The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku_Manajemen_Sarana_dan_Prasarana_Seko (1)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rochm4w4ti42, 2022-12-22 14:38:37

Buku_Manajemen_Sarana_dan_Prasarana_Seko (1)

Buku_Manajemen_Sarana_dan_Prasarana_Seko (1)

Manajemen Sarana dan Prasarana i


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ......................................................................................................ii

BAB I PENGANTAR MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA ................1

PENDAHULUAN.............................................................................................1
A. Pengertian Manajemen ..................................................................... 1
B. Fungsi-Fungsi Manajemen................................................................ 4
C. Pengertian Sarana dan Prasarana. ..............................................20
D. Tujuan Sarana dan Prasarana........................................................22

BAB II MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA ................................... 24

PENDAHULUAN.......................................................................................... 24
A. Pengertian Manajemen Sarana dan Prasarana .............................24
B. Tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana .....................................28
C. Fungsi Manajemen Sarana dan Prasarana ......................................28
D. Dasar Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan................29
E. Prinsip-Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah .....32
F. Ruang Lingkup Manajemen Sarana dan Prasarana ......................35

BAB III STANDAR SARANA DAN PRASARANA DI SATUAN PENDIDIKAN...... 53

PENDAHULUAN.......................................................................................... 53
A. Standar sarana dan prasarana TK dan PAUD ..........................53
B. Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Dasar ........................60
C. Standar sarana dan prasarana SMP ............................................62
D. Standar sarana dan prasarana SMA............................................64

BAB IV MANAJEMEN LABORATORIUM ....................................................... 67

PENDAHULUAN.......................................................................................... 67

ii Manajemen Sarana dan Prasarana


A. Pengertian.............................................................................................67
B. Fungsi labororatirum ........................................................................68
C. Manajemen laborotarium ..............................................................70
BAB V MANAJEMEN PERPUSTAKAAN......................................................... 73
PENDAHULUAN.......................................................................................... 73
A. Pengertian.............................................................................................73
B. Jenis perpustakaan ............................................................................74
C. Manajemen perpustakaan ..................................................................77
RANGKUMAN .............................................................................................. 80
GLOSARIUM ............................................................................................... 82
INDEKS ........................................................................................................ 83
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 86
BIOGRAFI PENULIS..................................................................................... 95

Manajemen Sarana dan Prasarana iii


BAB I PENGANTAR MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA

PENDAHULUAN

Bab pertama pada buku ini adalah membahas tentang pengantar
manajemen sarana dan prasarana pendidikan secara teoritis yang berguna untuk
mahasiswa ataupun orang yang bergerak di bidang pendidikan.

Pada bab ini akan membahas tentang Pengertian Manajemen, Fungsi-Fungsi
Manajemen, Pengertian Sarana dan Prasarana, serta Tujuan Sarana dan Prasarana.

Tujuan umum mempelajari bab ini adalah memberikan pemahaman kepada
mahasiswa ataupun orang yang bergerak dibidang pendidikan tentang teori teori
dasar Manajemen Sarana dan Prasarana, sedangkan tujuan khususnya adalah
adalah memahami Pengertian Manajemen, memehamai Fungsi-Fungsi Manajemen,
memahami Pengertian Sarana dan Prasarana, serta memahami Tujuan Sarana dan
Prasarana.

Kegiatan belajar pada bab ini terdiri dari 4 kegiatan. Yakni, Pengertian
Manajemen, Fungsi-Fungsi Manajemen, Pengertian Sarana dan Prasarana serta
Tujuan Sarana dan Prasarana.

A. Pengertian Manajemen
Manajemen adalah sebuah proses dalam perencanaan untuk mencapai tujuan

terentu. (Mustari, 2013:01). Kata administrasi secara sempit dikatakan sebagai
clerical work (kegiatan tata usaha). Secara luas administrasi diartikan sebagai
segenap rangkaian perbuatan penyelenggaraan dalam setiap usaha kerjasama
sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu (Rugaiyah. 2010: 35).
Manajemen adalah proses bekerja sama antara individu dan kelompok serta sumber

Manajemen Sarana dan Prasarana 1


daya lainnya dalam mencapai tujuan organisasi adalah sebagai aktivitas majerial.
(Sulfemi, Wahyu Bagja. 2018: 3). Dengan ini maka manajemen memiliki pengertian
dalam lingkup luas yang sebelumnya yang hanya diartikan sebagai administrasi yang
merujuk pada pekerjaan tulis menulis di kantor. Rohiat (2010:14) manajemen adalah
kegiatan pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah atau organisasi
diantaranya adalah manusia, metode, material, mesin dan pemasaran yang
dilakukan dengan sistematis dalam suatu proses.

Adapun pengertian manajemen menurut para ahli diantaranya adalah:

1) Manajemen adalah lmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya
manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai
suatu tujuan tertentu (Hasibuan, Malayu. 2007).

2) T. Hani Handoko (2011:8), menjelaskan bahwa manajemen adalah proses
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha
para anggota organisasi dan kegunaan sumber daya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan (Handoko, 2011).

3) Echols dan Shadily (2005) manajemen berasal dari bahasa Inggris dengan kata
kerja to manage yang artinya mengurus, mengatur, melaksanakan dan
mengelola (Echols, John M. dan Shadily, Hassan, 2005).

4) Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti
perencanaan, penggerakan atau pengendalian/pengawasan, yang dilakukan
untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditentukan melalui
pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya secara efektif dan
efisien (Yanti, Septi Damai, 2019: 537).

2 Manajemen Sarana dan Prasarana


5) Manajemen adalah ilmu dan seni untuk melakukan tindakan guna tujuan
(Siswanto, H.B, 2013).

6) Nov, M (2011) manajemen adalah sebagai proses merencanakan,
mengorganisasikan, menggerakkan, mengawasi, dan mendayagunakan seluruh
sumber daya organisasi dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi secara
efektif dan efisien.

Jika pengertian manajemen ini berada dalam konteks pendidikan maka sudah
termuat hal-hal yang menjadi objek pengelolaan atau pengaturan. Lebih tepatnya
definisi manajemen pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan atau rangkaian segala kegiatan
yang menunjuk antara usaha kerjasama antara dua orang atau lebih untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan (Mustari, 2013: 4)

2. Tilaar (2004:4) mengartikan manajemen pendidikan sebagai suatu kegiatan yang
mengimplikasikan adanya perencanaan atau rencana pendidikan serta kegiatan
implementasinya.

3. Manajemen pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai seni dan ilmu mengelola
sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan
efisien (Hartani, 2011: 8).

4. Manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang
berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung
dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien (Mustari. 2014: 5).

Manajemen Sarana dan Prasarana 3


5. Manajemen pendidikan adalah sebagai proses untuk mencapai tujuan pendidikan
dimana proses tersebut meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pemantauan dan penilaian (Suryosubroto, 2004: 16).

Berdasarkan definisi-definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen
pendidikan adalah pengelolaan sumber daya pendidikan yang menyangkut
kerjasama, dua orang atau lebih dan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
secara efektif dan efisien.

B. Fungsi-Fungsi Manajemen
Dibawah ini beberapa ahli mengemukakan beberapa fungsi manajemen yang

dideskripsikan dalam tabel berikut:

No Ahli Fungsi Manajemen
1 George R.Terry  Planning.
 Organizing
2 Henry Fayol  Actuating
 Controlling
 Planning
 Organizing
 Commanding
 Coordinating
 Controlling

4 Manajemen Sarana dan Prasarana


3 Luther M. Gullick  Planning.

 Organizing

 Staffing

 Directing

 Coordinating

 Reporting

 Budgeting

4 Harrolf Koontz dan  Planning

Cyrill O’Donnel  Organizing

 Staffing

 Directing

 Controlling

5 John F. Mee  Planning

 Organizing

 Motivating

 Controlling

6 Luther Gullick  Planning

 Organizing

 Staffing

 Directing

 Coordinating

 Reporting

Manajemen Sarana dan Prasarana 5


 Budgeting

7 Corbally Campbell  Decision making
8 The Liang Gie  Programming
9 Sondang P. Siagian  Stimulating
10 Dachnel Kamars  Coordinating
6 Manajemen Sarana dan Prasarana  Appraising
 Planning
 Decision making
 Directing
 Coordinating
 Controlling
 Improving
 Perencanaan
 Pengorganisasian
 Pemberian motivasi
 Pengawasan
 Penilaian
 Planning
 Budgeting
 Staffing
 Organizing


 Actuating

 Supervising

 Controlling

 Evaluating’

 Communicating

11 Ricky W. Griffin  Planning

 Organizing

 Actuating

 Coordinating

 Controlling

12 Newman  Planning

 Organizing

 Assembling

 Resources

 Directing

 Controlling

13 Herbert G Hicks  Creating

 Planning

 Organizing

 Motivating

 Coomunicating

 Controlling

14 James A.F. Stoner  Planning

Manajemen Sarana dan Prasarana 7


 Organizing
 Leading
 Controlling

Gambar 1.1 Fungsi manajemen
Sumber: (Ananda Rusydi, 2017)

a. Perencanaan (Planning)
 Pengertian

Perencanaan merupakan tahap terpenting yang akan menentukan fungsi-fungsi
berikutnya, oleh karena itu dalam tahap ini harus benar-benar diperhatikan dan
jangan sampai salah mengambil rencana agar suatu tujuan dapat berjalan sesuai
yang diinginkan.
Dibawah ini beberapa definisi dari perencanaan antara lain sebagai berikut:
1. Perencanaan dapat didefinisikan sebagai, “suatu proses menentukan sasaran

yang ingin dicapai, tindakan yang seharusnya dilaksanakan, bentuk organisasi
yang tepat untuk mencapai dan SDM yang bertanggung jawab terhadap
kegiatan-kegiatan yang dilakukan (M. Karebet W, 2002:109).
2. Perencanaan adalah proses pemilihan dan pengembangan dari tindakan yang
paling baik dan menguntungkan untuk mencapai tujuan (Siagian, 2004:25).
3. Handayaningrat menjelaskan mengenai perencanaan, yakni: usaha dasar dan
pengambilan keputusan yang telah diperhitungkan secara matang tentang hal-
hal yang akan dikerjakan di masa depan di dalam dan oleh suatu organisasi
dalam pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Handayaningrat,
1988: 126).

8 Manajemen Sarana dan Prasarana


4. Perencanaan merupakan suatu proses kegiatan menggambarkan sebelumnya
hal-hal yang akan dikerjakan kemudian dalam rangka mencapai tujuan yang
telah ditetapkan (Sinta,2019:4).

5. Perencanaan mengandung 3 arti yaitu: (1) memikirkan tujuan dan tindaka, (2)
mengarahkan tujuan dan menetapkan prosedur, (3) pedoman untuk mencapai
tujuan (Jannah Miftakhul, 2010:32).

6. Perencanaan merupakan suatu proses memikirkan dan menetapkan kegiatan-
kegiatan atau program-program yang akan dilakukan pada masa yang akan
datang untuk mencapai tujuan tertentu (Paud, 2016: 8).

7. Perencanaan adalah proses kegiatan yang menyiapkan secara sistematis
kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu
(Hidayat, 2010: 22).

8. Perencanaan ialah proses yang dilakukan sebelum memutuskan bentuk
kegiatan apa yang paling baik untuk dilakukan (Ardiansyah,2019).

9. Perancanaan adalah kegiatan memperkirakan tentang keadaan tenaga kerja
agar sesuai dengan kebutuhan organisasi secara efektif dan efisien. (Sutrisno,
2009:9).

10. Perencanaan adalah proses memutuskan tujuan-tujuan apa yang akan dikejar
selama jangka waktu yang akan datang dan apa yang akan dilakukan agar
tujuan-tujuan itu dapat tercapai (Terry, 2014: 43-44).

11. Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara
matang mengenai hal-hal yang akan dilakukan di masa yang akan datang dalam
rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian,
2003:88).
Dari beberapa pengertian diatas dapat dipahami bahwa perencanaan

merupakan tahap awal dari kegiatan manajemen dalam setiap organisasi karena

Manajemen Sarana dan Prasarana 9


melalui tahap ini didapatkan apa yang harus dilakukan, siapa yg melakukan dan
kapan akan melakukan kegiatan tersebut.

 Tujuan
Tujuan perencanaan menurut Robbins dan Coulter (2016) sebagai berikut:
a. Memberikan Pengarahan

Bawahan dapat mengerti hal atau rencana apa yang akan dicapai dan mereka
harus bekerja sama satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan dari
suatu organisasi tersebut. Tanpa arahan dan bimbingan dari atasan mungkin
mereka akan bekerja secara individual dan masing-masing akibatnya kerja
organisasi kurang efektif dan efisien.
b. Mengurangi Ketidakpastian
Untuk mengurangi ketidakpastian, seorang manajer sangat memerlukan
rencana untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan akan terjadi dengan
adanya perencanaan ini seorang menajer akan lebih tau apa yang akan
dilakukan kedepannya sehingga pasti dan juga mengoptimalkan waktu yang
ada.
c. Meminimalisir Pemborosan
Dengan adanya perencanaan dari awal maka karyawan dapat bekerja secara
efektif dan efisien dengan mengikuti rencana tanpa keluar dari arah yang
telah ditetapkan sebelumnya.
d. Menetapkan Tujuan Standar
Yang keempat adalah untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan
dalam waktu mendatang, dengan adanya tujuan standar ini maka, manajer
dapat mengevaluasi rencana yang dibuat sudah berhasil dan harus
ditingkatkan atau memperbaikinya.

10 Manajemen Sarana dan Prasarana


 Manfaat
Perencanaan memberikan dampak besar dan manfaat bagi tahap selanjutnya

dibawah ini beberapa ahli menjelaskan manfaat dari perencanaan sebagai berikut:
Handoko menjelaskan, bahwa ada beberapa manfaat perencanaan sebagai berikut
(Handoko, 2012: 81):
a. Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-

perubahan lingkungan,
b. Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah utama,
c. Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih

jelas,
d. Membantu penetapan tanggung jawab lebih berat,
e. Memberikan cara pemberian pemerintah untuk beroperasi,
f. Memudahkan dalam melakukan koordinasi diantara berbagai bagian

organisasi,
g. Membuat tujuan lebih khusus, terperinci, dan lebih mudah dipahami.

Sementara itu menurut Julitriarsa dan Suprihanto manfaat dari adanya
perencanaan dari suatu organisasi yaitu (Djati Juliatriarsa & Jhon Suprihanto,
1988:33-34):
a. Sebagai alat pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kegiatan organisasi;
b. Untuk memilih dan menentukan prioritas dari beberapa alternatif yang ada;
c. Untuk mengarahkan dan menentukan pelaksanaan kegiatan sehingga tertib

dan teratur menuju tujuan yang telah ditentukan sebelumnya;
d. Untuk menghadapi dan mengurangi ketidakpastian dimasa yang akan datang;
e. Kesemuanya itu, perencanaan yang baik mendorong tercapainya tujuan-

tujuan organisasi.

Manajemen Sarana dan Prasarana 11


Hasibuan menjelaskan pentingnya perencanaan yaitu (Hasibuan, 2004:95):
a. Perencanaan bertujuan untuk menentukan tujuan, kebijakan-kebijakan
prosedur dan program serta memberikan pedomana cara-cara pelaksanaan
yang efektif dan efisien;

b. Perencanaan menjadikan tindakan ekonomis, karena semua potensi yang
dimiliki terarah dengan baik kepada tujuan;

c. Perencanaan merupakan suatu usaha untuk memperkecil resiko yang
dihadapi pada masa yang akan datang;

d. Perencanaan memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang seluruh
pekerjaan;

e. Perencanaan menjadi suatu landasan untuk pengendalian;

f. Perencanaan menyebabkan kegiatan-kegiatan dilakukan secara teratur dan
bertujuan.

b. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian merupakan langkah selanjutnya setelah perencanaan

yang bertujuan untuk menggerakkan suatu organisasi untuk bergerak kearah
pencapaian yang telah ditentukan.
 Pengertian Pengorganisasian
dibawah ini beberapa definisi pengorganisasian dari berbagai sumber literatur:
1. Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokkan dan
pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai
tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat-
alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan

12 Manajemen Sarana dan Prasarana


kepada setiap individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut
(Hasibuan:40).
2. Pengorganisasian adalah keseluruhan proses memilih orang-orang serta
mengalokasikan sarana dan prasarana untuk menunjang tugas-tugas orang itu
dalam organisasi (Sagala, 2000:49).
3. Pengorganisasian adalah penentuan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan,
pengelompokan tugas-tugas dan membagi-bagikan pekerjaan kepada setiap
karyawan, penetapan departemen-departemen (subsistem) serta penentuan
hubungan-hubungan untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan
efisien (Jannah Miftakhul, 2010:34).
4. Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mencapai tujuan yang dilakukan oleh
sekelompok orang, dilakukan dengan membagi tugas, tanggung jawab, dan
wewenang diantara mereka, ditentukan siapa yang menjadi pemimpin, serta
saling berintegrasi secara aktif (Hidayat, 2010:22).
5. Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengatur pegawai dengan
menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja delegasi wewenang, integrasi
dan koordinasi dama bentuk bagian organisasi (Sutrisno, 2009:9).
6. Pengorganisasian adalah kegiatan menyusun struktur dan membentuk
hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha mencapai tujuan
bersama (Sutisna, 1989:2015)
7. Pengorganisasian adalah suatu proses di mana pekerjaan yang ada dibagi dalam
komponen-komponen yang dapat ditangani dan aktivitas-aktivitas
mengkoordinasikan akan menghasilkan pencapaian tujuan tertentu (Winardi,
1990:26).
8. Pengorganisasian adalah proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih
kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan
kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya serta

Manajemen Sarana dan Prasarana 13


mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi
(Fattah, 2013:71).

Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat dipahami bahwa
pengorganisasian merupakan hubungan kerjasama antara satu dengan yang lain
dalam kondisi baik untuk mencapai suatu tujuan.

 Prinsip Pengorganisasian
Dalam pengorganisasian ada beberapa prinsip yang harus dimiliki diantaranya yaitu
(Mulyono, 2008: 28-29):

1) Tujuan organisasi sebagai acuan dalam proses menstrukturkan kerjasama.
2) Kesatuan tujuan, sasaran-sasaran unit kerja harus bermuara pada tujuan
organisasi.
3) Kesatuan komando: struktur organisasi harus dapat menggambarkan sumber
wewenang yang berhak menentukan kebijakan.
4) Span of Control: harus memerhatikan batas kemampuan manajer dalam
mengorganisasikan unit kerja yang ada.
5) Pelimpahan wewenang: keterbatasan kemampuan manajer di atas dengan
melimpahkan wewenang kepada staf yang ada.
6) Keseimbangan wewenang dan tanggung jawab, makin berat tanggung jawab
yang diberikan makin besar wewenang yang dilimpahkan.
7) Bertanggung jawab: meskipun sudah melimpahkan tanggung jawab kepada staf,
manajer tetap bertanggung jawab kepada apa yang dilimpahkannya.
8) Pembagian kerja: manajer harus dapat membagi habis semua pekerjaan yang
ada.
9) The right-man on the right-place: menetapkan personalia yang sesuai dengan
fungsi dan tugasnya.

14 Manajemen Sarana dan Prasarana


10) Hubungan kerja: merupakan rangkaian hubungan fungsional (horizontal) dan
hubungan tingkat kewenangan (vertikal).
11) Efisiensi: struktur organisasi mengacu pada pencapaian hasil yang optimal.
12) Koordinasi: rangkaian kerjasama perlu dikoordinasikan, diintegrasikan,
disederhanakan dan disinkronisasikan.

c. Pengarahan (directing)
Dibawah ini beberapa definisi pengarahan dari berbagai sumber sebagai

berikut:
1. Pengarahan adalah suatu usaha yang dilakukan oleh pimpinan untuk

memberikan penjelasan, petunjuk serta bimbingan kepada orang-orang yang
menjadi bawahannya sebelum dan selama melaksanakan tugas (Amtu,
2011:54).
2. Pengarahan adalah mengarahkan semua bawahan agar mau bekerja sama dan
bekerja efektif untuk mencapai tujuan (Hasibuan, 2001:21).
3. Pengarahan adalah usaha untuk memberikan bimbingan, saran dan perintah
dalam pelaksanaan tugas masing-masing agar dapat berjalan sesuai yang
direncanakan dan berada pada jalur yang ditetapkan (Andang, 2014:27).
Berdasarkan pengertian dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan
bahwa pengarahan yaitu kegiatan memberikan arahan, bimbingan dan motivasi
untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang diperkirakan akan terjadi saat
kegiatan sehingga kegiatan dapat berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan.

d. Koordinasi (coordinating)
Koordinasi sangat penting untuk mendukung jalannya suatu organisasi. Semua

orang yang terlibat di organisasi tersebut harus bekerjasama secara terkoordinir dan
sinkron agar suatu tujuan dapat tercapai. Adapun pengertian koordinasi dari
berbagai sumber yaitu:

Manajemen Sarana dan Prasarana 15


1. Koordinasi adalah proses mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orang,
bahan dan sumber-sumber lain ke arah tercapainya maksud-maksud yang telah
ditetapkan (Sutisna, 1989:236).

2. Koordinasi adalah fungsi dengan melakukan kerjasama dalam melaksanakan
tugas-tugas yang berbeda sehingga tidak terdapat pekerjaan yang sama yang
dikerjakan oleh orang yang berbeda (Andang, 2014:28).

3. Koordinasi adalah kegiatan mengarahkan, mengintegrasikan dan
mengkoordinasikan unsur-unsur manajemen dan pekerjaan-pekerjan bawahan
dalam mencapai tujuan organisasi (Hasibuan, 2014:85).

Jadi berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan koordinasi
adalah kegiatan bekerjasama dalam satu tim atau organisasi seperti mengatur,
membagi dan mengarahkan pekerjaan atau tugas dengan baik sehingga tujuan yang
diinginkan tercapai.

e. Pengawasan (controlling)
Usman Effendi mengemukakan bahwa pengawasan merupakan fungsi

manajemen yang paling esensial, sebaik apa pun kegiatan pekerjaan tanpa adanya
dilaksanakan pengawasan pekerjaan itu tidak dapat dikatakan berhasil (Efendi
Usman, 2014:138).
 Pengertian

Dibawah ini ada beberapa definisi dari pengawasan atau controlling sebagai
berikut:
1. Pengawasan adalah proses pengamatan pelaksanaan seluruh kegiatan
organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedangkan dilakukan
berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian,
2003:112).

16 Manajemen Sarana dan Prasarana


2. Pengawasan adalah proses dimana pimpinan ingin mengetahui hasil
pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan bawahan, sesuai dengan rencana,
perintah, tujuan, dan kebijakan yang telah ditentukan (Maringan, 2004:61)

3. Pengawasan adalah memastikan apa yang dikerjakan sesuai yang dikehendaki,
meliputi pemeriksaan apakah semua berjalan sesuai dengan rencana yang
dibuat, instruksi-instruksi yang dikeluarkan dan prinsip-prinsip yang ditetapkan
(Sutisna, 1989:240).

4. Pengawasan merupakan proses pengamatan dari seluruh kegiatan organisasi
guna lebih menjamin bahwa semua pekerjaan yang sedang dilakukan sesuai
dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya (Daryanto, 2013:90).

5. Pengawasan yaitu mengadakan penilaian dan sekaligus mengadakan koreksi
sehingga apa yang sedang dilakukan dapat diarahkan ke jalan yang benar
dengan maksud tercapai tujuan yang sudah ditetapkan (Mustari, 2014:10).

6. Pengawasan merupakan proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan
organisasi untuk mengumpulkan data dalam usaha mengetahui ketercapaian
tujuan dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan tugas (Sutikno,
2012:58).

7. Pengawasan adalah suatu kegiatan yang bukan hanya untuk mencari
kesalahan-kesalahan tetapi berusaha untuk menghindari terjadinya kesalahan-
kesalahan serta memperbaikinya ketika terjadi kesalahan-kesalahan
(Brantas,2009).

8. Pengawasan sebagai suatu proses untuk menerapkan pekerjaan apa yang
sudah dilaksanakan, menilainya dan bila perlu mengoreksi dengan maksud
supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana semula” (Manullang,
2005 : 173).

9. Heidjarachman Ranupandojo mendefinisikan pengawasan adalah “mengamati
dan membandingkan pelaksanaan dengan rencana dan mengoreksinya apabila

Manajemen Sarana dan Prasarana 17


terjadi penyimpangan atau kalau perlu menyesuaikan kembali rencana yang
telah dibuat (Heidjarachman Ranupandojo, 1990 : 6).

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengawasan dalam
manjemen ini sangat penting karena untuk mencegah berbagai kendala setiap
kegiatan disuatu organisasi dengan cara pengamatan dan mengarahkan bilamana
ada kesalahan sehingga dapat kembali kepada arah yang telah ditentukan.

 Fungsi pengawasan
Maringan Masry Simbolon (2004:62) mengatakan bahwa fungsi pengawasan

diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mempertebal rasa dan tanggung jawab terhadap pejabat yang diserahi tugas
dan wewenang dalam pelaksanaan pekerjaan,
2. Mendidik para pejabat agar mereka melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
prosedur yang ditentukan,
3. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan, penyelewengan, kelalaian dan
kelemahan, agar tidak terjadi kerugian yang tidak diinginkan,
4. Untuk memperbaiki kesalahan dan penyelewengan, agar pelaksanaan
pekerjaan tidak mengalami hambatan dan pemborosan.

 Prinsip-prinsip pengawasan
Djati Julitriarsa dan John Suprihantoro (1998: 104) mengatakan bahwa prinsip-
prinsip dasar dalam pengawasan adalah sebagai berikut:
1. Adanya rencana tertentu dalam pengawasan

Dengan adanya rencana yang matang akan menetukan standar atau alat
pengukur terhadap berhasil tidaknya pengawasan.
2. Adanya pemberian instruksi atau perintah serta wewenang kepada bawahan.

18 Manajemen Sarana dan Prasarana


3. Dapat merefleksikan berbagai sifat dan kebutuhan dari berbagai kegiatan yang
diawasi.
Sebab masing-masing kegiatan seperti produksi, pemasaran, keuangan
dansebagainya memerlukan sistem pengawasan tertentu sesuai dengan
bidangnya.

4. Dapat segera dilaporkan adanya berbagai bentuk penyimpangan.
5. Pengawasan harus bersifat fleksibel, dinamis dan ekonomis.
6. Dapat merefleksikan pola organisasi, Misal setiap kegiatan karyawan harus

tergambar dalam struktur organisasi atau terhadap setiap bagian yang ada
harus ada standar daripada biaya dalam jumlah tertentu apabila terjadi
penyimpangan, sehingga apabila penyimpangannya melebihi standar disebut
tidak wajar lagi.
7. Dapat menjamin diberlakukannya tindakan korektif yakni segera mengetahui
apa yang salah, dimana terjadinya kesalahan tersebut serta siapa yang
bertanggung jawab.

 Manfaat
Nawawi (1994:105) manfaat pengawasan antara lain:
1. Menghimpun data/informasi, yang telah diolah dan dikembangkan menjadi

umpan balik (feed back) dalam memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan
kegiatan selanjutnya sebagai langkah pengambilan keputusan baru yang lebih
baik.
2. Mengembangkan cara bekerja untuk menemukan yang paling efektif dan
efisien atau yang paling tepat dan paling berhasil, sehingga menjadi yang
terbaik untuk mencapai tujuan organisasi.
3. Mengidentifikasi, mengenal dan memahami hambatan-hambatan dan
kesukaran-kesukaran dalam bekerja, untuk dihindari, dikurangi, dan dicegah
dalam kegiatan/pekerjaan berikutnya.

Manajemen Sarana dan Prasarana 19


5. Memperoleh data yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan
perkembangan organisasi dalam berbagai aspeknya, termasuk juga untuk
pengembangan personel agar menjadi semakin berkualitas dalam bekerja.

C. Pengertian Sarana dan Prasarana.
a. Pengertian
Kamus besar bahasa Indonesia sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai
sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan, alat, dan media. Sedangkan
prasarana pendidikan adalah segala yang merupakan penunjang utama
terselenggaranya suatu proses usaha, pembangunan, proyek dan sebagainya (KBBI,
2012-2019). Secara etimologis (arti kata) prasarana berarti alat tidak langsung untuk
mencapai tujuan. Dalam pendidikan misalnya: lokasi/tempat, bangunan sekolah,
lapangan olahraga, uang dan sebagainya. Sedang sarana seperti alat langsung untuk
mencapai tujuan pendidikan, misalnya: ruang, buku, perpustakaan, laboratorium
dan sebagainya (Daryanto, 2005:51). Sarana dan prasarana yang dimaksudkan disini
adalah dalam konteks pendidikan, bisa digunakan untuk pendidikan umum maupun
secara khusus saat pembelajaran. Dibawah ini beberapa ahli mendefinisikan sarana
dan prasarana sebagai berikut:
1. Sarana dan prasarana adalah semua benda atau barang yang bergerak maupun

yang tidak bergerak yang digunakan untuk menunjang terlaksanakannya proses
pembelajaran yang langsung maupun yang tidak langsung dalam sebuah
pendidikan (Rohiat, 2006).
2. Sarana adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar,
baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan
pendidikan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien, sedangkan
prasarana adalah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya

20 Manajemen Sarana dan Prasarana


proses pendidikan, seperti: halaman, kebun atau taman sekolah, jalan menuju
ke sekolah, tata tertib sekolah, dan sebagainya (Sinta, I. M, 2019:7).
3. Sarana pendidkan adalah peralatan atau perlengkapan yang secara langsung
dipergunakan dalam proses pendidikan baik yang bergerak maupun tidak
bergerak agar pencapaian tujuan dapat berjalam dengan baik sesuai yang
diharapkan (Smk, D. I., & Purbalingga, M, 2018:31).
4. Sarana pendidikan adalah semua fasilitas (peralatan, pelengkap, bahan dan
perabotan) yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar,
baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar mencapai tujuan
pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien, seperti:
gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat media pengajaran,
perpustakaan, kantor sekolah, ruang osis, tempat parkir dan ruang
laboratorium (Idrawan, 2015:10).
5. Ibrahim Bafadal mengemukakan prasarana pendidikan adalah semua perangkat
kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses
pendidikan di sekolah (Bafadal, 2008:2).
6. Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang
penting dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah. Keberhasilan
program pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi sarana dan
prasarana pendidikan yang dimiliki sekolah dan oleh optimalisasi pengelolaan
dan pemanfaatannya (Fuad & Martin, 2016:1).
7. Sarana pendidikan adalah segala macam peralatan yang digunakan guru untuk
memudahkan penyampaian materi pelajaran sedangkan prasarana pendidikan
adalah segala macam peralatan, kelengkapan, dan benda-benda yang
digunakan guru dan murid untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan
(Prastyawan, 2016:35).

Manajemen Sarana dan Prasarana 21


8. Prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara
tidak langsung menunjang pelaksanaan pendidikan disekolah (Arifin, M &
Barnawi, 2012:47-48).

9. Sarana pendidikan, yaitu perlengkapan secara langung dipergunakan untuk
proses pendidikan, seperti meja, kursi, kelas, dan media pengajaran sedangkan
prasarana pendidikan ialah fasilitas yang secara tidak langsung menunjang
jalannya proses pendidikan, seperti halaman, kebun, dan taman (Minarti,
2011:251).

10. prasarana pendidikan adalah perangkat atau perlengkapan yang secara tidak
langsung digunakan untuk menunjang jalannya proses pendidikan agar
pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalam dengan baik sesuai yang
diharapkan (Smk, D. I., & Purbalingga, M, 2018:31).

Dari beberapa definisi mengenai sarana dan prasarana diatas maka dapat
disimpulkan bahwa sarana dan prasarana adalah seluruh perangkat peralatan atau
fasilitas yang digunakan saat proses pembelajaran untuk menunjang jalannya proses
pendidikan.

D. Tujuan Sarana dan Prasarana
Manajemen sarana dan prasarana memiliki tujuan untuk memberikan layanan

secara profesional dibidang sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka
terselenggarakannya pendidikan secara efektif dan efisien. (Imran, 2005: 85).
Bafadal (2004) menjelaskan tujuan sarana dan prasarana pendidikan sebagai berikut:

(1) untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana sekolah melalui sistem
perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama, sehingga sekolah memiliki
sarana dan prasarana yang baik, sesuai kebutuhan, dan dengan dana yang efisien,

22 Manajemen Sarana dan Prasarana


(2) untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan
efisien,
(3) untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga
dalam kondisisiap pakai.

Manajemen Sarana dan Prasarana 23


BAB II MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA

PENDAHULUAN

Kegiatan belajar mengajar akan semakin sukses apabila ditunjang dengan
sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Untuk itu, perlu adanya
manajemen sarana dan prasarana agar fasilitas yang sudah ada dapat dikelola
dengan baik.

Pada bab ini akan membahas tentang Pengertian Manajemen Sarana dan
Prasarana, tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana, Fungsi Manajemen Sarana dan
Prasarana, Dasar Manajemen Sarana dan Prasarana, Prinsip Manajemen Sarana dan
Prasarana, serta Ruang Lingkup Manajemen Sarana dan Prasarana.

Tujuan umum dari bab ini adalah agar mahasiswa atau orang yang bergerak
dibidang nya dapat memahami makna dari Manajemen Sarana dan Prasarana,
sedangkan tujuan khususnya adalah agar memahami Pengertian Manajemen Sarana
dan Prasarana, memahami Tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana, memahami
Fungsi Manajemen Sarana dan Prasarana, memahami Dasar Manajemen Sarana dan
Prasarana, memahami Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana, serta memahami
Ruang Lingkup Manajemen Sarana dan Prasarana.

A. Pengertian Manajemen Sarana dan Prasarana
a. Pengertian

Manajemen secara etimologis berasal dari bahasa latin manus yang berarti
“tangan”, dalam bahasa Perancis management yang berarti “seni melaksanakan
dan mengatur”, sedangkan dalam bahasa inggris berasal dari kata to manage yang
berarti “mengatur” (Usman. 2014:3). Sedangkan sarana dan prasarana adalah

24 Manajemen Sarana dan Prasarana


seluruh perangkat peralatan atau fasilitas yang digunakan saat proses
pembelajaran untuk menunjang jalannya proses pendidikan. Keberhasilan program
pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh kondisi sarana dan prasarana
pendidikan yang dimiliki sekolah dan oleh optimalisasi pengelolaan dan
pemanfaatannya (Fuad dan Matin, 2016:1). Istilah manajemen sarana dan
prasarana terkait upaya mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola atau
menata sarana dan prasarana secara optimal saat pengadaan, pengawasan,
penyimpanan, inventarisasi dan penghapusan serta penataan. Sobri berpendapat
bahwa manajemen sarana dan prasarana diartikan sebagai kegiatan sementara,
mulai dari merencanakan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan dan pepenyaluran,
pendayagunaan, pemeliharaan, penginventarisan dan penghapusan serta penataan
lahan bangunan, perlengkapan, dan perabot sekolah yang tepat guna dan tepat
sasaran (Sobri, 2009:61).
Adapun beberapa pengertian manajemen sarana dan prasarana sebagai berikut:
1. Manajemen sarana dan prasarana pendidikan merupakan keseluruhan proses

pengadaan, pendayagunaan dan pengawasan terhadap prasarana dan
peralatan yang digunakan untuk menunjang terselenggaranya pendidikan yang
bermutu di sekolah (Werang, 2015:142).
2. Manajemen sarana dan prasarana adalah kegiatan yang mengatur untuk
mempersiapkan segala peralatan/material bagi terselenggaranya proses
pendidikan di sekolah. Manajemen sarana dan prasarana dibutuhkan untuk
membantu kelancaran proses belajar mengajar (Rohiat, 2006:26).
3. Manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah sebagai proses
perencanaan, pengadaan, inventarisasi, penyimpanan, penataan, penggunaan,
pemeliharaan dalam rangka untuk menunjang proses pembelajaran guna
mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien (Jannah, 2010:43).

Manajemen Sarana dan Prasarana 25


4. Manajemen sarana prasarana adalah pengelolaan terhadap seluruh perangkat
alat, bahan, dan fasilitas lainnya yang digunakan dalam sebuah proses kegiatan
belajar mengajar sehingga proses kegiatan belajar bisa berjalan dengan efektif
(Islamic, J., & Manajemen, 2019:4).

5. Manajemen sarana dan prasarana adalah proses kerjasama pendayagunaan
semua perlengkapan pendidikan secara efektif dan efisien (Bafadal, 2008:2).

6. Manajemen sarana dan prasarana adalah kegiatan pengelolaan sarana dan
prasarana untuk pembelajaran meliputi ketersediaan pemanfaatan sumber
pengadaan yang merupakan kegiatan menyediakan sarana dan prasarana
sesuai kebutuhan (Asmani, 2012:15).

7. Manajemen sarana dan prasarana pendidikan merupakan seluruh proses
kegiaran yang di rencanakan dan diusahakan secara sengaja dan sungguh-
sungguh terhadap benda-benda pendidikan agar senantiasa siap pakai dalam
proses pembelajaran (Mulyono, 2014: 51).

8. Manajemen sarana dan prasarana dapat diartikan sebagai segenap proses
pengadaan dan pendayagunaan komponen-komponen yang secara langsung
maupun tidak langsung menunjang proses pendidikan untuk mencapai tujuan
pendiidkan yang efektif dan efisien (Arifin, M & Barnawi, 2012:48).

9. Manajemen sarana dan prasarana adalah keseluruhan proses perencanaan,
pengadaan, pendayagunaan dan pengawasan sarana dan prasarana yang
digunakan agar tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai dengan efektif dan
efisien (Rohiat, 2012:26).

10. Manajemen sarana dan prasarana pendiidkan adalah suatu proses menganalisis
dan menentukan sarana dan prasarana apa yang diperlukan sekolah dalam
menunjang tercapainya tujuan pendidikan (Gistituati,2013).

26 Manajemen Sarana dan Prasarana


11. Manajemen sarana dan prasarana adalah seluruh proses kegiatan yang
direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta
berkelanjutan terhadap benda-benda pendidikan, agar senantiasa siap pakai
dalam proses pembelajaran (Daryanto, 2013:143).

12. Manajemen sarana dan prasarana adalah proses pengurusan, penataan dan
pengaturan kegiatan secara sistematis agar berfungsi menurut fungsinya
masing-masing dalam rangka pencapai tujuan yang ditetapkan (Syahril, 2004:9).

Ary.H. Gunawan dalam bukunya yang berjudul Administrasi Sekolah tentang
Manajemen Sarana Prasarana bahwasannya Proses Belajar Mengajar (PBM) atau
kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akan semakin sukses apabila ditunjang dengan
sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, sehingga pemerintah selalu
berupaya untuk terus-menerus melengkapi sarana dan prasarana pendidikan bagi
seluruh jenjang dan tingkat pendidikan sehingga kekayaan fisik Negara yang berupa
sarana dan prasarana pendidikan menjadi sangat besar (Gunawan, A. H. 1996:14).
Manajemen sarana dan prasarana yang baik diterapkan dapat menciptakan sekolah
yang bersih, rapi, indah sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik
bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah (Yanti, S. D, 2019:537). Di
samping itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang
memadai secara kuantitatif, kualitas relevan dengan kebutuhan serta dapat
dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan proses pendidikan dan pengajaran,
baik oleh guru sebagai pengajar maupun murid-murid sebagai pelajar (Mulyasa,
2002:50). Dengan adanya sarana dan prasarana pendidikan kegiatan belajar
mengajar akan menjadi lebih bermakna dan berkualitas dan menyenangkan
(Megasari Rika, 2014:638).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa
manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan pengelolaan dan
pendayagunaan sarana dan prasarana untuk dimanfaatkan, digunakan, dan diawasi

Manajemen Sarana dan Prasarana 27


oleh SDM saat proses pembelajaran berlangsung sehingga tujuan pendidikan
disekolah dapat tercapai secara efektif dan efisien. Maka dari itu, sarana dan
prasarana pendidikan merupakan unsur manajemen pendidikan yang berperan
penting dalam proses pembelajaran yang tidak boleh diabaikan.

B. Tujuan Manajemen Sarana dan Prasarana
Tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan yaitu untuk

memberikan pelayanan secara profesional agar proses pembelajaran dapat
berlangsung secara efektif dan efisien (Yanti, S. D, 2019: 537). Bafadal secara
umum tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan adalah memberikan
layanan secara professional dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan
secara efektif dan efisien, Secara rinci tujuannya adalah sebagai berikut (Bafadal,
2004:5):
a. Untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan melalui

system perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan seksama. Sehingga
melalui manajemen sarana dan prasarana diharapkan semua sarana dan
prasaran yang didapatkan oleh sekolah adalah sarana dan prasarana
pendidikan yang berkualitas tinggi, sesuai dengan kebutuhan sekolah, dan
dengan dana yang efisien,
b. Untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat
dan efisien,
c. Untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, sehingga
keberadaannya selalu dalam kondisi siap pakai.

C. Fungsi Manajemen Sarana dan Prasarana
Keberadaan sarana dan prasarana sangat mendukung keberhasilan proses

pembelajaran disekolah selain itu, sarana dan prasarana yang dikelola dengan baik
dapat meningkatkan kualitas pendidikan, maka dari itu fungsi sarana dan prasarana
28 Manajemen Sarana dan Prasarana


berperan penting terhadap jalannya proses pembelajaran. Mulyasa (2003:49),
sarana pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung
dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar
mengajar, seperti gedung, ruangan kelas, meja, kursi, serta alat-alat dan media
pengajaran. Dengan demikian sarana pendidikan akan berperan baik ketika
penggunaan sarana tersebut dilakukan oleh tenaga pendidik yang bersangkutan
secara optimal. Prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar
yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.
Oleh karena itu, sarana dan prasarana pendidikan adalah satu kesatuan pendukung
terlaksanakannya proses belajar dan mengajar dengan baik dan optimal (Arifin, M
& Barnawi, 2012: 47-48).

Dirjen Dikdasmen Depdikbud (1997:7) bahwa fungsi sarana pendidikan yang
berupa alat pembelajaran, alat peraga, dan media pendidikan dalam proses
pembelajaran sangat penting guna mencapai tujuan pendidikan. Ditinjau dari
fungsinya terhadap proses belajar mengajar, prasarana pendidikan berfungsi tidak
langsung. Yang termasuk di dalam prasarana pendidikan adalah tanah, halaman,
pagar, tanaman, gedung/bangunan sekolah, jaringan jalan, air, telepon, serta
perabot. Sedangkan sarana pendidikan berfungsi langsung terhadap proses belajar
mengajar, seperti alat pelajaran, alat peraga dan media pendidikan. (Gunawan,
1996:115). Menurut Asri C. Budiningsih (1995:74) alat pembelajaran dapat berfungsi
sebagai alat penghubung pemahaman anak didik daei konsep konkret ke abstrak.

D. Dasar Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Dasar hukum sarana dan prasarana di sekolah secara hierarkis dapat

dikemukakan sebagai berikut:
a. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

yang mengatakan:

Manajemen Sarana dan Prasarana 29


1. Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan
prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial,
emosional dan kejiwaan peserta didik (pasal 45).

2. Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada
semua satuan pendidikan sebagaimana di maksud pada ayat (1) diatur lebih
lanjut dengan peraturan pemerintah.

b. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pasal 42 ayat (1) “Setiap satuan
pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan,
media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlakukan untuk menunjang proses pembelajaran
yang teratur dan berkelanjutan. Pasal 42 ayat (2) menyatakan “Setiap satuan
pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang
pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi,
ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah,
tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan
untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.”

c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007, tentang
Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah:
a. Sekolah/Madrasah menetapkan kebijakan program secara tertulis
mengenai pengelolaan sarana dan prasarana.
b. Program pengelolaan sarana dan prasarana mengacu pada standar sarana
dan prasarana dalam hal:
1. Merencanakan, memenuhi dan mendayagunakan sarana dan prasarana
pendidikan,

30 Manajemen Sarana dan Prasarana


2. Mengevaluasi dan melakukan pemeliharaan sarana dan prasarana agar
tetap berfungsi mendukung proses pendidikan.

3. Melengkapi fasilitas pembelajaran pada setiap tingkat kelas di
sekolah/madrasah,

4. Menyusun skala prioritas pengembangan fasilitas pendidikan sesuai
dengan tujuan pendidikan dan kurikulum masing-masing tingkat,

5. Pemeliharaan semua fasilitas fisik dan peralatan dengan memperhatikan
kesehatan dan keamanan lingkungan.

c. Seluruh program pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan
disosialisasikan kepada pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.

d. Pengelolaan sarana dan prasarana sekolah/madrasah:
1) Direncanakan secara sistematis agar selaras dengan pertumbuhan
kegiatan akademik dengan mengacu standar sarana dan prasarana,
2) Dituangkan dalam rencana pokok (master plan) yang meliputi gedung
dan laboratorium serta pengembangangannya.

e. Pengelolaan perpustakaan sekolah/madrasah perlu:
1) Menyediakan petunjuk pelaksanaan operasional peminjaman buku dan
bahan pustaka lainnya,
2) Merencanakan fasilitas peminjaman buku dan bahan pustaka lainnya
sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan pendidik,
3) Membuka pelayanan minimal enam jam sehari pada hari kerja,
4) Melengkapi fasilitas peminjaman antar perpustakaan, baik internal
maupun eksternal,
5) Menyediakan pelayanan peminjaman dengan perpustakaan dari
sekolah/madrasah lain baik negeri maupun swasta.

Manajemen Sarana dan Prasarana 31


f. Pengelolaan laboratorium dikembangkan sejalan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta dilengkapi dengan manual yang jelas
sehingga tidak terjadi kekeliruan yang dapat menimbulkan kerusakan,

g. Pengelolaan fasilitas fisik untuk kegiatan ekstrakurikuler disesuaikan
dengan perkembangan ekstrakurikuler peserta didik dan mengacu pada
standar sarana dan prasarana.

E. Prinsip-Prinsip Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah
Manajemen sarana dan prasarana terdapat beberapa prinsip yang perlu di

perhatikan agar tujuan dapat tercapai. Prinsip-prinsip tersebut menurut Bafadal
adalah (Bafadal, 2008:5):

a. Prinsip Pencapaian Tujuan
Pada dasarnya manajemen perlengkapan sekolah dilakukan dengan
maksud agar semua fasilitas sekolah dalam keadaan kondisi siap pakai.
Oleh sebab itu, manajemen perlengkapan sekolah dapat dikatakan berhasil
bilamana fasilitas sekolah itu selalu siap pakai setiap saat seorang personel
sekolah akan menggunakannya.

b. Prinsip Efisiensi
Dengan prinsip efisiensi berarti semua kegiatan pengadaan sarana dan
prasarana sekolah dilakukan dengan perencanaan yang hati-hati, sehingga
bisa memperoleh fasilitas yang berkualitas baik dengan harga yang relatif
murah. Selain itu juga berarti bahwa pemakaian semua fasilitas sekolah
hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat mengurangi
pemborosan. Dalam rangka itu maka, perlengkapan sekolah hendaknya
dilengkapi dengan petunjuk teknis penggunaan dan pemeliharaannya.
Petunjuk teknis tersebut dikomunikasikan kepada semua personel sekolah

32 Manajemen Sarana dan Prasarana


yang diperkirakan akan menggunakannya. Selanjutnya, bilamana dipandang
perlu, dilakukan pembinaan terhadap semua personel.
c. Prinsip Administratif

Di Indonesia terdapat sejumlah peraturan perundang-undangan yang
berkenaan dengan sarana dan prasarana pendidikan. Sebagai contohnya
adalah peraturan tentang inventarisasi dan penghapusan perlengkapan
milik negara. Dengan prinsip administratif berarti semua perilaku
pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah itu hendaknya selalu
memperhatikan Undang-Undang, peraturan, instruksi dan pedoman yang
telah diberlakukan oleh pemerintah.
Sebagai upaya penerapannya, setiap penanggung jawab pengelolaan
perlengkapan pendidikan hendaknya memahami semua peraturan
perundang- undangan tersebut dan menginformasikan kepada semua
personel sekolah yang diperkirakan akan berpartisipasi dalam
pengelolaan perlengkapan pendidikan.
d. Prinsip Kejelasan Tanggung Jawab
Di Indonesia tidak sedikit adanya lembaga pendidikan yang sangat besar
dan maju. Oleh karena besar, sarana dan prasarananya sangat banyak
sehingga manajemennya melibatkan banyak orang.
Bilamana hal itu terjadi maka perlu adanya pengorganisasian kerja
pengelolaan perlengkapan pendidikan. Dalam pengorganisasiannya, semua
tugas dan tanggung jawab semua orang yang terlibat itu perlu
dideskripsikan dengan jelas.
e. Prinsip Kekohesifan
Dengan prinsip kekohesifan berarti manajemen perlengkapan pendidikan di
sekolah hendaknya terealisasikan dalam bentuk proses kerja sekolah yang
sangat kompak. Oleh karena itu, walaupun semua orang yang terlibat

Manajemen Sarana dan Prasarana 33


dalam pengelolaan perlengkapan itu telah memiliki tugas dan tanggung
jawab masing-masing, namun antara yang satu dengan yang lainnya harus
selalu bekerjasama dengan baik.
Selanjutnya prinsip-prinsip manajemen sarana dan prasarana menurut Priansa
dan Somad (2014:136) adalah:
1. Ketersediaan
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya selalu ada pada saat dibutuhkan
sehingga mampu mendukung secara optimal proses belajar mengajar.
2. Kemudahan
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya mudah untuk digunakan sehingga
tidak sulit untuk mendapatkannya.
3. Kegunaan
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya antara yang satu dengan yang
lainnya saling mendukung sehingga proses belajar tidak akan mengalami
gangguan.
4. Kelengkapan
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya tersedia dengan lengkap sehingga
proses belajar mengajar tidak terganggu. Kelengkapan sarana sarana sekolah
akan menunjang dalam akreditasi sekolah.
5. Kebutuhan peserta didik
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya mampu memenuhi kebutuhan
peserta didik yang beragam.
6. Ergonomis
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya dirancang dalam konsep ergonomis
sehingga mendukung proses belajar dan mengajar yang sesuai dengan konsep
kenyamanan.

34 Manajemen Sarana dan Prasarana


7. Masa pakai
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya merupakan barang-barang yang
mampu dipergunakan dalam jangka panjang. Dengan demikian maka kualitas
sarana dan prasarana yang ada di sekolah harus berkualitas baik.

8. Pemeliharaan
Sarana dan prasarana sekolah hendaknya praktis untuk dirawat atau dipelihara
sehingga tidak menyulitkan dalam proses pemeliharaannya.

F. Ruang Lingkup Manajemen Sarana dan Prasarana

Dirjen Dikdasmen Depdikbud (1997:134) secara teoris sarana pendidkan tersebut

ditinjau berdasarkan jenis, fungsi, dan sifatnya. Nawawi membedakan menjadi

beberapa macam sarana pendidikan, yaitu (1) habis tidak dipakai; (2) bergerak

tidaknya pada saat digunakan; dan (3) hubungannya dengan proses belajar

mengajar (Nawawi, Hadari, 1987):

1. Apabila dilihat dari habis tidak dipakainya ada dua macam yaitu sarana

pendidikan yang habis dipakai

Sarana pendidikan habis pakai adalah segala bahan atau alat yang apabila

digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat. Contoh, kapur tulis,

beberapa bahan kimia untuk praktik guru dan siswa. Selain itu, ada sarana

pendidikan yang berubah bentuk, misalnya kayu, besi, dan kertas karton yang

sering digunakan oleh guru dalam mengajar. Contoh: tinta komputer, bola

lampu, dan kertas.

2. Sarana pendidikan tahan lama

Sarana pendidikan tahan lama adalah keseluruhan bahan atau alat yang dapat

digunakan secara terus menerus dan dalam waktu yang relatif lama. Contoh:

bangku sekolah, mesin tulis, atlas, globe, dan beberapa peralatan olah raga.

a. Jenis sarana pendidikan ditinjau dari bergerak tidaknya pada saat digunakan

yaitu:

Manajemen Sarana dan Prasarana 35


1. Sarana pendidikan yang bergerak.
Sarana pendidikan yang bergerak adalah sarana pendidikan yang bisa
digerakkan atau dipindahkan sesuai dengan kebutuhan pemakainya,
contohnya: lemari arsip sekolah, bangku sekolah.

2. Sarana pendidikan yang tidak bergerak.
Sarana pendidikan yang tidak bergerak adalah semua sarana pendidikan
yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan, misalnya saluran
dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

b. Jenis sarana pendidikan ditinjau dari hubungannya dengan proses mengajar,
dibedakan menjadi tiga kaslifikasi yaitu:
1. Alat pelajaran.
Alat pelajaran adalah alat yang digunakan secara langsung dalam proses
belajar mengajar, misalnya buku, alat peraga, alat tulis, dan alat praktik.
2. Alat peraga.
Alat peraga adalah alat pembantu pendidikan dan pengajaran, dapat berupa
perbuatan-perbuatan atau benda-benda yang mudah memberi pengertian
kepada anak didik berturut-turut dari yang abstrak sampai dengan yang
konkret.
3. Media pengajaran.
Media pengajaran adalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai
perantara dalam proses belajar mengajar, untuk lebih mempertinggi
efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pendidikan. Ada tiga jenis
media, yaitu media audio, media visual, dan media audio visual.

Menurut Dirjen Dikdasmen Depdikbud (1997:134-136) bahwa sarana pendidikan
ditinjau dari fungsinya dapat dikelompokkan menjadi empat macam, antara lain:
1) Sarana fisik sekolah meliputi:

36 Manajemen Sarana dan Prasarana


a) Bangunan sekolah, yang terdiri dari ruang kelas, ruang guru, ruang kepala
sekolah, ruang tata usaha, dan lain-lain.

b) Perabot sekolah, meliputi: kursi, meja belajar, meja kerja, papan tulis, dan
lain-lain.

c) Sarana tata usaha pendidikan, misal: buku induk siswa, buku rapor, alat tulis,
dan alat-alat Kantor lainnya.

2) Media pendidikan meliputi:
a) Perangkat keras atau hardware, yaitu segala jenis alat penampilan
elektronik untuk menyampaikan pesan-pesan dalam kegiatan pembelajaran,
meliputi: OHP, tape recorder, televisi, komputer, dan lain sebagainya.
b) Perangkat lunak atau software, yaitu segala jenis atau materi pengajaran
yang disampaikan melalui alat penampil dalam kegiatan pembelajaran.

3) Alat peraga meliputi:
a) Alat peraga yang dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran sebagai sarana
penjelas dan memvisualisasikan konsep, ide atau pengertian tertentu yang
terdiri dari: gambar-gambar anatomi, rangka badan, diagram, globe, peta,
dan lain sebagainya.
b) Alat praktik yaitu alat yang berfungsi sebagai sarana untuk berlatih
mencapai keterampilan tertentu.

4) Perbukuan sekolah meliputi macam-macam buku yang dipergunakan dalam
proses pembelajaran.

Dibawah ini dijelaskan satu persatu mengenai pengelolaan sarana dan prasarana
pendidikan diantaranya:
A. Perencanaan Sarana Prasarana Pendidikan
a. Pengertian

Tahap pertama yang dilakukan dalam pengelolaan sarana dan prasarana

Manajemen Sarana dan Prasarana 37


adalah perencanaan, perencanaan kebutuhan ini sangat penting karena untuk
menghindari terjadinya kesalahan yang tidak diharapkan. Perencanaan yang
matang akan membuat suatu kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik sesuai
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan memudahkan para pengelola untuk
mengetahui anggaran yang harus disediakan untuk pelaksanaan kegiatan
tersebut. Perencanaan yang baik daan cermat akan berdasarkan analisis
kebutuhan kegiatan dan skala prioritas yang sesuai dengan ketersediaan dana
(Hidayanto, 2011:22). Barnawi dan Arifin (2012:51) berpendapat perencanaan
berasal dari kata rencana, yang memiliki arti rancangan atau kerangka dari
suatu yang akan dilakukan pada masa depan. Husaini Usman (2006:61)
mendefinisikan perencanaan pada hakikatnya adalah proses pengambilan
keputusan atas sejumlah alternatif (pilihan) mengenai sasaran dan cara-cara yang
akan dilaksanakan di masa yang akan datang guna mencapai tujuan yang
dikehendaki serta pemantauan dan penilaian atas hasil pelaksanaannya, yang
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Menurut (Hidayanto,
2011:24) perencanaan adalah kegiatan yang akan dilakukan di masa yang akan
datang secara terpadu dan sistematis dengan menggunakan sumber daya yang
ada untuk mencapai tujuan.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa
perencanaan sarana dan prasarana pendidikan adalah kegiatan atau rancangan
diawal kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan pendidikan.
b. Proses

Syarif Hidayat (1996: 86) mengemukakan sarana pendidikan perlu dirancang,
direncana sesuai dengan kebutuhan. Merencanakan kebutuhan sarana perlu
memperhatikan beberapa hal antara lain:

38 Manajemen Sarana dan Prasarana


1. Perkembangan satuan pendidikan: satuan pendidikan yang berkembang akan
bebrbeda kebutuhannya apabila dibandingkan dengan satuan pendidikan yang
belum berkembang.

2. Sarana atau perlengkapan pendidikan yang sudah tidak dapat difungsikan atau
sebab lain perlu diganti atau dihapuskan.

3. Untuk persediaan sarana yang akan digunakan pada tahun ajaran yang akan
datang.
Arikunto (1987: 10) menyebutkan ada lima langkah prosedur perencanaan

sebagai berikut:
4. Mengadakan analisa terhadap materi pelajaran mana yang membutuhkan alat

atau media dalam penyampaiannya, dari analisa materi ini dapat didaftar apa
saja sarana yang dibutuhkan.
5. Mengadakan inventarisasi terhadap alat atau media yang telah ada. Alat atau
media yang ada perlu dilihat kembali, sambil mengadakan reinventarisasi. Alat
yang perlu diperbaharui atau dirubah, disendirikan untuk diserahkan orang
untuk memperbaiki.
6. Mengadakan seleksi terhadap alat atau media yang masih dapat dimanfaatkan,
baik reparasi maupun tidak.
7. Mencari dana (bila belum ada) atau menentukan dana mana yang akan
digunakan (bila sudah ada). Kegiatan dalam tahap ini bagaimana cara
memperoleh dana, baik dari dana rutin maupun non-rutin.
8. Menunjuk seseorang yang diserahi tugas untuk mengadakan alat. Sebaiknya
penunjukan ini dilakukan mengingat beberapa hal (keahlian dan sebagainya)
dan tidak hanya satu orang.

a) Perencanaan pengadaan barang bergerak baik perlengkapan dan perabot
sekolah harus memenuhi syarat-syarat tertentu (Arifin, M & Barnawi, 2012:
53):
Manajemen Sarana dan Prasarana 39


1. keadaan bahan baku atau material harus kuat, tetapi ringan, dan tidak
membahayakan keselamatan siswa,

2. konstruksi harus diatur agar sesuai dengan kondisi siswa,
3. dipilih dan direncanakan dengan teliti dan baik serta benar-benar

disesuaikan dengan usia, minat, dan taraf perkembangan siswa,
4. pengadaan pengaturan harus sedemikian rupa sehingga benar-benar

berfungsi bagi penanaman, pemupukan, serta pembinaan hal-hal yang
berguna bagi perkembangan siswa.
Adapun syarat perabot sekolah (Arifin, M & Barnawi, 2012:53) adalah:
1. sesuai dengan ukuran fisik pemakai (siswa) agar pemakainya fungsional
dan efektif,
2. bentuk dasar memenuhi syarat-syarat, yakni sesuai dengan aktivitas
siswa dalam pembelajaran,
3. kuat, mudah pemeliharaannya dan mudah dibersihkan,
4. memiliki pola dasar yang sederhana,
5. mudah, ringan untuk disimpan dan disusun serta fleksibel sehingga
mudah digunakan dan tahan lama,
6. mudah dikerjakan secara massa dan keamanan pemakai tinggi,
7. bahan yang mudah didapat di pasaran, dan disesuaikan dengan
keadaan setempat.
b) Perencanaan pengadaan barang tidak bergerak seperti tanah dan
bangunan harus memiliki kelebihan tertentu yang mendukung jalannya
proses pembelajaran, maka dari itu pemilihan tanah harus yang baik dan
strategis dalam artian bebas bencana, subur dan asri. Syarat-syarat yang
harus diperhatikan dalam pemilihan tanah untuk bangunan sekolah (Arifin, M
& Barnawi, 2012: 56):

40 Manajemen Sarana dan Prasarana


(1) mudah diakses dengan berjalan kaki ataupun berkendara,
(2) terletak disuatu lingkungan yang memiliki banyak hubungan dengan
kepentingan pendidikan,
(3) cukup luas bentuk maupun topografinya akan memenuhi kebutuhan,
(4) mudah kering jika digenangi air, bebas dari pembusukan, dan tidak
merupakan tanah yang k o n s tr uk s hasil buatan/timbangan urugan,
(5) tanahnya yang subur sehingga mudah ditanami dan indah pemandangan
alam sekitarnya,
(6) cukup air ataupun mudah dan tidak tinggi biaya jika harus menggali
sumur ataupun pipa-pipa di perairan,
(7) disamping persediaan air matahari yang cukup, harus pula merupakan air
yang bersih,
(8) memperoleh sinar matahari yang cukup selama waktu sekolah
berlangsung sehingga kelancaran dan kesehatan terjamin,
(9) tidak terletak di tepi jalan/persimpangan jalan yang ramai dan berbahaya
dan tidak berdekatan dengan rumah sakit, kuburan, pasar, pabrik-pabrik
yang membisingkan dan tempat-tempat lain yang memberikan pengaruh-
pengaruh yang negative dan serta harganya yang tidak terlalu mahal (murah).

B. Pengadaan Sarana Prasarana Pendidikan
a. Pengertian

Barnawi dan Arifin (2012) berpendapat pengadaan sarana dan prasarana
merupakan serangkaian kegiatan yang menyediakan berbagai jenis sarana dan
prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai tujuan
pendidikan. Sedangkan Gunawan (1996:135) berpendapat pengadaan sarana
dan prasarana adalah segala kegiatan untuk menyediakan semua keperluan
barang, benda, dan jasa bagi keperluan pelaksanaan tugas. Pengadaan sarana

Manajemen Sarana dan Prasarana 41


dan prasarana pendidikan adalah kegiatan penyediaan semua jenis sarana dan
prasarana sesuai dengan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
yang telah ditetapkan sebelumnya (Ananda Rusydi, 2017:39).

Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disimpulkan pengadaan sarana
dan prasarana pendidikan adalah seluruh kegiatan penyediaan sarana dan
prasarana sesuai rencana yang telah ditetapkan sebelumnya untuk mencapai
suatu tujuan pendidikan.

b. Dasar hukum
Pasal 1 Ayat 1 Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2010 dan

Perubahannya menekankan bahwa Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah adalah
kegiatan untuk memperoleh barang/jasa yang prosesnya dimulai dari identifikasi
kebutuhan hingga diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa
pemerintah. Dari pasal ini amat jelas bahwa tahapan pengadaan barang/jasa
pemerintah diawali dengan identifikasi kebutuhan, yang berarti harus dimulai
dengan proses mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan oleh sekolah namun,
kalau kita melihat realitas di lapangan, amat banyak pelaksanaan pengadaan yang
tumbuh subur bagaikan ilalang di tengah ladang padi Tidak pernah direncanakan,
tidak pernah dibicarakan, tidak pernah didiskusikan muncul mendadak bagaikan
siluman, tiba-tiba anggarannya ada, tiba-tiba lelangnya dilaksanakan, malah ada
yang tiba-tiba sudah dikerjakan tanpa tahu prosesnya ada atau tidak ada (Yanti, S.
D, 2019).

Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah Pasal 3 menyatakan pengadaan barang/jasa wajib
menerapkan prinsip-prinsip:

1. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan yang
ditetapkan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang

42 Manajemen Sarana dan Prasarana


ditetapkan dalam waktu singkat serta dapat dipertanggungjawabkan.
2. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan

yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang
sebesar-sebesarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan.
3. Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi
penyedia barang/jasa yang memenuhi persayaratan dan dilakukan
melalui persaingan yang sehat diantara penyedia barang/jasa yang setara
dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan
prosedur yang jelas dan transparan.
4. Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan
barang/jasa, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara
evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya
terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi
masyarakat luas pada umumnya.
5. Adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi
semua calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk memberi
keuntungan kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun.
6. Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun
manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang
berlaku dalam pengadaan barang/jasa.
Sistem pengadaan sarana dan prasarana sekolah dapat dilakukan dengan berbagai
cara, antara lain (Sulistyorini, 2009: 121):
1. Droping dari pemerintah, hal ini merupakan bantuan yang diberikan
pemerintah kepada sekolah. Bantuan ini sifatnya terbatas sehingga pengelola
sarana dan prasarana pendidikan di sekolah tetap harus mengusahakan
dengan cara yang lain.

Manajemen Sarana dan Prasarana 43


2. Pengadaan sarana dan prasarana sekoalah dengan cara membeli baik secara
langsung maupun melalui pemesanan terlebih dahulu.

3. Meminta sumbangan dari wali murid atau mengajukan proposal bantuan
pengadaan sarana dan prasarana sekolah ke lembaga-lembaga sosial yang
tidak mengikat.

4. Pengadaan perlengkapan dengan cara menyewa atau meminjam ke tempat
lain.

5. Pengadaan perlengkapan sekolah dengan cara tukar menukar barang yang
dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan sekolah.
Dalam usaha pengadaan barang, harus direncanakan dengan hati-hati agar

pengadaannya sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk mengadakan
perencanaan kebutuhan alat pelajaran dapat melalui tahapan tahapan sebagai
berikut (Minarti:259-290):

1. Mengadakan analisis terhadap materi pelajaran mana yang membutuhkan
alat atau media dalam penyampaiannya. Dari analisis ini, dapat didaftar alat-
alat atau media apa yang dibutuhkan. Ini dilakukan oleh dosen pengampu
atau guru bidang studi.

2. Apabila kebutuhan yang diajukan ternyata melampaui kemampuan daya beli
atau daya pembuatan, harus diadakan seleksi menurut skala prioritas
terhadap alat-alat yang mendesak pengadaannya. Kebutuhan yang lain dapat
dipenuhi pada kesempatan yang lain.

3. Mengadakan inventarisasi terhadap alat atau media yang telah ada. Alat yang
sudah ada perlu dilihat kembali, lalu mengadakan reinventarisasi. Alat yang
perlu diperbaiki atau diubah disendirikan untuk diserahkan kepada orang
yang dapat memperbaiki.

4. Mengadakan seleksi terhadap alat pelajaran atau media yang masih dapat
dimanfaatkan, baik dengan reparasi atau modifikasi maupun tidak.

44 Manajemen Sarana dan Prasarana


5. Mencari dana (bila belum ada). Kegiatan dalam tahap ini adalah mengadakan
perencanaan tentang bagaimana cara memperoleh dana, baik dari dana rutin
maupun non rutin.

6. Menunjuk seseorang (bagian perbekalan) untuk melaksanaan pengadaan alat.
Penunjukan ini sebaiknya mengingat beberapa hal, yaitu keahlian, kelincahan
berkomunikasi, kejujuran dan sebagainya dan tidak hanya seorang.

Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan menurut Barnawi dan M. Arifin

(2014) dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

1. Pembelian adalah pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan

dengan cara sekolah menyerahkan sejumlah uang kepada penjual untuk

memperoleh sarana dan prasarana sesuai dengan kesepakatan kedua belah

pihak.

2. Produksi sendiri merupakan cara pemenuhan kebutuhan sekolah melalui

pembuatan sendiri baik oleh guru, siswa maupun karyawan.

3. Penerimaan hibah merupakan cara pemenuhan kebutuhan sarana dan

prasarana pendidikan dengan jalan menerima pemberian sukarela dari pihak

lain.

4. Penyewaan adalah cara pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana

pendidikan dengan jalan memanfaatkan sementara barang milik pihak lain

untuk kepentingan sekolah dan sekolah membayarnya berdasarkan perjanjian

sewa-menyewa.

5. Peminjaman adalah cara pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana

pendidikan dengan jalan memanfaatkan barang pihak lain untuk kepentingan

sekolah secara sukarela sesuai dengan perjanjian pinjam-meminjam

6. Pendaurulangan adalah cara pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana

pendidikan dengan jalan memanfaatkan barang bekas agar dapat digunakan

untuk kepentingan sekolah.

Manajemen Sarana dan Prasarana 45


7. Penukaran adalah cara pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana
pendidikan dengan jalan menukarkan barang yang dimiliki sekolah dengan
barang yang dimiliki oleh pihak lain.

8. Rekondisi/ rehabilitasi adalah cara pemenuhan kebutuhan sarana dan
prasarana pendidikan yang telah mengalami kerusakan.

Pengadaan sarana dan prasarana di sekolah umumnya melalui prosedur berikut
(Direktorat pembinaan tenaga kependidikan, 2019:36):

a) Menganalisis kebutuhan dan fungsi sarana dan prasarana,
b) Mengklasifikasikan sarana dan prasarana yang dibutuhkan,
c) Membuat proposal pengadaan sarana dan prasarana yang ditujukan

kepada pemerintah bagi sekolah negeri dan pihak yayasan bagi sekolah
swasta,
d) Bila disetujui maka akan ditinjau dan dinilai kelayakannya untuk
mendapat persetujuan dari pihak yang dituju,
e) Setelah dikunjungi dan disetujui maka sarana dan prasarana akan
dikirim ke sekolah yang mengajukan permohonan pengadaan sarana
dan prasarana tersebut.

C. Inventarisasi Sarana Prasarana Pendidikan
a. Pengertian

Inventarisasi adalah suatu kegiatan melaksanakan penggunaan,
penyelenggaraan, pengaturan dan pencatatan barang-barang, dan menyusun
daftar barang yang menjadi milik sekolah ke dalam satu daftar inventaris
barang secara teratur (Ananda Rusydi, 2017:48). Sementara Direktorat
pembinaan tenaga kependidikan (2019:39) mengemukakan Inventarisasi
sarana dan prasarana pendidikan adalah pencatatan atau pendaftaran barang-

46 Manajemen Sarana dan Prasarana


Click to View FlipBook Version