-Bau (Zahari, 1977:28). Selama pemerintahan Sultan Mardan Ali kontak dan hubungan Kompeni dengan Buton membawa angin segar bagi Kesultanan Buton namun Sultan Mardan Ali semakin menunjukkan sikap yang kurang disenangi oleh rakyat. Sebab kebaikan hati De Vlaming terhadap Sultan mempunyai tujuan tertentu, yaitu menginginkan penandatanganan suatu perjanjian antara Buton dengan Kompeni Belanda. Saat Sultan diundang berkunjung ke atas kapal VOC yang berlabuh di teluk Bau-Bau Sultan dipaksa oleh kompeni untuk membubuhkan tanda tangan, sementara Sultan belum bermusyawarah dengan Dewan
70 Syara Kesultanan. Demi keselamatan Sultan dan pengikutnya yang telah ditawan di atas kapal, maka setelah berkonsultasi dengan pembesar kesultanan yang ikut saat itu memberi saran kepada Sultan Mardan Ali agar ditandatangani saja. Dalam bahasa Wolio berkata "Ta tanda tangamo waopu daampomini olenci aburu " maksudnya "Silahkan tanda tangan sultan nanti kemudian baru kita berdiplomasi (berjuang)". Ungkapan ini sering dituturkan secara lisan oleh para orang tua di Buton bila mengenang peristiwa tersebut. Tetapi kejadian yang telah dilakukan sultan di atas kapal kompeni itu ternyata mempunyai dampak terhadap diri sultan yang menyebabkan timbulnya konflik dalam Kesultanan Buton. Dalam bulan Oktober 1654 De Vlaming singgah lagi di Buton bersama Sultan Ternate Mandarsyah. Mengancam Sultan Buton akan diturunkan dari jabatannya, kalau rakyat mereka, yang berutang kepada Kompeni tidak segera dilunasi dan menyelesaikan masalah tersebut. Sebelum Sultan Mardan Ali dipecat oleh Dewan Syara Kesultanan, De Vlaming menepati janjinya kepada Sultan untuk membangun dua buah loji di pinggir Kali Bau-Bau yaitu di Kota Mara, sekarang lokasi tersebut di Kelurahan Nganganaumala. Pada tahun 1654 Sultan Mardan Ali dipecat oleh Dewan Syara Kesultanan, karena melakukan tindakan yang melanggar adat dan agama, terutama perlakuan sewenang wenang-mengambil istri-istri para pernbesar kesultanan. Kompeni dan Sultan Ternate
71 Mandarsyah tidak dapat mempertahankan Sultan Ali, walaupun telah berjasa kepada Kompeni terutama dalam membina hubungan yang baik oleh Syara Buton. Sultan dihukum mati di tiang gantungan, dalam bahasa Wolio disebut "Gogoli i Liwuto". Sebelum dilakukan eksekusi terhadap diri Sultan Mardan Ali terlebih dahulu rakyat memberikan reaksi terhadap Kompeni yang telah jauh mencampuri urusan politik Kesultanan Buton. Reaksi rakyat iahir menjadi aksi tindakan yaitu membunuh tentara VOC yang menjadi pengawal Sultan Mardan Ali sebanyak 13 orang. Setelah kompeni mengetahui peristiwa ini, mengirim Kapten de Roos menyerang Buton dan membakar kampung-kampung yang terletak tidak jauh dari Kota Bau-Bau (Zahari, 1977:29). Ada beberapa hasil perjanjian antara Buton dengan Kompeni Belanda dibuang ke laut bersama stempel kesultanan pada saat Sultan Mardan Ali menuju Pulau Makassar tempat eksekusi beliau. Akhirnya cukup beralasan bagi Kesultanan Buton bahwa hasil-hasil perjanjiannya dengan Kompeni telah hilang tidak diketahui lagi. dimanfaatkan oleh para pembesar kesultanan Buton untuk sengaja tidak menepati lagi beberapa perjanjian, atau sengaja menghilangkan jejak hasil-hasil perjanjian Kompeni Belanda dengan Kesultanan Buton pada masa Sultan Mardan Ali. Misalnya perjanjian antara VOC, Ternate
72 dengan Buton bahwa sultan yang terpilih sebelum memangku jabatan terlebih dahulu dikonsultasikan dengan Kompeni Belanda dan Raja Ternate. Bagian ini kemudian tidak ditepati lagi oleh Kesultanan Buton. Mardan Ali digantikan oleh Sultan Malik Sirullah (La Awu). Pada masa pemerintahan Sultan Malik Sirullah (La Awu) Kesultanan Buton mengalami kekacauan dan serangan-serangan dari kerajaan Gowa, maka pada saat De Vlaming berada di Buton Sultan La Awu tidak datang menemuinya seperti pada biasanya dilakukan pendahulunya. Hubungan Kompeni dan Buton kadang diselingi dengan terjadinya reaksi-reaksi dari kedua belah pihak. Dari pihak Kesultanan Buton misalnya memberikan reaksi terhadap kompeni yang sering merugikan pihak Kesultanan Buton dan selalu mencampuri urusan pengangkatan sultan dan jabatan-jabatan kesultanan lainnya yang menurut keinginan Kompeni Belanda dengan maksud untuk memudahkan tercapainya tujuan mereka. Hubungan kedua belah pihak nanti membaik kembali setelah Sultan La Simbata pada tanggal 31 Januari 1667 mengadakan ikatan perjanjian dengan Speelman, isinya antara lain: "Semua pohon cengkeh dan pala yanag ada dalam wilayah Kesultanan Buton harus ditebang dan sekaligus dimusnahkan, penebangan tersebut di bawah pengawasan orang-orang Kompeni. Sebagai ganti rugi dari penebangan pohon cengkeh dan pala tersebut, Kompeni
73 membayar kepada Buton setiap tahun 100 ringgit" (Zahari, 1977: 52-52). Hubungan Kompeni dengan Buton baik kembali pada masa pemerintahan Sultan Kaimuddin (La Jampi). Ia telah berupaya mengirim utusan Buton dipimpin oleh La Ode Jaafara (Yarona Wasilomata) untuk membicarakan penyelesaian masalah Kompeni dan Buton, khususnya pengiriman budak dan utang-utang kesultanan, dan ganti rugi dari beberapa peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Misi diplomasi yang dipimpin La Ode Jaafara berhasil diterima oleh pihak Kompeni sehingga penyerahan budakbudak yang dipekerjakan Kompeni di Batavia dihentikan dan Kompeni tidak menuntut ganti rugi lagi kepada Buton. Dengan selesainya masalah pembayaran ganti kerugian ini disambut baik oleh rakyat dan pemerintah kesultanan, sehingga peristiwa ini dikenal dengan istilah "Akatukimo kunci" artinya "pemutusan penyelesaian masalah Kompeni dan Buton". 3.1. Proses Kedatangan Bangsa Belanda di Buton Bangsa Belanda pertama kali mengunjungi nusantara pada tahun 1564 yang ditandai dengan tibanya armada Kompeni Belanda (VOC) di Banten,
74 salah satu bandar pelabuhan Banten. Pada tahun 1613 armada Kompeni Belanda (VOC) telah tiba di Pulau Buton dipimpin oleh Appolonius Schot dan langsung menemui Sultan Buton Dayanu Ikhsanuddin. Hasil pertemuan tersebut selanjutnya membuahkan suatu perjanjian kesepahaman antara kedua pihak dalam bidang pertahanan, ekonomi dan perdagangan. Perjanjian ini selanjutnya dikenal dengan nama Janji Baana. Adapun isi perjanjian Janji Baana antara Buton dengan Belanda adalah sebagai berikut: a. Pihak Appolonius Schoot 1. Memberikan bantuan dan perlindungan kepada Kerajaan Buton bila mendapat serangan dari kerajaan lain ataupun pertentangan yang terjadi di dalam Kerajaan Buton sendiri yang memerlukan bantuan; disebut ‘’Bouwl-Werken" yaitu "Baluara dan Godho" di pinggir Pantai Bau-Bau (kira-kira di Kampung Meo-Meo sekurang kurangnya di sekeliling kampung tersebut; sekarang Kecamatan Murhum). Dengan empat buah meriam lengkap dengan pelor dan mesiunya. Untuk melayani meriam itu, sementara ditinggalkan beberapa orang Kompen: guna memberikan petunjuk dalam menggunakan meriam itu.
75 2. Tidak mengganggu dan menyulitkan rakyat Buton beserta rajanya dan para pembesar kerajaan, di dalam kepercayaannya jelasnya agamanya. 3. Melalui Kompeni Belanda kepada Sultan Ternate dan orang-orang besar Kerajaan Ternate dimintakan perhatiannya agar supaya memberikan peringatan kepada orang-orangnya yang datang di Buton dalam urusan kerajaan, hendaknya tidak mempersulit keadaan urusannya dan supaya kepada setiap perutusan diberikan surat keterangan yang jelas disertai dengan cap kerajaan yang resmi. Hal ini disebabkan karena sudah sering kali yang terjadi adanya pemalsuan dari surat-surat keterangan dan nama jabatan Sultan Ternate sendiri. 4. Pemasukkan uang logam oleh Kompeni Belanda yang berlaku pula di dalam Kerajaan Buton sebagai mata uang yang nilainya sama dengan uang kerajaan sendiri. b. Pihak Sultan Dayanu Ikhsanuddin 1. Memerangi musuh Kerajaan Ternate dengan musuh dari Kompeni Belanda
76 2. Memberikan tentara bantuan kepada Kompeni Belanda bila berangkat nanti ke Solor sesudah perjanjian ini selesai ditandatangani dengan tumpangan Kora-Kora. 3. Pengawasan penetapan harga atas kebutuhan bahan pokok sehari-hari yang dimufakati supaya dipegang teguh. 4. Tidak mengadakan hubungan perdagangan dengan kerajaan lain kecuali dengan Kompeni Belanda pelindung Kerajaan Buton. 5. Orang-orang Belanda tidak akan dimintai suatu pembayaran berupa bea dan kepada mereka diberi kesempatan guna berdagang dengan bebas di dalam Kerajaan Buton. 6. Menerima pemasukan beras terutama dari Maluku. 7. Tentara Kompeni Belanda dapat mengawini perempuan asal kaula Kerajaan Buton yang tidak ada sangkutannya dalam arti ada ikatan nikahnya dan atas kemauannya bersama dan perempuan itu menurut agama suaminya 8. Demikian pula pembelian budak oleh Kompeni Belanda dengan ketentuan bahwa pelarian budak dari salah satu pihak dikembalikan kepada pemiliknya. 9. Kontrak perjanjian ini juga dimaksudkan dengan perdamaian dan persahabatan dengan Kompeni Belanda, kecuali bila pecah perang
77 antara kompeni dengan orang-orang Banda, maka semua orang Buton yang tinggal di Banda dipanggil kembali. 3.2.Politik yang diterapkan Belanda di Buton Dalam menjalankan sistem politiknya di Buton, Kompeni Belanda senantiasa menerapkan sistem campur tangan, monopoli dan suka mengingkari perjanjian. Campur tangan dalam bidang politik sebagaimana dapat dilihat pada pengangkatan Sultan Buton ke-8 yang bernama La Cila Sultan Mardan Ali (1647-1654) di mana Belanda turut campur tangan sehingga Sultan Mardan Ali terangkat menjadi Sultan. Dalam hal monopoli perdagangan, strategi yang diterapkan Kompeni Belanda adalah pelarangan perdagangan dengan orang atau bangsa lain kecuali dengan pihak Belanda. 3.3.Pengaruh Kedatangan Bangsa Belanda di Buton Pengaruh kedatangan Bangsa Belanda di Buton dapat dilihat dari dua sisi yakni pengaruh negatif dan pengaruh positif dalam berbagai bidang baik politik, ekonomi, dan budaya maupun hukum.
78 Pengaruh Negatif: 1. Terjadi ketidakstabilan dalam bidang politik akibat intervensi Belanda dalam hal pemerintahan. 2. Terganggunya pelaksanaan hukum syariat Islam sebagai hukum adat kesultanan Buton. 3. Terjadi kelesuan ekonomi dan perdagangan akibat sistem politik monopoli Belanda. Pengaruh Positif: 1. Secara politis , bahwa Buton tetap dianggap sebagai merdeka dan berdaulat penuh atas negara negerinya. 2. Buton dapat meningkatkan pengetahuan karena terjadinya pertukaran informasi dengan Belanda. 3. Adanya pengakuan Belanda terhadap pemberlakuan mata uang kampua sebagai alat pembayaran sah di Kesultanan Buton. 4. Buton mulai mengenal peralatan perang modern berupa senjata api sejenis meriam, senapan, pistol, dan bahan peledak mesiu.
79 BAB IV UPACARA KEAGAMAAN Setelah Agama Islam masuk di Buton, maka hampir seluruh sistem kehidupan sosial masyarakat dan budaya mengalami perubahan bentuk berdasarkan nilai-nilai ajaran Agama Islam. Perubahan-perubahan dimaksud dapat dilihat pada bentuk pelaksanaan kegiatan budaya yang sudah diwarnai dengan nuansa keagamaan.
80 4.1. Macam-macam Upacara Keagamaan Dalam kehidupan sosial masyarakat dikenal berbagai macam upacara keagamaan baik yang berhubungan langsung dengan tradisi peribadatan, maupun yang berhubungan langsung dengan budaya dan kemasyarakatan. Masyarakat Buton sangat memuliakan bulanbulan suci umat Islam. Tidak mengherankan, mereka selalu melakukan prosesi-prosesi upacara guna memperingati berbagai peristiwa yang terjadi dalam kurun bulan tersebut. Prosesi-prosesi upacara keagamaan tersebut antara lain: a. Alaana Bulua, yaitu upacara yang berkaitan dengan pengguntingan rambut bayi beberapa hari setelah dilahirkan. Upacara ini ditujukan kepada bayi yang baru dilahirkan. Prosesi ini dilakukan dengan pengambilan atau pemotongan rambut setelah bayi berumur 40 hari. b. Tandaki atau Posusu, yaitu upacara yang berkaitan dengan penyunatan (tandaki untuk anak laki-laki) dan (posusu untuk anak perempuan). Upacara tandaki diperuntukkan bagi anak laki-laki yang telah memasuki masa aqil baliq,
81 yang melambangkan bahwa anak laki-laki tersebut telah resmi menjadi seorang muslim artinya bahwa anak laki-laki tersebut berkewajiban untuk melaksanakan segala perintah dan larangan yang diajarkan dalam agama Islam. Upacara tandaki biasanya diselenggarakan oleh keluarga yang memiliki
84 kemampuan ekonomi, sehingga dalam pelaksanaannya turut diundang keluarga, sanak saudara, kerabat dekat maupun kerabat jauh sedangkan bagi keluarga yang kurang mampu dapat dilaksanakan dalam bentuk yang sederhana yang disebut "Manakoia" dalam pengertian bahwa pelaksanaan tandaki hanya dihadiri oleh segenap anggota keluarga terdekat. Posusu adalah upacara khitanan bagi anak perempuan sebagaimana tandaki bagi anak lelaki. Pada posusu biasanya dibarengi dengan menindik (melubangi daun telinga) Hal sebagai tempat pemasangan anting-anting. c. Qunua, yaitu upacara yang berkaitan dengan peringatan Nuzulul Qur'an (Qunut). Upacara ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan suci Ramadhan atau pada 15 malam puasa dimana masyarakat memeriahkannya dengan membawa sejumlah makanan di masjid untuk dimakan secara bersama-sama menjelang waktu sahur. Pelaksanaan Qunua dalam tradisi Buton umumnya dilaksanakan setelah shalat tarwih bersama di atas jam 12 malam yang selanjutnya setelah pelaksanaan sholat tarwih dirangkaikan dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid.
85 d. Kadhiri, yaitu upacara yang berkaitan dengan turunnya Lailatul Qadar di bulan suci Ramadhan. Upacara ini tata cara pelaksanaannya mirip dengan Qunua, yaitu setelah shalat tarwih dirangkaikan dengan sahur secara bersama-sama di dalam masjid. Biasanya dilaksanakan pada 27 malam Ramadhan, karena diyakini pada malam itulah turunnya Lailatul Qadar. e. Malona Bangua, yaitu upacara yang dilakukan pada malam pertama Ramadhan yang dimeriahkan dengan dentuman meriam sebagai pertanda bahwa bulan Ramadhan telah tiba. Di masa sekarang upacara semacam ini tidak lagi diwarnai dengan dentuman meriam mengingat penggunaan meriam sudak tidak dapat dilaksanakan lagi, hal ini sudah mengalami perubahan dengan cara membakar lilin di rumahrumah dan di pemakaman. Acara ini serupa dengan penyambutan ketika memasuki malam pertama Ramadhan dengan tidak disertai lagi dengan dentuman meriam akan tetapi hanya dengan menyalakan lilin di rumah dan di pemakaman sebagai pertanda berakhirnya Ramadhan dan memasuki bulan Syawal. f. Malona Raraea, yaitu upacara menandai berakhirnya bulan Ramadhan atau masuknya 1
86 Syawal (Idul Fitri) dan atau 10 Zulhijah (Idul Adha) yang juga ditandai dengan dentuman meriam. g. Pakandeana Ana-ana Maelu, yaitu upacara yang berkaitan dengan memberi makan kepada anak yatim yang dilakukan pada bulan Muharam. Upacara Pakandeana Ana-ana Maelu sampai saat ini masih dilaksanakan oleh orang-orang atau keluarga yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih. Biasanya setelah pemberian makan ala kadarnya terhadap anak yatim piatu, mereka diberikan juga sejumlah uang. h. Haroa Maludu merupakan peninggalan budaya kesultanan Buton. Masyarakat sejak zaman memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai suatu upacara yang sakral yang pelaksanaannya dalam bulan Rabiul Awal. Menurut adat Buton, haroa tersebut dibuka oleh sultan pada malam 12 hari bulan. Kemudian untuk kalangan masyarakat biasa memilih salah satu waktu antara 13 hari bulan sampai 29 hari bulan Rabiul Awal. Setelah itu ditutup oleh Haroana Hukumu pada 30 hari bulan Rabiul awal. Masyarakat kesultanan Buton yang mampu melaksanakannya pada setiap tahun dengan membaca riwayat Nabi Muhammad SAW. Kadang kala selesai haroa dilanjutkan dengan lagu-lagu
87 Maludu sampai selesai, yang biasanya dinyanyikan dari waktu malam sampai siang hari. i. Haroana Pomaloa, yaitu upacara doa untuk arwah yang telah wafat. Dalam konteks Islam hal ini biasa dikenal sebagai ta'ziah guna memberi hiburan kepada keluarga yang ditinggalkan agar tidak berlarut-larut dalam kedukaan dimana seorang alim ulama (ustadz) memberikan ceramah-ceramah rohaniah. Pada haroana pomaloa masyarakat Buton acara siraman rohani biasanya dilaksanakan dengan cara membaca ayat-ayat suci Al-quran yang dipimpin oleh seorang "lebe" (pemuka agama). Dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: lebe membaca Al-Quran biasanya Al-Qurannya diletakkan pada sebuah "rahali", kemudian disusul oleh yang lain satu per satu atau membaca surat Yasin yang dilaksanakan secara bersama-sama. j. Haroana Rajabu, merupakan peninggalan budaya kesultanan Buton yang dikenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu kala. Seperti haroa yang lain, haroana rajabu sangat penting karena dilakukan untuk memperingati para syuhada yang gugur di medan dalam memperjuangkan Islam perang bersama-sama
88 Nabi kita Muhammad SAW. Oleh karena itu, haroana rajabu dilakukan pada hari Jum'at pertama pada bulan Rajab dengan melakukan tahlilan serta berdoa semoga para syuhada
89 tersebut akan diberi ganjaran yang setimpal oleh Allah. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan oleh masyarakat dengan cara mengundang "lebe" dan keluarga di rumah masing masing. Kemudian dihadapan tuan rumah dan keluarganya, maka lebe tadi membaca surat Yasin sebanyak 3 kali. k. Upacara Posipo Upacara posipo, yaitu sebuah prosesi upacara adat menyambut kelahiran seorang bayi. Upacara ini dilakukan dengan menyuapkan makanan dan khusus disiapkan bagi ibu hamil pada kehamilan pertama. Upacara ini dilakukan pada usia kehamilan tujuh sampai sembilan bulan. l. Upacara Gorana Oputa Upacara Gorana Oputa adalah sebagai tanda peringatan maulid Nabi pembukaan upacara Muhammad SAW. Pada masa kesultanan upacara ini dilakukan di istana berkumpul orang-orang besar kerajaan bersama semua menteri dan bobato serta pemuka-pemuka masyarakat bersama-sama dengan sri sultan melakukan peringatan maulid dengan membaca riwayat Nabi Muhammad SAW. Sesudah dibuka oleh sultan maka pada malam berikutnya hingga dua puluh sembilan malam bulan kesempatan untuk seluruh masyarakat untuk memperingatinya. Sedangkan
90 pada tiga puluh malam bulan oleh pegawai Masjid Keraton yang merupakan upacara penutup yang dinamakan mauladana hukumu. 4.2. Makna-Makna Upacara Keagamaan Upacara-upacara keagamaan yang dilaksanakan masyarakat Buton syarat dengan makna, baik bersifat filosofis, hikmah, ibadah maupun sosial kemasyarakatan. - Makna Filosofis Secara filosofis upacara-upacara yang dilaksanakan masyarakat Buton merupakan pemujaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada makna lainnya bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki harkat dan martabat yang lebih dibanding makhluk ciptaan lainnya yang ada di jagat raya. Kendati demikian diharapkan pemahaman tersebut tidak membawa kecenderungan untuk mengkultuskan (perilaku melebih-lebihkan manusia dari kodratnya). - Makna Hikmah Upacara keagamaan di kalangan masyarakat Buton syarat juga dengan muatan