mendapat fasilitas maka, pembelajaran dapat ia ikuti sendiri dan mengerjakan tugas sesuai
waktu yang ditentukan. Bagi mahasiswa yang sama sekali tidak dapat mengikuti perkuliahan
secara penuh dan prodi mengetahui keadaannya; kondisi ekonomi keluarga, maka prodi wajib
membantu mahasiswa tersebut dengan pertimbangan yang baik. Sedangkan, bagi mahasiswa
yang tidak bisa dihubungi saat proses PJJ selama pandemi, maka pembelajaran dan
penilaiannya ditangguhkan hingga prodi mendapatkan informasi tentang mahasiswa tersebut.
Diharapkan prodi membuat kebijakan yang adil untuk mahasiswa yang mengalami kendala
seperti di atas.
Untuk mendukung sistem pembelajaran masa pandemi tersebut, prodi menyediakan
media atau aplikasi yang memungkinkan mahasiswa dapat mengaksesnya dengan mudah. Isi
aplikasi tersebut meliputi materi, kelas prioritas, dan informasi terbaru dari prodi ataupun
kampus. berdasarkan hasil pendataan dan analisis data mahasiswa tiap minggu, kampus wajib
memberikan informasi secara rutin kepada mahasiswa melalui aplikasi atau media yang sama.
Mahasiswa dengan sukarela membagikan informasi tersebut ke mahasiswa yang tidak
dijangkau oleh prodi untuk membantu kerja prodi.
SIMPULAN
Dari uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut;
untuk menyelenggarakan pembelajaran efektif selama masa pandemi maka, pertama, sistem
koordinasi harus dibenahi dengan cara; (1) rektorat membentuk tim khusus yang bertugas
mengkoordinasi Fakultas dan Prodi sesuai protokol yang telah disepakati. (2) Prodi membentuk
tim prodi yang terdiri dari kepala prodi, dosen pembimbing, dosen pengampu mata kuliah serta
dari unsur himpunan mahasiswa. Tim prodi ini bertugas melakukan pendataan terhadap kondisi
mahasiswa setiap minggu. (3) Secara berkala, hasil analisis data mahasiswa dilaporkan ke tim
khusus rektorat, lalu rektorat mengolah data tersebut dan jika perlu mengeluarkan kebijaka
yang bermanfaat bagi mahasiswa.
Kedua, sistem pembelajaran mahasiswa dibenahi dengan cara; (1) mahasiswa
dikelompokkan berdasarkan hasil pendataaan prodi; kelompok prioritas dan kelompok bukan
prioritas. Kelompok prioritas terdiri dari mahasiswa yang mengalami kendala fasilitas,
informasi, dan kendala darurat lainnya. Kelompok bukan prioritas terdiri dari mahasiswa yang
memiliki fasilitas dan koneksi jaringan layak. (2) Pembelajaran, penugasan, dan pelatihan
dilaksanakan secara efektif dan efisien, serta kondisional. Proses pembelajran tidak
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
membebankan atau merugikan mahasiswa. (3) Waktu pembelajaran disesuaikan dengan
kondisi mahasiswa dan kondisi media pembelajaran, sehingga mahasiswa dapat mengeklorasi
pengetahuan secara efektif.
Ketiga, kampus mengeluarkan kebijakan keuangan yang mendukung kondisi
mahasiswa. Kebijakan tersebut antara lain sebagai berikut; (1) pembayaran uang SKS
dikurangi sesuai kondisi mahasiswa, (2) dispensasi pembayaran diperpanjang untuk semua
jenis pembayaran, dan (3) anggaran dana kampus bidang UKM dan BEM diikurangi, sehingga
dapat dialokasikan untuk kepentingan lainnya pada masa pandemi.
Sistem Pembelajaran Jarak Jauh tetaplah sebuah solusi yang baik selama masa
pandemi. Namun Pembelajaran Jarak Jauh yang efektif tergantung dari bagaimana kampus
menjalankan sistem yang penulis tawarkan di atas. Walaupun keadaan sedang tidak
mendukung, dengan diterapkannya sistem yang baku dan komprehensif, maka penulis yakin,
Pemebelajaran Jarak Jauh itu dapat berjalan efektif.
DAFTAR RUJUKAN
Munir.2009. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Bandung, Alfabeta.
Suwardi, Nurhadi. 2010. Evaluasi Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan. Jakarta,
Multi Kerasi Satudelapan
Rusman. 2008. Manajemen Kurikulum, Bandung. Program Studi Pengembangan Kurikulum
Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Penilaian Juri: 20,00
30,00
1. Kesesuaian 46,10
2. Orisinalitas
3. Analisis Masalah dan isi 96,10
TOTAL
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Nama : Afridus Sonsi Sandru
NIM 186114042
Prodi : Filsafat Keilahian
Judul Esai : “UTOPIA” PSBB
Prolog
Sesuatu yang negatif (derita) merupakan kenyataan yang selalu ingin
dihindari oleh setiap manusia. Kebahagiaan atau kebaikan adalah hasrat tertinggi
yang ingin digapai oleh setiap manusia. Berbagai usaha ditempuh—membangun
hidup sosial, ekonomi, spiritualitas, edukasional, dan lain sebagainya—demi
mewujudkan tatanan ideal yang dihasrati. Sesuatu dikatakan negatif bila ia bertolak
belakang dengan idealitas yang diharapkan atau diidami. Namun bukan menjadi
suatu kebaruan, bahwasannya suatu negativitas selalu menghampiri perjalanan
kehidupan manusia. Kebahagiaan sebagai hasrat tertinggi manusia selalu
mendorong manusia baik secara personal maupun komunal berjuang demi
mengembalikan tatanan hidup seperti yang diidealkan. Kita bisa mempersepsi
kenyataan ini di dalam ketersituasian manusia di dalam negativitas Covid-19 saat
ini.
Covid-19 dan PSBB
Covid-19 mulai ramai diperbincangkan dunia akhir Desember 2019.
Perbincangan ini tidak terlepas dari jumlah korban jiwa dan korban yang terinfeksi
Covid-19 di Wuhan Cina. Virolog WHO menyatakan SARS-CoV2-19 merupakan
penyebab penyakit Covid-19. Mula-mula, virus ini bertumbuh di Wuhan, China,
tetapi kemudian terus menyebar ke berbagai pelosok dunia termasuk Indonesia.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
Wabah ini telah merenggut jutaan manusia. Secara global hingga kini jumlah kasus
positif Covid-19 mencapai 7.183.035 dan jumlah kematian mencapai 408.015 jiwa1.
Sementara, secara nasional tercatat korban positif 16.006 dan meninggal 1.043 jiwa
di Indonesia (Jawa Pos, 5/5/2020). Berbagai upaya telah ditempuh baik secara
global, maupun nasional untuk mengurangi dan memutuskan rantai penyebaran dari
wabah ini. Secara nasional, ada beberapa upaya yang telah ditempuh, seperti
kampanye gerakan #stayathome, social dan psychical distancing, dilarang mudik
dan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Di antara semua bentuk kebijakan yang diambil, kebijakan PSBB patut
dicermati. Hal ini tidak terlepas dari kekacauan pada semua sektor kehidupan yang
dialami manusia, seperti sosial-budaya, kesehatan, ekonomi, dan lain sebagainya
sebagai konsekuensi yang harus ditanggung akibat dari penerapan kebijakan PSBB.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 9 tahun 2020
mengenai pedoman PSBB yang bertujuan untuk menangani penyebaran dari wabah
COVID-19. PSBB merupakan pembatasan semua kegiatan manusia dalam satu
teritori yang terduga telah terinfeksi Covid-19. PSBB bertujan untuk memblokir
dan mencegah penyebaran Covid-19 dalam skala yang lebih besar. PSBB mulai
diberlakukakn pada Jumat, 10 April 20202.
Kita mengingat bahwa Penerapan PSBB menjadi tidak mudah karena
hampir bertepatan dengan perayaan bulan puasa dan lebaran dari umat Muslim.
Mayoritas warga di zona merah wabah Covid-19 rata-rata memiliki tradisi mudik
untuk merayakan lebaran. Pemerintah menyeruhkan larangan mudik, tetapi
sebagian warga tetap mudik dengan berbagai alasan dan mengabaikan potensi
1https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-01397766/
2I Made Adi Widnyana, “Kajian Hukum dan Perbandingan tentang PSBB dengan PKM di Kota
Denpasar dalam Percepatan Penanganan Covid-19” dalam Ida Bagus Subrahmaniam Saitya dan I
Made Pasek Subawa, Covid-19: Perspektif Hukum dan Sosial Kemasyarakatan, (Denpasar:
Yayasan Kita Menulis, 2020) 10.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
penyebaran virus corona baru. Apalagi bagi mereka yang kehilangan pekerjaan atau
pendapatan tetap di kota, pulang kampung menjadi cara paling mungkin untuk
“menyelamatkan” hidup3. Konsekuensinya jelas, yakni akan ada peningkatan
jumlah kasus positif Covid-19.
Dari sisi ekonomi, PSBB yang bertujuan untuk memutus penyebaran Covid-
19 menuntut hampir semua orang tidak berinteraksi di ruang publik.
Konsekuensinya kegiatan ekonomi di hampir semua lini mengalami kemacetan.
Yang paling segera merasakan dampak adalah industri pariwisata, sektor usaha
mikro kecil menengah (UMKM), hingga sektor jasa yang berhubungan dengan
hospitality. Banyak industri yang merumahkan karyawan untuk sementara bahkan
sampai pada pemutusan kerja, dan melepas karyawan kontrak. Implikasinya bahwa
jumlah pengganguran dan orang miskin meningkat4.
Secara global, hanya dalam beberapa minggu sebagian besarnegara-negara
di dunia telah menutup aktivitas ekonominya, dengan harapan dapat mencegah
peningkatan jumlah korban kematian akibat Covid-19. Pabrik-pabrik berhenti,
restoran dan gerai belanja ditutup, dan angka pengangguran meroket di seluruh
dunia. Tidak hanya itu, dampak resesi global juga telah terasa di negara-negara yang
belum menerapkan karantina wilayah. Resesi global diperkirakan terjadi karena
penurunan drastis permintaan dan perdagangan global5.
Tantangan semakin berat. Keputusan perlu dibuat dengan
mempertimbangkan tentang bagaimana cara terbaik meningkatkan akses kesehatan
dan melindungi kesejahteraan masyarakat, termasuk para pekerja kesehatan yang
3”Covid-19 Tantangan bersama”, dalam Kompas, (Rabu, 22 April 2020).
4“Bersiap Menghadapi yang Terburuk”, Kompas (Sabtu 25 April 2020).
5Rema Hanna, “Perluasan Perlindungan Sosial untuk Kelas Menengah Bawah”, Kompas (Rabu 22
April 2020)
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
berada di garda terdepan. Lebih dari 15 dokter kurang dari satu bulan berguguran
karena terinfeksi Covid-19. Banyak keluhan dari para dokter yang merasa
kekurangan alat perlindungan diri (APD). Banyak organisasi masayrakat, individu
dan pemerintah pusat ataupun daerah kemudian mengadakan APD, para peneliti
dan dosen berinovasi menciptakan APD, perusahan juga mencoba
memproduksinya. Peningkatan jumlah pasien dalam pemantauan mengakibatkan
banyak tenaga kesehatan, khusunya dokter, kelelahan. Dalam keadaan kelelahan
dan kurang tidur tentu mengakibatkan daya tahan tubuh menurun, padahal mereka
bekerja dalam lingkungan beresiko. Hal ini diperparah jika persedian APD
terbatas6.
Perlu diingat juga, Covid-19 tidak hanya krisis kesehatan, tapi juga krisis
ekonomi. Dalam krisis seperti saat ini, sangat penting memperluas bantuan sosial
yang disediakan pemerintah. Ketika orang “dikurung”, atau ada pembatasan sosial,
bahkan tanpa pemerintah resmi, mereka tak dapat mencari nafkah. Jika anda tidak
dapat bekerja, implikasi logisnya: anda tidak akan dapat memenuhi kebutuhan
dasar anda. Bahkan, tanpa karantina wilayah secara penuh sekalipun, guncangan
ekonomi terjadi dan megancam mata pencaharian banyak orang7. Dampak sosial-
ekonomi masih akan terus berlanjut. Semuanya bergantung pada seberapa besar dan
seberapa lama wabah Covid-19 melanda dunia.
Dari antara semua sektor dan aspek kehidupan manusia yang terganggu,
sektor ekonomi perlu mendapat pencermatan yang lebih. Ketergangguan sektor
yang lain seperti sosial, kultural, spiritual, edukasional dapat diatasi dengan bantuan
kecanggihan teknologi media komunikasi saat ini. Sementara ekonomi merupakan
6Ghufron Mukti “Mengapa Banyak Dokter Gugur di Masa Covid-19?”, dalam Kompas (Rabu, 22
April 2020).
7Rema Hanna, “Perluasan Perlindungan Sosial untuk Kelas Menengah Bawah,” dalam Kompas
(Rabu 22 April 2020).
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
fondasi bagi kelanacaran dari berbagai aspek yang lainnya. Ketika keadaan
ekonomi stabil, maka manusia dapat memikirkan keluasan dari horison hidupnya.
Akan terjadi sebaliknya, yakni berbagai usaha akan ditempuh agar keadaan
ekonomi baik. Ekonomitas dalam hal ini dipahami secara sederhana, yakni setiap
individu memiliki pendapatan yang tetap dan terpenuhinya kebutuhan primer
(sandang, pangan dan papan). Namun ketika kenyaataan ini diganggu, manusia
akan hidup dalam keserakan karena dihantui berbagai beban psikologis.
Gustav Ranis, Frances Stewart, dan Alejandro Ramires mendefenisikan
perkembangan manusia sebagai keluasan pilihan setiap individu dengan cara yang
memungkinkan setiap individu untuk hidup lebih lama, lebih sehat dan lebih penuh.
Pertumbuhan ekonomi menyediakan sumber daya untuk memungkinkan
peningkatan berkelanjutan pembangunan manusia8. Tesis yang ingin dikemukakan
oleh Ranis dan kawan-kawan adalah terdapat hubungan yang kuat antara stabilitas
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan manusia. Stabilitas ekonomi adalah
fondasi bagi perkembangan berbagai aspek dan sektor kehidupan manusia.
Erns Bloch pernah mengemukakan bahwa kelaparan merupakan insting
dasariah dari setiap manusia. Setiap kita dapat mengalami kematian hanya dengan
tidak makan untuk beberapa hari. Kita bisa masih tetap hidup, saat tidak bersama
kerabat yang dekat, saat tidak menikmati hiburan, saat tidak berdoa, saat tidak
bersekolah, dan kegiatan yang lainnya selama hidup. Ketika setiap manusia telah
mengatasi kebutuhan untuk mengenyangkan kelaparannya maka ia akan memiliki
bentuk perjuangan yang lainnya. Kecukupan untuk makan membuat manusia
memperluas horison perawatan diri dan kehidupannya9.
8Gustav Ranis, Frances Stewart, dan Alejandro Ramires, “Economic Growth and Human
Development “ dalam World Development (Vol. 28, No. 2, 2000), 197-198.
9Bosco Puthur, From the Principle of Hope to the Theology of Hope, (Kerala: Pontifiical Institute
Publications, 1987), 73-74.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
Kekacauan perekonomian nasional dan global telah menjadi suatu petanda
(signifier) yang sangat signifikan dari kekacauan akibat penerapan dari Lockdown
wilayah dan PSBB. Petanda ini dapat memunculkan penanda-penanda yang lain
seperti kecemasan, ketakutan, kekawatiran dan berbagai disposisi batin destruktif
yang lainnya. Hal ini jelas akan berpengaruh pada perealisasian dari berbagai
proyek komunal dan personal dalam rangka menemukan makna dan tujuan hidup
di dalam ruang yang sedang dimukimi saat ini. Kekacauan ekonomi telah
mendatangkan kekacauan-kekacauan lain yang hampir menyentuh seluruh aspek
kehidupan manusia (fisik, psikis, dan metafisik). Dan hal ini tentu tidak terlepas
dari berbagai kebijakan (baca: PSBB) yang diambil demi mengurangi dan
memutuskan rantai penyebaran dari wabah Covid-19.
Utopianisme PSBB
KBBI mengartikan utopia sebagai sistem sosial politik yang sempurna yang
hanya ada dalam bayangan (khayalan) dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan
dalam kenyataan10. Pengertian ini jelas terinspirasi dari karangan Thomas More
mengenai Utopia. Utopia boleh dibilang merupakan sebuah karangan monumental
More. Karangan inilah yang mengabadikan namanya hingga saat ini. Sebagaimana
terekam dalam memori bahwa pada pertengahan Mei 1515, More, bersama dengan
Cuthbert Tunstall, Richard Sampson, Sir Richard Spenelly, dan John Clifford,
diangkat menjadi duta besar untuk Belanda. Namun mereka dituduh telah
besekongkol dengan penguasa Belanda, yakni Pangeran Charles. Pada pertengahan
Juli, konflik ini menjadi makin kompleks, dan mereka mengalami kebuntuan.
Kebuntuan ini menciptakan situasi yang tidak biasa bagi More. Para ahli
10 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/utopia
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
memperkirakan bahwa Thomas More menuliskan Utopia-nya di dalam periode
yang sulit ini11.
Banyal ahli yang masih mempertanyakan sekaligus memperdebatkan motif
utama More menulis Utopia-nya. Darko Suvinl mengemukakan bahwa Utopia
adalah konstruksi verbal dari komunitas manusia-semu tertentu. Dikatakan semu
karena More membayangkan dalam Utopia-nya suatu tatanan sosio-politik, norma,
dan hubungan individu yang diorganisasikan berdasarkan prinsip yang sempurna
daripada di komunitas penulis, konstruksi ini didasarkan pada kerenggangan yang
timbul dari suatu hipotesis historis alternatif. Konstruksi tatanan kemasyarakatan
yang dibayangkan More adalah konstruksi sastra masyarakat masa depan yang
sangat sempurna12. Kesemuan dari dunia fururistik yang dibayangkan oleh More di
dalam Utopia tampak pada makna etimologis dari term utopia. Istilah utopia berasal
dari bahasa Yunani 'eu-topia' yang berarti - tempat yang baik, atau lu-topia '- tidak
ada tempat. Secara harafiah kita dapat memahami bahwa tempat baik yang
dibayangkan oleh More tidak mempunyai tempat di dunia ini. Tempat baik yang
dibayangkan oleh More hanya semacam suatu angan-angan semata. Lantas dalam
hal apa kita dapat mengatakan bahwa penerapan kebijakan PSBB adalah sebuah
utopia atau angan-angan semata-mata?
PSBB mungkin dipikirkan sebagai salah satu kebijakan yang paling ampuh
untuk membatasi dan bahkan mengakhiri rantai penyebaran dari wabah Covid-19.
Namun melihat kenyataan di lapangan, tampaknya tidak seperti yang dipikirkan.
Jumlah kasus baru Covid-19 dan kematian terus mengalami peningkatan dari hari
ke hari hingga saat ini. Tujuan utama dari PSBB adalah demi memutuskan rantai
11Richard B. Ferguson, More's Utopia And The Golden Age ,Hal.13. diunduh dari https://ttu-
ir.tdl.org/bitstream/handle/2346/22315/31295015503393.pdf;sequence=1
12https://shodhganga.inflibnet.ac.in/bitstream/10603/136069/9/09_chapter%204.pdf
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
penyebaran wabah Covid-19, tetapi yang ditoreh dari kebijakan ini adalah yang
sebaliknya. Selain tidak tercapainya tujuan utama, malah berakibat pada macetnya
semua sektor kehidupan manusia sebagaimana telah digambarakan pada bagian
sebelumnya. Inilah utopia yang dimaksudkan oleh penulis di balik penerapan
PSBB.
Epilog
Kebijakan PSBB sebagai salah satu dari sekian banyak pilihan kebijakan
memang telah memberi konsekuensi positif dan negatif pada berbagai sektor
kehidupan manusia. Positifnya bahwa PSBB telah menghambat transmisi virus
corona yang sangat signifikan. Bisa dibayangkan apa yang terjadi apabila kebijakan
ini tidak diterapkan, kemungkinan akan terjadinya krisis yang melebihi hari ini.
Kebijakan ini tentu membawa pengaruh negatif seperti yang dialami saat ini.
Kebijakan ini mau tidak mau tetap menjadi opsi yang terbaik dalam ketersituasian
kita sekarang ini. PSSB sebagai salah satu kebijakan terpaksa harus diambil
berdasarkan pada pertimbangan objektif akan konsekuensi kejahatan (baca:
keburukan) yang paling minimum. Dalam konteks ini, prinsip minus malum13
(pilihan yang paling sedikit nilai keburukannya) merupakan prinsip yang dinilai
tepat dan kontekstual.
Daftar Pustaka
1. Bosco Puthur, From the Principle of Hope to the Theology of Hope, (Kerala:
Pontifiical Institute Publications, 1987).
2. C.B. Kusmaryanto, Bioetika, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2016).
13 C.B. Kusmaryanto, Bioetika, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2016), 214.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
3. I Made Adi Widnyana, “ Kajian Hukum dan Perbandingan tentang PSBB
dengan PKM di Kota Denpasar dalam Percepatan Penanganan Covid-19”
dalam Ida Bagus Subrahmaniam Saitya dan I Made Pasek Subawa, Covid-
19: Perspektif Hukum dan Sosial Kemasyarakatan, (Denpasar: Yayasan
Kita Menulis, 2020).
4. Gustav Ranis, Frances Stewart, dan Alejandro Ramires, “Economic Growth
and Human Development “ dalam World Development (Vol. 28, No. 2,
2000).
5. Richard B. Ferguson, More's Utopia And The Golden Age ,Hal.13.
diunduh dari
https://ttuir.tdl.org/bitstream/handle/2346/22315/31295015503393.pdf;seq
uence=1
6. Rema Hanna, “Perluasan Perlindungan Sosial untuk Kelas Menengah
Bawah”, Kompas (Rabu 22 April 2020).
7. Ghufron Mukti “Mengapa Banyak Dokter Gugur di Masa Covid-19?”,
dalam Kompas (Rabu 22 April 2020).
8. ”Covid-19 Tantangan bersama”, dalam Kompas, (Rabu 22 April 2020).
9. “Bersiap Menghadapi yang Terburuk”, Kompas (Sabtu 25 April 2020).
10. https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-01397766/
11. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/utopia
12. https://shodhganga.inflibnet.ac.in/bitstream/10603/136069/9/09_chapter%
204.pdf
Penilaian Juri: 20,00
1. Kesesuaian
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
2. Orisinalitas 30,00
3. Analisis Masalah dan isi 46,00
TOTAL 96,00
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam
Jaringan dan Penanganan COVID-19
Nama : Dominikus Setio Haryadi
NIM 176114018
Prodi : Filsafat Keilahian
Judul Esai : Inspirasi Ayub Dalam Bertahan di Tengah Kejenuhan
dan Kaitannya Untuk Hidup berdamai dengan COVID 19 di Yogyakarta
(Belajar dari Kisah Kitab Suci dan Ajaran Gereja Katolik)
1. Pembukaan
Saat ini, dunia universal sedang mengalami sebuah krisis besar yang terjadi. Covid
19, semua manusia saat ini sedang merasakan penderitaan yang begitu besar oleh karena
wabah penyakit tersebut. Selain wabah ini mematikan nyawa banyak orang, tentu juga
berefek pada kehidupan sosial, politik serta ekonomi suatu bangsa. Kecemasan dan
keresahan ini membuat orang sulit untuk berpikir secara jernih.
Albert Camus, seorang sastrawan sekaligus filsuf Aljazair menyebutkan bahwa
situasi kecemasan dan keresahan ini sebagai situasi absurditas. Dalam novelnya yang
berjudul Sampar, absurditas digambarkan melalui situasi wilayah yang dirundung bencana
besar akan wabah penyakit. Semua orang merasakan kecemasan, keresahan serta berada
dalam situasi ambang batas kemampuan diri.1 Dan disinilah, manusia mulai
mempertanyakan eksistensi diri dan Allah sendiri. Apa yang harus saya lakukan, dan
mengapa ini terjadi?.
2. Isi
21.. Persoalan Moral Etis2
Dalam sejarah, penyakit menular dapat dipahami sebagai penyakit yang sangat
cepat penyebarannya serta cukup mematikan Hal itu dapat dilihat di Eropa pada abad ke-
1 Asti Adriani Allien, Makna Kehidupan Menurut Albert Camus, pdf, dalam ejournal.undip.ac.id, diakses pada 10
Juni 2020 pkl 19.45 WIB.
2 D.Bismoko Mahamboro Penalaran Moral untuk Pandemi Penyakit Menular Diktat Mata Kuliah “Berdamai
dengan Sampar”, Fakultas Teologi Wedabhakti, 2020
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
14. Saat itu, ada wabah pes yang menyebabkan kematian 1/3 populasi Eropa. Selanjutnya,
muncul epidemi flu Spanyol tahun 1918 yang membunuh 20 – 100 juta penduduk. Selain
itu, juga ada wabah penyakit cacar (smallpox) di sepanjang abad 20 yang telah membunuh
300 – 540 juta penduduk bumi. Tidak hanya itu saja, ada juga penyakit-penyakit menular
baru yang muncul di abad ke-20 ini. Contohnya: HIV/AIDS, Ebola, TBC, SARS, MERS,
dan terakhir Covid-19.
Banyaknya pasien yang positif dan meninggal karena covid 19 ini dapat dikatakan
menjadi salah satu persoalan moral-etis yang begitu tampak. Hal ini ditambah lagi dengan
adanya kasus stigmatisasi negatif terhadap mereka serta ketidakadilan yang merekaalami.
Mengapa hal ini terjadi? Karena banyak orang merasa terlalu ketakutan yang luar biasa dan
memandang mereka-mereka yang dinyatakan positif sangatlah membawa virus yang bgitu
mematikan. Seharusnya, mereka harus mendapatkan dukungan moral yang baik, berupa
penanganan secara medis yang tepat, yakni dengan bantuan alat kesehatan maupun dengan
isolasi. Namun, sayangnya, di beberapa tempat hal ini kurang terjadi dengan baik.
2.2. Kebijakan Publik terkait Covid 19
Kebijakan publik ini sangat penting bagi masyarakat. Para kepala negara dan
pemerintah di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia telah memberlakukan
pembatasan, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga lockdown dengan
maksud menyelamatkan warga dari covid-19. Salah satunya yang dilakukan adalah
Psysical Distancing. Psycical Distancing ini berguna memutuskan rantai penyebaran
covid-19 yang pada akhirnya berdampak pada persoalan ekonomi, di mana banyak
perusahaan tidak beroperasi, sehingga terpaksa karyawan di PHK. Hal ini mengakibatkan
angka pengangguran melonjak naik dan pekerjaan sektor informal kesulitan mendapatkan
nafkah. Dapat dikatakan, bahwa banyak orang kehilangan pekerjaannya dan itu berimbas
pada perekenomian kelaurga yang menurun.
2.3. Sejenak Melihat dari Kisah Ayub dalam Kitab Suci3
Situasi dunia yang sedang diterpa covid 19 ini jelas sangat menimbulkan
ketidaknyamanan dalam diri dan hidup. Penderitaan jelas bukanlah suatu hal yang
3 https://www.youtube.com/watch?v=MJUwoWWBy8o&t=436s "Berdamai dengan Sampar", diakses 7 juni 2020
pkl 17.45WIB
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
diinginkan manusia dalam hidupnya. Namun, dalam kisah-kisah perjanjian Lama dalam
Kitab Suci menjelaskan juga situasi-situasi manusia yang tidak diinginkan, namun itu
terjadi, seperti tulah penyakit, pembuangan Israel ke Mesir, hingga kisah seorang saleh
namun ia mengalami penderitaan dalam hidup. Seorang saleh tersebut bernama Ayub.
Ayub merupakan seorang yang berasal dari tanah Us di wilayah sebelah Timur. Dia
digambarkan sebagai salah satu sosok manusia pada umumnya. Yang lebih dari Ayub
adalah dia digambarkan sebagai seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi
kejahatan. Maka lengkaplah gambaran kesempurnan dalam diri Ayub baik di mata dunia
maupun di mata Allah. (Ayub 1). Namun, dalam corak hidupnya yang saleh tersebut, ia
mengalami penderitaan. Mulai dari kehilangan Anak-anak lelaki dan perempuan,
Kambing, domba, dan hingga unta-untanya (Ayub 1:13-22). Kemudian ditambah lagi, ia
mengalami sakit kusta atau barah busuk (Ayub 2:7b-10).
Disini, Ayub mulai geram, mengapa ini semua terjadi ? Lebih baik ia mati daripada
harus mengalami situasi macam ini (Ayub 3). Ayub mulai bertanya pada Allah : Mengapa
Allah memberikan ini semua padanya, padahal ia merupakan seorang yang saleh?. Ayub
mulai mempertanyakan eksistensi dirinya serta Allah. Melihat Ayub yang seperti ini, ketiga
sahabatnya, yakni Elifas, Zofar dan Bildad tidak tinggal diam. Mereka mulai menegur serta
menasihati Ayub. Pertama, Elifas menasehati Ayub bahwa bila ia merupakan orang yang
beriman, maka bukan sepatutnya ia mempertanyakan situasi hidupnya yang menderita.
Kemudian, Bildad berpendapat bahwa Ayub sulit berpikir secara luas dan jernih sehingga
ia mulai mempertanyakan Allah dan keadaan hidupnya. Lalu, Zofar bepikir bahwa Ayub
yang mempertanyakan eksistensi Allah itu menunjukkan bahwa ia kurang rendah diri di
hadapan Allah. Pada intinya, mereka menegur dan menasihati Ayub untuk mengubah pola
pikirnya yang cenderung mempertanyakan hidup dan deritanya. Tentu, hal ini terjadi
karena ketiga sahabat itu tidak mengalami penderitaan tersebut. Ayub merasa bahwa ia
berada dalam situasi kekosongan hidup, tanpa makna. Dibalik rasa itu, Ayub masih
memiliki kepercayaan akan Allah (Ayub 26). Dan diakhir cerita, Ayub mendapatkan
keselamatan dan berkat dari Allah.
24.. Situasi Masyarakat Jogja di tengah Pandemi Covid 19
Berita 1 Juni 2020 menyatakan bahwa Update data terkait virus Corona (COVID-
19) di Yogyakarta, Senin (1/6/2020), terdapat total 237 kasus positif yang terkonfirmasi,
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
dengan rincian 167 orang sembuh, 8 meninggal, dan 153 orang masih menunggu hasil.
Sepanjang 24 jam terakhir, terdapat 6 kasus sembuh di Yogya. Dibandingkan dengan
provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, dsb kota Jogja belum mengalami situasi yang parah
terkait covid 19 ini (terbilang masih sedikit).4
Namun, bila hal ini tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh akan menjadi
situasi yang membahayakan bagi masyarakat Jogja. Kebijakan WFH dan SFH pun sudah
dilakukan dan diterapkan di dunia pendidikan Jogja. Namun, akhir-akhir ini, masih banyak
warga yang nekat bepergian sehingga lalu lintas di kota Jogja ini dapat dikatakan cukup
ramai. Kawasan wisata, seperti alun-alun dan malioboro mulai kembali padat pengunjung.5
Kota Jogja sebagai kota yang terkenal dengan sebutan kota pelajar notabene banyak dihuni
oleh para pelajar dan mahasiswa dari daerah non jogja (perantauan). Banyak dari mereka
pun yang juga memutuskan untuk tidak pulang dan menetap di jogja karena situasi pandemi
ini. Lain dari pada itu, dengan adanya kebijakan physical distancing, banyak para pekerja,
khususnya gojek, tukang becak, dsb yang “kehilangan” nafkah karena banyak orang yang
juga tidak bepergian dan memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi mereka ketika
bepergian. Situasi ini dapat dibilang tidak adil dan cukup memprihatinkan.
25.. Peran Mahasiswa di tengah Pandemi COVID 19
Dengan melihat situasi yang cukup memprihatinkan tersebut, tentu Mahasiswa
yang notabene ialah generasi penerus bangsa tidak dapat diam begitu saja. Mahasiswa
sebagai pemuda yang masih energik dapat berkesempatan melakukan tindakan pencegahan
dari virus tersebut terhadap diri sendiri, keluarga, serta lingkungan tempat tinggalnya Salah
satu yang dapat dilakukan adalah dengan tetap dirumah saja dan keluar apabila memang
adanya kepentingan yang mendesak.
Mahasiswa dapat memanfaatkan media sosial untuk membuat gerakan bersama
untuk seluruh warga Indonesia. Mahasiswa dapat mengajak masyarakat melalui media
online untuk mematuhi protokol kesehatan dan menjaga jarak fisik serta dapat menggalang
donasi yang ditujukan kepada yang membutuhkan ditengah pandemi. Mahasiswa dapat
pula menjadi relawan dengan menyalurkan bantuan logistik berupa makanan bergizi,
4 https://tirto.id/update-corona-di-jogja-1-juni-2020-total-237-positif-167-sembuh-fEnw , diakses 7 Juni 2020 pkl
17.30 WIB.
5 https://travel.tempo.co/read/1352021/sultan-marah-malioboro-ramai-wisatawan-nanti-harus-pakai-
barcode/full&view=ok, diakses 10 Juni 2020 pkl 20.00 WIB
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
vitamin, masker dan lain sebagainya. Hal ini lah sebagai wujud gerakan yang dapat
dijalankan untuk memerangi COVID 19. Dengan ini juga, sikap solidaritas sangatlah
penting untuk diwujudkan. Menumbuhkan solidaritas dengan mengikis sikap egoistik yang
justru malah dapat saling menjatuhkan.6 Banyak orang, dalam situasi pandemi ini yang
sangat menderita. Bahkan, mereka yang miskin menjadi sangat lemah dan tak dapat
berbuat banyak. Cinta dan perhatian pada mereka yang membutuhkan menjadi tindakan
yang harus terus diwujudkan, salah satunya dengan wujud tindakan aksi donasi dan sosial
dengan mengirimkan bantuan.7 Albert Camus dalam novelnya Sampar hendak mengajak
pula bagaimana sikap yang seharusnya muncul dan ada di tengah musibah yang sedang
melanda. Permasalahan pandemi menuntut jadiri diri manusia untuk dapat semakin
bereksistensi, dengan melihat diri yang berguna dan bergerak bagi keadaan di sekitar.8
Mahasiswa dan masyarakat dapat bergerak dan sungguh berjuang menghadapi situasi yang
bisa dibilang absurd ini, dengan berpegang pada prinsip solidaritas dan kesejahteraan
umum, selaras dengan apa yang ada dalam Ajaran Sosial Gereja.9
3. Penutup.
Situasi dunia saat ini merupakan situasi dunia yang sedang kacau dan tidak
mengenakkan untuk dijalani. Situasi ini merupakan situasi yang absurd dan sulit dipahami
manusia. Absurditas ini bukanlah situasi yang melulu negatif, Justru dari sini, manusia
dapat, bercermin serta mengubah sikap dan cara hidup dari yang tidak baik menjadi baik,
tidak kehilangan kepercayaan dan iman akan Allah, serta memunculkan semangat hidup
baru yang dilandasi dengan prinsip solidaritas. COVID 19 telah memunculkan era
kehidupan yang baru (New Normal). Semuanya memiliki aturan dan protokol kesehatan
yang ketat (masker & hand sanitizer menjadi “senjata” bepergian, dsb). Hal ini yang dapat
menjadi gerak bersama untuk saling peduli dengan menaati aturan kesehatan yang ada
demi kesejahteraan bersama. Melihat ini pula, mahasiswa dapat memberikan sumbangan
diri dengan mempelopori gerakan hidup sehat lewat kekreativitasan yang di unggah media
6 Pope Francis, Life After The Pandemic, Vatican: Vatican Press, 2020, 51.
7 Inspirasi dari Ajaran Sosial Gereja: “Dalam mengajarkan cinta kasih, Injil mengajari kita untuk secara istimewa
menghormati orang-orang miskin dan situasi khusus mereka di tengah masyarakat….” (OA art. 23)
8 Thomas Flyyn, Existentialism: A Very Short Introduction, New York: Oxford University Press, 2006, 102.
9 Brenda Appleby & Nuala P. Kenny, Relational Personhood, Social Justice and the Common Good: Catholic
Contributions toward a Public Health Ethics, dalam Christian Bioethics, 16(3), 296–313, 2010 Advance Access
publication on December 24, 2010, pdf.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
sosial yang juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan menimba inspirasi kisah
Ayub (ketahanan dalam situasi penderitaan dan mencoba menghadapi serta menjalani
dengan penuh perjuangan)
Penilaian Juri: 20
30
1. Kesesuaian 45,75
2. Orisinalitas
3. Analisis Masalah dan isi 95,75
TOTAL
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Nama : Nathania Putri Maharani
NIM 181334035
Prodi : Pendidikan Akuntansi
Judul Esai : Kontestasi Media di Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia
Pengantar
Informasi yang hadir di media saat ini sering menimbulkan kebingungan bagi
masyarakat umum. Setiap media berlomba - lomba menyajikan informasi yang sering
dipengaruhi oleh berbagai kepentingan. Sementara itu, pemerintah juga berusaha menyajikan
berita untuk memberi pengetahuan, pemahaman, dan kepastian di masyarakat, sehingga
masyarakat memiliki pegangan informasi yang akurat.
Saat ini, hampir semua negara di berbagai belahan dunia sedang mengalami pandemi
covid-19. Virus tak kasat mata tersebut telah memakan korban di lebih dari 181 negara, dengan
jumlah lebih dari 10.275.481 orang terinfeksi. Jumlah korban meninggal pun mencapai
505.071 orang, dan pasien sembuh sebanyak 5.577.055 orang (Worldometers, 2020). World
Health Organization (WHO) sudah menetapkan virus covid-19 sebagai pandemi karena terjadi
penyebaran virus yang sangat cepat.
Amerika Serikat saat ini menjadi episentrum covid-19 dengan total jumlah mencapai
2.637.241 kasus, 128.438 kematian, dan 1.093.545 pasien sembuh. Kemudian, di peringkat
kedua disusul oleh Brazil dengan 1.345.470 kasus, 57.659 kematian, 733.848 pasien sembuh.
Setelah itu adalah Rusia dengan 641.156 kasus, 9.166 kematian, dan 403.430 pasien sembuh.
Di Indonesia sendiri, saat ini terdapat 55.092 kasus, 2.805 kematian, dan 23.800 pasien sembuh
(Worldometers, 2020). Angka ini akan terus bertambah apabila masih banyak pelanggaran
yang dilakukan oleh setiap warga negara yang mengabaikan protokol kesehatan dan acuh
terhadap himbauan dari pemerintah.
Di masa pandemi covid-19 ini, media menjadi hal yang paling dekat dengan
masyarakat. Melalui gawai, masyarakat dapat mengakses berita mengenai covid-19 dengan
sangat mudah dan kemudian menjadi konsumsi informasi sehari - hari masyarakat. Akibatnya,
frekuensi media dengan headline mengenai pandemi covid-19 menjadi tinggi. Tagar mengenai
Covid-19 di media elektronik melalui website pun menempati peringkat pertama dalam
pencarian. Media televisi secara masif juga memberikan berita mengenai covid-19 selama 24
jam dalam satu hari. Dalam waktu singkat, pandemi covid-19 telah mengubah media menjadi
salah satu institusi sosial yang sedang berada pada titik keramaian.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Media tidak hanya berinteraksi dengan satu institusi saja, namun juga berinteraksi
dengan berbagai institusi di luar itu. Media akan berinteraksi dengan pemerintah, masyarakat,
dan pasar. Pierre James (1990) dalam hal ini memaknai pemerintah sebagai perwujudan
negara; masyarakat sebagai komunitas audience yang menjadi komunikan dalam proses
bermedia; dan pasar sebagai tempat bertemunya penawaran dan permintaan. James
berpendapat bahwa proses kapitalisasi informasi mengakibatkan media lebih memihak pada
kepentingan pasar. Kepentingan pragmatis seperti clickbait sering menjadi prioritas utama
dalam mendukung proses kapitalisasi informasi bagi media tersebut.
Perlu disadari bahwa media di samping memiliki visi maupun idealisme juga bergerak
untuk mendapatkan profit oriented. Banyaknya media yang ada saat ini seakan menciptakan
arena kontestasi. Bagi media tercepat dalam menyajikan berita, dialah yang mendapat hati di
masyarakat. Padahal, ketika mengutamakan kecepatan tanpa mempedulikan kebenaran melalui
proses cross check pada sumber utamanya justru akan menjadi boomerang bagi media itu
sendiri.
Isi
Salah satu media yang menjadi sorotan pada esai ini adalah The Telegraph. Di dalam
media The Telegraph terdapat banyak artikel mengenai pandemi covid-19 yang informatif,
namun dengan penggunaan bahasa yang justru membangkitkan rasa takut, seperti misalnya
dalam menggambarkan adegan lapangan di Wuhan.
“Pasien yang memakai masker pingsan di jalan; Ratusan warga yang
ketakutan berjejer pingsan di jalan; Ratusan warga yang ketakutan berbaris
berdempetan, berisiko menulari satu sama lain; Di koridor rumah sakit yang sempit
ketika mereka menunggu untuk dirawat oleh dokter dengan pakaian pelindung;
Seorang tenaga medis yang berteriak penuh kekalutan” (Conversation, 2020)
Pilihan kata yang digunakan mengindikasikan kesengajaan dalam penggunaan pilihan
kata yang berlebihan untuk mendapatkan hati masyarakat. Tujuan dari pilihan kata tersebut
adalah untuk membangun rasa penasaran para pembaca (clickbait), sehingga para pembaca pun
akan lekas membaca konten tersebut. Hal ini dapat membahayakan para pembaca karena
berpotensi menjadi infodemik. Pemberitaan media mengenai covid-19 yang membangkitkan
rasa takut jauh lebih membahayakan dari pandemi covid-19 itu sendiri. Seperti yang
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
diungkapkan Hermin (Webinar Fisipol UGM, 7 April 2020) bahwa di saat yang bersamaan
dengan pandemi covid-19 ini, masyarakat juga dihadapkan dengan masalah wabah informasi
(infodemic). Jumlah informasi yang luar biasa membombardir justru membuat masyarakat sulit
mengidentifikasi informasi mana yang benar dan mana yang memberikan tawaran solutif untuk
menghadapi pandemi ini. Persoalan seperti infodemik ini terkadang lebih mengerikan daripada
virus itu sendiri.
Semestinya, media memiliki fungsi seperti yang disampaikan oleh Laswell (McQuail,
1975). Fungsi media yaitu sebagai pemberi informasi yang berada di luar jangkauan
masyarakat; melakukan seleksi, evaluasi dan interpretasi dari informasi. Fungsi media dalam
evaluasi dan interpretasi informasi rupanya belum berjalan dengan baik karena masih banyak
media yang cenderung membuat berita yang menakutkan, hingga berujung pada keresahan
masyarakat.
Dilansir dari situs kominfo, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo)
Johnny G. Plate menyatakan bahwa sebanyak 554 berita hoax atau informasi bohong tentang
pandemi covid-19 telah tersebar di sejumlah platform media (Kominfo, 2020). Saat ini, hampir
semua media dibanjiri informasi mengenai Covid-19. Kecepatan informasi yang membanjiri
media bisa dilihat dengan menggunakan kata kunci “covid-19 atau virus corona” seringkali
menempati top searching. Isi berita pun cenderung berbeda dengan headline berita yang
berujung pada pemberitaan topik secara bombastis namun isinya tidak substantif. Dengan
menulis judul yang bombastis, media seringkali mengesampingkan kualitas isi berita. Media
hanya mengejar sesuatu yang sifatnya populis dan clickbait demi mendukung proses
komersialisasi industri media. Media kemudian berlomba - lomba hanya untuk menjadi yang
tercepat, terupdate dalam menyampaikan berita pandemi covid-19. Hal itu terbukti ketika
media seringkali menuliskan kalimat yang memancing rasa ingin tahu pembaca dengan
menulis judul berita yang bersifat persuasif. Tingkat penasaran para pembaca akan
berimplikasi pada jumlah “klik dan views” guna meraih komersialisasi berita yang terkadang
mengesampingkan kualitas berita dan lebih banyak menyebarkan berita yang bersifat hoax.
Media menjadi bias kepentingan dan menimbulkan ketidakpastian informasi di kalangan
masyarakat
Media televisi pun juga ternyata juga tidak luput memberikan ketakutan pada
masyarakat. Sejak awal pandemi covid-19, media kurang memberi edukasi dalam menghadapi
covid-19. Hal itu tercermin ketika Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan
Agus Putranto mengumumkan tentang dua kasus pertama positif virus corona pada 2 Maret
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
lalu. Masyarakat justru disajikan mengenai dampak mengerikan dari virus covid-19 dengan
cara penggunaan masker respirator oleh reporter. Masker respirator merupakan masker yang
lebih cocok dipakai untuk para pekerja bangunan atau para peneliti untuk menghindari gas
yang berbahaya. Penggunaan masker respirator oleh reporter justru menimbulkan ketakutan
masyarakat awam karena masyarakat akan langsung menginterpretasi bahaya virus covid-19
melalui jenis masker tersebut. Reporter seharusnya cukup menggunakan masker medis yang
sudah lazim dipakai oleh banyak orang.
Kemudian, metode reporter dalam pemberitaan pandemi covid-19. Reporter yang
meliput berita tentang covid-19 secara langsung di dekat rumah pasien positif yang terindikasi
corona di Depok, Jawa Barat (Pos, 2020) justru semakin memberi gambaran betapa
mengerikannya dampak virus covid-19. Ketakutan yang berlebih pada masyarakat ini akan
berdampak pula pada fenomena panic buying. Masyarakat kemudian berbondong - bondong
membeli barang pokok dengan jumlah yang tidak wajar sebagai “amunisi” dalammenghadapi
masa pandemi covid-19. Akibatnya, semua antiseptic, masker, dan hand-sanitizer langsung
habis terjual di pasar. Tingkah laku dan pola pikir masyarakat ini merupakan salah satu dampak
dari pemberitaan pandemi covid-19 yang justru membangkitkan rasa takut.
Fenomena yang terjadi di atas sangat tepat dikaitkan dengan teori spiral keheningan.
Teori ini menyatakan bahwa kelompok minoritas cenderung akan diam atau tidak berani
mengemukakan pendapatnya karena takut terisolasi. Kelompok minoritas akan selalu
mengikuti pendapat kelompok mayoritas, sehingga kaum minoritas tenggelam dalam
kebungkamannya terhadap kaum mayoritas (Noelle-Neumann, 1983). Teori spiral keheningan
menegaskan bahwa ketika seseorang memiliki opini dari berbagai isu yang tengah hangat
diperbincangkan, kaum minoritas akan merasa terbungkam karena memiliki keraguan dan
ketakutan dalam menyampaikan opini. Pemerintah menyatakan bahwa terdapat kasus corona
di Indonesia, namun masyarakat ada yang sepakat dan ada yang meragukan. Mereka yang
meragukan bersikukuh bahwa Indonesia bebas corona. Namun, ketika pemerintah secara resmi
mengumumkan bahwa terdapat kasus positif corona, kepanikan di masyarakat pun terjadi.
Koordinasi yang kurang baik juga terlihat antara pemerintah pusat dengan pemerintah
provinsi maupun daerah. Komunikasi yang kurang baik terlihat ketika masing - masing daerah
melakukan kebijakan sendiri karena pemerintah pusat belum memberikan kepastian dalam
memutuskan suatu kebijakan. Pemerintah saat itu justru terkesan santai dalam menanggapi
pandemi covid-19 yang sudah merajalela di berbagai negara. Saat angka penyebaran Covid-19
mulai tinggi, pemerintah baru mulai merevisi kebijakan yang dilakukan daerah. Misalnya,
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Pemprov DKI yang sudah membuat kebijakan pembatasan transportasi umum, kemudian pusat
baru merevisi kebijakan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah belum kompak
dalam menangani pandemi covid-19.
Survei yang dilakukan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) bersama lembaga survei
Indo Barometer menunjukkan tingginya tingkat kekhawatiran masyarakat mengenai
pemberitaan covid-19, yakni 68%. Data tersebut terbagi menjadi dua, yaitu 21,3 % merasa
sangat takut dan 46,7% merasa cukup khawatir. Salah satu penyebabnya adalah pemberitaan
media yang terkesan menakuti dan tidak mengedukasi masyarakat, sehingga menimbulkan
kebingungan dan keresahan di tengah masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap berita
yang disampaikan media sebagai institusi komunikasi akan menurun karena bias informasi
yang kurang faktual. Produksi berita oleh media pun dapat mengubah suasana masyarakat
menjadi bingung dan takut.
Berkaitan dengan hal ini, masyarakat akan mendapati sikap pro dan/atau kontra dalam
menanggapi berita yang disampaikan oleh media. Masyarakat yang rasional akan melakukan
check and balance dalam membaca sebuah berita. Masyarakat model ini biasanya biasanya
akan sangat waspada dengan judul yang provokatif agar terhindar dari berita hoax.
Membangun pola pikir yang rasional menjadi pilihan tepat di masa infodemik saat ini
mengingat banyak sekali berita provokatif yang beredar. Misalnya, pegawai bank yang
terinfeksi virus covid-19. Media akan segera memberi highlight pada instansi tersebut tempat
orang yang terindikasi covid-19. Namun saat diperiksa lebih lanjut, ternyata isi dari berita
tersebut berupa hasil rapid test yang positif.
Lain halnya dengan tipe masyarakat yang mengedepankan sifat spontan dan inderawi.
Masyarakat tipe ini biasanya akan menerima sesuatu dengan mentah atau spontan dan
menimbulkan bahwa pemerintah belum melakukan penanggulangan pandemi covid-19 dengan
baik. Akibatnya, masyarakat yang sudah blind minded akibat dari pemberitaan media secara
terus - menerus akan selalu kontra dengan pemerintah atau menyalahkan pemerintah. Kominfo
melakukan riset bahwa terdapat 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal
berita, namun yang terverifikasi sebagai situs resmi tak sampai 300 (Kominfo, 2020).
Masyarakat yang kurang mencermati situs dengan teliti akan memiliki asumsi yang bermacam
- macam. Asumsi yang terbangun akibat membaca berita yang tidak resmi justru akan
menghantar masyarakat kepada kebingungan dan keresahan.
Kesimpulan
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Kontestasi media komunikasi dalam era industri informasi sebaiknya tetap mengacu
pada etika dan kearifan, terutama dalam menyajikan sebuah informasi tentang wabah pandemi
covid-19. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar atas perkembangan pandemi covid-
19 sebagai pedoman untuk menumbuhkan kesadaran baru dalam menanggulangi penyebaran
covid-19. Pemerintah dan media sebaiknya bekerja sama untuk menghadirkan portal informasi
yang terjangkau dan akurat bagi masyarakat.
Referensi
CNN Indonesia. (2020). Rentetan Penyebab Corona Merebak di Italia. Diakses dari
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200324141109-134-486508/rentetan-
penyebab-corona-merebak-di-italia
Conversation, T. (2020). Virus Corona: Cara Media Meliput Malah Sering Bikin Takut dan
Panik. Diakses dari https://voxpop.id/virus-corona-cara-media-meliput-malah-sering-
bikin-takut-dan-panik/
Detik. (2020). Penyebar Hoaks Corona di Bondowoso Ngaku Hanya Ingin Terlihat Keren.
Diakses dari https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4944059/penyebar-hoaks-
corona-di-bondowoso-ngaku-hanya-ingin-terlihat-keren.
Farisa, Fitria Chusna. (2020). UPDATE: Tambah 1.082, Saat Ini Ada 55.092 Kasus Covid-19
di Indonesia. Diakses dari
https://nasional.kompas.com/read/2020/06/29/15442781/update-tambah-1082-saat-
ini-ada-55092-kasus-covid-19-di-indonesia?page=all.
Fisipol. (2020). Serial Diskusi Fisipol UGM: Komunikasi Publik Masa Krisis COVID-19.
Diakses dari http://fisipol.ugm.ac.id/serial-diskusi-fisipol-ugm-komunikasi-publik-
masa-krisis-covid-19/
Forsyth. (2006). Group Dynamics. New York: Cole-Wadsworth.
Hidayat, Khomarul (Ed.). (2020). Soal wabah corona, Donald Trump remehkan peringatan
badan intelejen AS? Diakses dari https://internasional.kontan.co.id/news/soal-wabah-
corona-donald-trump-remehkan-peringatan-badan-intelejen-as
James, P. (1990). State Theories And New Order Indonesia. Melbourne: Monash Papers On
Southeast Asia.
Umah, Anisatul. (2020). Kominfo: Ada 554 Hoax Soal COVID-19 dengan 89 Tersangka.
Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200418175206-37-
152897/kominfo-ada-554-hoax-soal-covid-19-dengan-89-tersangka
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
McQuail, D. (1975). Toward Sociology of Mass Communication. London: Collier-MacMillan.
Noelle-Neumann, E. (1983). The Effect of Media on Media Effects Research. Diakses dari
https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.1983.tb02417.x.
Pos, S. (2020). Istana Sindir Reporter TVOne Pakai Masker Respirator, Ini Reaksi Karni Ilyas.
Diakses dari https://www.solopos.com/istana-sindir-reporter-tvone-pakai-masker-
respirator-ini-reaksi-karni-ilyas-1050013.
Worldometers. (2020). worldometers. Diakses dari www.worldometers.com:
https://www.worldometers.info/coronavirus/.
Penilaian Juri: 20,00
30,00
1. Kesesuaian 45,00
2. Orisinalitas
3. Analisis Masalah dan isi 95,00
TOTAL
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Nama : Zefta Marcell Wijanarto
NIM 174214161
Prodi : Sastra Inggris
Judul Esai : Analisis Resistensi Masyarakat Terhadap Kebijakan Pembatasan Sosial
Berskala Besar (PSBB) Pemerintah Indonesia Melalui Perspektif Teori Strukturasi
Giddens
Pengantar
Persebaran pandemi covid-19 telah menggegerkan dunia beberapa bulan ini. Sudah
hampir tiga bulan lebih pemerintah Republik Indonesia menggelar konferensi pers guna
mengumumkan kasus positif covid-19, namun publik tampak acuh tak acuh terhadap pandemi
covid-19 ini. Pemerintah dan media sudah gencar mengumumkan bahaya virus covid-19,
antara lain menyebabkan batuk, demam, kesulitan bernafas, hingga menyebabkan kematian.
Untuk menertibkan masyarakat dan mengurangi tingkat penularan virus covid-19, pemerintah
segera membuat kebijakan. Salah satu kebijakan tersebut adalah Pembatasan Sosial Berskala
Besar (PSBB). PSBB atau bisa diartikan sebagai lockdown parsial merupakan salah satu
intervensi yang dilakukan pemerintah setelah mengimbau masyarakat untuk menjaga jarak
(physical distancing) (Dwirahmadi, 2020).
Terhitung sejak 3 Mei 2020, penerapan PSBB semakin meluas di empat provinsi dan
22 kabupaten/kota (Sakti, 2020). PSBB diyakini sebagai cara efektif untuk memutus
persebaran dan pemerataan kurva eksponensial. Para ahli telah membuktikan penghitungan
tersebut secara matematis. Mereka mengatakan bahwa penyebaran dapat diperlambat jika
masyarakat mempraktikkan “jarak sosial” dengan menghindari ruang publik dan membatasi
pergerakan mereka secara umum (Stevens, 2020). Implikasi dari PSBB bertujuan untuk
membatasi mobilitas masyarakat, yaitu dengan membatasi jumlah penumpang transportasi
umum dan menutup sementara tempat - tempat umum seperti pasar, sekolah, perkantoran,
tempat ibadah, dll.
Di tengah lonjakan kurva sebaran pandemi covid-19 ini, banyak masyarakat yang tidak
mengindahkan kebijakan PSBB. Hal tersebut dibuktikan melalui kurva kasus covid-19 yang
terus meningkat di Indonesia. Ahli Epidemiologi, Pandu Riono Indonesia mengatakan bahwa
Indonesia tengah berjalan menuju puncak kurva pandemi virus covid-19 (Mashabi, 2020). Di
lain sisi, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo menyatakan
sebanyak 81 persen masyarakat ingin segera mengakhiri Pembatasan Sosial Berskala Besar
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
(PSBB). Fenomena ini menunjukkan bahwa terdapat resistensi masyarakat terhadap kebijakan
PSBB. Melalui esai ini, penulis hendak menganalisis resistensi masyarakat terhadap kebijakan
PSBB yang didukung dengan teori strukturasi Anthony Giddens.
Dalam teori strukturasi Giddens, relasi negara-media-masyarakat dilihat sebagai
sebuah sistem yang di dalamnya terdapat perilaku - perilaku yang ditujukan untuk mencapai
cita-cita. Di dalam sistem tersebut, terdapat struktur yang terdiri atas aturan - aturan dan sumber
daya yang digunakan oleh agensi dalam menjaga dan memelihara sistem tersebut. Negara dapat
dipahami sebagai struktur dan masyarakat dapat dipahami sebagai agensi, begitu juga media
yang merupakan salah satu elemen dari masyarakat. Struktur akan dipelajari oleh agensi sesuai
dengan budaya organisasi, pengalaman, dan nilai pribadinya. Struktur dipandang sebagai
sesuatu yang berlaku dan dipatuhi, namun di saat yang bersamaan juga memiliki kemungkinan
untuk berubah. Peraturan - peraturan yang ada di dalam struktur sangat mungkin berubah
karena faktor agensi sangat diperhitungkan. Agensi dapat menyetujui atau melakukan
resistensi terhadap peraturan yang ada di dalam struktur.
Menurut Giddens, struktur dan agensi harus dipandang sebagai dualitas (duality) di
mana hubungan antara keduanya bersifat dialektik. Artinya, kedudukan antara struktur dan
agensi saling mempengaruhi satu sama lain dan hal ini berlangsung terus menerus, tanpa henti
(Ashaf, 2006). Oleh karena itu, fokus utama dari teori ini adalah “social practice”, yaitu
bagaimana hubungan agensi (masyarakat dan media) dengan struktur (negara) dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari. Dalam proses tersebut, agensi tidak bisa dipandang
sebagai manusia statis yang pasrah menerima segala kondisi yang diciptakan struktur karena
mereka memiliki fungsi dan kesadaran agensi yang digunakan untuk mencapai tujuan personal
yang sangat heterogen.
Isi
Resistensi masyarakat terhadap penerapan kebijakan PSBB dipicu oleh beberapa hal
yang merugikan masyarakat. Yang pertama fenomena penolakan PSBB yang terjadi di daerah.
Situs kompas.com pada tanggal 20 Mei 2020 memberitakan bahwa terdapat penolakan PSBB
oleh pedagang kaki lima (PKL) dan warga di Kota Dumai, Riau (Purnamasari, 2020). PKL dan
warga menolak kebijakan PSBB karena mereka menilai bahwa PSBB telah menyebabkan
penurunan pendapatan. Survei jurnalisme presisi tentang PSBB dan mudik lebaran yang
dilakukan oleh puslitbangdiklat RRI dan Indo Barometer menunjukkan 40,3% responden
mengatakan kesulitan mencari nafkah sebagai alasan utama menolak PSBB. Dalam hal ini
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
terdapat ketidaksesuaian antara kehendak struktur dan agensi. Ketidaksesuaian tersebut
disebabkan karena peraturan yang diciptakan oleh struktur hanya mengutamakan kepentingan
parsial, yakni memutus rantai persebaran virus covid-19. PSBB dinilai telah mengabaikan
masyarakat yang bergantung pada perekonomian harian. Kesadaran agensi untuk bertahan
hidup ternyata tidak sejalan dengan peraturan struktur. Ketidaksesuaian antara idealisme
struktur dengan kesadaran agensi untuk bertahan hidup telah menimbulkan resistensi berupa
penolakan PSBB di daerah.
Di lain sisi, sifat kebijakan PSBB yang tergolong baru ini juga dinilai berpengaruh
terhadap kepatuhan masyarakat. Ketika suatu kebijakan belum pernah diterapkan sebelumnya
atau belum mapan, maka kemungkinan masyarakat untuk patuh dan menjalankan kebijakan
tersebut sangat minim. Masyarakat melakukan tindakan resistensi terhadap kebijakan baru
tersebut karena fakta bahwa kebijakan tersebut sangat merugikan masyarakat dengan tingkat
perekonomian menengah ke bawah. Dalam hal ini, struktur perlu memahami kesadaran
diskursif masyarakat yang merekam bahwa pemerintah sebagai struktur memiliki jejak
inkonsistensi dalam penerapan kebijakan - kebijakan. Kepercayaan masyarakat kepada
pemerintah menjadi hal yang sangat penting mengingat peran masyarakat sebagai agen yang
melaksanakan kebijakan. Sebagai contoh, masyarakat Selandia Baru memiliki kepercayaan
88% terhadap kebijakan pemerintah menangani covid-19 karena keberhasilan perdana menteri
dalam mengkomunikasikan kebijakan tersebut disertai dengan tindakan yang konsisten (Gunia,
2020). Dengan begitu, pemerintah Indonesia dapat mengambil pelajaran untuk memperbaiki
pola komunikasi terhadap masyarakat melalui media agar dapat memperoleh tingkat
kepercayaan masyarakat yang tinggi.
Di saat yang bersamaan, pemerintah juga harus menyadari bahwa opinion leaders
sangat berpengaruh untuk membangun kepercayaan masyarakat. Media dalam hal ini juga
berperan dalam membentuk pandangan opinion leaders. Dengan memahami dua hal tersebut,
pemerintah bisa bekerja sama dengan media untuk mengedukasikan dan mensosialisasikan
kebijakan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Pasalnya, selama ini terdapat pilihan kata
yang sulit dipahami oleh masyarakat awam dalam pemberitaan terkait PSBB. Salah satu contoh
adalah penggunaan istilah “penutupan tempat ibadah” yang cukup provokatif. Pemerintah
seharusnya mengganti istilah tersebut dengan istilah yang lebih menyejukkan, misalnya
“penundaan jumat berjamaah untuk menjaga keselamatan jiwa umat” (Hayat, 2020).
Pemerintah pun dapat bekerja sama dengan para tokoh agama setempat untuk menjamin
persebaran dan kepatuhan masyarakat.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Yang kedua adalah keterbatasan ruang gerak publik. Selama dalam masa PSBB,
masyarakat yang hendak pergi keluar daerah harus menunjukkan berbagai surat keterangan,
salah satu dari surat - surat tersebut adalah surat keterangan negatif covid-19 berdasarkan
Polymerase Chain Reaction (PCR) Test/Rapid Test atau surat keterangan sehat dari dinas
kesehatan/rumah sakit/puskesmas/klinik kesehatan (Jelita, 2020). Untuk memperoleh surat ini,
masyarakat harus menjalani rangkaian tes kesehatan dan membayar atas rangkaian tes tersebut.
Menurut Patricia (dalam Aditya, 2020), biaya rapid test di rumah sakit Universitas Udayana
Bali sekitar Rp350.000 dan biaya swab test mencapai sekitar Rp900.000. Masa aktif rapid test
adalah tiga hari, sementara masa aktif swab test adalah tujuh hari (Aida, 2020).
Biaya yang mahal atas surat keterangan negatif covid-19 dan masa aktif yang relatif
cepat dinilai sangat menyulitkan masyarakat yang hendak bepergian keluar kota. Biaya keluar
kota jadi membengkak karena harus menjalani rangkaian test. Masyarakat harus memiliki uang
lebih jika hendak bepergian keluar kota. Hal ini tentunya sangat memberatkan bagi para pekerja
penglaju (commuter) yang harus bekerja di luar kota. Peraturan ini sangat merugikan karena
pekerja harus mengeluarkan biaya lebih agar bisa bekerja. Di sisi lain, perusahaan juga
memiliki kemungkinan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) demi menaati
kebijakan pemerintah dalam memutus rantai persebaran virus covid-19. Fakta - fakta tersebut
menjadi motivasi masyarakat untuk menolak PSBB karena PSBB secara langsung mengurangi
pendapatan para pekerja dan juga memiliki kemungkinan menghilangkan pekerjaan
masyarakat. Relasi antara struktur dengan agensi melalui fakta - fakta tersebut
mengindikasikan adanya ketidaksesuaian. Struktur membuat kebijakan dengan sangat tegas,
namun agensi tidak memiliki daya tawar atas kebijakan tersebut. Sebagai reaksi atas
ketidaksesuaian ini, kesadaran agensi pun mendorong terjadinya resistensi kepada struktur.
Dalam perkembangan relasi antara struktur dan agen, ternyata kesadaran agen dalam
melakukan resistensi mampu mendorong struktur untuk melakukan perubahan. Bentuk
perubahan yang terjadi adalah ketika pemerintah mulai melakukan transisi kebijakan PSBB
menjadi kebijakan baru, yaitu kebijakan New Normal. Kebijakan tersebut merupakan tindak
lanjut dari kegagalan efektivitas kebijakan PSBB akibat penolakan agen yang menilai bahwa
aturan tersebut sangat merugikan masyarakat.
Kesimpulan
Masyarakat melakukan resistensi terhadap PSBB karena beberapa hal. Yang pertama,
masyarakat menilai kebijakan PSBB hanya mementingkan pemutusan rantai persebaran covid-
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
19 dan bukan mementingkan aspek kehidupan ekonomi masyarakat. Akibat kebijakan PSBB,
masyarakat yang mengandalkan perekonomian harian mengalami penurunan pendapatan.
Yang kedua, masyarakat menilai PSBB mengakibatkan keterbatasan ruang gerak publik yang
berimbas pada kerugian para pekerja penglaju (commuter). Para pekerja ini harus
mengeluarkan biaya lebih untuk melakukan rapid test atau swab test untuk dapat bekerja di
luar daerah, atau bahkan terancam PHK. Namun pada akhirnya, masyarakat sebagai agen akan
menentukan kebijakan yang akan ditentukan oleh pemerintah. Proses penafsiran atau
reflektifitas informasi oleh setiap agen mampu menyebabkan perubahan - perubahan kebijakan
dalam struktur, sehingga mampu membuat struktur lebih hidup dan berkembang. Strukturasi
pun menjadi pendorong suatu sistem kehidupan agar terus bergerak merespons lingkungan.
Referensi
Aditya, Nicholas Ryan. (2020). Berapa Biaya Naik Pesawat dan Tes Covid-19 Selama
Pandemi?. Diakses dari
https://travel.kompas.com/read/2020/06/24/140500227/berapa-biaya-naik-pesawat-
dan-tes-covid-19-selama-pandemi?page=all.
Aida, Nur Rohmi Aida. (2020). Melakukan Perjalanan, Bawa Hasil Rapid Test, Swab Test,
atau Surat Bebas Influenza?. Diakses dari
https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/11/121800765/melakukan-perjalanan-
bawa-hasil-rapid-test-swab-test-atau-surat-bebas?page=all.
Ashaf, A. F. (2006). Pola Relasi Media, Negara, Dan Masyarakat: Teori Strukturasi Anthony
Giddens Sebagai Alternatif. Diakses dari
https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v8i2.5371.
CNN Indonesia. (2020). 81 Persen Masyarakat Disebut Ingin Segera Akhiri PSBB. Diakses
dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200520164939-20-505411/81-persen-
masyarakat-disebut-ingin-segera-akhiri-psbb
Dwirahmadi, F. (2020, 23 April). Tiga salah kaprah penerapan PSBB di Indonesia
dan solusinya. THE CONVERSATION. Diakses dari
https://theconversation.com/tiga-salah-kaprah-penerapan-psbb-di-indonesia-dan-
solusinya-136247.
Gunia, A. (2020, 28 April). Why New Zealand’s Coronavirus Elimination Strategy Is Unlikely
to Work in Most Other Places. Diakses dari https://time.com/5824042/new- zealand-
coronavirus-elimination/.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Hayat, N. (2020). COVID-19: Apa yang Membuat Kegagalan Komunikasi Pemerintah?
Diakses dari https://www.remotivi.or.id/amatan/586/covid- 19-apa-yang-membuat-
kegagalan-komunikasi-pemerintah.
Jelita, Insi Nantika. (2020). Boleh Keluar Kota di Saat PSBB Tapi Ada Syaratnya. Diakses dari
https://mediaindonesia.com/read/detail/311902-boleh-keluar-kota-di-saat-psbb-tapi-
ada-syaratnya.
Mashabi, Sania. (2020). Ahli Sebut Indonesia Tengah Berjalan Menuju Puncak Kurva
Pandemi Covid-19. Diakses dari
https://nasional.kompas.com/read/2020/06/09/11510381/ahli-sebut-indonesia-tengah-
berjalan-menuju-puncak-kurva-pandemi-covid-19.
Purnamasari, Deti Mega. (2020). Survei: Sebagian Besar Warga Menolak PSBB karena Sulit
Cari Nafkah. Diakses dari
https://nasional.kompas.com/read/2020/04/23/13541671/survei-sebagian-besar-
warga-menolak-psbb-karena-sulit-cari-nafkah.
Sakti, R. E. (2020). Tantangan Kebijakan PSBB di Indonesia. Diakses dari
https://kompas.id/baca/riset/2020/05/05/tantangan-kebijakan-psbb-di-
indonesia/?_t=7dZw46OAjf8JglQrRsPCDzzKtH5EMoRK45wORtJS4LFqu9WeXGF
AzAfzLU4Rg9.
Stevens, H. (2020). Why outbreaks like coronavirus spread exponentially, and how to “flatten
the curve”. Diakses dari
https://www.washingtonpost.com/graphics/2020/world/corona-simulator/.
West, R. dan Turner, L. H. (2010). Introducing Communication Theory and Application (4th
ed.). Avenue of the Americas, New York: McGraw Hill.
Penilaian Juri: 20,00
1. Kesesuaian 30,00
2. Orisinalitas 44,21
3. Analisis Masalah dan isi
94,21
TOTAL
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Nama : Olyn Silvania
NIM 169114096
Prodi
Judul Esai : Psikologi
PSBB : Konseling Daring: Pendamping Psikologis Jarak Jauh dalam Kebijakan
I. Pembukaan
Pada bulan Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia memberikan “gelar istimewa”
kepada wabah virus corona yaitu status pandemi global karena penyebarannya yang begitu
cepat ke seluruh dunia. Sejak saat itu, wabah corona sering disebut sebagai pandemi virus
Corona (Covid-19) (Putri, 2020). Melihat penyebarannya yang cepat hingga memakan
banyak korban jiwa, pemerintah Indonesia menetapkan suatu kebijakan untuk menangani
penyebaran virus corona yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan
PSBB ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan yang tercatat dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020. Secara spesifik, kebijakan PSBB membatasi sejumlah
kegiatan penduduk yang melibatkan banyak orang dalam suatu wilayah yang diduga
terinfeksi Covid-19. Adapun beberapa kegiatan penduduk yang dibatasi adalah sekolah,
tempat kerja, kegiatan keagamaan, tempat atau fasilitas umum, kegiatan sosial budaya,
moda transportasi, dan kegiatan yang terkait dengan aspek pertahanan dan keamanan
(Putsanra, 2020).
Sebelum pandemi Covid-19 berlangsung, masyarakat Indonesia sudah terbiasa
beraktivitas di tempat-tempat umum. Namun, kebijakan PSBB menyebabkan mobilitas
masyarakat Indonesia terbatas sehingga merubah tatanan aspek kehidupan masyarakat
seperti ekonomi, sosial, politik, budaya, dan pertahanan dan keamanan. Meskipun
demikian di antara kelima aspek kehidupan tersebut, penulis beragumen bahwa aspek
kehidupan ekonomi dan sosial yang paling terdampak secara signifikan dalam kebijakan
PSBB ini.
II. Pembahasan
1. Rekapan Kehidupan Ekonomi dan Sosial dalam Kebijakan PSBB
Dalam aspek kehidupan ekonomi, kebijakan PSBB berdampak pada beberapa
sektor yang tidak bergerak dalam penyediaan kebutuhan dasar publik atau pelayanan
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
masyarakat. Kebijakan PSBB menyebabkan sektor usaha tertentu terancam mati
karena adanya penurunan kinerja perusahaan (Lidyana, 2020). Hal ini terlihat dari
banyaknya perusahaan yang ditutup atau diliburkan. tenaga kerja yang dirumahkan,
dan bahkan tenaga kerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Selain itu,
kebijakan PSBB juga menyebabkan permintaan pasar atas pekerja di bidang sektor
informal seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ojek online, pedagang,
dan pekerja harian lepas mengalami penurunan sehingga pendapatan mereka juga
menurun (Isna, 2020). Jika hal tersebut berlangsung terus-menerus, maka dapat
menghambat pertumbuhan ekonomi negara Indonesia.
Beberapa persoalan tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan PSBB dapat
menimbulkan kesulitan ekonomi yang berpengaruh pada keluarga. Tetap tinggal di
rumah adalah salah satu bentuk kontribusi untuk menekan penyebaran virus corona.
Idealnya, seharusnya rumah menjadi tempat berteduh dari berbagai tekanan dan
kesulitan luar sehingga dapat memberikan rasa damai, nyaman, dan tentram. Namun
ironisnya, bagi sebagian orang rumah tidak selalu menjadi tempat yang nyaman
selama kebijakan PSBB berlangsung. Anggota keluarga dapat menjadi sasaran
kekerasan dalam rumah tangga karena faktor ekonomi. Selama pandemi Covid-19
berlangsung, banyak terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kerap
menimpa kaum yang dianggap lemah oleh beberapa kelompok masyarakat yakni
kaum perempuan dan anak-anak (Bell & Naugle, dalam Asmarany, 2008).
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat bahwa
sudah terdapat 643 kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa dan anak-anak.
Secara rinci, jumlah tersebut terdiri dari 275 kasus kekerasan pada perempuan dewasa
dan 368 kasus kekerasan pada anak. Tercatat pula bahwa sebanyak 277 perempuan
dewasa dan 407 anak menjadi korban atas kasus kekerasan tersebut (Sucipto, 2020).
Dalam aspek kehidupan sosial, kebijakan PSBB berdampak bagi pasien atau
keluarganya yang didiagnosis positif Covid-19. Mereka dapat mengalami rasa cemas,
tertekan, dan khawatir karena identitasnya bisa dibocorkan ke publik sehingga rentan
mengalami stigma sosial, yakni asosiasi negatif terhadap seseorang atau sekelompok
orang yang mengalami gejala atau penyakit tertentu (Dinas Kesehatan Pemerintah
Provinsi Bali, 2020). Contoh bentuk stigma sosial terkait pandemi Covid-19 adalah
diskriminasi, pengucilan, dan penolakan kepada pasien dan keluarganya. Stigma
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
sosial berpotensi memunculkan sikap dan perilaku tidak jujur untuk menghindari
diskriminasi dari orang lain. Misalnya, tidak jujur pada saat merasakan gejala-gejala
penyakit Covid-19 dan menutupi beberapa informasi penting yang seharusnya
disampaikan kepada tenaga medis seperti riwayat penyakit yang pernah diderita,
perjalanan dan persinggahan ke suatu tempat, dan pernah atau tidaknya menjalin
kontak dengan penderita Covid-19 lainnya (Effendi, Lukman, Eryanti, & Muslimah,
2020). Kondisi tersebut dapat memperburuk status kesehatan dan tingkat kesembuhan
pasien Covid-19 sehingga berkontribusi dalam meningkatkan angka kematian akibat
virus corona (Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, 2020).
Selain berdampak pada pasien dan keluarga yang terpapar Covid-19, kebijakan
PSBB juga berdampak pada masyarakat umum. Kebijakan PSBB dapat menimbulkan
terbatasnya mobilitas masyarakat karena tempat atau fasilitas umum ditutup. Sebagai
gantinya, masyarakat dihimbau untuk disiplin dalam beraktivitas rumah atau
mengkarantina dirinya. Padahal, karantina dapat menjadi suatu pengalaman yang
tidak menyenangkan karena seseorang dihadapkan dengan beberapa kondisi seperti
ketidakpastian terkait durasi berlangsungnya kebijakan, kesulitan untuk bertemu
kerabat terdekatnya, mengalami kekhawatiran akan kondisi kesehatan maupun
keberlangsungan hidup sehari-hari, dan bahkan terpapar arus informasi yang
terkadang tidak akurat atau cenderung berlebihan (Brooks, Webster, Smith,
Woodland, Wessely, Greenberg, & Rubin, 2020). Derasnya arus informasi tentang
pandemi Covid-19 yang berasal dari televisi, media sosial, dan internet yang tidak
akurat dan cenderung berlebihan dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan, dan
kepanikan. Akibatnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan perasaan tertekan yang
memicu seseorang bereaksi secara berlebihan
Kebijakan PSBB berpotensi menimbulkan beberapa perasaan negatif seperti
cemas, khawatir, bingung, marah, dan sedih karena masyarakat dituntut untuk
beradaptasi terhadap situasi krisis, pembatasan, dan bahkan perubahan (Kartika &
Saubani, 2020). Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi menimbulkan stress dan
beberapa gangguan mental seperti depresi, gangguan emosi, penurunan suasana hati,
gangguan tidur, gangguan stress pascatrauma, dan kelelahan emosi (Brooks et al.,
2020). Hasil survei yang dilakukan oleh Departemen Medik Kesehatan Jiwa Rumah
Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan bahwa
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
66 persen pasien mengalami gejala emosional, 43 persen mengalami gangguan
depresi, dan 41 persen mengalami gangguan stress pascatrauma akibat pembatasan
jarak sosial. Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa 50 persen lansia
mengalami kesepian yang beresiko pada kesehatan dan bahkan kematian (Berita Satu,
2020).
2. Layanan Konseling Online sebagai Upaya Preventif dalam Menanggulangi
Pengaruh Kebijakan PSBB terhadap Aspek Kehidupan Ekonomi dan Sosial
Kebijakan PSBB identik dengan kampanye tentang pentingnya melaksanakan
protokol kesehatan untuk menjaga kesehatan fisik dan mencegah penularan Covid-19.
Meskipun demikian, tidak hanya kesehatan fisik saja yang perlu dijaga, melainkan
kesehatan mental juga berperan sebagai benteng pertahanan diri yang perlu dijaga.
Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan individu yang tercemin dari
kemampuan dalam mengelola stress secara wajar, kemampuan dalam bekerja secara
produktif, dan kemampuan dalam berperan aktif dalam komunitasnya. Kesehatan
mental memainkan peran penting karena permasalahan psikologis dan gangguan
mental yang berasal dari sejumlah persoalan dalam aspek kehidupan ekonomi dan
sosial. Misalnya, stigma sosial, paparan informasi yang kurang tepat atau cenderung
berlebihan, dampak psikologis ketika melakukan karantina di rumah, kesulitan
ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan
permasalahan psikologis dan gangguan mental dapat memengaruhi hormon manusia
sehingga dapat menurunkan imunitas dan menjadi rentan terserang penyakit.
Permasalahan psikologis yang timbul selama kebijakan PSBB memunculkan
urgensi akan perlunya upaya preventif untuk menanggulangi pengaruh kebijakan
PSBB terhadap aspek kehidupan ekonomi dan sosial. Upaya preventif perlu dilakukan
untuk mencegah masalah psikologis, mengurangi faktor resiko gangguan mental, dan
mencegah timbulnya permasalahan psikososial. Salah satu upaya preventif yang dapat
ditempuh adalah memberikan pendampingan psikologis bagi masyarakat yang
kesulitan mengatasi stress dan kecemasannya (Effendi et al., 2020). Pendampingan
psikologis dapat dilakukan melalui konseling, yaitu suatu proses di mana seseorang
dibantu oleh tenaga profesional untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan
dalam menemukan masalahnya (Surya, dalam Fahmi, Mulyana, Zahara, & Garniasih,
2020). Konseling didesain untuk menolong seseorang dalam memahami dan
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
menjabarkan pandangannya tentang kehidupan, membantu mencapai tujuan
penentuan diri seseorang melalui pilihan yang disediakan, dan membantu seseorang
untuk memecahkan masalah emosionalnya (Burks & Steffire, dalam Ardi, Yendi, &
Ifdil, 2013). Dengan demikian, konseling dapat membuat seseorang menuju kondisi
yang lebih membahagiakan, sejahtera, dan efektif dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan teknologi turut memberikan dampak bagi perkembangan
konseling. Pada awalnya, konseling hanya sebatas pada pertemuan tatap muka antara
tenaga profesional dengan klien. Namun hadirnya teknologi informasi modern dapat
memungkinkan proses konseling dilakukan dalam jarak jauh. Bentuk konseling dalam
jarak jauh dikenal dengan nama konseling daring atau konseling online. Konseling
daring pertama kali dilaporkan muncul pada tahun 1960 dan 1970 dengan
menggunakan perangkat lunak program Eliza dan Parry (Ifdil & Ardi, 2013).
Konseling daring merupakan proses pelayanan kesehatan yang terdiri dari terapi,
konsultasi, dan psikoedukasi yang tidak dilakukan secara bertatap muka dengan
melibatkan teknologi komunikasi seperti telepon, email, situs web, percakapan
(chatting), forum, dan video konferensi (Mallen & Vogel, 2005). Konseling daring
biasanya dilakukan dengan menggunakan perangkat teknologi kehidupan sehari-hari
seperti komputer, smartphone, dan tablet yang bermodalkan koneksi internet. Dalam
proses konseling daring, sebagian besar interaksi antar kedua belah pihak berbasis
teks dan beberapa huruf diubah menjadi kode atau singkatan untuk menggambarkan
emosi berbentuk emoticon.
Dalam kebijakan PSBB ini, penggunaan internet mengalami peningkatan dari 5
sampai 10 persen karena mayoritas pekerjaan dan aktivitas masyarakat dilakukan dari
rumah. Terkait hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo)
memberikan instruksi untuk menyediakan layanan akses internet dengan kapasitas dan
kualitas layanan yang baik. Selain itu, Menkominfo juga menginstruksikan untuk
memberi akses gratis terhadap situs resmi penanganan pandemi Covid-19 dan call
center 117 serta 119 (Mashabi, 2020). Ketersediaan layanan akses internet merupakan
peluang bagi pemerintah dan tenaga profesional untuk mengembangkan konseling
daring sebagai upaya preventif dalam rangka menanggulangi permasalahan kesehatan
mental. Konseling daring juga merupakan wadah bagi masyarakat untuk
mengkonsultasikan permasalahan psikologis yang dihadapi tanpa harus bertatap muka
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
sehingga meminimalisir kekhawatiran dan kecemasan tertular penyakit Covid-19.
Dewasa ini, terdapat beberapa layanan konsultasi daring yang muncul selama
kebijakan PSBB. Sebagai contoh, Layanan Psikologi Sehat Jiwa (Sejiwa) yang
dibentuk oleh Kantor Staf Presiden, Layanan Konsultasi Daring di laman Himpunan
Psikolog Indonesia, Hotline Pusat Krisis Covid-19 FIK yang dibentuk oleh Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, dan lain sebagainya. Kemudian, terdapat
banyak situs dan aplikasi konseling daring yang dapat digunakan selama kebijakan
PSBB seperti Bicarakan.id, Halodoc, Alodokter, Sahabatku, dan lain sebagainya
(CNN Indonesia, 2020). Ketersediaan layanan, situs, dan aplikasi tersebut
mengindikasikan bahwa konsultasi daring merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan
masyarakat saat ini. Hal tersebut tak lepas dari kelebihan yang dimiliki konsultasi
daring baik untuk klien maupun tenaga profesional atau konselor.
Bagi pihak klien, konseling daring memudahkan mereka untuk mengaksesnya
kapanpun dan dimanapun. Dalam hal ini, waktu layanan konseling dapat disesuaikan
dengan aktivitas klien dan dapat diatur melalui perjanjian dengan tenaga profesional.
Selain itu, konseling daring dapat menjangkau individu yang mengalami hambatan
fisik maupun psikologis dalam mengakses layanan konseling. Lalu, konseling daring
memberikan kenyamanan bagi klien untuk mendiskusikan masalah sensitif sehingga
klien dapat mengekspresikan diri dengan lebih jujur dan terbuka. Dalam konseling
tatap muka, tidak menutup kemungkinan bahwa klien terkadang merasa tertekan dan
dihakimi dengan umpan balik berupa ekspresi dan ucapan tenaga profesional secara
langsung. Melalui konseling daring, klien akan memiliki banyak waktu untuk
merefleksikan dirinya setelah membaca dan memahami umpan balik dari tenaga
profesional berupa pesan teks atau pesan suara. Terakhir, konseling daring membantu
klien untuk menenangkan diri melalui tulisan. Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, sebagian besar konseling daring berbasis teks sehingga lebih banyak
melibatkan aktivitas menulis. Aktivitas menulis dapat membantu klien untuk
memusatkan dan mengekspresikan pikiran serta perasaannya dengan mudah tanpa
adanya gangguan. Dalam aktivitas menulis, klien dapat meningkatkan kesadaran
dirinya secara tidak langsung melalui proses menyusun, membaca kembali, dan
menuliskan ulang permasalahannya (Fahmi et al., 2020).
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Sedangkan bagi pihak tenaga profesional atau konselor. Konsultasi daring
memungkinkan konselor untuk menawarkan bentuk bantuan psikologis yang mudah
diakses oleh klien tanpa dibatasi ruang dan waktu (Mallen & Vogel, 2005). Penelitian
yang dilakukan oleh Finn dan Barak (2010) menemukan bahwa konselor merasa puas
dengan praktek konseling daringnya dan menilai bahwa konseling daring juga tidak
kalah efektif dengan konseling tatap muka, terkhususnya ketika diterapkan untuk
mengatasi masalah interpersonal atau sosial. Konseling daring tidak hanya meliputi
komunikasi dua arah antara konselor dengan klien, melainkan juga meliputi
psikoedukasi. Akses internet sebagai sumber daya proses konseling daring
memungkinkan konselor untuk memperluas proses psikoedukasi tentang kesehatan
mental kepada individu di berbagai belahan dunia dalam 24 jam. Psikoedukasi penting
dilakukan karena mampu mengatasi mitos dan kesalahpahaman tentang perawatan,
mempromosikan pentingnya kepatuhan dalam proses pengobatan atau terapi,
memfasilitasi pemantauan dan pengukuran atas perkembangan diri klien, mengajarkan
strategi yang dapat dilakukan klien apabila gejala permasalahan psikologisnya
kambuh, dan merubah pola pikir serta perilaku klien yang dinilai kurang tepat. Selain
itu, konseling daring juga berpotensi membantu konselor agar tetap berkomitmen
untuk meneliti dan mempromosikan kesehatan mental, terutama bagi kelompok
masyarakat yang terpinggirkan, kurang dilayani, dan banyak mengalami stigma sosial
(Mallen & Vogel, 2005).
III. Kesimpulan
“So, it’s okay to ask help because we all need it sometimes.”
Konseling daring merupakan salah satu upaya preventif untuk menanggulangi
pengaruh kebijakan PSBB terhadap aspek kehidupan ekonomi dan sosial. Konseling
daring bertujuan untuk mencegah permasalahan psikologis, gangguan mental, dan
psikososial yang berasal dari sejumlah persoalan ekonomi dan sosial. Misalnya, stigma
sosial, paparan informasi yang kurang tepat atau cenderung berlebihan, dampak
psikologis selama melakukan karantina di rumah, kesulitan ekonomi, kekerasan dalam
rumah tangga, dan lain sebagainya.
Dalam kebijakan PSBB, penggunaan internet mengalami peningkatan secara
signifikan sehingga layanan internet dapat diakses dengan mudah. Ketersediaan layanan
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
akses internet menjadi peluang bagi pemerintah dan tenaga profesional untuk
mengembangkan layanan konseling daring secara lebih luas. Hal ini tercermin dari
banyaknya layanan, situs, dan aplikasi konseling daring yang muncul di dunia maya. Di
sisi lain, konseling daring merupakan wadah bagi masyarakat untuk mengkonsultasikan
permasalahan psikologis secara lebih mudah serta dapat meminimalisir rasa khawatir dan
cemas tertular penyakit Covid-19.
Konsultasi daring menawarkan sejumlah kelebihan bagi pihak klien yaitu mudah
diakses dan dijangkau, memberikan kenyamanan dalam mendiskusikan masalah sensitif,
dan membantu klien untuk menenangkan diri ketika menjabarkan masalah dalam bentuk
tulisan. Selain itu, konsultasi daring juga menawarkan sejumlah kelebihan bagi tenaga
profesional atau konselor yaitu memungkinkan mereka untuk menawarkan bentuk
bantuan psikologis yang mudah diakses oleh klien, memungkinkan mereka memperluas
psikoedukasi tentang kesehatan mental kepada masyarakat tanpa dibatasi ruang dan
waktu, dan berpotensi membantu mereka agar tetap berkomitmen melakukan penelitian
serta mempromosikan kesehatan mental. Dengan demikian, konsultasi daring merupakan
bentuk layanan universal yang berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan
psikologis masyarakat.
IV. Daftar Pustaka
Ardi, Z., Yendi, F. M., & Ifdil, I. (2013). Konseling online: Sebuah pendekatan teknologi
dalam pelayanan konseling. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 1(1), 1-5.
Asmarany, A. I. (2008). Bias gender sebagai prediktor kekerasan dalam rumah tangga.
Jurnal Psikologi, 35(1), 1-20.
Berita Satu. (2020, Mei 9). Picu depresi, PSBB perlu segera diakhiri.
https://www.beritasatu.com/kesehatan/630831-picu-depresi-psbb-perlu-segera-
diakhiri
Brooks, S. K., Webster, R. K., Smith, L. E., Woodland, L., Wessely, S., Greenberg, N.,
& Rubin, G. J. (2020). The psychological impact of quarantine and how to reduce it:
Rapid review of the evidence. Rapid Review. https://doi.org/10.1016/ S0140-
6736(20)30460-8
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
CNN Indonesia (2020, Mei 4). Aplikasi konsultasi kesehatan jiwa anti-cemas online.
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200429192710-185-498634/aplikasi-
konsultasi-kesehatan-jiwa-anti-cemas-online
Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Bali (2020, Juni 2). Mari hentikan stigma negatif
terkait Covid-19. https://www.diskes.baliprov.go.id/mari-hentikan-stigma-negatif-
terkait-covid-19/
Effendi, D. I., Lukman, D., Eryanti, D., & Muslimah, S. R. (2020). Advokasi psikologis
bagi masyarakat terpapar pandemi Covid-19 berbasis Religious E-Counseling
(Artikel ilmiah yang tidak dipublikasikan). Universitas Islam Negeri Sunan Gunung
Djati.
Fahmi, I., Mulyana, A., Zahara, F. H., & Garnasih, T. R. (2020). Etika konseling daring
dalam penanganan kasus terkait Pandemi Covid-19 perspektif kode etik psikologi.
(Artikel ilmiah yang tidak dipublikasikan). Universitas Islam Negeri Sunan Gunung
Djati.
Finn, J., & Barak, A. (2010). A descriptive study of e-counsellor attitudes, ethics, and
practice. Counselling and Psychotherapy Research, 10(4), 268-277.
https://doi/10.1080/14733140903380847
Gugus Tugas Perepatan Penanganan Covid-19 (2020, Mei 1). Kemenkes: stigma
berkontribusi terhadap tingginya angka kematian COVID-19.
https://covid19.go.id/p/berita/kemenkes-stigma-berkontribusi-terhadap-tingginya-
angka-kematian-covid-19
Ifdil & Ardi, Z (2013). Konseling online sebagai salah satu bentuk pelayanan e-
konseling. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 1(1), 15-21.
Isna, T. D. (2020, April 13). Daftar profesi informal yang terdampak penerapan PSBB.
Warta Ekonomi.co.id. https://www.wartaekonomi.co.id/read280915/daftar-profesi-
informal-yang-terdampak-penerapan-psbb/3
Kartika, M., & Saubani, A. (2020, Mei 4). Warga dinilai bisa stress karena PSBB, ini
kata psikiater. Republika.co.id. https://republika.co.id/berita/q9tagl409/warga-
dinilai-bisa-stres-karena-psbb-ini-kata-psikiater
Lidyana, V. (2020, April 8). Dampak PSBB ke ekonomi dan pesan untuk Anies.
DetikFinance. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4969028/dampak-
psbb-ke-ekonomi-dan-pesan-untuk-anies/2
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Mallen, M. J., & Vogel, D. L. (2005). Introduction to the major contribution: Counseling
psychology and online counseling. The Counseling Psychologist, 33(6), 761-775.
https://doi.org/10.1177/0011000005278623
Mashabi, S. (2020, April 7). Menkominfo: Penggunaan internet meningkat hingga 10
persen, paling banyak dari permukiman. Kompas.com.
https://nasional.kompas.com/read/2020/04/07/18035891/menkominfo-penggunaan-
internet-meningkat-hingga-10-persen-paling-banyak-dari-permukiman
Putsanra, D. V. (2020, April 13). Arti PSBB yang dibuat untuk cegah penyebaran corona
di Indonesia. Tirto.id. https://tirto.id/arti-psbb-yang-dibuat-untuk-cegah-penyebaran-
corona-di-indonesia-eMXT
Putri, G. S. (2020, Maret 12). WHO resmi sebut virus corona Covid-19 sebagai Pandemi
Global. Kompas.com.
https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/12/083129823/who-resmi-sebut-virus-
corona-covid-19-sebagai-pandemi-global
Sucipto, T. I. (2020, April 29). 643 kekerasan ke perempuan dan anak selama Pandemi
Covid-19. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/read/detail/308723-643-
kekerasan-ke-perempuan-dan-anak-selama-pandemi-covid-19
Penilaian Juri: 20,00
30,00
1. Kesesuaian 44,00
2. Orisinalitas
3. Analisis Masalah dan isi 94,00
TOTAL
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Nama : Wilibrodus Ngongo
NIM 196114054
Prodi
Judul Esai : Filsafat Keilahian
: “Dilema Kebijakan PSBB bagi Masyarakat”
A. PENDAHULUAN
Dalam usaha pemerintah untuk memerangi virus corona, berbagai cara telah
diupayakan untuk memutus mata rantai penyebarannya. Salah satu usaha pemerintah
(Kementrian Kesehatan) adalah dengan mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala
Besar (PSBB). Aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan pada hari
Jumat, 10 April 2020 oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).1 Pembatasan ini
dimaksudkan untuk mempercepat penanganan pandemi Covid-19 yang sedang mewabah.
Lebih jelasnya, berikut ini adalah kegiatan dan aktivitas yang akan dibatasi dalam PSBB:
1. Aktivitas dan kegiatan persekolahan dan tempat kerja,
2. Aktivitas dan kegiatan ibadah dan keagamaan,
3. Aktivitas dan kegiatan di tempat dan fasilitas umum,
4. Aktivitas dan kegiatan operasional transportasi umum,
5. Aktivitas dan kegiatan sosial,
6. Aktivitas dan kegiatan lain yang termasuk dalam pertahanan dan keamanan umum.
Penyebaran virus corona (Covid-19) semakin hari semakin meningkat. Pemerintah
menyatakan bahwa masih banyak masyarakat yang terjangkit penularan Covid-19. Dari
perkembangan data yang saya peroleh, memang sangat nampak peningkatan dari penyebaran
virus corona. Menurut data jumlah kasus baru yang terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 5.136
orang, dirawat 4.221, sembuh 446 orang dan meninggal dunia sebanyak 469 (per Tanggal 15
April 2020). Sedangkan data terbaru saat ini di Indonesia untuk yang positif corona
mengalami penambahan 684 orang, jadi total untuk saat ini adalah 28.233 orang positif. Kasus
yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 mencapai 471 jiwa sehingga totalnya ada 8.406 orang.
1 https://idcloudhost.com, diakses 31 Mei 2020.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Pada umumnya orang atau pihak tertentu mencoba mengambil sebuah keputusan yang
baik demi kebaikan seseorang atau kebaikan bersama. Akan tetapi pada kenyataannya tidak
semua keputusan yang baik itu dirasakan oleh semua orang atau di semua lini masyarakat.
Maksud saya adalah bahwa kebijakan yang diambil oleh pemerintah tentang Pembatasan
Sosial Berskala Besar (PSBB) tidak sepenuhnya membawa masyarakat pada rasa aman dan
sejahtera, khususnya bagi masyarakat kecil. Masyarakat yang memiliki status pekerjaan
informal yang sumber pendapatan ekonominya didapat sehari-hari dan tidak memiliki gaji
pokok atau pendapatan tetap (seperti pedagang kaki lima, ojek online, tukang becak, dll)
adalah yang paling merasakan dampak dari kebijakan PSBB. Jika kita melihat dari maksud
pemerinta mengeluarkan aturan PSBB, tentu dampak yang didapat oleh masyarakat sangatlah
baik. Namun di sisi lain juga kebijakan PSBB ini menyebabkan dampak yang merugikan
sebagian masyarakat atau tepatnya bahwa kebijakan PSBB ini menimbulkan persoalan baru.
Dalam tulisan ini, saya mencoba melihat dilemah yang dialami oleh pemerinta dengan
dikeluarkannya peraturan PSSB.
B. ISI
Akhir-akhir ini berbagai negara di dunia khususnya Indenesia, tengah dikejutkan
dengan wabah Covid-19 (Corona virus Diseases-19). Berdasarkan data WHO, persebaran
Covid-19 sudah melingkupi 185 negara dengan jumlah 3.917.366 kasus yang terkonfirmasi,
274.361 kasus meninggal, dan 7,0% angk kematian.2 Hari demi hari persebaran Covid-19
semakin mengkhawatirkan bahkan seolah-olah tidak ada tanda bahwa Covid-19 akan segera
berakhir. Saya mengatakan demikian, karena dari data yang terbaru tentang peningkatan kasus
corona di Indonesia pada 28 Mei 2020 menujukan bahwa jumlah kasus baru ada 687 pasien,
total kasus positif corona saat ini di Indonesia adalah 24.538 pasien, pasien yang meninggal
1.496 orang, pasien yang dinyatakan sembuh ada 6.240 orang, dan yang masih dalam tahap
perawatan 16.802. Sedangkan total jumlah PDP ada 13.250 orang, dan total jumlah ODP ada
48.749 orang.3 Tentu dengan stuasi seperti ini semakin mengkhawatirkan masyarakat.
2 https://covid19.kemses.go.id, diakses 11 Mei 2020.
3 Nasya Putri Awalia, “Efektivitas Produktivitas Keluarga Ditengah PSBB selama Covid-19” (April 2020), tersedia dari
https://www.rearchgate.net/publication; diakses 20 Juni 2020.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Kita sudah tahu bersama bahwa pemerintah telah berusaha memerangi penyebaran
Covid-19 dengan menetapkan peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Yang
mana aturan PSBB ini sudah tercatat di dalam peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun
2020.4 PSBB merupakan sebuah penyelenggaraan pembatasan kegiatan-kegiatan di tempat
umum dan mengkarantinakan diri sendiri di dalam rumah atau komunitas masing-masing.
Tentu tuajuannya adalah untuk mencegah meluasnya penyebaran viris Covid-19 yangsedang
mewabah saat ini. Oleh karena itu, seperti tema yang saya angkat di atas tentang pengaruh
kebijakan PSBB untuk menangani penyebaran Covid-19 terhadap aspek-aspek kehidupan di
dalam masyarakat, saya akan mencoba menjelaskan beberapa aspek kehidupan seperti
ekonomi, sosial dan budaya, agama dan iman, politik, dan pendidikan yang mengalami
perubahan yang signifikan setelah merebaknya Covid-19 di Indonesia.
1) Ekonomi
Bidang ekonomi adalah bidang yang sentral bagi suatu negara maupun masyarakat.
Apabila bidang ini mengalami gangguan, dengan otomatis bidang yang lain pun akan
terganggu. Karena bidang ekonomilah yang menjadi titik stabilizer dari bidang-bidang
lainnya.
Pandemi Covid-19 menyerang perekonomian dengan sangat hebat. Banyak orang
yang mengalami PHK akibat persebaran yang begitu cepat. Hal ini sangat memprihatinkan
karena tidak semua orang memiliki simpanan yang bisa menjadi pendukung dalam situasi
sekarang. Seperti yang saya sudah singgung pada bagian awal bahwa dengan menerapkann
aturan PSBB tidak sepenuhnya memberi kenyamanan pada warga. Menurut saya,
seharusnya pemerintah seharusnya menyiapkan strategi lanjutan setelah penerapan aturan
terseut. Sehinggak tidak memunculkan masalah baru di masyarakat . Jika menurut
pemerintah bahwa bantuan sosial yang disalurkan adalah salah satu cara agar membantu
masyarakat yang miskin dan kurang mampu, saya kurang setujuh dengan pernyataan itu.
Karena pada kenyataannya bantuan yang disalurkan tidak tepat sasaran atau bahkan tidak
memiliki kejelasan kepada siapa dan kemana bantuan itu diarahkan. Menurut analisis saya
4https://www.suara.com, diakses 28 Mei 2020
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
hal ini dikarenakan pemerintah kurang mengorganisir dengan baik bantuan itu dan juga
pemerintah tidak memiliki data yang jelas.5
2) Pendidikan
Dampak mewabahnya virus corona juga dirasakan oleh dunia pendidikan.
Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau
UNESCO menyebut hampir 300 juta siswa di seluruh dunia kegiatan sekolahnya terganggu
dan hak-hak pendidikan di masa depan terancam (Kompas.TV, 5 April 2020).
Salah satu isi dari aturan PSBB adalah kegiatan belajar dan mengajar dilakukan di
rumah atau secara online. Kebijakan ini diharapkan pemerintah bisa mengurangi mobilitas
pelajar dan mahasiswa sehingga dapat menekan penyebaran virus corona. Namun dalam
praktiknya, sejumlah kesulitan ditemui para guru dan siswa saat menjalankan metode
belajar dari rumah. Memang jika dilihat belajar di rumah menjadi langkah yang paling
ampuh dalm memutus rantai penyebaran virus corona. Tetapi seperti yang saya singgung
di atas, metode seperti ini tidak luput dari berbagai persoalan. Salah satu persoalan adalah
banyak murid atau mahasiswa yang mengalami kesulitan untuk mengakses internet.
Karena memang hal yang utama agar kegiatan belajar online ini berjalan lancar adalah
dengan adanya internet yang baik. Mungkin sebagian murid atau mahasiswa yang berada
di tempat yang akses internetnya mudah tidak mengalami kesulitan dan sangat senang
dengan metode pembelajaran seperti ini. Tetapi bagaimana dengan mereka yang berada di
tempat yang kurang strategis untuk mengakses internet. Tentu akan sangat mengalami
kesulitan. Dan bagi saya dengan metode seperti ini tentu akan sangat mempengaruhi
perkembangan pendidikan di Indonesia.
3) Sosial dan Budaya
Manusia adalah makhluk sosial dan makhluk budaya. Sampai kapanpun manusia
tidak akan pernah terlepas dari keduanya. Namun dengan adanya Covid-19 maka banyak
hal yang sudah menjadi kebiasaan tidak dilakukan. Misalnya saja budaya silahturami,
nongkrong, dll. Semua itu tidak dapat dilakukan sebagaimana biasanya karena adanya
kebijakan sicial distancing dan PSBB. Sehingga masyarakat pun memiliki aktifitas yang
5 Vadhia Lidyana, “Dampak PSBB ke Ekonomi dan Pesan untuk Anis” (April 2020), tersedia dari
https://m.detik.com/finance; diakses 9 Juni 2020.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
terbatas yakni hanya melakukan semua kegiatan di rumah. Mungkin bagi mereka yang
memiliki penghasilan tetap, akan sedikit merasa senang. Tetapi bagaimana dengan mereka
yang tidak memiliki penghasilan tetap, yang harus bekerja di luar rumah baru bisa
memenuhi kebutuhan pokoknya.
Selan itu, dampak Covid-19 dalam kehidupan sosial masyarakat, di antaranya
adalah timbulnya rasa curiga dan hilangnya kepercayaan terhadap orang-orang yang ada di
seputar kita atau yang baru kita kenal. Sebagai contoh adalah pada saat kita membeli
makanan, baik di warung yang berlabel maupun di warung kaki lima kita akan mencari
tahu apakah bersih atau tidak. Apakah pelayan ada bersentuhan dengan orang yang
terjangkit virus atau tidak, adakah petugas atau pelayan yang mencuci tangan pada saat
mengolah atau memproses makanan yang kita pesan atau tidak. Sehingga timbul keraguan.
4) Politik
Aspek politik pun tidak luput dari dampak penetapan PSBB. Demi memutus rantai
penyebaran Covid-19, beberapa elite politik mendesak pemerintah untuk melakukan
lockdown. Selain itu, beberapa pihak juga menuntut agar tahanan atau narapidana
dibebaskan. Dalam hal ini, KPK adalah pihak yang mengalami kesulitan untuk mengambil
keputusan yang terbaik demi keselamatan masyarakat dan sekaligus juga tetap menegakan
hukum yang berlaku. Untuk hal ini, akhirnya menimbulkan banyak perdebatan di dalam
masyarakat bahwa pemerintah kurang respect dengan persoaalan ini. Dan akhirnya banyak
berita-berita palsu beredar di berbagai media sisial hanya untuk memojokan pemerintah.
Pada dasarnya itu bukanlah hal yang baru di Indonesia karena situasi politik
memang tidak selalu stabil. Selalu saja ada kelompok-kelompok yang merasa bahwa
kebijakan pemerintah itu tidak tepat. Dan bahkan menurut saya, ada oknum tertentu yang
juga memanfaatkan situasi ini demi kepentingan pribadi.
5) Agama dan Iman
Sejak diberlakukannya peraturan tidak dibenarkan ada kumpulan keramaian seperti
di gereja, masjid dan di tempat ibadat lainnya, maka hampir semua kegiatan keagamaan
dilakukan di rumah dan semua gereja ditutup. Situasi ini menimbulkan kegelisahan bagi
umat beriman. Tak jarang juga orang memunculakan banyak pertanyaan tentang iman dan
kepercayaan mereka. Dengan munculnya pandemi ini, akhirnya orang mulai bertanya
apakah Tuhan menghendaki ini semua? Adakah Tuhan ada di tengah-tengah kita? Apakah
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Tuhan sedang menghukum kita? Tentu masih banyak lagi pertanyaan eksistensial yang ada
dalam setiap hati masyarakat.
Untuk menenangkan kegelisahan masyarakat, pemerintah mencoba bekerjasama
dengan para petinggi atau toko-toko agama untuk memberi penguatan kepada umatnya
masing-masing. Tentang upaya ini, sudah dilakukan dengan cukup baik oleh toko-toko
agama. Melalui artikel-artikel dan juga video singkat, mereka mencoba memberi
pemahaman bagi masyarakat dari sudut padang agama tentang situasi pandemi yang
melanda sebagian umat di dunia ini.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Pandemi dunia yang sedang kita hadapi sekarang ini adalah sebuah sebuah pandemi
global yang menimpah seluruh negara di dunia. Virus corona atau yang dikenal dengan
istilah Covid-19 (Corona virus Disease) merupakan virus yang penularannya sangat cepat
dan bisa menular ke semua kalangan, mulai dari bayi yang baru lahir, balita, hingga
manusia lanjut usia. Covid-19 ini tidak seperti wabah-wabah virus yang perna melanda
dunia sebelumnya, seperti virus ebola ataupun sars. Namun keberadaan wabah ini bisa
membuat dunia berbeda seperti sekarang.
Keberadaan wabah virus corona memaksa kita untuk terus berada di rumah,
menjauhi segala bentuk interaksi dengan orang lain dan membatasi kontak fisik dengan
orang-orang di sekitar kita untuk meminimalisir pemyearan dan penularan yang lebih luas.
Karantina yang telah dilakukan oleh penduduk indonesia sangat penting dilaksanakan
dengan tujuan memutus mata rantai pandemi Covid-19.
Untuk menegaskan kepada masyarakat agar tetap tinggal di rumah, pemerintah
mengeluarkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Tujuan PSBB ini
adalah untuk memblokir dan mencegah penyebaran dari virus corona dalam skala yang
lebih besar lagi dari yang sudah tercatat saat ini.6 Namun seperti yang kita ketahui bersama
dan bahkan kita juga merasakan bahwa kebijakan PSBB di satu pihak juga menimbulkan
6 https://idcloudhost.com, diakses 29 Mei 2020.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
dampak negatif bagi sebagian masyarakat. Hal inilah yang kemudian menimbulkan dilema
bagi pemerintah. Semakin lama kebijakan ini diberlakukan, semakin banyak pula persoalan
yang ditimbulakan. Salah satunya yang paling besar perubahannya adalah bidang ekonomi.
Berbicara mengenai ekonomi berarti juga berbicara soal kehidupan. Karena siapapun pasti
berusaha untuk tetap memenuhi kelangsunagan hidupnya di dunia ini, pasti akan bergulat
dalam bidang ekonomi, entah dalam urusan pangan, sandang, maupun dalam urusan papan.
2. Saran
Secara pribadi saya sangat setuju dengan kebijakan PSBB yang diterapkan oleh
pemerintah karena mengingat tujuannya yang sangat baik, yakni untuk menekan
penyebaran dari virus corona atau untuk memutus mata rantai pebyebarannya. Namun di
sisi lain kiranya pemerintah juga memikirkan atau mempertimbangkan dengan baik akan
apa yang diputuskan agar tidak menimbulkan persoalan lain. Seperti yang sudah terjadi
sekarang ini, bahwa kebijakan PSBB juga menimbulkan dampak negatif dalam berbagai
bidang kehidupan.
Sebagai warag negara yang baik, kiranya masyarakat menaruh kepercayaan yang
tinggi kepada pemerintah. Bolelah kita berpendapat untuk kebaikan bersama tetapi jangan
sampai kita salah menggunakan kebebasan tersebut. Apapun yang diputuskan oleh
pemerintah tentu itu tidak bisa lepas dari ketidak sempurnaan, tetapi yang terpenting adalah
sebagai warga yang baik kiranya kita tetap tabah dalam situasi seperti ini dan juga berusaha
menaati apa yang sudah dihimbau oleh pemerintah, demi kebaikan dan keselamatan
bersama. Sebagai umat yang beriman, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan
terus berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing, agar situasi ini boleh berlalu dan
kita kembali hidup normal lagi.
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
DAFTAR PUSTAKA
Desy Nia Sari, “Efek Samping PSBB Terhadap Masyarakat” (16 April 2020), tersedia dari
https://www.suara.com/yoursay; diakses 28 Mei 2020.
Nasya Putri Awalia, “Efektivitas Produktivitas Keluarga Ditengah PSBB selama Covid-19” (April
2020), tersedia dari https://www.rearchgate.net/publication; diakses 20 Juni 2020.
Vadhia Lidyana, “Dampak PSBB ke Ekonomi dan Pesan untuk Anis” (April 2020), tersedia dari
https://m.detik.com/finance; diakses 9 Juni 2020.
Dedi Arman, “Penanganan Wabah Covid-19 dengan Pendekatan Budaya” (April 2020), tersedia
dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id; diakses 31 Mei 2020.
Rosmha Widiyani, “Enam Inti Aturan PSBB Serta Sanksi Di Beberapa Wilayah” (20 April 2020),
tersedia dari https://news.detik.com/berita; diakses 20 Juni 2020.
Penilaian Juri: 20,00
30,00
1. Kesesuaian 43,25
2. Orisinalitas
3. Analisis Masalah dan isi 93,25
TOTAL
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19
Nama : Martha Wiratami Praba Raras
NIM 171114013
Prodi : Bimbingan dan Konseling
Judul Esai : Bayaran dari Sebuah Utas
Mengangkat fenomena yang menjadi keprihatinan bagi setiap insan di seluruh dunia.
Terhitung sejak akhir bulan Desember tahun 2019, dunia tengah dihebohkan dengan berita
transmisi virus corona. Diduga virus yang menjadi buah bibir akhir-akhir ini berasal dari Huanan
Seafood Market, Wuhan, Hubei, China. Sementara itu, dilansir dari Kompas.com (02/03/2020),
diumumkan bahwa Indonesia telah mengonfirmasi kasus pertama virus corona yang menginfeksi
dua orang warganya. Berjeda sembilan hari setelahnya, pada 11 Maret 2020, World Health
Organization (WHO) menetapkan wabah virus corona sebagai pandemi global. Hal ini diperkuat
dengan data WHO dua minggu terakhir yang menampilkan peningkatan tiga belas kali lipat jumlah
kasus covid-19 di luar China dan peningkatan tiga kali lipat jumlah negara yang terdampak.
Ditegaskan pula dalam tribunnews.com, Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai Direktur Jenderal
WHO menyatakan istilah pandemi global digunakan sekarang karena kekhawatiran mendalam atas
covid-19. Merebaknya pandemi yang kian hari kian menjadi momok. Kekhawatiran akan segala
hal yang mengancam, layaknya kita yang sekarang sedang berperang melawan hal yang tak kasat
mata. Rasa takut akan kehilangan, tak hanya pekerjaan bahkan kehidupan. Tak sedikit dari kita
yang kehilangan arah mata angin, bahkan busur dan anak panah pun tak lagi ada digenggaman.
Bukan menjadi sebuah ajang perlombaan, tetapi persaingan terjadi dimana-mana. Menjadi kian
miris rasanya ketika manusia kehilangan rasa kemanusiaan. Ada yang rela berjuang sebagai garda
terdepan, berjibaku menumbuhkan kembali rasa kemanusiaan. Namun, tak sedikit pula dari kita
yang justru melelang murah harga kemanusiaan.
Secara resmi dalam Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Joko Widodo
selaku Presiden ketujuh Republik Indonesia menyatakan seruan kepada masyarakat untuk hidup
berdamai dengan covid-19. Di tengah suguhan ancaman dan tantangan yang ada, ‘strategi damai’
seharusnya diletakkan dalam kerangka pikir yang membawa kita pada kepenuhan akan
pemahaman dan kesadaran. Perlu kehati-hatian dalam memaknai apa dan bagaimana ‘strategi
damai’ itu, jangan sampai kita termakan dan jatuh pada kebingungan dan atau kepasrahan. “Si vis
pacem para bellum” yang memiliki arti “jika kau mendambakan perdamaian, maka bersiap-
Lomba Esai Kementerian Sosial Politik dan Kajian Strategis BEM USD 2020: Kuliah Dalam Jaringan dan
Penanganan COVID-19