The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Artikel ilmiah populer memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran bahasa dan sastra

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Iis Asipa, 2021-01-04 02:07:50

ARTIKEL ILMIAH POPULER

Artikel ilmiah populer memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran bahasa dan sastra

Keywords: Pembelajaran bahasa dan sastra SD/MI

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan
rahmat-Nyalah kami akhirnya bisa menyelesaikan karya ilmiah populer ini dengan
baik.

Tidak lupa kami menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen pembimbing mata
kuliah “Pembelajaran Bahasa dan Sastra SD/MI ” bapak “Sahrul Umami M.Pd”
yang telah memberikan banyak bimbingan serta masukan yang bermanfaat dalam
proses penyusunan karya ilmiah popular ini. Ucapan rasa terima kasih juga kami
ucapkan kepada teman-teman mahasiswa PGMI kelas regular pagi semester V yang
telah memberikan kontribusinya sehingga karya ilmiah populer ini bisa selesai pada
waktu yang telah ditentukan.

Meskipun kami sudah mengumpulkan banyak referensi untuk menunjang penyusunan
karya ilmiah ini, namun karya ilmiah ini masih terdapat banyak kesalahan serta
kekurangan. Kami mengharapkan saran serta masukan dari para pembaca demi
tersusunnya karya ilmiah lain yang lebih lagi. Akhir kata, kami berharap agar karya
ilmiah ini bisa memberikan banyak manfaat dan dapat menambah wawasan bagi kita
semua didalam dunia pendidikan. Dan semoga mampu menjadi pendidik yang patut di
tauladani oleh anak didik.

Bekasi, 4 Januari 2021
Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………...…..i
KATA PENGANTAR………………………………………………………………..ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………iii
PEMBAHASAN………………………………………………………………………1
1. Meningkatkan kemampuan berbahasa melalui pembelajaran Think-Talk-Write

(TTW)…………………………………………………………………………….1
2. Pembelajaran bahasa dan sastra di tingkat SD berbasis video pembelajaran

animasi……………………………………………………………………………10
3. Meningkatan kemampuan menulis cerita dengan menggunakan metode picture

and picture pada siswa sekolah dasar…………………………………………….21
4. Peran pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dalam pembentukan karakter

peserta didik……………………………………………………………………...30
5. Peningkatan kemampuan menulis puisi melalui metode sugestopedia………..…41
6. Meningkatkan minat baca siswa SD melalui media gambar……………………..51
7. Tantangan mewujudkan pembelajaran bahasa dan sastra di SD dalam era revolusi

industry …………………………………………………………………………..63
8. Pengaruh Strategi Communicative Approach (Pendekatan Komunikatif) terhadap

Keterampilan Berbicara Siswa SD ………………………………………………74
9. meningkatkan pembelajaran sastra melalui perkembangan era digital…………..82

iii

PEMBAHASAN

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA MELALUI PEMBELAJARAN THINK-TALK-
WRITE (TTW)

DisusunOleh:

Kelompok 1

Ahad Rifai

Iqbal Jauhari Muharam

Rina Dwi Septiani

Pendahuluan

Dewasa ini kemampuan berbahasa khususnya membaca masyarakat masih
menjadi persoalan tersendiri bagi bangsa Indonesia.Hal ini ternyata berdampak juga
di lingkungan akademik. Memang, ada masalah lain yang membayangi kondisi ini.
Budaya lisan di Indonesia tampaknya masih dominan. Bahkan kegiatan membaca
bagi anak-anak akhir-akhir ini menemui tantangan, karena pesatnya perkembangan
budaya games dan media online yang tidak berimbang dengan budaya baca.
Tidaklah mengherankan ketika seseorang membaca buku, ia tidak dapat langsung
memahami apa yang ia baca sampai seseorang menerangkan kembali isi buku
tersebut secara lisan. Sehingga, pada akhirnya, kemampuan 2 berbahasa Indonesia
di kalangan masyarakat, termasuk masyarakat akademis tidak
menggembirakan.Kemampuan menulis yang baik menunjukkan kemampuan
berbahasa yang baik pula.

Ketika seseorang sudah mampu menulis dengan baik, hal ini menunjukkan
tiga kemampuan dasar lainnya yaitu; mendengar, berbicara, dan membaca cukup
terlatih dengan baik. Dan seluruh kemampuan berbahasa Indonesia ini tidak akan
pernah bisa dikuasai bila tidak diiringi dengan dorongan dan semangat yang tinggi
dari pribadi, masyarakat dan dunia pendidikan. Dengan demikian penerapan model
pembelajaran (Think-Talk-Write) TTW di sekolah mampu digunakan sebagai
alternatif agar anak mampu meningkatkan keterampilan berbahasa.

Karena proses pembelajaran dengan metode Think-Talk- Write (TTW) yang
diperkenalkan oleh Huinker & Laughlin ini, pada dasarnya melalui membaca anak
akan mulai berpikir, berbicara dan menulis. Alur kemajuan pembelajaran Think-Talk-

1

Write (TTW) dimulai dari keterlibatan anak dalam berpikir/berdialog dengan dirinya
sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara untuk membagi ide (sharing)
dengan temannya dan kemudian dituangkan dalam tulisan. Dalam hal ini anak
berperan aktif dalam proses pembelajaran.
A. Pembahasan Model Pembelajaran (Think-Talk-Write) TTW

Model pembelajaran kooperatif model Think-Talk-Write (TTW) diperkenalkan
oleh Huinker & Laughlin. Pada dasarnya pembelajaran ini dibangun melalui proses
berpikir, berbicara dan menulis. Strategi pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) dapat
menumbuh kembangkan kemampuan pemecahan masalah (Yamin dan Ansari, 2012:
84). Strategi mengajar adalah menyangkut cara yang dipilih oleh pendidik dalam
menentukan ruang lingkup, urutan bahasan, kegiatan pembelajaran, dan lain-lain
dalam menyampaikan materi kepada peserta didik di dalam kelas. Dalam proses
pembelajaran sering ditemui bahwa ketika peserta didik diberikan tugas tertulis,
peserta didik selalu mencoba untuk langsung memulai menulis 3 jawaban, walaupun
hal itu bukan sesuatu yang salah, namun akan lebih bermakna jika terlebih dahulu
melakukan kegiatan berpikir, merefleksikan dan menyusun ide-ide dan menguji ide-
ide itu sebelum memulai menulisnya.

Strategi Think- Talk-Write (TTW) yang dipilih dalam penelitian ini dibangun
dengan memberikan waktu kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan tersebut
(berpikir, merefleksikan dan untuk menyusun ide-ide, dan menguji ide-ide itu
sebelum menulisnya). Lebih lanjut Huinker dan Laughlin (1996) dalam Ansari (2003)
membagi tahapan-tahapan itu sebagai berikut: Tahap pertama kegiatan peserta
didik yang belajar dengan strategi think-talk-write adalah think, yaitu tahap berfikir
dimana peserta didik membaca teks berupa soal. Dalam tahap ini peserta didik
secara individu memikirkan kemungkinan jawaban (strategi penyelesaian), membuat

2

catatan kecil tentang ide-ide yang terdapat pada bacaan, dan/atau hal-hal yang tidak
dipahaminya sesuai dengan bahasanya sendiri. Tahap kedua adalah talk (berbicara
atau diskusi) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membicarakan
tentang penyelidikannya pada tahap pertama.

Pada tahap ini peserta didik merefleksikan, menyusun, serta menguji
(negosiasi, sharing) ide-ide dalam kegiatan diskusi kelompok. Kemajuan komunikasi
peserta didik akan terlihat pada dialognya dalam berdiskusi baik dalam bertukar ide
dengan orang lain ataupun refleksi mereka sendiri yang diungkapkannya kepada
orang lain. Tahap ketiga adalah write, peserta didik menuliskan ide-ide yang
diperolehnya dari kegiatan tahap pertama dan kedua. Tulisan ini terdiri atas
landasan konsep yang digunakan, keterkaitan dengan materi sebelumnya, strategi
penyelesaian, dan solusi yang diperolehnya.

Kemampuan Berbahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan
sekelompok sosial sebagai alat komunikasi manusia, bekerjasama, dan
mengidentifikasi diri.Dengan bahasa seseorang bisa menjelajahi dunia. Dengan
bahasa pula, seseorang bisa mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya. Bahasa
mampu mewujudkan cita-cita seseorang (Mukhlason, 2013:124). Dalam 4
sosiolinguistik mengatakan bahwa: bahasa sebagai produk sosial atau produk
budaya. Dengan demikian maka bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan
manusia.Bahasa sebagai wadah atau tempat aspirasi sosial, perilaku masyarakat dan
penyingkapan budaya termasuk teknologi yang diciptakan oleh manusia sebagai
pemakai bahasa (Sumarsono, 2011:12).

Manusia tidak hanya dilahirkan bersuara, tetapi ia juga telah mengkontruksi
suara menjadi konstruksi bahasa, yang kemudian dijadikan wahana untuk
berinteraksi sosial dalam komunitas atau masyarakatnya. Dalam berinteraksi sosial,
manusia berkomunikasi dengan menggunakan wahana bahasa yang dikonstruksi
secara kontekstual dan yang telah disepakati, baik dalam tataran struktur maupun
makna bahasa (Manuaba, 2013:31) Bahasa merupakan alat komunikasi yang secara
esensial, umum dan bersifat sosial karena dalam komunikasi selalu ada dua pihak
yang terlibat, yaitu sebagai pemberi materi dan penerima informasi. Informasi yang
dimaksud pada dasarnya dapat dibagi atas dua jenis yaitu sebagai berikut:

1. Informasi kognitif: informasi yang berkaitan dengan penalaran, seperti
pengrtian-pengertian, asumsi-asumsi, dan pikiran-pikiran tentang sesuatu

2. Informasi afektif: informasi yang berkaitan dengan perasaan sedih, rasa
sakit, solidaritas, kegembiraan, dan pengharapan.

3

Kedua fungsi tersebut diatas, yang paling dominan adalah fungsi
kognitif.Dalam berkomunikasi ada dua macam, yakni komunikasi lisan dan
komunikasi tulisan. Berdasarkan sistem komunikasi dalam kemampuan berbahasa
ada empat kemampuan yang harus dibina dan dikembangkan, yaitu sebagai berikut:

1. Menyimak

2. Berbicara

3. Membaca

4. Menulis (Http://www.turunanilmu.com).

Dua kemampuan berbahasa pertama diperoleh sebagai komunikasi lisan,
yakni menyimak dan berbicara serta kemampuan berbahasa lainnya sebagai
komunikasi tertulis, yaitu membaca dan menulis.Urutan pemerolehan kemampuan
berbahasa seseorang mulai dari menyimak lalu mulai berbicara, 5 membaca
kemudian menulis.Hal ini diperoleh waktu masih anak-anak, namun ketika seseorang
sudah mulai berusia dewasa, maka pemerolehan bahasa selanjutnya keempat
kemampuan itu sudah berfungsi integral dalam arti saling mendukung
(Http://www.turunanilmu.com).

Penerapan Pembelajaran Think-Talk-Write (TTW)

Penerapan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) dapat meningkatkan
kemampuan berbahasa (mendengar, berbicara, membaca, dan menulis) hal ini dapat
dideskripsikan sebagai berikut:

1. Mendengar/menyimak

Secara normal, seseorang sudah dapat mendengarkan bunyi-bunyian yang
dihasilkan oleh apa pun yang ada di sekitarnya. Namun, sebagai individu yang baru
saja mulai bertumbuh, apa yang didengarkan tidak dapat langsung dikenali. Ada
proses pengenalan terhadap apa dan siapa yang mengeluarkan bunyi. Hal ini, secara
luar biasa, terasa dengan baik di sepanjang hidup manusia sehingga kita dapat
membedakan siapa atau apa yang mengeluarkan bebunyian itu.
(https://indonesiasaram.wordpress.com). Pembelajaran Think-talk-write (TTW)
kemampuan mendengar/menyimak dapat dilihat pada tahap (1) awal, (2) inti (tahap
think, tahap talk, dan tahap write) sampai dengan tahap (3) evaluasi. Pembelajaran
ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mendengar, karena anak dituntut
untuk aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

2. Berbicara

Kemampuan berbicara menjadi kemampuan berikut yang dimiliki oleh setiap
manusia.Hal ini diperolehnya sebagai bentuk peniruan bunyi bahasa. Meski

4

demikian, dari sudut bahasa nonverbal, kemampuan berbicara tampaknya sudah
melekat dalam diri seseorang sejak ia lahir. Hal ini diwujudkan dalam bentuk
tangisan.Dari pengamatan dalam pembelajaran think talk write (TTW) ini dapat
dikatakan indikator kemampuan berbicara ini dapat diamati dari aktivitas anak, pada
tahap talk (berbicara) anak terdorong untuk menyampaikan idenya, karena guru
aktif untuk memotifasi dan membimbing anak untuk berdiskusi.Ketika Anak mampu
untuk menuangkan idenya melalui bahasa lisan, guru 6 menilai/memonitoring dalam
diskusi dan mendorong anak untuk berpartisipasi. Dengan demikian pembelajaran
Think-talk-write ini mampu meningkatkan kemampuan berbicara dengan cara
mengasah dan memotivasi anak untuk mengungkapkan ide melalui tema-tema yang
sudah ditentukan.

3. Membaca

Kemampuan membaca menjadi kemampuan ketiga sekaligus kemampuan
tingkat tinggi pertama sebelum menulis.membaca menjadi kemampuan yang harus
dimiliki dengan baik oleh seseorang sebelum masuk ke tahap berikutnya, yaitu
kemampuan menulis. Dalam pembelajaran Think-talk-write ditemukan indikator
kemampuan membaca yang muncul pada tahap think yaitu berpikir. Kemampuan
membaca muncul ketika anak diberikan permasalahan yang harus dibaca dan
dipikirkan untuk dicari penyelesainnya.Dengan demikian guru membimbing anak
untuk mencari pemecahan masalahnya dengan membuat catatan-catatan kecil
dengan bahasa sendiri.

4. Mampu menulis

Kemampuan menulis yang baik jelas menunjukkan kemampuan berbahasa
yang baik pula.Karena ketika seseorang sudah mampu menulis dengan baik, hal ini
menunjukkan tiga kemampuan dasar lainnya cukup terlatih dengan baik. Indikator
kemampuan menulis pada anak dapat diketahui dalam proses pembelajaran think
talk write (TTW) pada tahap think-talk-write. Mahasiswa mampu menuangkan ide
atau pemecahan dalam permasalahan yang diberikan melalui tulisannya. Dalam
pembelajaran ini anak diharapkan mampu untuk membangun atau mengkonstruksi
pengetahuan yang didapat dari tahapan sebelumnya, yaitu tahap (1) think (berfikir)
anak harus membuat catan-catan kecil dengan bahasa sendiri. Tahap (2) talk
(berbicara) anak dimotivasi untuk menuliskan ide-ide kelompik baik secara tulis
maupun lisan. Tahap (3) Write (menulis) anak diharapkan mampu untuk
mengkontruksikan pemecahan masalah. Lebih lanjut gambaran model pembelajaran
think-talk-write (TTW) serta indikator kemampuan berbahasa yang ingin dicapai
dapat dijelasan seperti dalam tabel di bawah ini:

Identifikasi Unsur-Unsur Kemampuan Berbahasa (mendengar, berbicara,
membaca, dan menulis) dengan Model Pembelajaran Think-Talk-Write (TTW)

5

no Aspek yang Diamati/Indikator Aktivitas Anak yang Unsur-Unsur
Kemampuan
Pengamatan Diamati Berbahasa

1 Kegiatan Awal /Pendahuluan a. - Menumbuhkan
Memotivasi anak b. kemampuan
Menyampaikan tujuan
menyimak/mende
ngar pada anak

2 Kegiatan inti 1. THINK (berfikir) Tahap ini dapat

1. THINK (berpikir) menumbuhkan
a. Anak mengerjakan kemampuan anak
a. Memberikan soal-soal atau soal- soal/persoalan dalam bidang
pertanyaan pada anak
b. Anak membaca teks menyimak, membaca
b. Mengingatkan kembali soal dan menulis.

pendekatan yang akan digunakan c. Anak membuat

dalam kegiatan pembelajaran catatan kecil untuk

c. Membimbing anak membuat menjawab soal-soal
catatan kecil dengan bahasa dengan bahasa sendiri

sendiri

3 2. TALK ( Berbicara) 2. TALK ( Berbicara) Tahap talk mampu

untuk meningkatkan
a. Membagi anak menjadi a. Anak diskusi dengan kemampuan

beberapa kelompok tiap teman satu kelompok. berbicara, menulis,

kelompok 5 orang yang beragam b. Anak berkomunikasi dan
(tingkat kemampuan anak). dengan menggunakan menyimak/mende

bahasa yang mereka ngar pada anak.
b. Mendengarkan secara hati-hati pahami dengan
ide anak
kelompoknya

c. Menyuruh anak mengemukakan c. Anak
ide secara lisan dan tulisan
menyampaikan ide

d. Membimbing dan menggali yang diperoleh pada

hasil yang dibawa anak untuk tahap think kepada

diskusi teman diskusi

sekelompoknya untuk

e. Memonitoring dan menilai mendapatkan

partisipasi anak dalam diskusi dan solusinya d. Anak

mendorong anak untuk diharapkan terampil

berpartisipasi berbicara untuk

mengungkapkan

6

pikirannya.

3. WRITE ( Menulis) 3. WRITE ( Menulis) Pembelajaran ini

a. Membimbing dan memberi ditahap yang terakhir
informasi, mengklasifikasi anak a. Anak membuat dapat meningkatkan
dalam menyelesaikan persoalan. catatan/menulis hasil kemampua,
diskusi
b. Membantu anak dalam menyimak dan
mengkonstruksi pengetahuan
dalam bentuk tulisan. b. Anak menulis.

mengungkapkan ide

setelah berdiskusi

dalam bentuk tulis

4 Memberikan evaluasi - Kemampuan
menyimak

Langkah-langkah model pembelajaran think-talk-write menurut Yamin dan Ansari
(2008:84) adalah:

Guru membagi teks bacaan berupa lembar aktivitas siswa yang memuat situasi
masalah yang bersifat open ended dan petunjuk serta prosedur pelaksanaannya.

Siswa membaca teks dan membuat catatan hasil bacaan secara individual, untuk
dibawa ke forum diskusi (think).

Siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman untuk membahas isi catatan
(talk). Guru berperan sebagai mediator lingkungan belajar.

Siswa mengkonstruksikan sendiri pengetahuan sebagai hasil kolaborasi (write). Guru
memantau dan mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.

Peranan guru dalam model pembelajaran think-talk-write (TTW) menurut Silver dan
Mith (Yamin dan Ansari, 2008:84) adalah:

Mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan dan menantang
setiap siswa berpikir.

Mendengar secara hati-hati ide siswa.

Menyuruh siswa mengungkapkan ide secara lisan dan tertulis.

Memutuskan apa yang digali dan dibawa siswa dalam diskusi.

Memutuskan kapan memberi informasi, mengklarifikasikan persoalan persoalan,
menggunakan model, membimbing dan membiarkan siswa berjuang dengan
kesulitan.

7

Memonitoring dan menilai partisipasi siswa dalam dikusi dan memutuskan kapan
dan bagaimana mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi.
Manfaat Model Think Talk Write dalam Pembelajaran
Membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri sehingga
pemahaman konsep siswa menjadi lebih baik. Siswa dapat mengkomunikasikan atau
mendiskusikan pemikiran nya dengan teman nya sehingga siswa saling membantu
dan saling bertukar pikiran. Hal ini dapat membantu siswa dalam memahami materi
yang diajarkan.
Melatih siswa untuk menuliskan hasil diskusi nya ke bentuk tulisan secara sistematis
sehingga siswa akan lebih memahami materi dan membantu siswa untuk
mengkomunikasikan ide-idenya dalam bentuk tulisan.

B. Kesimpulan
Penerapan model pembelajaran dalam makalah ini dapat disimpulkan bahwa

penggunaan metode pembelajaran model Think-Talk-Write (TTW) mampu
meningkatkan kemampuan berbahasa anak.Respon positif ditunjukkan anak dalam
aktivitasnya di setiap tahap pempelajaran Think-talk-write (TTW).dengan indikator;
(1) kemampuan mendengar/menyimak dapat dilihat dalam proses pembelajaran
pada tahap think, talk dan write. (2) kemampuan berbicara /menyampaikan ide ini
dapat ditemukan pada tahap; talk (3) kemampuan membaca indikator ini dapat
dilihat pada tahap think. (4) serta kemampuan menulis/membangun ide dalam
bentuk tulis muncul pada tahap think-talk dan write.

8

D. Daftar Pustaka
Ansari, B.I. 2003.Menumbuhkembangkan Kemampuan Pemahaman danKomunikasi
Matematik melalui Strategi Think-Talk-Write (Eksperimen diSMUN Kelas I
Bandung).Disertasi Doktor pada FPMIPA UPI Bandung: Tidakditerbitkan.
Manuaba, I.B.Putera. 2013. “Politik Bahasa Sastra: Strategi Bahasa EkspresifProduksi
Karya Sastra” dalam dalam Proseding Seminar Nasional Politik Bahasadan Bahasa
Politik. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Airlangga. Surabaya. 25-26Oktober.
Muhlason, Akhmad dkk., 2013. “Vikinisasi dan Identitas Generasi Muda” dalam
ProsedingSeminar Nasional Politik Bahasa dan Bahasa Politik. FakultasIlmu Budaya.
Universitas
Airlangga. Surabaya. 25-26 Oktober.Sumarsono. 2011. Sosiolinguistik. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Yamin, Martinis & Bansu I. Ansari. 2012. Taktik Mengembangkan Kemampua
Individual Siswa. Jakarta:
Referensi.http://turunanilmu.blogspot.com/2010/12/pengertian-dan-kemampuan-
berbahasa.html. Diakses pada hari jumat, 6 April 2015
http://bahasa.kompasiana.com/2013/01/30/masalah-kemampuan-
berbahasaindonesia-524084.html. diakses hari senin, 6 April 2015.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23238/3/Chapter%20II.pdf.
diakses hari jumat, 10 April 2015.
https://indonesiasaram.wordpress.com/2007/01/06/masalah-kemampuan-
berbahasa-indonesia/www.bahasa-sastra.com. diakses hari Jumat, 10 April 2015.
amin,MartinisdanAnsari,BansuI.2008.TaktikMengembangkanKemampuanIndividualSi
swa.Jakarta:GaungPersadaPress.)

9

ARTIKEL POPULER

“ Pembelajaran Bahasa dan sastra di tingkat Sd Berbasis Video
Pembelajaran Animasi “

Disusun oleh kelompok II :
Ana Hanifah
Tya Julistianti
Alfira Seasaria

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran utama dalam perkembangan intelektual, sosial, dan

emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam
mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan dapat
membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain,
mengemukakan gagasannya dan perasaannya, berpartisipasi dalam masyarakat
yang menggunakan bahasa tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa
Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk
berkomunikasi dalam bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan
maupun tulisan serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra
Indonesia.

Pembelajaran bahasa dan sastra merupakan dua hal yang saling berkaitan
antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam pembelajaran sastra tidak dapat
dilepaskan dengan pembelajaran bahasa, karena bahasa sebagai sarana untuk
menyampaikan gagasan dan perasaan kepada orang lain baik secara tertulis
maupun lisan. Bahasa berperan sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan
emosional peserta didik. Bahasa juga merupakan penunjang keberhasilan dalam
mempelajari semua bidang studi.

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah ditujukan pertama kepada
pembinaan kemampuan bahasa baik yang bersifat ekspresif maupun responsif. Itu
berarti membina pembelajar bahasa agar memiliki keseimbangan penguasaan
bahasa untuk mengungkapkan diri dan menanggapi apa yang terjadi. Kedua
kemampuan ini akan menyebabkan pembelajar bahasa menjadi berinisiatif dan
kreatif. Pembelajar bahasa mampu menguasai bahasa secara aktif dan
mempermudah pemberdayaan dimensi vertikal dan horisontal dari hakikat bahasa
secara efektif.

10

Pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah membelajarkan
peserta didik tentang keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai
3 tujuan dan fungsinya. Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta
didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan
etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, menghargai dan bangga
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
Selain itu, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan
menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia Indonesia.

Video Animasi adalah sebuah gambar bergerak yang berasal dari kumpulan
berbagai objek yang disusun secara khusus sehingga bergerak sesuai alur yang
sudah ditentukan pada setiap hitungan waktu. Objek yang dimaksud adalah gambar
manusia, tulisan teks, gambar hewan, gambar tumbuhan, gedung, dan lain
sebagainya. Ada juga beberapa orang yang mendefinisikan Video Animasi sebagai
hasil pengolahan gambar tangan menjadi gambar bergerak yang terkomputerisasi.
Dulunya proses membuat konten Animasi memerlukan gambar tangan yang dibuat
hingga berlembarlembar. Namun, dengan kemajuan di bidang teknologi komputer
animasi tidak lagi dibuat diatas kertas melainkan langsung di komputer.

Dalam era milenial ini, pembelajaran jarak jauh sudah ada diterapkan di
perguruan tinggi di indonesia. Melalui daring, pengajar dan pelajar tidak diwajibkan
untuk bertatap muka. Kegiatan pembelajarannya melalui penggilan video dan
media pembelajaran yang kebanyakan sudah dengan teknologi yang canggih.

Dalam keadaan pandemi saat ini, bukan hanya perguruan tinggi saja yang
diwajibkan melalukan pembelajaran jarak jauh. Tetapi seluruh satuan pendidikan
dilarang melakukan pembelajaran tatap muka langsung antara pengajar dengan
pelajar. Tentu saat ini teknologi sangat diperlukan untuk kebutuhan pembelajaran
di mana pun. Salah satu media yang banyak digunakan untuk penyampaian materi
adalah video pembelajaran animasi.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, peneliti memandang perlu untuk
meneliti pembelajaran bahasa dan sastra di tingkat SD yang menerapkan
pembelajaran daring dengan berbagai teknologi yang ada. Oleh karena itu,
penelitian ini berjudul “Pembelajaran Bahasa dan Sastra di SD berbasis Video
Pembelajaran Animasi”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa saja kah aplikasi yang mudah di operasikan untuk membuat video
animasi ?

11

2. Bagaimana cara membuat video animasi melalui telepon selular dengan
mudah ?
3. Apa saja kah kelemahan dan kelebihan belajar melalui video pembelajaran
animasi ?

1.3. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis membuat tujuan penulisan sebagai
berikut :

1. Untuk mengetahui aplikasi apa saja yang mudah dioperasikan untuk
pembuatan video animasi, baik melalui komputer ataupun handphone.
2. Untuk mengetahui bagaimana cara mengoperasikan aplikasi pembuat video
animasi melalui handphone.
3. Untuk lebih memahami dampak bagi siswa maupun pengajar jika
pembelajaran melalui video animasi.

1.4. Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan penulisan diatas, penulis membuat manfaat penulisan sebagai
berikut : a.Bagi penulis

1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Bahasa dan Sastra
MI sebagai syarat UAS.

2. Untuk menambah wawasan tentang video pembelajaran animasi
b.Bagi pembaca

Menambah pengetahuan tentang kegiatan belajar yang berbasis video
pembelajaran animasi.

PEMBAHASAN

2.1.Hakikat Media Pembelajaran

Schramm mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi
pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Briggs
berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan
isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan,
National Education Associaton mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah
sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk

12

teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat
merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat
mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Menurut Kemp & Dayton fungsi media pembelajaran yaitu, Memotivasi
minat atau tindakan, Menyajikan informasi, dan Memberi intruksi. Berdasarkan
perkembangan teknologi tersebut, media pembelajaran dapat dikelompokan
kedalam empat kelompok:

• Media hasil teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau

menyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama

melalui proses pencetakan mekanis atau fotografis.

Contoh: teks, grafik, foto, atau representasi fotografik, dan reproduksi.
• Media hasil teknologi audio-visual cara menghasilkan atau menyampaikan

materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronik untuk

menyajikan pesan-pesan audio dan visual.
• Media hasil teknologi yang berdasarkan computer merupakan cara

menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-

sumber yang berbasis microposesor.
• Media hasil gabungan teknologi cetak dan computer adalah cara untuk

menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan

pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh computer.

Dari uraian diatas dapat penulis simpulkan bahwa Fungsi
mediapembelajaran yaitu, dapat membantu memudahkan belajar bagi peserta didik
dan pendidik, memberikan pengalaman lebih nyata (abstrak menjadi konkret),
menarik perhatian dan minat belajar peserta didik, dan dapat membangkitkan
menyamakan antara teori dengan realitanya. Untuk meningkatkan kosakata anak
usia dini disini peneliti menggunakan media pembelajaran vidio animasi, dimana
vidio animasi jika dilihat dari jenis media pembelajaran termasuk jenis media
berbasis audio visual. Salah satu bentuk dari media audio visual adalah video
pembelajaran. video merupakan gambar gerak yang disertai suara yang membentuk
satu kesatuan yang dirangkai menjadi sebuah alur, dengan pesan-pesan didalamnya
untuk ketercapaian tujuan pembelajaran yang disimpan dengan proses
penyimpanan pada media pita atau disk. Sebagai media audio visual dengan
memiliki unsur gerakan dan suara, video dapat digunakan sebagai alat bantu
mengajar pada berbagai mata pelajaran.

2.2. Hakikat Video Animasi

13

Video merupakan suatu medium yang sangat efektif untuk membantu
proses pembelajaran, baik untuk pembelajaran masal, individual, maupun
berkelompok. Video juga merupakan bahan ajar non cetak yang kaya informasi dan
tuntas karena dapat sampai kehadapan anak secara langsung. Disamping itu video
menambah suatu dimensi baru terhadap pembelajaran, hal ini karena karakteristik
teknologi video yang dapat menyajikan gambar bergerak pada siswa, disamping
suara yang menyertainya. Sehingga, anak merasa seperti berada disuatu tempat
yang sama dengan program yang ditayangkan video. Seperti anda ketahui bahwa
tingkat retensi (daya serap dan daya ingat) anak terhadap materi pelajaran dapat
meningkat secara signifikan jika proses pemerolehan informasi awalnya lebih besar
melalui indra pendengaran dan penglihatan.

Pengertian video itu sendiri adalah segala sesuatu yang memungkinkan
sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak secara sekuensial.
Program video dapat dimanfaatkan dalam program pembelajaran, karena dapat
memberikan pengalaman yang tidak terduga kepada siswa. Selain itu. program
video dapat dikombinasikan dengan animasi dan pengaturan kecepatan untuk
mendemotrasikan perubahan dari waktu kewaktu.

2.3. Macam-Macam Media Pembuat Video Animasi

2.3.1. FlipaClip – Animasi Kartun

Dengan menggunakan aplikasi pertama ini, anda bisa
membuat sebuah animasi dengan proses frame-byframe.
Proses ini membutuhkan ketelitian dan ketelatenan yang
cukup untuk membuat beberapa adegan yang berbeda dari
setiap framenya. Cara membuat video animasi
menggunakan FlipaClip ini tentunya bisa digunakan untuk
semua prang kecuali yang memiliki kemampuan
menggambar dengan baik dan konsisten.

2.3.2. Animate Free

14

Aplikasi yang bisa digunakan untuk membuat animasi
3D online adalah Animate Free. Aplikasi ini sangat mudah
dan bisa digunakan oleh siapa saja. Pengguna hannya perlu
memilih beberapa karakter yang bisa dipilih untuk dijadikan
tohoh pada animasi video yang akan dibuat. Lucunya lagi
pengguna bisa menambahkan beberapa ornamen atau
properti pada tokohnya seperti bunga dan topi.

Animate Free sangat membantu untuk proses
pembuatan video animasi dengan cepat yang
membutuhkan karakter 3D di dalamnya. Namun yang
menjadi kekurangannya adalah tokoh yang bisa digunakan
cenderung itu-itu saja.

2.3.3. StickDraw – Pembuat Animasi

Aplikasi sederhana ini termasuk ke dalam software
pembuat animasi yang ringan dimana sesuai dengan hasil
akhirnya. Aplikasi ini memungkinkan seseorang untuk
membuat gambaran seperti stick man dengan beberapa
adegan yang bisa digambar secara manual dari satu drame
ke frame lainnya. Dengan menggabungkan beberapa frame
tersebut, maka jadilah video animasi dari beberapa
aktivitas sederhana dari stick man yang telah dibuat
tersebut. Hasil dari video ini memang tidak nyata dan
cenderung kurang rapi dibandingkan dengan menggunakan
aplikasi lainya.

15

2.3.4. Stick Nodes – Aplikasi Pembuat Video Animasi

Menginginkan desain animasi stick man dengan
pengembangan yang banyak ? anda bisa mencoba aplikasi
yang satu ini. Aplikasi ini menawarkan beberapa fitur yang
bisa digunakan untuk menggambar ornamen, properti atau
senjata yang bisa dipegang oleh stick man nya dengan lebih
rapi. Dengan begitu pengguna bisa mewujudkan animasi
stick man yang lebih real lagi.

2.3.5. PicsArt Animator

Mewujudkan sketsa detail ? aplikasi picsart ini bisa
membantu anda dalam mewujudkannya. Dimana aplikasi
ini memang menggunakan frame to frame namun lebih
mudah digunakan untuk para pemula dengan alat-alat yang
mendukung di dalamnnya. Picsart juga memungkinkan para
kreator untuk lebih berimajinasi sesuai dengan karakter
idamannya masing-masing.

2.3.6. I Can Animate

Aplikasi ini merupakan aplikasi yang bisa digunakan
oleh siapa saja meski itu adalah pemula. Terdapat beberapa
tokoh dan tamplate yang bisa dipilih untuk dimasukkan ke
dalam video nantinya. Video animator dari aplikasi ini
biasanya digunakan untuk bahan pengajaran dan promosi
secara online melalui media sosial.

2.3.7. Animation Desk

16

Untuk membuat kartun berjalan dengan karakter
yang tidak begitu detail, biasanya para kreator
menggunakan aplikasi Animation Desk. Meskipun hasilnya
sederhana dan tidak rumit. Nyatanya aplikasi ini
memberkan alat-alat yang lengkap dari proses
menggambar sampai mewarnainya.

2.4.Pengoperasian Plotagon Story Melalui Handphone

Pertama kita bisa mendownload aplikasi ini lewat Playstore. Aplikasi ini bisa
didownload secara gratis. Jika kalian tidak bisa mendownloadnya di playstore kalian
bisa mendownloadnya melalui APKPure. Tentunya kalian harus punya apk purenya
terlebih dahulu dengan cara mendownloadnya lewat google.

Di dalam aplikasinya terdapat ikon berbentuk camera, disitu tempat kalian
bisa membuat cerita dan mendesign characters sendiri. Kalian bisa membuat alur
cerita baru dengan men-klik tombol Create new plot. Dan ada juga kolom
characters, ini berisi animasi orang yang bisa kita muat dalam cerita kita. Di kanan
atas kalian akan melihat ikon shop, disitu kalian bisa membeli charaters dan scenes
yang sudah ada di plotagon.

Nah sekarang saya akan memberitahu anda cara membuat animasi di
plotagon :

1. Buka terlebih dahulu aplikasi plotagon, klik ikon camera lalu untuk
membuat cerita yang baru kalian bisa mengklik Create New Plot. Ketika
kalian men-klik create new plot maka akan muncul layar hitam dan
blank space dibawahnya. Layar hitam untuk menampilkan gambar dari
animasi kita sedangkan blank space untuk men-setting animasi.

2. Selanjutnya untuk menampilkan tempat kita bisa men-klik ikon Clip
yang ada dikiri atas, lalu akan muncul tulisan di blank space. Ketika kita
klik tulisan Location kita bisa memilih tempat atau latar belakang yang
kita mau.Contohnya saya akan memilih tempat di Living Room, lalu
layar akan muncul gambar dari Living Room begitu juga jika kalian
memilih tempat yang lain.

17

3. Ketika sudah memilih tempat Living Room disitu kalian akan bisa
memilih characters dan bisa menempatkannya sesuai dengan yang
kalian mau.

4. Selanjutnya kita bisa menambahkan dialog dengan men-klik ikon Dialog
yang berada diatas. Lalu di blank space akan muncul sebuah text.
Ditulisan itu kita akan memilih character mana yang akan kita
masukkan dialognya dan juga menentukan ekspresi character yang
berada didalam kurung. Setelah kita menentukan character dan
ekspresi kalian bisa mengetik kalimat yang akan character kalian
ucapkan.

5. Kalian bisa me-record suara kalian sendiri untuk dimasukkan kedalam
suara characters dengan cara meng-klik ikon mic disebelah text.

6. Selanjutnya kita bisa menambahkan sebuah interaksi dengan men-klik
ikon Tangan. Nah kalian tinggal memilih interaksi apa yang akan
dilakukan oleh character. Kalian bisa melakukan interaksi jika ada 2
character atau lebih di satu tempat.

7. Kalian bisa menambahkan sound effect pada animasi kalian dengan
men-klik ikon yang berbentuk seperti Bintang. Nah kalian bisa memilih
sound effect yang kalian mau masukkan pada animasi, untuk
mendapatkan lebih banyak sound effect kalian bisa mendownloadnya
terlebih dahulu.

8. Untuk memasukkan background music kalian bisa men-klik ikon Music
diatas. Sama seperti sound effect untuk mendapatkan lebih banyak
music kalian harus mendownloadnya terlebih dahulu.

9. Kalian bisa memutar animasi kalian dengan men-klik tombol play
dibawah untuk melihat apakah animasi kalian sudah sesuai dengan
yang kalian mau. Jika sudah selesai kalian bisa mempublishnya dengan
men-klik tombol dikanan bawah dan kalian tinggal bisa menulis caption
yang kalian inginkan untuk animasinya.

2.5.Kelemahan dan Kelebihan Video Animasi

2.5.1.Kelemahan

18

• Fine details artinya media tayangnya tidak dapat menampilkan obyek
sampai yang sekecil-kecilnya dengan sempurna

• Size information artinya tidak dapat menampilkan obyek dengan ukuran
yang sebenarnya

• Third dimention artinya gambar yang diproyeksikan oleh video umumnya
berbentuk dua dimensi

• Opposition artinya pengambilan yang kurang tepat dapat menyebabkan
timbulnya keraguan penonton dalam menafsirkan gambar yang dilihatnya

• Setting artinya kalau kita tampilkan adegan dua orang yang sedang
bercakap-cakap diantara kerumunan banyak orang, akan sulit bagi
penonton untuk menebak dimana kejadian tersebut berlangsung, bisa saja
ditafsirkan dipasar, di stasiun, atau tempat keramaian lain.

• Material pendukung video membutuhkan alat proyeksi untuk dapat
menampilkan gambar yang ada di dalamnya.

• Budget artinya biaya untuk membuat program video membutuhkan biaya
yang tidak sedikit.

2.5.2.Kelebihan

Ukuran tampilan video sangat fleksibel dan dapat diatur sesuai
dengan kebutuhan, video merupakan bahan ajar non cetak yang kaya
informasi dan lugas karena dapat sampai hadapan siswa secara langsung,
video menambah suatu dimensi baru terhadap pembelajaran.

PENUTUP

Pembelajaran sastra pada tingkat pendidikan dasar perlu dikenalkan sejak dini.
Kegiatan pembelajaran sastra harus dapat menarik perhatian siswa. Penggunaan video
animasi cerita rakyat sebagai media pembelajaran sastra yang dikombinasikan dengan
pembelajaran kooperatif dapat dijadikan sebagai solusi untuk mengatasi rendahnya minat
siswa dalam pembelajaran sastra.

Untuk meningkatkan daya tarik siswa, pembelajaran sastra melalui cerita rakyat
dapat dilakukan di luar kelas juga, misalnya studi wisata mengunjungi asal tempat
terjadinya cerita rakyat tersebut sehingga akan memberi imajinasi yang tinggi tentang cerita
rakyat tersebut kepada para siswa serta menambah kecintaan dan kekaguman mereka
terhadap budaya nusantara. Tidak hanya itu, kegiatan pembelajaran yang berkesan
tentunya akan membuat pesan-pesan moral yang mereka dapatkan dari cerita rakyat

19

tersebut akan selalu tersimpan dalam memori para siswa sehingga mereka akan berusaha
menjadi penerus bangsa yang memiliki karakter baik dan berahlak mulia.

Pemanfaatan teknologi seperti penggunaan video animasi cerita rakyat dapat juga
menjadi faktor pendorong semakin malasnya para siswa untuk membaca. Oleh karena itu,
guru disarankan untuk memberi penugasan membaca karya sastra anak yang tersedia di
dalam maupun diluar perpustakaan sekolah untuk dijadikan sebagai bahan diskusi di dalam
kelas agar minat baca para siswa tetap tumbuh terhadap karya sastra anak.

DAFTAR PUSTAKA

Yuliandari Sintia, Eko Wahyudi, Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia
Interaktif Pada Mata Pelajaran Ekonomi Materi Jurnal
Penyesuaian Perusahaan Jasa, (Program Studi Pendidikan Akuntansi,
Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya)

Arsyad Azhar, Media Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013)
Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta, Gava Media, 2013)
Syafrudin Chabib, Wahyu Pujiono, Pembuatan Film Animasi Pendek “ahsyatnya

Sedekah” Berbasis Multimedia Menggunakan Teknik 2D Hybrid Animation dengan
Pemanfaatan Graphik (Jurnal Sarjana Teknik Informatika : 2013)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Jakarta: CV, Medya Jakarta)

Madyawati Lilis, Strategi Pengembangan Bahasa Pada Anak,(Jakarta, PT Kharisma Putra
Utama, 2017)

Sallyponchak, 7 aplikasi pembuat video animasi lucu mudah digunakan, dilihat 16 Juni
2020. <https://www.sallyponchak.com/aplikasi-pembuatvideo-animasi/>

20

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS CERITA PADA
ANAK SEKOLAH DASAR MELALUI METODE PICTURE AND

PICTURE.

Kelompok 3

Iis Asipa 20183411040

Salsabila Faradiba 20183411087

M. Sandi Bambang 2018341106

PENDAHULUAN

Meningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu pilar
upayapeningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan.Dalam pembelajaran bahasa
terdapat keterampilan yang harus dikuasai oleh peserta didik.melatih keterampilan
berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. Oleh karena itu, kemampuan
berpikir seseorang dapat dilihat dari kemahiran berbahasanya.(Tarigan, 2008)

Pendidikan di Indonesia menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah satu
bidang studi yang diajarkan di sekolah. Pengajaran Bahasa Indonesia haruslah berisi
usaha-usaha yang dapat membawa serangkaian keterampilan.Keterampilan tersebut
erat hubungannya dengan proses-proses yang mendasari pikiran.Semakin terampil
seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya.

Salah satu bidang aktivitas dan materi pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah
dasar yang memegang peranan penting ialah pengajaran menulis.Menulis merupakan
salah satu kompetensi bahasa yang ada dalam setiap jenjang pendidikan, mulai tingkat
prasekolah hingga perguruan tinggi.Menulis adalah salah satu dari empat
keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa.menulis adalah
suatu proses berfikir dan menuangkan pemikiran itu dalam bentuk wacana (karangan).

Mendengar istilah menulis atau mengarang, mungkin kita membayangkan
pada sesuatu yang tidak menarik, menjemukan, bahkan memfrustasikan.Pendapat
tersebut tidak sepenuhnya salah.Hal ini terjadi karena kekeliruan pemahaman esensi

21

konsep menulis, atau mungkin pengalamannya di sekolah dalam belajar menulis yang
tidak menyenangkan.

Menulis cerita merupakan kompetensi menulis yang sudah ada dan dimulai di
jenjang sekolah dasar. Siswa dapat mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasannya
kepada orang lain melalui kegiatan menulis cerita. Kemampuan menulis cerita tidak
secara otomatis dapat dikuasai oleh siswa, melainkan harus melalui latihan dan
praktik yang banyak dan teratur sehingga siswa akan lebih mudah berekspresi dalam
kegiatan menulis. Sehubungan dengan itu, kemampuan menulis harus ditingkatkan
sejak kecil atau mulai dari pendidikan sekolah dasar. Apabila kemampuan menulis
tidak ditingkatkan, maka kemampuan siswa untuk mengungkapkan pikiran atau
gagasan melalui bentuk tulisan akan semakin berkurang atau tidak berkembang.

Khusus aspek menulis, yang telah diajarkan di sekolah dasar sejak kelas awal
sampai dengan kelas VI.Kemampuan menulis di kelas I dan II merupakan
kemampuan awal atau tahap permulaan.Oleh karena itu pembelajaran menulis di
kelas tersebut dinamakan pembelajaran menulis permulaan, sedangkan di kelas III,
IV, V dan VI disebut pembelajaran menulis lanjut.Dengan demikian, di sekolah dasar
ada dua jenis menulis, yakni menulis permulaan dan menulis tanjut.Permasalahan
yang sering terjadi dalam pembelajaran menulis adalah kurangnya motivasi guru dan
siswa.Disamping itu variasi metode pembelajaran juga selalu menjadi penyebab
tidaak berkembangnya kemampuan menulis sisiwa.

Pembelajaran menulis cerita masih banyak siswa yang sering kali mendapat
nilai di bawah KKM.Hal ini dikarenakan siswa tidak runtut atau melompat-lompat
dalam menulis cerita, ide utamanya masih belum terlihat dan urutan tidak
logis.Kenyataan ini menunjukkan bahwa guru kurang membimbing siswa dengan baik
dalam hal menulis cerita serta siswa mengalami kesulitan mengembangkan
gagasannya untuk menulis cerita sehingga guru perlu berupaya dalam
mengembangkan pembelajaran yang inovatif dengan maksud agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai khususnya dalam pembelajaran menulis cerita.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengangkat judul tentang
kemampuan menulis cerita pada anak dan metode picture and picture. Dengan
demikian judul yang diambil yaituMeningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Pada
Anak Sekolah Dasar Melalui Metode Picture And Picture.

22

PEMBAHASAN

1. Kemampuan Menulis Cerita

Pendidikan di Indonesia menempatkan bahasa Indonesia sebagai salah satu
bidang studi yang diajarkan di sekolah. Pengajaran Bahasa Indonesia haruslah
berisi usaha-usaha yang dapat membawa serangkaian
keterampilan.Keterampilan tersebut erat hubungannya dengan proses-proses
yang mendasari pikiran.Semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah
dan jelas pula jalan pikirannya. Dalam standar isi, pembelajaran bahasa dan
sastra diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi
dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun
tertulis. Standar kompetensi bahasa dan sastra Indonesia juga dijadikan
sebagai pengukur kemampuan minimal peserta didik yang mengambarkan
penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap
bahasa dan sastra Indonesia.

Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan
agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan.Salah satu
bidang aktivitas dan materi pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar
yang memegang peranan penting ialah pengajaran menulis.Menulis
merupakan salah satu kompetensi bahasa yang ada dalam setiap jenjang
pendidikan, mulai tingkat prasekolah hingga perguruan tinggi.Menulis adalah
salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik
oleh siswa.

Mengarang adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang
mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada
pembaca untuk dipahami seperti yang dimaksudkan pengarang
(Widyamartaya, 2008).Dapat diartikan keseluruhan rangkaian kegiatan
seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui
bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami secara tepat seperti yang
dimaksudkan oleh penulis atau pengarang.Karangan memiliki klasifikasi dan
jenis yang beragam.Wacana narasi merupakan salah satu jenis wacana yang

23

berisi cerita.Hal ini berarti menulis cerita adalah salah satu jenis
karangan.Menulis cerita merupakan kompetensi menulis yang sudah ada dan
dimulai di jenjang sekolah dasar.

Siswa dapat mengungkapkan perasaan, ide, dan gagasannya kepada
orang lain melalui kegiatan menulis cerita. Kemampuan menulis cerita tidak
secara otomatis dapat dikuasai oleh siswa, melainkan harus melalui latihan
dan praktik yang banyak dan teratur sehingga siswa akan lebih mudah
berekspresi dalam kegiatan menulis. Sehubungan dengan itu, kemampuan
menulis harus ditingkatkan sejak kecil atau mulai dari pendidikan sekolah
dasar. Apabila kemampuan menulis tidak ditingkatkan, maka kemampuan
siswa untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan melalui bentuk tulisan akan
semakin berkurang atau tidak berkembang.

Menulis merupakan kegiatan komunikasi, sama dengan komunikasi
lisan, pesan yang tepat dan efektif akan memudahkan penerima pesan
memahaminya. Penulis yang baik adalah penulis yang mampu menggunakan
teknik menulis secara berbeda tergantung dari siapa sasaran tulisannya dan
untuk tujuan apa tulisan itu dibuat. Ada lima bentuk atau jenis tulisan yaitu:
deskipsi, eksposisi, narasi, persuasi, argumentasi. Sementara cerita termasuk
dalam jenis tulisan narasi yaitu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan,
mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam sebuah
peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam satu kesatuan waktu
tertentu.

2. Metode Pembelajaran Picture and Picture

Kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah metode pembelajaran. Metode pembelajaran sendiri adalah
seluruh perencanaan dan prosedur maupun langkah-langkah kegiatan
pembelajaran termasuk pilihan cara penilaian yang akan dilaksanakan. Metode
pembelajaran dapat diartikan juga sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan
nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran
seorang guru tidak cukup hanya menyampaikan pengetahuan saja. Akan tetapi

24

juga harus mampu menciptakan suasana kelas yang penuh perhatian, sehingga
kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan tercapai tujuan yang optimal.
Oleh karena itu guru harus mampu menentukan model yang terbaik yang akan
digunakan.

Secara umum model mempunyai pengertian suatu garis-garis besar
haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah
ditentukan.Dihubungkan dengan belajar mengajar, model bisa diartikan
sebagai pola pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan
kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah
digariskan.Pembelajaran ini memiliki ciri aktif, inovarif, kreatif, dan
menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktif
peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran
harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat
peserta didik. Dan kreatif, setiap pembelajarnya harus menimbulkan minat
kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan
suatu masalah dengan menggunakan metode, teknik atau cara yang dikuasai
oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.

Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: ceramah,
demonstrasi, diskusi, simulasi, laboratorium, pengalaman lapangan,
brainstorming, debat, simposium, dan sebagainya.Salah satu metode
pembelajaran yang efektif adalah picture and picture.Pengertian dari metode
picture and picture sendiri yaitu, suatu metode belajar yang menggunakan
gambar dan dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan yang logis. Metode
Pembelajaran picture and picture mengandalkan gambar sebagai media dalam
proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses
pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan
gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk
carta dalam ukuran besar. Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam
menggunakan power point atau software yang lainnya.

Dalam menerapkan model pembelajaran picture and picture ini tidak
hanya sekedar menerapkan akan tetapi ada langkah–langkah yang harus

25

diperhatikan. Metode pembelajaran kooperatif picture and picture merupakan
sistem pengajaran yang memberi kesempatan pada anak didik untuk bekerja
sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas yang berstruktur, berkelompok,
sehingga terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat
interdependensi efektif di antara anggota kelompok. Melatih siswa tidak
sekedar menghafal suatu materi pembelajaran tetapi juga mengetahui alasan
mengungkapkan ide pendapat, konsep materi dan lebih mudah memahami
maksud yang ingin disampaikan oleh guru kelasnya.

Dengan menggunakan konsep motode pembelajatan picture and
picture ini materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran
guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat
terlebih dahulu.Siswa jauh lebih cepat menangkap materi ajar karena guru
menunjukkan gambar-gambar mengenai materi yang dipelajari.Dapat
meningkat daya nalar atau daya pikir siswa karena siswa disuruh olrh guru
untuk mampu menganalisa gambar yang ada.Juga dapat meningkatkan
tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa mengurutkan
gambar.Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung
gambar yang telah dipersiapkan oleh guru yang tengah mengajar.

3. Karakter Siswa Sekolah Dasar

Masa usia sekolah dasar sebagai mesa kanak-kanak akhir yang
berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua
belas tahun. Karakteristik utama siswa sekolah dasar adalah mereka
menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan
bidang.Diantaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif
dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak.

Perkembangan psikososial pada usia enam sampai pubertas, anak
mulai memasuki dunia pengetahuan dan dunia kerja yang luas. Peristiwa
penting pada tahap ini anak mulai masuk sekolah, mulai dihadapkan dengan
tekhnologi masyarakat, di samping itu proses belajar mereka tidak hanya
terjadi di sekolah, tapi diberbagai lingkungan lainnya seperti, lingkungan
rumah, keluarga, teman dan sebagainya,

26

Anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang,
barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya(Thornburg, 1999). Setiap
anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental
mengarah yang lebih baik.Tingkah laku mereka dalam menghadapi
lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas empat, memiliki
kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di
antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak
remaja permulaan. Banyak faktor yang menunjang perkembangan intelektual
yaitu : kedewasaan (maturation), pengalaman fisik (physical experience),
penyalaman logika matematika (logical mathematical experience), transmisi
sosial (social transmission), dan proses keseimbangan (equilibriun) atau proses
pengaturan sendiri (self-regulation ). Anak usia sekolah dasar tertarik terhadap
pencapaian hasil belajar.

Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan
dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak-anak membutuhkan
keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat
mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat
memaksa mereka berperasaan negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga
menghambat mereka dalam belajar. Pada usia ini mereka masuk sekolah
umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah,
karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam
lingkungan masyarakat. Hal tersebut dapat memacu masa kelas tinggi sekolah
dasar untuk mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut :

a) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang
kongkrit,

b) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar,
c) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan

mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor
ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor,
d) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas
dan berusaha menyelesaikan sendiri,
e) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai
ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah,

27

f) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya,
biasanya untuk bermain bersama-sama.

Anakusia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami
perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun
pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada
masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai
variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor
yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak
sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.

PENUTUP

Dari pendapat di atas kami menarik kesimpulan bahwa, guru dituntut
untuk dapat mengemas perencanaan pembelajaran dan pengalaman belajar
yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang
ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi
pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak serta
dapat dengan mudah dipahami. Selain itu, siswa hendaknya diberi kesempatan
untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual
maupun dalam kelompok.

Dengan menggunakan konsep motode pembelajatan picture and
picture ini materi yang diajarkan lebih terarah karena pada awal pembelajaran
guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai dan materi secara singkat
terlebih dahulu.Siswa jauh lebih cepat menangkap materi ajar karena guru
menunjukkan gambar-gambar mengenai materi yang dipelajari.Dapat
meningkat daya nalar atau daya pikir siswa karena siswa disuruh olrh guru
untuk mampu menganalisa gambar yang ada.Juga dapat meningkatkan
tanggung jawab siswa, sebab guru menanyakan alasan siswa mengurutkan
gambar.Pembelajaran lebih berkesan, sebab siswa dapat mengamati langsung
gambar yang telah dipersiapkan oleh guru yang tengah mengajar.

28

DAFTAR PUSTAKA
Elbow, Peter. 2010. Writing Without Teachers: merdeka dalam menulis!
Cetakan kedua. Bekasi.PT. Indonesia Publishing
Ibrahim,Nini.2012. Bahasa Indonesia:Untuk Perguruan Tinggi.Cetakan
ketiga. Jakarta. UHAMKA PRESS
http://abdulgopuroke.blogspot.com/2017/03/model-pembelajaran-kooperatif-
picture-and-picture.html
http://evie4210.blogspot.com/2010/05/faktor-yang-dapat-menurunkan-moral-
di.html
http://fatkhan.web.id/pengertian-dan-langkah-langkah-model-pembelajaran-
picture-picture/
http://hisyamjayuz.blogspot.com/2013/08/hakikat-metode-pembelajaran.html
https://media.neliti.com/media/publications/53865-ID-peningkatan-
kemampuan-menulis-cerita-den.pdf
http://sakalvin.blogspot.com/2013/04/metode-pengumpulan-data-dan-daftar-
pustaka.html?m=1
https://www.google.com/search?q=studi+pustaka+adalah&oq=studi+pustaka+
ada&aqs=chrome.0.0j69i57j0l4.10138j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8
https://www.kompasiana.com/akipeffendy/550eb183a33311b12dba83af/hakik
at-keterampilan-menulis

29

PERAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK

Oleh :
Kelompok 4
SlametRamdani 20183411112
Siti Aminah 20184311095
Puji Lestari 20183411077
Sekolah Tinggi Agama Islam Bani Saleh

PENDAHULUAN

Pembelajaranbahasamemilikiperanutamadalamperkembanganintelektual, sosial dan

emosionalpesertadidik dan

merupakanpenunjangkeberhasilandalammempelajarisemuabidangstudi.

Pembelajaranbahasadiharapkanmembantupesertadidikmengenaldirinya, budayanya,

dan budaya orang lain, mengemukakangagasan dan perasaan,

berpartisispasidalammasyarakat yang menggunakanbahasatersebut.

SedangkanPembelajaran sastra

dapatmerangsangpesertadidikberbuatsesuaidengannilai-nilaikemanusiaan, adatistiadat

agama dan lingkungan. karenadalamdirinyatertanamnilai-nilaikemanusian.

Melaluikarya sastra pesertadidikbisamengembangkanperasaan-perasaanbatin, dan

budipekertinya, sehinggatanpadisadaripesertadidikdapatmembedakansesuatu yang

dianggapbaikataupunburukmelalui proses apresiasi dan berkreasidengankarya sastra.

Pembelajaran Bahasa dan sastra merupakanduahal yang salingberkaitanantara yang

satudengan yang lainnya. Dalampembelajaran sastra

tidakdapatterlepasdenganpembelajaranbahasa,

karenabahasasebagaisaranauntukmenyampaikangagasan dan perasaankepada orang

lain baiksecaralisanmaupuntertulis.

Salah satufungsidari Pendidikan adalahmembentukkarakterpesertadidik, yang
meliputikarakter moral dan karakterkerja. Karakter moral
dalamartimembentukpesertadidik agar menjadimanusia yang berakhlakmulia.

30

Oleh karenaitu, peranpembelajaranbahasa dan sastra Indonesia
inisangatberpengaruhterhadapperkembangankarakterpesertadidiksesuaidengantujuana
danyapembelajaranbahasa dan satra Indonesia tersebut.

Namundewasainiseringkitajumpaianak-anaksekarangmudahsekalimelontarkanbahasa
oral dan bahasatubuh yang cenderungtereduksi oleh gayaungkap yang kasar dan
vulgar . Hal inimengisyaratkanbahwamutupendidikan yang didapatkanpesertadidik di
sekolahtidakditerapkansecarabaik dan benardalamkehidupansehari-hari.

Menanggapihaltersebutmakadapatmelakukanpengoptimalanperanbahasa dan sastra,

oleh karenaitusekurangnyaadaduaperspektif.

Pertama, darisudutpandangparadigmapendidikanbahasa dan sastra.

Pendidikan bahasa dan sastra

dirasakanmemangsangatpentingkarenaketikaseorangpendidikmemberikanpengajarank

epadaanak-anakdidiknya, iaharusbisamenggunakanbahasadenganbaik dan benar.

Apabilaseorangpendidikmengunakanbahasa yang kurangbaik, makaakandicontoh oleh

anak-anakdidiknya dan ituakanmengakibatkanperanbahasadalam dunia

pendidikanmenjadikurangberkualitas.

Kedua, dariperspektifhubunganantarapendidikanbahasa, sastra, dan

pembentukankarakter. Untukmembentukkarakterbangsaini, sastra

diperlakukansebagai salah satu media atausaranapendidikankejiwaan. Hal

itucukupberalasansebab sastra mengandungnilaietika dan moral yang

berkaitandenganhidup dan kehidupanmanusia. Sastra

tidakhanyaberbicaratentangdirisendiri (psikologis), tetapi juga berkaitandenganTuhan

(religiusitas), alamsemesta (romantik), dan juga masyarakatnya (sosiologis). Sastra

mampumengungkapbanyakhaldariberbagaisegi, salah

satunyapemebentukankarakteryaknicaraberpikir dan berperilaku yang

menjadicirikhassetiapindividuuntukhidup dan bekerjasama,

baikdalamlingkupkeluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.

Adapunmengapapenulismemilihjudulinikarenapenulismenganggapbahwapermasalaha

n yang terjadidilapanganmengenaibahasa yang seringdigunakan oleh

pesertadidikakhirakhirinitidaksesuaidenganbahasa dan sastra yang

telahmerekapelajari di sekolah, makaperlu di

pahamikembalibagaimanaperanpentingbahasa dan sastra dalampendidikan di

31

sekolahseharusnyaditerapkansecara optimal oleh

pesertadidikdalamkehidupanbermasyarakat

Dengandemikiandenganadanyaperanpembelajaranbahasa dan sastra

dalampembentukkankarakterpesertadidik.

Sehinggadiharapkandapatmembantupesertadidikmengenaldirinya, budayanya, dan

budaya orang lain. Selainitu, pesertadidikdiharapkanmampumengemukakangagasan

dan perasaan, berpartisipasidalammasyarakat yang menggunakanbahasatersebut, dan

menemukansertamenggunakankemampuananalitis dan imajinatif yang

adadalamdirinya. Untukkepentinganitu, pada

bagianberikutiniakandibahaslebihmendalammengenaiPeranpembelajaranbahasa dan

sastra dalampembentukankarakterpesertadidik.

PEMBAHASAN

1. Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia

Istilahpembelajaranseringterdengardalamkajianpendidikan di sekolahsaatini. Istilah
inimerupakanpengembanganistilahdari Proses BelajarMengajar‖ (PBM). Dalamistilah

PBM makna yang familiar bagi guru-guru saatiniadalah guru

melakukanpengajarandalam

berbagaimateri ajar kepadapesertadidik. Sedangkanistilahpembelajaransaatinimenjadi

aktual, dimaknaisebagai proses interaksipesertadidikdenganlingkunganbelajarnya.

Dalam

proses inianakmenjadiobjeksekaligussubjekbelajar. Guru dan

lingkunganbelajarlainnya

menjadikondisipenting yang menyertai proses pembelajaran.

Pembelajarandalampendidikankarakterdidefinisikansebagaipembelajaran

yangmengarah pada penguatan dan pengembanganperilakuanaksecarautuh yang

didasarkanataudirujuk pada suatunilai.

Penguatanadalahupayauntukmelapisisuatuperilakuanaksehinggakuat.

Pengembanganperilakuadalah proses adaptasiperilakuanakterhadapsituasi

dankondisibaru yang dihadapiberdasarkanpengalamanbaru. Kegiatanpenguatan

danpengembangandidasarkan pada suatunilai yang dirujuk. Artinya proses

32

pendidikankarakteradalah proses yang terjadikarenadidesainsecarasadar,

bukansuatukebetulan.

• Menurut SyaifulSagala (61: 2009) pembelajaranadalah

“membelajarkansiswamenggunakanasaspendidikanmaupunteoribelajar yang

merupakanpenentuutamakeberhasilanpendidikan”. Pembelajaranmerupakan

proses komunikasiduaarah. Mengajardilakukanpihak guru sebagaipendidik.,

sedangkanbelajar oleh pesertadidik.

• Menurut Knowles

pembelajaranadalahcarapengorganisasianpesertadidikuntukmencapaitujuanpen

didikan. Pendidikan karaktersecaraterintergrasi di dalam proses

pembelajaranadalahpengenalannilai-nilai,

fasilitasidiperolehnyakesadaranakanpentingnyanilai-nilai,

danpenginternalisasiannilainilaikedalamtingkahlakupesertadidiksehari-

seharimelalui proses pembelajaranbaik yang berlangsung di dalammaupan di

luarkelas pada semuamatapelajaran,

selainuntukmenjadikanpesertadidikmenguasaimateri yang ditargetkan,

jugadirancang dan dilakukanuntukmenjadikanpesertadidikmengenal,

menyadari/peduli, danmenginternalisasinilai-nilai dan

menjadikannnyaperilaku.

• MenurutKridalaksana dan Djoko Kentjono (dalamChaer, 2014:32)

bahasaadalahsistemlambangbunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para

anggotakelompoksosialuntukbekerjasama, berkomunikasi, dan

mengidentifikasikandiri.

Fungsiutamabahasaadalahsebagaialatkomunikasiantarmanusia. Bahasa

sebagaialatperantaraantaranggotamasyarakatdalamsatukelompok dan

alatinteraksisecaraindividumaupunkelompok. Dengansingkat kata

bahasaadalahalatkomunikasi (Tarigan, 1987:22-23).

• Carrol

berpendapatbahwabahasaadalahsebuahsistemberstrukturalmengenaibunyi dan

urutanbunyibahasa yang sifatnyamanasuka, yang digunakan, atau yang

dapatdigunakandalamkomunikasiantarindividu oleh sekelompokmanusia dan

33

yang secaraagaktuntasmemberinamakepadabenda-benda, peristiwa-peristiwa

dan prosesprosesdalamlingkunganhidupmanusia.

• Sudaryonomengemukakanbahwabahasaadalahsaranakomunikasi yang

efektifwalaupuntidaksempurnasehinggaketidaksempurnaanbahasasebagaisaran

akomunikasimenjadi salah satusumberterjadinyakesalahpahaman.

Dapatdisimpulkanbahwabahasaalatkomunikasiantaraanggotamasyarakatberupasimbol

bunyi yang dihasilkan oleh alatucapmanusia. Bahasa memberikankemungkinanyang

jauhlebihluas dan kompleksdaripada yang

dapatdiperolehdenganmempergunakanmedia. Bahasa haruslahmerupakanbunyi yang

dihasilkan oleh alatucapmanusia.

Bukansembarangbunyikarenabunyiitusendiriharuslahmerupakansimbolatauperlamban

gan.

Sebagaicerminankeadaansosialbudayabangsaharuslahdiwariskankepadagenerasimuda

nya.

Aminuddin (2002:31) mengemukakanbahwa sastra memilikipotensi yang

besaruntukmembawamasyarakatkearahperubahan, termasukperubahankarakter.

Selainmengandungkeindahan, sastra juga memilikinilaimanfaatbagipembaca.

Segikemanfaatanmunculkarenapenciptaan sastra

berangkatdarikenyataansehinggalahirlahsuatuparadigma

bahwa sastra yang baikmenciptakankembali rasa kehidupan.

Sebagaiwujuduntukmenyampaikanataumenginjeksikanpendidikankarakterdalam

sastra kepadapesertadidik

adabeberapaupaya yang bisadilakukan oleh pendidik.

Pendidikmengungkapkannilai-nilaidalammatapelajaranbahasa dan sastra Indonesia

denganpengintegrasianlangsungnilai-nilaikarakter yang

menjadibagianterpadudarimata

pelajarantersebut. Pendidikbisamenggunakanperbandinganceritapendekberdasarkan

kehidupanataukejadian-kejadiandalamhidup para pesertadidikkemudianmengubahhal

hal yang bersifatnegatifdalamceritapendektersebutmenjadinilaipositif.

Denganinipesertadidikmampumengambilsecaralangsungnilai-nilaipendidikankarakter

yang tersiratdan tersuratdalamtugas yang

diberikanpendidiktadikarenamerupakanbagaindarikehidupanpesertadidikitusendiri.

Ataubisa juga menggunakanceritauntukmemunculkannilai-

nilaikarakterdenganmenceritakankisahhidup orang-orang besar.

34

Dengankisahnyatayang dialami orang-orang besar dan

terkenalbisamenjadikanpesertadidikakanterpikat

danmengidolakansertapastunyainginmenjadisepertiidolanyatersebut.

Puisi (lagu) memberikanefek yang sangatdalambagipendengarnya.

Bahkankabarterkini yang telahkitaketahuibersama, bayidalamkandungan pun

bisadipengaruhidenganlagu yang diputardekatdenganperutibunya.

Dengandasarinipendidikbisamenggunakanlagu-lagu dan musik (musikalisasipuisi)

untukmengintegrasikannilai-nilaikarakterdalambenakpesertadidik.

Pendidikbisa juga menggunakan drama sebagai media

untukmelukiskankejadiankejadian yang berisikannilai-nilaikarakter. Sehinggasecara

audio visual sertaaplikasilangsung (pementasan drama)

menjadikanpesertadidiklebihmudahuntukmemahami dan menyerapnilai-

nilaikaraktertersebut.

Selainitutugas-tugas yang bisadikerjakandirumahdapatmengambilcontohtentangapa

yang dilihatpesertadidik di

televisikemudianpendidikakanmenjelaskansekaligusmeluruskannilai-nilaiapasaja

yang adadalam film di televisitersebut. Iniakanlebihmenggoreskandalam-dalamnilai-

nilaipendidikankarakter yang didapat di benakpesertadidik.

Menggunakan novel sebagai media untukmengungkapkannilai-nilaiataunorma-

normadalammasyarakatmelaluidiskusi dan brainstorming pun bisadigunakan oleh

pendidik. Novel banyakmemberikankisah-kisah yang

mampumenjadikanpembacanyaberimajinasi dan masukdalamcerita novel tersebut.

2. Pendidikan Karakter

Pendidikan karaktermulaididengungkan di era Mendikbud Muhammad Nuh.

Menurutnyapendidikan di Indonesia mulaimelupakanpembentukankaraktersiswa.

Atasdasarpemikiranitulahpendidikansaatiniharusmemuatpendidikankarakter.

• Koesumadalamartikelnyamenyatakantujuanpendidikanadalahuntukpembentuk

ankarakter yangterwujudsdalamkesatuanesensialsisubjekdenganperilaku dan

sikaphidup yangdimilikinya. Karaktermenjadiidentitas yang

mengatasipengalamankontingen yang selaluberubah. Dari

kematangankarakterinilah, kualitasseseorangsecarapribadimampudiukur.

Bahasa mencerminkanbangsa. Itulahkira-

kiragambaranbagaimanahubunganBahasadenganpendidikankarakter. Bahasa yang

35

notabenealatkomunikasimempunyaidampakyang besarterhadapperilakumanusia. Hal

tersebutlah yang meyakinisetiaptuturan

yangdiucapkanmanusiamempunyaikaraktertersendiri.

• Muslich (2011:12) mengemukakanbahwapendidikanadalah proses

internalisiasibudayakedalamdiriseseorang dan masyarakatsehinggamembuat

orang dan masyarakatmenjadiberadab. Pendidikan

bukanhanyamerupakansaranatranferilmupengetahuan (transfer ofknowledge)

sajatetapilebihluaslagi, yaitusebagaisaranamembudayaan dan penyalurannilai

(enkluturasi dan sosialisasi). Anakharusmendapatkanpendidikan yang

menyentuhdimensidasarkemanusiaan.

Pendidikan adalahupayauntukmemajukanbudipekerti (kekuatanbatin, karakter),
danjasmanianakdidik‖ (Ki Hajar Dewantara)

Dewasainiseringterdengarbanyakkalanganmembicarakanpendidikankarakter.

Kemerosotansisi-sisikehidupanbermasyarakat,berbangsa dan

bernegaratampaknyadijadikansebabbegitupentingnyahaltersebutKembalidibicarakan.

• Aunillah (2011:19)

mengemukakanbahwapendidikankarakteradalahsebuahsystem yang

menanamkannilai-nilaikarakter pada pesertadidik, yang

mengandungkomponenpengetahuan, kesadaranindividu, tekad,

sertaadanyakemauan dan tindakanuntukmelaksanakannilai-nilai,

baikterhadapTuhan Yang MahaEsa, dirisendiri,

sesamamanusia,lingkungan,maupunbangsasehinggaakanterwujudnyainsankam

il

Dengandemikian, pendidikankarakterdapatdimaknaisebagaisuatu

prosesinternalisasikansifat-sifatutama yang

menjadicirikhususdalamsuatumasyarakatkedalamdiripesertadidiksehinggadapattumbu

h dan berkembangmenjadimanusiadewasasesuaidengannilai-

nilaibudayamasyarakatsetempat.

Dalam grand desainpendidikankarakteradanya proses pembudayaan dan

pemberdayaannilai-nilailuhurdalamlingkungansatuanpendidikan (sekolah),

lingkungankeluarga, danlingkunganmasyarakat. Nilai-nilailuhuriniberasaldariteori-

teoripendidikan, psikologipendidikan, nilai-nilaisosialbudaya, ajaran agama, Pancasila

dan UUD 1945, dan UU No. 20

36

Tahun 2003 tentangSistem Pendidikan Nasional, sertapengalamanterbaik dan

praktiknyatadalamkehidupansehari-hari.

Proses pembudayaan dan pemberdayaannilai-nilailuhurinijuga perludidukung oleh

komitmen dan kebijakanpemangkukepentingansertapihak-

pihakterkaitlainnyatermasukdukungansarana dan prasarana yang diperlukan.

3. Implementasi Sastra dalamPembentukan Pendidikan

KarakterBagiPesertaDidik

Sastra bersifatindah dan bermanfaat. Dari aspekgubahan, sastra

disusundalambentukyang apik dan menariksehingga orang senangmembaca,

mendengar, melihat, danmenikmatinya. Sementaraitu, dariaspekisiternyatakarya
sastra sangatbermanfaat. Didalamnyaterdapatnilai-nilaipendidikan moral yang

bergunauntukmenanamkanpendidikankarakter.
Berkaitandengankarakter, Saryono (dalamSeptiningsih, 2011:2)

mengemukakanbahwakarya sastra yang

dapatdijadikansaranauntukmembentukkarakterbangsa, antara lain:

1) Karya sastra yang mengandungnilaiestetikaadalah sastra yang
mengandungnilaikeindahan, keelokan, kebagusan, kenikmatan, dan keterpanaan yang

dimungkinkan olehsegalaunsur yang terdapat di dalamkarya sastra.
Dengannilaiestetika yang termuatdalam sastra tersebut, diharapkankarakterbangsa

yang terbentukadalahinsan Indonesiayang memiliki rasa keindahan, ketampanan, dan
keanggunandalamberpikir, berkata,dan berperilakusehari-hari.

2) Karya sastra yang mengandungnilaihumanisadalah sastra yang
mengandungnilaikemanusiaan, menjunjungharkat dan martabatmanusia,

sertamenggambarkansituasidankondisimanusiadalammenghadapiberbagaimasalah.
Kehadirankaryasastrasemacamitudiharapkandapatmembentukkearifanbudayabangsa

IndonesiaYangmemiliki rasa perikemanusiaan yang adil, beradab, dan bermartabat.
3) Karya sastra yang mengandungnilaietika dan moral adalahkarya sastra yang

mengacupada pengalamanmanusiadalambersikap dan bertindak, melaksanakan yang

benardanyang salah, sertabagaimanaseharusnyakewajiban dan

tanggungjawabmanusiadilakukan.
Norma etis dan moral tersebutdapatdijadikanwahanapembentukankarakterbangsa

yang lebihmengutamakanetika dan moral dalambersikap dan bertindaksehari-hari.
4) Sastra religiusadalah sastra yang menyajikanpengalaman spiritual. Semua

sastrapadaawalnyadigunakansebagaisaranaberpikir dan

37

berzikirmanusiaakankekuasaan,keagungan, kebijaksanaan, dan keadilanTuhan yang
MahaEsaKehadiransastra tersebutdapatmembentukkarakterbangsa Indonesia
sebagaiinsan yang religius,
penuh rasa berbakti, beriman, dan bertakwakepadaTuhan yang
MahaEsadalamkehidupansehari-hari.

Berkaitandengankarakter, Saryono (2010: 59) menegaskanbahwa genre sastra yang

dapatdijadikansaranauntukmembentukkarakterbangsa, antara lain, genre sastra

yangmengandungnilaiatauaspek:

1) literer-estetis,

2) humanistis,

3) etis dan moral, dan

4) religius-sufistisprofetis.

Keempatnilai sastra tersebutdipandangmampumengoptimalkanperan sastra

dalammembangungenerasi yang berkarakter.

Sasaranpembentukankarakaterkepadapesertadidikdilakukanbaik di

tingkatdasar,menengah dan perguruantinggisehinggaterbentuklahgenerasi yang

religius, jujur, toleransi, disiplin, kerjakeras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa

ingintahu, semangatkebangsaan, cintatanahair, menghargaiprestasi,

bersahabat/komunikatif, cintadamai, gemarmembaca, pedulilingkungan, pedulisosial,

dan tanggungjawab.

PENUTUP

Sastra sebagai media untukpengintegrasian,

penyampaianpendidikankarakterkepadapesertadidik, penanamannilai-nilai yang

baikmampumenjadi salah satumetodeuntukmenujupendidikan yang lebihbaik di

tengahkebangkrutan moral bangsa, maraknyatindakkekerasan,

inkoherensipolitisiatasretorikapolitik, yang tengahmenjalar dan menjangkitibangsaini.
Pengajaran sastra mampudijadikansebagaipintumasukdalampenanamannilainilai

moral sepertikejujuran, pengorbanan, demokrasi, santun dan
sebagainya.Berbagaiupaya yang bisadilakukanpendidikmelaluipembelajaran sastra

yangdisertakan pula pendidikankarakter di dalampenyampaiannya, baikmelaluipuisi,

38

lagu,cerpen, novel, drama, dan

ceritarakyatnampaknyaakanmampumembawaPendidikankarakteruntukmasukkedalam

jiwapesertadidik dan secarautuh.

Berkenaandenganmateri yang mengandungnilai-

nilaipendidikankarakterdalampembelajaranbahasa Indonesia adalahmendengarkan,

membaca, bercakap-cakap, mengarangdan menulis,

Secaraumumnilai-nilai yang terdapat pada materi-

materipembelajaranBahasaIndonesia adalahkejujuran, keberanian, rasional,

kreatifitas, menghargai, kerjakeras, sopansantun dan sebagainya.

Terselenggaranyapendidikan di tigalingkungansangat

memungkinkanpenggunaanbahasamemilikipengaruh yang besar. Dari

cerminantersebutperlunyapengajaranbahasa dan

kaitannyadenganpendidikandinilaimampumemberikanhalpositifdalampembentukanka

rakterseseorangmelaluipendidikanberbasiskarakter.

Mempelajari dan

mengembangkanbahasadalampendidikansangatlahperluditingkatkan.Oleh

sebabitukitasebagaipemerhatipendidikaanmempunyaiperanpentingdalammenanamkan

nilai-nilaipositifsertapembentukankarakterseseorangmelaluibahasa yangbaik.

39

DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2002. PengantarApresiasiKarya Sastra. Bandung: SinarBaruAlgasindo.
Aqib, Zainal dan Sujak. 2011. Panduan dan Aplikasi Pendidikan KarakteruntukSiswa
Sekolah.Bandung: YramaWidya. Aunillah, NurlaIsna. 2011. Pendidikan Karakter di
Sekolah. Yogyakarta: Laksana.
Depdiknas. 2003. UU No. 20 tahun 2000 Sistem Pendidikan Nasional.
www.depdiknas.go.id.
Dharma, Kesumadkk. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktek di
Sekolah.
Bandung: PT RemajaRosdakarya.
Doni, Koesoema A. 2010. Pendidikan Karakter: StrategiMendidikAnak di Zaman
Global.
Jakarta: Grasindo.
Ihsan. Fuad. 2008. Dasar DasarKependidikan. Jakarta: RinekaCipta.
Keraf, Gorys. 1997. Komposisi: SebuahPengantar Kemahiran Bahasa. Ende-Flores:
Nusa
Indah.
Lickona, Thomas. 2012. Educating For Character:
MendidikuntukMembentukKarakter.
Jakarta: BumiAksara.
Mulyasa, E. 2011. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: PT BumiAksara.
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karaktrer: MenjawabTantanganKrisis
Multidimensional. Jakarta: PT BumiAksara.
Nababan, Sri Subakto. 1992. MetodologiPengajaran Bahasa. Jakarta: PT Gramedia.
Samani. Muchlas dan Hariyanto. 2011. ―Konsep dan Model” Pendidikan Karakter.
Bandung:
PT. RemajaRosdakarya.
Saryono, Djoko. 2010. Dasar Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Elmatera Publishing.

40

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI MELALUI
METODE SUGESTOPEDIA

Disusun Oleh : 20183411035
Kelompok 5 20183411079
20183411083
Fatihah Nida Ankhofiyan
Rafi Annur Jamal
Rizky Nurul Hidayati

PENDAHULUAN

Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) merupakan bagian
penting dalam kerangka pengembangan pendidikan nasional yang bertujuan untuk
menciptakan manusia yang memiliki kompetensi berbahasa yang optimal. Menulis
puisi merupakan salah satu kemampuan berbahasa Indonesia yang diajarkan di
Sekolah Dasar. Menulis puisi perlu ditanamkan kepada siswa di Sekolah Dasar untuk
membantu keterampilan berbahasa, mengasah imajinasi mengembangkan cipta rasa,
mencetak siswa menjadi siswa kreatif, tanggap terhadap masalah, menunjung
pembentukan watak, meningkatkan kepekaan emosi disekitarnya dan sejumlah
manfaat lainnya. Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang diungkapkan
dengan menggunakan bahasa yang padat, dan bermakna kias. Puisi juga merupakan
hasil ungkapan perasan seseorang atau penyair yang diungkapkan melalui kata-kata
atau bahasa yang sengaja dipilih penyair. Salah satu metode pembelajaran yang
inovatif dan menarik perhatian siswa yaitu metode Suggestopedia. Metode
Suggestopedia diciptakan oleh seorang psikiater Bulgaria, Dr. Georgi Lozanov.
Menurut Lozanov, “suggestology” adalah sebuah pengkondisian kegiatan belajar-
mengajar yang memungkinkan para siswa untuk belajar dengan kecepatan yang tinggi
dan upaya yang normal, serta dibarengi kegembiraan. ranah diajarkan kepada mereka.

41

Proses pembelajaran yang berlangsung dengan suasana yang menyenangkan,
tentunya akan menghasilkan sesuatu yang membanggakan. Apabila seorang guru
menyajikan dengan metode pembelajaran yang lain daripada biasanya, siswa yang
mengikuti pembelajaran tersebut akan menjadi antusias pada saat proses pembelajaran
berlangsung. Dengan demikian, kegiatan menulis bukanlah sesuatu yang harus
ditakuti oleh siswa khususnya pada pembelajaran menulis puisi. Metode yang
digunakan yaitu dengan menerapkan konsep sugestopedia. Melalui metode
sugestopedia siswa dapat berlatih menulis puisi dengan cara mengkondisikan siswa
dengan sugesti sehingga siswa dalam keadaan yang nyaman dan larut dalam keadaan
yang sesuai dengan disugestikan. Dalam keadaan ini, siswa mudah untuk menentukan
kata-kata dalam puisi.

Standar kompetensi yang harus dicapai siswa dalam menulis puisi yaitu
mampu mengungkapkan pikiran, perasaan dan fakta secara tertulis dalam bentuk
ringkasan, laporan dan puisi. Dalam materi menulis puisi siswa dituntut untuk
menciptakan puisi berdasarkan ide sendiri. Berdasarkan Asas Tut Wuri Handayani
mencantumkan bahwa sebagai guru hendaknya mampu menyalurkan dan
mengarahkan perilaku dan segala tindakan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan
yang dirancang. Dengan demikian, guru tidak boleh hanya sekedar mentransfer
informasi kepada siswa dalam proses pembelajaran tetapi guru harus mampu
melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dengan mengaktualisasikan
pengalaman belajar mereka sendiri. Guru menyajikan pembelajaran dengan cara
hanya menyuruh siswa menulis tetapi siswa tidak digiring betul-betul agar
menghasilkan puisi yang baik. Sehingga siswa merasa kurang kondusif dan tidak
menikmati proses pembelajaran yang berlangsung. Metode pembelajaran yang
menarik merupakan faktor penting dalam keberhasilan proses pembelajaran sehingga
siswa tidak merasa bosan dan siswa lebih jelas dalam menerima materi pembelajaran,
serta memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran yang lebih baik. Oleh
karena itu, pengoptimalisasian metode dalam pembelajaran menulis puisi yang
dilakukan oleh guru sangatlah diperlukan. Melalui metode sugestopedia siswa dapat
berlatih menulis dengan cara mengkondisikan siswa dengan sugesti berupa kata-kata
sehingga siswa dalam keadaan yang nyaman dan larut bdalam keadaan sesuai dengan
disugestikan. Dalam keadaan ini, siswa mudah menemukan kata-kata dalam puisi.

Pada penjelasan diatas penulis memilih judul tersebut dikarenakan pada proses
pembalajaran berlangsung mengenai materi menulis puisi banyak sisiwa bosen

42

dengan pembelajaran menulis puisi setiap siswa harus mencurahkan pemikiran dan
perasaan dari kata-kata yang dikeluarkan terkadang siswa merasa kurang menyukai
meteri tersebut dan merasa jenuh pada saat pembelajaran berlangsung maka dalam
menggunakan metode yang menarik siswa jadi merasa semangat dalam menulis puisi
dan menjadikan situasi pembalajaran tidak membosankan dengan mengambil salah
satu dari banyaknya metode maka penulis mengambil salah satu metode yaitu metode
sugestopedia agar menarik siswa belajar lebih kreatif dan inovatif. Berdasarkan uraian
diatas, mengambil judul tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam
menulis puisi dengan menggunakan metode sugestopedia agar siswa tertarik dalam
pembalajaran menulis puisi.

PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN

Metode Suggestopedia diciptakan oleh seorang psikiater Bulgaria, Dr. Georgi
Lozanov. Menurut Lozanov, “suggestology” adalah sebuah pengkondisian kegiatan

belajar-mengajar yang memungkinkan para siswa untuk belajar dengan kecepatan

yang tinggi dan upaya yang normal, serta dibarengi kegembiraan.

Prinsip-prinsip Suggestopedia adalah:(1) menghadirkan kegembiraan dan

rileksasi dalam belajar dengan menghilangkan ketegangan sampai ke seluruh kelas,

(2) menggunakan dua program otak, otak sadar dan bawah sadar secara simultan, dan

(3) mata rantai suggestive pada tingkat cadangan yang kompleks, meliputi arti-arti

psikologika(2) berdasarkan intuisi, mental professional, dalam segala waktu (Rahman,

2011).

Menurut Lozanov (1978) dalam Schiffler (2004) merancang tahap-tahap metode

Suggestopedia yaitu, sebagai berikut :

Tabel 1. Tahap-tahap metode suggestopedia

Tahap Suggestopedia Deskripsi

Guru harus membuat kesan, dinamika,

Tahap introductory dan kehangatan. Guru memperkenalkan
diri di depan siswa, begitu juga

sebaliknya.

Tahap active concert Siswa menyimak bacaan yang dibacakan

43

Tahap psuedopasif oleh guru. Guru membaca sesuai dengan
Tahap active irama musik, kadang terdengar lembut
Tahap games kadang terdengar keras dan cepat sesuai

dengan karakteristik musik klasik.
Guru membaca teks dialog yang sama
seperti sebelumnya kemudian siswa
memahami dengan mata tertutup dan
duduk di kursi dengan rileks sembari
memahami kata-kata dan penekanan-
penekanan pada tata bahasa dan kosa kata
yang dibacakan guru melalui alunan

musik klasik.
Guru mengarahkan untuk membuat
kelompok diskusi yang membahas
tentang sebuah tema dari kehidupan

sehari-hari.
Kesalahan-kesalahan yang berkaitan
dengan materi atau tata bahasa tidak
dibenarkan secara rumit dan detail tetapi
cukup dengan pendekatan yang lebih

menyenangkan.

Dari beberpa peneliti yang melakukan penelitian ini, peulis mengambil salah
satunya. Penelitian ini merupakan suatu penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian
yang dilaksanakan oleh Desi Ambarningsih dari Conservation University adalah PTK
Kolaboratif. Trianto (2011: 38) mengemukakan bahwa PTK Kolaboratif melibatkan
beberapa pihak, yaitu guru, kepala sekolah, dosen lptk, dan orang lain yang terlibat
dalam satu tim untuk melakukan penelitian. Sehingga dalam pelaksanaan ptk
kolaboratif dilakukan antara peneliti, guru, dan observer penelitian. Pelaksanaan
penelitian mulai tanggal 26 maret-5 april 2014 dengan subjek penelitian sebanyak 40
siswa, terdiri dari 24 siswa perempuan dan 16 siswa laki-laki. Penelitiandilakukan
dalam dua siklus dengan tahapan dimulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Pada setiap akhir siklus diadakan tes formatif, sehingga dalam penelitian

44

ini terdapat 2 tes formatif, yaitu tes formatif siklus I dan tes formatif siklus II. Adapun
bagan prosedur ptk menurut arikunto, dkk (2010), yaitu sebagai berikut:

Perencanaan

Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan
Pengamatan

Refleksi Perencanaan Pelaksanaan
SIKLUS II
Pengamatan

Bagan 1. Prosedur PTK
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan yang dilakukan oleh penulis

dan guru mitra adalah sebagai berikut: (1) merancang rencana pembelajaran sesuai
materi yaitu menulis puisi bebas dengan metode suggestopedia; (2) menyiapkan
materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disesuaikan dengan
kompetensi dasar dan indikator; (3) merancang media pembelajaran berupa musik,
gambar dan video sesuai dengan tema pembelajaran; (4) menyusun lembar kerja
siswa (LKS); (5) menyusun lembar pengamatan aktivitas siswa dan performansi guru;
dan (6) menyusun soal tes formatif.

Tindakan pelaksanaan guru mitra dibantu penulis dengan menerapkan metode
suggestopedia sebagai berikut: (1) melaksanakan kegiatan awal: mengkondisikan
siswa, berdoa, presensi kehadiran siswa; (2) menyampaikan tujuan pembelajaran,
motivasi dan orientasi pelajaran kepada siswa; (3) menyampaikan materi
pembelajaran menulis puisi bebas; (4) membagi siswa menjadi beberapa kelompok
untuk mengerjakan lks; (5) melakukan pengawasan dan mengevaluasi hasil kerja
kelompok; (6) melatih siswa menulis dan membacakan puisi; (7) memberikan umpan
balik; (8) penarikan kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari; dan (9)
mengerjakan tes formatif.

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengamatan difokuskan pada: (1)
perfomansi guru dalam proses pembelajaran, yaitu mencakup membuat perencanaan
pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran; (2) aktivitas siswa yaitu keterlibatan
siswa dalam melakukan

45

kegiatan pembelajaran; serta (3) hasil belajar siswa, yaitu mencakup nilai rata-rata
kelas ≥ 70 dan banyaknya siswa yang tuntas belajar minimal 75%.

Sumber data penelitian ini yaitu guru, siswa dan dokumen. Jenis data dalam
penelitian ini meliputi data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang
diperoleh dari hasil belajar siswa. Data kuantitatif ini berupa hasil belajar siswa pada
siklus i dan siklus ii. Data kualitatif adalah data yang diperoleh dari pengamatan pada
saat proses pembelajaran. Data kualitatif ini berupa hasil pengamatan terhadap
aktivitas siswa dan kinerja guru. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada
penelitian ini adalah teknik tes dan nontes.

Alat penilaian kompetensi guru (APKG) digunakan untuk mengamati dan
memperoleh data tentang performansi guru dalam pembelajaran. Rumus yang
digunakan untuk menilai kinerja guru adalah sebagai berikut:

Nilai akhir APKG I dan II sebagai berikut:
ℎ = (1× )+( )

3

Lembar observasi aktivitas belajar siswa digunakan untuk mengamati dan

memperoleh data tentang aktivitas siswa saat pembelajaran berlangsung. Rumus yang

digunakan untuk menilai aktivitas siswa adalah sebagai berikut:
Nks = ∑ ℎ ℎ × 100%

× ℎ

Tabel 2. Kualifikasi persentase aktivitas belajar siswa

Presentase Kriteria

75%-100% Sangat tinggi

50%-74,99% Tinggi

25%-49,99% Sedang

0%-24,99% Rendah

(yonny

dkk, 2010)

Hasil belajar siswa yang dianalisis meliputi nilai akhir, rata-rata kelas, dan presentase

tuntas belajar klasikal. Rumus yang digunakan untuk menilai hasil belajar siswa

adalah sebagai berikut:

1. Nilai Akhir Hasil Belajar

46


= × 100
Keterangan:

NA = Nilai Akhir

SP = Skor Perolehan

SM = Skor Maksimal

(BSNP, 2007)

2. Nilai Rata-rata Kelas


= ∑

Keterangan:
∑x = Jumlah nilai yang diperoleh siswa

∑n = Jumlah siswa

M = Rata-rata kelas

(Poerwanti, dkk, 2008)

3. Tuntas Belajar Klasikal




= ℎ × 100%

(Aqib, dkk. 2010)

Penerapan metode Suggestopedia dapat meningkatkan pembelajaran Bahasa

Indonesia materi menulis puisi bebas, jika: nilai akhir performansi guru minimal B
(≥71), nilai aktivitas belajar klasikal mencapai indikator keberhasilan jika nilai

aktivitas siswa pada siklus II lebih tinggi dari siklus I, kemudian hasil belajar siswa

sekurang-kurangnya memperoleh nilai rata-rata 70 dengan persentase ketuntasan

belajar klasikal minimial 75%.

Semua peneliti yang yang penulis baca hasil penelitiannya menggunakan cara

yang sama dalam proses atau metode penelitiannya. Maka dari itu penulis hanya

menuliskan salah satunya saja dalam proses atau metode penelitian ini.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data kuantitatif dan kualitatif, menunjukkan telah terjadi

peningkatan pada performansi guru, aktivitas belajar, dan hasil belajar siswa pada
pembelajaran menulis puisi bebas melalui penerapan metode suggestopedia.

47


Click to View FlipBook Version