The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Handout Keanekaragaman Bryophyta dan Pteridophyta di Dusun Sumbercandik Desa Panduman Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by maretaajeng1386, 2021-10-19 08:38:35

Handout Biologi Kelas X

Handout Keanekaragaman Bryophyta dan Pteridophyta di Dusun Sumbercandik Desa Panduman Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember

HANDOUT
BIOLOGI

MARETA AJENG PRISTIYANTI-2021

KEANEKARAGAMAN
BRYOPHYTA DAN PTERIDOPHYTA

DI DUSUN SUMBERCANDIK




UNTUK SISWA KELAS X IPA SMA

HANDOUT BIOLOGI





KEANEKARAGAMAN BRYOPHYTA
DAN PTERIDOPHYTA
DI DUSUN SUMBERCANDIK







UNTUK SISWA KELAS X IPA SMA

Penulis
Mareta Ajeng Pristiyanti

Dosen Pembimbing
Bayu Sandika, S.Si., M.Si.

Tim Validator Ahli Materi
1.Heni Setyawati, S.Si., M.Pd.
2. Imaniah Bazlina wardani, M.Si.

Tim Validator Ahli Media
1.Mohammad Wildan Habibi, M.Pd.
2. Ira Nurmawati, S.Pd., M.Pd.

Tadris Biologi, FTIK, UIN KHAS Jember

KATA PENGAN
TAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan bahan ajar yang berjudul "Handout Digital
dengan Konteks Keanekaragaman Bryophyta dan Pteridophyta
di Dusun Sumbercandik Desa Panduman Kecamatan Jelbuk
Kabupaten Jember".

Penyebaran wabah Covid-19 di seluruh dunia termasuk di
Indonesia menyebabkan berubahnya sistem pembelajaran yang
awalnya dilakukan secara tatap muka menjadi daring. Oleh
sebab itu, penulis mengembangkan bahan ajar handout yang
berbasiskan digital. Sehingga, dengan adanya bahan ajar
handout digital ini dapat membantu dan memudahkan siswa
dalam memahami materi. Bahan ajar handout digital ini
sebagai bahan ajar pendamping dari buku utama yang sudah
difasilitasi oleh sekolah dan untuk tambahan pengetahuan
siswa terhadap keanekaragaman Bryophyta dan Pteridophyta.

Semoga bahan ajar handout digital yang penulis buat
dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya untuk siswa dan
guru biologi. Penulis menyadari, bahan ajar handout digital ini
memiliki kekurangan dan keterbatasan, oleh karena itu mohon
saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan bahan
ajar yang penulis buat.

Akhir kata, terima kasih kepada Bapak Bayu Sandika,
M.Si. sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan kritik
dan saran, serta semua pihak yang telah terlibat sehingga
terwujudnya Handout Digital Biologi ini.

Jember, Agustus 2021





Penulis







HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - iii

PETUNJUK PENGGUNAAN

Berdoalah sebelum memulai mempelajari Handout Digital 01
Biologi ini.

Baca dan pahami kompetensi yang akan dipelajari dalam 02
handout ini, cermati pula tujuan pembelajaran dari 03
masing-masing kegiatan pembelajaran.

Baca dan pahami materi yang ada di dalam handout ini
dengan baik, jika menemukan kesulitan, dapat
mendiskusikannya dengan teman-teman dan juga guru.

Carilah informasi dari referensi relevan apabila handout 04
ini masih dirasa belum cukup memberikan informasi.

Apabila dalam mempelajari handout menemukan 05
beberapa kata yang dianggap sulit, dapat mencari makna
kata tersebut dalam glosarium.

Setelah selesai mempelajari handout ini, kerjakan soal 06
evaluasi untuk mengukur pemahaman anda mengenai
materi yang telah dipelajari.

Untuk keberhasilan belajar, dalam mempelajari handout 07
ini, urutan kegiatan harus diikuti dengan benar.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - iv

DAFTAR ISI

Cover i
Cover Dalam ii
Kata Pengantar iii
Petunjuk Penggunaan iv
Daftar Isi v
Pendahuluan 01
Seputar Dusun Sumbercandik 02

Peta Konsep 03

Kegiatan Pembelajaran 1

Bryophyta (Tumbuhan Lumut) 05
09
Keanekaragaman Bryophyta
(Tumbuhan Lumut) di Dusun 18
Sumbercandik

Ringkasan Materi

Kegiatan Pembelajaran 2

Pteridophyta (Tumbuhan Paku) 18
25
Keanekaragaman Pteridophyta
(Tumbuhan Paku) di Dusun 44
Sumbercandik

Ringkasan Materi

Evaluasi Pembelajaran 45
Glosarium 50
Daftar Pustaka 52
Biografi Penulis 53

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - v

PENDAHULUAN

Kelas/Semester

X IPA/Genap

Materi

Plantae

Pokok Bahasan

Bryophyta dan Pteridophyta

Kompetensi Dasar

3.8 Mengelompokkan tumbuhan
ke dalam divisio berdasarkan ciri-
ciri umum, serta mengaitkan
peranannya dalam kehidupan
nyata.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 01

SEPUTAR DUSUN SUMBERCANDIK

(Sumber: https://www.infopol.co.id/2020/03/selo-bonang-paduan-sejarah-geologi.html)

Dusun Sumbercandik merupakan salah satu dusun yaang berada di Kabupaten
Jember, tepatnya di Desa Panduman Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember. Dusun
Sumbercandik terletak di hutan dataran rendah pegunungan Argopuro atau biasa
disebut dengan kaki Gunung Argopuro. Dusun Sumbercandik memiliki ketinggian
500 hingga 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dusun Sumbercandik
memiliki batu yang bisa menghasilkan musik (Selo Bonang) dan memiliki Air
Terjun. Akses jalan menuju Dusun Sumbercandik meliputi jalan aspal sekitar 3 km,
kemudian, dilanjutkan dengan jalan bebatuan sepanjang 5 km yang dapat melewati
Desa Panduman. Untuk saat ini, akses menuju penginapan merupakan jalan
setapak yang berbukit terjal.

Dusun Sumbercandik memiliki topografi dengan kondisi lahan yang
bergelombang. Hal tersebut merupakan faktor yang bisa mempengaruhi iklim
mikro suatu wilayah. Kelembaban udara di Dusun Sumbercandik termasuk tinggi
karena dilihat dari suasana pagi sampai menjelang siang yang masih diselimuti
kabut embun. Kelembaban yang tinggi juga mempengaruhi vegetasi tumbuhan
yang tumbuh di sana. Di Dusun Sumbercandik banyak ditemukan vegetasi
tumbuhan lumut dan tumbuhan paku dengan kondisi lahan yang kering, basah,
dan lembab (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 02

PETA KONSEP
Tumbuhan Berspora

Tumbuhan Tidak Tumbuhan
Berpembuluh Berpembuluh

Bryophyta Pteridophyta
(Tumbuhan Lumut) (Tumbuhan Paku)

Hepaticeae Berdasarkan Berdasarkan
(Lumut Hati) Struktur Tubuh Jenis Spora yang

Anthocerotales Psilopsida Dihasilkan
(Lumut Tanduk) (Paku Purba)
Homospora
Musci/Bryopsida Lycopsida
(Lumut Daun) (Paku Kawat) Heterospora

Equistinae Peralihan
(Paku Ekor Kuda)

Filicinae
(Paku Sejati)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 03

Kegiatan Pembelajaran 1
Bryophyta

Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran 1 diharapkan siswa mampu:

1.Mendeskripsikan ciri-ciri setiap kelas dari divisi Bryophyta.
2. Menjelaskan dasar pengklasifikasian divisi Bryophyta berdasarkan ciri-ciri

morfologi.
3. Mengetahui contoh keanekaragaman tumbuhan dari divisio lumut yang ada di

dusun Sumbercandik.
4. Menjelaskan peranan divisi Bryophyta bagi manusia atau bumi.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 04

BRYOPHYTA (TUMBUHAN LUMUT)

A. Pengertian dan Ciri-Ciri Tumbuhan Lumut

Bryophyta (Lumut) berasal dari bahasa Yunani yaitu "bryon" yang berarti

"tumbuhan lumut" dan "phyton" yang berarti lembab atau basah, jadi jika kedua

kata tersebut digabungkan memiliki arti tumbuhan lumut yang hidup di

tempat-tempat lembab atau basah (Widiyanto, 2020). Tumbuhan lumut

merupakan tumbuhan tidak berpembuluh yang belum memiliki akar, daun, dan

batang yang jelas. Struktur mirip akar pada tumbuhan lumut disebut rhizoid.

Rhizoid membawa air dan nutrisi ke seluruh jaringan. Akan tetapi, rhizoid tidak

memiliki pembuluh untuk mendistribusikan air dan nutrisi tersebut. Oleh

karena itu, tumbuhan lumut dimasukkan ke dalam jenis tumbuhan tak

berpembuluh (Ferdinand & Ariebowo, 2009).

Pada umumnya, lumut berwarna hijau karena memiliki sel-sel berpigmen

hijau berupa klorofil sehingga lumut memiliki kemampuan untuk

menghasilkan senyawa organik melalui proses fotosintesis yang terjadi di

dalamnya. Itulah sebabnya lumut tergolong organisme fotoautotrof (Widiyanto,

2020). Secara umum, tumbuhan lumut memiliki bentuk tubuh tumbuhan

berstruktur rendah, dengan tinggi hanya beberapa milimeter. Meskipun

berbentuk kecil, memiliki warna yang dominan hijau dan cenderung jarang

terlihat serta diperhatikan namun tumbuhan lumut ini memiliki kompleksitas

bentuk organ yang unik untuk memaksimalkan fungsi sehingga menunjang

kebutuhan hidupnya.
Sebagai tanaman

yang termasuk dalam

klasifikasi tumbuhan

rendah, tumbuhan lumut

memiliki keistimewaan

untuk menyeimbangkan

kandungan nutrisi dalam

tanah melalui mekanisme

mineralisasi bebatuan,

penguraian serta fiksasi

karbon. Dengan demikian,

maka dapat disimpulkan

bahwa tumbuhan lumut

memiliki fungsi penting Gambar 1. Struktur Lumut (Sumber: Widiyanto, 2020)
dalam ekosistem dan juga

fungsi ekonomis.

Hal tersebut disebabkan tumbuhan ini bermanfaat bagi tumbuhan lain sebagai

media, penghasil obat, pengendali polusi dan bahkan sebagai sumber energi

yang ramah lingkungan (Lukitasari, 2018).
B. Habitat Tumbuhan Lumut

Tumbuhan lumut mudah dijumpai di tempat yang lembab atau basah,

seperti HmaebniteamLt ptIueVlmpbI auNdhaaGnpolhTuomHnuEtdasnaSndgWiatpEbereEmraTugkaEamaS,n TybaaittLuu Id(AFi npEsehromriu&kaaMnartatonnaho,,
2009).

bebatuan maupun menempel di pohon-pohon.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 05

Karena kemampuan hidup yang istimewa tersebut, maka seringkali tumbuhan
lumut disebut tumbuhan pioneer, karena setelah tumbuhan lumut mengawali
kehidupan pada permukaan yang tandus, segera setelah itu diikuti oleh semakin
beragamnya jenis tumbuhan lain yang hidup di kawasan tersebut. Dengan
demikian, maka tampak bahwa tumbuhan lumut memiliki peran yang sangat
penting dalam suatu ekosistem (Lukitasari, 2018).

C. Siklus Hidup Tumbuhan Lumut

Tumbuhan lumut mengalami

reproduksi secara vegetatif dan

generatif. Reproduksi vegetatif

terjadi dengan pembentukkan

spora melalui pembelahan meiosis

sel induk spora di dalam

sporangium (kotak spora). Spora

tersebut kemudian tumbuh

menjadi gametofit. Pada

reproduksi generatif terjadi

melalui fertilisasi ovum oleh

spermatozoid yang menghasilkan

zigot. Zigot tersebut akan tumbuh

menjadi sporofit. Reproduksi

Gambar 2. Siklus Hidup Tumbuhan Lumut (Sumber: Widiyanto, 2020) lumut terjadi secara bergantian

antara generatif dengan vegetatifnya, reproduksi vegetatifnya dengan spora

haploid yang dibentuk dalam sporofit, sedangkan reproduksi generatifnya

dengan membentuk gamet-gamet, baik gamet jantan maupun gamet betina

yang dibentuk dalam gametofit.

Tumbuhan lumut mengalami metagenesis antara generasi gametofit dan

generasi sporofit. Tahapan metagenesis pada tumbuhan lumut adalah sebagai

berikut.

Spora haploid (n) yang jatuh di tempat lembab akan berkecambah menjadi

protonema (n)

Protonema akan berkembang menjadi gametofit (n). Gametofit adalah

tumbuhan lumut itu sendiri yang akan menghasilkan anteredium (n) dan

arkegonium (n).

Anteredium menghasilkan gamet jantan dan arkegonium menghasilkan

gamet betina.

Fertilisasi antara gamet jantan dan betina akan menghasilkan zigot diploid

(2n). Kemudian zigot akan berkembang menjadi sporofit. Pada sporofit

terdapat sporangium (kotak spora).

Di dalam sporangium, terdapat sel-sel induk spora diploid (2n) yang akan

mengalami pembelahan meiosis menjadi spora haploid (n) (Widiyanto,

2020).

LIVING THE SWEETEST LIFE

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 06

D. Klasifikasi Tumbuhan Lumut

Dalam taksonomi, tumbuhan lumut dibedakan dalam beberapa kelas, yaitu:

a.Kelas Heptiaceae (Lumut Hati)


Tubuh lumut hati memiliki lobus seperti

hati yang terbagi menjadi dua lobus.

Berkembang biak secara generatif dengan

oogami dan secara vegetatif dengan fragmentasi

tunas dan kuncup eram. Lumut hati melekat

pada substrat dengan rizoid. Lumut hati banyak

ditemukan hidup pada tempat-tempat yang

Gambar 3. Lumut Hati basah, dan hidup sebagai epifit yang menempel
(Sumber: Lukitasari, 2018) di pepohonan dalam hutan di daerah tropik

(Hasan & Arriyanti, 2004).

Alat penghasil spora pada lumut hati disebut sporangium yang memiliki

kaki pendukung yang disebut seta dan dilindungi oleh struktur yang disebut

elater. Seta biasanya memiliki kutikula, oleh sebab itu tidak dapat menyerap

air secara langsung. Ketika sporangium pecah dan elater membuka karena

dipicu oleh udara yang kering spora yang telah matang akan keluar. Contoh

jenis tumbuhan lumut hati adalah Ricciocarpus natans(Lukitasari, 2018).

b. Kelas Anthocerotales (Lumut Tanduk) Gambar 4. Lumut Hati

Lumut tanduk selalu memiliki struktur (Sumber: Lukitasari, 2018)
yang dicirikan dengan adanya sporofit
yang berbentuk tanduk dengan organ
seksual yang tertanam dalam bentuk tubuh
yang disebut talus. Pada lumut tanduk,
struktur talus, terutama anatomi internal
dan isi sel merupakan hal penting yang
dapat diamati untuk klasifikasi. Begitu juga
sporofit (yang mengandung dinding
sporangial, spora dan ornamentasinya, dan
sel steril bercampur dengan spora) dan
struktur silinder steril (jika ada) di
sporangium. Bagian-bagian tersebut

merupakan bentuk spesifik yang ada pada lumut tanduk (Lukitasari, 2018).
Lumut tanduk hidup di tepi-tepi sungai atau danau dan sering kali
ditemukan di sepanjang selokan, dan di tepi jalan yang basah atau lembab.

Siklus hidup lumut tanduk diawali dengan zigot yang membelah menjadi
dua sel dengan suatu dinding pemisah melintang. Sel yang di atas terus
membelah disebut dengan sporogonium, dan yang bawah merupakan kaki
sporogonium yang tersusun atas sel-sel berbentuk sebagai rizoid, melekat
pada talus gametofitnya. Jika telah matang, sporogoinum akan pecah seperti
buah polongan. Sepanjang poros bujurnya terdapat jaringan yang terdiri atas
beberapa deretan sel-sel mandul yang dinamakan kolumela. Kolumela itu

diselubungiL oIleVh I jaNriGnganT HyanEg kSemWuEdiEanT aEkaSn TmeLngIhFasEilkan spora, yang

disebut arkespora (Tjitrosoepomo, 2014).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 07

c. Kelas Musci/Bryopsida (Lumut Daun)



Secara morfologi, lumut daun memiliki

bagian menyerupai akar, batang, dan daun

sehingga disebut lumut sejati. Memiliki daun

yang tersusun secara spiral dengan melingkari

batang. Memiliki tubuh tegak, berupa talus,

Gambar 5. Lumut Hati berdaun serupa sisik yng rapat, padat dan
(Sumber: Lukitasari, 2018) memipih. Lumut daun hidup di tempat yang
lembab atau basah, menempel pada tempok,

batu, dan yang terlindungi dari matahari

(Lukitasari, 2018).
Spora lumut daun berkecambah menjadi protonema, yang terdiri atas

benang-benang berwarna hijau, bersifat fototrop positif, dan banyak

bercabang-cabang. Protonema tersebut mengeluarkan rizoid-rizoid yang

tidak berwarna, yang terdiri atas banyak sel dengan sekat-sekat miring dan

bersifat fototrop negatif, masuk ke dalam tanah dan bercabang-cabang.

Rizoid telah mulai terbentuk pada pembelahan spora yang pertama pada sisi

yang tidak terkena cahaya. Jika cukup mendapat cahaya, pada protonema

akan terbentuk kuncup-kuncup yang akan berkembang menjadi tumbuhan

lumut. Kuncup mula-mula berupa penonjolan ke samping dari sel-sel bawah

pada suatu cabang protonema. Setelah kuncup itu berupa 1-2 sel tangkai,

maka dalam sel ujungnya terjadi sel seperti piramid, karena bentuknya

bersekat-sekat yang miring. Sel-sel tersebut yang selanjutnya merupakan sel

pemula yang meritemastik. Sel itu setiap kali memisahkan suatu segmen

sebagai sel-sel anakan baru, dan akhirnya berkembanglah tumbuhan

lumutnya (Tjitrosoepomo, 2014).

E. Peranan Tumbuhan Lumut

Tumbuhan lumut memiliki manfaat atau peranan sebagai berikut:

a.Sebagai obat hepatitis

b.Sebagai penyedia sumber air pada saat musim kemarau

c. Sebagai penyedia oksigen bagi lingkungannya

d. Sebagai obat antiseptik

e.Mengandung senyawa yang dapat mengobati penyakit jantung

f. Membantu mengobati penyakit pneumonia

g.Sebagai antibakteri dan antikanker

h.Mengobati luka bakar dan luka luar

i. Mengobati tekanan darah tinggi dan sebagai obat bius (Widiyanto, 2020).




LIVING THE SWEETEST LIFE

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 08

KEANEKARAGAMAN BRYOPHYTA (TUMBUHAN LUMUT)DI DUSUN
SUMBERCANDIK

1.Bryum argenteum

a

b

c

Gambar 6. Bryum argenterum. a) habitat asli. b)
Panjang tumbuhan. c) Morfologi Bryum argenterum

perbesaran 10x. (Sumber : Purbasari, 2018)

Klasifikasi dari Bryum argenteum adalah sebagai

berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Bryopsida

Ordo : Bryales

Famili : Bryaceae

Genus : Bryum

Spesies : Bryum argenteum

Nama Lokal : Lumut Perak (Suhono, 2012)

Deskripsi
Bryum argenteum yang memiliki nama lokal lumut perak banyak

ditemukan di batuan yang sudah lapuk di sekitar penginapan yang ada di
Dusun Sumbercandik. Pada saat ditemukan, jenis tumbuhan lumut ini
berwarna hijau kecoklatan ketika pada fase sporofit. Jenis tumbuhan lumut
ini memiliki panjang 0,6 cm. Talus berbentuk membulat dengan cabang
yang pendek. Setelah diamati di bawah mikroskop. Rizoidnya seperti akar
tunggang yang pendek dan terdapat cabang. Kapsul spora lumut ini berwarna
merah kecoklatan dengan kapsul spora lonjong. Jika sporanya sudah kering
maka akan menukik ke bawah dan terbuka ketika terkena air. Spesies
tumbuhan lumut ini masuk ke dalam kelas (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 09

2. Pogonatum junghuhnianum

a

b

c

Gambar 7. Pogonatum junghuhnianum. a) habitat asli.
b) Panjang tumbuhan. c) Morfologi Pogonatum

junghuhnianum perbesaran 10x. (Sumber : Purbasari,
2018)

Klasifikasi dari Pogonatum junghuhnianum adalah sebagai

berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Polytrichopsida

Ordo : Polytrichales

Famili : Polytrichaceae

Genus : Pogonatum

Spesies : Pogonatum junghuhnianum

Nama Lokal : Lumut Daun Junghuhn (Suhono, 2012)

Deskripsi
Pogonatum junghuhnianum yang memiliki nama lokal lumut daun

junghuhn ditemukan di sekitar selo bonang dan jalan setapak menuju air
terjun panduman. Jenis tumbuhan lumut ini tumbuh di bebatuan, tebing
dan tanah yang lembab. Talusnya tumbuh ke atas. Rizoid pada jenis
tumbuhan lumut ini terlihat seperti akar tunggang. Pada saat ditemukan,
lumut ini sedang pada fase gametofit, sehingga tidak nampak kapsul spora
yang tumbuh (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 10

3. Fissidens schmidii

a

b

c

Gambar 8. Fissidens schmidii. a) habitat asli. b)
Panjang tumbuhan. c) Morfologi Fissidens schmdii

perbesaran 10x. (Sumber : Purbasari, 2018)

Klasifikasi dari Fissidens schmidii adalah sebagai

berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Bryopsida

Ordo : Dicranales

Famili : Fissidentaceae

Genus : Fissidens

Spesies : Fissidens schmidii Mull. Hal

Nama Lokal : Lumut Daun Schmidii (Suhono, 2012)

Deskripsi
Fissidens schmidii yang memiliki nama lokal lumut daun schmidii

ditemukan di sekitar penginapan, selo bonang dan di sepanjang jalan
setapak menuju air terjun panduman pada fase gametofit karena tidak
adanya kapsul spora yang tumbuh. Lumut daun ini memiliki talus yang
hampir mirip dengan bulu unggas dan tampak rimbun karena memiliki
percabangan di pangkal dan menyebabkan tumbuh tegak atau agak
merunduk. Rizoid yang membantu untuk menempel pada substrat terlihat
seperti akar tunggang. Persebaran jenis tumbuhan lumut ini pada daerah
tanah yang berhumus dan lembab (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 11

4. Aerobryopsis longissima

a

b

c

Gambar 9. Aerobryopsis longissima. a) habitat asli. b)
Panjang tumbuhan. c) Morfologi Aerobryopsis

longissima perbesaran 10x. (Sumber : Purbasari,
2018)

Klasifikasi dari Aerobryopsis longissima adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Bryopsida

Ordo : Hypnales

Famili : Meteoriaceae

Genus : Aerobryopsis

Spesies : Aerobryopsis longissima

Nama Lokal : Lumut Daun Panjang (Suhono, 2012)

Deskripsi
Aerobryopsis longissima yang memiliki nama lokal lumut daun panjang

yang banyak ditemukan di tanah berhumus dan batuan yang berada di
tebing yang berada pada sekitar selo bonang dan jalan setapak menuju air
terjun panduman pada fase gametofit karna tidak nampak kapsul spora
yang tumbuh. Jenis tumbuhan lumut ini memiliki panjang 1-2 cm.
Talusnya lumut ini memiliki percabangan di bagian pangkalnya dan
terdapat daun berwarna hijau terang atau hijau kekuningan yang
melingkari talusnya (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 12

5. Philonotis gracillima

a

b

c

Gambar 10. Philonotis gracillima. a) habitat asli. b)
Panjang tumbuhan. c) Morfologi Philonotis

gracillima perbesaran 10x. (Sumber : Purbasari,
2018)

Klasifikasi dari Philonotis gracillima

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Bryopsida

Ordo : Batramiales

Famili : Batramiaceae

Genus : Philonotis

Spesies : Philonotis gracillima Angstr.

Nama Lokal : Lumut Daun (ITIS, 2018)

Deskripsi
Philonotis gracillima yang memiliki nama lokal lumut daun ditemukan

di sekitar penginapan dan selo bonang pada fase sporofit karna terlihat
dengan jelas ada kapsul spora yang sudah tumbuh yang memiliki panjang 4
cm. Talus jenis tumbuhan lumut ini bergerombol seperti batang jarum
berwarna hijau muda pada bagian tengah ke ujung dan berwarna coklat
pada bagian tengah pangkal. Panjang talus sekitar 1-2 cm (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 13

6. Papillaria fuscescens

a

b

c

Gambar 11. Papillaria fuscescens. a) habitat asli. b)
Panjang tumbuhan. c) Morfologi Papillaria fuscescens

perbesaran 10x. (Sumber : Purbasari, 2018)

Klasifikasi dari Papillaria fuscescens adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Bryopsida

Ordo : Hypnales

Famili : Meteoriaceae

Genus : Papillaria

Spesies : Papillaria fuscescens

Nama Lokal : Lumut Daun akan Menjadi Coklat (Suhono, 2012)

Deskripsi
Papillaria fuscescens yang memiliki nama lokal lumut daun akan

menjadi coklat ditemukan di jalan setapak menuju air terjun panduman
dan sudah berwarna kecoklatan tumbuh menggelantung pada batang
pohon pada fase gametofit karena tidak ada kapsul spora yang tumbuh.
Talus yang masih muda awalnya berwarna hijau terang, tapi perlahan akan
menjadi kecoklatan, hal ini yang menyebabkan jenis tumbuhan lumut ini
disebut dengan lumut daun akan menjadi coklat. Talusnya memiliki
percabangan yang sangat banyak, sehingga tampak rimbun (Purbasari,
2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 14

7. Symphysodontella attenuatula

a

b

c

Gambar 12. Symphysodontella attenuatula. a) habitat
asli. b) Panjang tumbuhan. c) Morfologi

Symphysodontella attenuatula perbesaran 10x.
(Sumber : Purbasari, 2018)

Klasifikasi dari Symphysodontella attenuatula adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Bryopsida

Ordo : Hypnales

Famili : Plerobyraceae

Genus : Symphysodontella

Spesies : Symphysodontella attenuatula

Nama Lokal : Lumut Daun Kusam (Suhono, 2012)

Deskripsi
Symphysodontella attenuatula yang memiliki nama lokal lumut daun

kusam ditemukan tumbuh epifit pada batang pohon di sekitar selo bonang
dan jalan setapak menuju air tejun panduman pada fase sporofit karena
terlihat kapsul spora yang tumbuh tegak. Bentuk dari kapsul spora lonjong
dengan warna coklat kemerahan. Seta (tangkai) tumbuh tegak ke atas tetapi
tidak terlalu tinggi. Rizoidnya terlihat pendek seperti akar tunggang dan
tidak memiliki percabangan. Talus pada lumut ini tumbuh secara merayap
dan ada banyak percabangan pada bagian pangkal talus, sehingga lumut ini
tampak rimbun. (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 15

8. Racopilum aristatum

a

b

c

Gambar 13. Racopilum aristatum. a) habitat asli. b)
Panjang tumbuhan. c) Morfologi Racopilum

aristatum perbesaran 10x. (Sumber : Purbasari,
2018)

Klasifikasi dari Racopilum aristatum adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyte

Kelas : Bryopsida

Ordo : Bryales

Famili : Racopilaceae

Genus : Racopilum

Spesies : Racopilum aristatum

Nama Lokal : Lumut Daun Rambut (Suhono, 2012)

Deskripsi
Racopilum aristatum yang memiliki nama lokal lumut daun rambut

ditemukan tumbuh di tanah, bebatuan dan batang pohon di sekitar
penginapan, selo bonang, dan jalan setapak menuju air terjun panduman
pada fase sporofut karena terlihat kapsul spora yang tumbuh tegak dengan
panjang sekitar 1 cm dan panjang daun juga sekitar 1 cm. Kapsul spora
berwarna coklat kehitaman dan berbentuk bulat. Namun, ketika masak
kapsul spora berwarna kuning. Daunnya berbentuk agak membulat
lonjong dengan warna hijau muda. Selurh permukaan talus berwarna hijau
karena berisi sel yang mengandung klorofil. Rizoidnya seperti akar
tunggang (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 16

9. Ectropothecium ichnotocladum

a

b

c

Gambar 14. Ectropothecium ichnotocladum. a) habitat
asli. b) Panjang tumbuhan. c) Morfologi

Ectropothecium ichnotocladum perbesaran 10x.
(Sumber : Purbasari, 2018)

Klasifikasi dari Ectropothecium ichnotocladum adalah sebagai

berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Bryophyta

Kelas : Bryopsida

Ordo : Hypnales

Famili : Hypnaceae

Genus : Ectropothecium

Spesies : Ectropothecium ichnotocladum

Nama Lokal : Lumut Daun Jejak Kaki (Suhono, 2012)

Deskripsi
Ectropothecium ichnotocladum yang memiliki nama lokal lumut daun

jejak kaki ditemukan tumbuh di merayap pada batuan di sekitar selo
bonang dengan bantuan rizoid pada fase gametofit karena tidak terlihat
kapsul spora yang tumbuh. Rizoidnya seperti akar tunggang tapi sangat
kecil dan pendek sekali (Purbasari, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 17

RINGKASAN MATERI

Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan tidak berpembuluh yang belum
memiliki akar, daun, dan batang yang jelas.
Habitat tumbuhan lumut sangat beragam, yaitu di permukaan tanah,
bebatuan maupun menempel di pohon-pohon.
Tumbuhan lumut disebut tumbuhan pioneer, karena setelah tumbuhan
lumut mengawali kehidupan pada permukaan yang tandus, segera setelah
itu diikuti oleh semakin beragamnya jenis tumbuhan lain yang hidup di
kawasan tersebut.
Tumbuhan lumut mengalami reproduksi secara vegetatif dengan
pembentukkan spora melalui pembelahan meisosis dan secara generatif
dengan cara fertilisasi ovum oleh spermatozoid yang menghasilkan zigot.
Tumbuhan lumut dibedakan ke dalam tiga kelas, yaitu lumut hati
(Hepaticeae), lumut tanduk (Anthocerotales), dan lumut daun
(Musci/Bryopsida).
Di Dusun Sumbercandik, ditemukan sembilan jenis tumbuhan lumut, yaitu
Bryum argenteum, Pogonatum junghuhnianum, Fissidens schmidii, Aerobryopsis
longissima, Philonotis gracillima, Papillaria fuscescens, Symphysodontella
attenuatula, Racopilum aristatum, dan Ectropothecium ichnotocladum.
Tumbuhan lumut memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan
makhluk hidup dan lingkungan, yaitu sebagai obat hepatitis, obat antiseptil,
penyedia oksigen bagi lingkungannya, dan sebagainya.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 18

Kegiatan Pembelajaran 2
Pteridophyta

Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran 1 diharapkan siswa mampu:

1.Mendeskripsikan ciri-ciri setiap kelas dari divisi Pteridophyta.
2. Menjelaskan dasar pengklasifikasian divisi Pteridophyta berdasarkan ciri-ciri

morfologi.
3. Mengetahui contoh keanekaragaman tumbuhan dari divisi Pteridophyta yang

ada di dusun Sumbercandik.
4. Menjelaskan peranan divisi Pteridophyta bagi manusia atau bumi.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 19

PTERIDOPHYTA (TUMBUHAN PAKU)

A. Pengertian dan Ciri-Ciri Tumbuhan Paku

Pteridophyta (tumbuhan paku) merupakan salah satu kelompok tumbuhan

yang terdapat hampir di setiap wilayah di Indonesia. Tumbuhan paku

merupakan tumbuhan yang telah memiliki kormus atau tumbuhan yang sudah

mempunyai akar, batang, dan daun sejati, juga telah memiliki jaringan

pengangkut xilem dan floem yang terdapat pada daun, batang, dan akarnya

(Sulistyorini, 2009). Menurut Rahmawati (2020), Pteridophyta (tumbuhan paku)

merupakan salah satu tumbuhan yang sudah dapat dibedakan antara akar,

batang, dan daun, namun tumbuhan paku masih belum dapat menghasilkan biji

dan berkembang biak menggunakan spora.

Secara umum, tumbuhan paku memiliki ciri-ciri yaitu sudah mempunyai

akar, batang, dan daun yang jelas. Pada batang sudah terdapat jaringan

pengangkut, yaitu xilem dan floem. Daunnya menggulung pada saat masih

muda, dan daun paku dapat dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. tetapi

dapat juga dibedakan menjadi sporofil dan tropofil. Akar tumbuhan paku

berupa akar serabut (Widiyanto, 2020).

B. Habitat Tumbuhan Paku

Tumbuhan paku dapat hidup di atas tanah atau batu, menempel di kulit

pohon (epifit), di tepi sungai, di tempat-tempat yang lembab (higrofit), hidup di

air (hidrofit). Tumbuhan paku dapat ditemukan di daerah tropis hingga dekat

kutub utara dan selatan. Mulai dari hutan primer, hutan sekunder, alam

terbuka, dataran rendah hingga dataran tinggi, lingkungan yang lembab, basah,

kering, rindang, kebun tanaman, serta pinggir jalan (Arini dan Kinho, 2012).

Tumbuhan paku tumbuh pada kisaran suhu 27-28 derajat celcius. Selain itu,

faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan paku adalah pH,

dimana tumbuhan paku hidup pada kisaran pH tanah 7 yang berarti netral dan

untuk daerah batu-batuan tumbuhan paku hidup pada kisaran pH lebih basa

yaitu 7-8 (Janna dkk, 2020).

C. Siklus Hidup Tumbuhan Paku


Tumbuhan paku dapat melakukan

reproduksi secara aseksual (vegetatif)

dan seksual (generatif). Reproduksi

aseksual dilakukan dengan

pembentukkan spora di dalam

sporangium dan menggunakan rizom.

Kemudian rizom akan membentuk

tunas-tunas tumbuhan paku yang

berkoloni. Sedangkan pada reproduksi

seksual dilakukan dengan pembentukkan

spermatozoid di dalam anteredium dan

ovum di dalam arkegonium. Fertilisasi

antara spermatozoid dan ovum akan

menghasilkan zigot yang akan tumbuh

Gambar 15. Siklus Hidup Tumbuhan Paku (Sumber: Widiyanto, 2020) menjadi sporofit atau tumbuhan paku.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 20

Secara umum, tahapan metagenesis pada tumbuhan paku adalah sebagai
berikut:

Spora paku haploid (n) yang jatuh di tempat lembab akan berkecambah dan
berkembang menjadi protalium (gametofit) yang juga haploid (n).
Kemudian, protalium akan membentuk anteredium (n) dan arkegonium (n).
Di dalam anteredium dibentuk spermatozoid (n), sedangkan di dalam
arkegonium dibentuk ovum (n).
Jika terjadi fertilisasi antara spermatozoid dan ovum, akan terbentuk zigot
yang diploid (2n).
Lalu, zigot akan tumbuh menjadi sporofit atau tumbuhan paku yang diploid
(2n). Sporofit selanjutnya akan membentuk sporofil (daun pembentuk spora)
yang juga diploid (2n).
Sporofil (2n) akan membentuk sporangium (2n). Di dalam sporangium
terdapat sel induk spora (2n) yang akan membelah secara meiosis
membentuk spora haploid (n).

Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, dikenal 3 jenis tumbuhan
paku yaitu:

Paku homospora, merupakan kelompok tumbuhan paku yang hanya
menghasilkan satu jenis spora saja.

Paku heterospora, merupakan kelompok tumbuhan paku yang
menghasilkan dua jenis spora yaitu, mikrospora (jantan) dan
makrospora (betina).
Paku peralihan, merupakan kelompok tumbuhan paku yang
menghasilkan spora yang bentuk dan ukurannya sama (homospora)
tetapi memiliki fungsi yang berbeda yaitu sebagian jantan dan
sebagian betina (heterospora).

(a) (b) (c)

Gambar 16. Siklus Hidup Tumbuhan Paku. (a) paku homospora. (b) paku heterospora. (c)
paku peralihan (Sumber: Widiyanto, 2020)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 21

D. Klasifikasi Tumbuhan Paku

Dalam taksonomi, tumbuhan paku dbedakan menjadi beberapa kelas,

yaitu:

a. Kelas Psilopsida (Paku Purba/Telanjang)

Paku purba meliputi jenis-jenis tumbuhan paku yang sebagian besar

telah punah. Jenis-jenis yang sekarang masih ada hanya sedikit saja,

lazimnya dianggap sebagai relik suatu golongan tumbuhan paku yang

semula meliputi jenis-jenis yang lebih banyak. Warga paku purba

merupakan paku telanjang (tidak berdaun) atau mempunyai daun-daun kecil

(mikrofil) yang belum terdeferensiasi.


Paku purba memiliki

struktur tubuh yang

sederhana, dengan tinggi

antara 30 cm-1 m.

Umumnya, tidak memiliki

daun dan akar sejati, tetapi

memiliki rizom yang

dikelilingi oleh rizoid. Jika

terdapat daun, daunnya

berukuran kecil (mikrofil)

seperti sisik. Memiliki

batang yang beruas-ruas

dan berbuku nyata,

baercabang-cabang,

berklorofil, serta sudah

memiliki jaringan Gambar 17. Paku purba (Sumber: Widiyanto, 2020)

pengangkut. Sporangium
terkumpul dalam sinangium yang terletak di ketiak daun pada ruas-ruas

batang. Tumbuhan paku purba hanya menghasilkan satu jenis spora

(homospora).
b. Kelas Lycopsida (Paku Kawat)

Paku kawat memiliki

akar dan batang yang

bercabang menggarpu.

Memiliki daun kecil-kecil

(mikrofil), tidak bertangkai,

dan bertulang satu. Pada

beberapa bangsa, daun-daun

itu mempunyai lidah-lidah

(ligula). Daun-daun yang

amat banyak itu tersusun

rapat menurut garis spiral.

Batangnya berbentuk seperti

kawat. Pada bagian ujung

batang terdapat sporangium

Gambar 18. Paku kawat (Sumber: Widiyanto, 2020) yang terkumpul dalam

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 22

struktur seperti gada yang disebut strobilus. Tumbuhan paku kawat
merupakan paku homospora atau heterospora. Warga tumbuhan paku kawat
ini banyak ditemukan hidup di hutan-hutan daerah tropis, baik tumbuh d
permukaan tanah atau sebagai epifit.
c. Kelas Equisetinae (Paku Ekor Kuda)

Warga kelas ini yang sekarang masih hidup umumnya berupa terna
yang menyukai tempat-tempat lembab, kadang-kadang dalam jumlah yang
sangat besar dan bersifat dominan dalam komunitas tertentu. Paku ekor
kuda rata-rata memiliki tinggi 1 m, tetapi ada juga yang tingginya mencapai
4,5 m. Memiliki batang yang beruas-ruas dan berongga, serta memiliki
rizom. Menghasilkan spora yang sama bentuknya, tetapi berbeda jenisnya
(ada yang jantan dan ada yang betina), sehingga disebut dengan paku
peralihan. Sporofit berdaun kecil (mikrofil) dan berbentuk seperti sisik
dengan warna agak transparan. Gametofit berukuran kecil dan mengandung
klorofil, sehingga dapat berfotosintesis. Gametofit jantan tumbuh dari spora
jantan dan menghasilkan anteredium. Sementara itu, gametofit betina
tumbuh dari spora betina dan menghasilkan arkegonium.




Gambar 19. Paku ekor kuda (Sumber: Widiyanto, 2020)
d. Kelas Filicinae (Paku Sejati)

Kelas Filicinae meliputi beraneka ragam tumbuhan yang menurut
bahasa sehar-hari dikenal sebagai tumbuhan paku atau pakis yang
sebenarnya. Dari segi ekologi, tumbuhan ini termasuk higrofit, banyak
tumbuh di tempat-tempat yang teduh dan lembab, sehingga di tempat-
tempat terbuka mengalami kerusakan akibat penyinaran yang terlalu
intensif. Ditinjau dari lingkungan hidupnya, warga kelas ini dapat dibedakan
dalam 3 golongan paku, yaitu paku tanah, paku air, dan paku epifit.



HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 23

Semua warga Filicinae

mempunya daun-daun besar

(makrofil) dan mempunyai dan

mempunya banyak tulang-tulang.

Waktu masih kecil, daun itu

tergulung pada ujungnya, dan

pada sisi bawah mempunyai

banyak sporangium. Batangnya

terletak d bawah tanah atau

berupa rizom. Sporangium

tersusun dalam sorus yang

terletak di permukaan bawah Gambar 20. Paku sejati (Sumber: Widiyanto, 2020)
daun, dengan posisi di sepanjang

tep
i daun atau di dekat tulang daun. Sorus umumnya dilindungi oleh

ind
usium. Gametofit memiliki klorofil, dengan ukuran bervariasi. Gametofit

bersifat uniseksual atau biseksual.

E. Peran
an Tumbuhan Paku
T
umbuhan paku memiliki manfaat atau peranan sebagai berikut:

a. Untuk tanaman hias.

b. Untuk bahan dasar obat.

c. Dimanfaatkan sebagai lalap dan sayuran.

d. Sebagai pupuk hijau yang dapat menyuburkan tanah pertanian.

e. Sebagai pelindung tanaman pertanian.




HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 24

KEANEKARAGAMAN PTERIDOPHYTA (TUMBUHAN PAKU)DI DUSUN
SUMBERCANDIK

1. Nephrolepis cordifolia

a Klasifikasi dari Nephrolepis cordifolia

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Nephrolepidaceae

Genus : Nephrolepis

Spesies : Nephrolepis cordifolia

Nama Lokal : Paku Acel (Suhono, 2012)

Deskripsi

Nephrolepis cordifolia yang

memiliki nama lokal paku acel

memiliki ciri-ciri akar serabut,

batang tegak kecil, dan daunnya

b berbentuk melengkung di tepi serta

Gambar 21. Nephrolepis cordifolia. a) keseluruhan lebar daun berukuran 2-4 cm
tumbuhan b) daun dan sori. (Sumber : Ananda,
berwarna hijau muda. Spora pada
2018)
tumbuhan paku ini berwarna putih

dan terletak di tepi daun. Jenis

tumbuhan paku ini memiliki tinggi

mencapai 30 cm dan hidup dengan

cara terestrial. Tumbuhan paku acel

tumbuh di daerah tropis panas dan

di lingkungan teduh dataran rendah

hingga lingkungan terbuka di

dataran tinggi dan pegunungan.

Jenis tumbuhan paku ini

dimanfaatkan oleh masyarakat

sebagai tanaman hias (Ananda,

2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 25

2. Pleocnemia irregularis

a Klasifikasi dari Pleocnemia irregularis

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Dipteridaceae

Genus : Pleocnemia

Spesies : Pleocnemia irregularis

Nama Lokal : Paku Andam (Suhono, 2012)

b Deskripsi
Pleocnemia irregularis yang memiliki
Gambar 22. Pleocnemia irregularis. a) keseluruhan
tumbuhan b) daun dan sori. (Sumber : Ananda, nama lokal paku andam memiliki ciri-ciri
akar serabut, batang kecil pendek, dan
2018) memiliki daun yang berbentuk menyirip
hingga ke pangkal dan memiliki lebar
daun berukuran kurang lebih 10 cm.
Daunnya berwarna hijau sedikit gelap.
Spora pada tumbuhan paku andam ini
berwarna coklat dan terletak di bawah
permukaan daun dengan jarak yang
berdekatan tetapi terkadang berpencar
teratur. Jenis tumbuhan paku ini memiliki
tinggi kurang lebih 35 cm dan hidup
dengan cara terestrial. Jenis tmbuhan
paku ini tumbuh di daerah teduh di hutan
dataran rendah dan tebing hutan, dan juga
jenis tumbuhan paku ini tumbuh di
sekitar pemukiman dan area pertanian.
Paku Andam ini dimanfaatka sebagai
lalapan atau sayuran (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 26

3. Adiantum flabellulatum Klasifikasi dari Adiantum flabellulatum adalah

a sebagai berikut:

b Kingdom : Plantae

Gambar 23. Adiantum flabellulatum a) keseluruhan Divisi : Pteridophyta
tumbuhan b) daun dan sori. (Sumber : Ananda,
Kelas : Polypodiopsida
2018)
Ordo : Polypodiales

Famili : Pteridaceae

Genus : Adiantum

Spesies : Adiantum flabellulatum

Nama Lokal : Paku Angin-Angin (Suhono,

2012)

Deskripsi
Adiantum flabellulatum yang memiliki

nama lokal paku angin-angin memiliki ciri-
ciri akar serabut, batang kecil pendek
menjulang ke atas atau tegak. Daunnya
berbentuk melengkung yang sedikit bersisik
di tepi daun serta lebar daun berukuran
kurang lebih 3 cm dan berwarna hijau dan
sedikit kuning sisik. Spora pada tumbuhan
paku ini berwarna putih keruh dan terletak
di tepi daun. Jenis tumbuhan paku ini
memiliki tinggi kurang lebih 26 cm dan
hidup dengan cara terestrial. Jenis
tumbuhan paku ini hidup di wilayah
beriklim tropis. Paku angin-angin ini
dimanfaatkan sebagai tanaman hias karena
bentuk dan warnanya yang sangat menarik
(Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 27

4. Pyrrosia stigmosa

a Klasifikasi dari Pyrrosia stigmosa adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Polypodiaceae

Genus : Pyrrosia

Spesies : Pyrrosia stigmosa

Nama Lokal : Paku Cap/ Sisik Naga (Suhono,

2012)

Deskripsi

Pyrrosia stigmosa yang meiliki nama lokal

paku cap atau sisik naga memiliki ciri-ciri

b akar menjalar, batang kecil dan meiliki daun

Gambar 24. Pyrrosia stigmosa a) keseluruhan berbentuk bulat oval. Daunnya berukuran
tumbuhan b) daun dan sori. (Sumber : Ananda,
kurang lebih 2 cm dan berwarna hijau
2018)
muda. Spora pada jenis tumbuhan paku ini

berwarna abu-abu putih dan terletak di

tengah daun. Paku cap atau sisik naga ini

tidak dapat diketahui tungginya

dikarenakan tumbuhan paku ini menempel

pada pohon dengan cara hidup epifit. Jenis

tumbuhan paku ini tumbuh di daerah

terbuka dan dikenal sebagain paku epifit

pada cabang pepohonan. Jenis tumbuhan

paku ini bermanfaat sebagai obat sesak

napas (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 28

5. Drynaria quercifolia

a Klasifikasi dari Drynaria quercifolia adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Polypodiaceae

Genus : Drynaria

Spesies : Drynaria quercifolia

Nama Lokal : Paku Daun Kepala Tupai

(Suhono, 2012)

b Deskripsi
Drynaria quercifolia yang memiliki nama
Gambar 25. Drynaria quecifolia a) keseluruhan
tumbuhan b) daun, batang dan akar. (Sumber : lokal paku daun kepala tupai memiliki
ciri-ciri akar menempel pada pohon,
Ananda, 2018) memiliki batang tegak dan daunnya
berbentuk menjari, ada yang panjang dan
pendek, lebar daunnya berukuran kurang
lebih 15 cm dengan warna hijau dan ada
juga yang berwarna coklat. Spora pada
tumbuhan paku ini belum terbentuk
sehingga tidak terlihat. Tinggi tumbuhan
paku ini memiliki tinggi kurang lebih 40
cm dengan cara hidupmenempel pada
pohon atau yang dinamakan epifit. Jenis
tumbuhan paku ini tumbuh di daerah
lembab dataran rendah, terutama pada
pohon tinggi. Paku daun kepala tupai
dimanfaatkan sebagai obat dan tanaman
hias (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 29

6. Pyrrosia nummulariifolia Klasifikasi dari Pyrrosia nummulariifolia adalah

a sebagai berikut:

b Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Polypodiaceae

Genus : Pyrrosia

Spesies : Pyrrosia nummulariifolia

Nama Lokal : Paku Duduitan (Suhono, 2012)

Deskripsi
Pyrrosia nummulariifolia yang memiliki

nama lokal paku duduitan memiliki ciri-ciri
akar menjalar, batangnya kecil. Memiliki
daun berwarna hijau dengan ukuran lebar
kurang lebih 2,5 cm, bentuknya bulat
berdaging. Spora pada jenis tumbuhan paku
ini berwarna kecoklatan yang terletak di
bawah permukaan daun, tepatnya tepi
bawah. Paku duduitan disebut dengan paku
epifit karena menempel pada pohon. Jenis
tumbuhan paku ini tumbuh di daerah

Gambar 26. Pyrrosia nummulariifolia a) rimpang,
daun, sori b) keseluruhan tumbuhan (Sumber :

Ananda, 2018)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 30

7. Osmunda javanica

a Klasifikasi dari Osmunda javanica

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Osmundales

Famili : Osmundaceae

Genus : Osmunda

Spesies : Osmunda javanica

Nama Lokal : Paku Jawa (Suhono,

2012)

b Deskripsi
Osmunda javanica yang memiliki
Gambar 27. Osmunda javanica a) daun dan daun
muda b) daun dan sori (Sumber : Ananda, 2018) nama lokal paku jawa memiliki ciri-
ciri akar serabut, batangnya tegak dan
agak keras. Memiliki daun berwarna
hijau dengan ukuran lebarkurang lebih
4 cm berbentuk tunggal dengan
struktur seperti kulit. Spora pada jenis
tumbuhan paku ini terletak di di
bawah daun tepatnya tulang daun,
warna sporanya coklat dan bertekstur
halus. Tinggi jenis tumbuhan paku
yang ditemukan ini kurang lebih 2 m.
Paku jawa ini hidup di daerah
pegunungan yang sejuk dan di hutan,
pada jalan setapak, dan tanah humus
berbatu. Jenis tumbuhan paku ini
disebut dengan paku terestrial.
Tumbuhan paku jawa dimanfaatkan
sebagai tanaman hias (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 31

8. Pyrrosia longifolia

Klasifikasi dari Pyrrosia longifolia

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Polypodiaceae

Genus : Pyrrosia

Spesies : Pyrrosia longifolia

Nama Lokal : Paku Kadaka (Suhono,

2012)

Gambar 28. Pyrrosia longifolia (Sumber : Ananda,
2018)

Deskripsi
Pyrrosia longifolia yang memiliki nama loka paku kadaka memiliki ciri-ciri

rimpang yang panjang dan menjalar dengan batang kecil. Daunnya berbentuk
meruncing yang berstruktur lunak dengan lebar daun berukuran kurang lebih 5
cm dan berwarna hijau. Spora pada tumbuhan paku ini belum terbentuk
sehingga tidak terlihat. Tinggi jenis tumbuhan paku ini mencapai 20 cm.
Tumbuhan paku kadaka tumbuh di daerah yang terbuka dan termasuk ke dalam
paku epifit karena hidup dengan cara menempel pada pohon. Tumbuhan paku
kadaka dimanfaatkan sebagai obat (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 32

9. Lycopodium cernuum

Klasifikasi dari Lycopodium cernuum

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Lycopsida

Ordo : Lycopodiales

Famili : Lycopodiaceae

Genus : Lycopodium

Spesies : Lycopodium cernuum

Nama Lokal : Paku Kawat (Suhono,

2012)

Gambar 29. Lycopodium cernuum (Sumber : Ananda,
2018)

Deskripsi

Lycopodium cernuum yang memiliki nama lokal paku kawat memiliki ciri-ciri

akar serabut dan batangnya kecil. Daunnya berbentuk bulu atau bergaris

meruncing tetapi lunak, lebar daun berukuran 1 cm berwarna hijau muda. Spora

pada tumbuhan paku ini belum terbentuk sehingga tidak terlihat. Jenis

tumbuhan paku ini memiliki tinggi berukuran 10-30 cm. Paku kawat ini tersebar

di daerah tropis dan hidup di tanah atau dinamakan tumbuhan paku terestrial.

Saat ini, jenis tumbuhan paku ini banyak dibudidayakan karena bermanfaat

sebagai tanaman hias (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 33

10. Selaginella ornata

a Klasifikasi dari Selaginella ornata

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Sellaginellopsida

Ordo : Selaginellales

Famili : Selaginellaceae

Genus : Selaginella

Spesies : Selaginella ornata

Nama Lokal : Paku Lumut (Suhono,

2012)

b Deskripsi
Selaginella ornata yang memiliki
Gambar 30. Selaginella ornata a) keseluruhan
tumbuhan b) batang dan daun (Sumber : Ananda, nama lokal paku lumut memiliki ciri-
ciri akar serabut, dan batangnya kecil,
2018) tegak serta lunak. Daunnya membujur
dan bergerigi dengan tekstur halus.
Lebar daunnya berukuran kurang
lebih 2 mm dengan warna hijau lumut
cerah. Spora pada tumbuhan paku ini
belum terbentuk sehingga tidak
terlihat. Tinggi paku lumut berukuran
10-15 cm. Jenis tumbuhan paku ini
hidup di tempat yang lembab dan
basah dan merupakan jenis paku
terestrial atau hidup di tanah.
Tumbuhan paku lumut sering
dimanfaatkan sebagai tanaman hias
(Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 34

11. Pteris biaurita

a Klasifikasi dari Pteris biaurita adalah
b
sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Pteridaceae

Genus : Pteris

Spesies : Pteris biaurita

Nama Lokal : Paku Meja (Suhono,

2012)

Deskripsi

Pteris biaurita yang memiliki nama

lokal paku meja memiliki ciri-ciri akar

serabut, batangnya pendek tegak.

Memiliki daun berbentuk majemuk

dengan ujung yang meruncing,

lebarnya berukuran 4-6 cm berwarna

hijau. Spora pada tumbuhan paku ini

memiliki warna hitam kecoklatan dan

terletak di bawah daun atau lekukan

tepi daun. Jenis tumbuhan paku yang

ditemukan ini memiliki tinggi

berukuran 30 cm. Tumbuhan paku

meja ini hidup di dataran rendah dan

pegunungan serta tempat yang lembab

dan ternaungi. Selan itu, jenis

tumbuhan paku disebut dengan paku

terestrial yaitu hidup di tanah.

Tumbuhan paku meja banyak

dimanfaatkan sebagai tanaman hias

karena bentuk dan warnanya yang

menarik (Ananda, 2018).

Gambar 31. Pteris biaurita a) daun b) batang , sori
dan daun (Sumber : Ananda, 2018)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 35

12. Christella parasitica

a Klasifikasi dari Christella parasitica
b
adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Thelypteridaceae

Genus : Christella

Spesies : Christella parasitica

Nama Lokal : Paku Parasit (Suhono,

2012)

Deskripsi
Christella parasitica yang memiliki

nama lokal paku parasit memiliki ciri-
ciri akar serabut, batangnya kecil
pendek. Daunnya majemuk dengan
ujung meruncing, lebarnya berukuran
kurang lebih 13 cm berwarna hijau.
Spora pada tumbuhan paku ini
memiliki warna kecoklatan dan
terletak di bawah daun atau tengah
bawah daun dengan spora teratur.
Tinggi tumbuhan paku ini berukuran
45 cm. Jenis tumbuhan paku ini
melimpah pada area yang terganggu
dan hidup di tanah atau disebut
dengan paku terestrial. Tumbuhan
paku parasit ini tidak bisa
dimanfaatkan karena dianggap sebagai
tanaman pengganggu (Ananda, 2018).

Gambar 32. Christella parasitica a) daun b) batang
dan sori (Sumber : Ananda, 2018)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 36

13. Pityrogramma calomelanos

a Klasifikasi dari Pityrogramma
b
calomelanos adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Pteridaceae

Genus : Pityrogramma

Spesies : Pityrogramma calomelanos

Nama Lokal : Paku Perak (Suhono,

2012)

Deskripsi
Pityrogramma calomelanos yang

memiliki nama lokal paku perak
memiliki ciri-ciri akar serabut,
batangnya kecil. Daunnya meruncing
di ujung depan daun, lebarnya
berukuran kurang lebih 8 cm dan
berwarna hijau cerah. Spora pada
tumbuhan paku perak ini memiliki
warna putih perak dan letaknya di
bawah daun atau tengah bawah daun.
Tingginya mencapai 50 cm. Paku
perak ini hidup di wilayah beriklim
tropis dan hidup di tanah atau disebut
dengan paku terestrial. Jenis tumbuhan
paku ini dimanfaatkan sebagai
tanaman hias karena memiliki bentuk
dan warna yang menarik (Ananda,
2018).

Gambar 33. Pityrogramma calomelanos a) daun dan
sori b) batang dan daun muda (Sumber : Ananda,

2018)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 37

14. Polystichum aculeatum

a Klasifikasi dari Polystichum aculeatum

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Dryopteridaceae

Genus : Polystichum

Spesies : Polystichum aculeatum

Nama Lokal : Paku Perisai Kertas

(Suhono, 2012)

Deskripsi
Polystichum aculeatum yang memiliki

nama lokal paku perisai kertas
b memiliki ciri-ciri akar serabut,

batangnya kecil kaku dan bertekstur
kasar. Daunnya meruncing di ujung
depan daun dan memiliki lebar
berukuran kurang lebih 8 cm berwarna
hijau. Spora pada tumbuhan paku ini
memiliki warna kecoklatan tua dan
terletak di bawah daun atau tengah
bawah daun dengan tidak teratur.
Tinggi tumbuhan paku ini berukuran
13-41 cm. Tumbuhan paku perisai
kertas banyak ditemukan tumbuh liar
di hutan dan di lereng pegunungan
dan merupakan jenis paku terestrial.
Jenis tumbuhan paku ini banyak
dimanfaatkan sebagai tanaman hias
karena memiliki warna daun yang
hijau dan bentuk daunnya yang
menarik (Ananda, 2018).

Gambar 34. Polystichum aculeatum a) daun dan
batang b) sori (Sumber : Ananda, 2018)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 38

16. Marsilea crenata

a Klasifikasi dari Marsilea crenata adalah

sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Salviniales

Famili : Marsileaceae

Genus : Marsilea

Spesies : Marsilea crenata

Nama Lokal : Paku Semanggi (Suhono,

2012)

Deskripsi

Marsilea crenata yang memiliki nama

b lokal paku semanggi memiliki ciri-ciri

Gambar 35. Marsilea crenata a) daun b) rimpang akar menjalar, batangnya kecil.
(Sumber : Ananda, 2018)
Memiliki daun berbentuk oval dengan

3-4 helaian daun dan memiliki lebar

berukuran 1-2 cm berwarna hijau.

Spora pada tumbuhan paku ini belum

terbentuk sehingga tidak terlihat.

Tumbuhan paku ini memiliki tinggi

berukuran 6 cm. Paku semanggi hidup

di daerah dataran rendah hingga

ketinggian 900 m. Cara hidup

tumbuhan paku semanggi ini

mengapung di atas air tetapi tidak

tenggelam dan juga ada yang di atas

tanah atau disebut dengan terestrial.

Tumbuhan paku semanggi

dimanfaatkan sebagai sayuran dan

sebagai tumbuhan hias akuarium atau

kolam di pekarangan rumah (Ananda,

2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 39

17. Lycopodium clavatum

Klasifikasi dari Lycopodium clavatum

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Lycopsida

Ordo : Lycopodiales

Famili : Lycopodiaceae

Genus : Lycopodium

Spesies : Lycopodium clavatum

Nama Lokal : Paku Simbar (Suhono,

2012)

Gambar 36. Lycopodium clavatum (Sumber :
Ananda, 2018)

Deskripsi

Lycopodium clavatum yang memiliki nama lokal paku simbar memiliki ciri-

ciri akar serabut, batangnya menjalar di atas permukaan tanah dan bercabang.

Daunnya bersisik meruncing dan memiliki lebar berukuran 1 cm berwarna hijau

cerah. Spora pada tumbuhan paku ini berwarna kuning cerah dan sedikit bulat

dengan posisi yang teratur. Jenis tumbuhan paku ini memiliki tinggi berukuran

kurang lebih 24 cm. Tumbuhan paku simbar tersebar di daerah beriklim sejuk

dan lembab dan menyukai area terbuka sebagai habitatnya. Selain itu, tumbuhan

paku simbar termasuk kedalam paku terestrial. Sama halnya dengan kebanyakan

jenis tumbuhan paku lainnya, paku simbar ini dimanfaatkan sebagai tanaman

hias oleh penduduk lokal (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 40

18. Adiantum capillus-veneris

a Klasifikasi dari Adiantum capillus-

veneris adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Pteridaceae

Genus : Adiantum

Spesies : Adiantum capillus-veneris

Nama Lokal : Paku Suplir Berambut

(Suhono, 2012)

Deskripsi
Adiantum capillus-veneris yang

memiliki nama lokal paku suplir
b rambut memiliki ciri-ciri akar serabut,

batangnya kecil pendek menjulang ke
atas atau tegak. Memiliki daun
berbentuk menyerupai kipas dan
memiliki lebar daun berukuran kurang
lebih 3 cm berwarna hijau. Spora pada
tumbuhan paku ini berwarna putih
dan letaknya berada di tepi daun
dengan posisi teratur. Jenis tumbuhan
paku yang ditemukan ini memiliki
tinggi seitar 40 cm. Tumbuhan paku
suplir rambut hidup di wilayah
beriklim sedang dan subtropis dan
termasuk ke dalam tumbuhan paku
terestrial. Tumbuhan paku suplir
rambut ini juga dimanfaatkan sebagai
tanaman hias (Ananda, 2018).

Gambar 37. Adiantum capillus-veneris a) daun b) sori
dan daun (Sumber : Ananda, 2018)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 41

19. Pyrrosia lanceolata

a Klasifikasi dari Pyrrosia lanceolata

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Polypodiaceae

Genus : Pyrrosia

Spesies : Pyrrosia lanceolata

Nama Lokal : Paku Tamaga (Suhono,

2012)

Deskripsi
Pyrrosia lanceolata yang memiliki

nama lokal paku tamaga memiliki ciri-
b ciri rimpang yang panjang dan

menjalar dengan batang kecil.
Daunnya berbentuk bulat melonjong
ke ujung dengan lebar daunnya
berukuran kurang lebih 5 cm berwarna
hijau. Spora pada tumbuhan paku ini
letaknya di bawah daun berwarna
coklat. Ketinggian tumbuhan paku
yang ditemukan tidak dapat diukur
karena melekat pada pohon.
Tumbuhan paku tamaga tumbuh di
daerah dataran rendah dengan hidup
secara epifit pada pohon. Tumbuhan
paku tamaga dimanfaatkan sebagai
obat (Ananda, 2018).

Gambar 38. Pyrrosia lanceolata a) rimpang dan daun
b) sori dan daun (Sumber : Ananda, 2018)

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 42

20. Davallia triphylla

Klasifikasi dari Davallia triphylla

adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisi : Pteridophyta

Kelas : Polypodiopsida

Ordo : Polypodiales

Famili : Davalliaceae

Genus : Davallia

Spesies : Davallia triphylla

Nama Lokal : Paku Tiga Daun

(Suhono, 2012)

Gambar 39. Davallia triphylla (Sumber : Ananda,
2018)

Deskripsi
Davallia triphylla yang memiliki nama lokal paku tiga daun memiliki ciri-ciri

akar serabut, batangnya kecil. Daunnya berbentuk bulat melonjong ke ujung
dengan 3 daun menyirip, lebarnya berukuran 2-3 cm berwarna hijau muda.
Spora pada tumbuhan paku ini berwarna coklat dan terletak di tepi daun dengan
posisi yang teratur. Tinggi tumbuhan paku ini berukuran kurang lebih 18 cm.

Jenis tumbuhan paku ini hidup di daerah hutan dataran rendah dan disebut
paku epifit. Sama halnya dengan kebanyakan jenis tumbuhan paku lainnya,
tumbuhan paku tiga daun ini dimanfaatkan sebagai tanaman hias (Ananda, 2018).

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 43

RINGKASAN MATERI

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang telah memiliki kormus atau
tumbuhan yang sudah mempunyai akar, batang, dan daun sejati, juga telah
memiliki jaringan pengangkut xilem dan floem yang terdapat pada daun,
batang, dan akarnya
Tumbuhan paku dapat hidup di atas tanah atau batu, menempel di kulit
pohon (epifit), di tepi sungai, di tempat-tempat yang lembab (higrofit),
hidup di air (hidrofit).
Tumbuhan paku dapat melakukan reproduksi secara aseksual (vegetatif) dan
seksual (generatif).
Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakan menjadi
paku homospora, heterospora dan peralihan.
Tumbuhan paku dibedakan ke dalam 4 kelas, yaitu paku purba (Psilopsida),
paku kawat (Lycopsida), paku ekor kuda (Equistinae), dan paku sejati
(Filicinae).
Di dusun Sumbercandik, ditemukan 20 jenis tumbuhan paku, yaitu
Nephrolepis cordifolia, Pleocnemia irregularis, Adiantum flabellulatum, Pyrrosia
stigmosa, Drynaria quercifolia, Pyrrosia nummulariifolia, Osmunda javanica,
Pyrrosia longifolia, Lycopodium cernuum, Selaginella ornata, Pteris biaurita,
Christella parasitica, Pityrogramma calomelanos, Polystichum aculeatum, Marsilea
crenata, Lycopodium clavatum, Adiantum capillus-veneris, Pyrrosia lanceolata,
dan Davallia triphylla.
Tumbuhan lumut memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan
makhluk hidup dan lingkungan, yaitu digunakan untuk tanaman hias,
sebagai bahan dasar obat, sebagai sayuran, sebagai pupuk hijau yang dapat
menyuburkan tanah pertanian, dan pelindung tanaman pertanian.

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 44

EVALUASI PEMBELAJARAN

A. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1. a) Habitat di tempat yang basah atau lembab.
b) Mempunyai jaringan pembuluh.
c) Tidak mempunyai jaringan pembuluh.
d) Belum mempunyai akar, batang dan daun sejati.
e) Merupakan tumbuhan peralihan antara tumbuhan bertallus dan tumbuhan
berkormus.
Dari pernyataan di atas, manakah yang termasuk ke dalam ciri-ciri
Bryophyta....
A. a, d, dan b
B. d, c, dan e
C. b, e, dan d
D. e, c, dan b
E. a, b, dan e
2. Pada tumbuhan lumut yang berfungsi untuk menyerap air dan garam mineral
adalah....
A. Spora
B. Kapsul
C. Talus
D. Rhizoid
E. Seta
3. Nama latin dari lumut perak adalah....
A. Fissidens schmidii
B. Racopilum aristatum
C. Aerobryopsis longissima
D. Bryum argenteum
E. Papillaria fuscescens
4. Berikut jenis-jenis tumbuhan lumut yang ditemukan di dusun Sumbercandik
adalah....
A. Racomitrium canescens, Ectropothecium ichnotocladum, dan Willow moss
B. Dicranium scoparium, Taxiphyllum barbieri, dan ogonatum junghuhnianum
C. Willow moss, Racomitrium canescens, dan Hypnum cupressiforme
D. Dicranium scoparium, Taxiphyllum barbieri, dan Funaria hygrometrica
E. Aerobyropsis longissima, Pogonatum junghuhnianum, dan Ectropothecium
ichnotocladum
5. Fase-fase siklus hidup tumbuhan lumut yang bersifat diploid adalah....
A. Sporogonium dan sporangium
B. anteredium dan arkegonium
C. Protonema dan sporangium
D. Sporogonium dan protonema
E. arkegonium dan sporangium

HANDOUT BIOLOGI KELAS X IPA - 45


Click to View FlipBook Version