The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tugas Akhir Neng Andini Mulya S
Seritan Ulun Pagun - Cerita Sejarah dan Budaya Tradisi Tidung

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nengandinimulya, 2021-07-24 02:16:07

Seritan Ulun Pagun

Tugas Akhir Neng Andini Mulya S
Seritan Ulun Pagun - Cerita Sejarah dan Budaya Tradisi Tidung

Seritan

Ulun Pagun

Cerita Sejarah dan Budaya Tradisi Tidung

Neng Andini Mulya Suhendar



Seritan

Ulun Pagun

Cerita Sejarah dan Budaya Tradisi Tidung

Oleh:
Neng Andini Mulya Suhendar

i

Detail Buku

Seritan Ulun Pagun
Cerita Sejarah dan Budaya Tradisi Tidung

Oleh: Neng Andini Mulya Suhendar
Copyright ©2021
Konten dan Ilustrasi: Neng Andini Mulya Suhendar
Perancang Sampul: Neng Andini Mulya Suhendar
Cetakan Pertama, Juli 2021
Seritan Ulun Pagun
(vi + 65 halaman; 18,2 x 25,7cm)
Font:
Sampul dan Judul:
Berkshire Swash Regular
Isi:
Calisto MT
©Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang
All Rights reserved
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku

ii

Daftar Isi

Detail Buku.................................................................. ii
Daftar Isi...................................................................... iii
Kata Pengantar........................................................... iv
Ucapan...................................................................... v
BAB 1 - Sejarah Tidung Ulun Pagun............................ 2
BAB 2 - Seni dan Kebudayaan Tidung.......................... 12
BAB 3 - Tradisi dan Adat Istiadat................................ 32
Filosofi Pantang Larang.............................................. 60
Tentang Penulis.......................................................... 63
Daftar Pustaka........................................................... 65

iii

Kata Pengantar

Alhamdulillah

Rasa syukur selalu dipanjatkan karena telah diberikan kehidupan dan bisa
merasakan makanan yang nikmat, serta sehat raga oleh Allah SWT.

Sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berupa Buku Ilustrasi
Kebudayaan dengan judul “Seritan Ulun Pagun - Cerita Sejarah dan Budaya

Tradisi Tidung” yang berisi pengenalan terhadap tradisi dan kebudayaan
Tidung, sejarah, makna dan filosofi yang lahir dari budaya ini.

Tidak lupa untuk selalu berdoa agar selalu diberi kerendahan hati, dipenuhi
dengan kesabaran. Jalan yang dilewati tidaklah mudah harus dipenuhi
dengan kemauan dan kerja keras pula.

Waktu yang dikerahkan saat ini akan menjadi kenangan yang tidak akan
terulang. Semoga apa yang dikerjakan dan diperjuangkan saat ini dapat

berguna bagi masa depan. Semoga apa yang dijalani selalu diberikan
keberkahan.

Buku ini dirancang sebagai wujud rasa bangga penulis terhadap suku
Tidung yang memiliki kearifan lokal yang unik. Kehadiran buku ini

diharapkan dapat memberikan pengenalan serta pemahaman mengenai
suku Tidung. Sehingga eksistensi dari tradisi dan kebudayaannya dapat
terus dipertahankan dan tetap hidup di masa sekarang hingga masa yang

akan datang.

Apresiasi dan penghargaan yang tinggi penulis sampaikan kepada semua
yang membantu, mendoakan, dan memberi dukungan dalam menyelesaikan

rancangan buku ini.

Semoga Bermanfaat.

Neng Andini Mulya Suhendar

iv

Ucapan

Terima Kasih

Kepada diri saya sendiri
Atas perjuangan dan kerja keras,
tidak pernah berhenti dan selalu percaya kepada diri sendiri.

Kepada kedua orang tua saya
Atas do’a dan dukungannya.

Kepada Dosen pembimbing saya
Pak Syarip Hidayat dan Pak Idhar Resmadi
Atas bimbingan dan ilmu yang diberikan.

Kepada Datu Norbeck dan H. Jafar Agang
Atas waktu dan perhatiannya.

Kepada ahli arsip dan pemandu museum
Atas bantuan dan semangat yang telah diberikan.

Kepada A.Rafiq, Imeltha Resy, Sefvi Kartika
Atas waktu dan perhatiannya.

Kepada Kak Khairunisa Baby dan Bang Irvansyah
Atas bantuan, waktu, dan semangat yang telah diberikan.

Kepada Dosen Desain Komunikasi Visual
Telkom University
Atas pengajaran dan ilmu yang diberikan.

Kepada teman-teman seperjuangan,
Kepada sahabat-sahabat Desain Grafis 2017
Atas susah dan senang yang dilewati bersama dan semangat yang diberikan.

...

v



Buku ini menceritakan sejarah, tradisi, dan kebudayaan dari
salah satu suku yang ada di Kalimantan Utara.

Suku Tidung, suku dengan identitas keislaman yang kuat, banyak
mendiami wilayah pesisir Kalimantan Utara ini menyimpan
berbagai hal menarik dan banyak nilai-nilai didalamnya.

Tradisi dan kebiasaan yang menjadi warisan budaya Indonesia ini
sudah seharusnya selalu kita jaga kelestariannya.

vi

Kata Tidung berarti “Bukit atau Gunung”, sering juga
disebut “Tideng atau Tidong”. Namun, ada pula pendapat

lain yang menyatakan bahwa nama Tidung berasal dari
seorang leluhur zaman dahulu yang Bernama “Aki

Tidung”. Aki Tidung inilah yang kemudian menurunkan
Dinasti Raja-Raja Tidung Kuno yaitu; Aki Du, Aki Bu,

Aki Sam, Aki Jay, sampai pada Benayuk.

1

BAB I

Sejarah Tidung Ulun Pagun

Tahukah kalian bagaimana sejarah Tidung Ulun Pagun?

2

Bagaimana Sejarah Tidung Ulun Pagun?

Suku Tidung banyak menempati wilayah timur Kalimantan bagian Utara
(sekarang menjadi Provinsi Kalimantan Utara). Dahulu, wilayah Kalimantan
Utara merupakan wilayah bekas kekuasaan Kerajaan Bulungan dan Tidung. Pada
masa kekuasaan Kerajaan Bulungan dulu, penduduk asli Kalimantan Utara
terbagi ke dalam dua wilayah utama, yaitu wilayah Tana Tidung (berarti tanah
gunung) dan Apo Kayan (berarti tanah datar). Namun, populasi suku Tidung
lebih banyak mendiami wilayah pesisir (tanah datar), sedangkan suku Apo Kayan
lebih banyak mendiami pegunungan.

Kerajaan Bulungan
dan Tidung

3

Tana Tidung

Apo Kayan

Pra Pada masa sebelum masuknya Islam, kedua rumpun
Islam besar tersebut dulunya menganut paham-paham
anismisme. Mereka menyembah berhala dan
mempercayai hal-hal mistis dan ghaib. Bahkan
sampai saat ini mereka masih mempercayainya.
Kemudian mereka beralih menjadi dinamisme dengan
mempercayai bahwa benda-benda bisa memberi
pengaruh baik dan buruk kepada manusia.

Sebelum masuknya penyebaran Islam di wilayah ini,
wilayah Tana Tidung dan Apo Kayan ditinggali oleh
penduduk dengan Suku Berusu, Suku Tenggalan
(Agabag), Suku Abay, Suku Tagol (Tahol), dan Suku
Putuk (Lundayeh).

Ketika Islam memasuki wilayah-wilayah ini, sebagian
penduduk Tana Tidung dan Apo Kayan menganut
agama Islam. Penyebaran Islam turut memengaruhi
kedua wilayah tersebut, sehingga adat dan budaya
dalam masyarakat berubah mengikuti ajaran Islam.

4

Masyarakat yang menganut agama Islam umumnya adalah masyarakat di
wilayah pesisir (hilir sungai). Rumpun masyarakat inilah yang disebut suku
Tidung. Masyarakat pesisir kemudian membangun pemukiman dengan
rumah-rumah penduduk, sehingga terbentuklah suatu kampung. Tempat
pemukiman suku Tidung adalah di sekitar pantai dan di pulau-pulau serta
dipinggir sungai besar yang tidak berarus deras. Dari sejarah inilah rumpun
masyarakat suku Tidung menyebut dirinya “Ulun Pagun”, kalimat ini berasal
dari “Ulun Bepagun”. Kata ‘Ulun’ berarti orang, ‘Bepagun’ berarti berkampung.

Lalu. apa yang membedakan Tidung Ulun Pagun
dan Dayak Tidung?

Masyarakat Dayak adalah masyarakat di wilayah
hulu sungai, mereka bermukim hanya dengan satu
rumah yang besar dan panjang (rumah lamin) dan
ditinggali seluruh penduduknya sehingga tidak
disebut kampung, mereka disebut “Ulun Daud”.

‘Ulun’ berarti orang, dan ‘Daud’ berarti hulu.

6

Dayak Tidung &
Tidung Ulun Pagun

Di Kalimantan Utara ada juga yang dikenal dengan
sebutan “Dayak Tidung”, sebutan ini biasanya
berlaku bagi masyarakat Tidung yang masih
mengakui bahwa mereka memang berasal dari
Dayak. Sedangkan Tidung Ulun Pagun merupakan
sebutan bagi masyarakat Tidung yang sudah
memeluk agama Islam, mereka tidak mengakui
sebagai bagian dari Dayak, namun mereka
mengakui satu nenek moyang dengan yang saat ini
disebut sebagai orang Dayak.
Istilah Ulun Pagun dan Ulun Daud ini merupakan
identifikasi terhadap masyarakat yang memeluk
Islam dan masyarakat yang tidak memeluk Islam.
Dimana masyarakat Tidung (Ulun Pagun) pada
masa itu sudah berbudaya dengan sistem kampung
yang tinggal di rumah-rumah individual. Budaya
Tradisi Ulun Pagun atau Tidung mengikuti budaya
Islam juga dipengaruhi budaya Sumatera (Melayu).

7

Bagaimana
Persebaran
Masyarakat

Tidung?

8

Dalam ‘Buku Pintar Kebudayaan Tidung’ disebutkan masyarakat Tidung
dikelompokkan dalam beberapa rumpun besar, yaitu; Tidung Tarakan,
Tidung Sesayap, Tidung Betayau, Tidung Bengawong, Tidung Sembakung,
Tidung Telamun, dan Tidung Idahan. Dari kelompok besar ini dibagi lagi ke
dalam sub-sub rumpun suku. Pengelompokkan ini didasarkan atas logat (dialek)
bahasa yang digunakan oleh masyarakat Tidung tersebut yang memiliki kesamaan
satu dengan lainnya.

Pengelompokkan rumpun-rumpun tersebut, antara lain:

1. Tidung Tarakan
Menempati wilayah daerah Tarakan, Juata, Salimbatu, Sekatak, Bunyu
(Bulungan), Tanah Merah (Kawasan Kabupaten Tana Tidung), Nunukan,
Sebuku, Tawau, Berau (kuron), Simanul, Mabul, dan Tawi-Tawi.

2. Tidung Sesayap
Masyarakat Tidung Sesayap menempati daerah Sesayap (Kabupaten Tana
Tidung), Malinau, dan daerah Menjelutung.

3. Tidung Betayau
Meliputi daerah Betayau dan Bulungan.

4. Tidung Bengawen (Bengawong), Telamun, Idahan
Meliputi daerahnya sendiri, Tidung Telamun, Serudung, Kalabakan, Balung,
Apas, Kalumpung, Labuk, Idahan, dan Sandakan

5. Tidung Sembakung
Meliputi daerah Sembakung itu sendiri.

Nah, selain kelompok tersebut, ada juga kelompok lain yang merupakan anak
keturunan Aki Tidung dan masih masuk dalam sub-sub rumpun suku Tidung,
yaitu;
- Berusu (Sekatak, Sesayap, Sandakan, Bengalon)
- Punan (Peso Hilir, Tanjung Selor, Tanjung Palas, Sekatak, Malinau)
- Tagol (Malinau), Abay (Malinau), Lun Tubu (Malinau), Ubow (Malinau

Selatan), Lun Mentarang (Mentarang dan Pulau Sapi), Tenggalan (Agabag di
Sebuku), Labuk dan Sugut serta Murut, Luasong, Merutai, dan Pensiangan.

9

Wilayah tempat tinggal masyarakat Tidung meliputi:

Wilayah-wilayah di Kalimantan Utara, terdapat pula di sekitar perbatasan
Indonesia-Malaysia.

Sandakan

Kalakaban Tawau

Nunukan

Sebuku Bunyu
Tarakan
Sembakung
MalinauBetayau

Tana Tidung

Bulungan/Tanjung Selor

Berau

10

Suku Tidung termasuk suku yang berbudaya bahari dan
turut dipengaruhi oleh budaya Melayu.

11

BAB 2

Seni dan Kebudayaan Tidung

12

Tari Jepin

Jepin merupakan seni tari rakyat dengan semangat keislaman. Tarian ini
dilakukan dengan menggerakkan kedua anggota badan dengan gerakan saling
silang yang dilakukan oleh muda-mudi dan gerakannya lebih banyak
menggunakan kaki. Tari Jepin merupakan jenis tari pergaulan. Tari Jepin ini
asalnya dari Timor Tengah (Arab) dan dibawa pertama kali oleh para penyebar
Agama Islam, maka lagu-lagu pengiring lebih bernuansa pada syair-syair bersifat
keagamaan (Agama Islam).

13

Tari Jepin biasanya dibawakan pada saat acara-acara besar ataupun dalam acara
lingkup keluarga sebagai tujuan menghibur.

14

Alat Musik pengiring Jepin

Alat musik pengiring Jepin adalah gambus, ketipung, piyul (biola), dan syair
pantun.

Gambus Piyul
(biola)

Ketipung

Selain alat musik untuk mengiringi Tari Jepin, masyarakat Tidung memiliki
beberapa alat musik tradisional lainnya, seperti Kelintangan, Hadrah, dan alat
musik kesenian del muluk.

15

Hadrah

Alat musik hadrah biasanya dimainkan untuk mengiringi kesenian rudot, seni
budaya Islam untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad, tasmiyah, naik
ayun, dan mengantar pengantin laki-laki.

Rebana

Tamborin

Tar

16

Kelintangan / Kulintangan

Kelintangan / Kulintangan (berupa gamelan), biasanya dibawakan ntuk
mengiringi tari tunggal keberangkatan lingkuda atau tari raja biasanya ditarikan
untuk menyambut tamu kehormatan.

Agung

Gelundang

Lundang 1

1
117

Tumpung Piyul
Lindung (Biola)

Lintang

Lundang 2

18

Kesenian Del Muluk

Alat musik untuk kesenian de muluk, didalamnya ada tarian, piyul, kendang, del
muluk (sejenis kendang batangan agung sejenis gong).

Kendang Piyul
(Biola)
Del Muluk
(Gong)

19

Seni Sastra

Masyarakat Tidung memiliki sastra bahasa dalam bentuk sajak, syair, dan pantun.
Hampir setiap aktivitas masyarakat Tidung penuh dengan sastra lisan.
Sastra lisan biasanya dibawakan pada saat pelaksanaan ritual adat perkawinan
masyarakat Tidung ada yang disebut dengan beseruan (melamar). Beseruan ini
dilakukan dengan saling jawab menjawab pantun, selain itu ada juga seni de
muluk (seni teater) yang merupakan pementasan redaksi naskah yang diucapkan
dengan menggunakan pantun yang saling bersahut-sahutan, terdapat pula
lagu-lagu yang dibawakan dalam acara-acara kesenian dan kebudayaan.

Salah satu syair lagu yang sering diserukan masyarakat Tidung yaitu “Bebilin”
(dibaca : Bebalon) syair ini memiliki makna tentang anjuran untuk
mengutamakan persatuan dan menghindari perpecahan, harus memiliki jati diri
sekalipun tidak memiliki harta, harus memiliki cita-cita yang tinggi, dan memiliki
kemampuan dalam mengahadapi masalah.

I III

Inindang, inindang, Sapu tangan Jingga - jingga,
Inindang, inindang, Sapu tangan Jingga - jingga
Inindang, inindang,
Inindang, inindang Mapit kegulu injakin,
Mapit kegulu injakin
Bebilin yadu yaki,
Bebilin yadu yaki Buwoi nio kati intamu,
Buwoi nio kati intamu
Suboi no labu bedilit,
Suboi no labu bedilit Betapa maya bedindang,
Betapa maya bedindang
Penembayuk de no fikir,
Penembayuk de no fikir I yadu yaki bebilin yadu yaki,
I yadu yaki bebilin yadu yaki
Impeng de lunas insuai,
Impeng de lunas insuai IV

I yadu yaki bebilin yadu yaki, Manongku te ganak kandis,
I yadu yaki bebilin yadu yaki Manongku te ganak kandis

II Layau pegadan ku gino,
Layau pegadan ku gino
Manongku te ganak kandis,
Manongku te ganak kandis Tembelayan awoi lumot,
Tembelayan awoi lumot
Layau pegadan ku gino,
Layau pegadan ku gino Batang tembaloi ku gino,
Batang tembaloi ku gino
Tembelayan awoi lumot,
Tembelayan awoi lumot I yadu yaki bebilin yadu yaki,
I yadu yaki bebilin yadu yaki
Batang tembaloi ku gino,
Batang tembaloi ku gino =====

I yadu yaki bebilin yadu yaki, I yadu yaki bebilin yadu yaki,
I yadu yaki bebilin yadu yaki I yadu yaki bebilin yadu yaki

20

Pakaian Resmi / Baju
Talulandom
Pakaian
Sina Beranti

21

Adat Pakaian
Sehari-hari
Baju Selampoy &
Teluk Belanga

22

Pakaian Resmi (Talulandom)

Pakaian Resmi (Talulandom) ini dikenakan oleh pasangan pengantin pada malam
ketiga acara pernikahan. Namun, pada saat ini pakaian talulandom dipakai oleh
para pemangku adat ketika ada acara-acara resmi dalam adat Tidung, seperti
penyambutan tamu-tamu penting, pelaksanaan upacara adat, dll.
Pakaian ini hadir karena pengaruh budaya Eropa, biasanya pakaian ini digunakan
oleh pembesar kerajaan Tidung untuk bertemu Belanda pada masa penjajahan.
Dapat pula dimaknai bahwa pada masa lalu pakaian resmi ini menjadi simbol
harkat dan martabat bangsawan suku Tidung yang sejajar dengan Belanda.

213

Pakaian Laki-Laki Baju dalam
biasa tanpa
Sungku krah
(tutup kepala)
Seluar
Kustim (celana)
(jas laki-laki
zaman Belanda) Kain
Sarung
Pakaian Perempuan

Kebaya Junjung
Bangaw (Selendang)

Ringgit (bros)

3 susun untuk rakyat biasa
5 susun untuk bangsawan

24

Pakaian Pengantin (Sina Beranti)

Pakaian Pengantin (Sina Beranti), untuk bangsawan atau keturunan kerajaan,
menggunakan pakaian pengantin berwarna kuning (yang mempunyai makna
sesuatu yang ditinggikan / dimuliakan), sedangkan untuk masyarakat biasa boleh
mengenakan pakaian pengantin selain kuning, kebanyakan menggunakan yang
berwarna merah yang mempunyai makna ketegasan dan keberanian.

215

Pakaian Laki-Laki Jamong Melaka

Teluk Belanga Kekida
(baju atas) Galang Liog

Sukup Udang Dada Burung
Tangkong
Karis Panding
Seluar Susuk
(celana panjang) Gabol
(kain bawah)

Pakaian Perempuan

Baju Turu Tebuku Tanduk Galung
(baju atas Utok Busay Jamong
lengan pendek)
Kekida

Gabol Dada Burung Subong inting
dua susun (anting)

Gelang
kerusung

Sukup Udang
Tangkong

26

Baju Selampoy & Teluk Belanga

Baju Selampoy & Teluk Belanga, biasa dipakai pada saat menyambut tamu
kehormatan, masyarakat tradisi, dan menyambut hari-hari besar, pada tahun
1960-an dipakai untuk kunjungan atau silaturahmi.
Selampoy (selempang) mempunyai makna menyamping. Artinya, selendang yang
digunakan oleh laki-laki dan perempuan dipakai dengan cara menyamping dari
bahu ke pinggang.

217

Pakaian Laki-Laki Penutup
Kepala
Teluk Belanga
(baju atas) Kandid
(sabuk kain)
Seluar Simpul

Pakaian Perempuan

Selampoy Kembang Tebuku
Goyang (konde)

Baju bagian atas Panding tawa Subong / inting
(tertutup hingga (sabuk kuningan) (anting)
siku)
Gabol Gelang tawa
(gelang lebar)

28

Pelimbangan & Kurung Bantut

Pelimbangan & kurung bantut merupakan baju keseharian masyarakat Tidung.
Pakaian ini biasanya dipakai hanya untuk pakaian sehari-hari ataupun dipakai
untuk pergi ke ladang atau ke sawah. Bagi laki-laki, pakaian yang dianggap sopan
yaitu ketika pakaian tersebut sudah menutupi aurat. Untuk perempuan, mereka
mengenakan penutup kepala yang disebut “gabol”. Yang ditutupi hanya sebelah
kiri perempuan saja, hal ini memiliki filosofi karena di sebelah kanan perempuan
akan berdiri pendampingnya baik itu saudara laki-lakinya maupun suaminya.

219

Pakaian Laki-Laki Penutup Kepala

Baju

Seluar
Susuk

Gabol Kandit
(sarung untuk
ikat pinggang)

Pakaian Perempuan

Baju Kurung
lengan panjang

Ikat pinggang

Celana salur Gabol
bepasok (kerudung sarung)

30

Selain memeluk agama, masyarakat Tidung juga
memercayai dan melaksanakan upacara-upacara adat.

311

BAB 3

Tradisi dan Adat Istiadat

32

33

Suku Tidung memiliki dan memercayai
simbol-simbol etnik. Salah satunya adalah warna
kuning (silow) sebagai warna utama suku Tidung,
masyarakat Tidung memandang warna kuning itu
melambangkan brilian dan cemerlang. Warna kuning
digunakan pada pakaian resmi, acara agama, dan
pada saat acara perkawinan (pengantin diberi bedak
kuning yang disebut adat bebedak). Pelaminan
perkawinan serta pakaian pengantin dihiasi warna
kuning.
Dahulu dalam budaya Tidung ada yang disebut
“ulos”, ulos adalah warna kain yang melambangkan
strata masyarakat Tidung. Ulos memiliki tiga
tingkatan, yaitu kuning, hijau, dan putih. Kuning
untuk raja dan keluarganya (bangsawan), hijau untuk
keturunan syarif dan syarifa (keturunan habib dan
ulama), putih untuk tokoh-tokoh berjasa.
Setiap warna memiliki filosofi masing-masing, kuning
bermakna kehormatan dan kemuliaan, hijau memiliki
makna kepercayaan dan keyakinan, dan putih
bermakna pengabdian yang tulus.
Warna lain yang juga dipercayai masyarakat Tidung
yaitu merah dan hitam, warna merah memiliki makna
ketegasan dan keberanian, hitam bermakna
ketegasan. Warna-warna ini selalu ada pada
benda-benda budaya Tidung.

34

Masyarakat Tidung
juga memiliki

beragam adat-istiadat
dan tradisi yang

secara turun-temurun
masih diwariskan.

35

Ritual Adat Perkawinan

Ritual adat perkawinan yang merupakan karakter dan ciri khas yang ada dalam
masyarakat Tidung.
Dalam tradisi masyarakat Tidung dikenal kaum wanita hanya bersuami satu dan
ketika suaminya meninggal dunia, ia tetap menjanda sampai akhir hayatnya.
Istilah kawin cerai dalam masyarakat Tidung tidak dikenal, perkawinan hanya
dilakukan sekali seumur hidup (wanita).
Kaum pria yang beristri lebih dari satu umumnya dilakukan oleh kaum bangsawan
sedangkan masyarakat umum hanya beristri satu orang dan bila istrinya
meninggal dunia maka ia beristri kembali dengan orang lain tidak menjadi
halangan.
Dalam prosesi adat perkawinan suku Tidung, selain melakukan ritual perkawinan
secara adat juga melakukan upacara perkawinan sesuai dengan aturan dan
anjuran agama Islam.

Dalam melakukan prosesi pernikahan dan perkawinan dalam masyarakat
Tidung ada beberapa tahapan yang akan ditempuh, yaitu:

Prosesi Pelaksanaan sebelum Perkawinan

Ginisinis (Mencari Tahu / Memilih Jodoh)

Tahapan ginisinis ini ada karena pada zaman dulu kondisinya masyarakat
Tidung tidak pernah melihat perempuan Tidung yang sudah akil baligh
berada diluar rumah / keluyuran. Sehingga, laki-laki susah mendapatkan
wanita untuk dinikahi. Untuk itu keluarga dari laki-laki mengirim seorang
utusan (seseorang yang pandai berbicara menyampaikan maksud keluarga)
untuk mencari dan menemui keluarga perempuan dengan maksud untuk
menikahkan. Namun seiring perkembangan zaman, masyarakat sudah
mengenal istilah pdkt dan berpacaran, tahapan ini sudah jarang dilakukan
kecuali seorang laki-laki susah mendapatkan pasangan. Secara tradisi, dalam
masyarakat Tidung tidak dikenal adanya pacaran. Namun, saat ini
masyarakat sudah mengenal istilah pacaran dengan menjalin asmara atas
dasar suka sama suka. Orang tua memberikan kebebasan pada anak-anaknya
dalam memilih jodoh, tapi tidak melepaskan begitu saja melainkan jodoh

36

yang mereka pilih harus memenuhi kriteria yang baik dan benar. Sehingga
terciptalah keluarga yang sakina mawaddah warahmah.

Makau Beseruan (Melamar)

Tahapan makau beseruan adalah datang meminang atau melamar. Biasanya
masyarakat Tidung mengenal istilah “betunanag atau tunangan” yang
dilakukan dengan pemasangan cincin oleh pihak laki-laki yang diwakili oleh
saudara ibu atau saudara dekat lainnya dari laki-laki kepada perempuan yang
akan dilamar. Dalam ritual beseruan ini biasanya yang datang dan yang
menerima jumlahnya sama dan berjumlah ganjil yaitu lima, tujuh, ataupun
sembilan dari masing-masing pihak. Umumnya hanya berjumlah tujuh
orang, tiga orang laki-laki dann empat orang perempuan. Setelah tiba di
rumah keluarga perempuan mempersilakan duduk bersama tuan rumah.
Tuan rumah akan menanyakan maksud kedatangan mereka meskipun sudah
mengetahui apa tujuan kedatangannya.
Dalam ritual beseruan ini biasanya masyarakat Tidung melakukannya
dengan pantun bersajak yang berupa sindiran akan maksud kedatangan
mereka.

37

Ngatod de Pulut (Mengantar Pengikat / Seserahan)

Apabila lamaran diterima, keluarga besar laki-laki akan merundingkan
tentang uang jujuran (pulut) dan barang seserahan yang akan dibawa dan
diberikan kepada perempuan pada saat menikah. Dalam perundingan ini
juga akan disampaikan tentang hari dan bulan baik untuk melaksanakan
pernikahan.
Setelah hari, tanggal, dan bulan disepakati, maka pembicaraan dilanjutkan
untuk menentukan uang jujuran dan barang seserahan. Uang jujuran (pulut)
ini disesuaikan dengan permintaan dari pihak perempuan. Uang jujuran
(pulut) nantinya akan digunakan untuk membantu biaya dalam
menyelenggarakan pesta perkawinan. Bawang seserahan yang dibawa adalah
barang-barang yang dibutuhkan oleh calon pengantin perempuan seperti
pakaian, alat kosmetik, perlengkapan kamar, dan lain-lain.
Uang jujuran (pulut) dibungkus menggunakan kain kuning yang ditaburi
beras kuning yang diperciki minyak wangi. Bungkusan uang tersebut
diletakkan dalam baki dan baki tersebut ditaruh diatas tikar. Di dalam baki
itu, selain uang terdapat pula “serpinang”, alat dan bahan penginangan ini
berupa daun sirih, buah pinang, tembakau, dan beliul (kulit tipis daun nipah
mudasebagai pembungkus tembakau yang dijadikan rokok kirai), juga
terdapat dian yang berwarna kuning. Di samping baki itu terdapat pula buah
kelapa.
Sebelum membuka bungkusan kuning, biasanya akan dinyalakan dian (lilin
berwarna kuning) oleh orangtua yang dipercaya tuan rumah. Setelah itu
bungkusan dibuka kemudian menghitung uang. Setelah menghitung uang,
orangtua akan memanggil seluruh keluarga perempuan dan menyatakan
cukup. Kemudian membaca doa sebagai penutup.

Bepupur

Bepupur selalu berkaitan dengan akad nikah, bepupur akan dilaksanakan jika
akan melaksanakan akad nikah. Bepupur biasanya dilakukan saat malam
hari sebelum melakukan akad nikah esok hari. Pada malam harinya, pihak

38

laki-laki mengantarkan pupur yang dibuat dair bahan alami dicampur dengan
daun pandan dan diberikan kepada pihak calon pengantin perempuan dan
sebaliknya (saling tukar-menukar pupur). Pengantaran pupur terdiri dari
tujuh orang, empat orang laki-laki dan tiga orang perempuan dengan
menggunakan lilin kuning. Ketika pihak laki-laki telah selesai mengantarkan
pupur, kemudian mereka kembali pulang dengan membawa pupur dari pihak
perempuan untuk dicampurkan dan selanjutnya dipupurkan kepada laki-laki,
begitu juga sebaliknya. Pengantin perempuan berpupur di pisuk, sedangkan
pengantin laki-laki duduk di atas tikar (ayam belungis) lalu keempat
buncunya diangkat ramai-ramai diangkat dan dipindahkan ke tempat orang
banyak. Pemupuran ini didahului oleh orangtua kemudian yang muda secara
bergantian. Lamanya berpupur ini kurang lebih 1-2 jam lamanya. Acara
ritual bepupur ini bertujuan supaya pada saat akad nikah esok hari wajah
menjadi segar, indah, wangi, dan berseri.
Pada malam bepupur ini juga biasanya diadakan acara untuk menyaksikan
calon pengantin yang dipupuri. Acara malam bepupur ini diramaikan dengan
menyanyikan syair-syair islam dan tari Jepin.

39

Prosesi saat Perkawinan

Kawin Suruk (Ijab Kabul)

Ijab kabul biasanya dilakukan di rumah calon pengantin perempuan. Proses
ijab kabul umumnya sama dengan prosesi ijab kabul dalam hukum Islam.
Sebelumnya, pihak perempuan menyebarkan undangan untuk menghadiri
upacara ijab kabul. Upacara akad nikah yang berlangsung biasanya dipimpin
oleh imam kampung atau petugas KUA, lalu memnyerahkan kepada walinya
untuk menikahkan anaknya dengan calon pengantin laki-laki (wali Nasab).
Berlangsungnya prosesi ijab kabul menandakan kekuasaan pengantin
perempuan akan berpindah dari walinya kepada pengantin laki-laki. Setelah
sah, perempuan akan menjadi wewenang dan tanggung jawab suaminya.
Setelah ijab kabul selesai, suami kemudian mendatangi istrinya di pisuk
(tempat tertutup yang berada di belakang pelaminan). Suami mengambil
ludah dari langit-langit mulut menggunakan ibu jari kanan lalu ditempelkan
ke dahi istri untuk membatalkan wudhu (membatol).
Setelah prosesi pembatalan wudhu selesai. Suami kemudian pergi menuju ke
dapur untuk melakukan pengelilingan tandang (tungku tempat memasak)
sebanyak 7-9 kali dan mengambil sendiri air dalam akap (tong besar) untuk
di minum dan kemudian kembali ke pisuk. Hal ini merupakan dasar penanda
bahwa si laki-laki sudah mampu memberikan nafkah baik lahir maupun batin
kepada istrinya.
Setelah para tamu pulang, pihak wanita dan pihak pria kemudian melakukan
acara berumba (berlomba) yang bertujuan untuk mengakrabkan kedua belah
pihak yang telah resmi menjadi keluarga. Kedua mempelai dimasukkan ke
dalam sarung besar. Dalam satu sarung mereka berdua disuruh berdiri,
duduk, berbaring, dan seterusnya secara berulang-ulang. Proses ritual
upacara ini disebut dengan kawin suruk.

40

Bebantang (Bersanding)

Setelah ritual upacara kawin suruk selesai, pelaminan masih tertutup oleh
tiga buah tabir. Tukang rias membawa pengantin perempuan duduk di
pelaminan. Setelah siap merias pengantin perempuan, maka dibawa dan
diantarlah pakaian ke rumah pengantin laki-laki. Setelah berpakaian,
pengantin pria diarak ke rumah pengantin perempuan yang diiringi oleh
pembawa sedulang, kembang kertas dan dian yang menyala. Bungkusan
sedulang paling sedikit tujuh buah. Angka tujuh merupakan angka yang
tertinggi bagi masyarakat Tidung Ulun Pagun (angka ganjil). Arakan ini
diramaikan oleh kelompok terbangan (hadrah/tar) dan rudot.
Pengantin laki-laki boleh berjalan kaki atau diangkat atau pun ditandu sesuai
dengan pakaian pengantin yang digunakannya.
Setelah arakan tiba di rumah pengantin perempuan, maka pengantin pria
disambut dengan shalawat dan hamburan beras kuning. Seusai itu, barulah
mempelai pria dipersilakan masuk dan diantar menuju ke pelaminan melalui
jalan yang telah disiapkan.
Pelaminan pengantin khas Tidung ini disebut “Panggaw”. Pada panggaw
terdapat tirai yang jumlahnya tiga lapis, setiap tirai akan dibuka jika
diberikan sesuatu. Makin dalam tirai yang dekat dengan pengantin wanita
semakin besar sesuatu yang diberikan, maka tirai tersebut baru dibuka.
Setelah memberikan sesuatu yang jumlah yang besar atau banyak barulah
tirai terakhir dibuka. Disitu duduklah pengantin perempuan dengan pakaian
kebesarannya, kemudian mempelai pria akan duduk disampingnya (sebelah
kanan) sama-sama menghadap ke hadirin (keluarga dan tamu undangan).
Tangan pengantin laki-laki memegang tangan kanan pengantin perempuan,
sehingga tangan pengantin perempuan terangkat ke atas tegak lurus dan
sikunya berada di antara keduanya yang diganjal dengan sebuah bantal.
Tuan rumah akan menyajikan hidangan untuk hadirin, saat hidangan
disajikan atau dicicipi oleh hadirin, maka tirai diturunkan dan kedua
pengantin beranjak untuk beristirahat. Prosesi ini dalam bahasa Tidung
disebut "bebantang" atau bersanding.

41


Click to View FlipBook Version