Manajemen Kepemimpinan 41 dengan situasi dan tujuan organisasi. Kesadaran akan kelebihan dan kekurangan setiap pendekatan dapat membantu pemimpin menjadi lebih efektif dalam mengemban perannya.
42 Manajemen Kepemimpinan MODAL DAN STRATEGI KEPEMIMPINAN A. Fungsi dan Peran Kepemimpinan Dalam dunia kepemimpinan, setiap pemimpin atau leader memiliki karakter, tipe dan warna tersendiri serta halhal yang berbeda dalam praktek sehari-hari di suatu organisasi maupun perusahaan. Hal tersebut untuk memengaruhi, memotivasi, dan mengarahkan orang lain agar mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan selalu melibatkan orang-orang disekelilingnya. Namun, adakalanya mengambil keputusan cepat tanpa perlu mendiskusikan dengan para anggota. Pengambilan keputusan ini harus menimbang konsekuensi yang akan ditimbulkan dan bagaimana cara pemecahan masalah bisa memiliki fungsi lebih terarah secara individual dan kelompok. Disinilah gaya kepemimpinan terbentuk berdasarkan pengaruh budaya organisasi yang akan diterapkan di lingkungan kerja.
Manajemen Kepemimpinan 43 Peran pemimpin sangat diperlukan dan mempengaruhi sistem untuk melakukan perubahan besar bagi internal dan eksternal suatu organisasi. Menurut Supardi (2015) kepemimpinan merupakan proses pemimpin dalam mempengaruhi pengikut untuk menginterprestasikan keadaan, pemilihan tujuan organisasi, pengorganisasian kerja dan memotivasi pengikut, mempertahankan kerjasama dan tim kerja dan mengorganisir dukungan serta kerjasama dengan pihak luar organisasi. Pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan yang tinggi mampu menciptakan kesejahteraan, kemakmuran, dan kedamaian bagi masyarakatnya. Melalui visi dan misi mereka, pemimpin akan mewujudkan peningkatan kesejahteraan sehingga membawa pembaruan kearah yang lebih positif demi kehidupan bersama. Pada dasarnya perubahan suatu organisasi, perusahaan atau institusi dapat dilihat dari beberapa tingkatan yaitu perubahan dalam diri individu setiap anggota, perubahan dalam lingkungan kerja, dan perubahan secara keseluruhan. Untuk mengetahui apakah perubahan tersebut terjadi atau tidak terjadi, dapat dilihat dari kondisi yang terjadi saat ini dan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Faktor yang mempengaruhi tuntutan perubahan tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar diantaranya jika adanya keinginan untuk merubah sistem nilai dan norma kelompok, faktor ini berasal dari dalam organisasi. Sedangkan dari luar organisasi berupa adanya interaksi dan komunikasi antar pihak luar yang memberikan masukan. Disinilah fungsi kepemimpinan menjalankan tanggung jawabnya untuk mengambil kebijakan terhadap pemecahan masalah dengan pemberian saran, informasi, dan pendapat.
44 Manajemen Kepemimpinan Pemimpin memegang peran dominan, kritikal dan istimewa karena seorang pemimpin memiliki kelebihankelebihan untuk meningkatkan prestasi kerja secara efektif dan efisien tetapi tidak menutup kemungkinan memiliki kelemahan. Maka kedudukan kelebihan disini bisa menutupi kelemahan tersebut untuk mengayomi dan melindungi pengikut juga orang yang dipimpinnya. Adapun kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah dapat menerapkan model dan startegi kepemimpinan dengan baik dan benar. B. Model Kepemimpinan Kepemimpinan ialah suatu proses di mana satu individu mempengaruhi sekelompok orang agar mencapai suatu sasaran. Agar menjadi seorang pemimpin yang berhasil, seorang pemimpin perlu memiliki keterampilan untuk mempengaruhi seluruh anggota yang ia pimpin dengan cara yang positif, untuk mencapai tujuan bersama. Dibawah ini adalah contoh model kepemimpinan yang bisa diterapkan oleh seorang pimpinan di perusahaan atau organisasi: 1. Kepemimpinan Transaksional Model kepemimpinan ini berfokus pada pengaturan transaksi dan tugas-tugas rutin. Pemimpin transaksional memberikan penghargaan dan sanksi sesuai dengan pencapaian karyawan terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Pemimpin akan menetapkan target, sasaran, dan tujuan yang berorientasi pada hasil. Gaya kepemimpinan ini biasa nya dirumuskan secara
Manajemen Kepemimpinan 45 struktural, teratur dan jelas untuk memastikan kinerja bekerja dengan baik. Tipe ini lebih menekankan pada penawaran imbalan kepada para anggota yang memenuhi target akan diberikan hadiah atau bonus sesuai pencapaian, sebaliknya jika kinerja anggota rendah akan mendapatkan penalti sebagai hukuman. 2. Kepemimpinan Transformasional Selain transaksional, pemimpin memiliki cara mendorong anggota untuk mencapai potensi terbaik mereka. Pemimpin harus menciptakan visi yang inspiratif, memotivasi, dan mendorong inovasi. Jenis model ini berupaya untuk membuka ruang diskusi kepada seluruh anggota untuk memberikan suaranya terhadap perubahan positif di lingkungan kerja. Model ini salah satu gaya kepemimpinan yang dianggap efektif untuk mewujudkan visi organisasi dan membutuhkan seorang pemimpin yang mempunyai pengaruh kuat juga berkharisma. Karena pemimpin yang karismatik memiliki daya tarik pribadi yang kuat dan mampu menginspirasi serta mempengaruhi orang lain melalui karisma dan visi mereka. 3. Kepemimpinan Laissez-Faire Kepemimpinan yang menerapkan model "laissezfaire" memberikan kebebasan penuh kepada anggota tim untuk mengambil keputusan dan mengelola tugas-tugas mereka tanpa campur tangan yang signifikan. Pemimpin mempercayai tim untuk mengeksplorasi cara yang kreatif dan berinovasi pada hal yang dianggap baru. Peran pemimpin disini hanya kontroling atau mengawasi dan sesekali memberikan masukan karena pengambilan
46 Manajemen Kepemimpinan keputusan berada di tangan tim. Model ini sangat menghargai kreativitas yang memotivasi anggota untuk mengemban tanggung jawab melaksanakan tugas. Namun, gaya kepemimpinan ini tidak cocok untuk pengambilan keputusan yang cepat dimana menyebabkan kinerja yang buruk terhadap pekerjaan para anggota. 4. Kepemimpinan Visioner Visionary leadership mengutamakan perubahan zaman yang menuntut setiap anggota menjadi agen pembangunan yang kompetitif dan memiliki visi jangka panjang yang kuat dan mampu menginspirasi tim untuk bekerja menuju pencapaian visi tersebut. Seorang visioner mampu melihat peluang-peluang di masa depan, selalu belajar, dan berlatih untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Kepemimpinan jenis ini senantiasa menempatkan pelayanan terhadap anggota tim sebagai prioritas utama. Pemimpin dalam model ini bertindak mendukung kesejahteraan dan pengembangan anggota tim. 5. Kepemimpinan Partisipatif Model kepemimpinan ini adalah gaya kepemimpinan yang mengambil suatu keputusan dari representasi dan pandangan para anggota tim. Sebagai contoh, pemimpin di model ini memberikan pilihan solusi dari sebuah masalah dan meminta pendapat anggota dan memutuskan dari suara terbanyak. Mereka mendengarkan masukan dari karyawan sebelum mengambil keputusan akhir alhasil anggota akan melaksanakan tugas dengan baik. Tetapi partisipasi ini mengambil
Manajemen Kepemimpinan 47 waktu yang lama sehingga kurang cocok untuk pengambilan keputusan cepat dan mendesak. C. Strategi Kepemimpinan Rencana kepemimpinan memiliki signifikansi yang besar dalam mengurus sebuah perusahaan atau organisasi. Aspek ini berhubungan dengan kesuksesan serta pertumbuhan entitas tersebut. Rencana yang telah dirancang akan mempengaruhi kinerja anggota tim dan prestasi perusahaan atau organisasi. Dalam proses merancang rencana tersebut, peran kepemimpinan dalam perusahaan atau organisasi sangatlah berpengaruh. 1. Komponen Strategi Kepemimpinan Terdapat beberapa komponen strategi untuk meningkatkan kinerja organisasi yaitu salah satu nya adalah visi dan misi yang merupakan landasan utama dari strategi kepemimpinan. Visi menggambarkan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai oleh perusahaan atau organisasi, sementara misi merinci bagaimana tujuan tersebut akan diwujudkan. Selain itu, untuk mencapai hasil yang konkret dalam jangka waktu, kepemimpinan harus berlandaskan tujuan dan sasaran yang jelas untuk membantu memandu tindakan dan pengambilan keputusan. Selanjutnya, pemimpin harus menganalisis faktor-faktor eksternal seperti pasar, pesaing, dan tren industri. Ini membantu memahami konteks di mana perusahaan atau organisasi beroperasi. Juga melibatkan penilaian terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan
48 Manajemen Kepemimpinan ancaman internal perusahaan atau organisasi. Ini membantu mengidentifikasi sumber daya yang tersedia dan kendala yang mungkin dihadapi. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus menetapkan pendekatan umum yang akan diambil untuk mencapai tujuan. Ini mungkin termasuk strategi pertumbuhan, diversifikasi, efisiensi operasional, dan sebagainya. Hendaknya seorang pemimpin memantau pelaksanaan strategi dan mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai. Jika ada deviasi atau perubahan situasi, strategi dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. 2. Tahap-tahap Strategi Kepemimpinan Untuk menerapkan strategi kepemimpinan, diperlukan tahap-tahap dalam mengembangkan dan mengimplementasikan nya dimana strategi kepemimpinan dapat bervariasi tergantung pada pendekatan yang digunakan dan situasi spesifik organisasi. Namun, secara umum, beberapa tahap yang umumnya terlibat dalam proses strategi kepemimpinan yaitu pemahaman konteks untuk menganalisis situasi organisasi eksternal dan internal serta mengidentifikasi tantangan, peluang, kekuatan, dan kelemahan yang perlu diatasi. Selanjutnya menetapkan visi dan misi untuk menggambarkan arah dan tujuan organisasi dengan merumuskan tujuan spesifik tepat sasaran yang terukur untuk mencapai visi dan misi. Kemudian, membandingkan kondisi saat ini dengan tujuan yang diinginkan untuk mengidentifikasi kesenjangan yang perlu diatasi sehingga dapat memilih pendekatan dan strategi yang sesuai untuk mencapai tujuan demi mengatasi kesenjangan yang ada.
Manajemen Kepemimpinan 49 Untuk memastikan dukungan penuh dan komitmen dari tim manajemen dan kepemimpinan atas implementasi strategi, pemimpin harus melaksanakan rencana aksi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan untuk memantau kemajuan dan kinerja, serta mengidentifikasi deviasi dari rencana. Dengan demikian, tahap akhir dari strategi tersebut ialah mengevaluasi dan penyesuaian terhadap hasil yang dicapai dan melakukan perbandingan dengan tujuan. 3. Impelementasi Strategi Kepemimpinan Dalam lingkungan bisnis yang dinamis dan berubah, strategi kepemimpinan memainkan peran penting dalam mengarahkan organisasi menuju pencapaian visi dan misi yang telah ditetapkan. Implementasi strategi kepemimpinan melibatkan mengubah rencana dan konsep menjadi tindakan nyata yang dapat menghasilkan hasil yang diinginkan. Bagan dibawah ini akan menggambarkan langkah-langkah kunci dalam implementasi strategi kepemimpinan dan bagaimana elemen-elemen ini berkontribusi terhadap kesuksesan organisasi. Implementasi strategi kepemimpinan adalah jembatan antara rencana dan pencapaian. Melalui komunikasi yang efektif, pengelolaan sumber daya,
50 Manajemen Kepemimpinan dukungan aktif, dan koreksi berkelanjutan, organisasi dapat mewujudkan visi dan misi mereka. Proses ini membangun keterlibatan, efisiensi, dan budaya yang mendukung, membantu organisasi berkembang dan menghadapi tantangan yang ada di dunia bisnis yang dinamis.
Manajemen Kepemimpinan 51 STRATEGI PENDEKATAN DENGAN BAWAHAN EMAMPUAN menjadi pemimpin adalah hasil dari adanya interaksi antar umat manusia, dimana oleh manusia sangat dibutuhkan karena adanya keterbatasan dan adanya perasaan merasa lebih lemah daripada yang lain. Ini semua tidaklah luput dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh manusia pada umumnya. Disinilah kemudian timbul kebutuhan akan adanya pemimpin agar bisa menyatukan dan berkomunikasi dengan manusia lainnya secara terorganisir, karena diyakini bahwa pemimpin memiliki kemampuan lebih, kemudian diangkat dan dipilih sebagai orang yang dipercaya mampu mengatasi dan memberikan solusi atas masalah orang lain baik organisasi formal maupun non formal. Menjadi berpengaruh itu tidaklah mudah dalam praktiknya. Kita juga harus mempertimbangkan kondisi manusia yang jauh dari kata sempurna ketika kita membangun sebuah hubungan. Hubungan pemimpin dengan bawahan adalah landasan kinerja organisasi. Literatur menunjukkan bahwa organisasi dengan hubungan pemimpin dan bawahan yang berkualitas tinggi K
52 Manajemen Kepemimpinan cenderung menerapkan strategi dan mencapai tujuan serta citacita lebih efektif daripada hubungan pemimpin dan bawahan yang tidak berkualitas (Aditama, 2020). Hubungan pemimpin dan bawahan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja organisasi, sekali lagi hubungan yang berkualitas antara pemimpin dan bawahan dapat menghasilkan perilaku bawahan yang meningkatkan kinerja organisasi, tapi sebaliknya hubungan yang tidak berkualitas dapat menurunkan kinerja organisasi. Hadijaya (2013) Pemimpin perlu mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan strategi yang direncanakan negara tentang bagaimana menginspirasi pengikut untuk meningkatkan kinerja organisasi. Pemimpin yang pengertian, dapat diandalkan, jujur, terbuka, adil, dan memperhatikan kesejahteraan pengikut cenderung memiliki hubungan yang baik. Dalam dunia manajemen dan kepemimpinan, pendekatan dengan bawahan merupakan strategi yang paling dasar untuk membentuk sebuah hubungan kerja yang produktif, dapat memotivasi tim dan akhirnya mencapai cita-cita organisasi. Pendekatan ini merujuk pada cara dari seorang pemimpin atau atasan berinteraksi, bekerja dan berkomunikasi dengan sesama anggota tim atau bawahan, dengan harapan mampu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung dan mendorong perkembangan personal dan profesional. Dalam menggerakkan orang lain atau bawahannya seorang pemimpin haruslah mempunyai inspirasi sebelum melangkah dan memiliki visi. Para tokoh juga menjelaskan bahwa ‚f_[^_lmbcj cm nb_ jli]_mm i` chmjclcha inb_lm ni qile b[l^ ni accogjfcmb cgjiln[hn n[mem‛(Sol_mb _n [f., 2012) [lnchs[ kepemimpinan adalah sebuah proses menginspirasi orang lain untuk berjuang dalam menuntaskan tugas-tugas penting. Ciri-ciri
Manajemen Kepemimpinan 53 seorang pemimpin disebutkan juga memiliki energi, stabilitas emosi, human relationship, personal motivation, communication skill, teaching skill, social skill, dan technical competent. Focus pemimpin adalah bagaimana mereka bertindak dalam memimpin terhadap bawahan dalam berbagai situasi bukan pendekatan sifat atau pendekatan keahlian. Edgar Schein (Kreitner, 2007) dalam statementnya mengatakan bahwa setiap organisasi mempunyai empat karakteristik yang sama: koordinasi upaya (coordination of effort), tujuan Bersama (common purpose), pembagian tenaga kerja (division of labor) dan hirarki wewenang (hierarchy of authority) (Patras, n.d.). Ciri pertama dari suatu organisasi adalah eksistensi koordinasi upaya sumber daya manusia yang terlibat dalam organisasi. Penggabungan upaya yang terkoordinasi dengan baik akan membawa kita pada sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan dengan upaya perseorangan. Artinya strategi yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mendekati bawahannya akan sangat berpengaruh terhadap tercapainya sebuah cita-cita dan tujuan bersama melalui organisasi. Pemimpin bisa menggunakan wewenangnya dalam mengatur strategi dan caranya dalam memimpin anggotanya. Wewenang lini misalnya, wewenang ini dimiliki seorang pemimpin untuk dapat bertanggung jawab langsung terhadap tugas-tugas operasional dan digunakan dalam mengambil keputusan demi tujuan dan cita-cita bersama. Perencanaan strategi dengan bawahan menjadi bagian yang penting untuk mencapai hal yang luar biasa. Lebih dari sekedar instruksi dan kerja, strategi adalah tentang bagaimana kita membangun hubungan kepercayaan, memberdayakan anggota tim, dan menciptakan lingkungan dimana setiap orang merasa dihargai.
54 Manajemen Kepemimpinan Selanjutnya strategi pendekatan gaya kepemimpinan dengan bawahan bisa meliputi: pendekatan kisi kepemimpinan tim, pendekatan gaya situasional, pendekatan kepemimpinan tim, dan pendekatan kepemimpinan transformasional (Sagala & Sos, 2018). Pendekatan Kisi Kepemimpinan Tim dikenal juga dengan ‚L_[^_lmbcj Glc^‛ ^[h ‚M[h[a_lc[f Glc^‛,[^[f[b mo[no gi^_f pendekatan yang digunakan untuk menggambarkan gaya kepemimpinan seseorang berdasarkan dua hal utama: memberikan perhatian pada tugas dan hal-hal yang direncanakan untuk dituntaskan (Task-Oriented) serta perhatian terhadap orang dan unsur-unsur yang mempengaruhi mereka ( PeopleOriented). 1. Perhatian terhadap tugas (Task-Oriented): aspek ini mengacu pada sejauh mana seorang pemimpin berfokus pada tugas-tugas yang perlu diselesaikan. Pemimpin yang berorientasi pada hal ini akan sangat peduli terhadap efektivitas, tujuan, dan hasil yang diharapkan. Gunakan kesempatan ini untuk mendiskusikan kemajuan proyek, mengevaluasi kinerja bawahan, menampung masukan, dan memberikan masukan pribadi. Berikan pula panduan yang jelas tentang tugas tanggung jawab yang perlu mereka selesaikan, deadline, dan prioritas. Hal ini membantu bawahan menghindari kebingungan. 2. Perhatian terhadap orang (People-Oriented): aspek ini lebih fokus terhadap sejauh mana pemimpin memberikan perhatian atas kebutuhan, kesejahteraan, dan perkembangan pribadi bawahan. Dalam hal ini pemimpin cenderung sangat memprioritaskan hubungan dan kesejahteraan kelompok.
Manajemen Kepemimpinan 55 Tidak lupa pula melibatkan bawahan dalam proses penetapan tujuan. Bicarakan bersama cita-cita dan target proyek atau tugas bersama-sama, sehingga para anggota akan merasa memiliki tanggung jawab yang memotivasi mereka untuk mencapainya. A. Pendekatan Gaya Situasional Pendekatan kepemimpinan ini menekankan bahwa situasi yang berbeda memerlukan gaya kepemimpinan yang berbeda pula. Dengan kata lain, pemimpin harus mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan keadaan dimana ia berada dan untuk semua kondisi. Dapat diasumsikan juga bahwa situasi dan karakteristik kelompok atau bawahan dapat mempengaruhi cara seorang pemimpin berinteraksi, memotivasi tim dan mengambil keputusan. Oleh karena itu, pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu beradaptasi dalam situasi yang bervariasi. Hersey & Blanchard, (1969) dan para pengembang model teori kepemimpinan situasional lainnya juga menekankan gaya kepemimpinan yang efektif itu harus sepadan dengan kesiapan bawahan atau kemampuan dan motivasi bawahan. Ia dan temannya mengelompokkan gaya kepemimpinan menjadi empat jenis (Telling, Selling, Participating, Delegating) dan menyarankan pemimpin semestinya mampu berubah. Kenali kemampuan bawahan anda serta delegasikan tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing individu sehingga pada akhirnya mereka mengerjakan tugas dengan maksimal karena merasa dihargai.
56 Manajemen Kepemimpinan Selanjutnya oleh Fiedler, (1964), seorang psikolog sosial j_ha_g\[ha n_ilc ‚gi^_f eihncha_hmc efektivitas e_j_gcgjch[h‛. g_hofcm j[^[ n_ilchs[ \[bq[ bo\oha[h antara pemimpin dan bawahan dan struktur teks lah yang menentukan keberhasilan kepemimpinan. Kenali minat dan kegiatan bawahan di luar pekerjaan mereka hal ini mampu membangun hubungan yang lebih kuat karena memiliki perhatian dan kepedulian terhadap aspek-aspek pribadi. Dalam pendekatan ini pemimpin terlibat langsung dengan bawahannya untuk mengarahkan, memerintahkan, menginformasikan;bagaimana, kapan dan lainnya. Pemimpin juga terlibat dengan komunikasi dua arah meskipun hampir semua pengaturan ditentukan oleh pemimpin, mendengarkan keluh kesah bawahan serta mendukung sosioemosional mereka. B. Pendekatan Gaya Kepemimpinan Tim Pendekatan ini merujuk pada cara seorang pemimpin memimpin dan mengelola kelompoknya ataupun proses kinerja pemimpin dalam sebuah organisasi. Dengan konsep ini pemimpin hendaknya mencakup sikap, perilaku, dan pendekatan yang diterapkan pemimpin dalam mempengaruhi , mengarahkan, dan memotivasi anggotanya demi tujuan kelompok atau organisasi. dalam pendekatan gaya pendekatan tim ini meliputi beberapa hal: 1. Kepemimpinan Transformasional: pemimpin mengubah nilai-nilai anggotanya untuk mendukung dan memotivasi
Manajemen Kepemimpinan 57 anggota melalui inspirasi dan visi yang kuat. Dalam hal ini pemimpin cenderung membuat anggota kelompoknya atau bawahan untuk mengagumi, menghormati dan mempercayainya. 2. Kepemimpinan Transaksional: pemimpin mampu memberikan penghargaan atau sanksi kepada bawahan berdasarkan pencapaian atau kinerja mereka. Tidak lupa untuk sajikan pencapaian bawahan ketika rapat forum ataupun rapat lainnya. Pengakuan seperti ini dapat meningkatkan motivasi dan rasa bangga terhadap pribadi setiap anggota. 3. Kepemimpinan Demokratis: pemimpin mendukung keterlibatan anggota dalam mengambil keputusan. Menghargai masukan seluruh anggota dan mampu memberikan ide-ide dan dapat merangsang kreativitas dan komitmen kolektif, serta memberikan solusi-solusi kreatif atas masalah yang terjadi. Beri juga ruang bagi bawahan untuk berinovasi, baik dalam memberikan ide ataupun memberikan solusi. Hal demikian mampu menstimulasi semangat kreatifitas mereka. 4. Kepemimpinan Laissez-Faire: pemimpin memberikan otonomi yang besar kepada anggota tim dalam mengelola tugas dan mengambil keputusan. Cahyadi et al., (2023) mengemukakan bahwa manajer dan seorang pemimpin itu harus mempertimbangkan tiga eogjof[h ‚e_eo[n[h‛ m_\_fog g_f[eoe[h j_gcfcb[h mnl[n_ac kepemimpinan: Kekuatan dalam diri pemimpin: sistem nilai, kepercayaan kepada bawahan, kecenderungan kepemimpinan sendiri, dan perasaan aman dan tidak aman.
58 Manajemen Kepemimpinan Kekuatan dalam diri bawahan: kebutuhan akan kebebasan, kebutuhan akan peningkatan tanggung jawab, kebutuhan dalam penanganan masalah, dan kebutuhan dan harapan keterlibatan dalam pembuatan keputusan. Kekuatan dari situasi: tipe organisasi, efektivitas kelompok, desakan waktu, dan sifat masalah itu sendiri. Pada akhirnya penting bagi seorang pemimpin untuk memahami latar belakang dan karakteristik unik setiap anggota tim. Dengan menerapkan strategi yang tepat. Pemimpin dapat memimpin tim menuju kesuksesan dan menciptakan ikatan yang kuat antara seluruh anggota.
Manajemen Kepemimpinan 59 PENGELOLAAN EMOSI PEMIMPIN A. Pengertian Emosi Emosi adalah jenis reaksi kompleks yang mencakup unsur kognisi, persepsi, dan fisik. Orang menggunakannya untuk memecahkan masalah atau menangani masalah pribadi yang penting (Kamus APA 2020). Pada tahun 1980, psikolog Robert Plutchik mengidentifikasi beberapa tahapan emosi selanjutnya dalam psikologi yang ia kenali sebagai ciriciri yang bertahan lama, antara lain: 1. Kesedihan (sedih) dan kebahagiaan (senang) 2. Ketakutan (takut) dan kemarahan (marah) 3. Jijik (jijik) dan percaya (percaya) 4. Kejutan dan antisipasi sama-sama digunakan dalam bahasa Indonesia. Merujuk dari pendapat di atas, dapat di simpulkan bahwa bagi seorang pemimpin sudah menjadi ke-harus-an untuk mampu mengendalikan Emosi nya sendiri. Karena emosi adalah reaksi kompleks yang di timbulkan dari berbagai
60 Manajemen Kepemimpinan macam unsur dalam diri. Pertama dari reaksi kognitif atau kemampuan diri dalam menghubungkan, menilai atau mempertimbangkan suatu peristiwa. Kedua, yaitu berfikir atau kemampuan diri untuk membuat suatu system/cara guna memecahkan suatu permasalahan dan bisa juga di artikan sebagai suatu cara yang di gunakan supaya tercapai apa yang dikehendaki. Yang ketiga yaitu fisik, di dalam emosi ada juga reaksi yang di timbulakan dari unsur fisik, yaitu unsur bilogis dalam diri yang nampak dan bisa menjadi indikator umum yang mencolok, ketika seseorang sedang emosi, biasanya menjadi me-merah muka nya, nafas menjadi tidak beraturan, atau bahkan yang lebih extrim dapat menimbulkan gerakan reflek akibat dari reaksi emosi tersebut. Selanjutnya dari reaksi yang di timbulkan dari emosi tersebut, dapat di urutkan tahapan-tahapan ketika se-seorang sedang emosi. Yaitu dari reaksi yang ringan, sedang dan selanjutnya reaksi yang tinggi dan dilanjutkan kepada reaksi tinggi sekali. Reaksi yang ringan biasanya berlangsung sementara, sedangkan reaksi yang sangat tinggi biasanya berlangsung lama. Reaksi ringan bisa dimulai dari perasaan (sedih/senang), reaksi ini berlangsung hanya sementara. Reaksi sedang, bisa memunculkan (takut/marah), perasaan ini biasanya akan berlangsung relative lebih lama di bandingkan dengan reaksi ringan. Tahap selanjutnya yaitu reaksi tinggi, reaksi tinggi bisa memunculakan (jijik/percaya), biasanya rasa jijik/percaya akan berlangsung relative lama. Yang jelas periode lama perasaan jijik/percaya ini lebih lama dibandingkan dengan takut/marah. Tahapan yang terakhir adalah reaksi yang sangat tinggi, reaksi sangat tinggi bisa berupa rasa terkejut ataupun reaksi antisipasi yang
Manajemen Kepemimpinan 61 berlangsung lama, kejutan bisa berdampak pada perasaan traumatic yang akan membekas lama dalam diri seseorang, lebih lanjut yaitu perilaku antisipasi. Antisipasi bisa berlangsung dalam waktu yang lama pula, karena di dalam antisipasi pasti membutuhkan pemikiran rencana yang muncul setelah seseorang mempunyai data evaluasi dari kejadian yang sudah berlangsung, misalnya kejadian terkejut. Sejalan dengan definisi di atas, William James dan Carl Lange pada tahun 1880s berhipotesis bahwa rangsangan dalam fisika mengakibatkan terganggunya system saraf otonom yang pada gilirannya menyebabkan orang mengalami emosi. Efek dari sitem saraf ini bisa ber-dampak pada meningkatnya frekuensi detak jantung, otot menjadi kaku atau tegang, berkeringat, dan lainnya. Menurut jameslange teori, reaksi fisik di mulai sebelum adanya gejolak emosi. Dari perkembangan teori james-lange teori, dapat di tarik kesimpulan bahwa emosi adalah hasil dari reaksi fisik dan psikologi. B. Pentingnya Pengendalian Emosi ( emotional Intelligence ) Bagi seorang pemimpin, pasti akan di tuntut untuk bisa dan berani mengambil keputusan penting yang tepat dan cepat dalam keadaan apapun itu. Makadari itu, pengelolaan emosi diri nya haruslah bagus. Daniel Goleman berpendapat bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki pengendalian emosi yang baik, tentu seorang pemimpin harus memahami tentang aspek penting emotional intelligence (kecerdasan emosi). Aspek tersebut adalah: self-
62 Manajemen Kepemimpinan awareness/kecerdasan mengenal, menilai, memahami dan menilai diri sendiri. Self-management/kecerdasan untuk mengendalikan diri, membangun percaya diri dan adaptasi lingkungan. Social awareness/kecerdasan memahami orang lain, ber-empati, serta melayani. Social management/kecerdasan mengelola, mem-pengaruhi dan memberikan motivasi serta solusi. Emotional intelligence ini di perlukan oleh seorang pemimpin, supaya dalam keadaan emosi dirinya kurang baik seorang pemimpin tetap dalam keadaan tenang dan berfikir jernih. hal ini di karenakan dalam pengambilan sebuah keputusan, tidak selamanya seorang pemimpin dalam keadaan yang prima. Terkadang dalam posisi trauma atau dalam kondisi sedih, seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Tentu jika dalam pengendalian diri dan pengelolaan lingkungan sekitarnya baik, maka keputusan yang di ambil akan baik pula dan biasanya tepat sasaran. C. Beberapa cara pengendalian emosi dalam islam. Islam mengenal beberapa cara dalam mengendalikan Emosi, cara atau teknis yang mungkin bisa dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Menjaga Lisan dengan Diam 2. Merubah Posisi 3. Mengingat Akibat dari Emosi 4. Berwudhu
Manajemen Kepemimpinan 63 5. Mandi 6. Membaca Istighfar 7. Dzikir 8. Berfikir Posisitive D. Tokoh dengan kemampuan emotional intelligence yang baik. Berikut adalah beberapa pemimpin yang dalam pandangan penulis memiliki Emotional Intelligence yang baik. 1. Pertama adalah Nabi Muhammad SAW. Menurut Michael H. Hart, seorang ahli astronomi dan sejarawan terkenal di Amerika Serikat, Nabi Muhammad SAW menempati peringkat pertama dalam daftar manusia paling berpengaruh dalam sejarah dunia, dan ini masih berlaku hingga saat ini. Hal ini diungkapkan dalam bukunya yang n_l\[lo, ‚Tb_ 100‛. N[\c Mob[gg[^ SAW j_lh[b bersabda: Bukanlah orang kuat itu yang (biasa menang) saat bertarung atau bergulat, tetapi orang kuat itu adalah s[ha (g[gjo) g_ha_h^[fce[h h[`mohs[ e_nce[ g[l[b‚ (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad). Menurut Nabi Muhammad SAW. Orang yang mampu mengendalikan amarahnya itulah sebenarnya orang yang kuat. Dalam hal ini tentu saja orang yang mampu mengendalikan diri ketika dia sedang marah adalah orang yang emotional intelligence-nya baik. Jadi memang disadari ataupun belum disadari, Nabi Muhammad adalah pemimpin yang memiliki emotional intelligence yang baik dan dengan
64 Manajemen Kepemimpinan hal itu beliau menjadi manusia yang paling berpengaruh di dunia, bahkan hingga saat ini. 2. Selanjutnya adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo dari kerajaan Mataram Islam yang masyur karena berani melawan VOC pada periode penjajahan Belanda atas penduduk pribumi waktu itu. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo Mataram sangat makmur dan menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. H.J D_ Gl[[` ^[f[g \oeohs[ s[ha \_ldo^of ‚Pifcnce Erj[hmc Sofn[h Aaoha (2002)‛ \_lj_h^[j[n \[bq[ mofn[h Aaoha ^c kenal sebagai Raja (pemimpin) yang tangkas, cerdas dan taat Agama. Sifat tangkas, cerdas serata taat agama sering dimiliki oleh orang yang memiliki emotioanal intelligence yang baik. Dengan kata lain, Sultan Agung adalah pemimpin yang memiliki emotional intelligence yang baik yang membawanya menjadi Raja (pemimpin) yang berhasil membawa kerajaan Mataram Islam sebagai kerajaan yang makmur dan besar di Nusantara. Semasa kepemimpinan Sultan Agung, beliau sempat membuat berbagai macam karya. Ber budi bawa leksana, ambeg adil para merta, merupakan konsep pemahaman jawa yang bisa bermakna bahwa seorang penguasa/pemimpin/raja yang Agung pun harus memiliki kewajiban. kewajiban ini bisa di maknai sebagai tindakan atau perbuatan hasil olah pengendalian diri yang berupa keadilan terhadap semuanya. ini bisa di tunjukkan dalam diri/merupakan cermin dari beliau Sultan Agung yang kemudian di curahkan dalam bentuk karya Sastra. beberapa serat karya Sultan Agung adalah Serat sastra Gendhing (Sastra Gending, dalam hal ini berfokus pada renungan atau pe-peling dalam bahasa Jawa.), Serat Mardi Utama, Serat Lampahing Gesang dll. Karya yang
Manajemen Kepemimpinan 65 lain adalah Penanggalan jawa perhitungannya berdasarkan nama pasaran (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing). Sultan Agung Hanyokrokusumo dalam penyebaran Islam di pulau jawa mengeluarkan dekrit yang berisi tentang penggantian sistem perhitungan tanggal Saka dengan sistem penanggalan jawa Islam. ini berlangsung pada tahun 1625 M. sistem penanggalan tahun Saka merupakan buah dari akulturasi kalender Hijrah dan Kalender Saka.
66 Manajemen Kepemimpinan MANAJEMEN KEPEMIMPINAN A. Pengertian Manajemen Kepemimpinan Manajemen kepemimpinan terdiri dari dua gabungan e[n[ ‚g[h_d_g_h‛ ^[h ‚e_j_gcgjch[h‛. K[n[ g_h_d_g_h bisa diartikan sebagai sistem yang efektif dan efisien yang dipahami dan dilaksanakan bersama guna mencapai tujuan organisasi/ lembaga/ instansi. Dalam proses pencapaian tujuan organisasi perlu adanya perencanaan strategi operasional, penyusunan struktur organisasi, pengoptimalan sistem kerja dari setiap sumber daya yang tersedia, dan tentu saja pengawasan pelaksanaan strategi dan sistem kerja sesuai dengan lini kerja masing-masing bagian. Personal yang melaksanakan tugas pada setiap proses tersebut disebut sebagai manajer. Sesuai dengan fungsi manajemen yang dikemukakan oleh George R Terry yang menjelaskan bahwa fungsi manajemen adalah tugas utama yang dilakukan pimpinan dalam memanajemen suatu organisasi. Fungsifungsi itu adalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Adapun fungsi dari manajer antara lain;
Manajemen Kepemimpinan 67 1. Menentukan tujuan Seorang manager memiliki peran dalam menentukan tujuan organisasi dan menyampaikan visi organisasi kepada anggotanya. Dengan visi yang diyakini bersama maka semua anggota tim dapat berproses dengan kesungguhan dan bersinergi atas dasar pandangan dan tujuan akhir yang sama. 2. Mengorganisasi Manajer bertanggung jawab untuk mengatur dan membagi setiap lini tugas sesuai dengan kompetensi anggotanya dengan baik. Keterampilan membangun hubungan interpersonal yang baik di dalam interaksi kerja antar anggota tim dan bagian lain dalam organisasi harus dimiliki seorang manajer. Hal ini untuk memastikan proses pencapaian tujuan organisasi dapat berjalan dengan harmonis dan kondusif. Dengan suasana yang kondusif akan memaksimalkan kinerja dan meningkatkan produktivitas. 3. Memotivasi Unsur psikologi anggota tim menjadi hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang manajer. Salah satunya adalah dengan memotivasi anggota untuk terus berfokus pada tugas masing-masing untuk mencapai tujuan bersama. Fungsi manajer adalah untuk memotivasi tim yang artinya memiliki keterampilan untuk memahami beragam latar belakang dan kondisi kepribadian anggota tim untuk selanjutnya dikuatkan dan diarahkan agar tetap berfokus pada tugas kerja masing-masing dan tujuan akhir organisasi.
68 Manajemen Kepemimpinan 4. Merancang sistem penilaian kinerja Fungsi lain dari manajer adalah merancang dan menetapkan sistem penilaian kinerja berdasarkan target atau indikator pencapaian kerja. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur kinerja tim dalam pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu manajer juga harus mampu berpikir kreatif dan bijak dalam menilai anggotanya sesuai dengan standar kerja yang telah ditentukan. 5. Meningkatkan kualitas tim dan anggotanya Manajer yang baik harus memiliki visi untuk dapat memajukan timnya dan juga meningkatkan kualitas anggotanya. Sistem kerja yang baik akan diperoleh dari pekerja yang memiliki etos kerja yang baik. Oleh sebab itu, manajer bertanggung jawab memajukan anggota timnya dengan mambantu mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Kekuatan yang dimiliki dapat dikembangkan sebagai potensi yang berguna untuk meningkatkan kinerja dan karir dalam organisasi. Sedangkan kelemahan yang ditemukan dapat dicarikan solusi terbaik untuk memperbaikinya. Dalam melaksanakan kelima fungsi di atas, manajer memerlukan jiwa kepemimpinan yang baik sebagai bagian penting dalam sebuah organisasi. Selanjutnya, kata kepemimpinan menurut Davis dalam Suhardi, dkk (2022) kepemimpinan merupakan kemampuan untuk membujuk orang lain untuk mencari tujuan yang telah ditetapkan dengan antusias. Kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang dalam posisi manajemen untuk mengajak atau mempengaruhi anggotanya supaya melakukan tugasnya dengan baik dan percaya diri dalam
Manajemen Kepemimpinan 69 suatu komunitas atau organisasi. Selebihnya Terry (2006) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela. Kepemimpinan adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mengarahkan, membimbing, dan memengaruhi perilaku juga cara kerja orang lain demi tercapainya tujuan. Kepemimpinan merupakan bagian yang utama untuk mewujudkan manajemen yang efektif dalam sebuah organisasi. Sebagai hal yang penting maka leadership skill akan selalu berfokus pada kondusifitas organisasi sehingga setiap orang bertumbuh pada lingkungan yang menganggap setiap individu adalah unggul dan kompeten. Menurut Osborne dalam Suhardi, dkk (2022) bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk menciptakan lingkungan di mana setiap orang tahu kontribusi apa saja yang diharapkan dan merasa berkomitmen penuh untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Kepemimpinan memiliki kedudukan yang menentukan dalam sebuah organisasi. Pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya secara efektif dapat menggerakkan anggotanya kearah tujuan yang dicita-citakan, sebaliknya pemimpin yang keberadaannya hanya sebagai figur, tidak memiliki pengaruh, kepemimpinannya dapat mengakibatkan lemahnya kinerja organisasi, sehingga dapat menciptakan keterpurukan. Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa manajemen kepemimpinan adalah kemampuan untuk mengelola dan
70 Manajemen Kepemimpinan memimpin orang-orang dalam suatu organisasi atau tim untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen kepemimpinan sangat diperlukan oleh suatu organisasi. Manajemen kepemimpinan adalah suatu ilmu yang mengkaji secara komprehensif bagaimana seseorang melaksanakan kepemimpinan dengan mempergunakan seluruh sumberdaya yang dimiliki serta dengan selalu mengedepankan konsep dan aturan yang berlaku dalam ilmu manajemen. Dalam melaksanakan manajemen kepemimpinan ini, maka suatu organisasi harus memiliki pemimpin dan mempunyai karakter kepemimpinan yang kuat serta dapat melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan dalam menjalankan tugasnya dalam organisasi. Dengan manajemen kepemimpinan yang baik maka tujuan organisasi akan dapat tercapai dengan lebih baik. Adapun karakter yang harus dimiliki seorang individu dalam posisi manajemen kepemimpinan yang baik antara lain; Komunikatif, Motivatif, Pendengar yang baik, Persuasif, Tegas, Bijaksana, Disiplin dan manajemen waktu yang baik, Evaluatif, Akuntabilitas, Kredibilitas, Beretika bisnis, Visioner, Kreatif , Amanah, Teliti, Berpikir kritis, Solutif, Mentoring, Empati.
Manajemen Kepemimpinan 71 B. Prinsip Dasar Manajemen Kepemimpinan Ada beberapa prinsip dasar yang dapat membantu individu dalam mengelola kepemimpinan antara lain; 1. Visi dan Misi: Seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas tentang arah yang akan diambil oleh tim atau organisasi. Misi harus diartikulasikan dengan jelas kepada anggota tim agar mereka memahami tujuan bersama. 2. Komunikasi yang Efektif: Kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik adalah kunci dalam manajemen kepemimpinan. Pemimpin harus mampu mendengarkan anggota timnya dan juga dapat mengkomunikasikan ide, ekspektasi, dan umpan balik dengan jelas. 3. Kepemimpinan Berdasarkan Contoh: Seorang pemimpin harus menjadi contoh bagi anggota timnya. Mereka harus menunjukkan perilaku dan nilai-nilai yang diharapkan dari tim, seperti etika kerja, komitmen, dan profesionalisme. 4. Pengembangan Karyawan: Salah satu peran utama seorang pemimpin adalah membantu anggota timnya untuk berkembang. Ini dapat melibatkan pelatihan, mentoring, dan memberikan kesempatan untuk tanggung jawab yang lebih besar. 5. Pemahaman tentang Kekuatan dan Kelemahan: Seorang pemimpin harus memahami kekuatan dan kelemahan anggota timnya. Ini memungkinkan mereka untuk menempatkan orang-orang dalam peran yang sesuai
72 Manajemen Kepemimpinan dengan kemampuan mereka dan mengatasi kelemahan dengan dukungan yang tepat. 6. Pengambilan Keputusan: Seorang pemimpin seringkali harus membuat keputusan yang sulit. Ini termasuk keputusan strategis yang memengaruhi arah organisasi atau tim. Kemampuan dalam mengambil keputusan yang tepat adalah keterampilan penting dalam manajemen kepemimpinan. 7. Kepemimpinan Adaptif: Setiap situasi mungkin memerlukan pendekatan kepemimpinan yang berbeda. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan perubahan situasi dan memilih gaya kepemimpinan yang paling sesuai. 8. Pemberian Umpan Balik: Memberikan umpan balik yang konstruktif kepada anggota tim adalah penting untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang. Ini juga membantu dalam perbaikan kinerja dan pencapaian tujuan. 9. Delegasi: Seorang pemimpin tidak dapat melakukan semuanya sendiri. Delegasi tugas dan tanggung jawab kepada anggota tim yang tepat adalah bagian penting dari manajemen kepemimpinan yang efektif. 10. Integritas dan Etika: Seorang pemimpin harus beroperasi dengan integritas tinggi dan menunjukkan etika yang kuat dalam semua tindakan dan keputusannya. Ini menciptakan kepercayaan dalam tim dan organisasi. 11. Kemampuan Resolusi Konflik: Konflik dapat muncul dalam tim atau organisasi. Seorang pemimpin harus
Manajemen Kepemimpinan 73 memiliki kemampuan untuk meredakan konflik dan mencari solusi yang memuaskan semua pihak. 12. Pengembangan Strategi: Seorang pemimpin harus mampu merencanakan dan mengembangkan strategi jangka panjang dan jangka pendek untuk mencapai tujuan organisasi atau tim. C. Komponen Manajemen Kepemimpinan Manajemen kepemimpinan melibatkan empat komponen, termasuk pengikut, pemimpin, komunikasi, dan situasi. Berikut adalah penjelasan singkat tentang masingmasing komponen ini dalam konteks manajemen kepemimpinan: 1. Pengikut (Followers): Pengikut adalah individu atau anggota kelompok yang dipimpin oleh seorang pemimpin. Peran pengikut sangat penting dalam manajemen kepemimpinan karena mereka adalah mereka yang mengikuti arahan, panduan, dan visi yang diberikan oleh pemimpin. Kualitas dan karakteristik pengikut dapat beragam, dan pemimpin harus dapat memahami dan memotivasi mereka sesuai dengan kebutuhan dan tujuan kelompok. 2. Pemimpin (Leader): Pemimpin adalah individu yang memiliki otoritas, pengaruh, dan tanggung jawab untuk membimbing dan mengarahkan kelompok atau organisasi. Seorang pemimpin harus memiliki kualitas kepemimpinan yang
74 Manajemen Kepemimpinan kuat, seperti kemampuan menginspirasi, mengambil keputusan, memimpin dengan contoh, dan mengkomunikasikan visi dan tujuan dengan jelas kepada pengikut. 3. Komunikasi (Communication): Komunikasi yang efektif adalah elemen kunci dalam manajemen kepemimpinan. Pemimpin harus mampu berkomunikasi dengan jelas dan efisien kepada pengikutnya. Ini mencakup penggunaan bahasa verbal dan non-verbal, mendengarkan aktif, memberikan umpan balik, dan memfasilitasi dialog yang produktif. Komunikasi yang baik membantu membangun kepercayaan, memotivasi pengikut, dan mengurangi kebingungan. 4. Situasi (Situation): Situasi atau konteks juga berperan penting dalam manajemen kepemimpinan. Setiap situasi atau tantangan yang dihadapi oleh kelompok atau organisasi mungkin memerlukan pendekatan kepemimpinan yang berbeda. Pemimpin harus mampu menilai situasi dengan bijak dan memilih gaya kepemimpinan yang sesuai, apakah itu kepemimpinan otoriter, demokratis, atau transformasional, tergantung pada kebutuhan saat itu. Manajemen kepemimpinan yang sukses melibatkan pemahaman yang mendalam tentang interaksi antara pengikut, pemimpin, komunikasi, dan situasi. Pemimpin yang efektif mampu mengelola dinamika ini dengan bijak untuk mencapai tujuan dan visi yang telah ditetapkan.
Manajemen Kepemimpinan 75 D. Fungsi Manajemen Kepemimpinan dalam sebuah Organisasi Manajemen kepemimpinan memiliki beberapa fungsi yang penting untuk sebuah organisasi, yaitu; 1. Memberi motivasi Harus diingat bahwa setiap anggota tim memiliki motivasi yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk mengenal anggota tim secara individu dan mencari tahu apa yang mendorong mereka secara pribadi. Dengan pendekatan yang tepat, pemimpin dapat menciptakan lingkungan yang memotivasi dan menginspirasi anggota tim untuk mencapai hasil yang lebih baik. 2. Membangun hubungan baik Membangun hubungan yang baik dalam manajemen kepemimpinan adalah kunci keberhasilan dalam memimpin tim atau organisasi. Hubungan yang kuat antara pemimpin dan anggota tim dapat meningkatkan produktivitas, motivasi, dan kualitas kerja. Membangun hubungan yang baik memerlukan waktu dan upaya. Penting untuk memprioritaskan pengembangan hubungan ini, karena hubungan yang kuat dengan anggota tim akan mendukung kinerja tim secara keseluruhan dan membantu mencapai tujuan bersama. 3. Menetapkan tujuan Menetapkan tujuan adalah salah satu komponen utama dalam manajemen kepemimpinan yang efektif.
76 Manajemen Kepemimpinan Tujuan yang jelas dan terdefinisi dengan baik memberikan arah dan fokus kepada tim atau organisasi. E. Elemen Kunci Manajemen Kepemimpinan yang Efektif Manajemen kepemimpinan yang efektif melibatkan sejumlah elemen kunci yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin. Berikut adalah beberapa elemen kunci tersebut: 1. Visi dan Tujuan yang Jelas: Seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas tentang arah yang ingin dicapai oleh kelompok atau organisasi. Visi ini harus disampaikan dengan jelas kepada pengikut sehingga mereka memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan yang ingin dicapai. 2. Kepemimpinan yang Inspiratif: Pemimpin yang efektif mampu menginspirasi pengikut dengan memancarkan semangat, keyakinan, dan energi positif. Mereka juga dapat memotivasi orang lain untuk mencapai hasil yang lebih baik. 3. Kemampuan Mengambil Keputusan: Pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dan cepat ketika diperlukan. Keputusan-keputusan ini harus didasarkan pada informasi yang baik dan pertimbangan yang cermat. 4. Kemampuan Komunikasi yang Kuat: Komunikasi yang efektif adalah kunci dalam manajemen kepemimpinan. Pemimpin harus mampu
Manajemen Kepemimpinan 77 berkomunikasi dengan jelas, mendengarkan dengan baik, dan memfasilitasi dialog yang produktif. 5. Empati dan Keterlibatan: Pemimpin yang efektif harus dapat memahami dan merasakan perasaan dan kebutuhan pengikut. Mereka harus keterlibatan dalam kehidupan dan pekerjaan anggota tim mereka. 6. Kepemimpinan Transformasional: Kepemimpinan transformasional melibatkan kemampuan pemimpin untuk mendorong perubahan positif dalam kelompok atau organisasi. Ini mencakup menciptakan budaya yang inovatif dan mendorong pengikut untuk mencapai potensi maksimal mereka. 7. Kemampuan Mendelegasikan Tugas: Pemimpin yang efektif tahu kapan harus mendelegasikan tugas kepada anggota tim yang kompeten. Ini memungkinkan pemimpin untuk fokus pada tugas-tugas yang memerlukan perhatian khususnya. 8. Kepemimpinan Adaptif: Pemimpin harus mampu beradaptasi dengan perubahan situasi dan tantangan yang muncul. Ini termasuk kemampuan untuk mengubah gaya kepemimpinan sesuai dengan kebutuhan. 9. Integritas dan Etika: Pemimpin yang efektif harus memiliki integritas yang tinggi dan bertindak dengan etika. Mereka harus
78 Manajemen Kepemimpinan menjadi teladan yang baik bagi pengikut dalam hal nilai dan norma. 10. Kepemimpinan Kolaboratif: Pemimpin harus mendorong kerja tim dan kolaborasi antara anggota tim. Mereka harus mempromosikan budaya di mana semua orang merasa dihargai dan berkontribusi. 11. Pengembangan Pengikut: Pemimpin yang efektif juga berinvestasi dalam pengembangan pengikutnya. Ini mencakup memberikan pelatihan, umpan balik, dan kesempatan untuk pertumbuhan dan pengembangan profesional. 12. Pemahaman Tentang Kekuatan dan Kelemahan Pribadi: Pemimpin yang efektif harus sadar akan kekuatan dan kelemahan mereka sendiri dan bekerja untuk memanfaatkan kekuatan mereka sambil mengatasi kelemahan mereka. Memadukan elemen-elemen ini dengan bijak adalah kunci untuk mencapai manajemen kepemimpinan yang efektif dan menghasilkan dampak positif dalam organisasi atau kelompok yang dipimpin. Pemimpin dalam sebuah organisasi ataupun institusi membawa pengaruh yang sangat penting dalam menggerakkan anggotanya untuk berproses mencapai tujuan organisasi. Dalam mejalankan peranannya untuk menggerakkan, maka seorang pemimpin harus memiliki keterampilan manajerial dan jiwa kepemimpinan yang baik.
Manajemen Kepemimpinan 79 FAKTOR PENGHAMBAT KEPEMIMPINAN EPEMIMPINAN adalah kemampuan atau kualitas seseorang untuk memimpin, mengarahkan, dan mempengaruhi orang lain atau suatu kelompok dalam mencapai tujuan atau visi tertentu. Kepemimpinan melibatkan berbagai aspek, termasuk kemampuan mengambil keputusan, komunikasi efektif, pemahaman tentang dinamika kelompok, inspirasi, delegasi tugas, serta kemampuan untuk memotivasi, mengarahkan, dan mengelola orang-orang di bawah pengaruhnya. Seorang pemimpin dapat muncul dalam berbagai konteks, seperti dalam dunia bisnis, organisasi masyarakat, politik, militer, pendidikan, dan banyak lagi. Gaya kepemimpinan seseorang juga dapat bervariasi, termasuk kepemimpinan otoriter, demokratis, transformasional, transaksional, dan lain-lain. Kepemimpinan yang efektif melibatkan kemampuan untuk mengenali kebutuhan dan potensi anggota kelompok, serta mampu membimbing mereka menuju tujuan bersama dengan cara yang menginspirasi, mengarahkan, dan menciptakan lingkungan kerja yang positif. K
80 Manajemen Kepemimpinan Kepemimpinan memiliki sejumlah manfaat yang signifikan yang mampu memengaruhi individu, kelompok, organisasi, dan masyarakat secara luas. Manfaat utama dari kepemimpinan termasuk kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif, terutama keputusan yang cerdas dan strategis berdasarkan pemahaman yang mendalam tentang situasi dan tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, kepemimpinan juga memiliki peran penting dalam memotivasi dan menginspirasi anggota tim atau kelompok, mendorong mereka untuk memberikan kontribusi maksimal karena terdorong oleh visi dan tujuan yang dipimpin oleh pemimpin. Kepemimpinan yang efektif juga berkontribusi pada pengembangan potensi individu di dalam kelompok, membantu individu tumbuh dan berkembang dalam aspek pribadi maupun profesional. Selanjutnya, kemampuan pemimpin untuk mengoordinasikan kelompok dengan baik juga berdampak pada peningkatan produktivitas dan kinerja keseluruhan tim, sambil membentuk budaya organisasi yang positif yang ditekankan pada komunikasi terbuka, kerjasama, etika kerja, dan nilai-nilai yang kuat. Pemimpin yang mampu mengelola konflik dengan bijaksana juga berperan dalam mengarahkan konflik menuju hal yang produktif, mencegah dampak negatif pada hubungan tim dan kinerja. Di samping itu, kepemimpinan visioner dan berani mampu mendorong inovasi serta mengelola perubahan dengan baik, mengarahkan organisasi menuju pertumbuhan dan perkembangan berkelanjutan. Fokus jangka panjang dari kepemimpinan dapat membantu organisasi bertahan dan berkembang dalam jangka waktu yang lebih lama, berkat adanya visi yang jelas dan strategi yang
Manajemen Kepemimpinan 81 terarah. Selain itu, pemimpin yang memiliki pengaruh dan jaringan yang kuat juga dapat membantu organisasi terhubung dengan sumber daya, peluang, dan mitra potensial yang bermanfaat. Aspek lain dari kepemimpinan melibatkan pengembangan generasi penerus, di mana pemimpin berorientasi pada membimbing dan mempersiapkan individu muda untuk mengambil peran kepemimpinan di masa depan. Secara keseluruhan, peran kepemimpinan sangat penting dalam membentuk budaya, kinerja, dan arah suatu kelompok atau organisasi, dan memiliki dampak yang signifikan pada pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Kepemimpinan yang kuat melibatkan harmoni dari berbagai ciri dan kualitas yang membantu individu menjadi pemimpin yang berpengaruh dan efektif. Diantara ciri-ciri kepemimpinan yang penting adalah kemampuan untuk memiliki visi dan arah yang jelas, serta untuk mengilhami dan mengarahkan anggota tim menuju tujuan yang sama. Integritas yang kokoh dan etika yang konsisten merupakan dasar dari pemimpin yang baik, sambil kemampuan untuk merasakan dan merespons perasaan serta pandangan anggota tim dengan penuh empati dan kepekaan. Kemampuan berkomunikasi dengan jelas, terbuka, dan menginspirasi juga sangat diperlukan, begitu pula dengan kemampuan mengambil keputusan dengan bijaksana dan mengatasi masalah dengan solusi yang efektif. Seorang pemimpin yang mampu menginspirasi anggota tim, membina tim yang kuat, dan memiliki fleksibilitas serta adaptabilitas terhadap perubahan juga merupakan aspek penting dari kepemimpinan yang berhasil. Dalam hal ini, kemampuan delegasi dan orientasi pada
82 Manajemen Kepemimpinan pengembangan diri sendiri serta tim juga membentuk fondasi yang kokoh. Ketahanan mental dan ketekunan dalam menghadapi tantangan dan kegagalan mengokohkan kepemimpinan yang efektif. Seluruh karakteristik ini berpadu untuk membentuk pemimpin yang mampu menginspirasi, mengarahkan, dan memimpin kelompok atau organisasi menuju pencapaian tujuan serta kesuksesan. Kepemimpinan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor penghambat dan pendukung yang dapat memengaruhi kinerja dan efektivitas seorang pemimpin. Berikut adalah beberapa faktor penghambat dan pendukung kepemimpinan: A. Faktor Pendukung Kepemimpinan 1. Dukungan Organisasi: Dukungan organisasi merujuk pada berbagai upaya dan lingkungan yang diciptakan oleh suatu organisasi untuk memfasilitasi peran serta kinerja pemimpin dalam mencapai tujuan organisasi. Ini termasuk penyediaan sumber daya, pelatihan kepemimpinan, keterlibatan dalam pengambilan keputusan strategis, serta mentoring oleh pemimpin senior. Dukungan ini juga mencakup membangun jaringan, pengakuan atas kontribusi, budaya organisasi yang mendukung kepemimpinan, perhatian pada keseimbangan kerja-hidup, wewenang yang sesuai, dan akses informasi yang tepat. Dengan dukungan ini, pemimpin dapat lebih efektif dalam
Manajemen Kepemimpinan 83 menghadapi tantangan, meraih kesuksesan, dan mencapai tujuan organisasi. 2. Pelatihan dan Pengembangan Pelatihan dan pengembangan memiliki peran krusial dalam membantu individu, terutama pemimpin, memperoleh keterampilan, wawasan, dan pengetahuan yang diperlukan untuk beroperasi lebih efektif dalam tugas dan tanggung jawab mereka. Dalam konteks kepemimpinan, pelatihan melibatkan beberapa aspek penting. Ini termasuk pengembangan keterampilan utama seperti komunikasi, pengambilan keputusan, dan manajemen tim, serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendekatan kepemimpinan yang cocok dalam berbagai situasi. Soft skills seperti empati, komunikasi interpersonal, dan adaptabilitas juga ditekankan dalam pelatihan ini. Selain itu, pelatihan membantu pemimpin mengenali diri mereka sendiri, mengelola stres, dan siap menghadapi perubahan di lingkungan kerja. Investasi dalam pelatihan dan pengembangan membantu organisasi mempersiapkan pemimpin untuk mengatasi tantangan dalam dunia bisnis yang dinamis. 3. Mentorship dan Bimbingan: Mentorship adalah proses di mana individu berpengalaman (mentor) memberikan arahan dan dukungan kepada individu yang kurang berpengalaman (mentee) dengan tujuan mengembangkan potensi dan mencapai tujuan. Dalam kepemimpinan, mentorship berperan penting dalam membantu pemimpin mengatasi tantangan, memperluas keterampilan, dan tumbuh dalam peran mereka. Melalui umpan balik konstruktif,
84 Manajemen Kepemimpinan mentor membantu pemimpin memahami area yang perlu ditingkatkan. Pengalaman mentor memberikan wawasan berharga, sementara latihan praktis dan nasihat mendalam mengembangkan keterampilan kepemimpinan. Selain memberikan dukungan mental dan solusi praktis, mentorship juga membantu pemimpin dalam perencanaan karir dan membuka peluang jaringan yang bermanfaat. Dari aspek etika dan sikap, mentor berperan sebagai contoh yang menginspirasi dan memberikan motivasi bagi pemimpin untuk meraih potensi terbaik mereka. Mentorship menciptakan lingkungan pembelajaran yang memungkinkan pemimpin tumbuh dan berhasil dalam peran kepemimpinan mereka. 4. Budaya Kerja yang Positif Budaya kerja positif merujuk pada norma-nilai dan suasana dalam lingkungan kerja yang mendukung produktivitas, kesejahteraan, dan kontribusi terbaik dari anggota tim. Ini menciptakan iklim komunikasi terbuka, kerjasama, serta pengakuan terhadap prestasi individu. Budaya ini juga mempromosikan inklusivitas, keseimbangan hidup, dan pembelajaran dari kegagalan. Pemimpin dalam budaya positif berperan sebagai model transparansi dan motivasi, memimpin dengan contoh dan visi yang jelas. Keseluruhannya, budaya kerja positif membentuk dasar penting untuk kepemimpinan efektif dan kinerja tim yang baik. 5. Komunikasi Efektif Komunikasi efektif, dengan pesan yang jelas dan pendengaran yang aktif, adalah kunci dalam kepemim-
Manajemen Kepemimpinan 85 pinan. Ini memungkinkan pemimpin untuk menginspirasi, membimbing, dan memotivasi tim, serta memastikan pemahaman yang akurat tentang tujuan dan tugas. Keterbukaan, klaritas, kemampuan mendengarkan, dan penggunaan yang tepat dari bentuk komunikasi mendukung lingkungan kerja yang produktif dan kolaboratif. Pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik tidak hanya memimpin dengan efektif, tetapi juga memastikan pencapaian hasil yang optimal dalam perannya. 6. Komitmen terhadap Pengembangan Tim Komitmen pemimpin terhadap pengembangan tim merujuk pada usaha untuk membantu anggota tim mencapai potensi terbaik mereka. Ini melibatkan pemahaman individu, merancang rencana pengembangan, memberikan umpan balik, dan menciptakan lingkungan yang mendukung. Pemimpin juga harus menjadi teladan, menciptakan budaya inovasi, dan memiliki fleksibilitas untuk merespons perubahan. Dengan inovasi dan fleksibilitas, pemimpin membantu organisasi tetap relevan dan memotivasi tim untuk berkontribusi pada kesuksesan jangka panjang. B. Faktor Penghambat Kepemimpinan: 1. Kurangnya Dukungan Atasan Faktor penghambat kepemimpinan dapat memiliki dampak signifikan pada efektivitas pemimpin. Salah satu faktor tersebut adalah kurangnya dukungan dari atasan atau manajemen senior. Dukungan atasan memiliki
86 Manajemen Kepemimpinan peranan penting dalam memengaruhi motivasi, otoritas, dan kemampuan seorang pemimpin untuk mengelola timnya dengan baik. Ketidakjelasan tujuan dan prioritas, kehilangan otoritas, kurangnya sumber daya, tantangan dalam pengambilan keputusan, serta kurangnya pengakuan dan penghargaan adalah beberapa dampak yang mungkin timbul akibat kurangnya dukungan atasan terhadap kepemimpinan. Selain itu, rendahnya motivasi dan semangat, kurangnya ruang untuk pengembangan pribadi, munculnya konflik, dan penurunan efektivitas tim juga bisa terjadi. Dalam situasi di mana kurangnya dukungan atasan terjadi, penting bagi pemimpin untuk membangun komunikasi terbuka dengan atasan, mencari pemahaman atas alasan di balik kurangnya dukungan, serta mencari solusi untuk memperbaiki situasi tersebut. Pemimpin juga dapat mencari dukungan dari sumber lain, seperti rekan sejawat atau mentor, sebagai upaya mengatasi hambatan yang dihadapi. 2. Keterbatasan Sumber Daya Keterbatasan sumber daya merupakan hambatan yang berpotensi memengaruhi peran seorang pemimpin dalam mengelola tim atau organisasi. Sumber daya termasuk aspek finansial, manusia, teknologi, waktu, dan fasilitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Keterbatasan sumber daya dapat membatasi fleksibilitas dan kapasitas seorang pemimpin untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan guna meraih hasil yang diinginkan. Dampak dari keterbatasan sumber daya pada kepemimpinan meliputi pembatasan
Manajemen Kepemimpinan 87 dalam pengambilan keputusan strategis, hambatan terhadap inovasi, kesulitan dalam mengelola kinerja dan pertumbuhan, serta pengaruh terhadap beban kerja anggota tim. Selain itu, kreativitas dapat terhambat, rekrutmen dan pengembangan tim mungkin menjadi tantangan, pemeliharaan fasilitas bisa terpengaruh, dan pengambilan keputusan risiko bisa dipengaruhi. Dalam menghadapi keterbatasan sumber daya, pemimpin perlu mengembangkan kemampuan dalam mengelola sumber daya secara efisien, memprioritaskan hal yang esensial, dan mencari cara kreatif untuk memanfaatkan sumber daya yang terbatas. Dengan berkomunikasi terbuka dengan atasan atau manajemen senior, pemimpin dapat mengidentifikasi solusi dan alternatif yang mungkin ada dalam mengatasi hambatan ini. 3. Konflik Internal Dalam konteks kepemimpinan, konflik internal merujuk pada pertentangan atau permasalahan yang timbul di antara anggota tim atau bahkan di dalam diri seorang pemimpin. Konflik ini dapat berdampak negatif pada kerja tim, produktivitas, dan suasana kerja secara keseluruhan. Untuk mengatasi konflik internal, seorang pemimpin perlu memiliki keterampilan dalam mengelola dan merespons konflik dengan bijaksana. Dampak konflik internal meliputi penurunan produktivitas, ketidakharmonisan tim, rendahnya motivasi, penurunan kualitas kerja, dan penggunaan waktu dan energi yang tidak produktif. Untuk mengatasi konflik ini, seorang pemimpin dapat mendorong komunikasi terbuka di antara anggota tim, bertindak sebagai mediator netral, mengidentifikasi akar masalah,
88 Manajemen Kepemimpinan mendorong pendekatan kolaboratif, memberikan umpan balik konstruktif, membangun budaya saling menghormati, menetapkan batas dan norma, mengembangkan keterampilan manajemen konflik, dan mengambil pendekatan antisipatif. Dengan ketrampilan ini, seorang pemimpin dapat menciptakan lingkungan yang mendukung kerja tim yang efektif dan harmonis, sambil mempertahankan suasana kerja yang positif. 4. Tuntutan Tugas yang Berlebihan Tuntutan tugas yang berlebihan dapat menghambat efektivitas kepemimpinan dan kesejahteraan anggota tim. Hal ini dapat mengakibatkan stres, penurunan produktivitas, dan dampak kesehatan mental yang negatif. Delegasi tugas, komunikasi terbuka, dan pengaturan waktu yang baik adalah langkah-langkah penting dalam mengatasi tantangan ini. Dukungan dari pemimpin, pelatihan, pengakuan, dan fleksibilitas dalam penanganan tugas juga sangat diperlukan. Mengelola tuntutan tugas yang berlebihan memerlukan keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan individu, dengan peran pemimpin sebagai penggerak solusi dan lingkungan yang mendukung. 5. Kurangnya Keterampilan Kepemimpinan Kurangnya keterampilan kepemimpinan menjadi hambatan penting dalam efektivitas pemimpin. Keterampilan ini mencakup kemampuan mengelola dan membimbing tim. Kelemahan ini dapat menyebabkan kesulitan dalam memotivasi, memberi arahan, serta menghadapi tantangan. Dampaknya termasuk produktivitas rendah, kebingungan dalam pengambilan
Manajemen Kepemimpinan 89 keputusan, hubungan kerja yang menurun, dan kesulitan menginspirasi tim serta membawa perubahan positif. Strategi mengatasi ini termasuk pelatihan, studi mandiri, bimbingan mentor, menerima masukan tim, berlatih, dan mengembangkan keterampilan komunikasi dan empati. Dengan komitmen untuk belajar, pemimpin bisa memajukan keterampilan dan menjadi lebih mumpuni dalam membimbing tim dalam organisasi. 6. Resistensi terhadap Perubahan Perlawanan terhadap perubahan adalah hambatan umum dalam lingkungan kerja saat upaya diterapkan untuk mengubah proses, kebijakan, atau budaya. Ketidaksetujuan ini bisa berasal dari berbagai pihak, dan dapat menghambat kemajuan, menimbulkan konflik, dan mengganggu stabilitas organisasi. Akibatnya, pertumbuhan bisa terganggu, tim merasa cemas, konflik meningkat, kinerja menurun, dan risiko penerimaan perubahan di masa depan meningkat. Mengatasi resistensi melibatkan komunikasi terbuka tentang alasan, manfaat, dan dampak perubahan, serta keterlibatan anggota tim dalam pengambilan keputusan. Dukungan, pelatihan, dan komunikasi berkelanjutan perlu diberikan untuk membantu tim menghadapi perubahan. Pemimpin harus memberikan contoh, alasan logis, dan dukungan emosional. Kontinuitas komunikasi, pengakuan usaha tim, fokus pada manfaat jangka panjang, dan manajemen konflik bijaksana juga penting. Mengelola ketidakpastian dengan informasi yang akurat dan menangani konflik dengan solusi yang baik adalah bagian integral dalam mengatasi resistensi terhadap perubahan.
90 Manajemen Kepemimpinan 7. Ketidakpastian Lingkungan Ketidakpastian lingkungan dapat mempengaruhi kepemimpinan dan kinerja organisasi. Sumber ketidakpastian ini berasal dari perubahan dalam pasar, regulasi, teknologi, dan faktor eksternal lainnya yang sulit diprediksi. Dampaknya termasuk gangguan rencana, pergeseran prioritas yang cepat, ketidakpastian finansial, stres, penurunan motivasi, dan potensi penurunan kepercayaan terhadap pemimpin dan organisasi. Untuk menghadapi tantangan ini, pemimpin harus memiliki keterampilan adaptasi dan fleksibilitas, memantau lingkungan eksternal, merancang rencana kontinjensi, berkomunikasi terbuka, dan melihat peluang dalam ketidakpastian. Budaya adaptif juga penting, sambil fokus pada hal yang bisa dikendalikan dan penerapan manajemen risiko. Kepemimpinan yang positif, stabil, dan berbasis tim akan membantu mengatasi tantangan dan mencapai hasil yang diharapkan. Kepemimpinan yang sukses memerlukan pemahaman akan tantangan dan keberanian untuk menghadapinya.