The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by misbahul munir, 2020-07-22 06:41:00

Kupas Tuntas Masalah Takdir

Kupas Tuntas Masalah Takdir

"...DAn janganlab kamu mernbunub dirimu, sesunguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat
demikian dengan melangar bak dan berbuat aniaya, rnaka Kami
kelak akan memasukkannya ke dalam Neraka. Yang demikian
itu adalah mudah bagi Allab. " (QS. An-Nisaa': 29-30)

Orang yang melakukan perbuaran ini, sebenarnyaia hanyalah
melakukannya karena ingin terbebas dari kesukaran -menurur
sangkaannya-. Siapakah yang memberi ilham kepadanya bahwa ia

akan mendapatkan ketenangan dan terbebas dari kesukaran, padahal

ancaman keras ini menantinya, jika ia melakukan perbuatan ter-

sebut.

20. Tidak suka dengan kelahiran anak wanita.

Sebagian kaum muslimin -semoga Allah memberi hidayah ke-
padanya-jika dikaruniai anak wanira, maka ia tidak menyukainya.

Perbuatan ini -tidak diragukan lagi- termasuk perbuatan Jahi-
liyyah di masa dahulu, sedangkan akhlak masyarakamya adalah

kasar dan orang-orangnya banyak dicela dalam al-Qur-an dan as-
Sunnah.

Betapa miripnya malam ini dengan kemarin malam. Sekiranya
Anda mengunjungi rumah-rumah bersalin di negeri-negeri kaum

muslimin, dan anda tatapkan pandangan Anda kepada wajah-wajah
hadirin dari kalangan yalg mendapatkan anak perempuan, mem-
perhatikan ucapan dan keadaan mereka, niscaya Anda melihat
keselarasan yang mengherankan antara keadaan kebanyakan dari

mereka dengan keadaan masyarakat Jahiliyyah, yang berita mereka
telah dikisahkan oleh Allah J9., kepada kita:

Pt ' ti'r:; Aj)3 "JL SI'SE ., 3;i p. r;b b
c. 7g c ti,y;pi
u ui,-A @i#r
-L

;u-, vi"et?i A,Ai;i >r; jL ,;*-i

( @ otlsec

198 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami @do,

"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kela'
biran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya,
dan dia sdngdt marab. Ia menyembunyikan dirinya dari orang

banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya,
apakah dia akan rnemeliharanya dengan mendngung kehinaan

itaukab akan menguburkannya ke dalam tanah ftidup'hidup).
Ketabuilab, alangkab buruknya apd yang mereka tetapkan itu."
(QS. An-Nahl: 58-5e)."

Di antara fenomena kebencian kepada anak wanita, yaitu ketika
apa y^ng ada dalam rahim berupa laki-laki atau Perempuan bisa
dilihat di sebagian rumah sakit melalui USG. Jika ia laki-laki, maka
mereka gembira dan jika wanita, maka mereka tidak bergembira.

Perkara ini sangat berbahaya dan mengakibatkan seiumlah ke-
khawatiran, di antar any a:

a. Menentang qadar Allah .Fr.

b. Menolak pemberian-Ny" &, apalagi untuk mensyuku-

rinya.Itu sudah cukup menyebabkan kebencian (dari Allah)
dan layak mendapatkan sanksi.

c. Penghinaan kepada wanita, tidak menghargainya, dan mem-

bebani kepadanya apay^ngia tidak mamPu.

d. Menunjukkan kebodohan, kedunguan, dan kurang akal.

e. Menyerupai akhlak masyarakat Jahiliyyah.ss

Betapa patutnya setiap muslim menjauhi perilaku-perilaku itu
dan menyelamatkan dirinya dari perkara-perkara yang membinasa-
kan tersebut. Karena pasrah kepada qadar Allah adalah perkara
yang wajib, dan ridha dengannya termasuk dari sifat orang-orang

yang beriman.

Keutamaan anak wanita sudah diketahui. Mereka adalah ibu,
mereka adalah saudara, mereka adalah isteri, dan mereka adalah
separuh masyarakat, serta melahirkan separuh lainnya. Jadi, seolah-
olah merek a adalah masyaraka t y sempurna. 3'

^ng

37 Lihar, Sbaunul Mukarramaat bi Ri'aayatil Banaat, Syaikh Jasim al-Fuhaid
ad-Dausari, hal. 16.
38 Ahkaamil Mauluud,Ibnul Qayyim, hal. 16.
Llhat, Tuhfatul Mauduudfii Muhammad bin Ahmad bin Isma'il al-Muqaddam,
re Liha\'Audatul Hiiaab, Dr.

bagian kedua, al-Mar-ab Baina Takriimil Islaam ua lbaanatil Jaahiliyyah.

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Mernabami Qadar 199

Di antara yang menunjukkan keutamaan mereka, bahwa Allah
iE menamakan pemberian Allah dengan kelahiran mereka adalah
sebagai hibah, dan mendahulukan mereka atas laki-laki dalam fir-

man-Nya:

(-@ t;dtl i- it*"d!1s k),*.d,,;, y

"... Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang
Dia kebendaki dan memberikan anah,-anah lelaki kepada siapa
yang Diz kehendaki. " (QS. Asy-syuuraa: 49)

Demikian pula Rasul ffi menjelaskan keutamaan mereka dan

memerintahkan supaya berbuat baik kepada mereka, sebagaimana

dalam sabdanya:
t7{,;JA'#L O/
(>- :s':y q 4'r

.;llJd.l J.r"

"Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak wanita
ini, lalu berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka menjadi
penghalang baginya dari api Neraka."ao

Sungguh indah kata penya'ir.'

Beapa indahnya nikmat Allah
yaitu anak-anak wlanita yang sbalihab

Mereka adalah untuk cinta dan untuk berketurunan
mereka adalah ibarat pepobonan

Dengan berbuat baik kepada mereh,a
maha menjadi keberkahann'

2L.Ucapan, bahwa kehendak rakyat merupakan kehendak
Allah.

Syaikh 'Abdurrahman ad-Dawari ,asg ditanya tentang ucapan
ini, maka beliau memberikan jawaban:

40 HR. Al-Bukhari, (no. 1418) dalam al-Fat-b dan Muslim, (no- 2629).
Shaunul MuhdrrdTrTddt,hd. 27.
4t

200 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar

"Ini adalah kedustaan besar terhadap Allah yanglancang dila-

kukan oleh sebagian filosof berbagai aliran, dan pelaksanaannya

merupakan suatu kelancang at yang tidak ada bandingannya di

lingkup orang kafir mana pun sepanjang masa. Sebab, puncak apa
yang dikisahkan Allah tentang mereka ialah (mengenai) bergantung

kepada kehendak, lewat ucapan mereka:

u u*? isstsr7:tL;iufiri;t ',rb
c
{@
)G

"Jiha Allab menghendaki, niscaya kami dan bapak'bapak k'ami

tidak mempersekutukan'Nya dan tidah (pula) kami nrcngbaramkan
barang sesild.tu apd pun.... " (QS. Al-An'aam: 148)

Tapi Allah mendustakan mereka, karena mereka menjadikan
bangsa yang bimbang memiliki kehendak, untuk menilai baik

langkahJangkah yang mereka jalankan.

Dari kedustaan ini wajib dibatalkan berbagai konsekuensi bathil

dan yang memotifasi pengucapnya. Karena, berdasarkan ucapan

mereka yang rusak ini, bangsa memiliki alasan untuk melakukan

apa yang disukainya, dan berbuat dalam kehidupannya seperti

perb.r"t"t orang yang tidak terikat dengan syari'at dan kitab (wah-

yu), tetapi berdasarkan hawa nafsunya, berdasarkan materi, syah-

wat, dan kekuatan. Seperti bangsa-bangsa kafir yang tidak beragama

dengan diterima oleh Allah, serta tidak memperhatikan
akhlak d^gaanmkaeyuatanmg aan.

Kedustaan besar ini tidak pernah dilakukan oleh Abu Jahal dan
orang-orang sejawatnya, kendati dengan segala kebusukan dan
penentangarLnya, karena keburukannya sudah dikenal oleh akal

i..rru pasti. Perasaan dan watak bangsa-bangsa itu berbeda-beda.

Jika kehendak bangsa dianggap merupakan kehendak Allah, maka
berarti paham-paham eksistensialis me, ko munism e, nazisme, zio-
nisme, hukum rimba, dan selainnya adalah termasuk kehendak

Allah yang diperintahkan-Nya, sert^segala yang diinginkan nafsu

yang jahat dan dirindukan hati yang sakit, berupa perbuatan aib,
kebejatan, menenggak minuman keras, naluri yang tercela, dan

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami Qadar 201

mengenyangkan syahwat sesuai keadaan zaman, merupakan perin-
tah Allah?!

Lalu mengapa mereka mengkritik selain mereka dan mene-
riakinya, jika memang kehendak dan keinginan bangsa merupakan
kehendak Allah, dalam kerentuan-Ny" yang diridhai-Nya? Dan
untuk apa Allah mengurus para Rasul, menurunkan kitab-kitab,
mensyari'atkan jihad, dan memerintah serta melarang manusia,
jika memang kehendak mereka merupakan kehendak Allah yang
diridhai-Nya?

Ini adalah suatu hal yang mustahil dan puncak kedurhakaan

dan kesesatan. Orang-orang yaflg menyangka kedustaan ini, mereka
pun tidak menerapkannya atas diri mereka sendiri, bahkan mereka

mengizinkan diri mereka untuk memerangi bangsa yang tidak

tunduk kepada kekuasaan mereka dan tidak berjalan selaras dengan
tujuan mereka.

Seolah-olah bangsa yang memerintah dengan kekuatan besi
dan api tersebut, mereka adalah bangsa yang kehendaknya berasal
dari kehendak Allah.

Suatu kebathilan itu pasti kontradiktif, dan menyeru terhadap
dirinya dengan kebathilan. Mereka telah menyekutukan Allah
dengan kesyirikan yang besar, tatkala mereka menjadikan bangsa
sebagai tandingan bagi Allah, dan hawa nafsunya sebagai tandingan
bagi syari'at dan hukum-Nya, bukan lagi berhukum kepada Allah,
komitmen dengan ketentuan-kerenruan-Nyr, dan menjalankan

syari'at-Nya."a2

22. Ucapan sebagian orang awam: "Ini adalah hujan yang tidak
tertimbang." Jika hujan semakin deras dan bencana terjadi karena-

nya.

Ungkapan ini adalah ungkapan yang salah dan menafikan ke-

imanan kepada qadar, sebab, bagaimana mungkin ia menyangka
bahwa tetesan hujan yang tunrn dari langit tidak ditimbang? Pada-
hal Allah,99., berfirman,

a2 Al-Ajutibatul Mufiidab li Muhimmaatil'Aqii"dah, hal. 77-78.

202 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Mernabami Qadar

./|irf)rb. $1;frii Ge otr'r"-s i) ,G obb

4.@t4s'.

,,Dan tid.ah ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khaza-
nahnya, dan Kami tidak menurunkannyd melainkan dengan

ukuran tertentu. " (QS. Al-Hijr: 21)

Juga firman-Nya:

b l=u .g '"lkT )riD.YG ,-t-Ai o a;iSY

.;iYl /z

(@, b:34 -r.-,L^t;*6Y

"Dan kami turunkan air d.ari langit *rru,,l, suatu ukuran,lalu

Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami

benar-'benar berkuasa menghilangkannyd. " (QS' AI-Mu' -minuun:

18)

Firman-Nyayanglin:

( @ )tfi r: ,;'r"t 26" ':Je't Y

"...DAn segala sesud.tu pada sisi'Nya ada ukurannya' " (QS' Ar-

Ra'd: 8)

23. Sebagian orang mengatakan, "Kalajengking itu mendahului

takdir, sedangkan ular adalah diperintahkan."

Sebagian orang awam mengucapkan kata-kata ini, dan kata-

k"ta tersebrt -d..argtahn"gsiklkeapnadkaamtau-kpaatadalasinanaytae.nIgakamuensgeadtaankgant,h"lJl"ik!a,
kalajengking
atau.duJuk Ji ,rrt, tempat, maka hentikanlah shalat, berdirilah
dari tempatmu, dan jaga dirimu darinya, karena kamu tidak aman

dari sengatannya. Sebab, ia mendahului takdir.

Berbeda jika ular datang kepadamu, maka jangan engkau Putus-

kan shalat jika engkau sedang menunaikannya, daniangan beraniak
dari tempatmu, jika engkau sedang duduk arau terlentang. Kemu-

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar

dian jangan menjaga diri darinya, tetapi biarkanlah, karena ia adalah

diperintahkan."

Ucapan ini tertolak. ucapan mereka, "Kalajengking mendahului
takdir" adalah ucapan bathil yang menyelisihi
dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Juga karena b^eprdiya^siagrdkaisneabkuatlkdaann
ijma' bahwa tidak ada sesuaru pun yang terjadi melainkan dengan
takdir Allah ,J8, sebagaimana dalil-dalilnya yangtelah lalu. Lantas
apakah yang mengeluarkan kalajengking dari keumuman takdir
Allah,$9., dan kekuasaan-Nya terhadap ubun-ubun semua binatang
yang melata?

Bahkan, nash menyebutkan bahwa qadar tidak didahului se-
suatu pun, dan seandainya ada sesuaru yang mendahuluinya niscaya
ia didahului oleh 'ain (ytenyakit akibat pengaruh mata dengki,'*'i).

Nabi ffi bersabda:

. ...;)t rW ,ttt e.t-, ,;, Ok";, ,tG, Fi

"'Ain adalah nyata, dan seand ainya ada sesuaru yang menda-
hului qadar, ,risc"ya ia telah didahului oleh'ain... .,,a3

Kemudian ucapan mereka, "sesungguhnya ular diperintahkan,,,
maka tidak ada keraguan mengenai hal itu. Adapun kita tidak was-

pada darinya, dengan alasan bahwa ular diperintahkan, maka ini
adalah perkataan bathil yang menyelisihi kesempurnaan keimanan

kepada qadar. Karena salah satu kesempurn aannya ialah mengam-

bil sebab-sebab (yakni melakukan upaya), dan waspada dari ular
termasuk dalam kategori sebab-sebab yang kita diperintahkan
untuk melakukannya. Jika tidak, maka segala sesuatu adalah dengan
perintah Allah, lantas apakah kita akan meninggalkan sebab-sebab

secara keseluruhan?a*

43 HR. Muslim, kitab as-Salaam, (no.2188).
44 samahah Syaikh'Abdul 'AzizbinBaz,,t& mengomenlari hal iru dengan

pernyaraannya: Karena itu, rerdapat hadirs yang shahih dari Nabi $ bahwa

beliau bersabda:

T:'*if;;ff1:f',r"*:#;,"Bunuhlah Aswadain (dua yang hitam)

Dalam Sbabiihain dari Nabi ff bahwa beliau bersabda:

204 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami eadar

24.lJcapan sebagian orang ketika mendengar kematian sese-
orangr "Apak"h ia mati karena suatu sebab atau qadha' dan qadar?"

Ini adalah kesalahan. Kematian karena suatu sebab atau bukan
karena suatu sebab, semuanya adalah dengan qadha' Allah dan

qadar-Nya.

sebaiknya dikatakan: "Apakah ia mati karena suatu sebab atau
ranpa suaru sebab? Atau apakah ia mati karena sebab yang jelas

atau dengan sebab yang tidak jelas?"

25.1)capan sebagian orang ketika berta'ziab: "Sisa umur itu
ada padamu, semoga kamu kekal, semoga kamu panjang umur,"

atau ucapan y^ngsejenisnya.

Ini adalah suaru kesalahan. Ijmur yang manakah yang masih

tersisa, sedangkan Allah,98 berfirman'

3, ;{ri*- * s-b t:" $Ei1 1 - ,1, i ;6 ti)i...y

f-€r- |

(@

"...Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesdctt Pun dan tidak dapat (pula) me-
majukannya." (QS. Al-A'raaf: 34)

Mayit itu mati, yang alalnya telah benar-benar semPurna, tidak
dimajukan dan tidak ditunda. Lalu di manakah sisa umur tersebut?

Kemudian hal itu pun menyelisihi Sunnah dalam berta'zizh.

Yang disunnahkan ialah mengucapkan:

.ei"!.', J,I " !.

i.J|l E €&- 'r';'14?'-'rt:'st a".,r

"Ada lima binatang melata semuanya fasik, yang boleh dibunuh baik di tanah
halal (uar Makkah) mauPun di tanah haram."
Beliau menyebutkan, di antaranya kalajeng\i1g, Sedangkan dalam,riwayat

Muslim, diseburkan ular. HR. Al-Bukhari, (I/212) dan Muslim (I/858 no.

1200).

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar 20s

"Milik Allah-lah apayarrg diambil-Nya dan milik AllahJah apa

yang diberikan-Nya."

'+ *Atau ucapan: r, lir y-';;i r,'!';i i.,r 4i-i

"semoga Allah *.-O.r".kan pahalamu, membaguskan kesa-

baranmu, dan semogaDia mengampuni dosa jenazahmu."

Demikianl ah yang benar.o5

Pasal Kedwa )

KESESATAN DALAM MASALAH TAKDIR

Pembahasan Pertama

Yang Pertama Kali Mengingkari Qadar Dalam Umat Ini

Sebagaimana telah disebutkan bahwa iman kepada qadar adalah

perkara yang bersifat fitrah, dan tidak adapada bangsa'Arab, baik
semasa Jahiliyyahnya maupun semasa Islamnya, orang yang meng-
ingkari qadar.

Ketika buku-buku filsafat Yunani dan India masuk ke negeri-
negeri kaum muslimin, muncullah bid'ah Qadariyyah yang dinilai
sebagai awal kesyirikan yang terjadi dalam Islam. Kemunculannya
pertama di Damaskus dan Bashrah, serta tidak muncul di Makkah
dan Madinah, karena tersebarnya ilmu. Bid'ah ini muncul di akhir-
akhir masa Sahabat termuda, seperri Ibnu'Abbas dan Ibnu'lJmar

J]!,.

,tE9L .

Sumber-sumber Ahlus Sunnah wal Jama'ah nyaris bersepakat
bahwa orang yang pertama kali mempermasalahkan renrang qadar
ialah seorang pria dari penduduk Bashrah yang bekerja sebagai pen-

45 Lihat, Taslilryab Ablil Masbaa-ib, hal. r2+t3tl dan al-Kalimaat al-Muhhaalifah

uta Aafaatil Lisaan, hal. 26.

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami Qodo,

jaga toko yang biasa dipanggil Sansawaih, sebagian lainnya menye-
6ri rry" Sisa*aih, dan sebagian lainnya menyebutnya-Sausan' Ke-

-rdir, Ma'bad al-Juhani mengambil pendapat itu darinya, dan

pendapat dari Ma'bad diambil oleh Ghailan ad-Dimasyqi'

Al-Auza'i, imam penduduk Syam, mengatakan, "Orang yang
perrama kali mempermasalahkan tenrang qadar ialah seo.rang dari
penduduk lrak, yingbiasa dipanggil Sausan. Ia dulunyaberagama
irlashr"r,i, kemudian kembali memeluk Islam, kemudian menjadi
Nashrani, lalu Ma'bad al-Juhani mengambil pendapat darinya, dan

Ghailan mengambil dari Ma'bad."*6

Ma'bad al-Juhani di Bashrah dan Ghailan di Damaskus, tapi

keduanya tidak sama kead aanny^. Ma'bad adalah orang yangber-

ilmu, tetapi ia terjerumus dalam ^payarLgdialami orang-orangyang
dimurkai oleh Allah (Yahudi).

Adapun Ghailan bukan orang yang berilmu, tetapi iahanyalah

*.rrgr-til pendapat ini lalu menyebarkannya.Ia terjerumus dalam
k"r- yang sesar (I.{ashrani). Syubhat pada mereka

a^p; ^pil^rrrgrid"ti"aalanmnyiaadalah, bah*a mereka ingin mensucikan Allah
drri k"brr*kan dan dari menciptakan kemaksiatan, lalu yang terjadi

adalah mereka menafikan qadar.

para St"a.hsaebb^rrtt,ybarnhgkmrnasmiherheikdaupsapngaadtamweankgtuinqit\ua1mi.nefnag, insegPkaerrtii
pendapat
ibrr., .^U*"r, Ibnu ,Abbas, Anas bin Malik, dan Jabir bin 'Abdillah

Jh.. 47

^:Wa. Ghailan dan Ma'bad muncullah para pemimpin Mu'-

Sesudah

azilah,seperri \Tashil bin'Atha' dan'Amr bin'Ubaid. Mereka

mengambil pendapat-pendapat tersebut dan menyebarkannya'

para ulama menyebut sekte yang menafikan qadar ini dengan
nama Qadariyyah, dan mereka menyebut kelompok.ini sebagai
"Majusinya umat ini." Karena Majusi berpendapat dengan dua

oe Ary-Syarii'ab,karya al-Ajurri, hal. 243 dan Syarb [Jshuul lliqddd Ahlis Sunnab,

17 al-Lalika-i, IV/750). bAinbliAs hSmuandn,ab.(,IIa/4l-2A0s-h4b2a1h)a, n(i,-f(uIIilj11sb-15f1),;
Lihat, as-S)nnah,Imam 'Abdullah

ilfiiiit Uiniii"6 ua Syarh lligaq(
fii'"i f"f., Syaib rJshuul't'lqaad'Ablis Sunnab, al-Lalika-i, (Y/625,694-730),
dan Lauaami'ul Anuaar, (/299)-

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar 207

prinsip: cahaya dan kegelapan. Menurut mereka, alam mempunyai
dua tuhan: tuhan cahaya, yaitu pencipta kebaikan, dan tuhan ke-
gelapan, yaitu pencipta keburukan.

Demikian pula Qadariyyah, mereka menyangka bahwa hamba
menciptakan perbuatan mereka. Mereka berpendapat bahwa Allah
menciptakan manusia, dan manusia menciptakan perbuat annya.

Dengan ini, mereka menerapkan dua pencipta, bahkan banyak

pencipta, lalu mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu dalam
ciptaan-Nya. Jadi, mereka serupa dengan Majusi dalam hal itu.

Di antara mereka pun ada yang berlebihan dan menafikan ilmu

Allah.98.

Sebagai bantahan terhadap Qadariyyah yang menafikan takdir,
muncullah orang-oran g yang berlebihJebihan dalam menetapkan
takdir. "Sehingga pada akhir masa Bani IJmayyah muncullah se-
jumlah kalangan yang menyangka bahwa hamba dipaksa (majbur)
dalam perbuatannya.Ia tidak punya pilihan dalam
atau ditinggalkannya. Sedangkan sebagian yang la^ipnaymaenngedtaiapmkabnil
bahwa hamba mempunyai kekuasaan yang tidak memiliki pengaruh.

Orang yangpertama kali memunculkan pendapatyangkeji ini
ialah Jahm bin Shafwan. Dan dari bid'ah ini muncul berbagai pen-
dapat yang keji dan kesesatan yang besar."o8

Pembahasan Kedua

Kesesatan-Kesesatan Dalam Masalah Qadar

Batryak golongan yang tersesat dalam masalah qadar, dan sum-
ber kesesatan mereka hanyalah karena mereka mendahulukan akal
daripada wahyu, dan mereka memandang nash-nash dengan pan-

dangan yang buruk. Lalu mereka mengambil apa yang selaras

dengan hawa nafsu mereka, dan buta atau pura-pura buta terhadap
selainnya.

Dalam kesempatan ini kita tidak perlu membanrah secara detil

atas sekte-sekte tersebur dan mendiskusikan pendapat-pendapat
mereka. Apa yang telah disebutkan berupa bantahan terhadap se-

48 Lihat, al-Qadhaa'utal Qadar, Dr. 'IJmar al-'Asyqar, hal,.23.

208 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar

bagian pendapat berikut penjelasannya, dan memahami masalah

qrJr, *"r.rr.rt pemahaman 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah,

sudah cukup untuk menjawab pendapat-pendapat tersebut'

Di antara sekte-sekte yang rersesat dalam masalah ini ialah se-

bagai berikut:

1. Qadariyyah.

Mereka adalah pengikut Ma'bad al-Juhani dan Ghailan ad-Di-

masyqi, serta pengikut \Washil bin'Atha' dan'Amr bin'Ubaid

dari-Mu'tazilai. Siapa yang menyetujui pendapat mereka, mereka
adalah Qadariyyah.

Pendapat mereka tentang qadar adalah: Hamba itu merdeka
dengan p"ibr"trt t ya dalam hal kehendak dan kemampuan, sedang-

k"J.h.rrdak dan kekuasaan Allah tidak memiliki pengaruh di

dalamnya.

Mereka berpendapat bahwa perbuatan hamba itu bukan cip-
taan Allah, tetapi hambalah yang menciptakan perbuatan tersebut.

Menurur mereka, dosa yang terjadi bukanlah terjadi dengan kehen-
dak Allah.

Bahkan kalangan fanatiknya mengingkari bila Allah telah me-
ngetahuinya. Mereka mengingkari kehendak-Nya yang menyeluruh
dan kekuasaan-Nya yang terlaksana. Karena itu, mereka dinama-
kan dengan "Majusinya" umat ini, karena mereka seruPa dengan

Majusi y".rg -.t gatakan bahwa alam semesta memPunyai dua

ruhan: tuhan cahaya, sebagai pencipta kebaikan, dan tuhan kege-
lapan, sebagai pencipta keburukan. Qadariyyah menjadikan sekutu

bagi Allah, brt k"" banyak sekutu dalam ciptaan-Nya. Mereka

-enyargka bahwa hamba menciptakan perbuatan mereka, dan
mereka b.r..grr-.n secara keji dengan sebagian ayat-^yat' sebagai-

mana dengan firman-Nya:

"(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang nxau menempub jalan
yang lurus. " (QS. At-Takwiir:28)

Dan firman-Nya:

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar

Q''i=rrr-;'"lr ... eLi - yot ryp rt-i dJ-*9... f

"...Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman,

dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlab ia kafir.... " (QS. Al-
Kahtu 2e)

Dan mereka menakwilkan (dengan takwil yang bathil) ayat

yang lainnya yang menyelisihi pendapat mereka, sebagaimana ter-
hadap firman-Nya:

,E{..( (\./t.?-rr.r,,)) \_'/,.r-/y1-< i,ti;t---ri {t cr:i6 GSY

"Dan kamu tidah dapat menghendaki (menempub jalan itu) ke-

cuali apabila dikehendaki Allah, Rabb sernesta alam. " (QS. At-

Takwiin29)

Sumber kesesatan mereka pada permulaannya adalah, bahwa

mereka ingin mensucikan Allah & dari keburukan, lalu akhirnya

mereka menafikan qadar.

Telah kita sebutkan jawaban atas hal itu ketika membicarakan

tentang dua tingkatan takdir: penciptaan dan kehendak, ketika mem-
bicarakan tentang diciptakannya perbuatan hamba, yaitu bahwa
iman kepada qadar tidaklah menafikan apabila hamba mempunyai

kehendak dalam perbuatan-perbuatan yang disadarinya (y*g dapat

dipilihnya), dan ketika membicarakan diciptakannya keburukan
dan hikmah darinya, juga ketika membicarakan tentang hikmah
diciptakan dan ditakdirkannya kemaksiatan. Untuk membantah
mereka cukuplah dengan firman Allah,F.,:

(@ tt3tc't{rY i'i'tY

"Padahal Allab-lab Yang menciptakanmu dan apa yang kamu
perbuat itu." (QS. Ash-shaaffac 96)"

4e Llhat al-Muhhtaarfii Ushuulis Sunnah,Ibnu al-Bana,hal.87, Bugbyatul Mur-

t a ad, Ib nu Tai m iryah, hal. 26 l, a s b - Sb afad ryy ab, [l / l0 6- 109), a l -Is t iq aama b,

Q./147,179 dan 431). Lihat pula, Majmuu'ul Fdtaalodd, (rlIJ./258), at-Ta'iifaat,

2t0 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami Qadar

2. Jabariyyah.

"Mereka adalah orang-oran g yangberlebihan dalam menetap-
kan qadar, sehingga mereka mengingkari bila hamba memiliki per-
buatan -secara hakiki-. Bahkan seorang hamba, -menurut persang-
kaan mereka- tidak mempunyai kebebasan dan perbuatan, seakan-

akan sebuah bulu yang ditiup angin. Perbuatan-perbuatan yang

disandarkan kepada seorang hamba hanyalah bersifat majazi. Di'

katakan: ia shalat dan puasa, membunuh, mencuri, sebagaimana

dikatakan: matahari terbit, angin bertiup, hujan turun. Mereka
menuduh Rabb mereka sebagai pihak Yang zhalim, membebani

para hamba dengan apa yang tidak mereka sanggupi, dan membalas
mereka atas apa yang bukan dari perbuatan mereka sendiri. Mereka
menuduh-Nya sia-sia dalam membebani hamba, dan mereka mem-
batalkan hikmah dari perintah dan larangan. Ketahuilah, betapa
buruknya apa yar,Lg mereka putuskan."to

Mereka pada hakikatnya menyangka bahwa Allah-lah Pelaku
yang hakiki bagi perbuatan-perbuatan mereka, berbeda dengan
apayarLgdipahami Ahlus Sunnah yang menyatakan: Allah adalah
Pencipta, dan hamba adalah pelaku. Karena itu, perbuatannya

mengakibatkan pahala dan sanksi.

Mereka -J ab ariyy ah- disebut j uga Q ada riyy ah Musyrikiyyah,
karena mereka menyerupai kaum musyrik dalam ucapan mereka:

( @ s*v 1: rL"iu {\'i ;l'i...Y

al-Jurjani, hal. 181, Syarhul tX/aasitbiyyab, al-Harras, hal.229-230, Rasaa-ilfil

'Aqiidab, hal. 40, al-Mu'tazilah ua Ushuuluhum al-Khamsah,hd,.l5l-159, al-

Mu'tazilah Bainal Qadiim utal Hadiits, Muhammad a1-'Abdah dan Thariq
'Abdulhalim, hal. 57-59, ad-Durrah al-Babiyyab, hal. L7-18, Mukbtasbar at-

Tuhfatul ltsnaa 'Asyariyyab, hal. 90, dan al-Qadbaa' wal Qadar fii Dhau-il

Kitaab roas Sunnab, hal. 204-206.

50 Syarh al-lY'aasithtyyah, al-Harras, hal. 230. Lihat pula, al-Ikhtilaaf fil Lafzb,

hal. 10, an-Nubua.tu.taat,Ibnu Taimiyyah, hal. 166, al-Fataautaa, NIII/256),
Syarb Nuuniyyab lbnil Qayyim, al-Flarras, Q/372), ad-Durar as-Sunniyyab,
[/358-359), al-Muntaqaa min Faraa-idil Fauaa-id, Syaikh Ibnu 'Utsaimin, hal.
lO2, dan al-Qadhaa'ual Qadarfii Dbau-il Kitaab uas Sunnab,hd,.203-204.

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar 2tt

"...Jika Allah rnengbendaki, niscaya kami dan bapak-bapak bami
tidak mempersekutukan-Nya.... " (QS. AI-An'aam: 1a8)

IJcapan mereka ini jelas kacau dan bathil. Telah disebutkan

bantahan atas mereka, ketika membicarakan mengenai, bahwa iman
kepada qadar tidak menafikan bila hamba mempunyai kehendak

dalam perbuatan-perbuatan yang disadarinya (y"tg menjadi pili-
hannya), juga ketika membicarakan tentang berdalih dengan takdir

atas kemaksiatan.

3. Qadariyyah Iblisiyyah.

Yaitu, orang-orangyang membenarkan bahwa dari Allah datang
dua hal -yakni bahwa Dia menakdirkan dan Dia memerintah serta
melarang,- tetapi mereka berpendapat bahwa hal tersebut kontra-
diktif.

Mereka adalah orang-orangyang membantah Allah Ta'ala dan
mereka dinamakan lblisiyyab, karena mereka menyerupai iblis
dengan ucapannya yang disebutkan Allah dalam al-Qur-an, ketika

mengatakan:

6 i( -ra*Jji dL'i" L''3:,r,6:r'i-u.^t F

"...Kdrend Engkau telab menghukum sdyd. tersesat, sdyd benar-
benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lu-
rzs. " (QS. Al-A'raaf: 15).s1

4. Ghulat Shufiyyah (kaum shufi fanatik).

Yaitu orang-oran g yang berlebihan dalam permasalah an jabr
(keterpaksaan manusia). "Dari kalangan yang menyangka telah
mencapai tingkatan'menyaksikan hakikat semesta dan rububiyyah
yang sempurna,' mereka melihat segala yang timbul dari hamba
berupa kezhaliman, kekafiran, dan kefasikan adalah ketaatan yang
murni, karena hal itu terjadi selaras dengan apayangdiqadha'dan
diqadarkan Allah, dan segala hal yang diqadha' dan diqadarkan-
Nya adalah disukai-Nya lagi diridhai di sisi-Nya. Ketika ia menye-
lisihi perk ara syari'at, dengan melakukan larangan-larangan ini,
maka -menurut mereka- ia telah mentaati kehendak Allah dan

51 Lihat, al-Fataautaa, NIII/260) dzn al-Istiqaamah, [I/13e).

212 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalarn Memabami Qadar

menjalankan kehendak-Nya. Barangsiapa yarrg mentaati Allah serca
qadha' dan qadar-Nya, maka ia seperti orang yang mentaati-Nya
d"lrm perintah dan larangan-Nya. Keduanya telah melakukan hak
'ubudiyyah untuk Allah."s2

"Kemudian tidak boleh pula mencela dan menyalahkan, karena
semuanya menraati melalui perbuatannya, karena merupakan ke-

hendak Rabb-nya. Dengan itu mereka membenarkan keyakinan
Fir'aun dan para penyembah patung anak sapi, Yahudi, Nashrani,
dan Majusi."sr Sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Ibnu 'Arabi as-

Shufi dengan ucapannya:

Sesunggubnya aku sebelum bari ini mengingkari sahabatku
jika agamaku tidak sama dengan d.y*nxdnyd.

Sesunggubnya batiku sekarang menerima segala bentuk
padang rurnput untuh kijang sinagog untuh pendeta

Kuil untuk berhala, Ka'bah untuk ord.ng bertbataaf
lembaran Taurat dan musbaf Qur'an

Aku beragama dengan agama cinta
kemana pun k endaradnnya nzenghadap
maka cinta adalah agantaku dan imankuso

Juga seperti ucapan 'Abdulkarim al-Jili, salah seorang pengi-

ku W'ibdatul W'ujud:

Akw menyerahkan jiuaku di mana baua nafsu menundukkanhu
aku tidak membantab keputusan kekasib

Kadangkala engkau melihatku rukuk di masjid
aku juga melakukan kebaktian di gereja

Jika aku dalam hukum syari'at adalab bermaksiat
maka aku menurut ilmu hakihat adalah orangyang taat.ss

52 Syarb an-Nuuniyyah, al-Harras, Q/372).
s3
Al-Mu'tazilab Bainal Qadiim ual Hadiits, hal. 58-59' Dr. Musa ad-Duwaisy,
5'
Rasaa-il toa Fataazoaa fii Dzamm lbni 'Arabi asb-Sbuufi,
hal.74, asb-Sbuufiyyab fii Nazhril Islaam, Samih 'Athif az-Zain,hal- 473,
Diraasaatfit Tashawuuf,Ihsan Ilahi Zhahir, hal. 113, Nazbraatfii Mu'uqaad

Ibni 'Arabi, Dr. Kamal 'Isa, hal. 42-44, dan asy-Syi'rush Shuufi ila Mathla'il

Qarn at-Taasi'lil Hijrah,Dr. Muhammad bin Hasan,hal. 172.

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami Qadar 213

Juga sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka:

Aku berbuat adalab dengan apd ydng dipilibkan-Nya untukku

se h ingga perbuatank u se luruhnya adalah kepatuban

Madzhab ini merupakan madzhab yang paling keji, dan tidak
diragukan mengenai kekafiran pengikutnya, bahkan ini merupa-

kan jenis kekafiran yang paling buruk.

Syaikhul Islam berkata, "Siapa yangberarqumen dengan qadar
dan mengakui kerububiyahan secara umum bagi semua makhluk,
serta tidak membedakan antara yang diperintahkan dan yang dila-
rang, orang-orang yang beriman dan orang-orangyangkafir, ahli
taat dan ahli maksiat, maka ia belum beriman kepada seorang Rasul
pun dan tidak pula kepada satu kitab suci pun. Baginya iblis dan

Adam adalah sama, Nuh dan kaumnya pun sama, Fir'aun dan
Musa juga sama, as-Sabiqunal Awwalun (para Sahabat Nabi) dan
kaum kafir Quraisy juga sama."56

5. Para filosof., yang "mengingkari pengetahuan Allah Ta'ala

terhadap j u z- iyy aat (perkara-perkara rinci).

Menurut mereka, Allah hanya mengetahui hal-hal yang bersifat
umum dan tetap. Hakikat ucapan mereka adalah bahwa Dia tidak
mengetahui sesuatu pun, sebab segala yang berada di luar adalah

juz-ty."s7

Cukuplah firman Allah,9P. untuk membantah pendapat mereka:

Lrt

ia; i -W"i,#i e6,i,.t-4o\{t

t-6;" *) y'r't o^'di q ";;iS li J I
*l *c. "lS fr.lr,l.r.lt'.r;L C F .l:

yf.c/, .re'. I '.2

K's3v)

55 Haadzihi Hiya asb-Sbuu/iyyab, 'Abdurrahman al-lVakil, hal. 96.
Majmuu'ul Fatdd|.t)t14, (VlI/100).
t'

57 Syarh al-lYaasithiyyah, al-Harras, hal.. 94, dan lihat, Dar' at-Ta'aarudh al-'Aql

utan Naql, (X/397), k*ab ash-Sbafadiyyah,Ibnu Taimiyyah, [/7-8), dan
al-Qadhaa' wal Qadar fii Dbau-il Kitaab was Sunnah, hal T 4-7 6.

214 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Mernabami Qod",

"Dan pada sisi Allab-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada

ydng mengetabuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia ntengetahui
apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun
pun ydng gugur melainkan Dia mengetabuinya (pula), dan tidak

jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu
yang basah atau ydng kering melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Laub Mahfuzb). (QS. Al-An'aam: 59)

6. Asya'irah (Asy'ariyyah).

Yaitu kalangan yang hendak mengkompromikan antara Jaba-
riyyah dan Qadariyyah. Mereka membawa teori al-kasb, yang pada
puncaknya ialah Jabariyyah murni, karena menafikan kuasa atau
pengaruh apa pun bagi hamba. Adapun hakikatnya ialah teori fil-

safat.

Asya'irah sendiri tidak mampu memahaminya, apalagi mema-
hamkan kepada orang lain. Karena itu, dikatakan:

Di antara pendapat yang tidak ada bakikatnya
kelihaannya logis, dehat kepada pemahaman

Ialah al-kasb menurut Asy'ari
padahal sebenarnya itu pendapat al-Bahsyami
dan Th afrab an - Nazhzhamts

7. Rafidhah (Syi'ah).

Hal itu karena mereka berpendapat bahwa Allah tidak tahu
tentang kejadian-kejadian yang akan terjadi, tetapi Allah hanya

mengetahui sesuatu yang telah terjadi. Mereka berpendapat bahwa

Allah bisa tidak tahu dan lupa. Allah ,*9r, -et rtut Rafidhah, kaget

dengan hal-hal yang belum diketahui-Nya, atau berbeda dengan
apa y ang diketahui-Nya. s'

58 Manhajul Asyaa'irah fi.I 'Aqiidah, Syaikh Safar al-Hawali, hal. 43, dan lihat,
Laaaami'ul Anu!)ddr, I/291-292), ar-Raudhatul Babtyyah fii maa Bainal Asyaa-

'irah wal MaaturiidiyyaD, Abu 'Adzbah, hal. 42, ar-Raudhatul Baasirn, Ibnul

\lazir, (I/21), dan ar-Radd al-Atsaril Mufiid'alal Baijuri, hal. 103-108, dan

5e a l-Qadbaa' uta I Qadar, Syaikh Dr.' Abdurrahman al-Mahmud, hal. 206-213.
Lrhay ary-Syii'ab uas Sunnab, Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, hal. 53, ar-Radd al-
'lfaafi 'ala Mugbaalathaat ad-Duktuur 'Ali 'Abduluahid lVafi, hal. 99, Ihsan

f,ahrZhohir, Butbhan'Aqaa-id asy-Syii'ah, Muhammad'Abdussattar at-Tunisawi,

hd.23, Mauqiifusy Syii'ah min Ablis Sunnah, Muhammad Malullah, hal. 33,

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalarn Memahami Qadar 2ls

Dan karena mereka berpendapat bahwa para imam mengeta-
hui apa yangtelah terjadi dan apa yang akan terjadi, tidak ada se-
suatu pun yang tersembunyi atas mereka. Mereka (para imam)
mengetahui kapan mereka mati, dan mereka tidak mati kecuali
dengan pilihan mereka, tidak terhalang di hadapan mereka ilmu
langit dan bumi, Surga dan juga Neraka, mereka mengetahui ma-
nusia dengan hakikat iman dan hakikat nifak, dan mereka mem-
punyai buku yang berisikan nama-nama ahli Surga, nama-nama
golongan mereka, dan nama-nama para musuh mereka.60

Di antara mereka adayang mengatakan, "Allah tidak menge-
tahui segala sesuatu sebelum terbentuknya," dan di antara mereka
ada yang mengatakan, "Allah tidak mengetahui perkara-perkara

j uz' iyyat sebelum terj adinya. "61

Semua itu adalah kesesatan dalam masalah qadar, yang rukun
pertamanya ialah mengimani ilmu Allah,9P.. Mereka menjadikan
bagi Allah sekutu-sekutu berkenaan dengan ilmu-Nya, lalu mereka
merobohkan rukun ini dari asasnya.

Bagaimana bisa semua pendapat itu muncul, padahal Allah €

berfirman:

(@ ";$tt;,J;" 14ie6,L,t'.4*$

"Dan pada sisi AllabJah kunci-kunci semua yang gbaib, tidak ada
yangmengetabuinya kecuali Diz sendiri... .'(QS. Al-An'aam: 59)

Dan Dia juga berfirman:

Mas-alab at-Taqriib Baina Ablis Sunnah zoasy Syii'ah, Dr. Nashir al-Qafari,
[/334).
Lihaq al-Khuthuuthul 'Arii.dhah, Muhibbuddin al-Khathib, haJ. 69, asy-Syii'ab
toas Sunnab, Syaikh ihsan Ilahi Zhahtr, h^1. 66, Ma*alah at'Taqriib, al-Qafari,
[/290), Ushuul Madzhab asy-Syii'ah, Dr. Nashir al-Qafari, QI/638-646), al-

Muujaz fil Madzaahib utal Adyaanil Mu'aasbirab, Dr. Nashir al-'Aql dan Dr.

Nashir al-Qafari, hal. 124, asy-Syii'ah al-Imaamiyyah al-ltsnaa'Asyariyyyab

fii Miizaanil Islaam, Rabi' bin Muhammad as-Su'udi, hal. 190-193, dan al'

Qadhaa'r.oal Qadar, karya Mahmud hal. 213-216.
Llhat, Mukbtasbar at-Tuhfatul ltsnaa 'Asyariyyah, hal. 81.

216 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami Qadar

!.;Ai uz:\:,>'jiJli eG )U* #F
L.rt:
/d\ <2.-r\
4JJI
€/r

"Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang

mengewbui perkara yang gbaib, kecuali Allab.... " (QS. An-Naml:

6s)

8. Orang yangpercayaakan pengaruh planet-planet, nama-

nama, dan rasi bintang.

Seperti keadaan orang-oran g yangmemperhatikan bintang-
bintang dan nama-nama, untuk melihat berbagai rahasia qadar me-
lalui hal itu. Anda melihat mereka mengatakan, "Jika fulan dilahir-
kan pada rasi bintang anu, atau memiliki nama anu, maka ia akan
tertimpa demikian dan demikian, pada hari demikian dan demi-
kian." Di antara yang mereka ucapkan juga, "Berdasarkan namamu
kamu dapat mengetahui keberuntunganmu, dan dari bulan kela-
hiranmu kamu dapat mengetahui keberuntunganmu,"" dan per-
kataan sejenisnya dari pengetahuan tentang perkara ghaib. Ini ada-
lah kesesatan dalam masalah qadar, karena qadar itu ghaib, dan yang
ghaib itu hanya diketahui oleh Allah u;i .

Pembahasan Ketiga

Kisah dan Perdebatan bersama
Qadariyyah dan Jabariyy ah

Qadar, sebagaimana dikatakan Ibnu 'Abbas, adalah sistem tau-
hid. Dan beriman kepadanya, sebagaiman^yang diimani Ahlus
Sunnah, ditunjukkan oleh akal sehat, dan wahyu yang shahih. Se-
dangkan yang menyelisihinya akan kalah dan argumennya batal.
Logika Qadariyyah tidak dapat dipakai sebagai argumentasi untuk

62 Lihat, sebagai contoh, buku Hazbzbuha Ta'rifub min Syahr Miilaadih dan
buku Haazbzhuka Ta'rifuh min Ismih. Kedua buku itu tulisan pembohong
besar, Humaid al-Azri, yang dijuluki sebagai tokoh astronomi dunia.

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami Qadar 217

menghadapi kaum awam Ahlus Sunnah, terlebih terhadap ulama-
ulama mereka.u'

Mudah-mudahan dengan mengemukakan sebagian kisah dan

perdebatan ini dapat menambah kejelasan dan mengokohkan ke-
shahihan madzhab Salaf dalam masalah qadar. Di antara kisah-kisah
dan perbincangan itu ialah sebagai berikut:

1. LJnta seorang badui dicuri, lalu orang itu datang ke halaqah

'Amr bin 'Ubaid, salah seorang pemuka Mu'tazilah, dan salah se-

orang yang berpendapat dengan pendapat Qadariyyah. Badui ter-
sebut berkata kepada'Amr, "IJntaku dicuri, maka berdo'alah ke-
pada Allah agar Dia mengembalikannya kepadaku."

'Amr berkata, "Ya Allah, unta orang miskin ini dicuri, dan
Engkau tidak menghendaki pencuriannya. YaAllah, kembalikan-

lah kepadanya."

Mendengar itu, badui tersebut berkata, "Aku tidak membutuh-
kan do'amu." 'Amr bertanya, 'Mengapa?" Ia menjawab, "Aku takut
-sebagaimana Dia menghendaki agar unta itu tidak dicuri tapi di-

curi,- lalu Dia hendak mengembalikannya tapi tidak dikembalikan!"64

2. Al-Qadhi 'Abduljabbar al-Hamdani, salah seorang tokoh

Mu'tazilah, menemui ash-Shahib bin'Ibad, sedang di sisinya ada
Abu Ishaq al-Asfarayini, salah seorang imam Sunnah. Ketika ia
melihat al-Ustadz (Abu Ishaq), ia mengatakan, "Mahasuci Dzat
Yang suci dari kekejian." Maka Ustadz mengatakan, "Mahasuci
Dzat Y angtidak ada yangterjadi dalam kerajaan-Nya melainkan
sesuatu yang dikehendaki-Nya." AI-Qadhi bertanya, "Apakah
Rabb kita berkeinginan untuk di durhakai?" Al-ustadz menjawab,
"Apakah Rabb kita di durhakai dengan keterpaksaan?" Al-Qadhi
berkata, "Ap, pendapatmu, ketika Dia menghalangi petunjuk ke-
padaku dan menentukan kehinaan atasku, apakah Dia berbuat ke-
baikan kepadaku ataukah berbuat keburukan?" Al-IJstadz menja-
wab, "Jika Dia menghalangimu terhadap yang menjadi milik-
mu, maka Dia berbuat keburukan. Tapi jik^apaDia menghalangimu

61 Lthaq al-Qadbaa'wal Qadar, Dr. al-Asyqar, hal. 50.
64 Lihaq Syarb Usbuul lTiqddd Ablis Sunnah ual Jama'ah, IV/739) dan Syarb al-

'Aqiidab atb-Thahaautiyyah, hal. 250-251.

218 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memabami Qodo,

dari apa yang menjadi milik-Nya, maka Dia mengkhususkan dengan
rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya." Akhirnya, al-
Qadhi 'Abduljabbar terdiam seribu bahasa.ut

3. Syaikh'Abdurrahman bin Sa'di aiig menyebutkan dalam

ad-Dunab al-Babiyyab sejumlah contoh yang menyingkap masalah

qadha' dan qadar, di antara contoh-contoh tersebut ialah kisah
seorang jabari (pengikut Jabariyyah). Beliau menuturkan: Ada
seseorang yang berlebih-lebihan dalam jabr dan qadar.Ia selalu
berdalih dengan qadar dalam segala yang mulia dan yang hina,

hingga keadaan tersebut membawanya kepada kerusakan dan me-

lakukan berbagai macam kemaksiatan. Setiap kali dinasihati dan
dicela atas perbuatan-perbuatannya, maka ia menjadikan qadar
sebagai dalih baginya dalam segala keadaannya.

Ia mempunyai sahabat yang selalu mengkritiknya dan menasi-
hatinya tentang pertyata^n yang menyelisihi akal, wahyu dan

kenyataan ini. Tapi kritik itu hanya semakin menambah kesesa-
tannya. Sahabatnya ini menunggu kesempatan untuk memojok-

kannya dalam perkara-perkara yang khusus yang bertalian dengan-

nya.

Jabari ini orang berharta yang memiliki hana bermacam-macarn.
Ia mempekerjakan banyak pekerja untuk mengurusi harta keka-
yaannya,. Tiba-tiba, tidak lama kemudian, orangyang mengurus
ternaknya datang kepadanya seraya mengatakan, "Ternak mati
dan semuanya binasa, karena saya menggembalakannya di tanah
yang tandus, tidak ada rumput yang hijau."

Ia (jabar) mengatakan kepadanya, "Kamu mengetahui hal itu
dan kamu tahu bahwa tanah yang tandus itu gersang, lalu apa ala-
sanmu mengenai hal itu?" Ia menjawab, "Qadha' Allah dan qadar-
nya." Iayangpenuh amarah sebelum itu menjadi semakin marah
karena mendengar perkataan ini. Amarahnya bergolak, dan ia (peng-
gembala) nyaris mati karena alasan ini.

Yang mengurus harta perniagaan datang kepadanya seraya
mengatakan, "Aku melewati jalan yang menakutkan itu, lalu pem-

6s Lihat catatan kaki Syarh al-'Aqiidab ath-Tbabaautiyyab, hal.251 dan lihat,
Daf libaamil ldbthiraab, hal. 286-287 .

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar 219

begal (ptara perampok dan penyamun) merampok semua harra."
Dia mengatakan kepadanya, "Bagaimana kamu melewati jalan yang

menakutkan itu, padahal kamu tahu bahwa jalan rersebut mena-
kutkan, dan meninggalkan jalan yang aman yang tidak diragukan

keamanannya)"

Maka ia menjawab dengan semisal jawaban penggembala rernak,
dan jabari tadi memperlakukannya sebagaimana dia memperlaku-
kan sahabatnya.

Kemudian orang yang ditugasi untuk merawar dan menjaga
anak-anaknya datang kepadanya seraya mengatakan, "Aku meme-
rintahkan kepada mereka supaya turun di sumur tertenru, agar
mereka belajar berenang, lalu mereka tenggelam." Dia bertanya,

"Mengapa kamu melakukan demikian, sedangkan kamu tahu bahwa
mereka tidak bisa berenang dengan baik? Sumur yang engkau se-

butkan bukankah engkau ketahui bahwa sumur itu dalam? Lalu
mengapa engkau membiarkan mereka rurun sendirian dan engkau
tidak beserta mereka?"

Ia menjawab, "Demikianlah qadha' Allah dan qadar-Ny"."

Mendengar hal itu dia sangat marah melebihi kemarahan rer-
hadap dua orang sebelumnya. Kemarahan ini nyaris membunuhnya.
Masing-masing dari merekayangditugaskan aras apa yang telah

kami sebutkan semakin menambah kemarahannya, ketika masing-

masing mengatakan kepadanya, "Ini qadha' A1lah dan qadar-Ny"."

Ketika itulah sahabatnya berkata kepadanya, "Mengherankan kamu

ini, wahai fulan! Bagaimana engkau menghadapi orang-orang ter-
sebut dengan kemarahan yang sedemikian ini, dan engkau tidak
menerima alasan mereka ketika mereka beralasan dengan qadar,
bahkan alasan ini semakin menambah kesalahan mereka di sisimu.

Sementara kamu, terhadap Rabb-mu -dalam berbagai fteadaanmu)
yang memalukan,- engkau pun telah menempuh seperri jalan me-
reka dan melangkah dengan langkah mereka)

Jika engkau punya alasan, maka mereka lebih pantas lagi untuk
beralasan. Jika alasan mereka mirip semacam olok-olok, maka
bagaimana engkau ridha bersikap demikian terhadap Rabb-mu?

Saat itulah, jabari ini tersadar. Ia sadar, setelah sebelumnya

tenggelam dalam sikapnya yang berlebihJebihan seraya mengata-

220 Bab Ketiga: Penyimpangan Dalam Memahami Qadar

kan, "segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari apa
yang telah aku alami, dan menjadikan untukku nasihat dan peri-
ngatan dari berbagai kejadian yang menimpaku ini. Aku dapat me-
rasakan di dalamnya kesalahanku yang keji. Sekarang aku berke-
yakinan bahwa apa yar.g aku peroleh berupa nikmat hidayah ke-
pada kebenaran adalah lebih besar bagiku dibandingkan musibah-
musibah besar ini. Sebagaimana dalam firman-Nya:

oiW'br-'e)FirQ-\ifi oi [*t Y

1r;;.t*ir&trt, j "€JaJjzi'e) 'j qU..

(G)

"...Boleh jadi kamu membenci sesnatu, padabal ia amat baik ba-
gimu, dan boleb jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padabal ia
alr7dt buruk bagimu. Allab mengetahui, sedang karnu tidak. me-
ngetahui. " (QS. Al-Baqarah 2t6)"

ei,fp

66 Ad-Durratul Babiyyah Syarh al-Qashiidab at-Taa-iyyab fi.i Hillil Muryhilab al-

Qadariyyab, hal. 63-65 dan lihat, Tbariiqul Hijrdtain,hal.15T-163.

Bab Ketiga: Penyimpangan Dalarn Memabami Qadar 221

Penu

PENUTUP

Setelah mengarungi pembahasan tentang qadha' dan qadar,
inilah ringkasan masalah terpenting yang disebutkan dalam pem-
bahasan tersebut, lewat poin-poin berikut ini:

1,. Iman kepada qadar merupakan pembahasan 'aqidah yang
terpenting. Ia merupakan salah satu rukun iman, dan iman kepadanya
adalah kesempurnaan tauhid. Kitab-kitab Salafush Shalih dalam
masalah'aqidah menaruh perhatian kepadanya dan banyak menye-
butnya.

2. Masalah qadar adalah masalah 'aqidah yang paling sulit, dan

tidak mungkin dapat memahami kecuali dengan pemahaman Sala-
fush Shalih -Ahlus Sunnah wal Jama'ah- dan tidak setiap orang
bisa memahaminya secara terperinci.

3. Qadar adalah takdir Allah untuk alam semesta, selaras dengan

apa yang telah diketahui oleh-Nya sebelumnya, dan dikehendaki
oleh hikmah-Nya.

Atau, qadar adalah ilmu Allah, pencatatan-Nya mengenai se-

suatu, dan kehendak serta penciptaan-Nya terhadapnya.

4. Membicarakan tentang qadar tidak terlarang secara mutlak

dan tidak pula dibuka secara mutlak, tetapi ada perincian di dalam-
nya. Jika pembicaraan tentang qadar dengan metode ilmiah yang
shahih serta bersandarkan pada al-Qur-an dan as-Sunnah, dan pem-
bicaraan tersebut diniatkan untuk mencapai kebenaran, maka itu
tidak dilarang, bahkan bisa wajib.

Tetapi jika pembic raan mengenainya dengan cart-yang bathil,
dan dalam memahaminya bersandarkan pada akal semata, atau

Penutup 225

untuk menolak, berbantah-bantahan, debat atau menentang, maka
ini sama sekali tidak diperbolehkan.

5. Iman kepada qadar membuahkan berbagai buah yang besar

bagi individu dan masyarakat, baik di dunia mauPun di akhirat.

6. Iman kepadaqadar ditunjukkan oleh al-Qur-an, as-Sunnah,

ijma', fitrah, akal, dan inderawi.

7. Iman kepada qadar tegak di atas emPat rukun, yang disebut

dengan tingkatan-tingkatan qadar yaitu: al''ilm (ilmu), al'hitaabab

(penc at at an), a I - m a sy i i- ab (<.ehendak), dan a I - kb al q (penciptaan) .

8. Perbuatan hamba masuk dalam kategori keumuman ciptaan-

Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang mengeluarkannya dari ke-

umuman tersebut.

9. Takdir itu terbagi meniadi lima macam, yaitu:
tuk ^se.mAuta-tmaqadkhiirluukl.'aamm (takdir yang bersifat umum). Yaitu un-

b. At-taqdiirul basyarl (takdir yang berlaku untuk manusia).

Yaitu, takdir yang di dalamnya Allah mengambil perjanjian bagi
seluruh manusia, bahwa Dia adalah Rabb mereka dan Dia menia-

dikan mereka sebagai saksi atas diri mereka dengan hal itu,

serta di dalamnya Allah menentukan orang-orangyafrtg bahagia dan

orang-o ran g y arlg sen gsara.

c. At-taqdiirul 'umri (takdir yang berlaku bagi usia). Yaitu,

segala ketentuan yang berlaku bagi seorang hamba sejak peniupan

ruh padanya hingga akhir {alnya.

d. At-taqdiirus sanazai (takdir yang berlaku tahunan). Yaitu,

takdir yang berlaku setiap tahun, yaitu pada malam Qadar (Laiktul

Qrd"l setiap tahun.

e. At-taqdiirul yaumi (takdir yang berlaku harian). Yaitu,

takdir yang berlaku setiap hari, sebagaimana firman-Nya:

c;/i,5 b

"...Setiap waktu Dia dalam kesibukan. '(QS' Ar-Rahmaan:29)

226 PenutuP

10. Kewajiban atas hamba dalam masalah qadar ialah beriman
kepada qadha' Allah dan qadar-Nya, dan beriman kepada syari'at

A[ah s.rta perintah dan larangan-Nya.Ia harus membenarkan

wahyu dan mentaati perintah. Jika ia berbuat kebaiikan, maka ia
memuji Allah Ta'ala dan jika ia berbuat keburukan, maka ia me-
mohon ampun kepada-Nya. Ia tahu bahwa itu teriadi dengan qadar

Allah. Ini adalah kewajiban atas hamba, dan tidak harus setiap

orang mengetahui pembahasan tentang qadar secara_terPerinci,
sebagaiman" hal tersebut ditetapkan oleh Ahlus Sunnah wal Jama-
'ah. lrlereka tidak mewajibkan atas orang yang lemah apa yang di-
wajibkan atas orang yang mamPu.

11. Iman kepada qadar tidak menafikan bila hamba mcnipunyai

kehendak dalam perbuatan-perbuatan ikhtiar (pilihan)nya dan
mempunyai kemampuan atas hal itu. Bahkan dia mempunyai ke-

hendak dan kemampuan, dan keduanya mengikuti kehendak Allah

dan kekuasaan-Nya.

12. Melakukan sebab-sebab (upaya) tidak menafikan iman ke-
pada qadha' dan qadar, bahkan itu merupakan kesempurnaan iman

kepadanya.

13. Berdalih dengan qadar hanya dibolehkan ketika tertimPa

musibah, bukan pada perbuatan dosa-

74. Iraadah rabbaaniyy ab (Kehendak Allah) terbagi menjadi

dua macam:

a. Kaunilryah qadariyyab (Sunnatullah), dan ini semakna dengan

masyii-ah ftehendak). Tidak ada sesuaru pun yang keluar dari ke-
hendak-Nya selamanya, dan pasti terjadi.

b. Syar'iyyab diiniyyab (syari'at), ini mencakup kecintaan

Rabb dan ridha-Nya, dan tidak harus terjadinya. Ini bisa terjadi

dan bisa juga tidak.

15. Keburukan tidak boleh dinisbatkan kepada Allah ,98, ka.ena
Dia suci dari keburukan dan tidak melakukan kecuali kebajikan.
Qadar dalam hal penisbat^nny^ kepada Allah tidak ada keburukan
di dalamnya dalam satu aspek pun, karena hal itu merupakan ilmu
Allah, pencatatan , maryii'ab ftehendak), dan ciptaan-Nya. Dan hal

itu merupakan kebaikan murni. Keburukanhanya ada di dalam

Penutup

sebagian perbuatan manusia (al-maqdb), bukan dalam ketenruan
(qadha')-Nya, dan ada dalam obyek-obyek perbuatan (mafuulaat)
Allah, bukan dalam perbuatan-perbuatan (afaat)-Nya.

15. Adakalanya Allah menghendaki suatu hal, tapi dalam waktu
yang sama Dia tidak menyukainya, karena yang dikehendaki (rnu-

raad) iw ada dua macam:

a. Dikehendaki dengan sendirinya, yaitu kehendak yang diruju,

seperti penciptaan Jibril '$*tl.

b. Dikehendaki untuk selainnya, yaitu sebagai sarana kepada

selainnya, seperti penciptaan iblis. Ia dibenci Allah dalam hal diri

dan dzatnya, tapi dikehendaki oleh-Nya dalam hal qadha'-Nya dan
mengatarkan kepada apa yang dikehendaki-Nya. Ia menjadi sebab
diperolehnyaberbagai hal yang dicintai. Jadi berhimpunlah dua
hal: kebencian-Nya kepadanya dan kehendak-Nya kepadanya, serra

keduanya tidak kontradiktif.

17. Allah,99, mempunyai hikmahyangmendalam dalam setiap
perbuatan-Nya. Hikmah tersebut adakalanya nampak kepada kita
dan adakalanya tersembunyi. Kita tidak harus mengetahui hikmah-
Nya dalam segala sesuatu, atau setiap orang mengetahui hal itu.

18. Mengenai kewajiban ridha kepada qadha' Allah ,J*., terdapat
perincian. Jika apa yang diqadha' dan diqadarkan itu diridhai Allah
dan dicintai-Nya -seperti keimanan dan semua ketaatan- maka kita
meridhainya, dan jika hal itu tidak diridhai Allah dan tidak di-
cintai-Nya -seperti kemaksiatan dan kekafiran- maka kita tidak
meridhainya. Jadi, kita harus menyelarasi Rabb kita dalam keri-
dhaan dan kebencian-Nya. Sebab, agama (ad-Diin) adalah menye-
larasi Rabb kita dalam membenci kekafiran, kefasikan, dan kemak-
siatan, disertai dengan meninggalkannya. Dan menyepakati-Nya
dalam mencintai rasa syukur dan ketaatan, disertai dengan menger-
jakannya.

Atau bisa juga dikatakan: kita ridha kepada qadha' yang meru-
pakan perbuatan Allah. Adapun yang ditentukan, yang merupa-
kan perbuatan hamba, maka ada perincian. Jika itu diridhai Allah,
maka kita meridhainya dan jika tidak diridhai Allah, maka kita
tidak meridhainya.

228 Penutup

19. Qadar itu ada dua:
Pertama, al-qadarul mutsbat atart mubram (qadar yang bersifat
pasti). Yaitu, ap^yargtertulis dalam Ummul Kitab, maka hal ini
tidak berubah.

Kedua, al-qadarul mu'allaq atau muqd.Wdd (qadar yang tergan-
tung). Yaitu, yang tertulis dalam catatan-catatan Malaikat, maka
inilah yang bisa terhapus dan ditetapkan.

20. Manusia ada dalam keadaan mukhayyar (dapat menentukan
pilihan) dari satu sisi dan rlTusaryar (dalam keadaan terpaksa) dari

sisi lainnya.Ia ada dalam keadaan mukhayyar karena ia memiliki
kemampuan, kehendak, dan ikhtiar, sedangkan ia dalam keadaan

musaryar karena semua penbuatannya masuk dalam kategori qadar

dan tergantung kepadanya, juga karena ia tidak keluar dari apa
yang Allah tentukan untuknya.

Yang lebih utama daipada ditanyakan: apakah manusia dalam
keadaan mukbayyar atav ?nusdyyar,ialah ditanyakan: apakah ma-
nusia mempunyai kemampuan dan kehendak ataukah tidak?

Jawabannya: Ia mempunyai kehendak dan kemampuan, tetapi
kehendak dan kemampuannya terjadi dengan masyii-ab ftehendak)
Allah.$8 serta mengikutinya.

21. Dalam pembahasan disebutkan sebagian kesalah an yang
terjadi dalam masalah qadha' dan qadar.

22.Mengingkari qadar tidak pernah dikenal pada bangsa'Arab,
baik semasa Jahiliyyahnya maupun semasa Islamnya. Tetapi hal
itu datang kepada mereka dari umat-umat lainnya.

23. Orang yang pertama kali mempermasalahkan tentang qadar
dalam umat ini ialah seorang priayangdisebut: Sausan, Sisawaih
atau Sansawaih.Ia dahrlunya beragama Nashrani lalu masuk Islam
kemudian menjadi Nashrani kembali. Bid'ah ini diambil darinya
oleh Ma'bad al-Juhani, dan pendapat dari Ma'bad diambil oleh
Ghailan ad-Dimasyqi. Kemudian setelah itu pendapat-pendapat
tersebut diambil oleh para tokoh Mu'tazilah, dan mereka sebarkan.

24.Bid'ah ini mula-mula muncul pada masa para Sahabat ter-

muda seperti Ibnu 'Abbas, Ibnu 'IJmar, dan Jabir &. Mereka

sangat mengingkari bid'ah ini dan mengumumkan keterlepasan

mereka darinya.

Penutup 229

25. Sejumlah golongan telah tersesat dalam masalah qadar, dan

dalam pembahasan ini telah disebutkan ucapan-ucapan mereka

serta dijelaskan kesesatan mereka.

26.Dalam pembahasan ini disebutkan sebagian perdebatan dan
kisah-kisah bersama Qadariyyah dan labariyyah, yang darinya
menjadi jelas kebenaran madzhab Salaf dalam masalah ini.

Inilah ringkasan dari apa yang terdapat dalam buku ini.
Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah Tabaaraka uta
Ta'aala agar memberikan manfaat dalam buku ini dan menjadi-
kannya sebagai amalan yang ikhlas karena mengharap ridha-Nya,
sesungguhnya Dia Mahakuasa atas hal itu, dan pantas mengabul-
kannya. W'allaahu a'lam.
Semoga shalawat dan salam, Allah berikan sebanyak-barryaknya

atas Nabi Muhammad ffi besertapara keluarganya.

230 Penutup


Click to View FlipBook Version