The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by misbahul munir, 2020-07-22 06:41:00

Kupas Tuntas Masalah Takdir

Kupas Tuntas Masalah Takdir

Demikian pula kekuasaan dapat mengubah akhlak dan meng-
ingkari sahabat karib, baik karena buruknya tabiat mauPun sem-
pitnya dada.

Sebaliknya dari hal itu ialah pemecatan. Adakalanya hal itu

dapat memburukkan akhlak dan menyempitkan dada, baik karena
kesedihan yang mendalam maupun karena kurangnya kesabaran.

Begitulah, keadaan-keadaan tersebut menjadi tidak lurus pada
garis keadilan, karena keterbatasan, kebodohan, kelemahan, dan
kekurangan dalam diri hamba tersebut.

Kecuali orang yang beriman kepada qadar dengan sebenarnya,
maka kenikmatan tidak membuatnya sombong dan musibah tidak
membuatnya berputus asa, kekuasaan tidak membuatnya congkak,
pemecatan tidak menurunkannya dalam kesedihan, kekayaan tidak
membawanya kepada keburukan dan kesombongan, dan kefakiran
pun tidak menurunkannya kepada kehinaan.

Orang-orangyang beriman kepada qadar menerima sesuatu
yang menggembirakan dan menyenangkan dengan sikap menerima,
bersyukur kepada Allah atasnya, dan menjadikannya sebagai sarana
atas berbagai urusan akhirat dan dunia. Lalu, dengan melakukan
hal tersebut, mereka mendapatkan, berbagai kebaikan dan keber-
kahan, yang semakin melipatgandakan kegembiraan mereka.

Mereka menerima hal-hal yang tidak disenangi dengan keridhaan,
mencari pahala, bersabar, menghadapi apa yang dapat mereka
hadapi, meringankan ap^yang dapat mereka ringankan, dan dengan
kesabaran yang baik terhadap apa yang harus mereka bersabar
terhadapnya. Sehingga mereka, dengan sebab itu, akan mendapatkan

berbagai kebaikan yang besar yarg dapat menghilangkan hal-
hal yang tidak disukai, dan digantikan oleh kegembiraan dan
harapan yang baik."

'IJmar bin 'Abdul'Aziz'+16 berkata, "Aku memasuki waktu

pagi, sedangkan kebahagiaan dan kesusahan sebagai dua kendaraan
di depan pintuku, aku tidak peduli yang manakah di antara keduanya
yang aku tunggangi."ie

r8 Lihat, al-Hirnmatul'Aaliyah,hd' 22L-230.
3' Al-Kitaabul Jaami' li Sirab '[Jmar bin 'Abdil 'Aziz al'Kbaliifuh al'Khaa-if

46 Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalah Qod",

20. Selamat dari kedengkian dan penentangan.

Iman kepada qadar dapat menyembuhkan banyak penyakit
yang menjangkiti masyarakat, di mana penyakit itu telah mena-
namkan kedengkian di antara mereka, misalnya hasad yang hina.
Orang yang beriman kepada qadar tidak dengki kepada manusia
atas karuniayangAllah berikan kepada mereka, karena keimanan-
nya bahwa AllahJah yang memberi dan menentukan rizki mereka.

Dia memberikan dan menghalangi dari siapa yang dikehendaki-Nya,
sebagai ujian. Apabila dia dengki kepada selainnya, berarti dia me-

nentang ketentuan Allah.

Jika seseorang beriman kepada qadar, maka dia akan selamat
dari kedengkian, selamat dari penentangan terhadap hukum-hukum
Allah yang bersifat syar'i (syari'at) dan ketentuan-ketentuan-Nya
yang bersif.at kauni (sunnatullah), serta menyerahkan segala uru-
sannya kepada Allah semata.no

21. Mengetahui hikmah Allah,Fr.

Iman kepada qadar dengan carayangbenar akan mengungkap

bagi manusia hikmah Allah & dalam aPayang ditentukan-Ny",

berupa kebaikan dan keburukan. Lantas dia mengetahui bahwa di
balik pemikirannya dan imaiinasinya adaDzar yang lebih agung,

lebih tahu, dan lebih bijaksana.

Karena itu, seringkali sesuatu teriadi dan kita tidak menyrrkainya,

padahal hal itu baik bagi kita, dan seringkali kita melihat sesuatu
memiliki maslahat secara zhahirnya, sehingga kita pun menyukai
dan menginginkannya, tetapi hikmah tidak menghendakinya.

Sebab, Dzat yang mengatur manusia lebih tahu tentang kemasla-
hatannya dan akibat perkaranya. Bagaimana tidak, sedangkan Allah

$i$ berfirman,

oi b "F i t Q- 1;K oi b*3 b

W'r-'g

al-Kbaasyi', 'IJmar bin Muhammad al-Khadhr, yang dikenal dengan al-Mula',
tahqiq Dr. Muhammad Shidqi al-Burnu, (I/436).
40 Lthat, Majallab al-Buhuuts, (no. 34, hal. 250), pembahasan tentang lVasatbiyyah

Ablis Sunnabfi.l Qadar, oleh Dr.'Awwad al-Mu'tiq.

Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalah Qadar 47

& q 1#:h\,-J/& ti. i ,l TriS trtS"'rs.: y,

{@

"...Boleb jadi kamu membenci sesuzttu, padabal ia amat baik, ba-
gimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padabal ia
amat buruk bagimu, Allah rnengeahui, sedang hamu tidak menge-
tahui.' (QS. Al-Baqarah : 216)

Di antara rahasia ayat ini dan hikmahnya adalah, bahwa ayat
ini mengharuskan hamba untuk pasrah kepada DzatYangmenge-

tahui berbagai akibat urusannya dan ridha dengan apa yang diten-
tukan-Nya atasnya, karena dia mengharapkan kepada-Nya akibat
baik (dari urusan)nya.

Di antara rahasia lainnya, dia tidak mencela Rabb-nya dan tidak
meminta kepada-Nya sesuatu yangmana ia tidak memiliki penge-
tahuan mengenainya, karena mungkin kemudharatan bagi dirinya
terletak di dalamnya, sedangkan ia tidak mengetahui. Ia tidak me-
milihkan kepada Rabb-nya, tetapi ia meminta kepada-Nya akibat

yang baik dalam apa y ang dipilihkan-Nya untuk nya. Baginya, ddak
adayanglebih bermanf.aat daripada hal itu.

Karena itu, di antara belas kasih Allah kepada hamba-Nya ialah
mungkin jiwa hamba menginginkan salah satu hal keduniaan,yang
mana ia menganggap dengan hal itu dia dapat mencapai tujuannya.
Tapi Allah mengetahui bahwa itu merugikan dan menghalanginya

dari apa yang bermanfaatbaginya,lalu Dia pun menghalangi antara
dirinya dengan keinginannya itu, sehingga hamba tersebut tetap
dalam keadaan tidak suka, sementara itu ia tidak mengetahui bahwa
Allah telah berbelas kasih kepadanya, di mana Dia mengokohkan
perkara yang bermanf.aat baginya dan memalingkan perkara yang
merugikan darinya.tl

Betapa banyak manusia -sebagai contoh- yang menyesal, ketika
ketinggalan waktu take offpesawat terbang, dan wnyata penyesalan

t' Lihat, al-Mautaahibur Rabbaanilryab minal Aayaatil Qur-aan, Ibnu Sa'di, hal.

151.

48 Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalab Qodo,

tersebut hanya sementara. Kemudian dikabarkan tentang jatuhnya
pesawat (y^ngtelah lepas landas) dan semua penumpangnya tewas.

Betapa banyak manusia yang sesak dan sempit dadanya karena
kehilangan sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yar.g me-

nyedihkan. Ketika perkara itu tersingkap dan rahasia takdir itu
diketahui, Anda pasti melihatnya dalam keadaan senang gembira,

karena akibatnya ternyata baik baginya.

Sungguh indah ucapan orang yang mengatakan:

Betapa banyak kenikmatan ydng tidak Anda dnggap sedikit
dengan bersyukur kepada Allab dtdsnya
bersembunyi dalam lipatan sesudtu yang tidah disukai'2

I-Icapan lainnya:

Perkara-perkara itu berjalan sesuai ketentuan qadba'
dan dalam lipaan kejadian, yang disuhai dan ydng ti"d"4k disukai

Mungkin menyenangkanku sesuatu ydng dulunya aku hindari
dan mungkin buruk bagiku sesuatu yang dulunya aku barapkano3

22.Membebaskan akal dari khurafat dan kebathilan.

Di antara kepastian iman kepada qadar ialah mengimani bahwa
apa yangtelah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan
terjadi di alam semesta ini adalah berdasarkan pada qadar (keten-

tuan) Allah &. Dan bahwa qadar Allah adalah rahasia yang ter-

sembunyi, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia tidak
memperlihatkannya kepada seorang pun kecuali kepada siapa yang
diridhai-Nya, dari Rasul-Nya. Sesungguhnya Dia menjadikan pen-
jaga-penjaga S4alaikat) di muka dan di belakangnya.

Dari titik tolak ini, anda melihat orang yang beriman kepada

qadar tidak bersandar kepada para dajjal dan pesulap (pendusta),
serta tidak pergi kepada para dukun, peramal dan orang-orang
"pintar". Ia tidak bersandar kepada ucapan-ucapan mereka, tidak
pula tertipu dengan penyimpangan mereka dan kedustaan mereka.
Ia hidup dalam keadaan terbebas dari kesesatan ucapan-ucapan
tersebut dan dari semua khurafat dan kebathilan itu.

a2 Jannatur Ridhaa'fit Tasliim limaa Qaddara ua Qadhaa', [I/52).
a1 Jannatur Ridhaa'fit Tasliim limaa Qaddara wa Qadbaa', (I/52).

Bab Pertama: Keyahinan yang Benar Dalam Masalah Qadar 49

Labid bin Rabi'ah 4iY berkata:

Sungguh para dukun dan peramal tidak tabu
apa yang Allah akan perbuat

Bertanyalab kepada mereka, jika kalian mendustakanku

kapankab seorang pemuda merasakan kematian atau kapankab
bujan akan turunoo

23.Ketenangan hati dan ketentraman jiwa.

Perkara-perkara ini termasuk dari buah keimanan kepada qadar,
dan ini termasuk di antara sekian banyak manfaat yang telah di-
sebutkan sebelumnya. Ini merupakan hal yang dicari-cari, tujuan
yang didambakan, dan_puncak trrl.r* yang_dimaksud, karena semua
manusla mencannya dan berusaha meraihnya' Tapi, sebagaimana

dikatakan:

Semua ordng dalam hidup ini mencari buruan

b any a saj a, peran gkapny a berbe da- beda

Tidak ada yangmengetahui perkara-perkara ini, tidak ada yang
merasakan manisnya, dan tidak adayang mengetahui hasil-hasilnya,
kecuali orang yang beriman kepada Allah beserta qadha' dan qadar-
Nya. Orangyang beriman kepada qadar hatinya tenang, jiwanya
tentram, keadaannya tenang, dan tidak banyak berpikir mengenai
keburukan yang bakal datang. Kemudian, jika keburukan tersebut
datang, hatinya tidak terbang tercerai-berai, tetapi dia tabah terhadap
hal itu dengan mantap dan sabar. Jika sakit, sakitnya tidak menam-
bah keraguannya. Jika sesuatu yang tidak disukai datang kepadanya,
dia menghadapinya dengan ketabahan, sehingga dapat meringan-
kannya. Di antara hikmahnya ialah agar manusia tidak menghimpun
pada dirinya ant^ra kepedihan karena khawatir terhadap datangnya
keburukan dengan kepedihan karena mendapatkan keburukan.

Tetapi dia berbahagia, selagi sebab-sebab kesedihan itu jauh
darinya.Jika hal itu terjadi, maka dia menghadapinya dengan ke-
beranian dan keseimbangan jiwa.

Anda melihat pada diri orang-orang khusus dari kalangan umat
Islam, dari kalangan ularna 'amilin (ulama yang mengamalkan ilmu-
nya) dan ahli ibadah yangtaat lagi mengikuti Sunnah, berupa ke-

44 Diiutaan Labid bin Rabi-ab, hal. 90.

50 Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dakm Masalab Qod",

renangan hati dan ketentraman jiwa yang tidak terbayangkan dalam
benak dan tidak pula terbayang dalam imajinasi. Mereka dalam
hal ini memiliki derqaryang tinggi dan kedudukan yang semPurna.

Inilah Amirul Mukminin,'LJmar bin'Abdil' Aziz'ib-; menga-
takan, ..Aku tidak mendapatkan kegembiraan kecuali dalam hal-

hal yang sudah diqadha' dan diqadarkan."ns

Syaikhul Islam, Abul'Abbas Ahmad Ibnu TaimiW?h'.,ifvu me-
ngat;kan, "sesungguhnya di dunia ini ada Surga, yangbatang_siapa
tidak pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki Surga

akhirat."o6

Beliau mengatakan dengan Pernyataan yang terkenal, ketika
dimasukkan dalam penjara, "Apakah yang akan diperbuat para
musuhku terhadapku, sedangkan Surgaku dan tamanku ada dalam
dadaku, ke mana aku pergi maka ia selalu bersamaku, tidak pernah
berpisah denganku. DipenjarakanrLy^ aku adalah khulwab (menyepr),
pembunuhan terhadapku adalah syahadah (mati sebagai syahid),

d"r, p"t grrsiranku dari negeriku adalah wisata."nz

Bahkan Anda melihat ketentraman hati, ketenangan hidup,
dan keyakinan yang mantap pada kaum muslimin yang awam,YMB
tidak Anda dapatkan pada para tokoh pemikir, penulis dan dokter
dari kalangan non muslim. Betapa banyak para dokter dari kalangan
non muslim -sebagai contoh- yang heran, ketika menangani Pengo-
batan pasien muslim. Tampak olehnya bahwa pasien tersebut men-
derita penyakit yang berbahaya, misalnya kanker. Anda melihat
dokter ini bingung bagaimana cara memberitahukan kepada pasien
tentang penyakitnya. Anda melihatnya ragu-ragu, dan Anda meli-
hatnya mulai membuka pembicaraan serta membuat beberapa
prolog. Semua itu dilakukan karena takut pasien akan shok karena
mendengarkan kabar ini.

's Jaami'ul'(Jluum ual Hiham,Ibnu Rajab, (/287) dan lihat, Siirab'Umar bin

'A bdil'Aziz, Ibnu' Abdilh akam, hal. 97 .
a6 Al-lV'aabilush Shayyib minal Kalimitb Thayyib,Ibnul Qayyim, hal' 69 dan

asy-Syabaadatuz zahiyyab /ii Tsanaa-il A-immah 'alaa lbni Tairniyyah,karya

Mar'il Karami al-Hanbali, hal. 34.
47 Dzail Tbabaqaatil Hanaabilab,Ibnu Rajab, FI/402) dan lihat, al-lvaabilush

Sha1ryib, hal. 69.

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dakm Masalah Qodo, 51

Namun, ketika dokter memberitahukan kepadanya akan penya-
kitnya dan menjelaskan penyakitnya kepadanya, ternyata pasien

ini menerima kabar ini dengan jiwayangridha, dada yang lapang,

dan ketenangan yang mengagumkan.

Keimanan kaum muslimin kepada qadha' dan qadar telah men-
cengangkan banyak kalangan non muslim, lalu mereka menulis
tentang perkara ini untuk mengungkapkan ketercengangan mereka
dan mencatatkan kesaksian mereka tenrang kekuatan tekad kaum
muslimin, kebesaran jiwa mereka, dan penyambutan mereka yang
baik terhadap berbagai kesulitan hidup.

Ini adalah kesaksian yang benar dari kaum yang tidak beriman
kepada Allah serta kepada qadha' dan qadar-Nya.

Di antara orang-orangyangmenulis renrang masalah ini ialah

penulis terkenal, R.N.S. Budly, penulis bu,kt: Angin di Aus Padang
Pasir dan ar-Rasuul, serta 14 buku lainnya. Dan juga orarrgyang
mengemukakan pendapatny^ yaitu Del Carnegie dalam bukunya,
Tinggalkan Kegalauan dan Mulailab Kebidupan, dalamarrikel yang
berjudul, Aku Hidup Dalam Surga Allab.

Budly menuturkan:

"Pada tahun 1918 aku meninggalkan dunia yang telah aku kenal
sepanjang hidupku, dan aku merambah ke arah Afrika utara bagian
barat, di mana aku hidup di tengah-tengah kaum badui di padang

pasir. Aku habiskan waktu di sana selama tujuh tahun. Selama
waktu itu aku memperdalam bahasa badui, aku memakai pakaian

mereka, makan dari makanan mereka, berpenampilan ala mereka,
dan hidup seperti mereka. Aku mempunyai kambing-kambing, dan
aku tidur sebagaimana mereka tidur dalam tenda. Aku mendalami
studi Islam sehingga aku berhasil menyusun sebuah buku tentang

Muhamm"d ffi yang berjudul ar-Rasuul. Tu]uh tahun yang aku

habiskan bersama kaum badui yang hidup berpindah-pindah (no-
maden) tersebut merupakan tahun-tahun kehidupanku yang paling
menyenangkan, dan aku mendapatkan kedamaian, ketentraman,
dan ridha terhadap kehidupan ini.

Aku belajar dari bangsa 'Arab padang pasir bagaimana mengatasi

kegelisahan, karena mereka sebagai muslim, beriman kepada qadha'

52 Bab Pertama: Kqahinan yang Benar Dalam Masalah Qod",

dan qadar. Dan keimanan ini membantu mereka untuk hidup dalam
rasa aman, dan mengambil kehidupan ini pada tempat pengambilan
yang mudah dan gampang. Mereka tidak terburu-buru pada suatu
perkara, dan tidak pula menjatuhkan diri mereka di tengah-tengah

kesedihan karena gelisah terhadap suatu masalah.

Mereka beriman bahwa yang telah ditakdirkan Pasti akan
terjadi, dan seorang dari mere^kpaatidak akan tertimpa suatu musibah

kecuali apa,y^ngtelah ditentukan Allah untuknya.

Ini bukan berarti bahwa mereka pasrah atau pasif, dengan waiah
sedih dan berpangku tangan, sekali-kali tidak."

Kemudian, setelah itu, dia mengatakan:

"Biarkan aku membuatkan untukmu suatu permisalan terhadap

apa yang aku maksudkan: Pada suatu hari angin bertiup kencang
yang membawa pasir-pasir padang pasir, melintasi laut tengah, dan

menghantam lembah Raun di Prancis. Angin ini sangat Panas,

sehingga aku merasakan seakan-akan rambutku terlepas dari tempat

tumbuhnya, karena terjangan hawa panas, dan aku merasa seolah-

olah aku didorong menjadi gila.

Tetapi bangsa 'Arab tidak mengeluh sama sekali. Mereka meng-
gerakkan pundak-pundak mereka seraya mengatakan dengan ucaPan
mereka yang menyentuh, "Qadha' yang telah tertulis."

Tetapi, angin kencang tersebut memotifasi mereka untuk be-

kerja dengan semangat yang besar. Mereka menyembelih kambing-
kambing muda sebelum panas membinasakan kehidupannya, ke-
mudian mereka menggiring ternak ke arah selatan menuju air.

Mereka melakukan hal ini dengan diam dan t€nang, tidak tampak

suatu keluhan pun dari salah seorang mereka.

Ketua suku, asy-Syaikh, mengatakan, 'Kita tidak kehilangan
sesuatu yang besar, sebab kita diciptakan untuk kehilangan segala
sesuatu. Tetapi puji dan syukur kepada Allah, karena kita masih

mempunyai sekitar 4Oo/o dari ternak kita, dan dengan segala kemam-
puan kita, kita akan memulai aktifitas kita kembali.'

Kemudian Budly mengatakan, "Ada kejadian lainnya. Kami
menempuh padang pasir dengan mobil pada suatu hari, lalu salah
satu ban mobil pecah, sedangkan sopir lupa membawa ban serep.

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalab Qadar 53

Aku pun dikuasai kemarahan, kegelisahan, serta kesedihan. Aku
bertanya kepada sahabat-sahabatku dari kalangan'Arab badui,
'Apakah yang bisa kita lakukan?'

Mereka mengingatkanku bahwa kemarahan sama sekali tidak
ada gunanya, bahkan iru dapat mendorong manusia kepada tindakan
gegabah dan bodoh.

Kemudian mobil berjalan mengangkut kami hanya dengan tiga
roda. Tetapi tidak lama kemudian mobil tidak bisa berjalan, dan
saya tahu bahwa bensinnya habis.

Anehnya, tidak seorang pun dari sahabat-sahabatku dari kalangan
'Arab badui yang marah, dan mereka tetap tenang, bahkan mereka
berlalu menyusuri jalan dengan berjalan kaki."

Setelah Budly mengemukakan pengalamannya bersama bangsa
'Arab gurun, dia mengomentari dengan pernyataan: "Tujuh tahun
yang aku habiskan di padang pasir di tengah-tengah bangsa'Arab
nomaden telah memuaskanku, bahwa orang-orartg yangstres,
orang-orangyaurtgsakit jiwa, dan orang-orang mabuk yang dipelihara
oleh Amerika dan Eropa, mereka tidak lain hanyalah korban pera-
daban yang menjadikan "sesuatu yang sementara" sebagai landa-

sannya.

Saya tidak mengalami kegelisahan sedikit pun ketika tinggal
di gurun pasir, bahkan di sanalah, di Surga Allah, saya mendapatkan
ketentraman, qana'ab, dan ridha."

Akhirnya, dia menutup pernyata nnya dengan ucapannya:
"fungkasnya, setelah berlalu tujuh belas tahun sesudah meninggalkan

padang pasir, saya tetap mengambil sikap bangsa'Arab berkenaan
dengan ketentuan Allah, sehingga saya menghadapi kejadian-kejadian
y^rLgsayatidak berdaya di dalamnya dengan ketenangan, ketundukan,
dan ketentraman.

'Watak yangsay^ ambil dari bangsa'Arab ini telah berhasil
dalam menentramkan syarafku, yang lebih banyak dibandingkan
apa yang dihasilkan oleh ribuan obat-obat penenang dan klinik-
klinik kesehatan."t8

48 Da'il Qalaq uabdaa-il Hayaab, Del Carnegie, haJ,. 29L-295 dan lihat, al-Iirnaan
bil Qadhaa' anl Qadar toa Atsaruhu'alal Qalaq an-Nafsi, karya Tharifah bin
Su'ud asy-Syuwai'ir, hal. 7 4-7 5.

54 Bab Pertama: Keyakinanyang Benar Dakm Masalah Qodo,

Pembabasan Ketiga

Dalil-Dalil Iman Kepada Qadha' dan Qadar

Dalil yang menunjukkan rukun yang agung dari rukun-rukun
iman ini ialah a1-Qur-an, as-Sunnah, ijma', fitrah, akal, dan panca

indera.

Dalil-Dalil dari al-Qur-an

Dalil-dalil dari al-Qur-an sangat banyak, di antaranya firman
AllahJ8:

(@ (r:fr13'i;ti;i6fi b

"...Ddn adalah ketetapan Allab itu suatu ketetapan yang pdsti

berlaku. " (QS. Al-Ahzab:38)
Juga firman-Nya:

S2*:, 6t X

"sesungubnya Kami nrcncipukzn xgah sesud.tu rnsnr,ffat ukrtrdn."
(QS. Al-Qamar:49)
Dan juga firman-Ny a yang lain:

,)+!;ilii G: ,*,t? v'r,e *! ru, u o!)Y

4@)b

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah kba-
zanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan

ukuran tertentu. " (QS. Al-Hijr: 21)

Juga firman-Nya:

(6 oi6i#Y'liOtfr)gJ)Y

"Sampai waktu yang ditentukan, hlu Kami tentukan (bentuknya),

maha KamiJab sebaik-baik ydng ?Ttenentukan. " (QS. Al-Mursalaat:
22-23)

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalab Qodo, 55

Juga firman-Nya yang lain:

{@ i;'"i)'r ;P+ ii *
,r'

"...Kemudian engkau datang rnenurut uaktu yang ditetapkan
hai Musa. '(QS. Thaahaa: 40)

Dan juga firman-Nya:

{ e G P,Li':a,.;-*'JL -,>s': Y

"...Dan Dia telah mencipukan segah rrr,rirr, dan Dia mencapkzn
ukuran-ukilrutnny a. dengan serap i-rapiny a. " (QS. Al-Furqaan: 2)

Dan firman-Nya yang lain:

( 6> u-$:'u a;fisb

"Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi
petunjuh. " (QS. Al-A'laa: 3)

Firman-Nyayanglain

(6 ilZ 3ta7ii,i

"... (Allab rnernryernukan kedua pasukan itu) agar Dia mehkukan
sildtu urusan yang mesti dilaksanakar..." (QS. Al-Anfaal: 42)

Serta firman-Nya yang lain :

6 Iu.'t:fi c'b'";1i
o &:rt) $ c*as:b

(@ e',

"Dan telab Kami tetaphan terbadap Bani Israil dalam X;iob;tu,
'sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di rnuka bumi
ini dua kali..." (QS. Al-Israa': 4)

56 Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masakb Qodo,

Dalil-Dalil dari as-sunnah

Sementara dari sunnah ialah seperti sabda Nabi ffi, sebagaimana
yang terdapat dalam hadits Jibril ,€:

...:r) |f.9..,o. .'-?. z ctz

:Mu..,:qF)..-
"...Dan engkau beriman kepada qadar, yang baik maupun yang

buruk... ."'e

Muslim meriwayatkan dalam kitab Sbahiih dari Thawus, dia

mengatakan, "Saya mengetahui sejumlah orang dari paru, Sahabat

IRaamsuelulallnajhutfkfain,^r"nDgantaakkaun,m'seengdaelansgeasru'Aatbudduellnaghanbkinete'I-nJrmuaanr takdir.'

menga-

takan, 'Segala sesuatu itu dengan ketentuan takdir hingga kelemahan

dan kecerdasan, atau kecerdasan dan kelemahan."'s0

Nabi ffi bersabda:

is 'ots ,i)i';i .p"; ":)r;: ,,t 'd:.t i',s{s...

',F" ir; ct it );' ot ,p, ,tk')

;A

". . Jika sesuatu menimp amu, maka :1*g^nl^h-.r, gj"t"k*,' S.-

andainya aku melakukannya, niscaya akan demikian dan demi-

kian.' Tetapi ucapkanlah, 'Sudah menjadi kerenruan Allah,

dan apa yang dikehendakinya pasti terjadi... .''s1

Demikianlah (dalil-dalil tersebut), dan akan kita temukan dalam

kitab ini dalil-dalil yang banyak dari al-Qur-an dan as-Sunnah,

sebagai tambahan atas apa yang telah disebutkan.

Dalil-Dalil dari Iima'

Sedangkan menurut ljma', maka kaum muslimin telah bersepakat

tentang kewajiban beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk,

yang berasal dari Allah. An-Nawawi ,ulil5 berkata, "Sudah jelas

49 HR. Muslim, kirab al-limaan, (I/38, no. 8).

50 Muslim, (no. 2655) diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam al-Musnad, yang

diteliti oleh Ahmad Syakir, Nm/$2, no. 5893), dan diriwayarkan oleh Malik
dd,am al-Muuatbthd', [I/ 879).

HR. Muslim, (no. 2664).

Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalab @d", 57

dalil-dalil yang qath'i dari al-Qur-an, as-Sunnah, ijma' Sahabat, dan

Ablul Hil wal Aqd dari kalangan salaf dan khalaf tentang ketetapan

qadar Allah &."s2
Ibnu Hajar uiiir-be:-ka''a, "Sudah menjadi pendapat salaf seluruhnya

bahwa seluruh perkara semuanya dengan takdir Allah Ta'ala.us3

Dalil-Dalil dari Fitrah

Adapun berdasarkan fitrah, bahwa iman kepada qadar adalah
sesuatu yang telah dimaklumi secara fitrah, baik dahulu maupun
sekarang, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali seiumlah
kaum musyrikin. Kesalahannya tidak terletak dalam menafikan
dan mengingkari qadar, tetapi terletak dalam memahaminya me-
nurut c^ra yang benar. Karena itu, Allah ,!E berfirman tentang
kaum musyrikin:

.J: tA, Tto ( -t;,i.tr, t;t:L iiiriUtt-tJrUy

(@ eict;

" Orang- orang yd.ng rnempersekutukan Allab, akan mengatakan,
'Jika Allah mengbendaki, niscaya kami dan bapak'bapak kami
ti^dak mempersekutukan-Nya... .' " (QS. Al-An'aam: 1a8)
Mereka menetapkan kehendak (masyii-ab) bagi Allah, tetapi
mereka berargumen dengannya at^s perbuatan syirik. Kemudian

Dia menjelaskan bahwa ini merupakan keadaan umat sebelum

mereka, dengan firman-Nya:

{ @ ;4? o, 3)-;fr +k 3t' i-L^ "' Y

"... Demihian pulalab oraig-orangydng sebelum mereka telab
mendustahan (para Rasul)...." (QS. Al-An'aam: 14S)

52 Syarb Sbabiib Muslim, an-Nawawi, (/L55).
s3 Fat-bul Bdai, VI/287) lihat, Syarb ushual lltqdad Abli$ Sunnah anl Jarnaa'ab,

al-Lalika-i, (Itrl53+538), di mana dia menukil ijma' atas hd itu dari sejumlah
besar kaum salaf, dan lihat, Majmuu'ul Fataautad, NIII/449,452,459).

58 Bab Pertama: Kryakinan yang Benar Dakrn Masakb Qodn

Bangsa 'Arab di masa Jahiliyyah mengenal takd.ir dan tidak
moe"m" a'indg"ktealadha orang yang berpendapat
i-l.;r;rgirr,["k.r*ra,.r, itpy.ar,tsretr"tairdui ada sebelumnya (terjadi

;;;gr" sendirinya, tanPa ada Yang menghendakinya)'
suecbaaHpgaaainml'Aainnnit^akryiata^ht:liguJmirp.abit"ske"cta' raseLbyealutamdnaylaam' dasnyase'ibr-asgyaaim'iranmaedraelkaam'

tvahai tetumbuhan, ke mana aku akan lari dari kematian

jiia Rabb'ku d.i langit telab menentukannyas'

Sebagaimana iuga ucaPan Tharfah bin al-'Abd:

Seand.ainyaRabb.kumenghend.aki,niscayaakumenjadiQaisbin
Kbalid
dan sekiranya Rabb-ku mengbendaki' niscaya ak'u menjadi'Amr
bin Martsaffs

Suwaid bin Abu Kahil berkata:
YangMaha Pemurah, dan segah puji untuk-Nya' telah mmuliskan

keluasan akhlak paia ko*ib'gitu juga kebengkokannyas'

Al-Mutsaqqib al-'Abdi berkata:
Aku yakin, jika Rabb mengbendaki,-
U,t,*oronfi kekuatan d'an"tujuan'Nya akan sampai kepadahut'

Zrhair berkata:
Jangan menyembunyikan kepada Allab d'pd' yang ada dalam jiua

kalian dan meskiPun disembunyikan Allah tetaP
d.gd.r tersembunYi,

mengetahuinYa

Dia menund.a lalu diletakkan dalam kitab untuk disimpan
Uog, t orl t'rngbisaban', atau d'isegerakan untuk diberi balasansg

to Diiwaan'Antarah, hal. 7 4' s9

55 Syarh al-Mu'allaqaatil'Asyr, az-Zauzani' hal' 119'

% A l'M,4fddh'd.haliyy aat, al-Mufadh-dhal adh-Dhabi' hal' 197'

s'1 Al-MufddhdhaliyYaat, hal. 151'
58 Syarh Diiuaan Zuhair bin Abi Sulma'hil' 25'

Bab Pertaru: Kqakinan yang Benar Dalam Masakb Qadar

Sebagaimana kita dapati juga dalam khutbah-khutbah mereka,
::p"Iidalam perrLyataan Hani, bin Mas,ud
pada hari T'r.ziqrr, .a.ssJyr_"Srigyagi.briannyiadalam
khutbahnya y.Tg pTllur sikap
waspada (hati-hati) tidak dapat menyelam"rt r" drri t'"iJir.,,r,

mutTlaikd,rksesbeaograainmgapnuanyadnagri mereka yang menafikan qadar secara

ditegaskan oleh salah ,.oirrrg pakar
bahasa'Arab, Abul'Abbas Ahmad bin yahya Tsa'lab ,rrwlirngu,
ucapannya "Saya tidak mengetahui ada orang .Arab yang meng_
ingkari takdir." Ditanyakan kepadan ya,,, Apakah di hatlorrrri_
orang'Arab terlintas pernyataan menafikan t"kdir?" Ia menjawaL,
"Berlindunglah kepada Allah, tidak ada pada bangsa .Arab kecuali
lm.aehnileiytaypakhanmtaaukdpiur,nysaenmgabsaaikIs,lra"m,.r.ppr'y"ra.nryg"bi"u*i,rmk,ebreakika
banyak dan jelas." Kemudian dia mengu.rpkrn sya,ir: semasa
sangar

Takdir-takdir berlaku atas jarum yang mendncap

dan tidahlah jarum berjalan *rloirki, dengan'tahd.ir

Lalu dia mengucapkan sya,ir milik Umru_ul eais:

Kesengsaraan pada dua kesengsaraan telab tertuliskan6o

Labid berkatat

B_ertakua kepada Rabb kami adarah sebaik-baik kezaajiban
dan dengan seizin Altah hidup dan ajalku

lky memuji Allah dan tidak ada sekutu bagi_Nya

di kedua ungan'Nya tergengdm kebajikan, opo y*s dikcbendzki-

Nya pasti terjadi

Siapa yang diberi petunjuk kepada jakn kebajikan, maka dia tekb

mendapat petunjuk dan hidupnya menyenangkan
dan siapa.yang dikebendaki-Nya (uniuh diesatkan), maka Dia
menyesatkannya'

Al'Amaali, Abu 'Ali al-eali, o./17L), Jambaratul Kbuthabil ,Arab, Ahmad
h7a*lr.-3!h3.afwaq {./32), dan Taariikbl )a"U;t Arabi,Ahmad Hu^n o_Z^W^t,

Lihat, syarb usbuul lreaad Abris sunnah aur Jamaa'ah, al-Lalika-i, GII/53g)
dan lihat, IV/704-705) dari kitab yang sama.

60 Bab Pertama: Kqtabinan yang Benar Dalarn Masalab eodo,

Ka'b bin Sa'ad al-Ghanawi berkata:

Tidnkkdb engkau nxenget1btti babuta dudukhu tid.ak menjaubkan
kematianku darihu
dan tidak pula hepergianku mendekatkanku kepada kematian

Bersarna takdir yangpasti, bingga kematiznku menimpahu

seandainya jian tidak terburu-buru62

Dalil-Dalil dari Akal

Sedangkan dalil akal, maka akal yang sehar memastikan bahwa

AllahJah Pencipta alam semesta ini, Yang Mengaturnya dan Y*g

Menguasainya. Tidak mungkin alam ini diadakan dengan sistim

yang menakjubkan, saling menjalin, dan berkaitan erat ant'ara

i.b"b dan akibat sedemikian rupa ini adalah secara kebetulan. Se-
bab, wujud itu sebenarnya ridak memiliki sistem pada asal wujud-

nya, lalu bagaimana menjadi tersistem pada saat adanya dan per-

kembangannya?

Jika ini terbukti secara akal bahwa Allah adalah Pencipta, maka
sudah pasti sesuatu tidak terjadi dalam kekuasaan-Nya melainkan

yangdikehendaki dan ditakdirkan-Nya.
^p^
antara yang menunjukkan pernyata i ini ialah firman Allah
Di

&, y3s '6',i*ub't:$ ,l:

rc, .t/o "l t

C,tJI 4JJl

fW 7! i,;''Ai'"oii-6a.'W 2'.)t &1

{ @ (b ,u, Jt" LLi b 'fi'bit

"Allah-lab yd.ng rnenciptakan tujub langit dan seperti itu pula

burni. Perintab Atlab berlaku padanya, agar kamu mengetabui

babw.,awnya Alkh Mabakuasa atas segak sesild.ttt, dan sesunguhnya

syarb ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa'ah, al-Lalika-i, (Y/705), dan
lihat, Syi'r Labi.d lbn Rabi'ah baina Jaabill,yatib wa Islaamih,Zakxia Shiyam,

hal.95.

A I -'A s b ma' iyy aat, al-' Ashma' i' Abdul malik bin Quraib, hal'- 7 4 -

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalah Qadar 6l

Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu." (QS. Ath-

Thalaaq: 12)
Kemudian perincian renrang qadar tidak diingkari akal, tetapi
merupakan hal yang benar-benar disepakati, sebagaimana yang
akan dijelaskan nanti.

Dalil-Dalil dari Panca Indera
Adapun bukti secara inderawi, maka kita menyaksikan, men-

dengar, dan membaca bahwa manusia akan lurus berbagai urusan
mereka dengan beriman kepada qadha' dan qadar -dan telah lewat
penjelasan tentang hal ini pada pembahasan "Buah Keimanan kepada
Qada' dan Qadar"-. Orang-o rang yan1 benar-benar beriman kepa-
danya adalah manusia yang paling berbahagia, paling bersabar,
prli"g berani, paling dermawan, paling sempurna, dan paling berakal.

Seandainya keimanan kepada takdir tersebut tidaklah nyara,

niscaya mereka tidak mendapatkan semua iru.
Kemudian, Qadar adalah "sisrem rauhid,"53 sebagaimana dikata-

kan oleh Ibnu 'Abbas ^$F', dan tauhid itu sendiri adalah sebagai

sistem kehidupan. Maka kehidupan manusia tidak akan benar-benar
istiqarnnb (urus), kecuali dengan tauhid, dan tauhid tidak akan lurus
kecuali dengan beriman kepada qadha' dan qadar.

Mudah-mudahan apa y^rLg akan disebutkan di akhir kitab ini

mengenai kisah-kisah manusia yang menyimpang dalam masalah
takdir akan menjadi bukti atas hal itu.

Kemudian dalam perkara yang telah diberitakan Allah dan
Rasul-Nya ffi,berupa perkara-perkara ghaib di masa mendatang
yang telah terjadi, sebagaimana disebutkan dalam hadits, adalah
bukti yang jelas dan nyata bahwa iman kepada qadar adalah hak

dan benar.

63 Majmua'ul Fataatoaa, (I/ll3)

62 Bab Pertama: Kqtahinanyang Benar Dalam Masakh @do,

Pembabasan KeemPat

Kat a-Kata y arlg Berharga Mengenai Takdir

Disebutkan dari Salafush shalih sejumlah pernyataan yang indah
dan kata-k ata y^rlg berharga (mengenai takdir), yang menjelaskan

makna dan urgensinya, menganju rkan agar beriman dan ridha
dengan qadha' dan qadar Allah, serta mengingatkan supaya hati-
hati terhadap kebalikan sikap itu.

Demikian juga disebutkan beberap'- pernyata n yafug dikemuka-
kan sebagian penya'ir dan orang-orang bijak.

Di antaranya, sebagai berikut:

1. Al-\flalid, putra Sahabat mulia'Ubadah bin ash-Shatit €5

mengatakan, "Aku menemui'Ubadah saat sedang sakit, aku mem-
perkirakan kematian akan menjemputnya, maka aku katakan,
;Yi"h"i ay ah, berwasiatlah kepadaku dan bersungguh-sungguhlah

untukku.'
Ia mengatakan, .Dudukkanlah aku!'Ketika aku telah menduduk-

kannya, ia mengatakan, ''Wahai puteraku, sesungguhnya engkau
tidak'akan merasakan manisnya iman, dan tidak akan mencapai

hakikat pengetahuan tentang Allah &,hingga engkau beriman

kepada qadar,yang baik dan yang buruk.'

Aku bertanya, '\flahai ayah,bagaimana aku mengetahui apakah
qadar yang baik danyangburuk itu?'

Ia mengatakan, 'Kamu tahu bahwa aPl-yangtidak mengenaily
tidak akarimenimpamu, sedangkan apa yang menimpamu tidak

akan luput darimu. '\rahai puteraku, aku mendengar Rasulullah ffi

bersabda:

|3i i"ql6)2=e
,'Ju ,;ar J|,;?ut ea c'$i oy

iq' i; JiU.\t'r \L a?u\'ilr.

.sesungguhnya makhluk yang perrama kali dicip-takan Allah
Ta'ala adalah al-qalam (pena). Kemudian Dia berfirman kepa-
danya, 'Tulislahi' Lalula menuliskan pada waktu itu segala

yang akan terjadi hingga hari Kiamat.'

Bab Pertama: Kqtahinan yang Benar Dalam Masakh Qadar 63

Vahai puteraku, jika engkau mari, sedangkan engkau tidak

dalam keadaan demikian, niscaya engkau akan masuk Neraka.,,,6a

2. Ibnu 'Abb as c!?, berkata, "Qadar adalah sistem tauhid,

barangsiapa yangmentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar,

maka sempurnalah tauhidnya, dan barangsiap a y{$ mentauhidkan

Allah tapi mendustakan qadar-Nya, maka cacarlah tauhidnya.,,65

3. Dia mengatakan juga, "segala sesuatu ditentukan dengan

qadar, hingga keadaanmu saat melerakkan tanganmu di atas pipimu
pun (telah ditakdirkan pula,*d)."66

4. 'Ikrimah berkata, "fbnu 'Abbas ditanya,'Bagaimana (pen-

jelasan mengenai) Nabi Sulaiman (,{*tt) kehilangan Hud-hud di

antar a burun g-bu run g?'

Ia menjawab,'Nabi Sulaiman S\l singgah di suatu persinggahan

dan dia tidak tahu jarak air, sedangkan Hudhud adalah arsitek.
Ketika dia hendak bertanya kepadanya mengenai air, maka dia
kehilangan dirinya.'

Aku bertanya,'Bagaimana ia menjadi arsitek, sedangkan anak-
anak memasang tali untukn ya lalu, menangkapnya?'

Ia mengatakan, Jika takdir telah ditetapkan, maka ia terhalang
dari padan gan mata."'67

5. Ka'b bin Zu,hair gE berkata:

Seandainya aku kagum terbadap sesudtu, niscaya aku hagum
terhadap

usaha seordng pemuda, padahal qadar tidak terlibat olebrrya

HR. Imam Ahmad, (l/317) dan ar-Tirmidzi, (no. 4155). Al-Albani berkata,
setelah meneliti berbagai jalan periwayataflnya, "Hadits ini shahih tanpa dira-
gukan." Lihat, Haasyiyab Misykaatil Masbaabib, [/34).

Majmuu'ul Fataauaa, A[/11.3). 'Abdullah bin Ahmad menyebutkan dalam
as-Sunnah ucapan Ibnu 'Abbas yang senada denganny4 @,/422),juga al-Ajurri
dalam ary-Syarii'ah, hal. 2L5, dan al-Lalika-i dal,am Syarb [Jshuul lliqddd Abtis
Sunnab anal Jamaa'ah, (IVl681).
66 HR. Al-Bukhari dalam Khalq Afaalil'Ibaad, hal. 26.

67 HR. 'Abdullah bin Ahmad dalam as-Sunnab, [I/4t2).

64 Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalah Qodo,

Seorang pemuda furusaha untuk berbagai urusdn yang tidak

dikeu-huinya

jiua itu satu, sedanghan keinginan itu banyah

Seseorang selagi masih bidup, maha angd.nnya terbentang
mata tidak berhenti hingga bidup berakbir6s

6. Al-Hasan a,B berkata, "Allah menciptakan makhluk, lalu

Dia menciptakan mereka dengan qadar, membagi ajal dengan qadar,

membagi rizki mereka dengan qadar, serta ujian dan keselamatan

dengan qadar pula."6e

7. Dia juga berkata, "Barangsiapa yar.g mendustakan qadar,

maka dia telah mendustakan Islam."zo

8. Dia mengatakan dalam sakitnya yang membawa kepada

kematiannya, "Allah telah menentuk an ajal, menentukan sakit

bersamanya, dan menentukan kematian bersamanya. Barangsiapa
yang mendustakan qadar, maka dia mendustakan al-Qur-an dan
barangsiapa yang mendustakan al-Qur-an, maka dia telah mendustakan
Allah."71

9. Berikut ini adalah bait-bait indah karya asy-Syafi'i ,+isa yang

menjelaskan hakikat iman kepada qadar, yang dikomentari Imam

Ibnu 'Abdilbarr ,rn;A dalam al-Intifua', "Ini merupakan sya'irnya

yang tidak diperselisihkan mengenainya, dan ini adalah yang paling
shahih darinya."7z

Ia mengatakan, "Bait-bait ini merupakan sesuatu yang paling

menguatkan mengenai iman kepada qadar."73

Bait-bait tersebut ialah sebagai berikut:

Apa yang Engkau hehendaki pasti terjadi, meskipun aku tidak

menghendahi

apa ydng aku hehendaki, jika Engkau tidak menghendaki, pasti

tidak akan terjadi

68 Diiuaan Ka'b bin Zubair,hal-77-
6e
Syarb Ushuul I'tiqaad Ablis Sunnab ual Jamaa'ab, IY /682).
7a
Ibid.
7t Ibid.

72 Al-Intifua'fii Fadhaa-ilits Tsalaa*ah al-A-immatil Fuqahaa', Ibnu 'Abdilbarr,

7r hal. 80. 91.
Ibid, hal.

Bab Pertama: Kqtabinan yang Benar Dalam Masalab Qodo, 65

Engkau menciptakdn para hamba ntenurut apd. yang Engkau
ketabui
dalarn ilmu itulab seord.ngpemuda dan orangyanglanjut usia
berjalan

Yang ini Engkau beri karunia sedangkan yang lainnya Engkau
biarhan
yang ini Engkau tolong sedanghan yang itu tidak Engkau tolong

Di antara mereka ada yang sengsara dan di antdrd. mereka ada

yang berbahagia
di antara mereka ada yang buruk dan di antara mereka ada yang

tampanTa

Penielasan Sya'ir:

Dia mengatakan: Apa yang Engkau kehendaki, yakni Engkau
wahai Rabb-ku, pasti terjadi, yakni dengan perintah-Mu dan tidak
muskhil, karena kehendak-Mu terlaksana. Meskipun aku tidzk rnenS-
bendahi, aku, yaitu hamba. Dan Apa yang aku kehmdaki, jika Engkau
tidak rnenghendaki, wahai Rabb-ku, pdsti tidak akan terjadl, karena
sesuatu tidak terjadi, kecuali dengan kehendak-Mu.

Engkau menciptakan pard hamba menurut d.pd. yd.ng Engkf!

ketabul, yakni *..rrtrrt ilmu-Mu yang azali. Dalam ilmu itulah

seordng penTuda dan yang lanjut usiz berjalan, yakni dengan ketentuan
ilmu yang terdahulu inilah makhluk berjalan dan melakukan aktifitas,
baik anak-anak maupun orang dewasa, serta tidak seorang pun ke-
luar dari ketentuan tersebut.

Yang ini Engkau furi karunia, rahmat dan keutamaary sedangkan
yang lainnya Engkau biarkan, karena suaru hikmah dan keadilan.
Yang ini Engkau tolong, dengan nikmat dan karunia-Mu, sedanghan
yang itu tidzk Engkau tolong, dengan kebijaksanaan dan keadilan-Mu.
Di antara mereha ada yang sengsara, yaitu orang-orang yang telah
ditakdirkan sengsara sebelumnya, dan di antara mereha ada yang
berbahagia, yaitu mereka yang telah ditakdirkan dengan kebaikan

dan kebahagiaan sebelumnya. Di d.ntdrct. mereka ada yang buruk

7' Al-Intifua',ha\.80, dan lihat, al-I'tiqaad, al-Baihaqi' hal' 88, Syarh Ushuul

I'tiqaa.d Ahlis Sunnah anl Jamaa'ah, QY/702), dan Diiuaan asy'Syaf i,hal.
l3l-l32,diteliti oleh Dr. Muhammad'Abdilmun'im Khafaji.

Bab Pertama: Kqakinanyang Benar DalamMasakb Qodo,

€dan di antard mereka ada yang ta.rnpdn, karena Allah -lah Y*g

mem-bentuk mereka dalam rahim, sebagaimana Dia kehendaki'

10. Imam Ahmad 'a;5 berkata: ,,
. iur o)b

"ii"Qadar itu adalah qud.ratullaaD ftekuasr"r, ell"t). tt75
Ibnul Qayyim berkata, mengomentari ucapan ini, "Ibnu'Uqail
menilai baik sekali ucapan ini, dan mengatakan, 'Ini menuniukkan

mendalam dan luasnya keilmuan Imam Ahmad dalam mengetahui

prinsip-prinsip agama.' LJcapan ini sebagairnana komentar Abul
'wafa', .Sebab mengingkari takdir berarti mengingkari kekuasaan

Rabb untuk menciptakan perbuatan-perbuatan hamba, menulis-

kan dan menakdirk annya."76

11. Mahmud al-'Warraq berkata:
Aku tidak memiliki sesudtu kecuali ridha dengan ketentuan Allah
dalam dPd ydng aku sukai dan yang tidak, aku sukai

Dzat Yang m.engatur berbagai urusdn memilibkan dari'Nya
a?d. yd.ng terbaik. akibatnya untukku, yang tidak aku k'etahui

Aku berpendapat untuk mengembalikan bal itu

hepdda Dul Yang memiliki ilmu, yang aku tid^ah mengetahuirty d'/

t2.Yanglain berkata:

Apa yang ditentuh,an Allah pasti terjadi dan tidak mustahil
ordng yang celaka lagi sdngat bodoh ialab orang yang mencela

keadaannya'8

13. Yang lainnya lagi berkata:

Puaslab dcngan apd yang dikaruniakan kepadamu, wabai pemuda
sebab Rabb kita tidak lalai terbadap seekor senxut Pun

'5 Majmuu'ul Fataauaa, Cr'III/3o8), Tltariiqul Hijratain, hal. 170, dan Syifaa'ul

'Aliil,hal' 59.

76 Syifaa-ul'Aliil, hal. 59-60.
77 Syarh [Jshuul I'tiqaad Ahlis Sunnab ual Jamaa'ab, lY/693).
78 Sy arh u l'Aqiidab atb -Th ahaauiyyah, hal'- 27 0.

Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalah Qadar 67

Jika masa maju ke dEan, maka berdirilah
dan jika mundur ke belakang, maka tidurlahT'

14. Syaikh Muhammad bin'Ali bin Salum +,ig, salah seorang

ulama Najd, berkata:
Perbuatan-perbuatan kita diciptakan A llah
tetapi itu kita usahakan, utahai orangyang lalai
Segala yang dilakukan para bamba
fuupa ketaaun dtar4 pun hal yang sebaliknya adalab dikebendaki
Oleb Rabb kita, tanpa paksaan dari-Nya kEada kita
oleh karenanya, pahamilah dan jangan durbakaso

Pasal Kedua

Cakupan Iman Kepada Takdir

Pembabasan Pertama

Keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Secara LJmum tentang Qadar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah is diranya tentang qadar,

maka beliau menjawab dengan jawaban panjang lebar, yang berisi

keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara umum mengenai

masalah ini. Di antara perny^taanny

^i

"Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengenai masalah ini
dan yang lainnya ialah (sesuai dengan) apay^n1ditunjukkan oleh
al-Qur-an dan as-Sunnah serta apr- yang diikuti para, as-Sabiqunal
Auanlun dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang

7e lbid.
80 Bair-bait ini dikemukakan Syaikh 'Abdurrahman al-Mahmud dalam kimbnya,

al-Qadbaa'ual Qadar, hal. 258.

68 Bab Pertama: Kqabinan yang Benar Dalarn Masalab Qodo,

yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Yaitu, bahwa Allah
"Tae"rmt"fa,sPukenjucgipatadisdeagalalamnseyasusaetum,uRaabbebn,dadaynanYganbgermdierinsgeunadsairiindyaan'
sifat-sifatn ya yarLgmenyatu dengannya, berupa perbuatan-per-

buatan hamba dan selain perbuatan-perbuatan hamba.

Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan aPayangtidak
dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Tidak ada sesuatu pun dalam
wujud ini melainkan terjadi dengan masyii'ab (kehendak) dan ke-
kuasaan-Nya. Tidak ada sesuaru pun yang menghalangi kehendak-
Nya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, bahkan Dia mengetahui
apa yangtelah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak
atan terjad i, y ang seandainya terj adi, bagaimana terjadinya.

Termasuk dalam kategori hal itu ialah perbuatan-perbuaran
para hamba dan hal lainnya. Allah telah menetapkan ketentuan-
t.,"rr,rr"r, para makhluk sebelum menciptakan mereka,- Dia telah
menentukin ajal, rizki, dan perbuatan mereka, menuliskan hal

itu, dan -.t.riitk"n perjalanin mereka berupa kebahagiaan dan

kesengsaraan. Mereka mengimani penciptaan dan kekuasaan-Ny-a

terhaJap segala sesuatu, kehendak-Nya terhadap segala flnq tehh
terjadi, il-"-Ny" terhadap berbagai hal sebelum te{,ad!' takdir-Nya

uniuknya, dan pencatatrn-Nya terhadap berbagai hal tersebut se-

belum terjadinya."s'

Hingga beliau mengatakan, 'Salaf umat dan para imamnya telah

bersepakat juga bahw a para hamba itu diperintahkan kepada apa

yang diperintahkan Allah kepada mereka dan dilarang terhadap apa

yang mereka dilarang terhadapnya, bersepakar atas keimanan kepada

janjidan ancaman-Nya yangrerdapat dalam al-Qur-an dan as-Sunnah,

dan bersepakat bahwa tidak ada huiiah bagi seorang pun terhadap
Allah dalam kewajiban yang ditinggalkannya dan keharaman yang
dilakukannya, bahkan Allah memPunyai hujjah yang semPurna

atas para hamba-Nya."82

Beliau mengatakan, "Di ant,ira yang disepakati para Salaf umat

ini dan para imamnya -di samping mereka beriman kepada qadha'
dan qadar, bahwa Allah adala'h Pencipta segala sesuatu, aPayalg

8t Majmuu'ul Fataautaa Syaikbul Islaam, $III/449'450).
8' Mijmuu'ul Fataazona Syaikhul klaarn, $III/452).

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalah @do' 69

dikehendaki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya
tidak akan terjadi, serta Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki
dan menunjukkan siapa yang dikehendaki-Nya- adalah, bahwa
para hamba memiliki kehendak dan kemampuan, mereka berbuat
dengan kehendak dan kemampuan mereka yang telah Allah renru-
kan, disertai pernyataan mereka,'Para hamba tidak berkehendak
kecuali bila Allah menghendaki,' sebagaimana firman-Nya:

[i @ ,;'-Li;G o* @ T;i|it-JLb

{;itSiS urti'J1i;",ffi;*;.oi t trfi"

(@

"Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur-an itu
adalah peringatan. Maka barangsiapa mengbendaki, niscaya dia
mengambil pelajaran daripadanya (al-Qur-an) Dan mereka tidak
akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah rneng-
hendabinya. Dia (Allab) adalah Rabb Yangpatut (kita) bertakwa
kepada Nya dan berhak memberi dlr7pun. " (QS. Al-Muddatstsir:

s4-56)

Pembabasan Kedua

Tingkatan-Tingkatan Qadar dan Rukun-Rukunnya83

Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun yang disebut
tingkatan-tingkatan qadar atau rukun-rukunnya, dan merupakan

Lrhaq a I -'A qi ida b a l - lVa a s h it h iyy ah den gan penj elasanny a, ar- Raudhah an-
Naadiyyab, Syaikh Zaid bin F ayry adh, hal. 3 53, at-Tanbihaat al- Lathiifah'ala
mabtautaat 'alaihil 'Aqiidah al-\Vaashithiyyab minal Mabaabits al-Muniifab,
Syaikh Ibnu Sa'di disertai komentar Samabah Syaikh Ibnu Baz, hal. 75-80.
Lihat pula, Syifua-ul 'Aliil, hal. 6l-116, Ma'aarijul Qabuul, Syaikh Hafizh al-
Hakami, F,/225-238), A'harnus Sunnah al-Mansyuurah, al-Hakami, haJ. l2Gl29,

Rasaa-il fil 'Aqiidah, Syaikh Ibnu 'Utsaimin, hal. 37, Taqriibut Tadmurfiryah,

Ibnu 'Utsaimin, hal. 108-109, al-Qadhaa'ual Qadar, Dr. Sulaiman al-Asyqar,
hal.29-36, Syarh al-'Aqiidab al-lY'aasithiyyab, Syaikh Shalih al-Fauzan, hal.
15G155, dan Khulazsbab Mu'uqad Abls Sunrub, Syaikh'Abdillah bin Sulaiman

al-Masy'ali, h^1. 29 -30.

70 Bab Pertama: Keyakinan yang Benar Dalam Masalab Qodo,

pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar

tidak sempurna kecuali dengan merealisasikutnya secara keseluruhan,
sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya. Barangsiapa
yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya
kepada qadar telah sempurna, dan barangsiapa yang mengurangi
salah satu di antaranya atau lebih, maka keimanannya kepada qadar
telah rusak. Rukun-rukun tersebut ialah:

1. Al-'ilm (ilmu).

2. Al-kitaabab (ptencatatan).

3. Al-masyii-aE ftehendak).
4. Al-kbalq (penciptaan).

Sebagian penya'ir menyenandungkannya dengan lcapar.nya:

u,. itts
alL-1rfil, o o ./., '
+U_,J13
o,.'r,.a1 ,li, i'-;i, UY-; o

'

,r*u, catatan'Pelind.ung kita, Kehenao[-Nyo

dan penciptaan-Nya, yaitu mengadakan dan membentuk

Tingkatan pertama: Al-'ilm (ilmu).

Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, baik
secara global maupun terperinci, azali (sejak dahulu) dan abadi,
baik hal itu berkaitan dengan perbuatan-perbuatan-Ny" maupun
perbuatan-perbuatan para hamba-Nya, sebab ilmu-Nya meliputi
apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak

terjadi yang seandainya terjadi, bagaimana terjadinya.

Dia mengetahui yang ada, yang tidak ada, yang mungkin, serta
yang mustahil, dan tidak luput dari ilmu-Nya seberat dzarrah pun
di langit dan di bumi.

Dia mengetahui semua ciptaan-Nya sebelum Dia menciptakan

mereka. Dia mengetahui rizki, ajal, ucaptn, perbuatan, maupun

semua gerak dan diam mereka, juga siapakah ahli Surga ataupun
ahli Neraka.

Tingkatan ini -yaitu ilmu yang terdahulu- disepakati oleh para
Rasul, sejak Rasul yang pertama hingga yang terakhir, disepakati
juga oleh semua Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka
dari umat ini. Tetapi "Majusi" umat ini menyelisihi mereka, yaitu

Bab Pertama: Kqahinan yang Benar Dahm Masalab Qadar 7l

Qadariyyah yang amat fanatik.84

Dalil-dalil mengenai tingkatan ini banyak sekali, di antaranya

firman Allah,€:

ry i 4bb *I rl l-.-- , -

i:r--6^tl,Ai 6:rll ;firlj,^ P

d\ /qA/-;"'

'Dia-lab Allah Yang tidak ada ilab (yorg berhak untuk diibadabi
dengan benar) selain Dia, Yang mengetahui yang gbaib dan yang
rydtd... ." (QS. Al-Hasyr:22)
Firman-Nya yanglain:

(@ b',e-G:;.+*i3;.c

"...Allab mengetabui apa-apa yang di badapan mereka dan di
belakang mereka.... " (QS. Al-Baqarah : 255)

Juga firman Allah yang lain:

g'jiiiertlJqerQl b,4i* y

., {l bi'l:au;i u^'fri'lsr.tl'lt c 1:

(@y*

"...(Rabb-ku) Yang mengetabui yang ghaib. Tidak ada yangter-

sembunyi dari-Nya seberat dzarrab pun yang ada di langit dan
yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu
dan yang lebib besar, melainkan tersebut dalam Kiabyangnyd.ta

(Lauh Mahfuzh). " (QS.Saba': 3)

Dan firman Allah:

*(\ @E_r... ",,6., J+ t;i'fni... Y

84 Lihat, Syifaa-ul'Aliil, hal. 51.

72 Bab Pertama: Kqakinanyang Benar Dalam Masalah Qodo,

"... Allab lebih mengetabui di mana Dia menempatkan tugas
kerasulan... ." (QS. Al-An'aam: L24)

Juga firman-Nya:

e e i'J?i -4-- *'"J2 ei -*:'bl Y

(@'u-#\

"sesunggubnya Rabb-mu, Dia'lab Yang Paling Mengetahui siapa
yd.ng sesd.t dari jalan-Nya, dan Dia-lab Yang Paling Mengetahui
ord.ng-orangyang mendapat petunjuk. ' (QS. Al-Qalam : 7)

Serta firman-Nya:

G )t--s "i7)\1-fr" l#ie6,Lrytsb

Yi 6a1v'sn ittc;i;s-Hi3li -:

t,;r i)nc".ts*t 'lS q.t\ ;rAL C 47->

(@*"fl.

"Dan padz sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidah ada
ydng rnengeahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengeabui apa
yang ada di daratan dan di lautan. Tiddk sebelai daun pun yang
gugur mekinkan Dia mengeuhuirtya (p"h), dan tidah jatuh sebutir
biji pun dalam kegelapan bumi dan ti.dak juga sesuatu yang basah

atdupun yang kering melainkan tertulis dalam kitab yangnydtd.
(Lauh Mabfuzh). '(QS. Al-An'aam: 59)

Dan firman Allah yang lain:

kv?1( @ (tt- *1"rs:sti e b

Jika muekz brangkat bovmamu, niscarya mereka tidak mmambah
kepadamu sehin dari kentsakan fulaka.... " (QS. At-Taubah: 42)

Juga firman-Nya:

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalab Qodo, 73

(@t;#il';7'14 t-!_lr3trlr\i'lS y

"... Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka
kembali hepada d.pd ydng mereka telab dilarang mengerjakannya.
Dan sesunguhnya mereka itu adalab pendusta-pendusta belaka."
(QS. Al-An'am:28)

Serta firman-Nya:

t;A "@i 1;"#:*';; "d fri * "ls y

(@ 3t*Fet

"Kalau kiranya Allah mengetabui kebaikan ada pada mereka,
tentulah Allah menjadikan mereha dapat mendengar. Dan jikalau
Allab menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti
berpaling juga, sedang mereha memalingkan diri (dari apa yang
mereka dengar itu)." (QS. Al-Anfaal: 23)

Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shabiibnyadari Ibnu'Abbas
ut3y,,ia mengatakan, Nabi ffiditanya tentang keadaan anak-anak
kaum musyrikin, maka beliau menjawab:

.';)-G f;s a pi l,i

"Allah lebih mengetahui tentang apa yang mereka kerjakan. "85

Beliau ffi bersabda:

.),ji;t)^:)t dqi * u,tVt ,-* "€'&C
"Tidali t"idn"gg,Jaltn,yjai*, "baii,kr,dii"S.uirgkaiim".a, u-p.ul"nirNr(errra,ka,.""l8r6h
dik.,"h,ri
tempat

Tingkatan kedua: Al-kita ab ab (penulisan).

Yaitu, mengimani bahwa Allah telah mencatart apa yang telah
diketahui-Nya dari ketentuan-ketentuan para makhluk hingga hari
Kiamat dalam al-Lauhul Mabfuzh.

85 HR. Al-Bukhari,(IU2l0) dan lihat, al-Fat-h,f.1/493).

86 HR. Muslim dd.am al-Qadr, (no.2647).

74 Bab Pertama: Keyahinan yang Benar Dalam Masalab Qadar

para Sahabat, Tabi'in, dan seluruh Ahlus Sunnah wal Hadits

sepakat bahwa segala yangrcriadi hingga hari Kiamat telah dituliskan

d'1"* [Jmmul kito'b, yang dinamakan j'tga al'Laubul Mabfuzh'

ad.z-Dzikr, al-Imaamul Mubiin, dan al-Kitaabul Mubiin, se1;;1vanya

mempunyai makna yang sama-t'

Dalil-dalil mengenai tingkatan ini banyak, baik dari al-Qur-an
maupun as-Sunnah. Allah,98 berfirman,

L)"r"rl't rS,-tai O ; &'fri Li'& Ai b

( @i;;ri J"a);iL;# a-!:,,-'i

"Apahab kamu tidak mengetabui bahua sesunggubnya Allah
mingetabui apa saja yang ada di langit d"ry 4i bum.!? Blbzaasanya
'ysoesoi{ngdgrumhnihydi).nyidtungtrdredmipikoitandailtaumamseabtumabudkaitbabba(gLiaAuhllaMha' h"f(uQzhS)'

Al-Hajj: 70)

Firman Allah yang lain:

(@ y;cle;,:Z;i ru'Ss *

,,...Dun segala sesudtu Kami kurnpulkan dalam Kitab Induk yang
nyd.ta (Lauh Mabfuzb).'(QS. Yaasiin: 12)

Juga firman-Nya:

(@ ...a ii,::4r {l \:1*,;"1AY

,,Katakanlah, ,sekali-kali tidak akan rnenimpa kami melainhan

dpa yd.ng telah ditetapkan oteb Allah bagi kami" ' ' "'(QS' At-

Taubah:51)

Allah u.4 jugaberfirman tentang do'a Nabi Musa '{'9i}\:

(@ '*tl'iliiY4t1 ,Lit*\

n Syifaa-ul'Aliil,hal. 89. 75

Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalah Qadar

"Dan tetapkanlah untuk kami hebajikan di dunia... . " (QS. Al-

A'raaf.:1,56)
Dia berfirman tentang bantahan Nabi Musa $t*llkepada Fir'aun:

U) r' y 'L'l+i art JE@ |t:'ii gtpi Jt: t:"bJLt F
b

"Berkata Fir'aun, 'Maka bagaimanakah keadaan ilnxdt-urnat ydng

dabulul'Musa menjauab, 'Pengetahuan tentang itu ada di sisi

Rabb-hu, di dalam sebuah kitab, Rabb-hu tidak akan salah dan

tidak (pula) lupa....'" (QS. Thaahaa: 5l-52)

Imam Muslim iE meriwayatkan dalam Sbabiihnyadari 'AMullah

bin 'Amr bin al-'Ash c#-,, dia mengatakan, "Aku mendengar Ra-

sulullah ffi bersabda:

,?r\?t .>63t'rrX 'oi'& ,i>rat ,:6 ?tt ;?

..r,At& 'e';3 iJs ,a; ,-:iJ;"

'Allah mencatar seluruh takdir para makhluk 5O.OOO tahun
sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.'Beliau bersabda,

'Dan adalah'Arsy-Nya beradadi atas air."'88

Nabi ffi bersabda:

.rtU-.

,.A UJrl)l a;*-11
t1:tEJ ,^.izrctto',.S lr!_, Vt ci-,'3iL7 Y
/ar/
.J{$')i. at- b',5I
i;z; t

v1 ,16r

"Tidak ada satu jiwa pun yang bernafas melainkan Allah telah

menentukan temparnya, baik di Surga araupun di Neraka, dan
juga telah dituliskan celaka atau bahagia(nya)."8'

88 HR. Muslim, (UII/51).

8e HR. Al-Bukhari dalam at-Tafsiir, (II/84) dan Muslim dalatn al-eadar, (III/

46-47).

76 Bab Pertarna: Kqakinan yang Benar Dalam Masalab Qod",

Tingkatan ketiga: Al-masyii-aD (kehendak).

Tingkatan ini mengharuskan keimanan kepada masyii-ah Allah

y t"rl^ksana dan kekuasaan-Nya yang .s9TP.Y.t".'' Apa yang
iik^Jnhge"daki-Nya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya

tdiadnakkes"eksrantatn.,rjmaedlai,indkaann bahwa tidak ada gerak dan diam, hidayah
dengan
masyii-ab -Ny a.

"Tingkatan ini ditunjukkan oleh Ijma' ftgsgpakatan) para Rasul,
sejak Raiul pertama hingga terakhir, semua kitab yang diturunkan
dari sisi-N ya, fhrah yaig padanya A^llah menciptakan makhluk-

Nya, serta dalil-dalil akal dan logika."e0

Nash-nash y^ng menunjukkan dasar ini sangat banyak

sekali dari al-Qur-an dan as-Sunnah, di antaranya firman Allah

.Ug.

(@ "3t*tit4("{* <ttsb

"Dan Rabb'mu menciptakan d.Pa. yd.ng Dia kebend"aki dan memi'
libnya...." (QS. Al-Qashash: 68)

Firman Allah yang lain:

(@ .1 d3iLrfi;6d,i i'ori6GSb

,,Dan kzmu tidak dapat mmghmdaki (mmempuh jalan itu) kecuali

apabila dikebendaki Alkh, Rabb sernestL alam." (QS. At-Takwiir:

2e)

Dan firman Allah:

-u7 @ IG -A);i"Us A) ,GtiJ,; VrY

{€> %i;t+oi

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesya91t,'Se'

tungihnyo aku ahan mengerjakan itu benk pagi,' kecuali (dengan
mrnyebri), 'Inrya Allab....'" (QS. Al-Kahfi: 23-24)

eo Syifaa-ul'Aliil,hd'.92.

Bab Pertama: Kqtakinanyang Benar Dalam Masalah Qod"' 77

Juga firman-Nya:

a,i;: slt;*q4ai &tc; l.j,i'l'ry

!i**.l;sX'i;u_oi C \b ,/J3'"J{ "&b

{@

"Kalau sekiranya Kami turunkan Malaikat kepada mereha, dan
orang-orangyang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami
kumpulkan (p"k) segala sesudtu kehadapan mereka, niscaya mereka

tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki... .'

(QS. Al-An'aam: 111)

Serta firman-Nya:

Y'b Ub \:+ t4u,3 ir;jfri #i F
,4,,a nL-I

"... B ar an gs iap a y an g d i k e b endak i A I I ah (ke s e s atanny a) n is c ay a
disesatkan-Nya, dan barangsiapa yang dikebendaki Allab (untuk

mendapat petunjuk), niscaya Dia menjadihannya berada di atas
jalan yang lurus. " (QS. Al-An'aam: 39)

Nabi ffi bersabda:

f i *1.;,;,.-)t eei w ?31 "q'o"-F o\

.it^-*f'a c.x-tj

"sesungguhnya hati manusia semuanya berada di du
jari dari jari-jemari ar-Rahman seperti satu hati, Dia m^netm^Jb^olak-

balikkannya ke mana salala kehendaki."er

" HR. Muslim, (no.2654).

78 Bab Pertama: Kqakinanyang Benar Dalam Masalab Qod",

Masyii-ah ftehendak) Allah yang terlaksana dan kekuasaan-Nya
yang sempurna berhimpun dalam aPayarLgtelah terjadi dan apa

yang akan terjadi, serta berpisah dalam akan terjadi
dan sesuaru yang tidak ada. Apa yang d^ipkeahye^nndgatikdiaAk llah adanya,

maka ia pasti ada dengan kekuasaan-Nyr, dan apa yang tidak di-

kehendaki adanyamaka ia pasti tidak ada, karena Dia tidak meng-

hendaki hal itu. Bukan karena ketidakadaan kekuasaan-Nya atas

hal itu. Allah iH berfirmant

I ut.. [-o J;i"fii 'F'rljr;ui G r\i ;G "|'t F

J-r

4\r\,=-6,/r

"...Seandainya Allah menghendaki, tidahlab mereka saling nxenl-
bunub. Akan tetaPi Allab berbuat a.Pd. yd.ng dikehendaki'Nya."
(QS. Al-Baqarah:253)

Maka, tidak berperangnya mereka bukanlah menunjukkan
bahwa kekuasaan Allah tidak ada (untuk mengadakan hal itu), akan
tetapi karena Allah tidak menghendakinya, dan hal serupa bisa
dilihat dalam firman Allah Ta'ala:

"...Kalau Altah mengbendaki tentu saja Allah menjadikan mereka
semud dalam petunjuk... ." (QS. Al-An'aam: 35)
Firman Allah yang lain:

(\ @\=2.J "\;rriufi'i;e i:b

"Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak memper-
sekutukan(Nyo) ..." (QS. Al-An'aam: L07)
Juga firman-Nya:

( tE "t1;'rALu.'r:{ cu G9't\:;tt isb

Bab Pertama: Keyakinan yang Benar Dalam Masalah Qadar

"Dan jikalau Rabb-mu mengbendaki, tentulab beriman sernila
orangyang di muka bumi selurubnya.... ' (QS. Yunus: 99)e2

Tingkatan keempat: Al-kbalq (penciptaan)

Tingkatan ini mengharuskan keimanan bahwa semua makhluk
adalah ciptaan Allah, dengan dzaq sifat, dan gerakannya, dan bahwa
segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang diadakan dari

ketidakadaan, ada setelah sebelumnya tidak ada.

Tingkatan ini ditunjukkan oleh kitab-kitab samawi, disepakati

para Rasul, disetujui fitrah yang lurus, serta akal yang sehat.'r Dalil-

dalil mengenai tingkatan ini nyaris tidak terbilang, di antaranya

firman Allah Sii: (@ *rn,hecriiy

"A llah Yang menc ipakan segala sesudtu... .' (QS. Az-Zumar : 62)

Firman Allah yang lain:

'Es etl'lrt ?"J:^aJi|F @fr $ ':3itY
b fi 4
lz
@ tyJt')?iWl

'segala puji bagi Allab Yang telab menciptakan langit dan bumi,
dan mengadakan gelap dan terdng... .'(QS. Al-An'aam: 1)

Dan firman-Nya:

Fi *i7*;tA.i{6 o"rai',!L 6,fib

(@ t:cC-7

"Yang menjadikan mati dan bidup, sltPrtyd. Diz mengujimu, siapa'
kah dianurdntilydngrerbaik amalnya...." (QS. Al-Mulk 2)

92 Lrhaq a sb - Sh afad iyy a h, I b nu T ai miyyah, (IIA 0 9) .
93 Lihat, Syifaa-ul'Aliil, hal. 108.

80 Bab Pertama: Kqahinan yang Benar Dalam Masalah Qodo,

Serta firman Allah:

i+3,""^CKt{L 4fii:<J \rftiUdiC-qY

"Hai sekalian manusia, bertahualah hepada Rabb-mu yang telah
menciptakanmu dari yang srttu, dan daripadanya Allah mencip-
takan isterinya, dan dari keduanya Allab memperhembangbiakkan
laki-laki dan perempuan ydng banyak.... " (QS. An-Nisaa': 1)

Juga firman Allah:

b *AiS _,QiS jfi'6L ,s;lt iSy

rJ{-'rAi,

(@ t;-;.r"# c

"Dan Dia-lah yangtelah mencipakan ntzkm dan siang mauhai
dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam
garis edarnya. " fQS. Al-Anbiyaa' : 33)

Dan firman-Nya:

"r"r1$:,-t$i G &3i 4i ;;,y u,b h

(@

"...Adakab pencipta selain Allab yang dapat memberikan rizki
hepadamu dari langit dan dari bumi....'(QS. Faathir: 3)

Imam Al-Bukhari alr meriwayatkan dalam kitab Khalq Afaalil

'lbaad dari Hudzaifah Qb, dia menuturkan, "Nabi ffi bersabda:

.laib't)r-n- wilvE (;-:;-?rr Lt

"sesungguhnya Allah menciptakan semua (makhluk) yang ber-
buat dan juga sekaligus perbuatannya."'n

e4 Khalq Afaalil'Ibaad,hil. 25.

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalah Qadar 81

Inilah empat tingkatan qadar, yang mana keimanan kepada

qadar tidak sempurna kecuali dengannya.

Pembahasan Ketiga

Perbuatan Hamba adalah Makhluk

Perbuatan para hamba termasuk dalam kategori keumuman
ciptaan Allah dE, dan tidak ada sesuatu pun yang mengeluarkanrLya

{@ -rn"J-,tG'ifiydari keumuman firman-Nya:

"A llab Yang mencipakan segala sesud.tu... . " (QS. Az'Zumar : 62)

Pembahasan ini saya sebutkan secara khusus (pada bab ini),

disebabkan adanya kesamaran di dalamnya.

Ringkasnya, mengenai masalah ini, bahwa perbuatan hamba

seluruhnya, baik ketaatan maupun kemaksiatan, termasuk dalam
kategori ciptaan Allah, qadha' dan qadar-Nya. Allah,gE mengetahui
apa yang akan Dia ciptakan pada paru hamba-Ny a, Dia mengetahui

apa yang mereka perbuat, menuliskan hal itu dalam al-Laubul

Mahfuzh, dan menciptakan mereka sebagaiman a y ang dikehendaki-
Nya. Berlakulah qadar-Nya atas mereka, lalu mereka melakukan
sesuai apa yang Dia kehendaki pada mereka. Allah menunjuki siapa
yang telah Dia tetapkan kebahagiaan untuk mereka, dan menyesatkan
siapa yang telah Dia tetapkan kesengsaraan atas mereka. Dia me-
ngetahui ahli Surga dan memudahkan mereka untuk beramal dengan
amalan ahli Surga, dan Dia pun mengetahui ahli Neraka dan me-
mudahkan mereka untuk beramal dengan amalan ahli Neraka.

Perbuatan-perbuatan para hamba adalah berasal dari Allah dalam
hal diciptakan, diadakan, dan ditakdirkannya. Sedangkan hal itu
berasal dari para hamba dalam hal dikerjakan dan diusahakannya.
Allah-lah Yang menciptakan perbuatan mereka, sedangkan merekalah

yang melakukannya. Kita beriman kepada semua nash-nash al-

Qur-an dan as-Sunnah yang menuniukkan kesempurnaan pencip-
taan Allah dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, baik mengenai

82 Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalarn Masalab Qodm

perbuaran-perbuatan maupun sifat-sifat. Sebagaimana halnya kita
mengim"ni nash-nash al-Qur-an dan as-Sunnah yang menunjukkan
bahwa para hambalah yang pada hakikartya berbuat kebaikan dan
keburukan. Di atas hal inilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah bersepa-

kat.'s

Nash-nash yang telah disebutkan pada tingkatan keempat dari
pembahasan tingkatan-tingkatan qadar menunjukkan atas hal itu.

bi rrrr" terdapat dalil-dalil yang lebih tegas mengenai masalah ini,

seperti firman Allah Ta'ala:

(€> tt);t C:"51- i,i'tY

' Allah-lah Yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat
itu. " (QS. Ash-shaaffat: 96)

Menurut para ahli tafsir, mengenai makna maa (apa) dalam
ayat ini ada dua tinjauan:

Pertama, ia bermakna masdar, sehingga maknanya: Allah Yang
menciptakan kalian dan perbuatan kalian.

Kedua, bermakna alladzi (y*g), sehingga maknanya: Allah Yang
menciptakan kalian dan Yang menciptakan aPayang kalian ker-

jakan dengan tangan-tangan kalian berupa berhala-berhala.

Ayat ini berisikan dalil bahwa perbuatan hamba itu adalah

ciptaan Allah.e6

Lthat, aL-lLasaz-il war Rasa-il,Imam Ahmad bin Hanbal, (/147-L50), dl lbda%h,

al-Asy'ari, hal. 107-130, Risaalah ats-Tsagha,r, al-'Asy'ari, \4. 7-5,78, dan 83,

al-IHititaaf fiJ Lafzh uar Radd'alzl Jabmiltyah wal Musyabbihah,.Ibnu-Qutaibah,
haJ. 2I-23, atJ'iiqaad, al-Baihaqi, hal.73, Lum'atul I'tiqaad,Ibnu- Qudamah,
hal. 21, an-Nubuwwaal, Ibnu Taimiyyah, hal. 437, Dar' Ta'aarudbil 'Aql uar-t

NL10tah8q'a- lt1,4p$b,J/,8,aS5,-'ya8at6-rMh),dQMjmaiuns'bbaahiiaiaajuhl-sKlSbanuanmilnAQaiahyi,i'y(uIi/m"2'9aa8Un,1'N|n*'tu/1ua.n2siyy8-yS'1ya2aD9ik, )hJ,-blYblnurfi'dIsS44a'!'l4,-,',A(IWlIiAil6,3h?5d))'..,

al-QaZhaa' wal'Qadar, 'lJmar al-Asyqar, hal. 37. Lihat juga kitab al-Qadhi
Abu Ya'la dan kiiab Masaa'ilul limaai, studi dan penelitian, oleh Su'ud bin
'Abdil 'Aziz al-Khalaf, hal. 98-99. Lihat itga, al''Aqiidah al'VaasitbiyYah,
dikomentari oleh Syaikh Ibnu Mani', hal. 5O-51, Ma'aarijul Qabuul, QI/238-
240), at-Ta'lii4aat 'ila Lum'atil I'tiqaad, Syaikh Ibnu Jibrin, hal. 61-64, dan
Lum'atul lliqaad, deogan syarah Syaikh Ibnu'lJtsaimin, hal. 95.

aZtaha-dTuhlaMbaarsi,iifrf,'IIbI/n7u5l),JadaunziT,aNfsIiIir/7a0l')Qduar'naalinhailr',Atzahaimimi',uIlbBnuayKaaatns,iIrb.nu Jarir

Bab Pertarna: Kqakinan yang Benar Dalam Masalab Qadar 83

v

Pembabasan Keempat

Macam-M acam Takdir'z

Macam-macam takdir itu antara lain:

t. At-uqdiirul 'aam (takdir yang bersifat umum).

2. At-uqdiirul basyai (takdir yang berlaku untuk manusia).
3. At-taqdiirul'umi (takdir yang berlaku bagi usia).
4. At-taqdiirus sanazpi (takdir yang berlaku tahunan).
5. At-taqdiirulyaumi (takdir yang berlaku harian).

1. At-taqdiirwl'aam (takdir yang bersifat umum).

Ialah takdir Rabb untuk seluruh alam, dalam arti Dia menge-
tahuinya (dengan ilmu-Nya), mencatatnya, menghendaki, dan juga

menciptakannya.

Jenis ini ditunjukkan oleh berbagai dalil, di antaranya firman
Allah Ta'ala:

rl$i'",t1"r1r1'ltr Ct- &'fri Li';a li*

* i-lt't(/,€-.)Ie-.n:
'.. -..11.-
;ri
JLc);:""1

"Apakab kamu tidak rnengetabui babzaa sesungguhnya Allah

rnengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Babutasanya
yang demikian itu terddpat dalam sebuab hitab (Laub Mabfuzb)

Sesunggubnyd yang demikian itu amat ntudah bagi Allah. (QS.
Al-Hajj: Z0)

Dalam Shabiih Muslim dari 'Abdullah bin'Amr ciy' bahwa

Nabi ffi bersabda:

,;'lv71,>tjt1)r'rt\ "oi'&,6;lAt p6 ?nr'3

e7 Lihat, A'laamus Sunnab al-Mansyuurah, h^1. L29-133 dan komentar Syaikh
Ibnu Baz atas al-lVaasithiyyah, hal. 78-80.

84 Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalah Qod",

& *fS.et-?Jl 1. tt ozz

"Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000
tahun sebelum menciptakan langit dan bumi." Beliau bersabda,
"Dan adalah 'Arsy-Nya di atas air.""

2. At-taqdiirwl basyari" (takdir yang berlaku untuk ma-

nusia).

Ialah takdir yangdi dalamnya Allah mengambil janji atas semua
manusia bahwa Dia adalah Rabb mereka, dan menjadikan mereka
sebagai saksi atas diri mereka akan hal itu, serta AIIah menentukan
di dalamnya orang-orangyang berbahagia dan orang-orang yang
celaka. Dia berfirman:

b-t* 1b iJii "&i".+:\ n ?tt; e::'Liibh

\'{'-_ -.-.J b U t-;-il

(, 3#"" A. \;v--e;

'*W ri; ;b t:b (,1y-*;i ?i:;r, -rf
(@)

"Dan (ingatlab), ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-

anak. Adam dari sulbi mereka dan Allab mengambil kesaksian
terhadap jiua mereka (serarya hrfirman),'Bukankah Aku ini Rabb'
mu.'Mireka menjazaab,'Betul (Engkau Rabb kam), kami menjad'i
saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat
kamu ti.dak mengatakan,'sesungubnya kami (Bani Adam) ddzkh
orang-orangyang lengah terbadap ini (keesaan Rabb)''" (QS. Al-

A'raaf.:t72)

e8 HR. Muslim, CVIII/S1). Baz memberikan komentar terhadap p-embagian
se Syaikh 'Abdul 'Azizb:Jr.

yang kedua ini seraya berucap, "Bahwa takdir yang kedua ini masuk kedalam
i"t ii, y*g p.rt"*", oleh sebab itu Abul'Abbas, Ibnu Taimiyyah,.menolaknya
dalam kitib al-,Aqiidab al-lVaasitiyyah,begrttt juga banyak dari para ulama

Iainnya y ang say a ketahui."

Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalah Qadar 8s

Dari Hisyam bin Hakim, bahwa seseorang datang kepada Nabi

ffi lalu mengatakan, "Apakah amal-amal itu dimulai ataukah di-

tentukan oleh qadha')" Rasulullah ffi menjawab:

,:re;:i'*G i#i'V ,Vr"r+"a ?t\ {ri t-i ht ai!
,'t*, ca.a)t €:\y',i6 al
i a2t '*q *),"$i
t'

Jji,tlr Sr^ir, ,^iAr ,p3'):H ^iJr'1*i', ,rflt

.rrlt ;^i,f,o"):H

"Allah mengambil keturunan Nabi Adam (,{*tt) dari tulang

sulbi mereka, kemudian menjadikan mereka sebagai saksi atas

diri mereka, kemudian mengumpulkan mereka dalam kedua
telapak tangan-Nya seraya berfirman, 'Mereka di Surga dan

mereka di Neraka.'Maka ahli Surga dimudahkan untuk beramal
dengan amalan ahli Surga dan ahli Neraka dimudahkan untuk

beramal dengan amalan ahli Neraka."loo

3. At-taqdiirul'umri (takdir yang berlaku bagi usia).

Ialah segala takdir ftetentuan) yang terjadi pada hamba dalam
kehidupannya hingga akhir ajalnya, dan juga ketetapan tentang

kesengsaraan atau kebahagiaannya.

Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits ash-Shadiqul Mashduq

(Nabi Muhamma d M_) dalam Shahiihain dari Ibnu Mas'ud secara

marfu':

J'-."Jtqa!, - o!, cl.-2oto-q,l. o ,ol cl ?. o 't't?i.b !l,lz,o*>-lol^-..5/ J--l ,J!
^\' r 9'-,..,rJ.r rl ;rh
aot ,;t A

(->
,u;tdd: ,U;'tfui:,/ d:!- et , t-t!
0 . . c ///

ro0 HR. Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah, yang direliti oleh Syaikh al-Albani,
Q,/73), dan al-Albani menilai sanadnya shahih dan para perawinya semuanya

terpercaya, dan as-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsuur, @,/604), ia mengatakan,

"Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Jarir, d,-Bazzar, ath-Thabrani, al-Ajurri dalam
a sy - Sy ar ii' ab, Ibnu Mardawaih, dan al-B aihaqi dalam al -A s maa' u a sb Sb ifaa t.

86 Bab Pertama: Kqtabinan yang Benar Dalam Masalab Qodo,

c-; .>\;k i;''.')"rl\'i"Ji-J', ,.'l)r ^3 Ub,3.[jr p'; "i
:
. ...W 'ri "'"";;i't ,.i1L'1 ,,L\ ,*")) S.

"sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan pen-
ciptaannya dalam perut ibunya selama emPat puluh hari, kemu-
dian menjadi segumpal darah seperti itu pula (empat puluh
hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, ke-
mudian Dia mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh
padanya, dan diperintahkan (untuk menulis) dengan emPat
kalimat: untuk menulis rizkinya, ilalnya, amalnya, dan celaka

atau bahagia(nya)... ."'o'

4. At-taqdiirus sanaani (takdir yangberlaku tahunan).

Yaitu dalam malam Qadar (Lailatul Qod*) pada setiap tahun.
Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala:

(6.#li,F3;:WY

"Pada malam itu dijelaskan segala urttsdn yd.ng penub bikmab. "
(QS. Ad-Dukhaan:4)

Dan dalam firman-Nya:

@ii ,Y ,r trt 9t, r(),J,JtJiJ;'a<, JAi J, .1j;,' \

(@/-"ri &^ [y ,e5!;

'Pad.a malam itu turun para Malaikot'do, juga Malaihat Jibril

dengan izin Rabb-nya untuk nxengdtur segala urusdn. Malam itu

(penub) kesejabterann sampai terbit fajar.' (QS. Al-Qadr: 4-5)
Disebutkan, bahwa pada malam tersebut ditulis apa yang akan

terjadi dalam setahun (ke depan,'d) met genai kematian, kehidupan,

ror FrR. Al-Bukhari, (tII/210, no. 3208), Muslim, NIII/44, r.o. 2643), dan Ibnu
Maj ah, (I / 29, no. 7 6). p an lafazhrry a adalah dari riw ay ar Muslim,"d )

Bab Pertama: Kqakinan yang Benar Dalam Masalab Qodo, 87

kemuliaan dan kehinaan, jltga rizki dan hujan, hingga (mengenai
siapakah) orang-orangy^ng (akan) berhaji. Dikatakan (pada takdir
itu), fulan akan berhaji dan fulan akan berhaji.

Penjelasan ini diriwayatkan dari Ibnu 'IJmar dan Ibnu 'Abbas
S+ , demikian juga al-Hasan serta Sa'id bin Jubair.'02

5. At-taqdiirul yawmi (takdir yang berlaku harian)

Dalilnya ialah firman Allah s:

(@, oG c;/i,F Y

"... Setiap zaaktu Dia dalam kesibukan. '(QS. Ar-Rahmaan:29)

Disebutkan mengenai tafsir ayat rersebur: "Kesibukan-Nya ialah
memuliakan dan menghinakan, meninggikan dan merendahkan
(derajat), memberi dan menghalangi, menjadikan kaya dan fakir,
membuat tertawa dan menangis, memarikan dan menghidupkan,
dan seterusnya."'ot

Pembahasan Kelima

Apa Kewaiiban Hamba Berkenaan dengan Masalah Takdir?

Kewajiban seorang hamba dalam masalah ini ialah mengimani
qadha' Allah dan qadar-Nya, serra mengimani syari'ar, perintah dan
larangan-Ny a. Ia berkewajiban unruk membenarkan khabar fterita)

dan mentaati perintah. 1oa

Jika ia berbuat kebajikan, hendaklah ia memuji Allah dan jika
ia berbuat keburukan, hendaklah ia memohon ampun kepada-Nya.
Ia pun mengetahui bahwa semua itu terjadi dengan qadha' Allah

dan qadar-Nya. Sesungguhnya, ketika Nabi Adam ($4) melakukan

dosa, maka dia berraubat, lalu Rabb-nya memilihnya dan memberi

Llhat, Zaadul Masiir,Ibnul Jauzi, (Vtrl338), Tafsiir al-Qur-aanil'Azhiim,Ibnu
Katsir, 0V/t40), dan Fat-bul Qadiir, asy-Syaukani, (Y/572).
Lrhat, Zaadul Masiir, (VIJI/114), Tafsiir al-Qur-aanil Azbiim,Ibnu Katsir,
(Y /275), dan Fat-hul Qadiir, (V/135).
104 Llhaq Jaami'ur Rasaa-il,Ibnu Taimiyyah, [U34]) dan lihat, Dar' Ta'aarudhil

'Aql oan Naql, $II/405).

88 Bab Pertama: Kqahinan yang Benar Dalam Masalah Qod",

petuniuk kepadanya. Sedangkan iblis, ia tetap meneruskan dosa
dan menghujat, maka Allah melaknat dan mengusirnya. Barang-
siapa yang bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam ($*l\),

dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalihkan dengan

takdir, maka ia sesuai dengan sifat iblis. Maka orang-orangy^rlg
berbahagia akan mengikuti bapak mereka, dan orang-orar.gy^ng

cela"kDae"nkg"at n*.ptemgiakhuatmi manustuehrhmadearepkaq,adibalisr.1A05llah dan pelaksanaan

terhadap syari'at-Nya secara benar, maka manusia akan menjadi
seorang hamba -yang hakiki-, sehingga dia akan bersama orang-orang
yang diberi nikmat oleh Allah, /aitu para Nabi, ash-shiddiqin, asy-
syuhada' dan ash-shalihin. Cukuplah dengan persahabatan ini suatu

keberuntungan dan kebahagiaan."'06

Kesimpulannya, ia wajib mengimani keempat tingkatan takdir
yang telah disinggung sebelumnya. Yaitu, tidak ada sesuatu pun
yangrcrjadi melainkan Allah telah mengetahui, mencatat, meng-
hendaki, dan menciptakannya. Ia mengimani juga bahwa Allah

memerintahkan agar mentaati-Nya dan melarang bermaksiat kepada-
Nya, lalu ia melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.
Apabila Allah memberi taufik kepadanya untuk melakukan ketaatan
dan meninggalkan kemaksiatan, maka hendaklah ia memuji Allah
dan meneruskan hal itu. Tetapi apabila dirinya dibiarkan dan dipas-

rahkan (oleh Allah) kepada dirinya sendiri, lalu ia melakukan ke-

maksiatan dan meninggalkan ketaatan, maka hendaklah ia beristigh-

far dan bertaubat.

Kemudian, hamba juga berkewajiban untuk bekerja demi ke-
maslahatan duniawinya, dan menempuh cara-cara yangbenar yang
dapat menghantarkan ke sana, lalu ia berjalan di muka bumi dan

segala penjurunya. Jika berbagai perkara datangsesuai dengan apa
yang dikehendakinya, hendaklah ia memuji Allah, dan jika datang
tidak sesuai dengan yang diinginkannya, maka ia terhibur dengan

qadar Allah. Ia tahu bahwa itu semua terjadi dengan qadar Allah

r05 Lihat, al-Fataauaa, NIII/64) dan Thariiqul Hijratain,hal'. 170.

'06 At-Tuhfah al-Mahdfiryah fii Syarh ar-Risaakh at-Tadmuriyryah, Syaikh Falih bin

Mahdi, 0I/l4O) dan lihat, Taqriib at'Tadmuriyyab, Syaikh Ibnu 'Utsaimin,
hal.119.

Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalab Qadar 89

,98, dan bahwa apayang menimpanya tidak pernah luput darinya,
sefta apa yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya.

'Jika hamba mengetahui secara global bahwa Allah dalam apa
yang diciptakan dan diperintahkan-Nya memiliki hikmah yang

besar, maka hal ini cukuplah baginya (menjadikannya tenang).
Kemudian setiap kali bertambah ilmu dan keimar.ar.nya, maka

semakin tampak pula baginya hikmah Allah dan rahmat-Nya yang
mengagumkan akalnya, serta menjelaskan kepadanya kebenaran
apa y ang dikabarkan Allah dalam kitab-Nya. " 10'

Bukan menjadi suatu keharusan bagi setiap orang untuk menge-
tahui detil pembicaraan tentang iman kepada qadar, tetapi keima-
nan secara global ini sudah mencukupi. Ahlus Sunnah wal Jama'ah
-sebagaimanayang dinyatakan oleh mereka- tidak mewajibkan atas
orang yang lemah apa yang diwajibkan atas orang yang mampu.

Albamdulillaah,selesailah pembahasan kita mengenai dalil-
dalil syari'at, fitrah, akal, dan secara inderawi, yang tidak ada kon-
tradiksi di dalamnya dan tidak ada kesamaran.

Gap/-- lS
-

ta7 Majmuu'ul Fatawaa, NIII/97).
Bab Pertama: Kqtakinan yang Benar Dalam Masalab Qodo,

Bab Ked
Syub

Seputar 11

Bab Kedua

SYUBHAT SEPUTAR QADAR

Di dalamnya tercakup dua (2) Pasal:

Pasal Pertama:
Masalah-Masalah yang Berkaitan dengan Takdir

Yang di dalamnya tercakup emPat pembahasan:

Pembahasan Pertama:
Apakah Iman kepada Qadar Menafikan Kehendak Hamba Dalam

Berbagai Perbuatan yang Dapat Dipilihnya?

Pembabasan Kedua:
Apakah ]vlelakukan Sebab-Sebab Dapat Menafikan Keimanan
kepada Qadha' dan Qadar?
Pembahasan Ketiga:

@olehkah) Beralasan dengan Takdir atas Perbuatan Maksiat atau
dari Meninggalkan Kewajiban?

Pembabasan KeemPat:

Kehendak Allah (al' Iraadab ar-Rabbaanlryab)

Pasal Kedwa:

Berbagai Permasalahan Seputar Takdir dan Jawabannya
Yang di dalamnya tercakup tujuh pembahasan:

Pembabasan Pertama:

Apakah Keburukan Dapat Dinisbatkan kepada Allah Ta'ala?

Pembabasan Kedua:

Bagaimana (Penjelasan Mengenai) Allah Menghendaki Sesuatu,
sedangkan Dia Tidak MenyukainYa?

Bab Kedua: Syubbat SePutar Qadar 93

Pembahasan Ketiga:
Apa Hikmah dari Diciptakan dan Ditakdirkannya Kemaksiatan?
Pembahasan Keempat:

Apakah Wajib Ridha terhadap Segala yang Ditakdirkan Allah?
Pembahasan Kelima:
Masalah Qadar yangTetap dan Qadar yang Tergantung, atau

Penghapusan dan Penetapan, serta Bertambah dan Berkurangnya

IJmur.

Pembabasan Keenam:

Apakah Manusia Berada dalam Keadaan Terpaksa atau Diberi
Pilihan?
Pembahhsan Ketujub:
Bagaimana Kita Mengompromikar, antara Pernyataan Bahwa
Hanya Allah Yang Mengetahui Apa yang AdaDalam Kandungan,
dengan Ilmu Kedokteran (y^ngBerhasil Mengetahui) mengenai
Jenis Kelamin Janin Dalam Kandungan, Laki-Laki ataupun Pe-

rempuan?

Pasal Pertama

MASALAH-MASALAH YANG
BERKAITAN DENGAN TAKDIR

Pembabasan Pertd.rna

Apakah Iman kepada Qadar Menafikan Kehendak Hamba
Dalam Berbagai Perbuatan yang Dapat Dipilihnya?

Iman kepada qadar -sebagaimana yangtelah disinggung- tidak
menafikan keadaan hamba dalam memiliki kehendak pada perbuatan-
perbuatan yang dipilihnya dan mempunyai kuasa terhadapnya. Hal
itu ditunjukkan oleh syari'at dan fakta.

Dalam syari'at, dalil-dalit mengenai hal itu sangat banyak sekali,
di antaranya firman Allah Ta'ala:

Bab Kedua: Syubbat Seputar Qadar

( @J gtl -*i: J) tli;t o* b

"...Maka barangsiapa yang mengbendaki, niscaya ia menempuh

jalan kembali kepada Rabb-nya. " (QS. An-Naba': 39)

(e i1 Sie;l;:$Juga firman-Nya yang lain: b

"...Maka datangilah tanab ternpdt bercocok-tanarnrnu itu bagai'

trTdnd saja kamu kebendahi... .'(QS. Al-Baqarah:223)

Juga firman-Nya:

(@ "W31)wfi-a$'tY

"Allab tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesangupannyd..... " (QS. Al-Baqarah : 286)

Dan firman-Nya:

"e);rpUi*$r*b(,€,

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-n1rt... ."
(QS. Ali'Imran: 133)

Serta firman-Nya: b

6\ lsr*/:l\ L'j{t 4t 3t. ;Gj:,y*;G0.*

'...Maba barangsiapa yang ingin Beriman) bendaklab ia beriman,
dan barangsiapa yang ingin (kafi.r) biarlah ia hafir....'(QS. Al-
Kahfi:29)

Sedangkan berdasarkan fakta, maka setiap manusia mengetahui
bahwa dia mempunyai kehendak dan kemampuan untuk melakukan
atau meninggalkan suatu perbuatan, serta mamPu membedakan
antara apa yang terj adi dengan kehendaknya, seperti berjalan, dan
apa yangterjadi dengan selain kehendaknya, seperti gemetar.'

1 Lihat, Minbaajus Sunnah,Ibnu Taimiyyah, @/109-112), at-Ti'byaanfi Aqsaam.tl

Qur-aan, Ibnul Qayyim, hal. 45, 166-169. Lihat pula, Rasaa'il fil'Aqiidah,

Bab Kedua: Syubbat Seputar Qadar 95

Tetapi kehendak dan kemampuannya terjadi karena kehendak

dan kekuasaan Allah, berdasarkan firman-Nya:

, --,i! 63it* ct @d+i- oi"&;G o;.Y

oi

(@ 34AiLti,ti;t-^-

"(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang rnau menetrTpub jalan yang
lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu)
kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semestd alam. " (QS. At-
Takwiir: 28-29)

Penjelasannya, adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh
al-'A llamah lbnu Sa'di al,ig :

'Jika seorang hamba shalat, berpuasa, beramal kebaikan, atau
melakukan sesuatu dari kemaksiatan, maka dialah yang melakukan
amal yang shalih dan amal yang buruk tersebut.

Perbuatannya tersebut, tanpa diragukan lagi, terjadi dengan
kesadarannya, dan ia merasa bahwa ia tidak dipaksa untuk melakukan
atau meninggalkan. Sekiranya ia suka, niscaya ia tidak melakukan-
nya.

Sebagaimana hal tersebut adalah kenyataan, maka hal itu pula
yang dinashkan Allah dalam kitab-Nya dan dinashkan Rasul-Nya

M, di mana nash tersebut menisbatkan amal yang shalih dan amal

yang buruk kepada para hamba serta mengabarkan bahwa merekalah

yang melakukannya. Mereka dipuji atas perbuatannya,jika terkait
dengan amal shalih, serta diberi pahala, dan mereka dicela, jika yang

dilakukan adalah keburukan, serta diberi sanksi atas perbuatan

buruk tersebut.

Dengan ini jelaslah bahwa perbuatan itu terjadi dari mereka dan
dengan kesadaran mereka. Jika suka, mereka bisa melakukannya,
dan jika suka, mereka bisa meninggalkannya. Perkara ini nyata
secara akal, inderawi, syari'at, dan bisa disaksikan.

Kendati demikian, jika anda ingin tahu bahwa perbuatan ini
-meskipun memang demikian keadaannya- terjadi dari mereka,

Ibnu 'Utsaimin, hal. 37-38, dar al-Qadbaa'ual Qadar,Ibnu 'Utsaimin, hal.
t5-t7.

96 Bab Kedua: Syubbat Seputar Qadar


Click to View FlipBook Version