Kata Pengantar
SMA/SMK/MA
KELAS
XI
Lembar Pengesahan
Hak Cipta
MILIK UNIVERSITAS JEMBER
MILIK TUIDNAIVKERDSIIPTAESRJJUEAMLBBEERLIKAN
TIDAK DIPERDAGANGKAN
Matematika
DenBDgaeEnnLPgAeannJdAPideRiknadMnekAMaTattaEenmMRaAteiakTalIisKRteiAcaMlisatitkhIenmdoaetnicssia
Education
Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas / Sekolah
Menengah Kejuruan / Madrasah Aliyah
Penulis i
Girlyas Rasta Yunta
(180210101052)
Pembimbing :
Arif Fatahillah, S.Pd., M.Si.
Saddam Hussen, S.Pd., M.Pd
Editor : Girlyas Rasta Yunta
Ukuran Buku : 21 cm x 29, 7 cm
Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan – Universitas Jember
Jember : Universitas Jember, 2021
Kata Pengantar
Syukur alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah swt., karena hidayah dan
inayah-Nya penulisan buku siswa ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.
Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih terhadap semua pihak yang membantu
penulisan buku siswa ini.
Buku siswa ini merupakan bahan ajar untuk mata pelajaran Matematika dan sebagai
pegangan siswa pada jenjang SMA/MA/SMK/MAK kelas XI semester ganjil
berdasarkan Kurikulum 2013 yang disempurnakan dengan tujuan untuk membantu
siswa dalam proses belajar Matematika.
Buku siswa ini membahas tentang materi yang diajarkan pada siswa kelas XI.
Dengan memanfaatkan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia, buku siswa ini
sangatlah mudah untuk dipahami siswa kelas XI. Selain itu, beberapa latihan soal telah
disediakan agar siswa semakin paham tentang materi yang telah didapatkan.
Sesuai dengan tujuan dalam pembelajaran matematika, siswa diharapkan dapat
memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan
mengaplikasikannya untuk memecahkan masalah. Siswa juga diharapkan mampu
menggunakan penalaran, mengkomunikasikan gagasan dengan berbagai perangkat
matematika, serta memiliki sikap menghargai matematika dalam kehidupan.
Terakhir saya ucapkan, selamat belajar dan semoga sukses.
Penulis
ii
Petunjuk Penggunaan
Pokok bahasan
Manfaat yang akan
diperoleh siswa setelah
mempelajari materi
Istilah penting dalam
materi
Kompetensi dasar
matematika kelas XI sesuai
kurikulum 2013
Berisi poin-poin materi
yang akan dipelajari
iii
Petunjuk Penggunaan
Judul Sub Bab
masalah kontekstual yang
digunakan untuk
mempelajari materi
Berisi solusi dari masalah/contoh
yang disajikan
Berisi latihan untuk
memeriksa pemahaman
siswa
Pengertian dari
suatu materi
iv
Petunjuk Penggunan
Berisi conoth soal untuk Berisi soal untuk
memperjelas materi//konsep memperdalam
pemahaman
Berisi soal yang berfungsi
sebagai evaluasi dari materi
yang telah dipelajari
v
Daftar Isi
Lembar Pengesahan i
Kata pengantar ii
Petunjuk Penggunaan iii
Daftar Isi vi
BAB 3. Matriks vii
Peta Konsep viii
Tokoh Matematika ix
Materi Pembelajaran 1
1
3.1 Membangun Konsep Matriks 7
3.2 Jenis-Jenis Matriks 10
3.3 Kesamaan Dua Matriks 12
3.4 Operasi Pada Matriks 25
3.5 Determinan dan Invers Matriks 44
PENUTUP 45
DAFTAR PUSTAKA
vi
BAB 3.
Matriks
Kompetensi Dasar Pengalaman Belajar
3.15 Menerapkan operasi Melalui pembelajaran materi
matriks dalam menyelesaikan matriks, siswa memperoleh
masalah yang berkaitan dengan pengalaman belajar :
matriks Mengamati secara cermat
4.15 Menyelesaikan masalah aturan susunan objek.
yang berkaitan dengan matriks
Berpiki mandiri mengajukan ide
3.16 Menentukan nilai secara terbuka dan bebas.
determinan, invers dan tranpos
pada ordo 2 x 2 dan nilai Menemukan hubungan—
determinan dan transpos pada hubungan diantara objek—
ordo 3 x 3 objek.
4.16 Menyelesikan masalah yang Melattih berpikir kritis dan
berkaitan dengan determinan, kreatif.
invers dan tranpose pada ordo 2
x 2 serta nilai determiann dan Bekerjasama menyelesaikan
tranpos pada ordo 3 x 3 masa-lah.
Entry Matriks Kata Kunci
Ordo Matriks
Operasi
Matriks
Transpose
Determinan
Invers
Identitas
vii
Peta Konsep
Sistem
Persamaan Linier
Matriks
Operasi Relasi Unsur-unsur
Pengurangan Kesaman Matriks Elemen Baris Elemen Kolom
Penjumlahan
Perkalian
Determinan
Invers
viii
Tokoh
Matematika
Arthur Cayley
16 Agustus 1821—26 Januari 1895
Arthur Cayley lahir pada tanggal 16 Agustus 1821 di
Richmond, Lon-don, Inggris. Beliau merupakan ahli matematika yang
pertama kali menemukan rumus matriks. Arthur Cayley
mengatakan bahwa, setiap matriks bujur sangkar dengan elemen
real maupun kompleks memenuhi persamaan karakteristiknya. Hal
ini dikemukakan ole Arthur Cayley pad atahun 1858. Ia hanya
membuktikan hingga matriks berorodo 3 x 3.
ix
1
Materi Pembelajaran
3.1. CMobeamkbamanugpuenrhKatoiknasnepsumsuantarnikbsenda-benda di sekitar kamu! Sebagai contoh,
susunan keramik lantai, susunan buku di lemari, posisi siswa berbaris di lapangan, dan
lain-lain.
z
Gambar 3. 1. Susunan buku di lemari
Sumber: https://pixabay.com/
Tentu kamu dapat melihat susunan tersebut dapat berupa pola baris atau kolom,
bukan? Bentuk susunan berupa baris dan kolom akan melahirkan konsep matriks yang
akan kita pelajari. Sebagai contoh lainnya adalah susunan angka dalam bentuk tabel.
Pada tabel terdapat baris atau kolom, banyak baris atau kolom bergantung pada ukuran
tabel tersebut. Ini sudah merupakan gambaran dari sebuah matriks. Agar kamu dapat
segera menemukan konsepnya, mari perhatikan beberapa gambaran dan permasalahan
berikut ini! Sebagai gambaran awal mengenai matriks, mari cermati uraian berikut.
Diketahui harga tiket masuk suatu museum berikut ini.
2
Anak-Anak Tabel 3.1: Harga Tiket Bioskop Hari
Dewasa Biasa
Hari
Minggu/ Rp. 7.500,00
Rp. 15.000,00
Libur
Rp. 15.000,00
Rp. 30.000,00
Data tersebut, dapat disajikan kembali tanpa harus di dalam tabel seperti berikut:
15.000 7.500 15.000 7.500
30.000 15.000 atau
30.000 15.000
Bentuk penulisan tersebut, menunjukkan terdapat 2 baris dan dua kolom.
Masalah 3.1
Seorang wisatawan lokal hendak berlibur ke beberapa tempat wisata
yang ada di Pulau Jawa. Untuk memaksimalkan waktu liburan, dia mencatat
jarak antara kota-kota tersebut sebagai berikut.
Surabaya – Yogyakarta 325 km
Yogyakarta – Purwekerto 170 km
Surabaya – Purwekerto 483 km
Dapatkah kamu membuat susunan jarak antar kota tujuan wisata tersebut jika
wisatawan tersebut memulai perjalanannya dari Surabaya! Kemudian berikan
makna setiap angka dalam susunan tersebut.
3
Alternatif Penyelesaian
Wisatawan tersebut akan memulai perjalanannya dari Surabaya ke kota-kota wisata
di Pulau Jawa. Jarak antarkota tujuan wisata dituliskan sebagai berikut.
Tabel 3.2: Jarak Antarkota
Surabaya Yogyakarta Purwokerto
Surabaya 0 325 483
Yogyakarta 325 0 170
Purwokerto 483 170 0
Berdasarkan tampilan di atas, dapat dilihat jarak antarkota tujuan wisata dengan
membaca data dari baris ke kolom. Susunan tersebut dapat juga dituliskan sebagai
0 325 483
325
0 170
483 170 0
Susunan jarak antarkota di Pulau Jawa tersebut terdiri dari 3 baris dan 3 kolom.
Kegiatan 3.1
Agar lebih memahami matriks mari lakukan kegiatan berikut ini.
1. Bentuklah kelompok yang masing-masing beranggotakan 3-4 orang.
2. Wawancaralah setiap anggota kelompok untuk mendapatkan informasi nilai siswa
terhadap tiga mata pelajaran yang diminatinya.
3. Sajikan data yang diperoleh dalam bentuk tabel seperti di bawah ini.
4. Sajikan pula data tersebut dalam bentuk matriks dan jelaskan.
Nama Siswa Pelajaran P Nilai Siswa Pelajaran R
…… ……
Siswa X …… Pelajaran Q ……
Siswa Y …… …… ……
Siswa Z ……
……
4
Definisi 3.1
Matriks adalah susunan bilangan yang diatur menurut aturan baris dan
kolom dalam suatu jajaran berbentuk persegi atau persegi panjang. Susunan
bilangan itu diletakkan di dalam kurung biasa “( )” atau kurung siku “[ ]”.
Matriks diberi nama dengan menggunakan huruf kapital, seperti A, B, C, dan lain-
lain. Selain memiliki baris dan kolom, matriks juga memiliki entry yaitu setiap
anggota dalam matriks tersebut. Entry suatu matriks dinotasikan dengan huruf kecil
seperti a, b, c, ... dan biasanya disesuaikan dengan nama matriksnya.
Masalah 3.2
Pemilik toko klontong ingin menata koleksi barang yang tersedia.
Ubahlah bentuk susunan barang di took klontong di bawah ini menjadi
matriks dan tentukan entry-entrynya.
KOLEKSI KOLEKSI KOLEKSI
Mie Snack Soda
50 item 75 item 26 item
KOLEKSI KOLEKSI KOLEKSI
Pewangi Sabun Detergen
11 item 15 item 7 item
KOLEKSI KOLEKSI KOLEKSI
Obat Masker Koyo
28 item 4 item 3 item
Gambar 3.2: Susunan barang pada rak supermarket
5
Alternatif Penyelesaian
Gambar di atas mendeskripsikan susunan barang-barang pada rak toko klontong
yang terdiri atas tiga baris dan tiga kolom. Bentuk matriks dari susunan barang
tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut.
50 75 26 baris1
R 11 15
7 baris 2
28 4 3 baris 3
kolom1 kolom3
kolom 2
Misalkan pada matriks R di atas, entry-entrynya dinyatakan dengan r, dan
umumnya entry-entry dari suatu matriks diberi tanda indeks, misalnya rij yang artinya
entry dari matriks A yang terletak pada baris i dan kolom j. Maka koleksi mie yang
terdapat pada baris ke-1, kolom ke-1 dapat dinyatakan r11 50 . Koleksi barang yang
terdapat pada baris ke-2, kolom ke-3 adalah koleksi detergen yang dinyatakan pula
dengan r23 7 dan untuk selanjutnya entry matriks R dapat dinyatakan dengan:
r11 50 r21 11 r31 28
r12 75 r22 15 r32 4
r13 26 r23 7 r33 3
Maka entry matriks A dapat dinyatakan sebagai berikut:
r11 r12 r13
R r21
r22 r23
r31 r32 r33
6
Secara induktif, entry matriks sebelumnya dapat dibentuk menjadi:
r11 r12 r13 r1n baris ke-1
r21 r22 r23 r2n baris ke-2
R r31 r32 r33 r3n baris ke-3
rm1 rm2 rm3 rmn baris ke-m
kolom ke-n
rij : entry matriks pada baris ke-i dan kolom ke-j dengan, i = 1, 2, 3, .., m;
dan j = 1, 2, 3, …, n.
m n : menyatakan ordo matriks R dengan m adalah banyak baris dan n
banyak kolom matriks R.
Contoh 3.1
Diah adalah seorang siswa kelas X SMK Suka Maju, ia akan menyusun
anggota keluarganya berdasarkan umur dalam bentuk matriks. Anggota
keluarganya terdiri dari Ayah (46 tahun), Ibu (43 tahun), Lestari (22 tahun),
Syarif (19 tahun), dan Asya (12 tahun). Adapun usia Diah adalah 14 tahun.
Berbekal dengan materi yang dia pelajari di sekolah dan kesungguhan
dia dalam berlatih, dia mampu mengkreasikan susunan matriks yang
merepresentasikan umur anggota keluarga Diah sebagai berikut (berdasarkan
urutan umur dalam keluarga Diah).
i. Alternatif susunan I
D23 46 43 22
19 14
12
Matriks D23 adalah matriks persegi panjang dengan berordo 2 × 3.
7
ii. Alternatif susunan I
46 43
D32 22
19
14
12
Matriks D32 adalah matriks persegi panjang berordo 3 × 2.
Dapatkah kamu menciptakan susunan matriks, minimal dua cara dengan cara yang
berbeda? Kamu perlu memikirkan cara lain yang lebih kreatif!
3.2. Jenis-Jenis Matriks
Contoh 3.1 sebelumnya menyajikan beberapa variasi ordo matriks yang
merepresentasikan umur anggota keluarga Diah. Secara detail, berikut ini akan
disajikan jenis-jenis matriks.
a. Matriks Baris
Matriks baris adalah matriks yang terdiri atas satu baris saja. Biasanya, ordo
matriks seperti ini adalah 1 × n, dengan n banyak kolom pada matriks tersebut.
D12 46 33
D13 22 19 12
matriks baris berordo 1 × 2 merepresentasikan umur orang tua Diah sedangkan
matriks berordo 1 × 3 merepresentasikan umur saudara Diah
b. Matriks Kolom
Matriks kolom adalah matriks yang terdiri atas satu kolom saja. Biasanya, ordo
matriks seperti ini adalah m × 1, dengan m banyak kolom pada matriks tersebut.
43
22
D31 14 , matriks kolom berordo 3 × 1 yang merepresentasikan umur semua
12
wanita pada keluarga Diah.
8
c. Matriks Persegi Panjang
Matriks persegi panjang adalah matriks yang banyak barisnya tidak sama dengan
banyak kolomnya. Matriks seperti ini memiliki ordo m × n.
D23 46 43 22 , matriks persegi panjang berordo 2 × 3 yang
19 14
12
merepresentasikan umur anggota keluarga Diah.
d. Matriks Persegi
Matriks persegi adalah matriks yang mempunyai banyak baris dan kolom sama.
Matriks ini memiliki ordo n × n.
D22 46 43
22 19 , matriks persegi berordo 2 × 2 yang merepresentasikan umur
orang tua Diah dan kedua kakaknya.
Tinjaulah matriks persegi berordo 4 × 4 di bawah ini.
e11 e12 e13 e14
e21
E44 ee3411 e22 e23 e24
e32 e33
e42 e43 e34
e44
Diagonal utama suatu matrik adalah semua entry matriks yang terletak pada garis
diagonal dari sudut kiri atas ke sudut kanan bawah. Diagonal samping matriks
adalah semua entry matriks yang terletak pada garis diagonal dari sudut kiri
bawah ke sudut kanan atas.
e. Matriks Segitiga
Mari kita perhatikan matriks I berordo 4 × 4. Terdapat pola susunan pada suatu
matriks persegi, misalnya:
2 3 7 12 25 0 0 0
11 0 0
0 1 4 8 7 23 9 0
I 44 0 0 9 atau J 44 6
13
11 21 5 14 1
0 0 0
Matriks persegi yang berpola seperti matriks I atau J disebut matriks segitiga.
9
Jadi, matriks segitiga merupakan suatu matriks persegi berordo n × n dengan
entry-entry matriks di bawah atau di atas diagonal utama semuanya bernilai nol.
f. Matriks Diagonal
Dengan memperhatikan konsep pada matriks segitiga di atas, jika kita cermati
kombinasi pola tersebut pada suatu matriks pesegi, seperti matriks berikut ini:
F 66 0
0 99
1 0 0
G 0 2 0
0 0 3
11 0 0 0 0
0 22 0 0 0
H 0 0 0 0 0
0 0 0 44 0
0 0 0 0 55
maka matriks persegi dengan pola “semua entrynya bernilai nol, kecuali entry
diagonal utama tidak semua nol” disebut matriks diagonal.
g. Matriks Identitas
Mari kita cermati kembali matriks persegi dengan pola seperti matriks berikut ini.
I 22 1 0
0 1
1 0 0
I33 0 1 0
0 0 1
Cermati pola susunan angka 1 dan 0 pada ketiga matriks persegi di atas. Jika pola
tersebut terdapat suatu matriks persegi, yaitu semua entry diagonal utama semua
bernilai positif 1, disebut matriks identitas. Matriks identitas dinotasikan sebagai I
berordo n × n.
10
h. Matriks Nol
Jika entry suatu matriks semuanya bernilai nol, seperti berikut:
O22 0 0 atau O13 0 0 0 atau O24 0 0 0 0
0 0 0 0 0 0
maka disebut matriks nol
3.3. Kesamaan Dua Matriks
Perhatikan untuk matriks berikut ini:
a. 19 21 19 21
17 11 17 11
b. 2 11 43 22 64
13 25
5
13
Kedua matriks pada contoh a dan b adalah sama. Entry masing-masing matriks juga
sama, bukan? Bagaimana dengan ordo kedua matriks? Dari kedua contoh di atas
tampak bahwa entry-entry seletak dari kedua matriks yang berordo sama mempunyai
nilai yang sama. Nah bagaimana untuk matriks berikut ini?
4 9 4 5
5 8 dan 9 8
serta
8 0 0 10 0 0
0 9 0
0 dan 0 9
0 0 10 0 0 8
Menurut kamu apakah matriks-matrik di atas sama? Apakah kedua matriks
memiliki ordo yang sama? Apakah entry-entry seletak dari kedua matriks mempunyai
nilai yang sama? Jika kalian telah memahami kasus di atas maka kita dapat
menyatakan kesamaan matriks jika memenuhi sifat berikut ini.
11
Definisi 3.2
Matriks A dan matriks B dikatakan sama (A = B) jika dan hanya jika:
i. Ordo matriks A sama dengan ordo matriks B.
ii. Setiap entry yang seletak pada matriks A dan matriks B mempunyai
nilai yang sama, (untuk semua nilai i dan j).
Untuk lebih mendalami kesamaan matrik mari perhatikan contoh berikut.
Contoh 3.2
Tentukanlah nilai a, b, c, dan d yang memenuhi matriks At B, dengan
2a 4 3b b 5 3a c 4
A d 2a 2c 3 6 7
7 dan B
4
Alternatif Penyelesaian
Karena A merupakan matriks berordo 2 × 3, maka At merupakan matriks berordo 2
× 3. Matriks B merupakan matriks berordo 2 × 3. Oleh karena itu berlaku kesamaan
matriks At B .
Dengan At 2a 4 d 2a 4 At B dapat dituliskan:
3b 2c 7 . Akibatnya, kesamaan
2a 4 d 2a 4 b 5 3a c 4
2c 7 3 6 7
3b
Dari kesamaan di atas, kita temukan nilai a, b, c, dan d sebagai berikut.
3b = 3 maka b = 1, dan 2c = 6 maka c = 3.
2a – 4 = –4 maka a = 0.
Karena a = 0 maka d = –3.
Jadi, a = 0, b = 1, c = 3, dan d = –3.
12
3.3. Operasi Pada Matriks
3.4.1 Operasi Penjumlahan Matriks
Masalah 3.3
Toko kue berkonsep waralaba ingin mengembangkan usaha di dua kota yang
berbeda. Manajer produksi ingin mendapatkan data biaya yang akan
diperlukan. Biaya untuk masing-masing kue seperti pada tabel berikut.
Tabel Biaya Toko di Kota P (dalam Rupiah)
Bolu Tart
Bahan Kue 1.500.000 1.800.000
Chef 2.500.000 3.000.000
Tabel Biaya Toko di Kota Q (dalam Rupiah)
Bolu Tart
Bahan Kue 1.700.000 2.000.000
Chef 3.000.000 3.300.000
Berapa total biaya yang diperlukan oleh kedua toko kue?
Alternatif Penyelesaian
Jika kita misalkan matriks biaya di Kota P, sebagai matriks P dan matriks
biaya di Kota Q sebagai matriks Q, maka matriks biaya kedua toko disajikan
sebagai berikut.
P 1.500.000 1.800.000 dan Q 1.700.000 2.000.000
2.500.000 3.000.000 3.000.000 3.300.000
Total biaya yang dikeluarkan oleh untuk kedua toko kue tersebut dapat
diperoleh sebagai berikut.
Total biaya bahan untuk bolu = 1.500.000 + 1.700.000 = 3.200.000
Total biaya bahan untuk tart = 1.800.000 + 2.000.000 = 3.800.000
13
Total biaya chef untuk bolu = 2.500.000 + 3.000.000 = 5.500.000
Total biaya chef untuk tart = 3.000.000 + 3.300.000 = 6.300.000
Keempat total biaya tersebut dinyatakan dalam matriks adalah sebagai
berikut.
Total Biaya Untuk Kedua Toko (dalam Rupiah)
Bolu Tart
Bahan Kue 3.200.000 3.800.000
Chef 5.500.000 6.300.000
Total biaya pada tabel di atas dapat ditentukan dengan menjumlahkan matriks
P dan Q.
P Q 1.500.000 1.800.000 1.700.000 2.000.000
2.500.000 3.000.000 3.000.000 3.300.000
3.200.000 3.800.000
= 5.500.000 6.300.000
Penjumlahan kedua matriks biaya di atas dapat dioperasikan diakibatkan
kedua matriks biaya memiliki ordo yang sama, yaitu 2 × 2. Seandainya ordo
kedua matriks biaya tersebut berbeda, kita tidak dapat melakukan operasi
penjumlahan terhadap kedua matriks.
Nah, melalui pembahasan di atas, tentunya dapat didefinisikan penjumlahan
dua matriks dalam konteks matematis.
Definisi 3.3
Misalkan A dan B adalah matriks berordo m × n dengan entry-entry
Matriks C adalah jumlah matriks A dan matriks B, ditulis C = A +
B, apabila matriks C juga berordo m × n dengan entry-entry ditentukan oleh:
(untuk semua i dan j).
14
Catatan: Dua matriks dapat dijumlahkan hanya jika memiliki ordo yang sama
dan ordo matriks hasil penjumlahan dua matriks adalah sama dengan ordo
matriks yang dijumlahkan.
Perhatikan contoh-contoh berikut untuk lebih memahami penjumlahan matriks.
Contoh 3.3
1. Jika X 1 4 3 dan Y 2 7 6
5 1 8 1 3 5 , maka:
X Y 1 4 3 2 7 6
5 1 8 1 3 5
3 11 9
4 4 13
8 5 6
2. Diketahui matriks M 11 9
7 . kita tunjukkan bahwa M + O = M
12 13 10
dan O + M = M!
Matriks O dalam hal ini adalah matriks nol berordo 3 × 3, karena matriks
tersebut akan dijumlahkan dengan matriks M berordo 3 × 3 juga.
8 5 6 0 0 0 0 0 0 8 5 6
M O 11 9 0 0 O M 0 0 11
7 0 0 9 7
12 13 10 0 0 0 0 0 0 12 13 10
80 50 60 08 05 06
11 0 0 11 0 9
90 7 0 0 7
12 0 13 0 10 0 0 12 0 13 0 10
8 5 6 8 5 6
11 9 11 9
7 M 7 M
12 13 10 12 13 10
3.4.2 Operasi Pengurangan Matriks
Sebagai gambaran awal mengenai operasi pengurangan dua matriks, mari
kita cermati contoh masalah berikut ini.
15
Masalah 3.4
Sebuah pabrik tekstil hendak menyusun tabel aktiva mesin dan
penyusutan mesin selama 1 tahun yang dinilai sama dengan 10% dari
harga perolehan sebagai berikut:
Jenis Aktiva Harga Perolehan Penyusutan Tahun I Harga Baku
(Rp) (Rp) (Rp)
Mesin A 33.000.000 3.300.000
Mesin B 76.000.000 7.600.000
Mesin C 41.000.000 4.100.000
Lengkapilah tabel tersebut dengan menggunakan matriks!
Alternatif Penyelesaian
Misalkan:
33.000.000
Harga perolehan merupakan matriks U 76.000.000
41.000.000
3.300.000
Penyusutan tahun pertama merupakan matriks V 7.600.000
4.100.000
Untuk mencari harga baku pada tabel tersebut adalah
33.000.000 3.300.000 29.700.000
U V 76.000.000 7.600.000 68.400.000
41.000.000 4.100.000 36.900.000
Rumusan penjumlahan dua matriks di atas dapat kita terapkan untuk
memahami konsep pengurangan matriks U dengan matriks V.
16
Misalkan A dan B adalah matriks-matriks berordo m × n. Pengurangan
matriks A dengan matriks B didefinisikan sebagai jumlah antara matriks A
dengan matriks –B. Ingat, Matriks –B adalah lawan dari matriks B. Ditulis:
A – B = A + (–B).
Matriks dalam kurung merupakan matriks yang entrynya berlawanan
dengan setiap entry yang bersesuaian matriks B.
Contoh 3.4
Mari kita cermati contoh berikut ini.
Diketahui matriks-matriks K, L dan M sebagai berikut:
1 3 2 4 2 3 5
K 5 13
7 , L 6 8 , dan M 7 11
9 11 10 12 17 19 23
Jika ada, tentukan pengurangan-pengurangan matriks berikut ini.
a. L-K
b. L-M
c. K-L
Alternatif Penyelesaian
Matriks K dan L memiliki ordo yang sama, yaitu berordo 3 × 2, sedangkan
matriks M berordo 3 × 3. Oleh karena itu, menurut aturan pengurangan dua
matriks, hanya bagian (a) saja yang dapat ditentukan, (b) dan (c) tidak dapat
dioperasikan, (kenapa)?
2 4 1 3 1 1
5 1 1
Jadi, LK 6 8 7
10 12 9 11 1 1
17
Dari pemahaman contoh sebelumnya, pengurangan dua matriks dapat juga
dilakukan dengan mengurangkan langsung entry-entry yang seletak dari kedua
matriks tersebut, seperti yang berlaku pada penjumlahan dua matriks, yaitu:
A B [aij ] bij .
3.4.3 Operasi Perkalian Skalar pada Matriks
Dalam aljabar matriks, bilangan real k sering disebut sebagai skalar.
Oleh karena itu perkalian real terhadap matriks juga disebut sebagai
perkalian skalar dengan matriks.
Sebelumnya, pada kajian pengurangan dua matriks, A – B = A + (–B), (–B)
dalam hal ini sebenarnya hasil kali bilangan –1 dengan semua entry matriks B.
Artinya, matriks (–B) dapat kita tulis sebagai:
–B = k.B, dengan k = –1
Secara umum, perkalian skalar dengan matriks dirumuskan sebagai berikut.
Misalkan A adalah suatu matriks berordo m × n dengan entry-entry aij dan k
adalah suatu bilangan real. Matriks C adalah hasil perkalian bilangan real k
terhadap matriks A, dinotasikan C = k.A, bila matriks C berordo m × n dengan
entry-entrynya ditentukan oleh:
cij k.aij (untuk semua i dan j).
Contoh 3.5
4 9 3 4 39 12 27
a. Jika G 1 7 7 21
maka 3.G 31 3 3 9
8
3 38 33 24
4 8 4 14 1 8 14
4 4 4
1 .U 1 12 1 16 1 8
b. Jika U 12 16 8 maka 4 4 4 4
13 19 10 1 13 1 19 1
4 4
4 10
18
1 2 1
3 4 2
13 19 5
4 4 2
c. Jika S 48 60 72
12 24 36
1 48 1 60 1 72 3 48 3 60 3 72
4 4 4 4 4
1 S 3 S 4 1 24 3 24
4 4
4 4 1 12 1 36 3 12 3 36
4 4 4 4
12 15 18 36 45 54
6 18 27
3 9 9
48 60 72 M
12 24 36
Selanjutnya, untuk M suatu matriks berordo m n, p dan q bilangan real,
tunjukkan bahwa p q M p.M q.M
Silakan diskusikan!
d. Diketahui matriks X 2 3 dan Y 5 6
5 7 8 10 . Jika c 1, maka
c. X Y 2 3 5 6 133 3 3 3
1 5 7 8 10 3 3 3 .
Di sisi lain, jika matriks X dan Y merupakan dua matriks berordo sama, dan c
adalah bilangan real, maka c. X Y c.X c.Y. Tentunya hasil c. X Y
sama dengan c.X c.Y. (Tunjukkan!)
19
12 30 10 1
18 , 2
e. Dengan menggunakan matriks W 0 24 16 r 2, dan s ,
8
6
Kita dapat memahami bahwa:
1 12 30 10 6 15 5
2 24 18 0 12 9
s.W 0 8 16 3 4 8
6
Jika kita mengalikan hasil r dengan s.W , maka kita akan diperoleh:
Karena r dan s adalah skalar, ternyata dengan mengalikan r dengan s
terlebih dahulu, kemudian mengalikannya dengan matriks W, merupakan
langkah lebih efektif untuk menyelesaikan r.(s.W).
Sekarang, untuk matriks M berordo m × n, r dan s adalah skalar anggota
himpunan bilangan real, tunjukkan bahwa: r × (s × Q) = (r × s) × Q.
3.4.4 Operasi Perkalian Dua Matriks
Masalah 3.5
Suatu perusahaan yang bergerak pada bidang jasa akan membuka tiga cabang
besar di pulau Kalimantan, yaitu cabang 1 di kota Samarinda, cabang 2 di kota
Banjarmasin, dan cabang 3 di kota Pontianak. Untuk itu, diperlukan beberapa
peralatan untuk membantu kelancaran usaha jasa tersebut, yaitu handphone,
laptop, dan sepeda motor. Di sisi lain, pihak perusahaan mempertimbangkan
harga per satuan peralatan tersebut. Perusahaaan ingin mengetahui total biaya
pengadaan peralatan tersebut di setiap cabang..Lengkapnya, rincian data
tersebut disajikan sebagai berikut.
HP Laptop Sepeda Harga Laptop : 5 juta
Cabang 1 (unit) (unit) Motor (unit) Harga Handphone : 2 juta
Cabang 2 7 8 3 Harga Sepeda Motor : 15 juta
5 6 2
Cabang 3 4 5 2
20
Alternatif Penyelesaian
Tidaklah sulit menyelesaikan persoalan di atas. Tentunya kamu dapat
menjawabnya. Sekarang, kita akan menyelesaikan masalah tersebut dengan
menggunakan konsep matriks.
7 8 3
Kita misalkan matriks C33 5 6 2 yang merepresentasikan jumlah unit
4 5 2
2
setiap peralatan yang dibutuhkan di setiap cabang dan matriks D31 5
15
yang merepresentasikan harga per unit setiap peralatan.
Untuk menentukan total biaya pengadaan peralatan tersebut di setiap cabang,
kita peroleh sebagai berikut.
Cabang 1
Total biaya = (7 unit handphone × 2 juta) + (8 unit komputer × 5 juta) + (3
unit sepeda motor 15 juta).
= Rp99.000.000,00
Cabang 2
Total biaya = (5 unit handphone × 2 juta) + (6 unit komputer × 5 juta) + (2
unit sepeda motor × 15 juta)
= Rp70.000.000,00
Cabang 3
Total biaya = (4 unit handphone × 2 juta) + (5 unit komputer × 5 juta) + (2
unit sepeda motor × 15 juta)
= Rp63.000.000,00
Jadi total biaya pengadaan peralatan di setiap unit dinyatakan dalam matriks
berikut.
21
99.000.000, 00
E31 70.000.000, 00
63.000.000, 00
Dapat kita cermati dari perkalian di atas, bahwa setiap entry baris pada
matriks C berkorespondensi satu-satu dengan setiap entry kolom pada matriks
D. Seandainya terdapat satu saja entry baris ke-1 pada matriks C tidak
memiliki pasangan dengan entry kolom ke-1 pada matriks D, maka operasi
perkalian terhadap kedua matriks itu tidak dapat dilakukan. Jadi, dapat
disimpulkan operasi perkalian terhadap dua matriks dapat dilakukan jika
banyak baris pada matriks C sama dengan banyak kolom pada matriks D.
Banyak perkalian akan berhenti jika setiap entry baris ke-n pada matriks C
sudah dikalikan dengan setiap entry kolom ke-n pada matriks D.
Secara matematis, kita dapat menyatakan perkalian dua matriks sebagai
berikut. Misalkan matriks Amn dan matriks Bnp , matriks A dapat dikalikan
dengan matriks B jika banyak baris matriks A sama dengan banyak kolom
matriks B. Hasil perkalian matriks A berordo m × n terhadap matriks B
berordo n × p adalah suatu matriks berordo m × p. Proses menentukan entry-
entry hasil perkalian dua matriks dipaparkan sebagai berikut.
a11 a12 a13 a1n b11 b12 b13 b1p
b21 b22 b23
a21 a22 a23 a2 n b2 p
Amn a31 a32 a33 a3n ,dan Bn p b31 b32 b33 b3 p
bn1 bn2 bn3 bnp
am1 am2 am3 amn
Jika C adalah matriks hasil perkalian matriks Amn terhadap matriks Bnp
dan dinotasikan C A.B, maka
Matriks C berordo m × p.
22
Entry-entry matriks C pada baris ke-i dan kolom ke-j, dinotasikan cij,
diperoleh dengan cara mengalikan entry baris ke-i dari matriks A terhadap
entry kolom ke-j dari matriks B, kemudian dijumlahkan. Dinotasikan:
cij ai1b1 j ai2b2 jai3b3 j ainbnj
Mari kita pelajari contoh-contoh di bawah ini, untuk memudahkan kita
mengerti akan konsep di atas!
Contoh 3.6
a11 a12 a13 b11 b12 b13
Diketahui matriks A33 a21 b21
a22 a23 dan B33 b22 b23
a31 a32 a33 b31 b32 b33
Matriks hasil perkalian matriks A dan matriks B:
a11 a12 a13 b11 b12 b13
A.B a21 b21
a22 a23 b22 b23
a31 a32 a33 b31 b32 b33
a11.b11 a12.b21 a13.b31 a11.b12 a12.b22 a13.b32 a11.b13 a12.b23 a13.b33
a21.b12 a22.b22 a23.b32
= a21.b11 a22 .b21 a23.b31 a31.b12 a32.b22 a33.b32 a21.b13 a22 .b23 a23.b33
a31.b11 a32.b21 a33.b31 a31.b13 a32.b23 a33.b33
Sekarang, tentukan hasil perkalian matriks B terhadap matriks A. Kemudian,
simpulkan apakah berlaku atau tidak sifat komutatif pada perkalian matriks?
Berikan alasanmu!
Dari contoh di atas, 1 2
silahkan periksa, apakah matriks 3 4 dapat
5 6
2 3 4
dikalikan terhadap matriks 1 2 0 ? Berikan penjelasanmu!
23
3.4.5 Tranpose Matriks
Misalkan ada perubahan pada posisi entry-entry matriks seperti entry baris
ke-1 pada matriks B menjadi entry kolom ke-1 pada matriks Bt , setiap entry
baris ke-2 pada matriks menjadi entry kolom ke-2 pada matriks Bt , demikian
seterusnya, hingga semua entry baris pada matriks B menjadi entry kolom pada
matriks Bt . Hal inilah yang menjadi aturan menentukan transpose matriks suatu
matriks.
Transpose dari matriks A berordo m × n adalah matriks yang diperoleh dari
matriks A dengan menukar entry baris menjadi entry kolom dan sebaliknya,
sehingga berordo n × m. Notasi transpose matriks Amn adalah Atmn .
Contoh 3.7
15 92 15 23 50
Jika N 23 84 , maka 92 84 76
1. 50 76 Nt
12 15 51 41 12 61 16 81
2. Jika E 61 21 31 14 , maka Et 15 21 18 19
16 18 17 13 51 31 17 91
81 19 91 71 41 14 13 71
Dari pembahasan contoh di atas, dapat kita pahami perubahan ordo matriks.
Misalnya, jika matriks awal berordo m × n, maka transpose matriks berordo n
× m.
Coba kamu pikirkan.
Mungkinkah suatu matriks sama dengan transpose matriksnya sendiri?
Berikan alasanmu!
Periksa apakah (At + Bt) = (A + B)t untuk setiap matriks A dan B berordo
m × n?
24
Uji Kompetensi 3.1
21 27 38
1. Diberikan matriks W 5 9 1
2 3 4
Sebutkan entry matriks yang terletak pada:
a. baris ke-3
b. kolom ke-2
c. baris ke-1 dan kolom ke-3
d. baris ke-2 dan kolom ke-1
2. Diberikan sistem persamaan linear sebagai berikut:
a. 3x1 4x2 2x3 5
b. x1 5x2 2x3 7
c. 2x1 x2 3x3 9
Nyatakanlah
i. matriks koefisien sistem persamaan linear tersebut;
ii. ordo matriks yang terbentuk.
3. Buatlah matriks yang terdiri atas 4 baris dan 5 kolom dengan entrynya adalah
20 bilangan prima yang pertama.
3x 2 2y 4 5 6
4. Diketahui Diketahui matriks A = 5 7 , B = 4x 1 ,C= 7 6
Jika A+B=C, tentukan nilai x dan y!
5. a b 2 3 3a 5 7 3 a 7b
Jika 3b 2b 5 8 5 , maka nilai 5
3 2a 1
adalah…
25
Soal Proyek
Temukan contoh penerapan matriks dalam Ilmu Komputer, bidang Ilmu
Fisika, Kimia, dan Teknologi Farmasi. Selanjutnya coba terapkan berbagai konsep
dan aturan matriks dalam menyusun buku teks di sebuah perpustakaan. Pikirkan
bagaimana susunan buku teks, seperti: buku Matematika, Fisika, Biologi, Kimia,
dan IPS dari berbagai jenisnya (misalnya jenis buku Matematika tersedia buku
Aljabar, Geometri, Statistika, dan lain-lain) tampak pada susunan baris dan kolom
suatu matriks. Kamu dapat membuat pengkodean dari buku-buku tersebut agar
para pembaca dan yang mencari buku tertentu mudah untuk menemukannya.
Buat laporan hasil kerja kelompokmu dan hasilnya disajikan di depan kelas.
3.5. Determinan dan Invers Matriks
3.5.1 Determinan Matriks
Masalah 3.6
Jihan dan teman-temannya makan di kedai dekat sekolah. Mereka memesan
3 mie ayam dan 2 gelas es jeruk di kantin sekolahnya. Tak lama kemudian,
Naya dan teman-temannya datang memesan 5 porsi mie ayam dan 3 gelas es
jeruk. Jihan menantang Andini menentukan harga satu porsi mie ayam dan
harga es jeruk per gelas, jika Jihan harus membayar Rp40.000,00 untuk
semua pesanannya dan Naya harus membayar Rp65.000,00 untuk semua
pesanannya.
26
Alternatif Penyelesaian
Cara I
Petunjuk: Ingat kembali materi sistem persamaan linear yang sudah kamu
pelajari. Buatlah sistem persamaan linear dari masalah tersebut, lalu selesaikan
dengan matriks.
Misalkan x harga mie ayam per porsi
y harga es jeruk per porsi
Sistem persamaan linearnya: 3x 2y 40.000
5x 3y 65.000
Dalam bentuk matriks adalah sebagai berikut.
3 2 x 40.000 (3.1)
5 3 y 65.000
Mengingat kembali bentuk umum persamaan linear.
a1x b1 y c1 a1 b1 x c1
a2 x b2 y c2 a2 b2 y c2
Solusi persamaan tersebut adalah:
x b2.c1 b1.c2 dan y a1.c2 a2.c1 , a1.b2 a2 .b1 (3.2)
a1.b2 a2.b1 a1.b2 a2.b1
Ingat kembali bagaimana menentukan himpunan penyelesain SPLDV.
Tentunya kamu mampu menunjukkannya.
Cara II
Dalam konsep matriks, nilai a1.b2 a2.b1 disebut sebagai determinan matriks
a1 b1 , dinotasikan a1 b1 atau det A, dengan matriks a1 b1 A
b2 a2 b2 a2 b2
a2
Oleh karena itu, nilai x dan y pada persamaan (3.2), dapat ditulis menjadi:
27
c1 b1 a1 c1 (3.3)
x c2 b2 dan y a2 c2
b1 a1 b1
a1 b2 a2 b2
a2
Dengan a1 b1 0.
a2 b2
Kembali ke persamaan (3.1), dengan menerapkan persamaan (3.3), maka
diperoleh:
40.000 2
x 65.000 3 = 120.000 130.000 = 10.000 =10.000
32 9 10 1
53
3 40.000
y 5 65.000 195.000 200.000 5.000 5.000
32 9 10 1
53
Jadi, harga mie ayam satu porsi adalah Rp10.000,00 dan harga es jeruk satu
gelas adalah Rp5.000,00.
Notasi Determinan
Misalkan matriks A a b
c d Determinan dari matriks A dapat dinyatakan
sebagai det A A ab ad bc
cd
3.5.2 Sifat-Sifat Determinan
Misalkan matriks C 2 3 dan matriks D 2 3
1 0
1 0
28
det C C 23 0 3 3
1 0
det D D 2 3 033
1 0
Jadi |C| × |D| = –9
Matriks C D 2 3 2 3
1 0
1 0
7 6
2 3
Dengan demikian
det C D CD 7 6 21 12 2112 9
23
Sifat 3.1
Misalkan matriks A dan B berordo m × m dengan m ∈ N. Jika det A = |A| dan
det B = |B|, maka |AB|= |A|.|B|
Soal Tantangan
Selidiki apakah |A.B.C| = |A|.|B|.|C| untuk setiap matriks-matriks A, B, dan
C berordo n × n.
Jika matriks A adalah matriks persegi dan k adalah skalar, coba telusuri
nilai determinan matriks k.A.s
Contoh 3.9
Matriks S ordo 2 × 2 dengan P a b dimana a, b, c, d ∈ R. Jika determinan
c d
S adalah a, dengan a ∈ R, tentukanlah determinan dari matriks
Q a b dengan x, y ∈ R.
xc sa xd sb
29
Alternatif Penyelesaian
Jika P a b dan determinannya adalah α, maka berlaku
c d ,
a b ad bc
cd
Entry matriks Q memiliki hubungan dengan matriks P, yaitu:
q21 = hasil kali skalar x terhadap p21 - hasil kali skalar s terhadap p11
q22 = hasil kali skalar x terhadap p22 - hasil kali skalar s terhadap p12 .
Tujuan kita sekarang adalah mereduksi matriks Q menjadi kelipatan matriks P.
Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
Q xc a sa b baris1
xd sb baris2
Entry baris 1 matriks Q = entry baris 1 matriks P. Mereduksi dalam hal ini
adalah mengoperasikan entry baris 2 matriks Q menjadi entry baris 2 matriks
P.
Jadi, q21 dapat dioperasikan menjadi: q21 * s.q11 q21 , akibatnya kita
peroleh:
Q a sa b baris1
xc sa xd sb sb baris2
Q a b baris1*
cx dx baris2*
Menurut sifat determinan matriks (silakan minta penjelasan lebih lanjut dari
Guru Matematika), maka:
Q a b a.dx b.cx
cx dx
x a.d b.c
x.
Jadi Q x. .
30
Soal Tantangan
Misal matriks P adalah matriks berordo 3 × 3, dengan | P dan matriks
Q berordo 3 × 3 dan mengikuti pola seperti contoh di atas. Tentukan
determinan matriks Q.
Perhatikan kembali matriks A di atas dan ingat kembali menentukan
transpose sebuah matriks yang sudah dipelajari,
Matriks A 3 4
2 1 dan matriks transpose dari matriks A adalah
At 3 2
4 1
det At At 3 2
3 8 5
4 1
Perhatikan dari hasil perhitungan det A dan det At. Diperoleh det A det At
Sifat 3.2
Misalkan matriks A dan B berordo m × m dengan m ∈ N. Jika det A = |A|
dan det At At |, maka | A At
Coba buktikan sifat berikut setelah kamu mempelajari invers matriks.
Sifat 3.3
Misalkan matriks A dan B berordo m × m dengan m ∈ N.
Jika det A dan det A1 A1 , maka A1 1
A
31
Masalah 3.6
Sebuah perusahaan penerbangan menawarkan perjalanan wisata ke
negara A, perusahaan tersebut mempunyai tiga jenis pesawat yaitu
Airbus 100, Airbus 200, dan Airbus 300. Setiap pesawat dilengkapi
dengan kursi penumpang untuk kelas turis, ekonomi, dan VIP. Jumlah
kursi penumpang dari tiga jenis pesawat tersebut disajikan pada tabel
berikut.
Kategori Airbus 100 Airbus 200 Airbus 300
Kelas Ekonomi 50 75 40
Kelas Bisnis 30 45 25
Kelas Eksekutif 32 50 30
Perusahaan telah mendaftar jumlah penumpang yang mengikuti
perjalanan wisata ke negara C seperti pada tabel berikut.
Kategori Jumlah Penumpang
Kelas Ekonomi 305
Kelas Bisnis 185
Kelas Eksekutif 206
Berapa banyak pesawat yang harus dipersiapkan untuk perjalanan
tersebut?
Alternatif Penyelesaian
Untuk memudahkan kita menyelesaikan masalah ini, kita misalkan:
x = banyaknya pesawat Airbus 100
y = banyaknya pesawat Airbus 200
z = banyaknya pesawat Airbus 300
Sistem persamaan yang terbentuk adalah:
32
50x 75y 40z 305 50 75 40 x 305
30 25 185
30 x 45 y 25z 185 32 45 y
32 x 50 y 30z 50
206 30 z 206
Sebelum ditentukan penyelesaian masalah di atas, terlebih dahulu kita
periksa apakah matriks A adalah matriks nonsingular.
Ada beberapa cara untuk menentukan det A, antara lain Metode Sarrus. Cara
tersebut sebagai berikut.
a11 a12 a13
Misalnya matriks A33 a21 a22 a23 , maka deteminan A adalah:
a31 a32 a33
a11 a12 a13 a11 a12 a13 a11 a12
a21 a22 a23 a21 a22 a23 a21 a22
a31 a32 a33 a31 a32 a33 a31 a32
a11.a22.a33 a12.a23.a31 a13.a21.a32 a31.a22.a13 a32.a23.a11 a33.a21.a12
Untuk matriks pada Masalah 3.7
50 75 40 50 75 40 50 75
30 45 25 30 45 25 30 45
32 50 30 32 50 30 32 50
50 4530 75 2532 403050 32 45 40 50 25 50 30 30 75
100
Analog dengan persamaan (2), kita akan menggunakan determinan matriks
untuk menyelesaikan persoalan di atas.
33
305 75 40
185 45 25
x 206 50 30 300 3
50 75 40 100
185 45 25
32 50 30
50 305 40
30 185 25
y 32 206 30 100 1
50 75 40 100
30 45 25
32 50 30
50 75 305
30 45 185
z 32 50 206 200 2
50 75 40 100
30 45 25
32 50 30
Oleh karena itu, banyak pesawat Airbus 100 yang disediakan sebanyak 3 unit,
banyak pesawat Airbus 200 yang disediakan sebanyak 1 unit, banyak pesawat
Airbus 300 yang disediakan sebanyak 2 unit.
3.5.3 Invers Matriks
Perhatikan Masalah 3.7 di atas. Kamu dapat menyelesaikan masalah
tersebut dengan cara berikut. Perhatikan sistem persamaan linear yang
dinyatakan dalam matriks berikut,
3 2 x 40.000 A.X B X A1.B
5 3 y 65.000
Karena A adalah matriks nonsingular, maka matriks A memiliki invers. Oleh
karena itu, langkah kita lanjutkan menentukan matriks X.
X 1 3 2 40.000
32 5 3 65.000
53
34
X 1 10.000 10.000
1 5.000 5.000
Diperoleh x 10.000 x 10.000, y 5.000
y
5.000
Ditemukan jawaban yang sama dengan cara I. Akan tetapi, perlu
pertimbangan pemilihan cara yang digunakan menyelesaikan persoalannya.
Misalkan A dan B adalah matriks yang memenuhi persamaan berikut
A.X B (1)
Persoalannya adalah bagaimana menentukan matriks X pada persamaan (1)?
Pada teori dasar matriks, bahwa tidak ada operasi pembagian pada matriks
tetapi yang ada adalah invers matriks atau kebalikan matriks.
Misalkan A matriks persegi berordo 2 × 2. A a b
c d . Invers matriks A,
dinotasikan A1 :
A1 a.d 1 b.c d b dengan a.d b.c
c a ,
d b
c a disebut adjoin matriks A dan dinotasikan Adjoin A.
Salah satu sifat invers matriks adalah A1.A A.A1 I
Akibatnya persamaan (1) dapat dimodifikasi menjadi:
A1.A.X A1B (semua ruas dikalikan A1) (2)
A1.A .X A1B
I.X A1B
X A1B (karena I.X X )
35
Rumusan ini berlaku secara umum, dengan syarat det A ≠ 0.
Definisi 3.4
Misalkan A sebuah matriks persegi dengan ordo n × n, n ∈ N
Matriks A disebut matriks nonsingular, apabila det A ≠ 0.
Matriks A disebut matriks singular apabila det A ≠ 0.
disebut invers matriks A jika dan hanya jika
. I adalah matriks identitas perkalian
Masalah 3.7
Agen perjalanan Sumatera Holidays menawarkan paket perjalanan ke
Danau Toba, yaitu menginap di Inna Parapat Hotel, transportasi ke tiap
tempat wisata, dan makan di Singgalang Restaurant. Paket perjalanan
yang ditawarkan yaitu Paket I terdiri 4 malam menginap, 3 tempat
wisata, dan 5 kali makan dengan biaya Rp2.030.000,00. Paket II dengan
3 malam menginap, 4 tempat wisata, dan 7 kali makan dengan biaya
Rp1.790.000,00. Paket III dengan 5 malam menginap, 5 tempat wisata,
dan 4 kali makan dengan biaya Rp2.500.000,00. Berapakah biaya sewa
hotel tiap malam, transportasi, dan makan?
Alternatif Penyelesaian
Misalkan:
x = biaya sewa hotel
y = biaya untuk transportasi
z = biaya makan
Sewa hotel Paket A Paket B Paket C
Transportasi 4 3 5
3 4 5
7 4
Makan 5
Biaya total 2.030.000 1.790.000 2.500.000
36
Dalam bentuk matriks adalah seperti berikut:
4 3 5 x 2.030.000
3 7 y 1.790.000
4
5 5 4 z 2.500.000
a. Determinan untuk matriks masalah 3.7 di atas:
4 3 5 4 3 54 3
A 3 4 7 , maka det A= 3 4 7 3 4
5 5 4
5 5 45 5
(4 4 4) (3 7 5) (5 3 5) (5 4 5) (4 7 5) (3 3 4)
32
2.030.000 3 5
1.790.000 4 7
x 2.500.000 5 4 12.800.000 400.000
435 32
347
554
4 2.030.000 5
3 1.790.000 7
y 5 2.500.000 4 1.920.000 60.000
435 32
347
554
4 3 2.030.000
3 4 1.790.000
z 5 5 2,500.000 1.600.00 50.000
435 32
347
554
Oleh karena itu, biaya sewa hotel tiap malam adalah Rp400.000,00 biaya
transportasi adalah Rp60.000,00 dan biaya makan adalah Rp50.000,00.
37
Cobalah kamu menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menentukan
invers matriks. Mintalah bimbingan dari gurumu.
Metode Kofaktor
Terlebih dahulu kamu memahami tentang minor suatu matriks. Minor suatu
matriks A dilambangkan dengan Mij adalah determinan matriks bagian dari A
yang diperoleh dengan cara menghilangkan entry-entry pada baris ke-i dan
kolom ke-j.
Jika A adalah sebuah matriks persegi berordo n × n, maka minor entry aij
yang dinotasikan dengan Mij , didefinisikan sebagai determinan dari submatriks
A berorde (n – 1) × (n – 1) setelah baris ke-i dan kolom ke-j dihilangkan.
a11 a12 a13
Misalkan matriks A a21
a22 a23
a31 a32 a33
a11 a12 a13
Minor entry a11 adalah determinan a21
a22 a23
a31 a32 a33
sehingga M11 a22 a23
a32 a33
M11, Mi12, M13 , M12, dan M13 merupakan submatriks hasil ekspansi baris ke-1
dari matriks A. Kofaktor suatu entry baris ke-i dan kolom ke-j dari matriks A
dilambangkan:
38
kij (1)i j Mij (1)ij det(Mij )
k11 (1)11 4 7
5 19
4
k12 (1)12 3 7
5 23
4
k13 (1)13 3 4
5 5
5
k21 (1)21 3 5
5 13
4
k22 (1)22 3 5
5 13
4
k23 (1)23 4 3
5 5
5
k31 (1)31 3 5
4 1
7
k32 (1)32 4 5
3 13
7
k33 (1)33 4 3
3 7
4
Dari masalah di atas diperoleh matriks kofaktor A dengan menggunakan
rumus:
a22 a23 a12 a13 a12 a13
a32 a33 a32 a33 a22 a23
a23 a11 a13 a11
K ( A) a21 a33 a31 a33 a21 a13
a31 a22 a11 a12 a11 a23
a32 a31 a32 a21
a21
a31 5 a12
5 a22
7
19 23
9
13 13
1
39
Matriks adjoin dari matriks A adalah transpose dari kofaktor-kofaktor
matriks tersebut, dilambangkan dengan t
Adj A kij yaitu:
,
k11 k12 k13 19 13 1
9 18
Adj A k21 k22 k23 23 5 7
k32 k33 5
k31
Dari masalah di atas, diperoleh invers matriks A. Dengan rumus:
A1 1 Adj A
det A
19 13 1
19 13 1 32 32 32
Sehingga: A1 1 Adj A 1 23 9 13 23 9 13
det 32 5 5 7 32 32 32
A 5 5
32 32
7
32
Berdiskusilah dengan temanmu satu kelompok, coba tunjukkan bahwa
AA1 A1A I , dengan I adalah matriks identitas 3 × 3.
Bentuk matriks permasalahan 3.8 adalah seperti berikut:
4 3 5 x 2.030.000
3 7 y 1.790.000
4
5 5 4 z 2.500.000
Bentuk ini dapat kita nyatakan dalam bentuk persamaan AX = B. Untuk
memperoleh matriks X yang entry-entrynya menyatakan biaya sewa hotel,
biaya transportasi, dan biaya makan, kita kalikan matriks A1 ke ruas kiri dan
ruas kanan persamaan AX = B, sehingga diperoleh:
40
19 13 1
32 32 32 2.030.000
X A1B 23 9 13 1.790.000
32 32 32 2.500.000
5 7
5 32 32
32
400.000
X 60.000
50.000
Hasil yang diperoleh dengan menerapkan cara determinan dan cara invers,
diperoleh hasil yang sama, yaitu; biaya sewa hotel tiap malam adalah
Rp400.000,00; biaya transportasi adalah Rp60.000,00; dan biaya makan adalah
Rp50.000,00.
3.5.4 Sifat-Sifat Invers Matriks
Misalkan matriks A 2 3
1
2
det( A) 2(2) 1(3) 1
A1 1 adj ( A) 1 2 3 2 3 A
det 2 1 2
A 1 1
1 1 2 3 2 3
det A1 1 1 2 1 2
( A1)1 A1
adj A
Perhatikan uraian di atas diperoleh bahwa A1 1 A .
Sifat 3.4
Misalkan matriks A berordo n × n dengan n ∈ N, det(A) ≠ 0. Jika A1
adalah invers matriks A, maka A1 1 A .