anak-anak akses internet. Tanpa disadari ada keinginan
anak ketika melihat gambar atau bahasa yang
memancing syahwat untuk mengklik hal demikian.
Begitu juga Laptop perangkat canggih yang memiliki
kapasitas besar dalam memuat data-data baik berupa
file dalam format JPG, PSD, MP3, doc ataupun MP4
(video), dll. Televisi yang secara bebas menampilkan dan
mempertontonkan pornografi baik secara terang-
terangan maupun tersembunyi, meskipun ada sebuah
lembaga Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) namun
belum maksimal dalam menjalankan fungsinya sebagai
sebuah lembaga yang memfilter tanyangan bagi
masyarakat. Sinetron yang tanyang disemua siaran tv
hampir 24 jam menjadi penyumabng terbesar dalam
membentuk karakter anak bangsa dan pola pikir.
Sinetron yang tanyang sangat minim dengan nilai-nilai
edukasi apalagi nilai agama. Padahal konsumen terbesar
bangsa ini terutama di pededasaan adalah Tanyangan
sinetron. Hari ini sinetron menjadi sebuah kebutuhan
bagi masyarakat dalam mencari hiburan. Wajar saja
anak-anak didik kita jika ditanya tentang artis, lagu, film
mereka dengan pedenya mampu menjawabnya, karena
40
lebih hafal dengan gaya, dialog, dan kutipan
pembicaraan para remaja yang ditampilkan disinetron
serta model rambut dan pakain yang menjadi konsumsi
para remaja saat ini. Belum lagi dramatisasi percintaan,
kebencian dan kekerasan yang diperlihatkan dengan
bebas dan itu yang jadi konsumsu hari-hari mereka.
Selain teknologi ada juga gangguan dan ancaman yang
menjadi konsumsi generasi saat ini diantaranya
minuman keras yang mudah dibeli diwarung-warung,
narkoba yang menjadi musuh utama bangsa ini namun
sampai saat ini justru semakin gencar masuk ketanah air
tanpa pengecualian narkoba masuk desa. Kekerasan
pada kasus ini sering terjadi karena anak saat ini
membentuk dan masuk dalam komunitas atau geng-
geng seingga jika praktek bullying terjadi maka satu
komunitas menjadi bagian tersebut. Tawuran juga sering
kita liat khsusunya di kota-kota besar seingga
pemandangan ini seakan-akan menjadi biasa saja.
Budaya hedonis yang berasal dari barat memiliki
pengaruh budaya negatif yang tinggi dimana generasi
saat ini menjadi hedonisme atau suka jalan-jalan dengan
perilaku konsumtif menjadikan bagian dari kehidupan
41
anak-anak Indonesia sehingga hangout lebih digemari
dibanding unutk belajar dirumah. Pakaian mini lebih
banyak kita jumpai remaja perempuan dengan pede dan
santainya menggunakan hotpants dan tanktop. Seakan-
akan apa yang ditonjolkan dari bagian tubuh baik bagian
dada dan kaki adalah hal yang biasa untuk dilihat.m
Kekerasan seksual ini terjadi bukan tanpa ada perantara
namun juga adanya sumbangsih kemajuan teknologi
yang tidak mampu dikontrol oleh pengguna khususnya
sehingga penyimpangan seksual juga menjadi
permasalahan serius yang patut dicari jalan keluarnya
secara bersama-sama.
Wajar saja jika remaja hari ini terlahir dengan banyak
masalah yang membawa mereka pada kehilangan jati
diri sehingga kemerosotan degradasi moral yang
semakin tajam serta Adab sopan santunpun semakin
pudar dikalangan generasi saat ini. Sementara mereka
terlepas dari pantauan dan kontrol orangtua (ortu)
dikarenakan kesibukan masing-masing sehingga ketika
pulang komunikasipun antara orang tua tidak
terbangun.
42
Untuk itu perlu adanya solusi yang tepat dalam
menjawab tantangan degradasi moral yang semakin
menghawatirkan diantara para generasi kita saat ini
diantaranya Tatanan Keluarga menjadi pondasi utama
dalam membangun karakter anak sehingga pengaruh
negatif mampu dibentengi, namun jia keluarga rapuh
maka pengaruh lingkungan buruk sangat mudah
mengubah karakter anak. Lembaga pendidikan sebagai
wadah bagi anak untuk menyerap ilmu pengetahuan dan
memperbaiki akhlak, dibawah bimbingan guru-guru.
Lembaga pendidikan tidak hanya sekolah namun juga
masjid menjadi tonggak dalam membangun adab anak.
Lingkungan sebagai wadah bersosial tentu harus
menjadi wadah yang terbaik bagi generasi untuk tumbuh
dan bergaul sehingga perhatian terhadap lingkungan
juga memiliki peran penting. Pemanfaatan teknologi
secara tepat bukan berarti anak dilarang dalam
menggunakan gadget namun dibatasi dan diawasi oleh
ortu, guru jiak berada di sekolah terhadap konten apa
saja yang sesuai. Peran Media memberikan informasi
yang baik dan aktual khususnya juga memuat nilai-nilai
edukasi agar setiap pembaca secara tidak langsung
43
belajar apa yang dibaca dan dilihat. Ketauladanan
menjadi contoh yang terbaik dalam membentuk sikap
dan moral anak baik dalam lingkungan keluarga, sekolah
maupun lingkungan sosial.
44
EUFORIA KELULUSAN DAN TRADISI BURUK
(Opini : Terbit 05/05/2018)
Ujian Nasional (UN) di Indonesia menjadi syarat sebuah
kelulusan siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi. Kelulusan yang merupakan hasil
penggabungan nilai UN dan Ujian Sekolah (US) sangat
mempengaruhi seorang siswa dinyatakan lulus atau
tidaknya. Pembagian persentase yang tidak berimbang
tetap saja menjadi kekhawatiran yang tinggi bagi siswa
yang menjalani UN. Padahal persentase US lebih tinggi
dari UN seingga sekolah bisa membantu secara nilai
akademik, namun dilapangan tetap saja UN membuat
spot jantung berdebar akan nilai yang dicapai. Ketakutan
dan keteganganpun semakin menjadi saat seorang siswa
dinyatakan lulus atau tidaknya.
Perjuangan selama 3 tahun dibangku sekolah tentu
menjadi kekhawatiran yang mendalam jika dinyatakan
tidak lulus, meskipun masih ada kesempatan dengan
paket yang disediakan pemerintah bagi siswa yang tidak
lulus. Namun tetap saja berbeda perasaan ketika harus
45
mengulang dengan paket yang disediakan oleh
pemerintah.
Bayangan buruk menghantui seluruh siswa saat detik-
detik terakhir pengumuman kelulusan yang dituliskan
dalam sebuah kertas yang tertera didalam amplop putih.
Ekspresi ketegangan sangat jelas terlihat bahkan aura
kesedihan sudah muncul secara tiba-tiba seakan mereka
mengetahui hasil yang mereka dapatkan. Tingkat
adrenalin semakin tinggi untuk menunggu pengumuman
kelulusan tersebut. Bukan tidak mungkin banyak kasus
yang terjadi saat anak tidak dinyatakan tidak lulus. Mulai
dari bunuh diri, defresi, malu dengan teman dan
tetangga serta kejadian tragis lainnya. Kondisi kesiapan
anak tidak siap untuk menerima berita tersebut, padahal
peluang untuk mengulang juga sudah disediakan oleh
pemerintah bagi mereka yang tidak lulus. Beragam
luapan emosipun bercampur jika dinyatakan tidak lulus.
Mindset yang tertanam di anak kita hari dan dalam
masyarakat kita adalah nilai menjadi parameter
keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan
seingga proses yang lebih penting diabaikan.
46
Ketika siswa dinyatakan lulus, maka berbagai
ekspresipun mengemuka. Banyak siswa yang merayakan
kebahagiaan dengan cara mereka sendiri, bahkan ada
sebagian siswa dalam komunitas tertentu juga
merayakan kelulusan dengan mengabaikan nilai-nilai
yang berlaku dimasyarakat sehingga melawan rambu-
rambu yang sudah tertanam di masyarakat.
Momentum kelulusan pasca Ujian Nasional (UN) di
Indonesia tidak terlepas dari euforia oleh seluruh siswa
yang ada di Tanah Air. Baik siswa tingkat menengah
maupun tingkat dasar (SMP). Luapan kebahagiaan yang
diekspresikan ketika dinyatakan lulus sebagai UN
ditunjukkan dengan cara yang berbeda. Namun euforia
yang ditunjukkan oleh siswa pasca UN mendapat respon
yang berbeda dari berbagai kalangan baik sebagai siswa
itu sendiri, guru, kalangan akademisi, praktisi
pendidikan maupun masyarakat sebagai penilai
dilapangan ketika euforia berlangsung dan ditunjukkan
oleh siswa. Euforia luapan kebahagiaan bukanlah
rahasia umum lagi untuk di Indonesia, bagaimana semua
siswa dalam merayakannya. Namun perayaan yang
dilakukan lebih banyak bernuansa negatif atau
47
menyimpang ketimbang positifnya. Menurut Robert M.
Z Lawang (2011), perilaku menyimpang adalah semua
tindakan yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku
dalam suatu sistem sosial. Perilaku yang ditunjukkan
oleh sebagian besar kalangan pelajar pasca UN adalah
perilaku yang salah, namun hal demikian sudah menjadi
sebuah budaya yang mengakar dikalangan pelaar
seingga tradisi ini terus dikembangkan sampai hari ini.
Meskipun ada penyampaian dan peringatan dari pihak
sekolah untuk tidak merayakan kelulusan dengan cara
yang dipahami siswa yang selama ini sudah berlangsung,
namun peringatan tersebut tidak diindahkan sehingga
pihak sekolah juga tidak berkutik dibuatnya.
Tradisi ini seakan sudah menjadi hal yang lumrah bagi
kalangan pelajar untuk merayakan kelulusan sebagai
bagian dari eksistensi upaya mereka selama 3 tahun
sekolah agar masyarakat melihat kelulusan yang mereka
dapatkan.
Tradisi buruk yang ditampilkan oleh kalangan pelajar
yang merayakan kelulusan sangat bertentangan dengan
tradisi sosial yang berlaku dalam tatatanan yang ada
dalam masyarakat. Budaya coret-coret seragam sekolah
48
menjadi momen bagi mereka yang harus dijadikan
kenangan. Seragam sekolah yang dicoret dengan
menggunakan spidol maupun cat pilox memenuhi semua
bagian baju. Padahal pakaian ini sangat bermanfaat jika
disumbangkan kepada adik kelas atau orang yang
membutuhkan pakaian. Bahkan bukan hanya pakaian
seragam saja yang dicat namun juga sampai ke rambut
jadi sasaran untuk diwarnai. Konvoi kendaraan diwanti-
wanti baik dari guru, orang tua, maupun masyarakat
namun selalu saja ini terjadi. Padahal konvoi ini
mengganggu ketertiban dalam berlalu lintas karena
mengakibatkan kemacetan, suara bising mesin
kendaraan yang sudah dimodifikasi, bahkan kecelakaan
yang korbannya bisa saja masyarakat yang lagi
berkendaraan atau siswa itu sendiri yang akhirnya
menghentikan langkah mereka untuk masa depan.
Karena konvoi yang dilakukan siswa banyak yang tidak
mentaati peraturan lalu lintas, mulai dari mengabaikan
menggunakan helm, kecepatan yang tinggi, ugal-ugalan
dijalan raya, serta bergerombol sehingga mengakibatkan
pengguna jalan raya yang lain terganggu.
49
Banyak kasus kecelakaan yang diakibatkan oleh konvoi
siswa yang merayakan kelulusan UN diantaranya yang
termuat di surat kabar atau media online. Seperti
diantaranya sebanyak dua orang tewas dalam
kecelakaan lalu setelah sepeda motor yang dikendarai
masing-masing terlibat kecelakaan saat konvoi
merayakan kelulusan tingkat SMA di Kabupaten
Magetan, Jatim (ANTARA News), Beredarnya video
seorang pelajar yang masih mengenakan seragam merah
abu-abu mengalami nasib tragis tertera tanggal 3 mei
2018.
(https://www.instagram.com/p/BiT1UFdn9Rm/?taken-
by=ndorobeii), dan masih banyak lagi akibat konvoi
pasca kelulusan. Semoga kedepan dunia pendidikan
mampu berbenah dalam menangani tradisi yang
membudaya dan mengakar dikalangan pelajar saat ini.
Tentu untuk menghilangkan budaya negatif tersebut
harus ada kordinasi yang baik disetiap komponen yang
ada bukan saja intitusi sekolah yang harus bekerja
sendiri namun dibutuhkan kerjasama yang sinergis dari
semua pihak. Budaya yang sudah menjadi tradisi ini bisa
50
dihilangkan jika semua unsur mau berperan dan
mengambil bagian.
51
PENDIDIKAN SEBAGAI INVESTASI MASA DEPAN
ANAK
(Opini : Terbit 02/08/2018)
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”
Istilah tersebut sudah sering kita dengar sejak
dulu, ini artinya begitu pentingnya pendidikan untuk
kita raih meskipun harus menempuh jarak yang jauh dan
waktu yang lama, namun ilmu tetaplah harus
diutamakan. Sejalan dengan perkembangan zaman yang
semakin menuntut seseorang untuk memiliki keilmuan
dan ketrampilan demi masa depan yang lebih baik
membuat setiap orang tua harus membekali anaknya
untuk menghadapi hidup dan mendapatkan
penghidupan yang layak. Di zaman digital ini menuntut
orang tua harus mempersiapkan anak-anaknya untuk
survive menghadapi kerasnya kehidupan.
Sayangnya keinginan orang tua untuk memberikan
pendidikan kepada anaknya tidak selalu berjalan dengan
mulus. Hal ini dikarenakan setiap tahun biaya
pendidikan yang semakin meningkat sementara
tuntutan kebutuhan juga semakin mendesak, meskipun
52
disatu sisi pemerintah sudah menerapkan sekolah wajib
9 tahun, bahkan berbagai program yang mampu
menghantarkan anak-anak untuk menembah ilmu
namun tetap saja sampai saat ini masih menjadi
problema bagi dunia pendidikan. Masih saja tidak semua
anak bisa menikmati bangku pendidikan. Ironis memang
apa yang dicanangkan pemerintah melalui program BOS
tidak semua terakomodir dengan baik ataupun
mengcover semua kebutuhan anak-anak yang harusnya
menikmati dunia pendidikan namun tidak didapatkan
karena tidak tepatnya sasaran dan kurangnya
pengawasan. Pendidikan anak sudah selayaknya untuk
mendapatkan pendidikan yang lebih baik mengingat
perkembangan zaman yang semakin maju dan pesat
persaingan nya mau tidak mau, siap tidak siap
pendidikan menjadi hal prioritas untuk mengatasi hal
tersebut.
Orang tua memiliki peran yang sangat besar bagi
perkembangan anak untuk kedepannya, karena apa yang
diberikan orang tua akan menjadi amunisi persiapan
anak menghadapi tantangan kemajuan teknologi.
Sayangnya peran orang tua dibidang pendidikan sering
53
terabaikan karena keterbatasan biaya dan waktu untuk
bersama dengan anak. Apalagi untuk memasukkan anak
pada sekolah formal (negeri maupun swasta) banyak
kendala yang harus dihadapi oleh orangtua. Namun
pemerintah memahami apa yang dihadapi oleh orangtua
sehingga terbitlah peraturan tentang zonasi sekolah
yang lebih memprioritaskan pendidikan anak yang
berdomisili di wilayah terdekat dengan sekolah yang
ada. Tapi sering kali kita melihat pemandangan di jam –
jam sekolah, anak-anak yang berkeliaran di perempatan
lampu merah jika di kota besar, Kondisi ini yang
seharusnya mereka menikmati bangku sekolah namun
mereka harus membantu perekonomian keluarga. Jika di
beberapa kota-kota besar di Indonesia, aktivitas yang
mereka lakukan sangat variatif seperti : Siaga di lampu
merah yang sering dijadikan sebagai tempat mereka
beroperasi menawarkan jasa mulai dari menjual koran,
membersihkan mobil-mobil dengan kemoceng,
mengamen, atau sekedar menjual produk mainan, di
Jembatan penyebrangan biasa dijadikan sebagai tempat
ngamen, mengemis, di pasar traditional biasa dijadikan
tempat untuk menawarkan jasa seperti menyediakan
54
plastik untuk barang-barang belanja ibu-ibu,
menawarkan jasa payung dihari hujan atau panas, atau
sekedar menawarkan bantuan untuk membawakan
barang-barang ibu-ibu yang begitu banyak, dll.
Hal – hal tersebut sudah menjadi pemandangan umum
yang sering kita lihat dikota-kota besar, sementara yang
terjadi di pedesaan tidak kalah miris melihat kondisi
tersebut seperti anak-anak dilibatkan orang tua untuk
membantu bekerja di perkebunan dengan dalih
menambah biaya kehidupan, bekerja menjadi buruh
kasar sebagai tenaga kasar di kontruksi bangunan,
pemandangan anak yang membawa parang atau
keranjang dibelakang badannya. Tingginya persentase
anak yang putus sekolah di Indonesia yang tidak bisa
melanjutkan kejenjang selanjutnya. Data UNICEF tahun
2016 sebanyak 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat
menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu
anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia
Sekolah Menengah Pertama (SMP). Begitupula data
statistik yang dikeluarkan oleh BPS tidak berbeda jauh
akan tingkat putus sekolah anak, seperti yang dilansir
oleh cnnindonesia,com, 17/04/2017. Begitu pula koran
55
harian yang dikeluarkan oleh compas.com, 23/07/2018
bertepatan peringatan hari anak nasional melaporkan
sejak akhir tahun 2017 sampai Juli 2018, Lembaga
Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menerima laporan
sebanyak 30 orang anak yang mengalami putus sekolah
di Riau kata Ester Yuliani. Tingkat perekonomian
keluarga pada kenyataannya merupakan salah satu
aspek penghambat kesempatan proses pendidikan dan
pembelajaran. Ada banyak anak usia sekolah yang
terhambat, bahkan kehilangan kesempatan mengikuti
proses pendidikan hanya karena keadaan ekonomi
keluarga yang kurang mendukung. Adapun faktor
penyebab dari tingginya anak putus sekolah disebabkan
sebagai berikut ; Ekonomi ketidakmampuan keluarga
untuk memenuhi kebutuhan biaya selama proses
pendidikan sekolah dalam satu jenjang pendidikan,
Rendahnya minat anak untuk sekolah karena kurangnya
perhatian orang tua terhadap anak, jarak sekolah yang
jauh, fasilitas yang tidak memadai, dan pengaruh
lingkungan, Kurangnya perhatian orangtua Kondisi
ekonomi pendapatan keluarga yang rendah sehingga
orang tua lebih memfokuskan untuk memenuhi
56
kebutuhan hidup dan mengabaikan perhatian kepada
anak, Ketiadaan sarana prasana sekolah
ketidaktersediaan prasarana pendidikan berupa gedung
sekolah atau alat transportasi dari tempat tinggal siswa
dengan sekolah. Fasilitas belajar fasilitas pembelajaran
yang kurang memadai menyebabkan rendahnya minat
anak, Budaya kebiasaan masyarakat di sekitarnya
terhadap pentingnya pendidikan, Lainnya cacat, IQ yang
rendah, rendah diri, kasus pelecehan dan umur yang
melampaui usia sekolah.
Melihat kondisi tersebut perlu adanya penanganan
serius dari berbagai elemen yang terkaitnya khususnya
pemerintah menjadi tugas yang harus dituntaskan untuk
kemajuan dunia pendidikan. Sementara orang tua harus
mempersiapkan dari sejak dini untuk bekal masa depan
anak-anaknya menghadapi perkembangan dan
kemajuan serta persaingan dunia kerja. Mengingat biaya
pendidikan tahun demi tahun semakin tinggi tentunya
sebagai orang tua harus memiliki langkah cerdas untuk
menyikapi hal tersebut. Cara yang bisa dilakukan oleh
orang tua untuk mempersiapkan masa depan anaknya-
anaknya untuk mendapatkan dana pendidikan anak
57
agar tidak terabaikan pendidikan anak untuk
mengenyam pendidikan adalah dengan melakukan
investasi, inilah pilihan yang tepat yang dapat para
orang tua lakukan. Namun orang tua juga harus
memahami investasi yang seperti apa yang cocok
buat masa depan anaknya, agar apa yang
diinvestasikan benar-benar bermanfaat nantinya
saat anak membutuhkan biaya yang tinggi terhadap
pendidikannya.
58
ARTIKEL
59
TRAVELLING TIDAK LENGKAP TANPA GADGET
(Artikel : Terbit 05/05/2018)
Hai penggila Travelling, liburan menjadi hal yang
menarik bagi siapapun, karena liburan merupakan
kebutuhan bagi setiap individu setelah berkecimpung
dengan rutinitas yang membosankan. Tentunya liburan
menjadi pilihan yang menarik untuk merefresh otak
maupun tubuh.
Saya jadi teringat liburan bersama teman-teman,
awalnya jalan-jalan saja ke Pantai didaerah Malang
selatan tepatnya di pantai Sendang Biru, namun ketika
tiba disana ada keinginan untuk melanjutkan perjalanan
ke Pulau Senpu. Akhirnya rombongan memarkirkan
motor yang berjumlah 4 motor. Petugas parkirpun
menanyakan apakah motornya mau di inap atau tidak.
Saya menjawab inapkan saja dan kita membayar dua kali
lipat dari yang tidak inap, sebesar Rp10.000.
60
Saya mengajak satu orang teman untuk menelusuri
informasi yang bisa kita dapatkan agar bisa
menyeberang ke Pulau Senpu, kita diarahkan oleh
petugas parkir untuk menanyakan ke Kantor Konservasi
yang berada sedikit keatas dari parkiran yang berjarak
sekitar 200 M. Ketika tiba dikantor yang dimaksud saya
segera mengkonfirmasi informasi apa saja yang bisa
saya dapatkan untuk bisa melakukan perjalanan ke
Pulau Senpu. Petugas kantor menyampaikan bahwa ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk bisa
melakukan perjalanan kelokasi yang dimaksud,
diantaranya harus mendapatkan izin dari institusi
konservasi karena daerah yang akan dijadikan tujuan
adalah wilayah konservasi, memberikan data yang valid
terhadap jumlah rombongan yang akan berangkat,
setiap rombongan akan ditemani satu orang guide
sebagai penilai pelaksana dilapangan, setiap rombongan
mentaati aturan yang telah ditetapkan oleh badan
konservasi.
Petugas juga menyampaikan setiap rombongan harus
mempersiapkan fisik, peralatan, amunisi makanan
61
ataupun minuman secukupnya. Waktu tempuh ke Pulau
Senpu lebih kurang 1,5 jam perjalanan dari Pantai
Sendang Biru, 20 menit menggunakan perahu nelayan
dan selebihnya berjalan kaki dengan medan yang cukup
panjang. Setiap rombongan sudah mempersiapkan
semuanya karena dilokasi tidak ada penjualan apapun,
air minum atau kebutuhan, serta jaringan telpon sama
sekali tidak ada.
Informasi yang kami dapatkan tentunya menyurutkan
langkah kaki kami, karena sama sekali tidak ada
persiapan ataupun bekal untuk ke lokasi. Akhirnya
keputusan rombongan batal melanjutkan perjalanan ke
Pulau Senpu.
Sobat Traveller,
Pengalaman perjalanan tersebut mengajarkan kami
untuk lebih memperhatikan dan mempersiapkan dengan
matang segala sesuatu yang terkait dengan destinasi
wisata yang akan dituju. Biasanya traveller pemula
mengabaikan hal yang demikian, mereka hanya
62
bermodalkan semangat dan dana untuk melakukan
travelling, sehingga hal-hal yang sangat penting
terlupakan begitu saja, akibatnya dilapangan akan
merepotkan diri sendiri.
Hal – hal demikian yang menjadi keharusan bagi setiap
traveller, terutama saya dan rombongan lebih
mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan
travelling. untuk itulah saya dan teman-teman
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
mengenai lokasi yang akan menjadi tujuan travelling.
saya mengumpulkan beberapa catatan ataupun ulasan
dari para backpacker yang telah menuliskan
perjalanannya untuk bisa dijadikan sebagai referensi
dalam melakukan travelling. Sekalipun anda yang masih
pemula dengan mudah bisa mempersiapkan bekal yang
harus ada sebelum memulai penjelajahan wisata yang
diinginkan.
Nah sebelum menuju destinasi yang dituju perlu sobat
mempersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan
destinasi wiasata yang akan dikunjungi. Mau tahu apa
saja yang saya persiapkan. Yuks cek dibawah ini bro;
63
Knowledge
Travelling tanpa perencanaan yang matang akan
berakhir dengan kekecewaan dan kejenuhan, untuk itu
saya persiapakan dengan baik mulai dari
memperhatikan kalender (pastinya dong tanggal merah)
agar bisa lebih lama liburannya, lokasi tujuan ,
Infrastuktur jalan apakah setapak atau tidak, kendaraan
yang akan digunakan apakah sewa atau pribadi, budaya
Masyarakat (aturan adat setempat), Biaya yang
dibutuhkan selama perjalanan.
Kebutuhan pribadi
Pakaian yang saya bawa tentunya baju kaos yang
menyerap keringat, celana jenis bahan yang cepat kering
karena lokasi yang dituju adalah Pulau Peralatan mandi
kemasan lebih mudah dan ringan, Obat-obatan yang saya
butuhkan terutama autan, minyak teloon atau minyak
angin, hansaplas mana tau ada teman yang terluka. Sun
blok karena kami akan berjemur menjadi wajib
membawa jenis pelindung kulit, Sepatu gunung kebih
nyaman digunakan saat berada dipantai dan medan
perjalanan tracking.
64
Tas bahu
Mempermudahkan saya selama dalam perjalanan karena
mampu memuat semua peralatan yang akan dibawa.
Gadget
Berikutnya yang tidak kalah penting adalah Gadget
yang menjadi senjata andalan para traveller ataupun
penggila photography karena benda yang satu ini akan
menjadi dokumentasi berharga setiap perjalanan,
sehingga menjadi wajib membawanya. Tapi tentunya
sebelum mempergunakannya ada baiknya terlebih
dahulu mengecek kondisi fisiknya . Untuk itu terlebih
dahulu saya dan team memastikan semua perlengkapan
yang berhubungan dengan dokumentasi tidak tertinggal.
Antara lain :
Camera DSLR
DSLR dengan spesifikasi 18 mega fixel, menjadi
sandanganku setiap dalam perjalanan. Camera ini
beberapa kali zoom dan titik fokus yang tepat serta
ditunjang fitur-fitur lapangan untuk objek yang
bergerak, membekukan objek yang bergerak,
memblurkan background sehingga hanya objek saja
65
yang jelas serta keunggulan-keunggulan lainnya
menjadikan DSLR selalu terdepan dalam hasil photo.
Ilustrasi foto (sumber foto : elektronik city)
Memory Card
Sebelum digunakan diformat terlebih dahulu agar
saat digunakan spesifikasi ruang kosong, dan saya
biasanya membawa 2 atau 3 memory dengan
kapasitas 8GB dan 16GB.
Tripod
Tripod selain mengurangi kelelahan menopang
beban kamera sangat menunjang dalam aktivitas
dilapangan sebagai pemotretan long exposure atau
shutter speed rendah, membantu mencapai angle
sulit dalam pemotretan landscape.
Lensa
Berbagai jenis lensa bisa kita gunakan tergantung
kebutuhan dilapangan, saya biasa membawa lensa
berukuran 18mm, 50mm dan 18-200mm,
66
penggunaan sesuai kebutuhan objek yang akan
menjadi sasaran dalam pemotretan
Battery charge
Biasa saya saya membawa dua buah jenis batrai
untuk kamera dan 4buah batrai untuk flash.
Kabel USB
Kabel ini digunakan untuk memudahkan saya
memindahkan data atau foto yang berada didalam
kamera atau hp.
Tablet
Gadget yang satu ini tergantung kondisi saya bawa
atau tidaknya. Tablet dengan ukuran layar lebih
besar dibanding smartphone menjadikan tablet
sebagai pilihan yang tepat dibawa. Tablet dengan
layar yang besar bisa menjadi teman saat didalam
perjalanan didalam kereta sambil main game,
nonton video, video call dll. Layar yang lebar lebih
memberikan kepuasan jika dijadikan sebagai
tontonan. Mau mendengarkan musik lebih asik jika
disambungkan dengan handsfree atau headphone
67
Ilustrasi foto (sumber foto : elektronik city)
Handphone atau seluler (HP)
Ukuran yang kecil ditunjang dengan spesifikasi yang
tinggi dan fitur yang menarik membuat HP sebagai
pilihan sederhana dan ringan dalam
mendokumentasikan perjalanan sobat traveller
selama liburan. HP menjadi pilihan terbaik dalam
mendokumentasikan photo atau video liburan.
Fitur-fitur menarik seperti game, medsos, edit video
atau fhoto, music,dll akan menjadikan liburan tidak
membosankan.
Tidak kalah penting sobat traveller bisa download
aflikasi sesuai kebutuhan. Banyak aflikasi yang
memberikan kemudahan dalam travelling dengan
harga yang murah dan bersaing bagi penyedia jasa
travelling.
68
Ilustrasi foto (sumber foto : elektronik city)
Laptop/notebook
Gadget yang satu ini bisa menjadi luapan perasaan
sobat travller selama liburan, menuliskan keindahan
alam, kejadian yang ditemui, keramahan penduduk
lokal, ataupun teman yang membosankan selama
travelling. Sobat traveller bisa mengetikkan tulisan
panjang langsung ditempat liburan setelah istirahat.
Jadi kejadian-kejadian yang dialami bisa langsung
dituangkan kedalam laptop agar tidak terlupakan.
#Tips untuk peralatan Gadget dilapangan
Jika lokasi yang dituju jauh dan minim
penerangan bahkan sama sekali tidak ada
listrik,pastikan batrai dan lampu cas anda
mencukupi selama berada dilokasi
Kemasin (bungkus) peralatan gadget anda
dengan kemasan kedap udara agar bisa
69
menghindari debu, kondisi cuaca atau air
(waterproof).
Jangan meninggalkan peralatan gadget pada suhu
yang tinggi sperti bagasi mobil ataupun tenda.
pastikan kondisi optik bersih dan terhindar dari
debu, jika terkena debu bersihkan dengan blower
Itulah beberapa ulasan terkait peralatan apa saja
yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan untuk
dibawa selama travelling. Tentunya dengan tulisan
ini bisa membantu sobat traveller untuk lebih
matang mempersiapkan liburannya agar lebih
berkesan dan menarik. Bagi sobat traveller yang
masih bingung atau belum memiliki peralatan untuk
dibawa pada saat travelling segera ditulis apa saja
yang harus ada saat destinasi dijalankan.
70
AGUSTUS
MEMBUMIKAN PERMAINAN TRADISIONAL
DARI KEPUNAHAN
(Artikel : Terbit 14/08/2018)
Rasanya tidak berlebihan judul diatas saya angkat untuk
menjadikan momen spesial di bulan pembebasan bangsa ini
dari tangan-tangan keji penjajah. Bulan yang penuh dengan
spirit kebangsaan dari segala lintas etnis, budaya, dan agama
untuk membangkitkan jiwa-jiwa patriotisme demi satu
bangsa yakni bangsa Indonesia sehingga negara ini bisa bebas
dari cengkraman bangsa-bangsa penjajah. Pasca
kemerdekaan sudah 73 tahun bangsa ini merayakan momen
besar hari kemerdekaan sebagai pengingat bahwa begitu
besarnya perjuangan para pendahulu untuk membebaskan
tanah negeri ini dari cengkraman bangsa-bangsa durjana.
Kemerdekaan sudah diperoleh, perayaanpun ketika tiba
waktu peringatan hari kemerdekaan banyak hal yang bisa
dilakukan sebagai bagian dari kecintaan terhadap bangsa dan
tanah air. Diantara perayaan dalam menyambut kecintaan
kepada bangsa ini, yang dilakukan oleh rakyat dari kota
sampai ke desa-desa adalah dengan memasang umbul-umbul
dan bendera merah putih disetiap jalan dan depan rumah
71
sebagai bagian dari kontribusi untuk merayakan
kemerdekaan.
Bukan hanya atribut bendera dan umbul-umbul saja yang
dipasang oleh warga, akan tetapi setiap warga bekerjasama
dan gotong royong serta swadaya masyarakatpun terjalin
dalam memeriahkan acara tersebut. Kesadaran yang tinggi,
dan partisipasi aktif masyarakat menjadikan momen agustus
sebagai bagian dari jiwa patriotis yang dipahami oleh
masyarakat. Tidak hanya itu saja yang menjadi sorotan saya
ketika menuliskan tulisan ini, namun adanya kesadaran yang
tinggi juga dari sektor pendidikan dengan setiap saat
menyanyikan lagu Indonesia Raya sampai 3 stanza di sekolah-
sekolah sehingga anak-anak didik hafal dengan lagu
kemerdekaan tersebut.
Sisi lain perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT
RI) diisi juga dengan berbagai kegiatan perlombaan. Peserta
yang ikutpun berbagai usia mulai anak-anak sampai bapak-
bapak. Perlombaan yang dilombakanpun tidak kalah seru dan
meriah mulai dari perlombaan lagu daerah, pembacaan puisi,
pidato, ceramah, lomba adzan, ataupun lomba permainan
tradisional seperti lomba gasing, tarik tambang, congkal,
enggrang, tarik tambang, lompat tali, engklek, balap karung,
dll. Agustus menjadi momentum dalam membumikan
permainan tradisional yang sudah hampir punah di tanah air.
72
Permainan tradisional sudah tergerus oleh lajunya perubahan
zaman era digital. Anak-anak disibukkan dengan teknologi
yang begitu canggih di tangan. Meskipun era digital ditinjau
dari segi manfaatnya juga ada namun penggunaan yang tidak
terkontrol akan menimbulkan dampak negatif bagi perilaku
anak. Anak yang sudah kecendrungan ketergantungan gadget
sejak dini sudah berada ditangan akan mengalami berbagai
perilaku negatif. Adapun dampak negatif dari era digital
terhadap anak diantaranya adalah anak cenderung egois,
individualistik, anti sosial, ketergantungan dengan teknologi,
akses game kekerasan, akses situs-situs pornografi baik
sengaja maupun tidak, kurang mampu mengendalikan emosi,
dan masih banyak lagi dampak lainnya.
Sementara permainan tradisional merupakan ciri khas bangsa
Indonesia, bahkan diberbagai daerah masing-masing memiliki
permainan tradisional dengan berbagai variasi dan memiliki
keunikan tersendiri serta kekhasan daerah masing-masing.
Permainan tradisional yang cenderung dimainkan secara
berkelompok menjadi solusi bagi menanamkan jiwa anak
agar memiliki sosial yang tinggi. Nilai-nilai kebersamaan yang
ditanamkan dalam permainan tradisional akan terasah dalam
pergaulannya. Momentum agustus menjadi gerbang pembuka
bagi melestarikan nilai-nilai kebersamaan dan nilai-nilai
sosial yang ada dalam permainan tradisional yang dimainkan
73
oleh anak. Agustus menjadi momentum yang tepat untuk
merefleksi kembali bangsa ini dalam menanamkan dan
membentuk karakter anak pada permainan. Permainan
tradisional bukan hanya sekedar permainan hura-hura atau
tawa, canda saja namun dalam setiap permainan terkandung
nilai-nilai positif yang terbangun dalam diri anak.
Nilai-nilai yang termuat dalam permainan tradisional bukan
hanya sekedar kemeriahan atau kebahagiaan saja, namun
banyak manfaat yang diperoleh dari hal tersebut. Adapun
nilai-nilai yang terbangun dalam permainan tradisional
adalah sportifitas anak akan belajar sosialisasi dengan teman
dan lingkungan, dalam setiap permainan akan ada yang
menang dan kalah. Anak akan belajar menerima kekalahan
dan anak bagaimana seharusnya bersikap terhadap hasil
dalam permainan tersebut. Melatih kemampuan fisik
banyaknya gerakan akan melatih otot-otot bekerja seak dini
seperti permainan lompat tali, engrang, tarik tambang, dll.
Mengasah kecerdasan catur salah satu permainan tradisional
bahkan sudah menjadi cabang olahraga, dalam permainan
anak akan diajak berpikir bagaimana strategi yang harus
dilakukan agar bisa menjadi pemenang. Sosial yang tinggi
membentuk dan mengasah jiwa sosial serta kemampuan anak
dalam mengendalikan emosi. Kreativitas membangun jiwa
kreatif anak melalui permainan tradisional akan
74
membangkitkan kreativitasnya misalnya dalam membuat
layang-layang anak akan berpikir bagaimana cara layang bisa
terbang, bagaimana barang yang dihasilkan juga bagus dan
menarik. Kerjasama permainan tradisional pada umumnya
dilakukan secara berkelompok akan membutukan kerjasama
tim agar bisa menghasilkan yang terbaik. Kepercayaan diri
permainan tradisional melatih anak untuk mampu
berkomunikasi dan bersosial serta mengendalikan emosi
dalam menyampaikan sesuatu dan ini akan terlatih dan
terbangun akan rasa percaya diri anak. Demokratis sebelum
aturan permainan disepakati tentunya ada perundingan
masing-masing anak untuk menyepakati bersama aturan yang
akan ditetapkan. Aturan tersebut mengajarkan anak akan arti
demokratis sesungguhnya. Aktif permainan tradisional
membentuk anak lebihh aktif terhadap permainan yang akan
dilakukan baik bertanya, kritik, dan eksplorasi diri dalam
permainan. Tanggungjawab Anak akan memiliki sikap
tanggungjawab yang tinggi terhadap aturan yang sudah
dibuat dan tugas yang sudah diberikan untuk dijalankan
sesuai aturannya.
Melihat manfaatnya yang besar tentu membumikan
permainan tradisional harus menjadi tanggungjawab bagi
pemangku kepentingan baik skala nasional maupun skala
desa, baik dari pejabat pusat maupun pejabat desa agar
75
permainan tradisional digalakkan kembali di tanah air agar
tidak tergerus dengan lajunya era digital saat ini. Sekolah juga
menjadi tempat dalam mengkampanyekan permainan
tradisional agar dilakuakn secara kontinu perlombaan yang
mengedepankan nilai-nilai tersebut. Kalau tidak saat ini
kapan lagi permainan tradisional akan bangkit. Agustus
menjadi momentum yang terbaik dalam menggalakkan
permainan tradisional.
76
PENTINGNYA PEMANFAATAN MEDIA
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
(Artikel : Terbit 29/08/2018)
Pesatnya kemajuan Ilmu Pengetahun dan Teknologi
(IPTEK) di era digital berdampak pada semua aspek
kehidupan. Perkembangan yang pesat yang diiringi
perubahan yang cepat menuntut kemampuan setiap
orang untuk memiliki keahlian yang dapat mengelola,
mengatur dan memanfaatkan Iptek secara proporsional.
Kemajuan Iptek mengubah cara pandang setiap orang
dalam pemanfaatannya, namun tidak ditunjang dengan
kemampuan yang membutuhkan pemikiran yang logis,
sistematis dan kritis yang semua itu hanya bisa di
imbangi dengan peningkatan mutu pendidikan.
Matematika merupakan salah satu komponen yang
sangat penting dalam peningkatan mutu pendidikan
untuk mampu mencapai dan memenuhi perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, matematika menjadi
salah satu faktor yang memegang peranan penting
dalam mendukung perkembangan tersebut. Namun
77
dalam pelaksanaannya matematika selalu menjadi
kendala bagi setiap siswa yang mempelajarinya karena
tingkat kesulitannya. Padahal matematika merupakan
pelajaran yang sangat penting. Akan tetapi Matematika
masih dianggap sebagai mata pelajaran yang paling
dibenci dan ditakuti oleh siswa sehingga matematika
menjadi momok sebagian besar siswa. Seperti survey
yang dilakukan oelh oleh jawa pos dengan persentase
berikut yaitu berhitung (48,4%), hafalan (34,65%) dan
penalaran (13,2%). Penyebab hal tersebut karena
lemahnya pemahaman siswa dalam memahami
pelajaran matematika.
Persentase yang rendah dari hasil survey tersebut
menunjukkan bahwa matematika masih pada titik
terendah dibandingkan yang lain artinya ada kesalahan
dalam pembelajaran matematika. Lemahnya
pemahaman siswa terhadap matematika salah satu
faktor yang disebabkan oleh lemahnya pembelajaran
yang diterapkan oleh guru matematika di sekolah.
Widdiharto, 2004:1, sistem pembelajaran di Sekolah
Menengah Pertama (SMP) cenderung berfokus pada
buku (textbook oriented), dan kurang mengkaitkan
78
dengan kehidupan sehari-hari siswa. Sistem
pembelajaran yang terfokus pada buku membuat
pembelajaran (termasuk matematika) cenderung
abstrak dan sulit dipahami. Permasalahan dalam
pembelajaran matematika disebabkan matematika
masih berupa bahasa yang simbolis dan ilmu kajiannya
bersifat abstrak. Matematika yang bersifat abstrak
menjadi kendala tidak hanya pada siswa namun guru
juga mengalami hal yang sama dalam menyampaikan
pelajaran matematika. Konsep matematika akan mudah
dipahami jika bersifat kongkret. Untuk itu perlu adanya
tahapan dalam pembelajaran matematika yang bertahap.
Memulai dari yang bersifat kongkret, kemudian
diarahkan pada tahapan semi kongkret, dan pada
akhirnya matematika akan mudah dipahami secara
abstrak. Salah satu cara ataupun solusi dalam menangani
masalah tersebut adalah dengan penggunaan media
pembelajaran agar mampu memahamkan konsep
matematika yang abstrak menjadi kongkret.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan bahan pembelajaran
sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran,
79
dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk
mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sementara bagi
guru media pembelajaran menjadi sarana dalam
menyampaikan pesan untuk mewakili apa yang kurang
mampu dalam kata-kata yang disampaikan.
Apa saja kontribusi positif dalam penggunaan media
Kontribusi positifnya adalah Penyampaian
pembelajaran dapat lebih terstandar, Pembelajaran
dapat lebih menarik, Waktu pembelajaran lebih singkat,
Adanya peningkatan kualitas dalam pembelajaran,
Proses pembelajaran dapat dilakukan dimanapun dan
kapanpun, Dapat ditingkatnya sikap positif siswa
terhadap proses pembelajaran materi, dan Perubahan
positif dari peran guru.
Apa saja tujuan Penggunaan Media Pembelajaran
Pengunaan media pembelajran bertujuan untuk : 1)
Memberikan kemampuan berpikir matematika secara
kreatif dan membangkitkan semangat kreatifitas anak,
2) Mengembangkan sikap yang menguntungkan kearah
berpikir matematika dengan cara mengubah suasana
kelas dalam pembelajaran matematika dengan
memberikan kesempatan anak untuk belajar mandiri
80
dan memberikan arahan agar rasa percaya diri anak
muncul, 3) Mengkoneksikan pelajaran dengan
kehidupan nyata, sehingga siswa merasa apa yang
dipelajari adalah penerapan ilmu yang bisa dihubungkan
dengan pengalaman-pengalaman yang dimilikinya diluar
sekolah, 4) Memberikan kemudahan kepada anak dalam
memahami matematika yang bersifat abstrak melalui
media yang digunakan dalam pembelajaran sehingga
pada anak didik akan menimbulkan pengalaman baru
dan menyenangkan, 5) Proses pembelajaran lebih
aktraktif karena komunikasi dilakukan dua arah secara
aktif antara guru dan siswa selama proses Kriteria
Pemilihan Media Pembelajaran.
Apa saja kriteria utama penggunaan media
Kriteria utama dalam pemilihan media yang akan
digunakan adalah tepat sasaran artinya media yang akan
digunakan sesuai dengan kebutuhan dalam materi
pembelajaran yang akan disampaikan sehingga tujuan
dari materi yang diinginkan dapat tercapai sesuai yang
diharapkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam pemilihan media, antara lain : 1) Media yang
digunakan benar-benar mampu menjadi pendukung
81
materi pembelajaran sehingga media yang digunakan
mampu memahamkan peserta didik, 2) Mudah dalam
memperolehnya. Contoh media grafis mudah
memperolehnya karena guru bisa buat sendiri. 3)
Kemampuan guru dalam menggunakan media apapun
jenis medianya, 4) Tersedianya waktu dalam
penggunaan media sehingga selama proses
pembelajaran berlangsung benar-benar bermanfaat, 5)
Media yang digunakan hendaklah sesuai dengan taraf
berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung
didalamnya mudah dipahami siswa.
Penggunaan media dalam pembelajaran matematika
sangat berperan dalam meningkatkan kualitas
pendidikan termasuk kualitas pendidikan matematika.
Dengan menggunakan media, konsep dan simbol
matematika yang bersifat abstrak menjadi lebih
kongkret, sehingga siswa dapat diperkenalkan dengan
konsep dan simbol matematika disesuaikan dengan taraf
berpikirnya. Meskipun mudah dan sederhana masih saja
dalam pelaksanaannya menjadi kendala baik dari guru
maupun sarana yang tersedia sehingga enggan
menggunakan media dalam pembelajaran. Adapun
82
faktor yang menyebabkan Guru Tidak Menggunakan
Media diantaranya adalah : 1) Menggunakan media itu
repot, karena membutuhkan persiapan yang baik dan
ekstra. Misalkan OHP, Audio Visual, VCD, Projector, dan
lain-lain. Perlu pemasangan kabel, listrik dan
setingannya. 2) Media itu canggih dan mahal, sebagian
besar guru masih berpikir sulit untuk memulai
menggunakan karena adanya ketakutan yang
disebabkan belum mampu mengoperasikannya. Padahal
penggunana media tidak harus mahal dan canggih
namun efektifitas dalam pembelajaran yang harus
dikedepankan. Banyak media disekitar lingkungan yang
dapat digunakan dalam pembelajaran Seperti botol
minuman bekas (aqua, fit, dll) dapat digunakan dalam
memahamkan konsep aljabar pada materi Sistem
persamaan linear satu variabel (SPLV) atau dua variabel
(SPLDV), kertas buffallo, kancing baju berbagai warna,
atau tutup botol minuman dapat digunakan dalam
memahamkan konsep bilangan bulat. 3) Media identik
dengan hiburan, masih ada dalam pikiran guru sehingga
dikhawatirkan menggunakan media siswa tidak akan
serius belajar. 4) Tidak adanya tersedia media, Padahal
83
guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam mengadakan
media yang akan digunakan. 5) Kebiasaan dengan cara
berceramah, metode ini adalah cara yang enak bagi
sebagian pendapat guru. Mengajar dengan menggunakan
verbal lebih mudah dan tidak memerlukan persiapan
yang banyak dalam mengajar. 6) Penghargaan yang
kurang dari atasan, Tidak adanya reward dari atasan
terhadap guru yang mengajar menggunakan media.
Perlakukan dari pihak sekolah atau yayasan sama
terhadap semua guru. Padahal penghargaan tidak harus
berupa materi namun dengan pujian sudah cukup bagi
guru yang menggunakan media pembelajaran.
84
BERITA
85
BANYAK GURU BELUM TERMOTIVASI MENULIS
(Berita : Terbit 07/07/2017)
Silaturahmi guru penulis alumni SAGUSAKU dengan
Kepala Dinas Pendidikan Inhil tepatnya Rabu, 05 Juli
2017 Pk. 15.00 yang diikuti oleh 9 orang guru di Ruang
Kepala Dinas Pendidikan lebih kurang 1 jam. Pertemuan
yang berlangsung khidmat diawali pembukaan oleh
Bapak Guslaini, S.Si., M.Pd sebagai pengantar silaturahmi
dan menyampaikan maksud serta tujuan kedatangan
bertemu kepala dinas pendidikan selanjutnya Bu
Hapipah, M. Pd menyampaikan program lahirnya guru
penulis.
Pembicaraan silaturahmi yang di awali dengan Program
SAGUSAKU menjadi pembahasan hingga lahir guru-guru
penulis. Program “SAGUSAKU” Satu Guru Satu Buku yang
diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI)
tepatnya 1 April 2017 di LPMP Riau telah melahirkan
guru-guru penulis. SAGUSAKU adalah program
86
peningkatan kompetensi di bidang jurnalistik yang
dikhususkan untuk Guru agar termotivasi dalam menulis
untuk menghasilkan karya nyata berupa buku. Program
SAGUSAKU yang diikuti oleh 100 orang dari seluruh
kabupaten yang ada di provinsi Riau dengn peserta
terbanyak berasal dari Inhil sebanyak 40 orang yang
mereka mengikuti kegiatan tersebut dengan biaya
mandiri dengan waktu dan jarak tempuh yang jauh.
Hasil dari kegiatan yang diikuti oleh guru-guru Inhil
telah melahirkan 11 orang guru-guru penulis yang sudah
menuntaskan karyanya berupa buku dengan waktu yang
diberikan lebih kurang 3 bulan. Baik buku pelajaran,
novel, maupun kreativitas. Sementara guru yang lain
masih dalam proses pengerjaan.
Adapun guru-guru yang sudah menuntaskan hasil
karyanya berupa buku untuk diterbitkan sebagai berikut
:
1. Nama : Guslaini, S.Si, M.Pd
Instansi : SMP Negeri 4 GAS
Judul Buku : Asyiknya Bermatematika dengan
Media
2. Nama : Hapipah, M.Pd
Instansi : SDN 027 Nusantara Jaya Kec.
Keritang
87
Judul Buku : Berani Berbicara (Bagi Siswa
Sekolah Dasar)
3. Nama
Instansi : Rabiah, M.Pd
Judul Buku : SMP Negeri 3 Keritang
: Pramuka Itu Asyik Gembira dan
4. Nama
Instansi Menyenangkan
Judul Buku : Laila Suryani, S.Pd
: SMP Negeri 2 Tembilahan Hulu
5. Nama : Gadis Jerambah (Sebut Saja
Instansi
Judul Buku Namaku ... Elni)
: Rahma Zuanty, SE. M.Pd
6. Nama : SMK Negeri 1
Instansi : Belajar Perpajakan Mudah
Judul Buku : Anita, S.Pd
: SMP Negeri 1 Tembilahan
7. Nama : Menembus Ruang Menggapai
Instansi
Judul Buku Harapan
: Yulidah, S.Pd.I
8. Nama : SMP Negeri 1 Tembilahan
Instansi : MARBEL BILMAT (Mari Belajar
Judul Buku
Bilangan Matematika)
9. Nama : Henny Kirana, SE
Instansi : SMK Negeri 1 Tembilahan
Judul Buku : Cancer
: Tien Kasriani, S.Pd
10. Nama : SMP Satap Sanglar
Instansi : Kumpulan Soal Matematika Ujian
Judul Buku
Nasional dan Penyelesaiannya
11. Nama : Marliah, S.S., M.Pd
: SMKN 2 Tembilahan
: Bianglala Diatas Rumah Zikra
: Suryati, S.Pd
88
Instansi : SMP Negeri Satu Atap Teluk Bunia
Judul Buku Kec. Pelangiran
: Kreasi Limbah Berdaya Guna
Penulisan buku yang langsung di bimbing oleh Master
Coach Bapak Slamet Riyanto, M.Pd yang telah
menghasilkan karya 175 buku sekaligus menjadi
pembicara nasional maupun internasional menjadi
motivasi bagi guru-guru yang tergabung dalam program
SAGUSAKU untuk mampu menghasilkan karya berupa
buku.
Hapipah juga menyampaikan selain program SAGUSAKU,
ada juga SAGUSATAB (Satu Guru Satu Tablet) yang
merupakan program bagaimana cara memanfaatkan
tablet secara masksimal sebagai media pembelajaran di
kelas. Program yang sama juga akan diselenggarakan di
Inhil mengingat banyak guru yang berpotensi di Inhil
namun tidak mendapatkan cara yang tepat dalam
mengembangkan potensinya untuk menghasilkan karya
nyata dengan harapan mendapatkan dukungan penuh
baik dari pemda maupun dari dinas pendidikan kata bu
Hapipah.
89