Manajemen Kepemimpinan 91 GAYA KEPEMIMPINAN A. Konsep Kepemimpinan Kepemimpinan menjadi topik yang selalu menarik untuk dibahas dari waktu ke waktu dikarenakan dapat menentukan keberlangsungan suatu organisasi. (Ghufron 2020) Kepemimpinan dan pemimpin adalah pengikat dalam suatu organisasi dan pemberi dorongan bagi seluruh anggota agar secara bersama-sama bergerak untuk mencapai tujuan, sehingga salah satu faktor penentu kesuksesan suatu organisasi adalah kepemimpinan/pemimpin itu sendiri. Supaya organisasi dapat mencapai sasaran yang menjadi tujuannya maka sangat diperlukan kepemimpinan yang kuat. (Syahril 2019) kepemimpinan merupakan suatu proses yang berlangsung dalam organisasi baik profit maupun nonprofit untuk mempengaruhi orang lain (bawahan) agar mereka bersedia secara sukarela dan atau sukacita melaksanakan segala bentuk tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dikutip dalam bukunya (Malayu, 1996, Hal. 200) menegaskan bahwa
92 Manajemen Kepemimpinan leadership (kepemimpinan) ialah inti sari dari manajemen. Dengan adanya proses kepemimpinan yang baik maka segala bentuk manajemen dapat berjalan dengan lancar bahkan karyawan yang bekerja di dalamnya akan lebih bersemangat dan termotivasi untuk menjalankan serta menyelesaikan tugas-tugas mereka. Semangat kerja, produktivitas kerja, serta proses manajemen dalam suatu perusahaan akan maksimal, apabila gaya (style) kepemimpinan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan organisasi. Lebih lanjut, diungkapkan bahwa baik atau buruk, tercapai atau tidak tujuan daripada organisasi secara garis besar akan ditentukan oleh kecakapan seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya untuk mengerahkan seluruh individu yang berkepentingan pada organisasi/Perusahaan tersebut. B. Jenis-jenis Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan didefinisikan sebagai ciri khas perilaku seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya, apa yang dipilih untuk dikerjakannya, serta tindakan yang dipilih untuk mempengaruhi anggotaanggotanya (Mulyasa, 2007:109). Gaya kepemimpinan itu ialah terkait dengan karakater (kepribadian) yang dimiliki seseorang dalam menjalankan kepemimpinannya. Hal itu berarti bahwa gaya kepemimpinan setiap individu tidaklah sama dalam upaya mengelola suatu organisasi/perusahaan. Gaya kepemimpinan bukan suatu bakat (skill), karenanya bisa dipelajari dan dipraktekkan kemudian dalam pengimplementasiannya harus berdasar pada situasi dan kondisi yang dihadapi oleh suatu organisasi/perusahaan.
Manajemen Kepemimpinan 93 Kepemimpinan bersifat kontekstual, artinya pemimpin dapat mengadopsi gaya kepemimpinan yang berbeda tergantung pada faktor internal dan eksternal organisasi terkait dengan kondisi politik, ekonomi, sosial, teknologi dan lingkungan, sehingga seorang pemimpin harus pandai dalam memilih gaya kepemimpinan yang akan diadopsi pada instansi yang dipimpinnya (Alblooshi, Shamsuzzaman & Haridy 2020). Dikutip dalam (Suwarno & Bramantyo 2019) terdapat banyak jenis gaya kepemimpinan, hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan karakter setiap orang, situasi, kondisi, aplikasi ilmu pengetahuan serta teknologi yang dihadapi perusahaan. Lanjutnya, secara konseptual ada 10 jenis gaya kepemimpinan, diantaranya: gaya kepemimpinan otokratis, birokrasi, lezzes faire, transaksional, transformatif, visioner, demokratif dan partisipatif, paternalistik, kharismatik, dan gaya kepemimpinan militeristis. Adapun setiap gaya kepemimpinan tersebut mempunyai karakter kepemimpinan yang berbeda-beda namun dengan tujuan yang sama, yaitu mewujudkan visi, misi dan tujuan yang telah ditetapkan. Dan masing-masing karakter daripada gaya kepemimpinan diatas akan diuraikan sebagai berikut: 1. Gaya kepemimpinan Otokratis Gaya kepemimpinan jenis ini lebih menuntut secara penuh kepatuhan dari anggota-anggota kelompok tanpa keraguan ataupun penolakan. Pemimpin dengan kepemimpinan otokratis biasanya mengambil keputusan hanya berdasar pada pendapatnya sendiri dan cukup jarang bersedia menerima ide/pendapat/masukan dari orang lain. Artinya, pemimpinlah yang paling mendominasi pada setiap pengambilan keputusan dan
94 Manajemen Kepemimpinan kebijakan, peraturan, serta prosedur dalam suatu organisasi. Sehingga, pusat kekuasaan terletak pada pemimpin itu sendiri, terdapat batasan untuk para anggotanya. Disamping itu, gaya kepemimpinan otoriter tidak terlalu memperhatikan kebutuhan bawahannya dan komunikasi yang diterapkan bersifat satu arah yaitu dari atas (pemimpin) ke bawah (anggota). Jenis kepemimpinan otoriter akan banyak kita temui pada instansi kemiliteran maupun kepolisian . 2. Gaya kepemimpinan birokrasi Gaya kepemimpinan yang sangat bergantung pada kebijakan ataupun prosedur yang telah ditetapkan dan akan sangat efektif apabila seluruh anggota kelompok menjalankan setiap prosedur dan tanggung jawabnya secara rutin. Namun, jenis gaya kepemimpinan ini tidak memberikan ruang bagi anggota untuk melakukan inovasi sebab segalanya telah diatur dalam peraturan tatanan prosedur yang dimana setaip anggota harus mematuhinya. 3. Gaya kepemimpinan Lezzes Faire Pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan ini memiliki kemampuan yang maksimal dalam mempengaruhi bawahannya supaya bersedia bekerjasama untuk mencapai sasaran. Sehingga, berbagai macam kegiatan dan pelaksanaannya lebih banyak diberikan kepada bawahan. Bahkan bawahan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menentukan tujuan Perusahaan serta melakukan penyelesaiain masalah yang sedang dihadapi, pemimpin hanya terlibat pada kuantitas yang kecil. Akan tetapi, gaya kepemimpinan ini akan
Manajemen Kepemimpinan 95 merugikan Perusahaan apabila anggota-anggota yang ada didalamnya belum memiliki kemampuan yang cukup matang dan motivasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan. 4. Gaya kepemimpinan transaksional Prinsip kerja pada gaya kepemimpinan transaksional ialah dengan adanya kontrak atau kesepakatan. Artinya, apabila bawahan telah menandatangani kontrak yang telah disepakati maka mereka diharuskan untuk mengikuti segala keputusan pemimpin sebagai otoritas yang tertinggi. Jika bawahan memiliki kinerja yang baik, maka mereka akan dihargai bahkan akan diberikan reward (penghargaan) dan apabila kinerja mereka berada dibawah standar yang diharapkan, mereka akan diberikan sanksi sesuai dengan kontrak tertulis yang telah ditandatangani diawal. 5. Gaya kepemimpinan visioner Gaya kepemimpinan jenis ini menerapkan inspirasi bersama dengan tritunggal EI, yaitu kepercayaan diri, kesadaran diri, dan empati. Seorang pemimpin yang visioner memaknai tujuan itu sebagai tujuan sejati yang mengandung keselarasan nilai dengan anggota-anggota yang dipimpinnya. 6. Gaya kepemimpinan transformative Pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan jenis ini memiliki pemahaman yang kuat terkait visi dan misi Perusahaan yang dipimpinnya, melakukan analisis SWOT sebagai langkah memahami lingkungan organisasinya, memberikan perhatian yang penuh
96 Manajemen Kepemimpinan kepada kebutuhan para anggota, memberikan dorongan dan motivasi bagi seluruh anggota untuk selalu bekerjasama dalam mencapai tujuan organisasi bahkan pemimpin transformatif mau terlibat secara langsung terhadap segala bentuk proses kegiatan dan berkenan membantu para anggota agar berhasil menyelesaikan tugas dan tanggung jawab mereka. 7. Gaya kepemimpinan demokratif/partisipatif Kekuatan kepemimpinan jenis ini tidak terletak pada pemimpin itu sendiri melainkan pada keaktifan seluruh anggota kelompok dalam berpartisipasi. Pemimpin sangat menghargai potensi yang dimiliki oleh anggotanya dan bersedia menerima masukan maupun saran dari mereka. Sehingga, terciptanya lingkungan yang saling menghormati, mempercayai, dan menghargai satu sama lain. Adapun setiap keputusan dan kebijakan akan dibuat secara bersama-sama antara pimpinan dan bawahan. 8. Gaya kepemimpinan paternalistik Pemimpin yang menerapkan jenis kepemimpinan ini memiliki sikap yang berwawasan luas. Artinya, menutup kesempatan bagi para anggota untuk berkreasi dan atau berfantasi sesuai kemampuan mereka, beranggapan bahwa bawahannya belum cukup dewasa sehingga pemimpin akan memberikan perlindungan yang berlebihan, bahkan terbilang jarang memberikan kesempatan untuk secara bersama-sama mengambil keputusan.
Manajemen Kepemimpinan 97 9. Gaya kepemimpinan kharismatik Gaya kepemimpinan yang dimana seorang pemimpin mampu menunjukkan pesona yang membuat anggota-anggotanya merasa dihargai, memberikan motivasi yang tinggi bagi anggota organisasi untuk menyelesaikan masalah. Adapun karisma yang dimilikinya timbul karena kemampuan yang dimiliki terutama dalam meyakinkan anggota agar mengikuti setiap arahan yang diminta. Sehingga, anggota mau bekerja secara sukarela tanpa paksaan atas dasar pengaruh karisma yang dimiliki oleh seorang pemimpin. 10. Gaya kepemimpinan Militeristis Gaya kepemimpinan ini hampir sama atau mirip dengan gaya kepemimpinan otoriter. Aadapun pemimpin yang menerapkan jenis gaya kepemimpinan ini lebih banyak bekerja dengan cara memberikan komando, keras, kaku bahkan sering bersikap kurang bijaksana. Sehingga, pemimpin militeristik sangat menghendaki kepatuhan setiap anggota kelompok tanpa terkecuali, selalu menuntut disiplin yang keras, tidak menerima saran maupun kritikan dari bawahan. Selanjutnya, menurut Robbins dan Couter dalam (Kurniawan 2018) menyimpulkan terdapat 3 gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan autokratis, demokratis dan laissez-faire (kendali bebas). Sedangkan, Feriyanto dan Triana dalam (Dirgahayu Erri, Puji Lestari & Herlan Asymar 2021) juga mengungkapkan bahwa terdapat 3 jenis gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan otoriter, gaya kepemimpinan demokrasi dan gaya kepemimpinan bebas/laissez faire.
98 Manajemen Kepemimpinan (Batubara 2020) Pada setiap organisasi, seorang pemimpin pasti memiliki gaya kepemimpinan yang berbedabeda seperti gaya kepemimpinan otokrasi, demokratis, transaksional dan lain sebagainya, dan secara keseluruhan gaya kepemimpinan tersebut tidak dapat terlepas dari kelemahan dan kekuatan, sehingga itulah tugas seorang pemimpin untuk pandai memilih gaya kepemimpinan yang sesuai dengan Perusahaan guna mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, menjadi seorang pemimpin dalam menentukan gaya kepemimponan yang hendak diadopsi juga perlu mempertimbangkan kematangan daripada bawahan. (Ahmed Khan & Nawaz 2016) Pemimpin diminta untuk mencerminkan kematangan kerja dan kematangan psikologis bawahan Ketika menentukan pendekatan kepemimpinan. Keseluruhan gaya kepemimpinan memiliki dampak positif bagi organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga tidak ada gaya kepemimpinan yang paling baik melainkan gaya tersebut baik atau tidak untuk organisasi yang bersangkutan.
Manajemen Kepemimpinan 99 TUGAS SEORANG PEMIMPIN EBELUM memahami tugas seorang pemimpin, ada baiknya Anda mengetahui dan memahami pengertian pemimpin, syarat-syarat dasar seorang pemimpin, serta karakterkarakter yang perlu dikembangkan untuk menjadi seorang pemimpin. A. Definisi Pemimpin Berdasarkan Suradinata dalam Saiful, S. (2022), pemimpin adalah orang yang memimpin kelompok dua orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mengambil peran untuk memimpin, mengarahkan, dan mengelola kelompok, baik dalam konteks organisasi, masyarakat, atau keluarga. Pemimpin juga didefinisikan sebagai seseorang yang dapat mempengaruhi bawahan demi tercapainya suatu tujuan (Nurhalim, N., et.al., 2023). Cara seorang pemimpin mempengaruhi anggotanya adalah dengan memberikan suri S
100 Manajemen Kepemimpinan teladan yang baik dalam kepemimpinannya. Dengan melihat suri teladan yang baik, para bawahannya akan yakin kepada kepemimpinannya dan dapat solid untuk mencapai tujuan organisasi bersama dengan sukses. Solikin, A., et.al. (2017) menyatakan bahwa seorang pemimpin sebagai orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya tertentu. Sifat, sikap dan gaya tertentu ini akan berkembang menjadi lebih baik dan matang dengan dibarengi softskill yang terasah, salah satunya dengan mengikuti kegiatan kepemimpinan. Kata pemimpin sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan, menurut arti harfiah nya. Definisi kepemimpinan menurut Masri, D. (2021) adalah proses seorang pemimpin dalam memimpin kelompok atau satuan masyarakat yang ada di berbagai aspek kegiatan dalam kehidupan. Dengan kata lain, kepemimpinan merupakan proses di mana seorang pemimpin mengambil peran aktif dalam memimpin, mengelola, dan mengarahkan kelompok atau satuan masyarakat dalam berbagai aspek kegiatan dengan melibatkan sejumlah elemen yang saling terkait. Teori genetis (Ag, F. S., 2015) memaparkan bahwa ‚j_gcgjch nc^[e ^c\o[n [e[h n_n[jc f[bcl m_\[a[c j_gcgjch oleh bakat-\[e[n [f[gc…‛ N[goh, j_hncha ohnoe ^ccha[n bahwa bakat alamiah saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin yang sukses. Pengembangan keterampilan kepemimpinan melalui pembelajaran dan pengalaman juga sangat penting. Banyak pemimpin yang dianggap sukses telah mengasah keterampilan mereka melalui pelatihan, bimbingan, dan belajar dari pengalaman di lapangan. Mereka terus mengembangkan diri untuk menjadi lebih baik dalam
Manajemen Kepemimpinan 101 memimpin tim, mengelola konflik, mengambil keputusan strategis, dan menginspirasi orang lain. B. Syarat-Syarat Utama Seorang Pemimpin Untuk menjadi seorang pemimpin, tentunya memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mendukung kepemimpinan dalam anggota tim. Dari beberapa syarat utama seorang pemimpin berdasarkan sumber-sumber literasi yang ada, syarat utama pemimpin sesuai syariat Agama Islam adalah yang umum digunakan. Berikut, syaratsyarat utama seorang pemimpin dalam ajaran agama Islam (Husna, F., 2017: 141-145): 1. Siddiq (jujur) Siddiq (jujur) diperlukan oleh seorang pemimpin dikarenakan sifat Siddiq (jujur) merupakan konsep fundamental dalam Islam yang berfokus pada pentingnya kejujuran dan nilai-nilai individu. 2. Tabligh (penyampai) Sifat Tabligh (penyampai) dalam konteks agama merujuk pada tanggung jawab untuk menyebarkan pesan-pesan agama atau kebenaran kepada orang lain. Hubungan antara pemimpin dan sifat Tabligh meliputi keteladanan dalam pengajaran, keteladanan dalam komunikasi yang efektif, transparansi dan keterbukaan, kesinambungan pengajaran, dan kerendahan hati.
102 Manajemen Kepemimpinan 3. Amanah (bertanggung jawab) Sikap Amanah (bertanggung jawab) seorang pemimpin meliputi berbagai aspek seperti mempromosikan tanggung jawab sosial, integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Sifat Amanah sangat penting dalam berbagai bidang untuk memastikan bahwa para pemimpin memiliki bekal yang cukup untuk mengambil keputusan yang tepat dan berpartisipasi pada pengembangan komunitas tim yang dipimpin. 4. Fathanah (cerdas) Konsep Fathanah merupakan seperangkat prinsip yang dapat membantu pemimpin membuat keputusan yang lebih efektif. Seorang pemimpin yang menerapkan prinsip Fathanah, sudah memastikan bahwa semua keputusannya berdasarkan pada strategi yang tepat dan penilaian risiko yang matang. C. Karakter-Karakter Seorang Pemimpin yang Unggul Selain keempat syarat utama di atas, pemimpin juga dapat diketahui dari karakternya. Inilah karakter-karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin (Nurjaman, Rizal, 2020): 1. Berpendirian teguh Seorang pemimpin haruslah orang yang mempunyai keyakinan yang kuat dan sulit dipengaruhi dalam situasi
Manajemen Kepemimpinan 103 apapun. Pemimpin yang teguh pendiriannya akan menciptakan tim yang kokoh dan solid. 2. Jujur Pemimpin yang dikenal sebagai orang jujur dan dapat diandalkan, memiliki reputasi dan integritas yang baik. Integritas adalah nilai penting dalam berbagai lingkungan, termasuk profesional dan sosial. 3. Adil Keadilan adalah aspek yang sangat penting dalam kepemimpinan karena memiliki dampak positif yang signifikan terhadap organisasi, tim, dan individu yang dipimpin. 4. Cerdas Pemimpin yang cerdas memiliki banyak keuntungan dan dapat lebih efektif dalam menjalankan peran kepemimpinan. 5. Bersikap tenang dalam keadaan apapun Pemimpin yang bersikap tenang dalam keadaan apapun memiliki banyak keuntungan dan dapat membawa dampak positif dalam berbagai situasi, salah satunya adalah bisa menenangkan orang-orang di sekitarnya. 6. Mampu berkomunikasi dengan baik Komunikasi yang baik dari pemimpin dapat membantu mengurangi kebingungan, kesalahpahaman, dan kesalahan, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi dalam organisasi atau tim.
104 Manajemen Kepemimpinan 7. Bertanggung jawab Ketika seorang pemimpin memikul semua tanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi dalam tim disitulah anggota tim merasa dihargai dan diakui partisipasinya. Hal ini dapat meningkatkan rasa keterlibatan dan loyalitas mereka terhadap pemimpin dan organisasi. 8. Mampu menginspirasi orang lain Pemimpin yang mampu menginspirasi cenderung mengembangkan calon-calon pemimpin di dalam tim. 9. Memiliki keyakinan yang kuat Keyakinan yang kuat membantu membangun wibawa dan kepercayaan dalam kepemimpinan serta mendorong inovasi. 10. Empati Pemimpin yang empatik bisa mengenali tanda-tanda stres, kelelahan, atau masalah pribadi pada anggota tim yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan keseimbangan kerja-kehidupan pribadi. D. Tugas Seorang Pemimpin Tugas seorang pemimpin melibatkan banyak dimensi, tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya terbatas pada pengambilan keputusan dan pengawasan, tetapi juga melibatkan aspek penginspirasian, pembimbingan, dan pemberdayaan individu dan kelompok di bawah kepemimpinannya. Berikut adalah tugas pemimpin berdasarkan artikel dari Saiful, S. (2022):
Manajemen Kepemimpinan 105 1. Menformulasikan Visi Salah satu tugas utama seorang pemimpin adalah menformulasikan visi agar arah dan tujuan organisasi yang dipimpin jelas serta terukur. Visi merupakan gambaran jelas dan inspiratif tentang masa depan yang diinginkan oleh organisasi, tim, atau komunitas di bawah kepemimpinan Anda. Seorang pemimpin dengan visi yang baik akan mampu memotivasi anggota tim dan menjadi landasan bagi pengambilan keputusan. Namun, satu hal yang perlu diingat bahwa merumuskan visi hanyalah bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin. Pemimpin juga harus mampu mengimplementasikan visi tersebut melalui strategi, tindakan konkret, dan kemampuan. 2. Membangun Tim Tim adalah roda penggerak yang akan menjadikan sebuah visi organisasi menjadi wujud. Tim yang kuat dan solid akan lebih mudah mencapai tujuan bersama. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif, serta memotivasi anggota tim untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu memilih orang yang tepat dalam hal pendelegasian tugas dalam tim. Membangun tim yang efektif memerlukan kesabaran, keterampilan interpersonal, dan pemahaman tentang dinamika kelompok. Dengan menciptakan lingkungan di mana setiap anggota tim dapat berkontribusi dengan maksimal, pemimpin dapat membantu tim mencapai kinerja yang luar biasa dan mencapai hasil yang diinginkan.
106 Manajemen Kepemimpinan 3. Mengalokasikan Tugas Mengalokasikan tugas merupakan salah satu tugas penting dari seorang pemimpin. Oleh karena itu alangkah baiknya jika pemimpin mengenal anggotanya dengan baik. Sehingga, pemimpin dapat menganalisa anggota timnya dan menempatkan orang-orang yang berkualitas di tempat yang tepat sesuai dengan kemampuannya. Seorang pemimpin yang baik memberikan tugas kepada anggota tim berdasarkan keahlian dan hasrat mereka. Dengan demikian, setiap anggota tim dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi tim. 4. Memotivasi Memotivasi berarti merangsang semangat, minat, dan keterlibatan individu dalam mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, kemampuan untuk memotivasi para anggota tim juga menjadi tugas sentral dari seorang pemimpin. Dengan mengambil peran ini dengan serius, seorang pemimpin tidak hanya mendorong produktivitas, tetapi juga membentuk fondasi bagi pertumbuhan dan keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Ketika pemimpin mampu menginspirasi semangat kerja yang positif, kolaboratif, dan berfokus pada tujuan, efek domino positif dari motivasi tersebut meresap ke seluruh organisasi. Dengan mengakui nilai kontribusi setiap individu, memberikan pandangan yang jelas tentang visi dan tujuan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan profesional, seorang pemimpin mampu mengarahkan organisasi menuju pertumbuhan yang
Manajemen Kepemimpinan 107 berkelanjutan, kesehatan yang lebih baik, dan kekuatan yang lebih tangguh. Menurut Suprayogo, I. (2016), tugas seorang pemimpin adalah menghidupkan, menggerakkan, Dan mengarahkan dari orang-orang yang dipimpin. Dalam peran ini, seorang pemimpin memiliki peran kunci dalam menjadi sumber inspirasi yang mendorong semangat dan energi positif dalam tim. Kemampuan untuk menghidupkan semangat tim melibatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan karisma, menyampaikan visi dengan gairah, dan membangkitkan motivasi yang tulus dalam setiap individu. Pemimpin yang efektif tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga menghidupkan semangat yang meyakinkan anggota tim bahwa usaha mereka memiliki dampak yang signifikan. Dengan menjadi contoh teladan dalam komitmen, etika kerja, dan ketekunan, seorang pemimpin mampu menggerakkan tim untuk melewati hambatan dan mencapai hasil yang luar biasa. Lebih dari itu, pemimpin yang baik juga mampu mengarahkan langkah-langkah yang diambil oleh tim, mengoordinasikan upaya, dan memastikan bahwa setiap langkah sejalan dengan visi yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, pemimpin bukan hanya navigasi tetapi juga pemandu yang membawa tim menuju tujuan akhir dengan kepercayaan dan determinasi. Tugas pemimpin seperti apapun akan menjadi sangat mudah dan dapat terlaksana degan baik, jika seorang pemimpin memiliki syarat-syarat utama menjadi pemimpin sesuai syariat Islam dan karakter-karakter pemimpin yang unggul.
108 Manajemen Kepemimpinan PERMASALAHAN KEPEMIMPINAN DI INDONESIA EBELUM membahas lebih lanjut terkait permasalahan kepemimpinan yang di hadapi oleh Indonesia saat ini, perlu kita ketahui terlebih dahulu mengenai asal mula terbentuknya negara ini. Berikut merupakan Sejarah singkat lahirnya bangsa Indonesia. A. Sejarah terbentuknya bangsa Indonesia Sebelum terlahir sebagai sebuah bangsa yang berdaulat, tanah Nusantara ini dulu pada masanya terdiri dari beberapa Kerajaan. Kutai merupakan Kerajaan tertua di Indonesia yang berdiri pada sekitar abad ke-4 hingga abad ke-5 mesehi. Kerajaan Kutai ini pertama kali didirikan serta dipimpin oleh Raja Kudungga. Selain Kerajaan Kutai ada banyak sekali Kerajaan lain yang juga pernah memiliki eksistensi di Indonesia. Beberapa di antaranya yang paling terkenal antara lain; Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram, Kalingga, Kediri, dan Majapahit. Kendati demikian, masih banyak lagi S
Manajemen Kepemimpinan 109 Kerajaan lain yang pernah ada di Indonesia baik itu yang tercatat dalam sejarah maupun yang hanya berupa cerita turun temurun dari para tetua. Hingga hari ini, masih ada beberapa Kerajaan di Indonesia yang masih berdiri kokoh seperti contohnya Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Ternate, dan Kesultanan Kanoman. Indonesia merupakan negara yang terbentuk melalui sejarah panjang perjuangan melewati masa kelam di era penjajahan. Pada mulanya ditahun 1596, pedagang Belanda masuk ke Indonesia hanya dengan tujuan untuk mencari rempah-rempah. Namun seiring berjalannya waktu, niat untuk menjalin hubungan perdagangan tersebut kemudian berubah menjadi keserakahan setelah melihat kekayaan alam yang di miliki oleh Indonesia. Pada tanggal 20 Maret 1602 Belanda membentuk sebuah aliansi perdagangan yang disebut VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), yang bertujuan untuk mengambil alih kendali atas perdagangan serta perekonomian di tanah Nusantara. Selama hampir 200 tahun Belanda terus mengeruk kekayaan dari Indonesia melalui VOC, hingga pada akhirnya mereka tidak mampu lagi menyaingi para pedagang lain dari Eropa seperti Inggris, Jerman dan Prancis. Pada 31 Desember 1799 monopoli VOC akhirnya runtuh. Tahun 1807-1811 Indonesia di kuasai oleh Belanda yang pada saat itu berada di bawah jajahan Prancis sebelum kemudian dipindah tangankan ke Inggris. Belanda Kembali mengambil alih kendali atas Indonesia dari tangan Inggris tiga tahun kemudian. Selama kurun waktu tersebut, ada banyak sekali upaya dan gerakan yang dilakukan oleh para pejuang bangsa demi membebaskan negara ini dari jajahan Belanda. Pemuda-pemudi yang berasal dari berbagai daerah
110 Manajemen Kepemimpinan di seluruh pelosok negeri mulai membentuk perkumpulan dan mempelopori gerakan nasionalisme. Pada tanggal 4 Juli 1927 Ir. Soekarno dan beberapa pemuda lainnya mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk memulihkan keadaan ekonomi, politik dan sosial dengan tujuan utama untuk memerdekakan bangsa ini. Dalam perang dunia ke-2, Sebagian besar wilayah kekuasaan milik belanda di kuasai oleh Jerman. Pada saat yang sama, Jepang mulai menguasai beberapa negara di wilayah Asia Tenggara. Meskipun datang ke Indonesia dengan niat untuk menjajah, Jepang menyembunyikan niat tersebut dan menyuarakan keinginan untuk memerdekakan bangsa-bangsa Asia, sehingga mereka diterima baik oleh masyarakat Indonesia. Demi untuk dapat merebut kekuasaan atas Indonesia dari bangsa Belanda, Jepang kemudian mulai menyerang markas-markas milik belanda di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda kemudian menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Pada masa penjajahan Jepang di Indonesia, pemerintah Jepang tidak mengizinkan masyarakat Indonesia membentuk organisasinya sendiri. Jepang lalu membuatkan beberapa organisasi untuk masyarakat Indonesia yang bertujuan untuk dapat memantu jepang nantinya. Melihat kekejaman dan penindasan yang dilakukan Jepang terhadap rakyat Indonesia, para pejuang dan kaum intelektual Indonesia pada akhirnya menyadari bahwa Jepang jauh lebih berbahaya bagi bangsa Indonesia. Pada tahun 1944 organisasi yang dibentuk oleh Jepang untuk masyarakat Indonesia kemudian berbalik melawan Jepang, beberapa pemuda di berbagai daerah juga mulai memimpin aksi untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Ketika bom atom kedua jatuh di Nagasaki,
Manajemen Kepemimpinan 111 Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Kesempatan tersebut kemudian di manfaatkan sebaik mungkin oleh Indonesia. Pada pukul 10.00 pagi tanggal 17 Agustus tahun 1945, di jalan Rengas Dengklok No. 56 Jakarta Pusat proklamasi kemerdekaan dibacakan dan bendera merah putih dikibarkan. B. Sejarah Kepemimpinan di Indonesia Indonesia adalah negara yang merupakan buah perjuangan dari hasil mengorbankan darah dan keringat untuk dapat memperoleh kemerdekaannya. Pada bulan Agustus tahun 2023 ini Indonesia baru saja memperingati hari kemerdekaannya yang ke-78 tahun. Sejak awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 sampai dengan sekarang, sudah ada total tujuh orang presiden yang pernah memegang kendali atas kepemimpinan di negeri ini. Berikut merupakan ulasan singkat mengenai para pemimpin Indonesia selama masa jabatannya; 1. Ir. Soekarno (1945-1967) Presiden Soekarno merupakan presiden pertama yang dimiliki oleh Indonesia yang juga dijuluki sebagai ‚B[j[e Plief[g[nil‛. Dc^[gjchac if_b Dlm. Mib[gg[^ Hatta sebagai wakilnya, Ir. Soekarno memimpin Indonesia selama 22 tahun. Menjadi presiden pertama di Indonesia tentu tidaklah mudah. Selain merupakan negara baru yang belum memiliki fondasi kepemimpinan yang kokoh, ada banyak sekali permasalahan yang perlu diatasi terlebih ketika baru
112 Manajemen Kepemimpinan terbebas dari penjajahan. Mempersatukan persepsi masyarakat serta memulihkan perekonomian bangsa merupakan tantangan terbesar yang harus di hadapi pada masa itu. Namun demikian, Soekarno dikenal sebagai seorang presiden yang mampu memimpin rakyat dengan gaya karismatik. Tanpa perlu menggunakan paksaan, ia mampu menggerakkan serta mengarahkan orang lain untuk mengikuti dirinya. Kemampuan yang dimilikinya untuk menggerakkan serta menyatukan berbagai agama, budaya, suku bangsa dan Bahasa kemudian menjadi tonggak awal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 2. H. M. Soeharto (1967-1998) Presiden Soeharto merupakan presiden dengan masa jabatan paling lama dalam Sejarah kepemimpinan Indonesia yang menjabat selama 31 tahun. Presiden e_^o[ chc doa[ ^c\_lce[h a_f[l ‚B[j[e P_g\[haoh[h N[mcih[f‛, e[l_h[ j[^[ g[m[ e_d[s[[hhs[ c[ g_f[hmcle[h pembangunan besar-besaran (Pembangunan repelita) di Indonesia. Pembangunan yang direncanakan ini memiliki nilai dan tujuan yang kompleks untuk membangun bangsa. Repelita I menekankan pada sektor pertanian demi memenuhi kebutuhan pokok. Repelita II difokuskan pada proses transmigrasi untuk membangun pulau-pulau di luar Jawa, Bali dan Madura. Repelita III menitik beratkan pada bidang industri untuk meningkatkan pendapatan negara melalui ekspor. Repelita IV berfokus untuk menciptakan lapangan kerja demi meningkatkan taraf hidup masyarakat. Repelita V
Manajemen Kepemimpinan 113 bertujuan untuk memajukan sektor pendidikan, transportasi dan komunikasi. Sebelum menjabat sebagai seorang presiden, dulunya Soeharto merupakan seorang Jenderal besar Tentara Nasional Indonesia (TNI). Berangkat dari latar belakang tersebut, Soeharto dikenal dengan gaya kepemimpinannya yang otoriter, dictator, dan militeristik. Hal tersebut dapat dilihat dari kejadian ketika berlangsungnya proses demonstrasi pada tahun 1998, yang mengakibatkan banyak mahasiswa meninggal terkena tembakan peluru dari aparat keamanan. Selama masa jabatannya, Soeharto pernah didampingi oleh enam orang wakil presiden yang di antaranya adalah; Sri Sultan Hamengkubowono IX (1973-1978), Adam Malik (1978-1983), Umar Wirahadikusumah (1983-1988), Sudharmono (1988-1993), Try Sutrisno (1993-1998), dan BJ. Habibie (1998) yang kemudian menjabat sebagai presiden selanjutnya. 3. Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng (1998-1999) BJ Habibie merupakan presiden dengan masa jabatan paling singkat sepanjang Sejarah kepemimpinan Indonesia. Namun demikian presiden ketiga ini memiliki kisah sejarah yang paling populer dikalangan masyarakat masa kini. Beberapa waktu lalu film yang mengangkat kisah hidupnya menjadi salah satu yang paling di minati dari banyaknya film karya Indonesia. Selain terkenal sebagai jenius di bidang teknologi, Habibie juga menjadi idola bagi sebagian besar kaum muda wanita Indonesia
114 Manajemen Kepemimpinan karena kesetiaannya. Julukan yang dimiliki oleh BJ H[\c\c_ [^[f[b ‚B[j[e T_ehifiac‛. Habibie dikenal sebagai seorang presiden dengan gaya kepemimpinan behavior Approach (pendekatan perilaku). Hal ini tercerminkan dari aksi yang dilakukannya dalam membuat reformasi pada masa orde baru. Pada masa jabatannya yang sangat singkat tersebut, BJ Habibie membuat ketetapan terkait batas waktu masa jabatan presiden dan wakilnya yang hanya boleh menjabat selama 10 tahun atau dua periode pemilihan, hal ini tercantum dalam Tab MPR No. XIII/MPR/1998. Selain pernah menjabat sebagai seorang Presiden, Habibie juga pernah menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Pada tahun 1992 BJ Habibie sukses membuat sebuah pesawat dengan nama N-250 Gatotkaca serta mengharumkan nama bangsa Indonesia di mancanegara. 4. Dr. (H. C.) K. H. Abdurrahman Wahid (1999-2001) Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur ini merupakan presiden Indonesia yang keempat dengan masa jabatan tersingkat kedua setelah BJ Habibie, yakni hanya dua tahun masa jabatan. Gus Dur dikenal sebagai sosok pemimpin yang agamis dan lantang serta tegas dalam upaya membela keberagaman di Indonesia. Sebagaimana presiden lainnya, Gus Dur doa[ g_gcfcec dofoe[h s[ha n_le_h[f s[cno ‚B[j[e Pfol[fcmg_‛. S_f[g[ g[m[ d[\[n[hhs[ s[ha mchae[n tersebut, Gus Dur didampingi oleh Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai wakilnya. Terdapat banyak sekali problematika yang timbul akibat kebijakan kontroversial yang dibuat oleh presiden
Manajemen Kepemimpinan 115 keempat ini. Yang paling menonjol diantaranya adalah penghapusan Tap MPR yang membahas tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pembubaran parlemen yang tercantum dalam dekret presiden 23 Juli 2001. Selain itu, Gus Dur juga dituduh menggelapkan dana Bulog sebesar 4 juta dollar dan dana bantuan dari Sultan Brunei Darusslam sejumlah 2 juta dollar. Berdasarkan tuduhan tersebut, Gus Dur kemudian di berhentikan dari jabatannya melalui sidang istimewa yang digelar oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) selaku lembaga negara tertinggi pada saat itu. 5. Prof. Dr. Hj. Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri (2001-2004) Setelah Gus Dur yang merupakan presiden keempat dilengserkan dari jabatannya, Megawati selaku wakilnya kemudian diangkat menjadi presiden menggantikan posisi Gus Dur. Dari nama belakangnya tentu sudah dapat di ketahui bahwa presiden kelima kita ini merupakan puteri dari presiden pertama Indonesia, yakni Ir. Soekarno. Meskipun begitu, perjalanan kepemimpinannya tidak dapat dikatakan mulus. Sebagai seorang presiden wanita pertama di Indonesia, banyak pihak yang menentang keputusan pengangkatan serta meragukannya. Pada masa itu kedudukan wanita masihlah terbilang lemah dan dianggap tidak mampu memimpin di bandingkan dengan laki-laki. Presiden Megawati memperlihatkan gaya kepemimpinan Gender and Leadership yang mana bertujuan untuk menghapus diskriminasi bagi perempuan dari segi ketimpangan hak dan kewajibannya. Dari ini kemudian Presiden Megawati
116 Manajemen Kepemimpinan bisa membuktikan bahwa wanita juga mampu untuk menjadi pemimpin dari suatu negara. Julukan yang dimiliki oleh presiden kelima chc [^[f[b ‚I\o Wiha Ccfce‛ yang berarti ibu dari para rakyat kecil. 6. Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A., GCB., AC (2004-2014) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih dikenal dengan panggilan SBY merupakan presiden pertama yang terpilih melalui proses pemilihan umum (Pemilu). Oleh kerena itu SBY di berikan julukan sebagai ‚B[j[e D_giel[mc‛. S_f[ch cno SBY doa[ g_gcfcec dofoe[h f[ch s[ehc ‚B[j[e P_ln[b[h[h‛ ^ce[l_h[e[h m_\_fog menjabat sebagai presiden SBY merupakan seorang jendral TNI, sama halnya dengan presiden kedua H. M. Soeharto. Presiden keenam ini memangku jabatan sebagai pemimpin negara Indonesia selama dua periode. Pada periode pertama masa jabatannya di tahun 2004- 2009, SBY didampingi oleh Muhammad Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Kemudian pada periode kedua ditahun 2009-2014, Boediono mendampingi SBY sebagai wakilnya. Memiliki latar belakang sebagai orang militer, SBY memperlihatkan gaya kepemimpinan yang tegas, gagah berani, serta memiliki pertimbangan yang matang sebelum mengambil sebuah keputusan. 7. Ir. H. Joko Widodo (2014-2024) Presiden ketujuh yang akrab dipanggil dengan sebutan Jokowi ini sudah menjabat sebagai kepala negara Indonesia sejak sembilan tahun lalu, dan saat ini sedang menjalankan masa jabatannya di periode kedua yang
Manajemen Kepemimpinan 117 akan berakhir tahun depan pada tahun 2024. Pada periode pertama masa jabatannya, Jokowi di temani oleh Jusuf Kalla yang kembali memangku jabatan sebagai wakil presiden setelah mendampingi presiden sebelumnya. Kemudian pada periode kedua pemerintahanny[ Jieiqc ^c^[gjchac if_b K. H. M[’lo` Amin sebagai wakilnya. Presiden Jokowi dijuluki sebagai ‚B[j[e Ih`l[mnloenol‛ ^ce[l_h[e[h \[hs[ehs[ Pembangunan infrastruktur yang sudah dilakukannya terutama didaerah-daerah pelosok (terpencil) yang belum pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah sebelumnya. Gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh presiden Jokowi yakni Servant Leadership (kepemimpinan yang melayani). Hal ini dapat dilihat dari caranya dalam mengupayakan kepentingan dari rakyat yang dipimpinnya di atas kepentingan pribadinya, tidak ragu untuk terjun langsung dan membaur dengan masyarakat kecil, berusaha mencari solusi dan bertindak cepat untuk mengatasi setiap permasalahan yang ada, mendorong inovasi serta komunikasi dalam rangka mewujudkan Indonesia yang Sejahtera, serta mampu membawa juga memimpin Indonesia dengan baik selama melewati masa pandemic Covid-19. C. Permasalahan Kepemimpinan di Indonesia Bangsa Indonesia terbentuk dari belasan ribu pulau, beraneka suku, budaya, ras, agama serta Bahasa. Dengan keberagaman yang dimilikinya ini, tentu ada banyak sekali
118 Manajemen Kepemimpinan dampak yang di timbulkan, baik itu berupa dampak positif maupun dampak negative. Ada banyak sekali problematika yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Sebagian besar dari permasalahan tersebut merupakan permasalahan yang sudah ada sejak awal berdirinya bangsa ini namun masih belum bisa teratasi, Sebagiannya lagi merupakan permasalahan baru yang timbul akibat pesatnya perkembangan zaman. Beberapa isu umum yang di hadapi Indonesia saat ini antara lain; 1. Tingginya Angka Kemiskinan Kemiskinan merupakan situasi di mana seseorang tidak memiliki daya atau kemampuan untuk dapat mencukupi kebutuhan pokok harian mereka seperti halnya makanan, pakaian, tempat tinggal, biaya pendidikan, kesehatan, serta kebutuhan mendasar lainnya. Dengan melihat angka kemiskinan dari suatu negara kita dapat dengan mudah mengetahui berapa banyak populasi manusia di negara tersebut yang belum mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada bulan September 2014, di akhir masa jabatan presiden SBY terdapat 27,73 juta orang penduduk di negeri ini yang masih menderita kemiskinan (10.96%). Kemudian pada bulan Maret 2023 lalu, angka kemiskinan di Indonesia berkurang menjadi 9.36%. Sejak awal kemerdekaan hingga saat ini, kemiskinan merupakan salah satu tantangan terbesar yang terus dihadapi oleh bangsa ini. Berbagai upaya telah diusahakan untuk dapat mengentaskan kemiskinan serta meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun hingga
Manajemen Kepemimpinan 119 kini, kemiskinan masih merupakan momok yang masih saja menghantui Indonesia. Permasalahan kemiskinan ini biasanya membawa dampak buruk yang merembes ke banyak aspek lain seperti meningkatnya angka pengangguran, banyak anak yang putus sekolah dan menderita masalah kesehatan akibat kekurangan gizi, kemudian berpotensi meningkatkan jumlah kriminalitas (pencurian, perampokan, dan pembegalan). 2. Kriminalitas dan Asusila Kriminalitas sederhananya merupakan tindakan menyimpang atau perbuatan yang bertentangan dengan hukum dan perundang-undangan. Pada tahun 2023 ini, jumlah tindakan kriminal yang tercatat dan dilaporkan oleh Kepolisian Republik Indonesia meningkat sebanyak 30.7% dengan total 137.419 kasus yang terjadi dibandingkan dengan tahun 2022 lalu. Angka ini hanya merupakan kasus yang dilaporkan, tidak termasuk banyak kasus yang tidak di laporkan yang terjadi di luar sana. Dengan besarnya jumlah peningkatan yang terjadi ini, tidak menutup kemungkinan kedepannya akan membawa dampak buruk bagi reputasi dan keamanan negeri ini. Asusila menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti tidak susila atau tidak baik tingkah lakunya. Secara umum asusila dapat diartikan sebagai tindakan yang melanggar norma kesusilaan seperti pelecehan seksual, perzinahan, pemerkosaan, perdagangan anak, dan penyiksaan pada hewan. Berdasarkan berita yang di publikasikan oleh m.metrotvnews.com, tercatat sebanyak 9.645 kasus kekerasan terhadap anak terjadi
120 Manajemen Kepemimpinan selama Januari hingga Mei 2023. Angka fantastis ini hanya merupakan kasus asusila terhadap anak yang tercatat di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) selama lima bulan. Oleh karena itu, untuk dapat memerangi krisis ini para penegak hukum perlu hendaknya dapat lebih berusaha lagi untuk meminimalisir terjadinya kasus semacam ini demi melindungi anak Indonesia yang notabenya merupakan calon pemimpin masa depan bangsa ini. 3. Lemahnya Implementasi Hukum Implementasi hukum merupakan aksi penegakan hukum sesuai dengan ketetapan perundang-undangan, yang dilakukan oleh aparatur yang memiliki kendali atau wewenang. Penegakan hukum hendaknya dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab, bersifat adil dan tidak memihak, serta tidak dapat di intervensi. Namun demikian, dapat kita lihat sediri bahwa penegakan hukum di Indonesia saat ini masih terbilang sangat lemah, diskriminatif dan bahkan manipulatif. Salah satu penyebab utama dari kurang maksimalnya pengaplikasian hukum ini adalah lemahnya kualitas yang dimiliki oleh para penegak hukum itu sendiri. Tingkat moralitas yang rendah mengakibatkan kurangnya sikap profesionalisme dari para penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. Imncf[b boeog s[ha ‚loh]cha e_ \[q[b ^[h nogjof e_ [n[m‛ g_loj[e[h b[f s[ha nc^[e [mcha f[ac ecn[ ^_ha[l dalam masyarakat. Julukan tersebut tentunya di maksudkan untuk merefleksikan keadaan hukum di Indonesia yang masih bersifat sangat diskriminatif.
Manajemen Kepemimpinan 121 Perbedaan perlakuan dalam proses penegakan hukum bagi masyarakat dengan kelas yang berbeda dari segi ekonomi sudah menjadi hal lumrah yang sering kali terjadi. Tujuan dari proses penegakan hukum bukan lagi untuk memperoleh keadilan dari sebuah proses persidangan, melainkan untuk membawa pulang kemenangan bagi pihak mana yang bisa membuatnya menghasilkan lebih banyak uang. Hal ini menjadikan para penegak hukum memiliki reputasi yang buruk serta kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Beberapa waktu terakhir ini masyarakat Indonesia sedang heboh-hebohnya membahas terkait kasus Ferdy Sambo yang batal menerima hukuman mati. Ferdy Sambo ini merupakan seorang perwira tinggi militer (Polri) yang terkenal karena keterlibatannya dalam kasus pembunuhan (penembakan) Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat selaku ajudannya. Berita ini sempat menjadi topik panas yang menuai kontroversi dan perdebatan panjang dalam masyarakat sejak awal bulan Juli tahun 2022 lalu. Di samping itu, Putri Candrawati (istri dari Ferdy Sambo) yang juga berstatus sebagai salah satu tersangka pembunuhan berencana dalam kasus ini dibiarkan bebas dan tidak ditahan dengan alasan memiliki anak usia 1,5 tahun. Contoh kasus ini tentunya dapat menjadi ilustrasi nyata dari istilah hukum yang ‚nogjof e_ [n[m‛, m_ln[ ^[j[n g_g\_lce[h ecn[ a[g\[l[h mengenai sebaik apa implementasi hukum yang terjadi di Indonesia.
122 Manajemen Kepemimpinan 4. Kualitas Pendidikan yang Rendah Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia, sehingga dengan adanya pendidikan manusia dapat merdeka dalam segala aspek kehidupannya termasuk dari segi mental, fisik, jasmani dan Rohani. Pendidikan merupakan metode atau sistem yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seseorang untuk mencapai kedewasaan dalam berfikir maupun mengambil tindakan. Pada tahun 2015 aturan wajib belajar selama 12 tahun (SD, SMP, SMA) di Indonesia resmi ditetapkan. Meskipun demikian, masih banyak sekali anak-anak di pelosok negeri yang bahkan tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasar mereka, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Pada tahun 2023 ini Indonesia menduduki posisi ke67 pada peringkat sistem pendidikan dunia, sama dengan tahun 2022 lalu. Hal ini mencerminkan bahwa kualitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh tertinggal dengan negara-negara lain. Fasilitas pendidikan yang tidak merata, kurangnya SDM yang mempuni, biaya pendidikan yang tinggi serta kualitas hidup tenaga pengajar yang rendah merupakan sebagian kecil dari banyaknya faktor yang menyebabkan pendidikan berada di posisi ini. Untuk mengatasi permasalahan ini, beberapa lembaga pemerintah dan non-pemerintah mulai membuka program beasiswa bagi pemuda-pemudi Indonesia yang memiliki keinginan kuat untuk bisa memperoleh pendidikan setinggi mungkin. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,
Manajemen Kepemimpinan 123 sehingga kedepannya pendidikan di negeri ini dapat menjadi lebih baik lagi serta dapat bersaing dengan pendidikan di negara maju. 5. Pelayanan Publik yang Diskriminatif Menurut undang-Undang No 25 Tahun 2009 pelayanan publik merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Berdasarkan aturan Perundang-Undangan yang berlaku, pelayanan publik dapat di katakan baik apabila sudah memenuhi asas-asas kepentingan umum, kepastian hukum, kesetaraan hak, keseimbangan hak dan kewajiban, professional, partisipatif, persamaan perlakuan/tidak diskriminatif, keterbukaan, akuntabilitas, fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan, ketepatan waktu, serta kecepatan, kemudahan dan keterjangkauan. Dengan berkembang pesatnya teknologi di masa sekarang ini, akses yang kita miliki untuk dapat memperoleh informasi menjadi jauh lebih mudah. Beberapa kegiatan pelayanan publik juga sudah ada yang mulai berpindah menggunakan sistem digital seperti ETilang dan E-Paspor contohnya. Sistem ini membantu memudahkan jalannya proses pelayan bagi kedua belah pihak (pemberi layanan dan masyarakat). Kendati demikian, mirisnya masih banyak praktek pelayanan publik yang melakukan diskriminasi selama menjalankan proses pelayanannya. Ombudsman, Lembaga yang berwewenang untuk mengawasi
124 Manajemen Kepemimpinan penyelenggaraan pelayanan publik, menerima sekitar 700 pengaduan (2021-2022) terkait ketidak puasan masyarakat terhadap layanan publik di bidang Kesehatan yang di nilai bersifat diskriminatif. Angka ini di perkirakan akan terus naik tahun ini, di tinjau dari banyaknya kasus serupa yang terjadi dan di beritakan oleh media. 6. Korupsi Korupsi merupakan tindakan penyelewengan atau penyalah gunaan uang (harta milik negara/perusahaan) yang di percayakan kepada individu atau organisasi tertentu demi mendapatkan keuntungan pribadi. Salah satu kasus korupsi terbesar yang terjadi sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia adalah korupsi yang di lakukan oleh presiden kedua yaitu Soeharto yang berkisar dari 15 hingga 35 milliar dollar. Tahun 2021 lalu, terjadi banyak sekali penggelapan dana yang di lakukan oleh pihak pemerintah baik itu yang memiliki jabatan tinggi maupun para petugas di bawahnya yang hanya memiliki peranan penting dalam pendistribusian dana bantuan sosial (BANSOS) untuk masyarakat kurang mampu. Pada tahun 2023 ini, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) sudah menerima sekitar 2.707 laporan terkait dugaan tindak korupsi, mayoritas dari laporan tersebut berasal dari kota besar seperti Jakarta. Salah satu alasan utama yang menjadi penyebab terjadinya tindakan korupsi ini adalah tingginya jumlah dana yang di habiskan untuk melalukan kampanye ketika awal masa pencalonan. Kemudian setelah terpilih dan menjabat pada posisi tertentu, beberapa oknum lalu
Manajemen Kepemimpinan 125 mulai mencari peluang dan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan kembali dana yang sudah di habiskan pada saat pencalonan. Selain itu, lunaknya sikap dari para penegak hukum dalam menghadapi kasus korupsi ini juga menjadi salah satu faktor yang cukup berpengaruh. Setya Novanto merupakan salah satu bukti nyata dari pelaku korupsi (dalam proyek E-KTP) yang di duga menerima perlakuan istimewa dari para aparat hukum, yakni mendapatkan fasilitas mewah di dalam tahanan. Tindakan korupsi pada dasarnya memiliki banyak sekali dampak negatif bagi bangsa Indonesia, khususnya pada sektor ekonomi. Dari tahun ke tahun angka kasus korupsi terus saja melonjak naik. Berbagai upaya telah dilakukan untuk dapat memberantas atau setidaknya meminimalisir terjadinya korupsi di Indonesia, namun sampai sejauh ini masih belum ada bukti nyata yang merupakan hasil dari segala upaya yang di lakukan tersebut. 7. LGBT LGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Secara harfiah LGBT dapat di artikan sebagai kelompok yang memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Seiring dengan bebas masuknya warga asing yang membawa budaya barat ke Indonesia, lambat laun pola pikir dan perilaku masyarakat Indonesia juga mulai ikut di pengaruhi. Sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak normal kemudian mulai dipandang sebagai hal yang unik. Rasa cinta dan kebanggaan terhadap budaya dan keaneka
126 Manajemen Kepemimpinan ragaman bangsa kemudian mulai terkikis di kalangan milenial. Setiap orang (mayoritas dari kaum muda) mulai berbondong-bondong mengikuti hal-hal baru yang mereka lihat yang biasanya disebut Tren demi untuk mengejar popularitas tanpa berfikir panjang akan dampak negatif yang bisa saja timbul kedepannya. Beberapa tahun belakangan, banyak publik figur yang mulai tanpa sungkan ataupun malu menunjukan jati dirinya sebagai seorang LGBT. Konten-konten LGBT di media sosial mulai bertebaran seiring berkembang pesatnya teknologi. Bahkan baru-baru ini di temukan sebuat program animasi (tontonan anak-anak) yang diduga mengandung konten LGBT. Hal tersebut juga menjadi salah satu dari pencarian panas (internet) beberapa waktu lalu. Selain itu pada 17-21 Juli lalu di rencanakan akan ada pertemuan komunitas LGBT seASEAN secara besar-besaran yang akan di laksanakan di Jakarta. Namun kegiatan tersebut dilarang keras oleh banyak pihak termasuk MUI (Majelis Ulama Indonesia) karena dianggap melanggar konstitusi negara. Oleh karena itu rencana tersebut akhirnya batal terlaksana.
Manajemen Kepemimpinan 127 Daftar Pustaka Astuti, A, Afiyah, Z, Ningsih, S, Pranata, A, & Jannah, R, T 2022, ‘K_j_gcgjch[h ^[f[g cmf[g’, E^o][ncih[f L_[^_lmbcj: Jurnal Manajemen Pendidikan, vol. 2, no. 01, hh. 72-85. Aditama, R. A. (2020). Pengantar manajemen. Ae Publishing. Ag, F. S. (2015). Psikologi dakwah. Prenada Media, 160-161. Ahmed Khan, Z. & Nawaz, A., 2016, Journal of Resources Development and Management www.iiste.org ISSN, vol. 16. Alblooshi, M., Shamsuzzaman, M. & Haridy, S., 2020, The relationship between leadership styles and organisational innovation : A systematic literature review and narrative synthesis, European Journal of Innovation Management, 24(2), 338–370. Avolio, B. J., & Yammarino, F. J. (Eds.). (2013). Transformational and Charismatic Leadership: The Road Ahead (Vol. 2). Emerald Group Publishing. Bass, B. M., & Riggio, R. E. (2006). Transformational Leadership (2nd ed.). Psychology Press. B[no\[l[, S.S., 2020, ‘P_ha[lob G[s[ K_j_gcgjch[h T_lb[^[j Kinerja Karyawan Pada Departemen Pengadaan Pt Ih[fog (P_lm_li)’, Liabilities (JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI), 3(1), 40–58.
128 Manajemen Kepemimpinan Bashori, Mardivta Yolanda, and Sonia Wulandari. "Konsep kepemimpinan abad 21 dalam pengembangan lembaga pendidikan tinggi islam." PRODU: Prokurasi Edukasi Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 2020. Besse. Mattayang, "Tipe dan gaya kepemimpinan: suatu tinjauan teoritis." JEMMA (Journal of Economic, Management and Accounting) 2.2 2019. Barrick, M. & Mount., M., 1991. The Big Five Personality Dimensions and Job Performance: A MetaAnalysis. Personnel Psychology, 4(4), p. 44. Bass, B. M., Avolio, B. J. & Atwater, L. E., 1996. The transformational and transactional leadership of men and women. Applied Psychology: An International Review. Bono, J. E. & Ilies, R., 2006. Charisma, positive emotions and mood contagion. The Leadership Quarterly, 17(4), p. 317– 334. Chemers, M., 1997. An integrative theory of leadership. penyunt. Chicago: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers. Cahyadi, N., S ST, M. M., Daryati, E., Ainun, A. N. A., Aminah Djunaid, S. E., Sewang, S. E., Brigida Endah Nuraeni, M. M., Wahid, S. E., Mariani Alimuddin, S. E., & Salfin, S. (2023). Manajemen Kepemimpinan dalam Dunia Bisnis Digital. Cendikia Mulia Mandiri. Chin, R., 2015. Examining teamwork and leadership in the fields of public administration, leadership, and management. Team Performance Management, 3(4), p. 199–216.. Danim, Sudarman, Visi Baru Manajemen Madrasah, Jakarta : Bumi Aksara, 2012.
Manajemen Kepemimpinan 129 Dirgahayu Erri, Puji Lestari, A. & Herlan Asymar, H., 2021, ‘P_ha[lob G[s[ K_j_gcgjch[h T_lb[^[j Kch_ld[ K[ls[q[h P[^[ Pn M_ft_l Gfi\[f S_d[bn_l[ J[e[ln[’, Jurnal Inovasi Penelitian, 1(9), 1897–1906. Fattan, Nanang. Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008. Farida, (2022). Manajemen dan pendidikan. Eureka media aksara. Fiedler, F. E. (1964). A contingency model of leadership effectiveness. In Advances in experimental social psychology (Vol. 1, pp. 149–190). Elsevier. Gbo`lih, 2020, ‘T_ilc-T_ilc K_j_gcgjch[h’, FENOMENA, 19(1), 73. Hersey, P., & Blanchard, K. H. (1969). Life cycle theory of leadership. Training & Development Journal. Hughes, Roger, Robert C. Ginnett, and Gordon J. Curphy. "Leadership." Chicago, Irwin 1996. Husna, F. (2017). Kepemimpinan Islami dalam Meningkatkan Mutu Lembaga Pendidikan Islam. Misykat, 2(2), 131-154. Hall, C. S., Lindzey, G., Lochlin, J. C. & Monosevitz, M., 1985. Introduction to Theory of Personality. New York: John Willey & Sons. . Janasz, de, S. C., Dowd, K. O. & Schneider., B. Z., 2002. Interpersonal Skills in Organizations. International Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.. Judge, T. A., Bono, J. E., Ilies, R. & Gerhardt, M. W., 2002. Personality and leadership: A qualitative and quantitative review. Journal of Applied Psychology, 87 (4), p. 765–780.
130 Manajemen Kepemimpinan Kolhc[q[h, D.Mib^., 2018, ‘P_ha[lob G[s[ K_j_gcgjch[h Terhadap Kinerja Karyawan Percetakan Dimas Kota P[f_g\[ha’, JEMBATAN- Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis Dan Terapan, XV(1), 33–48. Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2017). The Leadership Challenge: How to Make Extraordinary Things Happen in Organizations. Wiley. Kenny, D. A. & Zaccaro, S. J., 1983. An estimate of variance due to traits in leadership. Journal of Applied Psychology, 68(4), p. 678–685. Lewin, K., Lippitt, R. & White, R. K., 1995. Patterns of Aggressive Behavior in Experimentally Created "Social Climates". The Journal of Social Psychology, 10(2), p. 269–299. Miltenberger, R., 2004. Behavior Modification Principles and Procedures. Belmont California: Wadsworth/Thomson Learning. Mondy, R., Wayne, R. M. N. & Premeaux, S. R., 1993. Human Resource Management. Massachusetts: Simon & Schuster, Inc. Masri, D. (2021). Keutamaan pria sebagai pemimpin. ANSIRU PAI: Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam, 5(2), 156-167. Nurjaman, Rizal. (2020). 10 Karakter Pemimpin yang Harus Dimiliki. https://spi.upi.edu/2020/09/30/10-karakterpemimpin-yang-harus-dimiliki/ Nurhalim, N., Saputra, M. Z. A., Ningsih, N. S., Amirullah, A., Musli, M., & Jamrizal, J. (2023). Konsep Kepemimpinan: Pengertian, Peran, Urgensi dan Profil
Manajemen Kepemimpinan 131 Kepemimpinan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(1), 2070- 2076. Northouse, P. G. (2018). Leadership: Theory and Practice. SAGE Publications. Nawaz, Z. A. K. D. A., and I. Khan. "Leadership theories and styles: A literature review." Leadership, 2016. Patras, Y. E. (n.d.). Organizational Citizenship Behavior di Perguruan Tinggi. Indonesia Emas Group. P[h^isi, A 2018, ‘D[lc Klcmcm e_ Klcmcm: M[ms[l[e[n Ih^ih_mc[ Menghadapi Resesi Selama Abad ke-20’, Bbogc, Vif. 4, No. 1, hal. 119. Rifa'i, Muh Khoirul. Kepemimpinan Pendidikan Islam: Konsep Dasar dan Teori Memimpin Lembaga Pendidikan Islam. Garudhawaca, 2023. Sagala, Saiful Etika dan Moralitas Pendidikan, Jakarta : Kencana,2013. Soq[lhi & Bl[g[hnsi, Y.R., 2019, ‘P_ha[lob G[s[ K_j_gcgjch[h T_lb[^[j Kch_ld[ Ola[hcm[mc’, Jurnal Transparansi Hukum. Ss[blcf, S., 2019, ‘T_ilc-T_ilc K_j_gcgjch[h’, RI’AYAH, 04(02), 209–215. Sintani, Lelo. M. M., et al. Dasar Kepemimpinan. Cendikia Mulia Mandiri, 2022. Sari, S, P, Noventy, D, Khalimah, S, & Mayasari, G, ‘K_j_gcgjch[h cmf[g’, Piq_lPichn jl_m_hn[ncih, dilihat 18 Agustus 2023. Supardi. (2015). Peran kepemimpinan dan keterlibatan group desission making dalam perubahan organisasi. 37-48.
132 Manajemen Kepemimpinan Sarwat, A 2021, Kedudukan qadhi dalam hukum islam, Perpustakaan pengadilan Agama Sumedang, dilihat 26 Agustus 2023, (https://perpustakaan.mahkamahagung.go.id/slims/pasumedang/index.php?p=show_detail&id=46#). Sagala, H. S., & Sos, S. (2018). Pendekatan & Model Kepemimpinan. Prenada Media. Suresh, S., Antony, J., Kumar, M., & Douglas, A. (2012). Six Sigma and leadership: some observations and agenda for future research. The TQM Journal, 24(3), 231–247. Suhardi, dkk. 2022. Manajemen Kepemimpinan Pendidikan Kontemporer. Jakarta: PT Publica Indonesia Utama Saiful, S. (2022). TINJAUAN PERAN PEMIMPIN PERUBAHAN DALAM ORGANISASI. Yonetim: Jurnal Manajemen Dakwah, 5(1), 62-70. Solikin, A., Fatchurahman, M., & Supardi, S. (2017). Pemimpin yang melayani dalam membangun bangsa yang mandiri: A serving leader in developing independent nation. Anterior Jurnal, 16(2), 90-103. Suprayogo, I. (2016). Revolusi mental: memimpin sepenuh hati. Ssoac[lni, 2022, ‘G[s[ K_j_gcgjch[h Pl_mc^_h Ih^ih_mc[’, CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, Vol 2, No. 1, hal. 32-35. Terry, George R.2006, Prinsip-Prinsip Manajemen. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Veitzal Rivai, Pemimpin dan kepemimpinan dalam Organisasi ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013.
Manajemen Kepemimpinan 133 Vc^s[jl[g[ns[, NN 2020, ‘Hcf[hahs[ K_[^cf[h D[f[g P_h_a[e[n Hukum Menurut T_ilc Dcmelcgch[mc’, Jolh[f P[m][m[ld[h[ Hukum UNS, V. 8, No. 2, hal. 146. Wardaya, 2009, (Cakrawala Sejarah 2), Jakarta, PT. Widya Duta Grafika. hal. 21-141. Yukl, G. A. (2013). Leadership in Organizations. Pearson. Z[chc, M, Nolf[cf[, N, & Fcklc[, N 2021, ‘elcn_lc[ j_gcgjch ^[f[g al-kol’[h ^[h [jfce[mchs[ j[^[ g[ms[l[e[n K_goecg[h L[ga[lin A]_b B_m[l’, TAFSE: Jiolh[f i` Qol'[hc] Studies, vol. 6, no. 1, hh. 47-59. https://employers.glints.com/id-id/blog/4-aspek-pentingemotional-intelligence-seorang-pemimpin/ https://search.yahoo.com/search;_ylt=Awr9_ngz2fVkHJ4yvABXNy oA;_ylc=X1MDMjc2NjY3OQRfcgMyBGZyA21jYWZlZQRm cjIDc2EtZ3Atc2VhcmNoBGdwcmlkAzNBSDRvSHEwU1B HOElja3hlUHh4TkEEbl9yc2x0AzAEbl9zdWdnAzQEb3JpZ 2luA3NlYXJjaC55YWhvby5jb20EcG9zAzQEcHFzdHIDbmF iaSBtdWhhbW1hZCBhZGFsYWggb3JhbmcgeWFuZyBwY WxpbmcgYmVyBHBxc3RybAM0MgRxc3RybAM1OQRxd WVyeQNuYWJpJTIwbXVoYW1tYWQlMjBhZGFsYWglMjB vcmFuZyUyMHlhbmclMjBwYWxpbmclMjBiZXJwZW5nY XJ1aCUyMGRpJTIwZHVuaWEEdF9zdG1wAzE2OTM4Mz M3NTUEdXNlX2Nhc2UD?p=nabi+muhammad+adalah+o rang+yang+paling+berpengaruh+di+dunia&fr2=sa-gpsearch&fr=mcafee&type=E210US91215G0&mkr=8 https://www.mustafalan.com/hadits-tentang-pengendalian-diri/ https://www.kompas.com/skola/read/2021/02/26/142305969/biogra fi-sultan-agung-penguasa-mataram-yang-tangkas-dancerdas
134 Manajemen Kepemimpinan https://pecihitam.org/mengenal-ajaran-mistisme-islam-jawasultan-agung-hanyakrakusuma/ https://kalenderjawa.id/ https://dalamislam.com/akhlaq/cara-mengendalikan-emosimenurut-islam
Manajemen Kepemimpinan 135 Tentang Penulis Al Munip, S.Pd, M.Pd. lahir di Muara Pangi, 01 Januari 1989. Telah menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Merangin 2014 dan Strata Dua pada tahun 2019 di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi Program Studi Menajemen Pendidikan Islam. Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STIE Syari'ah Al Mujaddid Tanjung Jabung Timur dan Pendidik di SD JARINABI. Saat ini sedang melanjutkan S3 di Universitas Islam An-Nur Lampung. Penulis mulai menekuni bidang menulis sejak 2020. Beberapa buku yang sudah terbit diantaranya berjudul Inovasi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterbitkan oleh Sintesia Research Institute Publisher pada Desember 2020, Buku Antologi yang yang berjudul Kurikulum dan Pendidikan serta penerbitan jurnal dibeberapa tempat lainnya salah satunya jurnal yang terbit di Yayasan Literasi Kita Indonesia. WA : 082182888577 EMAIL : [email protected]
136 Manajemen Kepemimpinan Ah[noh Ncm[ Moh’[g[b dilahirkan di Satriyan pada 5 November 1997 dari pasangan Haryono dan Istiqomah, merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Saat ini Penulis berdomisili di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi dan berprofesi sebagai Dosen di STIE Syariah Al Mujaddid Tanjung Jabung Timur, Jambi. Selain berprofesi sebagai dosen penulis juga merupakan salah satu mahasiswa yang tengah menyelesaikan pendidikan Doktoral di Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Irda Amalia, lahir di Bengkulu Utara pada 20 Agustus 1999. Telah menyeselsaikan strata satu di Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu pada tahun 2022 dan sekarang sedang melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta Fakultas Bahasa Seni dan Budaya bidang study Pendidikan Bahasa Inggris. Pada tahun 2021 tergabung dalam tim penulis Buku Antalogi Tarian dan Mitos di Provinsi Bengkulu. Sebagai penulis terpilih lomba menulis tema Sahabat yang diselenggarakan oleh Pejuang Antalogi bekerjasama pengan Penerbit ANM tahun 2020 dan menjuarai Lomba Artikel Islami yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam IAIN Bengkulu tahun 2019.
Manajemen Kepemimpinan 137 Deza Zalia Permata Dewi biasa dipanggil Icha lahir di Sumatra Barat dan saat ini tinggal di Batam. Ia lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN IB Padang dan melanjutkan studinya di Program Magister jurusan Magister Management di UNRIKA dan sekarang sedang mengambil gelar Master Pendidikan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di S2 UNY. Beliau pendiri Brilliant Course dan seorang guru Bahasa Inggris di SMKN 3 Batam yang menyukai bahasa dan literasi. Karyanya sudah terbit berupa Antologi Cerpen yang berjudul Goresan Pena di Ujung Rindu dan kumpulan puisi pelipur hati yang berjudul Rutan Karsa, kumpulan puisi menyemangat di zona hangat berjudul Bom Corona, Pantun Sahabat yang berjudul Kado Awal Tahun dan beberapa puisinya sudah published di situs media online. Selain mengajar, ia juga aktif menjadi MC, Narasumber, Mentor Teater, Ketua Tim Debat, menjabat sebagai Pembina English Club Kepri dan Sekretaris Literasi Sumatera. Bagi beliau sekuat apapun ingatan maka akan termakan oleh masa dan jaman namun berbeda halnya dengan tulisan, ia akan tetap abadi walaupun penulisnya sudah dalam pemakaman. Penulis bisa disapa dalam akun Instagramnya @deliaperi_ & @dezazalia. Suci Apriani merupakan seorang guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah swasta SMK Broadcasting Bina Creative Medan. Suci pernah mengajar di SMAS 2 Muhammadiyah Medan tahun 2019, menjadi coach bahasa asing di SMA Adzkia Medan 2020-2021, sebagai tentor Bahasa Inggris di Education Laboratory (EDULAB) Medan tahun 2020, private tentor di Nobel Course Specialist Private Medan 2020-2022,
138 Manajemen Kepemimpinan memiliki beberapa pengalaman organisasi internal dan eksternal kampus sejak S1. Suci lahir di desa Silau Jawa (Sumut), 27 April 1997 dan merupakan mahasiswi lulusan Universitas Negeri Medan (UNIMED) Angkatan 2015. Saat ini, Suci sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Ditengah kesibukan kuliah, suci aktif menulis book chapter yang berkolaborasi dengan teman-teman kolaborator dari Pena Muda Media dan ini adalah karya ketiga penulis. Selain itu, penulis juga aktif di dua organisasi yaitu Keluarga Mahasiswa Magister dan Doktoral (KMMD UNY) sebagai PJS Sekretaris Umum serta sebagai Ketua Divisi Humas di Kelurahan BPI UNY. Suci merupakan penerima beasiswa untuk Guru atau Pendidik dan Tenaga Kependidikan (GTK) dari Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) tahun 2022. Siti Husna Maab, perempuan penikmat alam yang antusias dengan hal-hal baru memilih untuk mulai menulis buku pertamanya ini bersama dengan teman-teman sejawat. lahir di Selong Lombok Timur pada 21 Oktober 1999 dan saat menulis buku ini, ia sedang berdomisili di Sleman untuk menyelesaikan studi Pascasarjana di Universitas Negeri Yogyakarta. Ia telah menyelesaikan pendidikan dasar di MI NWDI Reban Tebu pada tahun 2012, dan melanjutkan pendidikan di Mts Putri NWDI Narmada dan MA Muallimat NWDI Pancor, selanjutnya mendapatkan gelar S.Pd di Universitas Hamzanwadi Selong. Perempuan yang kerap disapa Husna penyuka puisi dan film ini sedang menikmati indahnya aksara seperti indahnya bunga Edelweis di atas Rinjani sana. Satu prinsip yang selalu ia
Manajemen Kepemimpinan 139 j_a[ha ^[f[g bc^ojhs[ ‚]i\[ ^[h j_lb[nce[hf[b g[e[ e[go [e[h n[bo‛. Chabib Abdul Rahim adalah tenaga pendidik yang suka membuat kampanye dan postingan untuk mensosialisasikan sikap kepemimpinan dan berorganisasi dengan baik. Chabib berpendapat bahwa postingan yang cepat dan tepat dapat menginspirasi orang yang percaya pada sikap pemimpin untuk membantu tujuan yang mereka minati. Pada akhirnya, sikap tersebut dapat memiliki dampak yang lebih besar. Rihatmi seorang guru bahasa Inggris di sebuah SMK negeri di kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Surabaya dan saat ini sedang menempuh program Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Yogyakarta. Penulis merupakan lulusan program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 tahun 2022. Salah satu karya yang telah terbit dalam sebuah buku Antologi puisi dan cerpen dengan judul Peluh tanpa Keluh. Berkisah tentang perjuangan seorang bapak sederhana bersama istrinya, menjadikan empat orang anak perempuan sebagai guru profesional dan seorang bungsu laki-laki dengan profesi dokter gigi, melanjutkan asa menebar manfaat bagi sesama. Penulis aktif dalam komunitas MGMP Bahasa Inggris SMK Negeri & Swasta se-kabupaten Pacitan. Dengan motto
140 Manajemen Kepemimpinan hidup yang terinspirasi dari perjalanan hidup almarhum Bapak n_l]chn[ ‚Hc^oj S_e[fc, B_l[lnc, ^[h K_g\[fc.‛ Benri Purba merupakan salah satu guru Bahasa Inggris di SMKN 1 Malinau, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Penulis lahir di Desa Sipinggan Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun Sumtera Utara Pada Tanggal 19 Bulan Oktober Tahun 1983. Penulis menempuh pendidikan dimulai dari SD NEGERI 091361 PURBA KINALANG (lulus tahun 1997),melanjutkan ke SLTP Bunda Mulia Saribudolok (lulus tahun 2000),dan menempuh pendidikan SMU di SMU Van Duynhoven Saribudolok (lulus tahun 2003) Penulis saat ini sedang menempuh pendidikan Magister Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Yogyakarta. Penulis menamatkan pendidikan S1 Sastra Inggris di Universitas Sumatera Utara. Walbaitil Makmur, Berasal dari Desa Pandan Indah, Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Merupakan putri bungsu dari tiga bersaudara yang lahir pada 31 Desember 1998. Memulai Pendidikan di SDN Kending Sampi (2005-2011), SMPN 3 PRABARDA (2012- 2014), SMA Islam Al-Ma’[lc` M[bcgofgohcl Pandan Indah (2015-2017), pada tahun 2021 menyelesaikan Pendidikan Strata 1 di Universitas Islam Negeri Mataram jurusan Tadris Bahasa Inggris dan (2022-saat ini) melanjutkan Pendidikan Magister jurusan Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta dengan beasiswa LPDP. Untuk berinteraksi dengan