i
ELEGI
HITAM PUTIH PUISI
UPIK HANDAYANI
Kasih,
Janjimu beku menutup abad lalu
Bunga yang telah lama kering
Adalah kesetiaanku
ii
PRAKATA
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat
Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik serta hidayah-Nya
sehingga dapat menyelesaikan buku ini. Semoga sholawat serta
salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.
Buku ini mengupas tuntas kedalaman kisah kasih seorang
gadis yang berliku-liku tanpa kepastian. Pengalaman cintanya
dituangkan dalam bahasa kias yang indah. Ia terjerat cinta yang
berbalut persahabatan. Sebenarnya mereka saling memendam
rasa. Mereka sama-sama suka. Tetapi keduanya tidak ada yang
berani mengutarakannya.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua
pihak yang telah membantu selama proses penulisan hingga
terwujudnya buku ini. Semoga kebaikannya tercatat sebagai
amal ibadah oleh Allah SWT.
Tiada gading yang tak retak. Inilah peribahasa klasik
yang mesti penulis akui. Penulis menyadari selama proses
penyusunan buku ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis
butuhkan demi kesempurnaan buku ini.
Mohon maaf atas segala khilaf. Mudah-mudahan buku ini
berkenan dan bermanfaat bagi kita. Aamiin.
Penulis
iii
Kupersembahkan untuk
Suami tercinta, Margiono
Ananda Dipta Mahatiyanto dan Syifa Nurani
Ananda Sunu Widyahestu dan Risma Dwi Cahyani
Cucunda Safaluna Adiva Foresia
Cucunda Khatira Nuri Hasna
Penyejuk jiwa, penebar cahaya cinta
Perekat keluarga, penyempurna bahagia
Damaiku berlabuh bersama mereka
Hitam Putih Puisi ini sebagai cermin bahtera hidup
Semoga bisa kita arungi bersama dalam lindungan dan
rengkuhan kasih-Nya
Aamiin, aamiin, aamiin, ya Robbal’alamiin
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................... i
PRAKATA ................................................................... ii
PERSEMBAHAN ........................................................ iv
DAFTAR ISI ............................................................... v
Sepotong Asa ................................................................ 1
Gundah Melanda ........................................................... 3
Renungan Subuh .......................................................... 5
Cinta Mendera .............................................................. 9
Lamunan Malam ........................................................... 10
Ujung Senja .................................................................. 12
Sepi Menggigil ............................................................. 14
Sajak Sahabat ................................................................ 16
Kapan Lagi ................................................................... 19
Adakah Ceria ................................................................ 20
Tirai Kelabu .................................................................. 22
Segala Rasa ................................................................... 23
Rindu Memburu ........................................................ 24
Bisikan Kelu ................................................................. 26
Di Sini Aku ................................................................... 28
Bisu Membiru ............................................................... 30
Lena Menanya .............................................................. 32
v
Lekat Mendekat ............................................................ 34
Senja Hampa ................................................................. 36
Sambut Hari .................................................................. 38
Dendang Malam ........................................................... 40
Ladang Gelisah ............................................................ 42
Bila Esok ...................................................................... 43
Doa Malam .................................................................. 45
Jejak Kupijak ............................................................... 46
Pucuk Rindu ................................................................ 47
Manik Derita ................................................................ 48
Ada Tiada ..................................................................... 50
Tepi Ilusi ....................................................................... 51
Cerita Cinta .................................................................. 52
PROFIL PENULIS ....................................................... 54
vi
SEPOTONG ASA
Dalam keraguan seonggok jelaga
Dan kekalutan segumpal jiwa
Masih tersisa sepotong asa
Terbuai di bibir-bibir jendela kaca
Terukir di jalan-jalan masa
Terlukis di muara-muara buana
Siapakah aku sesungguhnya
Hanya seuntai rona kabut terurai di hari-hari kalut
Terburai di jemari butut terbias di pucuk-pucuk sabut
Masih adakah hari esuk
Berjuta harapan tak terkenang
Berlaksa dambaan tak tertuang
Temaram dalam ketidakpastian
Tenggelam dalam gelap malam
Menunggu di lembayung senja
Menggapai di relung asa
Mengenang di palung derita
Menepi di puncak asmara
Hadir lagi malam-malam senyap
Kuras asa di hamparan tandusnya rasa
1
Merayap mengusap jiwa raga
Menyapa angan-angan merana
Mungkinkah gema itu semakin sayup
Telusuri relung hati yang pekat berkabut
Terawang awan yang riuh bergelut
Menembus batas cakrawala terobos cahaya fana
2
GUNDAH MELANDA
Di sini tempatnya
Rindu yang kutunggu ungu malah membiru
Menghantam pekatnya hitam
Meleleh mengalir derasnya asa
Di sini tentunya
Ragu menghulu jadi pilu menusuk kalbu
Mereguk luka lebar menganga
Merentang panjang tantang cobaan
Di sini pastinya
Kembara meraja terlena kian tampar dahaga
Menjerat peluh nestapa umbar derasnya angkara
Di sini adanya
Panah asmara yang kusangka jingga
Nyata memudar angan tambah resah dalam buaian
Mengubah rindu jadi semu bianglala
Di sini letaknya
Mendung redup nyata terang diantara gerlap
Riuh di antara sapa senyap
Gemuruh sepi dalam nyanyi sunyi
3
Senandungkan nada minor nan parau
Di sini anehnya
Kini terkuak hilang semuanya
Entah ke mana
4
RENUNGAN SUBUH
Musafir menemukan mata air di gurun pasir
Saat ketahui kabarmu
Mata dan telinga setengah tak percaya
Sekian lama dalam keterkatungan dan keraguan
Sekian lama angan kembara mencari tambatan hati
Mencari air suci cinta sejati
Harapan mulai kusut malah asa berlarut-larut
Perasaan makin kalut
Awan hitam mulai berkabut
Guntur ikut menyambut
Gemuruh kian carut marut
Belaian bayu malah melembut
Pucuk-pucuk ilalang mulai menguncup
Kering kehilangan butir embun menyusup
Kandas di dasar sendunya rindu menggelayut
Belum kumengerti dengan jelas
Apa yang menyebabkanku demikian berharap
Akan segenap keadaanmu
Setiap kali tak jumpa hati sangat cemas
Jika tak datang sepi itu menggeluti kesendirian
Ingin mengadu bahwa ia telah mencuri hatiku
5
Ia telah menyita seluruh perhatianku
Ia telah menyimpan seluruh rinduku
Andai dapat kutangkap
Akan kubelenggu kuat-kuat
Kurengkuh dengan tangan dan hatiku erat-erat
Suatu saat keinginanku tuk menjumpaimu
Tak mampu kubendung
Hingga lahirlah surat yang hampir hilang
Aku tahu bahwa kau tak lagi di sana
Namun hatiku tak mau tahu itu semua
Yang kutahu entah kapan kita pasti bersua
Satu bulan, satu tahun atau entah berapa lama
Yang jelas saat ini aku kehilangan teman
Sahabat saudara bahkan lebih
Aku bersalah besar telah menyalahartikan persahabatan kita
Aku tak mau menipu suara hati nurani
Apalagi membunuhnya
Sering kuperhatikan sepasang burung di dahan
Tampaknya sangat bahagia
Tak takut dahan itu patah atau datang manusia memisahkannya
Mengapa aku yang manusia
Tak dapat mewujudkan kebahagiaan itu sendiri
6
Tak bisa mendapatkan cinta sejati
Tak mampu menggapai impian hakiki
Salahkah jika aku iri
Lama kegelisahan beralun menyelimuti sanubari
Perasaan yang bukan-bukan meracuni tembang kehidupan
Angan melayang membayangi setiap langkah
Air parit memanjang berkelak-kelok di antara pematang
Semakin panjang dan menghilang jauh ke samudera
Tanganku tak mampu menjangkaunya
Waktu demi waktu beringsut suram
Masa demi masa berjurang curam
Saat demi saat bergeser seram
Kuajak berjalan sejajar
Langkahku jadi kepanjangan mendahuluinya
Kugapai bayang yang tak kuharap
Kurengkuh jiwa yang kian menjauh
Semakin kunanti
Semua tampak kabur menghambur
Hilang ditelan kurun waktu kecemasan
Kegelisahanku mulai nyata
Kegalauanku makin mendera
Manakala dua purnama tak pernah kuterima berita
7
Bawa kabar di mana kini kau ada
Impian menjemputmu tak kan pantas kutuntaskan
Harapan menjumpaimu tak mungkin kusingkiri lagi
Kau hadir di atas lembaran kertas putih
Kau hadir tepat di saat aku mencoba melupakanmu
Aku tak mau tersiksa harapan yang hanya sia-sia
Maafkan aku yang telah berprasangka buruk terhadapmu
Desir angin malam membangunkan lamunan
Desaunya mendengus menyusup lubang dinding kamar
Desirnya menyuguhkan aroma deburan harapan
Di kejauhan seberang desa sayup-sayup terdengar suara azan
Sejak sore tulisan ini kubuat
Sampai subuh ternyata belum juga aku bisa mengakhirinya
Di hatiku masih banyak rasa yang ingin kutumpahkan
Di kalbuku cukup membuncah dahaga kerinduan
Di batinku makin berkecambah melimpah ruah
Tubuhku penat dan kantuk sudah mendekap
Akupun tak mampu mengungkapkan lewat bahasa tulis terus
8
CINTA MENDERA
Cinta tak perlu harta cinta tak perlu harga
Cinta tak perlu tahta cinta tak perlu murka
Cinta tak perlu dusta cinta tak perlu pahala
Cinta tak perlu permata
Cinta bukan tuk berdua cinta bukan tuk berdusta
Cinta bukan tuk bersabda cinta bukan tuk bertahta
Cinta bukan tuk memiliki cinta bukan tuk dipungkiri
Cinta bukan tuk disingkiri cinta bukan tuk dikhianati
Cinta hanya memberi cinta hanya mengabdi
Cinta hanya berbakti cinta hanya berkarya
Cinta hanya bekerja cinta hanya perlu dimengerti
Cinta kembali ke asal mula dari tiada kembali ke ada
Dari ada kembali ke tiada semua kembali ke cinta
Cinta pernah berjuang lalu dipatahkan
Pernah berharap malah dikecewakan
9
LAMUNAN MALAM
Mentari mulai meniti peraduan
Temaram menghiasi cakrawala
Senja hadir membawa kesyahduan
Langit kekuningan ciptakan keindahan
Ombak nyanyikan asmara
Cemara lambaikan kenangan
Pasir putih sisakan cerita
Malam kian merangkul kelamnya
Purnama mengintip sepi di tepi hati
Mega putih tak tampak lagi
Langit jernih tak lagi unjuk diri
Senyummu masih bisa kunikmati
Memantul lewat kabut yang begitu dingin
Mampu mengupas separuh duka
Mampu mengulas sisa luka
Mampu membuka seluruh bilik jantungku
Selamat malam dinding kamar
Selamat malam jendela kamar
Selamat malam pintu kamar
Selamat malam lukisan
10
Selamat malam ukiran
Selamat malam hiasan
Biarkan aku berdiri di sini
Di ujung sepi
Di pucuk sunyi
Di daun kering
Di dahan senyap
Di ranting kelam
Di puncak cemas
Di pangkal alpa
Di pangkuan Yang Kuasa
Besuk kubawakan setangkai benang
Berhiaskan sajak bermahkota marjan
Agar kausimpan rapat-rapat
Kaudekap erat buat kenangan
11
UJUNG SENJA
Ujung senja ini hati terpaut resah
Asa yang kugantung sia-sia
Di mata nyala keranjang jala
Di antara biduk pengharapan
Di sela-sela asa membara
Di ambang bimbang
Di pucuk keraguan
Kau tiba di setiap dahaga
Kau hadir di setiap damba
Kau datang di setiap jelma
Kau bawa sejuta tanya
Adakah setia itu di dadamu
Bahagiaku terganggu
Kutunggu di segenap harap
Kunanti di sela sisa hayat
Kupateri di setiap detak nadi
Sikapmu melambungkan duka untukku
Khianat cinta yang menyatu di dadamu
Membuatku luruhkan seluruh peluh
Aku terpekur di sudut derita dusta
Lelapku dengan harapan hampa
12
Setiap langkah hadirkan duka lara
Sutera yang telah tertata ikat mesra
Terlepas hempas gundah gulana
Jangan hadirkan benci untukku
Di balik perpisahan ini
13
SEPI MENGGIGIL
Kau pandangi dengan senyum lesu
Kau jelajahi hatiku hingga ujung sembilu
Mengetuk hati seolah hidup selintas puisi
Getar dadamu isyaratkan sesuatu
Matamu cekung telah bercerita banyak
Walau mulut tak menyuarakan sepatah kata pun
Rasanya kita akrab sekali
Kiranya kita saudara abadi
Meski kau tolak keberadaanku
Mentari memeluk diri
Angin berkelisik penuh misteri
Hujan mengairi alir nadi
Sekeping hati mengembara dalam dera
Terseok-seok mengadu alpa
Tertatih-tatih mengetuk jendela
Mesti tiada henti uji dalam coba
Senjapun gemetar dalam bisunya
Menengadah pelan dalam doa
Mencekam jari-jari kesedihan yang dalam
Mencengkeram jeruji uji yang kian tak pasti
Membungkam sepi menggigil dalam peti mati
14
Meski kau bukan yang dulu lagi
Bak kuntum sari yang telah berbagi
Sepi itu hati yang jenuh
Sepi itu hati yang keruh
Sepi itu hati yang penuh
Sepi itu hati yang keluh
Sepi itu hati yang luruh
Sepi itu hati yang lusuh
Sepi itu hati yang garuh
Sepi itu hati yang gemuruh
Sepi itu kekacauan
Sepi itu kosong
Sepi itu bohong
Sepi itu melompong
Sepi itu anak kolong
Kini sepi menggigil sendiri
15
SAJAK SAHABAT
Sobat
Ingin kurengkuh malam ini
Sembunyikan badai mimpi malam tadi
Sejenak pengusir sunyi menyertai
Sekejap mengendap derai membuai
Menghalau duka mendera merajalela
Kesendirian selalu menghiba
Kesenduan kian meronta
Kuusir tepian fana
Kutepiskan selimut kabut
Tak jua mau kutempuh
Tak jua mau kusentuh
Malam ini
Kesendirian kian tebal bergayut
Kesenyapan makin kuat berkutat
Coba raih bayangmu gapai geliatmu
Coba tangkap anganku tuk bersatu
Angin malah menjauh membuang sauh
Ingin kulampaui tapi tak berarti
Ah!
16
Mentari tak lagi simpati
Kaupun makin menghilang
Bayangmu kian melayang
Wajahmu kian menerawang
Kuayun langkah dalam derap penuh harap
Jalan yang kutelusuri penuh duri
Kutemui seonggok damba
Kujumpai sepotong asa
Kian rapuh makin trenyuh
Sia-sia segala impian hampa
Kasih tak lagi mau mengerti
Risih yang tinggal kini
Resah merayapi relung hati
Koyak semua helai kehidupan
Seluruh butir peluh telah tertumpah
Selaksa upaya telah tercurah
Meski telah kering air mata ini
Tiada embun dini menyirami
Sesaat terpana aku dalam khayal
Terkapar aku dalam lautan sesal
Menembus lorong-lorong pengap
Melintasi aral-aral gelap
17
Mengunyah gundah menggeluti badai
Menelan pahit getirnya derita
Tiada secuil pun cerita tergores
Tak sebutir pasir pun ceria tersisa
Hanya segumpal gundah mengental
Membuncah tercipta di sana
Mungkinkah kebekuan ini mencair
Kepastian senantiasa dalam ketidakstabilan
Jiwa ini telah musnah
Tiada lagi tiang penyangga
Pudar sudah asa yang telah kurajut
Sia-sialah renda harapanku
Sobat,
Tak terkira pedih perih yang kaucipta
18
KAPAN LAGI
Detak hati resah selalu berubah
Manakala ada rasa cinta secercah
Ketika ada ceria membuncah coba tatap hasrat
Seakan dunia telah melesat menjauh menempuh ujung
Kemarau panjang gersang makin kerontang
Meranggas sudah meranting
Kauhantar berlaksa lara kauumbar berjuta aksara
Menembus dada jendela
Kapan terang labuhkan bintang
Kapan bulan lancarkan cerlang
Kapan suka labuhkan cita kapan lagi membentang cinta
Kapan lagi membahana bau surga
Kapan lagi derita sirna kapan lagi bahagia tiba
Dunia mana arahmu jalan mana kelokmu
Ingin memandangmu melaluimu penuh onak duri
Kudapat hanya hamparan sunyi
19
ADAKAH CERIA
Kucari dalam belantara duka
Kunanti dalam biduk samudra
Secercah ceria cinta
Seteguk bahagia cinta
Hilang tertelan belukar asmara
Tiada kutemui
Hanya sepi yang menemani
Hanya sunyi yang kutelusuri
Adakah jawaban di tengah perjalanan ini
Kan kucari sampai entah kapan nanti
Kutanya langit biru
Kusapa sang bayu
Ceriaku di mana ya
Semua pilu
Semua bisu
Semua beku
Segalanya sendu
Segalanya mendayu
Tetap melangkah bersama asa
Tegar berjalan bersama arah
20
Tersendat gundah
Terhalang aral
Tertutup buih
Terbelenggu dungu
Terkurung sembilu
Terbenam kenangan
Tertegun embun
Tertembus busur uzur
Tertelan bumi bertutur
Kapankah kutemui satria
Berbusur asmara ke arahku
Sajak asmara kan kusenandungkan
Pantun cinta kan terucapkan
Sambutlah dia dalam angan
Nyanyikan saja dalam nada kembara
Mendoakannya dalam tulusnya sajadah
21
TIRAI KELABU
Kala surya beradu bertirai awan kelabu
Cakrawala berubah sayu pancarkan cahaya sendu
Tangis menyayat pilu mendayu-dayu
Seiring sukmaku sejalan dukaku
Sejenak terlena bayangan masa lalu
Menggores hati menoreh luka
Menyayat pedih menghujam jantung
Seribu duka menyatu sejuta tanya beradu
Dalam diri dan jiwa karena cinta semu
Semilir bayu mendayu membangunkan lamunan
Mengusir sukma menyisir sirna
Perginya tirai kelabu berlalu bertalu-talu
Malam pun semakin sendu kalbu pun kian meragu
Tirai kelabu berbau abu-abu
Menebar pesona sembunyikan lara
Mengumbar suka cita menutup katup duka
Menyebar bahagia diantara debur derita
22
SEGALA RASA
Gelisah malam resah mendesah
Mimpi menggusar angan terlepas di wajahmu
Lari menerjang menerpa alpa memberesi mentari siang tadi
Segala kurasa semua kutahu
Binar matamu manis senyummu
Indah candamu lugu lagakmu
Tegar langkahmu bening pribadimu
Bak embun penawar rindu
Kaurasakankah benih cinta bermekaran
Rasa suka bersemayam asmara dara berhamburan
Tawa kita berkejaran menangkap bahagia kan menjelang
Akankah kugenggam kenyataan bahagia bakal di tangan
Haus dahaga akan terbayarkan
Wallohu a’lam
23
RINDU MEMBURU
Selaras bulan suci berangkai kata tercipta
Sekadar penghibur duka penghindar nestapa
Salahkah merinduimu menatap indah matamu
Menggenggam jemarimu kuat erat
Tak ingin menipu rasa itu apalagi membuangnya
Kubuka buku pandu usang dan berdebu tentu
Terbias lukisan kesan dan pesan
Sekejap jiwa terpana sedetik mata terpejam
Mimpi yang telah lama mati membayang kembali
Kau kembangkan senyum mengetuk hati
Menguak misteri menerjang pandang
Seolah hidup seindah pelangi
Mata sayumu bercerita banyak tapi tak sepatahpun kata terucap
Rasanya kita akrab sekali walau kau tolak persembahanku
Kau biarkan kau diamkan kau tinggalkan
Kau campakkan kau terlantarkan sekeping ketertegunan
Rindu memburu menyeru debu
Benarkah telah kering kasih sayang di jantungmu
Betulkah telah koyak ikatan cinta di dadamu
24
Sirna ditepis angin mentari meredup
Diterpa fana dunia
Bahwa aku sekadar teman
Sembunyikan tangis tukar tawa asal dia bahagia
Kuburlah dalam-dalam jadikan kenangan
Maafkan segala kesalahan
Doa dan air mata tanda perpisahan
Kutiti jalan sendiri kendati tertatih-tatih
Kutata hari esok meski terseok-seok
Hidup mesti harus terus berlanjut
Rinduku terkubur seumur-umur
Memburu sauh berlabuh
Mengejar kau yang makin menjauh
Menangkap bayangmu yang terjatuh
25
BISIKAN KELU
Ya Allah
Haruskah kuhujam jantungku
Mestikah kutikam niatku
Hidup jenuh penuh gerutu
Suram penuhi sudut sembilu
Muram kian merambah kalbu
Tak mampu kulewati kecewa tak dapat kugeluti curiga
Tak bisa kususuri cahaya tak mungkin kutelusuri cinta
Sesalku atas perjalanan ini
Kuteteskan embun bening desahku di pangkuan-Mu
Ya Allah
Mengapa tak pernah Kau bisikkan
Hidup ini curam hidup ini kejam hidup ini masam
Hidup ini jurang hidup ini terjal hidup ini badai
Hidup ini luka hidup ini kecewa hidup ini tembang kenangan
Hidup ini tidaklah kekal
Andai kutahu dari dulu
Kuakan terus berdampingan dengan-Mu
Kumau selalu di sisi-Mu kuingin bersama-Mu selalu
Kuharap terlelap di pembaringan-Mu
26
Bosan menikmati dunia tak mampu kugapai damai
Tembuslah pekatnya mendung tembuslah awan
Kuingin bermain bersama-Mu
Ya Allah
Ampuni dosa-dosa ini
Basuhi daki-daki ini tutupi aib-aib ini
Lindungi jiwa lemah ini
Jangan biarkan tipu daya setan menghantui
Jangan biarkan derai air mata menghujani
Jangan biarkan belati tipis ini
Melukai nadi malam nanti
27
DI SINI AKU
Di sini di hatiku
Ada tanya untukmu
Sungguhkah pengakuanmu
Ikhlaskah cintamu untukku
Bagaimana orang tuamu
Di bibir manis madu terukir
Dalam pikir nyinyir tersindir
Ibumu jelas mau aku tersingkir
Renungkan lagi kata hati itu
Bukannya aku menghindar
Kau kukagumi itu kuakui
Kau tidak kucintai itu kuyakini
Berpuluh peluh pernah tertempa
Beratus kata pernah terluka
Berjuta tanya berkelebat
Berlaksa bimbang bertahta
Di sini di hatiku
Kembara kembali menghampiri
Kendala terus saja menghantui
Kini kepastian telah kugenggam
28
Di sini di hatiku
Tiada lagi percaya bermuara
Tak ada lagi suka berjumpa
Tak akan ada lagi bersama
Tak kan lagi ada cinta
29
BISU MEMBIRU
Semua bisu beku kelu membelenggu
Semua senyap sunyi sepi sendiri
Cericit tikus tiada terdengar lagi
Dengung nyamuk tak bising lagi
Detak jam dinding yang tak henti berpacu waktu
Berlari kencang meninggalkan lara yang kian meraja
Nyanyi mandiri menguntai nada
Tembang kehidupan yang makin sarat
Derita duka senantiasa ada
Setia menguntit setiap langkah
Temani dalam kelam temaram senja
Biar gerimis riwis basahi diri
Biar bibir nyinyir cibir takdir ini
Biar belukar duka kusisir sendiri
Tiriskan cinta yang tak akan nyala
Tuntaskan asa yang tak mungkin jadi bara
Pintu ampun senantiasa terbuka
Jendela maaf selalu menganga
Tak kuasa aku menutupnya kembali
Tak perlu membanting daunnya
30
Gundah mendekap resah merayap
Pilu mengendap rindu mengharap
Manakala kutahu kabarmu
Sengaja kuhadir di kotamu
Lepaskan penat penantian
Pupuskan getar kerinduan
Keringkan nanah luka kelamaan
Luruskan niat maaf ketulusan
Tak henti kusingkiri gelimang mamang
Agar semua nyata nilai maknanya
Redupnya mentari tak mampu kutangkap
Keringnya harapan tak mungkin kugenggam
Di sudut kamar ini
Tersisa bayangmu tersenyum penuh arti
Tak mampu kumenghapusnya
Tak jengah kudapat menjangkaunya
Tak mudah kubisa mengulitinya
Tak akan kudapat mendekapnya
Tak jelas ku mungkin bisa memeluknya
31
LENA MENANYA
Gelisah penantian terlalu lama
Bara jumpa semakin menghasrat
Terlanjur jatuh peluh mengeruh
Gairah musnah penuh nanah
Walau sekejap jua hadirnya
Bumi berpaling tanpa arah
Indah bayangmu berpayung lembayung
Lari menjauh membuang sauh
Menyiksa asa pesat melesat
Arungi gundah rona memerah
Diam kugenggam dingin menggigil lirih
Lena menanya sapa mengulum embun
Mentari menari sinari mimpi dini tadi
Cericit murai sadarkan syukuri nikmat
Hidup harus tetap terus berlanjut
Meski semalam terjaga menampar nanar
Ah
Carut marut tersangkut di dahan albasia
Kalut menuntut berlanjutnya awal cerita
Andai saja tak ada keluh kesah di sana
32
Mungkin ranting albasia tak kan menghiba
Tak kan menebar daun ke mana-mana
Lena terbias dari batas yang tak berbatas
Lena terjerembab dari lembah yang tak berlurah
Lena terdampar dari pasir yang tak berkerikil
Lena berjuang dari pagi hingga petang
Lena mengendap merayap mengupas uap
33
LEKAT MENDEKAT
Sekejap lekat bayangmu melintas
Lekat inginku memburu
Lekat anganku mendayu
Lekat hasratku menderu
Lekat batinku mengharu
Lekat jiwaku merayu
Merangkulnya dalam gelimang sendu
Lekat mendekat bayangmu merapat
Kasih berbagi tautan gairah
Ragu berbias pautan tawa
Terpaku dalam buaian fana
Terpagut dalam untaian nada
Lelahku berselimut hijau lumut
Melumuri memori yang tak pernah terpateri
Mendekapnya dalam kelisik gelisah
Mendekat lekat bayangmu mengurai
Cinta berbaur tawar air putih
Getir membutir di bulir-bulir padi
Gerimis melapis tipis iris mata
Bibir berbaris nyinyir sambut untaian mutiara
Bayu menggerutu sayu urungkan laknat
34
Bimbangku mengambang di antara kembang kenanga
Mengulumnya dalam beribu debu
Uh
Lelahku terjerembab patah
Lekatku mendekat sangat pekat
35
SENJA HAMPA
Angin menggeser mentari ke tepi barat
Mendorongnya hingga capai kuning cakrawala
Sepasang elang terbang mengemban awan
Menggores langit mengambang petang
Menoreh luka pedih mencekam ruam
Akupun ingin menangis di celah dadamu
Betapa miris rindu ini
Nyiur melambai ucapkan salam
Ombak berkejaran sampaikan nyanyian
Buih mendesis untaikan kerinduan
Pasir berkilau isyaratkan temaram
Kodok mengorek tanda hampir malam
Akupun ingin memeluk lebar bahumu
Betapa menyayat rindu ini
Sapuan bayu terjaga hampa
Hembusan nafas sesak tertahan
Sinar bulan tersenyum sinis
Kidung asmaradana terdengar lirih
Ratapan jiwapun makin tragis
Alur hidup ini amat mengiris
Akupun tak sanggup mendendangkannya
36
Betapa membenam rindu ini
Lintang kemukus mulai muncul
Pertanda tanam telah dimulai
Malam kelam tanpa bintang
Menghadang aral kian membentang
Menggantang asap di pusaran masa
Menendang tembang yang kian pasrah
Akupun tak henti meniti titian-Mu
Betapa berat rindu ini
37
SAMBUT HARI
Pagi berseri di bibir jendela
Menempel embun dini di kaki dan rambut
Murai bernyanyi singkirkan duka
Kokok ayam jantan bercanda di buritan
Sinar surya menerobos di antara dedaunan
Akankah kutemui bahagia sejati
Berangkat niat sambut hari depan
Mengemban amanat songsong cita-cita
Susuri setiap kelok belukar jalanan
Kuliti setiap sudut semak rantauan
Nikmati setiap suguhan cobaan
Yakinlah tetap terjaga tonggak keniscayaan
Mentari menari di ubun rumput
Membakar kelakar tempatku berteduh
Menakar segenap penat tersembunyi
Menatap misteri yang bakal kulalui
Tinggalkan segala kemungkinan
Ubah lelah jadi jamuan pertemuan
Jadikan kenangan sepanjang arah
38
Keringat mengucur
Semangat meluncur
Cita-cita terjulur
Putus asa terkubur
Kecemasan kabur
Esok pun tak jadi hancur
39
DENDANG MALAM
Terpekur di sudut sepi
Terbujur di ujung sunyi
Terbungkus halusnya halusinasi
Menyentuh sendu saat ini
Menanti hari cepat berganti
Menjauhkan mimpi yang tiada arti
Meski tetap sendiri berdiri
Masihkah kaudengar dengung bergaung
Masihkah kaudendangkan nada mengawang
Inginkah kautukar lembar cinta dengan sutera
Mampukah kauiris pelipis hingga tipis
Adakah kaurasa desir nadi yang kian mengalir
Meski kau tak selalu punya nyali
Hitam merah ungu kelabu berbaur galau
Putih jingga hijau biru menabur kelu
Kilasan kuning menyapa di udara
Perlahan tapi pasti
Satu dua tiga sampai seribu riuh bergemuruh
Mengantar bumi ke senja yang makin lelah
Menghampiri mentari yang kian tua
Menelusuri jejak kehidupan yang kian renta
40
Mengitari deretan tata surya yang makin dingin
Dendang malam nanti tak lagi cemas
Senandung malam nanti tak lagi resah
Tembang malam nanti terus berdentang
Semoga!
41
LADANG GELISAH
Duka demi duka mewarnai hari-hari
Usia makin berkurang senja mulai menjelang
Menambah garang kegelisahan
Derita dan lara berkobar berkecamuk di pojok belukar
Remuk hancurkan harapan
Menambal bilik jantung yang hampir tertukar
Kecapi kecil kupetik lirih di lentik jemari
Syair yang kucipta terasa gersang
Hampa tanpa sapamu hambar tanpa tawamu
Di antara ladang kegetiran ini
Aku terus merajut langkah mengupas resah
Meski penuh onak dan duri
Agar lebih lapang jalan esok hari
Aamiin
42
BILA ESOK
Bila musim hujan kali ini
Kita tak bisa menampung air mata lagi
Menyimpannya untuk lain hari
Menumpahkannya tuk ditelusuri
Tapi jika fajar esok berseri kutangkap sendi-sendi nadimu
Kuperangkap kuat dalam genggamku
Bila musim kemarau kali ini
Kita tak bisa mengikat janji suci
Mengungkapnya lewat mentari pagi
Mengukirnya bersama sendra tari
Tapi jika fajar esok menguak kupateri nyala cintamu
Kuikat kuat-kuat kupeluk erat-erat
Agar tak lagi ada yang menyaingi
Bila musim bunga kali ini
Kita tak bisa melangkah bersama
Mengejar kupu-kupu mencumbu bunga
Tapi jika fajar esok bergerak bungaku mengarak kelopak
Kutuang cawan madu manisnya
Kupetik sekumtum senyum buatmu
Pertanda semi berseri bahagiaku
43
Bila musim buah kali ini
Kita tak bisa bicara dari hati ke hati
Sebab beda nasib yang kita miliki
Melangkah angkuh bawahi cerita
Tapi jika fajar esok mengembang kutetap berdoa
Agar tetap mengingat-Nya
Bila musim tanam kali ini
Kita tak bisa senandungkan suka ceria
Buat obat pengikat singkat alur cerita
Tapi jika fajar esok menjelang kukenang kau lewat syair rindu
Bahwa hatiku terjerat lentik bulu matamu
Bila musim panen kali ini
Kita tak dapat bersendau gurau lagi
Di antara bulir-bulir isi padi
Di atas pematang bersama ani-ani
Tapi jika fajar esok menyingsing
Kulukis wajahmu kutempel di hati
Agar tidak pergi-pergi lagi
44