14. Lingkungan Santa Monica
Merupakan pemekaran dari Lingkungan St. Agus nus, yang secara resmi te rbentuk
pada 5 Januari 2019. Batas utara mulai dari perbatasan Tugu Bandulan dengan
Kelurahan Mulyorejo, terus sampai ke Sidorahayu. Lalu dari Kelurahan Mulyorejo
sampai Jedong dan Sengon.
15. Lingkungan Beato Carlo Acu s
Dibentuk pada 31 Januari 2021, dan merupakan lingkungan kategorial yang terdiri
dari mahasiswa/i rantau yang sering mengiku misa di Paroki Langsep.
BAGAIMANA SEMUANYA BERMULA : KRONOLOGIS BERDIRINYA GEREJA 047
048 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
4 Tuhan
Membimbing Kita
di Tengah Dunia
Dalam perkembangan Paroki Langsep
selanjutnya, betapa kasih dan penyertaan Tuhan
dirasakan begitu nyata. Dia sendiri yang hadir,
menyertai dan memimpin ap langkah.
Tidak hanya diberka dengan penambahan umat,
hidup rohani, dan pelayanan yang semakin
berkualitas, sarana prasarana fisik yang
menunjang kegiatan menggereja juga turut
dilengkapi.
Kita percaya, tangan Tuhan sendiri yang turut
bekerja dalam segalanya.
TUHAN MEMBIMBING KITA DI TENGAH DUNIA 049
MENELISIK RAHASIA KEINDAHAN
GEREJA ST. VINCENTIUS A PAULO
Konsep dasar bahtera. Bangunan gereja St. Vincen us a Paulo yang beralamat di Jalan
Ananas 41 Malang, atau lebih dikenal Gereja Langsep, dibangun dengan konsep dasar
sebuah bahtera. Memang wujud bahteranya lebih merupakan imaginasi. Karena yang
nampak ialah “rumah-rumahan” di atas bahtera itu. Bentuk bahtera akan mudah
dibayangkan jika kita melihat bangunan gereja dari k di depan lahan parkir gereja, Jl.
Ananas 39. Dari k itu, yang akan tampak adalah bagian depan bahtera, dengan salib di
bagian paling depan, dan kamar nakhoda kapal di belakang salib. Bagian ruang nakhoda
itu menembus bagian dalam gedung gereja, tepat pada posisi salib dan tabernakel. Hal ini
mau mengatakan bahwa paroki Langsep itu bagaikan sebuah bahtera yang dinakhodai oleh Yesus yang telah
menyelamatkan kita dengan pengorbanan salib-Nya, dan yang menunjukkan kehadiran-Nya secara nyata dalam
kehadiran Yesus dalam Sakramen Mahakudus di tabernakel. Adanya Sacrarium di bagian luar gedung gereja, persis di
balik tabernakel, hendak mengatakan juga bahwa seluruh persekutuan para kudus hadir bersama Yesus untuk
menyertai bahtera Paroki Langsep dalam perjalanan ziarah di dunia ini dalam masyarakat.
Salib dan dua tangan terentang: Yesus yang merentangkan tangan untuk menerima dan
merangkul. Bentuk pan imam yang menjulang nggi dengan 'dua lengannya' di kiri dan
kanan dirancang untuk menggambarkan Tuhan Yesus yang berdiri tegak dengan
merentangkan tangan, menerima kedatangan siapa pun yang memasuki Gereja Langsep
dan merangkul mereka ke ka berdoa dan beribadat di dalam gereja. Yesus Kristus siap
menjadi perantara doa-doa kita kepada Allah Bapa dan melimpahkan berkat rahmat Allah
kepada kita.
(Perha kan gambar imajina f tentang ini yang akan membantu imajinasi kita.)
050 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Plafon yang membubung nggi. Jika kita masuk ke dalam gedung gereja,
maka tampak bagian pan imam menjulang nggi. Desain ini seolah
membantu semua umat yang hadir beribadat untuk membawa doa dan
permohonan mereka ke hadirat Allah di tahta-Nya yang maha nggi. Pan
imam yang nggi menjulang memberikan suges bahwa doa dan ibadat
kita membubung nggi ke hadirat Allah di surga.
Kipas yang terbuka. Bentuk bagian dalam gedung gereja Langsep itu
bagaikan kipas yang terbuka, dengan pusatnya terletak pada salib dan
tabernakel yang mewakili kehadiran Tuhan Yesus sendiri. Banyak orang
menyatakan kekagumannya dan dak menduga bahwa volume ruangan
dalam gedung gereja Langsep sedemikian besar dan luas. Padahal dari
luar nampak kecil, tetapi di dalam terkesan demikian luas, terbuka, dan
amat lega.
Tabernakel. Tabernakel adalah bagaikan Tabut Perjanjian pada Umat Israel, yaitu tempat
bersemayam Sang Maha Kudus. Itulah tempat yang Maha Kudus dari yang kudus. Menurut
peraturan Taurat, hanya imam agung yang boleh naik ke tempat yang Maha Kudus dari yang
kudus. Tabernakel dihias dengan dua malaikat charubim seper halnya Tabut Perjanjian.
Pintu tabernakel dihias dengan ukiran burung pelikan yang mengorbankan dirinya dengan
menumpahkan darahnya agar anak-anaknya yang memakan darahnya bisa tetap hidup.
Burung pelikan ini melambangkan Yesus Kristus, yang mengorbankan diri-Nya dengan
wafat di salib agar seluruh umat manusia hidup. Di atas tabernakel ada patung Roh Kudus.
Ini mengingatkan kita pada Awan Suci yang “menaungi” Kemah Pertemuan, tempat Tabut
Perjanjian disimpan. Roh Kudus inilah yang “menaungi” Bunda Maria sehingga Putra Allah
hadir sebagai manusia dalam rahimnya. Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian yang baru.
Penyangga Tabernakel. Di bawah tabernakel, ada penyangga yang berupa ukiran salib
dengan gandum dan anggur, sebagai lambang ro dan anggur yang menghadirkan Yesus
Kristus dalam perayaan ekaris . Juga ada tulisan IHS (singkatan dari ICHTUS , yang diar kan
Iesus Christus Theos Uis Soter, ar nya Yesus Kristus Putra Allah Penyelamat). Salib itu berdiri
di atas tempat pelita yang bernyala. Pelita itu adalah Gereja Langsep yang bersatu dengan
Salib, yaitu Yesus Kristus dan dihidupi dengan perayaan ekaris (gandum dan anggur). Jadi,
bersama Yesus Sang Nakhoda, yang menyelamatkan kita melalui salib-Nya dan selalu
menghadirkan kekuatan penyelamatan itu melalui perayaan ekaris , Gereja Langsep terus
berziarah menjadi pelita bagi seluruh masyarakat dan bagi Gereja.
Tiga gapura lambang Allah Tritunggal. Pada bagian luar salib, terdapat ga gapura, yang
mengingatkan kita kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh
Kudus. Kepada Allah Tritunggal Maha Kudus itulah kita berdoa dan berharap. Pada tanda salib
yang berada di dalam gapura itu, terdapat Yesus yang tergantung pada salib dalam sengsara dan
wafat-Nya. Keagungan seluruh karya Tritunggal Maha Kudus seolah diwujudkan dalam misteri
salib, yaitu dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus yang nampak dalam Corpus Yesus di
salib.
TUHAN MEMBIMBING KITA DI TENGAH DUNIA 051
Sepuluh jendela di atas pan imam: simbol Sepuluh Perintah Allah. Di sisi kiri dan kanan salib, terdapat sepuluh
ang kaca mah yang melambangkan Sepuluh Perintah Allah, yang adalah salah satu tonggak ajaran iman dalam
Gereja. Melalui sepuluh ang itu terpancar masuk sinar matahari ke dalam gedung gereja, yang menerangi Gereja,
membantu umat beribadat dan memuji Tuhan.
Dua Perayaan Besar Gereja: Natal dan Paska. Jika menghadap ke pan imam, kita akan melihat kaca mah yang
menggambarkan dua peris wa besar dalam Gereja. Tiga ang kaca mah di sebelah kiri menggambarkan peris wa
kelahiran Yesus, Tuhan kita, yaitu Natal, sedangkan di sebelah kanan ada peris wa kebangkitan Tuhan, Paskah. Inilah
dua peris wa besar yang dirayakan Gereja se ap tahun dan mewakili misteri iman kita.
Gambar sebelah kiri, Peris wa Natal, Kelahiran Tuhan. Pada bagian
kiri kita melihat ga ang kaca mah menggambarkan peris wa
kelahiran Yesus, Natal, di Betlehem. Kelahiran Tuhan merupakan
perwujudan konkrit rencana Allah yang hendak menyelamatkan kita
dari dosa dengan mengutus Putra-Nya menjadi manusia.
Simbol-simbol lain seputar Natal. Di atas dan di bawah gambar
utama Peris wa Natal, ada masing-masing ga simbol lain di bagian
atas dan ga simbol di bagian bawah yang terkait dengan peris wa
Natal.
Atas, paling kiri: salib dengan huruf IHS. Bagian ini menunjukkan ja
diri bayi yang dilahirkan oleh Bunda Maria di Betlehem. Dia adalah
Yesus Kristus, Putra Allah, Penyelamat (Dalam bahasa Yunani: Iesus
Christos Theos Uis Soter, disingkat menjadi IHS). Tanda salib
menunjukkan karya penebusan yang dilakukan oleh Putra Allah.
Atas, tengah: salib yang bersinar. Ini menunjukkan karya pelayanan
dari bayi kecil yang dilahirkan itu, yaitu melayani dengan
mengorbankan diri-Nya sampai ma di salib.
Atas, kanan: bintang pembimbing. Inilah bintang yang berada di
atas palungan tempat Yesus dilahirkan. Bintang adalah lambang raja.
Inilah juga bintang yang membimbing ga sarjana yang datang dari
jauh untuk mencari Raja dari para raja yang kelahirannya ditandai
dengan bintang (Mat 2:2. 9).
Bawah, kiri: malaikat dengan terompet. Ini mengingatkan kita pada
para malaikat yang menyanyikan “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha nggi dan damai sejahtera di bumi di
antara manusia yang berkenan kepada-Nya” ke ka Allah Putra dilahirkan sebagai manusia di kandang hina di
Betlehem (Luk 2:13).
Bawah, tengah: Alfa dan Omega. Allah Putra yang dilahirkan nampak sebagai bayi yang lemah dan tak berdaya, tetapi
sebenarnya Dia adalah adalah Awal (Alfa) dan Akhir (Omega) (bdk. Why 1:8; 21:6; 22:13) dari segala sesuatu yang ada.
Segala yang ada diciptakan dalam Dia dan segala sesuatu diarahkan kepada Dia (Ef 1:3-14).
Bawah, kanan: bintang Daud (bintang enam). Bayi yang dilahirkan itu berasal dari keturunan Daud, dan merupakan
pemenuhan janji Allah kepada Daud. Penyelamat akan lahir dari tunas Daud.
052 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Gambar sebelah kanan, Peris wa Kebangkitan Tuhan Yesus,
Paskah. Di sebelah kanan ada ga ang kaca mah yang
menunjukkan gambar Yesus yang bangkit dari kubur. Inilah dasar
iman kita, yang kita rayakan dalam Trihari Suci. Jika Yesus dak
bangkit, maka sia-sialah iman kita, kata Rasul Paulus (1 Kor 15:14).
Simbol-simbol lain seputar Paskah. Di atas dan di bawah gambar
utama Peris wa Paskah, ada masing-masing ga simbol lain di
bagian atas, dan ga simbol di bagian bawah yang terkait dengan
peris wa Kebangkitan.
Atas kiri, burung pelikan yang melukai dirinya untuk memberi
makan kepada anak-anaknya. Burung pelikan dipakai untuk
menyimbolkan Yesus Kristus. Burung tersebut mengorbankan
dirinya, hidupnya, agar anak-anaknya mendapatkan kehidupan.
Setelah memberikan darahnya untuk anak-anaknya, burung
pelikan itu akhirnya ma . Hal inilah yang juga dilakukan dengan
Yesus Kristus. Dia memberikan hidup-Nya, diri-Nya, agar seluruh
umat manusia yang ter ndas dosa dihidupkan kembali.
Atas tengah, salib Kalvari. Salib adalah simbol kemenangan Yesus
Kristus atas dosa dan kema an. Tanda kemenangan inilah yang
menjadi tanda kebanggaan kita, tanda keselamatan.
Atas kanan, Anak Domba Allah. Penyerahan diri dan hidup Yesus
di salib sebagai silih atas dosa-dosa kita mewujudkan penger an tentang Anak Domba Allah yang dikorbankan
sebagai penghapus dosa dunia. Yesus Kristus adalah Anak Domba Allah. Sebutan Anak Domba Allah mengingatkan
kita pada kata-kata St. Yohanes Pembap s yang ditujukan kepada Yesus. Kita ingat juga kata-kata imam sebelum
komuni, “Lihatlah Anak Domba Allah, lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah saudari-saudara yang
diundang ke perjamuan Anak Domba.”
Bawah, kiri: Roh Kudus yang memberikan tujuh karunia Roh Kudus. Setelah Yesus naik ke surga, Yesus Kristus
mengirimkan Roh Kudus kepada murid-murid-Nya. Roh Kudus inilah yang mengaruniakan tujuh karunia Roh Kudus.
Tujuh karunia Roh Kudus menjadi kekuatan Gereja dalam peziarahannya menuju ke rumah Bapa.
Bawah tengah: ro dan anggur simbol Ekaris . Yesus mewariskan parayaan Ekaris untuk menghadirkan kembali
semua karya penyelamatan-Nya. Ekaris menjadi sumber kekuatan bagi Gereja dan wujud konkrit penyertaan Tuhan
atas Gereja. Ekaris juga menjadi sarana untuk menghadirkan kembali sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan.
Bawah kanan: bahtera yang adalah lambang Gereja. Para murid Yesus dibentuk menjadi satu persekutuan dan Yesus
hadir dalam persekutuan itu. Persekutuan itulah yang melanjutkan dan menghadirkan misi Yesus di dunia ini. Salib
yang mewarnai bahtera itu adalah ja diri Gereja. Di atas bahtera terdapat burung merpa dengan daun zaitun, yang
memaknai tugas Gereja adalah mewartakan dan membawa kedamaian.
Bunda Maria dalam keempat kaca mah, dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan. Maria adalah wanita yang dipilih Allah
untuk menjadi sarana penjelmaan Allah Putra ke dunia, sehingga karya penebusan bisa dilaksanakan melalui Yesus
Kristus. Bunda Maria inilah yang mengandung, melahirkan dan membesarkan Yesus, sehingga relasi Maria dengan
Yesus sungguh sangat spesial, ada duanya.
TUHAN MEMBIMBING KITA DI TENGAH DUNIA 053
Di sebelah kiri: Qi ro (seper huruf P dengan palang) adalah nama Yesus dalam bahasa Yunani,
yang berar Kristus. Bunda Maria terkait erat sekali dengan Kristus. Dua lingkaran berar Maria
dan Yesus. Yesus adalah pokok anggur dan Maria, dilambangkan oleh dua bunga, bertumbuh
dari pokok itu. Ada bintang Daud (bintang enam) menunjukkan Bunda Maria sebagai keturunan
Daud.
Salib dengan huruf M dan dua ha : Ha Yesus yang Maha Kudus dan
Ha Maria yang tak bernoda. Simbol ini mengingatkan kita pada
penampakan Bunda Maria kepada St. Katarina Laboure. Bunda Maria
meminta St. Katarina Laboure untuk membuat medali, yang kemudian
diberi nama medali Maria dikandung tanpa noda. Karena banyaknya mukjijat yang terjadi
karena medali ini, maka orang menyebut medali itu sebagai medali wasiat (Miraculous Medal,
medali yang bermukjijat). Pada salah satu wajah medali wasiat itu terdapat lukisan huruf M
dengan salib dan dua ha seper pada kaca mah itu. Maria (huruf M) bersatu tak terpisahkan
dari Kristus (simbol salib). Ha yang sebelah kiri adalah ha Yesus yang Maha Kudus (ditandai
dengan mahkota duri), dan yang sebelah kanan ialah ha Maria yang tak bercela (ditandai
dengan pedang yang menusuk ha Maria sesuai dengan ramalan Simeon tentang Maria.
Bunga Teratai: adalah lambang keterbukaan dan kerendahan ha sebagai dasar ketaatan.
Inilah keutamaan yang tercermin dalam ungkapan Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah
hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.” (Luk 1:36)
Bunga Matahari sebagai simbol Bunda Maria. Bunga matahari
selalu mencari dan menghadap ke matahari. Yesus Kristus adalah
Sang Matahari seja (dilambangkan dengan Qi Ro, atau seper
huruf P dengan palang). Maria selalu menghadap kepada Sang
Matahari seja . Bunda Maria adalah ibu Yesus dari sudut darah
daging, tetapi dari sudut keselamatan, Bunda Maria adalah murid
Yesus yang pertama dan utama. Bunga Matahari sebagai simbol
Bunda Maria digunakan oleh Kongregasi Suster Santa Perawan Maria, yang berkarya di
Paroki Langsep dan ikut andil besar dalam melahirkan Paroki Langsep.
Mimbar sabda dengan ukiran St. Vincen us a Paulo. Mimbar sabda terletak di sebelah kanan di
pan imam. Di mimbar sabda inilah Sabda Tuhan dibacakan. Mimbar ini berhiaskan relief St.
Vincen us a Paulo dengan tulisan semboyan Kongregasi Misi “Evangelizare Pauperibus Misit Me”
yang berar “Aku diutus mewartakan Kabar Gembira kepada orang miskin.” Kongregasi Misi
adalah tarekat imam dan bruder yang didirikan oleh St. Vincen us a Paulo. Di mimbar sabda ini
diwartakanlah Injil untuk mengiku Yesus Kristus, Sang Pewarta Kabar Gembira kepada orang
miskin.
Mimbar pengumuman dengan ukiran St. Maria dari Medali Wasiat.
Mimbar pengumuman terletak di sebelah kiri pan imam. Mimbar ini digunakan untuk
memimpin doa Malaikat Tuhan/Ratu Surga, membacakan pengumuman, dan atau keperluan
lain yang perlu dikomunikasikan kepada umat. Relief yang digunakan ialah Santa Maria dari
Medali Wasiat lengkap dengan gambar medalinya dan tulisan di dalam medali itu, “Ya Maria
yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung kepadamu”. Digunakan relief
Bunda Maria menunjukkan posisi Maria yang sangat dekat dengan segala kebutuhan hidup kita,
baik berkaitan dengan paroki maupun hidup sehari-hari.
054 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Relief altar: Mukjizat Pergandaan Ro . Relief altar di kebanyakan
gereja umumnya adalah peris wa perjamuan malam terakhir.
Perlu diketahui bahwa kisah perjamuan malam terakhir bisa
ditemukan di ke ga Injil sinop k, yaitu Ma us (26:26-29), Markus
(14:22-25) dan Lukas (22:15-20). Sedangkan pada Injil Yohanes,
dak ada kisah perjamuan terakhir. Sebagai gan nya, Yohanes
memberikan uraian tentang Ro Hidup (Yoh 6:25-59) yang diawali
dengan kisah tentang mukjizat pergandaan ro . Mukjizat
pergandaan ro inilah yang ditampilkan pada relief altar Gereja
Langsep. Mungkinkah ini satu-satunya relief altar yang
menampilkan mukjizat pergandaan ro ? Yang bisa dipas kan,
Gereja Langsep-lah yang pertama kali menggunakan mukjizat pergandaan ro sebagai relief.
Patung Santa Maria dari Medali Wasiat berserta dua wajah medali wasiat. Di sebelah kiri dalam
gedung gereja, terdapat patung Santa Maria dari Medali Wasiat dan dua wajah medali wasiat.
Bunda Maria menampakkan diri kepada St. Katarina Laboure dan meminta dibuatkan medali
seper patung yang dipasang. Dua wajah medali wasiat mempunyai makna yang mendalam dan
rinci untuk se ap bagiannya.
Patung Ha Yesus Yang Maha Kudus. Di sebelah kanan dalam gedung gereja
terdapat patung Ha Kudus Yesus. Ha Kudus Yesus mewakili seluruh
kebaikan dalam diri Yesus yang dicerminkan dalam simbol ha .
Patung Keluarga Kudus. Di sebelah kanan dalam gedung gereja, terdapat patung keluarga kudus,
yaitu St. Yosep, Bunda Maria, dan Kanak-Kanak Yesus. Memang ke ganya dak membentuk satu
patung, tetapi kebersamaan ke ga pribadi itu cukup untuk menghadirkan Keluarga Kudus
Nazareth.
Bangku yang dirancang secara matang. Duduk di bangku gereja Langsep memberikan rasa
nyaman. Sesungguhnya, bangku-bangku itu sudah direncanakan dengan teli , yaitu
memperhitungkan ke nggian tempat duduk untuk orang dewasa Indonesia pada
umumnya, sehingga orang dak merasa terlalu nggi atau terlalu pendek. Rasa nyaman
juga terasa jika kita memperha kan kemiringan dari tempat tangan. Ada seorang asing
yang memberikan komentar, “your benches are well-designed.”
Koridor tengah yang pas! Koridor tengah dirancang dengan memperhitungkannya sebagai jalan
untuk perarakan sebelum misa atau untuk perarakan pengan n. Karena itu, koridor tengah ini
cukup lebar untuk dilalui dua misdinar berdampingan, maupun untuk kedua mempelai ke ka
maju ke depan altar untuk diresmikan sebagai suami istri.
TUHAN MEMBIMBING KITA DI TENGAH DUNIA 055
Jarak antara pan Imam dan bangku umat. Jarak antara bangku terdepan umat dan
tangga pan imam cukup luas sehingga terasa sangat nyaman ke ka digunakan untuk
pemberkatan pengan n, peresmian petugas paroki, pembaharuan janji nikah
pasutri, bahkan untuk tahbisan diakon maupun imam.
Ven lasi dan sirkulasi udara. Jika ada ibadat, maka pintu depan dan pintu samping
gereja dibuka. Hal ini membuat ven lasi dan sirkulasi udara berjalan dengan lancar
sehingga udara segar dan sejuk terasa di dalam gereja. Selama masa pandemi,
ven lasi dan sirkulasi udara yang demikian sangat diperha kan dan dicari oleh banyak
umat.
Stasi jalan salib ke XV. Pada umumnya, jumlah stasi jalan salib ialah 14 buah. Di Gereja
Langsep, dipasang stasi Jalan Salib ke XV, yaitu Yesus bangkit. Hal ini dak melanggar hukum
atau peraturan gereja, tetapi malah mengiku atau memenuhi keinginan dan seruan
Magisterium.
Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, No. 134, menyatakan: “Jalan Salib adalah
devosi yang terkait dengan sengsara Kristus. Namun harus diakhiri sedemikian rupa
sehingga kaum beriman berada dalam harapan akan kebangkitan dalam iman dan
pengharapan. Mengiku contoh Jalan Salib di Yerusalem yang diakhiri di Gereja St.
Anastasia (ar nya: kebangkitan), maka perayaan dapat diakhiri dengan kenangan akan
kebangkitan Tuhan.” Perspek f kebangkitan pada akhir devosi Jalan Salib ini berlaku juga
ke ka Jalan Salib dilakukan pada masa Prapaskah. Jadi, kenangan akan kebangkitan sama
sekali bukanlah pelanggaran. Bukan pula hanya diperbolehkan, malahan diharuskan.
Pengarahan pada kebangkitan Tuhan, sebenarnya sudah ada di dalam doa penutup. Tetapi satu baris kalimat tentang
kebangkitan dalam doa penutup itu seringkali luput dari perha an, dan karenanya gagal memberikan perspek f pada
keseluruhan Jalan Salib yang dilakukan. Maka pengadaan perhen an XV sebagai tambahan, yaitu Yesus Bangkit,
berguna untuk mempertegas horizon pada keseluruhan devosi Jalan Salib. Dengan demikian, umat diajak untuk
menyisihkan waktu dan merenungkan sengsara dan pengorbanan Yesus dalam cahaya kemenangan kebangkitan.
Kenangan akan kebangkitan Tuhan juga mendapatkan porsi waktu yang cukup untuk direnungkan oleh umat.
TV Wall sebagai sarana bantuan ibadat. Sejak tahun 2020, Gereja Langsep
dilengkapi dengan TV Wall yang digunakan untuk membantu memperlancar
jalannya ibadat. Melalui TV wall itu, ditayangkan teks-teks yang digunakan
selama ibadat, baik lagu, bacaan, doa, pengumuman, maupun gambar-gambar
yang sesuai dengan momen ibadat yang sedang berlangsung.
Sound system yang memperhitungkan se ap sudut. Sound-system mempunyai
andil besar dalam ibadat. Karena itu sound system gereja Langsep mendapat
perha an serius agar suara imam, kor, lektor, atau petugas lainnya dapat
didengar dengan jelas di se ap sudut. Telah dilakukan pengecekan secara ilmiah agar dak ada blind spot sama sekali
di dalam gereja.
Pencahayaan pan imam yang lebih terang. Daerah Pan Imam adalah “panggung” dari ibadat yang menjadi pusat
perha an umat. Agar umat dapat melihat dengan lebih jelas, maka daerah pan Imam telah mendapatkan
pencahayaan yang lebih daripada pan umat.
056 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Balkon seper ampitheater. Balkon gereja Langsep juga direncanakan secara detail,
yaitu dibuat bertangga-tangga, dak datar saja. Maka di manapun seseorang duduk
di balkon, dia akan tetap bisa melihat imam di altar. Duduk di balkon juga memberikan
sensasi bagaikan berada di sebuah amphitheater dan melihat imam di altar secara
jelas. Duduk di balkon pantas dicoba!
Patung St. Vincen us a Paulo dengan anak-anak. Ada dua macam patung St. Vincen us a
Paulo yang bisa kita lihat di gereja Langsep. Yang pertama terletak di depan gedung gereja,
yaitu patung St. Vincen us yang sedang mengacungkan salib. Inilah patung St. Vincen us yang
menekankan karya penginjilan, “Evangelizare pauperibus misit Me”. Karenanya patung ini
banyak digunakan oleh romo-romo CM, suatu tarekat imam dan bruder yang didirikan oleh St.
Vincen us untuk melanjutkan tugas Yesus Kristus, yakni mewartakan Injil kepada orang miskin
dan terpinggirkan.
Patung St. Vincen us kedua bisa ditemukan di balkon gereja Langsep, yaitu St. Vincen us
sedang bersama anak-anak. Patung Vincen us ini menunjukkan St. Vincen us sebagai
pelindung karya cinta kasih. Patung ini banyak digunakan oleh suster-suster Puteri Kasih,
sebuah tarekat suster yang didirikan oleh St. Vincen us bersama dengan St. Louisa.
Gambar Yesus, Gembala yang baik dengan 12 Rasul-Nya. Pada bagian
belakang dinding Gereja, terdapat kaca mah Yesus sebagai Gembala yang
baik. Di sisi kiri terdapat gambar enam rasul dan di sisi kanan gambar enam
rasul lainnya.
TUHAN MEMBIMBING KITA DI TENGAH DUNIA 057
Tuhan Memimpin Kita Di Tengah Dunia
Perkembangan Lebih Lanjut Pembelian Lahan Parkir, Jl. Ananas 39 Malang
Pada bulan September 2019, ada tawaran
Dalam perkembangan Paroki Langsep untuk membeli rumah Jl. Ananas 39 Malang.
selanjutnya, betapa kasih dan penyertaan Selama ini ada keluhan dari warga pemilik rumah
Tuhan dirasakan begitu nyata. Dia sendiri yang tersebut tentang parkir mobil dari umat ke ka
hadir, menyertai dan memimpin ap langkah. menghadiri perayaan ekaris , yaitu menghalangi
proses keluar masuknya mobil warga tersebut.
Paroki Vincen us a Paulo dak hanya diberka Karena itu, Romo Paroki, Romo Rekan, dan BPGDA
dengan penambahan umat, hidup rohani, dan terdorong untuk membeli tanah di Jl. Ananas 39
pelayanan yang semakin berkualitas, tapi juga sarana dan digunakan sebagai lahan parkir. Rumah itu
prasarana fisik untuk menunjang kegiatan menggereja. diperoleh dengan harga Rp.3.100.000.000,00.
Dalam hal ini kita sungguh percaya bahwa tangan Karena rumah yang ada sudah dak bisa ditempa
Tuhan sendirilah yang turut bekerja dalam segalanya. lagi, maka rumah tersebut dibongkar untuk
dijadikan lahan parkir umat Paroki Langsep agar
Pembelian Rumah Jl. Pepaya 1, Malang
Pada bulan Juli 2018, ada tawaran dari Bu Mee Hoa, dak mengganggu kenyamanan tetangga gereja
pemilik rumah Jl. Pepaya 1, Malang, untuk menjual pada waktu Paskah, Natal, dan hari besar gereja
rumahnya ke gereja. Rm. Adi, CM, Rm. Ka jan, CM, dan lainnya. Dana pembelian tersebut berasal dari
BPGDA, memper mbangkan keperluan Poliklinik dan sumbangan umat paroki dan umat dari luar paroki.
kegiatan sosial dari Bidang Pelayanan yang makin Ada umat paroki yang berbaik ha meminjamkan
membutuhkan tempat yang lebih luas. Akhirnya paroki uang untuk pembelian tanah tersebut. Pinjaman
memutuskan untuk membeli rumah Jl. Pepaya 1 telah dicicil dari Januari 2020 sampai Juni 2021.
dengan harga Rp.2.100.000.000,00. Dana pembelian
berasal dari dana sisa pembangunan Gereja St.
Vincen us a Paulo tahun 2008 sebesar
Rp.800.000.000,00 ditambah dana paroki dan dana
pinjaman dari Keuskupan sebesar
Rp.1.000.000.000,00. Pengembalian dana pinjaman ini
dicicil selama dua tahun dari Januari 2019 sampai
Desember 2020.
058 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
SACRARIUM
Sacrarium dalam bahasa La n berar tempat hal- Ke ka saya mulai bertugas sebagai pastor
hal suci. Biasanya sacrarium diterjemahkan paroki Langsep, 1 Oktober 2020, permintaan umat
sebagai sumur suci. Disebut sumur karena yang pertama kali disampaikan kepada saya ialah
biasanya berbentuk layaknya sebuah sumur. Namun kerinduan memiliki sacrarium. Dengan mempelajari
bukan keberadaan airnya yang pen ng seper sumur pen ngnya dan kegunaannya, saya langsung mencari
pada umumnya. Sacrarium adalah sumur suci yang tahu tentang biaya yang dibutuhkan untuk membuat
dijadikan tempat membuang benda-benda yang sudah sacrarium. Setelah mengetahui biayanya, saya mulai
diberka namun sudah rusak dan dak bisa digunakan minta pendapat tentang tempat yang paling cocok
lagi. untuk membangun sacrarium.
Dengan memper mbangkan semua usulan
dan masukan, akhirnya diputuskan bahwa sacrarium
akan dibangun di bagian belakang gereja, yakni di dekat
sakris atas supaya juga bisa menjadi saluran
pembuangan air yang digunakan untuk mencuci piala
atau benda-benda suci lainnya. Penyelenggaraan Ilahi
telah menunjukkan tuntunannya, yakni ternyata lokasi
sacrarium itu persis di belakang tabernakel dan di
bawah salib yang ada di dalam gereja. Maka sungguh
dirasakan sangat tepat pemilihan lokasi sacrarium.
Setelah selesai dibangun, sacrarium itu diberka pada
hari Minggu, 29 Mei 2021. Dan Penyelenggaraan Ilahi
menunjukkan restunya, yaitu seluruh biaya
pembangunan sacrarium ditanggung oleh seorang
donatur. Ke ka kita berbuat suatu kebaikan untuk
Tuhan, Tuhan benar-benar dak mau berhutang pada
kita. Puji Tuhan!
(P.M. Handoko, CM)
TUHAN MEMBIMBING KITA DI TENGAH DUNIA 059
Hadiah Tuhan untuk Ulang Tahun Emas
Paroki Langsep
Tahun 2022 ini, Paroki Langsep merayakan HUT Emas. Tuhan telah memberikan dua
hadiah Ulang Tahun Emas yang luar biasa, yaitu pembangunan Ruang Adorasi St. Katarina
Laboure dan Gua Maria Medali Wasiat. Cinta Tuhan yang terus-menerus kepada umat
Paroki Langsep sungguh luar biasa besar dan sangat mengagumkan.
1. Ruang Adorasi St. Katarina Laboure
Ruang Adorasi
St. Katarina
Laboure
dibangun di sebelah
selatan dari gedung
gereja. Sebelumnya, di
tempat itu ada dua
ruangan. Satu ruangan
digunakan sebagai ruang
OMK dan ruangan lainnya
digunakan sebagai ruang
pertemuan. Donatur
utama, yaitu Bpk. Andreas,
sebagai ungkapan terima
kasih kepada Tuhan atas
semua anugerah yang
telah diterima oleh
keluarganya, bersedia
membangunkan Ruang
Adorasi untuk umat paroki
Langsep. Ruang Adorasi ini
telah selesai dibangun
pada September 2022 dan
diberka dan diresmikan
oleh Bapak Uskup Mgr.
Henricus Pidyarto
Gunawan, O.Carm pada
perayaan HUT Emas paroki
pada Minggu, 25
September 2022.
060 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Untuk melengkapi
berbagai kebutuhan
Ruang Adorasi, Bpk
Andreas telah
menghimpun beberapa
teman yang dengan
murah ha
menyumbangkan milik
mereka. Umat Langsep
sungguh sangat bersyukur
dan berterima kasih atas
hadiah ulang tahun yang
luar biasa ini.
2. Gua Maria Medali Wasiat
Hadiah Ulang Tahun Emas lainnya ialah pembangunan Gua Maria Medali Wasiat di
Taman Doa Medali Wasiat, yang berlokasi di lingkungan St. Yohanes Pemandi.
Pembangunan gua didahului dengan pembuatan plengsengan sungai yang mengalir di
dekat gua. Taman Doa telah menjadi wadah berbagai kegiatan dari (terutama)
lingkungan St. Yohanes Pemandi, St. Monika, dan St. Agus nus. Pembangunan Gua
Maria Medali Wasiat ini bertujuan untuk menambah prasarana kegiatan rohani, baik
untuk umat sekitar maupun untuk umat Katolik pada umumnya. Gua Maria ini akan
diberka dan diresmikan pada bulan Januari 2023. Sungguh ini merupakan hadiah
yang luar biasa bagi Ulang Tahun Emas Paroki Langsep.
“Sungguh agung karya-Mu Tuhan menjadikan kami pelita.”
Desain Gua Medali Wasiat 061
TUHAN MEMBIMBING KITA DI TENGAH DUNIA
SUNGGUH AGUNG
KARYA-MU
MENJADIKAN KAMI PELITA
bdk. Mzm 18 : 29
1972 - 2022
062 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
5 Ambil Bagian 063
dalam
Misi Gereja
Paroki Langsep berpesta emas. Kurun waktu 50 tahun
perziarahan bukan waktu yang sedikit. Paroki yang
berlindung di bawah St. Vincen us a Paulo ini telah
melewa litani perjalanan panjang dan unik. Kehadiran
gereja Katolik di zaman itu bagaikan oase di padang pasir.
Betapa dak! Dalam ziarah rohani, seper Natal dan
Paskah, umat setempat harus mengiku misa dengan cara
berpindah pindah, itu pun meminjam kapel seminari dan
aula SMAK St. Maria.
Perlahan namun pas , pertumbuhan umat semakin pesat.
Ada kebutuhan mendesak untuk mendirikan rumah
peribadatan berupa sebuah kapel yang representa f. Juga
didirikan fasilitas lainnya seper Taman Kanak-kanak dan
Sekolah Dasar St. Maria 3, untuk mendukung misi gereja.
Benih firman Tuhan yang ditaburkan di Paroki ini
menghasilkan buah yang mengesankan. Selain
bertambahnya umat, juga menumbuhkan benih panggilan
hidup membiara. Tercatat dua rohaniawan asal Paroki
Langsep memilih bekerja di kebun anggur Tuhan.
Panggilan hidup membiara putra/putri Langsep ini
memperkaya misi gereja Katolik di kota Malang.
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA
Kapel Bandulan,
Lahir dari Ide Sederhana
dan Keresahan Umat Katolik
K apel Bandulan merupakan kapel yang menjadi pelindung. Tugas pani a ini adalah
terletak di pemukiman padat penduduk mempersiapkan segala kebutuhan pembangunan,
dengan beragam suku dan agama. Ide terutama dalam hal pendanaan. Atas kerja keras
pembangunan kapel yang beralamat di Jalan pani a, rencana pembangunan Kapel Bandulan
Bandulan 1D ini bermula dari keresahan umat mendapat bantuan dana sumbangan, baik dari
Kring Bandulan yang dak mempunyai tempat warga Katolik dan non Katolik. Bahkan bapak
khusus untuk melakukan ak vitas kerohanian. bupa dan Departemen Agama juga turut andil
Pada 7 Mei 1980 saat serah terima jabatan Ketua memberikan sumbangan.
Kring Bandulan dari Bapak P. Karsani kepada Bapak
Ismanoe Sukarso, muncullah ide tersebut. Namun, Setelah dana terkumpul, tanggal 26
mewujudkan ide menjadi kenyataan bukanlah hal September 1982 dimulailah pembangunan Kapel/
yang mudah. Guna mempermudah proses Gedung Serba Guna tersebut. Yang menarik dari
perizinan, kapel tersebut dibangun dalam bentuk proses pembangunan ini adalah keterlibatan umat
gedung serba guna. Lingkungan Sumbersari. Bisa dibilang berdirinya
kapel ini adalah berkat karya bak /kerja bak
Pani a pembangunan kapel terbentuk pada umat. Kerja bak ini diadakan se ap hari Minggu
tanggal 3 Maret 1982. Ketuanya adalah Bapak M. selesai selesai misa ke-2.
Sukrianto, sementara Bapak Ismanoe yang saat itu
menjabat sebagai Ketua Lingkungan Sumbersari Proses pembangunan kapel yang memiliki
luas tanah 350 m2 ini memakan waktu selama 2,5
tahun. Pembangunan kapel selesai pada bulan
Februari 1985. Kemudian dibentuklah pani a
peresmian kapel/gedung serbaguna. Namun,
karena satu dan lain hal, peresmian kapel/ gedung
serbaguna ini dak terlaksana.
Kapel/gedung serbaguna yang telah selesai
pembangunannya ini digunakan umat untuk
berbagai kegiatan, termasuk kegiatan-kegiatan di
luar kerohanian.
Seiring perkembangan zaman, dengan
bertambahnya umat Katolik, Lingkungan
Sumbersari dibagi menjadi ga lingkungan, yakni
064 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Agus nus, Bernardus dan Carolus. Namun, karena Maria, Petrus, Agus nus, Yohanes Pemandi dan
posisi kapel ini berada di Lingkungan Bernardus, Monica. Se ap Selasa diadakan misa bagi umat
perayaan misa atau ibadah prak s lebih banyak setempat dengan petugas liturgi bergan an antar
dihadiri umat Lingkungan Bernardus. lingkungan. Jadwal Liturgi diatur m Liturgi Paroki.
Pada awal tahun 2017, bangunan Kapel yang Kapel Bandulan dihadirkan untuk memenuhi
sudah berdiri selama 32 tahun ini mulai kegiatan-kegiatan kelompok kategorial,
mengalami kerusakan, terutama di bagian lingkungan, seper doa lingkungan, la han koor,
atapnya. Hal ini tentu membuat umat yang pertemuan WKRI, pembinaan BIAK, remaka, dan
beribadah di Kapel merasa was-was, takut jika kegiatan gerejani lainnya. Bahkan warga setempat
terjadi bahaya atap roboh. juga bisa menggunakan ruang terbuka sebagai
tempat pertemuan dan pemungutan suara (TPS)
Kondisi ini meman k perha an serius Ketua se ap ada Pemilu.
Lingkungan Bernardus, Ari Priyono. Ia kemudian
mengusulkan kepada Romo B. Sapto Adi Widodo, Kapel Bandulan menjadi contoh nyata
CM agar merenovasi kapel. Hasilnya Romo selaku bagaimana menjadi pelita bernyala di tengah
kepala paroki memutuskan untuk merenovasinya masyarakat. Meski terletak di tengah pemukiman
setelah berdiskusi dengan Badan Pengurus Gereja padat yang mayoritas penduduknya beragama
dan Amal (BPGDA) dan ga lingkungan di sekitar Islam, namun suasana rukun dan harmonis selalu
kapel. terjaga. Hal ini sejalan dengan tema Pesta Emas 50
tahun Paroki Langsep.
Tujuan dan renovasi ini selain untuk
memperbaiki gedung agar menjadi tempat Menabur asa di antara harmonisasi umat.
beribadah yang lebih layak, sekaligus untuk Kapel Bandulan menjelma menjadi sebuah
mengurus legalitas kapel agar diakui sebagai salah
satu tempat ibadah umat Katolik di Kota Malang. konstruksi yang dak hanya terbatas pada fisik
bangunan. Kapel untuk tempat melakukan ritual
Awal 2018 renovasi dimulai, dan hanya kerohanian ini sekaligus hadir sebagai cahaya di
membutuhkan waktu enam bulan (selesai pada 12 tengah carut marut disharmonisasi yang
Juni 2018) tanpa mengubah bentuk aslinya. berpotensi menggerus kerukunan umat
Kualitas bangunan kapel di ngkatkan sehingga beragama.
tampak lebih representa f sebagai tempat
beribadah. Apresiasi layak disematkan kepada Semoga Kapel St. Yohanes Gabriel Perboyre
pani a yang terdiri dari BPGDA dan Lingkungan tetap menjadi pelita agar umat Katolik menjadi
Bernardus, Carolus dan lingkungan Maria, hasil garam bagi masyarakat dan bisa merasakan karya
pemekaran dari Lingkungan Carolus. Tuhan yang sungguh agung. (Anastasia W)
Setelah selesai direnovasi, Bapa Uskup Mgr.
Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm sendiri yang
meresmikannya. St. Yohanes Gabriel Perboyre
dipilih sebagai pelindungnya. St. Yohanes Gabriel
Perboyre adalah seorang misionaris asal Prancis
yang dalam perjalanannya ke China sempat
singgah di Surabaya. Nama Yohanes Gabriel
Perboyre dipilih, selain karena memang belum
banyak digunakan, di dalamnya juga terkandung
harapan agar Kapel Bandulan menjadi karya misi
yang hadir di tengah masyarakat yang majemuk.
Kini kapel yang sudah berdiri megah ini, telah
dinikma umat di Lingkungan Bernardus, Carolus,
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA 065
Sekelumit Kisah Pondok Doa
A walnya lahan seluas 4.020 m2 yang disambut gembira oleh seluruh umat yang nggal
terletak di Dusun Bunton, Desa di wilayah selatan, khususnya lingkungan St.
Sidorahayu, Kecamatan Wagir, dibeli oleh Yohanes Pemandi, karena umat memiliki
Rm. Pon celli, CM untuk digunakan sebagai kerinduan yang sangat besar untuk memiliki
tempat pemukiman umat Katolik yang kurang sebuah rumah doa atau gedung yang bisa
mampu. Rencananya di tempat itu juga akan dimanfaatkan untuk tempat berdoa bersama,
dilengkapi sarana untuk beribadah. pembinaan kaum muda, BIAK, dan hal-hal lain
yang berhubungan dengan pengembangan iman
Ternyata rencana untuk membangun umat.
pemukiman tersebut mengalami kendala.
Akibatnya lahan itu diserahkan kepada gereja. Rumah doa ini menjadi perwujudan misi
Hingga Rm. Stanislaus Elyannor Beda, CM, gereja untuk melakukan pemekaran paroki
menggan kan Rm. Pon sebagai pastor paroki, wilayah selatan (Wagir dan sekitarnya) dalam
kendalanya tetap sama. Lahan tersebut juga dak rangka mewartakan kabar baik kepada semua
bisa dimanfaatkan untuk mendirikan rumah doa orang. Romo Stanis bahkan membuat skema
atau kapel karena berdekatan dengan masjid. Tak gedung atau rancangan gedung serbaguna dan
ada pilihan lain, Rm. Stanis mengambil sikap peta kebun. Ke ka Romo Stanis pindah tugas,
dengan menjual lahan tersebut. maka pengerjaan dan pemeliharaan lahan
diserahkan kepada Rm. Ka janarso, CM.
Sebagai gan nya, Romo Stanis membeli
sebidang tanah di Jl. Raya Pelabuhan Tanjung Dulu, di atas lahan Pondok Doa dipenuhi
Perak (sebelah mur Perumahan LPK III) yang rumpun bambu. Proses merapikan lahan berawal
berada dalam wilayah Desa Sidorahayu. karena adanya bahan-bahan pembongkaran dari
Pembeliannya bertahap. Pembelian pertama renovasi kapel bandulan. Berkat kepedulian,
dilakukan pada 23 Juli 2010. Luas tanah yang dibeli kekompakan dan kerjasama umat Yohanes
1.352 m2 dan 494 m2. Pembelian kedua pada 25 Pemandi bersama dengan Rm. Ka jan, perlahan
Maret 2015, seluas 349 m2, oleh Rm. Adi kebun menjadi rapi. Warga berinisia f dan Rm.
Saptowidodo, CM. Dengan demikian Pondok Doa Ka jan memberi dukungan.
memiliki ga ser fikat dengan total luas tanah
2.195 m2. Kini, Pondok Doa yang dibangun dari
swadaya umat, bantuan para donatur, dan
Keberadaan sebidang tanah milik paroki ini
066 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
dukungan romo paroki, sudah dimanfaatkan. Di 067
tengah pandemi covid-19, misa online dan
ibadat-ibadat lingkungan diadakan di tempat ini.
Kebun, menjadi sarana tempat berkumpul dan
pemersatu umat. Se ap minggu diadakan kerja
bak di tempat ini. Pada 23 Juni 2022 yang lalu,
bahkan telah dilan k satuan petugas (satgas)
Taman Doa St. Maria Medali Wasiat oleh Rm.
Petrus Maria Handoko, CM. Mereka adalah
orang-orang yang terpilih dari ga lingkungan
sekitar pondok untuk mengelola tempat ini
Semoga ke depannya, Pastor Paroki
bersama pengurus DPP dapat merancang
rencana strategis, dengan melibatkan umat di
beberapa lingkungan sekitar Pondok Doa, untuk
terus menjalin relasi dengan tokoh-tokoh
masyarakat sebagai upaya persiapan
pembangunan perluasan paroki di wilayah
selatan. Saling sinergi antara DPP dan lingkungan
sebagai kepanjangan tangan Pastor Paroki yang
berhubungan dengan masyarakat sekitar
tentunya sangat diperlukan. (Evie).
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA
Pertalian Peran Keluarga,
Seminari dan Paroki
dalam Menumbuhkan Panggilan
Imamat
Rm. Rafael Isharianto, C.M.
T ahun ini, Paroki St. Vincen us a Paulo tempat itu bagi panggilan imamat saya secara
(dikenal juga dengan nama 'Paroki pribadi.
Langsep') Malang merayakan pesta emas
berdirinya. Sementara tahun lalu, saya merayakan Keluarga, panggilan imamat dan perutusan
25 tahun tahbisan imamat. Maka, ke ka diminta Orang tua saya adalah Bapak F.B. Ismanoe
oleh Pani a Ulang Tahun ke-50 Paroki St.
Vincen us a Paulo untuk membagikan perjalanan Sukarso (alm.) dan Ibu M.T. Sih ari. Dalam
panggilan imamat, saya mencoba merangkai dua keluarga, saya adalah anak ke ga dari lima
peris wa tersebut dalam tulisan pendek ini. bersaudara yang semuanya adalah laki-laki.
Perayaan kedua momen ini adalah kesempatan Awalnya, kami terhitung sebagai warga
yang baik untuk merenungkan peran paroki bagi lingkungan Sumbersari. Tapi setelah Dewan
panggilan imamat saya. Pastoral Paroki Langsep mengadakan pemekaran
atas daerah Bandulan sekitar akhir 1980-an, kami
Alasan saya merangkai kedua peris wa ini terda ar sebagai warga lingkungan St.
adalah karena panggilan imamat saya berlatar Bernardus.
belakang “dunia” tempat saya hidup. “Dunia” itu
adalah Paroki Langsep. Dengan kata lain, paroki Ayah saya adalah seorang tentara
ini adalah tempat panggilan imamat saya tumbuh sedangkan ibu seorang perawat. Keduanya bukan
dan berkembang. berasal dari keluarga Katolik. Mereka berdua
dibap s setelah beberapa tahun menikah.
Dalam refleksi saya, ada ga tempat yang Setelah menjadi Katolik, orang tua saya ak f
berperan besar dalam riwayat panggilan imamat dalam kehidupan menggereja. Mereka tanggap
saya. Yang pertama (1) keluarga, (2) paroki, dan akan kebutuhan umat Paroki St. Vincen us a
(3) seminari. Dengan kata lain, panggilan saya Paulo, Malang. Kepekaan tersebut diwujudkan
berawal dalam keluarga, didukung oleh paroki dengan menghibahkan tanah untuk digunakan
dan dikembangkan melalui pembinaan di sebagai makam Katolik dan kapel di lingkungan
seminari. Kedua tempat ini, yakni keluarga dan St. Bernardus (dulu: lingkungan Sumbersari).
seminari, secara teritorial berada dalam Melalui sikap peduli itu, mereka mewujudkan
yurisdiksi Paroki St. Vincen us a Paulo, Malang. iman dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum mengisahkan peran ke ga tempat Rumah kami menjadi tempat kegiatan
itu bagi panggilan imamat, saya ingin menggereja di lingkungan. Pada tahun 1970-an
memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. dan pertengahan 1980-an, misalnya, perayaan
Setelah itu, akan saya bagikan peranan ke ga Ekaris di daerah Bandulan selalu meggunakan
068 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
rumah kami. Tempat nggal kami juga dijadikan merayakan misa. Sebagai 'alba' dan 'kasula', saya
tempat pelajaran agama Katolik bagi para mengenakan daster ibu dan sarung atau kain
katekumen. Se ap hari Senin dan Kamis, seorang gorden. Kemudian adik-adik saya minta menjadi
katekis awam, yakni Bapak Ismail Harjana, datang 'putra altar'. Sedangkan orang tua dan kakak-
ke rumah untuk memberikan pelajaran agama. kakak saya duduk sebagai 'umat' yang mengiku
'misa' dan menerima 'komuni' (dari kue dolar
Saya masuk seminari nggi CM setelah lulus atau permen Bliss).
dari SMAK Santa Maria, yang letaknya dak jauh
dari Seminari Tinggi Kongregasi Misi (CM) di Setelah menerima komuni pertama, saya
Malang. Sesudah menyelesaikan masa menda arkan diri sebagai misdinar. Kebetulan
pembinaan, saya ditahbiskan menjadi imam CM misa harian dan mingguan diadakan di kapel
pada tanggal 27 Agustus 1996 di Surabaya. Tugas Seminari Tinggi CM sebab Paroki St. Vincen us a
perutusan pertama setelah tahbisan adalah Paulo belum memiliki gedung gereja saat itu.
menjadi pastor rekan di Paroki Salib Suci, Cilincing, Saya ak f sebagai putra altar sejak kelas 3 sampai
di Jakarta Utara. Selanjutnya, saya mendapatkan dengan kelas 6 di SDK Santa Maria 2, Jalan
perutusan untuk studi lanjut di Paris, Prancis, Panderman 7 Malang. Namun, ke ka mulai
sambil melayani di Paroki Sainte-Colombe, di duduk di bangku SMPK Santa Maria 2, saya mulai
Chevilly-la-Rue dan di Paroki Saint-Léonard di malas dan dak begitu ak f lagi sebagai putra
L'Haÿ-les-Roses. Kembali ke Indonesia, saya altar. Keinginan untuk menjadi imam juga mulai
mendapatkan perutusan sebagai pembina pudar. Ini adalah masa akil balig. Masa remaja ini
Seminari Tinggi CM, dosen STFT Widya Sasana, ibarat badai yang kuat menggoncang. Saat itu
Malang, pastor rekan di Paroki St. Vincen us a muncul keyakinan bahwa saya bisa menentukan
Paulo, Malang, Paroki St. Vincen us a Paulo, hidup saya sendiri tanpa perlu arahan orang tua
Surabaya, koordinator Keluarga Vinsensian maupun petunjuk ajaran agama.
Indonesia (KEVIN), serta pembina rohani di rumah
retret Griya Samadhi Vincen us di Prigen. Sejak Ke ka saya mulai duduk di kelas 1 SMAK
enam tahun yang lalu, saya nggal di Belanda Santa Maria, panggilan untuk menjadi imam
untuk tugas belajar sambil mengemban tugas muncul lagi. Munculnya panggilan khusus itu
sebagai superior para romo CM Belanda. Saya diawali dengan suatu pengalaman krisis. Sebagai
bersyukur atas tugas-tugas yang diberikan kepada remaja, saya mengalami perasaan jenuh, kosong,
saya, sebab dengan se a menunaikan tugas, saya dan dak puas dengan semua yang ada. Belajar,
dimungkinkan untuk mengembangkan diri agar kumpul-kumpul, dan keluar bersama teman,
dapat melayani sebagai imam dengan lebih baik. maupun mendengarkan musik dak menarik ha
lagi. Hal itu saya alami sampai pada suatu saat
Bagaimana latar belakang panggilan saya harus menghadiri penutupan pe dan
imamat saya? Apa peran keluarga, paroki dan pemakaman seorang teman SD. Teman ini
seminari dalam panggilan tersebut? Itulah yang meninggal akibat kecelakaan sepeda motor.
akan saya bagikan dalam tulisan ini. Secara Semua temannya, termasuk saya, merasa
kronologis, yang pertama-tama berperan adalah terkejut. Saat itu kami baru beberapa bulan
keluarga, kemudian paroki, dan akhirnya duduk di bangku kelas 1 SMA. Pada waktu itulah,
seminari. Tetapi urutan pembicaraan kita adalah untuk pertama kalinya, saya menyaksikan
keluarga, seminari dan paroki. Hal ini dibuat jenazah secara dekat. Itu menjadi satu
berdasarkan per mbangan ruang lingkup. pengalaman baru, aneh, dan menimbulkan
banyak pertanyaan.
Peran keluarga
Ke ka berusia 6 atau 7 tahun, saya suka Teman SD itu dikenal sebagai gadis yang
cerdas, mudah bergaul, dan dicintai oleh banyak
menirukan gerak-gerik romo yang sedang guru dan teman. Dialah satu-satunya siswa di kelas
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA 069
yang bercita-cita menjadi astronaut. Di mata kami Saat menerangkan salah satu halaman buku
semua yang masih duduk di kelas 5 SD, cita-cita katekismus bergambar, Ibu pernah mengatakan
menjadi asronaut itu keren dan menunjukkan kepada kami bahwa, “Hidup seorang imam itu
betapa luas wawasan yang dimilikinya. Padahal, mulia. Sebab hidupnya dibak kan untuk melayani
kebanyakan dari kami mempunyai cita-cita yang Tuhan dan sesama dengan sukarela tanpa gaji.
'biasa', seper menjadi polisi, wartawan, atau Hidup serupa dengan Kristus. Pada in nya, hidup
dosen. Sedangkan dia mempunyai cita-cita yang Kristus dapat diibaratkan dengan sebuah lilin yang
melampaui 'jangkauan' kami. menyala. Dengan nyalanya, lilin itu memberikan
cahayanya sampai ia sendiri habis terbakar oleh
Kema annya membuat saya tersadar: nyalanya.” Sejak saat itu, saya sering termenung
betapa singkatnya hidup di dunia ini! Karena itu memikirkan makna kiasan yang indah ini: Melayani
muncullah aneka pertanyaan dalam diri saya. “Apa Tuhan dan sesama dengan tulus. Seper lilin.
yang seharusnya kuperbuat agar hidup yang Secara total. Betapa indahnya bila saya bisa hidup
pendek ini bermakna? Adakah hal lain yang seper itu sebagai seorang imam.
membuat hidup lebih bermakna daripada sekadar
pergi ke sekolah, bekerja, mendapat gaji, Di lain pihak, saya ragu apakah menjadi
bersenang-senang, menikma uang penghasilan, seorang imam adalah panggilan hidup saya.
dan begitu seterusnya bertahun-tahun?” Keraguan ini menggelisahkan saya berbulan-
bulan. Karena itu saya mencoba menemukan
Selama beberapa bulan, pergumulan untuk jawaban dengan sering berdoa dan merenung.
menemukan ar dan tujuan hidup ini terus Dan pada suatu hari, saya memutuskan untuk
mengiku adik saya yang rajin bangun pagi dan
berlangsung. Sampai pada merayakan misa harian di kapel Seminari Tinggi
suatu hari ke ka, dari balik CM di Jalan Raya Langsep 45. Dalam misa pagi hari
jendela kelas, saya itu juga, saya terinspirasi oleh refren Mazmur
melihat romo paroki tanggapan yang berbunyi, "Hari ini, jika kamu
berjalan hendak mendengar suara Tuhan, jangan tegarkan ha mu".
mengajar agama di Saya terhenyak. Kata-kata ini seper menjawab
SMAK St. Maria. Ia keraguan saya.
berjalan mengenakan
jubah pu h, dengan Dalam keheningan misa harian pagi itu, saya
payung hitam merasa damai dan khusuk dalam doa. Betapa
mengembang di bawah menyenangkan mengalami kelahiran baru!
rin k hujan, mengempit tas Muncullah kerinduan untuk lebih dekat lagi
kulit menuju sekolah kami. dengan Tuhan, mendengarkan sabda-Nya, dan
Ke ka melihat sosok romo merayakan misa se ap hari seper dulu ke ka
ini, saya ba- ba teringat saya masih rajin melayani sebagai misdinar. Sejak
semua yang pernah di- pagi itu, Tuhan Yesus saya alami sebagai Pribadi
terangkan oleh Ibu saya yang hidup. Ia bukan sekedar tokoh di masa lalu
tentang sakramen yang pernah ada dan kemudian lenyap ditelan
imamat ke ka sejarah. Ia adalah Allah yang hidup, yang masih
kami masih memperdengarkan suara-Nya pada masa kini juga.
kecil.
Langkah selanjutnya adalah meminta
pendapat orang tua saya. Dalam hal ini, saya agak
mengalami kesulitan. Pada awalnya, ayah
meragukan kesungguhan niat saya. Ini sangat
masuk akal, sebab saya adalah pe remaja yang
070 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
santai. Mungkin ayah berpikir kalau saya salah Akhirnya, ke ka duduk di semester satu di
mengambil keputusan. Tetapi ibu saya tahu segala Seminari Tinggi CM, saya mengutarakan masalah
hal tentang keinginan saya untuk menjadi imam, ini kepada romo rektor. Sebagai jalan keluarnya,
sebab saya sering berbagi cerita dengannya. Oleh beliau menugaskan saya untuk menjadi koster di
karena itu, saya meminta bantuannya untuk kapel seminari selama satu tahun. Dengan
meyakinkan ayah agar diperkenankan masuk penugasan tersebut, saya ditantang bangun lebih
seminari setelah lulus SMA nan . Ibu punya waktu pagi agar dapat mempersiapkan hal-hal yang
3 tahun untuk meyakinkan ayah. Dan memang berkaitan dengan perayaan misa harian (seper
pada akhirnya ibu berhasil. Ayah mendukung menyiapkan bacaan misa, ro dan anggur, pakaian
keputusan saya. Lalu mereka berdua mengantar liturgi, dsb).
saya memasuki masa pembinaan di Postulat Stella
Maris di Batu. Berbagai cara saya tempuh untuk
melaksanakan tugas ini, termasuk menyalakan
Peran seminari alarm. Kadang berhasil, kadang dak. Saya juga
Ada banyak hal yang memperkaya dan meminta bantuan frater di kamar sebelah untuk
membangunkan saya. Setelah satu tahun,
menumbuhkan saya selama menjalani masa kebiasaan bangun pagi ini sudah mulai tertanam.
pembinaan di seminari. Pembinaan di seminari Namun demikian, pada awal tahun kedua, saya
bersifat integral. Selain studi filsafat dan teologi, meminta kepada romo rektor untuk
ada juga aneka pembinaan lain yang dimaksudkan diperkenankan bertugas sebagai koster untuk satu
untuk mempersiapkan para calon imam supaya tahun berikutnya. Syukur kepada Tuhan bahwa
kelak mampu mengemban perutusan sebagai permintaan saya dikabulkan. Hal ini membuat saya
misionaris dan pemimpin pastoral. Namun dalam makin mantap dalam hal mengatasi kesulitan
kesempatan ini, saya hanya ingin membagikan bangun pagi.
salah satu pengalaman yang berharga.
Setelah ditahbiskan menjadi imam,
Bangun pagi secara teratur se ap hari kebiasaan bangun pagi ini terbuk sangat berguna
merupakan tantangan yang sangat berat bagi saya dalam pelayanan. Faktanya, seorang imam
pada awal masa pembinaan di seminari. Dulu, memang memiliki cara hidup yang berbeda dari
ke ka masih nggal di rumah orang tua, saya dak yang lain. Di banyak paroki dan komunitas religius,
perlu bangun pukul 04.30 WIB. Hal ini karena letak misa diadakan pagi hari. Hal ini mengandaikan
sekolah saya dak jauh dari rumah, sekitar 15 seorang imam harus bangun lebih awal. Dengan
menit jalan kaki. Jadi, bangun jam 6 pagi adalah kata lain, seorang imam perlu memiliki disiplin
kebiasaan saya di rumah. Sesekali, saya bisa hidup agar pelayanan mereka dak terbengkalai.
bangun jam 5 pagi kalau mau atau bila ada suatu
keperluan tertentu. Saya juga bisa bangun jam 7 Pendek kata, pembinaan di seminari
atau jam 10 pagi, kalau merasa lelah. Tetapi menanamkan suatu kebiasaan hidup yang baik,
bangun pagi secara ru n dan mengiku ibadat termasuk disiplin bangun pagi. Masalah bangun
pagi serta misa bukanlah kebiasaan saya dari
rumah. dur memang seolah perkara sepele. Tetapi hal ini
mengandaikan kesungguhan niat. Dan pelayanan
Karena itulah saya berjuang dengan susah selalu menuntut kesungguhan niat, termasuk
payah untuk bisa bangun pagi secara teratur. Saya memperha kan hal-hal yang tampaknya sepele,
butuh waktu dua tahun untuk mela h diri dalam sebab yang sepele bila dak diperha kan akan
hal ini. Sebenarnya, saat menjalani masa postulat, menghambat pelayanan. Mampu memimpin diri
kami sudah dila h untuk bangun pagi. Tetapi saya sendiri adalah kunci untuk dapat melayani dengan
tetap mengalami kesulitan untuk menyesuaikan baik.
diri dengan kebiasaan yang baru ini.
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA 071
Peran paroki sama seper yang dulu pernah dikerjakan oleh St.
Relasi dengan paroki memungkinkan saya Vincen us a Paulo.
memahami apa ar melayani umat. Sebab Demikian juga, semangat pelayanan juga
panggilan imamat memang dimaksudkan untuk bisa ditumbuhkan melalui par sipasi dalam doa
melayani umat. Pengalaman 'melayani' umat ini bersama di lingkungan. Dengan ambil bagian
saya peroleh melalui dua jalur, yakni di lingkungan dalam doa bersama, kehadiran saya ikut
pastoral dan di dalam wadah putera altar. memperkuat iman sesama umat yang lain.
Pertama, di lingkup lingkungan pastoral. Kedua, dalam wadah putra altar. Menjadi
Secara dak terduga, saya belajar 'melayani' umat anggota putra altar memungkinkan saya
ke ka membantu ayah melakukan tugasnya memupuk rasa tanggung jawab untuk melayani.
sebagai ketua lingkungan Sumbersari. Kadang- Bertugas sebagai misdinar mengandaikan bahwa
kadang ayah meminta saya membuat undangan saya memperha kan jadwal dan berusaha datang
doa atau pertemuan. Berbeda dengan saat ini yang pada saat bertugas dalam misa. Hal ini merupakan
akrab dengan penggunaan media sosial, untuk suatu 'sekolah' untuk melayani. Sebagai anggota
membuat undangan pada waktu itu menggunakan putra altar, kami berkumpul untuk melakukan
mesin ke k dan diperbanyak melalui kertas karbon rapat berkala. Ini juga merupakan la han
atau fotokopi. Selain itu, sesekali saya juga diajak berorganisasi dalam wadah paroki.
oleh ayah untuk ikut dalam kunjungan keluarga.
Sekedar catatan tambahan. Ikut ak f dalam
Berkeliling membagikan undangan dan ikut wadah putra altar meninggalkan kesan yang
mengunjungi keluarga-keluarga di lingkungan menyenangkan tentang masa-masa itu. Salah satu
ternyata menjadi 'sekolah' untuk belajar acara yang mengesan adalah bertamasya bersama
'melayani' umat. Saat itu saya kurang menyadari di bawah pendampingan frater pembina.
aspek ini. Kesadaran tersebut baru muncul Kesempatan ini membuat kami merasa akrab dan
beberapa tahun kemudian ke ka saya belajar saling mengenal.
teologi dan menjalani tahun pastoral sebagai calon
imam. Manfaat 'ekstra' dari pelayanan sebagai
putra altar adalah bahwa saya bisa mengenal
Membagikan undangan dan mengunjungi frater pembina dan romo paroki secara lebih
keluarga-keluarga membuka mata saya akan dekat. Melalui relasi dengan mereka, saya mulai
kondisi umat. Bagi seorang remaja, pengalaman ini berkenalan dengan cara hidup frater pembina dan
sungguh sangat berharga. Saya menjadi melek romo paroki. Dalam perjalanan hidup selanjutnya,
bahwa kondisi ap keluarga berbeda satu dengan hal ini membuat saya berpikir untuk menempuh
yang lain dalam segi sosial ekonomi, ngkat panggilan hidup yang sama.
pendidikan, latar belakang budaya, dan
sebagainya. Beberapa tahun kemudian, saya Penutup
memahami bahwa perbedaan kondisi umat perlu Saya ikut bersyukur atas kehadiran Paroki St.
menjadi aspek yang perlu diper mbangkan agar
pelayanan Gereja bisa mencapai sasaran. Vincen us a Paulo yang merayakan 50 tahun
usianya. Rasa syukur ini muncul berkat kesadaran
Perlahan-lahan, saya mulai menger bahwa akan dua hal berikut, yaitu (1) sinergi antara
hidup beriman itu dak melulu soal berdoa keluarga, seminari dan pihak paroki serta (2)
dengan khusuk. Hidup iman umat bersentuhan bahwa saya pernah diberi kesempatan untuk
dengan kondisi ekonomi, ngkat pendidikan, belajar melayani sesuai dengan kemampuan saya.
budaya, dan semacamnya. Karena itu, kehidupan Semoga sinergi ini terus di ngkatkan sehingga
iman perlu terungkap dalam kepedulian pada umat Paroki St. Vincen us a Paulo dapat
umat yang lapar, sakit, dirundung masalah berkembang mewujudkan panggilan dan
ekonomi, masalah pendidikan dan sebagainya, perutusan mereka sesuai dengan kehendak Tuhan.
072 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Jejak Kasih
Sr. M. Vincentine Etty Indriaswati, SPM
Ingatanku melayang ke sekitar tahun 1996-1997. Mengajar anak-anak SMP MD Pamulang
Krisis moneter hebat melanda negeri ini. Banyak
anak muda sulit mencari pekerjaan, bahkan PHK untuk membangun kesadaran berpoli k, yang dibuat
terjadi di mana-mana akibat resesi dunia. Nilai Rupiah “takut” dan “sakit” oleh rezim Orde Baru.
anjlok dan demo besar-besaran memanas di Indonesia
akibat bobroknya rezim Orde Baru saat itu. Kiprah pengalaman berorganisasi inilah yang
dibaca oleh Romo Pon celli, sehingga beliau mengajak
Paroki Langsep yang kala itu dikepalai oleh Romo aku dan teman-teman untuk membentuk forum diskusi
Silvano Pon celli CM, sangat memerha kan kaum Kelompok Tanpa Nama (KETAN = OMK). KETAN
muda. Romo sangat senang bila kami berkumpul untuk berkiprah dak hanya dalam bentuk forum diskusi
mendiskusikan kiprah kaum muda St. Vincen us, poli k tetapi juga dalam aksi DOA “Malang Berdoa”,
Langsep dalam menanggapi situasi negara yang sedang suatu aksi melawan anarkisme dan dialog umat
mengalami prahara. Romo Pon celli mengajakku, yang beriman. Bersama pendamping KETAN saat itu, Fr.
kebetulan baru selesai studi S-1 di FISIPOL Universitas Supriyadi, CM (Rm. Supri, CM) dan Sr. Monica, PK,
Jember, untuk berani menyuarakan aspirasi Gereja, bermodalkan uang satu juta rupiah, kami membuka
sehingga punya dampak di kemudian hari. usaha kewirausahaan dengan mengajak teman-teman
yang di-PHK dan masih mencari pekerjaan untuk
Sebagai kaum muda Gereja, aku turut menjadi berjualan sembako (beras, minyak, dan gula).
saksi sejarah pembakaran gereja dan penghancuran
rumah biara SPM di Situbondo tahun 1996. Semua itu Kami menjadikan rumah dua orang rekan kami
menggelisahkan ha ku. Masa mudaku memang kuisi yang berada di lingkungan Sisilia menjadi basecamp.
dengan keterlibatan ak f dalam kegiatan-kegiatan Usaha itu kami kelola selama hampir satu tahun.
kaum muda. Aku mengiku gerakan mahasiswa Meskipun keuntungannya kecil dan kami sekadar
independen, kelompok basis poli k mahasiswa berbagi uang lelah, tetapi semangat dan krea vitas
Indonesia yang bersuara lewat media, meskipun saat teman-teman untuk dak berputus asa di tengah
itu hanya ada email. Kebetulan saat di kampus aku ak f situasi krisis terus tumbuh. Akhirnya satu persatu
dalam kegiatan jurnalis media kampus, dan menjadi teman-teman di kelompok KETAN memperoleh
ang gota PMKRI Jember. Bagiku pengalaman pekerjaan, bahkan banyak yang sukses juga. Itu semua
berorganisasi ini menjadi upaya menghidupi semangat membuat kami kagum. Syukur, bahwa modal sejumlah
100% Katolik dan 100% Indonesia. Filosofi Mgr. satu juta rupiah yang dipinjam dari PSE juga bisa
Soegijapranata menjadi spirit kami anggota PMKRI dikembalikan.
(Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia)
Kiprahku sendiri di paroki dak terlalu banyak,
Bersama Suster se-komunitas sebab setelah lulus SMA prak s hidupku lebih banyak
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA 073
di luar kota (Jember dan Surabaya), tempatku kuliah rajin mengajak kami, para kaum muda mengunjungi
dan bekerja. Di kedua kota tersebut banyak ak vitas biara-biara yang ada di Malang. Kami pernah diajak ke
organisasi yang aku iku . biara SPM, PIJ, Puteri Kasih, juga mengunjungi para
frater di Seminari Giovanni, Seminari CM-Badut, Biara
Kisah di atas menjadi pengantar awal mula SVD, dan CP di Jedong. Aku kagum dengan Romo Pon
panggilanku. Aku adalah putri tunggal Ibu Aloysia yang punya banyak waktu untuk mengenalkan secara
Elisabeth Driasih dan Bapak Yohanes Kusnadi langsung bagaimana kehidupan di biara kepada kaum
(Bapak/Ibu Kusnadi. Alm) dari lingkungan St. muda, mengingat waktu itu promosi panggilan dan
Fransiskus. Kami empat orang bersaudara. Ke ga media sosial juga dak secanggih saat ini.
saudaraku (dua kakak dan satu adik) semuanya laki-
laki. Kami semua Katolik dan besar di paroki Langsep Cita-citaku untuk menjadi suster tentu bukan
(St. Vincen us a Paulo). hal mudah. Se ap mengutarakan maksud dan tujuan
hidupku, ibu selalu melarang. Litani kesedihan yang
Ke ka remaja aku sempat ak f di RESAVIN diuraikan satu per satu, membuatku meragukan
(Remaja Santo Vincen us) dan ak f sebagai anggota panggilan-Nya. Namun Ke ka aku mulai bersekolah di
Legio Maria yang kala itu dibimbing oleh Rm. Wijanarko SMAK St. Maria Malang, cita-cita itu semakin kuat,
CM (Fr. Jack-waktu itu). Nama kecilku E y Indriaswa , apalagi aku melihat keteladanan suster kepala
dan aku biasa dipanggil E y. Sejak kecil aku memang sekolahku yang memberikan kepedulian, kasih, dan
sangat suka berorganisasi. Teman-teman sekampung perha an pada semua peserta didiknya. SMAK St.
yang sebaya maupun yang lebih muda, selalu kuajak Maria membentuk karakterku untuk semakin percaya
bermain sekolah-sekolahan. Aku yang menjadi
gurunya. diri, dan menguji kompetensi pribadiku sebagai citra
Allah yang dimartabatkan. Itu semua membuat aku
Saat duduk di bangku SMP kelas 2 (kelas VIII semakin yakin dengan cita-citaku. Santa Perawan
saat ini) aku tertarik dengan kehidupan biarawa . Maria menjadi inspirasiku. Aku belajar menghidupi
Karena aku murid suster Ursulin spontan ingin menjadi kesederhanaannya, ketersembunyiannya, ketabahan,
suster Ursulin. Se ap ditanya apa cita-citamu, aku iman, kerendahan ha serta ketaatan-Nya, menjadi ibu
menuliskan “MENJADI SUSTER” tanpa berpikir apa itu kehidupan bagi dunia yang terpecah saat ini.
ordo, tarekat, atau kongregasi. Romo Pon -lah yang
Setelah lulus SMA aku masih dak diizinkan
Menjadi pembina retret SMA Probolinggo oleh ibu untuk menjadi suster. Alasan ibuku sangat
sederhana. Ibu ingin aku menemaninya hingga masa
tuanya. Menurut ceritera beliau, kelahiranku sangat
dirindukan dan perjuangan ibuku dak mudah. Aku
mengiku apa yang ibuku kehendaki. Maka aku pun
kuliah dan lulus S1 pada tahun 1997. Setelah itu aku
bekerja di Surabaya selama lima tahun.
Saat itu aku terus mengalami pencarian diri.
Ke ka pergi ke gereja, sebelum berangkat kerja atau
074 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Journey di Kalimantan
sepulang kerja, ke ka berjumpa suster, frater, atau SPM, meski restu kedua orang tua belum aku dapatkan.
romo, selalu ada suara yang bertanya kepadaku, “E y, SPM menjadi pilihanku karena terkesan oleh
maukah kamu mengiku Aku?” Ha ku terus menerus spiritualitas Kongregasi SPM yang mengedepankan
gelisah karena pergumulan ba nku. Aku pernah semangat kesamaan martabat manusia citra Allah,
mencoba melupakan cita-citaku ke ka aku masih melalui karya pendidikan dan pembinaan generasi
bekerja. Namun pertanyaan itu semakin kuat dan muda. Saat di novisiat aku masih ingat hanya Rm.Pon
membuatku gelisah. Maka aku pun memutuskan untuk dan kerabatku yang hadir mendukung, ibu dan bapakku
dibimbing Romo Pon dan beberapa Frater CM (yang masih berat memberikan restunya. Aku tetap bertahan
terlibat di KETAN), agar menjadi semakin yakin dengan se a, karena sadar kasih Yesuslah yang begitu besar.
panggilan hidupku. Mereka mengajakku mengiku
retret panggilan di Tumpang. Aku juga diperkenalkan Kegelisahan Yesus akan begitu banyak jiwa
kepada Sr.Yulita SPM, karena sekalipun suster Kepala yang terlantar, tersisih, miskin dan tak berdaya,
SMAK St Maria saat itu juga dekat denganku, namun menjadi kegelisahanku. Dunia kerja dan karier yang
aku masih merasa canggung untuk menceritakan niat menawarkan banyak pilihan dan yang telah kujalani 5
dan cita-citaku ini. Teman-teman di lingkungan, tahun membuatku kering. Sekalipun memiliki materi,
sahabat terdekatku dak kuberi tahu. Pernah aku bahkan apa yang kuinginkan dapat kubeli, tetapi aku
bercerita, tapi mereka justru tertawa dan mengejekku.
“Opo yo iso?” (Apa ya bisa kamu ini?). dak merasa bahagia. Aku selalu merasakan panggilan
Yesus. Karena kese aan, kemantapan ha dan niatku,
Tertantang oleh keraguan mereka, niat dan lambat-laun keraguan kedua orang tuaku pun terkikis.
tekad kuteguhkan. Bukan karena hebat dan kuatku, Mereka memberikan restunya saat aku mengikarkan
tapi karena cinta. Setelah mengiku retret panggilan serah se a seumur hidupku tahun 2012 lalu.
SPM, tahun 2001 aku memutuskan menjawab dan
menanggapi panggilan dari m promotor panggilan Sebagai suster, aku memakai nama
'Vincen ne'. Vincen ne ar nya Vincen us Kecil. Nama
ini kupakai sebagai iden tas baruku, karena
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA 075
panggilanku menjadi teguh dan terinspirasi dari para Penerimaan Busana Biara-Novisiat
Vincen an yang telah membawaku kepada Yesus, Sang Bersama dosen dan teman angkatan studi S2
cinta abadi. Vincen us juga salah satu orang kudus
idolaku, di samping Yesus dan Maria, karena ia sangat
peduli pada orang-orang kecil dan miskin, sama halnya
dengan ibu rohani para Suster SPM, St. Jullie Billiart
yang juga punya kepedulian terhadap pendidikan dan
pembinaan orang-orang miskin, kecil dan terlantar.
Gereja mengundang kita, orang-orang muda,
untuk berani menjawab panggilan TUHAN. Kehidupan
biarawan/wa adalah jalan pertobatan. Suatu jalan
kasih di tengah arus dunia yang makin hedonis, tak
terkendali. Banyak jiwa-jiwa menan kita di kebun
anggur-Nya. Maka, jangan takut! Panggilan-Nya begitu
hebat dan dahsyat. Sungguh agung kasih dan karya
Tuhan yang Mahabaik, Ia menjadikan pelita hambanya
yang hina dina ini untuk mewartakan sukacita-Nya
sampai ke penjuru dunia.
Salam! TOTA CHRISTI PER MARIAM.
076 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Kekeluargaan itu Indah dan Menghidupkan
Saya teringat, kurang liturgi dalam paroki yang kecil ini. Keindahan
lebih 42 tahun yang lalu tersebut dak berhen dengan usainya ekaris ,
ke ka masih kecil, saya karena umat melanjutkan persaudaraan tersebut
terbiasa datang ke gereja dalam obrolan kecil satu sama lain. Saling
paroki Langsep yang masih menyapa, saling menanyakan kabar, saling
”nunut” di kapel seminari. mendoakan dan 'saling-saling' lain yang terjalin
Dengan kapasitas kapel yang indah di halaman Seminari Tinggi CM, Jalan Raya
hanya menampung 200-an Langsep 45, Malang tersebut.
orang, kami merasa mengiku
misa keluarga, sebab semua individu yang Par sipasi umat juga tampak pada kegiatan-
menghadiri misa tersebut pas dengan mudah kegiatan di lingkungan. Kebiasaan saling
dikenali, baik oleh romo yang sedang memimpin menjemput, berjalan bersama menuju ke gereja
misa ataupun oleh umat lainnya yang hadir di misa untuk misa, atau ke tempat doa lingkungan dan
tersebut. Jika dibandingkan dengan paroki-paroki wilayah menjadi roh pemersatu umat dengan
lain, tentunya paroki Langsep berasa sangat kecil. umat yang lain. Terbayang bagaimana
Saya juga jadi teringat bagaimana par sipasi kegembiraan dan persaudaraan dibangun dengan
umat, mulai dari persiapan dan saat ekaris nya. ak vitas kecil ini namun mampu menguatkan dan
Saat persiapan, dak jarang umat sendiri yang mempererat kasih satu sama lain. Sekali lagi inilah
dengan senang ha berlomba untuk datang lebih keindahan kecil yang memberikan dampak luar
awal agar bisa membuka pintu seminari dan kapel biasa bagi persaudaraan iman Paroki Langsep ini.
terlebih dahulu. Mereka juga mulai menata buku
lagu dan buku misa yang sudah tersampul rapi, Saat ini Paroki Langsep telah memiliki
disusun dengan baik agar siapapun yang datang gedung gereja sendiri dan jauh lebih besar dan
bisa nggal ambil dan masuk kedalam kapel indah. Doa saya di usia paroki yang ke-50 tahun ini,
dengan suasana hening. Belum lagi di hari Sabtu sebagai umat yang pernah merasakan keindahan
siang, sekelompok ibu-ibu dengan rajin menyusun kecil Paroki Langsep di masa lalu adalah semoga
karangan bunga untuk persiapan misa. Inilah besarnya gedung gereja, banyaknya jumlah umat,
perbuatan-perbuatan kecil umat di masa itu. dan semakin banyaknya umat yang memiliki
Walau terlihat sepele namun sesungguhnya dak kendaraan pribadi dak menghanguskan spirit
benar-benar kecil karena itu merupakan bagian par sipasi, persaudaraan, dan komunikasi umat
dari iman umat yang hidup dan berkobar. yang telah hidup dan mengakar di paroki Langsep.
Par sipasi umat ini juga nampak pada saat
ekaris . Dengan kapasitas yang kecil, semua umat Akhir kata dari saya, ”Selamat Ulang Tahun
beserta Romo bisa berkomunikasi tatap muka; Parokiku tercinta, semoga semakin bertambahnya
par sipasi umat di dalam menjawab doa-doa pada usiamu juga semakin mematangkan iman
saat ekaris sangat hidup. Sungguh ibadah yang umatmu, yang terpancar dalam par sipasi,
menyenangkan. Sekali lagi kita melihat jumlah persaudaraan dan persatuan seluruh umat paroki,
yang kecil namun menjadi dak kecil karena Tuhan memberka Romo, Dewan Paroki dan
kekuatan par sipasi umat mampu menghidupkan seluruh umat Paroki.
Jakarta, 17 Agustus 2022
Stefanus Heri Soesanto
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA 077
Beato Carlo Acutis,
Lingkungan Termuda yang Merangkul
Kaum Muda
Beato Carlo Acu s (3 Mei 1991 – 12 Oktober Paskah. Selain itu, pada kegiatan-kegiatan lain di
2006) adalah seorang remaja yang dikenal lingkungan yang telah ada, telah diusahakan untuk
karena mendokumentasikan mukjizat-mukjizat menyertakan mereka. Tetapi karena kesibukan dan
Ekaris di seluruh dunia. Dia membuat katalog tentang kekhasan mereka, maka sulit diintegrasikan dengan
mukjizat-mukjizat itu ke dalam sebuah situs web yang lingkungan teritorial yang ada. Karena dak
dibuatnya sendiri, berbulan-bulan sebelum ia terorganisir, maka potensi mereka juga dak bisa
meninggal akibat leukemia. diwujudkan.
Carlo Acu s disebut orang sebagai milenial Melihat situasi itu, maka para mahasiswa ini
pertama yang dibea fikasi, pada 10 Oktober 2020. dikumpulkan dan diajak diskusi oleh Rm. Handoko
Teladannya tentu menjadi inspirasi bagi banyak orang, sebagai pastor paroki untuk bersama-sama
khususnya kaum muda. Ternyata, hidup kudus pun bisa membentuk kepengurusan lingkungan. Membuat
dilakukan pada usia muda. lingkungan yang terdiri dari kaum muda yang belum
menetap secara teritorial tentu bukan hal yang mudah.
Terinspirasi olehnya, Rm. Petrus Maria Terlebih mereka juga memiliki banyak ak vitas terkait
Handoko, CM memilih Beato Carlo Acu s (BCA) dengan studi yang sedang dijalani. Namun kerja keras
menjadi pelindung lingkungan baru yang mewadahi dan pelayanan para pengurus sungguh total, sehingga
kaum muda. Lingkungan Beato Carlo Acu s resmi mereka bisa menjadi penghubung antara mahasiswa
berdiri pada 31 Januari 2021, sebagai lingkungan perantauan dengan Gereja.
termuda di Paroki St. Vincen us a Paulo, Malang.
Pada umumnya sebuah lingkungan dibentuk
berdasarkan wilayahnya atau mengiku prinsip
teritorial. Prinsip teritorial juga diiku oleh struktur
pemerintahan pada umumnya, mulai dari RT, RW,
Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten. Kekhasan
Lingkungan BCA ini ialah bahwa lingkungan ini dak
bersifat teritorial, tetapi kategorial. Lingkungan BCA
adalah sebuah lingkungan yang melingkupi para
mahasiswa/i luar pulau yang sering atau biasanya
mengiku perayaan Ekaris di Gereja St. Vincen us a
Paulo. Tempat nggal mereka ini bisa tersebar di
seluruh wilayah paroki, bahkan ada juga yang di luar
wilayah yuridis Paroki Langsep.
Pembentukan Lingkungan BCA bermula dari
kenyataan bahwa amat banyak jumlah mahasiswa/i
luar pulau ini yang memenuhi perayaan Ekaris se ap
hari Minggu, terutama pada perayaan Natal dan
Paskah. Jumlah mereka sangat signifikan sehingga dak
bisa diabaikan begitu saja. Karena dak terda ar, maka
muncul kesulitan untuk memprakirakan jumlah yang
menghadiri misa, terutama perayaan besar Natal dan
078 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Mungkin banyak yang bertanya, mengapa para Lingkungan Beato Carlo Acu s menjadi bagian
mahasiswa perantauan ini dipersatukan dalam sebuah kekayaan rohani yang diperayakan Tuhan kepada
lingkungan? Tujuannya agar mereka tetap Paroki Langsep. Karena itu, Lingkungan BCA sering
mendapatkan sapaan dari Gereja, mendapat diberi kesempatan untuk mengadakan perayaan
pelayanan sakramen, dan tetap merasa menjadi bagian Ekaris , misalnya Misa Paskah kaum muda dan misa
Gereja. Itulah sebabnya lingkungan BCA pun dilibatkan syukur. Mereka dila h untuk mencintai Ekaris di
secara penuh dalam tugas pelayanan dalam gereja tengah situasi kemajuan teknologi saat ini.
seper : kor, organis, ta b, pani a kegiatan Gereja dan Harapannya, warga lingkungan ini dapat meneladan
doa-doa lingkungan. Rasa memiliki dan menjadi bagian semangat pelindungnya, “Semakin kita sering
dari Gereja ini terus ditumbuhkan supaya kelak ke ka menerima Ekaris , semakin kita menyerupai Yesus,
lulus kuliah dan kembali ke kampung halamannya, sehingga di bumi ini kita akan merasakan surga.”
mereka dapat kembali ak f di wilayah masing-masing.
AMBIL BAGIAN DALAM MISI GEREJA 079
SUNGGUH AGUNG
KARYA-MU
MENJADIKAN KAMI PELITA
bdk. Mzm 18 : 29
1972 - 2022
08004 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
6 Doa Menjadi 081
Kekuatan Kita
dalam Berkarya
Ke ka menyebut nama St. Vincen us, yang pertama kali
terbayang pas lah sesosok 'pribadi yang ak f'. Sebagai
orang kudus, Vincen us memang dikenal karena karya
cinta kasihnya yang luar biasa kepada mereka yang
membutuhkan dan menderita.
Meskipun melakukan karya kerasulan yang begitu luar
biasa, dengan rendah ha Vincen us mengatakan bahwa
semua karya itu bersumber pada doa. Bagi Vincen us,
segala karya kerasulan harus selalu memiliki dua unsur:
doa dan perbuatan. Doa bukan hanya menyertai karya
pelayanan. Doa itu sendiri yang menjadi in pelayanan.
Dengan demikian, apa pun bentuk karya pelayanannya,
doa harus selalu menjiwai.
“Berilah aku manusia pendoa dan ia akan mampu
melakukan segalanya,” katanya.
Paroki Langsep yang berdiri di bawah perlindungan St.
Vincen us a Paulo meneladani semangat dan kharisma
Bapa pelindungnya. Dalam segala karya yang dilakukan,
doa menjadi sumber kekuatan yang menopang dan
meneguhkan.
Di samping kegiatan-kegiatan liturgi yang dilakukan, kita
akan melihat bagaimana komunitas-komunitas religius
yang berdomisili di wilayah paroki Langsep turut
menggarami kehidupan menggereja, begitu pula dengan
kelompok-kelompok kategorial yang ada di paroki.
DOA MENJADI KEKUATAN KITA DALAM BERKARYA
KONGREGASI MISI (CM)
Sejak awal berdirinya hingga kini, Paroki Tanggal tersebut diyakini Vinsensius sebagai
Langsep dibimbing oleh romo -romo CM. tanggal kelahiran CM, walaupun CM sendiri baru
Walaupun beberapa umat mungkin telah terbentuk tahun 1625.
mengenal CM, dalam kesempatan 50 tahun paroki
ini, sudah selayaknya apabila seluruh umat lebih Peris wa itu menyadarkan Vinsensius dan
mengenal CM. keluarga de Gondi akan kebutuhan rohani orang
miskin pedesaan. Mereka meminta Vinsensius
Kongregasi Misi (CM) didirikan oleh St untuk khotbah misi (Misi Umat) dari desa ke desa.
Vinsensius de Paul (1581-1660) di Paris, Prancis. Se ap kali mengunjungi suatu desa, selalu ada
Vinsensius adalah seorang anak petani di desa banyak umat yang bertobat dan menerima
Pouy (sekarang nama desa ini: Vincent de Paul) sakramen tobat. Beberapa kali mereka harus
dekat kota Dax, Prancis Selatan. Semula dia meminta bantuan para imam yang ada di sekitar
menjadi imam untuk mengangkat status sosialnya tempat MIsi Umat tersebut. Namun bantuan tak
dan keluarganya. Namun secara berangsur dia selalu memadai. Maka keluarga bangsawan itu
mengalami pertobatan dengan menyerahkan diri kemudian meminta Vinsensius mendirikan
sepenuhnya kepada Tuhan untuk melayani orang perkumpulan imam untuk menyenggarakan Misi
miskin. Umat, yang terwujud pada 17 April 1625.
Untuk mewujudkan pertobatannya Santo Pada April-Desember 1617 St. Vinsensius
Vinsensius melayani di paroki Clichy, desa kecil di sempat menjadi pastor paroki di Cha llon les
pinggiran Paris (1612). Dengan giat dan penuh Dombes, Prancis Selatan. Saat itu banyak umat
kasih dia melayani umat sederhana itu hingga yang pindah masuk Protestan. Vinsensius
mereka maju dalam iman dan hidupnya. Umat melayani mereka dengan giat dan penuh kasih
sangat mengasihinya sehingga sampai sekarang sehingga banyak yang bertobat, kembali menjadi
semua peninggalan Vinsensius disimpan dalam
museum. Gambar besar Santo Vinsensius
menghias dinding samping halaman gereja. Tak
lama setelah melayani di sana, Vinsensius diutus
menjadi kapelan tutor anak-anak de Gondi.
Inspirasi atau pewahyuan Allah diyakini
Vinsensius terjadi ke ka dia memberi khotbah misi
pada 12 Januari 1617 di Folleville, wilayah tanah
keluarga Laksamana de Gondi, atas permintaan
majikannya, Nyonya de Gondi. Saat itu banyak
sekali umat yang bertobat dan mengaku dosa.
082 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Katolik. Suatu ke ka saat Vinsensius bersiap sejumlah 13.000 calon tahbisan, 20.000 imam dan
melayani ibadat, seorang umat mengabarkan umat. Karya ini berlanjut dalam Konferensi Hari
tentang keluarga miskin yang seluruh anggota Selasa. Para imam diosesan (umumnya 'lulusan'
keluarganya sakit keras. Dalam kotbahnya, retret calon tahbisan) berkumpul untuk
Vinsensius mengimbau umat untuk melakukan bina lanjut bersama Vinsensius, se ap
memerha kan keluarga tersebut. Setelah hari Selasa di St. Lazare.
beris rahat sejenak, Vinsensius juga mengunjungi
keluarga tersebut. Dia terkejut melihat banyak Kepriha nan Vinsensius bagi gereja dan
umat yang berbondong-bondong juga orang miskin mendorongnya untuk mengirim para
mengunjungi mereka. Rumah keluarga itu imamnya bermisi ke luar negeri. Sejak awal dia
dipenuhi makanan. Vinsensius kagum dengan telah mengutus imam-imamnya ke Roma untuk
spontanitas umat yang tergerak oleh Tuhan lewat menjalin komunikasi dengan Takhta Suci hingga
kotbahnya. Di lain pihak, dia juga sadar makanan CM mendapat pengakuan melalui Bulla “Salvatori
itu tak lama akan rusak, sementara keluarga itu Nostri” (12 Januari 1633) dari Paus Urbanus VIII.
belum sembuh. Maka dia mengajak beberapa Vinsensius kemudian mengirim misionarisnya ke
umat untuk melihat dan memikirkan solusinya. Irlandia dan Polandia, juga ke Afrika: Tunisia,
Mereka sepakat untuk mengorganisir diri dan Aljazair, dan Madagaskar.
bergiliran melayani keluarga miskin tersebut. Saat ini dengan sekitar 3000 anggota, CM berkarya
Vinsensius kemudian menyusun pedoman di 96 negara.
organisasi tersebut dan meminta pengakuan
keuskupan setempat. Pengakuan segera diperoleh Atas pemintaan Takhta Suci (Propaganda
dan lahirlah Persaudaraan Kasih sebagai organisasi Fide), CM mengirim misionaris (Belanda) ke
Katolik awam. Perkumpulan ini kemudian tersebar Indonesia pada bulan Juni 1923. Sehingga mulai
ke seluruh Perancis, bahkan ke seluruh dunia. Kini tahun ini hingga tahun depan CM merayakan
nama internasionalnya AIC (Asosiasi Internasional seabad kehadiran dan karyanya di Indonesia.
Cintakasih). AIC termasuk pelopor organisasi
Katolik/tarekat yang menjadi anggota PBB untuk Mulai 1971 CM berkarya di Malang untuk
membawa suara orang miskin. Karena pelayanan bekerja sama mendirikan—apa yang kini
orang miskin semakin membutuhkan pelayanan menjadi—STFT Widya Sasana. Karya seminari ini
yang lebih total, bersama St. Louisa de Marillac, sekaligus melahirkan paroki St. Vinsensius a Paulo
Vinsensius mendirikan Puteri Kasih (1633). (1972) yang kini merayakan Pesta Emasnya.
Vinsensius sadar bahwa kehidupan dan Berdasarkan Kons tusi dan Statutanya, CM
perkembangan Gereja sangat ditentukan oleh para Provinsi Indonesia merumuskan prioritas
imamnya. Saat itu keberadaan seminari sebagai karyanya: mewartakan injil dan melayani kaum
tempat untuk membina para imam (yang miskin, membina klerus dan kaum awam, serta
ditetapkan dalam konsili Trente) belum banyak berkarya di tempat di mana dibutuhkan, terutama
diperha kan. Bersama beberapa pembaru gereja, di tengah mereka yang terpinggirkan dan
Vinsensius menaruh perha an pada pendidikan di nggalkan (Norma Provinsi 5). Dengan seratus
(calon) imam. Sejak 1628 dia rajin memberikan orang lebih anggota, CM Provinsi Indonesia
retret 2-3 pekan kepada calon tertahbis. Karya ini berkarya di keuskupan Surabaya, Malang, Jakarta,
kemudian termasuk karya utama CM bersama Misi Sintang, Banjarmasin, Manokwari-Sorong. CM
Umat. Tercatat beberapa keuskupan mewajibkan Indonesia juga berkarya dengan mengirimkan para
calon tahbisannya untuk mengiku retret ini, misionarisnya ke Kepulauan Solomon (terutama
termasuk Keuskupan Paris dan Roma. Rumah untuk berkarya di Seminari Tinggi), Papua Nugini,
induk CM (St. Lazare) telah menjadi tempat retret Taiwan, Bolivia, Suriname, Belanda, dan Australia.
Antonius Sad Budianto, CM
DOA MENJADI KEKUATAN KITA DALAM BERKARYA 083
SEMINARI TINGGI CM ST. VINCENTIUS A PAULO
dan PAROKI ST. VINCENTIUS A PAULO
Barangkali ungkapan yang “pas” dari dengan Ordo Karmel) diganjar dengan sebuah
hubungan Seminari Tinggi CM St. wilayah parokial yang akan berdiri dan menjadi
Vincen us a Paulo dan Paroki St. Vincen us tempat bagi para frater untuk prak k pastoral,
a Paulo ialah demikian pada awal mulanya, katekese, dan pembangunan umat Allah.
Seminari “melahirkan” Paroki. Sebab, seminari Demikianlah, kharisma dari forma o Seminari
mendahului keberadaan paroki. Komunitas umat Tinggi CM, St. Vincen us a Paulo, di Malang ialah
Allah yang kemudian menjadi paroki St. Vincen us dekat, bekerja sama, dan melayani umat
berasal dari umat yang hadir dan bertekun setempat.
mengiku perayaan ekaris di kapel seminari
sampai berdirinya gedung gereja Paroki St. Salam perkembangan selanjutnya, Paroki
Vincen us a Paulo. St. Vincen us a Paulo telah mandiri dan memiliki
manajemen yang makin maju terkait dengan
Tahun 1972, mulailah “benih” komunitas pelayanan umat Allah. Sementara itu, Seminari St.
umat Katolik, yang akan menjadi tahun pendirian Vincen us a Paulo tetap menjalin relasi saling
dari Paroki St. Vincen us. Ke ka itu, misa umat membangun dan mengembangkan dengan paroki.
Katolik di hari Minggu masih dijalankan di kapel Para frater CM banyak belajar dan mengalami
kecil Seminari Ralangpatma (Raya Langsep 45). forma o praksis pastoral yang sangat berguna di
Apabila jumlah umat yang datang lebih banyak, paroki St. Vincen us a Paulo dan lingkungan-
diambilkan kursi-kursi di luar kapel. Demikianlah, lingkungannya, di samping belajar prak k
Seminari yang pindah dari Kediri “melahirkan” mengajar di sekolah-sekolah yang dikelola oleh
sebuah paroki. Sejak awal, Romo Reksobroto para Suster SPM dan Sang Timur.
beserta para formatores mengharapkan bahwa
“pengorbanan” pindah ke Malang (kesepakatan Armada Riyanto, CM
084 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Tuhan Yang Maha Agung
yang Memampukan untuk Menjadi
Pelita
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Kami Pelita.
Tuhan yang Maha Esa, atas rahmat Seiring dengan tema itu, kami membuat
penyelenggaraan kasih se a-Nya yang
senan asa menyertai perjalanan Paroki Santo sekelumit tulisan dengan tema yang selaras,
Vincen us A Paulo—Malang selama 50 tahun. “Tuhan Maha Agung yang Memampukan untuk
Para Suster PIJ turut bersukacita atas perayaan Menjadi Pelita” (Mazmur 18:19) sebagai bentuk
Pesta Emas berdirinya paroki Santo Vincen us A rasa syukur. Dari kedua tema tersebut kami dapat
Paulo Malang yang jatuh pada tahun ini. Tema merasakan bahwa Tuhan yang Maha Agung
yang diangkat oleh paroki untuk merayakan syukur sendirilah yang memampukan umat-Nya untuk
yaitu “Sungguh Agung Karya-Mu Menjadikan menjadi pelita dalam hidup menggereja maupun
bermasyarakat. Tuhan hadir dan berkarya dalam
diri para romo CM, yang dengan tekun, dan se a
melayani sehingga memperkaya kualitas hidup
iman umat untuk bisa saling melengkapi dalam
karya kerasulan. Dalam tugas perutusannya
sebagai gembala, tentu ada banyak kesulitan dan
tantangan yang dihadapi, akan tetapi para romo
tetap semangat dan pantang menyerah dalam
menjalankan tugas perutusannya. Umat pun
menanggapi dengan menyumbangkan segala
talenta sehingga bisa saling bahu-membahu
berkarya di ladang Tuhan dengan terlibat ak f
dalam paroki.
Para Suster PIJ Bandulan sendiri telah
menjadi bagian dari Paroki Santo Vincen us A
Paulo sejak 7 Mei 1990. Komunitas Suster PIJ di
Bandulan saat ini merupakan rumah pusat
(provinsialat) dan rumah pendidikan bagi para
calon suster PIJ, mulai dari aspiran, postulan
hingga novis. Kami bersyukur karena
mendapatkan juga pelayanan dari romo paroki
beserta romo rekan. Para romo telah
mengorbankan waktu dan tenaga untuk melayani
perayaan Ekaris di komunitas kami. Renungan-
DOA MENJADI KEKUATAN KITA DALAM BERKARYA 085
renungan yang kami peroleh menjadi peneguhan seper membantu romo membagikan komuni
untuk mengembangkan iman kami, sehingga pada perayaan Ekaris hari Sabtu, Minggu dan Hari
hidup rohani kami menjadi terpelihara. Kami pun Raya, melaksanakan tugas kor di gereja pada
jadi dimampukan untuk bercahaya laksana pelita minggu tertentu dalam bulan, mendampingi para
yang menyala. misdinar, memberi pembekalan bagi calon
penerimaan komuni pertama, memberi pelajaran
Kami ingat dalam Lukas 12:35 Yesus persiapan sakramen Krisma, mendekorasi gereja
berpesan agar pelita kita tetap menyala. Itulah pada hari raya Jumat Agung untuk penyembahan
sebabnya para suster PIJ maupun calon suster PIJ salib, memberikan rekoleksi bagi para misdinar,
berusaha menanggapi undangan Tuhan untuk pembina BIAK dan Remaka, baik di paroki maupun
tetap menyalakan pelita hidup ini dengan di lingkungan-lingkungan. Kami juga senan asa
senan asa nggal dalam Tuhan dan bersatu dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang sifatnya
dengan-Nya dalam doa dan Ekaris . Tinggal dalam insidental, misalnya HUT paroki atau perayaan-
Tuhan—Manete in Me adalah spiritualitas atau perayaan tertentu.
semangat hidup Suster PIJ. Semangat inilah yang
menjiwai hidup kami untuk terus terbuka terhadap Hal yang mengesan bagi kami, para Suster
karya Roh dan mampu melaksanakan kehendak PIJ, adalah melihat umat paroki St. Vincen us a
Tuhan untuk terlibat ak f dalam karya kerasulan Paulo yang sangat guyup dan ak f. Sebagai
dengan mengiku berbagai kegiatan di paroki kelompok religius yang berada dalam wilayah
Santo Vincen us a Paulo. Memberi kesaksian paroki ini, kami sungguh mendukung dengan doa
hidup, baik di lingkungan maupun di paroki, adalah dan pelayanan yang bisa kami berikan. Kami
sejalan dengan yang diharapkan oleh ibu pendiri merasakan bahwa paroki ini ramah lingkungan,
kami, Beata Clara dari Kanak-Kanak Yesus yang umatnya penuh inisia f, krea f dan inova f dalam
Miskin. menuangkan ide serta gagasan untuk segala
kegiatan yang dilaksanakan demi perkembangan
Sebagai Suster dari Kanak-Kanak Yesus yang paroki dan hidup rohani umat. Sesuai dengan
Miskin, kami diajak untuk berani menampilkan kharisma pelindungnya, paroki ini juga terlibat
iden tas diri, yaitu kekhasan Kongregasi PIJ untuk ak f dalam pelayanan masyarakat, khususnya
menghidupi panggilan sesuai dengan nama yang mereka yang berkekurangan melalui poliklinik.
kami sandang dengan gembira. Kami dipanggil
untuk menjadi “bintang”— pelita menyala, yang Melalui peringatan Pesta Emas Paroki ini,
menghantar anak-anak dan kaum muda kepada kami berdoa semoga romo paroki dan romo rekan,
Yesus lewat Pendidikan. Dengan demikian mereka para Romo CM dan seluruh umat paroki Santo
bisa mengalami perjumpaan dengan Yesus, Sang Vincen us a Paulo selalu dalam perlindungan
Juruselamat. Beata Clara Fey sangat mencintai Tuhan, senan asa bertumbuh dan berkembang
anak-anak, remaja dan kaum muda, terlebih bersama dalam kasih persaudaraan, selalu
mereka yang miskin dan terlantar. Semangat misi diberka , dibimbing Tuhan untuk terus menjadi
pendiri kami dak jauh berbeda dengan semangat pelita yang bernyala, demi kemuliaan Tuhan dan
Santo Vincen us a Paulo yang sangat cinta pada sesama. Tuhan memberka .
memperha kan anak-anak, kaum muda, dan umat
yang miskin terlantar. Karena itulah kami sungguh Suster PIJ
bersyukur diberi kesempatan oleh pastor paroki Bandulan Barat 40, Malang
untuk ikut berkarya sesuai dengan misi Kongregasi
Suster PIJ, yaitu pembinaan iman bagi anak-anak
dan kaum muda.
Keterlibatan para Suster PIJ secara nyata
dalam pastoral paroki, melipu berbagai bidang,
086 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
088 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Biara Lanjut Usia Karmel
dan Kapel St. Elias
Br. Vincent Parsi, O.Carm.
berkembang, demikian juga umat Katoliknya.
Mengingat kebutuhan rohani umat, maka perayaan
Ekaris pada hari Minggu dipindah ke satu ruangan
yang sedikit lebih luas, yang sebelumnya dipakai
sebagai ruang pertemuan komunitas. Agar bisa
digunakan untuk tempat peribadatan, maka ruangan
itu ditata sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah
kapel yang pantas untuk digunakan sebagai tempat
Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih 089
kepada pani a HUT Paroki yang telah
mengikutsertakan kami untuk ikut ambil
bagian dalam perayaan ini. Kami ikut bersyukur atas
Pesta Emas Paroki St. Vinsensius a Paulo, Malang.
Tulisan yang singkat dan sederhana ini adalah bentuk
par sipasi kami sebagai warga paroki yang ikut
merayakan Hari Ulang Tahun Paroki yang tercinta, juga
sebagai bentuk kesaksian kehadiran kami Ordo Karmel
di wilayah Paroki St. Vinsensius a Paulo.
Keberadaan Biara Lansia Karmel St. Elias
Pada tanggal 30 Agustus 1993 Biara Lansia
Karmel St. Elias diberka dan diresmikan oleh Mgr. HJS
Pandoyoputro, O.Carm. Di tengah bangunan biara
terdapat kapel kecil yang diperuntukkan bagi para
penghuninya. Kapel tersebut hanya bisa menampung
sekitar 12 orang. Pada awal berdirinya, di sekitar biara
hanya ada satu keluarga katolik yang kadang-kadang
ikut bergabung dalam perayaan Ekaris . Tapi lama-
kelamaan perumahan di sekitar biara semakin
DOA MENJADI KEKUATAN KITA DALAM BERKARYA
perayaan Ekaris . Pada tanggal 11 April 2008 kapel itu dan pemberian komuni bagi orang-orang sakit di
diberka oleh Mgr HJS. Pandoyoputro, O.Carm dan lingkungan St. Katarina; berkoordinasi dengan pastor
ditetapkan sebagai kapel atau oratorium semi paroki menjalankan pelayanan seper tutup pe ,
publicum, yang berar terbuka bagi umat yang ingin pelayanan misa di paroki atau tugas-tugas lain dengan
mengiku Perayaan Peribadatan. Biara Lansia dan sepengetahuan pastor paroki, juga kegiatan insidental
Kapel St. Elias yang berada di Jl. Bukit Dieng Blok D no. 2 lainnya yang memungkinkan kami ikut berpar sipasi.
ini merupakan wilayah lingkungan St. Katarina, yang
menjadi bagian dari Paroki Santo Vinsensius a Paulo Pesan dan Harapan
Langsep. Sejauh yang kami tahu selama ini kerja sama dan
Bentuk keterlibatan koordinasi antara biara dan paroki sudah berjalan
1. Yang bersifat ru n dengan baik. Semoga ke depan kerja sama ini bisa
berjalan dengan lebih baik demi pelayanan kepada
Perayaan Ekaris di biara ini dilakukan se ap hari umat dan kepada Tuhan.
pada pukul 6 pagi. Pada hari Minggu dan hari raya ada
sebagian umat yang ikut bergabung dalam perayaan Kami juga berharap keluarga-keluarga katolik
peribadatan demikian juga dalam misa harian. yang ada dalam wilayah Paroki Langsep sungguh
Menjelang Paskah dan Natal kami memberi pelayanan menjadi gereja kecil yang mampu menjalankan
dan kesempatan kepada umat yang ingin mengaku perannya sebagai: pelayan, kelompok persekutuan dan
dosa lewat pelayanan sakramen tobat. Pada hari-hari memberi kesaksian seper dalam kehidupan jemaat
biasa pun ada juga yang minta pengakuan dosa, perdana di Yerusalem. Sungguh indah bila masing-
terutama beberapa komunitas biara. Hal lainnya adalah masing keluarga ini bisa menjadi saksi-saksi Kristus
pengkaderan para petugas Liturgi. Dalam se ap yang akhirnya membentuk wajah paroki kita.
perayaan Ekaris terutama pada hari Minggu dan hari
raya, kami selalu melibatkan umat untuk ikut ambil Akhirnya, atas nama komunitas Biara Lansia
bagian dalam tugas liturgi. Karmel St. Elias kami mengucapkan selamat dan
proficiat atas Pesta Emas Paroki. Semoga ke depan
2. Kegiatan insidental umat di paroki kita semakin berkembang dalam jumlah
Ada beberapa kegiatan atau pelayanan yang dan semakin berkualitas dalam hidup beriman dan
pelayanan.
pernah dilakukan, misalnya: pembinaan dan
pendampingan bagi calon bap s dewasa; kunjungan
090 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Komunitas Alma Gandaria 19
Br. Inosensius Wuli, ALMA
K omunitas Alma putra yang hadir di bawah mela h orang-orang lokal yang mau menjadi koster
Yayasan Bhak Luhur bertempat di jalan dan lektor. Para bruder Alma juga mengiku kelompok
Gandaria 19 masuk dalam lingkungan St. Louisa, KKE-KBG kelompok kitab suci, mengak an minggu
Paroki Santo Vincen us A Paulo sejak tahun 1983. Saat gembira untuk anak-anak, mela h tenaga lokal,
itu Br. Antonius Radho, ALMA yang menjadi pimpinan membuat modul dan peraga minggu gembira,
komunitas. Rumah ini dihuni oleh anak-anak mendampingi Legio Maria, ikut dalam doa lingkungan,
berkebutuhan khusus. Ke ka Br. Anton pindah tempat mela h anak-anak berkebutuhan khusus di komunitas,
tugas, pimpinan komunitas digan oleh Br. Benediktus mendorong keluarga-keluarga agar menjadi gereja
Handoyo, ALMA (alm) dengan waktu yang cukup lama kecil, mengunjungi dan membina keluarga-keluarga
sampai akhirnya beliau berpulang ke hadirat Tuhan. tuna rohani.
Komunitas Gandaria kemudian dipimpin oleh Br.
Aloysius Ola, ALMA, kurang lebih 4 bulan, dan karena Sedangkan untuk mewujudkan misi kasih para
beliau juga harus pindah tugas, tampuk pimpinan bruder ALMA membentuk komunitas dengan hidup
sekarang dipegang saya, Br. Inosensius Wuli, ALMA. Kini bersama dengan kaum disabilitas. Tugas kami adalah
jumlah penghuni komunitas Gandaria berjumlah 27 membantu dan memberdayakan kaum disabilitas yang
orang. ditelantarkan, mencari penyandang disabilitas yang tak
terjangkau oleh masyarakat, mengunjungi orang-orang
Sesuai dengan statuta ALMA PUTERA, ada dua sakit, berbagi kasih dengan memberi sembako kepada
misi yang diemban oleh ALMA. Dua misi itu adalah orang-orang yang membutuhkan dan mendengarkan
iman dan kasih. Maka kehadiran komunitas ALMA di sharing dari mereka.
Gandaria juga dalam rangka mewujudkan apa yang
menjadi misi kami. Selama beberapa tahun menjadi anggota paroki
Langsep, kami merasa paroki ini punya potensi besar
Sebagai perwujudan misi iman, para bruder untuk menjadi paroki yang kuat, baik secara kualitas
turut terlibat membantu di paroki, membagi komuni di maupun kuan tas. Romo dan umat begitu kompak dan
gereja maupun bagi orang sakit, mendoakan orang guyup sehingga karya-karya pelayanan bisa berjalan
sakit, dan ikut terlibat dalam kegiatan di lingkungan. dengan baik. Semoga semangat persaudaraan dan
Para bruder juga pergi ke stasi-stasi, mendorong umat suasana yang harmonis ini bisa terus terpelihara
yang ada di sana untuk mau terlibat dalam pelayanan, sehingga Gereja dak hanya kuat secara fisik tapi juga
misalnya dengan menjadi koster dan lector dan kami secara spiritual. St. Vincen us pelindung paroki kita
adalah seorang pecinta kaum miskin maka sebagai
umat paroki, kiranya kita juga mampu meneladan
semangat dan karisma St. Vincen us untuk semakin
mencintai mereka yang miskin dan terlantar.
Saya, Br. Inosensius Wuli, ALMA selaku pimpinan
komuntas ALMA Gandaria 19 bersama para perawat,
dan anak-anak, mengucapkan selamat ulang tahun
emas kepada Paroki Santo Vincen us a Paulo Malang.
Semoga para romo dan para pengurus paroki tetap
semangat dan se a melayani umat. Tuhan
memberka . Amin.
DOA MENJADI KEKUATAN KITA DALAM BERKARYA 091
Legio Maria Presidium
Maria Pertolongan Orang Kristen
L egio Maria Presidium Maria Pertolongan Ø 1978 – 1985 = Bapak Broto Suyoso
Orang Kristen yang berdomisili di Paroki St. Ø 1985 – 1988 = Sdr. John Daktok
Vincen us a Paulo Malang berdiri karena Ø 1988 – 1994 = Sdri. Lince
jasa Alm. Bapak Broto Suyoso. Presidium ini Ø 1994 – 1995 = kosong dak ada ketuanya,
berada di bawah naungan Senatus “Sinar Bunda
Karmel” Malang pada tanggal 27 Februari 1983. tetapi pertemuan tetap berjalan
Ø 1995 – 2000 = Bu Diana
Sebetulnya Legio Maria di Paroki St. Ø 2000 – 2018 = Bp. F.X. Sunyoto
Vincen us a Paulo Malang terbentuk secara dak Ø 2019 – 2022 = Ibu F.M. Sri Rahayu
sengaja. Saat gereja masih menumpang di
Seminari Langsep 45, banyak anak-anak SMP yang Saat ini Legio Maria sudah berusia 44 tahun,
bermain di gereja se ap minggu. Melihat mereka, namun sulit mencari anggota baru. Mungkin
Rm. Haryanto, CM yang waktu itu menjadi romo karena anggota Legio Maria harus taat dan disiplin
paroki berinisia f untuk membentuk dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan.
perkumpulan untuk mewadahi anak-anak Ketua Presidium Maria Pertolongan Orang Kristen
tersebut. Beliau menunjuk Bapak Broto Suyoso Paroki Langsep dijabat oleh Ibu Sri Rahayu atau
yang nggal di jalam Garbis 12 Malang untuk dikenal dengan Bu Petrus.
mendampingi. Karena merasa kewalahan, Pak
Broto pun mengajak 4 orang ibu, 2 orang bapak, Bu Petrus mengungkapkan bahwa Legio
dan seorang frater ngkat satu. Maka Maria merupakan tentara-tentara Bunda Maria
terbentuklah Legio Maria Presidium Maria untuk menolong orang-orang yang membutuhkan
Pertolongan Orang Kristen Langsep pada tanggal doa. Bersama dengan Serikat Santo Vincen us
28 Februari 1978. Kepengurusan waktu itu: Ketua (SSV) Paroki Langsep, mereka bekerja sama
– Bapak Broto Suyoso, Sekretarisnya Frater membantu umat saat membutuhkan bantuan
Handoko (sekarang Romo Paroki Langsep) dan dalam bentuk barang atau uang.
bendaharanya Ibu Benyamin. Karena kesibukan
Rm. Haryanto, beliau menunjuk seorang frater Saat ini presidium ini terdiri dari 9 anggota
bernama Fr. Karsianto sebagai asisten Pembimbing ak f dan 16 anggota auksilier. Dari 9 anggota ak f,
Rohani (saat ini Rm Karsi berusia 70 tahun dan 4 orang menjabat sebagai perwira dan 5 orang
anggota. Pertemuan para anggota ak f
nggal di Gereja Widodaren Surabaya). dilaksanakan se ap minggu setelah misa kedua.
Anggotanya kurang lebih 10 orang. Saat ini Sementara anggota auksilier punya kewajiban
anggota Legio lama, ada yang berpindah ke luar untuk mendoakan doa katena di rumah untuk
kota dan ada yang tetap berdomisili di Kota Malang membantu anggota ak f agar selalu semangat.
namun telah berusia lanjut. Meski demikian Pertemuan anggota ak f dan auksilier
mereka masih tetap se a mendoakan doa Legio. dilaksanakan sebulan sekali dengan tempat
berpindah-pindah. Para anggota presidum Legio
Berikut ini adalah nama-nama ketua Legio Maria Langsep ini menabung dan 'lotrean' kupon
Maria dari waktu ke waktu: yang dijual senilai Rp. 500,00. Keuntungan yang
092 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
masuk kas auksilier digunakan untuk kegiatan 093
bersama, 1 tahun dua kali; di antaranya kunjungan
ke Pan Jompo dan Gua Maria.
Program Presidium Maria Pertolongan
Orang Kristen, di antaranya bertanggung jawab
melaporkan kegiatan presidium satu tahun sekali
kepada Senatus, mengiku Acies yang
diselenggarakan oleh Senatus, sekali dalam
setahun, hadir dalam misa tutup dan buka tahun di
Senatus – Celaket 21. Selama Pandemi covid 19,
kegiatan Senatus dilaksanakan secara online
dengan peserta terbatas yaitu presidium yang
menyampaikan laporan saja. Sedangkan di Paroki,
setelah vakum selama pandemi kegiatan telah
mulai berjalan sejak awal November 2021. Pada 5
Januari 2022 Legio Maria melaksanakan rekoleksi
bersama Rm. Handoko, CM diiku oleh anggota
ak f dan auksilier. Berikutnya 16 Januari, diadakan
Natalan bersama di pastoran lama. Pada 27
Februari (bertepatan dengan HUT Presidium Legio
Paroki Langsep) dilaksanakan kunjungan ke Gua
Maria SMM dan Kolombarium
Kerjasama yang baik dengan Paroki terus
berjalan, melalui keterlibatan dalam tugas
pelayanan misa Jumat I di gereja. Presidium Legio
Maria Paroki Langsep berterima kasih kepada
Paroki atas dana kategorial dan kini Romo Paroki –
Rm Handoko CM berkenan menjadi pembimbing
rohani. Bu Petrus dan seluruh anggota Presidium
Legio Maria Pertolongan Orang Kristen sangat
mengharapkan kehadiran pembimbing rohani
dalam se ap rapat ru n walaupun sebentar.
Semoga Legio dapat terus menjalankan tugas
dengan baik, selalu rukun dan damai sejahtera,
dan mampu terus menjadi pelita yang
memancarkan cahaya harapan pada sesama.
Amin. (Novida)
DOA MENJADI KEKUATAN KITA DALAM BERKARYA
Sekelumit Kisah
Perjalanan WKRI Cabang V
St. Vincentius a Paulo, Malang
Ke ka wilayah paroki St. Vincen us a Paulo 10. IbuV.MHermienSasmito,1998-2001
masih menjadi bagian paroki Santa 11. IbuF.MArkianto,2001-2003
Perawan Maria dari Gunung Karmel (Ijen) 12. IbuMariaFeliciaJeannewa ,2003-2004
dan Ha Kudus Yesus (Kayutangan) organisasi WKRI 13. Ibu Naniek Chris na, 2004-2007 dan terpilih
sudah mulai ada di wilayah itu. Kehadiran WKRI di
Paroki Langsep diawali dengan kepindahan Ibu kembali 2007-2010.
Sudiharjo bersama keluarganya ke jalan Anggur. Saat 14. Ibu Anastasia Risky Wardani Hermawan, 2010-
itu beliau sudah menjadi anggota WKRI Kayutangan.
Bersama ibu-ibu Katolik lain di sekitar paroki Langsep 2013 dan terpilih kembali 2013-2016
dan berkat dukungan Romo J. Hariyanto yang waktu 15. Ibu Naniek Chris na, 2016-2021 dan terpilih
itu menjadi pastor paroki, berdirilah WKRI Cabang
Langsep pada tahun 1976 dengan Ibu Sudiharjo kembali 2021-sekarang
sebagai ketua. Masa kepemimpinan beliau dari tahun Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh
1976-1978.
WKRI antara lain terlibat dalam pelayanan kor untuk
Tampuk kepemimpinan berikutnya diserahkan misa umat, melakukan kegiatan-kegiatan berbagi
kepada Ibu Ijono. Kegiatan-kegiatan ru n seper kasih, mengiku seminar, dll. Semoga ke depannya
rapat, pertemuan, dan kunjungan ke anggota mulai Romo Paroki bersama para pegurus DPP akan selalu
dilakukan. Saat itu jumlah anggota mencapai ± 50 mendukung kegiatan organisasi WKRI, terutama
orang. Ibu Ijono memegang jabatan sebagai ketua dalam pengkaderan anggota yang lebih baik dan
selama 2 tahun, mulai 1979-1982. Selanjutnya, Ibu inova f. Selamat ulang tahun ke-50, Paroki Langsep.
Petrus menjabat sebagai ketua selama 6 bulan Tuhanmemberka .Amin.
sampai diadakan pemilihan jabatan ketua
selanjutnya. Pada waktu itu Ibu Basuki terpilih
sebagai ketua dari tahun 1982-1985.
Berikut ini adalah nama-nama mereka yang
pernah menjadi ketua dan masa kerjanya:
1. IbuSudiharjo,1976-1978
2. IbuIjono,1979-1982
3. IbuPetrus,selama6bulanpadatahun1982.
4. IbuBasuki,1982-1985
5. IbuSungkono,1985-1988
6. IbuHaryono,1988-1991
7. IbuPetrus,1991-1992
8. IbuDjatmiko,1992-1995
9. IbuBambangSudiatmoko,1995-1998
094 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP
Vox Angelica Mariae
Paroki St. Vincen us a Paulo kaya akan anggota VAM sudah semakin banyak dan
komunitas dan kelompok doa. Salah satu semuanya adalah keluarga-keluarga dari Paroki St.
kelompok doa itu adalah Vox Angelica Vincen us a Paulo, Malang.
Mariae atau sering disebut VAM saja. Vox Angelica
Mariae adalah kelompok doa yang dibentuk oleh Vox Angelica Mariae sendiri memiliki ar
Rm. Petrus Maria Handoko, CM pada tahun 2008. “Suara Maria yang seper Malaikat”. St. Perawan
Pada awal berdirinya, anggota Vox Angelica Maria merupakan pelindung m doa VAM. Seper
Mariae adalah orang-orang yang dulu ak f di kor St. Maria yang mampu menggerakkan Yesus untuk
paroki dan di bidang liturgi. Hingga saat ini, mengadakan mukjizat pada perkawinan di Kana,
harapan m doa VAM adalah, doa mereka
didengar oleh Yesus sehingga mukjizat boleh
terjadi.
Pelayanan yang diberikan oleh VAM secara
ru n adalah klinik doa dan misa untuk orang sakit.
Sebelum pandemi, klinik doa diadakan se ap hari
Jumat pada minggu ke-2 dan ke-4. Sementara misa
untuk orang sakit diadakan satu kali ap bulan.
Hanya saja selama pandemi ini, klinik doa
di adakan dan misa untuk orang sakit diadakan
DOA MENJADI KEKUATAN KITA DALAM BERKARYA 095
secara daring dan luring, di Paroki St. Vincen us a atas penyakit yang dideritanya.
Paulo, Malang. Mereka yang sakit ini bukan hanya sakit
Karena masih banyak umat yang mengiku secara fisik seper miom, kista, gerd, dan lainnya,
misa untuk orang sakit secara daring, maka intensi melainkan juga mereka yang sakit secara mental,
atau doa untuk sakit yang mereka derita dikirim maupun yang mungkin diserang oleh kekuatan
melalui e-mail dan aplikasi Whatsapp. Semua “gaib”. Apalagi semenjak pandemi ini, banyak
intensi yang masuk pada saat misa orang sakit, sekali orang yang terserang ba nnya dan hidupnya
akan didoakan oleh VAM selama satu bulan penuh menjadi dak tenang.
hingga misa untuk orang sakit berikutnya.
Selain ak f berdoa bersama mereka yang
Alasan mengapa disebut misa untuk orang sakit, anggota m doa VAM yang adalah warga
sakit dan bukan misa penyembuhan, karena VAM paroki juga terlibat ak f dalam pelayanan di Paroki
yang diketuai oleh Rm. Petrus Maria Handoko, CM St. Vincen us a Paulo, Malang. Semoga m doa
VAM tetap semangat dalam memberikan
dak mau misa ini menjadi karya penyembuhan pelayanan yang terbaik, baik bagi mereka yang
individu. Hal yang ingin ditekankan pada misa sakit maupun bagi kelangsungan hidup Paroki St.
untuk orang sakit adalah bahwa yang bisa Vincen us a Paulo, Malang. (Veda)
menyembuhkan adalah Tuhan sendiri, bukan
manusia. Sehingga yang dilakukan oleh m doa
VAM hanyalah berdoa bersama mereka yang
memiliki penyakit, supaya mereka yang sakit lebih
kuat dalam menghadapi penyakitnya dan mampu
memohon kesembuhan pada Tuhan. Tim doa VAM
ibarat penopang di sisi kanan-kiri mereka yang
sakit dalam berdoa memohon kesembuhan, agar
mereka dak pernah lelah berdoa kepada Tuhan
096 BUKU KENANGAN 50 TAHUN PAROKI SVAP