The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Nirmayanti Syamsuddin (190202023)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nirmayanti073, 2021-06-30 18:29:57

Portofolio Mikrobiologi

Nirmayanti Syamsuddin (190202023)

PORTOFOLIO MIKROBIOLOGI

NAMA : Nirmayanti Syamsuddin
NIM : 190202023
Semester : IV

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PUANGRIMAGGALATUNG
2021

Dosen Pengampu : Ahmad Yani, S. Pd., M. Pd.

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. Kami memujinya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kami
berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan kami. Puji syukur
penyusun ucapkan atas terselesaikannya portofolio ini. Tanpa berkah dan kemurahanNya saya tidak
mungkin dapat menyelesaikan portofolio ini. Kedua kalinya salawat beserta salam tetap tercurahkan
kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kebodohan menuju alam yang
penuh dengan ilmu pengetahuan.

Portofolio ini disusun sebagai salah satu tugas akhir semester genap untuk mata kuliah
Mikrobiologi. Didalam portofolio ini terdapat tugas-tugas yang diberikan selama perkuliahan.
Penyusun menyadari masih terdapat kekurangan dalam portofolio ini, maka dari itu kritik dan saran
yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan portofolio ini.
Akhir kata, sebagai penyusun portofolio ini, saya berterimakasih kepada Bapak Ahmad Yani, S. Pd.,
M. Pd. Selaku dosen pengampu mata kuliah Mikrobiologi dimana telah membimbing kami sehingga
dapat menyelesaikan portofolio ini.Semoga portofolio ini membawa manfaat dan memberikan nilai
tambah kepada para pembacanya.

Sengkang, 27 Juni 2021

Nirmayanti Syamsuddin

I

Daftar isi

A. Kata pengantar....................................................................................................................i
B. Daftar isi.............................................................................................................................ii
C. Pendahuluan........................................................................................................................1

Analisis artikel......................................................................................................................2
Refleksi analisis artikel ....................................................................................................24
Identitas makalah kelompok ..........................................................................................25
Naskah makalah ..............................................................................................................26
Power point ......................................................................................................................45
Refleksi diri makalah .......................................................................................................57
Identitas praktikum .........................................................................................................58
Metode dan hasil praktikum ...........................................................................................59
Video praktikum (screeenshot).......................................................................................61
Refleksi diri praktikum .....................................................................................................63
Refleksi diri akhir semester .............................................................................................64

ii

PENDAHULUAN

Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari organisme yang berukuran sangat kecil sehingga tidak
dapat dilihat dengan mata telanjang melainkan harus menggunakan bantuan mikroskop. Organisme
yang sangat kecil ini disebut sebagai mikroorganisme, atau sering disebut mikroba ataupun jasad
renik. Saat ini, mikrobiologi sangat berkembang luas pada berbagai bidang ilmu pengetahuan,
misalnya pertanian, industri, kesehatan, lingkungan hidup, bidang pangan, bahkan bidang antariksa
(Waluyo, 2009).

Dalam mikrobiologi, dibutuhkan suatu teknik khusus untuk mempelajari mikroorganisme. Di
laboratorium mikrobiologi dan bakteriologi untuk menumbuhkan dan mempelajari sifat-sifat
mikroorganisme seperti bakteri diperlukan suatu media sebagai tempat pertumbuhan mikroorganisme
(Collyn and Lyne, 1987). Pengembangan media kultur bakteri memegang peranan yang sangat
penting di bidang mikrobiologi. Dengan mengisolasi suatu bakteri dan menumbuhkanya dengan
media buatan kita dapat mengidentifikasi, dan mempelajari sifat suatu bakteri.

Penilaian portofolio hendaknya dapat membawa perubahan yang lebih baik karena merupakan suatu
inovasi yang dirancang untuk membantu siswa memahami teori secara mendalam melalaui
belajarpraktik, empirik dan menjadikan program pendidikan yang mendorong kompetensi tanggung
jawab partisipasi siswa, belajar menilai dan mempengaruhi tujuan umum.



Analisis Artikel Jenis-Jenis Lichen
Link Artikel 1 : http://journal.stkipypmbangko.ac.id/index.php/biocolony/article/view/103
Link Artikel 2 : https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jprb/article/view/2746
Link Artikel 3 : https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/biologi/article/view/18988

NO INDIKATOR ARTIKEL 1 ARTIKEL 2 ARTIKEL 3

1 Judul Identifikasi Jenis Lichen di Keanekaragaman Lichen Keanekaragaman jenis

Penelitian Kawasan Objek Wisata Teluk Corticolous pada Tiga Lichenes Epifit pada

Wang Sakti. Jalur Hijau di Kabupaten hutan kopi dan hutan

Kubu Raya campuran di Ngelimut

Gonoharjo Kendal

2 Nama penulis Eastu Septine Andrea, Rozana Wendi Sudrajat1,Tri Rima Senjha Mutiara Asih,

Zuhri, Leni Marlina Setyawati, Mukarlina. Jumari dan Murningsih

3 Mengapa Penelitian tersebut dilakukan Penelitian tersebut Penelitian tersebut
dilakukan untuk Mengkaji tentang populasi dilakukan untuk mencari dilakukan untuk
penelitian tanaman lichenes apa saja yang lebih dalam mengetahui
tersebut. hidup dikawasan tersebut. Keanekaragaman lichen keanekaragaman jenis
corticolous di Kabupaten lichenes yang terdapat
Kubu Raya yang dapat Pada Hutan di Wana
dijadikan acuan untuk Wisata Nglimut
mengetahui kualitas udara Gonoharjo setelah
di daerah tersebut. mengalami perubahan
dari hutan alami
menjadi jenis hutan
produksi.

4 Tujuan Untuk mengetahui dan Penelitian ini bertujuan Penelitian di kawasan
penelitian mendeskripsikan jenis-jenis untuk mengetahui Wana Wisata Nglimut
Lichen yang hidup di Kawasan keanekaragaman lichen Gonoharjo untuk
Objek Wisata Teluk Wang Sakti corticolous pada tiga jalur mendatakeanekaragam
tersebut. hijau Kabupaten Kubu an jenis lichenesepifit
Raya. dan
keanekaragamanbentu
k talus lichenes.

1

5 Metode Teknik pengambilan sampling Unit sampel ditentukan Pengambilan sampel di
penelitian pada penelitian ini penelitian ini dengan metode sistematik lakukan pada dua
menggunakan jenis pendekatan sampling. Berdasarkan stasiun.Stasiun I yaitu
deskriptif kualitatif. Metode metode tersebut hutan kopi. Stasiun II
penelitian yang akan digunakan pengambilan sampel yaitu hutan campuran.
adalah metode jelajah dilakukan pada permukaan Lichenes yang di ambil
(reconassance). Pengambilan kulit pohon di kanan dan adalah lichenes
sampel menggunakan teknik kiri badan jalan pada epifit.Pengambilan data
Purpossive Random Sampling. bilangan ganjil. lichenes dilakukan
Sampel Lichen diambil pada dua Pengamatan dimulai dari dengan cara menelusuri
lokasi yaitu di Teluk Wang Sakti dasar hingga percabangan kawasan jalan setapak
dan pinggir Jl. Lintas Bangko- pertama pohon. Pada yang di jadikan transek
Kerinci. Adapun langkah-langkah pohon-pohon yang tidak utama. Setiap stasiun di
dalam penelitian ini, adalah : memiliki percabangan, buat plot bujur sangkar
pengambilan sampel berukuran 20 x 20 m
1. Menyiapkan alat-alat dan lichen dilakukakan sampai (Oosting, 1956) sebagai
bahan yang dibutuhkan ketinggian ±2 meter plot pohon untuk
(Wolseley, 2005). Luas menentukan pohon
2. Menentukan wilayah tempat permukaan lichen diukur inang yang merupakan
pengambilan sampel menggunakan bingkai tempat hidup
ukuran 20 x 20 cm yang lichenes.Pengambilan
3. Observasi pada lokasi ditandai dengan spidol sampel di setiap pohon
penelitian warna (Nursal dkk, 2005). inang di lakukan pada
Setiap pohon peneduh batang pohon dengan
4. Pengambilan sampel dilakukan diletakkan bingkai ukuran 50 cm sampai
di dua tempat yaitu Kawasan sebanyak 3 kali. 150 cm di atas tanah
Objek Wisata Teluk Wang Sakti Pengambilan sampel (Marcelli, 1992). Pada
dan pinggir Jl.Lintas Bangko- lichen pada permukaan setiap plot dipilih 5
Kerinci sekitar pabrik kulit pohon untuk pohon inang yang di
identifikasi dilakukan lakukan secara
5. Lichen yang dijumpai di lokasi dengan cara dikerik purpossive. Pada setiap
penelitian dicatat dan menggunakan pahat, pohon inang di buat 5
didokumentasikan kemudian sampel plot kecil berukuran 20
dimasukkan ke dalam x 30 cm
6. Sampel lichen yang terdapat amplop plastik. Sebelum (Oosting,1956).
pada kulit pohon diambil dengan diidentifikasi, sampel Lichenes yang telah
cara dikerik menggunakan cutter, lichen terlebih dahulu diambil di masukkan ke
dimasukkan kedalam plastik didokumentasi dan diberi dalam amplop untuk di
kemudian diberi label. Sedangkan keterangan berupa koleksi dan di
lichen yang terdapat di bebatuan, morfologi, warna, dan identifikasi di
hanya dilakukan pengamatan dan

2

didokumentasikan kondisi talus. Proses laboratorium.Sampel di
Identifikasi sampel identifikasi di
7. Sampel yang ditemukan di berdasarkan morfologi laboratorium Ekologi
lokasi penelitian dibawa ke menggunakan buku acuan dan Biosistematika,
Kampus II STKIP YPM Bangko Brodo dkk. (2001) dan Jurusan Biologi
untuk di identifikasi Geisher dkk. (1994) Fakultas Sains dan
Matematika,Universitas
8. Sampel lichen diamati dengan Diponegoro. Dilakukan
lup dan mikroskop stereo pengamatan mengenai
karakteristik dari
9. Proses identifikasi sampel masing-masing jenis
lichen dilakukan dengan lichenes dengan
membandingka lichen yang bantuan
ditemukan dengan panduan mikroskop,kemudian di
kunci identifikasi yang terdapat lakukan identifikasi
pada : Key to the Lichen Genera dengan menggunakan
of Bogor, Cibodas and Singapore kunci identifikasi atau
(Sipman,2003), jurnal-jurnal dengan mencocokkan
penelitian dan skripsi tentang karakteristik spesies
lichen di Indonesia. yang di identifikasi
dengan spesies yang
10. Jenis lichen yang telah di ada pada buku
identifikasi, kemudian dilakukan identifikasi yang di
pengawetan untuk diletakkan di ambil dari buku Flora
Laboratorium. Biologi Kampus II of Australia volume 54
STKIP YPM Bangko. tahun 1992 dan
www.lichens.ie.com.
Setiap stasiun
pengamatan di lakukan
pencatatan faktor
lingkungan yang
meliputi ketinggian
tempat, kelembaban
udara, dan temperatur
udara. Parameter yang
di ukur pada penelitian
ini meliputi jenis-jenis
lichenes epifit, dan
faktor lingkungan. Data
spesies lichenes epifit

3

yang diperoleh
kemudian di
identifikasi, di tabulasi,
dan dianalisis secara
deskriptif

6 Deskripsikan Hasil yang diperoleh dari Hasil yang diperoleh melalui Kondisi Lingkungan

hasil yang penelitian yaitu Lichen yang penelitian yaitu Komposisi Penelitian Berdasarkan

diperoleh ditemukan ada dua tipe yaitu dan Kepadatan Lichen hasil pengukuran faktor
peneliti crustose (memiliki bentuk Corticolous pada Tiga Jalur lingkungan pada hutan
tersebut menyerupai kerak yang Hijau Kabupaten Kubu Raya kopi di kawasan Wana
menempel erat pada substrat dan Lichen yang ditemukan pada Wisata Nglimut
foliose (memiliki bentuk lokasi pengamatan sebanyak Gonohajo Kendal pada
menyerupai daun menempel enam genera yaitu Parmelia, ketinggian 700- 800
sedikit longgar pada substrat) Graphis, Chrysothrix, genus mdpl, diperoleh pH
serta substrat tempat 1, 2 dan 3. tanah 6,6, intensitas
ditemukannya lichen adalah kulit cahaya 112lux,
pohon (corticolous) dan bebatuan Lichen yang diperoleh kelembaban 86 %, dan
(saxicolous).Parmotrema adalah memiliki tipe talus foliose (1 temperatur udara 24oC,
lichen tipe thallus foliose, sering genera) dan crustose (5 dan pada hutan
disebut leafy lichen. Permukaan genera). Tipe talus foliose campuran di kawasan
thallus yang luas menyebabkan diwakili genus Parmelia. Wana Wisata Nglimut
lichen ini memiliki kontak yang Graphis, Chrysothrix, genus Gonoharjo Kendal pada
lebih besar dengan polutan sp. 1, 2 dan 3 mewakili tipe ketinggian 700-1000
sehingga akumulasi polutan lebih talus crustose. Genus mdpl,diperoleh pH
Chrysothrix berwarna kuning tanah 6,4,intensitas
seperti serbuk hanya

efisien dibandingkan tipe thallus ditemukan di Jalan Ahmad cahaya
lainnya Panjaitan dkk (2014). Yani II.Keberadaan lichen 164lux,kelembaban 81
Thallus berbentuk menyerupai corticolous tertinggi %, dan temperatur
daun yang tersusun oleh lobus- ditemukan di Jalan Bintang udara 21oC. Menurut
lobus berwarna hijau keabu- Mas sebanyak 5 genera dan Ahmadijan (1967),
abuan. Thallus kompak, kadang- terendah di Jalan Adi Sucipto salah satu contohnya
kadang adanya penutup sebanyak 2 genera. alga jenis Trebouxia
berserabut pada bagian bawah tumbuh baik pada
atau sisi atas. Photobiont berupa kisaran temperatur 12-
chlorophyta, biasanya Trebouxia. 24°C, dan fungi
penyusun lichenes pada

Thallus tidak sepenuhnya umumnya tumbuh baik

menempel pada substrat, pada temperatur 18-

sehingga lebih mudah jika 21°C. Berdasarkan

dilepaskan dari substratnya. kondisi lingkungan

4

Thallus pendek, lebar, dan banyak penelitian, memiliki
lekukan seperti daun yang kisaran suhu 21-24oC,
mengkerut dan berputar. Thallus maka lichenes dapat
merekat pada substrat dengan hidup pada lokasi
rhizines. Rhizines berfungsi penelitian.Jenis-jenis
sebagai alat untuk mengabsorbsi Lichenes di Hutan
makanan bagi lichen, sehingga Nglimut Gonoharjo
lichen ini dapat tumbuh dengan Kendal Penelitian
baik walaupun berada pada tentang
lingkungan yang tercemar. keanekaragaman
Struktur morfologi lichen ini lichenes pada Wana
terdiri dari korteks atas, daerah Wisata Nglimut
alga, medulla, korteks bawah Gonoharjo Kendal yang
berupa rhizines dan silia. di lakukan pada hutan
Parmotrema mampu bertahan campuran dan hutan
terhadap kekurangan air dalam kopi, diperoleh 42 jenis
jangka waktu lama. Lichen ini lichenes yang termasuk
tumbuh menempel pada substrat ke dalam 8 ordo dan 19
kayu atau batang pohon.Parmelia famili. Ordo
adalah lichen tipe thallus foliose. Lecanorales terdiri dari
Thallus berbentuk menyerupai 7 famili yaitu
daun. Thallus kompak, tidak Parmeliaceae,
menempel sepenuhnya pada Candelariaceae,
substrat. Thallus pucat dan Physciaceae,
berwarna hijau keabu-abuan Lecanoraceae,
hingga putih. Bagian bawah lobus Collemataceae,
ditutupi oleh korteks bawah yang Stereocaulaceae, dan
tipis. Photobiont berupa Ramalinaceae. Ordo
chlorophyta. Struktur morfologi Ostropales terdiri dari 3
lichen ini terdiri dari korteks atas, famili yaitu
daerah alga, medulla, dan korteks Phlyctidaceae,
bawah berupa rhizines. Rhizines Mycoporaceae,dan
berfungsi sebagai alat untuk Graphidaceae, Ordo
mengabsorbsi makanan. Parmelia Graphidales terdiri dari
tumbuh menempel pada batang 2 famili.
pohon dan bebatuan.

7 Kesimpulan Hasil penelitian dari dua lokasi Lichen corticolous Berdasarkan hasil

pengamatan ditemukan 60 jenis ditemukan pada tiga jalur penelitian, dapat di

5

lichen berasal dari 11 genus dalam hijau yaitu Jalan Adi simpulkan bahwa
10 family. Parmotrema dan Sucipto, Jalan Ahmad keanekaragaman
Parmelia (Family Parmeliaceae), Yani II dan Jalan Bintang lichenes pada hutan
Graphis (Family Graphidaceae), Mas. Keberadaan lichen kopi dan hutan
Dichosporidium (Family tersebut ditentukan oleh campuran yang di
Rosellaceae), Arthonia (Family substrat dan kualitas udara lakukan di Nglimut
Arthoniaceae), Dirinaria (Family yang diduga masih sesuai Gonoharjo Kendal di
Dirinariaceae), Cryptothecia untuk kehidupan peroleh 42 jenis. 9
(Family Cryptotheciaceae), lichen.Tingginya spesies lichens terdapat
Lecanora (Family Lecanoraceae), kepadatan Graphis di Jalan dihutan kopi, dan 41
Megalospora (Family Ahmad Yani II disebabkan spesies lichenes
Megalosporaceae), Lepraria banyak ditemukannya terdapat di hutan
(Family Leprariaceae) dan pohon palem raja campuran dan 8
Caloplaca (Family (Roystonea regia) dengan speseies lichenes yang
Caloplacaceae). Lichen tipe tekstur permukaan kulit di temukan di hutan
thallus crustose ditemukan pohon relatif halus yang kopi dan hutan
sebanyak 46 jenis (77%) disukai sebagai tempat campuran. Hasil
sedangkan lichen tipe thallus hidup bagi lichen Graphis. penelitian
foliose sebanyak 14 jenis (23%). Hal ini menyebabkan menunjukkan bahwa
Parmotrema merupakan lichen rendahnya nilai tipe crustose
yang memiliki potensi sebagai kemerataan pada Jalan merupakan tipe talus
bioindikator sensitif yang dapat Ahmad Yani II. Tidak lichenes yang paling
ditemukan pada daerah dengan seimbangnya proporsi banyak ditemukan
tingkat pencemaran udara ringan. kepadatan antar individu pada hutan kopi, dan
Ditemukannya lichen jenis yang ada, disebabkan tipe foliose merupakan
parmotrema di lokasi pembanding adanya dominansi jenis tipe talus lichenes yang
mengindikasikan bahwa daerah tertentu. Graphis memiliki paling banyak di
tersebut terindikasi memiliki kepadatan yang sangat temukan dihutan
kualitas udara rendah (tercemar) tinggi pada Jalan Ahmad campuran.
Yani II dibandingkan
dengan jenis lainnya. Fink
(1961) menyatakan bahwa
lichen bertipe talus
crustose lebih mudah
menempel dan sering
ditemukan pada substrat
kulit pohon yang
halus.Genus Chrysothrix
hanya ditemukan pada
jalur hijau di Jalan Ahmad

6

Yani II. Genus ini lebih
suka menempel pada
permukaan batuan
daripada permukaan kulit
pohon.

8 Biobligarifi Laksono, Agung.2016. Barreno, E., 2003, Lichens Ahmadjian, V. 1967.

penulis Identifikasi Jenis Lichen Sebagai as Bioindicators of Forest The Lichen

Bioindikator Kualitas Udara di Health, Biodiversity and Symbiosis.Blaisdell

Kampus Institut Agama Islam Ecological Publishing Company

Negeri Raden Intan Lampung. Continuity, Universitat de Waltham,Massachusetts
Skripsi. Lampung : Institut Raden Valencia, Spanyol.Brodo, . Toronto-
I., Craig. B., dan Finch. London.Anonim, 2012.
Intan.Panjaitan, dkk.2012. K., 2001, Lichens of Struktur Anatomi
Keanekaragaman Lichen Sebagai

Bioindikator Pencemaran Udara North America, Yale Lichenes.
di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. University Press. http://google.com. 21
Volume 01 Hal 01–17. Jurusan Mei 2013. Anonim,

Biologi Fakultas Matematika dan Campbell, 2003, Biologi, 2013a. Hutan.
Ilmu Pengetahuan Alam : Penerbit Erlangga, Jakarta. Universitas Sumatera
Universitas Riau. Utara. Medan. 21 Mei
Clifford, M.W., 1987, 2013. Anonim, 2013b.
Pratiwi, Mungki Eka.2006. Kajian Lichens and Air Quality in Penampang
Lumut Kerak Sebagai Boundary Waters Canoe Soredia.http://waynesw
Bioindikator Kualitas Udara. Area of Superior ord.palomar.edu. 21
Skripsi. Bogor : Fakultas Mei 2013. Anonim,
Kehutanan, Institut Pertanian National Forest, Botany 2013c. Parmeliaceae.
Bogor. Department University of http://google.com. 21
Minnesota, Minnesota. Mei 2013. Anonim,
Rozyati, Efri.2016. Identifikasi 2013d. Phlyctis argena.
Lumut Kerak (Lichen) di Area Fink. B., 1961, The Lichen http://lichens.ie.com. 12
Kampus Universitas Flora of The United States, Juni 2012. Brodo IM,
Muhammadiyah Surakarta. Sharnoff SD,
Proceedings Biology Education Ann Harbor, The SharnoffS. 2001.
Conference (ISSN: 2528-5742), University of Michigan Lichens of North
Vol 13(1) 2016: 770-776. Press, Michigan.Geiser, America. Yale
L.H, K.L. Dillman., C.C. University Press,
Sipman.2003. Key to the Lichen Derr., dan M.C. London.Bungartz, F.
Genera of Bogor, Cibodas and Arizona State
Singapore. Stensvold., 1994, Lichens University.http://nhc.as
of Southeastern Alaska u.edu/lichen/lichen_inf
Suwarso, W.P.2004. Lichens, (An Inventory), USDA
Tanaman Suku Rendah yang Forest Service, Petersburg,

7

Berkhasiat sebagai Obat. Alaska. o/lichen_info.jsp. 7
http://www.Sinar Harapan.co.id. Desember 2013
Diakses 28 Desember 2017. Hadiyati, M., 2013,
Kandungan Sulfur dan Cooke, R. 1978. The
Yurnaliza.2002. Lichenes Klorofil Thallus Lichen Biology of Symbiotic
(Karakteristik, Klasifikasi dan Parmelia sp. dan Graphis fungi. John Willey and
Kegunaan). Medan : Universitas sp. Sons. New York.Fink,
Sumatera Utara. B. 1961. The Lichen
pada Pohon Peneduh Jalan Flora of The United
di Kecamatan Pontianak States. Ann Harbor,
Utara, Jurusan Biologi, The University of
Fakultas Michigan. United State
of America. New York.
Matematika dan Ilmu Hawkssorth dan Rose,
Pengetahuan Alam, 1970. Qualitative scale
Pontianak, (Skripsi) forestimating shulpur
dioxide air pollution in
Kansri. B., 2003, Acid England and Wales
Deposition Monitoring and using epiphytic lichens.
Assessment Third Country
Training: Using Nature (London). Istam,
Y.C. 2007. Respon
Lichen as Bioindicator of Lumut Kerak Pada
Air Pollution, Departemen Vegetasi Pohon Sebagai
of Biology Indikator Pencemaran
Ramkhamhaeng, Thailand. udara Di Kebun Raya
Bogor Dan Hutan Kota
Lubis, H., 1996, Tingkat Manggala Wana
Pencemaran Logam Berat Bhakti.Skripsi. Fakultas
Timbal (Pb) di Kawasan Kehutanan
Medan, Analisa
Institut Pertanian
Lumut Kerak, Jurusan Bogor.Bogor.
Teknik Mesin, Fakultas Januardania, D. 1995.
Teknik Industri, Institut Jenis-jenis Lumut
Teknologi Medan, Kerak yang
Medan.Misra, A., dan Berkembang pada
Agrawal. R.P., 1978, Tegakan Pinus dan
Lichens (A Preliminary Karet di Kampus
Text), Oxford & IBH
Publishing, India. IPB Darmaga Bogor.
Skripsi. Jurusan
Noer, I.S., 2004,

8

Bioindikator Sebagai Alat Manajemen Hutan
Untuk Menengarai Adanya Fakultas Kehutanan
Pencemaran Udara. Forum Institut Pertanian
Komunikasi Lingkungan Bogor. Bogor.
III, Kamajongan,
Bandung. Kricke R, Loppi S.
2002.Bioindication:
Nursal, Firdaus dan The I. A. P.Approach.
Basori., 2005, Akumulasi In: Nimis PL,
Timbal (Pb) Pada Talus
Lichenes di Kota Scheidegger C,
Pekanbaru, WolseleyPA (eds),
Monitoring with
Program Studi Pendidikan Lichens-Monitoring
Biologi FKIP Universitas Lichens,
Riau, (Skripsi).Odum, E.P.
1994. Dasar-dasar IV. Earth and
Ekologi. Edisi Ke-3. EnvironmentalSciences
Gadjah Mada. University -Vol.7, NATO Science
Press, Yogyakarta. Series, Kluwer
Showman, R., dan Janet, Academic Publishers,
T., 2011, Ohio Bryologi et London, 21-37.

Lichenology, Marcelli, M.P., 1992.
Identification, Species, Ecologia liquenica nos
Knowledge. Volume 8, manguezais dosul-
No. 1, Ohio, United State sudeste brasileiro. Bibl.
of America. Lichenol. 47, 1–310.

Topham, P.B., 1977, Misra, A &Agrawal,
Colonization, Growth R.P. 1978.Lichens (A
Succcession and Preliminary Text).
Competition, Academic Oxford & IBH
Press, New York. Publishing.India.
Vashishta, 1982, Botany,
Scand and Company Ltd. Nash TH. 1996. Lichen
Ram Nagar, New Biology.Cambridge
Delhi.Wolseley, P.A., University
2005, Biomonitoring Press,Cambridge.
Methods for Assessing the
Impacts of Nitrogen Noer, I.S. 2004.
Pollution: Refinement and Bioindikator Sebagai
Alat Untuk Menengarai

9

Testing (Appendix III: Adanya Pencemaran
Lichen sampling Udara. Forum
Protocols), Department of Komunikasi
Botany, The Natural Lingkungan III,
History Museum, London. Kamojang. Bandung.

Nugroho, NP. 2012.
StrukturKomunitas
Mikroarthropoda Tanad
di Hutan Wisata
Gonoharjo kecamatan
Limbangan Kabupaten
Kendal. Skripsi.
Universitas
Diponegoro.
Semarang.Oosting, H.J.
1956. The Study of
Plant Communties : an
Jurnal Biologi, Volume
2 No 2, April 2013 Hal.
27-36.

10

Analisis Artikel Kelompok 5 Pembiakan dan Pertumbuhan Bakteri Serta Metabolisme
Mikroba

Link Artikel 1 :
https://www.academia.edu/30970936/Pengaruh_Fermentasi_Fungi_Bakteri_Asam_Laktat_da
n_Khamir_terhadap_Kualitas_Nutrisi_Tepung_Sorgum_Effect_of_Lactic_Acid_Bacteria_Fu
ngi_and_Yeast_Fermentation_on_Nutritional_Quality_of_Sorghum_Flour

Link Artikel 2 : https://ejournal.unib.ac.id/index.php/index/index

N INDIKATOR ARTIKEL 1 ARTIKEL 2
O
1. Judul penelitian Pengaruh Fermentasi Fungi, Bakteri Efek Perendaman Larutan Alkali
2. Nama penulis Asam Laktat dan Khamir terhadap Terhadap Prilaku Film Kertas Dari
3. Mengapa dilakukan Kualitas Nutrisi Tepung Sorgum Nata de coco Yang Dimodifikasi
Raden Haryo Bimo Setiarto, Nunuk Irfan Gustian, Teja Dwi Sutanto,
penelitian tersebut Widhyastuti, Iwan Saskiawan Morina Adfa
Untuk mengetahui Kandungan apa Penelitian ini dilakukan karena para
4. Tujuan penelitian saja yang dihasilkan pada proses peneliti ingin mencari sumber bahan
fermentasi tersebut dan apakah alternatif lainnya yang dapat dibuat
5. Metode penelitian fermentasi dengan fungi mampu sebagai kertas.
yang digunakan meningkatkan nilai gizi dan daya
cerna pa tepung. Pada penelitian tersebut bertujuan
Penelitian ini bertujuan meningkatkan untuk mencoba memanfaatkan nata de
nilai gizi dan daya cerna tepung coco sebagai material untuk
sorgum melalui proses fermentasi pembuatan film kertas. Karena kertas
fungi (Rhizopus oligosporus), bakteri yang digunakan berasal dari cotton
asam laktat (Lactobacillus plantarum) linters dan pulp wood hal ini
dan khamir (Saccharomyces menunjukkan adanya suatu
cerevisiae). ketergantungan yang sangat tinggi
terhadap bahan hayati yang tidak dapat
Proses fermentasi biji sorgum diperbaharui.
dilakukan melalui 2 tahap, yaitu tahap Ada beberapa metode yang digunakan
fermentasi padat menggunakan dalam penelitian yaitu :
inokulum R. oligosporus dan tahap -Pembuatan nata de coco
fermentasi cair/terendam -Proses Pemurnian nata de coco
menggunakan inokulum L. plantarum -Pengukuran ketebalan gel dan kertas
dan S. cerevisiae. Proses fermentasi nata de coco
biji sorgum dilakukan dengan tahapan -Uji Kerapatan kertas untuk
sebagai berikut: penimbangan biji kromatografi
sorgum, pencucian, perendaman, -Uji Derajat Swelling kertas
pemasakan/perebusan, penirisan, Pembuatan film nata de coco diawali
fermentasi padat, fermentasi dengan mencampurkan air kelapa dan
cair/terendam, penirisan, pengeringan gula kemudian ditambahkan starter
dan penepungan. Biji sorgum dicuci (bakteri Acetobacter xylinum dalam
untuk menghilangkan kotoran yang medium cair) setelah melalui
pendinginan pada suhu kamar. Setelah

menempel pada biji. Selanjutnya biji masa fermentasi selama 7 hari akan
sorgum direndam dengan akuades terbentuk gel pada permukaan media
steril sampai seluruh biji terendam cairnya. Gel yang terbentuk ini disebut
sekitar 5 cm dari batas permukaan air pellicle. Proses terbentuknya pellicle
selama 4-6 jam. Biji yang telah merupakan rangkaian aktifitas bakteri
ditiriskan kemudian diberi perlakuan acetobacter xylinum dengan nutrien
yaitu tidak direbus dan direbus (variasi yang ada pada media cair. Karena
waktu perebusan: 10, 20, dan 30 Acetobacter xylinum adalah bakteri
menit). Selanjutnya biji ditiriskan dan yang memproduksi selulosa, maka
didinginkan sampai mencapai suhu nutrien yang berperan adalah nutrien
sekitar 40 °C. yang mengandung glukosa. Dalam
penelitian ini nutrien yang
mengandung glukosa adalah air

6. Deskripsikan hasil Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil pengujian dimana kerapatan
yang diperoleh proses fermentasi dapat meningkatkan kertas yang hanya dicuci dan direndam
peneliti tersebut daya cerna protein sorgum oleh pepsin dengan NaOH 2% (b/v) kerapatannya
sekitar 3,5-5 kali lipat, yaitu dari 0,43 berkisar antara 1,0570 – 1,3330 g/cm2
% menjadi 1,52 % (untuk perlakuan dan lebih besar dibandingkan dengan
fermentasi cair), 2,19 % (untuk kertas hasil pencucian dengan NaOH
fermentasi padat) dan 2,05 % (untuk 2% (b/v) dan direndam lagi dalam
fermentasi campuran padat+cair) NaOH 5% (b/v) yaitu berkisar antara
(Gambar 4). Sementara itu Pranoto 0,7813 – 1,1666 g/cm2.
dkk. (2013) melaporkan bahwa tepung Disini terlihat bahwa kertas dari hasil
sorgum (tanpa pemasakan) hasil perendaman NaOH 5% (b/v) lebih
fermentasi Lactobacillus plantarum kecil dibandingkan dengan kertas yang
memiliki daya cerna protein yang hanya dicuci dan direndam dalam
sangat tinggi hingga mencapai 80-90 NaOH 2% (b/v). Perbedaan kerapatan
%. Perlakuan tanpa pemasakan pada ini mungkin disebabkan karena
biji sorgum akan lebih memudahkan konsentrasi larutan alkali, pada
Lactobacillus plantarum dalam perendaman dengan NaOH 5% (b/v)
mendegradasi protein sebagai sumber dapat menyebabkan pengerutan pada
nitrogen untuk gel nata de coco ini terlihat dari bentuk
pertumbuhannya.Meningkatnya daya fisiknya sehingga dapat mendegradasi
cerna protein sorgum dikarenakan fibril selulosa. Hal ini dapat
selama proses fermentasi, menyebabkan putusnya hubungan
Lactobacillus plantarum menghasilkan antar fibril selulosa dan
enzim protease yang dapat mencerna mengakibatkan tidak terbentuknya
protein sorgum menjadi menjadi mikrofibril-mikrofibril selulosa,
polipeptida sederhana dan asam-asam dengan demikian akan mengakibatkan
amino (Pranoto dkk., 2013). Tepung fruktosa berkurangnya kerapatan
sorgum dengan perlakuan fermentasi membran
padat menggunakan inokulum fungi
R.oligosporus menghasilkan daya
cerna tepung sorgum yang paling
tinggi jika dibandingkan dengan
perlakuan lainnya. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Wang dkk.
(2012) yang melaporkan bahwa
selama fermentasi substrat padat, R.

7. Kesimpulan oligosporus menghasilkan enzim Berdasarkan hasil dan pembahasan
protease dengan aktivitas yang lebih dapat disimpulkan bahwa Kertas yang
8. Bibliografi penulis tinggi dalam mendegradasi protein dihasilkan dari nata de coco yang di
(Cara menuliskan jika dibandingkan dengan isolat BAL modifikasi dengan memanfaatkan
dalam daftar maupun khamir. aktifitas mikroorganisme dapat dibuat
pustaka) dengan bahan dasar air kelapa.
Pembuatan tepung sorgum dapat Prilaku fisik yang dihasilkan akibat
dilakukan secara fermentasi perendaman larutan alkali
menggunakan inokulum R. menunjukkan adanya perbedaan.
oligosporus, L. plantarum dan S. Dari foto SEM menunjukkan bahwa
cerevisiae. Perlakuan fermentasi tidak arah serat-serat selulosa dari kertas
berpengaruh nyata terhadap nilai kadar yang dihasilkan tidak satu
proksimat tepung sorgum. Perlakuan orientasi/tidak beraturan dan panjang-
fermentasi dapat meningkatkan daya panjang/ menyatu sehingga dapat
cerna protein sorgum oleh pepsin mempengaruhi sifat kapileritas.
sekitar 3,5-5 kali lipat. Selama
fermentasi sorgum, kadar asam amino Adisesa, HT, Beberapa perubahan
sistein dan lisin mengalami struktur dalam selulosa pada
peningkatan sedangkan beberapa asam pengeringan, 1993, Tesis , ITB.
amino lainnya menurun. Kadar Brandrup, et al., Polymer handbook,
proksimat tepung sorgum hasil ed 4th, 1999, Jhon Wiley & sons, Inc,
fermentasi telah sesuai dengan standar New York.
mutu tepung sorgum yang ditentukan Iguchi, M., et al., Review bacterial
oleh Codex Standard 173-1989, cellulose A Masterpiece of Nature’s
sehingga layak dikonsumsi. arts, 2000, J. Material Sciences, 35
Indarti. L, dan Yudianti. R, Pengaruh
Anglani, C. (1998). Sorghum for Alkali pada sifat fisis dan mekanis dari
human food – a review. Plant Foods lapisan tipis bioselulosa, 1995,
for Human Nutrition. 52: 85-95 Proseding simposium nasional
AOAC (2010). Official Methods of himpunan polimer Indonesia.
Analysis of The Association of The Shibazaki. H, S.Kuga, F. Onabe and
Analytical Chemists. USA, Maryland. M.Usuda, Bacterial cellulose
Awadalkareem, W.A. (2008). Protein, membrane as separation medium,
mineral content and amino acid profile 1993, Journal of applied Polymer
of sorghum flour as influenced by sciences, 50, 965-969.
soybean protein concentrate
supplementation. Pakistan Journal of
Nutrition 7(3): 475-479.
Awika, J.M. dan Rooney, L.W.
(2004). Review: sorghum
phytochemical and their potential
impact on human health. Journal
Phytochemistry 65: 1199-1221.
BPS (Badan Pusat Statistika) (2013).
Data Impor Tepung Terigu. BPS,
Jakarta.
BSN (Badan Standarisasi Nasional)
(2009). Tepung Terigu sebagai Bahan
Makanan SNI 3751-2009. BSN,
Jakarta.
CAC (Codex Alimentarius
Commision) (1995). Codex Standard

for Sorghum Flour 173-1989.
http://codex_stan_173-1989.cac.co.us.

Analisis Artikel Kelompok 6 Golongan Jamur, Virus, dan Genetika Mikroba
Link Artikel 1 : http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/kauniyah/article/view/2716
Link Artikel 2 : https://jurnal.ugm.ac.id/jpti/article/view/17251/11538

N INDIKATOR ARTIKEL 1 ARTIKEL 2
O
1. Judul penelitian Peranan Jamur Rhizoctonia sp. Asal Peranan Jamur Mikorizaarbuskular
Taman Nasional Rawa Aopa Terhadap Perkembangan Penyakit
2. Nama penulis Watumohai Sulawesi Tenggara Daun Keriting Kuning Cabai.
3. Mengapa dilakukan Terhadap Keberhasilan Aklimatisasi
dan Laju Pertumbuhan Planlet Muhammad Imron, Suryanti dan Sri
penelitian tersebut Anggrek Macan (Grammatophyllum Sulandari
scriptum BL.) Penelitian ini dilakukan agar dapat
4. Tujuan penelitian mengantisipasi bagaimana cara
Rita Ningsih, Sri Ambardini dan mengatasi penyakit daun kuning pada
5. Metode penelitian Denofia pertumbuhan daun cabai.
yang digunakan
Agar masyarakat dapat mengetahui Tujuan penelitian ini adalah untuk
bagaimana cara membudidayakan mengetahui alternatif usaha
tanaman Anggrek dengan pengendalian penyakit daun keriting
memanfaatkan Jamur yang ada kuning cabai yang ramah lingkungan
dikawasan Taman Nasional Rawa yang akan berpengaruh terhadap
Aopa Watumohai Sulawesi Tenggara. keberadaan dan tingkat keparahan
Penelitian ini bertujuan untuk penyakit tumbuhan.
meningkatkan pengaruh pemberian
jamur Rhizoctonia sp. asal Taman Benih cabai disemai dan setelah
Nasional Rawa Aopa Watumohai berkecambah ditanam pada polybag
(TNRAW) terhadap keberhasilan yang telah diisi dengan tanah steril,
aklimatisasi dan laju pertumbuhan dan diinokulasi dengan JMA sebanyak
planlet anggrek macan serta tingkat 5 g/tanaman. Pemeliharaan dilakukan
keberhasilan infeksi jamur Rhizoctonia pada rak yang disungkup, sehingga
sp. pada akar planlet anggrek macan. bibit tidak terinfestasi serangga
vektor.
Metode penelitian terdiri dari tiga Pindahi tanamam dilakukan setelah
tahapan utama yaitu inokulasi jamur umur tanaman mencapai 35−45 hari
pada media tumbuh anggrek, uji atau tinggi tanaman sekitar 20−30 cm.
pertumbuhan dan verifikasi Pada saat pindah tanam bibit
keberhasilan infeksi pada akar planlet. diperlakukan dengan JMA sebanyak
Jamur Rhizoctonia sp. yang telah 10g/tanaman.Penelitian dilakukan
diremajakan diinokulasikan ke media
moss (7 g/pot) dengan meletakkan 3
plak/pot yang masing-masing plak
berdiameter 5 milimeter dengan
menggunakan cork borer. Selanjutnya
diinkubasi selama 2 minggu, pada R2
diberikan media PDB setiap 2 hari
sekali. Uji pertumbuhan terdiri dari 3

6. Deskripsikan hasil perlakuan yaitu kontrol (K0), dengan perlakuan sebagai berikut: T0
yang diperoleh pemberian Rhizoctonia sp. (R1), = tanpa inokulasi JMA, T1 = inokulasi
peneliti tersebut pemberian Rhizoctonia sp. dan nutrisi JMA di pembibitan, T2 = inokulasi JMA
PDB untuk jamur (R2). Setiap pot yang saat pindah tanam, dan T3 = inokulasi
berisi moss pada ketiga perlakuan JMA di pembibitan dan saat pindah
tersebut ditanami 1 planlet anggrek tanam.Pengamatan dilakukan mulai 7
macan. Proses aklimatisasi dilakukan hari setelah tanam dengan teknik
selama 4 minggu di dalam rumah skoring. Skoring daun yang digunakan
kaca. Minggu pertama disungkup 24 adalah: 0 = daun sehat atau tidak
jam, minggu kedua dibuka sungkup 1 bergejala, 1 = daun berwarna kuning
jam setiap pagi hari, minggu ketiga kehijauan, 2 = daun
dibuka dari pagi menguning,mengeriting, 3 = daun
sampai siang, minggu keempat dibuka menguning, keriting, dan ukurannya
dari pagi sampai sore. Untuk kecil, serta 4 = daun menguning,
memastikan keberhasilan infeksi pada keriting,ukuran kecil, dan kerdil.
akar planlet anggrek macan dilakukan
verifikasi berupa pengamatan Peranan JMA terhadap intensitas
terhadap irisan melintang akar penyakit daun keriting kuning cabai
planlet. Selanjutnya data telah diamati dengan hasil
pertumbuhan dianalisis secara pengamatan perkembangan penyakit
statistik dengan menggunakan uji-F daun keriting kuning cabai yang
yang dilanjutkan dengan uji BNT pada ditunjukkan terlihat bahwa terjadi
taraf kepercayaan 95%. peningkatan intensitas penyakit
Hasil pengukuran rata-rata tinggi seiring dengan perkembangan waktu
planlet anggrek macan yang telah pengamatan, namun dapat terlihat
diberi perlakuan jamur Rhizoctonia sp. bahwa pada perlakuan kontrol
pada minggu keempat, hasil analisis memiliki Intensitas Penyakit yang
sidik ragam (uji-F) terhadap selalu paling tinggi dibandingkan
pertumbuhan tinggi planlet anggrek dengan perlakuan yang lain.
macan pada setiap interval waktu Kemunculan gejala penyakit keriting
pengamatan saat aklimatisasi kuning cabai pada tanaman yang
menunjukkan bahwa pemberian diinokulasi dengan JMA terjadi pada
jamur Rhizoctonia sp. berpengaruh minggu ketiga setelah tanam, dua
nyata terhadap pertumbuhan tinggi minggu lebih lambat dibandingkan
planlet anggrek macan pada taraf dengan tanaman yang tidak
kepercayaan 95%, hal ini ditunjukkan diinokulasi dengan JMA. Hal ini berarti
dengan nilai (Fhit > Ftab). Hasil uji inokulasi JMA pada tanaman cabai
lanjut (BNT) menunjukkan bahwa dapat menunda munculnya
pemberian jamur Rhizoctonia sp. infeksiBegomovirus. Penundaan
berpengaruh nyata terhadap kemunculan gejala ini diketahui
pertumbuhan tinggi planlet anggrek
macan, perlakuan R1 dan R2 berbeda
nyata dengan K0, namun R2 tidak
berbeda nyata dengan R1. Hasil
penelitian ini selaras dengan Wu et
al., (2010) menyatakan bahwa
pemberian inokulasi Rhizoctonia sp.

7. Kesimpulan pada anggrek Cymbidium georingii mampu menurunkan Intensitas
menunjukkan adanya perbedaan yang Penyakit keriting kuning cabai pada
signifikan terhadap tinggi tanaman yang diinokulasi dengan
tanaman.Hal ini disebabkan karena JMA.Meningkatnya ketahanan
mikoriza memberikan peranannya tanaman cabai terhadap serangan
secara baik terhadap penyerapan Begomovirus diduga disebabkan oleh
kebutuhan unsur hara untuk sistem perakaran tanaman yang lebih
peningkatan tinggi planlet. Dengan panjang dan lebih tebal sehingga
adanya infeksi mikoriza pada planlet pasokan unsur hara dan nutrisi yang
anggrek maka jumlah unsur hara yang diperlukan tanaman dapat
diserap tanaman pun relatif banyak. terpenuhi.Jika nutrisi tanaman
Diduga tanaman anggrek yang masih terpenuhi maka metabolisme
sangat muda ini rentan untuk ditanam tanaman akan meningkat, yang
secara individu. Hal ini diperkuat berpengaruh terhadap kesehatan
dengan data penelitian ini yang tanaman. Infeksi mikoriza pada akar
cenderung baik dalam meningkatkan tanaman inang akan membantu akar
pertumbuhan tanaman adalah tanaman dalam penyerapan nutrisi,
perlakuan yang diinokulasi dengan terutama unsur P dan beberapa
jamur. mineral lainnya akan menyebabkan
pertumbuhan tanamanmenjadi lebih
1. Perlakuan pemberian jamur baik sehingga lebih tahan terhadap
Rhizoctonia sp. tanpa penambahan infeksi patogen (Linderman,1994).
nutrisi PDB (R1) maupun dengan Pengaruh inokulasi JMA terhadap
penambahan nutrisi PDB (R2) tingkat keparahan gejala penyakit
berpengaruh secara signifikan dalam keriting kuning cabai. Dapat diketahui
meningkatkan pertumbuhan tinggi bahwa intensitas dan tingkat
tanaman, jumlah daun dan jumlah keparahan gejala penyakit daun
keriting kuning cabai pada perlakuan
kontrol, pada awalnya berbeda nyata
dengan perlakuan yang lain. Tingkat
keparahan gejala penyakit pada
perlakuan kontrol yang awalnya
bersifat ringan, mulai meningkat
menjadi sedang pada minggu
keempat, dan pada minggu ke-8
terjadi peningkatan menjadi
berat.Pada cabai yang diinokulasi
dengan JMA terlihat bahwa sampai
minggu ke-9 tingkat keparahan gejala
penyakitnya masih bersifat sedang.
Nokulasi JMA mampu meningkatkan
ketahanan tanaman terhadap penyakit
daun keriting kuning cabai. Inokulasi
JMA pada tanaman cabai dapat
menunda infeksi Begomovirus dan
menunda munculnya gejala penyakit
daun keriting kuning cabai.Hal ini
menunjukkan bahwa inokulasi JMA

8. Bibliografi penulis akar planlet, namun tidak mampu menghambat perkembangan
(Cara menuliskan berpengaruh signifikan terhadap penyakit daun keriting kuning pada
dalam daftar peningkatan berat basah dan berat cabai. Penghambatan perkembangan
pustaka) kering planlet anggrek macan selama penyakit keriting kuning cabai juga
satu bulan periode aklimatisasi. dapat dilihat berdasarkan laju infeksi
2. Jamur Rhizoctonia sp. berhasil penyakit
menginfeksi akar planlet anggrek
macan melalui velamen menuju Al-Askar, A.A. & Y.M. Rasad. 2010.
eksodermis dan korteks dengan Arbuscular Mycorrhizal Fungi: A
membentuk gulungan hifa (peloton). Biocontrol Agent against Common
3. Pengujian isolat jamur Rhizoctonia Bean Fusarium Root Rot Disease.
sp. dari akar anggrek tanah Plant Pathology Journal 9: 31−38.
(Spathoglotis plicata) yang berasal Baar. J. 2008. From Production to
dari Taman Nasional Rawa Aopa Applicationof Arbuscular Mycorrhizal
Watumohai menunjukkan pengaruh Fungi in Agricultural System:
yang positif terhadap pertumbuhan Requirement and Needs, p. 361−373.
planlet anggrek macan. In.A. Varma (ed.), Mycorrhizae State
Agustini, V. (2003). Peranan Mikoriza of the Art, Genetic and Molecular
Anggrek pada Pertumbuhan Anggrek Biology, Eco-Function,
Dendrobium sp. Sains, 3(2), 39-42. Biotechnology,Eco-Physiology.
Andersen, T. F. & H. N. Rasmussen. Structure and Systematic. Springer-
(1996). The Mycorrhizal Species of Verlag Berlin Heidelberg.
Rhizpctonia. In Sneh, B., S. Jabaji- de la Pefia, E., S.R. Echeverria, W.H.
Hare, S. Neate, & G. Dijst (Eds). van der Putten, H. Freitas & M.
Rhizoctonia Species: Taxonomy, Moens. 2006. Mechanism of Control
Molecular Biology, Ecology, Pathology of Root-feeding nematodes by
and Disease Control. (pp. 379-390). Mycorrhizal Fungi in
London: KAP. theDuneGrassAmmophila
Peterson, R. L. & M. L. Farquhar. arenaria.NewPhytologist 169:
(1994). Mycorrhizas Integrated 829−840.
Development between Roots and Hempel, S., C. Stein C, S.B. Unsicker,
Funfi. Mycologia,311-326. C. Renker, H. Auge, W.W., Weisser,
Sasli, I., 2004. Peranan Mikoriza & F. Buscot. 2009. Specific Bottom-
Vesikula Arbuskula (MVA) dalam up Effects of Arbuscular Mycorrhizal
Meningkatkan Resistensi Tanaman Fungi Across a Plant-herbivore-
terhadap Cekaman Kekeringan. parasitoid System. Oecologia 160:
Institut Pertanian Bogor. Bogor. 267−277.
Sneh, B., Burpee, L., & Ogoshi, A. Linderman RG. 1994. Role of VAM
(1999). Identification of Rhizoctonia Fungi in Biocontrol, p. 1−26. In F.L.
species (pp 133). APS Press.

Pfleger & R.G. Linderman (eds.),
Mycorrhizae and Plant Health. APS
Press,St. Paul, Minnesotta.

Artikel Kelompok 10 Mikrobiologi Dalam Makanan dan Mikrobiologi Lingkungan
Link Artikel 1 : https://e-journal.umaha.ac.id/index.php/sainhealth/article/view/109
Link Artikel 2 : https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/6646

N INDIKATOR ARTIKEL 1 ARTIKEL 2
O
1. Judul penelitian Analisis Mikrobiologi Jajanan Identifikasi Keberadaan Bakteri
Minuman Di Sekitar Sekolah Dasar Coliform dan Total Mikroba Dalam
2. Nama penulis Pada Wilayah Jemurwonosari, Es Dung-Dung Di Sekitar Kampus
3. Mengapa dilakukan Surabaya Universitas Muhammadiyah
Surakarta
penelitian tersebut Endah Prayekti
Aprilia Mustikaning Putri1*,
Penelitian ini dilakukan guna untuk
mengetahui apakah jajanan minuman Pramudya Kurnia
yang biasanya dijual di sekolah dasar
dapat dikonsumsi atau tidak. Penelitian ini dilakukan agar dapat

mengetahui apakah es dung dung

yang dijual terdapat bakteri cliform

yang tidak baik bagi tubuh

4. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui bakteri apa saja yang mengetahui mutu mikrobiologi (total
5. Metode penelitian terkandung dalam jajanan minuman mikroba dan jumlah bakteri
yang digunakan yang dapat mengganggu kesehatan. coliform)es dung-dung yang dijual di
sekitar kampus Universitas
Jenis penelitian ini merupakan Muhammadiyah Surakarta.
penelitian deskriptif observasional. Jenis penelitian ini adalah penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium deskriptif dengan teknik pengambilan
Mikrobiologi, Kampus B, Universitas sampel purposive sampling dan
Nahdlatul Ulama Surabaya. Populasi diperoleh 7 sampel es dung-dung
yang dijangkau adalah penjual yang dijual di sekitar kampus
minuman disekitar Sekolah Dasar di Universitas Muhammadiyah
wilayah Jemurwonosari, Surabaya. Surakarta. Metode yang digunakan
Sampel penelitian yang digunakan untuk menguji sampel pada penelitian
adalah 9 minuman yang dijual oleh ini yaitu Total Plate Count (TPC) dan
pedagang dalam populasi. Most Probable Number
Prosedur Penelitian menggunakan (MPN).Pengambil sampel dilakukan
metode analisis sampel menggunakan pada penjual es dung-dung di sekitar
metode MPN dengan 15 seri kampus Universitas Muhammadiyah.
tabung,menggunakan media Lactose TPC dan MPN dilakukan di
Broth, Brillian Green Lactose Bile Laboratorium Mikrobiologi
Broth dan Eosin Metilin Blue Agar. Universitas Muhammadiyah
Metode MPN yang digunakan dalam Surakarta.

6. Deskripsikan hasil penelitian. Hasil yang diperoleh dari pengujian
yang diperoleh Hasil yang didapatkan pun banyak menunjukkan bahwa semua sampel
peneliti tersebut dijumpai adanya bahan pangan yang positif membentuk gelembung/gas,
berada di atas ambang batas standar yang diduga telah terjadi kontaminasi
7. Kesimpulan cemaran mikroba dalam makanan oleh bakteri coliform.Hasil
maupun minuman. Dalam penelitian perhitungan jumlah coliform
8. Bibliografi penulis ini, analisis sampel secara menggunakan tabel MPN (Most
mikrobiologi dengan menghitung Probable Number)dapat menentukan
jumlah bakteri koliform dan E.coli kualitas suatu produk.
menunjukkan hal yang serupa, yaitu Hasil pengujian MPN dari ketujuh
dijumpai kedua bakteri tersebut sampel menunjukkan bahwa semua
(Tabel 1). Berdasarkan temuan sampel melebihi batas cemaran
tersebut, tentunya dapat dibaca mikroba (batas maksimum 10
bahwa tidak banyak penjual yang APM/100 ml) berdasarkan PKBPOM
memperhatikan akan hieginitas dari Nomor 16 Tahun 2016 Tentang
produk yang dia jual. Kriteria Mikrobiologi dalam Pangan
Olahan. Ini menunjukkan bahwa
Jadi kesimpulan yang dapat diambil kualitas sampel es dung-dung yang
adalah jajanan minuman yang dijual telah diuji kurang layak untuk
disekolah dasar dimana kualitas air dikonsumsi.
minum, menyebutkan bahwa jumlah Dapat disimpulkan bahwa mutu
bakteri koliform dan bakteri mikrobiologi jajanan es dung-dung
Escherichia coli dalam air minum yang dijual di sekitar kampus
adalah 0. Sehingga dapat dikatakan Universitas Muhammadiyah Surakarta
bahwa minuman yang diambil sebagai masih kurang baik. Hasil pengujian
sampel tidak memenuhi syarat untuk mikroba menggunakan standar TPC
dikonsumsi. dan MPN menunjukkan bahwa jumlah
mikroba pada semua sampel melebihi
Endah Prayekti Universitas Nahdlatul batas aman yang ditetapkan oleh
Ulama Surabaya endahpheunusa.ac,id PKBPOM Nomor 16 Tahun 2016
ABSTRACT - Analisis Mikrobiologi Tentang Kriteria Mikrobiologi dalam
Jajanan Minuman Di Sekitar Sekolah Pangan Olahan.
Dasar Pada Wilayah Jemurwonosari, Aprilia Mustikaning Putri, Pramudya
Surabaya - UNUSA Repository Jurnal Kurnia Identifikasi Keberadaan Bakteri
SainHealth Vol. 1 No. 2 Edisi Coliform dan Total Mikroba Dalam Es
September 2017 Dung-Dung Di Sekitar Kampus Universitas
Muhammadiyah Surakarta
[IDENTIFICATION OF COLIFORM
BACTERIA AND THE TOTAL MIKROBES IN
DUNG-DUNG ICE AROUND UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA CAMPUS]
Edisi 2018

Analisis Artikel Bahasa Inggris

Link Artikel :
https://www.researchgate.net/profile/Ahmad-Yani-4/publication/319998091_Developing_Scienti
fic_Approach_Based_Learning_Module_In_Plantae_Concept/links/59c5faa8458515548f2b1c46/
Developing-Scientific-Approach-Based-Learning-Module-In-Plantae-Concept.pdf

Jurnal Bahasa Inggris

Research title results Developing Scientific Approach Based Learning Module in
Writer's name Plantae Concept
Why research
Research purposes Ahmad Yani, Suradi Tahmir, Muhiddin

Research methods So that we can find out what methods are effectively used in
learning about plants
Description of the
obtained This study, aim to produce learning modules that can help
students better understand the concepts in plantae. Next this
modules are expected to be valid,practical,and effective
especially to provide learning with a scientific approach that
according to the conditionof students and curriculum
requirements.

This research model includes a systematic and detailed
series of stages of developmentincludes defining design,
development, and deployment. Thatproduct trials in a
scientifically based form learning module applied in high
school biology class Negeri 2 Sengkang, Tempe District,
Wajo Regency.

The analysis of the module effectiveness was conducted by
evaluating these following indicators: (1) the ability of the
teacher to organize learning, (2) the students’ responses, (3)
the students learning achievement. The results of the
analysis are explained as follows.
a. The teacher was able to organize learning using the
scientific approach based module. Table 3 depicts the results
of the analysis of the teacher’s ability to organize
learning.Based on the results presented in Table 3, it can be
concluded that the teacher could manage to learn with
scientific approach pretty well. The teacher could achieve
3,52 (NKG/teacher's competence score) to prove that his/her
competence was right (3 ≤ NKG < 4).
b. The module developed fulfilled the criteria for an
effective module. The results of the analysis of the students'
responses towards the implementation of the module are
presented in Table 4.Table 4. shows that the module was
effective. There were 94,61% of the students providing
positive responses: 98,04% of the students strongly agreed,
91,18% agreed, and 10,78% entirely agreed.

Conclusion c. There were 34 students involved in this study. They were
Writers biography heterogeneous concerning cognitive, and most of them did
not have access to reference books so the library was the
only place from where they can borrow books. Before the
implementation of the module, the pretest was conducted to
measure their comprehension of the Plantae subject. The
post-test was executed after the treatment to investigate the
students' achievement. The test consisted of 25 multiple-
choice items with five alternative answers. The results of the
test are depicted in Table 5.It can be concluded that the
students achieved better in Plantae after the implementation
of the module. There were 94,11% of the students able to
get a higher score on average.

Based on the results of this research, it can be concluded
that: 1) this learning module has reached a high score
invalidity that is 4,34; 2) the practicality level of the learning
activities conducted using this learning module is 3,65
which is considered high; 3) the effectiveness score of the
learning module is 3,52 which belongs to the good category
with an interval 3≤NKG<4. 94,61% of the students have
provided positive responses, and 94,11% of the students
have improved their mastery level on Plantae subject. The
average score for the improvement is 48,70.instructions for
the students to do an observation. This part of the module
presents detailed information since it also displays some
picture and images to help the students to understand the
process. This result is following the statement of
Kemendikbud that says that students can read, listen, and
watch their surrounding to observe [2]. To conclude, this
module was categorized “Valid” (4≤Va<5) with the average
score of = 4,34.

Ahmad Yani, Suradi Tahmir, Muhiddin Developing
Scientific Approach Based Learning Module in Plantae

Concept avilable Online August 2017
https://doi.org/10.2991/icomse-17.2018.33

Refleksi Diri Tentang Analisis Artikel

Dari beberapa tugas yang telah diberikan mengenai analisis sebuah artikel saya mendapatkan banyak
ilmu serta pengetahuan terkait Mikrobiologi karena dengan adanya tugas menganalisis artikel minat
dalam membaca menjadi meningkat. Selain itu saya juga bisa menentukan inti dari isi sebuah artikel
dimana diantaranya seperti jenis-jenis linchen, tentang Jamur, mikroba dan bisa memanfaatkan di
kehidupan sehari-hari seperti Mikroba pangan.

Pembiakan Dan Pertumbuhan Bakteri
Serta Metabolisme Mikroba

Oleh Kelompok V
Rizky Arfadilla (19002032)

Asryana (190202006)
Nirmayanti Syamsuddin (190202023)

Muh. Afdal (190202016)

Pendidikan Biologi IV
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Puangrimaggalatung
2021

RINGKASAN
Salah satu ciri makhluk hidup yaitu memerlukan makanan. Hal ini
disebabkan karena makhluk hidup membutuhkan energi dari makanan tersebut.
Namun makanan tersebut tidak langsung berubah menjadi energi yang dibutuhkan
oleh makhluk hidup. Perubahan dari makanan menjadi energi melalui proses yang
disebut proses metabolisme.
Metabolisme adalah suatu ciri yang dimiliki makhluk hidup yang
merupakan serangkaian reaksi kimia di dalam sel. Reaksi-reaksi ini tersusun
dalam jalur-jalur metabolisme yang rumit dengan mengubah molekul-molekul
melalui tahapan-tahapan tertentu. Secara keseluruhan metabolisme bertanggung
jawab terhadap pengaturan materi dan sumber energi dari sel. Metabolisme terjadi
pada semua mahluk hidup termasuk kehidupan mikroba.(IW Suberata).
Dalam metabolisme ada dua fase yaitu katabolisme dan anabolisme.
Secara menyeluruh sebagian besar katabolisme adalah respirasi seluler di mana
glukosa dan bahan bakar organik yang lain dipecah menjadi karbon dan air
dengan membebaskan energi. Energi yang diperoleh disimpan dalam molekul-
molekul organik dan digunakan untuk melakukan kerja dari sel. Kebalikan dari
katabolisme adalah anabolisme, yang merupakan serangkaian reaksi-reaksi kimia
yang membutuhkan energi untuk membentuk molekul-molekul besar dari
molekul-molekul yang lebih kecil, misalnya pembentukan protein dari asam
amino.

ii

DAFTAR ISI

RINGKASAN........................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii
BAB I...................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.................................................................................................................. 1
BAB II ISI.............................................................................................................................1

A. Teknik Fermentasi Yogurt..........................................................................................1
B. Teknik Fermentasi Nata De Coco................................................................................3
C. Anabolisme dan Katabolisme.....................................................................................4
D. Macam bakteri berdasarkan makanan yang diperlukannya......................................5
E. Respirasi bakteri.........................................................................................................5
F. Fermentasi..................................................................................................................6
H. Uji metabolisme bakteri (P).......................................................................................8
I. Pengaruh aerasi dalam proses pembuatan tempe (P).................................................9
J. Pengamatan sel mikroba dalam makanan fermentasi (P).........................................11
BAB III PENUTUP..............................................................................................................15
Kesimpulan...................................................................................................................15
Saran............................................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................16

iii

BAB I
PENDAHULUAN
Metabolisme adalah suatu ciri yang dimiliki makhluk hidup yang
merupakan serangkaian reaksi kimia di dalam sel. Reaksi-reaksi ini tersusun
dalam jalur-jalur metabolisme yang rumit dengan mengubah molekul-molekul
melalui tahapan-tahapan tertentu. Secara keseluruhan metabolisme bertanggung
jawab terhadap pengaturan materi dan sumber energi dari sel. Metabolisme terjadi
pada semua mahluk hidup termasuk kehidupan mikroba.(IW Suberata).
Dalam metabolisme ada dua fase yaitu katabolisme dan anabolisme.
Secara menyeluruh sebagian besar katabolisme adalah respirasi seluler di mana
glukosa dan bahan bakar organik yang lain dipecah menjadi karbon dan air
dengan membebaskan energi. Energi yang diperoleh disimpan dalam molekul-
molekul organik dan digunakan untuk melakukan kerja dari sel. Kebalikan dari
katabolisme adalah anabolisme, yang merupakan serangkaian reaksi-reaksi kimia
yang membutuhkan energi untuk membentuk molekul-molekul besar dari
molekul-molekul yang lebih kecil, misalnya pembentukan protein dari asam
amino.

BAB II
ISI

A. Teknik Fermentasi Yogurt
Yogurt dibuat dengan bantuan dua jenis bakteri menguntungkan, satu dari

keluarga lactobacillus yang berbentuk batang (Lactobacillus Bulgaricus) dan

1

lainnya dari keluarga streptococcus yang berbentuk bulat (Streptococcus
Thermophilus). Kedua bakteri yogurt ini merupakan bakteri penghasil asam laktat
yang penting peranannya dalam pengaturan mikroflora usus. Saat bertumbuh di
usus, Lactobacillus Bulgaricus dan S.Thermophilus mampu menciptakan keadaan
asam yang menghambat bakteri lain. Bakteri penyebab penyakit yang umumnya
tak tahan asam tak mampu bertahan di lingkungan bakteri yogurt. Sementara
bakteri lain yang memang seharusnya melimpah dirangsang untuk bertumbuh.
Sehingga mikroflora dalam usus didorong mendekati keadaan seimbang yang
normal.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa bakteri dalam yogurt dan susu
fermentasi lain memberi ekstra manfaat bagi tubuh. Bakteri yogurt membutuhkan
kondisi pertumbuhan yang cocok terutama suhu yang tepat. Umumnya bakteri
tumbuh baik pada keadaan hangat. Bakteri yogurt S.Thermophilus dan L.
Bulgaricus paling cepat tumbuh di sekitar suhu 40– 44°C (bergantung pada
galurnya). Jika suhu terlalu rendah bakteri akan berkembang biak lambat atau
tidak sama sekali. Sementara jika suhu terlampau panas bakteri bisa rusak dan
mati. Bahaya lain, yaitu merajalelanya mikroba lain yang kondisi optimumnya di
suhu lebih tinggi atau rendah. Karena lebih cepat berkembang biak di suhu
tersebut, jumlah mikroba penyusup tadi dapat menyusul bahkan menyisihkan
bakteri yogurt semula.

Adapun tahap – tahap pembuatan yogurt menurut Tri Eko S dan Manik Eirry S
adalah sebagai berikut:

1. Susu segar dipanaskan sampai suhu 90 °C dan selalu diaduk supaya
proteinnya tidak mengalami koagulasi. Pada suhu tersebut dipertahankan
selama 1 jam. Apabila dilakukan pasteurisasi maka suhu pemanasannya
adalah 70 – 75 °C . Jika hal ini yang dilakukan, maka pemanasan
dilakukan sebanyak dua kali.

2. Setelah dipanaskan, selanjutnya dilakukan pendinginan sampai suhunya
37- 45 °C. Pendinginan tersebut dilakukan dalam wadah tertutup.

3. Setelah suhu mencapai 37-45 °C maka dilakukan inokulasi / penambahan
bakteri ke dalam susu tersebut sejumlah 50 – 60 ml/liter susu. Penambahan
bakteri dilakukan dengan teknik aseptic (di dekat api).

4. Setelah ditambah bakteri, selanjutnya diperam pada ruangan hangat (30-40
°C), dalam keadaan tertutup rapat selama 3 hari.

5. Tahap selanjutnya adalah filtrasi. Hal ini dilakukan untuk memisahkan
bagian yang padat/ gel dengan bagian yang cair. Pada waktu pemisahan ini
diusahakan dilakukan di dekat api sehingga bagian yang cair (sebagai
stater berikutnya) terhindar dari kontaminasi. Bagian yang padat inilah
yang siap dikonsumsi (yoghurt). Bagian yang cair berisi bakteri

2

Lactobacillus sp yang dapat digunakan untuk menginokulasi susu yang
segar.
6. Supaya yogurt lebih lezat rasanya dapat ditambah dengan potongan buah –
buahan yang segar, cocktail, nata de coco atau dibekukan menjadi es,
dapat pula dicampur dengan berbagai buah-buahan untuk dibuat juice
(minuman segar).

Sebagian besar senyawa alam terdegradasi oleh beberapa jenis mikroba dan
bahkan banyak senyawa buatan manusia juga diserang oleh bakteri. Terjadi dalam
lingkungan tanpa oksigen (atau kondisi untuk reaksi redoks yang cocok),
degradasi ini mengakibatkan terjadinya fermentasi.

B. Teknik Fermentasi Nata De Coco
Nata de coco merupakan produk pangan berbahan dasar air kelapa. Nata

digunakan untuk menyebut pertumbuhan menyerupai gel atau agar - agar yang
terapung yang dihasilkan oleh bakteri Acetobacter Xylinum di permukaan media
yang mengandung sumber karbon (gula), hidrogen, nitrogen, dan asam (Hamad
dalam BS Aprilia, 2017). Menurut Sari (dalam BS Aprilia, 2017) menjelaskan
bahwa nata berupa selaput tebal yang mengandung 35 - 62 % selulosa, berwarna
putih keruh, dan kenyal. Selulosa yang dihasilkan selama fermentasi adalah jenis
polisakarida mikrobial yang tersusun dari serat - serat selulosa yang dihasilkan
oleh Acetobacte Xylinum dan saling terikat oleh mikrofibril.

Nata de coco, seperti namanya, terbuat dari fermentasi air kelapa yang
dilakukan oleh bakteri Acetobacter xylinum.Air kelapa yang digunakan sebagai
media fermentasi sebaiknya yang tidakterlalu muda ataupun terlalu tua agar
menghasilkan nata yang baik (Sihmawati et al., 2014). Air kelapa juga perlu
proses penyaringan dan pemanasan (perebusan) sebelum fermentasi agar steril
karena jika terdapat kontaminan maka proses fermentasi akan terganggu. Air
kelapa mengandung nutrisi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan
bakteri Acetobacter xylinum. Air kelapa mengandung vitamin, protein,
karbohidrat, dan berbagai mineral penting seperti kalium, natrium, magnesium,
kalsium, dan fosfor. Selain itu, air kelapa juga mengandung karbohidrat dalam
bentuk sederhana antara lain sukrosa, glukosa, fruktosa, sorbitol, dan inositol
(Setiaji et al., 2002).

Tahapan pembuatan nata de coco cukup mudah yaitu dengan memanaskan
air kelapa, menambahkan nutrisi (sumber karbon dan nitrogen), menambahkan
asam, menginokulasi bakteri Acetobacter xylinum, lalu memulai proses
fermentasi (Widyaningsih dan Diastuti, 2008). Setelah proses fermentasi selesai,
nata yang telah terbentuk kemudian memasuki proses pencucian, perebusan,
perendaman, dan perebusan kembali (Manoi, 2007). Proses perendaman dapat

3

berlangsung 1 hingga 2 hari atau hingga tidak tercium bau asam. Air rendaman
juga perlu diganti secara berkala misalnya setiap 6 jam sekali.

Mekanisme pembentukan nata dimulai dengan pemecahan sukrosa
ekstraseluler menjadi glukosa dan fruktosa oleh Acetobacter xylinum, kemudian
glukosa dan fruktosa tersebut digunakan dalam proses metabolisme sel. Selain itu,
Acetobacter xylinum juga mengeluarkan enzim yang mampu menyusun senyawa
glukosa menjadi polisakarida atau selulosa ekstraseluler. Selulosa tersebut
kemudian akan saling terhubung lalu membentuk masa nata. Fruktosa selain
digunakan sebagai sumber energi, juga berperan sebagai induser bagi sintetis
enzim ekstraseluler polimerase (Setiaji et al., 2002). Lapisan tipis nata dapat mulai
terlihat setelah 24 jam inkubasi (Rizal et al., 2013).

Selain nutrisi, pH media, ketersediaan oksigen, suhu lingkungan, lama
waktu fermentasi, dan ada tidaknya kontaminan, kualitas nata dan pertumbuhan
Acetobacter xylinum juga dipengaruhi oleh kondisi ruang dan wadah fermentasi.
Ruang dan wadah untuk fermentasi harus terjaga kebersihannya dan bebas dari
segala kontaminan. Proses fermentasi di ruangan gelap dapat menghasilkan nata
yang lebih tebal. Wadah fermentasi perlu ditutup dengan koran untuk
menghindari kontaminan (Majesty et al., 2015). Wadah yang digunakan untuk
fermentasi juga sebaiknya dijaga agar tidak tergoyang selama fermentasi
berlangsung karena dapat menyebabkan struktur lapisan nata menjadi pecah (Sari
et al., 2014).

C. Anabolisme dan Katabolisme
Metabolisme merupakan seluruh peristiwa reaksi-reaksi kimia yang

berlangsung dala sel makhluk hidup. Metabolisme terdiri atas dua proses, yaitu
anabolisme dan katabolisme. Anabolisme adalah penyusunan senyawa kimia
sederhana menjadi senyawa kimia atau molekul komplek (Prawirohartono dan
Hadisumarto, 1997). Pada peristiwa ini diperlukan energi dari luar. Energi yang
digunakan dalam reaksi ini dapat berupa energi cahaya ataupun energi kimia.
Energi tersebut, selanjutnya digunakan untuk mengikat senyawa-senyawa
sederhana tersebut menjadi senyawa yang lebih kompleks. Jadi, dalam proses ini
energi yang diperlukan tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam bentuk
ikatan-ikatan kimia pada senyawa kompleks yang terbentuk. Energi yang
digunakan dalam anabolisme dapat berupa energi cahaya atau energi kimia.
Anabolisme yang menggunakan energi cahaya dikenal dengan fotosintesis,
sedangkan anabolisme yang menggunakan energi kimia dikenal dengan
kemosintesis.

Katabolisme adalah reaksi pemecahan/pembongkaran senyawa kompleks
menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dengan menghasilkan energi
yang dapat digunakan organisme untuk melakukan aktivitasnya. Fungsi reaksi

4

katabolisme adalah untuk menyediakan energi dan komponen yang dibutuhkan
oleh reaksi anabolisme.

D. Macam bakteri berdasarkan makanan yang diperlukannya
1. Bakteri Autotrof
Dikutip dari Makhluk-Makhluk Uniseluler (2020) Bakteri Autotrof atau
bakteri fotosintetik merupakan bakteri yang dapat membuat makanannya
sendiri dari bahan-bahan anorganik dengan proses fotosintesis.
Fotosintesis bakteri menggunakan hidrogen sulfida seperti air dan pigmen
hijau atau ungu seperti klorofil pada fotosintesis tumbuhan. Proses tersebut
mensintesis hidrogen sulfida dan elektron menjadi energi dan belerang.
2. Bakteri kemoautotrof
Bakteri kemoautotrof tidak memiliki pigmen klorofil sehingga tidak dapat
memanfaatkan sinar Matahari untuk memperoleh makanan. Sebagai
gantinya bakteri kemoautotrof menggunakan reaksi gelap, yaitu
mensintesis hidrogen sulfida dan oksigen menjadi karbohidrat, karbon
dioksida, dan sulfur. Proses oksidasi inilah yang membuat besi-besi
berkarat, karena teroksidasi oleh proses metabolisme bakteri.

E. Respirasi bakteri
Respirasi adalah sebuah proses pembuatan energi pada makhluk hidup

dengan cara memecah sumber energi yang ada di dalam tubuh. Proses respirasi
pada makluk hidup dibagi menjadi dua, yaitu respirasi aerob dan anaerob.

5

Respirasi aerob merupakan sebuah reaksi katabolisme atau pembongkaran
yang di dalam proses tersebut memerlukan keberadaan oksigen. Ciri dari proses
respirasi ini adalah energi yang dibentuk sangat banyak. Energi yang dibentuk
sering disebut dengan ATP (Adenosin Tri Phosphat). Energi yang dihasilkan ini
digunakan dalam semua aktivitas kehidupan yang meliputi perkembangan,
pertumbuhan, gerak, dan lain-lain. Respirasi ini terjadi di dalam organel
mitokondria.

Sedangkan respirasi anaerob adalah proses pembentukan energi yang tidak
memerlukan oksigen. Energi yang dihasilkan sangat sedikit (2 ATP) dan respirasi
ini terjadi di dalam sitoplasma sel. Proses respirasi ini dapat dijumpai pada
fermentasi atau sering disebut dengan pernapasan intra seluller.

Seperti halnya pada makhluk lain, bakteri merupakan organisme yang
dapat melakukan respirasi. Bedasarkan cara berespirasinya, bakteri dibagi menjadi
bakteri aerob dan bakteri anaerob.

Bakteri Aerob merupakan bakteri yang respirasinya membutuhkan oksigen
dan akan mati jika tidak ada oksigen. Bakteri ini mudah dikenali jika hidup dalam
media cair. Hal ini dikarenakan bakteri ini akan hidup di permukaan media cair
tersebut. Respirasi aerob mudah dilakukan di permukaan media cair karena
langsung bersinggungan dengan udara.
Bakteri aerob melakukan tiga tahap respirasi, yaitu:
1. Glikolisis, dimana di dalam proses ini terjadi pemecahan molekul gula menjadi
senyawa asam piruvat.
2. Siklus Krebs, dari tahap ini akan dihasilkan oksaloasetat dan asam nitrat.
3. Transport Elektron, dimana tahap inilah yang nantinya akan menghasilkan
energi.

Sedangkan bakteri anaerob adalah bakteri yang mampu hidup dalam
kondisi tidak terdapat oksigen. Bakteri ini akan mati jika mendapat paparan
oksigen yang berlebihan. Jika media hidup bakteri cair, maka bakteri ini akan
tumbuh di dasar cairan tersebut. Bakteri anaerob biasanya digunakan untuk
fermentasi, misalnya pembuatan tape secara tradisional. Dimana bakteri ini
diperoleh dari ragi dan prosesnya dilakukan secara tertutup rapat.

F. Fermentasi
Fermentasi merupakan suatu proses perubahan kimia pada suatu substrat

organik melalui aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme (Suprihatin,
2010). Proses fermentasi dibutuhkan starter sebagai mikroba yang akan
ditumbuhkan dalam substrat. Starter merupakan populasi mikroba dalam jumlah
dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi (Prabowo,
2011).

Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi

6

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses fermentasi menurut Desroisier
(1998), antara lain:
1). pH
Pengukuran pH merupakan parameter yang mempengaruhi pertumbuhan dan
pembentukan produk. Mikroba tertentu dapat tumbuh pada kisaran pH yang
sesuai untuk pertumbuhannya. Sebagian besar organisme dapat berfungsi dengan
baik dengan selang pH antara 3-4 unit pH. Biasanya bakteri dapat tumbuh pada
pH 4-8, khamir biasanya lebih senang dalam pH 3-6, dan kapang 3-7.
2). Suhu
Suhu yang digunakan selama fermentasi akan mempengaruhi mikroba yang
berperan dalam proses fermentasi. Jika temperatur dinaikkan maka hasil sel akan
menurun karena media sebagian akan digunakan untuk mempertahankan hidup
atau kebutuhan untuk mempertahankan diri meningkat (Judoamidjojo, 1992).
3). Oksigen
Adanya oksigen dalam proses fermentasi dapat menghambat aktivitas mikroba.
4). Substrat
Mikroba memerlukan substrat yang mengandung nutrisi sesuai dengan kebutuhan
untuk pertumbuhan.
G. Makanan fermentasi

Fermentasi makanan adalah proses natural yang melibatkan
mikroorganisme seperti ragi dan bakteri baik, untuk mengubah karbohidrat (pati
dan gula), menjadi alkohol atau asam. Alkohol dan asam mampu mengawetkan
makanan sehingga fermentasi makanan sangat sering dilakukan, untuk
mempertahankan keawetan makanan.

Satu hal yang sangat menarik perhatian dari proses fermentasi makanan
adalah pertumbuhan bakteri baik probiotik. Probiotik dikenal bisa meningkatkan
fungsi kekebalan tubuh, sistem pencernaan, hingga kesehatan jantung.
Menyisipkan menu makanan yang difermentasi ke dalam pola makan juga mampu
meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.
Makanan fermentasi dan manfaat kesehatannya
Setiap makanan hasil fermentasi, berpotensi mengandung bakteri baik dan juga
ragi. Mikroba ini dapat berperan sebagai probiotik, yang menyehatkan usus.
Manfaat kesehatan dari makanan hasil fermentasi adalah menyembuhkan dan
meredakan gejala dari beberapa penyakit di bawah ini:

 Clostridium difficile (infeksi bakteri)
 Diare karena antibiotik
 Diare yang menular
 Kolitis ulseratif (peradangan pada usus besar dan rektum)
 Irritable bowel syndrome (IBS)

7

 Penyakit Crohn (radang usus kronis yang sebabkan peradangan pada
lapisan dinding sistem pencernaan)

Selain bisa menyembuhkan atau meredakan gejala beberapa penyakit , makanan
hasil fermentasi juga dianggap bisa mengobati gejala dari beberapa kondisi medis
dan gangguan mental di bawah ini:

 Depresi
 Infeksi saluran kemih
 Osteoporosis
 Gangguan pernapasan
 Gangguan hormonal
 Disfungsi ginjal dan hati
 Diabetes
 Radang gusi

H. Uji metabolisme bakteri (P)
Bakteri yang melakukan metabolisme, membutuhkan makanan. Umumnya

bakteri membutuhkan zat-zat anorganik seperti NA, K, Ca, Mg, Fe, Cl, S, dan P,
dan beberapa spesies masih membutuhkan beberapa mineral seperti Mn, Mo,
vitamin B-kompleks. Dan yang paling penting unsur penyusun tubuh seperti C, H,
O, N. Unsur-unsur tersebut dapat diambil dalam bentuk elemen, namun ada juga
yang hanya bisa menggambilnya dari senyawa karbohidrat, lemat, protein, dsb.
Tidak semua bakteri memiliki jenis makanan yang sama, sehingga perbedaan jenis
makanan dapat dijadikan ciri penggolongan bakteri (Dwijoseputro, 1984).

Di antara senyawa organik umum yang dapat dipecahkan oleh bakteri
adalah protein, asam nukleat, dan lemak. Pemecahan senyawa-senyawa tersebut
tak luput dari peranan enzim yang dihasilkan oleh bakteri. Enzim itu disebut
hidrolase karena enzim ini menghidrolisis molekul-molekul besar menjadi
komponen-komponen kecil yang dapat digunakan. Pada bakteri enzim-enzim ini
disekresi sel ke lingkungan luarnya, jadi senyawa besar yang tak larut dapat
dipecah menjadi molekul yang larut sehingga dapat memasuki sel bakteri dan
menjadi bahan makanan (Volk&Wheeler, 1988).
Uji Hidrolisis Protein Pada Bakteri

Protein adalah molekul yang sangat besar tersusun dari asam amino yang
dikaitkan dengan ikatan peptida (Volk&Wheeler, 1988: 106). Uji hidrolisis
menggunakan medium SMA (Skim Milk Agar). Medium ini berasal dari susu,
dan salah satu komponen yang paling besar dalam susu adalah protein. Bakteri
ditanam dengan mengguankan jarum lurus yang digoreskan zig-zag. Menurut
Wahyu (2010), jika protein dihidrolisis oleh bakteri akan tampak daerah jernih di
sekitar tumbuh koloni. Jika tidak mampu dihidrolisis maka medium tetap
berwarna putih. Di dalam susu terdapat kandungan protein, hidrolisis kasein
secara bertahap akan menghasilkan monomernya berupa asam amino. Proses ini

8

dinamakan peptonisasi atau proteolisis. Aktivitas proteolitik ditunjukkan oleh
terbentuknya daerah jernih di sekeliling koloni.

I. Pengaruh aerasi dalam proses pembuatan tempe (P)
Tempe adalah sumber protein yang penting bagi pola makanan di

Indonesia, terbuat dari kedelai. Pembuatan tempe dilakukan sebagai berikut :
kedelai kering dicuci, direndam semalam pada suhu 250C esok paginya kulit
dikeluarkan dan air rendam dibuang. Kedelai lalu dimasak selama 30 menit.
Sesudah itu didinginkan, diinokulasikan dengan spora Rhizopus oligosporus dan
Rhizopus oryzae, ditaruh dalam panci yang dangkal dan diinkubasikan pada suhu
300C selama 20 - 24 jam. Dalam waktu itu kedelai terbungkus sempurna oleh
mycelia putih dari jamur. Sekarang tempe siap untuk dikosumsi. Cara
penyajiannya adalah tempe dipotong-potong, direndam sebentar dalam garam lalu
digoreng dengan minyak nabati. Hasilnya adalah tempe yang berwarna coklat dan
kering. Dapat juga dimakan dalam bentuk mempunyai kuah atau dengan kecap
(Wirakartakusumah, dkk; 1992).

Hal-hal yang Berpengaruh Terhadap Pembuatan Tempe
Penggunaan bahan baku dan campuran sangat menentukan kadar protein, lemak,
karbohidrat, dan serat yang terkandung pada tempe. Semakin banyak bahan
campuran yang ditambahkan semakin rendah kadar proteinnya

- Cara pemasakan ( perebusan / pengukusan ) mempengaruhi kehilangan
protein selama proses pembuatannya. Semakin lama pengukusan semakin
banyak protein yang hilang. Antara pengukusan dan perebusan tidak jauh
berbeda dalam kehilangan proteinnya. Dengan cara pengukusan akan lebih
cepat kering dibandingkan dengan perebusan.

9

- Inokulum yang digunakan sangat mempengaruhi rasa. Hal ini karena
pengaruh strain kapang dalam inokulum yang berbeda-beda satu sama
lain.

- Kenampakan tempe putih / agak kuning dipengaruhi oleh jenis kedelai,
bahan campuran, inokulum, dan juga selama proses pembuatannya juga
meliputi cara perendaman, pengupasan kulit, pemasakan, inokulasi,
pengukusan, serta inkubasi.

Selain hal-hal di atas, waktu melakukan praktikum perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :

a) Proses pencucian dan perendaman amat diperlukan untuk menghilangkan
inhibitor dari kedelai serta untuk mempermudah pengelupasan kulit.

b) Kedelainya harus dipilih yang baik ( tidak busuk dan tidak kotor ).
c) Air yang digunakan harus bersih, tidak berbau, dan tidak mengandung

kuman penyakit.
d) Bibit tempe yang digunakan harus masih aktif (bila diremas tidak

menggumpal ).
e) Cara pengerjaannya harus bersih.
f) Proses pengelupasan dimaksudkan untuk mempercepat proses fermentasi

agar berjalan dengan baik karena adanya kulit kedelai yang dapat
menghambat proses penetrasi miselium Rhizopus.
g) Proses pengelupasan dapat menggunakan alat pengelupas maupun cara
tradisional yaitu dinjak-injak menggunakan kaki tetapi harus bersih.
h) Proses pengeringan dimaksudkan untuk menghilangkan kandungan air
yang terdapat dalam kedelai. Bila masih ada cukup banyak air akan
mengakibatkan berkembangbiaknya bakteri Bacillus subtitis yang
menghambat pertumbuhan kapang sehingga menghasilkan tempe yang
kurang baik.
i) Proses pengeringan dapat dilakukan pada ruang terbuka kemudian
diinokulasi jika suhu telah dibawah 40oC.
j) Proses fermentasi dilakukan pada suhu ± 35oC / lebih rendah dengan
media pembungkus. Fermentasi akan berjalan baik pada kisaran suhu
hangat ruangan karena proses insersi lag phase membutuhkan suhu yang
cukup. Jika suhu dibawah 25oC dapat mempercepat Aspergillus flavus dan
Mycotoxin yang beracun.
k) Pemilihan media pembungkus sangat penting biasanya menggunakan daun
pisang, daun jati, daun waru, plastik.
l) Pelubangan media pembungkus dilakukan secara teratur untuk mendorong
pertumbuhan jamur tempe dengan baik secara aerasi untuk mendapatkan
cukup udara.

10

m) Pemilihan suhu inkubasi sangat menentukan kecepatan fermentasi. Tempe
yang dihasilkan kurang baik jika temperaturnya dibawah 25oC / diatas
40oC. Pada suhu 37-38oC akan dihasilkan tempe dalam waktu 48 jam.

n) Diantara 16-20 jam proses fermentasi akan dihasilkan miselium pada
tempe tapi belum terlalu banyak, kemudian setelah fermentasi 12-16 jam,
fermentasi akan menghasilkan panas.

o) Bila tempe yang dihasilkan tidak beraroma dan berasa manis
mengindikasikan adanya kontaminasi bakteri. Sedangkan bila dihasilkan
aroma berarti proses fermentasi terlalu lama. Apabila di sekitar lubang
aerasi terdapat warna hitam, menandakan terjadinya sporulasi jamur /
fungus.

p) Warna kuning khas tempe merupakan hasil biosintesis β-carotene dan
Rhizopus oligosporus yang menandakan proses fermentasi berjalan cukup
baik.
Menurut Dwi Ayu Ningtyas dkk. dalam pengamatan yang telah dilakukan,

terjadi perubahan-perubahan pada setiap masing-masing perlakuan. Jamur
Rhizopus oligosporus mengalami proses fermentasi dan menghasilkan energi,
energi yang dihasilkan inilah yang menyebabkan perubahan kenaikan suhu pada
masing-masing perlakuan tempe. Pelubangan media pembungkus dilakukan
secara teratur untuk mendorong pertumbuhan jamur tempe dengan baik secara
aerasi untuk mendapatkan cukup udara, sehingga tekstur didapatkan berbeda-
beda pula. Perbedaan dari segi warna dari hasil yang diperoleh dipengauhi oleh
adanya miselia jamur yang ada pada permukaan kedelai, selain itu warna putih
kekuningan khas tempe merupakan hasil biosintesis β-carotene dan Rhizopus
oligosporus yang menandakan proses fermentasi berjalan cukup baik.

Perbedaan struktur pada tempe dipengaruhi pula oleh kerapatan miselia
pada tempe. Untuk perbedaan aroma dan rasa disebabkan oleh proses fermentasi
pada biji kedelai, dimana bau tempe biasanya berbau asam yang disebabkan
degradasi komponen dalam kedelai sehingga terbentuk rasa yang spesifik. Untuk
berat dari tempe dipengaruhi oleh kadar air dalam kedelai. Kadar air kedelai pada
saat sebelum fermentasi mempengaruhi pertumbuhan kapang, selama proses
fermentasi akan terjadi perubahan pada kadar air dimana setekah 24 jam kadar
air akan menurun hingga 61%. Dan ketika 40 jam fermentasi akan meningkat 64
%. Bila tempe yang dihasilkan berasa manis mengindikasikan adanya
kontaminasi bakteri, selain itu apabila di sekitar lubang aerasi terdapat warna
hitam, menandakan terjadinya sporulasi jamur / fungus.

J. Pengamatan sel mikroba dalam makanan fermentasi (P)
Pengamatan Sel khamir Pada Makanan Fermentasi

11

Tape adalah salah satu makanan khas Indonesia yang merupakan produk
fermentasi dari bahan-bahan yang mengandung pati seperti ketela pohon (Manihot
utilisima), ketan (Oryza sativa glutinosa) dan lain sebagainya dengan bantuan ragi
dalam proses pembuatannya. Ketela pohon atau ketan yang terfermentasi akan
mempunyai tekstur yang lembut dan berair.

Starter dalam pembuatan produk fermentasi seperti tape singkong atau
ketan disebut dengan ragi (Paggara, 2010). Ragi tape merupakan kultur starter
amilolitik yang terfermentasi dari bahan mentah berkarbohidrat (Law, dkk.,
2011). Ragi tape menghasilkan enzim yang dapat mengubah substrat yang
mengandung karbohidrat menjadi bahan lain seperti gula sederhana (glukosa) dan
asam amino dengan menggunakan energi (Paggara, 2010).

Ragi tape umumnya mengandung mikroba yang terdiri atas kapang,
khamir dan bakteri (Paggara, 2010). Beberapa mikroba tersebut contohnya
spesies-spesies genus Aspergillus Sp., Saccharomyces Sp., Candida Sp., dan
Hansenulla (Dwijoseputro, 1988). Mikroba tersebut akan memproduksi enzim
amilase untuk mengurai pati menjadi gula sederhana, selanjutnya khamir akan
mengubah gula menjadi etanol atau alkohol (Law dkk., 2011). Secara biokimia
dapat dibuktikan bahwa fermentasi pada karbohidrat yang terkatalis oleh enzim
akan menghasilkan alkohol (Fessenden & Fessenden, 1997). Prosesnya dapat
diilustrasikan pada reaksi berikut ini. Proses fermentasi juga menghasilkan
beberapa jenis asam yang menyebabkan material mentah menjadi lembut. Aroma
yang terdapat pada tape merupakan reaksi antara beberapa asam dan alkohol yang
terbentuk dalam proses fermentasi (Law dkk., 2011).

Proses fermentasi yang berlangsung selama pembuatan tape singkong oleh
Sacharomyces Sp. & pada tape ketan hitam oleh Candida Sp., terdiri dari tiga
tahap penguraian yaitu :
1) molekul-molekul pati akan dipecah menjadi 10 dekstrin dan gula-gula

sederhana, merupakan proses hidrolisis enzimatik,
2) gulagula yang terbentuk akan diubah menjadi asam-asam organik dan

alkohol,

12

3) asam organik akan bereaksi dengan alkohol membentuk citarasa tape yaitu
ester (Hidayat, 2006).

Alat:
1. Mikroskop
2. Kaca benda
3. Kaca penutup
4. Mortar & alu
5. Beker glass
6. Pipet
7. Tissue
8. Pewarna Metilen Blue
Bahan:
1. Tape ketan hitam
2. Tape singkong
3. Aquades
Prosedur Kerja:

Pindahkan tape ketan hitam & tape singkong yang telah
dihaluskan masing-masing pada beker glass

Buat suspensi dengan menambahkan sedikit Aquades
kedalam beker glass berisi tape ketan hitam & tape

singkong yang teah dihaluskan

Siapkan kaca benda dan kaca penutup bersih

Buat sediaan suspense tapeketan hitam & tape singkong
di atas kaca benda, dengan menggunakan pipet.

Tetesi dengan pewarna metilen blue, kemudian tutup
menggunakan dengan kaca penutup
13

Amati dengan mikroskop, rekam hasil pengamatan
(gambar di kertas & foto)

Saccharomyces Sp. pada tape singkong

Candida Sp. pada tape ketan

Berdsarkan penelitian yang dilakukan Ardiyas Robi Saputra dkk. pada makanan
fermentasi yaitu pada tape singkong dan tape ketan hitam, hanya ditemukan satu
mikroba pada masing-masing makanan fermentasi. Mikroorganisme yang
ditemukan pada tape singkong yaitu Saccharomyces cerevisiae. Sedangkan
mikroorganisme yang ditemukan dalam tape ketan hitam yaitu Candida Sp.

14

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Metabolisme merupakan serangkaian reaksi kimia yang terjadi dalam
suatu organisme . Reaksi-reaksi ini tersusun dalam jalur-jalur metabolisme yang
rumit dengan mengubah molekul-molekul melalui tahapan-tahapan tertentu.
dalam metabolisme terdapat 2 fase yang penting yaitu anabolisme dan
katabolisme. Anabolisme merupakan proses sintesis molekul kimia kecil menjadi
molekul yang lebih besar sehingga membutuhkan energi, sedangkan katabolisme
merupakn proses penguraian molekul besar menjadi molekul kecil seingga dapat
melepaskan energi.
Fermentasi merupakan suatu teknik pengolahan makanan dari bahan
pokok menjadi makanan siap saji dengan menggunakan mikroorganisme tertentu.
Fermentasi yang dilakukan dalam suatu olahan makanan memiliki banyak
manfaat bagi kesehatan sera dapat berfungsi menjadikan makanan lebih awet.
Saran
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Untuk
segala kekuranngan harap dimaklumi karena terbatasnya refrensi kami dalam
menyusun makalah ini. Untuk itu kami berharap kepada pembaca untuk
memberikan saran dan masukannya untuk bisa lebih baik lagi kedepannya. Sekian
dan terima kasih.

15

DAFTAR PUSTAKA

Eko, ST dan Eirry, SM. 2009. Proses Pembuatan Yogurt. Penebar Sawadaya.
http://cybex.pertanian.go.id/artikel/68803/proses-pembuatan-yogurt-/

Utami, Silmi Nurul. Klasifikasi Bakteri

https://www.kompas.com/skola/read/2020/10/05/194554769/klasifikasi-bakteri?

page=all.

Pradipa, Tito. 2017.Fermentasi.http://eprints.undip.ac.id/53781/3/Bab_II.pdf

http://penasarjana.blogspot.com/2015/12/respirasi-pada-bakteri.html

http://eprints.ums.ac.id/15165/5/3._BAB_I.pdf

https://www.sehatq.com/artikel/mengenal-fermentasi-makanan-dan-manfaatnya-

untuk-kesehatan

https://www.academia.edu/11965814/

PENGARUH_AERASI_TERHADAP_PEMBUATAN_TEMPE

http://repository.ut.ac.id/4332/1/PEBI4419-M1.pdf

16

Pembiakan Da
Bak

Serta Metabo

Oleh Ke

Rizky Arfadi
Asryana (

Nirmayanti Syam
Muh. Afdal

Mata Kuliah
Mikrobiologi

an Pertumbuhan
kteri
olisme Mikroba

elompok V

illa (19002032)
(190202006)
msuddin (190202023)
l (190202016)


Click to View FlipBook Version