Perlengkapan yang dibawa dalam tradisi Bebantang
Sedulang
Sedulang adalah bungkusan yang
berwarna kuning berisi gelas dan piring.
Sedulang adalah hadiah atau cindera
mata yang diberikan keluarga pengantin
laki-laki kepada keluarga pengantin
perempuan.
Busak Dian
Busak dian adalah kembang dan lilin
yang melambangkan jiwa muda yang
panas dan beralih kejenjang pernikahan.
42
Panggaw (Pelaminan Pengantin)
43
Pernak-Pernik Panggaw
1. Gambar Naga (melambangkan derajat / kasta pengantin)
2. Tujuh Bantal dan Tujuh Guling (7 hari dalam seminggu pengantin sudah
boleh tidur bersama)
3. Busak Dian (kembang dan lilin) melambangkan jiwa muda yang panas
dan beralih kejenjang pernikahan
4. Sedulang (hadiah dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan)
5. Gambar Bintang pada 8 Sudut (banyak orang yang datang dari segala
penjuru)
6. Nasi Pengantin
7. Lima Tingkat Panggung Panggaw (derajat keluarga)
8. Busak Malay (simbol dari strata pengantin)
9. Langit-Langit (kehormatan)
10. Langsoy (gelang isoy)
11. Tabir Lanjut
12. Kekida (hiasan dipinggir langit-langit)
13. Bua bangkol
14. Kain Kuning didalam Panggaw (tirai kelambu tempat tidur)
15. Kain Kuning diluar Panggaw (tirai)
16. Kain Warna-Warni dibawah Naga (Sampiran / sandang)
44
Ngabud de Lading (Menggigit Pisau)
Prosesi menggigit pisau ini wajib dilakukan oleh calon pengantin laki-laki
dan perempuan. Prosesinya dipimpin oleh imam atau tetua kampung yang
diberi kepercayaan. Ngabud de Lading ini memiliki makna petunjuk agar
seorang suami memiliki ketajaman hati dalam membina hubungan rumah
tangga bersama istrinya.
Ngidaw de Batu Asa (Menginjak Batu Asa)
Ngidaw de batu asa dilakukan setelah proses akad nikah selesai
dilaksanakan. Ngidaw de batu asa dilakukan oleh laki-laki maupun
perempuan. Prosesi ini memiliki makna dalam rumah tangga agar menjadi
keluarga yang kuat (seperti batu), utuh, tahan banting, tidak mudah goyah
dan tidak mudah hancur serta terpisahkan dalam membangun rumah tangga.
Selain itu, ngidaw de batu asa memiliki tujuan agar dalam membangun
rumah tangga, pasangan suami istri tidak mudah menyerah, berkeinginan
kuat dan bekerja keras dalam mencari nafkah. Sama-sama menghidupi
keluarga dan menghadapi kesusahan tanpa berputus asa dan bersemangat
dalam menjalani kehidupan rumah tangga sebagaimana kerasnya batu asa
yang mereka injak.
Nginum Timug Saluy (Minum Air Putih Dingin)
Tradisi ini memiliki makna petunjuk agar hati pasangan suami istri ini selalu
merasa tenang dan sejuk serta jernih seperti sifat dari air tersebut.
Membangun keluarga agar dapat menjadi keluarga yang sabar dan ikhlas
demi terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Ngakok de Bagas dalom Pengkarang (Menggenggam Beras di
dalam Karung Beras)
Ngakok de bagas dalom pengkarang adalah memegang dan menggapai beras
45
di dalam karung. Filosofi yang terkandung didalam prosesi ini adalah sejauh
mana banyaknya menggapai beras, sejauh dan sebanyak itu juga rezeki dalam
keluarga. Suami di sini dituntut untuk mencari rezeki yang halal dan sesuai
dengan ajaran Islam bukan meminta-minta atau mengemis kepada orang
lain. Suami harus berusaha dan banyak bersyukur atas rezeki yang
didapatkan.
Selain itu, beras disini juga memiliki makna sebagai makanan pokok yang
utama dalam kehidupan. Artinya dalam berumah tangga, suami harus dapat
memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.
46
Prosesi Sesudah Perkawinan
Kiwon Talu Landom (Malam Tiga Malam)
Kiwon talu landom dilakukan pada malam ketiga setelah resepsi pernikahan.
Kiwon talu landom merupakan perayaan yang hanya dihadiri oleh
masyarakat sekitar ataupun keluarga terdekat dari kedua belah pihak sebagai
wujud kekeluargaan. Acara ini dimulai sehabis sholat Maghrib. Acara ini
diramaikan oleh kesenian hadrah serta diiringi oleh Rudot dan tarian Jepin.
Saat tamu undangan datang, tirai pun terbuka, terlihatlah kedua pengantin
duduk di atas pelaminannya, kemudian makanan ringan seperti kue-kue
disebarkan kepada para tamu. Setelah makan, maka dilanjutkan dengana
acara kesenian, yaitu Jepin. Jepin dimainkan secara berpasang-pasangan
untuk menghibur para tamu. Pemain Jepin diiringi dengan petikan gambus,
gesekan piyul, serta pukulan ketipung yang bersautan.
Bejiyu Pengantin (Mandi Pengantin)
Pada hari ketiga, sekitar jam 07.00 atau jam 08.00 pagi hari dilakukan tradisi
mandi-mandi (bejiyu) yang dilakukan oleh pengantin. Penyiraman pertama
dilakukan oleh pemuka agama atau imam kampung secara bergiliran dengan
para tokoh atau tetua lainnya. Di bagian depan dilakukan asrakal berzanji.
Mandi dan pembacaan asrakal berzanji dilakukan bersamaan dan lamanya
waktu keduanya kurang lebih sama.
Setelah itu, pada jam 10.00 pagi dilakukan acara “betamot Alquran” yaitu
khataman Alquran. Pengantin laki-laki duduk bersila sedangkan perempuan
duduk bersimpuh dengan hamparan dua buah kitab suci Alquran yang
berada di atas bantal masing-masing.
Nyembaloy (Silaturahmi ke Rumah Mertua)
Setelah betamot Alquran selesai, dilakukan acara nyembaloy (silaturahmi) ke
rumah keluarga dari pihak laki-laki. Nyembaloy dilakukan sehabis sholat
47
Dzuhur sekitar pukul 02.00 siang. Kedua pengantin diarak ke rumah orang
tua pengantin laki-laki yang diramaikan dengan pukulan hadrah. Kedua
pengantin boleh berjalan kaki ataupun ditandu sesuai dengan pakaian
pengantin yang digunakannya.
Biasanya yang menggunakan tandu adalah yang mengenakan
pakaian pengantin khusus yaitu kalangan bangsawan Tidung.
Setelah sampai di rumah orang tua pengantin laki-laki, pengantin duduk
bersanding di atas pelaminan dengan menduduki “raja besila” yang telah
disiapkan. Setelah acara selesai, kedua pengantin akan kembali ke rumah
perempuan dan diberi bekal sebagai hadiah oleh kedua orangtua laki-laki.
Bekal ini berupa alat makan dan minum serta kebutuhan dapur. Bekal ini
memiliki maksud sebagai vhadiah dari mertua kepada menantunya.
48
Naik Ayun (Masak Indong)
Acara adat naik ayun merupakan acara selamatan (rasa syukur) atas kelahiran
bayi. Saat kelahiran anak, dilakukan penyembelihan hewan kurban atau yang
disebut akikah. Akikah dapat dilaksanakan seminggu setelah kelahiran ataupun
ketika anak sudah dewasa. Hewan kurban yang disembelih adalah kambing atau
domba. Untuk bayi berkelamin laki-laki maka akan hewan kurban yang
disembelih adalah dua ekor kambing jantan yang ditandai dengan tumbuhnya
tanduk dua buku jari manusia. Untuk bayi perempuan maka cukup menyembelih
satu ekor kambing saja. Daging hasil akikah ini kemudian dimasak dan digunakan
dalam acara naik ayun.
419
Tiga Prosesi Utama dalam Naik Ayun:
Tasmiyah
Berasal dari bahasa Arab yang berarti pemberian nama. Dalam prosesi ini, setelah
para undangan datang, maka bayi di atas tabak dibawa ke hadapan imam lalu
dibacakan beberapa ayat Alquran diangkat oleh ayahnya atau kerabatnya seperti
paman atau kakeknya, kemudian imam mentasmiyahkan bayi tersebut sebanyak
tiga kali dan dijawab atau disahut oleh hadirin dengan ucapan barakallah
sebanyak tiga kali. Setelah itu pembacaan doa oleh imam yang diamini oleh tamu
undangan.
Pembacaan Asrakal Berzanji
Kemudian dilanjutkan dengan acara asrakal berzanji. Pada saat hadinin mulai
berdiri berasrakal, maka bayi tadi dibawa keluar mengeliingi para hadirin.
Pembawaan bayi terdiri dari tiga orang yaitu pembawa bayi (oleh ayahnya
sendiri), pembawa minyak harum yang kemudian dipercikkan kepada para
hadirin, dan pembawa baki tepung tawar. Rambut si bayi digunting oleh hadirin
secara bergantian, paling sedikit tiga helai. Guntingan rambut itu ditaruh dalam
buah kelapa kuning muda (kelapa gading) di atas baki tersebut, setelah itu
ditepung tawari. Begitulah seterusnya hingga selesai mengelling hadirin sebanyak
tiga kali putaran.
Naik Ayun (Masak Indong)
Setelah ditepung tawar, bayi tersebut dibawa ke
dalam atau kamar lalu diserahkan kepada
pengguling (dukun beranak) untuk dimasukkan ke
dalam ayunan. Kemudian diangkat kembali dan
diserahkan kepada kaum kerabat si bayi atau para
tetua untuk dimasukkan dalam ayunan kembali. Dan
kemudian diambil oleh pengguling dan diserahkan
kepada yang lainnya untuk diletakkan dalam ayunan
lagi. Begitulah seterusnya, si bayi di naikkan dan
diturunkan hingga tidak ada lagi kaum kerabatnya
yang tidak berkesempatan untuk memasukkan bayi
ke dalam ayunan.
Ayunan tersebut terbuat dari papan segi empat
panjang yang penuh ukiran. Keempat ujung papan
diikat dengan rotan atau tali dan keempat ujung tali
itu disatukan dan disambung dengan tali yang
menghubungkan junggitan diatas. Junggitan terbuat
dari belahan pohon nibung yang sudah tua. Tempat
ketiduran bayi (papan ayun) diberi dian (lilin kuning)
yang menyala, dua di diatas sisi dekat kepala dan dua
di sisi bawah kaki. Keempat dian tersebut hanya
untuk saat upacara naik ayun saja. Agar bayi tidak
jatuh, bayi diberi kandit (babat) untuk mengikat
supaya bayi tidak selalu bergerak. Kandit ini
berwarna kuning sebagai suatu perlambang doa agar
bayi tersebut menjadi seorang anak yang berguna
bagi nusa, bangsa, dan agama.
511
512
Iraw Tengkayu
Iraw Tengkayu berasal dari bahasa Tidung yaitu ‘Iraw’ yang berarti perayaan atau
pesta, ‘Tengkayu’ berarti pulau kecil yang dikelilingi oleh laut. Iraw Tengkayu
merupakan perayaan yang berupa pesta rakyat dengan menampilkan beragam
kesenian, perayaan ini dilaksanakan dua tahun sekali. Iraw Tengkayu ini
merupakan tradisi yang sebelumnya sudah ada kemudian semakin dikembangkan
dengan berbagai ide kreatif.
53
Iraw Tengkayu diadakan di pinggir pantai sebagai bentuk rasa syukur masyarakat
Tidung atas rezeki dalam mencari penghidupan yang didapatkan dari hasil laut.
Ritual ini diartikan sebagai wujud penghormatan kepada Tuhan yang telah
menciptakan alam semesta.
54
55
Perayaan Iraw Tengkayu biasanya dilakukan dengan
ritual menghanyutkan ‘pakan’ (sesaji) yang disimpan
dalam perahu. Kemudian perahu ini diarak keliling
kota hingga kampung dan akan berakhir di Pantai
Amal dan akhirnya diturunkan. Penurunan perahu
ini merupakan simbol pekerjaan masyarakat Tidung
yaitu Nelayan.
Perahu ini disebut “Padaw Tuju Dulung” yang artinya
perahu tujuh haluan. Padaw Tuju Dulung merupakan
perahu hias yang berwarna kuning, hijau, merah, dan
memiliki tujuh tiang yang menjulang diatasnya.
56
Filosofi Padaw Tuju Dulung
Padaw Tuju Dulung memiliki filosofi tersendiri, yaitu; Tuju dulung (tujuh haluan)
bentuk perahu bercabang tiga, Haluan yang tengah memiliki tiga susun haluan
kanan dan kiri masing-masing dua susun. Tuju dulung ini bermakna tujuh hari
dalam seminggu yang melambangkan kehidupan masyarakat Tidung dalam
mencari penghidupan di laut selama seminggu yang terus berulang. Hanya satu
dulung yang berwarna kuning. Warna kuning melambangkan kehormatan atas
sesuatu yang ditinggikan, dimuliakan, dan diagungkan. Satu tiang tinggi yang
menjulang memiliki makna tentang kebesaran Tuhan yang Maha Esa. Dibagian
tengah Padaw Tuju Dulung terdapat lima tiang yang melambangkan sholat lima
waktu yang dikerjakan umat Islam dalam kesehariannya. Tiang-tiang ini berfungsi
sebagai tempat mengikat atap dari kain berwarna kuning yang disebut sambu
laying, kain ini memanjang turun ke haluan kanan, begitu pula pada tiang kiri
depan memanjang turun ke haluan kiri. Warna hijau memiliki makna kepercayaan
dan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan warna merah memiliki
makna ketegasan dan keberanian.
517
Di atas padaw tuju dulung dibuat bentuk seperti rumah dengan atap bersusun tiga
yang disebut maligaw, terdapat empat dinding dan disetiap dinding terdapat pintu.
Di dalam maligaw ini diletakkan sesaji berupa makanan persembahan, antara lain:
1. Nasi ketan bersantan empat warna; kuning, merah, putih, dan hitam.
2. Ayam panggang.
3. Satu sisir pisang hijau berjumlah ganjil.
4. Latup yaitu padi ketan yang digoreng hingga pecah (meletup).
5. Beras ketan empat warna.
6. Telur ayam dan lain-lain.
518
Setiap nasihat dan pelajaran yang diberikan oleh ulun tuo
(orang tua) di masa lalu selalu menyimpan pesan
dibaliknya dan menjadi peninggalan berharga untuk
kehidupan kita di masa sekarang.
59
Filosofi Pantang Larang
Banyak pantangan dan larangan yang dibawa oleh orang tua atau para pendahulu
yang kita turuti dalam kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat Tidung.
Sebenarnya apakah ada makna dari pantang larang tersebut?
Tentunya setiap pantang dan larangan memiliki makna didalamnya, ada hikmah
dibaliknya yang bisa dijadikan pelajaran atau bahkan menjadi pengingat atas
sikap serta perilaku yang tidak baik.
Filosofi Larangan Memotong Kuku di Malam Hari
Larangan memotong kuku di malam hari
memiliki filosofi bahwa pada jaman belum ada
lampu. Hal ini dapat menyebabkan tangan
terluka karena tidak dapat melihat dengan jelas.
Memotong kuku dapat dilakukan pada hari-hari
yang disunahkan, biasa pada hari senin, rabu,
kamis, dan jumat. Hari-hari ini dianggap baik
dalam memotong kuku.
Filosofi Larangan Memasak sambil Bernyanyi
Orangtua melarang memasak sambil
bernyanyi, mereka mengungkapkan jika
memasak sambil bernyanyi akan me-
nyebabkan seseorang menjadi perawan tua
atau tidak menikah. Padahal larangan ini
mengandung filosofi bahwa memasak sambil
bernyanyi itu secara etika tidak sopan dan
dianggap jorok. Karena secara tidak sadar, air
liur bisa terciprat ke dalam masakan yang
dibuat.
60
Filosofi Pantang Larang
Filosofi Larangan Duduk di Depan Pintu
Seperti yang kita ketahui selama ini, larangan
duduk di depan pintu karena dapat membuat
jodoh akan lama datang. Padahal larangan ini
sebenarnya mengandung makna bahwa pintu
merupakan sebuah jalan masuk dan keluar,
tentu menjadi tidak sopan jika seorang duduk di
depan pintu karena akan menghalangi dan
mengganggu orang yang jalan melewati pintu.
Secara tidak langsung, larangan ini merupakan
pengingat dari orangtua secara halus agar
beranjak dari tempat duduknya (pintu).
Filosofi Larangan Menyapu di Malam Hari
Dalam keseharian masyarakat Tidung,
menyapu di malam hari sangat dilarang
karena sama dengan menjauhkan rezeki.
Tentunya larangan ini memiliki maksud
sebagai pengingat menyapu di malam hari itu
tidak sopan karena pada malam hari
waktunya beristirahat. Kotoran yang kita
sapukan dapat mengganggu dan mengenai
orang yang sedang tidur dilantai.
61
Tradisi dan kebudayaan tumbuh dan berkembang secara
turun temurun yang merupakan hasil dari proses interaksi
masyarakat dengan alam tempat ia berkehidupan dan
menjadi alat untuk lebih mengenal lingkungannya. Dimana
setiap budaya dan tradisi memiliki ciri khas dan
keunikannya masing-masing yang menjadi identitas bagi
masyarakatnya.
Sejarah serta nilai-nilai tradisi dan kebudayaan dapat
dijadikan pedoman bagi kita untuk diterapkan pada
kehidupan di masa sekarang.
62
Tentang Penulis
Neng Andini Mulya Suhendar
Mansalong, 11 Agustus 1999
Lahir di salah satu daerah yang begitu kental dengan budaya Tidung.
Saat ini sedang menempuh pendidikan di Telkom University jurusan
Desain Komunikasi Visual peminatan Desain Grafis.
Buku ini adalah salah satu karya perancangan yang disusun untuk
memenuhi Tugas Akhir. Buku ini dirancang sebagai wujud bangga
penulis terhadap suku Tidung yang merupakan suku asli tempat
kelahiran penulis.
63
Buku ini dikerjakan dan disusun dengan penuh kasih sayang. Semoga dapat
memberikan manfaat bagi siapapun yang melihat dan membacanya.
Masih jauh dari kata sempurna, dalam proses perancangan dan penulisan pasti
tidak terlepas dari kekurangan, maka apabila pembaca menemukan
ketidaksempurnaan dalam buku ini baik itu konten, isi, penulisan, dan
sebagainya, pembaca dapat memberitahu penulis dengan mengirimkan kritik dan
saran ke:
Email: [email protected]
Instagram: @andinimulyas
Terima kasih.
64
Daftar Pustaka
Arbain, Muhammad. 2018. Buku Pintar Kebudayaan Tidung. Yogyakarta: Pustaka
Ilmu.
Rahmawati, Neni Puji Nur, dan Septi Dhanik Prastiwi. 2018. Pakaian Adat
Sebagai Identitas Etnis: Rekonstruksi Identitas Suku Tidung Ulun Pagun. BPNB
KALIMANTAN BARAT: Banguntapan Yogyakarta.
Rahmawati, Neni Puji Nur. 2017. TATA KRAMA PADA SUKU TIDUNG DI
TARAKAN KALIMANTAN UTARA. Penerbit Kepel Press: BPNB Pontianak.
65
Seritan
Ulun Pagun
Cerita Sejarah dan Budaya Tradisi Tidung
Suku Tidung adalah salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah
Kalimantan Utara dan dikenal sebagai suku bangsa dengan identitas
keislaman yang kuat. Populasi suku Tidung lebih banyak mendiami
wilayah pesisir. Di kalangan rumpun Tidung, komunitas yang menganut
agama Islam menyebut dirinya “Ulun Pagun”.
Suku Tidung termasuk suku yang berbudaya bahari dan turut
dipengaruhi oleh budaya Melayu. Sehingga pola kehidupan
masyarakatnya sangat akrab dengan budaya pesisir. Buku ini
menceritakan bagaimana sejarah Tidung Ulun Pagun saat masuknya
Islam ke Nusantara sehingga melahirkan budaya-budaya yang menjadi
identitas suku Tidung hingga saat ini juga adat istiadatnya, serta acara
kebesaran masyarakat Tidung.