Percayalah,
Bahwa Tuhan telah merencanakan
setiap pertemuan-pertemuan hebat sejak jauh-jauh hari.
Dengan maksud yang kini belum kita mengerti,
dengan maksud yang masih harus kita cari dan pahami.
Termasuk pertemuan Anda dengan buku ini. Hari ini.
Selamat Berkelana!
GERAKAN MENULIS BUKU INDONESIA
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014
Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987
Perubahan atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982
Perubahan atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan
Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f,
dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau
pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e,
dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). Pasal 114 Setiap Orang yang
mengelola tempat perdagangan dalam segala bentuknya yang dengan sengaja
dan mengetahui membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil
pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang
dikelolanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, dipidana dengan pidana
denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pasal 115 Setiap
Orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya
melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman,
Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan
Secara Komersial baik.
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA JAWA
KOMPETENSI DASAR MENDENGARKAN CERITA LEGENDA
MELALUI METODE KERJA SAMA KELOMPOK
PADA SISWA KELAS VIII A SMP N 2 SAMPANG
KABUPATEN CILACAP
SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Penelitian Tindakan Kelas ini
Untuk Memenuhi Persyaratan Kenaikkan Pangkat
dari Golongan IVb ke Golongan IVc
DISUSUN OLEH: Dra. DWI RETNOWATI
NIP. 19671021 199512 2 001
SMP NEGERI 2 SAMPANG KABUPATEN CILACAP
JALAN MERDEKA NOMER 81 PAKETINGAN, SAMPANG, CILACAP
TAHUN PELAJARAN 2017 /2018
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA JAWA
Copyright © Dra. Dwi Retnowati
Penulis: Dra. Dwi Retnowati
Editor: Aditya Kusuma Putra
Penata Letak: Arif Tunjung Pradana
Penata Sampul: Raditya Pramono
Sebagian ilustrasi diambil dari internet
CV KEKATA GROUP
Kekata Publisher
[email protected]
kekatapublisher.com
Fanspage: Kekata Publisher
“Cafebaca” Jalan Kartika, Gang Sejahtera 1 No. 3, Jebres,
Surakarta, Indonesia
Cetakan Pertama, Agustus 2018
Surakarta, Kekata Publisher, 2018
xii + 84 hal; 14,8×21 cm
ISBN:
Dicetak oleh
Percetakan CV Oase Group
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Katalog Dalam Terbitan
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit
iv
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa isi
Penelitin Tindakan Kelas ini benar-benar hasil karya sendiri.
Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam Penelitian
Tindakan Kelas ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik
ilmiah.
Sampang, 29 Oktober 2017
Peneliti,
Ttd
Dra. DwiRetnowati
NIP. 19671021 199512 2 001
v
SESANTI/MOTTO
Sapa tekun bakal tekan.
Sapa temen tinemu.
Jer basuki mawa bea.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah Swt atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas dengan
judul “UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA JAWA
KOMPETENSI DASAR MENDENGARKAN CERITA LEGENDA
MELALUI METODE KERJA SAMA KELOMPOK PADA SISWA KELAS
VIII A SMP N 2 SAMPANG KABUPATEN CILACAP SEMESTER 1
TAHUN PELAJARAN 2017/2018” tanpa hambatan yang berarti.
Dalam kesempatan kali ini tidak lupa diucapkan terima kasih
terhadap semua pihak yang telah membantu sehingga tugas ini
dapat diselesaikan tepat waktu. Semoga PTK ini dapat bermanfaat
dan berguna bagi semua pihak, khususnya bagi peneliti sendiri
selaku penyusun.
Akhir kata, tiada gading yang tak retak, demikian pula dengan
PTK ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik
yang membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan PTK ini.
Sampang, November 2017
Penyusun
vii
DAFTAR ISI
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ................................................................ v
SESANTI/MOTTO...................................................................................... vi
KATA PENGANTAR................................................................................... vii
DAFTAR ISI.............................................................................................. viii
DAFTAR TABEL........................................................................................... x
DAFTAR DIAGRAM ................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xii
ABSTRAK....................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN................................................................................3
A. Latar Belakang Masalah..................................................................3
B. Identifikasi Masalah........................................................................5
C. Pembatasan Masalah .....................................................................5
D. Rumusan Masalah ..........................................................................6
E. Tujuan Penelitian............................................................................6
F. Manfaat Penelitian .........................................................................7
BAB II KAJIAN TEORI..................................................................................9
A. Pengertian Belajar ..........................................................................9
B. Pengertian Hasil Belajar................................................................10
C. Hakikat Pembelajaran Bahasa Jawa .............................................10
D. Pengertian Mendengarkan Cerita Legenda..................................12
E. Pengertian Kerja Sama Kelompok .................................................16
F. Pola Pikir........................................................................................17
viii
G. Hipotesis Tindakan .......................................................................19
H. Skema Penelitian ..........................................................................19
BAB III METODE PENELITIAN...................................................................20
A. Setting Penelitian..........................................................................20
B. Subjek Penelitian ..........................................................................21
C. Objek Penelitian ...........................................................................21
D. Sumber Data.................................................................................22
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data .............................................22
F. Validasi Data .................................................................................23
G. Analisis Data .................................................................................23
H. Indikator Keberhasilan..................................................................24
I. Prosedur Penelitian ......................................................................24
BAB IV DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................30
A. Deskripsi Kondisi Awal..................................................................30
B. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus Pertama.....................................30
C. Deskripsi Refleksi Siklus Pertama .................................................31
D. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus Kedua ........................................33
E. Pembahasan Hasil Penelitian .......................................................52
F. Pembahasan Aktivitas Guru dan Siswa dalam Pembelajaran ......59
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................61
A. Kesimpulan ...................................................................................61
B. Saran-saran...................................................................................62
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................63
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1: Jadwal Penelitian....................................................................21
Tabel 4.1Penilaian Hasil Kerja sama Kelompok ......................................52
x
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 4.2 Ketercapaian Tugas ....................................................54
Diagram 4.3 Prosentasi Rata-rata Peningkatan Kemampuan
Mendengarkan pada Kelompok I, II, III, IV, dan V ....................56
Diagram 4.4 Rata-rata Peningkatan Kemampuan Mendengarkan
Cerita Setiap Kelompok ............................................................57
Diagram 4.5 Peningkatan Kemampuan Mendengarkan pada Tugas
Nomor 1 Sampai Tugas Nomor 7..............................................59
xi
DAFTAR LAMPIRAN
1 HALAMAN PUBLIKASI
2 ANGKET KEMANDIRIANAN BELAJAR BAHASA JAWA SISWA
KELAS VIII A
3 LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS PEMBELAJARAN MELALUI
METODE KERJA SAMA KELOMPOK
4 KISI-KISI SOAL SIKLUS I
5 SOAL TES SIKLUS I
6 KUNCI JAWABAN SOAL TES SIKLUS I
7 KISI-KISI SOAL SIKLUS II
8 SOAL TES SIKLUS II
9 KUNCI JAWABAN SOAL TES SIKLUS II
10 TENTANG PENULIS
xii
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
bahasa Jawa pada keterampilan mendengarkan cerita dengan
metode kerja sama kelompok. Penelitian ini berbentuk penelitian
tindakan kelas dengan subjek penelitian siswa kelas VIII A SMP
Negeri 2 Sampang pada semester1 tahun pelajaran 2017/2018,
dengan jumlah siswa 34 anak dengan perincian 16 perempuan dan
18 laki-laki. Data dilakukan dengan penugasan dan observasi.
Indikator penelitian ini adalah jika 80% siswa mencapai ketuntasan
belajar. Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar siswa
mengalami peningkatan dari prasiklus, siklus I dan siklus II.
Peningkatan rata-rata pada pra siklus sebesar 60 meningkat
menjadi 67 pada siklus I dan 100 pada siklus II. Sedangkan
peningkatan ketuntasan klasikal dari prasiklus sebesar 65%
menjadi 73,3% pada siklus I, dan 100% pada siklus II. Dengan
demikian penerapan metode kerja sama kelompok pada
pembelajaran kompetensi dasar mendengarkan cerita legenda pada
kelas VIII A SMP Negeri 2 Sampang semester 1 tahun pelajaran
2017/2018 dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Kata kunci: hasil belajar, keterampilan mendengarkan, cerita
legenda, kerja sama kelompok.
ABSRACT
This research has a purpose to increase Javanese student’s
scare in ability of listening a short story (legend ), in this casethe
rearcher used team work method. This is a class action research.The
subyek are the firsth semester students of grade VIII at A class of
SMP Negeri 2 Sampang, in 2017/2018. There are 34 students in this
observation. The indicator research is if 80% students able to reach
their scores based on standard on standar criteria grades. In fact the
result of this reseach chows that student’s scores has increase. This
reseach chos that student’s scores has increase. This reseach
1
separated become 3 cycle, precycle, first cycle, and second cycle. In
precycle student’sscore is 60, then become 67 in the firtst cycle, and
finalty it reachs100 in the last cycle. There fore the incrase in
percentage is 65 % then 73,3 % and at leas 100 %. The conclution is
that team work application method in improving listening a legend
on first semester of VIII grades class students in SMP Negeri 2
Sampang in 2017 / 2018 is succeed.
Key Words : scores, listening ability, legend, team work
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Mendengarkan merupakan salah satu ketrampilan
berbahasa selain membaca,menulis,dan berbicara.
Mendengarkan cerita legenda merupakan salah satu kompetensi
dasar (KD) yang harus dicapai dan dikuasai oleh siswa SMP kelas
VIIIA SMP Negeri 2 Sampang. Kemampuan mendengarkan
sebuah cerita merupakan salah satu jenis kemampuan
mendengarkan yang sangat penting bagi siswa dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Pada setiap saat siapa pun pasti akan
mendengarkan berbagai informasi. Salah satu informasi tersebut
berupa cerita. Dari berbagai cerita yang didengarkan salah
satunya berupa legenda. Legenda adalah cerita yang
menceritakan tentang terjadinya suatu tempat. Naluri manusia
selalu ingin tahu. Termasuk ingin tahu mengapa suatu tempat
diberi nama seperti itu. Pasti ada alasannya. Jadi, betapa
pentingnya siswa memiliki kemampuan mendengarkan cerita
legenda.
Pembelajaran mendengarkan cerita legenda telah peneliti
lakukan secara klasikal. Dalam pembelajaran tersebut peneliti
membacakan sebuah cerita legenda. Siswa secara perorangan
diberi tugas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, antara
lain: mencatat tokoh cerita, watak tokoh, setting, menjawab
pertanyaan berkaitan dengan isi cerita, menyebutkan amanat
yang terkandung dalam cerita, dan membuat ringkasan cerita.
Hasil pembelajaran yang diperoleh belum memuaskan. Banyak
siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
3
yang telah ditentukan. KKM bahasa Jawa adalah 75, sedangkan
rata-rata perolehan siswa adalah 65.
Hasil refleksi diperoleh bahwa selama proses pembelajaran
siswa banyak yang mengeluh dan muncul rasa tidak percaya diri.
Masalah tersebut mengakibatkan siswa kesulitan dalam
mengerjakan tugas-tugasnya. Hal ini merupakan gambaran
kegagalan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, perlu
adanya pembaharuan dalam proses pembelajaran agar hasil
yang diharapkan dapat tercapai.
Apalagi jika mengingat bahwa kemampuan mendengarkan
merupakan bekal yang sangat penting bagi siswa untuk
mempelajari Kompetensi Dasar yang lain dalam mata pelajaran
bahasa Jawa maupun pada mata pelajaran lain. Bahkan secara
luas kemampuan mendengarkan merupakan bekal bagi siswa
dalam menjalani kehidupannya di masyarakat.
Untuk mengatasi kegagalan tersebut, peneliti mencoba
untuk menerapkan metode pembelajaran yang lain. Metode
pembelajaran yang akan peneliti gunakan adalah metode kerja
sama kelompok. Diharapkan dengan metode pembelajaran kerja
sama kelompok proses pembelajaran mendengarkan cerita
legenda dapat berlangsung secara efektif dan hasil belajar pun
akan meningkat.
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti akan melakukan
penelitian tindakan kelas dengan judul ‘UPAYA PENINGKATAN
HASIL BELAJAR BAHASA JAWA KOMPETENSI DASAR
MENDENGARKAN CERITA LEGENDA MELALUI METODE KERJA
SAMA KELOMPOK PADA SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 2
SAMPANG KABUPATEN CILACAP SEMESTER 1 TAHUN
PELAJARAN 2017/2018’
4
B. Identifikasi Masalah
Dari judul penelitian tersebut muncul berbagai pertanyaan
dalam diri peneliti sebagai berikut.
1. Mengapa hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2
Sampang dalam belajar mata pelajaran Bahasa Jawa
Kompetensi Dasar mendengarkan cerita legenda rendah?
2. Mengapa hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2
Sampang dalam belajar mata pelajaran Bahasa Jawa
Kompetensi Dasar mendengarkan cerita legenda perlu
ditingkatkan?
3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan hasil belajar
siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Sampang dalam belajar
mata pelajaran Bahasa Jawa Kompetensi Dasar
mendengarkan cerita legenda rendah?
4. Bagaimana caranya agar hasil belajar siswa kelas VIII A SMP
Negeri 2 Sampang dalam belajar Bahasa Jawa Kompetensi
Dasar mendengarkan cerita legenda meningkat?
5. Apa yang dilakukan oleh guru agar hasil belajar siswa kelas
VIII A SMP Negeri 2 Sampang dalam belajar mata pelajaran
Bahasa Jawa Kompetensi Dasar mendengarkan cerita
legenda meningkat?
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada penelitian kerja sama kelompok
dan hasil belajar Bahasa Jawa pada kompetensi dasar
mendengarkan cerita legenda pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri
2 Sampang kabupaten Cilacap semester 1 tahun pelajaran
2017/2018.
5
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan judul penelitian tersebut, peneliti mengajukan
pertanyaan penelitian sebagai rumusan masalah. Adapun
pertanyaannya adalah:
1. Bagaimana peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa
Kompetensi Dasar mendengarkan cerita legenda pada siswa
kelas VIII A SMP N 2 Sampang Kabupaten Cilacap semester
1 tahun pelajaran 2017/2018?
2. Bagaimana penerapan metode kerja sama kelompok belajar
Bahasa Jawa Kompetensi Dasar mendengarkan cerita
legenda pada siswa kelas VIII A SMP N 2 Sampang
Kabupaten Cilacap semester 1 tahun pelajaran 2017/2018?
3. Bagaimana perubahan perilaku yang menyertai
peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa kompetensi dasar
mendengarkan cerita legenda pada siswa kelas VIII A SMP
N2 Sampang setelah diberikan tindakan melalui kerja sama
kelompok?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian
tindakan kelas ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian yang akan dicapai adalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar mata
pelajaran Bahasa Jawa Kompetensi Dasar mendengarkan
cerita legenda melalui kerja sama kelompok.
2. Tujuan Khusus
a). Mendeskripsikan proses pembelajaran dengan
penerapan metode kerja sama kelompok untuk
meningkatkan hasil belajar bahasa Jawa pada
Kompetensi Dasar mendengarkan cerita legenda.
6
b). Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar bahasa Jawa
setelah penerapan metode pembelajaran kerja sama
kelompok.
c). Mendeskripsikan perubahan perilaku yang menyertai
peningkatan hasil belajar Bahasa Jawa kompetensi dasar
mendengarkan cerita legenda pada siswa kelas VIII A
SMP N2 Sampang semester 1 tahun pelajaran
2017/2018 setelah diberikan tindakan melalui kerja
sama kelompok.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini meliputi tiga aspek yaitu aspek siswa,
peneliti dan sekolah. Ketiga aspek tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut.
1. Manfaat bagi siswa
a). Meningkatkan kreativitas, kemauan, dan kemampuan
siswa dalam belajar Bahasa Jawa khususnya kompetensi
dasar mendengarkan cerita legenda.
b). Meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar Bahasa
Iawa khsususnya kompetensi dasar mendengarkan
cerita legenda
c). Menanamkan jiwa kemandirian dan juga jiwa
kepemimpinan melalui metode kerja sama kelompok.
d). Menananmkan jiwa sosial dan bertukar pendapat
melalui metode kerja sama kelompok.
2. Manfaat bagi Peneliti
a). Sebagai pedoman bagi peneliti dalam melaksanakan
pembelajaran kompetensi dasar mendengarkan cerita
legenda melalui kerja sama kelompok.
b). Sebagai bahan diskusi tindak lanjut dengan guru-guru
pengampu bahasa Jawa tentang bagaimana cara
meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan
cerita legenda melalui kerja sama kelompok.
7
c). Sebagai wadah peneliitian untuk mengembangkan ilmu
dan profesional sebagai tenaga pendidik.
d). Sebagai wahana pendekatan dan pengetahuan tentang
perkembangan siswa peserta didik.
3. Manfaat bagi Sekolah
a). Memberikan konstribusi kepada siswa tentang
bagaimana cara meningkatkan kemampuan dalam
mendengarkan cerita legenda melalui kerja sama
kelompok.
b). Memberikan konstribusi kepada guru-guru pengampu
bahasa Jawa di tingkat Kecamatan Sampang dan tingkat
Kabupaten Cilacap tentang bagaimana cara
meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan
cerita melalui kerja sama kelompok.
c). Memberikan konstribusi kepada kepala sekolah tentang
bagaimana cara meningkatkan kemampuan siswa dalam
mendengarkan cerita legenda melalui kerja sama
kelompok.
4. Manfaat bagi Perpustakaan
a). Memberikan konstribusi kepada perpustakaan SMP
Negeri 2 Sampang tentang buku referensi cara
meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan
cerita legenda.
8
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Belajar
Menurut Hilggrad dan Bower (Baharuddin, 2010: 13), belajar
memiliki arti to gain knowledge, comprehension, or mastery of
trough experience or study, to fix in the mind or memory;
memorize, to acquire trough experience, to become in forme of to
find out. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian
memperoleh dan menguasai pengetahuan melalui pengalaman,
mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi
atau menemukan, dengan demikian belajar memiliki arti dasar
adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.
Menurut Cronbach (Baharuddin, 2010: 13), belajar yang paling
baik merupakan belajar yang melalui pengalaman, karena dengan
pengalaman, seluruh pancaindra digunakan oleh si pelajar. Selain
itu, belajar dapat diartikan sebagai modifikasi (memperkuat)
kelakuan melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar
merupakan suatu proses, suatu aktivitas dan bukan hanya
mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yaitu “mengalami”.
Menurut Morgan (Agus Suprijono, 2009), belajar adalah
perubahan perilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari
pengalaman. Sedangkan Slameto (Syaiful Bahri D, 2011)
merumuskan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah suatu aktivitas atau kegiatan untuk menguasai pengetahuan
9
dan memperoleh suatu perubahan tingkah laku melalui suatu
pengalaman.
B. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-
pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan (Agus
Suprijono, 2009). Menurut Bloom (Agus Suprijono, 2009: 5), hasil
belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku secara keseluruhan,
bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja, artinya
hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan
tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan
komprehensif.
Pendapat lain dikemukakan oleh Syaiful Bahri Djamarah (2011)
bahwa hasil belajar diartikan sebagai kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menemukan pengalamannya. Sedangkan menurut
Nana Sudjana (2001) menyatakan bahwa hasil belajar siswa pada
hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar
dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Berdasaarkan uraian di atas, dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar Bahasa Jawa adalah kemampuan yang dimiliki
siswa setelah setelah melakukan proses belajar Bahasa Jawa yang
menghasilkan perubahan dalam diri siswa yang mencakup
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik dan dapat diukur
dengan alat evaluasi atau instrumen yang sering dikemas dalam
bentuk tes hasil belajar dan dinyatakan dengan nilai yang berupa
angka atau huruf.
C. Hakikat Pembelajaran Bahasa Jawa
Bahasa Jawa adalah bahasa yang dipakai oleh masyarakat yang
hidup di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa
Yogyakarta. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu atau bahasa
daerah. Dalam kurikulum tahun 2006 tingkat SMP/MTs, Bahasa
10
Jawa masuk sebagai mata pelajaran muatan lokal. Berdasarkan SK
Gubernur Jawa Tengah nomor 423.5/5/2010 tentang Kurikulum
Mata Pelajaran Muatan Lokal, Bahasa Jawa merupakan mata
pelajaran muatan lokal wajib yang harus diajarkan di sekolah-
sekolah di daerah Jawa Tengah mulai dari tingkat dasar sampai
dengan tingkat menengah.
Bahasa Jawa sebagai alat komunikasi diharapkan dapat terus
lestari. Sehubungan dengan fungsi bahasa Jawa sebagai alat
komunikasi maka dituntut siswa menguasai bahasa Jawa dengan
baik untuk dapat menyampaiakan segala pemikiran, perasaan,
ataupun pendapatnya kepada orang lain. Untuk itu perlu adanya
latihan secara terus-menerus agar mempunyai keterampilan
berbicara dengan baik.
Kemampuan berbicara berhubungan erat dengan kemampuan
mendengarkan. Oleh karena itu, melatih keterampilan
mendengarkan adalah hal yang sangat penting. Ketrampilan
mendengarkan harus dilatih secara terus-menerus dalam
pembelajaran. Hasil dari latihan terus-menerus ini diharapkan
meningkatkan keterampilan berbahasa yang lain.
1. Prinsip Pembelajaran Bahasa Jawa
a. Bertujuan dan terarah
Dalam Ki-demang.com: Kongres Bahasa Jawa 5
dikatakan bahwa Pembelajaran memiliki beberapa prinsip
yakni, harus bertujuan dan terarah, agar pembelajaran terarah,
maka memerlukan bimbingan, memerlukan pemahaman
sehingga diperoleh pemahaman yang sama, memerlukan
latihan dan ulangan. Kegiatan tersebut merupakan proses aktif
peserta didik dengan lingkungannya, disertai keinginan dan
kemauan untuk mencapai tujuan, disertai proses internalisasi
diri dari si pembelajar. Pembelajaran dianggap berhasil jika
telah sanggup menerapkan dalam praktik kehidupan sehari-
hari
11
b. Komunikatif
Pembelajaran Bahasa Jawa lebih menekankan kepada
pendekatan komunikatif yaitu pembelajaran yang
mempermudah para siswa agar lebih akrab dalam pergaulan
dengan menggunakan Bahasa Jawa dan melatih siswa untuk
lebih senang berbicara menggunakan Bahasa Jawa yang benar
dan tetap sesuai dengan situasinya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip
pembelajaran Bahasa Jawa adalah bertujuan, terarah, dan
komunikatif.
D. Pengertian Mendengarkan Cerita Legenda
Pembelajaran Bahasa Jawa diajarkan dari SD sampai dengan
SMP bahkan sampai SMA secara berkesinambungan, selaras antara
kompetensi dasar yang satu dengan kompetensi dasar lainnya.
Dalam pembelajaran ini ada 4 aspek yang diajarkan oleh guru yaitu:
Mendengarkan, Berbicara, Membaca, Menulis. Keempat aspek
tersebut tidak dapat terpisah antara satu aspek dengan aspek
lainnya, hanya dalam pembelajaran penekanannya lebih difokuskan
pada salah satu aspek. Maksudnya adalah pada pembelajaran
mendengarkan siswa tidak hanya dituntut mendengarkan saja akan
tetapi siswa juga harus dapat berbicara, menulis dan
mengapresiasikannya dalam bentuk sastra.
Menurut zubrifisip.blogspot pengertian mendengarkan adalah
suatu proses menangkap, memahami, dan mengingat dengan
sebaik-baiknya apa yang didengarkannya atau sesuatu yang
dikatakan orang lain kepadanya.
Tujuan mendengarkan adalah untuk memperoleh informasi
yang ada hubungannya dengan profesi, mengungkapkan data untuk
membuat keputusan, dan untuk memberikan respons yang tepat.
12
Selain itu tujuan lain dari mendengarkan adalah untuk memperoleh
pengetahuan secara langsung melalui apa yang ia dengarkan.
Salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dicapai oleh
siswa kelas VIII dalam Kurikulum 2006 Jenjang SMP adalah
mendengarkan cerita legenda. Indikator Kompetensi Dasar ini
adalah (1) Mampu mengungkapkan isi cerita legenda. (2) Mampu
menjelaskan unsur instrinsik cerita legenda. (3) Mampu
menyebutkan pesan moral yang terkandung dalam cerita legenda.
(4) Mampu menuliskan rangkuman isi cerita.
1. Mengungkapkan Isi Cerita Legenda
Mengungkapkan isi cerita legenda yang dimaksud adalah
menceritakan kembali isi cerita legenda.
2. Unsur Instrinsik Cerita
Unsur instrinsik cerita yang akan dibahas meliputi tema,
tokoh dan perwatakannya, alur, latar, dan amanat.
a. Tema
Menurut kamus besar bahasa Indonesia tema adalah
dasar cerita (yang dipercakapkan, dipakai sebagai dasar
mengarang). Tema adalah gagasan atau ide dasar yang akan
mendasari keseluruhan cerita dari sebuah cerita. Setiap jenis
cerita mempunyai tema, tidak terkecuali cerita legenda.
b. Tokoh dan Perwatakannya
Nurgiyantoro dalam bukunya Penilaian dalam Pengajaran
Bahasa dan Sastra menjelaskan bahwa tokoh cerita adalah
pelukisan yang jelas tentang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Selanjutnya dijelaskan bahwa tokoh cerita mencakup masalah
siapa tokoh cerita dan bagaimana perwatakannya dalam
sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang
jelas kepada pembaca. Berdasarkan penjelasan tersebut
penulis dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud
tokoh cerita adalah pelukisan yang jelas tentang siapa dan
13
bagaimana perwatakannya yang ditampilkan dalam sebuah
cerita dan dapat memberikan gambaran yang jelas kepada
pembaca.
c. Alur
Alur atau disebut juga plot adalah jalan cerita.
Nurgiyantoro dalam bukunya Penilaian Bahasa dan Sastra
menjelaskan bahwa alur cerita merupakan unsur waktu, baik
dikemukakan secara eksplisit atau implisit. Alur cerita tidak
harus disajikan secara urutan waktu, runtut, atau kronologis
yang dimulai dengan peristiwa awal, kemudian disusul dengan
peristiwa tengah dan diakhiri dengan peristiwa akhir. Dalam
sebuah cerita dapat saja dimulai dengan bagian mana pun.
Alur cerita harus bersifat padu. Maksudnya urutan
peristiwa yang diceritakan dahulu dengan peristiwa yang
diceritakan kemudian harus ada hubungannya dan saling
keterkaitan. Kaitan antarperistiwa tersebut hendaklah jelas,
logis, dan dapat dikenali hubungan kewaktuannya. Alur yang
utuh dan padu akan membentuk cerita yang utuh dan padu
pula.
d. Latar
Latar atau setting adalah tempat, waktu, dan suasana
terjadinya peristiwa. Nurgiyantoro dalam bukunya Penilaian
Bahasa dan Sastra menjelaskan bahwa latar merupakan
landasan tumpu yang mengarah pada tempat, waktu, dan
lingkungan sosial terjadinya peristiwa-peristiwa yang
diceritakan. Latar dikelompokkan bersama dengan tokoh dan
alur ke dalam cerita yang disajikan secara konkret sehingga
dapat diimajinasikan oleh pembaca. Latar merupakan pijakan
cerita secara konkret dan jelas. Hal ini yang akan memberikan
kesan realistik kepada pembaca. Latar menciptakan suasana
tertentu yang seolah-olah ada dan terjadi.
14
e. Amanat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, amanat adalah
pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca
melalui karya sastranya.
1. Pesan Moral
Setiap cerita mempunyai pesan moral yang ingin
disampaikan oleh pengarang melalui ceritanya. Pesan
moral ini sudah terkait didalam unsur instrinsik cerita
pada pembahasan amanat.
2. Ringkasan Cerita
Dalam syafuddin41.blogsport.com dinyatakan bahwa
ringkasan adalah penyajian karangan atau peristiwa yang
panjang dalam bentuk yang singkat dan efektif.
Ringkasan cerita atau cerita yang diringkas pada
hakikatnya adalah sama dengan alur cerita. Sebab alur
cerita merupakan rangkaian antara peristiwa yang
diceritakan dahulu dengan peristiwa yang diceritakan
kemudian. Rangkaian peristiwa antar peristiwa tersebut
hendaklah jelas, logis, dan dapat dikenali hubungan
kewaktuannya. Alur yang utuh dan padu akan membentuk
cerita yang utuh dan padu pula. Begitu pula dengan
ringkasan cerita. Ringkasan cerita harus utuh dan padu,
agar pembaca memahami rangkaian antara peristiwa yang
diceritakan dahulu dengan peristiwa yang diceritakan
kemudian.
Ringkasan cerita sudah terkait dalam dalam pembahasan
mengungkapkan isi cerita legenda. Ringkasan cerita
disampaikan secara tertulis, sedangkan mengungkapkan
isi cerita disampaikan secara lisan.
15
E. Pengertian Kerja Sama Kelompok
Departemen Pendidikan Nasional (2002a:15) menjelaskan,
“Konsep kerja sama kelompok menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain”. Konsep
tersebut menunjukkan bahwa kerja sama kelompok merupakan
kumpulan individu yang bekerja sama dalam satu kesatuan
kelompok.
Lewin (1958) dalam Munir (2001: 5) menjelaskan,
“Kelompok adalah kumpulan individu yang mempunyai hubungan
tertentu yang saling ketergantungan dalam ukuran-ukuran yang
bermakna.” Sukamta (1980) dalam Munir (2001: 6) menjelaskan
kualifikasi sebuah kelompok adalah “Terjadinya interaksi tatap
muka dengan frekuensi yang sangat tinggi dan menyebabkan
terjalinnya hubungan psikologis yang nyata, seperti saling rasa
memiliki, rasa solidaritas, saling ketergantungan, adanya norma
kelompok, dan terbentuknya struktur kelompok.”
Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat dinyatakan
bahwa dalam kerja kelompok harus terjalin hubungan bekerja sama
saling pengertian, menghargai, dan membantu dengan disertai
komunikasi secara empati sebagai upaya untuk memaksimalkan
kondisi pembelajaran. Hasil pembelajaran harus merupakan hasil
sharing antarsiswa dalam satu kelompok atau antarkelompok.
Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu mengajari yang
tidak tahu, yang cepat memahami mengajari yang lamban, yang
mempunyai gagasan segera memberi usul, dan sebagainya.
“Kerja kelompok akan terjadi apabila setiap anggotanya
saling ketergantungan, siswa saling belajar dari sesamanya baik
dalam kelompok kecil atau kelompok besar” (Depdiknas, 2003: 15).
Mereka tidak ada yang merasa paling tahu atau tidak tahu. “Setiap
siswa harus merasa bahwa setiap siswa lain memiliki pengetahuan,
pengalaman, dan keterampilan yang berbeda dan perlu
dipelajarinya” (Depdiknas, 2002a: 16). Bila setiap siswa merasa
16
membutuhkan dan mau belajar dari siswa lain, maka setiap siswa
dapat menjadi sumber belajar. Bila setiap siswa dapat menjadi
sumber belajar, maka antarsiswa akan terjalin hubungan kerja sama
dan komunikasi yang harmonis.
Kondisi kerja kelompok dapat menumbuhkan kesadaran
menjadi warga negara yang baik, mengembangkan kemampuan
sosial dan semangat berkompetisi secara sehat dengan tidak
melupakan semangat bekerja sama yang disertai dengan
komunikasi secara empati, dan sikap solidaritas yang tinggi,
Depdiknas (2002b: 5). Kondisi tersebut sangat diperlukan oleh
siswa baik dalam kehidupannya pada masa sekarang maupun masa
yang akan datang.
F. Pola Pikir
Berdasarkan penjelasan tersebut berikut ini peneliti akan
menjelaskan cara menerapkan kerja sama kelompok dalam
meningkatkan kemampuan siswa dalam mendengarkan cerita.
Departemen Pendidikan Nasional (2002a: 15) menjelaskan,
“Konsep kerja sama kelompok menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain.” Konsep
tersebut menunjukkan bahwa kerja sama kelompok merupakan
kumpulan individu yang bekerja sama dalam satu kesatuan
kelompok.
Berdasarkan pendapat tersebut, maka langkah awal adalah
peneliti membentuk kelompok. Kelas dibentuk menjadi lima
kelompok yang setiap kelompok beranggotakan 7 dan 8 siswa.
Dalam setiap kelompok terdiri atas siswa yang kurang, sedang, dan
yang pandai. Hal ini dimaksudkan agar hasil pembelajaran
merupakan hasil sharing antarsiswa dalam satu kelompok atau
antarkelompok. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu
mengajari yang tidak tahu, yang cepat memahami mengajari yang
lamban, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan
sebagainya.
17
Selanjutnya, peneliti membagikan tugas-tugas yang harus
dikerjakan melalui kerja sama kelompok. Setiap kelompok hanya
diberi satu lembar tugas saja. Dengan cara demikian, maka akan
terjalin hubungan psikologis yang nyata, seperti saling rasa
memiliki, rasa solidaritas, saling ketergantungan, adanya norma
kelompok, dan terbentuknya struktur kelompok.
Setiap kelompok dipersilahkan membaca tugas-tugas yang
harus dikerjakannya sampai benar-benar paham. Barulah peneliti
memperdengarkan cerita melalui komputer. Cerita diperdengarkan
sampai tiga kali. Kemudian, kelompok dipersilakan bekerja sama
mengerjakan tugas-tugas.
Ketika itu, peneliti melakukan penilaian proses dengan cara
mengunjungi setiap kelompok untuk memberikan motivasi belajar,
memberikan bantuan seperlunya, dan mengecek hasil kerja setiap
kelompok. Bantuan diberikan kepada kelompok yang
membutuhkan dalam rangka mencapai belajar tuntas yaitu setiap
kelompok mampu mencapai KKM. Dengan cara demikian, maka
proses dan hasil belajar siswa terpantau secara efektif dan efisien.
Setelah diketahui setiap kelompok menyelesaikan tugas-
tugasnya, peneliti mempersilakan setiap kelompok untuk
membacakan hasil kerjanya di depan kelas lalu ditanggapi dan
dinilai secara langsung oleh kelompok lain. Hal ini dilakukan untuk
menumbuhkan kesadaran menjadi warga negara yang baik,
mengembangkan kemampuan sosial, dan semangat berkompetisi
secara sehat dengan tidak melupakan semangat bekerja sama yang
disertai dengan komunikasi secara empati, dan sikap solidaritas
yang tinggi, Depdiknas (2002b: 5). Selain itu, agar terjadi sharing
hasil belajar antarkelompok sesuai dengan prinsip kerja sama
kelompok.
Akhir pembelajaran peneliti melakukan refleksi pembelajaran
dengan cara meminta pendapat, saran, masukan, atau yang lainnya
dari para siswa tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
18
pembelajaran yang baru dilakukannya sebagai dasar untuk
memperbaiki atau meningkatkan perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran siklus berikutnya.
G. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti mengajukan
hipotesis tindakan sebagai berikut. “Hasil belajar siswa kelas VIII A
SMP Negeri 2 Sampang semester 1 tahun pelajaran 2017/2018
dalam mendengarkan cerita legenda dapat meningkat, jika
diterapkan metode kerja sama kelompok”.
H. Skema Penelitian
dengan
19
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIIA SMP Negeri 2
Sampang dan dilakukan selama 4 bulan, yaitu pada semester ganjil
tahun pelajaran 2017/2018. Bulan pertama yaitu Agustus 2017
peneliti gunakan untuk menyusun proposal, pada bulan September
2017 minggu pertama dan kedua digunakan untuk menyusun
instrumen, dan pelaksanaan penelitian tindakan kelas, pengambilan
data, analisa data serta penyusunan laporan penelitian dilakukan
pada bulan Oktober 2017.
Adapun jadwal penelitian tersaji pada sebagai berikut. Minggu
3 dan 4 bulan Agustus 2016penyusunan proposal. Minggu 1 dan 2
bulan September 2017 digunakan untuk penyusunan instrumen
penelitian. Sedangkan pelaksanaan penelitian tindakan kelas
simulai pada minggu ke-2, 3, 4, dan 5 pada bulan Oktober 2017.
Pada minggu tersebut sekaligus digunakan untuk pemberian
tindakan dan pengambilan data. Pemberian tindakan dilaksanakan
dua siklus, setiap siklus dua kali pertemuan. Setelah pengambilan
data pada minggu tersebut juga digunakan untuk menganalisa data.
Setelah pemberian tindakan, pengambilan data, dan analisa data
selesai segera dibuat laporan penelitian tindakan kelas. Laporan
dilaksanakan pada minggu 1 dan 2 bulan November 2017.
Sedangkan pada bulan Desember minggu ke-2 dilaksanakan
seminar penelitian tindakan kelas. Adapun tabel jadwalnya sebagai
berikut.
20
Tabel 3.1: Jadwal Penelitian
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2
Sampang Kabupaten Cilacap semester 1 tahun pelajaran
2017/2018. Kelas VIIIA dengan jumlah siswa 34 anak dengan
perincian siswa laki-laki 18 anak dan perempuan 16 anak.
Dipilihnya kelas VIIIA sebagai subjek penelitian dikarenakan hasil
belajar pada mata pelajaran Bahasa Jawa kompetensi
mendengarkan cerita legenda masih rendah. Hal ini mestinya tidak
perlu terjadi. Oleh karena itulah, peneliti mengambil kelas VIIIA
sebagai subjek penelitian.
C. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah kerja sama kelompok dan hasil
belajar bahasa Jawa yang diperoleh dari proses pembelajaran
Bahasa Jawa melalui metode pembelajaran kerja sama kelompok.
21
D. Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah siswa, dan guru. Siswa yang
dimaksud adalah siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2 Sampang semester
1 tahun pelajaran 2017/2018 yang terdiri dari 34 siswa yang terdiri
dari 18 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Guru yang
dimaksud adalah guru pengampu mata pelajaran Bahasa Jawa yang
bertugas di kelas VIIIA SMP Negeri 2 Sampang pada semester 1
tahun pelajaran 2017/2018.
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Observasi
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah observasi dan tes. Pelaksanaan observasi
dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan perbaikan
pembelajaran.
Menurut Bogdan dalam Moehadjir (1996: 102)
menjelaskan, bahwa dalam melakukan observasi kita harus
dapat mendeskripsikan secara rinci berbagai kejadian bukan
ringkasan atau opini dan mengutip pernyataan orang bukan
meringkas apa yang dikatakan orang.
Selanjutnya dijelaskan bahwa dimensi-dimensi yang perlu
dideskripsikan adalah (1) tampilan fisik siswa dan guru; (2)
dialog sebagaimana yang terjadi dalam pembelajaran; (3)
lingkungan fisik atau kelas dengan berbagai situasinya atau
seting pembelajaran; dan (4) kejadian-kejadian khusus yang
dilakukan oleh siswa ketika berinteraksi dengan sumber-
sumber belajar; (5) berbagai aktivitas siswa dan guru dalam
mengimplementasikan tahapan-tahapan model pembelajaran,
serta (6) pikiran dan perasaan peneliti perlu dideskripsikan
secara rinci, karena dalam penelitian kualitatif peneliti
merupakan bagian dari penelitian.
22
2. Teknik Tes
Teknik tes yang digunakan adalah tes yang dilakukan oleh
siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Tes tersebut
merupakan pelaksanaan evaluasi proses yaitu evaluasi yang
dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Proses
pembelajaran dan evaluasi proses berlangsung secara
simultan. Ketika itu, peneliti dapat memberikan motivasi
belajar, memberikan bantuan kepada siswa atau kelompok
yang mendapatkan kesulitan, dan sekaligus dapat mengecek
hasil belajar setiap kelompok.
F. Validasi Data
Validasi data mencerminkan belajar siswa dari perolehan nilai
siklus I dan siklus II. Perolehan tiap siklus tersebut kemudian
dibandingkan untuk menentukan tingkat peningkatan hasil belajar
siswa yang dicapai setelah pelaksanaan metode pembelajaran kerja
sama kelompok. Validasi data untuk menentukan peningkatan hasil
belajar dianalisis secara kuantitatif.
G. Analisis Data
Data yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan
mendengarkan cerita melalui kerja sama kelompok adalah data dari
hasil kerja sama kelompok siklus pertama dan siklus kedua. Karena
data tersebut berupa angka, maka teknik pengolahan data yang
digunakan adalah teknik kuantitatif. Teknik kuantitatif yang peneliti
gunakan sebagaimana dilakukan dalam pembelajaran sehari-hari
dengan cara sebagai berikut. Pertama, peneliti membandingkan
prosentasi keter-capaian setiap indikator dari setiap kelompok
pada siklus kesatu dengan kedua. Kedua, peneliti membandingkan
prosentasi ketercapaian seluruh indikator dari setiap kelompok
pada siklus kesatu dengan siklus kedua. Ketiga, hasil perbandingan
keduanya diubah ke dalam bentuk diagram batang dan diagram
lingkaran.
23
Selisih hasil tes siklus kedua dan siklus pertama merupakan
hasil belajar, (Arikunto, 1998: 84). Hasil belajar tersebut merupakan
peningkatan kemampuan mendengarkan cerita melalui kerja sama
kelompok. Apabila terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam
mendengarkan cerita, berarti hipotesis terbukti. Atau sebaliknya,
jika tidak terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam
mendengarkan cerita, berarti hipotesis tidak terbukti.
H. Indikator Keberhasilan
Setelah dilaksanakan penelitian tindakan kelas diharapkan:
Peningkatan hasil belajar siswa kelas VIIIA SMP Negeri 2 Sampang
semester 1 tahun pelajaran 2017/2018 ditunjukkan sekurang-
kurangnya 85 % telah mencapai KKM yaitu 75 atau lebih.
Terpenuhinya harapan di atas, dapat diukur dengan indikator
semakin berkurangnya siswa yang mendapat nilai kurang dari 75,
dan rata-rata kelas meningkat dengan ketuntasan klasikal menjadi
85%.
I. Prosedur Penelitian
1. Siklus I
a. Perencanaan
Kegiatan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
1. Guru menentukan materi pokokyang akan diajarkan
yaitu mendengarkan cerita legenda “Dumadine Pulo
Nusakambangan”.
2. Merancang pembuatan RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran).
3. Merancang kegiatan pembelajaran metode kerja sama
kelompok.
4. Merancang pembentukan kelompok.
5. Mempersiapkan alat peraga/media pembelajaran.
6. Merancang pembuatan lembar tugas kelompok.
24
b. Pelaksanaan
Kegiatan pada tahap ini adalah melaksanakan rencana dan
program yang telah disusun sebelumnya, yaitu pembelajaran
mendengarkan cerita legenda menggunakan metode kerja
sama kelompok. Adapun kegiatannya meliputi:
1) Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan peneliti antara lain:
a). Mengkondisikan siswa agar memiliki kesiapan fisik
dan mental untuk mengikuti pembelajaran.
b). Guru dan siswa mengadakan apersepsi melalui tanya
jawab sehubungan dengan materi yang akan
dipelajari.
c). Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan cara
belajar untuk dapat mencapai keberhasilan yang telah
ditentukan.
d). Guru memotivasi siswa agar semangat untuk belajar.
2) Kegiatan Inti
Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam tahap ini adalah:
a). Guru membentuk kelompok kecil beranggotakan
6 atau 7 siswa.
b). Menyajikan materi pembelajaran melalui
penjelasan secara singkat tentang pengertian
cerita legenda.
c). Guru membacakan cerita legenda “Dumadine
Pulo Nusakambangan”
d). Guru mengulang membacakan cerita sebanyak
tiga kali.
25
e). Guru memberikan tugas untuk dikerjaka secara
kelompok.
f). Guru mempersilahkan setiap kelompok untuk maju
membacakan hasil pekerjaannya, kelompok lain
menanggapi.
g). Guru menguatkan pendapat siswa.
3) Kegiatan Akhir
Kegiatan yangdilakukan pada tahap ini adalah:
a) Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari.
b) Guru dan siswa merefleksi manfaat pembelajaran
yang telah dilaksanakan.
c) Guru dan siswa menutup pembelajaran dengan
tertib.
c. Pengamatan (Observing)
Pada tahap ini peneliti bekerja sama dengan teman
sejawat untuk berkolaborasi mengadakan pengamatan. Tugas
teman sejawat adalah melakukan observasi aktivitas belajar
mengajar. Yang diamati meliputi kegiatan siswa dan kegiatan
guru. Hal-hal yang dicermati disesuaikan dengan pedoman
observasi yang telah ditentukan.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan yang ditemui dalam kegiatan siklus I. Refleksi ini
diketahui setelah hasil observasi dan hasil belajar
siswadianalisis. Kelebihan dan kekurangan dari hasil refleksi
dijadikan acuan untuk perencanaan siklus II.
26
2. Siklus II
a. Perencanaan
Kegiatan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
1). Guru menentukan materi pokokyang akan diajarkan yaitu
mendengarkan cerita legenda “Dumadine Pulo
Nusakambangan”.
2). Merancang pembuatan RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran).
3). Merancang kegiatan pembelajaran metode kerja sama
kelompok.
4). Membentuk kelompok.
5). Mempersiapkan alat peraga/media pembelajaran berupa
rekaman cerita legenda.
6). Menyiapkan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran
dengan seksama.
b. Pelaksanaan
1) Kegiatan Awal
Kegiatan awal yang dilakukan peneliti antara lain:
a) Mengkondisikan siswa agar memiliki kesiapan fisik dan
mental untuk mengikuti pembelajaran.
b) Guru membentuk kelompok beranggotakan 7 atau 8
siswa dan mempersilahkan siswa untuk duduk sesuai
kelompok masing-masing.
c) Guru dan siswa mengadakan apersepsi melalui tanya
jawab sehubungan dengan materi yang akan dipelajari.
d) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan cara belajar
untuk dapat mencapai keberhasilan yang telah
ditentukan.
e) Membagikan lembar soal tugas kelompok.
f) Guru memotivasi siswa agar semangat untuk belajar.
27
2) Kegiatan Inti
Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam tahap ini adalah:
a) Guru mengingatkan anggota kelompok beranggotakan 7
atau 8 siswa agar fokus pada pembelajaran.
b) Menyajikan materi pembelajaran melalui penjelasan
secara singkat tentang pengertian cerita legenda.
c) Guru memperdengarkan rekaman cerita legenda
“Dumadine Pulo Nusakambangan”.
d) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengerjakan tugas dengan cara diskusi secara
kelompok.
e) Guru mempersilakan setiap kelompok untuk maju
membacakan hasil pekerjaannya, kelompok lain
menanggapi.
f) Guru menguatkan pendapat siswa.
3) Kegiatan Akhir
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
a) Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah
dipelajari.
b) Guru dan siswa merefleksi manfaat pembelajaran yang
telah dilaksanakan.
c) Guru dan siswa menutup pembelajaran dengan tertib.
c. Pengamatan (Observing)
Pada tahap ini peneliti bekerja sama dengan teman sejawat
untuk berkolaborasi mengadakan pengamatan. Tugas teman
sejawat adalah melakukan observasi aktivitas belajar mengajar.
Yang diamati meliputi kegiatan siswa dan kegiatan guru. Hal-hal
yang dicermati disesuaikan dengan pedoman observasi yang
telah ditentukan.
Obsevasi atau pengamatan dilakukan oleh tiga orang
observer terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh
peneliti. Observasi ini menggunakan pedoman observasi
28
(lampiran 4). Ketiga observer itu adalah Adi Pujono, S.Pd., dan
Mukhlisin, S.Pd.
d. Refleksi
Refleksi dilakukan bersama kedua observer dan dilakukan
setelah proses pembelajaran siklus pertama berakhir. Hasil
refleksi adalah ditemukannya masalah yang menjadi
penghambat peningkatan pemahaman siswa terhadap
mendengarkan cerita melalui kerja sama kelompok. Hasil
refleksi siklus I digunakan sebagai dasar pengambilan
langkah perbaikkan untuk memperbaiki pembelajaran pada
siklus II
Pada akhir pembelajaran siklus kedua peneliti melakukan
analisis data dengan urutan kegiatan sebagai berikut. Pertama,
mereduksi data, kedua, mengorganisasi data, dan ketiga,
menarik kesimpulan, (Wardani, 2002: 2.18). Mereduksi data
adalah kegiatan membuang data yang tidak relevan dan
mencatat data yang dapat digunakan untuk membuktikan
hipotesis. Mengorganisasi data artinya mendeskripsikan data
secara naratif sesuai dengan urutan kegiatan pembelajaran.
Menarik kesimpulan adalah kegiatan mengolah data secara
kuantitatif dan untuk menarik kesimpulan.
Peneliti menganalisis semua tindakan pada siklus I dan
siklus II. Hasil analisa tersebut ternyata siswa mengalami
peningkatan hasil belajar. Kemudian peneliti melakukan refleksi
terhadap strategi yang dilakukan dalam tindakan kelas. Melalui
strategi yang diterapkan dalam tindakan kelas berhasil
meningkatkan hasil belajar.
29
BAB IV
DESKRIPSI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
Pembelajaran Bahasa Jawa yang ada di SMP Negeri 2 Sampang
Kabupaten Cilacap selama ini menggunakan metode ceramah. Hasil
pembelajaran menggunakan metode ceramah ini ternyata kurang
maksimal. Hal ini terbukti dari hasil pengerjaan tugas yang relatif
rendah baik secara individu maupun secara klasikal. Ketuntasan
65% dengan nilai rata-rata 60,44 dari KKM 75.
Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran juga masih
rendah. Masih ditemukan banyak siswa yang pasif dalam proses
pembelajaran. Hanya siswa tertentu saja yang aktif merespon
proses pembelajaran. Hal ini tentunya memprihatinkan sekali.
Keadaan itulah yang menggugah peneliti untuk mengadakan
Penelitian Tindakan Kelas ini. Peneliti merasa tergugah untuk dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil pembelajaran.
Setiap siklus dilaksanakan 2 x pertemuan dengan perincian
setiap pertemuan 2 jam pelajaran atau 2 x 40 menit.
B. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus Pertama
Dari kondisi awal yang seperti diuraiakn di atas peneliti
mengadakan perbaikkan prose pembelajaran. Pelaksanaan
perbaikan dilakukan pada metode pembelajaran. Pembelajaran
yang semula menggunakan metode ceramah diganti dengan metode
kerja sama kelompok. Metode kerja sama kelompok diterapkan
pada pembelajaran mendengarkan cerita legenda pada siswa SMP
30
Negeri 2 Sampang Kabupaten Cilacap kelas VIIIA semester 1 tahun
pelajaran 2017/2018.
Siklus pertama dilaksanakan dua kali pertemuan yaitu pada
hari Sabtu, tanggal 1 dan 8 Agustus 2017, jam keenam dan ketujuh,
dengan alokasi waktu 2 x 40 menit. Dalam setiap siklus terdiri dari
tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam
pelaksanaannya peneliti melibatkan teman sejawat sebagai
observer. Observer dalam pembelajaran ini adalah guru-guru SMP
Negeri 2 Sampang Kabupaten Cilacap yaitu Adi Pujono, S.Pd.,
Khusnul Khotimah, S.Pd., dan Mukhlisin, S.Pd. Pelaksanaan
pembelajaran ini berpedoman pada RPP siklus pertama (lampiran
4) yang telah disusun dalam fase perencanaan.
Hasil belajar dari kondisi awal rata-rata sebesar 60 dan
ketuntasan klasikal sebesar 65%, pada pelaksanaan siklus I
diperoleh peningkatan rata-rata menjadi sebesar 67 dari ketuntasan
klasikal menjadi 73,33 %. Peningkatan ini terjadi karena penerapan
metode kerja sama kelompok. Penerapan metode ini membuat
siswa menjadi lebih aktif. Namun hasil ini masih belum memuaskan
dari yang diharapkan. KKM sebesar 75 masih belum bisa tercapai.
Masih ada kelompok yang belum mencapai KKM.
C. Deskripsi Refleksi Siklus Pertama
1. Komponen yang Perlu Diperbaiki
Refleksi dilakukan bersama-sama dengan kedua observer
dengan tujuan untuk menemukan kegiatan-kegiatan yang perlu
diperbaiki serta menetapkan solusinya. Hasil refleksi terhadap
kegiatan pembelajaran pada siklus pertama diperoleh dua
komponen pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakter
kerja sama kelompok dan perlu diperbaiki adalah sebagai
berikut.
31
Pertama, dalam pembelajaran siswa mendengarkan cerita
yang dibacakan peneliti. Dalam pembacaan cerita peneliti
membaca dengan intonasi dan tekanan yang selalu berubah.
Karena kemampuan peneliti dalam membacakan semakin
berkurang ketika pembacaan yang kedua kalinya, apalagi
pembacaan yang ketiga kalinya. Perubahan intonasi dan tekanan
dalam pembacaan cerita akan mengakibatkan terjadinya
perubahan makna kalimat. Ini akan mengakibatkan kesalahan
dalam menafsirkan makna kalimat.
Kedua, tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa
diberikan setelah pembacaan cerita selesai. Ini mengakibatkan
siswa kehilangan arah. Siswa tidak dapat memastikan bagian
mana dari cerita yang didengarnya yang harus diperhatikan dan
dapat digunakan untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
2. Solusi yang Digunakan
Masalah pertama yang harus dicarikan solusinya adalah
dalam pembelajaran siswa mendengarkan cerita yang dibacakan
oleh peneliti. Dalam proses pembacaan cerita peneliti membaca
dengan intonasi dan tekanan yang selalu berubah. Karena
kemampuan peneliti dalam pembacaan yang kedua kalinya
semakin berkurang, apalagi pembacaan yang ketiga kalinya.
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan
digunakannya tape recorder untuk memperdengarkan cerita
sampai tiga kali. Dengan menggunakan tape recorder untuk
memperdengarkan cerita, maka intonasi dan tekanan dalam
pembacaan tidak berubah. Sehingga siswa tidak akan melakukan
kesalahan dalam menafsirkan makna kalimat-kalimat yang
didengarnya.
Masalah kedua yang harus dicarikan solusinya adalah tugas-
tugas yang harus dikerjakan oleh siswa diberikan setelah
pembacaan cerita selesai. Ini mengakibatkan siswa kehilangan
arah. Siswa tidak dapat memastikan bagian mana dari cerita
32
yang didengarnya yang harus diperhatikan dan dapat digunakan
untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah
dibagikannya lembar tugas yang harus dikerjakan oleh siswa
sebelum pembacaan cerita dimulai. Dengan cara ini, maka siswa
mendapatkan bahkan diberikan kesempatan yang seluas-luasnya
untuk membaca dan memahami dengan sebaik-baiknya tugas-
tugas tersebut, agar siswa dapat menentukan dengan pasti
bagian-bagian mana yang perlu diperhatikan dan dapat
digunakan untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
3. Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
proses pembelajaran mendengarkan cerita pada siklus pertama
dilakukan perbaikan-perbaikan sebagai berikut. Pertama,
digunakan taperecorder untuk memperdengarkan cerita, agar
intonasi dan tekanan dalam pembacaan tidak berubah. Sehingga
siswa tidak akan melakukan kesalahan dalam menafsirkan
makna kalimat-kalimat yang didengarnya.
Kedua, dibagikannya lembar tugas yang harus dikerjakan
oleh siswa sebelum pembacaan cerita dimulai. Dengan cara ini,
maka siswa mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya
untuk memahami dengan sebaik-baiknya tugas-tugas tersebut.
Dengan cara ini, siswa dapat menentukan dengan pasti bagian-
bagian mana yang perlu diperhatikan dan dapat digunakan
untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Kesimpulan tersebut akan
direalisasikan dalam RPP siklus kedua.
D. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus Kedua
Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran mendengarkan
cerita dengan menerapkan kerja sama kelompok pada siswa SMP
Negeri 2 Sampang Kabupaten Cilacap kelas VIII A. Siklus kedua
dilaksanakan pada tanggal 22 dan 29 Agustus 2017 jam pelajaran
keenam dan ketujuh. Observer dalam pembelajaran ini tetap guru-
33
guru SMP Negeri 2 Sampang Kabupaten Cilacap yaitu Adi Pujono,
S.Pd., dan Mukhlisin, S.Pd. Pelaksanaan pembelajaran ini
berpedoman pada RPP siklus kedua (lihat lampiran 5) yang telah
disusun dalam fase perencanaan. Pada siklus kedua pun
dilaksanakan empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi.
1. Kegiatan Penduhuluan
Dalam kegiatan pendahuluan peneliti berkata, “Para siswa
ing dinten menika panjenengan badhe nyinaoni kompetensi
dasar ingkang sami kaliyan minggu wingi, inggih menika
mirengaken cariyos kanthi cara kerja sama kelompok. Ibu
ngambali pasinaon menika, amargi Ibu taksih dereng marem
kaliyan hasil pasinaonipun para siswa ingkang sampun
panjenengan leksanakaken minggu kepengker”.
“Pramila menika, kasuwun panjenengan langkung serius lan
tliti malih anggenipun nggarap tugas-tugas ingkang sampun ibu
paringaken. Tugas-tugas badhe Ibu paringaken dhateng saben
kelompok saderengipun piwucal dipunwiwiti. Kanthi mekaten,
panjenengan saged mahami kanthi sasae-saenipun tugas-tugas
kalawau. Kejawi menika panjenengan saged netepaken
perangan-perangan pundi ingkang kedah panjenengan
gatosaken kangge nggarap tugas-tugas kasebat”.
“Wonten ing pasinaon menika, panjenengan kedah saged
kerja sama rembagan kaliyan kanca kangge nggarap tugas-
tugas kasebat. Wondene mumpangatipun panjenengan nyinaoni
bab menika inggih menika supados panjenengan minangka
warga Cilacap lan warga dunya saged mirengaken pinten-pinten
informasi kanthi sae. Kanthi menika.mila panjenengan saged
dados tiyang ingkang kritis, saged paring tanggapan utawi
pamanggih dhateng sawijining informasi ingkang panjenengan
tampi. Bab menika ageng sanget mumpangatipun tumrap
panjenengan kangge ngadhepi gesang ing alam bebrayan
34
supados panjenengan saged dados warga bangsa Indonesia
ingkang inggil martabatipun salaras kaliyan Pancasila.”
Kemudian peneliti memberikan penjelasan ulang tentang
tokoh, alur, latar, dan konflik dalam sebuah cerita secara
singkat untuk meningkatkan pemahaman siswa. Lalu peneliti
bertanya, “Panjenengan paham?” “Paham,” seluruh siswa
menjawab dengan serentak. “Menawi panjenengan sampun
paham, samenika panjenengan ngempal manut kelompokipun
piyambak-piyambak.” Para siswa dengan serempak berkumpul
dalam kelompoknya dan segera mengatur tempat duduk
masing-masing. Dalam waktu singkat kelas telah berubah
menjadi lima kelompok.
2. Kegiatan Inti
Kegiatan inti dimulai dengan dibagikannya lembar tugas
siswa kepada setiap kelompok. Setelah itu setiap kelompok
dipersilakan membaca dan memahami dengan sebaik-baiknya
tugas-tugas tersebut dengan cara bekerja sama dan bertukar
pikiran. Pada setiap kelompok terlihat seorang siswa
membacakan tugas-tugas itu secara berbisik-bisik dan siswa
yang lainnya mendengarkan dengan tenang dan teliti.
Beberapa menit kemudian peneliti mengunjungi setiap
kelompok untuk melihat-lihat dari dekat kegiatan yang
dilakukan oleh setiap kelompok. Setelah diketahui bahwa
setiap kelompok memahami unsur cerita yang harus
diperhatikan, selanjutnya peneliti berkata, “Para siswa
samenika panjenengan pirengaken kanthi sae lan cermat cariyos
ingkang Ibu setel menika. Ibu boten badhe maosaken cariyos,
nanging Ibu ngginakaken taperecorder kangge mirengaken
cariyos menika ngantos kaping tiga. Nah, panjenengan sampun
siap?”
Siswa menjawab dengan serempak, “Siap!” Kemudian
peneliti memperdengarkan cerita melalui taperecorder.
35
Seluruh siswa terlihat berkonsentrasi dan mendengarkan
dengan teliti. Setelah cerita diperdengarkan sampai tiga kali.
Peneliti mempersilakan setiap kelompok untuk bekerja sama
mengerjakan tugas-tugasnya.
Setelah beberapa menit berlalu, peneliti mengunjungi setiap
kelompok untuk memberikan motivasi belajar, memberikan
penjelasan seperlunya agar setiap siswa memahami setiap
nomor tugasnya, dan sekaligus mengecek hasil kerja sama
setiap kelompok. Selama kegiatan ini seluruh siswa bekerja
sama dalam kelompoknya masing-masing.
Setelah enam puluh menit berlangsung peneliti
mengunjungi lagi setiap kelompok untuk melihat hasil kerja
sama setiap kelompok dan ternyata setiap kelompok telah
dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik.
a. Laporan Hasil Kerja Sama Kelompok Satu
Peneliti berkata, “Para siswa, panjenengan sampun
ngrampungaken tugas. Samenika saben kelompok maosaken
hasil kerja samanipun lajeng dipuntanggapi lan dipunbiji
kelompok sanes. Saderengipun panjenengan maosaken hasil
kasuwun hasil kerja sama dipunkempalaken Ibu rumiyin. Bab
menika dipunmaksud supados panjenengan boten nglengkapi
hasil kerja sama kala wau. Sarujuk, para siswa?”
Seluruh siswa menjawab serempak, “Sarujuk...” Salah
seorang dari setiap anggota kelompok menyerahkan lembar
kerja kepada peneliti. Selanjutnya peneliti berkata, “Ibu
nyuwun bantuan siswa kakung ingkang ageng supados
nyiapaken kursi pitu kangge lenggah kelompok ingkang
badhe maosaken hasilipun”. Lima orang siswa yang ditunjuk
segera menyiapkan kursi.
Selanjutnya, peneliti berkata, “Sumangga kelompok
setunggal majeng maosaken hasil kerja samanipun.
Kelompok sanesipun kedah nyatet wangsulan kelompok
36
setunggal. Salajengipun mangga panjenengan pitaken utawi
nanggapi dhateng wangsulan kelompok setunggal.
Salajengipun, panjenengan maringi biji dhateng kelompok
setunggal kasebat. Ibu badhe nyathet ing papan tulis hasil
penilaian panjenengan sedaya. Paham, para siswa?”
“Paham, Bu...,” jawabnya serempak.
“Inggih, matur nuwun. Tepuk tangan para siswa
kanggge kelompok setunggal!” Seluruh siswa bertepuk
tangan dengan serempak. Kemudian peneliti mengucapkan
terima kasih dan mempersilakan kelompok satu untuk
membacakan hasil kerja samanya.
Ketujuh siswa anggota kelompok satu ke depan kelas.
Setelah mereka duduk di kursi yang telah disiapkan lalu
peneliti berkata, “Kelompok setunggal sumangga
kawaosaken hasil kerja samanipun.”
Seorang siswa perempuan berdiri lalu berkata, “Kula,
Andrianingsih badhe maosaken hasil kerja sama kelompok
kula. Ananging saderengipun, badhe kula kenalaken anggota
kelompok setunggal. Sisih kiwa Adi, Adistya, Aisyah, Arif,
Wahyu, lan Asri.
Salajengipun mangga Adi supados maosaken wangsulan
nomer setunggal. Adi berdiri lalu membacakannya, sebagai
berikut, “Paraga wonten ing cariyos ingkang
dipunpirengaken inggih menika Prabu Aji Pamasa watakipun
adigang adigung adiguna, Resi Kano watakipun sekti lan
andhap asor ugi nriman, Punggawa kraton watakipun
wantun lan tanggung jawab, Naga raksasa nesu menawi
dipunganggu, Dewi Wisawati watakipun bebudenipun sae,
ngertos matur nuwun dhateng tiyang ingkang nate
mitulungi.
37
Kemudian Andrianingsih berkata, “Arif kasuwun
maosaken wangsulan nomer kalih.” Arif berdiri lalu
membacakan jawabannya, “Alur utawi rangkaian prastawa
wonten ing cariyos kala wau inggih menika Prabu Aji Pamasa
kuwatos prabawanipun mandhap amargi wonten resi
ingkang sekti mandraguna lajeng kepengin nyingkiraken resi
wau namipun Resi Kano. Resi Kano mireng menawi
piyambakipun badhe dipunsingkiraken, pramila
piyambakipun sumingkir langkung rumiyin. Resi Kano
mlampah ngilen miyos pesisir kidul pulo Jawi. Nalika dumugi
ing wewengkon Cilacap piyambakipun kendel wonten ing
sawijining pulo karang ing tangahing samodra. Resi Kano
lajeng tapa lan semedi supados uwal saking inceraning Sang
Prabu. Nalika semanten Sang Prabu anggenipun ngupadi
Resi Kano ugi dumugi papan pandhelikanipun Resi Kano.
Sang Prabu mlebet ing papan menika lajeng mriksani wonten
Resi Kano ingkang saweg tapa kala wau. Resi Kano
dipunpejahi. Raga sang Resi ical lajeng wonten naga raksasa.
Naga dipunpejahi ical lajeng wonten wanita ayu asma Dewi
Wisawati. Dewi Wisawati ngaturaken panuwun dhateng sang
Prabu kanthi ngaturi cankok kembang Wijayakusuma lan
maringi tenger papan menika kanthi nama Nusakembangan.
Emanipun kembang Wijayakusuma ingkang sampun
dipuntampi sang Prabu kecer ing tengahing samodra. Sang
Prabu ngungun sanget boten saged ngasta kondur kembang
Wijayakusuma dhateng Kedhiri.”
Andrianingsih berkata, “Aisyah sumangga kawaosaken
wangsulan nomer tiga”. Aisyah berdiri lalu membacakannya
sebagai berikut. “Setting utawi panggenan kedadosanipun
cariyos inggih menika wonten ing kraton Kediri, ing
panggenanipun resi Kano, lan wonten ing pulo karang
sakidulipun Cilacap.”
38