Konsep Nilai Waktu Uang
(Time Value of Money)
Materi 7
Pendahuluan
Konsep nilai waktu uang penting dipertimbangkan
dalam pengambilan keputusan investasi dan
pendanaan jangka panjang.
Investasi jangka panjang biasanya
pengembaliannya tidak sekaligus tetapi bertahap
dalam beberapa periode.
Jumlah dana yang sama diterima pada periode
yang berbeda memiliki nilai yang berbeda.
Nilai Masa Depan / Future Value [FV]
Menunjukkan berapa nilai sejumlah uang jika diinvestasikan
dengan tingkat bunga tertentu selama jangka waktu
tertentu pada masa yang akan datang.
= (1 + )
Keterangan:
FV = Future Value / Nilai Masa Depan
PV = Present Value / Nilai Sekarang
r = persentase tingkat bunga / pertumbuhan
Nilai Masa Depan / Future Value [FV]
Contoh: Budi memiliki uang Rp 1.000, ditabung di bank dengan bunga 10% per
tahun. Berapa nilai tabungan setelah 1 tahun?
= (1 + ) = 1000(1 + 0,1)1= 1.100
Bagaimana bila tabungannya ditahan selama 10 tahun?
= (1 + ) = 1000(1 + 0,1)10= 2.593,74
Hubungan antara FV, Periode Investasi,
dan Suku Bunga
FV (Rp)
6
5
20%
4
3 15%
2
10%
1 5%
0%
12 3 Waktu
4 5 6 7 8 9 10
Nilai Sekarang / Present Value [PV]
Merupakan nilai sekarang sejumlah uang yang akan diterima pada yang akan
datang
= (1 + )
Keterangan:
FV = Future Value / Nilai Masa Depan
PV = Present Value / Nilai Sekarang
r = persentase tingkat bunga / pertumbuhan
Nilai Sekarang / Present Value [PV]
Contoh: Aldo dijanjikan tabungannya akan
tumbuh sebesar Rp 1.610,5 pada 5 tahun yang
akan datang dengan suku bunga 10% per
tahun. Berapakah uang yang akan ditabung
oleh Aldo saat ini agar bisa mencapai angka
tersebut?
1.610,5
= (1 + ) = (1 + 0,1)5 = 1.000
Hubungan antara PV, Periode Investasi,
dan Suku Bunga
PV (Rp) 0%
1,0 5%
0,9 10%
0,8 15%
0,7 20%
0,6 Waktu
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Future Value of Annuity
Annuity merupakan serangkaian pembayaran yang jumlahnya tetap selama
beberapa periode. Jika pembayaran dilakukan pada setiap akhir periode
disebut ordinary annuity, dan jika pembayaran dilakukan pada awal periode
disebut annuity due.
Rumus FV Ordinary Annuity:
= (1 + ) −1+(1 + ) −2+(1 + ) −3+ ⋯
Rumus FV Annuity Due:
= (1 + ) +(1 + ) −1+(1 + ) −2+ ⋯
Future Value Ordinary Annuity
Contoh: Cecep merencanakan untuk menabung sebesar Rp 1.000 setiap
akhir tahun selama 3 tahun dengan bunga 10% per tahun. Berapa nilai
tabungan pada akhir tahun ke-3?
= . + , − + + , − + , − = . ,
= .
Apabila digambarkan secara grafik, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Future Value Annuity Due
Apabila Cecep menabungnya di setiap awal tahun maka besar FV
Annuity Due-nya adalah:
= . + , + + , + + , = . ,
= .
Apabila digambarkan secara grafik, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Present Value of Annuity
Sama dengan FVA, PVA di sini juga bisa dibedakan menjadi Ordinary
Annuity & Annuity Due dengan definisi konsep yang serupa juga.
Rumus PV Ordinary Annuity:
111
= (1 + )1 + (1 + )2 + (1 + )3 + ⋯
Rumus PV Annuity Due:
111
= (1 + )0 + (1 + )1 + (1 + )2 + ⋯
Present Value Ordinary Annuity
Berdasarkan contoh Cecep yang sebelumnya, maka PV Ordinary Annuity
nya adalah sebesar:
= . ( + , ) + ( + , ) + ( + , ) = . ,
= . ,
Apabila digambarkan secara grafik, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Present Value Annuity Due
Berdasarkan contoh Cecep yang sebelumnya, maka PV Annuity Due nya
adalah sebesar:
= . ( + , ) + ( + , ) + ( + , ) = . ,
= . ,
Apabila digambarkan secara grafik, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Penganggaran Modal
(Capital Budgeting)
Materi 8
Pendahuluan
Kita akan membicarakan evaluasi layak tidaknya suatu
usulan investasi. Kegiatan tersebut sering disebut juga
sebagai penganggaran modal (capital budgeting)
Kegiatan penganggaran modal mencakup dua
langkah:
1. Bagaimana mengestimasi aliran kas yang dihasilkan
dari sebuah rencana investasi / proyek, dan
2. Bagaimana mengevaluasi aliran kas dari investasi /
proyek tersebut bisa dikatakan layak dilakukan atau
tidak
Pentingnya Penganggaran Modal
✓ Investasi yang terlalu besar atau kecil berdampak
jangka panjang bagi masa depan perusahaan
✓ Penganggaran modal memerlukan biaya yang besar
✓ Pengambilan keputusan penganggaran modal
melibatkan banyak pihak
Macam Keputusan Penganggaran
Modal
Ditinjau dari aspek penghematan biaya
atau peningkatan pendapatan
- Proyek penggantian (replacement)
- Proyek perluasan (expansion)
- Pertumbuhan (growth)
- Proyek lingkungan (environmental)
Macam Keputusan Penganggaran
Modal
Ditinjau dari tingkat ketergantungan
- Independent project
- Mutually exclusive project
- Complement project
- Substitutes project
Arus Kas (Cashflows)
Sunk costs
Biaya yang telah terjadi dan tidak bisa dialihkan, oleh
karena itu tidak dapat dipertimbangkan dalam
pengambilan keputusan investasi.
Opportunity costs
Biaya biasanya dikaitkan dengan pengeluaran yang
dilakukan secara tunai. Opportunity cost sedikit
berbeda, yaitu merupakan mantaat yang dikorbankan
jika suatu investasi dilaksanakan.
Arus Kas (Cashflows)
Side effects
Produk baru yang bersifat substitusi atau komplementer
terhadap produk lama, dapat menimbulkan efek
samping yang buruk atau baik terhadap arus kas
perusahaan di masa yang akan datang.
Net working capital
Biasanya, suatu proyek akan membutuhkan investasi
dalam modal kerja bersih (selisih aktiva lancar dengan
utang lancar) sebagai tambahan atas investasi pada
aktiva tetap.
Initial Cash Outflow
(Pengeluaran Kas Di Awal)
Initial cash out flow merupakan pengeluaran kas untuk membiayai proyek
selama dalam proses perencanaan, konstruksi sampai dengan proyek siap
untuk dioperasikan.
Macam-macam pengeluaran kas yang diperlukan untuk investasi awal
diantaranya:
Harga beli tanah tempat lokasi proyek.
Biaya mendirikan bangunan.
Harga beli mesin.
Biaya pemasangan.
Biaya percobaan dan sebagainya.
Operational Cash Inflows
Operational Cash Inflows = Arus kas masuk yang diperoleh setelah
dimulai beroperasinya proyek baru.
Rumus:
NCF = EBIT ( 1 – tax ) + Depreciation
atau
NCF = EAT + Depreciation + ( 1 – Tax ) Interest
Operational Cash Inflows
Laporan Laba Rugi Tahun 20XX Rp 10.000.000
(Rp 6.000.000)
Penjualan (Rp 1.000.000)
Biaya selain penyusutan & bunga
Penyusutan Rp 3.000.000
Laba Sebelum Bunga & Pajak (EBIT) (Rp 1.000.000)
Biaya Bunga
Pendapatan Sebelum Pajak (EBT) Rp 2.000.000
Pajak (20%) (Rp 400.000)
Pendapatan Sesudah Pajak (EAT) Rp 1.600.000
Operational Cash Inflows
NCF = EBIT ( 1 – Tax ) + Depreciation
= Rp 3.000.000 ( 1 – 0,20 ) + Rp 1.000.000
= Rp 3.000.000 ( 0,80 ) + Rp 1.000.000
= Rp 3.400.000
NCF = EAT + Depreciation + ( 1 – Tax ) Interest
= Rp 1.600.000 + Rp 1.000.000 + ( 1 – 0,20 ) Rp 1.000.000
= Rp 2.600.000 + ( 0,80) Rp 1.000.000
= Rp 3.400.000
Incremental Cash Flows
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa penilaian usulan
investasi sesungguhnya didasarkan pada incremental
cash flows, yaitu tambahan arus kas yang diperoleh
dari selisish antara arus kas dengan investasi baru dan
arus kas tanpa investasi baru.
Dengan demikian rumus di slide sebelumnya dapat
dimodifikasi menjadi:
a) NCF = EBIT (1 – Tax) + Depreciation
b) NCF = EAT + Depreciation + (1 – Tax) Interest
Incremental Cash Flows
Misalkan suatu perusahaan merencanakan untuk melakukan
penggantian mesin lama dengan mesin baru.
Mesin lama dibeli 5 tahun yang lalu dengan harga Rp15.000.000,-
memiliki umur 15 tahun dan disusut dengan metode garis lurus
tanpa nilai sisa.
Mesin baru dibeli dengan harga Rp21.000.000,- memiliki umur 10
tahun dan disusut dengan metode garis lurus dengan nilai sisa
Rp1.000.000,.
Mesin baru memiliki kapasitas lebih besar dan untuk
mengoperasikannya diperlukan tambahan modal kerja
Rp2.000.000,-.
Incremental Cash Flows
Biaya untuk mengoperasikan mesin lama selain biaya penyusutan
dan bunga setiap tahun Rp1.000.000,-, sedangkan untuk biaya
untuk mengoperasikan mesin baru Rp2.500.000,- setiap tahun.
Biaya bunga untuk pengadaan mesin lama sebesar Rp500.000,- per
tahun dan biaya bunga untuk pengadaan mesin baru sebasar
Rp800.000,- per tahun.
Jika perusahaan menggunakan mesin lama, penjulan yang
dihasilkan perusahaan tiap tahun Rp 5.000.000,- sedangkan
dengan mesin baru, penjualan yang dihasilkan perusahaan akan
meningkat menjadi Rp10.000.000,- tiap tahun.
Incremental Cash Flows
Mesin lama jika dijual pada saat penggantian
diperkirakan laku dengan harga Rp12.000.000,-
Mesin baru pada akhir masa pemakaian jika dijual laku
dengan harga Rp 2.000.000,-
Tarif pajak pendapatan perusahaan adalah 20%
Incremental Cash Flows
a. Harga beli mesin baru Rp 21.000.000
b. Harga jual mesin lama ( 12.000.000)
c. Pajak atas laba penjualan mesin lama
400.000
(Rp12.000.000 – Rp10.000.000) 20% -------------------
Rp 9.400.000
Cash Out flows tambahan modal kerja Rp 2.000.000
-------------------
Incremental Initial Cash Out Flows Rp 11.400.000
pengantian mesin
Incremental Laporan L/R:
Investasi Penggantian
Keterangan L/R dengan mesin baru L/R dengan mesin lama L/R
Penjualan Rp 10.000.000
Biaya operasi selain penyusutan (Rp 2.500.000) Rp 5.000.000 Rp 5.000.000
dan bunga
Biaya penyusutan (Rp 1.000.000) (Rp 1.500.000)
EBIT
Biaya Bunga (Rp 2.000.000) (Rp 1.000.000) (Rp 1.000.000)
EBT Rp 5.500.000 Rp 3.000.000 Rp 2.500.000
Pajak (20%) (Rp 800.000) (Rp 500.000) (Rp 300.000)
EAT Rp 4.700.000 Rp 2.500.000 Rp 2.200.000
(Rp 940.000) (Rp 500.000) (Rp 440.000)
Rp 3.760.000 Rp 2.000.000 Rp 1.760.000
Incremantal Operational Cash Flows:
Investasi Penggantian
∆NCF = ∆EBIT (1-tax) + ∆Depreciation
= Rp2.500.000 (1-0,20) + Rp1.000.000
= Rp2.000.000 + Rp1.000.000
= Rp3.000.000
∆NCF = ∆EAT + ∆Depreciation + (1- tax)∆Interest
= Rp1.760.000 + Rp1.000.000 + (1 -0,20)Rp300.000
= Rp2.760.000 + Rp240.000
= Rp3.000.000
Terminal Cash Flow
(Arus Kas pada Akhir Umur Proyek)
Berdasarkan pada contoh yang telah dikemukakan, arus kas pada
akhir umur proyek yang berasal dari penjualan nilai sisa mesin baru
dan modal kerja dapat dihitung sebagai berikut:
a. Harga jual nilai sisa mesin baru Rp 2.000.000
b. Pajak atas laba hasil penjualan mesin baru
(Rp 200.000)
(Rp2.000.000 – Rp1.000.000) 20% -------------------
Rp 1.800.000
c. Modal kerja Rp 2.000.000
------------------
Terminal cash flows Rp 3.800.000
Metode Penilaian Usulan Investasi
➔Payback Period (PBP)
➔Discounted Payback Period
➔Accounting Rate of Return
➔Net Present Value (NPV)
➔Internal Rate of Return (IRR)
➔Profitability Index (PI)
Payback Period (PBP)
= +
Diketahui Payback Period untuk ketiga proyek adalah sebagai berikut :
- Proyek A = 2 tahun
- Proyek B = 4 tahun
- Proyek C = 3 tahun
Jawaban: Proyek yang selayaknya dipilih adalah A, berdasarkan metode Payback
Period
Net Present Value (NPV)
= + + ⋯ + −
( + ) ( + ) ( + )
= × (
( + ) + ) = ( + )
Net Present Value (NPV)
Proyek / Investasi bisa diterima bila NPV nya POSITIF. Jika ada dua
atau lebih proyek / investasi yang positif, pilih yang PALING POSITIF
Tahun NCF x PVIF (10%) = PV
0 -1.500
1 -1.500 1,000 136,35
2 247,80
3 150 0,909 337,95
4 409,80
5 300 0,826 1.164,38
796,28
450 0,751
600 0,683
1.875 0,621
NPV =
Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return (IRR) = tingkat % yang akan membuat NPV menjadi 0
( + ( + ⋯ + ( − =
+ ) + ) + )
Tahun NCF PVIF (10%) PV (10%) PVIF (25,4%) PV (25,4%) Pilih IRR yang % nya
0 -1.500 1,000 -1.500 1,000 -1.500 POSITIF dan LEBIH
1 272,70 0,797 239,10 BESAR daripada %
2 300 0,909 371,70 0,636 286,20
3 450 0,826 563,25 0,507 380,25 tingkat biaya modal
4 750 0,751 512,25 0,404 303,00 perusahaan
5 750 0,683 558,90 0,322 289,80
500 0,621 796,28 -1,65
NPV =
MUTUALLY EXCLUSIVE
PROJECTS / INVESTMENTS
Lihat tabel perbandingan hasil penilaian berdasarkan ketiga metode yang
telah dihitung sebelumnya. Menurut kalian, mana yang sebaiknya dipilih
oleh perusahaan jika perusahaan hanya boleh mengambil satu proyek
saja?
METODE Proyek A Proyek B Proyek C
Payback Period 2 tahun 4 tahun 3 tahun
Net Present Value -610,95 796,28 788,80
Internal Rate of Return -200% 22,8 % 25,4%
Perbandingan metode NPV dan IRR dalam menilai
proyek yang bersifat Mutually Exclusive
NPV Berdasarkan kesepakatan banyak akademisi & praktisi
+
diputuskan bahwa NPV akan lebih diprioritaskan
Y
Ketimbang IRR jika terjadi peristiwa
X
Mutually Exclusive
X Y
Y
0 x IRR x
IRR Y
K* Discount rate %
_
Proyek Dengan Umur Berbeda
Tahun Proyek ALFA Proyek BETA
0 - Rp 17.500.000 - Rp 17.500.000
1 Rp 10.500.000
2 Rp 10.500.000 Rp 7.000.000
3 Rp 7.000.000
Rp 8.313.000
Berdasarkan data pada tabel di atas, ditambah dengan asumsi biaya modal
perusahaan sebesar 10%, maka kedua proyek tersebut akan menghasilkan NPV
sebesar:
NPV (ALFA) = Rp 722.750
NPV (BETA) = Rp 894.057
Proyek ALFA memiliki NPV lebih rendah dibandingkan dengan NPV proyek BETA.
Profitability Index (PI)
Proyek / Investasi yang memiliki Profitability Index yang diatas angka 1,
pada dasarnya dapat diterima. Semakin tinggi, semakin baik.
Rumus:
=
INGAT! NPV tidak sama dengan PV NCF! Jika PV NCF adalah akumulasi dari
beberapa periode arus kas masuk yang telah di PV-kan sesuai tingkat
diskontonya, maka NPV adalah selisih antara PV NCF dengan Initial
Investment (Io)
Weighted Average Profitability Index
(WAPI)
Apabila perusahaan memiliki dana terbatas sebesar Rp 600.000, kombinasi
proyek mana yang sebaiknya dipilih?
Alternatif :
1. Proyek A dengan investasi Rp 400.000 (PI = 1,15) dan sisa dananya Rp
200.000
2. Proyek B dengan investasi Rp 250.000 (PI = 1,13) dan C dengan investasi
Rp 350.000 (PI = 1,11) tanpa ada sisa dana
3. Proyek B dengan investasi Rp 250.000 (PI = 1,13) dan D dengan investasi
Rp 300.000 (PI = 1,08) dan sisa dananya Rp 50.000
Jika diasumsikan sisa dana diinvestasikan pada proyek dengan PI = 1, maka
alternatif yang menghasilkan PI tertimbang paling tinggi adalah ??
Weighted Average Profitability Index
(WAPI)
= 400.000 (1,15) + 200.000 (1,00) = 1,1
600.000 600.000
= 250.000 (1,13) + 350.000 (1,11) = 1,12
600.000 600.000
= 250.000 1,13 + 300.000 1,08 + 50.000 1,00 = 1,09
600.000 600.000 600.000