The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku berjudul Sahabatku hasil karya bibit penulis Gendis Sewu SDN Airlangga 1/198 Surabaya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tbmkecamatangubeng, 2022-10-03 22:59:52

SAHABATKU

Buku berjudul Sahabatku hasil karya bibit penulis Gendis Sewu SDN Airlangga 1/198 Surabaya

GENDIS SEWU BERKARYA

SAHABATKU

Antologi Cerita Pendek
Bibit Penulis Gendis Sewu Dinas Perpustakaan dan

Kearsipan Kota Surabaya
Bekerja Sama dengan SDN Airlangga I/198 Surabaya

SAHABATKU : Anindita Keizha Zahra, Arfa
Penulis Ramadhan Abdillah, Arifatul
Shidqiyah, dkk.
Desain Sampul
Penyunting : Salsabila Anjar Firhani
: Nesa Karina, Rr. Ika
Penyunting Akhir
Widiastutik, Salsabila Anjar F,
dan Sapto Wicaksono
: Faradila Elifin Malidin, Vivi
Sulviana, Ayu Dewi A.S.N.,
Rici Alric K, dan Vegasari
Yuniati

Diterbitkan pada tahun 2022 oleh
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.
Jalan Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas partisipasi
yang telah diberikan dalam melahirkan 1000 Penulis
dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji selalu kami panjatkan
kepada Allah SWT atas rida-Nya sehingga mampu
menyelesaikan buku ini sebagai bentuk apresiasi
kepada para bibit penulis SDN Airlangga I/198
Surabaya mengikuti Gerakan Melahirkan 1000
Penulis Dan 1000 Pendongeng (Gendis Sewu)
dengan baik dan lancar.

Pada penyusunan buku ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
terkait yang ikut andil menyukseskan, membantu,
mengarahkan, dan membimbing kami.

Kami menghaturkan terima kasih kepada:
1. Mia Santi Dewi, S.H., M.Si. selaku Kepala

Dinas dan Perpustakaan Kota Surabaya
2. Sunardi, S.Pd., M.Pd. selaku Kepala SDN

Airlangga I/198 Surabaya
3. Masfufah Chiptoworohapsari, M.Pd. selaku

Kepala Perpustakaan dan guru SDN
Airlangga I/198 Surabaya

4. Para bibit penulis Gendis sewu SDN
Airlangga I/198 Surabaya

5. Kapten Tim Penulis
6. Editor Tim Penulis
a. Tutor Kelas Reguler Tingkat Kecamatan
Gubeng
b. Editor Area Surabaya Timur
7. Segenap petugas Dinas Perpustakaan Kota

Surabaya
8. Siswa-siswi SDN Airlangga I/198 Surabaya

Buku ini tidak luput dari kekurangan dan
kesalahan. Jika pembaca menemukan kesalahan
apapun, penulis mohon maaf setulusnya. Selalu ada
kesempatan untuk memperbaiki setiap kesalahan,
karena itu, dukungan berupa kritik & saran akan
selalu penulis terima dengan tangan terbuka.

Kami menyadari bahwa sebuah karya
memiliki ketidaksempurnaan. Apabila dalam
penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna dan
masih ada kekurangan maka kami mengharap kritik
dan saran yang bisa membangun dari pembaca
buku ini.

Semoga buku ini menjadi manfaat bagi
perkembangan karya tulis anak bangsa khususnya
di Kota Surabaya dan seluruh Indonesia umumnya.

Surabaya, 2022

Petugas TBM se-Kecamatan Gubeng

KATA SAMBUTAN

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayat-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam
membangun Kota Surabaya yang kita cintai.

Kita patut bangga dan memberi apresiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan
Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit
Pendongeng), para petugas TBM se-Kecamatan
Gubeng yang telah bekerja keras membuat karya
tulis yang berjudul Sahabatku.

Buku para bibit penulis Gendis Sewu
menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas
yang telah melalui proses panjang dan berjenjang
dan merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.

Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi
untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai
kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata,
semoga buku berkarya Gendis Sewu berkarya
dengan judul Sahabatku bermanfaat bagi semua
pihak dan perkembangan para bibit Gendis Sewu.

Surabaya, 2022

Kepala Dinas Perpustakaan dan kearsipan

Kota Surabaya,

Mia Santi Dewi, S.H., M.Si.

SEKAPUR SIRIH

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya

Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah SWT
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
sangat bersyukur atas ke hadirat-Nya, hanya
dengan kemurahan Allah SWT, kami dapat
menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis
Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah
buku antologi cerpen dengan judul Sahabatku.

Buku ini merupakan antologi cerpen
kolaborasi Gendis Sewu dengan SDN Airlangga
I/198 Surabaya. Kolaborasi ini menghasilkan
sepuluh karya tulis cerpen pendampingan petugas
se-Kecamatan Gubeng yang diselenggarakan oleh
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.

Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas.

Taman Kalimas yang merupakan singkatan
dari Tempat Menampung Karya Literasi Masyarakat
memberikan layanan literasi yang di dalamnya
terdapat tiga layanan sekaligus, antara lain layanan
Taman Kalimas Pembelajaran, Taman Kalimas
Karya, dan Taman Kalimas Publikasi.

Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih
dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas berjenjang
dari mulai kelas reguler Taman Kalimas di tingkat
kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan mendapat
reward naik ke kelas khusus minat dan bakat setelah
itu karyanya akan dIbuat dan dipublikasikan.

Saya mengapresiasi kepada para bibit
penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat
literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif
melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain
membaca juga mampu menulis.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada
Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis Dispusip yang
terdiri dari dari para tutor kelas reguler di tingkat
kecamatan, para editor area (Dira), dan para

penyunting akhir hingga buku ini terselesaikan
secara baik.

Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja
para petugas TBM se-Kecamatan Gubeng yang
berkolaborasi dengan SDN Airlangga I/198
Surabaya.

Membangun kota maka perlu disertai
‘membangun’ manusia di dalamnya. Tentu tidaklah
mudah, karena awal membangun sering kali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun
begitu, tetap terus ‘membangun’ karena
‘membangun’ manusia melalui literasi adalah
sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta
kita Kota Surabaya.
Salam Literasi.

Surabaya, 2022

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya

Dani Arijanti, S.E., M.Si.

DAFTAR ISI

Awal Persahabatanku ............................................1
Sahabat Terbaik.....................................................6
Arifa dan Almira....................................................11
Sahabat Lamaku ..................................................14
Aku dan Sahabat Kecilku .....................................19
Bersenang-senang Bersama................................26
Sahabat Waktu Kecil ............................................31
Persahabatan Kancil dan Kura-kura.....................34
Sahabat Terbaik...................................................38
Sahabatku ............................................................44

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Awal Persahabatanku

AWAL PERSAHABATANKU

Oleh Anindita Keizha Zahra

SDN Airlangga I/198 Surabaya merupakan sekolah
terbaikku. Dari sini dimulai kisah dua anak yang tak
saling kenal dan pendiam menjadi akrab dan
bersahabat. Halo semua, perkenalkan namaku
Anindita Keizha Zahra bisa dipanggil Keizha.
Umurku delapan tahun dan aku duduk di kelas tiga.
Hal yang membuatku bahagia saat di sekolah
karena aku bisa bertemu sahabat terbaikku dan
bertemu Bapak dan Ibu Guru untuk mendapatkan
ilmu.

Aku mempunyai sahabat yang baik dan
cantik, walaupun sedikit cerewet, namanya Audrey
Quenabella Hariyono biasa dipanggil Audrey. Dia
adalah anak tunggal dikeluarganya. Dia periang dan
sedikit manja. Aku begitu menyayangi sahabatku
serta bisa bermain dan bercerita bersama. Kami
duduk sebangku dan selalu bersama saat jam

1

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Awal Persahabatanku

istirahat. Dari semua teman-teman di sekolah, yang
paling dekat denganku yaitu Audrey.

***
Pada hari Senin yang cerah, jam masuk
sekolah yang masih beberapa jam lagi. Aku
meminta izin kepada orang tuaku dan orang tua
Audrey untuk bermain ke rumahnya.
“Audrey apakah aku boleh main ke
rumahmu?” tanyaku kepada Audrey.
“Boleh, Keizha. Aku sangat senang kalau kita
bisa bermain bersama,” jawab Audrey.
“Terima kasih, Audrey,” jawabku.
Kami naik sepeda motor menuju rumah
Audrey.
Sampai di rumah Audrey, aku lihat rumahnya
begitu besar dan rapi. Beda sekali dengan rumahku
yang kecil dan sedikit berantakan karena masih ada
adikku yang masih kecil dan suka bermain. Di sana
kami bercerita tentang teman-teman yang ada di
sekolah. Kami juga bermain dan tertawa bersama.
Satu hal lagi yang membuatku bahagia adalah saat
Audrey menunjukkan buku hariannya tertulis ‘Best

2

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Awal Persahabatanku

Friend Forever’ sehingga membuatku terkejut dan
bahagia.

Di sebelah tulisan itu, dia juga menggambar
anime ‘Keizha Love Audrey’. Mulai hari itu kami
mempunyai panggilan sendiri yaitu Bestie.

Tidak terasa tiba waktunya untuk kami
berangkat sekolah. Waktu menunjukkan pukul
11.30, kami mendapat jadwal masuk siang. Kali ini,
kami berangkat bersama diantar oleh mama
Audrey.

“Terima kasih, Tante, sudah diantar,” ucapku
kepada mama Audrey.

“Sama-sama, Keizha,” jawab mama Audrey.
“Akhirnya sampai di sekolah ya, Audrey. Ayo,
kita masuk kelas!” ucapku.
Bel tanda masuk sudah berbunyi. Pak Guru
sebentar lagi akan masuk kelas dan kami segera
bersiap menyambutnya.
“Anak-anak, buka buku tema kalian halaman
25, ya,” ucap Pak Guru.
“Baik, Pak,” seru kami.

3

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Awal Persahabatanku

Saat jam pelajaran berlangsung, aku lihat
sahabatku mengantuk dan kelelahan. Kedua
tangannya memegang kepala dan matanya
terpejam.

“Audrey, ayo bangun! Pelajaran sudah
dimulai. Buka bukumu halaman 25,” ucapku.

“Aku mengantuk Keizha. Tadi malam aku
tidur terlalu malam,” ucap Audrey sambil menguap
beberapa kali.

“Ayo, Audrey bangun! Nanti dimarahi Pak
Guru,” ucapku khawatir ketahuan Pak Guru.

Akhirnya Audrey bangun. Aku merasa lega.
Dari hari ke hari aku bahagia menjalankan
kegiatan di sekolah karena ada sahabatku yang
selalu membuatku ceria. Suatu ketika, dibalik
kebersamaan kami ada pengalaman yang tidak bisa
aku lupakan. Entah ada apa dan kenapa aku tak
tahu, sahabatku Audrey yang sebelumnya sangat
ramah dan baik kepadaku kini sikapnya telah
berubah. Entah kata apa yang aku ucap atau
kesalahan apa yang kuperbuat hingga menyakiti hati
sahabatku.

4

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Awal Persahabatanku

Sampai di rumah, aku tertegun dan melamun
memikirkan berubahnya sikap sahabatku. Aku harus
tahu apa yang membuatnya berubah. Aku ingat saat
kemarin kami berebut buku sampai sampul bukunya
robek. Ternyata keegoisanku yang membuat
sifatnya berubah dan persahabatan kami menjadi
renggang.

Besok pagi saat di sekolah aku mencoba
meminta maaf dan akhirnya kami saling memaafkan
dan berbaikan. Ibuku selalu berpesan ‘Jagalah
pertemanan, hidangkan kejujuran, jangan ada
penghianatan, dan selalu belajar memaafkan’.

5

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik

SAHABAT TERBAIK

Oleh Arfa Ramadhan Abdillah

Persahabatan bukan hanya sebuah kata, yang
ditulis pada selembar kertas dan tak bermakna.
Persahabatan merupakan ikatan suci yang ditoreh
dalam hati. Ditulis dengan tinta kasih sayang yang
tak akan pernah terhapuskan bersama dengan
tetesan darah dan nyawa.

***
Aku punya seorang sahabat bernama Riski.
Kami berteman sejak kecil karena dia adalah
tetanggaku. Kami sering bermain bersama sepulang
sekolah. Seperti biasa, hari ini aku pergi
mengunjungi rumah Riski untuk mengajaknya
bermain.
“Riski cepat ke sini! Aku ada sesuatu
buatmu,” teriakku kepada Riski.
“Iya sebentar, sabar sedikit dong!” jawab
Riski dari dalam rumahnya.
“Riski, main yuk!” ajakku lagi.

6

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik

Riski pun keluar dari rumahnya. Kami pun
merencanakan kegiatan yang akan dilakukan
bersama. Tak berapa lama, kami pun sepakat untuk
pergi memancing. Kami bersepeda menuju sawah
dan memancing bersama di sungai. Selang
beberapa menit, aku mendapatkan ikan.

“Riski … aku dapat ikan!” teriakku.
“Wah kamu curang … kok kamu bisa dapat
ikan sih?” kata Riski yang tampak iri dengan hasil
tangkapanku.
“Sabar, aja. Nanti kamu pasti dapat kok,”
jawabku.
“Iya, deh," ucap Riski dengan sedikit kesal.
“Kamu kok terlihat marah sih?” tanyaku.
“Tidak kok,” jawab Riski.
Lama menunggu, Riski tak kunjung
mendapatkan ikan. Akhirnya kami memutuskan
untuk segera pulang karena hari menjelang sore.
Kami menyusuri sawah sembari menuntun
sepeda. Setiba di rumah Riski, dia segera meminta
bantuan ayahnya untuk mempersiapkan alat bakar.
Kami berdua pun menikmati malam di halaman

7

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik

belakang rumah Riski sambil menyantap ikan bakar
yang sangat lezat. Merasa puas, Riski mengajakku
untuk memancing lagi keesokan harinya. Dia
berjanji tidak akan marah lagi jika tidak
mendapatkan ikan.

Keesokan harinya, kami pergi memancing
lagi di sungai yang sama seperti kemarin. Kami
berdua mulai memancing di bawah terik matahari.
Setengah jam berlalu, aku mendapatkan ikan lagi.

“Hore aku dapat ikan lagi! Lebih besar dari
yang kemarin loh!” teriakku senang.

“Ih kamu curang! Kamu lagi yang dapat ikan!”
ucap Riski sambil menatapku dengan kesal.

“Loh kok kamu marah sih? Kemarin kamu
sudah janji tidak akan marah lagi, kalau tidak dapat
ikan,” jawabku dengan nada agak tinggi.

“Sudahlah, aku mau pulang saja! Aku tidak
mau main lagi sama kamu,” ucap Riski marah dan
berlari pergi meninggalkanku.

Aku pun segera menyusulnya, tetapi dia
menghilang karena berlari secepat kilat. Aku merasa
kecewa dengan sikap Riski yang menyebalkan.

8

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik

Padahal dia sendiri yang berjanji untuk tidak marah.

Dia mengingkari janjinya hanya karena iri denganku.

Aku pun berniat untuk tidak menyapanya terlebih

dahulu jika kami tidak sengaja bertemu.

***

Beberapa hari berlalu, kami juga tidak saling

sapa. Namun, jujur saja aku rindu bermain dengan

Riski. Saat ini aku hanya bisa melamun di kamar.

Aku sangat kesepian karena dia satu-satunya

sahabatku di rumah. Aku berharap dia segera

menyadari kesalahannya dan meminta maaf

padaku.

Tidak lama kemudian aku mendengar suara

anak laki-laki yang sangat tak asing. Aku langsung

berlari ke luar rumah. Itu suara Riski.
“Arfa ngaji, yuk!” teriak Riski
“Loh, katanya kamu marah dan enggan main

sama aku?” tanyaku pada Riski.

“Hehe … iya, Arfa. Aku minta maaf ya karena
sudah egois dan marah sama kamu,” jawab Riski.

“Iya, Riski. Tenang saja karena aku pasti

memaafkanmu karena kamu adalah

9

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik

sahabat terbaikku. Aku kesepian jika tak main
bersamamu,” jelasku pada Riski.

Akhirnya kami pun pergi bermain bersama.
Kami pun berteman kembali.

10

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Arifa dan Almira

ARIFA DAN ALMIRA

Oleh Arifatul Shidqiyah

Namaku Arifa, sejak kecil aku tinggal di Surabaya
bersama kedua orang tuaku. Aku mempunyai
banyak teman baik di rumah maupun di sekolah.
Sahabatku bernama Almira, dia anak yang periang,
pintar, dan yang pasti selalu baik.

Meskipun aku dan Almira tidak satu sekolah,
kami selalu belajar dan bermain bersama. Rumah
Almira sangat dekat dengan rumahku. Kedua orang
tua kami juga sudah saling kenal. Keluarga kami
sudah seperti saudara.

“Arifaaaa …,” panggil Almira yang sudah
berada di depan rumahku

“Hai, Almira. Ayo masuk ke rumahku! Jangan
cuma teriak-teriak saja,” jawabku sambil
menggandengnya masuk ke dalam rumah.

Almira pun masuk dan aku mengajaknya ke
kamarku. Di dalam kamar kami bermain, bercanda,
dan juga bercerita bersama. Kami selalu

11

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Arifa dan Almira

menghabiskan waktu bersama di siang hari.
Akhirnya kami pun berbincang-bincang.

“Arifa, tadi malam aku diberitahu kedua orang
tuaku sesuatu,” Almira mulai bercerita.

“Orang tuamu memberi tahu apa, Almira?”
tanyaku penasaran.

“Aku akan pindah ke luar kota satu bulan lagi,
Arifa,” ucap penjelasan Almira dengan wajah yang
sedih.

“Loh, kenapa mendadak pindahnya?”
tanyaku.

“Ayahku dipindah tugas ke luar kota,” jawab
Almira.

Aku pun langsung memeluk Almira sambil
berkata

“Almiraaaa … kita akan berpisah sebentar
lagi.”

Aku dan Almira baru berteman selama lima
tahun, tetapi kami sudah mau berpisah. Aku sangat
sedih mendengar kabar yang baru saja Almira
ceritakan. Almira akan pindah ke Kota Malang,
mengikuti kedua orang tuanya yang pindah tugas.

12

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Arifa dan Almira

Aku tidak bisa bermain dan bercanda setiap hari
dengan sahabatku. Aku pun merasa sangat
kehilangan.

***
Satu bulan kemudian, Almira dan
keluarganya berpamitan dengan keluargaku. Aku
sangat sedih sekali, kami pun saling bersalaman
dan berpelukan. Aku pun memeluk Almira dengan
erat.
“Arifa, kalau libur sekolah main ke Malang,
ya! Jangan sedih dong nanti aku ikutan sedih,” kata
Almira.
“Iya, Almira. Aku pasti akan main ke Malang
kalau liburan sekolah nanti,” jawabku.
“Iya ‘kan, Bu? Kita akan ke rumah Almira
yang ada di Malang,” tanyaku kepada ibu.
“Tentu saja kita akan berkunjung ke sana,”
jawab ibu.

13

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Lamaku

SAHABAT LAMAKU

Oleh Aryasatya Naryama Aksani

Saat kecil, aku mempunyai sahabat bernama Tama
dan Vino. Mereka adalah teman setia dan terbaikku.
Teman pertama yang kutemui pada saat aku pindah
ke rumah baru. Kami bertemu pada acara
tasyakuran rumah baru. Banyak orang yang
menyambut keluargaku dengan hangat. Pada saat
itulah aku berkenalan dengan Tama dan juga Vino.

"Halo, perkenalkan aku Satya. Namamu
siapa?" tanyaku kepada Tama.

"Halo Satya, perkenalkan namaku Tama dan
ini temanku, Vino," jawab Tama.

"Halo Satya, namaku Vino,” sapa Vino
padaku.

Kami pun bermain sesaat setelah
berkenalan. Meskipun baru mengenal, tetapi kami
sudah sangat akrab. Tama mengajakku untuk
berkeliling kampung. Setelah keliling kampung, dia
juga mengajakku bermain di rumahnya bersama
Vino. Kami bertiga bermain mobil-mobilan, puzzle,

14

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Lamaku

dan masih banyak permainan lainnya. Setelah
bermain di rumah Tama, kami pun lanjut bermain
sepak bola di halaman depan rumahku. Hari mulai
senja, kami segera pulang ke rumah masing-
masing. Sungguh menyenangkan sekali bermain
bersama teman baruku.

Berjalannya waktu, kami pun menjadi
sahabat yang sangat akrab. Pada bulan puasa,
biasanya kami pergi ke masjid untuk mengikuti
ibadah salat berjamaah. Setelah salat, kami bermain
di lapangan untuk ngabuburit dan dilanjutkan
dengan mencari takjil bersama. Banyak hal yang
kami lakukan bersama seperti belajar dan bermain.
Kami selalu melakukannya bersama karena rumah
kami berdekatan.

Memasuki hari Kemerdekaan Indonesia,
kami sempat merayakannya bersama. Mengikuti
lomba 17 Agustus yang meriah, kerja bakti
membersihkan kampung, mengecat, dan masih
banyak hal seru lainnya.

15

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Lamaku

Namun, suatu ketika kami bertengkar karena
saat bermain bola timku menang mencetak gol,
sedangkan tim Tama dan Vino kalah.

“Ah, kenapa kita kalah!" ucap Tama kepada
Vino.

"Iya, padahal seharusnya kita yang menang
karena mereka sepertinya berbuat curang,” jawab
Vino.

“Ya sudah, kita tidak usah berteman dengan
Satya lagi,” kata Tama.

"Iya aku juga tidak mau berteman dengan
Satya,” jawab Vino.

"Kenapa kalian marah padaku?” tanyaku
pada mereka tapi tak dihiraukan.

“Apakah kalian marah karena timku berbuat
curang?" tanyaku lagi.

Tama dan Vino tidak menghiraukanku dan
segera kembali ke rumah.

Waktu pun menjelang malam, aku
memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Aku
sangat kecewa dan sedih karena mereka tak mau
berteman denganku lagi. Setelah beberapa lama

16

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Lamaku

kami tidak saling bertegur sapa, akhirnya mereka
datang dan meminta maaf padaku.

"Satya maafkan kami, ya. Kami berbuat salah
kepadamu,” ucap Tama meminta maaf.

"Iya, aku juga minta maaf jika berbuat salah
kepada kalian,” jawabku.

“Iya kami juga memaafkanmu, Satya,” ucap
Vino.

Setelah saling memaafkan, kami pun
berteman kembali dan bermain seperti biasa. Tak
terasa hampir satu tahun bersama, aku harus pamit
kepada Tama dan Vino. Kami harus terpisah karena
aku harus pindah rumah.

“Tama, Vino, kita harus bertukar nomor
telepon agar bisa saling berkabar meskipun aku
sudah pindah rumah,” pintaku.

“Oke setelah pindah rumah jangan lupa main
ke rumahku, ya. Kita main lagi bersama Vino,” ucap
Tama.

"Iya nanti kita main bersama lagi, Satya," kata
Vino.

17

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Lamaku

"Oke aku pergi dulu, sampai jumpa teman-
teman," ucapku sembari melambaikan tangan.

"Sampai jumpa, Satya," ucap Tama dan Vino
serentak.

18

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

AKU DAN SAHABAT KECILKU

Oleh Audrey Quinabelle Savira Hariyono

Hai, namaku Audrey, umurku sembilan tahun. Saat
ini aku tinggal di kota Surabaya dan bersekolah di
SDN Airlangga I/198 Surabaya. Setelah hampir dua
tahun sekolah dengan metode daring. Akhirnya aku
bisa merasakan sekolah di bangku SD secara
langsung atau yang biasa disebut dengan dengan
PTM (Pembelajaran Tatap Muka). Aku sangat
senang dan semakin bersemangat untuk sekolah.

Aku duduk dibangku kelas tiga dan
berkenalan dengan sahabatku yang bernama
Keizha. Keizha adalah teman sekelasku yang
perawakan tubuhnya lebih kecil. Aku sudah
mengenalinya sejak setahun yang lalu. Cerita awal
aku berkenalan dengan Keizha juga tidak akan
pernah kulupakan.

Saat itu, di kelas sedang pelajaran Bahasa
Indonesia. Anak yang duduk di sebelahku menyapa.

“Hai, namaku Keizha, nama kamu siapa?”

19

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

Setengah kaget dan agak malu-malu, aku
menjawab, “Hallo, aku Audrey.”

Aku senang karena mempunyai teman
lagi. Tidak lama kemudian, aku mendengar ada
yang memanggilku dan Keizha,

“Audrey, Keizha sekarang coba kalian baca
dan pelajari dongeng ular dan tikus di halaman tiga.
Audrey menjadi tikus dan Keizha menjadi ular, ya,”

“Baik, Pak Yusuf,” jawabku dan Keizha
kompak.

Sejak saat itu kami jadi saling mengenal,
berteman dekat dan akhirnya bersahabat sampai
saat ini.

Kami mempunyai mata pelajaran favorit yang
sama, yaitu Bahasa Inggris. Selain itu, kami juga
mempunyai hobi yang sama yaitu membuat konten
Youtube. Dari hobi dan pelajaran yang kami sukai
bersama, kami saling mengenal dan bersaing.

Saat nilai ulangan Keizha lebih bagus dariku,
aku menjadi semakin bersemangat untuk belajar
agar bisa mengalahkan Keizha. Begitu juga dengan
Keizha, dia juga semakin rajin belajar saat aku bisa

20

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

mengalahkan nilainya. Meskipun kami saling
bersaing dalam bidang pelajaran, kami juga tetap
bermain dan belajar bersama.

***
Suatu hari sebelum pelajaran dimulai, aku
mengajak Keizha pergi ke kantin.
“Keizha, temenin aku ke kantin. Aku ingin
membeli donat keju.”
“Ayo, Audrey! Aku juga mau membeli
burger,” jawab Keizha.
Kami berdua langsung berjalan bersama
menuju kantin membeli burger dan donat keju.
Setelah membeli jajanan di kantin, aku dan Keizha
makan bersama sambil bersenda gurau di taman
kura-kura.
Taman kura-kura adalah salah satu tempat
favoritku dan Keizha untuk menghabiskan waktu. Di
sana aku dan Keizha bisa saling bercerita,
bercanda, bermain, dan menikmati makanan atau
jajanan yang kami beli di kantin atau bekal dari
rumah.

21

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

Pada waktu jam istirahat, aku dan Keizha
sedang menikmati jajanan. Pak Yusuf lewat di
depanku dan Keizha, beliau sudah mau masuk ke
dalam kelas. Spontan, aku dan Keizha saling melirik
dan panik hingga akhirnya kami langsung lari
terburu-buru ke dalam kelas. Beruntungnya, kami
sampai lebih dulu di kelas daripada Pak Yusuf.
Walaupun nafas kami berdua jadi terengah-engah.

Menurutku, Keizha adalah sahabatku yang
baik hati. Meskipun sering berdebat dan bersaing,
tetapi kami juga saling memberi semangat satu
sama lain. Seperti saat Keizha memenangkan
lomba mewarnai juara pertama di sekolah kami. Aku
dengan senang hati memberikan ucapan selamat
kepadanya.

“Wah, selamat ya Keizha. Kamu memang
hebat,” pujiku kepada Keizha.

“Terima kasih, Audrey. Kamu juga tetap
semangat walaupun kamu tidak juara, tetapi kamu
juga hebat,” ucap Keizha sambil memelukku.

22

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

Begitulah persahabatan kami. Aku dan
Keizha saling mendukung dan menyayangi satu
sama lain.

Persahabatanku dengan Keizha juga tidak
hanya bersenang-senang, kami juga pernah saling
berdebat dan bertengkar. Aku ingat ketika itu aku
dan Keizha bertengkar karena memperebutkan
buku cerita berjudul ‘Chelsea Si Peri Keci’ di
perpustakaan. Sebenarnya aku yang terlebih dahulu
menemukan buku yang sangat menarik itu, tetapi
Keizha sepertinya juga tertarik dengan buku
tersebut.

“Keizha, lihat buku ini. Judulnya ‘Chelsea Si
Peri Kecil’ sepertinya ceritanya bagus dan menarik,”
ucapku pada Keizha ketika itu.

Kemudian Keizha menarik buku itu lebih
dekat.

“Iya, Audrey. Sepertinya buku ini bagus
ceritanya, aku pinjam dulu ya,”

Aku meminjamkan buku itu terlebih dahulu
kepada Keizha untuk dibaca di perpustakaan.

Namun, Keizha menolak.

23

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

“Enggak, Audrey. Aku mau pinjam buku ini
untuk kubaca di rumah.”

Akupun menolak keinginan Keizha.
“Jangan, kamu bacanya di sini saja. Tadi aku
yang terlebih dulu menemukan buku ini.”
Keizha kelihatannya tidak suka dengan
jawabanku, karena setelah itu dia pergi
meninggalkanku yang terdiam di perpustakaan. Aku
pun kecewa dan sedih saat melihat Keizha pergi
meninggalkanku. Akhirnya kami pun bertengkar
karena buku cerita. Padahal sebenarnya kami tetap
bisa membaca buku itu bersama-sama. Namun,
pertengkaran kami tidak berlangsung lama, karena
besoknya kami saling meminta maaf dan berbaikan
lagi.
Dari bermacam-macam kejadian yang terjadi
selama ini antara aku dan Keizha, kami pun menjadi
sahabat yang semakin dekat. Bagiku Keizha adalah
seorang sahabat yang terbaik dan dapat
kuandalkan. Bagiku sahabat adalah seorang teman
yang akan selalu ada untukku, baik saat aku senang
ataupun sedih. Begitu juga aku berjanji akan selalu

24

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

ada saat Keizha senang dan sedih. Sebagai sahabat
yang baik kami juga harus saling mendukung dan
menyayangi satu sama lain agar maju dan menjadi
lebih baik.

25

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

BERSENANG-SENANG BERSAMA

Oleh Calista Ellysia

Di suatu pagi aku sedang berada di taman bersama
Kheylla. Kheylla adalah teman terbaikku, dia selalu
menemaniku di setiap waktu. Tak lama kemudian
sahabatku yang lain juga datang karena kemarin
sudah sepakat untuk bertemu di taman.

“Halo, Kheylla dan Calista!” sapa Andrew.
“Halo, Dara, Andrew, dan Bima,” jawab
Kheylla.
“Kalian tahu kenapa hari ini sangat
menyenangkan?” tanya Dara dengan semangat.
“Hari kemerdekaan! Aku senang sekali,”
jawabku.
“Ya! Itu sebabnya kita libur sekolah,” jawab
Andrew.
“Tetapi kita seharusnya bersenang-senang di
hari spesial ini,” kata Bima.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya
Dara kembali.

26

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

Teman-temanku berpikir apa yang harus
kami lakukan di hari libur ini. Kami terdiam cukup
lama hanya untuk memikirkannya. Aku menemukan
sebuah ide.

Kenapa aku tidak mengajak mereka untuk
berkemah saja? batinku.

Aku berpikir teman-temanku suka bertualang
dan hal-hal menantang. Dara dan Kheylla menyukai
alam bebas, seperti mendaki gunung dan berenang
di sungai. Sedangkan Bima dan Andrew suka
memancing dan berpesta.

Setelah aku memberitahu mereka mengenai
ide spontanku. Mereka langsung menyetujuinya.
Terlihat dari ekspresinya yang sangat ceria.

“Wah, itu ide yang bagus, Calista!” seru
mereka bersamaan.

“Tetapi, kalau berkemah kita tidak bisa
berangkat sekarang. Idenya terlalu mendadak,”
ucap Andrew.

“Benar, aku harus meminta izin kepada
Mama terlebih dahulu,” sambungku.

27

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

Kami pun sepakat untuk berkemah di hari
Minggu saja dan meminta izin kepada orang tua
terlebih dahulu.

Pada hari Sabtu malam sebelum
keberangkatan, aku menyiapkan keperluan yang
akan dibawa saat berkemah.

“Bawa seperlunya saja, Nak. Mama juga
bawa seperlunya saja kok,” ucap Mama
menghampiriku.

“Mama juga ikut?” tanyaku.
“Tentu saja, kalau Mama tidak ikut siapa yang
menjagamu? Tenang saja orang tua dari semua
sahabatmu akan datang juga,” kata Mama.
Ternyata para orang tua sudah berkoordinasi
satu sama lain tentang ide berkemah kami. Aku
sangat senang.
Keesokan harinya, aku bangun pagi sekali
dan bersiap-siap karena sudah tidak sabar untuk
pergi berkemah.
TOK … TOK … TOK ….
Terdengar suara ketukan pintu. Segera aku
bergegas membukakan pintu.

28

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

“Selamat pagi, Calista,”sapa Bima.
“Kami datang untuk sarapan bersama.
Apakah kamu mau ikut dengan kami?” tanya Dara.
“Dengan senang hati,” jawabku.
Anehnya bagaimana mereka bisa tahu kalau
aku belum makan. Akhirnya aku dan semua
sahabatku makan bersama. Mereka sangat
menyayangi dan perhatian padaku. Mereka juga
suka menolong dan saling menghargai satu sama
lain.
“Apa semua sudah siap?” tanya ayah Andrew
dengan semangat.
“Siap!” jawab semuanya.
Dalam perjalanan menuju tempat berkemah,
kami bermain bersama supaya tidak bosan. Kami
bermain tebak-tebakan. Perjalanan panjang pun
tidak begitu terasa, karena permainannya sangat
seru dan menyenangkan.
Sesampai di tempat berkemah, kami segera
memasang tenda dan menyiapkan segala
sesuatunya. Pada siang hari, kami bermain di
sungai dan memancing ikan. Pada malam hari kami

29

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Bersenang-senang Bersama

bersenang-senang, membakar marshmallow,
berpesta bayangan, dan banyak hal lain yang kami
lakukan. Tak lupa juga, kami berfoto bersama
sebagai kenang-kenangan.

Hanya sahabatku yang tahu tentangku,
mereka yang selalu setia menemani hari-hariku. Aku
sayang mereka semua.

30

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Waktu Kecil

SAHABAT WAKTU KECIL

Oleh Helmi Asyraf

Namaku Asyraf dari Jawa, tepatnya Kota Surabaya.
Aku bersekolah di SDN Airlangga I/198 Surabaya.
Aku memiliki beberapa sahabat yang aku kenal
sejak Taman Kanak-kanak (TK). Mereka berasal
dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Ada
yang berasal dari Jawa bernama Danish dan Fadel,
dari Bali bernama Mey, sedangkan Clara berasal
dari Ambon.

Aku sangat senang memiliki sahabat seperti
mereka. Kami selalu belajar bersama saat di
sekolah, jam istirahat pun kami bermain bersama.
Dua tahun lamanya kami selalu membuat suasana
sekolah penuh dengan kegembiraan dan keceriaan.

Setelah lulus TK, aku dan sahabatku
melanjutkan sekolah dasar yang berbeda sekolah.
Clara bersekolah di Ambon, dia adalah anak yang
sangat ceria. Fadel bersekolah di Malang, dia
merupakan anak yang tegas dan kuat. Sedangkan

31

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Waktu Kecil

Aku, Mey, dan Danish bersekolah di Surabaya,
tetapi tidak satu sekolah. Danish dan Mey anak yang
periang serta penyayang.

Namun sekarang, aku tidak bisa lagi
berjumpa dengan sahabatku, tetapi rasa
persahabatan kami tidak pernah hilang. Aku dan
sahabatku sering memberi kabar melalui pesan
WhatsApp atau langsung berbicara melalui telepon
seluler. Sehingga kami tidak merasa kehilangan
satu sama lain.

***
Suatu hari sahabatku Fadel datang dari
Malang. Fadel berkunjung ke rumah neneknya yang
ada di Surabaya. Aku sangat bahagia mendengar
kabar tersebut. Fadel menghubungiku dan sahabat
yang tinggal di Surabaya.
Pada hari Sabtu, kami bertemu di taman
tengah kota, lebih tepatnya di Alun-Alun Kota
Surabaya. Danish dan aku yang pertama datang,
kemudian disusul oleh Fadel dan Mey.
“Hai Fadel dan Mey, bagaimana kabar
kalian?” sapaku bersama Danish.

32

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Waktu Kecil

Fadel dan Mey pun membalas sapaan kami.
“Hai juga Asyraf dan Danish. Kabar kita baik
dan sehat, kalian bagaimana?”.
“Kita juga sehat-sehat semua,” jawabku.
Setelah semua berkumpul, kami segera
membuka perbekalan yang sudah disiapkan oleh ibu
kami masing-masing. Kami pun berbincang,
bermain tebak kata, dan makan bekal bersama-
sama. Pada saat kami makan bersama, kami
berbagi cerita pengalaman di sekolah yang baru.
Hari sudah mulai siang, kami pun bergegas
untuk pulang ke rumah. Kami sangat bahagia,
meskipun kami berbeda ras, suku, tempat tinggal,
dan sekolah tetapi tetap bisa saling menjaga
persahabatan. Aku dan teman-teman akan menjaga
persahabatan ini dengan selalu bersikap saling
menghormati dan menghargai perbedaan yang ada
diantara kami.

33

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Persahabatan Kancil dan Kura-kura

PERSAHABATAN KANCIL DAN KURA-
KURA

Oleh Ivana Jessline Kyla

Pada suatu hari, hiduplah seekor Kancil dan Kura-
kura di sebuah hutan yang indah dan damai. Hutan
tersebut bernama Estalovana. Kancil merupakan
pribadi yang baik, penyayang, cerdik, dan bijaksana.
Sedangkan, Kura-kura memiliki sifat pembual dan
sombong, meskipun demikian Kura-kura merupakan
hewan yang baik.

Pagi itu, terlihat Kura-kura sedang bersantai
di tepi sungai. Kancil yang kebetulan lewat,
menyapa sahabatnya dengan ramah.

“Hai, Kura-kura kamu kemana saja? Sudah
beberapa hari ini aku tidak melihatmu di hutan ini,”
tanya Kancil.

“Hai Kancil, beberapa hari ini aku pergi ke
desa di tepi hutan. Di sana, aku bertemu dengan
manusia.”

Kancil terdiam dan mendengarkan cerita
sahabatnya dengan seksama.

34

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Persahabatan Kancil dan Kura-kura

“Wah, Kura-kura benarkah kau bertemu
manusia? Lalu apakah yang dilakukan manusia itu
kepadamu, sahabatku?”

Kemudian dengan lantang Kura-kura
menjawab pertanyaan dari Kancil.

“Benar sahabatku, aku bertemu manusia
yang sangat baik dan memberiku makanan.”

Tanpa sengaja Kancil memperhatikan kaki
Kura-kura yang terluka.

“Mengapa kakimu terluka sahabatku?”
“Kakiku terluka karena terpeleset di bebatuan
kemarin,” kata Kura-kura gugup.
Bergegas Kura-kura berusaha menutupi
kakinya dengan cara memasukkan ke dalam
tempurungnya.
Di sepanjang jalan, Kancil memikirkan
percakapannya tadi dengan sahabatnya. Kancil pun
bertekad untuk pergi ke desa itu esok hari.
Pagi-pagi sekali Kancil berjalan menuju desa
itu. Sepanjang jalan, Kancil bernyanyi dengan
gembira, tetapi terdengar bunyi sesuatu.
SREEEK .…

35

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Persahabatan Kancil dan Kura-kura

“Aduh… kakiku,” teriak kancil.
Terlihat kaki Kancil terikat jerat tali yang
dipasang oleh seorang pemburu. Tak lama
kemudian, muncullah seorang pemburu yang
memegang parang dan senapan. Pemburu berjalan
mendekati Kancil.
Kancil memejamkan kedua matanya dan
menahan napasnya. Rupanya Kancil berpura-pura
mati. Pemburu yang mengira Kancil mati pun
memotong tali jerat itu. Kancil yang sadar karena
kakinya sudah dilepas, akhirnya bergegas lari
sekencang-kencangnya masuk ke dalam hutan.
Sampai di dalam hutan, Kancil bertemu
dengan Kura-kura.
Kura-kura yang melihat kancil berlari dari
kejauhan, berteriak memanggil Kancil.
“Hai Kancil … apa yang terjadi denganmu?”
Kancil pun menghentikan larinya. Kancil
bercerita kepada Kura-kura bahwa ia bertemu
manusia yang ternyata manusia itu adalah pemburu.
Kura-kura pun terkejut dan bertanya kepada
Kancil.

36

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Persahabatan Kancil dan Kura-kura

“Apakah kamu pergi ke tepi hutan karena
mendengar ceritaku?”

“Iya benar Kura-kura,” jawab Kancil.
Mendengar penjelasan Kancil, Kura-kura
menjadi sedih karena bualannya membuat
sahabatnya terluka. Kura-kura bergegas meminta
maaf kepada Kancil.
“Maafkan aku Kancil, karena bualanku
hampir membuatmu celaka. Aku berjanji tidak akan
pernah membual lagi dan tidak berkata bohong pada
siapa pun.”
Kancil pun memaafkan Kura-kura. Sejak hari
ini mereka tidak berani lagi pergi keluar hutan itu
sendiri.

37

Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik

SAHABAT TERBAIK

Oleh Kanaya Choir El Setavia

“Hoam … nyenyak sekali tidurku,” ujarku
riang sambil menguap.

Aku melangkahkan kaki untuk membuka
jendela kamar.

KRIIIIEEEEK ….
Aku membuka jendela kamar agar sinar
matahari dan udara segar bisa masuk ke dalam
kamar. Kamarku pun langsung terasa hangat dan
segar. Aku segera mengambil handuk dan bergegas
mandi. Setelah mandi badanku terasa sangat segar,
aku pun mengambil handphone dan mengirim pesan
kepada teman-teman.

38


Click to View FlipBook Version