Kemudian pilihlah central lalu tekan enter.
17. Kemudian memilih partitioning method.
Gambar 3.2.26 Tampilan partitioning method
Disini ada 4 pilihan, pilih paling atas yaitu Guided - use entire disk kemudian enter.
18. Setelah itu masuk ke select disk to partition, disini langsung enter saja, berikut
tampilannnya.
46
Gambar 3.2.27 Tampilan select disk to partition
19. Selanjutnya masuk ke partitioning scheme, pilih paling atas lalu kemudian enter.
Gambar 3.2.28 Tampilan partionimg scheme
47
Lalu pilihlah finish partitioning berikut tampilannya.
Gambar 3.2.29 Tampilan setelah partition scheme
20. Setelah itu muncul pertanyaan Write the changes to disks? Maka pilihlah yes kemudian
enter, berikut tampilannya.
48
Gambar 3.2.30 Tampilan pada pertanyaan Write the changes to disks?
21. Selanjutnya, muncul pertanyaan lagi Participate in the package usage survey? Maka
pilihlah no kemudian enter, berikut tampilannya.
Gambar 3.2.31 Tampilan pada Participate in the package usage survey?
49
22. Selanjutnya memilih seperti contoh berikut ini.
Gambar 3.2.32 Tampilan memilih software
Jika ingin memilih, tekan spasi kemudian continue atau enter.
23. Setelah itu, ada pertanyaan Install the GRUB boot loader to the master boot record?
Maka pilihlah yes kemudian enter. berikut tampilannya.
50
Gambar 3.2.33 Tampilan pada Install the GRUB boot loader to the master boot record?
24. Setelah itu pilih pilihan kedua /dev/sda berikut tampilannya.
Gambar 3.2.34 Tampilan Device for boot loader installation
51
25. Setelah itu Installasi linux debian telah selesai.
Gambar 3.2.35 Installasi selesai
Gambar 3.2.36 Tampilan dalam pada CLI linux Debian
52
53
BAB 4
4.1 Static
4.1.1 Pengertian Static
Static merupakan IP address yang di atur atau di tetapkan atau dikonfigurasi secara
manual dan tidak akan berubah ubah yang di atur atau di tetapkan secara manual oleh seorang
admin jaringan sehingga IP address ini tidak akan berubah-ubah secara otomatis kecuali di
rubah secara manual oleh admin jaringan.
4.1.2 Fungsi Static
IP statis biasa di pakai pada jaringan lokal, IP statis ini biasa di setting pada router agar
supaya mudah di kenali dan mudah di ingat dan IP statis sangat penting karena server memakai
alamat IP ini dan mungkin mempunyai pemetaan DNS menunjuk kepada server tersebut, dan
biasanya memberikan informasi kepada mesin lain (seperti email server, web server, dll).
4.1.3 Langkah-langkah Konfigurasi Static
Berikut adalah tahapan konfigurasi yang anda dapat lakukan.
1. Pertama buka software VM Virtualbox lalu ke setting kemudian Network selanjutnya, jika
adapter 1 belum enable, enable kan terlebih dahulu klik kolom yang ada dikotak tersebut. Lalu
jika adapter 1 NAT maka diubah menjadi Host-only Adapter. Berikut tampilannya
54
Gambar 4.1.3.1 Mengatur Adapter
Jika sudah seperti diatas maka klik OK.
2. Jika sudah, masuk ke linux yang anda buat.
3. Setelah itu masukkan perintah nano /etc/network/interfaces berikut tampilannya.
root@debian:~# nano /etc/network/interfaces
Gambar 4.1.3.2 Perintah Static
55
4. Jika sudah memasukkan perintah tersebut maka akan masuk ke folder tersebut, berikut
tampilannya.
Gambar 4.1.3.3 Tampilan awal
Disini ada yang harus dikonfigurasi berikut konfigurasinya.
Gambar 4.1.3.4 Konfigurasi dan Masukkan IP
Ada yang ditambah seperti #allow dan #iface dan buat dibaris baru lalu config auto enp0s3
lalu enter lalu ketik iface enp0s3 inet static kemudian enter lalu tab lalu masukkan IP yang
ingin digunakan atau diperintahkan beserta prefixnya. Jika sudah config lalu tekan ctrl+x lalu
y kemudian enter.
56
5. Selanjutnya setting IP debian di laptop/PC/komputer. Pertama buka di settings
laptop/PC/komputer lalu kemudian pilih Network & Internet setelah itu cari Change adapter
options kemudian klik, maka tampilannya akan seperti ini.
Gambar 4.1.3.5 Setting IP Debian dan user
Gambar 4.1.3.6 Tampilan pada Network connection
57
Setelah itu pilih VirtualBox Host-Only Network lalu klik kanan pilih properties
kemudian klik, berikut tampilannya.
Gambar 4.1.3.7 Klik Properties
Gambar 4.1.3.8 IPv4
58
Setelah itu pilih Internet Protocol Version 4 (TCP/IPv4) klik kanan untuk mengatur IP
debian dan laptop/PC/komputer seperti diatas dan berikut tampilannya mengatur IP debian dan
PC/komputer/laptop.
Gambar 4.1.3.9 Mengatur IP yang digunakan dan dimasukkan
IP address diisi untuk IP laptop/PC/komputer kita, Subnet mask isi dengan sesuai
prefix yang ada di debian, lalu Default gateway & preferred DNS server sesuai IP debian yang
kita beri. Guna mengatur IP tersebut untuk software debian dan hardware laptop bisa saling
terhubung. Setelah sudah mengatur kemudian klik OK.
6. Jika sudah masuk ke linux kembali atau ke debian.
7. Kemudian masukkan perintah service networking restart atau /etc/init.d/networking
restart seperti dibawah ini.
root@debian:~# service networking restart
59
Gambar 4.1.3.10 Perintah Restart Static
Jika sudah maka langsung mengecek kedua IP (debian dan laptop/PC/komputer) yang
dimasukkan tadi dengan ping berikut pengecekannya.
root@debian:~# ping 192.168.99.9
root@debian:~# ping 192.168.99.10
Gambar 4.1.3.11 Melakukan Test PING di Virtualbox
C:\Users\Asus>ping 192.168.99.10
C:\Users\Asus>ping 192.168.99.9
60
Gambar 4.1.3.12 Melakukan Test PING di CMD
Jika TTL maka berhasil langkah-langkah konfigurasi static.
4.1.4 Fungsi Perintah Static
Fungsi perintah yang digunakan saat konfigurasi static.
8. nano /etc/network/interfaces berfungsi untuk memasukkan network atau ip address secara
static
root@debian:~# nano /etc/network/interfaces
Gambar 4.1.4.1 Perintah Static
61
9. service networking restart atau /etc/init.d/networking restart berfungsi untuk melakukan
restart system sehingga tidak perlu restart secara gui pada pc
root@debian:~# service networking restart
Gambar 4.1.4.2 Perintah Restart Static
10. ping berfungsi untuk pengujian koneksi TTL atau RTO
root@debian:~# ping 192.168.99.9
root@debian:~# ping 192.168.99.10
Gambar 4.1.4.3 Melakukan Test PING di Virtualbox
62
4.2 Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP Server)
4.2.1 Pengertian DHCP Server
DHCP merupakan singkatan dari Dynamic Host Configuration Protocol adalah sebuah
layanan yang secara otomatis memberikan nomor IP kepada komputer yang memintanya.
komputer yang memberikan nomor IP inilah yang disebut sebagai DHCP server, sedangkan
komputer yang melakukan request disebut DHCP Client. fungsi DHCP Seperti yang sudah
diterangkan. fungsi DHCP ini adalah dapat memberikan nomor IP secara otomatis kepada
komputer yang melakukan request.
DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protokol yang berbasis
arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu
jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat IP
kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua
komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IP secara otomatis dari server
DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti
default gateway dan DNS server.
4.2.2 Fungsi DHCP Server
DHCP server merupakan komputer yang berfungsi memberi pinjaman IP address ke
host yang ada. Sedangkan host yang mendapat pinjaman IP address dari DHCP server tersebut
biasa disebut DHCP Client. Jadi, dimana ada server pasti ada client juga.
63
4.2.3 Langkah-langkah Konfigurasi DHCP Server
Berikut langkah-langkah konfigurasi pada DHCP.
1. Pertama, kita mengatur adapter yang ingin kita gunakan. Jika di debian kita meng
aktifkan 2 adapter dan sedangkan di Windows server hanya 1 adapter saja. Berikut
tampilannya.
Gambar 4.2.3.1 Adapter 1 pada Debian
64
Gambar 4.2.3.2 Adapter 2 pada Debian
Gambar 4.2.3.3 Adapter pada Windows
65
2. Setelah setting adapter, kemudian kita aktifkan debian untuk melakukan konfigurasi
pada DHCP. Install paket DHCP dengan perintah apt-get install isc-dhcp-server
berikut tampilannya.
root@debian:~# apt-get install isc-dhcp-server
Gambar 4.2.3.4 Install paket DHCP
3. Masukkan CD/ISO yang kita gunakan.
Gambar 4.2.3.5 Masukkan CD/ISO
Kemudian enter berikut tampilan setelah menginstall.
66
Gambar 4.2.3.6 Setelah menginstall paket
4. Kemudian ketik perintah nano /etc/network/interfaces
root@debian:~# nano /etc/network/interfaces
Gambar 4.2.3.7 Perintah static
5. Setelah mengetik perintah tersebut maka tampilannya seperti dibawah ini.
67
Gambar 4.2.3.8 Tampilan awal
Kemudian kita konfigurasi seperti berikut
Gambar 4.2.3.9 Setelah di Konfigurasi
Bisa kita lihat, enp0s3 digunakan untuk IP debian sedangkan enp0s8 untuk
memberikan IP pada DHCP. Kemudian save
68
6. Kemudian restart dengan perintah service networking restart berikut tampilannya.
root@debian:~# service networking restart
Gambar 4.2.3.10 Restart Static
7. Kemudian kita cek apakah IP sudah terdaftar atau belum dengan perintah ip a berikut
tampilannya.
root@debian:~# ip a
Gambar 4.2.3.11 Untuk melihat IP address
8. Berikut tampilannya setelah mengetik perintah tersebut.
Gambar 4.2.3.12 Melihat IP address
IP address sudah terdaftar pada enp0s3 dan enp0s8.
69
9. Kemudian ketik perintah nano /etc/default/isc-dhcp-server berikut tampilannya.
root@debian:~# nano /etc/default/isc-dhcp-server
Gambar 4.2.3.13 Perintah DHCP
10. Berikut tampilannya.
Gambar 4.2.3.14 Tampilan awal
Setelah itu kita konfigurasi, pada INTERFACESv4=”” kita isi dengan enp0s8 maka
konfigurasinya INTERFACESv4=”enp0s8” berikut tampilannya.
Gambar 4.2.3.15 Setelah di konfigurasi
70
11. Selanjutnya ketik perintah nano /etc/dhcp/dhcpd.conf berikut tampilannya.
root@debian:~# nano /etc/dhcp/dhcpd.conf
Gambar 4.2.3.16 Perintah DHCP
12. Maka tampilannya seperti berikut.
Gambar 4.2.3.17 Tampilan awal
Kemudian cari kalimat # A slightly different configuration for an internal subnet.
Berikut tampilannya.
71
Gambar 4.2.3.18 Sebelum di konfigurasi
Selanjutnya kita konfigurasi, berikut tampilannya.
Gambar 4.2.3.19 Setelah di konfigurasi
Bisa dilihat, dari subnet sampe } tanda pagar (#) dihapus. Selanjutnya subnet diisi
dengan network address. Netmasknya di isi sesuai prefix 24. Range di isi IP host (ip yang bisa
digunakan). Option routers di isi ip pada enp0s8. Dan broadcast di isi dengan ip broadcast.
Kemudian save.
13. Kemudian restart dengan perintah service isc-dhcp-server restart
root@debian:~# service isc-dhcp-server restart
72
Gambar 4.2.3.20 Restart DHCP
14. Selanjutnya buka windows server kita.
Gambar 4.2.3.21 Windows server
15. Kemudian buka seperti biasanya, lalu kemudian kita cek di cmd dengan perintah
ipconfig berikut tampilannya.
Gambar 4.2.3.22 Pengecekkan IP DHCP
Jika sudah mendapatkan IP DHCP maka konfigurasi pada DHCP telah berhasil.
73
4.2.4 Fungsi Perintah DHCP Server
Berikut fungsi perintah DHCP Server yang digunakan saat konfigurasi.
1. apt-get install isc-dhcp-server menginstall paket dhcp agar mudah melakukan
konfigurasi
root@debian:~# apt-get install isc-dhcp-server
Gambar 4.2.4.1 Install paket DHCP
2. nano /etc/network/interfaces berfungsi memasukkan network atau ip address secara
static
root@debian:~# nano /etc/network/interfaces
Gambar 4.2.4.2 Perintah static
3. service networking restart berfungsi restart konfigurasi pada linux
root@debian:~# service networking restart
Gambar 4.2.4.3 Restart Static
4. ip a digunakan untuk melihat IP address dan hal yang terkait dengannya.
root@debian:~# ip a
74
Gambar 4.2.4.4 Untuk melihat IP address
5. nano /etc/default/isc-dhcp-server tentukan interface mana yang akan digunakan
untuk client
root@debian:~# nano /etc/default/isc-dhcp-server
Gambar 4.2.4.5 Perintah DHCP
6. nano /etc/dhcp/dhcpd.conf berfungsi memberikan ip secara dhcp
root@debian:~# nano /etc/dhcp/dhcpd.conf
Gambar 4.2.4.6 Perintah DHCP
7. service isc-dhcp-server restart berfungsi untuk merestart paket dhcp pada linux
debian
root@debian:~# service isc-dhcp-server restart
Gambar 4.2.4.7 Restart DHCP
75
4.3 DNS Server
4.3.1 Pengertian DNS Server
DNS kepanjangan dari Domain Name System merupakan database terdistribusi yang
digunakan untuk pencarian nama host di jaringan komputer. Domain Name System akan
menterjemahkan domain name ke alamat IP address atau sebaliknya. DNS bisa bekerja pada
jaringan local maupun jaringan internet, agar layanan tersebut bisa berjalan dengan baik maka
memerlukan sebuah server khusus yakni DNS Server. DNS server bisa bekerja pada
lingkungan Windows maupun Linux, Unix. Dengan adanya layanan DNS Server maka akan
lebih mudah dalam proses konfigurasi sebuah domain.
4.3.2 Fungsi DNS Server
Kegunaan dari DNS adalah untuk menerjemahkan sebuah nama domain ke bentuk ip
address. Perlu kita ketahui sebenarnya pengalamatan pada jaringan computer adalah
menggunakan deretan angka biner yang biasa kita kenal dengan ip address. Pastinya, untuk
dapat mendapatkan hasil yang maksimal dalam sebuah jaringan, kita membutuhkan
networking hardware atau perangkat keras jaringan yang juga dapat diandalkan.
Untuk memudahkan dalam mengingat sebuah nama host biasanya kita membuat
domain name sebagai contoh www.google.com nama tersebut di buat untuk membantu
memudahkan pengguna mengingat alamat tersebut yang menggunakan alamat ip address
173.194.72.103 Nah, ketika kita menggunakan internet dan membuka alamat tersebut,
biasanya kita hanya mengetikkan nama domain saja atau tidak menggunakan ip address,
disinilah peran DNS yaitu menerjemahkan domain www.google.com tersebut ke ip address
173.194.72.103 agar dapat di identifikasi di dalam jaringan. DNS memberikan manfaat bagi
pengguna dari kelebihan yang di milikinya seperti yang telah di singgung di atas, pengguna
tidak perlu lagi mengingat ip address tapi cukup dengan mengingat host name saja, berikutnya
DNS juga dapat konsisten karena sebuah IP address boleh berubah namun hostname yang di
gunakan tidak akan berubah.
76
4.3.3 Langkah-langkah Konfigurasi DNS Server
Sebelum melakukan konfigurasi DNS Server, kita terlebih dulu konfigurasi static
seperti di bab sebelumnya.
1. Atur IP debian dan User di pengaturan. Setting terlebih dahulu pilih Network&Internet lalu
cari change adapter selanjutnya cari VirtualBox Host-only lalu klik kanan pilih properties
setelah itu cari IPv4 dan masukkan IP debian dan User. Jika sudah OK.
2. Jika sudah melakukan tahapan static maka kita akan masuk kembali ke perintah nano
/etc/network/interfaces untuk konfigurasi nameserver (IP Domain) berikut tampilannya.
root@debian:~# nano /etc/network/interfaces
Gambar 4.3.3.1 Melakukan Konfigurasi di Static
Jika sudah kemudia ctrl+x lalu y agar tersave.
3. Instal paket DNS terlebih yaitu apt-get install bind9 lalu enter berikut tampilannya.
root@debian:~# apt-get install bind9
77
Gambar 4.3.3.2 Perintah Install Paket DNS
Masukkan cd/iso debian jika belum memasukkannya. Jika ingin memasukkannya klik
Devices lalu pilih Optical Drive lalu cari cd/iso debian yang kalian simpan. Setelah
memasukkan cd/iso nya kemudian tekan enter. Berikut tampilannya.
Gambar 4.3.3.3 Cara Memasukkan CD/Iso pada VirtualBox
Gambar 4.3.3.4 Tampilan Setelah Menginstall Paket
78
4. Kemudian install paket dnsutils guna untuk mengecek nslookup domain name server.
Perintahnya yaitu apt-get install dnsutils kemudian enter berikut tampilannya.
root@debian:~# apt-get install dnsutils
Gambar 4.3.3.5 Menginstall dnsutils
Gambar 4.3.3.6 Tampilan setelah install
5. Setelah menginstall paket paket yang ada di dalam DNS Server langkah selanjutnya adalah
mengetik perintah cd /etc/bind. Guna cd / adalah digunakan untuk memasuki direktori. Berikut
tampilannya
root@debian:~# cd /etc/bind
root@debian:/etc/bind#
79
Gambar 4.3.3.7 Masuk direktori bind
Setelah mengetik perintah cd /etc/bind kemudian muncul dibelakang pagar seperti gambar
diatas.
6. Selanjutnya masuk zone, ada 2 perintah yang saya ketahui. Perintah tersebut yaitu nano
named.conf.default-zones dan nano named.conf.local. Saya memasukkan perintah nano
named.conf.default-zones berikut tampilannya.
root@debian:/etc/bind# nano named.conf.default-zone
Gambar 4.3.3.8 Perintah DNS pada zone
80
Gambar 4.3.3.9 Tampilan Zone yang Digunakan
Setelah masuk ke perintah tersebut, disini ada konfigurasi yang akan dilakukan yaitu
domain name (pemberi nama domain) dan IP debian yang kalian pakai dari static berikut
tampilannya.
Gambar 4.3.3.10 Konfigurasi Pada Zone
81
Masukkan domain name sesuai keinginan atau perintah contoh seperti gambar diatas.
Selanjutnya untuk pemasukkan IP debian oktet ke 4 atau terakhir dihilangkan dan penulisan IP
dibalik seperti gambar diatas. Setelah itu untuk file bagian domain db.forward dan bagian IP
db.reverse contoh seperti diatas. Kegunaan forward adalah db.local yang di salin dengan nama
forward. Kalau Reverse adalah db.127 yang di salin dengan nama reverse. Lalu ctrl+x y.
7. Setelah itu kita mengetik perintah cp db.local db.forward dan cp db.127 db.reverse. Guna
cp adalah untuk menggandakan file, berikut tampilannya.
root@debian:/etc/bind# cp db.local db.forward
root@debian:/etc/bind# cp db.127 db.reverse
Gambar 4.3.3.11 Meng-copy Forward dan Reverse
Perintah pada db.local adalah untuk file forward atau mentranslasikan domain ke IP. Jika
db.127 adalah untuk file reverse atau mentranslasikan IP ke domain.
8. Kemudian buka file db.forward dengan perintah nano db.forward berikut tampilannya.
root@debian:/etc/bind# nano db.forward
82
Gambar 4.3.3.12 Perintah Masuk Forward
9. Setelah masuk ke perintah tersebut maka tampilannya seperti berikut.
Gambar 4.3.3.13 Tampilan dari db.forward
Ada beberapa konfigurasi yang harus diubah seperti localhost. dan ada konfigurasi yang
harus ditambahkan, berikut cara konfigurasinya.
83
Gambar 4.3.3.14 Konfigurasi pada db.forward
Jika sudah ctrl+x y.
10. Kemudian kita ke db.reverse perintahnya yaitu nano db.reverse.
root@debian:/etc/bind# nano db.reverse
Gambar 4.3.3.15 Perintah untuk masuk file pada db.reverse
11. Setelah enter, maka tampilan db.reverse seperti ini.
84
Gambar 4.3.3.16 Tampilan dari db.reverse
Ada beberapa konfigurasi yang harus diubah seperti localhost. dan ada konfigurasi yang
harus ditambahkan, berikut cara konfigurasinya.
Gambar 4.3.3.17 Konfigurasi pada db.reverse
Nah, jika di forward tadi kita mengisi IP sedangkan di reverse kita mengisi domain name
yang digunakan. Jika sudah maka save.
85
12. Selanjutnya konfigurasi perintah nano /etc/hosts berikut tampilannya.
root@debian:/etc/bind# nano /etc/hosts
Gambar 4.3.3.18 Perintah hosts
13. Setelah meng-enter perintah tersebut maka tampilannya seperti ini.
Gambar 4.3.3.19 Tampilan dari direktori hosts
Disini ada yang harus di konfigurasi atau di ubah seperti debian.xlite.com menjadi domain
yang kita buat tadi dan IP 127.0.1.1 di ubah/di ganti menjadi IP debian yaitu 192.168.99.9.
Berikut cara konfigurasinya
Gambar 4.3.3.20 Setelah di konfigurasi pada hosts
Jika sudah save.
14. Kemudian masuk ke perintah pada nano /etc/resolv.conf , perintah tersebut berfungsi
untuk memasukkan alamat dns sehingga bisa diakses. Berikut perintahnya.
86
root@debian:/etc/bind# nano /etc/resolv.conf
Gambar 4.3.3.21 Perintah dari resolv.conf
15. Berikut tampilan pada resolv.conf
Gambar 4.3.3.22 Tampilan resolv.conf
Ada konfigurasi yang harus ditambah seperti domain/search (domain yang digunakan) dan
diubah nameserver menjadi IP domain. Berikut cara konfigurasinya.
Gambar 4.3.3.23 Setelah di konfigurasi pada resolv.conf
Jika sudah maka save.
16. Setelah semua sudah di konfigurasi maka selanjutnya adalah merestart paket bind9 dengan
perintah service bind9 restart berikut perintahnya.
root@debian:/etc/bind# service bind9 restart
87
Gambar 4.3.3.24 Restart paket biind9
17. Tahap selanjutnya adalah mengecek domain name kita apakah sudah terkoneksi atau belum
berikut perintah dan hasil pengecekkannya.
root@debian:/etc/bind# nslookup rifansetiadi.com
root@debian:/etc/bind# nslookup www.rifansetiadi.com
root@debian:/etc/bind# nslookup mail.rifansetiadi.com
root@debian:/etc/bind# nslookup ntp.rifansetiadi.com
Gambar 4.3.3.25 Hasil dari linux
Nah, terlihat sudah DNS telah mendapatkan IP domain. Jangan lupa melakukan
pengecekkan pada cmd berikut tampilannya.
88
Gambar 4.3.3.26 Hasil dari cmd
Berhasil sudah langkah langkah pada DNS.
4.3.4 Fungsi Perintah DNS Server
Fungsi perintah yang digunakan DNS Server saat konfigurasi.
1. nano /etc/network/interfaces memasukkan network atau ip address secara static dan
nameserver.
root@debian:~# nano /etc/network/interfaces
Gambar 4.3.4.1 Perintah static
2. apt-get install bind9 install paket dns agar mudah dalam melakukan konfigurasi
89
root@debian:~# apt-get install bind9
Gambar 4.3.4.2 Perintah Install Paket DNS
3. apt-get install dnsutils install paket dnsutils untuk pengujian nslookup domain
root@debian:~# apt-get install dnsutils
Gambar 4.3.4.3 Menginstall dnsutils
4. cd /etc/bind berfungsi untuk memasukki direktori paket bind
root@debian:~# cd /etc/bind
root@debian:/etc/bind#
Gambar 4.3.4.4 Masuk direktori bind
5. nano named.conf.default-zones dan nano named.conf.local Di zone fungsinya
domain kita akan membuat file forward dan reverse untuk konfigurasi selanjutnya.
Pada zone domain juga kita akan memilih nama domain yang akan digunakan.
root@debian:/etc/bind# nano named.conf.default-zone
90
Gambar 4.3.4.5 Perintah DNS pada zone
6. cp db.local db.forward dan cp db.127 db.reverse. Guna cp adalah untuk
menggandakan file. Perintah pada db.local adalah untuk file forward atau
mentranslasikan domain ke IP. Jika db.127 adalah untuk file reverse atau
mentranslasikan IP ke domain.
root@debian:/etc/bind# cp db.local db.forward
root@debian:/etc/bind# cp db.127 db.reverse
Gambar 4.3.4.6 Meng-copy Forward dan Reverse
7. nano db.forward membuat file forward, mentranslasikan domain ke IP.
root@debian:/etc/bind# nano db.forward
Gambar 4.3.4.7 Perintah Masuk Forward
91
8. nano db.reverse. membuat file reverse, mentranslasikan IP ke domain.
root@debian:/etc/bind# nano db.reverse
Gambar 4.3.4.8 Perintah untuk masuk file pada db.reverse
9. nano /etc/hosts digunakan untuk mendaftarkan alamat IP local saja yaitu untuk alamat
IP Loopback dan alamat IP Ethernet card
root@debian:/etc/bind# nano /etc/hosts
Gambar 4.3.4.9 Perintah hosts
10. nano /etc/resolv.conf , perintah tersebut berfungsi untuk memasukkan alamat dns
sehingga bisa diakses.
root@debian:/etc/bind# nano /etc/resolv.conf
Gambar 4.3.4.10 Perintah dari resolv.conf
11. service bind9 restart fungsi restart paket bind9 pada linux
root@debian:/etc/bind# service bind9 restart
Gambar 4.3.4.11 Restart paket biind9
92
12. nslookup pengujian domain pada linux debian 9
root@debian:/etc/bind# nslookup rifansetiadi.com
root@debian:/etc/bind# nslookup www.rifansetiadi.com
root@debian:/etc/bind# nslookup mail.rifansetiadi.com
root@debian:/etc/bind# nslookup ntp.rifansetiadi.com
Gambar 4.3.4.12 Hasil dari linux
93
4.4 Web Server
4.4.1 Pengertian Web Server
Web Server dapat merujuk baik pada perangkat keras ataupun perangkat lunak yang
menyediakan layanan akses kepada pengguna melalui protokol komunikasi HTTP atau HTTPS
atas berkas-berkas yang terdapat pada suatu situs web dalam layanan ke pengguna dengan
menggunakan aplikasi tertentu seperti peramban web. Penggunaan paling umum web server
adalah untuk menempatkan situs web, namun pada praktiknya penggunaannya diperluas
sebagai tempat peyimpanan data ataupun untuk menjalankan sejumlah aplikasi kelas bisnis.
4.4.2 Fungsi Web Server
Fungsi utama Server atau Web server adalah untuk melakukan atau akan mentransfer
berkas permintaan pengguna melalui protokol komunikasi yang telah ditentukan sedemikian
rupa. halaman web yang diminta terdiri dari berkas teks, video, gambar, file dan banyak lagi.
pemanfaatan web server berfungsi untuk mentransfer seluruh aspek pemberkasan dalam
sebuah halaman web termasuk yang di dalam berupa teks, video, gambar dan banyak lagi.
Salah satu contoh dari Web Server adalah Apache. Apache (Apache Web Server – The
HTTP Web Server) merupakan web server yang paling banyak dipergunakan di Internet.
Program ini pertama kali didesain untuk sistem operasi lingkungan UNIX. Apache mempunyai
program pendukung yang cukup banyak. Hal ini memberikan layanan yang cukup lengkap bagi
penggunanya.
94
Beberapa dukungan Apache :
• Kontrol Akses
Kontrol ini dapat dijalankan berdasarkan nama host atau nomor IP
CGI (Common Gateway Interface) Yang paling terkenal untuk digunakan
adalah perl (Practical Extraction and Report Language), didukung oleh
Apache dengan menempatkannya sebagai modul (mod_perl).
• PHP (Personal Home Page/PHP Hypertext Processor)
Program dengan metode semacam CGI, yang memproses teks dan
bekerja di server. Apache mendukung PHP dengan menempatkannya sebagai
salah satu modulnya (mod_php). Hal ini membuat kinerja PHP menjadi lebih
baik.
• SSI (Server Side Includes)
Web server Apache mempunyai kelebihan seperti berikut :
1. Apache termasuk dalam kategori freeware.
2. Apache mudah sekali proses instalasinya.
3. Mampu beroperasi pada berbagai platform sistem operasi.
4. Mudah mengatur konfigurasinya. Apache mempunyai hanya empat file
konfigurasi.
5. Mudah dalam menambahkan peripheral lainnya ke dalam platform web
servernya.
Untuk contoh lain dari Web Server :
1. Apache Tomcat.
2. Microsoft windows Server 2003 Internet Information Services (IIS).
3. Lighttpd.
4. Sun Java System Web Server.
5. Xitami Web Server.
6. Zeus Web Server.
95