LAPORAN ON THE JOB TRAINING 2
( OJT-2 )
DISUSUN SEBAGAI TUGAS AKHIR DALAM
PELATIHAN CALON KEPALA MADRASAH ANGKATAN VIII
TAHUN 2022
NAMA : SETYOKO ESTHI CAHYONO, S.Pd
NIP : 198203182005011003
UNIT KERJA : MTsN 4 BOJONEGORO
KABUPATEN/KOTA : BOJONEGORO
PROVINSI : JAWATIMUR
PUSDIKLAT TENAGA TEKNIS PENDIDIKAN DAN KEAGAMAAN
BADAN LITBANG DAN DIKLAT
KEMENTERIAN AGAMA RI
2022
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan On The Job Training 2 ( OJT 2 ) sebuah inovasi di Madrasah
Tsanawiyah Negeri 4 Bojonegoro yang berjudul “DESAIN
PENGEMBANGAN KURIKULUM MADRASAH BERBASIS
SISTEM KREDIT SEMESTER ( SKS ) “
Oleh : SETYOKO ESTHI CAHYONO, S.Pd
NIP : 198203182005011003
Unit Kerja : MTsN 4 BOJONEGORO
Telah disahkan pada tanggal 10 Desember 2022 di Bojonegoro Jawa Timur
Mengetahui Bojonegoro, 10 Desember 2022
Kepala Seksi Pendma Penyusun
Drs. Moh. Sholihul Hadi, M.Pd Setyoko Esthi Cahyono, S.Pd
NIP.196808201995031004 NIP.198203182005011003
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah, SWT, atas bimbingan dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan OJT-2.
Shalawat dan salam semoga senantiasa abadi tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW sebagai teladan seluruh umat.
Penulisan laporan OJT-2 ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir pada
kegiatan Pelatihan Calon Kepala Madrasah Angkatan VIII Tahun 2022.
Kami menyadari dalam penulisan laporan ini tidak akan pernah lepas dari
semua pihak, sehingga, kritik, saran, sumbangan pemikiran, tenaga, waktu, dan
bimbingan yang diberikan kepada penulis. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan
hati dan penuh rasa hormat penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Bapak Kepala Pusat Badan Litbang dan Diklat Pusdiklat Tenaga Teknis
Pendidikan Dan Keagamaan Kementerian Agama Republik Indonesia
2. Ibu Dr. Hj. Hindun Anwar, M.Pd selaku Widyaiswara dan juga panitia
Pelatihan Calon Kepala Madrasah Angkatan VIII Tahun 2022 yang telah
memberikan bimbingan dan motivasi
3. Bapak Dr. Saridin selaku Mentor dan juga panitia Pelatihan Calon Kepala
Madrasah Angkatan VIII tahun 2022 yang telah memberikan bimbingan
selama kegiatan pelatihan
4. Bapak Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. Jawa Timur
yang telah memfasilitasi keikut sertaan penulis dalam mengikuti Pelatihan
Calon Kepala Madrasah Angkatan VIII Tahun 2022
5. Bapak H. Munir, M.Ag, selaku Kepala Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Bojonegoro yang telah memberikan motivasi dan tugas kepada
penulis
6. Bapak Drs. Moh. Sholihul Hadi, M.Pd selaku Kepala Seksi Pendidikan
Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro yang selalu
memberikan arahan kepada penulis
7. Tenaga Pendidik dan Kependidikan di MTsN 4 Bojonegoro, yang telah
memberikan support dalam kegiatan diklat ini
iv
8. Teman-teman peserta Diklat Calon Kepala Madarsah AngkatanVIII yang
selalu bersemangat dalam melaksanakan diklat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam Laporan ini tidak tertutup
kemungkinan ditemukan berbagai kekurangan maupun kekeliruan, baik yang
menyangkut isi maupun teknik penulisan. Oleh Karena itu, dengan lapang dada
penulis berharap buah-buah pikiran dan masukan maupun kritikan demi
penyempurnaan laporan ini.
Akhirnya, besar harapan kami semoga laporan ini bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin
Bojonegoro, 10 Desember 2022
Penulis
Setyoko Esthi Cahyono, S.Pd.
NIP. 198203182005011003
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN................................................................................ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................iii
DAFTAR ISI ....................................................................................................vi
DAFTAR TABEL............................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................viii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................1
B. Dasar Hukum..............................................................................3
C. Profil Madrasah ..........................................................................3
D. Tujuan Penulisan Laporan......................................................... 10
E. Sistematika Penulisan ............................................................... 10
BAB II : PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA
A. Pelaksanaan Rencana Proyek Kepemimpinan Madrasah .......... 13
B. Praktik Penguatan Profil Pelajar Pancasila Dan Pelajar Rahmatan Lil
Alamin...................................................................................... 44
C. Pelaksanaan Rencana Proyek Peningkatan Kompetensi............. 44
BAB III : PENUTUP
A. Simpulan .................................................................................. 67
B. Saran ........................................................................................ 67
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 69
Lampiran-lampiran ....................................................................................... 71
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 : Tahap Perencanaan Siklus Kegiatan ............................................... 20
Tabel 2.2 : Hasil Tingkat Kemampuan Peserta ................................................. 19
Tabel 2.3 : Prosentase Ketercapaian Setiap Indikator........................................ 27
Tabel 2.4 : Kondisi Ketercapaian Hasil Ulangan............................................... 29
Tabel 2.5 : Keterlaksanaan Program Kegiatan RPK ......................................... 31
Tabel 2.6 : Pencapaian Hasil Pembimbingan .................................................... 33
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 : SK Dirjen Pendis ...................................................................... 4
Gambar 2.1 : Pembentukan Kepanitiaan....................................................... 19
Gambar 2.2 : Pembukaan Kegiatan Workshop ............................................. 21
Gambar 2.3 : Kegiatan Workshop ................................................................ 22
Gambar 2.4 : Kegiatan Market Day.............................................................. 39
Gambar 2.5 : Peresmian PTSP ..................................................................... 42
viii
DAFTAR GRAFIK
Grafik 2.1 : Prosentase Pengguna Media Pembelajaran................................... 24
Grafik 2.2 : Kemampuan guru dalamPenggunaan Media Pembelajaran...... 26
Grafik 2.3 : Tingkat kemampuan guru setelah dilaksanakansiklus 2........... 35
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas
sumber daya manusia terutama dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia,
karena kemajuan suatu negara berawal dari kualitas pendidikannya. Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, menurut UU Nomor 20 pasal 3 Tahun 2003.1
Namun pada kenyataannya menunjukkan bahwa program pendidikan
masih belum mengarah pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional karena dalam
beberapa sekolah negeri maupun swasta masih memberikan peserta didiknya
program pendidikan yang bersifat klasikal-massal. Padahal sudah diatur dalam
undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional pada pasal 12
padapoint b menyatakan “ setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan
kemampuannya” selanjutnya pada point f menyatakan “ setiap peserta didik pada
setiap satuan pendidikan berhak menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan
kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas
waktu yang ditetapkan.”2
Sesuai dengan UU RI No. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 5 ayat 4, yang menegaskan bahwa, warga negara yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus”.
Berdasarkan Permendikbud 158 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan Sistem
Kredit Semester (SKS), tidak akan terjadi ketimpangan pelayanan bagi peserta
didik yang memiliki kecerdasan istimewauntuk menyelesaikan program studinya,
1 “Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional”
(Bidang Dikbud KBRI Tokyo, t.t.), 6.
2 Ibid., 1.
1
tanpa harus terhambat oleh temannya yang lain, demikian pula peserta didik yang
memiliki kelemahan dalam prosespercepatan penyelesaian program studinya,
tidak akan terpaksa mengikuti pola belajar peserta didik yang memiliki
kecerdasan lebih. Upaya ini dapat memenuhi pelayanan pendidikan yang adil
dan efektif pada semua peserta didik.3
Kurikulum merupakan sarana dalam proses belajar mengajar yang
dinamis dinilai secara berkesinambungan sesuai dengan harapan masyarakat dan
pemangku kepentingan. Olek karena itu perlu adanya pengembangan kurikulum
yang mengacu pada standart nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional. Kurikulum yang berkembang haruslah mengikuti
perkembangan zaman. Persoalan pengembangan kurikulum bukanlah hal yang
mudah dilakukan. Dalam pengembangan kurikulum di madrasah, untuk melayani
peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa / bakat istimewa Kementrian
Agama Provinsi Jawa Timur mengeluarkan kebijakan terkait penyelenggaraan
program SKS di Madrasah. Pada tahun 2014 Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud) memberitahukan bahwasanya, kelas Akselerasi
akan dihapuskan pada penyelenggaraan ajaran 2015/2016. 4
Walaupun kelas Akselerasi dihapuskan. Dirjen Pendidikan Menengah
(Dikmen) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Achmad
Jazidie, mengatakan kendati kelas percepatan itu dihapus, siswa cerdas istimewa
dapat mempercepat masa studi dengan mengikuti sistem kredit semester (SKS).
SKS untuk sekolah diberlakukan sama seperti halnya diperguruan tinggi.5
3 Agis Suna dan Dwi Wabula, “Implementasi Kebijakan Program Peserta Didik
Cerdas Istimewa (PDCI) dengan Model Sistem Kredit Semester (SKS) di MTS Negeri 2
Kediri,” Jurnal Dinamika Manajemen Pendidikan 3, no. 1 (2019): 1–2. Diakses pada
tanggal 10 Desember 2022 pukul 12:08 WIB
4 “Pengamat Pendidikan: Program Akselerasi Bisa Memengaruhi Psikis Murid,”
kumparan, diakses 30 September 2020, https://kumparan.com/millennial/pengamat-
pendidikan-program-akselerasi-bisa-memengaruhi-psikis-murid-1538137079141820340.
Diakses pada tanggal 10 Desember 2022 pukul 13:28 WIB
5 Mariyana Ricky P.D, “KURIKULUM 2013 : Kelas Akselerasi Dihapus Tahun
Depan, Ini Gantinya,” 9 Oktober 2014, https://m.solopos.com/kurikulum-2013-kelas-
akselerasi-dihapus-tahun-depan-ini-gantinya-543037. Diakses pada tanggal 10 Desember
2022 pukul 13:35 WIB
2
Dan hanya madrasah yang memiliki izin operasional dalam pelaksanaan program SKS,
tercantum dalam surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam nomor 6633
Tahun 2019 tentang madrasah penyelenggara SKS. 6
Berdasarkan Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6
Tahun 2018 tentang Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah bertujuan
penyiapan kompetensi calon kepala sekolah untuk memantapkan wawasan,
pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan dalam memimpin sekolah.
Pelatihan Calon Kepala Sekolah dilaksanakan dengan 4 (empat) tahap
yaitu tahap On-the Job Training (OJT) 1, tahap In-Service Training (IST) 1, tahap
On-the Job Training (OJT) 2, dan tahap In- Service Training (IST) 2. Kegiatan
On-The Job Training merupakan tahapan yang penting dalam rangka melatih
calon kepala sekolah membiasakan bekerja berbasis data melalui kegiatan
pengamatan (observe) kondisi nyata dan mengidentifikasi masalah pembelajaran,
melakukan refleksi (reflect) atas hasil observasi, mencari alternatif pemecahan
masalah dan menyusun rencana kegiatan pemecahan masalah dalam bentuk
Rencana Projek Kepemimpinan dan Peningkatan Kompetensi (plan) dan
melaksanakan kegiatan sesuai rencana (Act), melakukan monitoring dan evaluasi
kegiatan dan hasil kegiatan (evaluate) dan merefleksi tindakan yang dilakukan
(reflect).
Dalam kegiatan OJT 2, penulis melakukan kegiatan magang pada 2
(dua) sekolah di Kabupaten Bojonegoro yakni MTsN 4 Bojonegoro sebagai
sekolah magang 1 tempat penulis bertugas dan MTsN 2 Bojonegoro sebagai
sekolah magang kedua.
Selama pelaksaaan kegiatan On-the Job Training (OJT) 2, penulis
melakukan kegiatan antara lain Membuat Rencana Proyek Kepemimpinan (RPK)
dengan Judul “DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM MADRASAH
BERBASIS SISTEMKREDIT SEMESTER ( SKS )” yang sekaligus menjadi
judul dari laporan OJT 2 dan Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Berdasarkan
AKPK di Sekolah Magang 2.
3
Di kabupaten Bojonegoro sekolah yang dinyatakan lolos persyaratan
untuk melaksanakan program SKS pada jenjang Madrasah Tsanawiyah hanya
ada satu madrasah, yaitu MTs Negeri 2 Bojonegoro. Pelaksanaan SKS di MTs
Negeri 2 Bojonegoro merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan mutu
pendidikan melalui pelayanan dalam mengakomodasi kemajemukan peserta
didik pada minat, bakat, dan kebutuhan. Program SKS yang berada di MTs
Negeri 2 Bojonegoro telah mendapatkan SK dari Dirjen Pendis Nomor 5062
Tentang Madrasah Penyelenggara Sistem Kredit Semester.
6 Ibid.,5 Gambar 1.1
SK Drjen Pendis Nomor 5062
4
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk
melakukan suatu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana desain
kurikulum madrasah dalam program Sistem Kredit Semester (SKS) pada jenjang
sekolah menegah pertama yang merupakan sebuah inovasi dalam dunia
pendidikan dibidang kurikulum untuk memenuhi kemajemukan kemampuan
peserta didik. Dan pada program selanjutnya ingin menjadikan madrasah kami
MTsN 4 Bojonegoro untuk menjadi madrasah yang berbasis SKS.
B. Dasar Hukum
Yang menjadi Dasar hukum pada kegiatan OJT 2 ini ialah :
1. UU Nomor 20 pasal 3 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Permendikbud 158 Tahun 2014 tentang penyelenggaraan Sistem Kredit
Semester (SKS)
3. Surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam nomor 6633 Tahun
2019 tentang madrasah penyelenggara SKS
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang
Standar Kepala Sekolah/Madrasah
5. Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018 tentang
Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah
C. Profil Madrasah
1. Sekolah Magang 1
Pada tahun 1971 berdirilah lembaga pendidikan Guru Agama (PGA)
Muallimin 4 yang berlokasi di desa Ngraho Kecamatan Ngraho Kabupaten
Bojonegoro, yaitu ujung barat perbatasan Kabupaten Ngawi dan Blora. Sejak
tahun 1978 lembaga pendidikan Guru Agama (PGA) Muallimin 4 berubah
menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Fatah. Pendirinya antara lain ( H.
Karno Hasan, H. Asrori AM, H. Ismani, dan lain-lain ) tokoh masyarakat pada
waktu itu, Berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia, Nomor
515 A Tahun 1995 tanggal 25 Nopember 1995 status MTs Al Fatah menjadi
5
NEGERI, dengan nama Madrasah Tsanawiyah Negeri ( MTsN ) Ngraho
Kabupaten Bojonegoro Atas dukungan masyarakat, Yayasan Pendidikan Islam
Raden Fatah desa Ngraho yang merupakan induk MTs Al Fatah mandapat tanah
wakaf dari H. Affan. Berangkat dari sangat sederhana dan selanjutnya terus
berkembang terwujudlah bangunan Madrasah yang permanen meskipun belum
mencukupi kebutuhan minimal ruang belajar dan penunjang lainnya. Saat ini
Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Ngraho Kabupaten Bojonegoro semakin
mendapat kepercayaan masyarakat dan semakin besar. Dan pada tahun 2016
nama Madrasah Tsanawiyah Negeri ( MTsN ) Ngraho berubah menjadi MTsN 4
Bojonegoro.
Kepemimpinan kepala madrasah di MTsN 4 Bojonegoro dari tahun
ketahun adalah sebagai berikut :
1) Tahun 1971 – 1978 : Drs. H. ASRORI, AM
2) Tahun 1979 – 1995 : ISMANI
3) Tahun 1995 - 1998 : Drs. H. KARNO HASAN, MM
4) Tahun 1998 - 1999 : SUHADI, S.Ag
5) Tahun 1999 - 2006 : Drs. H. MABRUR THOHA
6) Tahun 2006 - 2010 : HJ. MASLIKHAH, S.AG
7) Tahun 2010. – 2012 : Drs. AGUNG HIDAYATULLAH, M.Pd.I
8) Tahun 2012 - 2015 : FATHUL AMIN, S.Pd.MM
9) Tahun 2015 – 2022 : Drs.LUKMANUL HAKIM
Adapun visi misi dan tujuan yang ada di MTsN Bojonegoro adalah
sebagai berikut :
1. Visi : MADRASAH PROFESIONAL YANG
“TERWUJUDNYA
MENGHASILKAN PESERTA DIDIK BERPRESTASI, BERILMU,
BERAMAL ILMIAH SERTA BERAKHLAQUL KARIMAH”. ( Terwujudnya
generasi yang professional yang berprestasi,berilmu,beramal serta berakhlaqul
karimah )
Dengan indikatornya adalah : Unggul ( professional ) dalam
kompetensi lulusan. Unggul ( professional ) dalam Prestasi olahraga dan seni.
Unggul ( professional ) dalam kegiatan keagamaan. Unggul ( professional )
dalam ketertiban dan kesopanan di ingkungan madasah dan masyarakat. Unggul
6
( professional ) dalam penerapan Imtaq dan Iptek.
2. Misi :
1). Meningkatkan hasil lulusan.
2). Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif.
3). Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif.
4). Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya.
5). Menciptakan lingkungan Madrasah yang sehat,bersih dan indah.
6). Melaksanakan pengembangann bidang sopan santun di Madrasah dan
Masyarakat.
3. Tujuan
1). Adanya peningkatan etos kerja,sikap dan amaliah keagamaan pada warga
Madrash dari pada sebelumnya.
2). Adanya peningkatan kepedulian warga Madrasah terhadap kebersihan dan
keindahan lingkungan Madrasah dari pada sebelumnya.
3). Adanya peningkatan kualitas dan kuantitas sarana/prasarana dan fasilitas yang
mendukung peningkatan prestasi akademik dan non akademik.
4). Adanya peningkatan skor Ujian minimal rata-rata +1,00 dari standart yang
ada.
5). Adanya peningkatan para siswa yang memiliki minat,bakat dan kemampuan
terhadap Bahasa Arab dan Inggris semakin meningkat dari sebelumnya.
6). Adanya peningkatan dalam memiliki tim olahraga minimal 2 cabang yang
mampu menjadi finalis tingkat propinsi.
7). Adanya peningkatan dalam memiliki tim kesenian.
2. Profil Sekolah Magang 2
Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN 2 ) Bojonegoro bermula dari
dibukanya pendaftaran murid baru PGA Persiapan Negeri Padangan pada tanggal
12 Juli 1972 dengan menerima 12 siswa., yang didirikan oleh Bapak Fachur Rozi
bersama Muspika Kec. Padangan dan tokoh tokoh masyarakat
Tepatnya tanggal 31 Mei 1980 terbit dengan Surat Keputusan Menteri
Agama Nomor 27 / 1980. Tentang relokasi Madrasah Negeri dan Pendidikan
Guru Agama Negeri dari MTs. Negeri Randusongo Kab. Ngawi ke MTs N
Padangan Kab. Bojonegoro
7
Pada tanggal 17 Nopember tahun 2016 Madrasah Tsanawiyah Negeri
Bojonegoro II Padangan Kab. Bojonegoro berubah menjadi Madrasah
Tsanawiyah Negeri 2 Bojonegoro berdasarkan surat keputusan Kementerian
Agama nomor 673 tahun 2016.
Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Bojonegoro saat ini ini sudah
mengalami perkembangan yang cukup pesat. Selain menjadi sekolah adiwiyata
Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Bojonegoro juga menjadi sekolah yang berbasis
SKS.
Kepemimpinan kepala madrasah di MTsN 4 Bojonegoro dari tahun ketahun
adalah sebagai berikut :
1. NAMA : FACHRUR
NIP : 150015184
PERIODE TAHUN : 1980 - 1995
2. NAMA : DRS. MOH. HUSNI
NIP : 150041805
PERIODE TAHUN : 1995 - 1999
3. NAMA : SUHADI, S.AG
NIP : 150156404
PERIODE TAHUN : 1999
4. NAMA : DRS. SURIP
NIP : 150079848
PERIODE TAHUN : 1999 - 2007
5. NAMA : DRS. KHOIRUSSALIM, M.PDI
NIP : 150261269
PERIODE TAHUN : 2007 - 2010
6. NAMA : DRS. KASNAN WIJAYA, M.M
NIP : 196207271986031005
PERIODE TAHUN : 2010 - 2013
7. NAMA : DRS. JUKI
NIP : 196603091999031001
PERIODE TAHUN : 2013 - 2015
8. NAMA : DRS. SUTAR, M.M
NIP : 196306151999031003
8
PERIODE TAHUN : 2015 - 2018
9. NAMA : FATHUL AMIN, S.PD, M.M
NIP : 196601051998031002
PERIODE TAHUN : 2018 – SEPTEMBER 2020
10. NAMA : EKO SUPRIYANTO, S.PD
NIP : 197504042005011005
PERIODE TAHUN : OKTOBER 2020 – SEKARANG
Adapun visi dan misi dan tujuan yang ada di MTsN 2 Bojonegoro
adalah sebagai berikut :
1. Visi :
Terwujudnya Lulusan Madrasah Yang Unggul Dalam Iman-Amal-Akhlak
Mulia, Prestasi Akademik Dan Non Akademik, Berwawasan Lingkungan
Serta Kompetitif Secara Internasional.
2. Misi
1. Melaksanakan pembelajaran dan pembiasaan dalam menjalankan ajaran
agama Islam secara utuh
2. Melaksanakan pembelajaran dan pembimbingan secara aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan (PAKEM) dalam pencapaian prestasi, akademik dan Non
akademik dengan pendekatan CTL (Contextual Teaching Learning)
3. Menyelenggarakan tata kelola madrasah yang efektif, efesien , transparan dan
akuntabel
4. Meningkatkan pengetahuan dan profesionalisme tenaga kependidikan sesuai
dengan perkembangan dunia pendidikan
5. Menjadikan madrasah sebagai madrasah model dalam pengembangan
pembelajaran yang mengintegrasikan Imtaq dan Iptek
6. Memiliki daya saing dalam prestasi ICT
7. Menumbuh kembangkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh
warga madrasah baik dalam prestasi akademik maupun Non akademik
8. Menerapkan menejemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga
madrasah dan komite madrasah
9. Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi diri sehingga
dapat dikembangkan secara lebih optimal
Menciptakan lingkungan madrasah yang sehat bersih dan indah
9
3. Tujuan Madrasah
1. Mengembangkan model pembelajaran yang mengintegrasikan Imtaq dan
Iptek sehingga unggul akan prestasi serta berwawasan kebangsaan
2. Menghasilkan pencapaian standar pendidik dan tenaga kependidikan yang
professional dan memiliki sertifikasi sesuai dengan bidangnya masing-masing
3. Menghasilkan pencapaian standar sarana prasarana sesuai dengan standar
nasional pendidikan
4. Menghasilkan manajemen pengelolahan madrasah yang partisipatif dan
akuntabel sesuai dengan ketentuan standar nasional pendidikan
5. Memenuhi sistem penilaian sesuai dengan standar nasional pendidikan
6. Memiliki sambungan internet dan sistem informasi dan manajemen (SIM)
yang handal
7. Menghasilkan berbagai macam strategi untuk penggalangan dana melalui
komite Madrasah
D. Tujuan Penulisan Laporan
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dari penulisan
laporan OJT-2 ini adalah :
1. Untuk mengetahui Desain Pengembangan Kurikulum Madrasah Berbasis
Sistem Kredit Semester (SKS) di MTsN 2 Bojonegoro yang kemudian
berusaha menerapkan di MTsN 4 Bojonegoro sebagai upaya inovasi dibidang
kurikulum
2. Mengembangkan inovasi proyek kepemimpinan di Madrasah asal.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penyusunan laporan ini nantinya akan dibagi menjadi tiga
bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Untuk
memudahkan dalam penulisan, maka pembahasan dalam laporan penelitian
dikelompokkan menjadi tiga bab yang masing-masing bab terdiri sub bab yang
berkaitan. Sistematika pembahasan ini adalah:
Bab pertama, adalah pendahuluan yang berisi latar belakang masalah,
dasar hukum, profil madrasah, tujuan penulisan laporan, sistematika penulisan.
10
Bab kedua, adalah pembahasan dan analisis data yang berisi, rencana
proyek kepemimpinan madrasah, praktek penguatan profil pelajar pancasila dan
pelajar rahmatan lil alamin. Pelaksanaan Rencana Proyek Peningkatan
Kompetensi
Bab ketiga, adalah penutup yang berisi kesimpulan, saran dan lampiran
11
BAB II
PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA
A. Pelaksanaan Rencana Proyek Kepemimpinan Madrasah
1. Kepemimpinan Pembelajaran
a. Uraian Pelaksanaan Tugas
Kepala madrasah adalah seorang guru yang diangkat dan diberikan
tugas tambahan untuk memimpin penyelenggaraan pendidikan pada suatu
madrasah. 7 Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13
Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, telah ditetapkan
bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yang perlu dimiliki kepala
sekolah/madrasah, yaitu: Kepribadian, Manajerial, kewirausahaan
Supervisi dan Sosial. 8 Sejalan dengan semakin meningkatnya tuntutan
masyarakat terhadap akuntabilitas sekolah, maka meningkat pula tuntutan
terhadap peran kepala sekolah. Kepala sekolah diharapkan mampu
melaksanakan fungsinya secara baik sebagai manajer dan leader di sekolah
dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.
Selain itu sebagai seorang kepala sekolah juga harus mampu
menerapkan Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah yang tak jarang
dikenal menggunakan MBS. Penerapan MBS ini hasruslah memenuhi 8
(delapan) standar nasional pendidikan (SNP), yakni:
1) Standar isi
Standar yang pertama adalah standar isi. Yang diatur dalam standar isi
mencakup komponen materi dan tingkat kompetensi minimal yang
dimiliki oleh siswa pada suatu jenjang pendidikan.
7 “Peraturan Menteri Agama Riepublik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 Tentang
Kepala Madrasah”(BAB I Pasal 1).
8 “Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah”(Halaman Lampiran).
12
Standar isi memuat beberapa hal, yaitu kerangka dasar dan struktur
kurikulum, beban belajar, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP), dan kalender akademik.
2) Standar Proses
Yang kedua adalah standar proses. Standar proses ini berkaitan dengan
proses pelaksanaan pembelajaran di masing-masing jenjang pendidikan.
Dalam menyelenggarakan proses pembelajaran, setiap instansi
pendidikan harus melakukannya dengan interaktif, inspiratif,
menyenangkan, dan partisipatif atau mengikutsertakan peserta didik
dalam proses pembelajaran.
3) Standar Kompetensi Lulusan
Yang ketiga dari 8 standar pendidikan Nasional Indonesia adalah
Standar Kompetensi Lulusan. Standar ini berkaitan erat dengan kriteria
kemampuan lulusan dari suatu instansi pendidikan. Setiap peserta didik
yang lulus dari suatu jenjang pendidikan diharapkan memiliki
kemampuan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang memadai dan
sesuai dengan standar yang berlaku.
4) Standar Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
Yang keempat adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan.
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang bertugas untuk mendidik,
membimbing, mengajar, menilai para peserta didik. Sedangkan tenaga
kependidikan adalah semua orang yang terlibat dalam suatu instansi
pendidikan, mulai dari kepala sekolah, tenaga laboratorium, tenaga
administrasi dan tata usaha, pustakawan, pengawas sekolah, dan
sebagainya.Baik pendidik maupun tenaga kependidikan harus memiliki
kualifikasi akademik dan kompetensi yang sesuai agar tujuan pendidikan
bisa tercapai. Kualifikasi akademik yang dimaksud adalah syarat minimal
pendidikan yang harus dimiliki. Tidak hanya kualifikasi akademik, seorang
pendidik juga harus menguasai kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial.
13
5) Standar Sarana Dan Prasarana
Yang kelima adalah standar sarana dan prasarana. Demi
berlangsungnya proses pembelajaran, setiap instansi pendidikan perlu
memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang
proses pembelajaran yang berkelanjutan, teratur, dan juga nyaman.
Dalam standar ini, diatur mengenai sarana dan prasarana yang wajib
dimiliki oleh setiap satuan pendidikan.
Sarana pendidikan yang wajib dimiliki meliputi perabot, peralatan
pendidikan, media pendidikan, buku atau sumber belajar lainnya,
perlengkapan habis pakai, dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan
untuk menunjang proses pembelajaran.
Prasarana pendidikan yang wajib dimiliki meliputi lahan, ruang kelas,
ruang pimpinan, ruang pendidik, ruang TU, perpustakaan,
laboratorium, bengkel kerja, kantin, tempat olahraga, tempat ibadah,
dan ruangan lain yang diperlukan untuk kelancaran proses
pembelajaran.
6) Standar Pengelolaan
Yang keenam dari 8 standar pendidikan nasional Indonesia adalah
standar pengelolaan. Standar pengelolaan dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu standar pengelolaan oleh satuan pendidikan, standar pengelolaan
oleh pemerintah daerah, dan standar pengelolaan oleh pemerintah.
Hal-hal yang berkaitan dengan standar pengelolaan ini diatur lebih
lanjut dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
7) Standar Pembiayaan
Standar pendidikan yang ketujuh adalah standar pembiayaan. Proses
pendidikan bisa terselenggara karena adanya pembiayaan yang
berkelanjutan. Peraturan yang mengatur lebih lanjut mengenai standar
pembiayaan adalah Peraturan Menteri No. 69 Tahun 2009.
14
Pembiayaan didalam dunia pendidikan terdiri dari tiga komponen,
yaitu :
a) Biaya investasi
Yang termasuk biaya investasi adalah penyediaan sarana dan
prasarana, biaya untuk pengembangan sumber daya manusia, dan
biaya untuk modal kerja tetap.
b) Biaya personal
Yang dimaksud dengan biaya personal adalah biaya yang
dibayarkan oleh peserta didik agar 15ias mengakses pendidikan
secara berkelanjutan.
c) Biaya operasi
Yang termasuk biaya operasi pendidikan adalah gaji serta
tunjangan untuk pendidik dan tenaga kependidikan, perlengkapan
habis pakai, termasuk juga biaya listrik, air, koneksi internet, dan
sejenisnya.
8) Standar Penilaian Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan yang terakhir adalah standar penilaian
pendidikan. Ini mengatur segala hal yang berkaitan dengan prosedur
penilaian pada peserta didik. Penilaian dilakukan untuk mengukur
keberhasilan pemahaman peserta didik dan keberhasilan proses
pembelajaran selama ini. 9
Berdasarkan Peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
6 Tahun 2018 tentang Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah
adalah penyiapan kompetensi calon kepala sekolah untuk memantapkan
wawasan, pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan dalam memimpin
sekolah, yang bertujuan untuk
1) Memberikan pengalaman belajar yang terpadu antara sikap,
pengetahuan, dan keterampilan pada dimensi kompetensi kepribadian,
manajerial, Manajerial, supervisi, dan sosial dengan pengalaman
empirik (kontekstual) sesuai karakteristik calon kepala sekolah;
9 “Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah”.
15
2) Mengembangkan kemampuan calon kepala sekolah dalam
mengidentifikasi masalah pembelajaran untuk meningkatkan capaian
belajar peserta didik;
3) Mengembangkan kemampuan calon kepala sekolah dalam menentukan
strategi penyelesaian masalah sehingga dapat membangun budaya
belajar sekolah dalam satu ekosistempersekolahan;
4) Mengembangkan kemampuan kepemimpinan calon kepala sekolah
dalam menggerakkan warga sekolah untuk membantu penyelesaian
masalah pembelajaran di sekolah, yang bermuara pada terwujudnya
student wellbeing. 10
Dari hasil pengamatan sementara peneliti ( calon kepala madrasah )
di tempat magang 2 ditemukan bahwa, sekolah tempat magang 2 ( MTsN 2
Bojonegoro ) sudah menerapkan sekolah berbasis SKS. Mengacu pada
konsep SKS, penyelenggaraan SKS di MTsN 2 Bojonegoro berpedoman
pada prinsip sebagai berikut:
1) Peserta didik menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang
diikuti pada setiap semester sesuai dengan kemampuan, bakat, dan
minatnya;
2) Peserta didik yang berkemampuan dan berkemauan tinggi dapat
mempersingkat waktu penyelesaian studinya dari periode belajar yang
ditentukan dengan tetap memperhatikan ketuntasan belajar;
3) Peserta didik didorong untuk memberdayakan dirinya sendiri dalam
belajar secara mandiri;
4) Peserta didik dapat menentukan dan mengatur strategi belajar dengan
lebih fleksibel;
5) Peserta didik memiliki kesempatan untuk memilih kelompok peminatan,
lintas minat, dan pendalaman minat, serta mata pelajaran sesuai dengan
potensinya;
6) Sekolah menyediakan sumber daya pendidikan yang lebih memadai
secara teknis dan administratif;
10 “Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018
Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah/Madrasah”
16
Penjadwalan kegiatan pembelajaran diupayakan dapat memenuhi
kebutuhan untuk pengembangan potensi peserta didik yang mencakup
pengetahuan, sikap, dan keterampilan;
7) Guru memfasilitasi kebutuhan akademik peserta didik sesuai dengan
kemampuan, bakat, dan minatnya.
8) Guru dapat menggunakan media pembelajaran yang bervariatif untuk
menyampaikan materi pembelajaran. 11
Oleh karena itu peneliti ( calon kepala madrasah ) berkeinginan
melakukan sebuah inovasi di tempat magang 1 ( MTsN 4 Bojonegoro ) atau
sekolah asal untuk menjadikan sekolah asal menjadi sekolah yang
kedepannya bisa berbasis SKS.
Akan tetapi untuk menuju sekolah yang berbasis SKS dirasa perlu
untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Sekolah magang 1 ( MTsN 4
Bojonegoro ) pada observasi awal dirasa sudah baik dalam penerapan 8
SNP, akan tetapi masih perlu adanya penguatan pada standar isi dan
standar proses.
Dari hasil observasi tersebut, maka calon kepala madrasah
membuat dua rencana proyek yang meliputi :
1) Rencana Proyek Kepemimpinan (RPK)
Dalam membuat Rencana Proyek Kepemimpinan (RPK) di tempat
magang 1 calon kepala madrasah ingin membuat sebuah inovasi
khususnya dibidang kurikulum yakni ingin meningkatkan kompetensi
guru dalam menggunakan media pembelajaran berbasis virtual Reality
dan pembuatan modul elektronik.
5 Mariyana Ricky P.D, “KURIKULUM 2013 : Kelas Akselerasi Dihapus Tahun
Depan, Ini Gantinya,” 9 Oktober 2014, https://m.solopos.com/kurikulum-2013-kelas- akselerasi-
dihapus-tahun-depan-ini-gantinya-543037. Diakses pada tanggal 10 Desember 2022 pukul 13:35
WIB
17
Adapun tujuan rencana proyek kepemimpinan di tempat magang 1
yaitu untuk :
a) Menumbuh kembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan pada
dimensi-dimensi kompetensi kepribadian, manajerial,
kewirausahaan, supervisi dan sosial bagi calon kepala sekolah dan
penerapan 8 SNP untuk menuju sekolah yang berbasis SKS;
b) Meningkatkan Kemampaun guru dalam pemanfaatan multi media
Pembelajaran
c) Meningkatkan Prestasi belajar peserta didik, dalam pemanfaatan
multi media pembelajaran
d) Meningkatkan kompetensi supervisi akademik calon kepala sekolah
yang merupakan aspek yang lemah pada hasil AKPK
e) Meningkatkan kemampuan calon Kepala sekolah dalam Penyusunan
hasil Pelaksanaan Rencana Tindakan Proyek Kepemimpinan.
2) Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Berdasarkan Analisis
Kebutuhan Pengembangan Keprofesian (AKPK)
Dalam Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Berdasarkan AKPK
calon kepala madrsah akan mengamati kelemahan apa yang masih dimiliki
oleh seorang calon kepala madrasah. Calon kepala madrasah akan
meningkatkan kompetensi yang dirasa masih kurang pada sekolah magang
2. Sehingga diharapkan setelah melakukan kegiatan tersebut seorang calon
kepala madrasah mampu memiliki kompetensi kepemimpinan yang cakap
unggul dan mampu mengantarkan madrasahnya menjadi madrasah yang
hebat dan bermartabat.
18
b. Langkah- Langkah Pelaksanaan Praktik
Langkah – langkah pelaksanaan praktik akan dimulai dari :
1) Berkoordinasi dengan kepala madrasah dan warga madrasah terkait
dengan rencana pelaksanaan kegiatan ini, dan selanjutnya diadakan
sosialisasi kepada warga sekolah melalui rapat koordinasi.
2) Pada tahap persiapan ini dibentuk susunan kepanitiaan dan menetapkan
waka bidang akademik bertindak selaku ketua panitia.
3) Menetapkan jumlah peserta dan menentukan narasumber
4) Membuat Jadwal Pelaksanan Kegiatan
Gambar 2.1
Pembentukan Kepanitiaan
19
Tabel 2.1
Tahap Perencanaan Siklus 1 Kegiatan RPK
No Jenis Kegiatan Waktu Keterangan
Sosialisasi dan Pelaksanaa
koordinasi Rapat
persiapan bersama 21 November
2022
1 warga sekolah yang
akan terlibat dalam 21 November
pelaksanaan RPK dan 2022
PK 21 November
2022
2 Menyusun Kepanitiaan
21 November
Pembuatan SK panitia 2022
dan Koordinasi dengan
3
Narasumber dalam
rangka persiapan
Kegiatan RPK.
Menyusun Jadwal
4 pelaksanaan
c. Data Dan Analisis Data Hasil Praktek
1) Siklus 1
a) Persiapan Dan Pelaksanaan
Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan maka kegiatan ini
dilaksanakan dalam bentuk pembimbingan oleh narasumber yang
sudah ditetapkan berdasarkan dengan pengalaman yang telah
dimiliki. Pada tahapan pelaksanaan, panitia mengarahkan kepada
seluruh peserta untuk melaksanakan registrasi dan pengisian daftar
hadir sebelum kegiatan dimulai, dilanjutkan dengan pembukaan
kegiatan workshop pengembangan media pembelajaran berbasis
20
teknologi virtual Reality dan pembuat modul elektronik. Setelah
pembukaan dilanjutkan pemaparan materi dan sosialisasi tentang
pemanfaatan multi media pembelajaran kepada seluruh peserta yang
sudah ditetapkan.
Gambar 2.2
Pembukaan Kegiatan Workshop
Pada sesi berikutnya pemateri telah melaksanakan praktik
pembimbingan materi multi media pembelajaran tentang cara
penggunaan media pembelajaran VR Box dan modul elektronik,
untuk meningkatkan kompetensi guru dan peningkatan minat belajar
siswa Narasumber memberikan pendampingan langsung dengan
mengadakan simulasi pemanfaatan terhadap semua fitur-fitur yang
tersedia pada media pembelajaran VR Box. Dan kemudian pemateri
juga menyampaikan cara pembuatan modul elektronik. Seluruh
peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan.
21
Gambar 2.3
Materi Kegiatan Workshop
Dari data isian instrument mentor 1 yang melaksanakan
observasi kepada 10 (sepuluh ) orang peserta yang megikuti kegiatan
ini telah memberikan penilaian 95,45 % terhadap keterlaksanaan
pembimbingan Multi media pembelajaran. Dari prosesntase tersebut
dapat diambil kesimpulan bahwa hampir semua guru telah merespon
positif terhadap pelaksanaan worksop Pengembangan Multi Media
Pembelajaran berbasis teknologi virtual reality dan pembuatan modul
elekrtonik
b) Monitoring dan Evaluasi
Selama 2 (dua) hari pelaksanaan kegiatan Rencana Proyek
Kepemimpinan Siklus I (Pertama) kami melaksanakan pengisian
instrument monev pada hari ke 1. Dalam Kegiatan Monitoring dan
evaluasi tersebut, Mentor 1 melaksanakan observasi terhadap 10
orang peserta dan hasil yang di dicapai adalah 96,88 %. Dari data
tersebut hanya 1 (satu) instrument yang mendapatkan penilaian (3).
Karena dari sepuluh guru yang dibimbing masih ada sebagaian
peserta belum bisa menggunakan VR Box dan pembuatan modul
elektronik dengan baik.
22
c) Hasil
Pelaksanaan penelitian Recana Proyek Kepemimpinan
(RPK) Pelatihan Calon Kepala Sekolah Tahun 2022, dijadwal ke
dalam 2 Siklus. Siklus 1 dilaksanakan pada hari selasa 22 November
2022. Sedangkan Siklus ke 2 (dua) dijadwalkan pada hari Rabu
tanggal 23 November 2022. jika ada peserta yang mendapat kategori
nilai dibawah 91.
Dalam pelaksanaan kompetensi guru, calon kepala sekolah,
melaksanakan pengamatan terhadap peserta yang merupakan guru-
guru MTsN 4 Bojonegoro sebanyak 10 orang dan perwakilan siswa
sebagai sampel. Penetapan sampel ini diambil berdasarkan tingkat
kemampuan guru terhadap multi media pembelajaran dari mereka
yang sepuluh orang ini ada yang sudah mengetahui dan
menggunakannya namun belum terlalu optimal, dan prosentase
penggunanya hanya berkisar 0,14% berdasarkan survey awal melalui
google formulir. Penetapan sampel ini adalah hal yang sangat penting
dalam rangka mendapatkan informasi yang akurat yang dapat diukur
sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Hal ini senada dengan Seteevens (1951) dalam buku Dr.
Syamsir Torang (2009) bahwa pengukuran adalah penetapan /
pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan
tertentu. Oleh karena itu sampel yang kami tetapkan adalah peserta
yang dapat membantu penulis dalam memberikan data yang akurat
sesuai tujuan yang hendak dicapai sesuai dengan tingkat
kemampuannya.
Dalam kegiatan ini peserta ( guru dan siswa ) dibagikan
lembar materi/panduan kegiatan serta instrument yang telah
disiapkan oleh calon kepala sekolah. Dari kajian tersebut selanjutnya
dianalisis bersama sama oleh calon kepala sekolah dan guru.
Selanjutnya guru- guru di beri tugas untuk merancang media/materi
yang akan dipraktekkan melalui VR Box dan membuat modul
elektronik.
23
Pada Kegiatan pembimbingan, merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan kompetensi calon kepala sekolah demi peningkatan
kualitas pembelajaran untuk menuju sekolah berbasis SKS.
Seiring rendahnya minat belajar siswa serta rasa bosan yang
dirasakan oleh siswa dengan alasan metode pembelajaran yang
dilaksanakan oleh guru yang sangat monoton. Oleh karena itu guru
dituntut untuk menciptakan suasana mengajar yang menyenangkan
dengan menggunakan media yang variatif, sehingga selaku calon
kepala sekolah mengadakan pembimbingan multi media
pembelajaran terhadap guru-guru dan 1 (satu) kelas siswa sebagai
sampel dalam kegiatan ini. Berikut grafik prosentase penggunaan
aplikasi dalam kegiatan pembelajaran di MTsN 4 Bojonegoro.
Chart Title
5 MAPEL IPS MAPEL SKI MAPEL AQIDAH
4
3
2
1
0
MAPEL IPA
MEDIA PEMBELAJARAN MEDIA PEMBELAJARAN3
MEDIA PEMBELAJARAN2
Grafik 2.1
Grafik Prosentase Pengguna Media Pembelajaran Pada Kegiatan
Pembelajaran MTsN 4 Bojonegoro
Berdasarkan pada grafik di atas terlihat bahwa betapa
minimnya media pembelajaran yang digunakan oleh guru pada
kegiatan pembelajaran. Maka sangat wajar jika siswa muncul rasa
bosan dan menjenuhkan dan berdampak terhadap hasil prestasi
belajar siswa yang menurun.
24
Berdasarkan pada jadwal siklus 1 (pertama) yang telah
disusun, simulasi penerapan media pembelajaran VR Box pada
kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam 1 hari, Hari pertama di
berikan pemaparan langkah-langkah penggunaan Multi media
pembelajaran dan simulasi dan dilanjutkan simulasi penggunaan VR
Box dan tata cara pembuatan modul elektronik dalam kegiatan
pembelajaran
Indikator keberhasilan penerapan pelatihan Pembimbingan
Multi media pembelajaran adalah apabila skor kemapuan guru
sebagaipeserta pelatihan mencapai skor kemampuan guru minimal
91, dengan kategori penilaian kualitatif Baik Sekali
Tabel 2.2
Hasil Tingkat Kemampuan Peserta dalam Pembimbingan Penggunaan
Media Pembelajaran VR Box Dan Modul Digital
Pada Sikulus 1 (Pertama)
NO NAMA PESERTA NILAI
1 Drs. M. ZAENI 87,50
2 INAYATIN SYAROFI, S.Pd 96,88
3 EVA KARTIKA NURFAIDAH S.Pd 93,75
4 M. IRFAN ISBANDI, S.Pd 100
5 AINUR ROFIQ, S.Pd 93,75
6 DRA SUKINEM 75,00
7 SITI MUSDALIFAH S.Pd 93,75
25
8 ARY SUBAGJO, S.Pd 96,88
9 PITOYO, S.Pd.I 93,75
10 Dra. INZAROH 93,75
Berikut adalah grafik tingkat kemampuan guru mengikutipembimbingan
multi media pembelajaran :
120 87.5 96.88 93.75 100 93.75 93.75 96.88 93.75 93.75
100
80 75
60
40
20
0
Series 1
Grafik 2.2
Grafik tingkat kemampuan guru dalamPenggunaan Media Pembelajaran
VR Box Dan Modul Elektronik Siklus 1
Dari hasil observasi pelaksanaan yang berlangsung selama
2 (dua) hari, maka nampak pada Tabel dan grafik di atas bahwa
masih ada 2 (dua) orang peserta yang belum mampu
mengapilakasikan Multi media pembelajaran secara optimal dan
membutuhkan pembimbingan yang lebih lanjut dari Narasumber atau
dilaksnakan secara tutor sebaya pada siklus berikutnya atas nama an.
26
Drs.M. Zaeni, (87,50) dan Dra. Sukinem, (75,00),. Sedangkan
Peserta yang lainnya sudah mendapat nilai di atas 91. Dan 1 (satu )
orang peserta mendapatkan nilai sempurna yaitu 100 (Amat Baik).
Pencapaian nilai tersebut sangat memungkin kepada yang
bersangkutan untuk bertindak selaku tutor sebaya, sebagaimana yang
dikatakan oleh Anggela Merici dkk (2014) dalam Jurnalnya “Metode
Pembelajaran Tutor Sebaya” bahwa Syarat – syarat yang harus
dipenuhi untuk menjadi tutor sebaya antara lain, berprestasi baik,
dapat diterima atau disetujui oleh orang lain yang mendapat
bantuan sehingga leluasa bertanya, dapat menerangkan dengan jelas
bahan pengajaran yang dibutuhkan oleh peserta, berkepribadian
ramah, lancar berbicara, luwes dalam bergaul, tidak sombong dan
memiliki jiwa penolong serta memiliki daya kreatifitas yang cukup
untuk membimbing temannya.
Tabel 2.3
Prosentase Ketercapaian Setiap Indikator
Prosentase
No Indikator Soal ketercapaian Kategori
Peserta
Peserta Sudah mengetahui secara 97,5 % A
1 umum tentang manfaat VR Box
Peserta sudah mampu menggunakan 87,5 % A
2 VR Box 85,00 % B
Peserta sudah mampu mencari 97,5 % A
3 Video pembelajaran untuk di
gunakan di VR Box
Peserta sudah dapat memanfaatkan
4 VR Box dalam kegiatan
pembelajaran
27
Peserta sudah dapat dapat
5 mengunduh bahan ajar yang telah 97,5 % A
95,00 % A
tersedia A
87,5 %
6 Peserta sudah dapat memanfaatkan 95,00 % A
VR Box sebagai media
pembelajaran
Peserta sudah dapat dapat
7 menjadikan laboratorium maya
sebagai media pembelajaran
Praktek
Peserta dapat membuat modul
8 digital sebagai sumber referensi
kegiatan pembelajaran
Berdasarkan table di atas dapat disimpulkan bahwa hampir
semua indikator instrument sudah berkategori amat baik (A) dengan
prosentase pencapaian ≤ 87,50 %, hanya 1 indikator yang berkategori
(B) dengan prosentase prolehan 85,00%. Ini menunjukkan bahwa
peserta sudah menggunakan dan memanfaatkan Multi media
pembelajaran secara optimal,
Dari Observasi yang dilaksanakan oleh guru terhadap siswa
yang dijadikan sampel telah terjadi pencapaian peningkatan prestasi
siswa, ini penting untuk dilakukan untuk mengukur ketercapaian
kegiatan pembimbingan terhadap peningkatan prestasi peserta didik,
dan untuk mengukur sampai sejauh mana tingkat pemanfaatan Multi
media pembelajaran dalam meningkatkan hasil Belajarnya.
Senada dengan apa yang dijelaskan oleh Ngalim Poerwanto
dalam (caksyeh.blogspot.com 2013) bahwa Hasil belajar
merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses
belajar berlangsung,yang dapat memberikan perubahan tingkah laku
baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan siswa
sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hasil belajar
28
merupakan salah satu indikator dari proses belajar. Hasil belajar
adalah perubahan perilaku yang diperoleh siswa setelah mengalami
aktivitas belajar.
Salah satu indikator tercapai atau tidaknya suatu proses
pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar yang dicapai oleh
siswa, oleh karena itu dengan menggunakan multi media
pembelajaran dianggap sebagai salah satu solusi untuk mencapai hal
tersebut. Dari hasil analisis peningkatan prestasi Peserta Didik telah
didapatkan nilai rata-rata 93,61 dengan kategori amat baik
Tabel 2.4
Kondisi Ketercapaian Hasil Ulangan HarianMata Pelajaran IPS
( KKM 75 )
NO NAMA SISWA HASIL NILAI UH
1 ADINDA KIRANA PUTRI UH I Kriteria UH II Kriteria
2 AGYAR FATHIR IBRAHIM
3 AHMAD SOLIKHAN 30 TT 75 T
4 AJENG REKNO HADINI
5 AJI PUTRA DEWANGGA SUSILO 80 T 80 T
6 ANDIK FIRMANSYAH
7 ARI PANCA PRASTYA 60 TT 75 T
8 BINTANG ADINDRA PUTRA
9 DEFANO ALVIAN 60 TT 75 T
10 DINA AMELIA
11 DWI PRAYITNO 80 T 80 T
12 DWI RAHMADANI
60 TT 86 T
13 MOCH. RINDHO AL'IMRON
14 NATASYA VALENTINA 50 TT 86 T
15 NONA LIA
16 NUR AZIZAH 70 TT 78 T
17 PITA NOPVIYANA
18 PUJI SETIYOWATI 60 TT 78 T
80 T 90 T
60 TT 76 T
20 TT 80 T
60 TT 80 T
60 TT 78 T
60 TT 78 T
70 TT 80 T
70 TT 80 T
40 TT 90 T
29
19 PUTRI DEWI ARIMBI 50 TT 100 T
20 RAHMAWATI MEILANI PUTRI T
70 TT 100
21 RIZAL AFDHANY SHABARA T
22 RIZKY SAPUTRA 70 TT 80 T
23 SAFA APRILLIA PUTRI 60 TT 86 T
24 SALSABELA 70 TT 86 T
25 SITI FAISZATUL NIKMAH 60 TT 78 T
26 SITI ROHMATUN NISAK 60 TT 78 T
27 TEGAR DWI HANANTO 30 TT 90 T
28 TEGUH CAHYONO 50 TT 76 T
29 WIWIK INDASYAH MUNAWAROH 90 TT 80 T
30 YUKY ANDHRA PRATAMA 20 TT 80 T
31 ZAENAB NUR ABIDAH 70 TT 78 T
100 78 T
32 ADINDA EKA AMELIA SEPTIANI T
60 TT 80 T
Nilai Rata-rata 82,00
60,31
Berdasarkan tabel pencapaian nilai pada ulangan harian II
(Kedua) mata pelajaran IPS di atas telah terlihat bahwa prestasi
belajar siswa sangat meningkat dengan nilai rata-rata 82,00 jika
dibandingkan dengan ulangan harian I (Pertama) dengan nilai rata –
rata hanya 60,31. Pelaksanaan ulangan harian ini dilaksanakan
setelah penerapan multi media pembelajaran.
d) Refleksi
Refleksi dilakukan dengan menganalisis seluruh instrumen
observasi dan monitoring serta evaluasi yang telah diisi dan
memeriksa hasil kerja peserta. Berdasarkan hasil analisis kompetensi
guru pada siklus 1, diperoleh hasil sebagai berikut
30
Tabel 2.5
Keterlaksanaan Program Kegiatan RPK.
Siklus 1.
Rata-Rata
No Jenis Instrumen Awal Siklus 1
. - 95,45 %
1 Keterlaksanaan Program Kegiatan
- 96,88 %
2 Evaluasi Hasil Kegiatan
- 93,61 %
3 Peningkatan prestasi siswa
- 94,27 %
4 Student Wellbeing
0,14% 92,81 %
5 Peningkatan Kemampuan Guru
Tabel di atas memperlihatkan tingkat keterlaksanaan
Rencana Proyek Kegiatan (RPK) Pembimbingan media multi
media pembelajaran siklus 1. Semua istrumen berkategori amat
baik dengan prosentase prolehan > 90.
Analisis instrument keterlaksnaan Program Kegiatan
95,14 dengan kategori amat baik, isian instrument yang
dilaksanakan oleh mentor 1 pada hasil evaluasi kegiatan mencapai
96,88, student wellbeing atau tingkat kepuasaan siswa setelah
menggunakan Multi media pembelajaran adalah 94,27,
selanjutnya hasil observasi mentor 1 terhadap seluruh guruatau
peserta yang mengikuti pembimbingan terhadap peningkatan
kemampuan guru telah didapatkan hasil analisis rata-rata nilai
adalah 92,81, yang sebelumnya tingkat kemampuan dan
pemanfaat an Mult i media pembelajaran hanya 0, 14 %
berdasarkan survey awal melalui google form. Sedangkan
hasil analisis instrumen peningkatan prestasi siswa mencapai
93,61.
Setelah dianalisis hasil kerja peserta secara spesifik,
ternyata masih ada 2 (dua) peserta yang belum mampu secara optimal
dalam memanfaatkan Multi media pembelajaran dalam kegiatan
pembelajaran. Hal ini menjadi salah satu alasan perlunya diadakan
31
siklus 2 yang fokus mendampingi peserta yang masih belum
mampu memanfaatkan media pembelajaran tersebut.
e) Tindak Lanjut
1) Melaporkan hasil evaluasi terkait tingkat partisipasi guru dan
siswa dalam menggunakan Multi media pembelajaran pada rapat
koordinasi kegiatan pembelajaran.
2) Memberikan bimbingan tambahan kepada guru dan siswa yang
dianggap belum mahir dalam menggunakan multi media
pembelajaran pada siklus 2 (dua)
2) Siklus 2
a) Persiapan
1) Berkonsultasi dengan kepala sekolah tentang perlunya
mengadakan siklus kedua pendampingan dalam penggunaan
media multi media pembelajaran secara lebih intensif.
2) Menyusun perencanaan kegiatan yang meliputi nara sumber,
bahan dan materi kegiatan. Dalam hal ini, kegiatan yang akan
dilakukan adalah pendampingan/pembimbingan dan
pemanfaatan tutor sebaya bagi peserta yang sudah mampu
menerapkan multi media pembelajaran dalam kegiatan
pembelajaran dapat membimbing rekan sejawat.
3) Mensosialisasikan rencana kegiatan kepada semua guru yang
menjadipeserta pada siklus 1.
b) Pelaksanaan
1) Dalam pelaksanaan pendampingan pembimbingan multi media
pembelajaran, penulis bertindak sebagai pendamping
sedangkan peserta yang sudah dianggap mahir dan mampu
bertindak sebagai tutor sebaya terhadap 2 (dua ) Peserta
tersebut. Siklus 2 dilaksanakan selama 1 hari, yakni kamis
tanggal 24 November 20222.
32
2) Materi disampaikan dalam bentuk praktik secara langsung.
3) Metode partisipatif digunakan dalam membahas materi kegiatan
sehingga peserta secara langsung mempraktikkannya.
4) Kegiatan berorientasi pada proses sehingga output maupun
outcome dari pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan. Peran aktif peserta sangat diharapkan.
5) Pada akhir setiap kegiatan, panitia melakukan refleksi dan
evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan.
c) Monitoring dan Evaluasi
Peneliti melakukan Monitoring selama kegiatan RPK siklus ke 2
berlangsung dari awal hingga akhir kegiatan, selain itu melakukan
evaluasitingkat kemampuan guru yang dibimbing oleh narasumber.
d) Hasil Kegiatan
Pada pembimbingan siklus ke 2 (dua) ini dilaksanakan selama 1
hari pada tanggal 24 November 2022 kepada peserta atas nama
Drs.M. Zaeni mendapatkan nilai, (87,50) dan Dra. Sukinem,
m e n d a p a t k a n n i l a i (75,00). Dari hasil pembimbingan
pada siklus 2 ini, keduanya memperlihatkan progress yang
meningkat pada tingkat kemampuan penggunaan multi media
pembelajaran pada kegiatan pembelajaran.
Tabel 2.6
Pencapaian Hasil Pembimbingan Peserta Siklus 2
Ketercapaian
No Indikator Keberhasilan Drs.M. Zaeni Dra.
Sukinem
4 3 21 4 3 21
Peserta Sudah mengetahui secara √ √
1 umum tentang manfaat media √ √
pembelajaran VR Box
Peserta sudah mampu
2 menggunakan VR Box
33
Peserta sudah mampu memilih
3 dan mencari video pembelajaran √ √
√ √
yang di gunakan pada VR Box √ √
√
Peserta sudah dapat √
4 memanfaatkan VR Box
dalam kegiatan
Pembelajaran
Peserta sudah dapat dapat
5 mengunduh bahan ajar yang akan
digunakan pada VR Box
Peserta sudah dapat
6 memanfaatkan VR Box
sebagai media pembelajaran
Peserta sudah dapat dapat
7 menjadikan laboratorium √ √
mayasebagai media
√
pembelajaran
24 6
Praktek 30
Peserta dapat memanfaatkan √ 93,75
8 modul digital sebagai sumber
referensi kegiatan
pembelajaran
Jumlah Skor 28 3
Total Skor Diperoleh 31
Hasil (Skor diperoleh : Skor 96,88
maksimal) x100)
Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa kedua peserta yang
dibimbing pada siklus ke 2 (dua) menunjukka keberhasilan,
indikator instrument yang lemah dapat diperbaiki sehingga
mencapai nilai di atas 91.
e) Refleksi
Refleksi dilakukan dengan menganalisis seluruh instrumen
observasi dan monitoring serta evaluasi yang telah diisi dan
memeriksa hasil kerja peserta. Berdasarkan hasil analisis
kompetensi guru setelah pelaksanaan siklus 2 diperoleh hasil
sebagai berikut.
34
96 Siklus
95.5 Siklus 2 (95,63)
95
94.5
94
93.5
93
92.5
92
91.5
91
Siklus 1 (92,81)
Grafik 2.3
Tingkat kemampuan guru setelah dilaksanakansiklus 2
Berdasarkan grafik di atas, setelah pelaksanaan siklus ke 2 terhadap
dua orang peserta yang belum mencapai nilai standar minimal, maka
didapatkan nilai rata rata 95,63 dan mendapatkan kategori amat baik.
Pada siklus 1 (pertama) sebelum pembimbingan 2 orang peserta
tersebut nilai yang didapatkan 92,81. Ini berarti telah mengalami
peningkatan sekitar 2.82 %.
2. Pengembangan Kewirausahaan
a. Uraian Pelaksanaan Tugas
Berdasarkan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar
Kepala Sekolah/Madrasah telah ditetapkan sebanyak 5 (lima) dimensi
kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah. Salah satu dari kelima dimensi itu
adalah kompetensi kewirausahaan. Untuk itu perlu dipahami tugas kepala
sekolah sebagai pengembang kewirausahaan.
Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengembang
kewirausahaan, seorang kepala sekolah/madrasah harus memenuhi kriteria
kompetensi sebagai berikut:
1) Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan
sekolah/madrasah
2) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai
organisasi pembelajar yang efektif
35
3) Memiliki motivasi kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok
dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah
4) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi
kendala yang terjadi di sekolah/madrasah
5) Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan
sekolah/madrasah sebagai sumber balajar
Menurut Permendikbud Nomor 6 Tahun 2018 tentang Penugasan
Guru sebagai Kepala Sekolah, pada pasal 15 ayat 1 disebutkan bahwa
beban kerja kepala sekolah adalah untuk melaksanakan tugas pokok
manajerial, pengembangan kewirausahaan, serta supervisi guru.
Pada ayat 2 disebutkan beban kerja kepala sekolah bertujuan untuk
mengembangkan dan meningkatkan mutu sekolah sesuai 8 (delapan)
standar nasional pendidikan. Berdasarkan peraturan tersebut, kepala
sekolah memiliki tugas mengadakan pengembangan kewirausahaan
terhadap kedelapan standar nasional pendidikan dengan memperkuat jiwa
(naluri) kewirausahaan, yaitu menciptakan inovasi, kerja keras, memiliki
motivasi yang kuat dan semangat pantang menyerah.
Naluri (jiwa) kewirausahaan ini sangat bermanfaat untuk
pengembangan sekolah dengan lebih optimal sehingga dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan yang terjadi dan bermuara kepada
peningkatan kualitas sekolah yang dipimpinnya. Selain itu, jiwa
kewirausahaan yang kuat yang dimiliki oleh kepala sekolah.
Adapun langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangkan
program kewirausahaan di sekolah, diantaranya dengan meningkatkan jiwa
kewirausahaan dan mengembangkan program kewirausahaan di sekolah.
Peningkatan jiwa kewirausahaan dapat dilakukan melalui kegiatan-
kegiatan seperti: mengidentifikasi perilaku inovatif, mengidentifikasi
perilaku kerja keras, mengidentifikasi motivasi yang kuat, mengidentifikasi
perilaku pantang menyerah dan mengidentifikasi jiwa kewirausahaan.
Kegiatan mengidentifikasi perilaku-perilaku kewirausahaan tersebut
bertujuan untuk mengukur kekuatan jiwa kewirausahaan kepala sekolah agar
dapat memenuhi standar kompetensi kewirausahaan kepala sekolah sesuai
dengan aturan yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilakukan untuk
36
pengembangan program kewirausahaan adalah mengidentifikasi apa saja
program inovatif, program perilaku kerja keras, program motivasi yang kuat,
program pantang menyerah yang sudah dikembangkan dan yang belum
dikembangkan disekolah.
Adapun kegiatan kewirausahaan yang ada pada madrasah magang 1 MTsN 4
Bojonegoro yaitu :
1) Koperasi sekolah
2) Kantin sehat sekolah
3) Kegiatan pelajar tim tata boga, menjadi tim kreatif penjualan makanan dan
kue-kue ringan.
4) Pelajar teknik informatika menjadi wirausaha design grafis.
5) Pelajar pemasaran menjadi pemasaran dalam produk wirausaha yang akan
dikembangkan.
6) Kegiatan ekstra kurikuler ( Pramuka, PMR, Olahraga Prestasi dll)
Kegiatan ini bertujuan dapat membangun motivasi dan sikap mental
kewirausahaan bagi siswa dalam kedisiplinan.
Kegiatan Pembinaan kewirausahaan tersebut diharapkan mampu
melahirkan kreatifitas dan inovasi sebagai energi utama kewirausahaan.
Pengalaman dan manfaat ekonomi bisnis tersebut digunakan untuk
mengembangkan jiwa kewirausahaan yang ada dikalangan pelajar.
b. Langkah-Langkah Pelaksanaan Praktik
Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah.
1) Rencana Pelaksanaan
Pengembangan kewirausahaan ditikberatkan pada peningkatan
kompetensi guru dan siswa dalam rangka menciptakan suasana
pembelajaran yang menyenangkan.
2) Program Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk Model Project Based Learning
Market Day yaitu sebuah model pembelajaran berbasis proyek yang
melibatkan siswa untuk merekonstruksi pengetahuan, keterampilan
dalam produk nyata serta memasarkan produknya kepada teman, guru,
37
dan masyarakat sekitar melalui kegiatan bazar atau pasar yang
diselenggarakan oleh siswa-siswi
Langkah – langkah pelaksanaan kegiatan market day dimulai dari :
1) Berkoordinasi dengan kepala madrasah dan warga madrasah terkait
dengan rencana pelaksanaan kegiatan ini, dan selanjutnya diadakan
sosialisasi kepada warga sekolah melalui rapat koordinasi
2) Pada tahap persiapan ini pula, wali kelas mengkondisikan pelajar tim
tata boga untuk menyiapkan produk makanan/minuman sehat yang akan
di jual.
3) Menyiapkan tempat
4) Membuat Jadwal Pelaksanan
c. Data Dan Analisis Data Hasil Praktik
1) Pelaksanaan
Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan maka disepakati akan
dilaksanakan kegiatan dalam bentuk market day, dimana kegiatan ini akan
dilaksanakan oleh pelajar tim tata boga. Siswa di bimbing wali kelas
mengadakan kegiatan menjual berbagai hasil karya siswa utamanya dalam
hal kreasi makanan dan minuman sehat yang merupakan produk dari wali
murid dan siswa itu sendiri.
2)Monitoring Dan Evaluasi
a) Pelaksanaan kegiatan ini secara umum sudah sangat baik. Kepala
sekolah / madrasah sangat memahami betapa pentingnya kegiatanini,
dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dan siswa demi
meningkatkan wawasan kewirausahaan, Market Day mendidik anak
mengembangkan jiwa enterpreneur, keterampilan hidup, dan juga
sekaligus penguatan karakter siswa.
b) Pada Pelaksanaan kegiatan, para siswa dan guru sangat merespon
positif dan antusias dalam mengikuti kegiatan market day. Hal ini
dibuktikan dengan keikutsertaan semua guru atau tenaga pendidik dan
para siswa dalam kegiatan market day.
c) Kegiatan ini terlaksana tanpa ada kendala apapun dan didukung juga
oleh wali murid.
38
Gambar 2.4
Kegiatan Market Day
3. Pengembangan Sumber Daya Madrasah
a. Uraian Pelaksanaan Tugas
Sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 12 ayat 1 Peraturan
Pemerintah 28 tahun 1990 bahwa kepala sekolah bertanggung jawab atas
penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan
tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana
dan prasarana. Ketercapaian tujuan pendidikan sangat bergantung pada
kecakapan dan kebijaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang
merupakan salah satu pemimpin pendidikan. Karena kepala sekolah
merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang
bertugas mengatur semua sumber organisasi dan bekerjasama dengan guru-
guru dalam mendidik siswa untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dengan keprofesionalan kepala sekolah ini, pengembangan
profesionalisme tenaga kependidikan mudah dilakukan karena sesuai
dengan fungsinya, kepala sekolah memahami kebutuhan sekolah yang ia
pimpin sehingga kompetensi guru tidak hanya berhenti pada kompetensi
yang ia miliki sebelumnya, melainkan bertambah dan berkembang dengan
baik sehingga profesionalisme guru akan terwujud.
39
b. Langkah-Langkah Pelaksanaan Praktik
Pemimpin dalam mengelola sumber daya memiliki peran peran aktif untuk
menunjang keberhasilan proses pembelajaran dan keberlangsungan sekolah
mulai dari perencanaan, pengewasan, pengambilan keputusan dan menjadi
motivator untuk memajukan dan memberdayakan sumber daya yang ada di
sekolah.
Sumber daya yang dimiliki sekolah meliputi : Visi misi sekolah, Kurikulum,
Program kerja sekolah, keuangan, Kualitas guru, Kualitas peserta didik,
Kepemimpinan, Sarana, Prasarana pendidikan dan media belajar, Penataan
lingkungan sekolah, serta Lokasi strategis sekolah.
Peningkatan mutu pendidikan harus dilaksanakan para pelaku
pendidikan. Kepala Sekolah sebagai penggerak utama di tingkat sekolah
mutlak menguasai dan mengaplikasikan peningkatan mutu pendidikan.
Langkah-langkah Peningkatan Mutu Pendidikan sebagai
Upaya perbaikan pada lembaga pendidikan tidak sesederhana yang di
pikirkan
karena butuh perbaikan yang berkelanjutan, berikut ini langkah-
langkah dalam meningkatkan mutu pendidikan.
1) Memperkuat Kurikulum
2) Memperkuat Kapasitas Manajemen Sekolah
3) Memperkuat Sumber Daya Tenaga Kependidikan
4) Perbaikan yang berkesinambungan
5) Manajemen berdasarkan fakta
Untuk meningkatkan sumeberdaya sekolah, kepala sekolah/madrasah
berupaya untuk membuat program prioritas yaitu pengembangan
kurikulum sebagai paya untuk menuju sekolah berbasis SKS
c. Data Dan Analisis Data Hasil Proyek
Dalam peningkatan mutu pendidikan kepala sekolah sebagai top leader
harus mengupayakan segala kemampuan yang dimiliki untuk
memaksimalkan potensi yang dimiliki yang meliputi
40
1) Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Keterampilan kepala sekolah dalam mengelola dan menberdayakan
pendidik dan tenaga kependidikan berdampak pada kualitas pengembangan
profesi pendidik dan tenaga kependidikan, membangun kolaborasi dan
kerjasama antar staf, mengkaji dan mengavaluasi kinerja staf merupakan
contoh-contoh pengembangan dan memberdayakan pendidik dan tenaga
kependidikan. Hal ini sangat penting dilakukan sebagai salah satu upaya
mendukung layanan prima pendidik dan tenaga kependidikan, kepada
semua peserta didik agar mampu meningkatkan prestasi belajanya secara
signifikan. Dengan memiliki ketarampilan ini kepala sekolah akan mampu
mengelola dan memberdayakan pendidik dan tenaga kependidikan secara
optimal.
a. Pengelolaan Sarana dan Prasarana
Keberhasilan program pendidikan di sekolah/madrasah dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Salah satu diantaranya adalah pengelolaan sarana dan
prasarana yang optimal. Pengelolaan sarana dan prasarana sangat
tergantung kepada keahlian kepala sekolah/madrasah, dalam hal
perencanaan, pengadaan, inventarisasi, penghapusan, pemanfaatan, dan
perawatan sarana dan prasarana sekolah/madrasah.
Proses pembelajaran siswa didukung oleh pengelolaan sarana dan prasarana
yang baik. Kursi yang layak pakai akan membuat peserta didik nyaman
duduk. Sirkulasi udara dan penerangan ruang belajar peserta didik yang baik
akan menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman. Hal ini dapat
didukung dengan pemakaian media yang optimal sehingga membuat
pembelajaran peserta didik menyenangkan. Kualitas pembelajaran peserta
didik yang baik merupakan salah satu indikator keberhasilan kinerja kepala
sekolah/madrasah.
Sekolah/madrasah dituntut memiliki kemandirian untuk mengelola sarana
dan prasarana sekolah/madrasah sesuai kebutuhan dan kemampuan
sekolah/madrasah. Hal ini berdasarkan pada aspirasi dan partisipasi warga
sekolah/madrasah yang mengacu pada peraturan dan perundangan-
undangan yang berlaku. Dengan demikian kepala sekolah harus mampu
41
melakukan analisis kebutuhan, merencanakan pengadaan, memanfaatkan
dan melaukan perawatan sarana dan prasana sekolah. Pengelolaan keuangan
sekolah secara transparan, akuntabel, efektif, dan efisien akan menciptakan
suasana sekolah yang kondusif bagi peningkatan
kualitas sekolah. Suasana sekolah yang demikian akan membuat guru,
siswa, dan orang tua dapat memberikan dukungan dengan sungguh-
sungguh. Suasana sekolah seperti ini, akan mendukung guru untuk
melakukan inovasi pembelajaran yang pada akhirnya akan mendorong
siswa senang belajar selain dapat meningkatkan prestasi siswa. Dengan
demikian kepercayaan orang tua dan masyarakat pada sekolah yang
dipimpin akan semakin tinggi.
Berdasarkan alasan di atas, kompetensi pengelolaan keuangan sekolah
sangatlah penting untuk dikuasi seorang kepala sekolah. Dengan memahami
kompetensi ini, Kepala sekolah lebih mudah untuk
mempertahankan keberlangsungan beberapa kegiatan sekolah yang
memang perlu dilakukan karena dana tersedia. Ketersediaan dana ini
sebagai dampak pengaturan dan pengelolaan keuangan sekolah secara
efisien.
Gambar 2.5
Peresmian PTSP
42