Mengulik Nilai Didaktis pada Kumpulan Cerpen Modul Pelajaran Bahasa Indonesia Ghefira Nur Fatimah SMA/MA Kelas XI Sumber: www. canva.com
ii MENGULIK NILAI DIDAKTIS PADA KUMPULAN CERPEN Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia Untuk Jenjang SMA/MA Kelas XI Ghefira Nur Fatimah Bandung, 2023
Mengulik Nilai Didaktis pada Kumpulan Cerpen Oleh Ghefira Nur Fatimah Cetakan Pertama, Juli 2023 Hak Cipta © 2023 pada penulis Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014. isi buku ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penulis. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh Penyusun : Ghefira Nur Fatimah Desain Sampul : Ghefira Nur Fatimah Tata Letak : Ghefira Nur Fatimah Ukuran Modul: 21 x 29.7 CM Jumlah Halaman: 86 halaman iii
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah Swt., yang telah memberikan kesehatan, kemudahan, dan kekuatan dalam menyelesaikan penulisan modul berjudul “Mengulik Nilai Didaktis pada Kumpulan Cerpen”. Penyusunan Modul Pembelajaran ini melibatkan berbagai pihak penting, yaitu Dr. H. Ma’mur Saadie, M.Pd., dan Dr. Ida Widia, M.Pd. yang telah memberikan bimbingan, kritik, saran serta menilai kelayakan Modul Pembelajaran ini. Penerbitan modul ini diharapkan dapat dijadikan salah satu alternatif bahan ajar oleh pembaca, pengajar, dan peserta didik kelas XI selama proses apresiasi sastra. Modul Pembelajaran ini mengajak pembaca, peserta didik, dan pengajar untuk lebih dalam memahami unsur pembangun dan nilai didaktis yang tersemat dalam teks cerpen. Penulis menyusun Modul Pembelajaran ini berdasarkan hasil penelitian skripsi berjudul “ Nilai Didaktis pada Kumpulan Cerpen Rumah Ibu Karya Harris Effendi Thahar serta Relevansinya Sebagai Bahan Ajar Teks Cerpen ”. Penulis berharap Modul Pembelajaran ini dapat membantu pembaca khususnya kelas XI SMA dalam memahami pembelajaran pada KD 3.8 dan 3.9. Penulis berharap peserta didik kelas XI dapat merasa lebih mudah dan praktis untuk menjalankan kegiatan pembelajaran secara mandiri. Selain itu, Modul Pembelajaran ini dapat digunakan oleh Pengajar untuk merancang dan mengevaluasi proses pembelajaran ke arah yang lebih baik. Penulis menyadari bahwa Modul Pembelajaran ini belum sempurna, oleh dari itu penulis mengharapkan kritik, saran, dan rekomendasi dari berbagai pihak untuk kesempurnaan Modul Pembelajaran ini. Bandung, April 2023 Penyusun KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv DAFTAR ISI ........................................................................................................... v IDENTITAS MODUL .......................................................................................... vi TUJUAN PEMBELAJARAN.............................................................................. vii PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ......................................................... viii HALUAN KATA.................................................................................................... x PEMBELAJARAN I : MENGANALISIS UNSUR PEMBANGUN CERPEN................................................................................................................. 1 A. Materi Pokok dan Apersepsi.................................................................... 3 B. Uraian Materi .............................................................................................. 7 C. Latihan Soal I ............................................................................................. 42 D. Tes Formatif I ............................................................................................ 45 PEMBELAJARAN II : MENGANALISIS NILAI DIDAKTIS CERPEN............................................................................................................... 55 A. Materi Pokok dan Apersepsi................................................................... 57 B. Uraian Materi.............................................................................................. 60 C. Latihan Soal II............................................................................................. 73 D. Tes Formatif II............................................................................................. 75 GLOSARIUM....................................................................................................... xii DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... xiii BIOGRAFI PENULIS ....................................................................................... xv
IDENTITAS MODUL Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas : XI Alokasi Waktu : 4 x 45 menit (2 pertemuan) Judul Modul : Mengulik Nilai Didaktis pada Kumpulan Cerpen Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) 1. Kompetensi Inti (KI) KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. KI 2 : Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerja sama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif sebagai bagiandari solusi atasberbagai permasalahan dalamberinteraksi secara efektifdengan lingkungan sosialdan alam sertadalam menempatkan dirisebagai cerminan bangsadalam pergaulan dunia. KI 3 : Memahami, menerapkan,menganalisis pengetahuan faktual,konseptual, metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni,budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,serta menerapkan pengetahuanprosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. KI 4 : Mengolah, menalar,dan menyaji dalamranah konkret danranah abstrak terkait denganpengembangan dari yangdipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 2. Kompetensi Dasar (KD) KD 3.8 Mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam buku kumpulan cerpen yang dibaca. KD 3.9 Menganalisis unsur-unsur pembangun cerita pendek dalam buku kumpulan cerpen. vi
TUJUAN PEMBELAJARAN Dengan mempelajari materi tentang teks cerpen melalui Modul Pembelajaran ini, diharapkan peserta didik mampu: Menganalisis unsur instrinsik pembangun cerpen dan kebahasaan cerpen secara cermat, tepat dan teliti. Menganalisis dan memahami nilai didaktis melalui pembelajaran kumpulan cerpen rumah ibu karya Harris Effendi Thahar dengan teliti, cermat, dan tepat sehingga peserta didik mampu mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. vii Sumber: www. canva.com
Petunjuk Penggunaan Modul Modul Pembelajaran adalah salah satu bahan ajar yang dapat digunakan secara mandiri dengan atau tanpa pengajar. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika pembaca menggunakan modul ini agar kegiatan belajar mandiri dapat dipahami. Berikut penjelasan penggunaannya. 1. Modul digunakan sebagai alternatif bahan ajar mandiri dalam memahami struktur teks cerpen dan menginterpretasikan nilai didaktis yang tersemat di dalam cerpen. 2. Pastikan pembaca sudah memahami target kompetensi yang ingin dicapai. 3. Mulailah dengan membaca dan mempelajari seluruh materi yang tersedia secara runtut dan saksama! 4. Kerjakan soal latihan dan tes formatif secara tepat sebagai alat ukur kemampuan dan pemahaman materi. 5. Tulislah setiap jawaban yang diyakini benar pada kolom yang telah disediakan. viii
6. Jika telah selesai melengkapi seluruh latihan soal, cobalah buka kunci jawaban yang terletak di akhir Modul Pembelajaran ini dan hitunglah skor yang kalian raih dengan rumus berikut. Nilai = 7. Kemudian, lakukan penilaian diri dengan jujur menjawab lima pertanyaan mengenai pemahaman materi yang telah dipelajari. akan pemahaman materi yang dipelajari. Jika terdapat materi ataupun latihan soal yang kurang dimengerti, pembaca dapat bertanya pada pengajar maupun berdiskusi dengan rekan sejawat. 8. Lakukan seluruh rangkaian kegiatan secara semangat dan bersungguh-sungguh agar Modul Pembelajaran dapat bermakna dan lebih berdampak bagi pembaca. Skor yang diperoleh Skor maksimal 100% ix
Sumber: tokopedia.com sumber: opac.perpusnas.go.id Haluan Kata Kalian tentu sudah akrab dengan kata cerpen bukan? Kalian pasti pernah membaca sebuah cerita pendek karena cerpen sangat mudah ditemukan. Cerpen tersedia dalam media cetak seperti majalah dan buku pelajaran khususnya, Bahasa Indonesia. Tetapi, dengan perkembangan zaman tentunya cerpen dapat dijumpai secara daring seperti halnya di Ipusnas. Cerpen banyak digemari oleh pembaca karena ceritanya yang sederhana dan dapat dibaca dalam sekali duduk. Cerpen memiliki daya tarik tersendiri bagi pembaca. Karena kemenarikan inilah, pengarang tidak jarang membuat karya kumpulan cerpen. Cerpen yang memiliki beberapa kisah dan tokoh yang berbeda dinamakan kumpulan cerpen. Apakah kalian pernah memiliki kemiripan kisah dalam cerpen yang dibaca? Atau kalian sering mengimplementasikan nilai kehidupan yang disampaikan pengarang dalam cerpen yang dibaca? x
Jika iya, hal itu sangat wajar karena sebagian besar cerpen menampilkan kisah berdasarkan pengalaman hidup dengan bahasa yang sederhana. Selain itu, kehadiran cerpen pasti menyematkan nilai kehidupan baik seperti nilai didaktis yang dapat ditiru oleh pembacanya. Jika tidak, tenang saja kalian tidak perlu khawatir melalui modul ini akan mengulik mengenai hakikat cerpen, unsur-unsur dalam cerpen dan nilai kehidupan berupa nilai didaktis dalam kumpulan cerpen Rumah Ibu karya Harris Effendi Thahar. Kumpulan cerpen berjudul Rumah Ibu menyajikan masalah sederhana yang mungkin memiliki kemiripan kisah dengan kalian karena teringat dengan sosok Ibu ataupun Istri. Kalian akan diajak untuk menyelidiki nilai didaktis yang terdapat dalam kumpulan cerpen tersebut. Nilai didaktis yang telah ditemukan dapat dipraktikkan pada kehidupan sehari-hari. Pembaca perlu mengikuti arahan dan mempelajari dengan baik materi maupun ragam latihan soal yang disajikan dalam Modul Pembelajaran ini agar kegiatan belajar mandiri dapat lebih bermakna. Ingatlah kata pepatah “Punggung parang pun, jika diasah niscaya akan tajam juga” berarti jika mau belajar, pasti akan jadi pandai. xi Sumber: www. canva.com Sumber: www. canva.com
PEMBELAJARAN 1 Menganalisis unsur pembangun cerpen Sumber: www. canva.com
Menganalisis Unsur Pembangun Cerita Pendek Hakikat Cerita Pendek Unsur Instrinsik dan Kebahasaan Cerita Pendek PETA KONSEP 2
A. Materi Pokok dan Apersepsi Materi pokok pada kegiatan pembelajaran I berupa uraian materi, latihan soal, rangkuman, tes formatif, kunci jawaban dan tindak lanjut. Kegiatan pembelajaran I akan membahas mengenai pengertian cerpen dan unsur-unsur Cerpen. Dengan begitu, peserta didik dapat mencapai KD 3.9 dan mencapai tujuan pembelajaran. 3 Sumber: www. canva.com
Apersepsi bagi Peserta Didik Pernahkah kalian membaca sebuah cerita pendek atau cerpen? Cerpen karya siapakah yang pernah dibaca? Tentu saja, istilah cerpen sudah tidak asing lagi bagi kalian karena sering dijumpai baik secara cetak maupun elektronik. Perkembangan zaman dapat membuat pembaca mudah untuk mengakses cerpen. Tentu saja, pembaca dapat menggunakan gawai untuk membaca cerpen secara lebih praktis dan fleksibel tanpa dibatasi oleh ruang maupun waktu. Setelah kalian membaca cerpen, hal dan pengalaman apa saja yang didapatkan? Tentu saja, kalian akan mendapatkan banyak hal-hal yang bermanfaat dan beragam pengalaman baru. Semakin sering kalian membaca cerpen, maka kalian akan memperoleh banyak pengalaman dan manfaat yang bisa diambil dari peristiwa maupun karakter tokoh dalam cerita tersebut. 4
Nah, perlu kalian ketahui, dari sekian banyak karya sastra. Cerita pendek adalah salah satu karya sastra yang menarik dan menyimpan beragam nilai kehidupan. Cerita pendek adalah beragam peristiwa yang diperankan oleh tokoh dengan alur yang sederhana. Tetapi, sampai saat ini belum ada yang bisa menentukan maksimal jumlah halaman dalam cerpen. Agar kalian lebih memahami apa saja yang berkaitan dengan cerpen, kalian perlu memahami unsur pembangun cerpen. Namun, sebelum memahami materi cerpen kita kuis dulu yuk! Yuk Kuis! 5 Sumber: www. canva.com
1.Orang atau pelaku yang berperan dalam cerpen disebut .... 3.Pesan yang ingin disampaikan penulis dalam cerpen disebut .... 4.Karya sastra berupa cerita yang memiliki tokoh dan konflik terbatas disebut .... 5. Bagian atau unsur dalam yang membangun cerpen disebut .... PERTANYAAN KE BAWAH PERTANYAAN KE SAMPING 2. Rumah Ibu adalah salah satu kumpulan cerpen karya .... 6
Cerita pendek memiliki karakteristik pemusatan dan pemfokusan terhadap suatu peristiwa (Nurgiyantoro, 2018, hlm. 13). Cerpen menyajikan permasalahan cerita yang lebih fokus dan tidak bertele-tele. Pemfokusan permasalahan akan membuat pembaca memiliki waktu yang lebih efektif dan efisien dalam membaca cerpen berkisar 1-2 jam. Keefektifan waktu ini dapat membuat pembaca lebih memahami amanat yang tertuang dalam cerpen. Uraian Materi Karya sastra berbentuk fiksi yang sering digemari oleh pembaca berupa novel dan cerpen. Kedua karya prosa ini memiliki perbedaan yang cukup mencolok terlihat pada formalitas bentuk berupa panjang cerita. Cerita pendek memiliki jumlah halaman yang lebih sedikit daripada novel (Nurgiyantoro, 2018, hlm. 12). Di samping perbedaan, kedua karya fiksi ini memiliki persamaan terletak pada unsur pembangun cerita berupa intrinsik dan ekstrinsik. 7 Sumber: www. canva.com
Cerita pendek atau cerpen adalah kisah kehidupan sehari-hari mengenai peristiwa seseorang yang dikemas secara singkat. Hal ini senada dengan pendapat Widiyati (2020, hlm. 100) mengatakan cerpen adalah cerita yang ditulis secara pendek karena memiliki fokus cerita pada tokoh utama yang paling dominan atau yang menjadi pokok cerita. Nyatanya, sampai sekarang belum ada kesepakatan antara pengarang dan ahli mengenai jumlah halaman cerpen (Nurgiyantoro, 2018, hlm. 12). 8 Sumber: www. canva.com
Jenis-jenis Cerpen Menurut Nurgiyantoro (2013, hlm.10) Short Short Story Cerita berkisar 500 kata. Middle Short Story cerita yang panjangnya sedang atau cukup. Long Short Story Cerita yang panjangnya puluh ribuan kata. 9
Untuk kali kesekian Nyonya Rakusni menanyakan tentang kemajuan studi Agus, putra Anisah, di Bandung ketika Anisah menerima beberapa liter beras untuk jasa mencuci pakaian. Anisah yang kelihatan lebih tua dari usianya itu tampak begitu gelisah. "Itulah, Nya, yang saya tidak mengerti. Sudah lama dia tak berkabar." "Perasaan sudah hampir tujuh tahun. Biasanya empat atau lima tahunan harus sudah lulus. Putri saya si Mira saja yang baru tiga tahun sudah mulai skripsi, tuh," tutur Nyonya Rakusni dengan lubang hidung mengembang. Anisah hanya menunduk dan pamit segera. Suaminya yang sakit-sakitan sudah lama menanti kedatangannya membawa beras untuk makan siang yang sudah begitu terlambat. Hatinya gundah. Mendung di pelupuk matanya seperti hendak tumpah. BACALAH CERPEN! 10 Sumber: www. canva.com
Sudah lebih setahun ia tak mampu lagi membeli pulsa untuk ponsel penyambung komunikasi dengan Agus di Bandung. Jangankan untuk beli pulsa, dapat mengirimkan uang bulanan saja untuk Agus ia sudah bersyukur. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan sekolah Gadis yang kini sudah duduk di Tsanawiyah. Tapi, ia juga menyesalkan Agus, mengapa anak tak mengirim surat sekadar mengabarkan bahwa uang kiriman ibunya sudah diterima melalui rekening bank? "Barangkali ia sudah jadi bandit. Tidak usah kau kirimkirim juga uang. Anak apa itu? Durhaka!" Begitu suaminya berkata kalau Anisah mengeluh tentang kekurangan uang untuk dikirim ke Agus. "Janganlah Uda berkata begitu. Ia darah daging kita. Siapa tahu kelak nasibnya baik. Setidaknya, dia bisa hidup mandiri, tidak miskin seperti kita." Sekitar enam tahun lalu kebahagiaan Anisah sekeluarga seperti berada di puncak. Putra sulungnya, Agus Budiman, lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung. Tak seorang pun tamatan SMA di kampung itu yang lulus UMPTN¹¹ waktu itu, kecuali Agus Budiman, putra Anisah, penjual lontong pecel di pinggir pagar sekolahan Tsanawiyah. Ayahnya hanyalah seorang satpam pabrik kecap di dekat pasar kecamatan yang sering kambuh penyakit asmanya. Orang-orang memuji Anisah. Banyak orang kaya di kampung itu ingin membantu, terutama yang punya anak perempuan sejodohan Agus. 11
Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah. Ia perlu banyak uang untuk biaya sekolah putra kebanggaannya itu. Ia tak dapat mengharap banyak pada suaminya yang tiap sebentar harus berobat ke puskesmas. Sudah divonis dokter sebagai penderita asma akut, toh suaminya itu tidak mau berhenti merokok. Berapalah gaji satpam yang sering mangkir seperti dia? Untuk uang jajan sekolah Gadis, adik Agus, saja suaminya tak mampu. "Tak usah kau pikirkan berapa ongkos berangkat si Agus ke Bandung itu. Aku yang tanggung, tanda ikut gembira dan bersyukur. Dia kebanggaan kampung kita. Satu-satunya pemuda kampung ini yang bisa masuk ITB," kata Nyonya Rakusni ketika Minggu itu Anisah mencuci di rumahnya. "Terima kasih, Nyonya. Nanti saya usahakan mengembalikan uang Nyonya." "Ooo, tidak begitu. Itu gratis. Cuma biaya bulanan kau pikirkanlah sendiri. Ya? Ngerti ndak?" "Iya, ya. Terima kasih banyak, Nyonya. Nyonya baik sekali." 12 Sumber: www. canva.com
Kampung yang terletak di dataran tinggi subur itu dilatari oleh sawah-sawah luas yang menghasilkan panen melimpah sepanjang tahun. Namun, sawah peninggalan orangtua Anisah tidaklah seberapa. Itu pun disewakan saja pada petani kacang tiap tahun karena suaminya tak sanggup mengolah sawah. Nyonya Rakusni adalah pemilik sawah terluas di kampung itu. Orang-orang memanggilnya Rangkayo , suatu panggilan kehormatan bagi orang yang dermawan. Meski sebenarnya ia bukanlah dermawan dalam arti sesungguhnya, melainkan seorang rentenir. Sudah tiga orang putrinya menikah, semuanya dijodohkan dengan pedagang. Tapi, untuk si bontot Mira, ia ingin bermenantukan orang sekolahan, semisal Agus Budiman. Tahun-tahun pun berlalu mengikuti musim. Jejak Agus pun diikuti oleh pemuda-pemuda lulusan SMA di kampung itu, yakni bersekolah di tanah Jawa, terutama di Bandung, meskipun bukan di perguruan tinggi negeri. Pada musim libur, mereka pulang ke kampung membawa cerita-cerita dan angin perubahan dari tanah seberang. Kecuali Agus, ia tak pernah pulang libur karena menghemat ongkos. 13 Sumber: www. canva.com
Dari para mahasiswa pulang kampung itulah Anisah tahu bahwa Agus di Bandung begitu sibuk dan menjadi orang penting. "Susah ketemu dia. Dia itu sibuk. Kadang-kadang diskusi, panitia seminar, latihan drama, baca puisi, bahkan kadang jadi koordinator demo," kata seseorang. "Kadang-kadang ia juga ke luar kota, ke Jogja, Solo, begitu," kata yang lain. "Baru-baru ini ia ikut sarasehan para penyair muda di pedalaman Solo," kata yang lain lagi. "Kabarnya dia dekat dengan penyair Apridjal Malano." Anisah bingung mendengarkan penjelasan anak-anak muda itu. Ia tidak habis pikir, mengapa mahasiswa begitu banyak kegiatannya? "Apa itu penyair? Tukang ramal gunung meletus?" "Bukan, Bu. Itu Mbah Bromo. Penyair itu pujangga yang menulis puisi." "Apa dia dapat gaji?" "Maksud Ibu?" "Ya, kalau dia sibuk apa tadi? Diskusi, seminar, membuat syair-syair? Itu ada imbalan uangnya?" "Tergantung." "Tergantung di mana?" "Maksud saya, pandai-pandai Bang Agus. Kalau dia pandai-pandai, tentu ia dapat uang." 14
15 "Tapi, Ibu selalu kirim dia uang tiap bulan." Anisah seperti berkata pada dirinya sendiri sambil merenungkan betapa capainya ia bekerja mengumpulkan uang sedikitsedikit. Ternyata, Agus harus mencari uang tambahan lagi. Itu berarti uang kirimannya tiap bulan tidak mencukupi biaya kuliah Agus. Ia menyalahkan dirinya. Tiba-tiba ia seakan mendapatkan inspirasi untuk bertanya sesuatu yang lebih penting. "Kapan Agus tamat kuliah dan jadi insinyur?" Anak-anak muda itu berpandangan satu sama lain sambil mengangkat bahu. Salah seorang berinisiatif untuk meredakan kegundahan Anisah. Dengan senyum mengambang ia pun berkata, "Bu, sebaiknya Ibu datang ke Bandung. Kalau Ibu tidak cukup uang beli tiket pesawat, bisa naik bus lintas Sumatra. Cuma dua malam, kok. Jadi, Ibu bisa lihat kesibukannya. Sekalian melepas rindu." "Tapi, saya tidak tahu alamatnya. Saya belum pernah ke Jawa." "Gampang. Nanti kita pergi sama-sama. Dua minggu lagi." Melalui gang gang berliku, Anisah sampai di kamar kosan putranya, Agus Budiman, di bilangan perkampungan padat dekat kampus sebuah perguruan tinggi di Bandung. Ia diantar pagi itu setelah lelah diempas dan dibantingbanting goncangan bus di jalanan buruk lintas Sumatra dua hari dua malam oleh salah seorang mahasiswa yang bersedia memandunya di perjalanan. Kamar Agus terkunci. Tak ada tanda-tanda kehidupan di kamar itu. Dengan pertolongan pemilik rumah kos, Anisah berhasil masuk ke kamar pengap berukuran dua kali tiga meter itu.
Perempuan ringkih itu ingin berbaring, melepas lelah dipukul rindunya yang terpendam. Tetapi, kamar itu mirip gudang yang sudah lama ditinggal pemiliknya. Semuanya berantakan dan penuh debu. Tumpukan buku, kertaskertas coretan, bungkus rokok, koran di segala sudut, kasur lecet yang terlipat, gelas-gelas bekas kopi, sendal butut, dan setumpuk pakaian kotor. Poster-poster terkelupas di dinding yang lembab dirangkai jelaga dan jaring laba-laba yang sesekali bergerak lemah ditiup angin dari lubang udara. Di balik pintu, bergelantungan celana jin robek dan jaket bau keringat petualang. Tanpa sempat mengusik kecentangperenangan itu, Anisah terduduk di samping lipatan kasur tanpa alas, merenungkan wajah putra kebanggaannya itu. Dari doanya yang paling dalam, ia berharap Agus tiba-tiba muncul. Diyakin-yakinkannya hatinya, karena tadi salah seorang mahasiswa tetangga kamar kos Agus berjanji mencoba menghubungi Agus lewat SMS. Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar. "Bu, maaf, Bu. HP Mas Agus agaknya tidak aktif. Saya sudah beberapa kali mengontaknya. Tapi, Ibu jangan khawatir, kadang-kadang larut malam ia muncul tiba-tiba. Kalau Ibu perlu apa-apa, ketuk saja kamar saya di sebelah, mahasiswa baik hati itu berkata. 16 Sumber: www. canva.com
Anisah tertidur dalam posisi meringkuk. la terlalu lelah. setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Ia bermimpi Agus datang. Agus langsung bersimpuh mencium kakinya. Lalu bercerita tentang gadis Sunda cantik calon istrinya. Tapi, wajah Nyonya Rakusni segera muncul dalam mimpinya dengan setumpuk kalimat yang menyengat. "Kalau Agus sudah tamat insinyur dan mau menikah dengan Mira, ongkos perjalananmu ini gratis. Tapi, kalau tidak, cukup kau bayar dengan cicilan. Jangan lupa, bunganya sepuluh persen." Anisah terbangun ketika tiga orang mahasiswa, temanteman sekosan Agus, datang mengetuk pintunya. Senja turun di Bandung dengan suhu menggigilkan Anisah yang mulai merasa tua. Anak-anak kos yang baik itu bermurah hati membersihkan kamar Agus dan membawakan makanan. Mereka menghibur Anisah dengan keramahan orang-orang terpelajar. "Kalau Mas Agus belum datang juga, Ibu jangan khawatir, Anggaplah kami anak-anak Ibu sendiri," kata salah seorang. "Mas Agus itu senior kami di sini, la orang baik. Sekarang ia sudah jadi penyair. Kalau tidak salah, ia pernah bilang mau ke Bali." "Ke Bali? Di mana itu? Apa dia punya ongkos?" 17 Sumber: www. canva.com
"Malah ada yang bilang, Mas Agus diundang ke Rotterdam baca puisi," kata yang lain. "Ibu jangan khawatir, dia punya banyak teman." "Apa jadi penyair itu berarti dia sudah bekerja? Apa dia sudah insinyur?" "Jadi penyair tidak perlu insinyur dulu, Bu. Penyair itu profesi. Ya, pekerjaan juga." "Tolong antarkan ibu ke kantor penyair, mau ya? Ibu perlu ketemu dia. Ibu tidak mungkin lama-lama di sini. Ayahnya Agus sakit-sakitan. Sebentar-sebentar kambuh asmanya." Tiga mahasiswa itu terdiam. Mulai mengerti dan paham. Pada malam yang ketujuh, cukup sudah jantung Anisah dirobek robek rindu. Agus tak kunjung muncul. la ingin segera pulang esok harinya. Malam itu ia ingin menulis surat untuk ditinggalkan agar dibaca Agus kalau ia pulang ke sarangnya. la ingin menulis panjang-panjang, tentang banyak hal termasuk tentang Mira gadis bungsu Nyonya Rakusni yang menunggunya. Tetapi, ia tak sanggup menuliskan semuanya, kecuali, "Ibu rindu kamu sekali, Gus. Sayang kamu entah di mana. Jadilah anak yang saleh, Gus. Doakan ibu dan ayahmu selalu, ya. Sakit ayahmu parah." 18 Sumber: www. canva.com
Perjalanan panjang menempuh medan berat lintas Sumatra diadangnya tanpa persiapan uang makan di jalan. Hanya kasihan oranglah yang membantunya. Anisah hanya banyak minum air di tempat-tempat perhentian yang akhirnya mengantarkan dirinya dengan selamat ke kampungnya, di kaki Gunung Talang. Tetapi, ia tidak menjumpai suaminya di rumah. Ayah Agus dirawat inap di rumah sakit kabupaten sepeninggal Anisah. Hari kesepuluh ayah Agus dirawat di rumah sakit kabupaten, kondisinya terlihat semakin parah. Anisah dan Gadis tampaknya sudah pasrah. Saat itulah surat Agus atang. Isinya pendek saja dan tak sepenuhnya dimengerti oleh Gadis maupun Anisah. "Bacakan surat itu, Dis. Apa kata anak durhaka itu?" ujar ayahnya, tersendat-sendat. Gadis memandang ibunya, seakan minta persetujuan. Anisah mengangguk. Gadis pun membacanya dengan gaya seorang deklamator. "Anakmu bukanlah anakmu, ia hanya busur panah mesti kau lepaskan. Aku sudah lama bukan kanak lagi. Ayahnya terdiam. Anisah bungkam dan air matanya menghujan. Gadis membaca doa dengan hati teriris. Ayah Agus sudah pergi tanpa pesan apa-apa, seperti tidak terjadi apa-apa, setelah jiwanya melesat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. 19 Sumber: www. canva.com Sumber: www. canva.com
Rangkaian peristiwa yang terjadi di cerita secara kausal disebut dengan alur. Kausal berarti kisah yang berasal dari sebab akibat sebuah peristiwa dengan peristiwa lain (Stanton, 2012, hlm. 26). Peristiwa kausal dikatakan sebagai dampak dari munculnya peristiwa lain dan kehadirannya tidak dapat diabaikan karena berpengaruh pada karya. Alur juga dapat dikatakan sebagai tulang punggung dari sebuah cerita yang terdiri dari awal, tengah dan akhir cerita yang jelas, logis, memunculkan kejutan sekaligus meredakan ketegangan (Stanton, 2012, hlm. 28). Selanjutnya, agar memahami cerpen secara lebih konkret, kalian harus mengetahui struktur pembangun cerpen terlebih dahulu. Stanton (2012) membagi unsur-unsur dalam menganalisis cerita pendek sebagai berikut. Alur 20 Sumber: www. canva.com
Tiga tahap alur menurut Nurgiyantoro (2015, hlm. 201-205) AWAL Tahap perkenalan dijadikan muatan informasi penting. TENGAH Penyajian konflik yang semakin meningkat dan menegangkan daripada konflik di tahap awal. AKHIR Akhir cerita maupun kelanjutan cerita terkait nasib tokoh dalam cerpen tersebut. 21
CONTOH ALUR AWAL Bagian awal peristiwa diawali dengan pengenalan tokoh dan suasana hati. Pada bagian ini menampilkan sosok Nyonya Rakusni sebagai majikan dari Anisah. Anisah adalah wanita yang bekerja sebagai tukang cuci dan penjual lontong pecel di Tsanawiyah. Anisah memerlukan banyak uang untuk biaya pendidikan putranya di Bandung, yakni Agus Budiman. Anisah bekerja mencuci pakaian di rumah Nyonya Rakusni. TENGAH Bagian tengah dimulai ketika Konflik mulai muncul ketika rasa kegundahan di hati Anisah mengenai keadaan Agus masih belum mereda. Hingga, salah seorang berinisiatif mengurangi kegundahan hatinya dengan mengajukan pendapat. Ia berpendapat bahwa sebaiknya Anisah berangkat ke Bandung. Akhirnya, dua minggu mendatang mereka pergi bersama-sama. Berikut kutipan untuk memperkuat pernyataan di atas. Berikut kutipan untuk memperkuat pernyataan di atas. AKHIR Bagian akhir peristiwa ketika Anisah masih menunggu kedatangan Agus sampai malam ketujuh. Ia ingin pulang esok hari. Malam itu, ia menyempatkan diri menuliskan surat untuk Agus. Ayah Agus dirawat sekitar sepuluh hari ditemani oleh Anisah dan Gadis. Kondisinya yang semakin parah membuat Anisah dan Gadis pasrah. Tak disangka, Agus mengirimkan surat balasan untuk keluarga Anisah. Tak lama dari itu ayah pergi tanpa pesan apa-apa. 22
23 Menurut Stanton (2012, hlm. 33) karakter merujuk pada dua konteks, konteks pertama berkenaan dengan intensitas kemunculan individu dalam cerita sehingga pembaca dapat menghitung jumlah tokoh. Konteks kedua berkenaan dengan percampuran keinginan, kepentingan, emosi dan prinsip moral dalam diri tokoh sehingga pembaca dapat memahami karakter dari tokoh tersebut. Karakter (Tokoh dan Penokohan) Sumber: www. canva.com
24 Jenis-jenis tokoh cerita karya fiksi menurut Nurgiyantoro (2012, hlm. 176-193) : 1) Berdasarkan pada taraf keutamaannya, terbagi menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan. 2) Berdasarkan pada fungsi tampilan tokoh, terbagi menjadi tokoh protagonis dan tokoh antagonis. 3) Berdasarkan tindak perwatakan, terbagi menjadi tokoh bulat dan tokoh sederhana. 4) Berdasarkan perkembangan watak, terbagi menjadi tokoh berkembang dan tokoh statis. 5) Berdasarkan pencerminan tokoh, terbagi menjadi tokoh sentral dan tokoh tipikal. Sumber: www. canva.com
Contoh penggambaran karakter seorang tokoh Anisah adalah tokoh utama dalam cerpen karena berperan paling dominan dimunculkan oleh pengarang dari awal sampai akhir cerita. Anisah memiliki keterkaitan dengan tokoh lain sehingga dapat mempengaruhi perkembangan alur. Anisah merupakan tokoh protagonis karena mencerminkan nilai moral yang baik seperti pekerja keras dan tanggung jawab membiayai anak-anaknya. Anisah merupakan seorang penjual lontong pecel dan tukang cuci di beberapa rumah. Tokoh Anisah digambarkan secara langsung melalui penampilan tokoh dan penjelasan dari pengarang yang dapat dilihat secara kondisi fisik sudah mulai tua dan ringkih. “Tak seorang pun tamatan SMA di kampung itu yang lulus UMPTN waktu itu, kecuali Agus Budiman, putra Anisah, penjual lontong pecel di pinggir pagar sekolahan Tsanawiyah.” (Thahar, 2020, hlm. 2—3). “Tak ada hari libur bagi Anisah, hari Minggu pun ia bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah.” (Thahar, 2020, hlm. 3). “Perempuan ringkih itu berbaring, melepas lelah dipukul rindunya yang terpendam.” (Thahar, 2020, hlm. 7). 25 Sumber: www. canva.com
Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro 2013) adalah keterangan yang memuat tiga unsur mengenai tempat, waktu dan latar sosial-budaya sebagai berikut. 1. Latar tempat merujuk pada letak suatu peristiwa terjadi di cerita. 2. Latar waktu merujuk pada kapan peristiwa berlangsung dalam cerita dengan jawaban yang konkret seperti tanggal, tahun, dan periode sejarah. 3. Latar yang bersinggungan dengan tingkah laku sosial rakyat yang dikemas dalam sebuah cerita oleh pengarang, seperti status sosial di suatu daerah. LATAR Latar dijadikan sebagai pemuat keterangan atau petunjuk yang memuat tempat, suasana dan waktu sebuah cerita. Abrams dalam (Nurgiyantoro, 2012, hlm. 216) bahwa latar berupa acuan mengenai hubungan waktu, lingkungan sosial dan tempat dalam cerita. 26
27 Latar tempat dalam kutipan tersebut berupa kota Bandung. Agus Budiman adalah putra sulung dari Anisah yang lulus ujian perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung. Tertulis secara eksplisit bahwa Agus Budiman adalah putra sulung dari Anisah. Putra sulung diartikan sebagai anak lakilaki pertama. Secara eksplisit terlihat bahwa Bandung dijadikan tempat Agus Budiman untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri terkemuka. CONTOH LATAR TEMPAT “Putra sulungnya, Agus Budiman, lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung.” (Thahar, 2020, hlm. 2). Sumber: www. canva.com
Kutipan latar waktu berupa setahun pada cerpen “Anak Panah”. Setahun diartikan sebagai satu tahun. Anisah tidak dapat membeli pulsa untuk menelepon Agus yang berada di Bandung lebih dari setahun. Maka, Anisah dan Agus tidak berkomunikasi lebih dari setahun. “Sudah lebih setahun ia tak mampu lagi membeli pulsa untuk ponsel penyambung komunikasi dengan Agus di Bandung.” (Thahar, 2020, hlm. 2). CONTOH LATAR WAKTU CONTOH LATAR SOSIAL Pada kutipan tersebut terlihat bahwa perjodohan adalah sebuah adat istiadat atau kebiasaan yang tumbuh pada masyarakat Minangkabau. “Sudah tiga orang putrinya menikah, semuanya dijodohkan dengan pedagang. Tapi, untuk si bontot Mira, ia ingin bermenantukan orang sekolahan, semisal Agus Budiman.” (Thahar, 2020, hlm. 4). 28 Sumber: www. canva.com
Stanton ( 2012, hlm. 125) mengategorikan tema menjadi tiga, sebagai berikut. Tema Tema adalah ide atau gagasan cerita dalam karya sastra yang bertujuan untuk menyampaikan pikiran pengarang. Tema dapat berwujud fakta dari pengalaman manusia yang dilukiskan melalui cerita. Selain itu, tema dapat menggambarkan salah satu kepribadian tokoh (Stanton, 2012, hlm. 8). Tema Dikotomis Tema ini berisikan tema tradisional yang menggambarkan cerita klasik dan tema nontradisional yang menampilkan cerita yang jarang ditemukan karena akhir cerita tidak sesuai dengan keinginan pembaca/mengcewakan. 29
Tema ini dibagi menjadi dua yakni, tema mayor merupakan tema utama dalam cerita dan tema minor yang dijadikan tema tambahan dalam cerita. Tema berdasarkan tingkat pengalaman jiwa Shipley dalam Nurgiyantoro (2015, hlm, 130-133) membagi tema menjadi lima tingkat berdasarkan pengalaman jiwa yakni, tema fisik, tema egoik, tema divine, tema sosial, dan tema organik. Tema penggolongan tingkat keutamaan CONTOH TEMA DIKOTOMIS Cerpen “Anah Panah” memiliki tema tradisional berupa kekeluargaan. Tema ini memiliki cerita yang klasik atau biasa terjadi di lingkungan masyarakat. Cerita yang disajikan mengenai kehidupan keluarga kecil yang tinggal di sebuah kampung. keluarga ini terdiri dari Ayah dan Ibu bernama Anisah yang dianugerahi dua orang anak bernama Agus dan Gadis. 30
“Sekitar enam tahun lalu kebahagiaan Anisah sekeluarga seperti berada di puncak. Putra sulungnya, Agus Budiman, lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung.” (Thahar, 2020, hlm. 2). “Berapalah gaji satpam yang sering mangkir seperti dia? Untuk uang jajan sekolah Gadis, adik Agus, saja suaminya tak mampu.” (Thahar, 2020, hlm. 3). “Sudah divonis oleh dokter sebagai penderita asma akut, toh suaminya tidak mau berhenti merokok.” (Thahar, 2020, hlm. 3). “Perasaan sudah hampir tujuh tahun. Biasanya empat atau lima tahun harus sudah lulus. Putri saya si Mira saja yang baru tiga tahun sudah mulai menyusun skripsi tuh,” tutur Nyonya Rakusni dengan lubang hidung mengembang. (Thahar, 2020, hlm. 1). “Sudah tiga orang putrinya menikah, semuanya dijodohkan dengan pedagang. Tapi, untuk si bontot Mira, ia ingin bermenantukan orang sekolahan, semisal Agus Budiman.” (Thahar, 2020, hlm. 4). Cerpen “Anah Panah” mengandung tema sosial. Masalah sosial yang ditampilkan dalam cerita ini berupa pendidikan dan penjodohan. Masalah pendidikan terlihat ketika cerpen menyajikan cerita mengenai pendidikan beberapa tokoh seperti Agus, Mira, mahasiswa dan Gadis. Sedangkan, perjodohan antara Agus dan Mira. CONTOH TEMA PENGALAMAN JIWA 31 Sumber: www. canva.com
Tema mayor dalam cerpen “Anak Panah” berupa kekeluargaan sedangkan tema minor berupa tema sosial yang membahas permasalahan pendidikan dan penjodohan. Tema mayor berupa kekeluargaan terlihat dari pokok permasalahan mengenai keluarga Anisah dan suami yang memiliki dua anak yaitu Agus dan Gadis. Pengarang menyoroti keadaan ekonomi keluarga Agus melalui pekerjaan kedua orang tuanya. Ibunya berjualan lontong pecel disertai tukang cuci keliling. Sedangkan, ayahnya sebagai satpam pabrik kecap di dekat pasar kecamatan. Tema minor berupa tema sosial yang membahas mengenai pendidikan dan penjodohan. Perihal pendidikan terlihat dari keberhasilan Agus yang lulus UMPTN di Bandung hingga memperlihatkan kesibukannya sebagai mahasiswa. Masalah penjodohan yang tersorot dalam cerpen ini berupa rencana Nyonya Rakusni dan Anisah yang ingin menjodohkan Agus dengan Mira. CONTOH TEMA KEUTAMAAN 32 Sumber: www. canva.com
Istilah sudut pandang dalam bahasa Inggris disebut point of view atau viewpoint. Menurut Aminudin (2009, hlm. 90) mengatakan bahwa sudut pandang adalah cara pengarang menampilkan tokoh dalam cerita yang dipaparkannya agar lebih mudah dipahami oleh pembaca. Pengarang harus memilih sudut pandang secara berhati-hati agar mendapatkan efek yang pas bagi pembaca (Stanton, 2012, hlm. 53). Karena sudut pandang berperan dalam membantu pengarang untuk menampilkan tokoh, tindakan, latar dan beragam peristiwa cerita pada pembaca. 33 Sudut Pandang Sumber: www. canva.com Sumber: www. canva.com
34 1. Orang pertama-utama, Sudut pandang ini menggunakan kata ganti orang pertama seperti Aku dan Saya sebagai tokoh utamanya. 2.Orang pertama-sampingan, cerita dituturkan oleh satu karakter yang berperan sebagai karakter sampingan sehingga kehadiran karakter ini hanya membantu tokoh utama dan kemunculannya tidak banyak dalam cerita. Stanton (2012, hlm. 53-60), membagi sudut pandang menjadi empat bagian Sumber: www. canva.com Sumber: www. canva.com
3. Orang ketiga-terbatas, pengarang memosisikan semua karakter sebagai orang ketiga, tetapi hanya menggambarkan sesuatu yang dilihat, didengar dan dipikirkan oleh satu karakter saja. 4. Orang ketiga-tidak terbatas, pengarang mengacu pada setiap karakter dan memosisikan sebagai orang ketiga serta dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar dan berpikir ketika tidak ada satu pun karakter yang hadir. 35 Sumber: www. canva.com Sumber: www. canva.com
CONTOH SUDUT PANDANG Sudut pandang dalam cerpen “Anak Panah” adalah orang ketiga-tidak terbatas. Hal ini dibuktikan dengan pengarang yang menceritakan beragam hal terkait dengan tokoh Anisah dan tokoh-tokoh lainnya. Pengarang berada di luar cerita menjadi seorang pengamat. Sehingga, pengarang seakan mengetahui tentang watak, pikiran, dan perasaan semua tokoh dalam cerpen tersebut. Kata ganti orang ketiga berupa “ia” dan “nama tokoh” digunakan sebagai titik berat cerita dalam cerpen. Anisah yang kelihatan lebih tua dari usianya itu tampak begitu gelisah.” (Thahar, 2020, hlm. 1). “Barangkali ia sudah jadi bandit. Tidak usah kau kirim-kirim juga uang. Anak apa itu? Durhaka!” Begitu suaminya berkata kalau Anisah mengeluh tentang kekurangan uang utnuk dikirim ke Agus. (Thahar, 2020, hlm. 2). “Orang-orang memuji Anisah.” (Thahar, 2020, hlm. 3). 36 Sumber: www. canva.com
Gaya Bahasa Gaya adalah cara pengarang dalam menyampaikan cerita melalui kata, diksi dan majas yang bisa dijadikan ciri khas tiap pengarang (Marahimin, 2008, hlm. 58). Meski dua orang pengarang menggunakan alur, karakter, dan latar yang sama, namun hasil dari tulisan mereka akan berbeda karena adanya sebuah gaya bahasa. Hal ini bergantung pada penggunaan bahasa yang dipilih oleh pengarang. Nurgiyantoro (2013, hlm. 400-404) mengklasifikasikan majas dalam gaya sebagai berikut. Majas Perbandingan Majas yang membandingkan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui ciri-ciri persamaan antara keduanya. Majas perbandingan dikelompokkan menjadi tiga, yakni simile, personifikasi, dan metafora. 37
38 Majas Pertentangan Majas yang merujuk pada makna yang berkebalikan dengan makna sebenarnya yang dimaksudkan oleh penutur. Majas hiperbola, litotes, ironi dan sarkasme masuk ke dalam kategori majas pertentangan. Majas Pertautan Majas yang memiliki unsur pertautan, pertalian, penggantian dan hubungan dekat antara makna yang sebenarnya dimaksudkan dengan yang dikatakan secara jelas oleh pembicara. Metonimi dan sinekdoke Sumber: www. canva.com
Pada kutipan tersebut memunculkan majas simile yang membandingkan dua hal secara langsung dengan menggunakan kata mirip. Hal yang dibandingkan adalah kamar yang dibandingkan dengan sebuah gudang yang sudah lama tidak ditempati. CONTOH MAJAS SIMILE “Kamar itu mirip gudang yang sudah lama ditinggal pemiliknya.” (Thahar, 2020, hlm. 7). 39 Sumber: www. canva.com