Kebijakan Pembelanjaan Modal Kerja
Grafik: Kebijakan pembelanjaan konservatif
Aktiva
Sumber dana jangka
pendek
Aktiva lancar variabel Sumber dana jangka
Aktiva lancar permanen panjang
Aktiva tetap
Periode waktu
Kebijakan Pembelanjaan Modal Kerja
Grafik: Kebijakan pembelanjaan moderat
Aktiva
Aktiva lancar variabel Sumber dana jk.
pendek
Aktiva lancar permanen Sumber dana jk.
Aktiva tetap panjang
Periode waktu
Kebijakan Pembelanjaan Modal Kerja
Grafik: Kebijakan pembelanjaan agresif
Aktiva
Sumber dana jk. pendek
Aktiva lancar variabel
Aktiva lancar permanen Sumber dana jk. panjang
Aktiva tetap
Periode waktu
Penentuan Kebutuhan Modal Kerja Tahun
Depan
■ Metode Persentase Penjualan:
= × +
■ Metode Perputaran Aset:
= + + − ( + )
■ Metode Keterikatan Dana:
= − ×
Metode Persentase Penjualan (Contoh Soal)
Berdasarkan data dari laporan keuangan sebelumnya yang terpampang di slide 13, dan
jika diketahui tahun depan perusahaan merencanakan penjualan sebesar Rp 18.000.000,
berapa modal kerja yang dibutuhkan untuk tahun depan?
= . + . + . × . .
. .
= . .
Metode Perputaran Aset
Menghitung kebutuhan modal kerja di masa depan dengan metode ini, terdiri dari 2
langkah:
1) Hitunglah tingkat perputaran masing-masing komponen di rumus modal kerja
2) Dengan menggunakan angka tingkat perputaran di langkah (1) tadi, hitung balik
kembali kelima komponen tersebut ke bentuk asalnya namun kali ini
menggunakan target penjualan tahun depan (misalnya Rp 18 juta seperti di
contoh metode sebelumnya)
Metode Perputaran Aset (Langkah 1)
■ Perputaran Kas = = 15.000.000 = 75x
200.000
■ Perputaran Piutang = = 15.000.000 = 50x
300.000
■ Perputaran Persediaan = = 15.000.000 = 30x
500.000
■ Perputaran Utang Dagang = = 15.000.000 = 150x
100.000
■ Perputaran Utang Wesel = = 15.000.000 = 50x
300.000
Metode Perputaran Aset (Langkah 2)
■ Kas = = 18.000.000 = Rp 240.000
75
■ Piutang = = 18.000.000 = Rp 360.000
50
■ Persediaan = = 18.000.000 = Rp 600.000
30
■ Utang Dagang = = 18.000.000 = Rp 120.000
150
■ Utang Wesel = = 18.000.000 = Rp 360.000
50
Kebutuhan Modal Kerja = (240+360+600) - (120+360) = Rp 720.000
SELESAI
MANAJEMEN KAS &
SURAT BERHARGA
Materi 4
Materi Pembelajaran
■ Konsep Dasar: Kas & Surat Berharga
■ Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Kas
■ Menghitung Kebutuhan Kas
■ Anggaran Kas (Cash Budget) & Siklus Kas (Cash Conversion Cycle)
Konsep Dasar: Kas
■ Kas → Salah satu bagian Aktiva Lancar yang PALING LIKUID sehingga bisa segera
digunakan pemenuhan kewajiban perusahaan yang sifatnya segera (Utang Lancar)
■ Fungsi kas:
– Sebagai modal kerja untuk membiayai transaksi operasional sehari-hari,
berjaga-jaga terhadap kebutuhan darurat, serta sebagai bagian kecil dari
beberapa investasi dan spekulasi seperti pembelian aset keuangan
– Sifat kontinuitas di dalamnya memungkinkan kas berperan untuk hal-hal
seperti pembelian bahan baku, membayar upah & gaji, membayar peralatan
kantor, dan lain-lain
– Sifat non-kontinuitas yang juga terdapat di dalamnya memberikan
kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen, pajak, angsuran utang,
dan lain-lain
Motivasi Perusahaan untuk Menjaga
Ketersediaan Kas
Motif
Transaksi
Motif Saldo Motif
Kas Minimal Berjaga-Jaga
Rencana di
Masa Depan
Skema Manajemen Kas Credit-based
Purchasing
Cash-based Memanfaatkan
Sales Float
Discount Mempercepat Memperlambat Menggunakan
Policy Pemasukan Kas 1 2 Pengeluaran Kas Draft
Desentralisasi Meningkatkan Sentralisasi
Pusat Cash Availability Pembayaran
Penerimaan Cek Dibayar Pada
Hari Tertentu
Optimalisasi
Cash Availability 3
Terlalu tinggi = Saldo Kas Terlalu rendah =
menurunkan Optimal risiko likuiditas
produktivitas
naik
Manajemen Kas vs Manajemen Likuiditas (1)
■ Manajemen Kas ≠ Manajemen Likuiditas, karena:
– Manajemen kas lebih menyangkut pada upaya
optimalisasi mekanisme pengumpulan dan
pendistribusian kas
– Sedangkan manajemen likuiditas lebih mengurusi
bagaimana proses optimalisasi jumlah aktiva lancer
yang dimiliki perusahaan → akan berujung pada Siklus
Kas (Cash Conversion Cycle)
Manajemen Kas vs Manajemen Likuiditas (2)
■ Dalam manajemen kas perlu dibedakan antara manajemen kas yang
sesungguhnya dan manajemen likuiditas. Perbedaan ini sering
merupakan sumber ketidakjelasan, karena istilah kas dalam praktek
sering dipergunakan untuk dua pengertian yang berbeda.
■ Pertama, kas adalah apa yang sesungguhnya yang ada di perusahaan
(cash-in-hand). Kedua, manajer keuangan sering menggunakan istilah
yang sama tetapi sebenarnya itu lebih kepada surat-surat berharga
(marketable securities) yang kadang-kadang disebut setara kas (cash
equivalents or near cash)
Konsep Dasar: Surat Berharga
■ Surat Berharga → surat-surat yang dapat dijual dengan cepat tanpa adanya suatu
kerugian ketika menjualnya.
■ Mengapa Surat Berharga dikatakan sebagai Pengganti Kas yang menguntungkan?
– Terlalu banyak kas ‘menganggur’ adalah hal yang tabu! Investor bisa minta kas
dibagikan sebagai dividen, padahal kas itu bisa ditanam ke pasar uang dan
pasar modal yang bisa menumbuhkembangkan uangnya berlipat-lipat.
– Mengapa ditanam ke pasar uang dan pasar modal? Karena adanya konsep
INFLASI & Time Value of Money
■ Contoh surat berharga yang dimaksud: Saham, Obligasi, Reksadana, etc
(kebanyakan berupa Aset Keuangan atau Aset Non-Fisik)
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kas
■ Cash Inflow vs Cash Outflow
■ Kebijakan dalam proses penganggaran Kas
■ Adanya deviasi / penyimpangan pada aliran kas
yang sebelumnya sudah diperkirakan / dianggarkan
■ Menjaga hubungan yang baik dengan Bank (dalam
hal sumber pendanaan murah)
Siklus Kas (Cash Conversion Cycle)
■ Merupakan ukuran efisiensi penggunaan
kas yang dilakukan oleh perusahaan.
■ Cash Conversion cycle memberikan
gambaran seberapa cepat arus kas
mengalir, mulai dari pos kas yang
kemudian ditanamkan ke modal kerja
(dan juga aset tetap, tergantung
kebijakan manajemen modal kerja) lalu
kembali lagi ke pos kas.
■ Semakin cepat / besar angka
perputarannya, maka dikatakan semakin
efisien perusahaan menggunakan
kasnya.
Menghitung Kebutuhan Kas: Model Baumol
1) Model Persediaan untuk Kas → berdasarkan pada pola konsumsi kas atau Model Baumol,
dimana pada awal periode saldo kas sebesar C diperoleh dan dikonsumsi sampai habis
pada akhir periode pertama (T1), yang kemudian diisi lagi, begitu berulang seterusnya.
Maka ide utamanya adalah, sediakan saja Kas sebesar Biaya Simpan Kas dan Biaya
Transaksi Menggunakan Kas
Menghitung Kebutuhan Kas: Model Baumol
■ Biaya Total = Biaya Simpan + Biaya Transaksi
■ = × + ×
2
■ Keterangan: 2 .
– C = Saldo Kas Optimal Yang Akan Kita Cari = 2
– i = Tingkat Bunga
– T = Total kebutuhan kas dalam satu periode
– b = Biaya order kas
(Contoh: Model Baumol)
■ Misalkan perusahaan membutuhkan kas sebesar Rp 20.000.000 bulan depan.
Perusahaan memperoleh kas dengan menjual surat berharganya. Biaya transaksi
perolehan kas adalah Rp 10.000 sedangkan tingkat bunga adalah 18% per tahun, atau
1,5% per bulan.
■ Step 1: Menentukan Saldo Kas Optimal
→ = 2 2 . = 2 2 10.000×20.000.000 = 5.163.978
0,015
■ Step 2: Menghitung TC
→ = × + × = 5.163.978 × 0,015 + 20.000.000 × 10.000
2 2 5.163.978
→ = 38.730 + 38.730 = 77.460
(Contoh: Model Baumol)
■ Asumsikan perusahaan melakukan 3,9x pesanan kas, maka dalam satu bulan
terdapat siklus kas sebanyak 3,9x.
■ Misalkan 1 bulan = 30 hari, maka satu siklus mencakup 7,7 hari (30 hari ÷ 3,9x)
■ Sehingga dapat dihitung,
. .
= , = . ,
Menghitung Kebutuhan Kas: Model Miller-Orr
■ Jika ketidakpastian aliran kas cukup besar, maka model persediaan untuk kas tidak
bisa digunakan lagi. Sehingga dapat dikatakan bahwa saldo aliran kas harian
sifatnya adalah random. Di bawah ini adalah ilustrasi dari Model Miller-Orr
Menghitung Kebutuhan Kas: Model Miller-Orr
■ Formula terkait Model Miller-Orr:
ℎ = 3
3 3. . σ2 4.
= 4. = 3
■ Keterangan:
– z = batas bawah yang akan dicari
– h = batas atas
– b = biaya transaksi (tetap) pembelian / penjualan surat berharga
– σ2= varians aliran kas bersih harian
– i = tingkat bunga harian pada surat berharga
– C = rata-rata saldo kas
Menghitung Kebutuhan Kas: Model Miller-Orr
■ Langkah-langkah yang harus dilakukan:
1. Menghitung Standar Deviasi (σ) aliran kas harian. Standar deviasi
bisa dihitung dengan menggunakan data historis aliran kas bersih
harian. Standar Deviasi yang dikuadratkan akan menjadi Varians (σ )
2. Menentukan tingkat bunga harian (i)
3. Memperkirakan biaya transaksi pembelian / penjualan surat
berharga (b)
4. Menentukan batas minimal (z), apakah 0 atau jumlah tertentu yang
menjadi jumlah minimal yang aman (minimum safety). Kemudian
menentukan batas atas (h) dan menghitung rata-rata saldo kas (C).
Baca Halaman 548 - 549
Menghitung Kebutuhan Kas:
Sinkronisasi Pemasukan dan Pengeluaran
Menggunakan Anggaran Kas
MATA KULIAH
PENGANGGARAN:
“ANGGARAN KAS”
SELESAI
Manajemen Piutang
Materi 5
Materi Pembelajaran
• Konsep Dasar Kebijakan Piutang
• Komponen Kebijakan Kredit:
• Syarat Penjualan
• Analisis Kredit 5C
• Kebijakan Penagihan Piutang
Konsep Dasar
• Jika perusahaan menjual barang secara KREDIT, maka otomatis
akan timbul item PIUTANG di laporan neraca.
• Alasan perusahaan melakukan penjualan secara kredit:
1. Meningkatkan penjualan (jika semuanya harus tunai, mustahil)
2. Adanya persaingan untuk merebut pangsa pasar dengan
kompetitor yang lebih lunak kebijakan penjualannya dalam
kredit
3. Adanya kapasitas pabrik / produksi / gudang yang masih
menganggur (tergantung jenis bisnisnya apa) → berusaha
seefisien mungkin
Piutang (Account Receivable)
• Jumlah Piutang bagi suatu perusahaan tergantung pada jumlah
penjualan kredit dan rata-rata periode pengumpulan piutang
(Average Collection Period—ACP).
= ×
• Contoh, jika ACP perusahaan adalah 30 hari, dan penjualan secara
kredit Rp 1.000.000 per hari, maka piutang perusahaan adalah Rp
30.000.000 secara rata-rata (= 30 x Rp 1.000.000)
Komponen Kebijakan Kredit
1. Syarat penjualan: Jika penjualan dilakukan secara kredit, maka
syarat penjualan harus menentukan secara spesifik mengenai
jangka waktu kredit, potongan tunai dan periode potongan, serta
jenis kredit.
2. Analisis kredit: Aspek yang dianalisis biasanya didasarkan pada
five C’s of credit, yaitu character, capacity, capital, collateral,
dan condition.
3. Kebijakan penagihan piutang: Setelah kredit diberikan,
perusahaan mempunyai masalah yang potensial dalam
pengumpulan kas, untuk itu perusahaan harus menentukan
kebijakan penagihan piutang.
1) Syarat Penjualan Secara Kredit
• Syarat penjualan mencakup tiga unsur yang berbeda, yaitu: jangka
waktu kredit, potongan tunai dan periode potongan
• Sebagai contoh, syarat penjualan adalah: 2/10, net 60.
• Misalkan pelanggan membeli barang senilai Rp1.000.000
• Maka pelanggan mempunyai pilihan untuk membayar dalam 10
hari sebesar: Rp 1.000.000 x (1 – 0,02) = Rp 980.000 atau
membayar penuh Rp1.000.000 dalam waktu 60 hari tanpa
memanfaatkan potongan diskon
1a) Jangka Waktu Kredit
• Terdapat beberapa faktor lain yang memengaruhi jangka waktu kredit,
yaitu:
a. Jenis barang yang dihasilkan atau dijual.
b. Permintaan konsumen.
c. Biaya, profitabilitas dan standarisasi.
d. Risiko kredit.
e. Besarnya transaksi.
f. Persaingan.
g. Jenis pelanggan.
1b) Potongan Tunai
• Hal ini dimaksudkan untuk mendorong pelanggan membayar lebih cepat
dari jangka waktu kredit.
• Contoh dengan syarat penjualan 2/10, net 30. Pertanyaan praktikal:
“apakah potongan 2% tersebut menarik bagi pembeli untuk membayar
lebih cepat?”
• Misalnya seseorang membeli barang senilai Rp1.000.000. Pembeli dapat
membayar Rp 980.000 dalam jangka waktu 10 hari atau menunggu paling
lambat 30 hari dan membayar penuh Rp1.000.000
• Hal ini berarti, pembeli yang tidak memanfaatkan diskon seolah-olah
meminjam Rp980.000 selama 20 hari dan membayar bunga Rp20.000
kepada perusahaan
1b) Potongan Tunai
• Dengan bunga Rp 20.000 atas pinjaman Rp 980.000 berarti suku
bunga pinjaman tersebut adalah: 20.000/980.000 = 2,0408%,
• Harus diingat suku bunga tersebut untuk jangka waktu 20 hari.
• Ada 365/20 = 18,25 periode dalam satu tahun,
• Jika pembeli tidak mengambil kesempatan untuk memperoleh
potongan tunai, berarti pembeli membayar suku bunga efektif
tahunan (effective annual rate atau EAR) sebesar:
EAR = [(1 + 0,020408) x 18,25] – 1 = 44,6%
1b) Potongan Tunai & Average Collection
Period
• Sebagai contoh, anggap sekarang perusahaan mempunyai syarat
penjualan net 30 dan ACP selama 30 hari. Jika perusahaan
menawarkan syarat penjualan 2/10, net 30, dan sebanyak 50%
pelanggan (atas volume pembelian) memanfaatkan kesempatan
memperoleh potongan dan membayar dalam waktu 10 hari,
sedangkan sisanya membayar dalam waktu 30 hari.
• Berapa ACP setelah perubahan kebijakan kredit tersebut?
• Jika penjualan perusahaan sebanyak Rp15 juta setiap tahun
(sebelum potongan), berapa investasi dalam piutang ?
1b) Potongan Tunai & Average Collection
Period
• Jika dianggap 50% pelanggan membayar dalam waktu 10 hari, dan
sisanya membayar dalam waktu 30 hari, maka ACP yang baru
adalah = (0,50 x 10 hari) + (0,50 x 30 hari) = 20 hari
• Dengan demikian ACP mengalami penurunan dari 30 hari menjadi
20 hari.
• Rata-rata penjualan per hari = Rp 15 juta / 365 hari = Rp41.096
• Piutang akan berkurang sebesar = Rp 41.096 x 10 hari = Rp410.960
2) Analisis Kebijakan Kredit
Dalam mengevaluasi kebijakan kredit, ada lima faktor yang harus
dipertimbangkan, yaitu:
1. Dampak terhadap penjualan (revenue effects)
2. Dampak terhadap biaya (cost effect)
3. Biaya atas utang
4. Kemungkinan tidak membayar
5. Potongan tunai
2) Analisis Kebijakan Kredit
• Contoh perusahaan Lokus, yang mengevaluasi permintaan dari
sejumlah pelanggan untuk merubah kebijakan kredit sekarang,
menjadi net 30 hari. Untuk menganalisis perlu dijelaskan notasi
yang digunakan sebagai berikut:
P = Harga per unit
v = Biaya variabel per unit
Q = Jumlah unit produk yang dijual per bulan saat ini
Q’= Jumlah unit produk yang dijual pada kebijakan baru
R = Tingkat keuntungan yang disyaratkan per bulan
2) Analisis Kebijakan Kredit
• Untuk menjelaskan perhitungan NPV akibat dari perubahan kebijakan kredit perusahaan
Lokus berikut ini adalah informasi perusahaan Lokus:
P = Rp 50
v = Rp 20
Q = 100
Q’ = 110
• Jika tingkat keuntungan yang disyaratkan 2% per bulan, apakah perubahan kebijakan
kredit perusahaan Lokus menguntungkan ?
• Perusahaan saat ini bekerja masih dibawah kapasitas normal, sehingga peningkatan
produksi dan penjualan tidak berdampak pada biaya tetap.
2) Analisis Kebijakan Kredit
• Penjualan perusahaan Lokus sekarang setiap bulan adalah → P x Q
= Rp 5.000
• Biaya variabel setiap bulan adalah → v x Q = Rp 2.000
• Arus kas dari kebijakan lama → (P – v) Q = ( Rp 50 – Rp 20 ) x 100
= Rp 3.000
• Jika perusahaan Lokus merubah kebijakan kreditnya menjadi net
30 hari, maka kuantitas barang yang dijual meningkat menjadi Q’
= 110. Penjualan tiap bulan menjadi P x Q’ dan biaya variabel
menjadi v x Q’.
2) Analisis Kebijakan Kredit
• Arus kas kebijakan baru = ( P – v ) Q’
= ( Rp 50 – Rp 20 ) x 110 = Rp 3.300
• Incremental arus kas = (P – v)(Q’ – Q)
= (Rp 50 – Rp 20)(110 – 100) = Rp 300.
• Nilai sekarang dari arus kas incremental adalah :
PV = {(P – v )(Q’ – Q)}/ R
= {( Rp 50 – Rp 20)(110 – 100) }/0,02
= Rp 300 / 0,02 = Rp 15.000
2.1) Biaya perubahan kebijakan kredit
• Pertama, karena penjualan meningkat dari Q menjadi Q’, perusahaan
harus memproduksi lebih banyak, yaitu Q’ – Q , dan biaya v ( Q’ – Q ) =
Rp 20 ( 110 – 100 ) = Rp200
• Kedua, penjualan yang dapat dikumpulkan menjadi kas pada bulan ini
berdasarkan kebijakan sekarang = P x Q = Rp50 x100 = Rp5.000 tidak
akan bisa dikumpulkan sampai dengan 30 hari kemudian berdasarkan
kebijakan baru. Besarnya biaya perubahan kebijakan adalah:
• Biaya perubahan kebijakan = P x Q + v ( Q’ – Q )
= Rp 5.000 + Rp 200
= Rp 5.200
2.2) NPV Arus Kas dari Perubahan Kebijakan
• NPV = - { PxQ + v ( Q’ – Q )} + { ( P – v )(Q’ – Q )}/ R
= - Rp 5.200 + Rp15.000
= Rp 9.800
• Karena NPV perubahan kebijakan kredit menunjukkan nilai yang
positif, maka perubahan kebijakan kredit adalah menguntungkan
perusahaan Lokus
3) Kebijakan Penagihan Piutang
• Perusahaan dapat Umur Piutang Jumlah % terhadap total
menyusun aging piutang
schedule, sebagai salah 0 – 10 hari Rp 50.000.000
satu alat untuk 11 – 60 hari Rp 25.000.000 50%
memantau piutang. 61 – 80 hari Rp 20.000.000 25%
Dalam hal ini piutang Lebih dari 80 hari Rp 5.000.000 20%
diklasifikasikan 5%
berdasarkan umur, Rp 100.000.000
sebagaimana tampak 100%
pada tabel berikut.
Misalkan perusahaan
memiliki piutang sebesar
Rp100.000.000,-
Upaya Pengumpulan Piutang
1. Mengirim surat pemberitahuan kepada pelanggan tentang telah
jatuh temponya piutang.
2. Perusahaan menghubungi pelanggan melalui telepon
3. Menugaskan kepada tenaga penagih untuk melakukan penagihan
piutang
4. Melakukan upaya hukum untuk melakukan penagihan.
SELESAI