The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by diansukmawati50, 2022-12-15 07:11:24

Materi Profesional PPG

Modul 2 Hindu-Buddha

Menurut sumber berita Cina yang ditulis oleh I-tsing dinyatakan bahwa
Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 M. Berdasarkan prasasti Ligor,
pusat pemerintahan Sriwijaya di Muara Takus, yang kemudian dipindahkan
ke Palembang. Kerajaan Sriwijaya kemudian muncul sebagai kerajaan besar
di Asia Tenggara. Perluasan wilayah dilakukan dengan menguasai Tulang
Bawang (Lampung), Kedah, Pulau Bangka, Jambi, Tanah Genting Kra dan
Jawa (Kaling dan Mataram Kuno). Dengan demikian Kerajaan Sriwijaya
bukan lagi merupakan kerajaan senusa (negara yang berkuasa atas satu
pulau saja) melainkan merupakan negara antarnusa (negara yang berkuasa
atas beberapa pulau), sehingga Sriwijaya merupakan negara kesatuan
pertama di Indonesia. (Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010; Mustopo
dkk., 2006; Soekmono, 1984)

Gambar 2.3. Peta Kerajaan Sriwijaya
Sumber: wikipedia.org

Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada masa Balaputra
Dewa. Raja ini mengadakan hubungan persahabatan dengan Raja Dewapala
Dewa dari India. Dalam Prasasti Nelanda disebutkan bahwa Raja Dewapala

41


Dewa menghadiahkan sebidang tanah untuk mendirikan sebuah biara untuk
para pendeta Sriwijaya yang belajar agama Buddha di India. Selain itu
dalam Prasasti Nelanda juga disebutkan bahwa adanya silsilah raja
Balaputra Dewa dan dengan tegas menunjukkan bahwa raja Syailendra
(Darrarindra) merupakan nenek moyangnya.
Kehidupan Sosial Ekonomi
Letak Sriwijaya sangat strategis di jalur perdagangan antara India-Cina. Di
samping itu juga berhasil menguasai Selat Malaka yang merupakan urat
nadi perdagangan di Asia Tenggara, menjadikan Sriwijaya berhasil
menguasai perdagangan nasional dan internasional. Penguasaan Sriwijaya
atas Selat Malaka mempunyai arti penting terhadap perkembangan
Sriwijaya sebagai negara maritim.
Kehidupan Budaya dan Keagamaan
Peninggalan kerajaan Sriwijaya banyak terdapat di kawasan Bukit
Siguntang, Palembang.

Gambar 2.4. Persebaran Peninggalan Sriwijaya di Palembang
Sumber: National Geographic

42


Dalam bidang agama, Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha
yang penting di Asia Tenggara dan Asia Timur. Agama Buddha yang
berkembang di Sriwijaya ialah Agama Buddha Mahayana, salah satu
tokohnya ialah Dharmakirti. Para peziarah agama Buddha dalam pelayaran
ke India ada yang singgah dan tinggal di Sriwijaya. Di antaranya ialah
I'tsing. Sebelum menuju ke India ia mempersiapkan diri dengan
mempelajari bahasa Sanskerta selama 6 bulan (1671); setelah pulang dari
India ia tinggal selama 4 tahun (681-685) untuk menerjemahkan agama
Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa Cina. Di samping itu juga ada
pendeta dari Tibet, yang bernama Atica yang datang dan tinggal di
Sriwijaya selama 11 tahun (1011-1023) dalam rangka belajar agama
Buddha dari seorang guru besar Dharmapala dan Sakyakirti.

4. Kerajaan Mataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah dengan intinya yang
sering disebut Bumi Mataram. Daerah ini dikelilingi oleh pegunungan dan
gununggunung, seperti Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Sindoro,
Gunung Sumbing, Gunung Merapi-Merbabu, Gunung Lawu, dan
Pegunungan Sewu. Daerah ini juga dialiri oleh banyak sungai, seperti
Sungai Bogowonto, Sungai Progo, Sungai Elo dan Sungai Bengawan Solo.
Itulah sebabnya daerah ini sangat subur. Bumi Mataram diperintah oleh dua
wangsa atau dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu (di bagian
utara) dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha (di bagian selatan).
Dalam hal pembuatan candi agaknya kedua dinasti dapat bekerja sama,
tetapi di bidang politik terjadi perebutan kekuasaan. (Poesponegoro dan
Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006; Soekmono, 1984)

43


Gambar 2.5. Peta Kekuasaan Mataram Kuno
Sumber: wikipedia.org

Kehidupan Politik
Pada mulanya yang berkuasa di Mataram adalah Dinasti Sanjaya. Bukti
adanya kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dapat diketahui dari
Prasasti Canggal, di kaki Gunung Wukir, Magelang. Prasasti ini dikeluarkan
oleh Raja Sanjaya berangka tahun berbentuk candrasengkala berbunyi
"srutiindriyarasa" atau tahun 654 Saka =732 M (dengan huruf Pallawa
bahasa Sanskerta). Isi pokok Prasasti Canggal adalah pendirian sebuah
lingga di bukit Stirangga. Sang Raja Sanjaya mendirikan lingga yang
ditandai dengan tanda-tanda di bukit yang bernama Stirangga untuk
keselamatan rakyatnya.

Petunjuk lain tentang Sanjaya di samping Prasasti Canggal juga
Prasasti Mantyasih atau Prasasti Kedu yang dibuat oleh raja Balitung yang
menyebutkan bahwa nama Sanjaya adalah raja pertama (wangsakarta)
dengan ibukota di Mdang ri Poh Pitu. Dalam prasasti itu disebutkan raja-
raja yang pernah memerintah.

Prasasti Dinoyo di Jawa Timur tahun 706 menyebutkan adanya Raja
Gajayana yang mendirikan tempat pemujaan Dewa Agastya (perwujudan
Siwa sebagai Mahaguru) diwujudkan pula dalam bentuk lingga. Di samping
itu juga mendirikan Candi Badut dengan berlanggam candi Jawa Tengah.
Kemudian Prasasti Kalasan tahun 778 M menyebutkan bahwa keluarga
Syailendra berhasil membujuk Panangkaran untuk mendirikan bangunan
suci untuk Dewi Tara (istri Buddha) dan sebuah biara untuk para pendeta.

44


Panangkaran juga menghadiahkan Desa Kalasan kepada Sanggha. Dalam
Prasasti Balitung yang berangka tahun 907 M disebutkan nama keluarga
raja-raja keturunan Sanjaya memuat nama Panangkaran. Dengan ini dapat
disimpulkan bahwa pada waktu itu dinasti Sanjaya dan Syailendra sama
sama berperan di Jawa Tengah. Dinasti Sanjaya di bagian utara dengan
mendirikan candi Hindu, seperti Gedong Songo di Ungaran dan Candi
Dieng di dataran tinggi Dieng. Sedangkan Dinasti Syailendra di bagian
selatan dengan mendirikan candi Buddha, seperti Borobudur, Mendut, dan
Kalasan. (Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006;
Soekmono, 1984)

Dalam Prasasti Kelurak (di daerah Prambanan) tahun 782 disebutkan
tentang pembuatan acara Manjusri sebagai perwujudan Buddha, Dharma
dan Sanggha yang dapat disamakan dengan Brahma, Wisnu, dan Siwa.
Mungkin sekali bangunan sucinya ialah Candi Lumbung yang terletak di
sebelah utara Prambanan. Raja yang memerintah pada waktu itu ialah Indra.
Pengganti Indra yang terkenal ialah Smaratungga yang dalam
pemerintahannya mendirikan Candi Borobudur tahun 824, (yang
merupakansalah satu bangunan keajaiban dunia). Di bawah pemerintahan
putri Smaratungga, yakni Pramodhawardani dinasti Syailendra dan Sanjaya
menjadi satu karena perkawinannya dengan Rakai Pikatan, yang kemudian
membangun candi-candi Buddha dan Hindu. Seperti Candi Plaosan yang
merupakan candi Buddha banyak disebut nama Sri Kahulunan Sri Pikatan,
dapat diartikan nama Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani. Rakai
Pikatan mendirikan candi Hindu yakni Candi Prambanan (Roro Jonggrang)
yang sangat megah. Dengan dibangunnya candi Hindu dan Buddha yang
berdekatan, menggambarkan adanya kerukunan beragama di Bumi
Mataram.

Pada tahun 856 terjadi perubahan besar di Jawa Tengah Balaputra
Dewa (adik Pramodhawardani) yang pusat pemerintahannya di pegunungan
selatan yang terkenal dengan Istana Ratu Boko, berusaha untuk merebut
kekuasaan. Namun ia malah tersingkir dari Jawa Tengah dan akhirnya

45


melarikan diri ke Sumatra (menjadi raja di Sriwijaya). Di Jawa Tengah
kemudian sepenuhnya diperintah oleh Dinasti Sanjaya. Raja terakhir adalah
Wawa dan digantikan Empu Sendok yang kemudian memindahkan pusat
pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Gambar 2.6. Silsilah Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno
Sumber: Bosch, 1982

Kehidupan Sosial Ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat bertumpu pada pertanian. Kondisi alam
bumi Mataram yang tertutup dari dunia luar sulit untuk mengembangkan
aktivitas perekonominan dengan pesat. Pada masa Balitung aktivitas
perhubungan dan perdagangan dikembangkan melalui Sungai Bengawan
Solo. Pada Prasasti Wonogiri (903) bahwa desa-desa yang terletak di kanan-
kiri sungai dibebaskan dari pajak dengan catatan harus menjamin
kelancaran lalu-lintas lewat sungai tersebut.

46


Kehidupan Agama dan Kebudayaan
Bumi Mataram diperintah oleh dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan
Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu dengan pusat
kekuasaannya di utara dengan hasil budayanya berupa candi-candi seperti
Gedong Songo dan Dieng. Dinasti Syailendra beragama Bundha dengan
pusat kekuasaannya di daerah selatan, dan hasil budayanya dengan
mendirikan candi-candi seperti candi Borobudur, Mendut, dan Pawon.
Semula terjadi perebutan kekuasan namun kemudian terjalin persatuan
ketika terjadi perkawinan antara Pikatan (Sanjaya) yang beragama Hindu
dengan Pramodhawardhani (Syailendra) yang beragama Buddha. Sejak itu
agama Hindu dan Buddha hidup berdampingn secara damai. Hal ini
menunjukkan betapa besar jiwa toleransi bangsa Indonesia. Toleransi ini
merupakan salah sifat kepribadian bangsa Indonesia yang wajib kita
lestarikan agar tercipta kedamaian, ketenteraman, dan kesejahteraan.

5. Dinasti Isana di Jawa Timur
Seperti telah dikemukakan di depan bahwa pada abad ke-10 pusat
pemerintahan di Jawa Tengah yang dipindahkan ke Jawa Timur dipengaruhi
oleh berbagai faktor. Pendapat lama menyatakan karena (1) bencana alam,
yakni meletusnya gunung berapi, dan (2) akibat banyak tenaga laki-laki
yang dipekerjakan untuk membuat candi sehingga sawah menjadi
terbengkalai. Pendapat baru menyatakan adanya dua faktor, yakni (1)
keadaan alam; alam Bumi Mataram tertutup secara alamiah dari dunia luar
sehingga sulit untuk berkembang. Sebaliknya alam Jawa Timur lebih
terbuka untuk mengembangkan aktivitas perdagangan dengan dunia luar.
Sungai Bengawan Solo dan Sungai Brantas dapat dipakai sebagai sarana
perhubungan dan perdagangan antara pedalaman dan pantai. Di samping itu
tanah di Jawa Timur masih subur dibandingkan dengan Jawa Tengah yang
sudah lama dimanfaatkan; (2) masalah politik; yakni untuk menghindarkan
diri dari serangan Sriwijaya. Sebab setelah Dinasti Syailendra terdesak dari
Jawa Tengah dan menetap di Sumatra, merupakan ancaman yang serius.

47


(Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006;
Soekmono, 1984)

Kehidupan Politik
Pemindahan kekuasaan ke Jawa Timur dilakukan oleh raja Empu Sendok,
dan membentuk dinasti baru yakni Isana. Nama Isana diambil dari gelar
resmi Empu Sendok yakni Sri Maharaja Rake Hino Sri
Isanawikramatunggadewa. Wilayah kekuasaan Empu Sendok meliputi
Nganjuk di sebelah barat, Pasuruan di timur, Surabaya di utara dan Malang
di selatan. Empu Sendok memegang pemerintahan dari tahun 929–947
dengan pusat pemerintahannya di Watugaluh. Ia memerintah dengan adil
dan bijaksana dengan melakukan berbagai usaha untuk kemakmuran rakyat.
Di antaranya ialah membuat bendungan-bendungan untuk perairan, dan
memberikan hadiah-hadiah tanah untuk pemeliharaan bangunan-bangunan
suci. Di samping itu juga memerintahkan untuk mengubah sebuah kitab
agama Buddha aliran Tantrayana yang diberi judul Sang Hyang
Kamahayanikan. Setelah Empu Sendok meninggal kemudian digantikan
oleh putrinya yang bernama Sri Isanatunggawijaya. Putri ini kawin dengan
Lokapala, dari pernikahannya lahirlah seorang putra yang bernama
Makutawangsawardana yang meneruskan takhta ibunya. Setelah
Makutawangsawardana meninggal yang menggantikan ialah
Dharmawangsa (990–1016). Dalam pemerintahannya ia berusaha
meningkatkan kesejahteraan rakyatnya yang hidup dari pertanian dan
perdagangan.

Pada saat itu pusat perdagangan di Indonesia dikuasai oleh Sriwijaya,
maka Dharmawangsa berusaha untuk menyerang Sriwijaya dengan tujuan
untuk mengusai daerah Sriwijaya bagian selatan (Selat Sunda). Akan tetapi,
selang beberapa tahun kemudian Sriwijaya bangkit mengadakan serangan
balasan. Dalam hal ini Sriwijaya mengadakan kerja sama dengan kerajaan
Worawari (kerajaan asal di Jawa). Serangan Worawari sangat tepat, yakni
ketika Dharmawangsa melangsungkan upacara pernikahan putrinya dengan

48


Airlangga (1016). Dharmawangsa beserta seluruh pembesar istana
mengalami pralaya, tetapi Airlangga berhasil meloloskan diri beserta
pengiringnya yang setia Narotama, menuju hutan Wonogiri diringi juga
oleh para pendeta. Selama tiga tahun (1016-1019) Airlangga digembleng
lahir dan batin oleh para pendeta. Atas tuntutan rakyat dan pendeta,
Airlangga bersedia menjadi raja menggantikan Dharmawangsa.
(Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006;
Soekmono, 1984)

Pada tahun 1019, Airlangga dinobatkan menjadi raja dengan gelar Sri
Maharaja Rake Halu Lokeswara Dharmawangsa Airlangga
Anantawikramatunggadewa. Tugas Airlangga ialah menyatukan kembali
daerah kekuasaan semasa Dharmawangsa dan usaha ini dapat berhasil
dengan baik. Ibukota kerajaan pada tahun 1031 di Wutan Mas, kemudian
dipindahkan ke Kahuripan pada tahun 1037. Selanjutnya Airlangga
melakukan pembangunan di segala bidang demi kemakmuran rakyatnya.
Pada tahun 1042 Airlangga mengundurkan diri dari takhta dan menjadi
seorang petapa dengan nama Jatinindra atau Resi Jatayu. Sebelumnya
Airlangga menobatkan putrinya, Sri Sanggramawijaya namun menolak dan
ia juga menjadi seorang petapa dengan nama Dewi Kili Suci. Akhirnya
kerajaan dibagi menjadi dua yakni Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan
Panjalu yang dikenal dengan nama Kediri. Jenggala diperintah oleh
Gorasakan, sedangkan Kediri oleh Samarawijaya ( keduanya terlahir dari
selir). (Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006;
Soekmono, 1984)

Kehidupan Sosial-Ekonomi
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kerajaan di Jawa Timur ini cukup
baik, karena mendapat perhatian dari raja-raja yang memerintah. Di
antaranya Airlangga yang memerintahkan membuat tanggul di Waringit
Pitu (Prasasti Kalegen 1037) dan waduk-waduk di beberapa bagian Sungai
Brantas untuk pengairan sawah-sawah dan mengurangi bahaya banjir.

49


Untuk memajukan aktivitas perdagangan, Airlangga juga mengadakan
perbaikan pelabuhan Ujung Galuh yang letaknya di sungai Brantas;
sedangkan pelabuhan Kembang Putih di Tuban diberikan hak-hak istimewa.

6. Kerajaan Kediri
Kehidupan Politik
Dalam persaingan antara Panjalu dengan Kediri, ternyata Kediri yang
unggul dan menjadi negara yang besar kekuasaannya. Raja terbesar dari
Kerajaan Kediri adalah Jayabaya (1135-1157). Jayabaya ingin
mengembalikan kejayaan seperti masa Airlangga dan ternyata ini dapat
berhasil, Panjalu dan Jenggala dapat bersatu kembali. Lencana kerajaan
memakai simbol Garuda Mukha, simbol Airlangga. Pada masa
pemerintahannya kesusastraan diperhatikan. Empu Sedah dan Empu
Panuluh menggubah karya sastra Kitab Bharatayudha, yang
menggambarkan peperangan antara Pandawa melawan Kurawa; tetapi
sebenarnya merupakan peperangan antara Jenggala melawan Kediri. Empu
Panuluh juga menggubah Kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya.
Jayabaya juga terkenal sebagai pujangga yang ahli meramal kejadian masa
depan, terutama yang akan menimpa Tanah Jawa, ramalannya terkenal
dengan "Jangka Jayabaya".

Gambar 2.7. Peta Wilayah Kerajaan Panjalu (Kediri) dan Jenggala.
Sumber: https://goo.gl/images/kf21QU

50


Raja Kediri yang juga memerhatikan kesusastraan ialah Kameswara. Empu
Tan Akung menulis Kitab Wartasancaya dan Lubdaka sedangkan Empu
Dharmaja menulis Kitab Kakawin Smaradahana. Di dalam Kitab
Smaradahana ini Kameswara dipuji-puji sebagai titisan Kumajaya,
permaisurinya ialah Sri Kirana atau putri Candrakirana. Raja Kediri yang
terakhir ialah Kertajaya yang pada tahun 1222 kekuasaannya dihancurkan
oleh Ken Arok, berakhirlah kerajaan Kediri dan muncul kerajaan Singasari.
(Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006)

Kehidupan Sosial Ekonomi
Pada masa Kejayaan Kediri, perhatian raja terhadap kehidupan sosial
ekonomi rakyat juga besar. Hal ini dapat dibuktikan dengan karya-karya
sastra saat itu, yang mencerminkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat
saat itu. Diantaranya Kitab Lubdaka yang berisi ajaran moral, bahwa tinggi
rendahnya martabat manusia tidak diukur berdasarkan asal dan kedudukan,
melainkan berdasarkan kelakuannya. Dapat pula diketahui bahwa
kehidupan sosial masyarakat Kediri terwujud dalam hal berikut ini (1)
rakyat Kediri pada umumnya memiliki tempat tinggal yang baik, bersih dan
rapi, (2) hukuman yang dilaksanakan ada dua macam, yakni hukuman denda
(berupa emas) dan hukuman mati (khususnya bagi pencuri dan perampok).

Berdasarkan kronik-kronik Cina, maka kehidupan perekonomian
rakyat Kediri dapat dikemukakan antara lain (1) rakyat hidup dari pertanian,
peternakan, dan perdagangan, (2) Kediri banyak menghasilkan beras, (3)
barang-barang dagangan yang laku di pasaran saat itu, antara lain, emas,
perak, gading dan kayu cendana, (4) pajak rakyat berupa hasil bumi, seperti
beras, dan palawija.

Kehidupan Kebudayaan
Di bidang kebudayaan khususnya sastra, di Kahuripan dan Kediri
berkembang pesat, di antaranya sebagai berikut.

51


a. Pada masa Dharmawangsa, berhasil disadur Kitab Mahabarata ke
dalam bahasa Jawa Kuno yang disebut Kitab Wirataparwa. Selain itu
juga disusun kitab hukum yang bernama Siwasasana.

b. Di zaman Airlangga, disusun Kitab Arjuna Wiwaha karya Empu
Kanwa.

c. Masa Jayabaya, berhasil digubah Kitab Bharatayudha oleh Empu
Sedah dan Empu Panuluh. Di samping itu Empu Panuluh juga menulis
Kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya.

d. Masa Kameswara, berhasil ditulis Kitab Smaradhahana oleh Empu
Dharmaja. Kitab Lubdaka dan Wertasancaya oleh Tan Akung.

7. Kerajaan Singhasari
Kehidupan Politik
Ken Arok (1222-1227). Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken Arok. Ken
Arok kemudian mengangkat dirinya menjadi raja Singasari dengan gelar Sri
Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja
pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru yakni dinasti
Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindra-wangsa ). Ken Arok hanya
memerintah selama lima tahun (1222-1227). Pada tahun 1227 ia dibunuh
oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok
dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa-Buddha.

52


Gambar 2.8. Peta Wilayah Kekuasaan Singasari.
Sumber: https://goo.gl/images/xMCTHS

Anusapati (1227-1248). Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta
kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka waktu
pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak melakukan pembaharuan,
karena Anusapasti larut dengan kesenangannya sendiri yakni menyabung
ayam. Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga
ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui
bahwa Anusapati suka menyabung ayam, maka diundangnya Anusapati ke
Gedong Jiwa (tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta
menyabung ayam. Pada saat Anusapati sedang asyik menyaksikan aduan
ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris Empu Gandring yang
dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian
meninggallah Anusapati dan didharmakan di Candi Kidal.

Tohjoyo (1248). Dengan meninggalnya Anusapati, maka takhta
Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo. Namun, Tohjoyo memerintah
Kerajaan Singasari tidak lama, sebab anak Anusapati yang bernama
Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan
Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil
menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana.

53


Ranggawuni (1248-1268). Ranggawuni naik takhta kerajaan
Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh
Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan
sebagai Ratu Angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Di dalam
pemerintahannya, pemerintahan mereka membawa ketenteramandan
kesejahteran rakyat. Pada tahun 1254, Wisnuwardhana mengangkat
putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (rajamuda) dengan
maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari. Pada
tahun 1268 Wisnuwardha meninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau
Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.

Kertanegara (1268-1292). Kertanegara adalah raja Singasari terakhir
dan terbesar, karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh
Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja
Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang
mahamentri yaitu Mahamentri I Hino, Mahamentri I Halu dan Mahamentri
I Sirikan. Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia
mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih
Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di
Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja. Setelah Jawa dapat
diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain. Kertanegara
mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi
Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai
dengan mengirimkan patung Amogapasa ke Dharmasraya atas perintah raja
Kertanegara. Tujuannya untuk menguasai Selat Malaka. Selain itu juga
menaklukkan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat) dan
Gurun (Maluku). Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan
raja Champa, dengan tujuan untuk menahan perluasan kekuasaan Kublai
Khan dari Dinasti Mongol. Kublai Khan menuntut rajaraja di daerah selatan
termasuk Indonesia mengakuinya sebagai yang dipertuan. Kertanegara
menolak dengan melukai utusannya yang bernamaMengki. Tindakan
Kertanegara ini membuat Kublai Khan marah besar dan bermaksud

54


menghukumnya dengan mengirikan pasukannya ke Jawa. Mengetahui
sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan
Mongol, maka Jayakatwang (Kediri) menggunakan kesempatan untuk
menyerangnya. Serangan dilancarakan dari dua arah, yakni dari arah utara
merupakan pasukan pancingan dan dari arah selatan merupakan pasukan
inti. Pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin langsung oleh Jayakatwang
dan berhasil masuk istana dan menemukan Kertanagera berpesta pora
dengan para pembesar istana. Kertanagera beserta pembesarpembesar istana
tewas dalam serangan tersebut. Ardharaja akhirnya berbalik memihak
kepada ayahnya (Jayakatwang) sedangkan Raden Wijaya berhasil
menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta
perlindungan dan bantuan kepada Aria Wiraraja. Atas bantuan Aria
Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada
Jayakatwang serta diberikansebidang tanah yang bernama Tanah Terik.
Dengan gugurnya Kertanegara pada tahun 1292, Kerajaan Singasari
dikuasai oleh Jayakatwang. Ini berarti berakhirlah kekuasan Kerajaan
Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara kemudian
didharmakan sebagai Siwa-Buddha (Bairawa) di Candi Singasari.
Sedangkan arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog, yang
sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya. (Poesponegoro dan
Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006; Soekmono, 1984)

Kehidupan Sosial Ekonomi
Ketika Ken Arok menjadi Akuwu di Tumapel, ia berusaha meningkatkan
kehidupan sosial masyarakatnya. Terjaminnya kehidupan sosial masyarakat
Tumapel, mengakibatkan bergabungnya daerah-daerah di sekitarnya.
Perhatian Ken Arok bertambah besar, ketika ia menjadi raja di Singasari
sehingga rakyat hidup dengan aman dan damai untuk mencapai
kesejahteraannya. Akan tetapi ketika masa pemerintahan Anusapati,
kehidupan sosial masyarakatnya kurang mendapatkan perhatian. Baru pada
masa pemerintahan Wisnuwardhana, kehidupan sosial masyarakatnya

55


teratur baik. Rakyat hidup dengan tenteram dan damai. Begitu juga masa
pemerintahan Kertanegara. Dalam kehidupan ekonomi, rakyat Kerajaan
Singasari hidup dari pertanian, pelayaran dan perdagangan. Kehidupan
Kebudayaan Kehidupan kebudayaan masyarakat Singasari dapat diketahui
dari peninggalan candi-candi dan patung-patung yang berhasil
dibangunnya. Candi, di antaranya Candi Kidal, Candi Jago dan Candi
Singasari. Patung, antara lain Patung Ken Dedes sebagai perwujudan dari
Prajnyaparamita lambang kesempurnaan ilmu, Patung Kertanegara dalam
wujud patung Joko Dolog. (Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010;
Mustopo dkk., 2006; Soekmono, 1984)

8. Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit terletak di sekitar sungai Brantas, dengan pusatnya di
daerah Mojokerto. Majapahit merupakan puncak keyajaan kerajaan-
kerajaan di Jawa Timur dan merupakan kerajaan terbesar Indonesia.
Majapahit disebut juga sebagai Negara Kesatuan Kedua.
Kehidupan Politik
Raden Wijaya (1292-1309). Kerajaan Majapahit lahir dalam suasana
perubahan besar dalam waktu yang singkat. Pada tahun 1292 Kertanegara
gugur oleh pengkhianatan Jayakatwang, Singasari hancur dan digantikan
oleh Kediri. R. Wijaya terdesak oleh serangan tentara Jayakatwang di
medan utara dan berhasil melarikan diri serta mendapat perlindungan dari
Kepala Desa Kudadu. Selanjutnya berhasil menyeberang ke Madura minta
perlindungan dan bantuan kepada Bupati Sumenep, Aria Wiraraja.
Atas saran dan jaminan Aria Wiraraja, R. Wijaya mengabdikan diri
kepada Jayakatwang dan memperoleh tanah di desa Terik yang kemudian
menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Tentara Kublai Khan sebanyak 200.000
orang di bawah pimpinan Shih Pie, Ike Mase, dan Kau Shing datang untuk
menghukum Kertanegara. R. Wijaya bergabung dengan tentara Cina dan
mengadakan serangan ke Kediri, karena Cina tidak mengetahui terjadinya
perubahan kekuasaan di JawaTimur. Setelah R. Wijaya dengan bantuan

56


tentara Kublai Khan berhasil mengalahkan Jayakatwang, ia menghantam
tentara asing tersebut. Serangan mendadak yang tidak terkira sebelumnya,
memaksa tentara Kublai Khan meninggalkan Jawa Timur terburu-buru
dengan sejumlah besar korban.

Akhirnya R. Wijaya dinobatkan menjadi raja pertama Kerajaan
Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana (1292-1307). Untuk
menjaga ketenteraman kerajaan, maka R. Wijaya mengadakan konsolidasi
dan mengatur pemerintahan. Orang-orang yang pernah berjasa dalam
perjuangan diberi kedudukan dalam pemerintahan. Misalnya, Aria Wiraraja
diberi tambahan wilayah di Lumajang sampai Blambangan, desa Kudadu
dijadikan desa perdikan (bebas pajak dan mengatur daerahnya sendiri).
Demikian juga teman seperjuangannya yang lain, diberi kedudukan, ada
yang dijadikan menteri, kepala wilayah, dan sebagainya. Untuk
memperkuat kedudukannya, keempat putri Kertanegara dijadikan istrinya,
yakni Dewi Tribhuanaeswari, Dewi Narendraduhita, Dewi Prajnaparamita
dan Dewi Gayatri. Tidak lama kemudian tentara Ekspedisi Pamalayu di
bawah pimpinan Kebo Anabrang kembali membawa dua putri yakni Dara
Petak dan Dara Jingga. Dara Petak diambil istri oleh R. Wijaya; sedangkan
Dara Jingga kawin dengan keluarga raja yang mempunyai anak bernama
Adiytawarman. Dialah yang kelak menjadi raja di Kerajaan Melayu.
Demikianlah usaha-usaha yang dilakukan oleh R. Wijaya dalam upaya
mengatur dan memperkuat kekuasaan pada masa awal Kerajaan Majapahit.
Pada tahun 1309 R. Wijaya meninggal dunia dan didharmakan di Candi
Simping (Sumberjati, Blitar) dalam perwujudan Hariwara (Siwa dan Wisnu
dalam satu arca).

Jayanegara (1309-1328). R. Wijaya kemudian digantikan oleh
putranya Kalagemet dengan gelar Jayanegara (1309-1328), putra R. Wijaya
dengan Dara Petak. Pada masa ini timbul kekacauan di Majapahit, karena
pemerintahan Jayanegara yang kurang berbobot dan rasa tidak puas dari
pejuang-pejuang Majapahit semasa pemerintahan R. Wijaya.

57


Kekacauan berupa empat pemberontakan yang dapat membahayakan
negara, yakni sebagai berikut.
a. Pemberontakan Rangga Lawe (1309) yang berkedudukan di Tuban

tidak puas karena ia mengharapkan dapat menjadi patih di Majapahit,
sedangkan yang diangkat adalah Nambi.
b. Pemberontakan Lembu Sora (1311), karena hasutan Mahapati yang
merupakan musuh dalam selimut Jayanegara.
c. Pemberontakan Nambi (1316), karena ambisi ayahnya Aria Wiraraja
agar Nambi menjadi raja. Semua pemberontakan tersebut dapat
dipadamkan.
d. Pemberontakan Kuti (1319), merupakan pemberontakan yang paling
membahayakan, karena Kuti dapat menduduki istana kerajaan dan
Jayanegara terpaksa menyingkir ke Bedander. Namun pasukan
Bayangkari kerajaan di bawah pimpinan Gajah Mada berhasil merebut
kembali istana. Jayanegara dapat kembali ke istana lagi dan berkuasa
hingga tahun 1328. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Gajah Mada
kemudian diangkat menjadi patih di Kahuripan dan kemudian di Daha.
(Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 2010; Mustopo dkk., 2006;
Soekmono, 1984)

Tribhuanatunggadewi (1328-1350). Pada tahun 1328 Jayanegara wafat,
karena tidak meninggalkan putra maka takhta kerajaan diserahkan kepada
Gayatri. Oleh karena Gayatri telah menjadi Bhiksuni, maka yang tampil
adalah putrinya Bhre Kahuripan yang bertindak sebagai wali ibunya. Bhre
Kahuripan bergelar Tribhuanatunggadewi. Pemerintahannya masih
dirongrong pemberontakan, yakni pemberontakan Sadeng dan Keta. Namun
pemberontakan tersebut berhasil dihancurkan oleh Gajah Mada. Sebagai
tanda penghargaan, pada tahun 1333 Gajah Mada diangkat sebagai
Mahapatih Majapahit, menggantikan Arya Tadah yang sudah tua. Pada
waktu penobatannya, Gajah Mada mengucapkan "Sumpah Palapa" (Tan
Amukti Palapa). Isinya, Gajah Mada bersumpah tidak akan makan buah

58


palapa, sebelum seluruh Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit.
Maksudnya Gajah Mada tidak akan hidup enak-enak sebelum seluruh
Nusantara berhasil dipersatukan di bawah panji-panji Majapahit. Dalam
usaha menyatukan seluruh Nusantara, Gajah Mada dibantu oleh Empu Nala
dan Adiytawarman. Mula-mula menaklukkan Bali (1334), selanjutnya satu
per satu kerajaan-kerajaan di Nusantara berhasil dipersatukan

Hayam Wuruk (1350-1389). Pada tahun 1350 Gayatri wafat, maka
Tribhuanatunggadewi turun takhta dan digantikan oleh putranya yakni
Hayam Wuruk dengan gelar Rajasanegara. Pada masa pemerintahannya
bersama Patih Gajah Mada kerajaan Majapahit mencapai masa
kejayaannya. Pemerintahan terlaksana secara teratur, baik di tingkat pusat
(ibukota), tingkat menengah (vasal) dan tingkat desa. Sistem pemerintahan
daerah (tingkat menengah dan desa) tidak berubah, sedangkan di tingkat
pusat diatur sebagai berikut.
a. Dewan Sapta Prabu, merupakan penasihat raja yang terdiri atas kerabat

keraton, dengan jabatan Rakryan I Hino, Rakryan I Halu dan Rakryan I
Sirikan.
b. Dewan Panca Ring Wilwatikta, merupakan lembaga pelaksana
pemerintahan (lembaga eksekutif) semacam Dewan Menteri, terdiri atas
Rakryan Mahapatih, Rakryan Tumenggung, Rakryan Demang, Rakryan
Rangga, dan Rakryan Kanuruhan.
c. Dewan Nayapati (lembaga Yudikatif) yang mengurusi peradilan.
d. Dharmadyaksa, lembaga yang mengurusi keagamaan, terdiri atas
Dharmadyaksa ring Kasaiwan untuk agama Hindu dan Dharmadyaksa
ring Kasogatan untuk agama Buddha.

Dengan demikian pada masa Majapahit penganut agama Hindu dan Buddha
dapat hidup berdampingan, rukun dan damai. "Bhinneka Tunggal Ika, Tan
Hana Dharmamangrawa". Inilah semboyan rakyat Majapahit dalam
menciptakan persatuan dan kesatuan sehingga muncul sebagai kerajaan
besar Nusantara. Di tingkat tengah terdapat pemerintah daerah yang

59


dikepalai oleh seorang raja kecil atau bupati. Mereka dapat mengatur
daerahnya secara otonom, tetapi setiap tahun berkewajiban datang ke
ibukota sebagai tanda tetap setia dan tunduk kepada pemerintah pusat
Majapahit. Daerah-daerah demikian disebut mancanegara, yang berarti
negara (daerah) di luar daerah inti kerajaan. Jadi untuk mengikat hubungan,
setiap tahun daerah taklukan harus mengirim upeti ke Majapahit, di samping
juga ada petugas Majapahit yang berkeliling ke daerah-daerah. Sedangkan
untuk memantau ketertiban dan keamanan dikirimlah Duta Nitiyasa
(petugas sandi) ke seluruh Nusantara Di tingkat bawah, terdapat
pemerintahan desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa. Pemerintahan
dilakukan menurut hukum adat desa itu sendiri. Struktur pemerintahan desa
masih asli dan kepala desa dipilih secara demokratis.

Dengan kondisi pemerintahan yang stabil dan keamanan yang
mantap, Sumpah Palapa Gajah Mada dapat diwujudkan. Satu persatu
wilayah Nusantara dapat menyatu dalam wilayah kekuasaan Majapahit.
Dalam Kitab Negara Kertagamasecara jelas disebutkan daerah-daearah
yang masuk wilayah kekuasaan Majapahit ialah Jawa, Sumatra,
Tanjungpura (Kalimantan), Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Irian, dan
Semenanjung Malaka dan daerah-daerah pulau di sekitarnya. Majapahit
juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang jauh, seperi Siam,
Champa, dan Cina. Negara-negara tersebut dianggap sebagai"Mitreka
Satata" (negara sahabat yang berkedudukan sama). Hayam Wuruk wafat
pada tahun 1389, kemudian digantikan oleh putrinya Dyah
Kusumawardhani yang didampingi oleh suaminya Wikramawardhana
(1389-1429). Hayam Wuruk dengan isteri yang lain mempunyai anak Bhre
Wirabhumi yang telah diberi kekuasaan sebagai penguasa daerah (Bupati)
di Blambangan. Akan tetapi ternyata Bhre Wirabumi menuntut takhta
Majapahit, sehingga menimbulkan perang anda (Peregreg) tahun1401-
1406. Pada akhirnya Bhre Wirabhumi kalah dan perang anda tersebut
mengakibatkan lemahnya kekuasaan Majapahit.

60


Setelah Wikramawardhana meninggal (1429) kemudian digantikan
oleh Suhita yang memerintah hingga 1447, dan sampai akhir abad ke-15
masih ada raja-raja yang memerintah namun telah suram, karena tidak ada
persatuan dan kesatuan. Sehingga daerah-daerah jajahan satu demi satu
melepaskan diri. Para bupati di pantai utara Jawa telah menganut agama
Islam, seperi Demak, Gresik, dan Tuban. Satu persatu memisahkan diri,
demikian juga daerah di luar Jawa tidak mengirim upeti ke Majapahit.

Majapahit terus mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh.
Majapahit juga menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang jauh,
seperi Siam, Champa, dan Cina. Negara-negara tersebut dianggap
sebagai"Mitreka Satata" (negara sahabat yang berkedudukan sama). Hayam
Wuruk wafat pada tahun 1389, kemudian digantikan oleh putrinya Dyah
Kusumawardhani yang didampingi oleh suaminya Wikramawardhana
(1389-1429). Hayam Wuruk dengan isteri yang lain mempunyai anak Bhre
Wirabhumi yang telah diberi kekuasaan sebagai penguasa daerah (Bupati)
di Blambangan. Akan tetapi ternyata Bhre Wirabumi menuntut takhta
Majapahit, sehingga menimbulkan perang anda (Peregreg) tahun1401-
1406.

Pada akhirnya Bhre Wirabhumi kalah dan perang anda tersebut
mengakibatkan lemahnya kekuasaan MajapahitSetelah Wikramawardhana
meninggal (1429) kemudian digantikan oleh Suhita yang memerintah
hingga 1447, dan sampai akhir abad ke-15 masih ada raja-raja yang
memerintah namun telah suram, karena tidak ada persatuan dan kesatuan.
Sehingga daerah-daerah jajahan satu demi satu melepaskan diri. Para bupati
di pantai utara Jawa telah menganut agama Islam, seperti Demak, Gresik,
dan Tuban. Satu persatu memisahkan diri, demikian juga daerah di luar
Jawa tidak mengirim upeti ke Majapahit. Majapahit terus mengalami
kemunduran dan akhirnya runtuh.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran Majapahit
adalah sebagai berikut.

61


a. Tidak ada lagi tokoh-tokoh yang kuat di pusat pemerintahan yang dapat
mempertahankan kesatuan wilayah sepeninggal Gajah Mada dan
Hayam Wuruk.

b. Terjadinya perang anda (Paregreg).
c. Banyak daerah-daerah jajahan yang melepaskan diri dari kekuasaan

Majapahit
Dalam hal ini ada dua pendapat: (1) Tahun 1478, yakni adanya serangan
Girindrawardana dari Kediri. Peristiwa tersebut diberi candrasengkala
"Hilang Sirna Kertaning Bhumi" yang berarti tahun 1400 Saka/1478 M; (2)
Tahun 1526, yakni adanya serangan tentara dari Demak di bawah
pimpinanRaden Patah. Serangan Demak ini menandai berakhirnya
kekuasaan Hindu di Jawa.

Gambar 2.9. Peta Kekuasaan Majapahit
Sumber: wikipedia.org

Kehidupan Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial masa Majapahit aman, damai dan tenteram. Dalam Negara
Kertagama disebutkan bahwa Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling
ke daerah-daerah, untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dan

62


kesejahteraan rakyatnya. Perlindungan terhadap rakyat sangat diperhatikan.
Demikian juga peradilan, dilaksanakan secara ketat; siapa yang bersalah
dihukum tanpa pandang bulu. Dalam kehidupan ekonomi, masyarakat
Majapahit hidup dari pertanian, dan perdagangan. Prasarana perekonomian
dibangun, seperti jalan, lalu lintas sungai dan pelabuhan. Pelabuhan yang
besar antara lain Surabaya, Gresik , Tuban, dan Sedayu. Barang dagangan
yang diperjualbelikan antara lain beras, rempahrempah, dan kayu cendana.

Kehidupan Kebudayaan
Dalam kondisi kehidupan yang aman, dan teratur, mampu menghasilkan
karya-karya budaya yang bermutu tinggi. Hasil budaya Majapahit dapat
dibedakan sebagai berikut.
a. Candi. Banyak candi peninggalan Majapahit, seperti Candi Penataran

(di Blitar), Candi Brahu, Candi Bentar (Waringin Lawang), Candi
Bajang Ratu , Candi Tikus dan bangunan-bangunan kuno lainnya seperti
Segaran, Patilasan Wali Songo, dan Makam Troloyo (di Trowulan).
b. Kesusastraan. Zaman Majapahit bidang sastra sangat berkembang. Hasil
sastranya dapat dibagi menjadi zaman Majapahit awal dan Majapahit
akhir. Sastra Majapahit Awal meliputi: (1) Kitab Negara Kertagama,
karangan Empu Prapanca. Isinya tentang keadaan kota Majapahit,
daerah-daerah jajahan dan perjalanan Hayam Wuruk keliling ke daerah-
daerah; (2) Kitab Sotasoma, karangan Empu Tantular. Di dalam Kitab
ini terdapat ungkapan yang berbunyi;"Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana
Dharma Mangrawa", yang kemudian dipakai sebagai motto negara kita;
(3) Kitab Arjunawijaya, karangan Empu Tantular. Isinya tentang
raksasa yang dikalahkan oleh Arjuna Sasrabahu; (4) Kitab
Kunjarakarna, tidak diketahui pengarangnya. Jenis sastra zaman akhir
Majapahit antara lain
1) Kitab Pararaton, isinya menceritakan riwayat raja-raja Singasari

dan Majapahit.
2) Kitab Sudayana, isinya tentang Peristiwa Bubat.

63


3) Kitab Sorandakan, isinya tentang pemberontakan Sora.
4) Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe.
5) Kitab Panjiwijayakrama, isinya riwayat R.Wijaya sampai menjadi

raKitab Panjiwijayakrama, isinya riwayat R.Wijaya sampai
menjadi raja Majapahit.
6) Kitab Usana Jawa, tentang penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan
Aryadamar.
7) Tantu Panggelaran, tentang pemindahan gunung Mahameru ke
Pulau Jawa oleh Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa.

9. Kerajaan Sunda
Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579
Masehi di bagian Barat pulau Jawa (Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat,
dan sebagian Jawa Tengah sekarang). Kerjaan ini bahkan pernah menguasai
wilayah bagian selatan Pulau Sumatera. Kerajaan ini bercorak Hindu dan
Buddha. Kemudian sekitar abad ke-14 diketahui kerajaan ini telah
beribukota di Pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan pelabuhan
utama di Kalapa dan Banten.
Berdasarkan Prasasti Kebonkopi II, yang berbahasa Melayu Kuno
dengan tarikh 932, menyebutkan seorang "Raja Sunda menduduki kembali
tahtanya". Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Raja Sunda telah ada
sebelumnya. Sementara dari sumber Tiongkok pada buku Zhufan Zhi yang
ditulis pada tahun 1178 oleh Zhao Rugua menyebutkan terdapat satu
kawasan dari San-fo-ts'i yang bernama Sin-to kemudian dirujuk kepada
Sunda.

64


Gambar 2.10. Wilayah Kerajaan Sunda
Sumber: Wikipedia.org

Menurut naskah Wangsakerta, naskah yang oleh sebagian orang diragukan
keasliannya serta diragukan sebagai sumber sejarah karena sangat
sistematis, menyebutkan Sunda merupakan kerajaan yang berdiri
menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh
Tarusbawa pada tahun 669 (591 Saka). Kerajaan ini merupakan suatu
kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten,
Jakarta, Provinsi Jawa Barat, dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.

Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan
bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja
Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (666-669 M),
menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari,
beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri
sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua,
Sobakancana, menikah dengan Dapunta Hyang Sri Janayasa, yang
selanjutnya mendirikan Kerajaan Sriwijaya.

Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun
kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh,
Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari
Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Tarusbawa

65


juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya
memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana
di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan
berjajar, dekat Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi
bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9
Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda
dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum
(Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).

Menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang berangka tahun 1030 (952
Saka), diketahui bahwa kerajaan Sunda dipimpin oleh Maharaja Sri
Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana
Mandala Swaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa.

Prasasti lain yang menyebut raja Sunda adalah Prasasti Batutulis
yang ditemukan di Bogor. Berdasarkan Prasasti Batutulis berangka tahun
1533 (1455 Saka), disebutkan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di
Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, sebagai raja yang bertahta di
Pakuan Pajajaran.

Naskah kuno Fragmen Carita Parahyangan (koleksi Perpustakaan
Nasional Kropak 406) menyebutkan silsilah raja-raja Sunda mulai dari
Tarusbawa, penerus raja terakhir Tarumanagara, dengan penerusnya mulai
dari Maharaja Harisdarma, Rahyang Tamperan, Rahyang Banga, Rahyangta
Wuwus, Prebu Sanghyang, Sang Lumahing Rana, Sang Lumahing Tasik
Panjang, Sang Winduraja, sampai akhirnya kepada Rakean Darmasiksa.

Naskah kuno Carita Parahyangan (koleksi Perpustakaan Nasional)
menyebutkan silsilah raja setelah masa Tarumanagara. Yang pertama
disebutkan adalah Tohaan di Sunda (Tarusbawa). Berikutnya disebutkan
nama-nama raja penerusnya seperti Sanjaya, Prabu Maharaja Lingga Buana,
raja Sunda yang gugur dikhianati di Bubat (Jawa Timur) yang merupakan
ayahnya Rahiyang Niskala Wastu Kancana, sampai Surawisesa.

Raja terakhir kerajaan Sunda adalah Prabu Ragamulya atau Prabu
Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin

66


kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang
oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten. Hal ini
mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran
runtuh

10. Kerajaan Bali
Masyarakat Bali banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan India,
terutama Hindu. Sampai sekarang, masyarakat Bali masih banyak yang
menganut agama Hindu. Namun demikian, agama Hindu yang mereka anut
telah tercampur dengan budaya masyarakat asli Bali sebelum Hindu.
Masyarakat Bali sebelum Hindu merupakan kelompok-kelompok
masyarakat yang terikat oleh hubungan keluarga, dan memuja roh-roh
nenek moyang yang mereka anggap dapat melindungi kehidupan keluarga
yang masih hidup. Melalui proses sinkretisme ini, lahirlah agama Hindu
Bali yang bernama Hindu Dharma.
Prasasti yang menceritakan raja yang berkuasa di Bali ditemukan di
desa Blanjong, dekat Sanur. Dalam prasasti ini disebutkan Raja yang
bernama Khesari Warmadewa, istananya terletak di Sanghadwala. Prasasti
ini ditulis dengan huruf nagari (India) dan sebagian lagi berhuruf Bali Kuno,
tetapi berbahasa Sansakerta. Prasasti ini berangka tahun 914 M (836 saka),
dalam candrasengkala berbunyi Khecara-wahni-murti.
Kerajaan di Bali, sejak ditaklukan oleh Majapahit, diperintah oleh
raja-raja keturunan Jawa. Arya Kepakisan adalah keturunan raja-raja Kediri
yang memerintah di Samprangan. Pusat pemerintahan di Samprangan
kemudian berpindah ke Klungkung. Kerajaan Klungkung dianggap sebagai
Dewa Agung atau raja tertinggi. Raja-raja yang memerintah kemudian
menganggap dirinya sebagai “wong Majapahit” artinya keturunan
Majapahit. Walaupun demikian, di Bali terdapat kerajaan-kerajaan lain
seperti Gianyar, Mengwi, Tabanan, Karangassem, dan Buleleng.
Struktur masyarakat Bali dibagi ke dalam empat golongan yaitu
brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Tetapi kasta ini tidak tegas seperti

67


halnya di India. Masyarakat Bali mempunyai cara yang khas dalam
memberi nama awal pada anak-anak mereka, seperti wayan untuk anak
pertama, made untuk anak kedua, nyoman untuk anak ketiga dan ketut untuk
anak keempat.Ada juga nama Putu untuk panggilan anak pertama dari kasta
ksatria dan brahmana.

Sektor ekonomi di Bali dikembangkan dari sektor pertanian. Hal itu
dapat dibuktikan dengan kata –kata yang terdapat dalam berbagai prasasti
yang menunjukkan usaha dalam bidang pertanian seperti sawah, parlak
(sawah kering) , gaga (ladang), kebwan (kebun) dan kasuwakan (pengairan
sawah).

11. Hasil Kebudayaan Masa Hindu Buddha yang masih bertahan
Indonesia memiliki enam agama resmi: Islam, Kristen Katolik, Kristen
Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Keragaman agama yang ada di
Indonesia pasti terkait dengan masa lalu. Sejarah masyarakat nusantara
masih memberikan kontribusi dalam kehidupan masyarakat saat ini dalam
bidang agama. Adanya agama Hindu dan Buddha di Indonesia saat ini
dipengaruhi juga oleh sejarah nusantara.
Sampai saat ini, berdasarkan sensus tahun 2010, jumlah penduduk
beragama Hindu adalah 4,01 juta jiwa. Pemeluk agama Buddha sejumlah
1,70 juta jiwa. Adanya penduduk Indonesia yang beragama Hindu dan
agama Buddha menjadi bukti adanya kesinambungan sejarah sejak abad V
masehi sampai sekarang.
Dalam bidang sosial dan ekonomi, pengaruh Hindu-Buddha muncul
dalam beberapa hal. Pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, secara
umum di kepulauan Nusantara terdapat pelapisan sosial. Masyarakat terbagi
ke dalam golongan-golongan atau kelompok-kelompok tertentu. Sampai
saat ini pengaruh itu masih tampak nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.
Menurut sumber-sumber penemuan, baik prasasti atau kitab, ada lima
aspek yang menjadi landasan pelapisan sosial masyarakat pada masa
kerajaan Hindu-Buddha. Aspek yang melatarbelakangi terjadinya pelapisan

68


sosial adalah (1) umur, (2) jenis kelamin, (3) pemilikan harta, (4) kedudukan
dalam pemerintahan, dan (5) warna atau kasta. (Rahardjo, 2002)

Dalam tataran masyarakat Hindu-Buddha, kekayaan merupakan
indikator kesempurnaan dalam suatu kepemimpinan, mulai dari raja sampai
masyarakat desa. Kedudukan seseorang akan lebih tinggi dari orang lain
dapat diukur berdasarkan harta yang dimiliki. Bagi pemimpin atau raja,
salah satu ciri penting yang harus dimiliki adalah sifat dewa Kuwera, yakni
dewa yang menjadi simbol kekayaan.

Di tingkat desa, pelapisan sosial juga didasarkan atas kekayaan yang
dimiliki, yaitu kepemilikan tanah. Dalam masyarakat desa ada dua golongan
masyarakat. Pertama, elite pedesaan yang memiliki hak penuh atas tanah
atau landed gentry yang biasanya memiliki gelar rakai atau pamegat.
Kedua, kelompok “budak” atau hulun sebagai pekerja.

Dalam suatu pemerintahan kerajaan, terdapat adanya susunan jabatan
mulai dari tingkat yang tinggi ke yang rendah. Adanya pembagian jabatan
dalam pemerintahan merupakan salah satu bentuk dari pelapisan sosial.
Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, terdapat kurang lebih 65 susunan
jabatan dalam kerajaan mulai dari Mahraja, Narapati, sampai Hulun.
(Rahardjo, 2002)

Pengaruh Hindu Buddha tampak pula dari berbagai ritual dan upacara
adat yang masih dilakukan masyarakat sampai saat ini. Masyarakat Bali
yang mayoritas memeluk agama Hindu masih taat menjalankan berbagai
ritual dan upacara adat. Ada dua ritual yang paling populer adalah Puja dan
Yajna. Puja adalah yang paling umum dari ritual. Bagian utama dari ritual
ini adalah persembahan yang dibuat dari banyak bahan. Kemudian ada pula
Yajna yang dilakukan pada altar yang dibangun sementra sesuai dengan
hukum-hukum Tantra. Selain puja dan yajna ada pula samskara. Samskara,
artinya "perbaikan" atau "pemurnian". Samksara terdiri dari semua upacara
sejak waktu kelahiran sampai waktu kematian. (Rahardjo, 2002)

Pengaruh Hindu-Buddha selain di Bali tampak pada beberapa ritual
yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa. Di Jawa masyarakat masih

69


sangat percaya pada ritual keselamatan. Hampir di setiap peristiwa, selalu
dilakukan selamatan. Ritual selamatan yang dilakukan oleh masyarakat
Jawa mendapat pengaruh dari kepercayaan Hindu.

Peninggalan masa Hindu Buddha yang sampai kini masih dapat kita
temui adalah monumen-monumen keagamaan. Monumen keagamaan yang
dikenal pada masa Hindu-Buddha adalah Candi dan Arca. Candi menurut
agama Hindu merupakan salah satu bangunan berasal dari kata candika,
yaitu salah satu nama dari dewi Durga (dewi maut), selain itu kata candi
berasal dari kata candika, yang berarti makam. Bagi agama Buddha, candi
diistilahkan dengan “stupa”, yaitu tempat untuk melakukan ritual
keagamaan, yaitu penyembahan kepada Tuhan. Namun demikian, makna
filosofi candi tetap sama, yaitu melambangkan adanya keharmonisan antara
manusia dan penciptanya, antara mikro dan makrokosmos. Candi juga
melambangkan kehidupan manusia, di mana ada tahapan-tahapan di
dalamnya.

Kata "candi" mengacu pada berbagai macam bentuk dan fungsi
bangunan, antara lain empat beribadah, pusat pengajaran agama, tempat
menyimpan abu jenazah para raja, tempat pemujaan atau tempat
bersemayam dewa, petirtaan (pemandian) dan gapura. Walaupun fungsinya
bermacam-macam, secara umum fungsi candi tidak dapat dilepaskan dari
kegiatan keagamaan, khususnya agama Hindu dan Buddha, pada masa yang
lalu. Oleh karena itu, sejarah pembangunan candi sangat erat kaitannya
dengan sejarah kerajaan-kerajaan dan perkembangan agama Hindu dan
Buddha di Indonesia, sejak abad V sampai dengan abad XIX. (Rahardjo,
2002; Soekmono, 1984)

Monumen kedua sebagai hasil peninggalan Hindu Buddha adalah
arca. Arca merupakan patung perwujudan dewa. Antara Hindu dan Buddha
terdapat perbedaan arca. Pada candi Hindu, arca yang kerap ditemui adalah
(1) Çiwa Mahadewa, (2) Çiwa Mahaguru, (3) Çiwa Mahakala (Bhairawa),
(4) Durga Mahisasuramardini, (5) Çiwa sebagai Lingga, (6) Wisnu, (7) Sri
atau Lakshmi, (8) Mahadewi/Uma/Parwati, (9) Mahakali atau Bhairawi,

70


(10) Brahma, (11) Kama, (12) Yama, (13) Surya, (14) Kuwera, (15)
Ganesha, (16) Dewa Penjaga mata angin (Soekmono, 1984).

Sementara itu pada candi Buddha yang menjadi penanda arca satu
dengan lainnya antara lain adalah dari sikap mudranya. Arca Buddha yang
digambarkan selalu digambarkan sebagai manusia biasa dan bertangan dua.
Namun demikian, terdapat pula tanda-tanda berupa telinga yang lebih
panjang, pada kepala terdapat ushnisha, diantara kening terdapat urna, yaitu
bulatan kecil berupa titik di dahi yang menunjukkan kelebihan pandangan
tentang segala hal. Pada agama Buddha arca yang ada antara lain (1)
Aksobhya, (2) Ratnasambhawa, (3) Amithaba, (4) Amogasidhata, (5)
Wairocana, (6) Awalokitecwara, (7) Mairetya, (8) Manjucri, (9) Tara, (10)
Pradjnaparamita. (Soekmono, 1984)

Bentuk lain pengaruh Hindu Buddha tampak dalam kesenian.
Beragam karya seni, seperti seni sastra, seni pertunjukan, seni rupa
terpengaruh oleh Hindu Buddha. Salah satu satu contoh perpaduan ragam
seni tersebut adalah wayang kulit. Wayng kulit merupakan perpaduan dari
seni pertunjukan, seni musik, seni peran, seni sastra, dan seni rupa. Wayang
kulit biasanya diiringi oleh alunan gamelan. Dalang menjadi tokoh kunci
dalam wayang kulit. Dalang berperan dalam menentukan jalan cerita,
memerankan tokoh-tokoh, dan mengatur seluruh pertunjukan.

Cerita-cerita wayang sebagian besar diangkat dari kitab-kitab Hindu
dan Buddha. Beberapa kisah diangkat dari kitab Ramayana dan Mahabarata.
Namun, pertunjukan tetapi tak dibatasi hanya dengan standar atau pakem
tersebut. Ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan).
Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.

Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7
November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam
bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of
Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit lebih populer di
Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering
dimainkan di Jawa Barat.

71


E. Diskusi
Jelaskan mengapa Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha yang
penting di Asia Tenggara dan Asia Timur pada masanya?

F. Rangkuman
Selamat, Anda telah berhasil menyelesaikan modul tentang sejarah kehidupan
masyarakat pada masa Hindu Buddha. Dengan demikian, Anda sebagai guru
sejarah telah mampu menganalisis dan membandingkan Kehidupan
masyarakat, akulturasi, pemerintahan, hasil kebudayaan dan bukti peninggalan
pada masa kerajaan-kerajaan Hindu/Buddha di Indonesia. Hal-hal penting yang
telah Anda pelajari dalam modul ini adalah sebagai berikut.
1. Kerajaan Kutai di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur merupakan
kerajaan Hindu pertama di Nusantara. Rakyat Kutai sudah aktif terlibat
dalam perdagangan internasional. Kehidupan kebudayaan masyarakat Kutai
erat kaitannya dengan kepercayaan/agama yang dianut.
2. Kerajaan Tarumanegara terletak di Bogor, Jawa Barat. Kerajaan ini
merupakan kerajaan Hindu tertua kedua di Indonesia. Sumber-sumber
sejarah Kerajaan Tarumanegara dapat dikategorikan menjadi dua, bukti
yang berada di luar dan bukti yang ada di dalam negeri. Corak utama
kehidupan perekonomian masyarakat Tarumanegara adalah pertanian dan
peternakan.
3. Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 M. Kerajaan Sriwijaya bukan lagi
merupakan kerajaan senusa (negara yang berkuasa atas satu pulau saja)
melainkan merupakan negara antarnusa (negara yang berkuasa atas
beberapa pulau), sehingga Sriwijaya merupakan negara kesatuan pertama di
Indonesia.
4. Kerajaan Mataram Kuno terletak di Jawa Tengah dengan intinya yang
sering disebut Bumi Mataram. Kehidupan ekonomi masyarakat bertumpu
pada pertanian. Kondisi alam bumi Mataram yang tertutup dari dunia luar
sulit untuk mengembangkan aktivitas perekonominan dengan pesat.

72


5. Pada abad ke-10 pusat pemerintahan di Jawa Tengah yang dipindahkan ke
Jawa Timur alam Jawa Timur lebih terbuka untuk mengembangkan
aktivitas perdagangan dengan dunia luar. Pemindahan kekuasaan ke Jawa
Timur dilakukan oleh raja Empu Sendok, dan membentuk dinasti baru yakni
Isana. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kerajaan di Jawa Timur ini
cukup baik, karena mendapat perhatian dari raja-raja yang memerintah.

6. Dalam persaingan antara Panjalu dengan Kediri, ternyata Kediri yang
unggul dan menjadi negara yang besar kekuasaannya. Pada masa Kejayaan
Kediri, perhatian raja terhadap kehidupan sosial ekonomi rakyat juga besar.
Hal ini dapat dibuktikan dengan karya-karya sastra saat itu, yang
mencerminkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat saat itu.

7. Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari atau Singosari, adalah
sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun
1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari,
Malang. Kerajaan ini disebut pula sebagai Tumapel.

8. Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia,
yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini
mencapai puncak kejayaannya menjadi kemaharajaan raya yang menguasai
wilayah yang luas di Nusantara pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang
berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan
Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai
salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia.

9. Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579
Masehi di bagian Barat pulau Jawa (Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat,
dan sebagian Jawa Tengah sekarang). Kerjaan ini bahkan pernah menguasai
wilayah bagian selatan Pulau Sumatera. Kerajaan ini bercorak Hindu dan
Buddha. Kemudian sekitar abad ke-14 diketahui kerajaan ini telah
beribukota di Pakuan Pajajaran serta memiliki dua kawasan pelabuhan
utama di Kalapa dan Banten.

10. Kerajaan Bali merupakan cikal bakal kuatnya pengaruh Hindu di Bali pada
saat ini. Prasasti yang menceritakan raja yang berkuasa di Bali ditemukan

73


di desa Blanjong, dekat Sanur. Prasasti ini berangka tahun 914 M (836
saka). Sektor ekonomi di Bali dikembangkan dari sektor pertanian.
11. Berbagai pengaruh Hindu dan Buddha masih dapat ikita jumpai pada saat
ini. Pengaruh Hindu Buddha tampak dari berbagai ritual dan upacara adat
yang masih dilakukan masyarakat sampai saat ini. Masyarakat Bali yang
mayoritas memeluk agama Hindu masih taat menjalankan berbagai ritual
dan upacara adat. Peninggalan masa Hindu Buddha yang sampai kini masih
dapat kita temui adalah monumen-monumen keagamaan. Monumen
keagamaan yang dikenal pada masa Hindu-Buddha adalah Candi dan Arca.
Bentuk lain pengaruh Hindu Buddha tampak dalam kesenian. Beragam
karya seni, seperti seni sastra, seni pertunjukan, seni rupa terpengaruh oleh
Hindu Buddha.

74


G. Tes Formatif
1. Unsur Hindu dan Buddha yang masuk ke Indoinesia telah mengalami
perpaduan dengan budaya lokal. Hal ini disebabkan oleh....
A. Masyarakat Indonesia secara proaktif juga menuntut imu di India
B. Masyarakat Indonesia telah memiliki tingkat kecersadan yang tinggi
(local genius)
C. Adanya kelompok masyarakat yang telah mapan
D. Adanya kerajaan-kerajaan sebelum masuknya pengaruh India
E. Keterbukaan masyarakat Indonesia

2. Pelapisan masyarakat yang terjadi pada masa kerajaan Hindu dan Buddha
diatarbelakangi oleh beberapa faktor. Hal yang tidak termasuk faktor
tersebut adalah....
A. Perbedaan umur
B. Perbedaan pemilikan harta
C. Sistem kasta
D. Perbedaan kedudukan dalam pemerintahan
E. Perbedaan agama

3. Antara kerajaan Sriwijaya dan Mataram memiliki beberapa perbedaan,
antara lain....
A. Sriwijaya bersifat feodal, sedangakan Mataram cenderung terbuka.
B. Sriwijaya berkembang menjadi pusat agama Hindu, sedangkan
Mataram menjadi pusat agama Buddha.
C. Pendapatan utama Sriwijaya berasal dari sektor pertanian, sendangkan
Mataram dari sektor perdagangan
D. Struktur kerajaan Mataram besifat agraris, sedangkan di Sriwijaya
bercorak maritim
E. Peayaran menjadi hal pokok dalam kegiatan ekonomi Mataram,
sedangkan Sriwijaya cenderung untuk menutup daerah pesisir.

4. Dalam Nagarakretagama, kerajaan Kadiri/Daha runtuh pada 1222. Hal ini
disebabkan oleh....
A. Penyerangan yang dilakukan oleh Ken Angrok
B. Korupsi yang dilakukan raja
C. Serangan dari Mancu
D. Perang anda di kalangan anggota kerajaan
E. Pajak yang tinggi dan membebani masyarakat

75


5. Faktor yang tidak menyebabkan kemunduran kerajaan Majapahit adalah....
A. Serangan dari Demak terhadap Majapahit
B. Terjadinya krisis keuangan
C. Terjadinya perang anda
D. Kegagalan regenerasi kepemimpinan
E. Lepasnya wilayah-wilayah bawahan

6. Nagarakretagama merupakan sumber utama penulisan sejarah tentang
kerajaan Majapahit. Penggunaan Nagarakretagama sebagai sumber
sejarah yang utama sebab...
A. Nagarakretagama merupakan sebuah pujasastra
B. Nagarakretagama berisi informasi tentang perjalanan dinas raja
C. Nagarakretagama merupakan karya yang populer pada masanya
D. Nagarakretagama menceritakan tentang kondisi sosial budaya
Majapahit
E. Nagarakretagama ditulis pada masanya.

7. Arsitektur candi Hindu Jawa Tengah bagian Utara dan Selatan memiliki
beberapa perbedaan, antara lain....
A. Struktur bangunan candi utara lebih sederhana dibandingkan dengan
candi di bagian selatan.
B. Bahan dasar candi di bagian utara terbuat dari batu, sedangkan di
selatan terbuat dari batu bata.
C. Bagian utara relatif lebih tambun dibandingkan dengan candi bagian
selatan.
D. Relief candi bagian utara bersifat naturalis, sedangkan di bagian
selatan bersifat simbolik.
E. Kala pada candi bagian utara berdagu, sementara pada bagian selatan
tidak berdagu.

8. Walaupun memiliki perbedaan dalam bentuk arsitekturnya, Candi Hindu
dan Buddha memiliki kesamaan, yaitu....
A. Pembangunannya menggunakan batu kali
B. Adanya makna filosofis sebagai sebuah lambang kosmologis
C. Relief yang ada di candi memiliki kesamaan cerita
D. Adanya perundakan pada candi
E. Kesamaan arca dewa sebagai sarana untuk beribadah

76


9. Menurut G Coedes, letak pusat kerajaan Sriwijaya terletak di daerah
Palembang. Kelemahan dari teori tersebut adalah....
A. letak Palembang yang tidak strategis
B. sedikit barang temuan di Palembang
C. kondisi alam Palembang kurang subur
D. kondisi geografis Palembang yang berbukit sehingga tidak
mendukung adanya kerajaan
E. letak Palembang di teluk yang dalam, sehingga menyulitkan kapal
yang ingin belabuh

10. Faktor yang bukan menjadi penyebab mundurnya Sriwijaya adalah....
A. Memburuknya hubungan diplomatik dengan kerajaan di India
B. Konflik yang meluas di kerajaan Chenla
C. Adanya serangan dari kerajaan Chola
D. Munculnya Kerajaan Khmer
E. Persaingan dengan Melayu Dharmasraya

77


H. Daftar Pustaka
Berg, van den, HJ,1952, Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia 1, Jakarta-
Groningen : J.B. Wolters
Bosch, F.D.K., 1982, Masalah Penyebaran Kebudayaan Hindu di Kepulauan
Indonesia, Jakarta : Bhratara Karya Aksara
Mulyana, Slamet, 1979, Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya, Jakarta :
Bhratara Karya Aksara
Mustopo, Habib, dkk, 2006, Sejarah, SMA Kelas XI IPS, Jilid 2, perkembangan
kehidupan negara-negara kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Bogor:
Yudhistira.
Rahardjo, Supratikno. 2002. Peradaban Jawa: dinamika pranata politik, agama,
dan ekonomi Jawa kuno. Depok: Komunitas Bambu.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho (ed). 1993.
Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka
Soekmono, R. 1984. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jilid II.
Yogyakarta: Kanisius.

78


No Kode: DAR2/Profesional/204/2/2019
PENDALAMAN MATERI SEJARAH INDONESIA

MODUL 2:
PERADABAN HINDU BUDHA DAN ISLAM

KEGIATAN BELAJAR 3:
TEORI MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

Penulis:
ATNO, S.Pd., M.Pd.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2019


MODUL 2 KB 3
TEORI MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

A. Pendahuluan
Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia. Hal ini
tentu bukanlah sesuatu yang asing bagi Anda, karena mungkin Anda sudah sering
mendengar atau membaca bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki penganut
agama Islam terbesar di dunia. Agama Islam masuk ke Indonesia dimulai dari daerah
pesisir pantai, kemudian diteruskan ke daerah pedalaman oleh para ulama atau
penyebar ajaran Islam. Mengenai kapan Islam masuk ke Indonesia dan siapa
pembawanya terdapat beberapa teori yang mendukungnya. Untuk itulah, mata
kegiatan dengan judul Teori Masuknya Agama Dan Budaya Islam Ke Indonesia ini
dibuat untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang masuknya agama Islam
ke Indonesia.
Dalam modul ini, terdapat empat pokok materi yang menggambarkan secara
umum tentang teori masuknya agama dan budaya Islam ke Indonesia. Lahirnya
beragam teori-teori tentang proses masuknya agama dan budaya Islam ke Indonesia,
berangkat dari munculnya pemikiran para ahli sejarah. Materi tersebut adalah
Pertama adalah, teori tentang masuknya agama Islam ke Indonesia. Kedua, adalah
bukti-bukti masuknya agama dan budaya Islam ke Indonesia. Ketiga, proses
Islamisasi di Indonesia. Selanjutnya, empat adalah pola penyebaran Islam di
Indonesia. Harapannya, dengan mengaji modul ini, Anda mampu menjelaskan dan
menganalisis tentang berbagai teori masuknya agama dan budaya Islam ke Indonesia.
Teori ini penting untuk diulas karena memberikan bekal dasar kepada Anda tentang
suatu proses dalam sejarah yang sangat berpengaruh terhadap keyakinan masyarakat
Indonesia sampai saat ini.
Agar pencapaian setelah mempelajari modul ini menjadi maksimal, ada
beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.
1. Pahami terlebih dahulu tentang teori masuknya agama dan budaya Islam ke
Indonesia.

99


2. Pelajari materi tahap demi tahap secara tuntas dan gunakanlah pengetahuan yang
telah diperoleh di materi sebelumnya sebagai dasar untuk memahami materi
selanjutnya yang akan Anda kaji.

3. Tambahkan sumber bacaan atau referensi untuk memperkaya wawasan, terutama
dari rujukan yang terdapat dalam daftar pustaka serta sumber lain dari internet
sepanjang masih relevan.

4. Keberhasilan proses pembelajaran Anda dalam mata kegiatan ini sangat
tergantung kepada kesungguhan Anda dalam mengerjakan latihan. Untuk itu,
berlatihlah secara mandiri atau berkelompok dengan teman sejawat.

5. Bila Anda menemui kesulitan, silakan hubungi instruktur/widiaiswara
pembimbing atau fasilitator yang mengajar mata diklat ini.

B. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan
Melalui belajar mandiri dan penugasan peserta dapat menguasai dan memahami
Pearadaban Hindu-Budha dan Islam di Indonesia.

C. Pokok-Pokok Materi
Pokok-pokok materi modul 2 kegiatan belajar 3 sebagai berikut.

Teori Masuknya
Hindu Buddha

Teori Masuknya Bukti-Bukti Awal Proses Islamisasi Pola Penyebaran
Agama dan Budaya Masuknya Agama dan Islam di Indonesia
Islam ke Indonesia
Budaya Islam ke
Indonesia

D. Uraian Materi
1. Teori Masuknya Agama dan Budaya Islam Ke Indonesia
Munculnya agama Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh persentuhan
kebudayaan antara daerah Nusantara dengan negara yang membawa pengaruh
Islam. Persentuhan kebudayaan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari hubungan
yang dilakukan antara orang-orang Islam dengan orang-orang ang ada di
Nusantara. Sebab, daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang

100


menghubungkan antara dua wilayah, yaitu Laut Tengah dan Cina. Hubungan
perdagangan yang semakin lama semakin intensif menimbulkan pengaruh
terhadap masuknya pengaruh-pengaruh kebudayaan Arab, Parsi, India, dan Cina
di Nusantara. Dengan kata lain, terjadilah proses akulturasi antara kebudayaan
negara-negara itu dengan kebudayaan Nusantara.

Hubungan dagang antara India dan China melalui laut sudah mulai ramai
sejak awal Masehi. Hal ini dimungkinkan karena sudah dikenalnya sistem bintang
dan sistem angin yang berlaku di Lautan Hindia dan laut Cina sehingga
memungkinkan terjadi jalur pelayaran antara Barat dengan Timur pulang balik
secara teratur dan berpola tetap (Kartodirdjo, 1987). Hal ini juga menjadi salah
satu faktor munculnya kota-kota pelabuhan di sepanjang jalur pelayaran.
Sriwijaya menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari jazirah Arab dan
Teluk Parsi serta kapal-kapal dagang dari Cina. Kapal dagang yang dari Jazirah
Arab atau Teluk Parsi (Persia) serta kapal-kapal dagang dari Cina. Kapal dagang
yang dari Jazirah Arab atau Teluk Parsi bergerak di sepanjang pantai Asia Selatan
(Gujarat, Malabar, Koromandel, Benggala) dan memasuki kepulauan Nusantara
terus Cina, demikian juga sebaliknya.

Pada awal Abad ke-7 M, ketika Islam berkembang di Jazirah Arab,
Sriwijaya sedang dalam puncak kejayaannya. Dengan berdasar pada pendapat
HAMKA bahwa sudah ada pedagang Arab yang singgah di Sriwijaya, maka
bukan tidak mungkin bahwa di antara para pedagang Arab sudah ada yang
beragama Islam. Ini artinya bahwa Islam sudah hadir dan mulai dikenal di wilayah
Nusantara pada abad ke-7 M. Hal ini diperkuat dengan pendapat Syed Naquid Al-
Atas menyatakan bahwa orang-orang Muslim sejak abad ke-7 M telah memiliki
perkampungan di Kanton (Kartodirdjo, Poesponegoro, Notosusanto, 1975).
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa pedagang-pedagang Arab memang
telah memasuki perairan Nusantara.

Permasalahan kapan dan di mana Islam masuk ke Indonesia masih menjadi
bahan kajian para ahli sejarah. Hamka berpendapat bahwa Islam datang ke
Indonesia pada abad ke-7 M, alasan yang dikemukakan berdasar pada sumber
yang berasal dari berita Cina dan berita Jepang. Kedua sumber menyebutkan
bahwa pada abad ke-7 telah terdapat armada dagang yang dikenal dengan Ta-shih

101


atau Tashih-kuo, istilah ta-shih atau tashih-kuo adalah perdagangan dari bangsa
Arab atau Persia. Dalam berita itu juga disebutkan telah terdapat pemukiman
orang-orang Arab di Sumatera Selatan (wilayah Sriwijaya). Hamka (1981)
mengutip pendapat Sir Arnold bahwa catatan dari Cina menyebutkan adanya
koloni orang Arab di Sumatera Barat pada sekitar tahun 684 M, artinya bahwa
karena sudah ada koloni maka waktu kedatangan orang Arab sebelum tahun 684.

Gambar 3.1. Peta jalur awal masuknya Islam ke Nusantara (Indonesia)

Sebagian ahli sejarah yang lain berpendapat bahwa Islam datang ke Indonesia
pada abad ke-13, hal ini dikaitkan dengan hancurnya Bagdad yang diserbu oleh
Hulagu pada tahun 1258 M. Akibat hancurnya Bagdad maka banyak orang Islam
yang menyebar ke luar dan berkelana mencari daerah baru, kelompok inilah yang
sampai di Indonesia. Alasan lain yang dikemukakan adalah keterangan yang
diperoleh dari catatan perjalanan Marcopolo dan Ibnu Batutah. pada catatan
keduanya menyebut adanya masyarakat Islam di Sumatera. Alasan yang lebih
kuat adalah diketemukannya bukti fisik yang berupa Nisan Sultan Malikus Saleh
di Aceh yang berangka tahun 1297 M. Kesimpulan yang dapat diambil dari
permasalahan kapan datangnya Islam di Indonesia adalah perlunya pemisahan
konsep secara jelas tentang kedatangan, proses penyebaran, dan perkembangan
Islam di Indonesia. Dengan demikian jelas bahwa abad ke-7 M dapatlah
disimpulkan sebagai waktu kedatangan Islam di Indonesia untuk pertama kali.

102


Setidaknya mengacu pada jalur pelayaran dan perdagangan antara Cina dan India
atau Timur Tengah sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Pada masa
Sriwijaya berkuasa belum dapat dipastikan apakah pedagang-pedagang Arab telah
memainkan peran ganda, yakni sebagai pedagang dan sebagai ulama yang
mendakwahkan ajaran Islam. Jarak yang cukup jauh (kurang lebih 5 Abad) antara
proses kedatangan hingga terbentuknya masyarakat (kerajaan Islam) di Parlak,
memang masih menjadi catatan para sejarawan.

Di manakah Islam pertama kali datang di kepulauan Indonesia? tentu saja
jawaban pasti mengarah pada tempat-tempat (pelabuhan-pelabuhan) yang
menjadi persinggahan kapal-kapal dagang. Aceh (1985) menjelaskan bahwa
daerah Perlak merupakan tempat Islam pertama kali berkembang. Hal ini
didasarkan atas catatan perjalanan Marcopolo. Dari bukti pelacakan arkeologis di
samping Parlak juga disebutkan adanya tempat yang bernama Pase. Sehingga
disimpulkan bahwa tempat kedatangan Islam pertama kali adalah Parlak dan Pase.

Menurut Harun (1995) ada dua jalur proses masuknya Islam ke Indonesia
yakni jalur darat dan jalur laut. jalur darat dari Bagda menuju Kabul Afghanistan,
terus ke Kasmir, India Utara, ke Kanton, ke Jeddah Laut Merah, ke Yaman, Oman
Teluk Parsi (Irak), Iran, Pakistan, Pantai Malabar, Ceilon, pantai Koromandel,
Bangladesh, Birma, dan masuk ke Indonesia.Jika yang digunakan sebagai dasar
adalah dua jalur proses masuknya Islam tersebut maka, Parlak sebagai wilayah
pertama kedatangan Islam dapat diterima.

Kepastian kapan dan dari mana Islam masuk di Nusantara memang tidak
ada kejelasan. Setidaknya ada tiga teori yang mencoba menjelaskan tentang itu.
Yaitu: Teori Gujarat, Teori Makkah, dan Teori Persia. Munculnya tiga teori yang
berbeda ini, disinyalir oleh Ahmad Mansur Suryanegara, akibat dari kurangnya
informasi yang bersumber dari fakta peninggalan agama Islam di Nusantara.
Inskripsi tertua tentang Islam tidak menjelaskan tentang kapan masuknya Islam
di Nusantara. Pada Inskripsi tertua itu hanya membicarakan tentang adanya
kekuasaan politik Islam, Samudera Pasai pada abad ke-13 Masehi. Selain itu
karena sulitnya memastikan kapan masuknya Islam di Nusantara dihadapkan pada
luasnya wilayah kepulauan Nusantara. Ketiga teori tersebut berbeda pendapat
mengenai: Pertama, waktu masuknya Islam. Kedua, asal negara yang menjadi

103


perantara atau sumber tempat pengambilan ajaran agama Islam. Dan ketiga,
pelaku penyebar atau pembawa Islam ke Nusantara. Berikut ini gambaran
mengenai teori masuknya agama dan budaya Islam ke Indonesia:
Teori Gujarat
Teori ini merupakan teori tertua yang menjelaskan tentang masuknya Islam di
Nusantara. Dinamakan Teori Gujarat, karena bertolak dari pandangannya yang
mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari Gujarat, pada abad ke-
13 M, dan pelakunya adalah pedagang India Muslim. Ada dugaan bahwa peletak
dasar teori ini adalah Snouck Hurgronje, dalam bukunya L' Arabie et les Indes
Neerlandaises atau Revue de l'Histoire des Religious. Snouck Hurgronje lebih
menitikberatkan pandangannya ke Gujarat berdasarkan pada: Pertama,
kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam
di Nusantara. Kedua, adanya kenyataan hubungan dagang India-Indonesia yang
telah lama terjalin. Ketiga, inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di
Sumatera memberikan gambaran hubungan antara Sumatera dan Gujarat.

Sarjana lain yang mendukung teori ini adalah W. F. Stutterheim. Dalam
bukunya De Islam en Zijn Komst In de Archipel, ia menyakini bahwa Islam masuk
ke Nusantara pada abad ke-13 dengan daerah asal Gujarat di dasarkan pada:
pertama, bukti batu nisan Sultan pertama Kerajaan Samudera Pasai, yakni Malik
al-Shaleh yang wafat pada 1297. Sutterheim menjelaskan bahwa relif nisan
tersebut bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang
terdapat di Gujarat. Kedua, adanya kenyataan bahwa agama Islam disebarkan
melalui jalan dagang antara Indonesia - Cambai (Gujarat) - Timur Tengah - Eropa.

Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang
memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat
pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan
di Pasai dan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik,
Jawa Timur, memiliki bentuk yang sama dengan nisan yang terdapat di Kambay,
Gujarat. Moquetta akhirnya berkesimpulan bahwa batu nisan tersebut diimpor
dari Gujarat, atau setidaknya dibuat oleh orang Gujarat atau orang Indonesia yang
telah belajar kaligrafi khas Gujarat. Alasan lainnya adalah kesamaan mahzab
Syafei yang di anut masyarakat muslim di Gujarat dan Indonesia.

104


Gambar 3.2. Batu nisan makam Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur

Ada beberapa sarjana lain (sejarawan, antropolog, ahli politik, dll) yang
memperkuat untuk tidak mengatakan terpengaruh oleh argumen teori Gujarat ini.
Di antaranya adalah Bernard H. M. Vlekke, Clifford Geertz dan Harry J. Benda.
Bernard H. M. Vlekke dalam bukunya Nusantara: a History of Indonesia,
mendasarkan argumennya pada keterangan Marco Polo yang pernah singgah di
Sumatera untuk menunggu angin pada tahun 1292. Di sana disebutkan tentang
situasi ujung utara Sumatera bahwa, di perlak penduduknya telah memeluk Islam.
Selanjutnya Bernard H. M. Vlekke menandaskan bahwa Perlak merupakan satu-
satunya daerah Islam di Nusantara saat itu. Dengan demikian sarjana Barat ini
merasa mengetahui dengan pasti kapan dan di mana Islam masuk ke Nusantara.
Apalagi kemudian menurutnya, keterangan ini diperkuat dengan inskripsi tertua
di Sumatera yang berupa nisan (Sultan Malik al-Shaleh) berangka tahun 1297, di
mana lokasinya terletak di desa Samudera, 100 Mil dari Perlak. Seperti sejarawan
sebelumnya, Bernard H. M. Vlekke juga berpandangan bahwa nisan tersebut
selain mempunyai kesamaan dengan yang ada di Cambai, juga diimport dari sana
pula, karena Cambai merupakan pusat perdagangan Islam sejak abad 13. Dengan
adanya persamaan nisan dan persamaan ajaran mistik Islam Indonesia dengan
India, maka ia berkesimpulan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara berasal dari
Gujarat.

105


Tentang peranan Gujarat sebagai pusat perdagangan internasional, dan
terutama sejak 1294 sebagai pusat penyebaran Islam, jauh sebelum Bernard, telah
mendapat perhatian dari Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies. Cuman
bedanya sarjana yang terakhir ini tidak mendasarkan argumennya pada laporan
Marco Polo karena menurutnya Marco Polo tidak singgah di Gujarat- tetapi pada
laporan Sanudo, Pangeran Hayton dan Ibnu Battutah (1350). Dari Ibnu Battutah
di dapat keterangan bahwa selain keindahan masjid dan gedung-gedungnya, juga
tentang perdagangan di Aden dan adanya berbagai pedagang asing yang datang
ke Cambay. Selanjutnya, Schrieke memberikan gambaran tentang adanya
ketergantungan antara Malaka dengan Cambay dan sebaliknya. Juga menjelaskan
tentang peranan Cambay sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, terutama
pada saat hubungan dagang Cina-India dihentikan.

Sedangkan Clifford Geertz, untuk memperkuat teori ini, dalam bukunya The
Religion of Java lebih menitikberatkan pada perkembangan ajaran Islam di
Indonesia, yang lebih diwarnai oleh ajaran Hindu, Budha bahkan animisme
sebagai ajaran yang telah lama berkembang sebelum Islam. Hal ini akibat dari
putusnya hubungan Indonesia dengan negara sumber Islam, yakni Makkah dan
Kairo. Sehingga terlihat praktik mistik Budha yang diberi nama Arab, Raja Hindu
berubah namanya menjadi Sultan, sedangkan rakyat kebanyakan masih
mempraktikkan ajaran animisme.

Senada dengan Geertz, Harry J. Benda juga mempunyai pendapat yang
sama tentang besarnya peranan India ketimbang Arab dalam proses Islamisasi di
Indonesia. Terutama ajaran mistik Islam yang dikembangkan di Indonesia bukan
oleh bangsa Arab, melainkan oleh bangsa India yang telah beragama Islam.
Bahkan Benda menegaskan bila agama Islam berasal langsung dari Timur Tengah
dan menerapkan ajaran asli di Nusantara, mungkin tidak akan menemukan tempat
di kepulauan itu, lebih-lebih pulau Jawa. Hanya dengan melalui pemantulan dua
kalilah, rupanya agama Islam mendapatkan titik pertemuan dengan Indonesia,
khususnya dengan pulau Jawa. Untuk memperkuat pendepatnya ini Benda
mendasarkan pada kenyataan adanya orang-orang Arab yang telah lama tinggal
di pantai-pantai, tetapi mengapa baru pada abad ke-15 dan ke-16 Islam menjadi
kekuatan kebudayaan dan agama utama di Nusantara. Selain itu Benda dan

106


kawannya Jhon Bastin juga berusaha memperlihatkan pengaruh India atas
Indonesia di bidang yang lain, seperti: pengenalan adanya sawah dengan irigasi,
penjinakan sapi dan kerbau, dan pelayaran.

Dari berbagai argumen yang dikemukakan oleh para pendukung teori
Gujarat di atas, nampak sekali mereka sangat Hindu Sentris, seakan-akan segala
perubahan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama di Nusantara tidak bisa
dilepaskan dari pengaruh India. Di samping itu juga kebanyakan mereka lebih
memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam di
Nusantara. Seakan-akan Islam masuk di Nusantara dan langsung menguasai
struktur politik di sana. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa Islam masuk di
Indonesia melalui infiltrasi kultural oleh para pedagang Muslim dan para Sufi.

Teori Makkah
Teori ini dicetuskan oleh HAMKA dalam pidatonya pada Dies Natalis PTAIN ke-
8 di Yogyakarta (1958), sebagai antithesis untuk tidak mengatakan sebagai
koreksi teori sebelumnya, yakni teori Gujarat. Di sini HAMKA menolak
pandangan yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13
dan berasal dari Gujarat (Ahmad M Suryanegara, tt:78). Selanjutnya HAMKA
dalam Seminar Sejarah Masuknya Agama Islam di Indonesia (1963) lebih
menguatkan teorinya dengan mendasarkan pandangannya pada peranan bangsa
Arab sebagai pembawa agama Islam ke Indonesia, kemudian diikuti oleh orang
Persia dan Gujarat. Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah semata, dan
Makkah sebagai pusat, atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.

Gambar 3.3. HAMKA atau Haji Abdul Karim Amrullah

107


HAMKA menolak pendapat yang mengatakan bahwa Islam baru masuk pada
abad 13, karena kenyataanya di Nusantara pada abad itu telah berdiri suatu
kekuatan politik Islam, maka sudah tentu Islam masuk jauh sebelumnya yakni
abad ke-7 Masehi atau pada abad pertama Hijriyah.

Guna dapat mengikuti lebih lanjut mengenai pendapat tentang masuknya
Islam ke Nusantara abad ke-7, perlu kiranya kita mengetahui terlebih dahulu
tentang peranan bangsa Arab dalam perdagangan di Asia yang dimulai sejak abad
ke-2 SM. Peranan ini tidak pernah dibicarakan oleh penganut teori Gujarat.
Tinjauan teori Gujarat menghapuskan peranan bangsa arab dalam perdagangan
dan kekuasaannya di lautan, yang telah lama mengenal samudera Indonesia dari
pada bangsa-bangsa lainnya.

T.W. Arnold dalam The Preaching of Islam: a History of the Propagation of
the Muslim Faith menulis bahwa bangsa Arab sejak abad ke-2 SM telah
menguasai perdagangan di Ceylon (Samsul Munir Amin, 2013:304). Pendapat ini
sama dengan pandangan Cooke seperti yang dikutip oleh Abdullah bin Nuh dan
D. Shahab ketika menjadi pembanding dalam "Seminar Masuknya Agama Islam
ke Indonesia". Memang dalam informasi sejarah tersebut tidak disebutkan lebih
lanjut tentang sampainya di Indonesia, tetapi menurut Suryanegara, bila
dihubungkan dengan penjelasan kepustakaan Arab kuno di dalamnya disebutkan
al-Hind sebagai India atau pulau-pulau sebelah timurnya sampai ke Cina, dan
Indonesia pun disebut sebagai pulau-pulau Cina, maka besar kemungkinan pada
abad ke-2 SM bangsa Arab telah sampai ke Indonesia. Bahkan sebagai bangsa
asing yang pertama datang ke Nusantara. Karena bangsa India dan Cina baru
mengadakan hubungan dengan Indonesia pada abad 1 M. Sedangkan hubungan
Arab dengan Cina terjadi jauh lebih lama, melalui jalan darat menggunakan "kapal
sahara", jalan darat ini sering disebut sebagai "jalur sutra", berlangsung sejak 500
SM.

Kalau demikian halnya hubungan antara Arab dengan negara-negara Asia
lainnya, maka tidaklah mengherankan bila pada 674 M telah terdapat
perkampungan perdagangan Arab Islam di Pantai Barat Sumatera, bersumber dari
berita Cina. Kemudian berita Cina ini ditulis kembali oleh T.W. Arnold (1896),

108


Click to View FlipBook Version