The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Artikel ilmiah populer memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran bahasa dan sastra

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Iis Asipa, 2021-01-04 02:07:50

ARTIKEL ILMIAH POPULER

Artikel ilmiah populer memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran bahasa dan sastra

Keywords: Pembelajaran bahasa dan sastra SD/MI

Performansi guru pada siklus I mencapai 83,28 meningkat pada siklus II
menjadi 96,45, sehingga rata-rata nilai performansi guru meningkat sebesar 13,17.
Nilai akhir performansi guru telah mencapai indikator keberhasilan yaitu, 71.
Persentase aktivitas belajar siswa meningkat sebesar 19,63%, dari 55,37% pada siklus
I, menjadi 75% pada siklus II. Persentase keterlibatan siswa dalam kegiatan
pembelajaran melalui penerapan metode Suggestopedia tersebut, sudah mencapai
indikator keberhasilan yang ditetapkan, yaitu nilai aktivitas siswa siklus II lebih tinggi
dari siklus I. Persentase tuntas belajar klasikal meningkat sebesar 17,5%, dari 75%
pada siklus I, menjadi 92,5% pada siklus II. Selanjutnya, rata-rata nilai kelas
meningkat sebesar 4,81, dari 75,31 pada siklus I, menjadi 80,12 pada siklus II. Hasil
tersebut menunjukkan telah tercapainya indikator keberhasilan pelaksanaan tindakan
pembelajaran, karena rata-rata kelas telah memenuhi nilai KKM 70 dan tuntas belajar
klasikal 75%.
Gambaran visual mengenai nilai performansi guru, aktivitas belajar siswa,
peningkatan hasil belajar siswa, dan ketuntasan belajar klasikal dapat dilihat pada

bagan berikut ini:
Bagan 1. Peningkatan Pelaksanaan Pembelajaran.

48

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, penerapan metode Suggestopedia
dapat meningkatkan performansi guru, aktivitas belajar, dan hasil belajar siswa pada
pembelajaran Bahasa Indonesia materi menulis puisi

Penerapan metode Suggestopedia dapat meningkatkan pembelajaran Bahasa
Indonesia materi menulis puisi bebas, jika: nilai akhir performansi guru minimal B
(≥71), nilai aktivitas belajar klasikal mencapai indikator keberhasilan jika nilai
aktivitas siswa pada siklus II lebih tinggi dari siklus I, kemudian hasil belajar siswa
sekurang-kurangnya memperoleh nilai rata-rata 70 dengan persentase ketuntasan
belajar klasikal minimial 75%.

49

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2011. Pengantar Apresiasi karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Aqib, Zainal, dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB dan TK.

Bandung: Yrama Widya. Arikunto, Suharsimi. 2010.
Pedoman Penilaian Hasil Belajar di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas. Hamalik,
Oemar. 2009.
Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara. Mikarsa, HL. dkk. 2009.

Pendidikan Anak SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Munib, Achmad dkk. 2009.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Jogjakarta: Gadjah Mada

University Press.
Rifa’i, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang:

UNNES Press.
Rahman, Bohri. 2011. Metode Sugestopedia untuk Pembelajaran Bahasa.

http://bahasa-dan-sastraindonesi83a.blogspot.com/2011/09/metodesugestopedia-
untuk-pembelajaran.html.
Schiffler, Ludger. 2004. Suggestopedic Methods and Applications. Abongdon: Taylor
& Francis.
Sidiqq, M. Djauhar. 2008. Pengembahan Bahan Pembelajaran SD. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Trianto. 2011. Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas [Classroom Action
Reasearch]. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Yonny Acep, dkk. 2010. Menyusun Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Familia.

50

“MENINGKATKAN MINAT BACA SISWASD
MELALUI MEDIA GAMBAR”

Disusun Oleh :

Kelompok 6

➢ Anita Lestari (20183411014)
➢ Dwi Susanti (20183411013)
➢ Ira Khumairoh (20183411047)

PENDAHULUAN

Membaca adalah kegiatan paling produktif. Tidak hanya menambah wawasan,
membaca juga merawat kesadaran. Semakin sering membaca, kesadaran dan
kreativitas kita akan meningkat. Dengan membaca, kesadaran akan terus terawat.
Membaca adalah kebutuhan, bukan sekedar hobi. Dengan membaca kita bisa
mengenal banyak hal dan sadar dengan realita sosial. Saat ini, kita
dihadapkan dengan berbagai problematika yang membuat kita terkurung dalam
perkembangan zaman. Kebanyakan kaum milenial pada masa ini, lebih tergiur dalam
kecanggihan teknologi sehingga budaya-budaya membaca, menulis,
mengkajidanberdiskusi kian hari semakin redup. Melihat potret perkembangan di
masa ini, kaum milenial lebih mementingkan main game, tiktok dll tidak terkecuali
para pelajar yang bisa dibilang masih dalam tingkatan kelas bawah. Lantas apa yang
perlu kita lakukan demi meningkatkan kualitas dan produktivitas minat baca siswa
serta menjawab tantangan di era milenial ini ?

Bagi sebagian orang kegiatan membaca mungkin terdengar agak membosankan,
apalagi bagi siswa yang memang masih berada pada tingkatan kelas bawah, dalam hal
ini kita berbicara tentang siswa dalam satuan pendidikan sekolah dasar. Terlepas dari
itu semua sebenarnya masih banyak cara yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan
minat baca siswa misalnya dengan menggunakan media, salah satunya media gambar.
Media gambar adalah media yang berbasis visual atau mengandalkan indra

51

penglihatan, contohnya gambar hewan, tumbuhan, alam, kendaraan, berbagai tempat
dll. Gambar pada dasarnya membantu mendorong para siswa untuk membangkitkan
minat baca pada pelajaran apapun. Media gambar juga membantu mereka dalam
kemampuan berbahasa, kegiatan seni, ketika bercerita, serta membantu mereka
menafsirkan dan mengingat kembali isi materi atau bacaan dari berbagai buku.

Rendahnya minat baca pada siswa dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, salah
satunya adalah siswa belum menyadari bahwa kegiatan membaca itu adalah sebuah
kebutuhan. Mereka masih beranggapan bahwa membaca itu hanya sebuah kewajiban,
sebagian besar siswa mau membaca apabila ada perintah dari guru, orangtua, ataupun
jika akan ada ulangan. Sedikit sekali siswa yang memanfaatkan waktu luangnya untuk
kegiatan membaca. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwasanya salah satu cara
untu menarik minat baca siswa adalah dengan menggunakan media gambar. Dengan
menggunakan media gambar, siswa tidak akan merasa jenuh, justru siswa akan terus
mencari bacaan lainnya yang terdapat gambarnya, dengan demikian minat siswa akan
lebih terangsang dan akan membuat siswa lebih rajin dan lebih tertarik untuk
membaca buku apapun.

Pada satuan pendidikan sekolah dasar, yang menyebabkan rendahnya minat baca
pada siswa selama ini adalah kurang tepatnya metode yang diberikan guru pada saat
proses belajar. Terkadang pada saat mengajar, guru menggunakan metode yang
monoton, bahkan ada yang menganggap tidak menyenangkan sehingga ketika ada
perintah untuk membaca maka siswa akan merasa malas. Selain itu minimnya koleksi
buku di perpustakaan serta kondisi perpustakaan yang tidak memberikan iklim yang
kondusif bagi tumbuh kembangnya minat baca siswa juga menjadi faktor yang cukup
membawa pengaruh besar. Kesibukan orangtua yang padat juga menjadi salah satu
faktor penyebab rendahnya minat baca siswa. Orangtua seringkali tidak mempunyai
waktu yang luang untuk mengontrol perkembangan anaknya, sehingga anak merasa
bebas dan malas untuk membaca.

Solusi untuk semua permasalahan diatas adalah dengan membentuk kerjasama
yang baik antara sekolah, lingkungan, dan keluarga khususnya. Pihak sekolah
terutama guru haruslah mempunyai metode belajar yang baru dan unik yang dapat
menarik perhatian siswa, sehingga siswa dapat belajar terutama membaca dengan
senang hati tanpa adanya rasa malas. Sekolah juga harus bisa memfasilitasi siswa

52

dengan baik, ini bertujuan untuk menunjang bakat siswa agar lebih bisa
dikembangkan lagi. Dan untuk orangtua, sesibuk apapun pekerjaan kita diluar sana
kita haruslah mempunyai waktu khusus untuk mengurus, mengawasi, membimbing
serta mengajarkan anak kita terutama dalam hal belajar, karena peranan orangtua
adalah yang pertama kali akan mengubah sifat dan sikap siswa yang tadinya mungkin
malas membaca maka dengan adanya bimbingan dan perhatian dari orangtua akan
menjadi rajin membaca serta rajin dalam melakukan hal lainnya.

Alasan penulis memilih judul “Meningkatkan Minat Baca Siswa SD Melalui
Media Gambar” adalah karena merasa miris dengan kondisi siswa saat ini. Karena di
zaman modern seperti saat ini banyak sekali jenis hiburan (game) dan tayangan di TV
yang mengalihkan anak-anak dari buku. Selain itu sarana untuk memperoleh buku
bacaan yang menarik itu masih kurang, serta peranan guru dalam proses belajar
mengajar pun masih rendah sehingga anak menjadi rendah sekali keinginan untuk
membaca buku.

Tujuan penulisan artikel ini adalah agar dunia pendidikan di negeri tercinta ini
dapat berkembang dengan baik dan pesat, dan salah satu hal kecil yang dapat kita
lakukan adalah dengan terus membaca. Karena dengan terus membaca kita dapat
selalu menambah wawasan dan ilmu yang berguna bagi diri kita sendiri, oranglain,
serta bagi nusa dan bangsa.

ISI PEMBAHASAN

Membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk
menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan. Membaca juga
merupakan kegiatan memahami dan menginterpretasikan lambang/tanda/tulisan yang
bermakna sehingga pesan yang disampaikan penulis diterima oleh pembaca.
Membaca bukanlah suatu kegiatan pembelajaran yang mudah. Banyak faktor yang
dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam membaca. Membaca merupakan suatu
proses penyerapan sebuah tulisan atau bacaan secara kritis dan kreatif. Tujuan
membaca yaitu memperoleh pemahaman secara mendetail dan menyeluruh tentang
suatu bacaan, serta penilaian terhadap nilai suatu bacaan tersebut.

53

Minat baca adalah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk
membaca. Karena orang yang mempunyai minat baca yang kuat akan diwujudkannya
dalam kesediaannya untuk mendapatkan bahan bacaan kemudian membacanya atas
kesadarannya sendiri. Banyak siswa yang merasa enggan kalau hanya ditugaskan oleh
gurunya untuk membaca.Padahal, dengan membaca siswa tidak perlu banyak berpikir,
tidak memerlukan tenaga yang cukup besar seperti olahraga, ia cukup duduk di kelas
membuka buku lalu membacanya. Agar guru dapat mengembangkan minat baca
siswanya, guru harus menumbuhkan terlebih dahulu minat baca agar siswa yang
membaca buku ikhlas tanpa ada paksaan. Karena seorang siswa yang dipaksa untuk
membaca tidak akan ada pesan atau informasi dan bacaan yang dibacanya, dan jika
siswa itu ikhlas maka akan muncul dengan sendirinya minat baca siswa.

Sikap dan minat merupakan unsur kunci motivasi. Apabila guru telah menilai sikap
dan minat siswa, guru siap menggunakan informasi itu untuk membuat keputusan
pembelajaran yang dirancang untuk membantu memotivasi siswa agar mau membaca.
Oleh sebab itu, guru perlu memikirkan cara-cara yang lebih efektif dan efisien untuk
membantu siswa memahami dan menghargai cara belajar secara individu, potensi
belajar dan kemampuan menguasai keterampilan membaca. Guru hendaknya
memberikan kesempatan siswa mengalami suatu keberhasilan dengan memberikan
tugas yang lebih mudah atau tugas yang sesuai dengan kemampuan siswa, karena hal
tersebut dapat membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri, siswa butuh sikap
positif dan minat yang kuat. Di zaman sekarang yang sudah semakin canggih, tidak
lagi ada alasan untuk malas membuka buku. Membaca tidak lagi hanya dari
lembaran-lembaran kertas, tetapi sekarang sumber informasi lebih mudah didapat di
internet dan media elektronik lainnya. Namun pada kenyataannya, menumbuhkan
minat baca tidaklah semudah membalikkan telapak tangan apalagi untuk siswa SD.
Penyebab rendahnya minat membaca pada siswa tidak terjadi begitu saja, melainkan
disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. (Prasetyono, 2008)menyatakan bahwa faktor
yang mempengaruhi rendahnya minat membaca pada siswa adalah faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam siswa,
faktor internal penyebab rendahnya minat membaca siswa adalah sebagai berikut.

a) Kemampuan membaca, menurut(Shofaussamawati, 2014) kemampuan membaca
yang dimiliki oleh anak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
rendahnya minat membaca anak karena kemampuan membaca yang belum baik

54

dapat menghambat keberhasilan membaca. Hasil penelitian yang dilakukan Tim
Program of International Student Assesment (PISA) Badan Penelitian dan
Pengembangan Depdikan menunjukkan kemahiran membaca anak di Indonesia
sangat memprihatinkan sekitar 37,6 persen hanya bisa membaca tanpa menangkap
maknanya dan 24,8 persen hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu
informasi pengetahuan
b) Kebiasaan membaca, (Soeatimah, 2015) mengungkapkan bahwa siswa yang
mempunyai kebiasaan atau kegemaran membaca tentunya memiliki minat terhadap
buku atau bacaan. Intensitas atau jumlah waktu yang diperlukan siswa yang suka
membaca dengan yang tidak suka membaca tentu berbeda. Siswa yang gemar
membaca dalam satu hari akan meluangkan waktu untuk membaca lebih banyak
daripada anak yang tidak suka membaca. Ciri-ciri siswa yang gemar membaca
apabila ada waktu luang akan memanfaatkan waktu luangnya untuk membaca
buku atau bacaan

Faktor eksternal penyebab rendahnya minat membaca siswa merupakan faktor yang
berasal dari luar diri siswa, berikut ini penjelasan dari faktor eksternal penyebab
rendahnya minat membaca siswa :

a) Lingkungan sekolah, (Soeatimah, 2015)menyatakan bahwa sekolah memiliki peran
yang besar terhadap usaha menumbuhkan dan membina minat baca anak.
Bimbingan dari para pendidik di sekolah dapat mendorong siswa mempunyai
minat membaca. Misalnya, siswa akan lebih berminat membaca buku jika ia diberi
tugas oleh gurunya untuk membaca sebuah buku ataupun apabila sebuah sekolah
menetapkan peraturan kepada siswanya untuk wajib membaca buku setiap hari
maka siswa dari sekolah tersebut akan mempunyai minat baca yang lebih tinggi
dari siswa sekolah lain. Sebaliknya, lingkungan sekolah yang kurang mendukung
tumbuhnya minat membaca menyebabkan siswa tidak mempunyai kebiasaan
membaca dalam kehidupan sehari-hari

b) Guru, menurut(Prasetyono, 2008) beberapa guru kurang dapat membangkitkan
nalar serta kreativitas siswa. Guru dapat melakukan banyak dialog dengan
menggunakan sumber informasi yang ada, misalnya buku. Informasi/pengetahuan
yang diperoleh sendiri oleh siswa biasanya lebih melekat. Guru bisa meminta
kepada siswa untuk mempelajari suatu tema atau materi tertentu sendiri untuk
diujikan pada hari berikutnya. Materi yang diujikan tidak harus bersumber dari

55

satu buku pelajaran yang menjadi pegangan utama siswa, tetapi bisa diperoleh dari
berbagai sumber bacaan. Buku-buku pelajaran yang sebagian besar digunakan di
sekolah-sekolah umumnya dianggap sebagai buku suci dan wajib dimiliki tetapi
tidak wajib oleh siswa untuk dibaca
c) Keluarga, merupakan faktor utama yang mempengaruhi minat membaca pada
anak. (Wahyuni, 2010)mengungkapkan bahwa lingkungan keluarga dan sekitar
yang kurang mendukung kebiasaan membaca dapat menyebabkan rendahnya minat
membaca pada anak. Kesibukan orang tua dalam berbagai kegiatan berdampak
pada minimnya waktu luang bahkan hampir tidak ada waktu untuk melakukan
kegiatan membaca. Anak yang setiap harinya jarang melihat keluarganya
melakukan kegiatan membaca secara umum juga kurang memiliki kegemaran
membaca. Demikian juga lingkungan sekitar seperti masyarakat yang kurang
mendukung kebiasaan membaca juga akan mempengaruhi rendahnya minat
membaca siswa.
d) Televisi dan teknologi sangat besar pengaruhnya untuk orang dewasa maupun
anak-anak. Kebanyakan keluarga baik orang tua maupun anak-anak menghabiskan
waktu luangnya di depan televisi apakah itu untuk menonton film anak, sinetron
maupun liputan kriminal. Meskipun program televisi itu tidak salah, namun apabila
mengonsumsinya terlalu banyak dapat menyita waktu yang berharga yang
seharusnya bisa dialokasikan untuk hal-hal yang bermanfaat yaitu membaca
sebuah buku. Televisi berperan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat yang
mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak negatif televisi terutama pada
program-program yang dinilai tidak mendidik. Kebanyakan anak lebih menyukai
menonton TV daripada membaca. Ketika proses pembelajaran di tengah keluarga
sedang berlangsung, televisi mengambil bagian terbesar. Derasnya program TV di
negeri ini yang memiliki rating tinggi, membuat anak betah berlama-lama duduk di
depan TV. Kemajuan dibidang teknologi seperti handphone, komputer atau video
game, disatu sisi mendatangkan banyak manfaat tetapi disisi lain berdampak buruk
bagi perkembangan anak. Hal yang perlu diwaspadai adalah waktu untuk berlama-
lama bermain games atau bermain handphone karena hal ini akan menjauhkan
anak dari aktivitas membaca.

Minat baca anak menjadi salah satu yang harus disadarkan sedini mungkin, dengan
minat baca dapat mengembangkan imajinasi dan kosakata anak. Salah satu tantangan

56

orang tua adalah saat mulai mengajari sang anak untuk membaca, dengan adanya
pandemi virus Corona (Covid-19) anak tidak bertemu dengan guru di sekolah dan
orang tua yang berperan lebih untuk mendidik anak. Jika anak tidak diajarkan untuk
belajar membaca maka akan mengalami kesulitan di kemudian hari. Anak yang gemar
membaca maka akan membuat anak lebih banyak menambah perbendaharaan
kosakata dan memperlancar kemampuan berbicara dan menambah pengetahuan anak.
Berikut cara menumbuhkan minat baca anak :

a) Bacakan buku sejak anak lahir. Pada masa 0-2 tahun perkembangan otak manusia
sangat pesat dan resepti (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat),
bila anak dikenalkan dengan membaca sejak dini, maka kelak mereka akan
memiliki minat baca yang tinggi

b) Sediakan banyak buku bacaan
Di sekolah tentulah banyak buku bacaan yang disediakan, namun sebagai guru kita
mungkin dapat membuat semacam perpustakaan mini di kelas agar anak tidak
perlu repot-repot ke perpustakaan jika ingin membaca. Menyediakan bacaan untuk
anak bukan hanya dalam bentuk buku cerita saja bisa juga seperti buku komik,
majalah, koran atau berbagai buku bacaan yang relevan untuk anak. Begitupun
dirumah, agar tidak membuat anak bosan, coba buatlah perpustakaan mini di dalam
rumah untuk semakin menumbuhkan minat baca anak, dengan buku yang memiliki
gambar dan berwarna bisa membantu anak untuk lebih senang melihat dan belajar
membaca.

c) Membaca buku setiap hari
Sebelum memulai pembelajaran kita sebagai guru harus membiasakan membaca
buku pelejaran meskipun sedikit atau sebentar. Begitupun ketika dirumah, sebagai
orang tua bisa memulai untuk membacakan buku setiap harinya kepada anak, hal
tersebut sebagai reaksi anak untuk berimajinasi dengan cerita-cerita yang orang tua
bacakan. Buku yang kita pilih adalah buku yang memuat hal-hal dunia anak
maupun ilmu pengetahuan alam. Waktu yang dapat dipilih untuk membacakan
buku kepada anak saat setelah belajar atau sebelum anak tidur.

d) Luangkan waktu membaca
Cara yang ketiga ini lebih berlaku dirumah, karena orang tua menjadi salah satu
sosok yang akan dicontoh oleh anak, contoh kecil yang dapat ditiru oleh anak
adalah kebiasaan orang tua.Kita dapat membuat kebiasaan meluangkan waktu

57

untuk membaca menjadi sebuah kebiasaan yang baik untuk dicontoh oleh anak di
rumah.
e) Membeli buku
Untuk para orang tua yang mungkin tidak memiliki banyak waktu luang, cobalah
sekali-kali untuk mengajak anak membeli buku yang mereka inginkan, melihat dari
keinginan anak membeli buku maka kita dapat mengajarkan anak untuk
bertanggung jawab membaca buku yang telah mereka pilih. Kita juga bisa
mengajarkan untuk menyisihkan tabungan mereka dengan membeli buku.
f) Menceritakan hasil bacaan
Setelah siswa mulai membaca, guru bisa menambah intensitas komunikasi dengan
menceritakan hasil bacaannya. Hal tersebut bisa dimulai dari guru yang memulai
menceritakan kepada siswa begitupun sebaliknya. Hal ini dapat menjadi motivasi
siswa untuk menceritakan apa yang mereka baca setiap harinya.

Selain beberapa cara diatas yang dapat kita lakukan disetiap harinya untuk
menumbuhkan minat baca pada anak, ada pula media yang dapat kita gunakan agar
dapat lebih merangsang minat baca siswa yaitu dengan menggunakan media gambar
pada saat pembelajaran di sekolah maupun saat dirumah. Berikut beberapa jenis-jenis
gambar yang mudah kita dapatkan untuk meningkatkan minat baca siswa SD :

a) Realita yaitu benda-benda yang nyata digunakan sebagai bahan belajar, misal
contohnya : pemandangan dari alam dll

b) Model yaitu benda 3D atau tiga dimensi yang merupakan representasi dari benda
yang sebenarnya. Seperti contohnya: Rumah-rumahan, mobil-mobilan dan lain
sebagainya

c) Benda Grafis yaitu suatu gambar atau visual yang penampilannya tidak
diproyeksikan

d) Display yaitu bahan dari pameran ataupun display yang dipasang di tempat tertentu
e) Kartun adalah suatu media gambar yang unik untuk mengemukakan sebuah

gagasan atau ide
f) Komik adalah suatu media gambar yang unik selain kartun. Perbedaannya komik

mempunyai karakter yang memerankan cerita dalam urutan-urutan
g) Poster adalah media gambar dalam berbentuk ilustrasi yang disederhanakan, ini

dibuat dengan ukuran besar agar bisa dilihat dengan jelas, fungsinya menarik

58

perhatian dan kandungannya berupa memotivasi, bujukan, mengajak, dan lain
sebagainya
h) Gambar fotografi ialah media gambar yang dibuat dengan cara diambil gambarnya
dengan sebuah alat digital seperti kamera hp, kamera digital atau lain sebagainya
i) Grafik adalah media gambar yang berguna untuk penyajian data dalam bentuk
angka angka. Grafik memberikan informasi inti dari sebuah data
j) Diagram merupakan gambaran yang digunakan untuk menunjukkan atau
menerangkan suatu data yang disajikan
k) Bagan adalah kombinasi dari media foto dan grafis, dirancang untuk
menggambarkan suatu gagasan atau fakta pokok dengan cara yang teratur dan juga
logis. Fungsinya yaitu untuk menampilkan perbandingan, proses, jumlah relatif,
klasifikasi, perkembangan, dan organisasi

Melalui media gambar yang sudah disebutkan diatas kita dapat membuat siswa
menjadi lebih mau untuk membaca, berikut contoh langkah-langkah dalam penerapan
media gambar untuk meningkatkan minat baca siswa :

➢ Menyiapkan bahan bacaan bergambar yang sesuai dengan mata pelajaran
➢ Siswa ditugaskan mengamati gambar yang ditempel pada papan tulis
➢ Siswa ditugaskan menceritakan gambar yang diamati
➢ Menugasi siswa untuk membuka buku cetak
➢ Menugasi siswa membaca teks pada buku
➢ Memanggil perwakilan tiap-tiap siswa membaca teks di depan kelas
➢ Menugasi siswa mengerjakan LKS
➢ Memberikan pertanyaan yang berhubungan dengan gambar yang dilihat
➢ Siswa ditugaskan menceritakan maksud dan gambar yang ditampilkan
➢ Menyimpulkan bacaan yang telah dibaca dengan kata-kata sendiri

Minat baca siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia meningkat setelah peneliti
menerapkan penggunaan media gambar pada bahan bacaan. Di samping itu, siswa
juga lebih mudah memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh gurunya karena
adanya penggunaan media gambar pada saat proses belajar-mengajar berlangsung.
Selanjutnya, data kuantitatif di analisis dengan menggunakan analisis statistik untuk
mengukur kemampuan membaca dengan media gambar berdasarkan hasil tes
penelitian setiap siklus dengan menggunakan distribusi frekuensi dan persentase,

59

sedangkan data kualitatif dianalisis dengan menggunakan model alir yang
dikembangkan oleh Miles dan Huberman.

PENUTUP

Upaya meningkatkan minat baca anak menjadi tanggung jawab bersama, antara
pustakawan, guru, orang tua, dan masyarakat. Nanum demikian pustakawan dan guru
sesuai dengan beban tugas yang disandangnya, mempunyai tanggung jawab langsung
dalam meningkatkan minat baca. Dalam upaya meningkatkan minat baca, sebaiknya
anak-anak diberi stimulan agar minat baca itu muncul dari diri murid itu sendiri.
Upaya meningkatkan minat baca dengan memaksa siswa membaca buku sebanyak-
banyaknya tidak akan efektif. Demikian juga tidak etis memaksa anak untuk membeli
buku. Di lembaga pendidikan fasilitas yang baik diperlukan untuk meningkatkan
minat baca, baik fasilitas ruangan maupun kelengkapan koleksi di perpustakaan. Di
samping itu juga diperlukan adanya kerja sama yang baik antara pustakawan dengan
guru atau dengan dosen. Tempat perpustakaan yang terpencil di sudut sekolah
membuat anak-anak enggan berkunjung ke perpustakaan. Anak-anak perlu
keteladanan. Membaca juga berkaitan erat dengan menulis. Sekolah perlu
menyediakan fasilitas seperti majalah dinding dan majalah sekolah untuk para siswa.
Media itu mempunyai peran penting dalam mengekspresikan hasil minat baca melalui
kegiatan karya tulis, karena siswa yang suka menulis secara tidak langsung juga suka
membaca. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan buku yang sesuai
dengan kebutuhan pembaca.

Faktor pendukung minat membaca siswa adalah kemampuan anak, alat peraga,
buku-buku yang menarik, tempat atau suasana yang menyenangkan, serta adanya
dorongan atau motivasi dari lingkungan mengenai pentingnya membaca. Faktor
penghambat minat membaca siswa adalah guru kurang menguasai metode yang dapat
menumbuhkan minat membaca siswa, rasa malas yang dimiliki sebagian siswa, serta
kurangnya pemahaman siswa akan pentingnya membaca. Adapun upaya yang
dilakukan untuk menumbuhkan minat membaca siswa adalah menumbuhkan minat
membaca siswa ialah dengan cara membuat suasana yang kondusif dalam membaca,

60

buku bacaan yang menarik serta sesuai sama apa yang diinginkan oleh siswa, serta
peran orang tua dan guru pun sangat penting, karena tanpa adanya dorongan yang
baik dari orang tua dan guru maka minat membaca siswa pun akan kurang.

61

DAFTAR PUSTAKA

https://www.kompasiana.com/abdulazisalkatiri/5fd4fb5ad541df3f226e9502/merawat-
kesadaran-dengan-membaca-ebook-gratis-dan-legal#
https://books.google.co.id/books?id=TRBPDwAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=M
eningkatkan+minat+baca&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiL9O6Qke7tAhXBmeYKHf
n4Di0Q6AEwCXoECAkQAg#v=onepage&q=Meningkatkan%20minat%20baca&f=f
alse
http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/fiptp/article/view/3098
http://www.markijar.com/2018/08/pengertian-media-gambar-lengkap-
dengan.html?m=1
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.bpkp.go.id/pu
stakabpkp/index.php%3Fp%3Dtingkat%2520minat%2520baca&ved=2ahUKEwjz69
WxkO7tAhWc6XMBHagmC74QFjADegQIBhAB&usg=AOvVaw0KfKyKbyITIUV
GZj2MQ8N7
https://www.kompasiana.com/omank/59d9f938c112fe09b6161552/menumbuhkemba
ngkan-minat-baca-siswa
https://core.ac.uk/download/pdf/83146549.pdf
Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa, Volume 4, Nomor 1, April 2018
Jurnal DIDAKTIKA, Vol. 9, No. 1, Februari 2020

62

TANTANGAN MEWUJUDKAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN
SASTRADI SD DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
Di Susun Oleh :

Kelompok 7

• Eni Sumarni[20183411031]
• Muhammad Alfikar[20183411056]

1. Pendahuluan
Pembelajaranbahasa dan sastra Indonesia mempunyai peranan yang

penting didalam dunia pendidikan.Bahasa merupakan alat komunikasi sosial
yang berupa sistem simbol bunyi yang dihasilkan dari ucapan manusia.
Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berinteraksi
dengan manusia lainnya di masyarakat.1

Revolusi industri 4.0 atau revolusi industri keempat adalah suatu era yang
memandang teknologi informasi menjadi basis dalam kehidupan manusia.
Penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas akibat
perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang
punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin menyebabkan
segala hal menjadi tanpa batas (borderless). Era ini juga akan mendisrupsi
berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni, tanpa kecuali bidang pendidikan.

Guru bahasa dan sastra Indonesia diharapkan mampu memberikan kepada
siswa keterampilan yang dibutuhkan oleh Revolusi Industri keempat, yaitu
kemampuan teknis, kreativitas, dan pemecahan masalah yang inovatif. Jika
disadari bahwa Revolusi 4.0 bertalian dengan banyak variabel dan menuntut
renpon yang kompleks, maka tanggung jawab yang dipikul guru tidak ringan.
Tanggung jawab tersebut sepatutnyalah dipandang guru sebagai tantangan
yang harus ditunaikan.

Tantangan tersebut makin menarik manakala guru menyadari bahwa para
siswa abad ke-21 datang ke sekolah dengan pengalaman dan harapan yang

1Goris Keraf. Komposisi : Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa.(Jakata: Flores: Nusa Indah. 1997), 11

63

berbeda dengan para siswa di abad ke-20, tatkala guru-guru sekarang dahulu
masih menjadi siswa.

Pengguna digital yang pintar, multi-media, multi-tasking ini menavigasi
kehidupan sehari-hari yang sangat berbeda dengan siswa beberapa dekade
yang lalu. Mereka pun belajar dengan gaya dan cara yang berbeda. Untuk
itu, penumbuhkembangan minat dan motivasi belajar serta bentuk fasilitasi
belajar bagi mereka pun tentu berbeda. Pendekatan dan pola interaksi yang
dipraktikkan guru pun berbeda. Para siswa lebih membutuhkan guru yang
terbuka, adaptif, dan akomodatif terhadap berbagai kebutuhan siswa, baik
untuk penyediaan materi ajar, penggunaan model pembelajaran dan teknik
penilaian, dan penciptaaanatmosfir belajar yang menantang.

Alasan kami mengangkat judul ini adalah karena kami semakin sadar terkait
kecanggihan teknologi di era-era berikutnya yang dimana guru harus di
tuntut serba bisa, sehingga memberikan pelajaran yang sangat berguna untuk
kami sebagai calon guru.

Persoalan pokok yang hendak dikaji dalam artikel ini adalah tantangan guru
dalam mewujudkan pembelajaran bahasa dan sastra di SDdi era revolusi
industri 4.0. Tantangan tersebut akan dapat dijawab dengan baik manakala
guru memiliki pemahaman tentang karakteristik siswa di era industri 4.0.
Spektrum tantangan yang dihadapi guru bahasa dan sastra Indonesia sangat
luas. Uraian dalam artikel ini lebih dibatasi pada tantangan guru dalam
mengembangkan bahan ajar.

2. Pembahasan

A. Peserta Didik Abad ke-21 dan Pola Pikir Guru
Peserta didik atau siswa pada era digital memiliki karakteristik

yang sangat berbeda dengan era saat pendidik atau guru hidup di
zamannya. Prensky menyatakan bahwa generasi yang lahir pada era
digital ini adalah digital native, yang artinya, sejak lahir mereka telah
dilingkupi oleh berbagai macam peralatan digital seperti komputer, video
game, digital music player, kamera video, telpon seluler serta berbagai
macam perangkat khas era digital (Prensky, 2001). Kondisi ini

64

berpengaruh besar pada psikologi siswa dan anak-anak muda bangsa ini.
Secara psikologis, mereka berada pada perkembangan peta kognitifnya,
perkembangan beragamnya kebutuhan, perubahan pada kebiasaan, adat
istiadat, budaya dan tata nilainya. Seiring dengan perkembangan zaman,
secara tidak langsung terjadi pergeseran nilai dan makna dalam cara
memandang suatu permasalahan (Suwandi, 2018).

Komputer dan internet dapat dijadikan sarana yang efektif bagi siswa
untuk belajar, menambah pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan
berbahasa. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri adanya kenyataan
bahwa para siswa dan generasi muda banyak membelanjakan waktu
mereka untuk sekadar “ngobrol” melalui berbagai media sosial (medsos)
yang ada, seperti facebook, whatsApp, twitter, instagram, dan path.
Berdasarkan penelusuran terbatas pengguna medsos di kalangan siswa,
masih banyak di antara mereka yang belum memanfaatkan media tersebut
untuk menambah atau memperkaya ilmu pengetahuan. Aktivitas membaca
mereka belum terarah pada bacaan-bacaan yang bermutu. Aktivitas
menulis mereka pun masih lebih banyak untuk keperluan chatting dan
menulis caption (Suwandi, 2015a, 2017a). Oleh karena itu wajar jika
keterampilan berbicara dan menulis mereka juga belum baik.

Menyadari akan kebutuhan siswa tersebut, pengembangan kurikulum pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan telah mengacu pada tiga konsep pendidikan
abad ke-21, yaitu keterampilan abad ke-21 (21st centuryskills), pendekatan
saintifik (scientificapproach), dan penilaian autentik (authenticassesment).
Implikasi penting bagi guru dan sekolah adalah bahwa pembelajaran harus
merujuk pada empat karakter belajar abad 21, yaitu berpikir kriris dan
pemecahan masalah, kreatif dan inovasi, kolaborasi, dan komunikasi atau
yang dikenal dengan 4C (criticalthinking dan problem solving,
creativeandinnovation, collaboration, andcommunication).

Secara umum, terdapat 18 kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat
melaksanakan aktivitas pekerjaan di era revolusi industri 4.0.
Kemampuan-kemampuan itu adalah (1) persepsi sensorik, (2) mengambil

65

informasi, (3) kemampuan mengenali pola-pola atau kategori-kategori, (4)
membangkitkan pola/kategori baru, (5) memecahkan masalah, (6)
memaksimalkan dan merencanakan, (7) mencipta (kreativitas), (8)
mengartikulasikan atau menampilkan output, (9) berkoordinasi dengan
berbagai pihak, (10) menggunakan bahasa untuk mengungkapkan gagasan,
(11) menggunakan bahasa untuk memahami gagasan, (12) mengindera
sosial dan emosional, (13) membuat pertimbangan sosial dan emosional,
(14) menghasilkan output emosional dan sosial, (15) motorik
halus/ketangkasan, (16) motorik kasar, (17) navigasi, dan (18)
mobilitas (Yamnoon, 2018).

Sejalan dengan itu, pola pikir dan perilaku guru hendaknya bersesuaian
dengan pola pikir yang dikembangkan oleh Kurikulum 2013
(Permendikbud No. 68 Tahun 2013). Tuntutan pembelajaran berpusat pada
siswa merupakan sebuah keniscayaan. Siswa harus memiliki pilihan-
pilihan terhadap materi yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang
sama. Pembelajaran bersifat interaktif, yakni terjadi interaksi gurupeserta
didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media lainnya. Pembelajaran
terisolasi harus diubah menjadi pembelajaran secara jejaring (peserta didik
dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat
dihubungi serta diperoleh melalui internet).Pembelajaran aktif-mencari
perlu secara terus-menerus diperkuat melalui penerapan pendekatan
saintifik.

B. Tantangan Guru pada Era Digital

Perubahan besar yang terjadi dalam cara menyimpan dan mengakses
informasi dengan komputer dan teknologi digital akan mengubah banyak
aspek pendidikan dan pembelajaran Hal demikian akan menyebabkan para
pendidik meredefinisikan berbagai aspek pembelajaran dan tugas-tugas
yang mereka berikan kepada siswa. Demikian pula ruang fisik yang
disebut sekolah dan kelas akan terus berubah pada masa mendatang.
Organisasi dan akuntabilitas pembelajaran juga mengalami perubahan.
Namun demikian, jika kita merujuk pada sejarah, perubahan itu akan
terjadi secara perlahanlahan. Ditegaskan oleh Arend (2008) bahwa sekolah

66

kemungkinan besar akan terus berbasis-masyarakat, dan guru akan terus
melaksanakan tugas pembelajaran kepada kelompok-kelompok anak di
ruang-ruang kelas.

Tantangan yang dihadapi guru pada era komputer dan teknologi digital
makin kompleks. Arends (2008) berpandangan bahwa tantangan mengajar
bagi guru abad ke21 mencakupi (1) mengajar dalam
masyaratmultikultural, (2) mengajar untuk mengonstruksi makna, (3)
mengajar untuk pembelajaran aktif, (4) mengajar dan akuntabilitas, (5)
mengajar dan pilihan, (6) mengajar dengan pandangan baru tentang
kemampuan, dan (8) mengajar dan teknologi.

Mendidik dan mengajar anak-anak dengan latar belakang bahasa dan
budaya yang beragam dan dengan kebutuhan khusus menuntut guru untuk
memiliki repertoar strategi adan metode efektif yang jauh melampaui apa
yang sebelumnya dituntut dari guru. Guru harus mampu mendeferensiasi
kurikulum dan pengajarannya agar lebih sesuai dengan mereka yang
mungkin merasa bahwa sekolah amat menyulitkan dan tidak relevan
dengan kehidupannya.

Era digital menuntut guru untuk bermetamorfosis dari guru yang biasa
menjadi guru yang luar biasa. Guru yang bukan saja melek teknologi,
memiliki pengetahuan luas dan kecakapan/keterampilan tinggi di bidang
yang diajarkan, memiliki kemampuan memiih dan menggunakan metode
atau strategi pembelajaran; tapi guru—yang menurut Suwandi (2013)—
mampu memerankan diri sebagai model serta menginspirasi para peserta
didik.

Guru hendaknya berupaya secara terus-menerus meningkatkan
kemampuannya untuk menjadi guru hebat yang mampu menginspirasi
siswa agar mereka terlibat secara aktif, kooperatif, dan bertanggung jawab
dalam pembelajaran. Harmin dan Toth (2012) menyarankan lima potensi
siswa yang dapat dirahkan guru, yaitu dignity (martabat), energy (energi),
selfmanagement (manajemen diri), community (komunitas), dan
awareness (kepedulian) yang disingkat DESCA. Semua siswa dilahirkan
dengan kemampuan untuk hidup dengan martabat, untuk melakukan

67

semua tugasnya dengan berenergi, melakukan manajemen diri dengan
semestinya, bekerja dengan komunitas orang lain, dan untuk peduli
terhadap segala hal yang terjadi di sekitar mereka.

C. Tantangan Pemilihan dan Pengembangan Bahan Ajar

Guru memiliki peran yang sangat strategis sebab keberadaannya sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru merupakan pribadi yang
harus mampu menerjemahkan dan menjabarkan nilai-nilai yang terdapat
dalam kurikulum dan mentransformasikan nilai-nilai tersebut kepada
peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidik berperan sangat
penting dalam mengarahkan dan memfasilitasi pembelajaran agar peserta
didik mampu mencapai tujuan sebagaimana digariskan dalam kurikulum
serta mampu memenuhi kebutuhan pengembangan dirinya.

Dalam praktik pembelajaran bahasa, pada umumnya orang
mengasosiasikan istilah bahan ajar bahasa (language–learningmaterials)
dengan buku ajar karena itulah pengalaman utama mereka menggunakan
bahan (Suwandi, 2017b). Tomlinson menggunakannya untuk merujuk
pada sesuatu yang digunakan oleh guru atau peserta didik untuk
memudahkan pembelajaran bahasa. Bahan ajar dengan demikian dapat
berupa video, DVD, email, YouTube, kamus, buku tata bahasa, buku kerja
atau latihan yang difotokopi. Bahan ajar juga dapat pula berupa surat
kabar, paket makanan, foto, pembicaraan langsung dengan mengundang
penutur asli, instruksi yang diberikan oleh seorang guru, tugas yang tertulis
pada kartu atau diskusi di antara peserta didik (Tomlinson, 2011). Bahan
ajar adalah sesuatu yang yang sengaja digunakan untuk meningkatkan
pengetahuan dan/atau pengalaman berbahasa dan bersastra peserta didik.

Buku pelajaran memiliki peran ganda dalam pembelajaran bahasa dan
dapat berfungsi sebagai (1) sumber untuk bahan presentasi lisan atau
tertulis; (2) sumber aktivitas bagi praktik dan interaksi komunikatif siswa;
(3) sumber referensi untuk siswa mengenai aspek kebahasaan (tata bahasa,
kosa kata, pengucapan, dll,.); (4) sumber rangsangan dan ide bagi aktivitas
bahasa kelas; (5) silabus (dalam buku terdapat tujuan belajar yang telah
ditentukan).

68

Sebuah buku ajar yang baik tentu harus ditulis dengan bahasa yang baku,
sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami oleh pembelajar. Sebaiknya
digunakan notasi-notasi dan istilah-istilah yang lazim dan banyak
digunakan di lingkungan sekolah. Dalam hal ini perlu ditambahkan bahwa
untuk lebih memudahkan memahami substansi perlu dilengkapi dengan
ilustrasi atau gambar-gambar. Hal ini senada dengan pendapat Gabrielatos
(2004) bahwa buku pelajaran tidak dapat digunakan bila tidak memiliki
gambar atau ilustrasi.

Selain kemampuan memilih, guru juga dituntut memiliki kemampuan
mengembangkan bahan ajar. Menurut Tomlinson (2011), pengembangan
bahan ajar dapat pandang sebagai bidang kajian atau usaha praktis.
Sebagai bidang kajian, pengembangan bahan ajar mempelajari prinsip dan
prosedur perancangan, implementasi, dan evaluasi bahan ajar bahasa.
Sebagai usaha praktis, hal itu mengacu pada upaya yang dilakukan oleh
penulis, guru, atau peserta didik untuk menyediakan sumber masukan
bahasa untuk mengeksploitasi sumber-sumber tersebut dengan cara
memaksimalkan kemungkinan asupan dan merangsang luaran yang
diharapkan. Dengan perkataan lain, penyediaan informasi dan/atau
pengalaman bahasa dirancang untuk mempromosikan pembelajaran
bahasa. Idealnya, dua aspek pengembangan bahan ajar bersifat interaktif
sehingga kajian teoretis terinformasikan dalam pengembangan dan
penggunaan bahan ajar.

Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan guru dalam pengembangan
bahan ajar. Selain faktor pengembangan kemampuan berbahasa dan
apresiasi sastra, ada sejumlah faktor lain yang perlu dipertimbangkan,
seperti pendidikan berwawasanmultikultural dan pendidikan yang berbasis
kecerdasan ekologis.

D. Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berwawasan Pendidikan Multikultural

Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dalam suasana multikultural
menuntut guru memiliki pemahaman lintas budaya. Guru perlu memiliki
wawasan yang cukup tentang bagaimana seharusnya menghargai
keragaman bahasa agar segala sikap dan tingkah lakunya menunjukkan

69

sikap egaliter dan selalu menghargai perbedaan bahasa yang ada. Dengan
wawasan tentang keberagaman bahasa (dan tentu budaya) guru akan
memilki kepekaan yang tinggi terhadap masalah-masalah yang
menyangkut adanya diskriminasi bahasa yang terjadi di dalam kelas
maupun di luar kelas.

Pendidikan multikultural sebagai sebuah proses reformasi sekolah yang
komprehensif dan pendidikan untuk semua dicirikan oleh tujuh sifat dasar,
yaitu pendidikan anti rasis, pendidikan dasar, pendidikan untuk semua
siswa, pendidikan yang merembes melalui kurikulum, pendidikan untuk
keadilan sosial, pendidikan sebagai sebuah proses, dan pedagogi kritis.
Nieto menandaskan bahwa semua anak memerlukan pendidikan
multikultural agar mereka siap berpartisipasi dalam dunia yang beragam
tempat mereka menjadi warga negara (Nieto, 2002).

Sangatlah masuk akal bahwa pembelajaran bahasa Indonesia perlu
berwawasan multikultur karena bahasa dan kebudayaan memiliki saling
hubungan yang erat. Bahasa, menurut Kramsch (1998), merupakan simbol
realitas budaya. Bahasa merupakan suatu sistem tanda yang dapat dilihat
sebagai pemilikan sebuah nilai budaya. Pengguna bahasa mengenali
dirinya dan orang lain melalui bahasa yang digunakannya. Mereka
berpandangan bahwa bahasa mereka sebagai simbol identitas masyarakat.
Larangan atau pembatasan penggunaan bahasa oleh komunitas sering
dipahami penutur sebagai penolakan terhadap kelompok sosial dan budaya
mereka.

Terselenggaranya pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berwawasan
pendidikan multikultural membutuhkan bahan ajar yang sesuai. Berbeda
tuntutan tersebut, berdasarkan hasil penelitian Suwandi, Rohmadi, dan
Jubagyo (2013) yang mengkaji buku pelajaran bahasa Indonesia untuk SD,
baik buku yang digunaan untuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
maupun Kurikulum 2103, ditemukan bahwa buku-buku tersedia belum
mengakomodasi secara memadai nilai-nilai pendidikan multikultural.
Oleh karena itu, pengembangan bahan ajar berwawasan pendidikan
multikultural perlu dilakukan guru. Nilai pendidikan multikultural dapat

70

diintegrasikan wacana atau teks, latihan, tugas, maupun soal yang harus
dikerjakan siswa.

E. Bahan Ajar Bahasa Indonesia Bermuatan Kecerdasan Ekologis

Salah satu faktor penting pengembangan Kurikulum 2013 adalah
tantangan eksternal, yang antara lain terkait dengan arus globalisasi dan
berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan
teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan
perkembangan pendidikan di tingkat internasional (PermendikbudNo 68
Tahun 2013). Untuk itu, guru harus pula memperhatikan dan
mengakomodasi berbagai tuntutan yang bersifat lebih makro serta berbagai
kebutuhan peserta didik, baik pada skala lokal, nasional, maupun global.

Buku—sebagai faktor penting dalam pembelajaran— dapat menjadi
wahana memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif kepada
anak tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Melalui
buku pelajaran yang berbasis pada nilai-nilai cinta terhadap alam dan
lingkungan anak diarahkan dan dibimbing untuk memiliki kecerdasan
ekologis (ecologicalintelligence), yakni menjadikan anak mampu
menempatkan dirinya sebagai kontrol terhadap lingkungannya (Suwandi,
Yunus, Rahmawati, 2016). .

3. Penutup

Penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas di era Revolusi
Industri 4.0 akibat perkembangan internet dan teknologi digital menyebabkan
segala hal menjadi tanpa batas. Era ini diyakini akan mendisrupsi banyak
bidang, tanpa kecuali bidang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.
Akibatnya, banyak tantangan yang muncul dalam pembelajaran. Guru dituntut
mampu memberikan kepada siswa keterampilan yang dibutuhkan oleh
Revolusi Industri. Pembelajaran harus merujuk pada empat karakter belajar
abad 21, yaitu berpikir kriris dan pemecahan masalah, kreatif dan inovasi,
kolaborasi, dan komunikasi. Untuk itu, dibutuhkan sosok guru yang terbuka
serta adaptif dan akomodatif terhadap berbagai kebutuhan siswa, baik dari segi
penyediaan materi ajar, penggunaan model pembelajaran, penggunaan teknik

71

penilaian, dan penciptaaanatmosfir belajar yang menantang. Guru harus
memiliki kemampuan mengembangkan bahan ajar yang bukan saja
berorientasi pada pengembangan kompetensi berbahasa Indonesia dan
apresiasi sastra, tapi juga mengakomodasi berbagai tuntutan yang bersifat
lebih makro serta berbagai kebutuhan peserta didik, seperti pendidikan
multikultural dan pendidikan ekologi. Pola pembelajaran campuran
merupakan suatu alternatif yang bisa dipilih untuk memanfaatkan
perkembangan teknologi dan informasi. Penilaian autentik yang menekan
proses dan hasil pembelajaran harus diterapkan. Sebagai pendidik para dapat
mewujudkan tantangan tersebut.

72

DAFTAR PUSTAKA
Suwandi, S. (2018). Peran guru dalam mengimplementasikan pembelajaran bahasa

Indonesia. Makalah dipresentasikan pada Seminar Nasional Bahasa, Sastra,
dan Pengajarannya yang diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali.
Prensky, M. 2001. Digital natives, digital immigrants. On the Horizon, 9(5): 1—6.
http://kbi.kemdikbud.go.id(di akses pada 27 Desember 2020)
http://andrigely17.blogspot.com/2015/10/makalah-sastra-indonesia.html?m=1(diakses
pada 28 Desember 2020)
https://www.kompasiana.com/bonardositorus/5de360f2d541df5d6d676e54/penggunaa
n-bahasa-indonesia-di-era-milenial(di akses pada 28 Desember 2020)

73

PENGARUH STRATEGI COMMUNICATIVE APPROACH
(PENDEKATAN KOMUNIKATIF) TERHADAP
KETERAMPILAN BERBICARA SISWA

Kelompok 8

Alfiyah Krisno 20183411006

Dike Amelia 20183411025

Ghina Adelia Rizqia 20183411037

PENDAHULUAN

Strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus
dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif
dan efisien. Oleh karena itu, penting bagi seorang pendidik untuk memilih strategi
pembelajaran yang tepat guna mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Strategi
communicative approach merupakan strategi yang dipakai dalam konteks CLT
atau Communicative Language Teaching (Pembelajaran Bahasa Komunikatif).
Pendekatan ini diantaranya adalah berupa jenis-jenis aktifitas kelas yang
mengarahkan siswa pada pengunaan Bahasa.

Berbicara pada hakikatnya adalah pemindahan pesan dari suatu sumber ke
tempat lain. Bahasa lisan adalah alat komunikasi berupa simbol yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia. Selanjutnya simbol yang diterima komunikan diubah
menjadi umpan balik dimana komunikan memahami pesan yang disampaikan
komunikator. Keterampilan berbicara sendiri merupakan suatu seni berbicara yang
dimiliki seseorang. Keterampilan berbicara adalah salah satu keterampilan Bahasa
selain mendengar, membaca, menulis dan menyimak. Keterampilan berbicara juga
menjadi penunjang untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah dasar. Terdapat
faktor penunjang juga penghambat dalam kegiatan berbicara yang dialami oleh
peserta didik.

Di lapangan tidak sedikit siswa yang mengalami kendala dalam meningkatkan
keterampilan berbicara. Oleh karena itu, memilih strategi yan tempat untuk
meningkatkan keterampilan berbicara di sekolah dasar dapat membantu mencapai

74

tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Melalui strategi pendekatan
komunikatif yang merupakan konteks dalam pembelajaran Bahasa yang
komunikatif ini dapat membantu meningkatkan keterampilan tersebut.

Melihat masalah atau kendala yang terjadi dilapangan membuat penulis
memilih judul Pengaruh Strategi Communicative Approach (Pendekatan
Komunikatif) Terhadap Keterampilan Berbicara Siswadi sekolah dasar agar dapat
memberi pencerahan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar.

PEMBAHASAN

A. Strategi Communicative Approach
Mengutip dari Richards dan Rogers (1985, pp. 17-18)keduanya memberikan

formulasi yang hampir sama yaitu pendekatan (approach) meliputi hakekat bahasa
dan belajar bahasa yang berfungsi sebagai referensi dan meletakkan dasar-dasar
teori mengenai apa yang harus diakukan guru di dalam kelas. Setiap metode
pengajaran bahasa beroperasi secara eksplisit dari teori bahasa dan teori bagaimana
bahasa diperlajari. Desain berhubungan langsung dengan pendekatan yang
memberikan landasan bagi seleksi tehnik dan kegiatan mengajar. Sementara itu
Richards menambahkan satu aspek lagi yaitu prosedur yang berisi tehnik dan
praktek dikelas yang serasi dengan desain tertentu.

Pendekatan komunikatif adalah pendekatan yang berpusat pada peserta didik.
Pendekatan ini memberi siswa tidak hanya kompetensi tata bahasa tetapi juga
keterampilan sosial tentang apa yang harus dikatakan. Bagaimana mengatakan,
kapan mengatakan dan dimana, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai
tujuan yang lebih besar. Dalam pendekatan ini, selain kefasihan, keakuratan dan
kesesuaian sama pentingnya. Dengan demikian penggunaan bahasa yang efektif
perlu menghasilkan tata bahasa yang baik.

Pendekatan komunikatif didasarkan pada gagasan bahwa tujuan pembelajaran
bahasa kedua adalah untuk mendapatkan kompetensi komunikatif. Dalam
pendekatan ini pembelajar harus memiliki pengetahuan tentang aturan penggunaan
bahasa untuk menghasilkan bahasa secara tepat untuk situasi tertentu. Dia juga
harus memiliki pengetahuan tentang penggunaan teknik untuk berkomunikasi
secara efektif.

Guru di dalam strategi communicative approach bertindak sebagai motivator,
fasilitator, konselor dan mediator dalam aktivitas pembelajaran peserta didik.

75

Pendidik menstimulasi dan memotivasi peserta didik untuk mengetahui potensi
mereka, sehingga dapat mengembangkan kreativitas mereka. Sementara itu,
peserta didik bertindak sebagai pemberi dan penerima tidak hanya sebagai
pendengar. Interaksi pembelajaran ini, peserta didik memainkan peran sebagai
pusat pembelajaran dan aktivitas pembelajaran(Patiung, 2015).

Finochiaro dan Brumfit (1983, p. 91)memberikan ciri-ciri pendekatan
komunikatif yaitu sebagai berikut:
1. Makna merupakan hal yang utama
2. Dialog bila digunakan berpusat pada fungsi komunikatif dan bukan

Merupakan memorisasi
3. Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi
4. Komunikasi yang efektif sangat diharapkan
5. Setiap sarana yang akan membantu pelajar diperbolehkan bervariasi

tergantung pada usia, minat dan lain-lain
6. Guru menolong siswa dengan cara apapun yang memotivasi mereka untuk

bekerja dengan bahasa tersebut.
7. Bahasa tercipta oleh pribadi sering melalui trial and error.
8. Siswa diharapkan berinteraksi dengan orang lain baik berpasangan maupun

dalam kelompok kerja, secara lisan atau tulisan.
9. Motivasi instrinsik akan muncul dari minat mengenai apa yang akan

dikomunikasikan siswa melalui bahasa.

Kemampuan komunikatif merupakan suatu kemampuan yang diperoleh
melalui serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk membuat siswa
memperaktekkan kegiatan-kegiatan komunikasi. Siswa yang telah memiliki
sejumlah kosa kata dasar yang dibutuhkan dalan suatu percakapan dapat diajak
untuk mempraktekkan kegiatan-kegiatan komunikasi. Struktur bahasa dipelajari
secara internalisasi yaitu secara tidak sadar dimasukkan saat mereka
memperaktekkan kegiatan-kegiatan komunikatif.
B. Keterampilan Berbicara di Sekolah Dasar

Bahasa mewakili yang terpenting dari semua komponen dalam kehidupan
manusia. Manusia tidak akan mampu melanjutkan dan memperpanjang hidup
mereka lebih baik dan teratur tanpa adanya bahasa. Mempelajari bahasa yang akan
digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan kebutuhan pokok manusia,

76

karena dengan bahasa manusia akan bisa berpikir lebih baik. Bahasa dapat
menghubungkan makna atau ide yang diajukan, bahasa dapat diwujudkan dalam
bentuk lisan dan atau artikel. Bahasa adalah alat komunikasi untuk mengirimkan
informasi, siswa belajar untuk berkomunikasi dengan yang lain melalui berbagai
cara, salah satunya adalah berbicara.

Berbicara atau kegiatan komunikasi lisan merupakan kegiatan individu dalam
usaha menyampaikan pesan secara lisan kepada sekelompok orang, yang disebut
juga audience atau majelis. Supaya tujuan pembicaraan atau pesan dapat sampai
kepada audience dengan baik, perlu diperhatikan beberapa faktor yang dapat
menunjang keefektifan berbicara. Kegiatan berbicara juga memerlukan hal-hal di
luar kemampuan berbahasa dan ilmu pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan
a) penguasaan bahasa, b) bahasa, c) keberanian dan ketenangan, d) kesanggupan
menyampaikan ide dengan lancar dan teratur.

Untuk siswa Sekolah Dasar, keterampilan berbicara merupakan salah satu
kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa, karena keterampilan berbicara telah
dimiliki oleh setiap orang yang sangat membutuhkan dalam komunikasi, baik
untuk satu cara dalam karakter maupun timbal balik atau keduanya. Dengan
keterampilan berbicara yang dimiliki maka siswa dapat menyampaikan pesan
sehingga siswa dapat berkomunikasi dengan semua orang, juga dengan guru,
dengan teman sebaya dan masyarakat pada umumnya. Selanjutnya berbicara untuk
merepresentasikan keterampilan penyampaian pesan melalui bahasa lisan.
Berbicara adalah salah satu keterampilan yang sangat penting yang dimiliki dan
dikuasai oleh siswa. Namun kenyataan di lapangan masih mengalami pengalaman
berbicara. Kendala di antara siswa adalah belajar untuk mengeluarkan pendapat
dan aktivitas wawancara.

Deskripsi kemampuan berbicara siswa di SD saat ini adalah siswa menemukan
kesulitan untuk berbicara atau gugup, kalimat cenderung pendek dan terbata-bata,
siswa kurang berani atau takut dan juga tidak dapat berbicara dengan baik. Pada
saat wawancara misalnya: siswa belum dapat menggunakan struktur kalimat
dengan benar, mantra dan intonasi yang masih kurang tepat dan ekspresi isi yang
tidak tepat isi atau pesan yang dikirimkan. Deskripsi kemampuan keterampilan
berbicara siswa di SD terjadi karena guru mendapat fokus untuk melakukan
kompetensi kegiatan belajar yang harus dicapai sehingga mengabaikan
kemampuan atau dominasi berbicara dalam proses belajar siswa. Disamping itu,

77

guru sering dibebani menggunakan media, sehingga sering guru memberikan
instruksi kepada siswa untuk melakukan kegiatan berbicara hanya memberikan
nilai dan barang jadi tanpa mengevaluasi aktivitas siswa.
C. Pengaruh Strategi Communicative Approach terhadap Keterampilan
Berbicara Siswa SD

Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan diatas, guru perlu menerapkan
pendekatan studi yang benar untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa di
sekolah dasar. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan yaitu melalui
pendekatan komunikatif. Pendekatan komunikatif mewakili studi bahasa yang
memberikan kemampuan bahasa keterampilan untuk didukung oleh pengetahuan
bahasa.

Pendekatan komunikatif diajarkan untuk memperoleh informasi yang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari agar siswa memahami penelitian yang
lebih memiliki makna. Pendekatan komunikatif ini dapat memberikan kebebasan
kepada siswa untuk mengutarakan pendapat secara lisan dan juga merangkai kata-
kata untuk diberitahukan kepada teman-temannya dengan sendirinya. Pendekatan
komunikatif berorientasi pada proses belajar untuk mengajarkan bahasa
berdasarkan tugas dan fungsi komunikasi. Prinsip dasar pendekatan komunikatif
adalah: a) item harus terdiri dari bahasa sebagai sarana komunikasi, b) item desain
harus menekankan proses belajar mengajar non diskusi fundamental, c) item harus
mendukung siswa untuk berkomunikasi dengan cara biasanya.

Strategi belajar mengajar dalam pendekatan komunikatif bergantung pada cara
pembelajaran siswa aktif, yaitu siswa terlibat dalam proses belajar secara aktif.
Strategi berdasarkan prosedur pendekatan komunikatif yaitu memendekkan
presentasi dialog, mempresentasikan dialog pelatihan lisan, presentasi pertanyaan
dan jawaban, observasi dan studi, penarikan kesimpulan, aktivitas interaktif,
pembuatan tugas dan evaluasi pelaksanaan. Oleh karena itu, melalui pendekatan
komunikasi siswa diharapkan dapat mengatur keterampilan berbicara sehingga
mampu meningkatkan keterampilan berbicara yang dievaluasi sesuai, keakuratan,
dan kefasihan berbicara. Melalui pembelajaran pendekatan komunikatif juga dapat
mengevaluasi kekurangan siswa secara intensif dan memberikan bimbingan yang
diperlukan agar aktivitas belajar lebih aktif dengan minat dan interaktif.

Pendekatan Komunikatif Untuk Keterampilan Berbicara siswa di sekolah
dasar merupakan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan aktivitas belajar

78

guru dan siswa dan juga proses belajar menjadi lebih aktif dan termotivasi.
sehingga hasil belajarnya lengkap secara individu atau klasik. Pendekatan Strategi
Komnikatif ini diantaranya adalah berupa jenis-jenis aktifitas kelas yang
mengarahkan siswa pada penggunaan bahasa. Seperti role play, interviews, games,
kerjasama, belajar dari mengajar, dan lain-lain.

Dalam hal ini penulis mengambil contoh roleplay yang termasuk kedalam
jenis dari strategi pendekatan komunikatif ini. Metode ini akan membangun rasa
peduli peserta didik melalui kerjasama yang harus dilalui oleh mereka (Pranowo,
2013). Melalui kegiatan role playing, peserta mencoba mengekspresikan
hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya, bekerja sama
dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-samapebelajar dapat
mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah.
Dari sini menunjukkan bahwa strategi komunikatif ini dapat memberi pengaruh
terhadap keterampilan berbicara dimana peserta didik dapat menginterpretasikan
perasaan yang dirasakannya melalui gerakannya juga lisan.

Contoh lainnya adalah dengan metode koperatif atau bekerjasama dimana ini
juga merupakan bagian dari strategi pendekatan komunikatif. Dalam berdiskusi
siswa dituntut untuk menyuarakan pendapatnya melalui metode ini yang
merupakan bagian dari strategi pendekatan komunikatif tentu jika guru yang
bersifat fasilitator dan motivator juga ikut andil dalam menyiapkan kelasya akan
meningkatkan keterampilan berbicara.

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi olehpemikiran
bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasimerupakan tujuan
yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Tampak bahwabahasa tidak hanya
dipandang sebagai seperangkat kaidah, tetapi lebih luas lagi,yakni sarana
berkomunikasi. Ini berarti, bahasa ditempatkan sesuai denganfungsinya, yakni
fungsi komunikasi. Pendekatan komunikatif adalah suatupendekatan yang
bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalamberkomunikasi,
menekankan pembinaan dan pengembangan kemampuankomunikatif siswa.
Penerapan pendekatan komunikatif sepenuhnya dilakukanoleh siswa (student
centre) sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Dengan demikian siswa akan
mampu bercerita, menanggapi masalah, dan mengungkapkanpendapatnya secara
lisan dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami.

79

PENUTUP
Kesimpulan dari paparan diatas adalah Pendekatan komunikatif adalah
pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Pendekatan ini memberi siswa tidak
hanya kompetensi tata bahasa tetapi juga keterampilan sosial tentang apa yang
harus dikatakan. Oleh karena itu, strategi ini dapat digunakan dalam meningkatkan
keterampilan berbicara untuk siswa sekolah dasar karena sebab-sebab yang telah
dipaparkan.
Berdasarkan paparan diatas juga yang penulis dapat disimpulkan pengaruh
dari strategi pendekatan komunikatif terhadap keterampilan berbicara siswa di sd
adalah sebagai berikut:
1. Peserta didik memainkan peran sebagai pusat pembelajaran dan aktivitas
pembelajaran. Penelitian mengenai strategi ini menunjukkan bahwa peserta
didik menjadi aktif dan berani untuk beragumen secara kreatif sesuai inovasi
mereka.
2. Dalam metode roleplaying dimana siswa dituntut untuk bermain peran dan
menginterpretasikan perasaan dari karakter yang diperankannya tentu dapat
meningkatkan keterampilan berbicara siswa itu.
3. Dalam strategi komunikatif ini siswa juga dituntuk untuk dapat berdiskusi
dengan siswa lainnya, kegiatan ini jika dilakukan dengan sering dapat
membiasakan siswa untuk berani mengutarakan pendapatnya dan
meningkatkan keterampilan berbicara siswa.

80

DAFTAR PUSTAKA
Richards – Jack, C. 1985. Approach and Methods in Language Teaching. Cambridge:

Cambridge Language University Press.
Patiung, D., Tolla, A., Anshari, A., & Dolla, A. (2015). The Study of Learning

Speaking Skills Based on Communicative Approach. Journal of Language Teaching
and Research, 6(5), 1093-1098.
Finocchiaro – Mary. and Brumfit-Christopher. 1983. Functional – National Approach
from Theory to Practice. New York: Oxford University Press.
Pranowo, D. J. 2013. Implementasi Pendidikan Karakter Kepedulian dan Kerja Sama
pada Mata Kuliah Keterampilan Berbicara Bahasa Prancis dengan Metode
Bermain Peran. Jurnal Pendidikan Karakter.
Asih. 2015. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Bandung:Pustaka Setia

81

PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA

“Meningkatkan pembelajaran sastra melalui perkembangan era digital”

Kelompok 9:

Glaudia Gunawan(20183411106)

Indah Novita Sari (20183411045)

Rofiqotul Hasanah (20183411084)

PENDAHULUAN

Sastra menggambarkan kehidupan suatu masyarakat, dan melalui karya sastra
pula identitas atau peradaban suatu bangsa dapat dikenali.Melalui karya sastra kita
dapat mengidentifikasi perilaku atau moral suatu bangsa.Seiring berkembangnya
zaman, sastra mulai banyak dilupakan bahkan kurang diminati oleh generasi
muda.Hal ini disebabkan oleh pengaruh perkembangan teknologi dan komunikasi
yang telah mengubah segala aspek kehidupan yang ada di dunia.Era digital
merupakan istilah yang di gunakan dalam kemunculan digital, jaringan internet
khususnya teknologi informasi komputer.Media baru Era Digital sering di gunakan
untuk menggambarkan teknologi digital. Dalam hal ini internet secara tidak langsung
telah mengubah generasi sekarang menjadi generasi digital yang tumbuh dan
didampingi dengan informasi-informasi, alat-alat canggih, dan menjadikan generasi
yang desosialisasi atau generasi yang lebih suka menyendiri karena sudah merasa
senang dan tenang dengan dunianya sendiri. Perkembangan teknologi dan komunikasi
telah mengubah segala aspek kehidupan yang ada di dunia ini.Perkembangan dunia
teknologi saat ini makin pesat ke arah serba digital. Era digital telah membuat
manusia memasuki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat yang
serba elektronik. Semakin canggihnya teknologi digital masa kini membuat perubahan
besar terhadap dunia, lahirnya berbagai macam teknologi digital yang semakin maju
telah banyak bermunculan. Berbagai kalangan telah dimudahkan dalam mengakses
suatu informasi melalui banyak cara, serta dapat menikmati fasilitas dari teknologi
digital dengan bebas dan terkendali. Seiring berkembangnya teknologi, sastra mulai
kurang diminati oleh generasi muda.

82

Hal ini disebabkan oleh pengaruh perkembangan teknologi dan komunikasi
yang telah mengubah segala aspek kehidupan yang ada di dunia.Perkembangan
teknologi digital seperti media sosial ternyata menyebabkan turunnya minat membaca
dan menulis sastra bagi remaja. Waktu yang tersita untuk membaca dan menulis buku
sekarang diganti mengikuti apa yang sedang tren di media sosial. Padahal pendidikan
generasi muda dalam membentuk sumber daya manusia yang potensial merupakan
kunci utama kemajuan suatu bangsa.Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan
adanya pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas. Inti pendidikan itu sendiri
pada dasarnya adalah proses alih informasi dan nilai nilai yang ada. Pembelajaran
sastra menggunakan perkembangan digital diharapkan mampu meningkatkan
semangat belajar remaja untuk menulis dan berkreativitas.Untuk itu pada era digital
ini kita harus bisa menyikapi dengan baik yakni dengan melakukan upaya-upaya yang
harus kita lakukan agar era digital membawa manfaat bagi setiap aspek
kehidupan.Saat ini penulisan karya sastra telah merambah dunia maya internet di
mana ruang batas teks sudah tak dapat dilacak lagi.

Karya sastra di era baru ini menarik untuk dikaji lebih lanjut.Terutama dalam
menuumbuhkan dan meningkatkan minat menulis dan membaca sastra di kalangan
remaja.Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk
mendeskripsikan prinsip pembelajaran sastra di era digital.Perkembangan era digital
diharapkan dapat membawa dampak positif terhadap kemajuan pembelajaran sastra di
lingkungan.Di dalam pembelajaran bahasa dan sastra, teknologi pendidikan kini
membuat pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.Banyak ditemukan di
internet, web yang memuat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang bisa
diakses dengan mudah.Hal tersebut menjadi inovasi baru untuk mengenal budaya
literasi dan bermanfaat untuk perkembangan dalam pembelajaran.Kemajuan teknologi
ini juga melibatkan berbagai pihak, baik guru maupun peserta didik.Dengan
perkembangan yang sangat pesat diharapkan semua pihak juga mampu ikut serta
memanfaatkan kemajuan digital tersebut.Dalam mewujudkan pembelajaran bahasa
dan sastra Indonesia kreatif di era digital, berikut upaya yang dapat dilakukan
untukmewujudkannya.

83

PEMBAHASAN

1. Pengajaran pembelajaran sastra era digital

Media digital merupakan bentuk media elektronik yang dapat digunakan untuk
membantu dalam proses pembelajaran. Penggunaan media digital ini bukan hanya
memudahkan siswa tetapi juga memberikan gambaran yang autentik tentang media
digital(Ali Azizi, 2017).Media digital dapat menyajikan materi pembelajaran secara
kontekstual, audio maupun visual secara menarik dan interaktif.Selain itu juga
didukung dengan perkembangan komputer yang semakin pesat.Peranan media digital
dalam pembelajaran sastra sangat penting untuk saat ini, karena pembelajaran sastra
menjadi pembelajaran yang banyak disepelekan siswa, banyak siswa yang
menganggap pembelajaran akademik yang lebih penting.Semakin lemahnya
pendidikan sastra bagi siwa merupakan suatu masalah yang sangat
memprihatinkan.Dengan Media digital ini memudahkan meningkatkan kemampuan
siswa dalam pembelajaran sastra.

Di era digital seperti sekarang ini teknologi informasi dan komunikasi terus
mengalami perkembangan dikarenakan hadirnya beragam media yang
menggabungkan teknologi komunikasi baru dan teknologi komunikasi tradisional. Di
dalam proses pembelajaran bahasa dan sastra di Indonesia, di sekolah bukan tidak
mungkin lagi akan terjadi juga disrupsi. Hal ini karena akan terbukanya arus
informasi dan komunikasi dewasa ini, dimana pengembangan pola pembelajaran
campuran (blended learning)suatu alternative yang bisa dipilih dalam rangka
memanfaatkan perkembangan teknologi dan informasi.Dalam kaitan ini guna
memperoleh pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan menggunakan
pembelajaran campuran, seorang guru perlu memiliki pengetahuan tentang bagaimana
menggunakan hardware dan software dan menghubungkan antara keduanya. Guru
dituntut memiliki kompetensi tentang isi materi pelajaran. Di samping itu, guru juga
harus memiliki kompetensi tentang pengetahuan pedagogical : pengetahuan tentang
karakteristik siswa, teori belajar, model atau metode pembelajaran, serta penilaian
proses dan hasil belajar.

Ketidakpuasan terhadap pembelajaran sastra di sekolah masih sering
terdengar.Sampai hari ini ujian akhir sekolah,yang menjadi penjamin kelulusan siswa
setelah belajar 6 atau 3 tahun di suatu jenjang pendidikan dianggap belum mampu

84

mengakomodasi apresiasi sastra secara menyeluruh.Soal-soal yang terdapat dalam
ujian bidang studi Bahasa Indonesia kurang merata pada bagian sastra.Artinya, sedikit
sekali ditemukan soal yang berunsur sastra.Pengajaran sastra juga dinilai gagal,
karena sejumlah penelitian menunjukkan rendahnya sikap apresiatif dan minat kepada
sastra di kalangan siswa rendah.Belum lagi kalau dilihat dari aspek motorik (minat
baca dan menulis karya sastra).Indikator masih rendahnya rata-rata tingkat apresiasi
dan minat baca lulusan dasar dan menengah terhadap karya sastra telah menjadi
masalah klasik.

Dalam Meningkatkan minat generasi muda khususnya para siswa untuk
menulis karya sastra perlu adanya perhatian dari pemerintah. Dengan melihat masih
banyak pelajar yang kurang maksimal dalam kemampuan menulis karya sastra,
sepertinya akan menjadi sebuah ancaman terhadap perkembangan karya sastra untuk
ke depannya. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan karya sastra
sendiri juga dapat menjadi salah satu penyebabnya.Seharusnya budaya menulis karya
sastra di lingkungan lembaga pendidikan lebih dikembangkan lagi sejak dini mulai
dari tingkat Sekolah Dasar.Hal ini dapat dilakukan dengan membiasakan siswa untuk
menulis karya sastra sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.Sehingga pada saat siswa
berpindah jenjang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, siswa sudah terbiasa untuk
menulis karya sastra.Di samping itu, sekolah lebih kreatif memanfaatkan potensi
siswa dalam menulis karya sastra. Tidak akan adil jika hanya menyalahkan guru
dalam menurunnya minat siswa dalam menulis karya sastra. Pihak sekolah pun juga
ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan sastra terutama untuk meningkatkan
keterampilan menulis karya sastra oleh siswanya.

Pendidikan memiliki ciri pemanfaatan teknologi digital dalam proses
pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber. Sistem tersebut dapat membuat proses
pembelajaran dapat berlangsung secara kontinyu tanpa batas ruang dan batas waktu.
Pada konteks ini penguasaan literasi digital memungkinkan pembelajar meningkatkan
kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotor melalui aktivitas belajar yang lebih baik,
lebih cepat, lebih mudah, dan menyenangkan.Dalam kaitan ini, penggunaan e-
learning dalam pembelajaran bahasa bisa kita lakukan. Dalam pembelajaran bahasa
Indonesia e-learning dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
keterampilan mendengar, berbicara, membaca, menulis, tata bahasa, dan
pembelajaran sastra. Pembelajaran bahasa dapat ditunjang dengan media

85

pembelajaran.Media yang digunakan adalah telepon genggam, komputer, laptop, dan
koneksi internet yang bagus. Jenis media lainnya yang efektif dipakai dalam
pembelajaran di era modern yaitu media audio visual gerak (film bersuara, film pada
televisi, televise, dan animasi); media audio visual diam (slide, halaman cetak, dan
foto); audio semi gerak (tulisan bergerak dan bersuara); media audio (radio, telepon,
pita audio); media cetak (buku, modul); lingkungan sebagai media
pembelajaran.Semua media tersebut memperjelas penyajian materi agar tidak terlalu
bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tulis atau lisan).

Penggunaan media berbasis teknologi akan mempermudahkan siswa dan guru
dalam proses belajar-mengajar, serta pembelajaran pun dapat mengembangkan
potensi para siswa.Akan tetapi, dengan adanya media digital siswa dan guru juga
harus bisa memahami, mengusai, dan memperlakukan teknologi dengan baik dan
benar.Anak-anak dan remaja harus paham dengan manfaat positif era digital saat
ini.Selain itu orang tua harus pula paham agar dapat mengontrol sikap anak-anaknya
terhadap teknologi dan memperlakukannya atau menggunakannya secara baik dan
benar.Pengenalan tentang pemanfaatan berbagai aplikasi yang dapat membantu
pekerjaan manusia perlu dikaji agar diketahui manfaat dan kegunaannya serta dapat
memanfaatkannya secara efektif dan efisien terhindar dari dampak negatif dan
berlebihan.

Dalam pembelajaran menggunakan media di gital baru bisa dilakukan kalau
para guru memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, jiwa sosial, dan profesional
dalam bidang bahasa.Dikarenakan jika guru tidak memiliki pengetahuan pedagogical
otomatis pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik ditambah lagi dengan
pesatnya pembelajaran melalui teknologi digital saat ini.

Media pengajaran sastra yang lebih di gital yang sangat dekat dengan
kegandrungan siswa usia sekolah (remaja) adalah media berbasis gawai (gadget).
Sebagai pengantar bahwa (Rasjid, 2017) menganalogikan masyarakat yang kekinian
tak menyadari telah memberlakukan sastra dengan cara berbeda dibanding para
pembaca/penggemar sastra sebelum perkembangan teknologi informasi sepesat hari
ini. Dari layar gadget, dapat ditemukan novel atau cerpen lebih digemari untuk
disebarkan petikan kata-kata indahnya yang dibingkai dengan ilustrasi tertentu atau
ditata menjadi tipografi atau secara langsung sebagai status di media sosial. Begitu

86

pun puisi lebih diminati untuk diambil satu dua larik—lara, romantis, memantik
keberanian atau empati disertai foto diiringi petikan lagu. Direspons sebatas kutipan
(quote), karya sastra lantas diunggah ke media sosial sebelum nantinya digandakan
oleh akun-akun lain. Aktivitas ini mengukuhkan bahwa laku seseorang mengandung
dalam dirinya orang yang lain. Di satu sisi, pembaca (disebut siswa) dengan
kreativitas masing-masing dapat memanfaatkan sastra sedemikian rupa.Di sisi lain,
ada keseragaman dalam tataran apresiasi itu, yakni pembaca yang terbiasa dengan
teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital dimmigrant maupun digital
natives memberlakukan sastra sesuai karakter media digital yang secara konstan
terkoneksi dengan orang lain, tampil ringkas, mementingkan citra, dan menekankan
pada aksi sekelebatan.

Beberapa fenomena tentang karya sastra terjadi di dunia maya yang secara
sistem memiliki kebebasan bagi khalayak umum. Penggunaan media sosial lainnya,
seperti facebook lebih dimanfaatkan dalam menilai sebuah karya sastra dengan cara
menuliskan komentar tentang suatu karya yang diunggah. Adapun dalam instagram
yang fungsinya hanya untuk berbagi foto, juga mulai digunakan untuk mengunggah
ide-ide kreatif pengguna.Karya sastra yang diunggah melalui instagram, juga
mengalami perubahan yaitu berupa lahirnya mini cerpen yang berdasarkan foto yang
diunggah oleh pengguna.Selain itu, juga menjadi penyebab lahirnya petikan- petikan
puisi atau kata-kata motivasi yang dimodifikasi menjadi sebuah gambar.Hal tersebut
dapat pula disebut sebagai sastra digital dan sastra milenial.Lebih lanjut mengenai
revolusi dokumentasi sastra digital dengan mengutip pendapat(IArtika. (2019)
("Pengajaran Sastra Revolusi Industri 4.0", 2019)menambahkan bahwa dari
ketersediaan perangkat teknologi maka pengajaran sastra pun dapat dilakukan secara
daring.Contohnya seperti dalam masa pademi covid 19 saat ini. Pemerintah
menganjurkan untuk proses belajar-mengajar dilakukan secara daring guna mencegah
ranting penyebaran virus covid 19. Oleh karena itu, pembelajaran tidak lagi terjadi
dalam dunia fisik, tetapi dalam dunia maya atau virtual, begitu pun dalam pengajaran
sastra. Medium internet sebenarnya menawarkan kemajuan dalam kritik sastra; ia
lebih mudah diakses, tidak terbatas dalam panjang tulisan, memungkinkan lebih
banyak kritikus yang muncul, serta memungkinkan diskusi yang lebih intens. Namun
pada nyatanya, tulisan di internet belum punya otoritas sebagaimana cetak.

87

Menyikapi hal demikian, keterbukaan informasi semacam ini yang segala hal
dapat diakses dan didapatkan dengan menjentikkan jari pada layar kecil di sebelah
tangan pun dapat digunakan sebagai sumber berapresiasi sastra.Di era digital ini,
posisi pengajaran sastra seharusnya ditempatkan sebagai antara (karya sastra – siswa)
dalam membiasakan dan membudayakan sehingga menjadi iklim pengajaran sastra
yang kekinian.Di era milineal ini, satu hal yang tak bisa dipungkiri apresiasi sastra
berputar dalam faktualitas perasaan-perasaan manusia yang dapat kita tengok dari
sebuah layar setelapak tangan.Jadi, tinggal pintar-pintar para pengajar sastra dalam
turut berperan mengoptimalkan potensi teknologi untuk kebaikan, bukan hanya
sekadar penggembira dunia maya. Kemudian, cara lain dapat saja memanggil memori
terdahulu yang disinyalir efektif untuk membangkitkan peminatan apresiasi sastra di
sekolah, yaitu Sastrawan Masuk Sekolah (SMS). Sastrawan Masuk Sekolah (SMS)
yang dulu pernah gencar digelar oleh Yayasan Indonesia, Majalah Horison, dan
Depdiknas, agaknya kini tak terdengar lagi gaungnya. Agenda yang pernah
menghadirkan sastrawan papan atas semacam Taufik Ismail, Sutardji Calzoum
Bachri, Hamid Jabar, atau Taufik Ikram Jamil di balik tembok sekolah itu kini seolah-
olah sudah “tamat” riwayatnya(Tuhusetya, 2008). Sebenarnya, dengan kehadiran para
sastrawan justru menjadi “oase” bersejarah di tengah kegersangan apresiasi sastra
yang sudah lama dirasakan oleh dunia pendidikan.Lewat kehadiran sastrawan ke
sekolah, teks-teks sastra yang selama ini berada di puncak keterasingan bisa
membumi dan tersosialisasikan secara intensif di bangku sekolah.

Harapannya, teks sastra tidak hanya sekadar dipahami sebagai sebuah produk
budaya, tetapi juga sebagai sebuah kenikmatan rohaniah yang mencerahkan sebagai
wujud nyata apresiasi. Untuk menyikapi ‘mati suri’-nya program SMS, ada solusi
yang setara dengan itu. Yaitu SMS berbasis blended learning, yakni metode belajar
yang memadukan pertemuan tatap muka dengan pembelajaran secara daring
memanfaatkan teknologi digital. Sastrawan beserta crew tidak perlu lagi hadir di
tengah-tengah siswa dengan konsep seminar atau workshop, tapi cukup dengan kelas
digital atau akses secara personal lewat gadget siswa masingmasing. Sastrawan, baik
secara personal maupun berkelompok ditampilkan dalam bentuk video yang interaktif
dan komunikatif, bisa bentuk orasi, motivasi, proses kreatif, sampai pada performansi
baca puisi, cerpen, bahkan pentas drama yang ditayangkan daring dan dapat diunduh
tentunya.

88

Pembelajaran sastra dalam pendidikan diterapkan dalam pengajaran bahasa,
karena pembelajaran sastra dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Antara bahasa dan
sastra dalam pengajaranya menggunakan aspek yang sama yaitu mendengarkan,
berbicara, membaca dan menulis. Akan tetapi, dalam praktiknya pembelajaran sastra
lebih mengarah pada pengembangan diri terhadap kehidupan. Menurut (-
Nurgiawanto, 2001)mengatakan karya sebagai karya seni tidak semata-mata hanya
berurusan dengan bahasa saja melainkan unsur-unsur sastra yang lain.
Impelentasi media digital dalam pembelajaran sastra dilakukan dengan pembelajaran
yang dilakukan dengan meberikan penjelasan pada siswa dengan memberikan contoh-
contoh gambar, menggunakan video dan power point. Selain itu, agar siswa mampu
meningkatkan kemampuan dalam pembelajaran sastra dengan baik, maka guru harus
memperhatikan tiga hal berikut; 1) Mengkondisikan agar kelas ramah akan sastra.
Ramah sastra ini ditunjukan dengan mengembangkan budaya memajang karya sastra
siswa. Dengan ini, siswa akan semangat menciptakan sastra yang dimilikinya karena
semua siswa mendapat kesempatan untuk menjadi perhatian. Agar tercipta suasana
yang kompak dan dinamais peneliti melakukan pemajangan secara serentak bagi
seluruh karya siswa.Dengan memberikan tugas secara bergantian, misalnya
pembagian tugas meliputi puisi, cerpen, cergam, pentun, komik.Pembagian tersebut
dibagi dalam 20 siswa yang masing-masing bagian terdiri dari 4 siswa.Pembagian
tugas tersebut berputar, dengan jangka waktu terbit karya siswa selama dua minggu
sekali; 2) Mengupayakan lingkungan sekolah yang sosial fektif.Memberikan
pengakuan atas pencapaian siswa, seperti memberikan penghargaan,
penyelenggarakan kegiatan lomba karya sastra.Upaya lingkungan sekolah terhadap
karya siswa dengan memberikan respon terhadap karya siswa. Peneliti mengupayakan
agar respon terhadap karya siswa bukan hanya beberapa kelas saja melainkan juga
dari seluruh warga sekolah yang meliputi,guru, dan semua siswa di sekolah, dan
komite. Selama waktu istirahat karya siswa akan dibaca dan diapresiasi oleh pembaca.
Dengan memberikan kotak suka (Box Likes) di sebelah karya siswa, bagi pembaca
harap memberikan kartu suka terhadap karya siswa. Kartu suka yang diberikan
pembaca dilengkapi dengan nama karya yang paing disukainya. Setelah jangka waktu
dua minggu maka pergantian karya baru dengan membuka kotak suka. Bagi siswa
yang menadapat kartu suka terbanyak maka siswa terbut akan mendapatkan
penghargaan. Penyelenggaraan lomba sastra yang dilakukan di sekolah, biasanya
dilakukan bersama dengan peringatan hari penting negara dan hari penting agama

89

Islam, misalnya, pada peringatan Hari Kemerdekaan, peringatan Hari Guru, hari
Pramuka, Hari Pendidikan, Hari Pahlawan, Peringatan Isra’ Mi’raj dan hari penting
lainya; 3) Menciptakan sekolah agar menjadi lingkungan akademik yang bersastra.
Sekolah membuat perencanaan membentuk tim khusus penanganan siswa yang
memiliki kemampuan bersastra, sehingga mudah dalam mengembangkan bakat sastra
siswa.

90

KESIMPULAN

Dengan adanya pembelajaran di era digital sangat membantu sekali dalam
proses pembelajaran terutama untuk pembelajaran sastra. Penggunaan media digital
ini bukan hanya memudahkan siswa tetapi juga memberikan gambaran yang autentik
tentang media digital.Akan tetapi, dengan adanya media digital siswa dan guru juga
harus bisa memahami, mengusai, dan memperlakukan teknologi dengan baik dan
benar.Anak-anak dan remaja harus paham dengan manfaat positif era digital saat
ini.Selain itu orang tua harus pula paham agar dapat mengontrol sikap anak-anaknya
terhadap teknologi dan memperlakukannya atau menggunakannya secara baik dan
benar.Media digital dapat menyajikan materi pembelajaran secara kontekstual, audio
maupun visual secara menarik dan interaktif.Impelentasi media digital dalam
pembelajaran sastra dilakukan melalui pembelajaran dengan memberikan penjelasan
pada siswa dengan memberikan contoh-contoh gambar, menggunakan video dan
power point.

91

DAFTAR PUSTAKA

Ali Azizi, F., & Wijaya Kusuma, K. Konferensi Bahasa dan Sastra,
Implementasi Literasi Digital dalam Derakan Literasi Sekolah. International
Conference on Laguage, Literature, and Teaching, (2598–0610) 2017.. Retrieved
from indonesia.unnes.ac.id

-Nurgiawanto, B. 2001. Penilaian dalam Pembelajaran Sastra. Yogyakarta:
BPFE

Rasjid, Abdul Aziz. (2017). "Menakar Narasi Pembaca Sastra Era
Milenial".Artikel (online), https://geotimes.co.id/kolom/ media/narasi-pembaca-
sastra-era-milenial/Rabu, 15 November 2017, diunduh pada April 2019.

IArtika.(2019) ("Pengajaran Sastra Revolusi Industri 4.0", Artikel (Online),
https://www.wattpad.com/712286121-pengajaransastra-revolusi-industri-4-0, diunduh
pada April 2019.

Tuhusetya, Sawali. (2008). "Sastrawan Masuk Sekolah: Sebuah Agenda yang
Tertinggal". Artikel (Online), https://sawali.info/Dipublikasikan Minggu, 2 Maret
2008, diunduh pada April 2019.

92


Click to View FlipBook Version