Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik
Dunia Seru (grup Whatsapp)
Aku
Hai teman-teman
Dinda Aku
Hai juga. Ketemuan, yuk!
Risky Aku
Di mana? Tentu saja bisa
Rion
Di lapangan kompleks seperti biasa saja, bisa ‘kan?
Dinda
Oke …
Setelah sibuk mengirim pesan ke teman-
teman, aku mendengar suara yang tak asing dari
dalam kamar memanggilku.
“Dik, ayo turun. Makan!” teriak mas Raka
nyaring.
“Iya, Mas. Aku mau turun kok,” teriakku tak
kalah nyaring.
39
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik
DRUK … DRUK … DRUK ….
Aku pun segera turun menuju ke ruang
makan yang ada di lantai bawah.
“Nih, makanannya sudah siap.”
Mas Raka menunjuk ke arah makanan yang
sudah disiapkan oleh bunda.
“Hus … tidak boleh menunjuk-nunjuk
makanan,” ujarku pelan kepada mas Raka.
“Mas Rehan mana, ya?” tanyaku sambil
celingukan mencari mas Rehan.
“Mas Rehan ada di gudang,” jawab bunda.
“Ayo cepat makan supnya! Nanti keburu
dingin,” perintah bunda.
“Iya, Bunda. Aku boleh enggak main sama
teman–teman di lapangan kompleks?” tanyaku
setengah merajuk.
“Tentu saja boleh, Sayang,” ujar Bunda
sambil tersenyum.
“Horeee …,” ujarku sambil melompat
kegirangan.
Aku pun bergegas menyelesaikan
sarapanku. Tak butuh waktu lama aku pun sudah
40
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik
siap dengan tas kecil yang menempel di
punggungku. Aku pun berangkat dengan berjalan
kaki. Sesampai di depan rumah Rion, kami
berangkat bersama menuju lapangan. Tidak butuh
waktu lama, akhirnya sampai juga di lapangan
kompleks. Terlihat Azam, Rizky, dan yang lainnya
sudah menunggu di sana.
“Huh, kalian lama sekali datangnya!” gerutu
Azam kesal.
“Iya, kita capek menunggu kalian!” ujar Rizky
yang kelihatannya juga kesal seperti Azam.
“Hehehe, iya maaf kalau kita telat,” ujar Rion
menahan tawa ketika melihat dua wajah sahabatnya
yang sedang kesal.
“Sudah, yang penting kita semua sudah di
sini,” ujar Yasmin melerai.
BRUK .…
Sebuah benda jatuh tepat di atas kepala
Yasmin.
“Aduh!” teriak Yasmin kesakitan, karena ada
bola yang mengenai kepala Yasmin.
41
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik
“Maaf, Yasmin! Aku enggak sengaja,” teriak
Teguh yang sedang asyik bermain bola dengan
Bagas.
“Sebenarnya Teguh yang mulai semua ini,”
ujar Bagas.
“Loh kok aku sih?” tanya Teguh yang merasa
tidak mau disalahkan.
Aku melihat Rion hanya diam duduk di
sebelahku, sepertinya Rion tidak ingin meladeni
teman-temanku yang sedang perang mulut. Aku pun
sama seperti Rion hanya melihat Bagas dan Teguh
yang sedang bertengkar. Akhirnya perang mulut itu
semakin memanas, dan tak lama setelah itu mereka
pergi meninggalkan lapangan. Persahabatan kami
pun jadi terpisah.
Malam harinya aku mengirim pesan kepada
teman-teman di grup Whatsapp.
Dunia Seru (grup Whatsapp) Aku
42
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik
Teman-teman kalian jangan bertengkar dong! Bukankah kita punya janji bahwa kita akan
tetap bersama? Aku sudah menganggap kalian sebagai saudara. Jadi kumohon kalian
seperti dulu lagi waktu kita bersama. Aku hanya tak ingin kalian meninggalkanku. Jadi
kumohon agar kita tetap bersama, kalian adalah sahabat terbaikku.
Tidak ada yang membalas pesanku.
Esoknya, aku dan Rion berangkat bersama
ke sekolah. Sampai di sekolah, aku begitu kaget
melihat teman-temanku yang kemarin bertengkar
sudah rukun seperti semula.
“Loh, teman-teman, kalian sudah tidak
bertengkar lagi?” tanyaku heran.
“Iya, bukannya kalian kemarin masih
bertengkar?” tanya Rion yang tak kalah kagetnya
denganku.
“Hem … Yasmin, kamu yang memberitahu
ya?” ujar Bagas sambil mendorong Yasmin.
“Hah?” teriak Yasmin kaget karena dia
didorong Bagas.
“Aku dan Rion tidak ingin makan kamu
Yasmin, tidak perlu kaget gitu! Aku cuma ingin tahu
kalian kok bisa berbaikan secepat ini?” ucapku.
43
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabat Terbaik
“Bagas dan Teguh bisa berbaikan karena
melihat pesan yang kamu kirim semalam. Satu lagi,
karena teman-teman dinasihati oleh Bu Dian, guru
kelas satu,” jawab Yasmin.
“Ooh …,” jawabku.
Hal terpenting, kami sudah berkumpul dan
sudah menjalin persahabatan lagi.
SAHABATKU
Oleh Moch. Fattan Mufid Al-Rasyid
Sahabat saya adalah Jovan dan Rafael. Kami
bersahabat sejak kecil. Kami selalu bermain
bersama dan tidak pernah bertengkar. Meskipun
agama yang kami anut berbeda, kami tetap rukun
44
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabatku
dan tidak ada yang mengejek satu sama lain. Kami
berangkat dan pulang sekolah bersama-sama
menggunakan sepeda. Biasanya, sebelum pulang
ke rumah, kami menyempatkan mengunjungi
perpustakaan terlebih dahulu untuk membaca buku.
***
Pada hari libur, di kampung ada kerja bakti.
Saya bangun lebih pagi dari biasanya untuk ikut
kerja bakti dengan teman-teman. Saya membantu
membersihkan selokan, Jovan membantu
membuang sampah, dan Rafael membantu
memotong rumput liar. Sedangkan teman-teman
perempuan membantu ibu-ibu menyiapkan
makanan. Kerja bakti pun selesai dengan cepat
karena banyak warga yang bergotong royong.
Suatu hari kami sedang bermain sepak bola
di depan rumah. Kemudian ada mobil bak lewat
membawa banyak sekali barang dan perabotan
rumah tangga. Ternyata ada orang baru pindah
rumah. Saat pintu mobilnya terbuka, saya melihat
ada anak laki-laki seumuran dengan saya ikut turun.
Kami pun menghampiri dan menyapanya.
45
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabatku
“Halo, siapa namamu? Perkenalkan nama
saya Fattan,” sapa saya.
“Halo juga, nama saya Fadil. Saya baru
pindah ke kampung ini,” jawabnya.
“Perkenalkan juga ini teman-teman saya,
Jovan dan Rafael,” imbuh saya.
Hampir setiap hari kami bermain bersama
dengan Fadil. Permainan yang sering kami mainkan
adalah permainan petak umpet. Pada saat bermain
petak umpet, Fadil ketahuan bermain curang.
Namun, dia tidak mau mengakuinya.
“Mengapa kamu bermain curang, Fadil?
Seharusnya kamu tidak boleh seperti itu. Lebih baik
kamu jujur kepada kita,” ucap Jovan.
“Saya tidak bermain curang. Saya sudah
menutup mata dan berhitung sampai sepuluh,”
jawab Fadil.
“Tapi tadi saya melihatmu membuka mata,
padahal masih di hitungan kedelapan,” sanggah
Jovan.
46
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabatku
“Kamu jangan sembarangan menuduh!
Mengapa tidak kamu saja kalau begitu yang
berjaga?” ucap Fadil tak mau kalah.
Terjadilah pertengkaran yang tak
terhindarkan antara Fadil dan Jovan. Di antara
mereka tidak ada yang mau mengalah. Saya dan
Rafael pun melerai mereka berdua dan
mengantarkannya pulang ke rumah masing-
masing.
Beberapa hari kami tidak bermain bersama
lagi, karena suasana yang kurang kondusif setelah
pertengkaran kemarin. Hal itu kemudian diketahui
oleh orang tua kami. Mereka memberikan nasihat
bahwa dalam berteman tidak boleh ada
pertengkaran dan perselisihan. Jika pun ada, agar
segera meminta maaf dan berbaikan kembali seperti
sedia kala.
Keesokan harinya, Fadil menghampiri kami
saat di sekolah.
“Teman-teman, maafkan saya telah berbuat
curang saat bermain kemarin,” pinta Fadil.
47
Gendis Sewu Berkarya:
Sahabatku – Sahabatku
“Iya, Fadil. Kami semua sudah
memaafkanmu kok,” ucap Jovan.
“Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,”
tambah Fadil.
“Kalau begitu, ayo kita bermain lagi! Saya
sudah kangen bermain bersama kalian,” ucap
Rafael pada kami semua.
Kami pun kembali menjalin persahabatan ini
dan merasa sangat bahagia karena dapat
berkumpul bersama lagi.
48