The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Merencanaan suatu anggaran atau keuangan membutuhkan keahlian serta pertimbangan yang matang. Apalagi dalam hal perencanaan keuangan disebuah perusahaan banyak aspek serta hal hal lain yang harus diperhatikan. buku ini hadir guna memberikan penjelasan serta strategi-strategi khusus yang dapat dilakukan dalam merencanakan keuangan dalam sebuah perusahaan.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by penamudamedia, 2023-07-12 10:39:31

PERENCANAAN KEUANGAN PERUSAHAAN

Merencanaan suatu anggaran atau keuangan membutuhkan keahlian serta pertimbangan yang matang. Apalagi dalam hal perencanaan keuangan disebuah perusahaan banyak aspek serta hal hal lain yang harus diperhatikan. buku ini hadir guna memberikan penjelasan serta strategi-strategi khusus yang dapat dilakukan dalam merencanakan keuangan dalam sebuah perusahaan.

Perencanaan Keuangan Perusahaan 46 7 Januari 2023 Piutang dagang 900.000 Penjualan 900.000 (jurnal untuk mencatat penjualan barang secara kredit) Seandainya konsumen mengambil syarat penjualan yang ditawarkan dengan melakukan pembayaran pada tanggal 10 Januari 2023. Maka konsumen akan mendapatkan diskon yang ditawarkan sebesar 5% yaitu Rp45.000 (5% x Rp900.000) dan hanya perlu membayar sebesar Rp855.000 (Rp900.000 – Rp45.000). Jurnal yang digunakan perusahaan untuk mencatat transaksi pembayaran yang dilakukan oleh konsumen tersebut adalah: 10 Januari 2023 Kas 855.000 Potongan tunai penjualan 45.000 Piutang dagang 900.000 (jurnal untuk mencatat penerimaan piutang setelah dikurangi diskon penjualan) Seandainya konsumen tidak mengambil syarat penjualan yang ditawarkan, maka konsumen harus membayar sebesar harga jual barang tersebut tanpa memperoleh diskon. Misalnya konsumen tersebut melakukan pembayaran pada tanggal 30 Januari 2023. Maka konsumen tersebut tidak akan memperoleh potongan harga karena membayar lewat dari 15 hari setelah tanggal faktur sesuai dengan syarat kredit yang diberikan. Maka jurnal yang harus dicatat oleh perusahaan saat konsumen melakukan pembayaran adalah: 30 Januari 2023 Kas 900.000 Piutang dagang 900.000 (Jurnal untuk mencatat penerimaan piutang dagang) Potongan penjualan yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut bukanlah tanpa tujuan. Perusahaan memiliki tujuan agar konsumen mempunyai keinginan untuk segera membayar demi mendapatkan diskon. Dengan demikian maka perusahaan akan lebih cepat memperoleh kas sehingga risiko kemungkinan piutang tidak tertagih dapat berkurang. Namun tidak semua konsumen bersedia untuk mengambil syarat penjualan yang diberikan oleh perusahaan, sehingga perusahaan tetap akan menghadapi risiko adanya kemungkinan piutang yang


Perencanaan Keuangan Perusahaan 47 tidak dapat ditagih. Piutang tidak tertagih ini dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Untuk mencatat pengakuan piutang tidak tertagih, terdapat dua metode yang dapat digunakan oleh perusahaan, yaitu: a. Metode penghapusan langsung Metode ini mengakui piutang tidak tertagih sebagai kerugian piutang (biaya) saat piutang sudah benar-benar tidak dapat ditagih. Sehingga dengan menggunakan metode penghapusan langsung, kerugian akan langsung terlihat saat periode piutang tidak tertagih. Hal ini akan berdampak terhadap laba yang diperoleh oleh perusahaan. Pada periode akuntansi dimana terjadi kerugian piutang, maka laba akan mengalami penurunan secara drastis dari periode sebelumnya. Metode penghapusan langsung akan cocok diterapkan jika jumlah piutang tidak tertagih tidak material. b. Metode cadangan Metode cadangan memenuhi prinsip penandingan dalam akuntansi. Dimana piutang tidak tertagih dicatat pada periode yang sama dengan penjualan untuk menandingan pendapatan dan biaya. Metode ini mencadangkan estimasi kerugian piutang setiap periode akuntansi, meskipun pada periode tersebut belum terjadi piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih. Dengan menggunakan metode ini, laba perusahaan tidak akan terlalu berfluktuasi, karena kerugian piutang dicadangkan sesuai estimasi setiap tahunnya. Adapun estimasi yang digunakan untuk mencadangkan jumlah kerugian piutang ini bisa dengan dua cara, yaitu: 1. Persentase penjualan Cara ini mengestimasikan nilai piutang yang tidak tertagih dengan mendasarkan pada jumlah penjualan yang dimiliki oleh perusahaan. Perusahaan akan menentukan persentase yang digunakan untuk mengestimasi jumlah piutang tidak tertagih yang dicadangkan. Misalnya PT Sahabat mengestimasi berdasarkan pengalaman periode sebelumnya bahwa jumlah piutang tidak tertagih sebesar 1% dari penjualan. Jika PT Sahabat memiliki jumlah penjualan sebesar Rp150.000.000, maka jumlah piutang tidak tertagih akan dicatat sebagai berikut:


Perencanaan Keuangan Perusahaan 48 Kerugian piutang tidak tertagih 1.500.000 Cadangan kerugian piutang 1.500.000 * (1.500.000= 1% x 150.000.000) Pada saat perusahaan memutuskan bahwa terdapat piutang yang harus dihapuskan karena benar-benar tidak dapat ditagih lagi, maka perusahaan akan mendebet cadangan kerugian piutang yang sudah dicadangkan sebelumnya sebesar jumlah piutang yang benarbenar tidak dapat ditagihkan. 2. Persentase piutang dagang. Metode ini dapat digunakan dengan menetapkan satu tarif estimasi seperti pada metode persentase penjualan atau dapat juga menggunakan umur piutang. Dengan menggunakan umur piutang maka persentase yang ditetapkan akan berbeda berdasarkan pengalaman masa lalu pada masing-masing umur piutang yang berbeda. B. Manajemen Persediaan Persediaan adalah produk yang dimiliki oleh perusahaan yang ditujukan untuk dijual kembali. Persediaan yang dimiliki oleh perusahaan dapat terdiri dari tiga bentuk, yaitu: a. Persediaan bahan baku b. Persediaan dalam proses c. Persediaan barang jadi Jenis persediaan tersebut khususnya dimiliki oleh perusahaan manufaktur yang tidak hanya menjual produk tetapi juga melakukan proses produksi sampai produk tersebut siap untuk dijual. Dalam perusahaan dagang, jenis persediaannya hanya satu, yaitu persediaan barang dagangan. Sistem Pencatatan Persediaan Perusahaan perlu melakukan pencatatan persediaan untuk dapat mengetahui jumlah persediaan yang dimiliki, untuk mengetahui perputaran


Perencanaan Keuangan Perusahaan 49 persediaan perusahaan, mengurangi kemungkinan risiko kehilangan persediaan, serta untuk menganalisis persediaan yang dimiliki oleh perusahaan. Sistem pencatatan persediaan yang dilakukan oleh perusahaan terdiri dari dua macam, yaitu: a. Sistem periodik Berdasarkan sistem periodik, perhitungan persediaan didasarkan pada perhitungan fisik yang dilakukan. Setiap terjadi pembelian persediaan, tidak dicatat pada akun persediaan, namun dicatat pada akun pembelian. Kemudian pada akhir periode akuntansi baru dilakukan perhitungan nilai persediaan akhir yang dimiliki dengan menambahkan total akun pembelian ke persediaan awal periode. b. Sistem Perpetual Berdasarkan sistem perpetual, persediaan selalu dicatat setiap terjadi transaksi persediaan pada akun persediaan. Sehingga dengan menggunakan metode perpetual, catatan persediaan yang dimiliki oleh perusahaan lebih update dan tidak perlu menunggu akhir periode untuk menghitung nilai persediaan yang dimiliki. Dalam melakukan pencatatan atas persediaan, terdapat permasalahan pengakuan persediaan yang dapat dihadapi oleh perusahaan, antara lain barang dalam perjalanan, barang konsinyasi, dan penjualan angsuran. 1. Barang dalam Perjalanan Ketika perusahaan memesan barang dari suplier, terkadang memerlukan waktu agar barang tersebut sampai di tangan perusahaan. Saat hal tersebut terjadi, akan menjadi pertanyaan kapan persediaan tersebut sudah dapat diakui oleh perusahaan, apakah saat barang diserahkan ke pihak pengirim oleh suplier ataukah saat barang sampai di tangan perusahaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perusahaan perlu memperhatikan syarat pengiriman yang digunakan. Adapun terdapat dua syarat pengiriman, yaitu:


Perencanaan Keuangan Perusahaan 50 a. FOB (Free on Board) Shipping point Menurut sistem FOB Shipping Point kepemilikan barang berpindah ke tangan pembeli saat penjual menyerahkan barang kepada perusahaan pengirim/ jasa pengangkut tanpa harus menunggu barang sampai di tangan pembeli. b. FOB (Free on Board) Destination Menurut sistem FOB Destination kepemilikan barang berpindah ke tangan pembeli saat pembeli menerima barang dari tangan pengirim. Jadi pada saat barang masih dalam pengiriman, status barang tersebut masih menjadi milik penjual hingga barang tersebut sampai di tangan pembeli baru dinyatakan berpindah kepemilikan ke tangan pembeli. 2. Barang Konsinyasi Pemilik barang dapat melakukan metode penjualan dengan sistem titip barang atau yang dikenal dengan istilah kosinyasi. Pihak pemilik barang akan menitipkan barangnya untuk dijual di pihak ketiga yang bertindak sebagai consignee. Barang konsinyasi tersebut tetap berstatus sebagai milik si pemilik meskipun barang tersebut dititipkan di consignee. Saat barang terjual, maka consignee menyerahkan pendapatannya setelah dikurangi komisi penjualan sebagai upah bagi consignee karena telah membantu menjualkan barangnya. Dalam hal ini consignee hanya bertugas dititipkan barang saja dan menjaga barang tersebut sampai terjual. Hak kepemilikan barang tetap menjadi milik si pemilik barang. 3. Penjualan Angsuran Hak atas barang tetap pada penjual sampai seluruh harga jualnya dilunasi. Penjual akan melaporkan barang tersebut dalam persediaannya dikurangi dengan jumlah yang sudah dibayar. Pembeli akan melaporkan barang-barang tersebut dalam persediaannya sejumlah yang sudah dibayarkan.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 51 Metode Penilaian Persediaan Penilaian persediaan mudah dilakukan saat harga yang diperoleh tetap dan tidak berfluktuasi. Namun pada kenyataannya, harga perolehan persediaan mengalami perubahan sewaktu-waktu. Sebagai contoh persediaan cabai bisa mengalami perubahan harga sewaktu-waktu tergantung faktor-faktor yang mempengaruhinya. Perbedaan harga tersebut akan menjadi permasalahan dalam melakukan penilaian persediaan, harga mana yang harus digunakan saat melakukan pencatatan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, muncul beberapa metode penilaian persediaan yang dapat digunakan untuk menilai persediaan akhir dan juga harga pokok penjualan. Berikut penjelasan metodemetode dalam penilaian persediaan: A. Metode Identifikasi Khusus Metode ini berdasarkan anggapan bahwa arus barang harus sama dengan arus biaya. Tiap jenis barang dipisah berdasarkan harga pokoknya dan tiap kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri. Contohnya Mobil merek S tipe 7 dibuatkan kartu persediaan sendiri. Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual, dan sisanya merupakan persediaan akhir. Metode ini dapat digunakan perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan persediaan dengan cara periodik maupun perpetual. Tetapi karena cara ini menimbulkan banyak pekerjaan tambahan maupun gudang yang luas maka jarang digunakan. Metode ini biasanya diterapkan pada perusahaan yang menjual produk dengan harga mahal, jumlah dan jenis produknya terbatas, seperti ponsel, mobil, perhiasan, dan lain-lain. B. Rata-Rata Tertimbang Metode rata-rata tertimbang menilai persediaan dengan membagi harga pokok barang yang tersedia untuk dijual dengan jumlah barang yang dimiliki, sehingga diperoleh nilai rata-rata dari persediaan tersebut. Persediaan akhir dan harga pokok penjualan dapat dihitung dengan harga rata-rata. Metode rata-rata tertimbang menggunakan persediaan barang yang ada di gudang tanpa memperhatikan barang mana yang masuk pertama atau terakhir.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 52 C. First In-First Out (FIFO) Metode First In-First Out (FIFO)memiliki arti masuk pertama keluar pertama. Metode penilaian persediaan ini menggunakan harga persediaan yang pertama kali masuk ke gudang untuk dijual pertama kali. Jadi, harga yang digunakan sebagai perhitungan merupakan harga persediaan yang masuk paling awal dalam pembelian barang. D. Last In-Fist Out (LIFO) LIFO atau Last In First Out adalah metode yang menggunakan harga persediaan terakhir yang dibeli sebagai harga pokok barang pertama yang terjual. Jadi, unit yang digunakan sebagai dasar perhitungan HPP adalah unit yang terakhir kali masuk ke gudang. Namun metode LIFO ini tidak diperkenankan digunakan karena akan meningkatkan harga pokok penjualan dan memperkecil laba perusahaan. Laba perusahaan yang lebih rendah akan berimplikasi ke jumlah pajak yang dibayarkan oleh perusahaan. Contoh perhitungan metode rata-rata tertimbang, FIFO dan LIFO: PT Merauke melakukan transaksi pembelian dan penjualan persediaan selama bulan Desember 2022 sebagai berikut: 1 Desember Persediaan awal 360 unit @Rp9.000 6 Desember Pembelian 600 unit @Rp9.200 19 Desember Pembelian 460 unit @Rp9.400 25 Desember Penjualan 820 unit @Rp15.500 a. Metode Rata-Rata Tertimbang Dapat dilihat pada data transaksi tersebut harga pembelian persediaan mengalami kenaikan setiap waktunya. Berdasarkan metode rata-rata tertimbang, maka perhitungan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan dengan menggunakan sistem periodik dan perpetual akan menghasilkan hasil akhir yang sama, hanya langkahnya saja yang berbeda. Perhitungan dengan sistem periodik adalah sebagai berikut:


Perencanaan Keuangan Perusahaan 53 Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghitung biaya rata-rata per unit dengan cara sebagai berikut: Tanggal Pembelian Harga beli per unit Total harga beli 1 Desember 360 unit Rp9.000 Rp3.240.000 6 Desember 600 unit Rp9.200 Rp5.520.000 19 Desember 460 unit Rp9.400 Rp4.324.000 TOTAL 1.420 unit Rp13.084.000 Biaya rata-rata per unit = Rp9.214 (dibulatkan) Selanjutnya untuk menghitung nilai persediaan akhir, harus diketahui terlebih dulu jumlah persediaan yang tersisa dengan cara mengurangkan total persediaan dengan persediaan yang terjual. Sehingga diperoleh jumlah persediaan akhir sejumlah 600 unit (1.420 unit – 820 unit). Jumlah persediaan akhir tersebut selanjutnya dikalikan dengan biaya rata-rata per unit, sehingga diperoleh nilai persediaan akhir adalah Rp5.528.400 (600 unit x Rp9.214). Untuk menghitung HPP tinggal mengalikan jumlah persediaan terjual dengan biaya rata-rata per unit, sehingga diperoleh nilai HPP sebesar Rp7.555.480 (820 unit x Rp9.214). Dengan menggunakan metode perpetual perhitungan yang dilakukan sebagai berikut: Tgl Persediaan (unit) Harga/ Unit Penjualan (unit) Harga/ Unit Total Saldo akhir Unit Harga/ Unit Total 1/12/22 360 9.000 360 9.000 3,240,000 6/12/22 600 9.200 960 9.125 8,760,000 19/12/22 460 9.400 1,420 9.214 13,084,000 25/12/22 820 9.214 7.555.480 600 9.214 5,528.400 Dapat dilihat hasil yang diperoleh dengan menggunakan sistem perpetual sama dengan menggunakan sistem periodik, dimana HPP yang diperoleh sebesar Rp7.555.480 dan nilai persediaan akhir sebesar Rp5.528.400.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 54 b. Metode FIFO Berdasarkan metode FIFO, maka perhitungan persediaan dilakukan dengan mengeluarkan persediaan pertama terlebih dulu, baru diikuti persediaan yang masuk berikutnya. Sehingga dengan menggunakan sistem periodik, dapat kita hitung nilai HPP dan nilai persediaan akhir sebagai berikut: Tanggal Pembelian Harga beli per unit Total harga beli 1 Desember 360 unit Rp9.000 Rp3.240.000 6 Desember 600 unit Rp9.200 Rp5.520.000 19 Desember 460 unit Rp9.400 Rp4.324.000 TOTAL 1.420 unit Rp13.084.000 Langkah yang harus dilakukan adalah menyusun pengeluaran yang dilakukan berdasarkan urutan barang yang dibeli. Penjualan yang terjadi adalah sejumlah 820 unit dengan urutan pengeluaran persediaan sebagai berikut: 1) Persediaan harga Rp9.000 keluar sejumlah 360 unit total harga Rp3.240.000 2) Persediaan harga Rp9.200 keluar sejumlah 460 unit (karena penjualan sejumlah 820 unit) dengan total harga Rp4.232.000 Sehingga dapat dihitung nilai HPP sebesar Rp7.472.000 (Rp3.240.000 + Rp4.232.000). sedangkan nilai persediaan akhir sebesar Rp5.612.000 ((600 unit – 460 unit) x Rp9.200) + (460 unit x Rp9.400). Dengan menggunakan sistem perpetual maka perhitungan HPP dan persediaan akhir sebagai berikut: Tgl Persediaan (unit) Harga/ Unit Penjualan (unit) Harga/ Unit Total Saldo akhir Unit Harga/ Unit Total 1/12/22 360 9.000 360 9,000 3,240,000


Perencanaan Keuangan Perusahaan 55 6/12/22 600 9.200 360 9,000 3,240,000 600 9.200 5.520.000 19/12/22 460 9.400 360 9,000 3,240,000 600 9.200 5.520.000 460 9.400 4.324.000 25/12/22 360 9,000 3,240,000 140 9.200 1.288.000 460 9.200 4.232.000 460 9.400 4.324.000 TOTAL 820 7.472.000 600 5.612.000 Dengan menggunakan sistem perpetual, diperoleh hasil yang sama, yaitu nilai HPP sebesar Rp7.472.000 dan nilai persediaan akhir sebesar Rp5.612.000 dengan jumlah unit sebesar 600 unit yang tersisa. c. Metode LIFO Metode LIFO merupakan kebalikan dari metode FIFO, dimana perhitungan persediaan dilakukan dengan mengeluarkan persediaan terakhir terlebih dulu, baru diikuti persediaan yang masuk sebelumnya. Sehingga dengan menggunakan sistem periodik, dapat kita hitung nilai HPP dan nilai persediaan akhir sebagai berikut: Tanggal Pembelian Harga beli per unit Total harga beli 1 Desember 360 unit Rp9.000 Rp3.240.000 6 Desember 600 unit Rp9.200 Rp5.520.000 19 Desember 460 unit Rp9.400 Rp4.324.000 TOTAL 1.420 unit Rp13.084.000 Langkah yang harus dilakukan adalah menyusun pengeluaran yang dilakukan berdasarkan urutan barang yang dibeli terakhir. Penjualan yang terjadi adalah sejumlah 820 unit dengan urutan pengeluaran persediaan sebagai berikut: 1) Persediaan harga Rp9.400 keluar sejumlah 460 unit total harga Rp4.324.000 2) Persediaan harga Rp9.200 keluar sejumlah 360 unit (karena penjualan sejumlah 820 unit) dengan total harga Rp3.312.000


Perencanaan Keuangan Perusahaan 56 Sehingga dapat dihitung nilai HPP sebesar Rp7.636.000 (Rp4. 324.000 + Rp3.312.000). sedangkan nilai persediaan akhir sebesar Rp5.448.000 ((600 unit – 360 unit) x Rp9.200) + (360 unit x Rp9.000). Dengan menggunakan sistem perpetual maka perhitungan HPP dan persediaan akhir sebagai berikut: Tgl Persediaan Harga/ Unit Penjualan Harga/ Unit Total Saldo akhir Unit Harga/ Unit Total 1/12/22 360 9.000 360 9,000 3,240,000 6/12/22 600 9.200 360 9,000 3,240,000 600 9.200 5.520.000 19/12/22 460 9.400 360 9,000 3,240,000 600 9.200 5.520.000 460 9.400 4.324.000 25/12/22 460 9.400 4.324.000 360 9,000 3,240,000 360 9.200 3.312.000 240 9.200 2.208.000 TOTAL 820 7.636.000 600 5.448.000 Dengan menggunakan sistem perpetual, diperoleh hasil yang sama, yaitu nilai HPP sebesar Rp7.636.000 dan nilai persediaan akhir sebesar Rp5.448.000 dengan jumlah unit sebesar 600 unit sebagai persediaan akhir. Metode rata-rata tertimbang, FIFO dan LIFO, masing-masing memberikan hasil perhitungan yang berbeda. Berikut perbandingan hasil perhitungan berdasarkan ketiga metode tersebut. Metode HPP Persediaan Akhir Rata-Rata Tertimbang Rp7.555.480 Rp5.528.400 FIFO Rp7.472.000 Rp5.612.000 LIFO Rp7.636.000 Rp5.448.000


Perencanaan Keuangan Perusahaan 57 Berdasarkan perbandingan tersebut, dapat dilihat bahwa metode LIFO memberikan hasil HPP tertinggi, dimana hal tersebut akan berdampak terhadap laba yang diperoleh perusahaan menjadi rendah. Laba yang rendah akan berdampak terhadap pajak yang dibayarkan oleh perusahaan juga menjadi rendah. Oleh karena itu metode LIFO tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh perusahaan. Daftar Pustaka Jusup, Al. Haryono. 2005. Dasar-Dasar Akuntansi Jilid 1. Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN: Yogyakarta. Kieso, Donald E. Weygandt, Jerry J. dan Wafield, Terry D. 2001. Erlangga: Jakarta. Wiyasha, IBM. 2010. Akuntansi Perhotelan. CV Andi Offset: Yogyakarta. Tentang Penulis Ni Nyoman Sri Rahayu Trisna Dewi, SE., M.Si lulus S1 Akuntansi pada tahun 2011 dan lulus S2 Akuntansi tahun 2014 di Universitas Udayana. Penulis merupakan kelahiran 1990 yang saat ini merupakan dosen pada Program Studi Akuntansi Universitas Triatma Mulya dan juga tutor di Universitas Terbuka yang mengampu mata kuliah Pengantar Akuntansi, Akuntansi Keuangan, Manajemen Keuangan.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 59 Aktivitas Perusahaan Multinasional ( Multi National Corporation) A. Konsep Tentu saja kita pasti pernah mendengar tentang istilah perusahaan multinasional, dimana eksistensinya sangat erat dengan pesatnya perkembangan era globalisasi yang menyebabkan semakin tingginya kesempatan untuk bekerjasama secara internasional. Pembahasan Manajemen Keuangan Internasional menitik beratkan pada kegiatan Perusahaan Multinasional (Multinational Corporation atau MNC) Perusahaan multinasional memliki andil cukup krusial dalam kegiatan bisnis internasional seperti aktivitas ekspor impor, penanaman modal asing dan transaksi internasional di banyak negara. Perusahaan multinasional mampu memberikan banyak dampak positif terhadap kondisi ekonomi suatu negara. Pengkoordinasian untuk alokasi sumber daya yang secara global dalam suatu MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL Linda Ayu Oktoriza, SE, MM


Perencanaan Keuangan Perusahaan 60 manajemen terpusat adalah system yang membedakan perusahaan multinasional dengan perusahaan lain yang berhubungan dengan bisnis internasional. Perusahaan multinasional membuat keputusan bagaimana perusahaan memiliki strategi untuk memasuki pasar baru, kepemilikan anak perusahan pada operasi luar negeri yang terdiri dari produksi, pemasaran dan aktivitas keuangan dengan melihat tujuan apa yang terbaik untuk perusahaan secara global. Perusahaan multinasional lebih menekankan kekuatan tim daripada kekuatan individuindividu yang terpisah didalam tim itu sendiri. B. Latar Belakang Ekspansi ke Luar Negeri Salah satu indikator yang menandakan keberhasilan didirikan nya perusahaan adalah Ekspansi. Yaitu adalah kegiatan yang bertujuan untuk memperluas jangkauan usaha yang ditandai dengan menciptakan peluang pasar baru, peningkatan ekonomi, perluasan sarana dan prasarana dan pertumbuhan dunia usaha. Awal ekspansi perusahaan, biasanya ditandai dengan pelaksanaan proyek-proyek jangka panjang yang mampu diselesaikan dengan tepat waktu. Beberapa contoh bentuk dari ekspansi luar negeri adalah membuka cabang bisnis baru di negara lain, meningkatkan jangkauan pemasaran, menambah karyawan, membangun kerjasama internasional, menciptakan formula produk baru, hingga mengakuisisi perusahaan luar negeri. Alasan perusahaan melakukan ekspansi keluar negeri diantaranya : 1) Mencari pasar baru yang memiliki prospek menguntungkan, kemudian merancang membuat dan memasarkan nya di ke pasar mancanegara. 2) Mencari pasokan bahan mentah atau baku yang baru, mencoba berinovasi dengan bahan-bahan yang dapat dijumpai di negara lain. Yang bisa membantu perusahaan menemukan formula baru dalam menciptakan produk. 3) Meminimalkan pengeluaran biaya-biaya (cost minimizers) guna efisiensi produksi. Selanjutnya bereksplorasi dan berinvestasi pada fasilitasfasilitas produksi yang terdapat luar negeri dengan biaya yang lebih murah dari pada di negara asal.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 61 4) Berinovasi dengan mengembangkan teknologi baru 5) Menghindari kendala maupun rintangan-rintangan yang berhubungan dengan regulasi pajak dan politik 6) Meminimalisir risiko kegagalan dengan melakukan diversifikasi (perluasan jenis usaha) C. Perkembangan Perusahaan Multinasional Perusahaan multinasional dapat dibedakan menjadi tiga, berdasarkan tujuan pokok mengapa perusahaan tersebut harus didirikan. Yaitu : 1) Perusahaan multinasional yang mengekspansi usahanya ke mancanegara dalam rangka menemukan raw material (bahan baku) yang sulit di dapatkan di wilayah domestik usahanya. biasanya ialah perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan dan ekstraksi mineral. Mereka memutuskan untuk menjadi perusahaan multinasional (MNC) karena tujuan utamanya adalah mencari bahan baku (raw material seeker). Misalnya, PT. Chevron yang melakukan eksplorasi minyak dan gas di Indonesia yang lokasinya berada di lepas pantai Kutai Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 2) Perusahaan multinasional adalah yang berekspansi dengan tujuan mencari pasar (market seeker). Perusahaan sejenis ini memutuskan untuk go international karena jangkauan pasar domestik dianggap tidak cukup luas sehingga untuk dapat memenuhi skala ekonominya, perusahaan memilih untuk menjadi perusahaan multinasional. Contoh : Breadtalk Group Limited perusahaan yang bergerak di bidang Food and Beverages dari Singapura. Jika hanya menjual produknya pada pasar dalam negeri, maka Breadtalk sulit untuk berkembang menjadi besar karena jumlah penduduk Singapura yang kecil. 3) Perusahaan multinasional yang melakukan ekspansi dengan tujuan untuk meminimalkan biaya (cost minimizer). Perusahaan semacam ini memperluas kiprahnya di dunia internasional karena ingin menggunakan keunggulan yang dipunyai dan mendapatkan kemudahan operasional, misalnya seperti memperoleh keringanan pajak, dapat melaksanakan


Perencanaan Keuangan Perusahaan 62 transfer price, bahkan mendapatkan labor cost yang rendah. Banyak juga perusahaan multinasional yang memindahkan aktivitas produksinya ke negara lain dengan tujuan untuk meminimalkan biaya pengelolaan limbah. Jika dinegara asalnya memiliki prosedur yang sangat ketat, menyebabkan tingginya biaya pengolahan limbah sisa produksi. Maka banyak yang dialihkan ke negara lain yang memiliki prosedur pengolahan limbah sisa produksinya yang relatif mudah. Contoh : Banyak perusahaan brand luar hegeri, Produsen pembuat Tas Fossil, Coach, Sepatu NIke dan perusahaan lain yang mendirikan pabrik di Indonesia, China, India, Vietnam karena ingin memanfaatkan murahnya biaya bahan baku dan upah tenaga kerja yang relatif lebih rendah dibandingkan di negara -negara Amerika Serikat ataupun Benua Eropa. D. Metode Bisnis Internasional 1. Perdagangan Internasional (Ekspor Impor) Suatu aktifitas menjual produk barang atau jasa ke luar negeri dengan memenuhi ketentuan undang-undang yang berlaku disebut sebagai ekspor. Sementara aktivitas membeli suatu produk atau barang dari luar negeri secara resmi dengan memenuhi ketentuan undangundang yang berlaku disebut impor. Aktifitas ekspor umumnya dilakukan oleh suatu negara, bilamana negara tersebut telah dapat menghasilkan produksi barang dalam jumlah besar, dan kebutuhan masyarakat domestik akan barang tersebut sudah terpenuhi. Sehingga, barang tersebut dapat dikirim ke negara lain untuk dijual. Orang atau lembaga yang menjual barang-barangnya ke luar negeri disebut sebagai eksportir yang harus terdaftar secara resmi pada kementerian perdagangan. Pada umumnya, pembelian barang impor adalah barang-barang yang tak bisa diperoleh dari dalam negeri. Orang atau lembaga yang mendatangkan barang impor ke dalam negeri disebut dengan importir.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 63 2. Lisensi Merupakan suatu kesepakatan dimana perusahaan domestik di suatu negara memproduksi barang-barang sesuai dengan spesifikasi dari perusahaan pemberi lisensi. Setelah barang terjual, perusahaan domestik mengambil beberapa persen laba nya sesuai dengan perjanjian. Sebagai contoh, Boehringer Ingelheim Co dari Jerman sebuah produsen obat membagikan formula dan merk dagangnya ke sebuah perusahaan di Indonesia, agar perusahaan tersebut dapat memproduksi kemudian menjual obat yang dimaksud di negaranya. Produsen obat Boehringer Ingelheim Co akan menerima fee atau bagian laba dari perusahaan lisensinya di Indonesia. 3. Joint Venture Adalah suatu kegiatan usaha yang dimiliki dan dijalankan secara bersama-sama oleh dua perusahaan atau lebih (yang saling berbagi tanggung jawab dan laba). Sebagian besar dari usaha joint venture ini memungkinkan kedua perusahaan untuk mengimplemetasikan keunggulan komparatif mereka masing-masing ke dalam suatu bisnis internasional, jenis kegiatan usaha ini kemungkinan menghindari rintangan-rintangan investasi, lebih sedikit eksposur atas country risk, namun memiliki potential loss terhadap kontrol atas intellectual property. Sebagai contoh, PT Pusri melakukan joint venture dengan National Petrochemical Company of Iran (NPCI). Kerja sama tersebut diaplikasikan dengan cara membangun sebuah pabrik pupuk yang berkapasitas sekitar 1,14 juta ton per tahun. Dimana saham tersebut mencapai USD 97 juta dan harus dicairkan ke dalam empat tahun ke depan. 4. Franchise ( Waralaba) Adalah suatu kesepakatan bisnis dimana sebuah perusahaan menyediakan strategi penjualan, ide, resep, tata letak outlet dan mungkin juga investasi awal kepada franchisee (perusahaan yang diberi franchise) dengan imbalan fee secara periodik. Contoh, Dunkin Donuts, McDonald, Pizza Hut, dan lain-lain, adalah waralaba yang dijalankan dan dikelola oleh penduduk lokal di banyak negara yang tersebar di seluruh dunia.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 64 DAFTAR PUSTAKA Eun, C.S., Resnick, B.G., dan Sabherwal,S. 2014. Keuangan Internasional. Salemba Empat. Jakarta. Hanafi, Mamduh M. 2016. Manajemen Keuangan Internasional Edisi 3. BPFE. Yogyakarta. Kuncoro, Mudrajad. 2001. Manajemen Keuangan Internasional Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global Edisi 2. BPFE. Yogyakarta Madura, Jeff. 2000. Manajemen Keuangan Internasional Edisi 4 Jilid 1 dan 2. Erlangga. Jakarta Tentang Penulis Linda Ayu Oktoriza, SE, MM adalah salah satu penulis dari buku Perencanaan Keuangan Perusahaan. Lahir di Kabupaten Grobogan pada tahun 1986, Penulis menyelesaikan sarjana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 2008 dan melanjutkan magister di Magister manajemen Universitas Diponegoro dan selesai pada tahun 2012. Saat ini, penulis adalah Dosen Tetap di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 65 Setiap aktivitas selalu membutuhkan biaya, biaya yang dibutuhkan adalah biaya yang efisien dengan menghasilkan output yang optimal. Terutama untuk aktivitas perusahaan yang memiliki visi dan misi untuk mencapainya membutuhkan biaya terlepas baik perusahaan berorientasi sosial. Semua unsur kegiatan membutuhkan biaya. Untuk menunjang berbagai kegiatan jalannya operasional dibutuhkan keputusan keuangan yang berkaitan dengan performa kinerja dan pengambilan keputusan, karena ke 2 hal ini saling berkaitan. Sebagai contoh Keputusan untuk belanja aktiva akan dilakukan jika nilai aktiva lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. Aktivitas perusahaan dalam keuangan juga terbagi untuk keputusan investasi dan keputusan pembiayaan, tujuannya agar keputusan investasi dan keputusan pembiayaan lebih efektif dalam pertumbuhan perusahaan. RESTRUKTURISASI & KEBANGKRUTAN Dra. Nani Irma Susanti, MM., MH


Perencanaan Keuangan Perusahaan 66 A. KONSEP DASAR KESULITAN KEUANGAN DAN KEBANGKRUTAN. Financial Distress adalah situasi keuangan yang sulit, krisis, atau tidak sehat yang terjadi sebelum perusahaan bangkrut. Kesulitan keuangan terjadi ketika perusahaan tutup atau tidak lagi dapat memenuhi kewajiban debiturnya karena kekurangan dana dan tidak cukup dana untuk beroperasi kembali atau melanjutkan usahanya. Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan biasanya mengalami penurunan pertumbuhan, profitabilitas, dan aset tetap, serta peningkatan tingkat persediaan relatif terhadap perusahaan yang sehat (Kahya dan Theodossiou, 1999). Ciri lain dari kesulitan keuangan adalah pengiriman yang tertunda, penurunan kualitas produk, dan pembayaran tagihan bank yang tertunda. Jika Anda mengetahui keadaan kesulitan keuangan Anda, semoga Anda dapat mengambil tindakan untuk memperbaiki situasi sebelum perusahaan memasuki tahap kesulitan yang lebih serius, seperti kebangkrutan atau likuidasi. Berikut ini beberapa pengertian financial distress dari beberapa sumber buku: 1. Menurut Brigham dan Daves (2003), kesulitan keuangan (financial distress) dimulai ketika perusahaan tidak dapat memenuhi jadwal pembayaran atau ketika proyeksi arus kas mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut akan segera tidak dapat memenuhi kewajibannya. 2. Menurut Darsono dan Ashari (2005), Financial distress atau kesulitan keuangan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan perusahaan. 3. Menurut Platt dan Platt (2002), Financial distress adalah tahap penurunan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu perusahaan, yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. 4. Menurut Gamayuni (2011), financial distress adalah keadaan kesulitan keuangan atau likuiditas yang mungkin merupakan awal dari terjadinya kebangkrutan.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 67 JENIS DAN KATEGORI FINANCIAL DISTRESS  Menurut Gamayuni (2011), terdapat lima bentuk kesulitan keuangan atau financial distress, yaitu sebagai berikut: 1. Economic failure. Suatu keadaan pendapatan perusahaan tidak dapat menutup total biaya perusahaan, termasuk biaya modal. 2. Business failure. Suatu keadaan perusahaan menghentikan kegiatan operasional dengan tujuan mengurangi (akibat) kerugian bagi kreditor. 3. Technical insolvency. Suatu keadaan perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.  4. Insolvency in bankruptcy. Suatu keadaan nilai buku dari total kewajiban melebihi nilai pasar aset perusahaan.  5. Legal bankruptcy. Suatu keadaan perusahaan dikatakan bangkrut secara hukum. Menurut Fahmi (2011), secara umum membagi financial distress atau kesulitan keuangan menjadi empat kategori, yaitu sebagai berikut: a. Financial distress kategori A (sangat tinggi dan benar-benar membahayakan)  Kategori ini memungkinkan perusahaan dinyatakan pailit atau bangkrut. Kategori ini memungkinkan perusahaan untuk melaporkan kebangkrutan kepada pihak terkait seperti pengadilan. Dan mendelegasikan berbagai urusan kepada pihak di luar perusahaan. b. Financial distress kategori B (tinggi dan dianggap berbahaya)  Dalam situasi seperti itu, perusahaan harus mempertimbangkan berbagai solusi realistis untuk menyelamatkan berbagai aset yang dimilikinya, seperti sumber aset untuk dijual dan tidak untuk dijual/ dipelihara. Termasuk memikirkan berbagai dampak keputusan merger dan akuisisi (takeover) jika diterapkan. Salah satu dampak yang paling terlihat dari posisi ini adalah perusahaan mulai merumahkan (PHK) dan pensiun dini beberapa karyawan dianggap tidak mungkin dipertahankan.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 68 c. Financial distress kategori C (sedang dan dianggap masih bisa menyelamatkan diri)  Dalam situasi ini, perusahaan sudah harus mengubah berbagai kebijakan dan konsep manajemen yang telah diterapkan selama ini, bahkan perlu merekrut spesialis baru yang berkualifikasi tinggi di posisi strategis untuk mengendalikan dan menyelamatkan perusahaan, termasuk tujuan untuk meningkatkan pendapatan. keuntungan kembali. d. Financial distress kategori D (rendah)  Dalam kategori ini, perusahaan dianggap hanya mengalami fluktuasi keuangan sementara yang disebabkan oleh berbagai kondisi eksternal dan internal, termasuk lahirnya dan pelaksanaan keputusan yang kurang tepat. PENYEBAB FINANCIAL DISTRESS  Menurut Fachrudin (2008), penyebab kesulitan keuangan atau financial distress dijelaskan dalam Trinitas Penyebab kesulitan keuangan, yaitu sebagai berikut: a. Neoclassical model  Financial distress dan kebangkrutan terjadi jika alokasi sumber daya di dalam perusahaan tidak tepat. Manajemen yang kurang bisa mengalokasikan sumber daya (aset) yang ada di perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan. b. Financial model  Pencampuran aset benar tetapi struktur keuangan salah dengan liquidity constraints. Hal ini berarti bahwa walaupun perusahaan dapat bertahan hidup dalam jangka panjang tapi ia harus bangkrut juga dalam jangka pendek.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 69 c. Corporate governance model  Menurut model ini, kebangkrutan mempunyai campuran aset dan struktur keuangan yang benar tapi dikelola dengan buruk. Ketidakefisien ini mendorong perusahaan menjadi Olt of the market sebagai konsekuensi dari masalah dalam tata kelola perusahaan yang tak terpecahkan. B. PENYEBAB KESULITAN KEUANGAN PERUSAHAAN. Matrik Kesulitan Keuangan dapat dilihat sebagai berikut: Tidak Dalam Kesulitan Keuangan Dalam Kesulitan Keuangan Tidak Bangkrut I II Bangkrut III IV Keterangan: • Dari tabel matriks di atas, didapati Kondisi I dan Kondisi IV merupakan representasi dari dua kondisi perusahaan yang sangat baik dan sangat buruk. • Kondisi II dan III membingungkan karena tidak jelas apakah sudah boleh dikatakan bangkrut atau belum. • Contoh Kondisi II: Krisis Keuangan 1997, dimana bank-bank di Indonesia mengalami kesulitan keuangan namun pemerintah tidak membiarkan mereka bangkrut. • Contoh Kondisi III: Bila Serikat Pekerja meminta struktur upah / gaji lebih tinggi, maka perusahaan bisa saja membangkrutkan diri sambil menunjukkan ke pengadilan perhitungan struktur gaji yang merugikan perusahaan bila tuntutan serikat pekerja dipenuhi.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 70 Tidak semua perusahaan dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana yang diharapkan. Banyak perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan melakukan penciutan atau bahkan di-likuidasi. Apabila perusahaan menghadapi kesulitan keuangan dan prospek perusahaan kurang baik, maka perusahaan dapat dilikuidasi. Jika prospek perusahaan masih bagus, maka perusahaan dapat di-reorganisasi atau restrukturisasi. Beberapa Faktor kesulitan keuangan dan kebangkrutan sangat tergantung jenis industrinya. Karena sektor yang mudah dikerjakan, sedang dan sulit dikerjakan. 1. Struktur Permodalan Kurang, Kurang modal untuk membeli barang modal, peralatan, atau untuk memanfaatkan barang persediaan yang dijual dengan potongan kuantitas, atau jenis potongan lainnya 2. Peralatan dan Metode Bisnis yang Ketinggalan Jaman, Tidak dapat menerapkan pengendalian persediaan, pengendalian kredit, dan catatan akuntansi. 3. Tidak Ada Perencanaan Bisnis, Tidak mampu membaca perubahan pasar dan kondisi ekonomi, tidak menyiapkan rencana darurat, dan tidak mampu merencanakan kebutuhan keuangan. 4. Kualifikasi Pribadi Yang Tidak Mumpuni, Kurang pengetahuan bisnis, tidak mau bekerja keras, tidak mau mendelegasikan tugas dan wewenang, serta tidak bisa membina hubungan baik dengan konsumen. a. Kekurangan Pengalaman Operasional (15,6%) b. Kekurangan Pengalaman Manajerial (14,1%) c. Pengalaman Tidak Seimbang Antara Keuangan, Produksi, dan Fungsi Lainnya (22,3%) d. Manajemen Yang Tidak Kompeten (40,7%) e. Penyelewengan (0,9%) f. Bencana (0,9%) g. Kealpaan (1,9%) h. Alasan Lain Yang Tidak Diketahui (3,6%)


Perencanaan Keuangan Perusahaan 71 C. ALTERNATIF-ALTERNATIF KEBIJAKAN PERBAIKAN KESULITAN KEUANGAN: INFORMAL DAN FORMAL. Jika Perusahaan mencapai tahap Solvabel, Maka ada 2 Pilihan 1. Penyelesaian secara informal / sukarela (voluntary settlements), dilakukan apabila masalah belum begitu parah, bersifat sementara, dan prospek masa depan masih bagus. a. Extensions, menunda saat jatuh tempo kredit yang diberikan kepada perusahaan yang bersangkutan. b. Composition, para kreditur / investor bersedia menerima pengurangan besarnya tagihan klaim utang. Misalnya, harusnya 100% utang dibayar menjadi 60% nya saja yang perlu dibayar. c. Liquidation by voluntary agreement, para kreditur secara bersama memutuskan meminta perusahaan dilikuidasi secara sukarela 2. Penyelesaian secara formal / lewat pengadilan (settlements involving litigation) dilakukan apabila masalah sudah parah, serta kreditur dan pemasok dana lainnya ingin mempunyai jaminan keamanan dan keadilan. a. Apabila nilai perusahaan > nilai likuidasi, maka dilakukan reorganisasi. Bisa dengan mengubah struktur modal menjadi layak, melalui extension, composition, atau keduanya. b. Apabila nilai perusahaan < nilai likuidasi, maka dilakukan likuidasi. Bisa dengan menjual aset-aset perusahaan, kemudian didistribusikan ke pemasok modal di bawah pengawasan pihak ketiga. 3. Mengatasi Permasalahan Common Pool a. Misalkan suatu perusahaan mempunyai nilai hutang nominal sebesar total Rp20 milyar, yang berasal dari 10 kreditur dengan besar masingmasing adalah sama (Rp2 milyar). Jika dilikuidasi, aset perusahaan bisa dijual menghasilkan kas sebesar Rp10 milyar.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 72 b. Artinya, 5 kreditur yang pertama kali datang akan mendapatkan bagiannya penuh, sementara 5 kreditur lainnya bisa tidak mendapatkan bagian. Misalkan kondisi perusahaan memburuk sehingga tidak bisa membayar salah satu hutangnya, maka kreditor tersebut bisa menuntut agar perusahaan dibangkrutkan. c. Intinya, semakin banyak pihak kreditur maka akan semakin rumit pula penyelesaiannya. Maka pihak ketiga seperti pengadilan dapat menengahi berbagai konflik kepentingan di antara para kreditur 4. Permasalahan Hold-Out a. Jika menggunakan jalur kebangkrutan formal, peraturan perundangan akan menetapkan peraturan-peraturan untuk mencegah problemproblem tersebut. Contoh, kecenderungan salah satu pihak untuk membangkrutkan perusahaan dan meminta pelunasan secara sepihak dan hanya untuk dia, akan dibatasi oleh peraturan. b. Peraturan juga diharapkan bisa mencegah persoalan hold-out. Sebagai contoh, peraturan bisa menetapkan persetujuan restrukturisasi jika sebagian besar dari kreditor, atau untuk kelas kreditor tertentu, menerima rencana restrukturisasi. Kreditor yang tidak setuju dengan restrukturisasi (atau yang menunda, atau yang hold-out), akan menerima jumlah yang sama dengan kreditor yang menerima rencana restrukturisasi. Dengan cara ini, peraturan memaksa kreditor untuk menerima restrukturisasi perusahaan D. LANGKAH-LANGKAH REORGANISASI DAN LIKUIDASI. a. Menentukan Nilai Perusahaan 1) Penilaian yang sering digunakan, dan yang termasuk cukup sederhana, adalah menghitung nilai perusahaan berdasarkan tingkat kapitalisasi. 2) Misalkan kurator atau pihak penilai memperkirakan perusahaan setelah di-reorganisasi mampu menghasilkan pendapatan bersih per tahunnya adalah Rp10 miliar. Tingkat kapitalisasi untuk perusahaan yang serupa adalah 20%. Maka nilai perusahaannya adalah Rp 50 Miliar ()


Perencanaan Keuangan Perusahaan 73 3) Meski demikian, pihak lain bisa memiliki angka perhitungan yang berbeda. Perbedaan sangat mungkin terjadi karena sangat sulit untuk memastikan estimasi perhitungan pendapatan bersih di masa mendatang. b. Menentukan Struktur Modal Yang baru Misalnya tabel di bawah ini menunjukkan proses kurator menyesuaikan struktur modal dari sebelumnya total asset Rp 40 Miliar menjadi nilai perusahaan yang diestimasi sebenarnya Rp 20 Miliar. Utang diprioritaskan utama, Saham Preferen prioritas selanjutnya, dan Saham Biasa diprioritaskan terakhir c. Urutan Prioritas Penerima Kas Dari Likuidasi Aset Perusahaan 1) Biaya administrasi yang berkaitan dengan urusan likuidasi: biaya pengacara & kurator (trustee). 2) Klaim dari kreditur (hutang) yang muncul dari kegiatan bisnis mulai dari saat kasus dibawa ke pengadilan sampai ke saat trustee (kurator) diangkat. 3) Gaji pegawai yang diperoleh dalam waktu 90 hari sesudah (within) petisi kebangkrutan. Jumlah ini dibatasi sampai $2.000 per pegawai. 4) Premi pensiunan pegawai untuk masa kerja dalam 120 hari petisi kebangkrutan diajukan. Klaim ini dibatasi $2.000 per pegawai dikalikan jumlah pegawai. 5) Uang muka dari pelanggan yang membeli barang tetapi belum memperoleh barangnya. 6) Pelunasan pajak pendapatan sampai tiga tahun sebelum kebangkrutan, pajak properti sampai setahun sebelum kebangkrutan, dan semua pajak pendapatan yang masih ditahan oleh perusahaan. 7) Kreditor umum. 8) Saham Preferen 9) Saham Biasa Restrukturisasi perusahaan didefinisikan sebagai upaya untuk menata kembali suatu bisnis agar dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan lingkungan bisnis yang sedang berlangsung. Dunia terus berubah, tidak ada yang tetap sama. Ada perubahan cepat, ada perubahan lambat, ada perubahan baik dan ada perubahan buruk.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 74 Bisnis sebagai organisasi yang hidup juga harus secara dinamis merespon setiap perubahan dengan menciptakan perubahan. Bisnis yang tumbuh cepat terkadang dapat melakukan restrukturisasi hingga dua atau tiga kali setahun untuk melakukan penyesuaian guna meningkatkan kinerja keuangan mereka. Demikian juga perusahaan yang mengalami penurunan harus melakukan perubahan untuk mengantisipasi penurunan tersebut. Menanggapi perubahan tersebut, manajemen terkadang melakukan aksi korporasi seperti merger, akuisisi, IPO, bahkan penutupan. Keputusan bisnis ini perlu disertai dengan restrukturisasi bisnis agar bisnis dapat beroperasi secara efektif dan efisien. a) Langkah pertama yang harus diambil adalah, merestrukturisasi portofolio. Tujuan restrukturisasi portofolio adalah untuk memperoleh modal kerja murah yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja keuangan. Memperoleh dana orang dalam ini memiliki biaya modal yang rendah dibandingkan dengan menggunakan kredit bank atau dana investor. Restrukturisasi portofolio terkadang diperlukan untuk mengurangi kerugian industri dan mengurangi kerugian keseluruhan yang perlu diperbaiki (loss reduction). Keputusan manajemen dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja unit bisnis yang baik agar tidak terbebani oleh unit bisnis yang sedang sakit (kinerja tercapai). Dalam kaitan ini, pengurus dan manajemen harus menyempurnakan strategi bisnis hingga ke unit-unit terkecil agar memiliki visi yang sama (strategic alignment) sebelum menyusun action plan. Langkah restrukturisasi portofolio diawali dengan identifikasi unit bisnis. Pemisahan pusat pendapatan, pusat biaya, pusat laba dan pusat investasi. Pusat pendapatan adalah subunit kerja yang ditugaskan untuk menghasilkan pendapatan bisnis, manajemen pelanggan, dan pertumbuhan bisnis. Pusat Laba adalah sub-unit kerja yang selain bertanggung jawab untuk memperoleh pendapatan bisnis, juga mengelola pengeluaran yang diperlukan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Pusat biaya adalah sub unit kerja yang mengelola biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan usaha, baik biaya langsung, pengeluaran usaha, maupun biaya lain di luar usaha.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 75 Pusat Investasi adalah sub-unit yang bertugas mengelola pendapatan usaha serta biaya-biaya yang diperlukan untuk memperoleh pendapatan tersebut guna mengembalikan investasi yang dilakukan sampai dengan seluruh investasi dilunasi. Hal ini dilakukan dengan menjumlahkan laporan keuangan masingmasing unit bisnis dan mengalokasikan overhead dan cost sharing berdasarkan kesepakatan yang wajar. b) Langkah ke dua, selanjutnya adalah menghitung kinerja keuangan masing-masing unit bisnis. Ada beberapa metrik yang perlu dipertimbangkan untuk membuat keputusan tetapi tidak terbatas pada ini termasuk Pangsa Pasar, Pertumbuhan Pasar, Pertumbuhan Penjualan, Pertumbuhan Pendapatan, operasi BOPO (Beban Pendapatan), ROI (pengembalian investasi) dan EVA (nilai tambah ekonomi). c) Kemudian lakukan analisis BCG (konsultan pertumbuhan boston) untuk membandingkan pangsa pasar relatif dengan tingkat pertumbuhan pasar. Dibagi menjadi empat kuadran yang terdiri dari bintang, sapi perah, anjing dan tanda tanya. Kuadran I adalah bintang, yaitu produk atau unit bisnis yang memiliki pangsa pasar luar biasa, berkembang pesat, dan menghasilkan uang (pendapatan) dalam jumlah besar. Kuadran II adalah Cash Cows, yaitu produk atau unit bisnis unggulan pasar yang menghasilkan lebih banyak uang atau pendapatan daripada biayanya. Kuadran III adalah Anjing, khususnya produk atau unit bisnis yang memiliki pangsa pasar rendah dan mengalami pertumbuhan rendah. Kuadran IV sesuai dengan tanda tanya, yaitu produk atau unit bisnis dengan prospek pertumbuhan yang kuat namun pangsa pasar yang sangat rendah.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 76 d) Selain itu, lakukan analisis PLC (Siklus Hidup Produk) untuk produk atau layanan yang kami berikan kepada pelanggan kami dengan membandingkan penjualan secara berkala, mungkin setiap setengah tahun. tahunan atau triwulanan selama 5 tahun atau 3 tahun sesuai kebutuhan. Dari perbandingan tersebut, kita dapat mengelompokkan produk/jasa tersebut menjadi 5 kelompok, yaitu pengenalan (pelopor), penjualan rendah, ukuran pasar tumbuh lambat, persaingan rendah relatif rendah, tingkat kegagalan relatif tinggi. Pertumbuhan yang cepat (penerimaan pasar) berarti penjualan dan keuntungan akan meningkat dengan sangat cepat karena permintaan meningkat dengan kuat. Pertumbuhan lambat (turbulen) adalah pertumbuhan yang lambat, dengan pesaing baru memasuki pasar. Matang (jenuh), mencapai puncak penjualan perusahaan. Menurun (usang), penjualan perusahaan semakin merosot. Berdasarkan hasil analisis tersebut, akan diselaraskan visi/misi dan strategi perusahaan dengan strategi unit bisnis. Mengacu pada indikator kinerja keuangan, membandingkan kontribusi masingmasing divisi bisnis terhadap perusahaan. Menyelidiki pelanggaran antara perusahaan dan unit bisnis. Kemudian mengidentifikasi rencana aksi yang perlu dikembangkan untuk setiap unit bisnis dan mengintegrasikannya ke dalam perusahaan d. Likuidasi Hukum “Proses Likuidasi atau proses pemberesan Perseroan adalah tindakan dari Likuidator, yang mana bertugas untuk menyelesaikan pembayaran kewajiban kepada kreditor dan melakukan pembagian harta yang tersisa kepada para pemegang saham.” Likuidasi merupakan tindakan pembubaran perusahaan sebagai badan hukum dan dalam proses pembubaran tersebut terdapat halhal yang harus diselesaikan, yaitu pembayaran kewajiban kepada para kreditor dan pembagian harta yang tersisa kepada para pemegang saham. Merujuk pada Pasal 143 ayat (1) UU tentang Perseroan Terbatas (UU


Perencanaan Keuangan Perusahaan 77 PT) menyatakan bahwa pembubaran Perseroan itu tidak langsung membuat Perseroan kehilangan statusnya sebagai badan hukum, tetapi status badan hukum dari suatu Perseroan akan hilang apabila telah terselesaikannya proses likuidasi dan pertanggungjawaban likuidator telah diterima oleh RUPS atau pengadilan. Hal tersebut berdasarkan Pasal 143 ayat (1) UU PT yang berbunyi  “Pembubaran Perseroan tidak mengakibatkan Perseroan kehilangan status badan hukum sampai dengan selesainya likuidasi dan pertanggungjawaban likuidator diterima oleh RUPS atau pengadilan.”  Perbuatan likuidasi akan dilakukan oleh likuidator dalam hal ini berdasarkan Pasal 142 ayat (3) UU PT, apabila Perseroan dalam hal ini RUPS tindak menunjuk pihak lain menjadi likuidator, maka Direksi akan bertindak selaku likuidator.  Likuidator dalam melakukan proses likuidasi paling lambat 30 hari sejak pembubaran Perseroan atau terhitung sejak para pemegang saham memberikan putusannya pada RUPS, berdasarkan Pasal 147 ayat (1) UU PT, Likuidator wajib : 1. Memberitahukan kepada semua kreditor mengenai pembubaran Perseroan dengan mengumumkannya pada Surat Kabar dan Berita Negara Republik Indonesia (BNRI) (Pengumuman I), dan 2. Memberitahukan pembubaran Perseroan kepada Menteri agar dicatat dalam Daftar Perseroan bahwa Perseroan dalam proses likuidasi. Pada Pasal 147 ayat (2) UUPT menyatakan bahwa pemberitahuan kepada para Kreditor dalam Surat Kabar dan BNRI harus memuat hal-hal berikut: 1. Pembubaran Perseroan dan dasar hukumnya; 2. Nama dan alamat Likuidator; 3. Tata cara pengajuan tagihan; dan 4. Jangka waktu pengajuan tagihan.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 78 Pada Pasal 148 UUPT menyatakan bahwa apabila pemberitahuan kepada Kreditor dan Menteri tidak dilakukan, maka pembubaran Perseroan tidak akan mempengaruhi pihak ketiga, sehingga segala kerugian yang dialami oleh pihak ketiga akan ditanggung secara tanggung renteng antara Likuidator dengan Perseroan. Selanjutnya jangka waktu dalam hal pemberitahuan kepada Para Kreditor dalam Surat Kabar dan BNRI untuk melakukan pengajuan tagihan, berdasarkan Pasal 147 ayat (3) menyatakan bahwa jangka waktu bagi Kreditor untuk mengajukan tagihannya adalah 60 hari terhitung sejak tanggal Pengumuman I, jika lewat jangka waktu tersebut terdapat Kreditor yang belum mengajukan tagihannya selama proses likuidasi, Kreditor tersebut tetap bisa mengajukan tagihan tersebut melalui Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 2 tahun sejak Pengumuman I dengan catatan bahwa ada sisa harta kekayaan dari hasil proses likuidasi yang diberikan kepada Para Pemegang Saham.  Proses Likuidasi pada Perseroan pada dasarnya adalah suatu proses untuk melakukan pemberesan harta kekayaan Perseroan oleh Likuidator yang dipilih dalam RUPS ataupun apabila tidak ditunjuk Direksi berwenang untuk menjadi Likuidator untuk melakukan pemberesan Perseroan tersebut. Berdasarkan hal tersebut, hal-hal yang perlu dilakukan oleh Likuidator berdasarkan Pasal 149 UU PT adalah : 1. Pencatatan dan Pengumpulan Kekayaan dan Utang Perseroan; 2. Pengumuman dalam Surat Kabar dan Berita Negara Republik Indonesia mengenai Rencana Pembagian Kekayaan Hasil Likuidasi; 3. Pembayaran kepada Para Kreditor; 4. Pembayaran Sisa Kekayaan Hasil Likuidasi kepada Pemegang Saham; dan 5. Tindakan Lain Yang Perlu Dilakukan dalam Pelaksanaan Pemberesan Kekayaan. Selanjutnya, setelah Likuidator menyelesaikan seluruh proses pemberesan terhadap harta kekayaan Perseroan beserta dengan pertanggungjawabannya, kemudian RUPS akan memberikan pelunasan dan pembebasan kepada Likuidator dan dalam jangka waktu maksimal 30 hari sejak RUPS menerima pertanggungjawaban tersebut, Likuidator


Perencanaan Keuangan Perusahaan 79 harus memberitahukan kepada Menteri dan mengumumkan mengenai hasil akhir proses likuidasi dalam Surat Kabar, dan kemudian selanjutnya Menteri akan mengumumkan status badan hukum dari suatu Perseroan terbatas telah berakhir dalam Berita Negara Republik Indonesia (BNRI).  e. Likuidasi dan Prosesnya (Ekonomi) Likuidasi merupakan suatu keadaan dimana persekutuan antar para anggotanya dibubarkan, sehingga kegiatan usahanya juga dihentikan. Proses likuidasi terd(riat09 dua tahap, yaitu: 1) Proses realisasi, merupakan proses merubah aset non-kas menjadi kas. 2) Proses likuidasi, merupakan proses pembayaran semua hutang persekutuanxeppda para kreditur dan sisanya dibayarkan kepada para anggota. Langkah-Langkah dalam Likuidasi Sekaligus 1) Menutup dan menyesuaikan rekening pembukuan persekutuan. 2) Melakukan proses realisasi. Apabila dalam proses realisasi tersebut timbuHab? rugi, maka laba rugi tersebut dibagikan kepada para anggota sesuai dengan rasio pembagian laba rugi yang telah ditetapkan. 3) Melakukan proses likuidasi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses likuidasi adalah: a) Pertama kali yang harus dibayar adalah para kreditur luar, jika ada sisa baru dibayarkan kepada anggota. b) Jika ada salah satu anggota mempunyai saldo modal defisit dan di Iain pihak ia mempunyai tagihan kepada persekutuan, maka tagihan tersebut bisa dikompensasikan kepada defisitnya. c) Jika ada salah satu anggota mempunyai saldo modal defisit dan ia tidak mempunyai tagihan kepada persekutuan, maka untuk sementara waktu, anggota lainnya (yang saldo modalnya positif) wajib menutupnya terlebih dahulu dan dalam melakukan pembayaran kepada para anggota perlu dibuatkan daftar pendukung perhitungan pembayaran kepada anggota


Perencanaan Keuangan Perusahaan 80 E. METODE ANALISIS KEBANGKRUTAN: ANALISIS UNIVARIAT DAN ANALISIS MULTIVARIAT. Banyak penelitian yang mencoba untuk memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, di antaranya: 1. William H Beaver, menggunakan rasio-rasio keuangan untuk meramalkan kegagalan perusahaan. -->Analisis Univariat 2. Edward I Altman, menggunakan multiple discrimnant analysis untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan nama Altman Z-Score --> Analisis Multivariat ANALISIS UNIVARIAT 1. Dilakukan dengan melihat variabel keuangan yang diperkirakan mempengaruhi atau berkaitan dengan kebangkrutan, dengan menganalisis secara terpisah setiap variabelnya. 2. Contoh, ada sebuah teori bahwa rasio Biaya Tetap Terhadap Pendapatan Operasional (BT/PO) dan rasio Times Interest Earned (TIE) dapat menentukan kebangkrutan perusahaan. Dasar pemikirannya adalah, perusahaan yang bangkrut diperkirakan merupakan perusahaan yang tidak efisien karena BT/PO rendah dan memiliki bunga yang tinggi dibandingkan labarnya karena TIE rendah.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 81 ANALISIS UNIVARIAT 1. Rata-rata BT/PO untuk perusahaan yang tidak bangkrut adalah 0,356 sedangkan untuk perusahaan yang bangkrut adalah 0,473 --> Biaya Tetapnya semakin besar = risiko kebangkrutan semakin besar 2. Rata-rata TIE untuk perusahaan yang tidak bangkrut adalah 2,49 sedangkan untuk perusahaan yang bangkrut adalah -0,26 --> Biaya Bunganya semakin besar = risiko kebangkrutan semakin besar 3. KESIMPULAN: perusahaan yang memiliki rasio tersebut semakin memburuk harus semakin berhati-hati Analisis MULTIVARIAT (Altman Z-Score) 1. Original Z-Score Formula 2. Keterangan: X1 = working capital / total assets X2 = retained earnings / total assets X3 = earnings before interest and taxes / total assets X4 = market value of equity / total liabilities X5 = sales / total assets 3. Keterangan Skor: a. Jika Z-Score > 3,00 -->Aman, jika berdasarkan pada figur keuangan di model ini saja b. Jika 1,8 < Z-Score < 3,00 --> “Grey Zone”, perusahaan harus waspada. Semakin rendah, maka semakin besar kemungkinan perusahaan akan bangkrut 2 tahun operasional lagi. c. Jika Z Score < 1,8 --> “Distress Zone”, kemungkinan terjadi kebangkrutan keuangan dalam waktu dekat sangat besar.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 82 Altman Z-Score (for Private Firms) 1. Modified Z-Score Formula 2. Keterangan: X1 = (current assets - current liabilities) / total assets X2 = retained earnings / total assets X3 = earnings before interest and taxes / total assets X4 = book value of equity / total liabilities X5 = sales / total assets 3. Keterangan Skor: Jika Z’ > 2,90 --> “Safe Zone” Jika 1,23 < Z’ < 2,90 --> “Grey Zone” Jika Z‘ < 1,23 --> “Distress Zone” Altman Z-Score (for non-manufacturers) 1. Modified Z-Score Formula 2. Keterangan: X1 = (current assets - current liabilities) / total assets X2 = retained earnings / total assets X3 = earnings before interest and taxes / total assets X4 = book value of equity / total liabilities 3. Keterangan Skor: Jika Z’ > 2,90 --> “Safe Zone” Jika 1,23 < Z’ < 2,90 --> “Grey Zone” Jika Z‘ < 1,23 --> “Distress Zone”


Perencanaan Keuangan Perusahaan 83 Altman Z-Score (for Emerging markets) 1. Modified Z-Score Formula 2. Keterangan: X1 = (current assets - current liabilities) / total assets X2 = retained earnings / total assets X3 = earnings before interest and taxes / total assets X4 = book value of equity / total liabilities 3. Keterangan Skor: Jika Z’ > 2,60 --> “Safe Zone” Jika 1,1 < Z’ < 2,60 --> “Grey Zone” Jika Z‘ < 1,1 -->“Distress Zone” Catatan: Angka 3,25 ditambahkan dengan alasan untuk menstandarisasi Z” skor yang ada dengan Z” skor yang setara dengan angka 0 dalam D-Bond (Default Bond)


Perencanaan Keuangan Perusahaan 84 DAFTAR PUSTAKA Financial Distress (Kesulitan Keuangan) (kajianpustaka.com) Langkah Restrukturisasi Perusahaan - adinataprestasindo Panduan Likuidasi Perusahaan Yang Harus Anda Ketahui - Konsultan Hukum Indonesia | BP Lawyers Corporate Law Firms di Jakarta http://www.creditguru.com/index.php/bankruptcy-and-insolvency/altman-zscore-insolvency-predictor http://www.creditguru.com/index.php/bankruptcy-and-insolvency/altman-zscore-insolvency-predictor-for-private-firms http://www.creditguru.com/index.php/bankruptcy-and-insolvency/altman-zscore-insolvency-predictor-for-non-manufacturers-emerging-markets


Perencanaan Keuangan Perusahaan 85 A. Pengertian Merger Pengertian merger adalah pelebuan antara dua perusahaan ataupun bisa lebih dan apabila sudah bergabung hanya akan menjadi satu perusahaan berbadan hukum, dan perusahaan sebelumnya dinyatakan bubar. Perusahaan yang dibubarkan akan mengalihkan aktiva serta kewajibannya ke perusahaan yang mengambil alih sehingga perusahaan yang mengambil alih tersebut akan mengalami peningkatan aktiva setelah adanya proses merger (Moin and Vorhauser-Smith, 2010) Sedangkan Zaki Baridwan, memberikan pandangannya bahwa, merger ialah sebuah proses mengambilalihan saham yang dilakukan oleh perusahaan terhadap perusahaan lain yang dapat mengakibatkan perusahaan yang di digabungkan itu tidak lagi menjadi perusahaan tunggal, tetapi akan menjadi bagian dari perusahaan yang telah mengambil alih (Moin, 2003) MERGER DAN AKUISISI DEASY FEMAYONA DEVI, SE.,M.AK


Perencanaan Keuangan Perusahaan 86 Selain pengertian tersebut, menurut Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no. 22, merger adalah proses digabungkanya usaha dengan mengambil alih lebih dari satu perusahaan sehingga perusahaan yang di ambil alih akan dihapuskan atau dilikuidasi sehingga ekstitensinya sebagai badan hukum akan hilang dan kegiatan usaha akan dilanjutkan oleh perusahaan yang baru. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun 1988, merger adalah perseroan yang berbadan hukum untuk meleburkan diri dengan perseroan lainnya yang sudah ada kemudian selanjutnya perseroan yang mengabungkan diri akan dihapuskan. Merger ini adalah salah satu suatu perusahaan dengan cara meleburkan satu perusahaan dengan yang lainnya, dimana hanya satu perusahaan yang akan tetap bertahan sedangkan perusahaan yang lainnya itu dihapuskan atas dasar hukum tanpa likuidasi terlebih dahulu, dapat diartikan sebagai peleburan dua perusahaan menjadi satu, dimana perusahaan yang melakukan merger mengambil alih seluruh aset serta kewajiban perusahaan yang menerima merger. Kasus merger yang sering terjadi, perusahaan yang lebih besar serta untuk kedepannya semakin bagus yang dipertahankan status badan hukumnya, sedangkan perusahaan yang kecil dan kurang berkembang (dimerger) akan berhenti beroperasi. Perusahaan yang masih berdiri atau yang menerima merger dinamakan surviving firm atau pihak yang mengeluarkan saham (issuing firm). Sementara itu, perusahaan yang berhenti dan bubar setelah terjadinya merger dinamakan merged firm. Surviving firm dengan sendirinya memiliki ukuran yang semakin besar karena seluruh aset dan kewajiban dari merged firm diambilalih ke surviving firm. Perusahaan yang dimerger akan meninggalkan status hukumnya sebagai entitas yang terpisah, dan setelah merger statusnya berubah menjadi bagian (unit bisnis) di bawah surviving firm. Dengan demikian ia tidak lagi bisa beroperasi(Moin and Vorhauser-Smith, 2010) Faktor penyebab besar terjadinya merger diakibatkan oleh keadaan ekonomi serta ciri budaya dari waktu dan tempat kegiatan merger dan akuisisi tersebut dilakukan. Pada keadaan perkekonomian sedang pada posisi dipengaruhi yang salah satunya dilihat dari semakin banyaknya kegiatan pasar modal, banyak pengusaha yang membuat suatu keputusan untuk melakukan merger. kemajuan teknologi dan keadaan perekonomian yang mensupport


Perencanaan Keuangan Perusahaan 87 aktifnya kegiatan di pasar modal mendorong para pengusaha untuk membentuk ulang asetnya melalui akusisi. Dan adanya perubahan sesuai kebutuhan pelanggan. Sehingga dapat diartikan bahwa semakin banyaknya pengusaha yang ingin untuk melakukan ekspansi usaha maka kegiatan merger akan semakin banyak serta akan memiliki keunggulan dan kekurangan akibat kegiatan merger tersebut. B. Jenis-Jenis Merger Menurut Munir Fuady, merger dapat digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu: Menurut jenis kegiatan usahanya, digolongkan ke dalam 4 macam sebagai berikut (Fuady, 1999): a. Merger horizontal. Adalah merger di antara lebih dari dua perusahaan dimana seluruh kegiatan perusahaan itu pada bidang bisnis “line of business” (bidang usaha) yang sama atau dapat disebutkan terjadinya merger horizontal yaitu apabila lebih dari satu perusahaan yang sebagian besar mempunyai pasar pembelian dan pasar penjualan yang sama-sama melebur menjadi satu, misalnya antara perusahaan tekstil. Selain itu, untuk merger horizontal khusus apabila dilakukan satu group usaha, ada dua perusahaan dalam satu group, yang disebut dengan “sister company” (satu kelompok). Saham mereka sama-sama di pegang oleh perusahaan inti “holding” (dipegang) (Title matches ‘merger’ - Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Repository, no date). kemudian setelah merger horizontal, perusahaan “holding” atau mengambil alih saham pada anak perusahaan hasil merger yang telah melebur. Dalam proses merger horizontal ini, fokusnya apabila dipilih merger tanpa likuidasi, Misalnya, merger perusahaan antara perusahaan bank, merger dengan perusahaan jasa keuangan. tindakantindakan yuridis minimal yang dilaksanakan adalah sebagai berikut : 1. Semua aktiva dan passiva (laporan keuangan) beralih dari anak perusahaan yang satu terhadap anak perusahaan lain (kecuali aktiva yang harus dibayar kepada pemegang saham minoritas yang tidak setuju merger).


Perencanaan Keuangan Perusahaan 88 2. Anak perusahaan menghentikan aktifitasnya, kemudian dibubarkan tanpa likuidasi. 3. Pemegang saham minoritas yang tidak setuju adanya merger dapat memilih antara menjadi pemegang saham dalam anak perusahaan atau meminta kompensasi harga saham yang sedang dipegangnya tanpa menjadi pemegang saham pada anak perusahaan hasil merger, biasanya tidak setuju tersebut di karenakan ketakutan investor terhadap nilai jual saham ataupun keberlangsungan kegiatan perusahaannya. b. Merger vertical Merger vertical ialah merger yang terjadi pada perusahaanperusahaan yang saling berhubungan atau perusahaan yang sejenis. c. Merger kon-generik Yang dimaksud dengan merger kon-generik ialah merger diantara dua perusahaan atau lebih yang saling berhubungan tetapi bukan terhadap produk yang sama seperti pada merger horizontal dan bukan pula antara perusahaan pusat dengan ujung seperti dalam merger vertikal. Misalnya antara bank dan perusahaan asuransi. d. Merger konglomerat Merger konglomerat ialah Kerjasama lebih dari satu perusahaan yang tidak mempunyai kemiripan jenis usaha. Sehingga kegiatan bisnis tidak berhubungan sama sekali antara perusahaan yang meleburkan diri dengan perusahaan yang menerima peleburan. Contohnya penggabunban Walt Disney company dan American Broadcasting Company. C. Alasan Melakukan Merger Merger atau penggabungan usaha merupakan salah satu bentuk perubahan struktur perusahaan yang mempunyai daya tarik yang cukup kuat sekitar dunia usaha dan para pelaku usaha. Proses merger ini menghubungkan berbagai aspek, diantaranya aspek hukum yang bahkan berjalan bersamaan dengan proses merger dari awal mula proses hingga akhir proses.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 89 Dari definisi Merger menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Pasal 1 angka (9) dapat diambil kesimpulannya adalah mengenai unsur-unsur dalam merger, yaitu : a. Jenis penggabungan adalah perbuatan hukum; b. Penggabungan dua pihak yakni lebih dari satu perseroan menggabungkan diri (target company/absorbed company) dan perseroan yang menerima penggabungan (absorbing company); c. Aktiva dan pasiva dari perseroan yang menggabungkan diri beralih karena hukum, kepada perseroan yang menerima penggabungan; d. Status badan hukum perseroan yang menggabungkan diri berakhir karena hukum. Alasan penggabungan perseroan ini biasanya dikarenakan perseroan kekurangan modal, produk/jasa yang kurang terkenal ataupun karena manajemen yang lemah yang membuat perusahaan tidak mampu bersaing. Sedangkan perusahaan tempat mereka bergabung berdaya saing kuat dan berkedudukan monopoli atau sebagai kelompok konglomerasi yang menghasilkan hal yang positif. Karena itulah perusahaan ini berposisi sebagai penerima penggabungan, sehingga menjadi lebih besar dan kuat sementara perusahaan yang menggabungkan diri menjadi bubar atau berhenti. Jadi, Merger atau penggabungan ini dilakukan bertujuan untuk mencapai hal-hal sebagai berikut: a. Memperbesar jumlah modal usaha; b. Menyelamatkan kelangsungan produksi perusahaan; c. Mengamankan jalur distribusi kegiatan perusahaan; d. Memperbesar kekuatan untuk perusahaan; dan e. Mengurangi persaingan dalam kegiatan usaha serta menuju kepada monopolistic Sri Redjeki Hartono mengungkapkan tujuan penggabungan suatu perusahaan ialah untuk keberhasilan dari masing-masing perusahaan dan secara tidak langsung adalah untuk dan demi keuntungan, kesuksesan dan kepentingan pemilik usaha yang berada di belakang nama perusahaan yang bersangkutan. Di samping itu tujuan untuk memperluas kegiatan usaha secara optimal, memperkuat keadaan pasar baik untuk pembelian dan penjualan serta mendapatkan kedudukan keuangan yang sangat kuat.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 90 Pengertian Akuisisi Akuisisi berasal dari kata Acquisition (Latin) dan Acquisition (Inggris), makna harfiah akuisisi adalah membeli atau memperoleh sesuatu objek untuk ditambahkan pada sesuatu atau objek yang telah diperoleh sebelumnya. Secara luas dapat dikatakan bahwa akuisisi adalah perbuatan mendaptkan harta benda tertentu. Secara lebih khusus. Akuisisi atau pengambilalihan ialah perbuatan hukum yang dilakukan oleh pengusaha untuk mengambilalih saham badan usaha yang berdampak beralihnya pengendalian atas badan usaha tersebut (pasal 1 sub 3 PP Nomor 57 Tahun 2010)(Adi Nugroho, 2012). Akuisisi adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi (Acquirer) memperoleh kuasa atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang diakuisisi (acquire), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham. Sedangkan dalam konteks hukum persaingan usaha pengertian akuisisi atau pengambilalihan adalah kegiatan hukum yang dilaksanakan oleh pengusaha untuk mendapatkan baik seluruh atau sebagian saham atau asset perseroan/badan usaha yang dapat berdampak pada beralihnya pengendalian terhadap perseoran/badan usaha tersebut. Macam-Macam Akuisisi Akuisi dapat di lihat berdasarkan beberapa kriteria antara lai sebagai berikut: • Akusisi Horizontal • Akuisisi Vertikal • Akuisisi Konglomerat • Akuisisi Eksternal • Akusisi Internal • Akusisi Aset • Akuisisi Bertahap • Akusisi Saham • Akuisisi Kombinasi • Akuisisi Strategi


Perencanaan Keuangan Perusahaan 91 • Akusisi Kegiatan Usaha • Akusisi dilihat dari divestasi • Akusisi dilihat dari bentuk pembayaran/transaksi • Akusisi dengan jalan keterlibatan(Inberg) saham • Akusisi dengan cara berbagai tukar Akuisisi dengan jenis seperti ini dapat diketahui dari cara pembayaran (term of payment) yang dilaksanakan oleh perusahaan pengakuisisi. Jenis akuisisi ini dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Akuisisi Dibayar Tunai (cash based acquisition) 2. Akuisisi Dibayar dengan Saham (shock based acquisition) 3. Akuisisi Dibayar dengan Aset (aset based acquisition) Tujuan Pengambilalihan (Akuisisi) Perusahaan memiliki tanggung jawab ekonomi untuk mendapatkan keuntungan, biasanya tujuan dilakukannya merger dan akuisisi ialah mendapatkan kekuatan atau nilai tambah. Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun diverifikasi usaha dapat melakukan merger atau akuisisi. Dasar utama yang menjadi alasan akuisisi tersebut adalah untuk meningkatkan efisiensi di dalam perusahaan. Dengan adanya efisiensi maka harga bisa diturunkan dan kualitas pelayanan dapat ditingkatkan semaksimal mungkin.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 92 Daftar Pustaka Adi Nugroho, S. (2012) ‘Hukum persaingan usaha di Indonesia dalam teori dan praktik serta penerapan hukumnya’. Fuady, M. (1999) ‘Hukum tentang merger’, p. 324. Keputusan Ketua Bapepam No KEP-52/PM/1997 tahun 1997 tentang Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik Atau Emiten (Peraturan Bapepam No IX.G.1 tahun 1997) (no date). Available at: https://www.jariungu.com/peraturan_detail.php?Peraturan-BapepamNo--IX-G-1-tahun-1997-tentang-Penggabungan-Usaha-atau-PeleburanUsaha-Perusahaan-Publik-Atau-Emiten&idPeraturan=7756 (Accessed: 2 February 2023). Moin, A. (2003) Pengertian Merger: Tujuan, Jenis, dan Contoh Perusahaan Merger, www.maxmanroe.com. Moin, A. and Vorhauser-Smith, S. (2010) Merger, Akuisisi dan Divestasi, Employment Relations Today. PP No. 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan Atau Peleburan Badan Usaha Dan Pengambilan Saham Perusahaan Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat [JDIH BPK RI] (no date). Available at: https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/5079 (Accessed: 2 February 2023). Title matches ‘merger’ - Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Repository (no date). Available at: https://repository.uin-suska.ac.id/cgi/search/archive/ advanced?dataset=archive&screen=Search&title=merger&creators_ name=&abstract=&date= (Accessed: 6 February 2023).


Perencanaan Keuangan Perusahaan 93 Tentang Penulis Nama Deasy Femayona Devi Lahir di Serang 09 Februari 1991 merupakan anak pertama dari 2 bersaudara, pendidikan S1 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan melanjutkan S2 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pada saat ini saya mengajar di Universitas Al-Khairiyah Cilegon pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis prodi Akuntansi.


Perencanaan Keuangan Perusahaan 95 PENGERTIAN DERIVATIF Derivatif adalah kontrak antara dua pihak atau lebih yang berisikan perjanjian mengenai pertukaran pembayaran yang nilainya merupakan turunan dari produk induk (Infovesta, 2021; NISP, 2022). Pelaku pasar membuat kesepakatan untuk tukar menukar uang, aset atau suatu nilai di masa depan dengan mengacu pada aset yang menjadi produk induk (underlying). Efek derivatif merupakan efek turunan dari efek utama, baik efek yang bersifat penyertaan maupun utang. Efek turunan yang dimaksud dapat berupa turunan langsung dari efek utama ataupun turunan selanjutnya, sehingga derivatif diartikan sebagai sebuah kontrak yang nilai atau peluang keuntungannya sangat bergantung pada kinerja aset lain dan aset lain yang dimaksud disebut dengan underlying assets (Infovesta, 2021; Liputan6.com, 2021). INSTRUMEN KEUANGAN DERIVATIF NOVIA SANDRA DEWI, S.E., M.M


Click to View FlipBook Version