Mengapa Penting untuk Mengetahui tentang Plagiarisme? kebutuhan untuk menjaga integritas akademik penulis, yaitu kejujuran penulis, dengan memberikan atribusi yang benar ke sumber. Kebutuhan untuk menunjukkan keterampilan berpikir kritis penulis, yaitu penulis memiliki kemampuan untuk menganalisis informasi yang kompleks. Plagiarisme dapat merusak integritas penelitian dan kepercayaan dalam pertukaran ide dan pengetahuan dalam konteks dunia akademik. Hal ini dianggap sebuah pelanggaran serius karena dunia akademik memandang bahwa plagiarisme berkaitan dengan hak kekayaan intelektual. Selain itu, penting untuk mengetahui plagiarisme karena: 1. 2. Plagiarisme terjadi ketika sumber informasi tidak diatribusi atau dicantumkan dengan benar (Harris, 2017:81). Informasi tersebut dapat berupa menyalin teks secara langsung penggunaan grafik, tabel, diagram, atau bahan lain yang diproduksi oleh orang lain tanpa izin atau atribusi yang tepat. Bahkan mengganti beberapa kata atu perubahan kecil pada teks yang masih mencerminkan ide asli orang lain juga dianggap plagiarisme. Institusi pendidikan dan lembaga penelitian memiliki peran penting untuk memiliki kebijakan yang ketat dan tepat untuk mengatasi plagiarisme dan memberlakukan sanksi. Selain itu, jika terbukti melakukan plagiarisme sanksi yang diberikan dapat berupa peringatan hingga diskualifikasi. Tindakan yang tegas tentu akan memberikan pemahaman bahwa penting bagi penulis akademik untuk selalu menghormati kekayaan intelektual milik orang lain.
Karakteristik yang ketiga adalah objektif. Sesuai dengan hakikat artikel ilmiah yang harus besifat objektif, maka Simpulan dalam artikel ilmiah juga berlaku demikian. Simpulan harus ditarik dari temuan dan hasil analisis data penelitian tanpa menggabungkan dengan pemikiran subjektif dari penulis. Untuk mendukung objektivitas dari isi Simpulan, penulis dapat menguraikan batasan penelitian yang dilakukan, misalnya pada batasan variabel atau metode penelitian yang digunakan. Hal ini bertujuan agar apabila terjadi perbedaan hasil penelitian dengan artikel penelitian lain yang sejenis, maka pembaca dapat mengetahui jika terdapat batasan-batasan penelitian yang berbeda. Gambar 8.2. Kiat Menyusun Simpulan Simpulan merupakan bagian yang tepat untuk menyampaikan pesan yang kuat dan efektif dari keseluruhan penelitian agar dapat diingat dengan baik oleh pembaca. Untuk menyusun sebuah Simpulan yang kokoh, berikut adalah kiat menyusun simpulan dalam artikel ilmiah sebagai panduan dasar bagi penulis.
Meringkas Temuan Penelitian Simpulan merupakan rangkuman dari temuan-temuan penelitian berdasarkan analisis data dan diskusi penelitian. Untuk menghasilkan sebuah rangkuman, penulis dapat menjelaskan secara singkat hasil penelitian yang paling utama dan relevan sesuai dengan rumusan masalah atau tujuan penelitian atau sesuai dengan subtopik yang dipaparkan dalam analisis. Saat menulis Simpulan, bukan berarti penulis menyalin kembali keseluruhan hasil analisis data, tetapi penulis meringkas hal-hal pokok dari setiap temuan data tersebut. Penulis juga diharapkan menggunakan kalimat efektif yang tidak hanya mengulang kalimat yang sama dalam analisis data. 1. Sesuaikan dengan Tujuan Penelitian Selaras dengan kiat yang pertama, yaitu meringkas temuan penelitian, ringkasan yang ditulis dalam Simpulan harus menyesuaikan dengan tujuan penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya dalam Pendahuluan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa keseluruhan isi artikel ilmiah valid dan saling terkait. Penulis dapat meninjau kembali rumusan masalah atau pertanyaan penelitian untuk memastikan bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut telah terjawab dan disampaikan dalam Simpulan. 2. Memaparkan Batasan Penelitian Kiat selanjutnya adalah memaparkan batasan penelitian yang ada. Batasan penelitian ini berkorelasi dengan kesenjangan atau gap penelitian yang mungkin 3.
akan diperoleh oleh peneliti lainnya setelah membaca artikel penelitian yang ditulis. Batasan penelitian penting diutarakan untuk membangun pemahaman yang sama tentang validitas dan reliabilitas penelitian. Sederhana dan Padat Seperti yang sudah dijelaskan dalam karakteristik Simpulan, isi dari Simpulan memang seharusnya sederhana dan padat. Oleh karena itu, penulis disarankan untuk menggunakan kalimat yang efektif. Penulis dapat langsung fokus untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan memaparkan poin-poin penting yang telah diperoleh dari analisis data. 4. Menghindari Penyajian Ulang Salah satu hal yang seringkali menjadi permasalahan dalam Simpulan adalah penulis hanya menyalin kutipan kalimat dari analisis dan diskusi penelitian tanpa merangkum kembali. Hal ini sebaiknya dihindari, sebab justru akan membingungkan pembaca dengan penyajian yang berulang. Penulis dapat merangkum analisis dan diskusi penelitian dengan kalimat efektif yang lebih ringkas dan hanya fokus pada jawaban inti saja. 5. Menghindari Penambahan Informasi Baru Penulis hendaknya menghindari penambahan berupa informasi baru pada bagian Simpulan karena Simpulan sudah merupakan akhir dari artikel ilmiah. Informasi baru yang dimaksud adalah menyisipkan topik-topik tertentu yang sebelumnya tidak terdapat dalam isi artikel ilmiah atau bahkan merupakan topik yang tidak memiliki relevansi dengan tujuan penelitian. 6.
Contoh Simpulan Berikut adalah contoh Simpulan dari artikel ilmiah yang sudah dipublikasikan. Contoh 1 Penutup Buzzer dalam kajian ini diposisikan sebagai key opinion leader yang mampu melakukan polarisasi informasi terkait pandemi Covid-19. Akun @permadiaktivis1 yang sudah terkonfirmasi sebagai buzzer menjadikan pandemi Covid-19 sebagai momentum untuk menjalankan tugasnya sebagai pihak yang pro terhadap pemerintah melalui kicauannya di Twitter. Hal tersebut dilakukan dengan beberapa cara, seperti melakukan polarisasi politik, merekonstruksi pencitraan pandemi, menarasikan negatif Pemberlakuan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan mendukung adanya vaksinasi. Polarisasi yang sebelumnya sudah terjadi dalam pemilu dan pilkada telah diperkuat dengan kehadiran buzzer. Hal ini tampak pada representasi pandemi dicitrakan sebagai sesuatu yang negatif untuk menegasikan ketidakmampuan pemerintah dalam membuat kebijakan terkait pandemi. Kicauan yang dihasilkan tidakp ernah menyalahkan pemerintah terkait kebijakan yang dikeluarkan. Selain itu, sindiran dan ajakan menjadi pola dari kicauan tentang topik Pandemi Covid-19. Dukungan kebijakan terkait vaksinasi dikemas dengan cara menyindir pihakpihak yang meragukan vaksinasi maupun yang menolak.
Meskipun Permadi Arya menyatakan dirinya tidak lagi bekerja secara profesional sebagai buzzer setelah Pilpres 2019, beragam analisis yang telah dihadirkan menunjukkan bahwa Permadi Arya berupaya untuk membangun citra positif pemerintah dalam menangani pandemi dan menyudutkan kelompok-kelompok yang mengkritisi kebijakan pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan buzzer dalam membangun narasi tertentu tidak hanya muncul selama kontestasi elektoral, tetapi masih terus berlanjut hingga saat ini. Media sosial memang dapat menjadi media yang efektif dalam menyebarkan informasi mengenai kebijakan pemerintah, tetapi pelibatan buzzer yang kerap kali membangun narasi dengan menyudutkan kelompokkelompok tertentu bukanlah cara yang tepat karena akan memperparah polarisasi yang telah terjadi sejak Pemilu 2014. (Hanif Jati Pambudi et al., 2021) Referensi Hanif Jati Pambudi, Ario Lukito Adi Nugroho, Liliek Handoko, & Firstya Evi Dianastiti. (2021). Buzzer di Masa Pandemi Covid-19: Studi Analisis Wacana Kritis Kicauan Buzzer di Twitter. Jurnal Masyarakat Dan Budaya, 23(1), 75–89. https://doi.org/10.14203/jmb.v23i1.1265
Contoh 2 Simpulan Bentuk campur kode yang terjadi dalam dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK Negeri 1 Banyumas terdiri atas (1) campur kode penyisipan kata, (2) campur kode penyisipan frase, (3) campur kode penyisipan klausa, (4) campur kode penyisipan pengulangan kata, dan (5) campur kode penyisipan ungkapan. Faktor penyebab terjadinya campur kode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia Negeri 1 Banyumas, yaitu: (1) berubahnya situasi, (2) ingin menjelas kan sesuatu, dan (3) menjalin keakraban antara guru dan siswa. Penggunaan bahasa yang tepat dapat mendukung pembelajaran yang efektif dan komunikatif. Baik guru dan siswa harus pandai dalam menyikapi penggunaan bahasa di kelas. Guru harus bisa mengendalikan siswa agar tidak menyimpang dari materi dan tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama sehingga siswa dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru, keterampilan dan kompetensi linguistik bahasa Indonesia siswa berkembang. Penggunaan bahasa daerah yang berlebihan dalam pem- belajaran dapat mengurangi kewibawaan bahasa Indonesia sebagai pengantar utama di sekolah. (Sundoro et al., 2028) Referensi Sundoro, B. T., Suwandi, S., & Setiawan, B. (2018). Campur Kode Bahasa Jawa Banyumasan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sekolah Menengah Kejuruan. RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 11(2), 129. https://doi.org/10.26858/retorika.v11i2.6367
Contoh 3 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil adalah Tirtomoyo merupakan sebuah desa yang berpotensi dikembangkan menjadi desa wisata karena memiliki produk batu mulia fire opal terbaik di dunia. Namun, Kawasan desa ini masih belum memaksimalkan potensi kepariwisataannya, hal ini terlihat dari kurangnya wisatawan yang berkunjung ke Tirtomoyo, terutama pada desa yang terdapat perajin batu mulia fire opal ini. Salah satu faktor penyebabnya adalah masih kurangnya media promosi yang mempromosikan produk batu mulia di Tirtomoyo. Dalam perancangan destination branding, media visual branding juga berperan penting untuk meningkatkan daya tarik wisatawan untuk mempromosikan desa Tirtomoyo sebagai desa wisata batu akik yang dimiliki oleh Kabupaten Wonogiri. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah merancang visual branding sebagai pendukung program destination branding sebagai upaya meningkatkan daya tarik wisatawan terhadap potensi yang dimiliki oleh Desa Tirtomoyo di Kabupaten Wonogiri. (Widodo et al., 2016) Referensi Widodo, A. S., Munib, J. A., & Octavia, E. R. (2016). Strategi Visual pada Promosi Desa Wisata Batu Akik melalui Destination Branding di Desa Tirtomoyo Wonogiri. Gelar: Jurnal Seni Budaya, 14(1), 38–51.
Referensi Oshima, A., Hogue, A., & Ravitch, L. (2014). Longman Academic Writing Series 4 Essays, 5th Edition. In Chapter 4. Pearson Education Limited.
PLAGIARISME: Bab IX Apa dan Bagaimana Menghindarinya. oleh: Firstya Evi Dianastiti, M.Pd. Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd. Dr. Budhi Setiawan, M.Pd.
Plagiarisme didefinisikan sebagai proses mengambil pekerjaan, ide, atau kata-kata orang lain dan menggunakannya seolah-olah itu milik penulis sendiri; adapun mengutip adalah menggunakan frase atau kalimat dari tulisan atau pidato, terutama untuk mendukung atau membuktikan sesuatu (McMillan & Weyers, 2013:5). Pengertian lain menyatakan bahwa plagiarisme adalah mengambil gagasan orang lain dan mengklaimnya sebagai milik sendiri tanpa atribusi (Eaton, 2021:2). Plagiarisme, dalam konteks akademik, mengacu pada keputusan yang disengaja untuk tidak mengakui karya orang lain dalam tugas–atau mengabaikan kewajiban yang biasanya dipublikasikan dengan baik untuk melakukan hal ini. Secara umum, plagiarisme adalah salah satu dari sejumlah praktik yang dianggap oleh universitas sebagai kecurangan, atau dalam bahasa universitas: 'kurangnya integritas akademik' (Colin, 2010:29). Perilaku ini dianggap pelanggaran karena termasuk bertentangan dengan etika dan integritas akademik. Hal ini dianggap mencuri karya orang lain dan merampas hak kekayaan intelektual mereka. 1. PENGERTIAN PLAGIARISME Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji dalam bentuk mencuri dan mengambil karya orang lain tanpa etika dan izin dari pemilik asli. Karya dapat berupa tulisan, ide, gambar, hasil penelitian dan lain sebagainya.
Mengapa Penting untuk Mengetahui tentang Plagiarisme? kebutuhan untuk menjaga integritas akademik penulis, yaitu kejujuran penulis, dengan memberikan atribusi yang benar ke sumber. Kebutuhan untuk menunjukkan keterampilan berpikir kritis penulis, yaitu penulis memiliki kemampuan untuk menganalisis informasi yang kompleks. Plagiarisme dapat merusak integritas penelitian dan kepercayaan dalam pertukaran ide dan pengetahuan dalam konteks dunia akademik. Hal ini dianggap sebuah pelanggaran serius karena dunia akademik memandang bahwa plagiarisme berkaitan dengan hak kekayaan intelektual. Selain itu, penting untuk mengetahui plagiarisme karena: 1. 2. Plagiarisme terjadi ketika sumber informasi tidak diatribusi atau dicantumkan dengan benar (Harris, 2017:81). Informasi tersebut dapat berupa menyalin teks secara langsung penggunaan grafik, tabel, diagram, atau bahan lain yang diproduksi oleh orang lain tanpa izin atau atribusi yang tepat. Bahkan mengganti beberapa kata atu perubahan kecil pada teks yang masih mencerminkan ide asli orang lain juga dianggap plagiarisme. Institusi pendidikan dan lembaga penelitian memiliki peran penting untuk memiliki kebijakan yang ketat dan tepat untuk mengatasi plagiarisme dan memberlakukan sanksi. Selain itu, jika terbukti melakukan plagiarisme sanksi yang diberikan dapat berupa peringatan hingga diskualifikasi. Tindakan yang tegas tentu akan memberikan pemahaman bahwa penting bagi penulis akademik untuk selalu menghormati kekayaan intelektual milik orang lain.
Tindakan tegas tersebut dapat berkembang menjadi penolakan publikasi, penurunan nilai, sanksi akademik, dan kerusakan reputasi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sangat penting bagi seorang akademisi untuk memahami dan mematuhi aturan plagiarisme yang berlaku dalam institusi akademik dan selalu menjaga integritas serta etika dalam penulisan dan penelitian. Hal yang dapat dilakukan untuk menghormati kekayaan intelektual yaitu dengan memberikan atribusi yang jelas dan memastikan semua tulisan atau konten yang digunakan adalah karya mereka sendiri atau diberi izin dan disebutkan sumbernya sesuai kaidah. Gambar 1. Tiga Pandangan Ihwal Plagiarisme Gambar 1 menunjukkan tiga pandangan pendidik, akademisi, dan lainnya dalam melihat plagiarisme, yaitu melalui salah satu dari tiga lensa tersebut: (1) sebagai masalah kebijakan atau peraturan, (2) sebagai masalah pengajaran dan pembelajaran, atau (3) sebagai masalah moral (Eaton, 2021:15). Ada dua alasan yang saling terkait untuk menghindari plagiarisme: Kebutuhan untuk menjaga integritas dan kejujuran akademik dengan memberikan atribusi yang benar ke sumber. 1.
Kebutuhan untuk menunjukkan keterampilan berpikir kritis yaitu kemampuan untuk menganalisis informasi yang kompleks (McMillan & Weyers, 2013:6). Selain alasan tersebut, ada beberapa aturan umum terkait plagiarisme dalam dunia akademik, yaitu sebagai berikut 2. Mengutip dan Memberi Atribusi Aturan pertama yaitu kewajiban untuk mengutip dan memberi atribusi secara tepat ketika menggunakan ide, informasi, atau kutipan langsung dari sumber lain milik orang lainSelain itu, cantumkan sumber dengan jelas, baik dalam teks maupun dalam daftar pustaka atau referensi.bbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb bb Batasan Penggunaan Kutipan Langsung Kutipan langsung digunakan dengan baik dan bijak dan hanya ketika diperlukan untuk mendukung argumen atau pengamatan sendiri. Tidak disarankan untuk mengandalkan kutipan langsung yang berlebihan. Hal yang patut diperhatikan yaitu berikan interpretasi atau analisis sendiri terhadap materi yang dikutip.bbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb Parafase yang Tepat Keinginan untuk menggunakan ide atau informasi dari sumber lain dapat dilakukan dengan mengganti han.ya dengan mengubah beberapa kata atau mengubah susunan kalimat. Ketika melakukan paraphrase dapat dengan cara mengungkapkan gagasan dengan gaya dan kata-kata sendiri, serta memberikan atribusi yang tepat kepada sumber asli. 1. 2. 3. Aturan pertama yaitu kewajiban untuk mengutip dan memberi atribusi secara tepat ketika menggunakan ide, informasi, atau kutipan langsung dari sumber lain milik orang lainSelain itu, cantumkan sumber dengan jelas, baik dalam teks maupun dalam daftar pustaka atau referensi. Kutipan langsung digunakan dengan baik dan bijak dan hanya ketika diperlukan untuk mendukung argumen atau pengamatan sendiri. Tidak disarankan untuk mengandalkan kutipan langsung yang berlebihan. Hal yang patut diperhatikan yaitu berikan interpretasi atau analisis sendiri terhadap materi yang dikutip. Keinginan untuk menggunakan ide atau informasi dari sumber lain dapat dilakukan dengan mengganti han.ya dengan mengubah beberapa kata atau mengubah susunan kalimat. Ketika melakukan paraphrase dapat dengan cara mengungkapkan gagasan dengan gaya dan kata-kata sendiri, serta memberikan atribusi yang tepat kepada sumber asli.
Menyebutkan Sumber dalam Presentasi Grafis Aturan pertama yaitu kewajiban untuk mengutip dan memberi atribusi secara tepat ketika menggunakan ide, informasi, atau kutipan langsung dari sumber lain milik orang lainSelain itu, cantumkan sumber dengan jelas, baik dalam teks maupun dalam daftar pustaka atau referensi Membatasi Penggunaan Karya Sendiri Kutipan langsung digunakan dengan baik dan bijak dan hanya ketika diperlukan untuk mendukung argumen atau pengamatan sendiri. Tidak disarankan untuk mengandalkan kutipan langsung yang berlebihan. Hal yang patut diperhatikan yaitu berikan interpretasi atau analisis sendiri terhadap materi yang dikutip.bbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb Menghindari Plagiarisme Milik Diri Sendiri Keinginan untuk menggunakan ide atau informasi dari sumber lain dapat dilakukan dengan mengganti han.ya dengan mengubah beberapa kata atau mengubah susunan kalimat. Ketika melakukan paraphrase dapat dengan cara mengungkapkan gagasan dengan gaya dan katakata sendiri, serta memberikan atribusi yang tepat kepada sumber asli. 1. 2. 3. Pemberian atribusi juga berlaku Ketika menggunakan tabel, grafik, atau ilustrasi dari sumber lain, Pemberian rujukan diwajibkan sebagai bukti telah memberikan atribusi yang jelas. Penggunaan karya sendiri yang telah dipublikasikan sebelumnya, seperti artikel, tesis, atau karya lainnya harus dibarengi dengan sikap patuh terhadap kebijakan dan aturan yang berlaku dalam institusi atau jurnal yang dituju. Beberapa publikasi mungkin mengajukan permintaan untuk mengutip karya sendiri dengan benar. Pengambilan dan pengulangan embali tulisan milik sendiri tanpa atribusi yang tepat juga merupakan bentuk plagiarisme. Hal ini dikenal dengan self plagiarism. Pelanggarana ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap etika penelitian. 4. 5. 6. 2. PLAGIARISME DENGAN SIMILARITAS Dalam konteks penulisan akademik, plagiarisme dan similaritas adalah dua konsep yang berbeda. Pemahaman tentang perbedaan antara plagiarisme dan similaritas merupakan suatu urgensi. Similaritas dapat terjadi secara tidak sengaja atau karena penggunaan konvensi umum dalam bidang penelitian tertentu. Adapun plagiarisme merupakan pelanggaran serius terhadap etika penelitian dan integritas akademik. Oleh karena itu, penting untuk selalu memberikan atribusi yang tepat saat mengutip, menyusun daftar pustaka yang lengkap, dan melakukan teknik pengutipan yang sesuai saat mengambil ide dari sumber lain. Berikut adalah perbedaan antara plagiarisme dan similaritas.
Plagiarisme Similaritas a. Plagiarisme terjadi saat seseorang menggunakan karya, teks, ide, atau materi dari orang lain tanpa izin atau memberikan pengakuan yang pantas dari pemilik aslinya. b. Plagiarisme melibatkan pengambilan atau penyalinan sebagian atau seluruh konten dari sumber lain tanpa atribusi yang jelas atau menyebutkan sumbernya. c. Plagiarisme dianggap sebagai pelanggaran etika dan integritas akademik yang serius dan bisa memiliki konsekuensi serius, termasuk penangguhan, diskualifikasi, atau pencabutan gelar. a. Similaritas mengacu pada kesamaan atau kemiripan antara teks atau konten yang ditulis oleh penulis dengan sumber lain. b. Similaritas dapat terjadi secara tidak sengaja atau tanpa niat untuk menjiplak. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya ungkapan umum, terminologi teknis, atau konsep yang umum digunakan dalam bidang penelitian tertentu. c. Similaritas sering diukur dengan menggunakan perangkat lunak deteksi plagiarisme atau perangkat yang membandingkan teks yang ditulis dengan database sumber yang ada.
3. BENTUK-BENTUK PLAGIARISME Colin dalam buku The Complete Guide to Referencing and Avoiding Plagiarism (2010) memaparkan tiga bentuk plagiarisme yang merupakan sebuah pelanggaran dalam dunia akademik, yaitu: Menyalin karya orang lain, termasuk karya akademisi lain (dengan atau tanpa persetujuan mereka), dan mengeklaim bahwa karya tersebut milik diri sendiri. Menyajikan argumen yang menggunakan campuran antara pendapat sendiri dengan pendapat orang lain, tetapi dengan dengan persentase yang lebih besar pada argumen yang disalin dari penulis lain tanpa menyebutkan sumbernya. Memparafrasekan karya orang lain, tetapi tidak memberikan atribusi/ pengakuan yang semestinya kepada penulis, organisasi, internet, maupun sumber lainnya yang menersbitkan tulisan tersebut (Colin, 2010). 1. 2. 3. Lalu pada saat kapan kita untuk merujuk bukti pada tulisan atau karya orang lain agar terhindar dari plagiarism? Berikut situasi yang harus dilakukan saat memberikan atribusi. Saat menginformasikan kepada pembaca tentang sumber tabel, statistik, diagram, foto dan ilustrasi lain. Saat mendeskripsikan atau mendiskusikan teori, model, praktik, atau contoh yang terkait dengan seorang penulis tertentu; atau menggunakan karya mereka untuk mengilustrasikan contoh. Saat memberi bobot atau kredibilitas pada argumen yang didukung. Saat memberikan penekanan pada teori, model, atau praktik tertentu yang telah ditemukan ukuran kesepakatan dan dukungan di antara komentator Saat menginformasikan pembaca tentang sumber kutipan langsung atau definisi dalam penugasan 1. 2. 3. 4. 5.
Saat memparafrasakan karya orang lain, yang berada di luar ranah umum pengetahuan, dan yang dirasa sangat penting, atau mungkin menjadi subjeknya perdebatan (Colin, 2010:19). 1. 2. Tindakan plagiarisme merupakan tindakans serius yang dapat merusak reputasi dan akademik. Kesadaran untuk menggunakan sumber lain dan memberikan atribusi yang tepat merupakan cara yang tepat untuk mencegah plagiarisme dan memastikan kejujuran hasil tulisan sendiri. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk terhindar dari plagiarisme. 6. 7. 4. LANGKAH UNTUK MENGHINDARI PLAGIARISME Memahami dan Mematuhi Aturan dan Kebijakan Pahami dan taati aturan dan kebijakan yang berlaku di institusi pendidikan atau tempat kerja terkait dengan plagiarisme. Selain itu, ketahui definisi plagiarisme dan sanksi yang mungkin diberlakukan jika melanggar aturan tersebut. Belajar Cara Mengutip dan Memberi Atribusi Ketepatan untuk mengutip sumber digunakan dan memberikan atribusi yang jelas kepada penulis atau pemilik asli karya tersebut merupakan kewajiban untuk mempelajari. Ketahui gaya penulisan referensi yang umum digunakan, seperti APA, MLA, atau IEEE, dan gunakan secara konsisten. 1. 2.
Menggunakan Sumber dengan Bijak Penggunaan sumber dengan bijak dimaksudkan sebagai langkah control agar membendung keinginan untuk mendapatkan tulisan instan. Jangan mencoba menyalin teks atau ide orang lain sebagai karya sendiri. Jika menggunakan informasi atau ide dari sumber lain, pastikan untuk memberikan atribusi yang jelas dan menghindari penjiplakan. Membuat Catatan Penelitian Selama melakukan penelitian, selalu catat sumbersumber yang digunakan. Buat catatan lengkap tentang judul, penulis, tahun, jurnal atau buku tempat diterbitkan, dan halaman referensi yang relevan. Hal ini akan membantu dalam menyusun daftar pustaka secara akurat. 3. 4. Gunakan Perangkat Lunak Anti-Plagiarisme Gunakan perangkat lunak deteksi plagiarisme yang tersedia, seperti Turnitin, Grammarly, atau Copyscape, untuk memeriksa kesamaan antara tulisan dengan sumber-sumber yang ada. Periksa hasilnya dan lakukan revisi jika diperlukan untuk menghindari plagiarisme yang tidak disengaja. 5. Pahami Perbedaan antara Kutipan dan Parafase Ketika menggunakan teks atau ide dari sumber lain, pahami perbedaan antara kutipan langsung (direproduksi secara kata demi kata) dan parafase (mengungkapkan kembali dalam kata-kata sendiri). Pastikan untuk memberikan atribusi yang sesuai tergantung pada jenis penggunaan tersebut. 6. Jaga Kejujuran Diri Selalu berpegang pada prinsip kejujuran dan integritas akademik. Jika ragu atau tidak yakin tentang penggunaan materi tertentu, lebih baik memberikan atribusi daripada mengambil risiko plagiarisme. 7.
Untuk memudahkan akademisi dalam mendeteksi plagiarisme, saat ini sudah tersedia banyak aplikasi perangkat lunak yang dapat digunakan. Beberapa diantara perangkat lunak tersebut dapat diakses secara gratis. Berikut adalah beberapa contoh aplikasi pendeteksi plagiarisme yang dapat digunakan oleh akademisi. 5. APLIKASI PENDETEKSI PLAGIARISME Turnitin Lembaga pendidikan umumnya menggunakan Turnitin sebagai perangkat lunak pendeteksi plagiasrisme. Turnitin membandingkan teks yang diserahkan dengan database besar sumber referensi dan dokumen lainnya untuk mengidentifikasi kemiripan. Ini memberikan laporan originalitas yang menunjukkan persentase kesamaan dan mengidentifikasi sumber potensial dari teks yang serupa. Turnitin dapat diakses melalui https://www.turnitin.com/id. 1. Grammarly Alat pengecek tata bahasa dan ejaan yang juga dapat mendeteksi plagiarisme lainnya yaitu Grammarly. Fitur premium Grammarly dapat memeriksa teks dengan database yang luas untuk melacak kemiripan dengan sumber lain. 2.
Ini memberikan laporan plagiarisme yang menyoroti bagian yang terdeteksi serupa dengan teks lain. Aplikasi pendeteksi plagiarisme dari Grammarly dapat diakses melalui https://www.grammarly.com/plagiarism-checker. Quetext Quetext adalah alat deteksi plagiarisme yang dapat memeriksa kesamaan teks dengan database yang luas. Ini memberikan laporan plagiarisme yang menyoroti bagian yang terdeteksi serupa dengan teks lain dan menyediakan sumber potensial dari teks tersebut. Dapat diakses dalam https://www.quetext.com/. 3.
Check Plagiarism Dapat diakses melalui https://www.checkplagiarism.com/. Check-Plagiarism menawarkan pemeriksa plagiarisme andal yang banyak digunakan untuk mendeteksi plagiarisme. Detektor plagiarisme kami menawarkan deteksi plagiarisme mendalam bagi penulis serta pelajar di sekolah, perguruan tinggi, dan universitas. 4. Dupli Checker Dapat diakses melalui tautan berikut https://www.duplichecker.com/. Misi dari Duplichecker adalah Duplichecker mendeteksi plagiarisme dengan lebih akurat. 5.
Alat-alat tersebut hanya membantu mendeteksi kemiripan dan memberikan laporan. Alat-alat tersebut sangat penting untuk membantu melakukan penilaian yang tepat terhadap hasilnya. Selain itu, kecermatan untuk memeriksa laporan dan melakukan revisi yang diperlukan untuk menghindari plagiarisme yang tidak disengaja merupakan langkah penting lainnya untuk terhindar dari plagiarisme. Referensi Colin, N. (2010). The Complete Guide to Referencing and Avoiding Plagiarism. In Open University Press. Eaton, S. E. (2021). Plagiarism in Higher Education. Libraries Unlimited. Harris, R. A. (2017). Using Sources Effectively. In Using Sources Effectively. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315267067 McMillan, K., & Weyers, J. (2013). How to Cite, Reference & Avoid Plagiarism At University. Pearson Education Limited.