The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Strategi Muhammad Ramli Rahim (MRR) dalam membangun dunia pendidikan melalui organisasi profesi Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang sekaligus sebagai ketua umum IGI. Sebagai ketum IGI akhirnya IGI bisa terbentuk di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten.

Bagaimana strategi MRR dapat dibaca dalam buku ini.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BHP RIAU, 2021-02-26 23:16:19

STRATEGI MRR MENGUBAH PENDIDIKAN INDONESIA MELALUI IGI

Strategi Muhammad Ramli Rahim (MRR) dalam membangun dunia pendidikan melalui organisasi profesi Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang sekaligus sebagai ketua umum IGI. Sebagai ketum IGI akhirnya IGI bisa terbentuk di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten.

Bagaimana strategi MRR dapat dibaca dalam buku ini.

Keywords: MRR,IGI,PENDIDIKAN,STRATEGI,STRATEGI MRR MENGUABH WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA MELALUI IGI

Salah satu terobosan yang diambil Muhamad Ramli Rahim
seperti bekerja sama dengan pihak Samsung membuka ruang baru
pergerakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) di daerah. Seperti dirasakan
di kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Hari itu di tahun 2017, gedung kesenian dan budaya kota
Lubuklinggau terlihat ramai. Ratusan guru dari tingkat Sekolah
Dasar (SD), Sekolah Menengah (SMP), dan Sekolah Menengah Atas
(SMA) terlihat memadati ruangan. Mereka mengikuti diklat yang
diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI). Penulis pun ikut
berpartisipasi menjadi salah satu dari peserta.

Penulis tidak banyak mengetahui tentang IGI sebelumnya.
Namun, karena telah jatuh hati sejak pertama mengikuti pelatihan
yang di selenggarakan IGI, ia pun menjadi penasaran. Segera
kemudian ia bergabung menjadi anggota. Selanjutnya mengikuti
semua diklat yang berlangsung di kota Lubuklinggau.

Pernah suatu hari dengan semangat 45 penulis menempuh
perjalanan cukup jauh dari kediamannya untuk mengikuti diklat
dari IGI. Ia harus menempuh hampir satu jam dengan menggunakan
sepeda motor menuju tempat itu. Diklat tersebut diadakan di
kantor departemen agama kota Lubuklinggau.

Sebelumnya penulis tidak mengetahui jika ternyata diklat hari
itu diperuntukkan bagi guru-guru dibawah naungan departemen
agama. Namun, karena ia sudah terlanjur hadir di sana ia, atas
kebaikan Ketua IGI Kota Lubuklinggau ia pun diizinkan mengikuti
kegiatan tersebut.

Dari sana penulis lebih mengenal ketua Ikatan Guru Indonesia
(IGI) Kota Lubuklinggau Ibu Hj. Huzaimah, M.Pd.I. Mungkin karena
melihat kesungguhan dari penulis dalam mengikuti berbagai
kegiatan yang ada ia pun di daulat sebagai moderator sebuah sesi
acara pelatihan. Hari itu meski tak pernah menduga penulis merasa
sangat beruntung.

Antologi Bersama 41

Di tahun 2018 penulis berkenalan dengan salah satu kanal
pelatihan IGI yaitu SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku) lewat pelatihan
penulisan buku. Saat itu juga diberikan pelatihan editing, layout,
dan desain cover. Ada beberapa orang yang bertindak sebagai
Nara sumber yaitu: Ibu Huzaimah, M.Pd.I, Ibu Efi Erfita, M.Pd, Bapak
Guslaini, M.Pd, dan Bapak Teddy Handika, M.Pd. Mereka adalah
sosok-sosok kreatif dan inspiratif yang penulis kenal.

Setelah kegiatan tersebut penulis termotivasi dan akhirnya
memberanikan diri untuk mulai menulis dan berkarya. Minimnya
pengalaman dan pengetahuan dalam menulis dikesampingkan.
Hanya satu tujuan saat itu. Bisa menghasilkan sebuah buku. Dan
Alhamdulillah impian itu akhirnya terwujud. Sebuah novel dengan
judul ‘Hidup Itu Ujian’ menjadi titik awal penulis untuk unjuk gigi.

Apakah kemudian berhenti sampai disana?
Tentu tidak! Memiliki sebuah buku kemudian mengantarkan
penulis berkenalan dengan seluruh penulis seluruh Indonesia.
Dalam bingkai keluarga SAGUSAKU bersama PJ SAGUSAKU hebat
Ibu Nur Badriyah, penulis memperoleh kesempatan untuk semakin
meng_update dan meng-upgrade pengetahuan.
Demikianlah gambaran pergerakan anggota IGI dibawah
kepemimpinan Muhammad Ramli Rahim. Beribu cerita pasti
berbeda. Namun penulis yakin semua merasa bangga menjadi
bagian dari Ikatan Guru Indonesia (IGI).
Pada tanggal 23 Mei 2020 lalu melalui room webex bersama
SAGUSAKU, Muhammad Ramli Rahim menyampaikan harapannya
untuk Ikatan Guru Indonesia (IGI),yaitu: pertama, IGI dapat
mencapai satu juta anggota. Kedua, IGI memiliki kepengurusan
yang kuat di seluruh Indonesia. Ketiga, Memurnikan IGI 100% guru.
Empat, IGI memiliki peran besar di pemerintahan. Kelima, IGI punya
kehormatan luar biasa yang bahkan presiden pun mendengar
ketika IGI berbicara.

42 MRR

Beliau pun menyampaikan agar tidak menjadi guru
konservatif. Guru yang merasa cukup dengan apa yang ada. Merasa
tidak perlu belajar lagi karena akan menjadi penghalang untuk maju.
Guru yang sadar diri pada kelemahannya tetapi cenderung malas.
Memiliki sikap pesimisme tinggi untuk belajar. Memiliki pemikiran
sempit tentang peningkatan kualitas diri karena pendapatan yang
diperoleh.

Beliau berharap semangat IGI terus menyala. Tahun 2020
adalah kebangkitan guru-guru milenia. Guru-guru yang tergabung
di IGI bukanlah guru konservatif yang baru bergerak ketika pandemi
covid-19 melanda. Guru IGI adalah penggerak menuju perubahan
dan perbaikan wajah pendidikan Indonesia.

Muhammad Ramli Rahim juga sosok pemimpin teladan.
yang mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan
pribadinya sendiri. Hal ini patut dicontoh oleh para IGIer. Agar IGI
semakin maju dan berjaya.

Salam Literasi!
Tingkatkan Kompetensi Raih Berjuta Prestasi.

Llg, 4 Juni 2020

Desi Futriana, S.Pd, Ketua Bidang Literasi, Publikasi, dan
Informasi IGI Kota Lubuklinggau, dan aktif di Komunitas
Pembatas Buku Jakarta (KPBJ).

Antologi Bersama 43

Pejuang Pendidikan

Desmiri Yenti

Sekarang tidak hanya (IGI) Ikatan Guru Indonesia saja yang
mengenal Muhammad Ramli Rahim (MRR). Namanya sekarang
makin bersinar, bahkan sinarnya mampu membakar semangat
para guru di komunitas IGI. Sosok pemimpin muda yang piawai,
berani dan tegas itu, sekarang makin memperlihatkan taringnya.
Kritikannya terhadap kebijakan terkait program Merdeka Belajar
yang diusung Nadiem, menurut beliau, itu adalah program lama.
Ramli menganggap sejak didengungkan oleh Nadiem program itu
baru sebatas gimik dan slogan. Sebab berdasarkan data IGI, lebih
dari 60 persen guru tidak bisa menggunakan teknologi. Hal inilah
yang menjadi keprihatinan bagi MRR, Program Merdeka Belajar
beliau artikan dengan sistem belajar terserah.

Sistem belajar yang ditawarkan Kemendikbud selama masa
pandemi Covid-19 banyak membuat para guru kebingungan,
terutama guru-guru yang selama ini belum mengenal teknologi.
Nah di tengah kemelut ini ketua IGI hadir dengan sukarela tanpa
memungut biaya. Beliau sengaja memberikan pencerahan
terhadap guru-guru di seluruh NKRI baik di kota maupun di desa.
Semangat beliau dan para pengurus IGI mampu membangkitkan
gairah para guru di seluruh NKRI untuk memulai gerakan seayun
selangkah, artinya para guru harus menyamakan visi dan misinya
untuk menyelesaikan permasalahan dalam dunia pendidikan yang
semakin hari semakin dianak tirikan. Untung saja ada kepedulian
dari seorang putra bangsa yang sangat perhatian terhadap dunia
pendididkan seperti MRR. Sehingga para guru dalam komunitas
IGI mulai bangkit dan menggali potensi dirinya kembali di bawah
bimbingan MRR dan para pengurus IGI yang tersebar seluruh NKRI.

44 MRR

Saya sebagai pendatang baru sangat menyesal mengapa baru
sekarang bergabung dengan IGI. Padahal IGI sudah cukup lama
berdiri. Komunitas yang sangat luar biasa ini mampu membimbing
dan membina guru-guru agar lebih meningkatkan kompetensi.
Sehingga dengan kompetensi yang dimiliki akan meraih berjuta
prestasi. Di komunitas IGI banyak hal yang saya dapatkan, tidak
hanya ilmu tentang profesi sebagai seorang guru tapi di komunitas
IGI ini juga diajarkan bagaimana supaya melek teknologi. Terus
terang sejak bergabung dengan IGI banyak perubahan yang saya
rasakan. Terutama untuk saya aplikasikan dalam dunia pendidikan.
Selain itu perubahan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya
adalah setiap hari saya terbiasa menulis, minimal 200 kata. Kalau
tidak menulis serasa ada yang kurang, sehingga menulis sudah
menjadi suatu kebutuhan bukan lagi suatu kewajiban.

Nilai lebih dari komunitas IGI yang tak kalah pentingnya adalah
saya bisa berbagi dengan guru-guru seluruh NKRI, saling support
dan saling menghargai. Bahkan kami saling memuji, tidak pernah
mencaci dan menganggap diri paling tinggi. Semua rela berbagi
demi cita-cita anak negeri, sesuai dengan motto IGI “Sharing and
Growing Together’.

Terimakasih yang setinggi-tingginya saya ucapkan kepada
Bapak Muhamamad Ramli Rahim dan seluruh pengurus IGI yang
tidak bisa saya sebutkan satu persatu, sudah menerima saya sebagai
anggota IGI dan membimbing saya untuk lebih baik lagi untuk
mewujudkan cita-cita nasional yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa. Jayalah Indonesia bersama IGI. Bersama Kita Bisa

Antologi Bersama 45

Sosok Penggerak yang Menggerakkan

Diana Mulawarmaningsih

(GI Kab. Katingan Kalimantan Tengah~NTA.2017140000035)

“Kepemimpinan yang hebat biasanya dimulai dengan kesediaan
hati, sikap positif, dan keinginannya untuk membuat perbedaan.”

(Mac Anderson)

Kata bijak yang disampaikan oleh Mac Anderson di atas,
tampaknya cukup menggambarkan tentang sosok Muhammad
Ramli Rahim (yang kerap disapa MRR atau Daeng). Sosok yang saat
ini menjadi orang nomor satu dalam organisasi profesi guru yang
bernama Ikatan Guru Indonesia.

Meski saya tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat,
namun saya sebagai guru dan anggota IGI sempat bertemu
beliau secara langsung, yaitu saat TNP 2017, dan saat beliau
menghadiri kegiatan Seminar Nasional yang diselenggarakan
oleh PD IGI Barito Selatan. Pertemuan yang tidak terlalu lama itu
meninggalkan kesan yang cukup mendalam tentang sosok Daeng.
Bagi saya beliau sosok pemimpin yang low profile, dalam beberapa
pertemuan beliau tidak seperti pemimpin kelas nasional yang lain.
Beliau tidak ingin diperlakukan secara istimewa bagai ‘raja’, tapi
lebih memilih berbaur bersama anggota IGI yang lain, seperti yang
saya saksikan saat TNP yang lalu. Saat geladi resik acara beliau
ada bersama kami di sana. Kematangan berorganisasi membawa
diri sebagai pemimpin ditempa oleh pengalaman beliau dalam
berbagai organisasi yang dipimpinnya sejak mahasiswa.

Kiprahnya dalam membawa IGI lebih disegani di negeri ini
saya acungi dua jempol. Darah Makasar yang mengalir di tubuhnya
menambah kekhasannya dalam memimpin IGI tegas, vokal, dan
berani. Tidak ragu meski harus berbeda, tak peduli meski setelah

46 MRR

itu ia mendapat hujatan dari banyak orang yang tidak siap dengan
perubahan. Saya masih ingat dengan apa yang disampaikan beliau
saat di Barito Selatan, orasi singkat dalam kegiatan yang dihadiri oleh
Wakil Bupati Barito Selatan dan jajaran Muspida setempat, ternyata
membuat Ibu Wakil Bupati jatuh hati dan terpana dengan apa yang
disampaikan Daeng. Bahkan saat usai kegiatan Ibu Wakil Bupati
meminta agar video saat Daeng orasi saat itu harus dipastikan bisa
di-share ke seluruh wilayah Barito Selatan. Agar para guru terbuka
pikirannya, dan agar guru mau meningkatkan kompetensi dirinya
demi kemajuan pendidikan di Barito Selatan.

Ketidakpedulian Daeng pada resiko bakal ‘diserang’ oleh
banyak orang yang tidak siap menerima idenya juga ditunjukkan
pada saat beliau diundang oleh Mendikbud Nadeim Makarim.
Tampak tanpa ragu apalagi takut beliau menyampaikan beberapa
ide kepada Pak Mendikbud saat itu, meski idenya cukup
kontroversial. Dan bisa ditebak kemudian muncul berita di medsos
yang menanggapi, mencela, bahkan hoax bak jamur di musim
hujan dengan berita yang bombastis. Bahkan di tempat saya
bertugas saya terkena imbasnya, disindir oleh beberapa teman
yang tidak sepakat dengan usulan Daeng tersebut. Saya hanya
bisa menjawab, “Jangan buru-buru, jangan cepat termakan analisis
atau berita hoax. Coba bapak ibu cermati dan pahami benar-benar
secara komprehensif tentang usulan tersebut, dengan hati yang
jernih dan positive thinking.”

Menurut saya sebagai guru biasa, apa yang disampaikan
itu adalah realitas yang ada dan memang perlu dibenahi. Misalnya
tentang peniadaan guru honerer di sekolah-sekolah, memang
benar adanya. Maksud dibalik itu adalah agar semua guru adalah
PNS sehingga mereka bisa bertugas secara maksimal dan memiliki
pendapatan yang layak, serta sekolah tidak dibebani harus
membayar guru honorer.

Kemudian masalah kritikan kinerja pengawas sekolah yang
hanya membuang-buang anggaran karena dinilai tidak memberi
dampak yang signifikan terhadap kemajuan pendidikan. Memang
begitulah adanya. Di dalam praktiknya pengawas sekolah dijabat

Antologi Bersama 47

oleh orang yang sama sekali belum pernah menjadi kepala
sekolah. Sementara pengawas bertugas melakukan monitoring
dan evaluasi (monev) terhadap kinerja kepala sekolah dalam
melakukan fungsi managerial sekolah. Tentu saja ini berimbas
pada kinerja oknum pengawas yang malas-malasan dan tidak
melaksanakan kewajiban melakukan monev ke sekolah binaannya
dengan beragam alasan.

Di mata saya Daeng adalah seorang motivator yang selalu
mendorong kami anggota IGI di mana pun untuk tidak ragu
bergerak, ikut membantu meningkatkan kompetensi guru di
daerahnya masing-masing. Seperti yang selalu dikemukakan oleh
Daeng, bahwa pemerintah (Kemendikbud) BELUM SANGGUP
membantu para guru untuk meningkatkan kompetensi. Semangat
IGI untuk Sharing and Growing Together menjadi semangat bagi
anggota IGI untuk selalu bergerak dengan penuh keikhlasan dan
ketulusan hati.

Di bawah kempimpinan beliau IGI sudah membuktikan
dirinya sebagai organisasi teraktif dalam menggerakkan guru
di Indonesia untuk meningkatkan kompetensi melalui kegiatan
pelatihan yang dilakukan di seluruh pelosok dari tingkat nasional
hingga ke tingkat desa, tanpa bantuan dana APBD dari pemerintah
alias MANDIRI DALAM PENDANAAN. Sebuah pergerakan yang
tidak bisa dilakukan oleh Kemendikbud.

Daeng sudah membuktikan bahwa ia tidak hanya
pandai berorasi tapi sebagai pemimpin beliau juga mampu
menggerakkan organisasi IGI menjadi sebagai organisasi profesi
guru yang diperhitungkan di tanah air. Keorganisasian yang diisi
oleh para guru (bukan pejabat) menjadikan organisasi ini lebih
bebas dan luwes dalam bergerak.

Terima kasih Daeng, atas segala yang sudah dilakukan
untuk organisasi IGI dan untuk guru Indonesia. Kami masih
mengharapkan Daeng masih bisa memimpin organisasi IGI di
periode berikutnya. Semoga apa yang sudah Daeng perjuangkan
bersama IGI akan dicatatat menjadi amal saleh. Amin.

48 MRR

Sosok Pemimpin yang Revolusioner

Diny Hendrawati

IGI Kab. Pandeglang

Saat pertama mendengar kata IGI, ada sesuatu yang
menggelitik naluriku sebagai guru. Organisasi apa ini? Maka saat
diajak bergabung pun aku tak menolak, padahal aku belum kenal
apa itu IGI dan siapa pendiri IGI. Tapi informasi tentang IGI langsung
saya dapatkan dari Ketua Wilayah Banten. Visi dan misinya sungguh
mulia untuk dunia pendidikan. Apalagi dengan slogan“Sharing and
Growing Together”, begitu indah dan penuh makna. Makna yang
dalam untuk sebuah visi ke depan, dimana orang lain belum tentu
memikirkannya.

Pada setiap kegiatan workshop yang diadakan oleh IGI
Pandeglang, rasa kebersamaan yang menyatu membuat kami
merasa dalam suatu ikatan yang sama. Ditambah dengan sikap
narasumber yang rela berbagi ilmu dengan tulus ikhlas tanpa
adanya bayaran. Pengalaman pertama ditawari untuk menjadi
homestay bagi anggota IGI yang berdomisili di luar Banten, saya
terima. Nama programnya adalah Guru Bersaudara. Dan rasanya
seperti dengan saudara yang lama tidak bertemu, begitu mudahnya
kami akrab.

Kedatangan ketua umum IGI Muhamad Ramli Rahim ke
Pandeglang, membuatku semakin bangga menjadi anggota IGI.
Beliau adalah sosok yang visioner. Di bawah kepemimpinannya,
mampu membangun visi dan pemahaman yang sama tentang
kemajuan dunia pendidikan, memotivasi guru untuk meningkatkan
kompetensinya, membangun rasa kekeluargaan walau terpisah
oleh jarak yang jauh tapi terasa dekat di hati, dan mampu
membangun networking antar guru secara nasional sehingga bisa
berbagi pengalaman dalam proses belajar mengajar. Kami cinta IGI,
semoga IGI semakin berjaya dan sukses selalu.

Antologi Bersama 49

IGI Berjaya Bersama MRR

Dra. Djamilah Sujana, M.Si

Awal mengenal IGI dari MRR tahun 2017 secara langsung
di hotel Papandayan Bandung ketika mengikuti pembekalan
untuk ketua MGMP terpilih, hasil pemilihan GTK dalam program
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Sangat berkesan
apa yang disampaikan seorang anak muda yang memikirkan
bagaimana dana pa yang harus disumbangkan untuk kemajuan
pendidikan di Indonesia melalui IGI. Saya baru mengenal beliau
tapi langsung simpatik, beliau menawarkan untuk masuk di grup
IGI melalui no HP yang dikirimkannya, dari grup WA tersebut
saya lebih banyak mengenal kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Rupanya Kiprah Muhammad Ramli Rahim di kepengurusan Ikatan
Guru Indonesia  diawalinya ketika terpilih menjadi Ketua Ikatan
Guru Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan. Saat masih menjadi
Ketua IGI Wilayah inilah, Ikatan Guru Indonesia menyelenggarakan
kongres di Makassar. Pada Kongres II IGI tersebut MRR terpilih
secara aklamasi sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia
periode 2016-2021.

Pada masa kepemimpinannya dengan tekad beliau untuk
tetap komitmen pada program peningkatan kompetensi guru
IGI telah menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga terkait
peningkatan kompetensi guru. Ikatan Guru Indonesia kemudian
berkembang sangat pesat hadir di 34 provinsi di seluruh Indonesia
dan 495 kabupaten/kota serta melatih 1,5 juta guru dalam jangka
waktu 3 tahun kepengurusan. Saat ini napas Ikatan Guru Indonesia
berdenyut di hampir seluruh  kabupaten/kota seluruh Indonesia
dan Alhamdulillah IGI terus berperan dalam upaya meningkatkan
kompetensi guru Indonesia yang menjadi konsentrasi utama
Ikatan Guru Indonesia.

50 MRR

Dengan semangat “Sharing and Growing Together”, Ikatan
Guru Indonesia mendorong  guru-guru Indonesia meningkatkan
kompetensinya secara mandiri sehingga tidak lagi harus  terlalu
bergantung pada upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan
kompetensi guru juga tidak bergantung pada anggaran, siapapun
pemimpin organisasinya. Guru IGI dibangun dengan pola
memandirikan guru untuk meningkatkan kompetensi diri.

Memasuki era 4.0 Ikatan Guru Indonesia sesungguhnya sudah
jauh lebih awal mempersiapkan semua itu. Ikatan Guru Indonesia
dihuni dominan oleh guru-guru muda  dengan kemampuan
teknologi yang sangat mumpuni. Kini Ikatan Guru Indonesia
memiliki lebih dari 100 jenis kanal pelatihan dan dilatihkan setiap
saat kepada guru-guru di seluruh Indonesia sehingga hampir bisa
dipastikan apapun kebutuhan guru, IGI mampu membantu untuk
meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan

Tidaklah heran Ikatan Guru  Indonesia kini sangat diminati
oleh guru-guru yang mau meningkatkan kompetensi dan  keluar
dari zona nyaman sehingga mereka memiliki kemampuan tinggi
terutama dalam bidang teknologi pengajaran

Dibawah kepemimpian Ketua Umum Muhammad Ramli
Rahim dan Sekjen Mampuono, IGI seperi terbang tinggi dalam
peningkatan kompetensi guru dan pengembangan organisasi. Kini
IGI sudah hadir di 34 Provinsi di Indonesia dengan lebih dari 400
kabupaten/kota.

IGI terus berkembang memasuki babak baru, IGI pun
bertransformasi menjadi Induk Organisasi Guru dengan 100
Organisasi berbasis mata pelajaran dibawah nauangannya. Hal ini
terjadi karena pengembangan kompetensi guru memasuki babak
baru berbasis mata pelajaran. Dengan fokus pada mata pelajaran
diharapkan ke depan IGI mampu menjawab keterbatasan literasi
berbasis mata pelajaran dan rendahnya kompetensi profesionalisme
guru.

Antologi Bersama 51

Di bawah kepemimpinan sosok yang sering dipanggil MRR
ini IGI juga tetap melakukan advokasi terhadap para guru yang
memerlukan. Advokasi dilakukan oleh pengurus daerah, wilayah,
atau pusat sesuai kepentingan.

Selain dirinya secara personal, perusahaan yang dikelola
Ramli bersama istri, Nurul Fitriany Andi Alimuddin, juga tercatat
beberapa kali menerima penghargaan. Pengharaan tersebut
di antaranya  The Best Tutoring Highly Recommended of The
Year  dari Indonesia Achievment Center. Penghargaaan yang
ditandatangani  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia,  Muhammad Nuh, tersebut diberikan kepada Prima
Ranu College tanggal 7 Februari 2014 di Grand Inna Hotel  Bali.
Masih pada tahun yang sama, Prima Ranu College mendapat
penghargaan  The Best Favorite College of The Year 2014  pada
ajang  Leading Excellent Innovation Award  di Grand Sahid Hotel
Jakarta tangal 5 Desember 2014. Tahun 2015, Prima Ranu College
kembali mendapat penghargaan dari Indonesia Achievment Center
sebagai The Best Leading Education of The Year 2015. Penghargaan
ini diberikan di Grand Clarion Hotel tanggal 5 Juni 2015.

Tahun 2017 Muhammad Ramli Rahim mendapat
penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan,  Syahrul Yasin
Limpo. Penghargaan tersebut terkait usaha dan prestasinya dalam
meningkatkan kompetensi guru di Sulawesi Selatan bersama Ikatan
Guru Indonesia Sulawesi Selatan.

Ketika presiden Jokowi memilih Nadiem Makarim seorang
anak muda sukses berusia 35  tahun tentu saja hal ini menjadi
sebuah kegembiraan bagi Ikatan Guru Indonesia karena  hampir
bisa dipastikan ide dan pemikiran-pemikirannya akan sangat
sesuai dan sejalan dengan IGI. Sebagai upaya dan komitmen serius
Ikatan Guru Indonesia untuk menyiapkan guru yang  memiliki
kompetensi yang tinggi Maka IGI bersedia mengambil tanggung
jawab dari  pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru

52 MRR

tanpa harus diberikan anggaran. Ikatan  Guru Indonesia hanya
membutuhkan legitimasi agar pelatihan apapun yang dilakukan
oleh  Ikatan Guru Indonesia diakui dan mendapat penghargaan
yang layak dari pemerintah.

Betapa hebatnya ketua umum IGI, MRR memperjuangkan
para guru dengan upaya peningkatan kompetensinya yang
ujungnya akan menghasilhan peningkatan pada kualitas
pendidikan di negeri kita tercinta ini, sayang kalau bangsa ini tidak
melihatnya sebagai karya nyata dan sumbangan bagi negeri yang
tanpa pamrih. Saya sangat bangga dan berterima kasih kepada
Ketum IGI MRR, karena beliau dapat menghadirkan kanal-kanal
baru IGI sehingga saya dapat tergabung dalam SAGUSAKU IGI
diantaranya yang terus mengasah para guru menghasilkan karya
nyata.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada MRR
dan selalu melimpahkan keberkahanNya atas segala perjuangannya
untuk para pejuang pendidikan.

Antologi Bersama 53

Rekam jejak Founder Sagusaku IGI Rokanhulu

Efitri yeni, S.Pi

IGI Rokan Hulu Riau

Hari itu Saya berada disebuah pelatihan yang dilaksanakan
oleh Sagusaku IGI Rokan Hulu. Peserta pelatihan hampir dua ratus
orang yang terdiri dari Guru SD, SMP sampai SMA dan SMK Aula di
Kordik tersebut penuh. Kemudian acara pembukaan dimulai dan
dilanjutkan dengan Menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan
acara ceremonil yang biasa dalam pelatihan.

Dilanjutkan dengan Kata sambutan dari faunder IGI Ibu
Norbadriyah, itupun Saya Tahu karena ada dispanduk didepan.
Bu Norbadriyah memperkenalkan diri dan mulai memberikan
kata sambutan mewakili ketua IGI. Penampilannya yang energik
kemudian cara bicaranya membuat Saya termotivasi dan ingin
membuat sesuatu dan sangat memotivasi sekali. Sehingga Saya
yang awalnya hanya menginginkan sertifikat saja ternyata sampai
akhir pelatihan Saya mengikutinya.

Bu Nurbad panggilan akrabnya sangat berkesan bagi
Saya beliau walau tidak mengenal Saya namun pertanyaan yang
dilontarkan oleh peserta ditanggapi sangat baik. Sampailah Saya
diikutsertakan oleh Bu Afrianti sebagai Ketua IGI Rokan Hulu untuk
mencari FB Group SMS setelah berteman maka Saya dimasukkan
kedalam Wagroup Sagusaku IGI. Sampai akhirnya Saya membuat
tulisan yang setiap hari dikirim hingga sampai ke level 2. Walau
kadang Bu Nurbad orang suka keceplosan apabila ada yang tidak
berkenan, namun bagi Saya yang pemula sangat terbantu untuk
menjadi guru kreatif, dan mencoba menjadi guru yang literat kata
bu Nurbad.

Dalam membimbing Saya dan rekan yang lain menulis selalu
menginspirasi Saya untuk terus menulis. Tanpa paksaan Saya selalu
ingin mengirimkan tulisan menjadi orang yang pertama di Wall
Wag, di FB maupun di Group SMS. Dengan mengikuti Sagusaku
IGI Banyak manfaat yang dapat Saya peroleh ini, seperti pelatihan

54 MRR

memanfaakan IT untuk pembelajaran, forum Diskusi Guru, bertemu
orang-orang hebat diseluruh Indonesia. Tambah Ilmu, tambah
Teman dan Tambah Saudara. Sagusaku IGI memberikan Saya suatu
wadah untuk menyalurkan bakat menulis dan selalu membuat Saya
Haus akan Ilmu pengetahuan, dan juga menempa keingintauan
Saya selalu termotivasi.

Setelah mengenal IGI maka Saya baru tau bahwa Visi dan
Misi IGI adalah :

VISI, MISI, TUJUAN DAN MOTTO IGI
VISI:

Memperjuangkan mutu, profesionalisme, dan kesejahteraan guru
Indonesia, serta turut secara aktif mencerdaskan kehidupan bangsa.

MISI:
1. Mewujudkan peningkatan mutu, profesionalisme,

kesejahteraan, perlindungan profesi guru, dan pengabdian
kepada masyarakat.
2. Menjadi sarana dan wadah interaktif guru untuk tukar-
menukar pengalaman, ide, dan berbagi dalam cara
mengajar, pendekatan, metode, strategi dan teknik
mengajar, serta hal-hal baru dalam dunia pendidikan.
3. Memajukan pendidikan nasional, keguruan, dan
mencerdaskan kehidupan bangsa.
4. Menjalin kerja sama dengan semua pihak untuk
meningkatkan kemajuan pendidikan, mutu,
profesionalisme, dan kesejahteraan guru.

TUJUAN:
1. Menjadi sebuah forum yang terbuka bagi para guru, pegiat

dan pengamat pendidikan dalam upaya meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk meningkatkan
kualitas diri masing-masing di bidang pendidikan dan
keguruan.
2. Menjadi sebuah wadah tercetusnya ide-ide segar yang
berorientasi pada meningkatnya mutu generasi muda
penerus bangsa.

Antologi Bersama 55

3. Mendorong profesionalisme keguruan serta pendewasaan
dan kemandirian para siswa, baik yang masih dalam
proses belajar maupun lulusan.

4. Meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat
luas, untuk bersama-sama membangun masa depan
melalui pendidikan yang berkualitas bagi generasi muda

MOTTO:
“Sharing and Growing Together “
INDAHNYA BERBAGI DAN TUMBUH BERSAMA

Prinsip ini berarti bahwa para guru haruslah ‘memberi’ (to
share) lebih dahulu agar ia dapat maju dan berkembang (to grow).
Guru tidak ditampilkan dalam posisi pasif (penerima) belaka namun
justru dalam posisi aktif (memberi dan berbagi dengan sesama).
Dari Motto diatas telah Saya rasakan setelah menjadi Anggota IGI
saling memberi dan berkembang bersama.

Untuk Ketua IGI Pak M. Ramli Rahim, Saya tidak mengenal
Bapak, namun kiprah Bapak untuk memajukan dunia pendidikan di
Indonesia sudah Kami rasakan. Juga kepada Founder dan pengurus
IGI yang tidak bisa Kami sebutkan satu persatu, terimakasih sudah
bekerja keras untuk membuat Organisasi ini menjadi payung bagi
Guru di seluruh Indonesia. Yang bukan saja mendukung Program
Pemerintah, namun juga melindungi dan memperjuangkan hak-
hak Guru diseluruh Indonesia.

Khusus buat Bunda Norbad sebagai Founder Sagusaku IGI...
Saya sangat Apresiasi dengan Bunda yang rela mengorbankan
waktu Sabtu Minggu untuk keliling daerah memperkenalkan,
mensosialisasikan Visi dan Misi IGI untuk Guru Indonesia.
Terimakasih IGI sudah menjadi Tuan rumah bagi seluruh Guru
Indonesia.

Salam Literasi “Tingkatkan Kompetensi Raih berjuta prestasi”

56 MRR

IGI Membawaku Mewujudkan Impain

Fahrini, SP

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” Istilah
ini sepertinya cocok dengan apa yang saya alami. Mulanya hanya
ikut-ikutan saja, pertama kali ikut kegiatan IGI sekitar bulan Oktober
2019 tentang pembuatan flyer kegiatan VCT di Katingan, itupun
karena diajak teman. Jujur saya belum mengenal IGI dan kegiatan
apa saja yang ada didalamnya. Yang pasti tujuan saya ikut pertama
kali adalah untuk menambah ilmu pengetahuan .

Kegiatan kedua IGI yang saya ikuti pada bulan Januari selama
tiga hari dari tanggal 24-26 tahun 2020 dalam Pelatihan Guru
Menulis Satu Guru Satu Buku (SAGUSAKU) . Jujur, kegiatan ini
memang keinginan saya sendiri untuk mengikutinya karena saya
tertarik dengan materi yang ditawarkan tentang pelatihan menulis
buku.

Saya baru tahu, melalui kanal Satu Guru Satu Buku
(SAGUSAKU) Ibu Noerbad selaku penanggung jawab , Ibu Norha,
Ibu Diana berserta tim lainnya tidak pernah bosan mengajak dan
memfasilitasi guru-guru hebat di tanah air untuk terus berkarya.
IGI dibawah kepemimpinan Muhammad Ramli Rahim yang
lebih dikenal dengan MRR telah mampu membangkitkan gairah
pengembangan kompetensi guru terus meningkat. IGI telah
mengubah banyak hal dalam dunia pendidikan, terutama dalam
hal peningkatan kompetensi guru untuk terus bergerak, berjuang
untuk membuktikan hasil karya guru-guru hebat di seluruh
Indonesia dalam bentuk tulisan.

Melalui kegiatan SAGUSAKU IGI di bawah pimpinan MRR
mampu menggali dan memupuk bakat-bakat tersimpan yang
mungkin selama ini tidak tersalurkan dalam wadah yang tepat. Satu
hal yang paling mendasari saya untuk ikut adalah karena hobby
saya menulis sejak saya masih di bangku Sekolah Dasar hingga
SMA. Walau dengan tulisan yang sederhana, saya suka menuangkan
setiap isi fikiran saya dalam lembaran-lembaran buku atau kertas,

Antologi Bersama 57

baik itu berupa puisi maupun cerpen. Ada kepuasan tersendiri saat
orang lain tertarik untuk membaca hasil goresan tangan saya.

Sayangnya, dulu saya tidak punya media untuk menyimpan
setiap tulisan dalam wadah yang memadai. Mesin ketik aja belum
punya, apalagi handphone. Laptop atau komputer bagi saya
barang mahal dan saya pun belum bisa mengoperasikannya. Media
itu sangat langka dan susah untuk saya upayakan. Karena orang
tua saya juga bukan orang yang berada dan tidak berpendidikan
tinggi.

Saat itu semua hasil tulisan saya hanya berupa lembaran-
lembaran tulisan tangan. Yang apabila di pinjam dan dibaca teman-
teman akan lusuh dan rusak bahkan robek. Setelah itu hilang tak
tersimpan. Nasib memang, punya hobi tak tersalurkan. Hingga
saya melanjutkan kuliah dan menikah. Keinginan saya untuk jadi
penulis akhirnya terkubur dalam-dalam.

Tiga belas tahun setelah saya menjalani profesi saya sebagai
guru. Keinginan menulis sempat tumbuh kembali. Namun
keterbatasan waktu dan ide yang sering muncul tenggelam
membuat saya sering tak bisa menyelesaikan tulisan saya. Walau
sebenarnya saya sangat punya hasrat untuk menulis hingga
mempunyai buku hasil karya sendiri. Entahlah, bagi saya itu bagai
mimpi belaka. Keinginan itupun hanya tinggal angan. Bahkan
kegiatan menulis pun mulai saya tinggalkan.

Hingga kali kedua saya mengikuti kegiatan IGI (Satu Guru Satu
Buku) yang menyentil hati saya untuk kembali memecut semangat
yang sempat hilang. Saya ingin kembali menulis, meneruskan
cita-cita saya untuk berkarya, menyalurkan imajinasi berfikir dan
merangkai kata dan menuangkannya dalam bentuk tulisan hingga
bisa menjadi sebuah buku.

Alhamdulillah, melalui kegiatan SAGUSAKU IGI akhirnya
impian saya itu bisa menjadi kenyataan. Saya bisa menyelesaikan
tulisan saya dalam bentuk novel dalam waktu 23 hari. Ini adalah
buku pertama saya yang terbit melalui kerja keras IGI yang ikut
andil dalam membangun semangat juang untuk terus menulis dan
berkarya, berbagi dan saling menginspirasi.

58 MRR

Saya bangga telah menjadi bagian dari keluarga besar IGI.
Melalui SAGUSAKU IGI telah membawa saya merajut impian, dan
saya sudah membuktikannya. Tidak ada hal yang tak mungkin,
selama kita mau terus belajar dan berusaha, kita pasti bisa. Hingga
kini saya masih bergabung di grup SMS (SAGUSAKU MENULIS
SMART) IGI agar kemampuan menulis saya semakin terasah..
Bersama IGI raih berjuta prestasi. Terus berkarya dan menebar
kebaikan lewat tulisan.

Terimakasih IGI dan seluruh tim penggerak yang ada di
seluruh negeri , bersamamu aku bisa menggapai impian. Jangan
berhenti berkarya, melalui tulisan kita tak akan pernah mati. Kita
akan terus hidup dalam tulisan dan karya sepanjang jaman.

Semoga Menginspirasi.
Salam Literasi

Antologi Bersama 59

MRR di mata Guru Indonesia

Fatlun Thaib

Secara pribadi, saya tak mengenal beliau, namun sekitar tiga
tahun terakhir, kata IGI terus seolah berseliweran dalam benak saya,
hal ini bermula dari postingan seorang teman tentang kegiatan
yang dilaksanakan oleh IGI. Tak bisa menahan rasa penasaran
melalui akun jejaring sosial ku ketik nama IGi di fasilitas pencarian.
Ku temukan beberapa Grup IGI di sana. Setiap saat tak pernah
kulewat kesempatan untuk mampir pada grup itu. Di sana ada
banyak orang-orang hebat, dengan gebrakan-gebrakan dalam
dunia pendidikan yang sangat luar biasa.

Rasa penasaran terus membuncah, saya selalu berharap
mendapatkan kesempatan untuk bisa belajar bersama orang-
orang hebat dalam organisasi itu. Di akhir tahun 2019, harapanku
terwujud saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan
yang di selenggarakan oleh IGI.

Di ruangan itu terpampang sebuah spanduk bertuliskan
pelatihan menulis buku hingga terbit, saat itu Founder SaguSabu
Ibu Nurbadria yang menjadi pemateri. Di luar dugaan saya, materi
kepenulisan kali ini sanagt berbeda dengan pelatihan yang pernah
saya ikuti. Banyak hal baru yang saya peroleh di sana. Bukan
hanya tentang ilmu kepenulisan tetapi bagaimana memanfaatkan
teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta
menciptakan pembelajaran yang menarik.

Rasa penasaran terus tumbuh, sebenarnya IGI itu apa?
Mengapa ada banyak guru -guru hebat di IGI?

Akhir Maret 2020, ketika bergabung dalam grup SMS yang
di prakarsai oleh Founder sagusaku IGi Ibu Nurbadria, Ibu Mira
Pasolong dan Ibu Huzaima. Perlahan saya mulai mengerti. Di IGI,
di penuhi dengan orang-orang yang ikhlas berbagi, meluangkan
waktu, pikiran dan tenaga untuk pendidikan.

60 MRR

Tanggal 23 Mei 2020, saya mengikuti Advanced Training

Online yang di hadiri oleh para pendiri IGi, serta ketua IGI saat ini
Muhammad Ramli Rahim. Melalu Training Online itu saya mengerti
bahwa Organisasi ini di dirikan oleh orang-orang hebat. Dan
sedang di pimpin oleh pemimpin yang hebat serta rela berkorban
untuk kepentingan masa depan Pendidikan.

Nama MRR atau Muhammad Ramli Rahim tidak bisa di
pisahkan dari IGI. Beliau adalah salah satu diantara sekian orang
yang terus berjuang untuk meningkatkan kompetensi guru.
Beliau juga tetap melakukan advokasi terhadap para guru yang
memerlukan. Advokasi dilakukan oleh pengurus daerah, wilayah,
atau pusat sesuai kepentingan guru.

Banyak hal yang telah dilakukan oleh MRR untuk
terus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Jauh
sebelumCovid-19 memporak-porandakan tatanan kehidupan,
termasuk tatanan ealam.dunia pendidikan, MRR bersama IGI telah
berinovasi memanfaatkan teknologi untukmwningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia.

Berbagai pelatihan baik Miring maupun daring terus dilakukan,
hingga akhirnya COvid-19 menyapa kita, aktivitas pendidikan
semua aspek ikut merasakaan dampaknya, ketika sekolah-sekolah
dan guru serta sektor-sektor pendidikan berbondong-bondong
menemukan solusi terhadap permasalahan ini, MRR dan IGI sudah
melakukannya jauh-jauh hari.

Namun hal tersebut tidak membuat MRR dan IGI berhenti
berinovasi, di saat seperti inilah geliat IGI makin nampak di
permukaan. Melakui IGI MRR terus memberikan motivasi bagi guru
Indonesia untuk terus belajar, menyesuaikan dengan tantangan
situasi dan jaman. Melalui ikatan Guru Indonesia, beliau terus
memotivasi serta melatih guru untuk meningkatkan kompetensi
guru itu sendiri.

Tak hanya itu, Kurikulum pendidikan di Indonesiapun tak luput
dari perhatian ketua IGI ini. Sebagai contoh tentang penghapusan
pembelajaran bahasa Inggris di jenjang SMP dan SMA yang menjadi
salah satu ternding topik di antara 10 usulan IGI kepada menteri

pendidikan.

Antologi Bersama 61

Hal ini di dasarkan pada pemikiran bahwa seharusnya
kemampuan berbahasa asing(bahasa Inggris) harusnya sudah
dikuasai anak-anak Indonesia sejak dini. Agar kelak kemampuan
berbahasa ini bisa digunakan untuk menyerap atau memperlajari
dan dapat digunakan untuk mendapatkan ilmu lain yang lebih
bermanfaat.

Selian itu peningkatan kesejahteraan guru pun tidak lepas
dari perhatian dari sosok yang telah memimpin IGi selama empat
tahun ini. Dalam 10 usulan IGI ke Mentri Pendidikan Nadim
Makarim yakni memperjelas status guru honorer dan memberikan
pendapatan yang layak.

“IGI ingin menarik segala potensi anggaran negara untuk
memperjelas status guru dan memberikan pendapatan layak bagi
guru dimanapun mereka bertugas di seluruh wilayah Indonesia.
IGI bahkan bersedia mengambil tanggungjawab peningkatan
kompetensi guru seperti yang sudah dilakukannya selama ini
sehingga anggaran pemerintah untuk kompetensi guru dialihkan
untuk mengangkat guru baik dengan status PNS maupun status
PPPK dan memaksa Yayasan memastikan semua gurunya berstatus
GTY (Guru Tetap Yayasan, red),» tulisnya

MRR menambahkan gaji guru RP. 100.000 perbulan adalah
bentuk penghinaan terhadap profesi guru.

MRR di mata saya sebagai guru Indonesia adalah sosok
luar biasa yang terus berusaha, mengambil peran penting dalam
peningkatan kualitas pendidika di Indonesia, bukan hanya dari
segi peningkatan kualitas guru, kurikulum, namun beliau juga
turut memikirkan bagaimana meningkat kan kesejahteraan guru-
guru di Indonesia.

Seluruh waktu dan pikiran MRR tercurahkan untuk
peningkatan dunia pendidikan. Beliau mendedikasikan seluruh
hidupnya untuk IGI. Seolah tak ada kata berhenti berjuang dalam
kamus MRR.

Bangga Mengenal IGI, dan Tokoh-tokoh hebat IGI
Gorontalo, 09 Juni 2020

62 MRR

IGI di bawah kepemimpinan MRR

Fety Adi Setyana, S.Pd

IGI dibawah kepemimpinan MRR menurut saya sangat luar
biasa hebatnya. Walaupun saya baru gabung tanggal 18 Mei 2020.
Tapi saya sudah membaca beberapa sejarah tentang perjalanan IGI
yang penuh dengan perjuangan. Hingga saya sendiri merasakan
bagaimana perjuangan MRR terhadap IGI.

Dengan cara melakukan terobosan-terobosan yang sangat
cepat dalam mewujudkan IGI tetap Unggul dan Berjaya.

Adapun terobosan-terobosan yang dilakukan MRR salah
satunya yang saya ikuti sekarang. Yaitu SMS SaguSaku Menulis
Smart bersama ibu Nurbadryah, M.Pd selaku penanggung jawab
beserta tim yaitu Ibu Huzaimah dan Ibu Mira.

Ditangan beliaulah SMS SaguSaku semakin luar biasa. Karena
bisa menghasilkan penulis yang hebat. Menjadikan para penulis
SMSIGI seperti Bintang bisa masuk layar TV melalui AQLIS TV Kado
Untuk Negeri. Penulis SMSIGI juga kerjasama menggunakan siaran
system Lark dan menggunakan livestreaming Webex sebagai
berbagi Ilmu bagaiman cara menjadi Guru hebat.

IGI dibawah kepemimpinan MRR bersama timnya sangat maju
pesat. Bisa dilihat dengan banyaknya yang bergabung menjadi
anggota IGI dan bisa juga dilihat dari menghasilkannya para penulis
hebat melalui SMS SaguSaku di seluruh Indonesia yang mencapai
ratusan Guru. Apalagi di musim pandemic seperti ini semakin
banyak yang masuk menjadi anggota IGI. Terutama di SMSIGI.

IGI melalui SMS SaguSaku Menulis Smart tidak pernah bosan
berbuat dan memfasilitasi guru hebat di tanah air untuk terus
berkarya. Hingga kata ragu, malu, tidak bisa menulis dan tidak
percaya diri hilang seketika dengan mengikuti SMS SaguSaku.

Antologi Bersama 63

Tujuan SaguSaku IGI adalah menggali dan memupuk
bakat. Dengan cara tidak menunggu di fasilitasi negeri dan siap
membangun negeri. Karena sadar akan begitu luasnya Indonesia
untuk di telusuri.

Selain SMS SaguSaku, IGI juga banyak terobosan lainnya yang
tidak kalah unggul untuk menghasilkan Guru berkwalitas demi
masa depan Indonesia dalam dunia pendidikan.

Yaitu, dengan cara membuat program kerja: Sagusatab,
Sagusanov, Sagusadro, Sagusamik, Sagusampi, Sagusablog,
Sagusakti, Sagusaku, Sagusaegem, Sagusanimasi, Sagusacpad,
Diklat guru Non IT, Diklat Lectora, Diklat Geogebra, Gerakan Guru
Berintegritas, Diklat Guru Ramah Anak, Menemu Baling, Gerakan
Hemat Energi dan Penciptaan Energi Baru dan Terbarukan, Gerakan
peningkatan kemampuan guru inklusi dan pendidikan untuk
semua, Gerakan Guru Saudara, Gerakan Bayar Balik dll.

Sesuai dengan Motto IGI yaitu“Sharing and Growing together”
untuk mendidik Guru dan membangun Bangsa Indonesia dengan
melahirkan Guru-guru Hebat di Seluruh Indonesia.

Dengan program kerja tersebut, guru seluruh Indonesia
bergerak cepat melakukan pelatihan-pelatihan untuk menjadikan
guru yang tidak ketinggalan zaman. Yaitu mengerti akan IT.
Karena IT saat ini sangat diperlukan sebagai penunjang media
pembelajaran.

Walupun sebenarnya IT tidak akan pernah bisa menggantikan
Guru. Karena Guru lah yang selalu tetap di tunggu kehadirannya.
Guru juga tetap menjadi yang terbaik untuk mengajar siswa
siswinya.

Itu semua saya lihat dari beranda FB banyak sekali guru-guru
seluruh Indonesia melakukan pelatihan melalui IGI. Terutama masa
pandemic seperti ini sangat diperlukan mengerti akan IT untuk
menunjang pengajaran ONLINE atau DARING bagi daerah yang
sudah memiliki jaringan internet.

64 MRR

Jadi, Di bawah kepemimpinan MRR. IGI sangat luar biasa.
Karena, selain Guru-guru di seluruh Indonesia. saya sendiri juga
merasakannya sendiri bagaimana kehebatan MRR merangkul
guru-guru Indonesia untuk menjadikan Guru hebat, unggul dan
berkwalitas demi masa depan dunia Pendidikan di Indonesia.

Hidup IGI…
Jaya Selalu
Tetap Unggul
Berkwalitas
Dan Terdepan
Karena IGI…
Dari yang tidak tahu apa-apa, menjadi tahu...
Dari yang tidak percaya diri, menjadi percaya diri…
Dari guru yang membosankan
menjadi guru yang selalu dirindukan akan kehadirannya…

Bengalon, 07 Juni 2020
Kabupaten : Kutai Timur
Propinsi : Kalimantan Timur

Antologi Bersama 65

Ternyata MRR

Hernita, S.Pd

SDN 019 Sungai Gantang
Muncul tiga huruf  di dinding WhatsApp Grup, huruf tersebut

iyalah MRR. Awalnya  MRR itu menurutku adalah sebuah kanal
yang ada di IGI. Dicari di saluran kanal-kanal yang tersedia tidak
ada Aku temukan MRR.

Tidak lama berselang muncul layer untuk masuk kesebuah
roomwebex. Dihari yang sudah ditentukan Aku pun hadir di sana.
Perbincangan dengan ketua umum IGI, diikuti daring dengan
serius.

Pada saat daring melalui webex beliau menyampaikan
bagaimana perjuangannya menghadapi pandangan pemerintah
dan para petinggi, serta para guru  terhadap IGI. Rasanya
perjuangan beliau patut diistilahkan dengan  berdarah-darah.
Bagaimana beliau mengiklaskan bisnis propertinya tidak terurus
demi sebuah organisasi yang memberi manfaat untuk banyak
orang terutama para guru. Para guru dibimbing diberi pelatihan
agar profesi guru bermartabat.

Tidak berapa lama setelah acara di wabex muncul pula warta
SAGUSAKU berupa tiga pilihan menulis tentang MRR. Nah, Aku
kembali bingung apa itu MRR. Karena tidak memahami maksud
huruf MRR, aku urungkan niat untuk menulis. Entah berapa lama
sudah aku ketinggalan kabar kemajuan tentang tulisan yang
diminta oleh PJ kanal SAGUSAKU itu.

Hingga di Senin pagi  Ibu Yusfi yang baik nan lemah lembut
itu menelpon menanyakan apakah sudah selesai tulisan tentang
MRR. Aku jawab saja dengan jujur bahwa aku belum mendapatkan
berita tentang MRR itu. Lalu kutanyakan padanya apakah MRR itu
sebuah kegiatan dalam organisasi IGI. Mendengar pertanyaan itu
terdengar tawa renyahnya di seberang sana. MRR itu nama orang
bukan sebuah kegiatan. Mendengar  penjelasan darinya membuat
gelakku memecah ruangan kantor karena aku memang sedang
berada di sekolah.

66 MRR

Sejak saat itu barulah aku paham ternyata MRR itu nama
singkatan seseorang. Beliau adalah ketua umum IGI.  Setelah
tahu itu singkatan nama orang berati itu nama dari Muhammad
Rizal Ramli. Agar bisa menulis tentang beliau aku berselancar di
dunia maya mencari kabar atau sekedar biodata beliau. Begitu di
ketik nama yang dicari muncul wajah orang lain. Kok ini wajahnya
kemaren waktu di webex lain gumamku seorang diri di depan
layar Handphone. Ah sudahlah nanti bertanya lagi sama ibu Yusfi
mungkin dia punya link orang yang dimaksud.

Sebelum bertanya aku masih berusaha mencari tahu, dicoba
membuka link IGI, karena masih baru tiga bulan bergabung di
organisasi hebat ini sehingga aku belum mahir membuka setiap
sudut-sudut kanal yang ada. Berhubung batrai Handphone habis
kuputuskan berhenti mencari kabar tentang MRR.

Sekitar pukul dua belas siang muncul lagi tulisan MRR dari
Bu Nur Badriah. Kesempatan itu tidak disia-siakan aku memberi
komentar bahwa masih kurang informasi MMR. Setelah komentar
di kirim aku baru ngeh ternyata huruf yang kukirim itu salah yang
benar MRR. Dan jawaban dari Bu Nur Badriah membuat aku tersadar
bahwa nama yang di maksud bukanlah Muhammad Rizal  Ramli
tetapi Muhammad Ramli Rahim.

Hari ini tanggal 9 Juni 2020 SAGUSAKU tayang lagi di AQLIS
TV,  Pak Muhammad Ramli Rahim selaku Ketua Umum hadir. Beliau
menyampaikan bahwa pembelajaran daring di masa pandemi
belum memadai karena belum memenuhi standar pembelajaran.
Saran beliau sebaiknya pemerintah tidak lagi saling lempar
tanggung jawab. Hal penting yang  harus dilakukan sekarang
adalah membuat standar pembelajaran daring yang terarah serta
membenahi mutu guru. Jangan ada lagi guru yang tidak melek
teknologi.

Antologi Bersama 67

MRR Pejuang Pendidikan Sejati

Indrawati Kusumawardhani, SH

SMP Negeri 10 Kota Jambi

Siapa yang tidak kenal dengan Muhammad Ramli Rahim
biasa disapa dengan sebutan MRR? Semua guru di Indonesia pasti
mengenal juga kalangan masyarakat karena sepak terjangnya
di kancah dunia pendidikan yang tidak asing lagi. Seorang
pria yang terlahir di Maros, Sulawesi Selatan pada tanggal 23
Mei 1978. Di usianya yang masih muda telah banyak memiliki
segudang pengalaman. Berawal dari dunia politik dan bisnis yang
digeluti selama ini, kemudian berhijrah ke dunia pendidikan atas
kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh para pendiri IGI
sebelumnya. Para pendiri IGI memberikan keyakinan bahwa MRR
mampu mengemban amanah untuk meneruskan perjuangan
IGI dalam menggerakan dan memperjuangan para guru sebagai
pendidik yang nantinya bisa menjadi penerus dan tangan kanan
untuk membangun karakter dan moral menuju masa depan yang
lebih baik bagi peserta didik.

Jiwa kepemimpinannya tidak dapat diragukan sehingga
mengusung MRR menjadi Ketua Umum dalam Organisasi
Kependidikan yaitu IGI atau Ikatan Guru Indonesia secara aklamasi
pada periode 2016-2021 dalam Kongres II yang berlangsung dari
tanggal 30-31 Januari 2016 di Kota Makasar. MRR ditunjuk untuk
membawahi kegiatan IGI yang awal mulanya di Sulawesi Selatan,
kemudian berkembang di wilayah Timur dan sekarang di suluruh
Tanah Air. Sepanjang perjalanannya memperjuangkan organisasi
guru, MRR pernah memperoleh penghargaan atas prestasi dalam
meningkatkan kompetensi guru di wilayahnya bersama IGI
dari Gubernur Sulawesi Selatan. Jauh Sebelumnya MRR pernah
menerima perhargaan sebagai Tokoh Penggerak Pembangunan

68 MRR

(2013 dan 2015) dan Tokoh pemuda Inspiratif (2016). MRR juga
berkecimpung dalam dunia bisnis bersama istrinya yang bernama
Nurul Fitriany Andi Alimudin yang tidak kalah juga memperoleh
berbagai penghargaan.

Prestasi yang luar biasa disandang MRR dan istrinya sehingga
kalangan masyarakat khususnya guru sangat mempercayai bahwa
seorang MRR mampu membangun dan memperjuangkan guru di
Indonesia menuju masa dengan yang lebih cemerlang, dibuktikan
dengan membela hak-hak para guru yang tersisih dan tidak dihargai,
termasuk memperjuangan guru-guru honorer.Tanpa guru dunia
pendidikan tidak bisa maju. Dengan guru, pendidikan mampu
menghasilkan putra-putri bangsa meraih prestasi yang lebih bagus.
Guru mampu menciptakan kreatifitas dalam pengembangan
dirinya, dan berkolaborasi dengan segala kegiatan terutama yang
digerakan oleh IGI yang beranggotakan ribuan guru.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) adalah organisasi yang
beranggotakan guru, dosen dan pemerhati pendidikan di Indonesia.
Organisasi ini berdiri pada tanggal 26 Nopember 2009 dan diakui
pemerintah, disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM dengan
Surat Keputusan Nomor AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009. IGI ada,
bukan serta merta lahir tanpa perjuangan. Berbagai lika-liku dalam
mendirikan dan membangun bersama para pendiri sebelumnya
untuk mendapatkan kesetaraan dengan organisasai yang ada,
Geraknya penuh tantangan dan gejolak. Upaya demi upaya terus
dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Menjalin
kerjasama dengan berbagai lembaga untuk mendudukung setiap
kegiatan guru di bawah naungan IGI, salah satunya PT. Samsung
yang siap dengan sukses membantu IGI dalam even-even pelatihan.
Keberhasilan MRR patut diacungi jempol. Di bawah kepemimpinan
MRR, IGI semakin berkembang dan mengepakkan sayap ke seantero
jagad. MRR tidak pernah tidur senantiasa memikirkan bagaimana
langkah-langkah untuk ke depannya. MRR selalu memberikan

Antologi Bersama 69

apresiasi bagi guru agar tetap bersemangat dalam belajar. Tanpa
rasa lelah MRR terus melangkah maju melawan tantangan dari
berbagai kalangan, tidak menyurutkan apa yang telah menjadi
harapan dan cita-cita MRR bersama IGI.

IGI telah membuka mata para guru dalam mengembangkan
kompetensi dengan berbagai kegiatan yang ada melalui kanal-
kanal pelatihan sesuai bidang masing-masing. Di sana banyak
diperoleh materi, wawasan, pengalaman dan saling mengenal
antara guru di seluruh wilayah Indonesia.Tiada henti MRR dibantu
para penggerak IGI untuk semakin mengembangkan programnya.
IGI senantiasa memegang prinsip untuk saling berbagi informasi,
berbagi pengalaman praktik dan saling menumbuhkan rasa
kebersamaan di antara para guru. Bahkan IGI nyaris tidak berhenti
dengan segala aktivitas kegiatan untuk meningkatkan kompetensi
para guru Indonesia. Terus bergerak untuk meraih berjuta prestasi.
Membangun mimpi-mimpi para guru yang terpendam. Progres
nyata telah ditunjukan dengan kemampuan yang dimiliki secara
maksimal. Terbukti dengan minat para guru untuk bergabung
dalam IGI. Forum komunikasi yang dibentuk menciptakan ide-
ide yang semakin berkembang, mengajak guru-guru di Indonesia
dalam mengikuti pelatihan yang ada sehingga dapat diterapkan
atau direalisasikan di sekolah dalam kegiatan belajar mengajar
mampu mendorong peserta didik menjadi lebih semangat
belajar dan menciptakan generasi yang lebih mumpuni penuh
inspirasi dalam memajukan Negara dan bangsa Indonesia. IGI
mampu mencuri hati para guru, disenangi dan diminati karena IGI
menarik dan banyak membuat program-program yang fantastis
serta melahirkan guru yang melek ICT, senang membaca dan
rajin menulis. Sebenarnya program yang ada di IGI tidak hanya
diperuntukan bagi guru saja, akan tetapi bagi peserta didik dengan
gerakan literasi di sekolah (menulis dan membaca). Banyak hasil
karya guru dan peserta didik dengan menghasilkan buku. Setiap
kegiatan yang dilaksanakan selalu dipublikasikan sehingga setiap

70 MRR

orang cepat mengetahui perkembangan dan program IGI yang
hebat ini. IGI terus berkonsentrasi penuh untuk meningkatkan
kompetensi guru.

Semangat MRR senantiasa memotivasi minat guru untuk
terus memacu dalam belajar terlebih pada saat sekarang ini di
seluruh dunia sedang berduka karena wabah pendemi Covid-19
sehingga dalam proses pembelajaran menjadi terganggu. Jika
sebagian guru tidak melek ICT atau kemampuan teknologi yang
minim tentunya akan mempersulit dalam pembelajaran melalui
daring karena diberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh. Guru merasa
bersyukur dan bangga terhadap kegiatan yang ada pada IGI
selama ini dan tentunya membawa hikmah bagi semua masyarakat
khususnya orang tua peserta didik. Di mana dalam kegiatan IGI
salah satunya memanfaatkan teknologi yang ada seperti internet
dalam penggunaan gadget sehingga pembelajaran lebih menarik
dan membantu mencari materi yang ada pada dunia maya. Apalagi
sebagai guru milenial pada era 4.0 dituntut akan kemampuannya
dalam mengolah pembelajaran menggunakan teknologi
canggih yang nota bene lebih meringankan dan mempermudah
pekerjaan selama pendemi, memang tidak semua terjangkau akses
dikarenakan kendala saluran jaringan di masing-masing daerah
tidak sama apalagi di daerah yang tertinggal, selain itu masih
banyak ketrampilan para guru dalam menggunakan teknologi
masih terbatas. Bukan hanya itu saja yang menjadi kendala
yaitu rendahnya kompetensi guru Indonesia baik kompetensi
profesional, kompetensi paedagogik, kompetensi sosial maupun
kompetensi kepribadian. Namun dengan adanya IGI, guru mulai
terpanggil untuk menggali berbagai pengetahuan dengan
mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dan guru sudah berubah
pandangan guna mengedepankan kemajuan pendidikan.

Muhammad Ramli Rahim (MRR) di mata guru Indonesia
tidak diragukan lagi akan semangat dan kemampuan mengelola

Antologi Bersama 71

dan membesarkan nama IGI. Banyak yang memberikan apresiasi
terhadap beliau akan keberaniannya di setiap even yang
diikuti untuk memperjuangkan dan membantu guru dalam
meningkatkan kompetensi sesuai kebutuhan dan keluar dari zona
nyaman. Bahkan dalam menghadapi masa new normal, solusi
pembelajaran yang ditanamkan oleh Ketua Umum IGI pada masa
sekarang, pembelajaran campuran atau blended learning adalah
pembelajaran yang terbaik untuk diterapkan oleh guru dengan
memanfaatkan teknologi modern, melakukan aktivitas belajarnya
di rumah. Di akhir kata, bergabung dengan IGI tidak ada ruginya
bahkan beribu manfaat yang dapat diperoleh guna meningkatkan
kompetensi guru ke jenjang selanjutnya. Terima kasih IGI yang
telah banyak membantu para guru menuju perbaikan dan masa
depan yang lebih baik. Salam Literasi.

Jambi, Juni 2020
Tertanda
Indrawati Kusumawardhani, SH

72 MRR

IGI di Bawah Kepemimpinan  Muhammad Ramli
Rahim (MRR)

Mekartinita, S.P, M.Sc

MAN 1 Merangin Jambi
      

Kiprah IGI adalah untuk meningkatkan kompetensi Guru
baik kompetensi profesional, kompetensi paedagogik, kompetensi
sosial maupun kompetensi kepribadian. Dibawah kepemimpian
Ketua Umum Muhammad Ramli Rahim melalui Kongres II IGI
yang terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Ikatan Guru
Indonesia periode 2016-2021, Dibawah kepemimpinannya, IGI
seperti terbang tinggi dalam peningkatan kompetensi guru dan
pengembangan organisasi. Kini IGI sudah hadir di 34 Provinsi di
Indonesia dengan lebih dari 400 kabupaten/kota melalui 99 Kanal
Kegiatan IGI yang berjuang meningkatkan kompetensi Guru di
Indonesia, menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga terkait
peningkatan kompetensi ini. Kendati fokus terhadap peningkatan
kompetensi guru, di bawah kepemimpinan sosok yang sering
dipanggil MRR ini IGI juga tetap melakukan advokasi terhadap para
guru yang memerlukan. Advokasi dilakukan oleh pengurus daerah,
wilayah, atau pusat sesuai kepentingan.

Banyak pemikiran dan perjuangan beliau di mata guru
Indonesia di antaranya : Pertama, memperjuang nasip guru honorer
menjadi PNS dan selanjutnya penghapusan guru honorer. Kedua,
sederhanakan beban kerja administratif guru saat ini terlalu besar.
Harus membuat laporan ke pengawas, dinas pendidikan daerah,
urusan sertifikasi, kenaikan pangkat, harus ada tanda tangan ini-
itu, dan sebagainya. Ketiga menyampaikan 10 Usulan Pendidikan,
Ketua Ikatan Guru Indonesia, dalam upaya merevolusi pendidikan
dasar dan menengah di Indonesia.

Keempat, Kini Ikatan Guru Indonesia memiliki lebih dari 100
jenis kanal pelatihan kan dan dilatihkan setiap saat kepada guru-

Antologi Bersama 73

guru di seluruh Indonesia sehingga hampir bisa dipastikan apapun
kebutuhan guru, IGI mampu membantu untuk meningkatkan
kompetensi sesuai kebutuhan. 

IGI dibawah kepemimpinan Muhammad Ramli Rahim (MRR)
sebagai Ketua Umum banyak melakukan terobosan dan percepatan
dalam pengembangan organisasi, melakukan terobosan untuk
GESS 2019 yang sukses dengan menghadirkan 1000 penulis dari
seluruh alumni sagusaku untuk hadir dalam acara GESS 2019
dengan ajang memamerkan buku-buku hasil karya mereka dan
menerima penghargaan untuk guru-guru hebat penulis tanah air.

Dan banyak lagi ide dan sumbang saran dari Beliau untuk
pendidikan nasional dan untuk meningkatkan kompetensi serta
kesejahteraan guru khususnya. Berbagai prestasi dan kemajuan
telah kita capai, 476 dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia
telah ada anggota IGI dan minggu lalu adinda Khairuddin
selaku Waketum Regional I mengabarkan telah rampungnya
kepengurusan IGI Wilayah Kepri yang menjadi pertanda
lengkapnya kepengurusan IGI di 34 Provinsi di Indonesia. 

Gairah pengembangan kompetensi guru terus bergelora,
atas kerja keras bersama lebih 300 pelatih IGI bergerak ke
berbagai pelosok tanah air baik dibiayai oleh PP maupun
swadaya guru di daerah yang dituju. Sekarang ini IGI telah sukses
membangun “trust” kepada berbagai pihak. Karakter aktivis IGI
yang mengutamakan prinsip berbagi dan saling menumbuhkan
betul-betul terasa hingga ke pelosok negeri. Samsung, Casio, Data
Script, Quipper, Ruang Guru dan beberapa perusahaan swasta
telah membantu IGI bergerak lebih cepat tanpa bergantung APBD
dan APBN. Bagi sebagian orang, 2,5 tahun mungkin bukan waktu
yang cukup untuk mengubah karakter guru dari diklat menerima
amplop menjadi diklat menanggung konsumsi sendiri, dari pelatih
menerima honor menjadi pelatih tanpa pamrih, berubah dari
trainer menjadi coach, berubah dari diklat di gedung-gedung

74 MRR

mewah menjadi diklat di tempat gratis dan nyaman. Semangat
itu telah berubah menjadi gerakan dan terus bergerak hingga tak
mampu lagi dibendung oleh para penghalang.

Hingga hari ini, masih banyak orang yang bingung, energi IGI
itu sumbernya dari mana?

Sponsorship tak seberapa, bantuan Kemdikbud tak pernah
ada bahkan dari pemda pun kadang kami hanya perlu selembar
kertas dukungan tetapi mampu melatih 987.123 guru hanya dalam
kurun waktu 2 tahun dan periode januari-juli 2018 pergerakan
pelatih IGI semakin tajam ke daerah-daerah terpencil. Mereka
tidak tahu bahwa energi IGI adalah energi gerak yang melahirkan
gerakan. IGI telah mengubah banyak hal dalam dunia pendidikan
terutama dalam meningkatkan kompetensi guru.

Sagusaku merupakan salah satu kanalnya IGI, yang eksis,
karena karyanya nyata, dan sudah mempunyai standar International
Standard Book Number (ISBN), melalui program menulis satu buku,
IGI berkomitmen menciptakan Guru yang berkompetensi dalam
menulis buku. Kuncinya guru harus mengikuti pelatihan, untuk
meningkatkan kompetensi diri, selain melatih kemampuan para
guru dalam menulis buku, IGI sendiri memfasilitasi karya buku guru
untuk pameran tingkat Nasional maupun Internasional.

Berkat Beliau dan TIM IGI melalui Nurbadriyah, penanggung
jawab Sagusaku IGI telah sukses dengan program GELIS yang
dilakukan serentak di 20 titik seluruh Indonesia, kegiatan 1000
penulis buku bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional RI dan
Ikatan Guru Indonesia (IGI) menggelar kegiatan Satu Guru Satu
Buku atau “Sagusaku” dalam rangkaian kegiatan Perpusnas Expo
2019. Melalui program ini, sebanyak seribu guru  menulis satu buku.
Seluruh buku akan diluncurkan pada Hari Pendidikan Nasional
(Hardiknas) pada 2 Mei 2020. Buku hasil karya dari para guru ini
membuat mereka menjadi lebih kompeten dalam bidangnya.
Disamping sering mengadakan pelatihan bagi guru di Indonesia

Antologi Bersama 75

dengan 3 (tiga) program unggulannya yaitu Sagusaku Menulis
Smart (SMS), Sagusaku Bersama Bintang (SBB), Lark.

Program Sagusaku benar- benar program komplit untuk
berperan aktif meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Semoga ke depannya Sagusaku IGI semakin maju dan berkembang,
semakin berperan meningkatkan kompetensi guru dan peserta
didik.  Namun semua kelelahan dan pengorbanan terbayarkan
setelah menerima sertifikat level satu dan dua dan telah mengikuti
Lark. Hari ini saya menyelesaikan 60 tulisan di level satu dan
dua. Rasanya tidak percaya bisa bersama para sahabat yang lain
menaklukan tantangan di hari ini, terima kasih Founder Sagusaku
Menulis Smart, Admin SMS, Lark IGI, dan sahabat semua.

Alhamdulillah sudah banyak ilmu yang didapat dan terus
belajar untuk menghasilkan karya. Sekecil apapun karya yang
dihasilkan akan mengangkat potensi dan menggali kemampuan
diri untuk terus berkarya, jangan biarkan padam hanya karena kata
yang mampu menyurutkan langkah untuk berkarya. Tingkatkan
kompetensi raih berjuta prestai.

76 MRR

Memimpin dengan Hati

Mulyanah

IGI Pandeglang

Siapa yang tidak kenal sosok seorang Muhamad Ramli Rahim
(MRR) bagi kita anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI), beliau adalah
Ketua Umum IGI. Sebagai ketua umum MRR telah memberikan
banyak kontribusi dalam dunia Pendidikan salah satunya yang
beliau sesalu konsen adalah tentang peningkatan kompetensi
guru, karena guru merupakan ujung tombak keberhasilan dunia
pendidikan untuk mencerdaskan generasi muda. Ditangan para
kaum mudalah maju mundurnya bangsa ini.

Banyak pelatihan yang dilakukan oleh IGI guna meningkatkan
kompetensi guru baik dibidang IT maupun bidang lainnya
yang menunjang tugas guru sebagai pendidik. Selama saya
menjadi anggota sudah puluhan pelatihan yang diikuti yang
diselenggarakan oleh IGI tanpa biaya alias gratis. Bayangkan bila
saya ingin ikut pelatihan tersebut di luar selain IGI betapa mahalnya
biaya yang musti dikeluarkan. Dan salutnya lagi para tutor/ pelatih
mereka dengan ikhlas berbagi ilmu kepada kami para anggotanya
tanpa pamrih imbalan apapun. Semua ini tidak lepas dari sosok
seorang MRR yang menekankan keikhlasan dan berbagi dengan
sesame sesuai dengan motto IGI “Sharing and Growing Together”
yang diterjemahkan bebas adalah saling berbagi dan tumbuh
bersama.

Pertama kali mengenal beliau adalah ketika pelantikan
pengurus IGI Banten, senyum tak lepas dari wajahnya membuat
kami para anggota IGI nyaman seakan tidak ada jarak dengan
beliau sebagai ketua umum dengan kami. Yang membuat saya
salut adalah dalam kondisi apapun jika di undang oleh kami untuk
mengikuti acara yang diadakan di daerah beliau selalu datang

Antologi Bersama 77

tanpa kenal lelah. Ini hal yang membuat saya sebagai anggota IGI
mengacungkan dua jempol buat beliau. Karena siapalah kami ini
hanya orang daerah ketika beliau sibuk denga segala kegiatannya
tetap datang menyempatkan waktunya ke acara walau sudah sore
hari yang diadakan IGI pandeglang di Baitul Hamdi Menes. Kami
pengurus IGI Pandeglang merasa terharu dan tersanjung sekali
atas kedatangan beliau.

Dibawah kepemimpinan MRR IGI semakin berjaya yang
tadinya banyak yang tidak mengenal dan tidak tahu IGI itu
apa, karena IGI merupakan organisasi profesi guru yang baru
dibandingkan para pendahulunya menjadi besar seperti sekarang
dan merupakan oraganisasi profesi guru yang konsen pada
peningkatan kompetensi guru. Bahkan ditingkat nasional banyak
pemenang penghargaan yang berasal dari organisasi ini. Karena
itu saya bangga menjadi salah satu pengurus dan anggota Ikatan
Guru Indonesia (IGI). Ini semua terjadi karena seorang pemimpin
yang memimpin dengan hati bukan karena materi.

78 MRR

IGI = MRR

Neli Fori Karliana

Berbicara tentang Ikatan Guru Indonesia (IGI) sama saja
dengan kita membicarakan Muhammad Ramli Rahim (MRR)
sebagai ketua umum IGI. Sejak MRR melantik saya sebagai ketua
IGI Kabupaten Pandeglang pada bulan Oktober 2016, sejak itulah
terasa sekali bagaimana hebatnya MRR memimpin IGI. Bukan
karena saya tidak tahu tentang ketua umum sebelum MRR, tapi
berdasarkan penjelasan Satria Darma bahwa IGI tanpa MRR akan
ambruk. Pernyataan ini bukan dongeng atau perumpamaan
belaka, saya sangat merasakan bagaimana MRR memajukan dan
melejitkan IGI sebagai organisasi profesi dengan jumlah anggota
terbanyak setelah PGRI dan paling berkompeten dari seluruh orprof
yang ada.

Sebelum menjabat ketua umum MRR sudah banyak
berkiprah dan berjuang keras memajukan IGI. Perjuangan yang
penuh pengorbanan, rela bersakit-sakit dan kehilangan proyek
yang bernilai miliaran rupiah. Tak mampu berjalan, kursi roda pun
berperan bahkan keluarga sejenak ditinggalkan yang penting
IGI terus bergerak dan maju. Dalam satu hari bisa melakukan
penerbangan lebih dari satu kali demi pembinaan IGI daerah-
daerah di seluruh nusantara. Sungguh perhatian yang begitu tulus
terhadap anggotanya. Bukan hanya sikapnya yang begitu tulus
memajukan IGI, MRR juga cerdas dalam melakukan terobosan-
terobosan spektakuler sehingga IGI semakin memiliki taring yang
tajam dan siap menggigit untuk memajukan pendidikan Indonesia.

IGI Kabupaten Pandeglang merasakan sekali perhatian dan
dukungan MRR terhadap kegiatan-kegiatan yang kami lakukan,
bahkan menyempatkan hadir meskipun menghadapi kesibukan
yang luar biasa. Saya setuju sekali ketika MRR mengatakan bahwa

Antologi Bersama 79

yang menjadi saingan IGI bukan orprof lain tapi kebijakan-kebijakan
yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Kemendikbud. MRR
akan terang-terangan menentang semua kebijakan pemerintah
jika kebijakan itu tidak berpihak kepada kebaikan guru-guru di
Indonesia. MRR tidak pernah gentar dan takut menghadapi segala
rintangan yang dihadapi IGI dalam perkembangannya.

Dibawah kepemimpinan MRR, IGI semakin menuju posisi
terdepan sebagai organisasi profesi yang betul-betul profesional.
Dengan jumlah kanal pelatihan yang semakin banyak dari 8
menjadi 68, sungguh peningkatan yang luar biasa. Dengan
kanal-kanal itu IGI terus bergerak dan menggerakkan guru-guru
di Indonesia agar kompetensinya meningkat sehingga dapat
menjawab dan memenuhi tuntutan zaman milenial ini. Tidak
tersirat sedikit pun dalam pikiran saya, siapa yang sanggup
menggantikan atau melanjutkan perjuangan dan kepemimpinan
MRR. Semoga Muhammad Ramli Rahim tetap diberikan kesehatan,
kekuatan, dan rizki yang banyak pada usianya yang ke 43 tahun.
Masih bisa eksis menjadi ketua umum sampai mendapatkan
generasi yang betul-betul bisa melanjutkan kehebatan IGI pada
masa yang akan datang.

80 MRR

Sepucuk Surat dari Tanah Rambang untuk MRR
Nur Emika, S. Pd

Assalamu’alaikum wr.wb. Semoga Bapak Muhammad Ramli
Rahim dan keluarga selalu dalam keadaan sehat wal’afiat. Barakallah
fii umrik ya Pak.

Saya Nur Emika salah satu guru yang mengajar di SMP Negeri
2 Rambang. Sekolah kami berada di Kabupaten Muara Enim namun
lokasinya lebih dekat ke kota Prabumulih daripada ke kota Muara
Enim.

Saya mulai bergabung dengan IGI pada November 2019.
Masih sangat baru jika dibandingkan dengan teman-teman yang
sudah malang melintang di SAGUSAKU Menulis Smart yang lain.
Grup menulis di Whatsapp dan Facebook yang tujuan utamanya
adalah menciptakan guru literat, yang pada akhirnya nanti setiap
guru mempunyai minimal satu buku.

Pak Muhammad Ramli Rahim (MRR) saya mengenal Bapak
pertama kali di webex meeting waktu hari ulang tahun Bapak 23
Mei 2020. Menurut pandangan saya, Bapak adalah orang yang
sangat bersemangat dan pantang menyerah. Ikatan Guru Indonesia
(IGI) empat tahun terakhir dibawah kepemimpinan Bapak sebagai
ketua umum sangat terasa geliat gerakan kemajuannya.

Semua kemajuan IGI tentu saja tidak bisa dipisahkan dari
kerja keras dan kerja cerdas para pimpinannya. Para pimpinan
yang bergerak dan menggerakkan. Karena tidak mungkin hanya
bergerak sendiri tanpa menggerakkan para rekan guru di berbagai
wilayah di seluruh Indonesia.

Di Muara Enim sendiri IGI sudah melakukan banyak kegiatan
literasi dan pelatihan guru. Khususnya yang berada dekat dengan
kota Muara Enim. Namun sayangnya di daerah yang berada jauh
dari kota geliat IGI masih belum terasa. Di sekolah dan daerah saya
sendiri anggota IGI masih bisa dihitung dengan jari. Dari yang
sedikit tersebut yang aktif mengikuti kegiatan IGI lebih sedikit lagi.

Khususnya di sekolah tempat saya mengabdi baru empat
orang yang menjadi anggota. Tetapi Alhamdulillah kepala sekolah
sangat mendukung IGI karena beliau juga telah menjadi anggota

Antologi Bersama 81

IGI terlebih dulu dari saya. Kami berusaha mengajak teman-teman
yang lain untuk bergabung dan maju bersama IGI. Semoga misi ini
akan berhasil nantinya walaupun mungkin butuh waktu.

“Showing, not telling”. Tunjukkan, bukan mengatakan.
Tunjukkan apa saja manfaat yang diperoleh dengan bergabung
menjadi anggota IGI bukan hanya dengan mengatakannya.
Seperti orang-orang katakan,” kami perlu bukti, bukan janji”. Nah,
seperti itulah yang saya lakukan sekarang. Dengan terus menulis
dan membuat buku yang ditunjukkan kepada teman-teman dan
peserta didik semoga guru-guru yang lain juga tertarik untuk
mulai menulis dan membaca.

Harapan saya untuk IGI ke depan semoga makin jaya dan
meluas sampai ke berbagai pelosok nusantara. Semoga visi misi IGI
bisa tercapai dan terus berjalan demi meningkatkan kompetensi
dan profesionalitas guru. Akhirnya terciptalah guru-guru yang
profesional dan bermartabat.

Bersama IGI semoga pendidikan di Indonesia tidak lagi
dipandang sebelah mata oleh dunia. Karena betapa mirisnya setiap
kali melihat peringkat PISA anak-anak Indonesia selalu berada di
10 peringkat terbawah. Bahkan lebih rendah dari negara-negara
tetangga kita Singapura dan Malaysia.

Dimulai dengan mendidik dan melatih guru semoga
dari guru-guru ini nantinya muncullah anak-anak didik yang
berprestasi. Prestasi yang bukan hanya diakui di Indonesia tetapi
juga di di dunia internasional. Dan yang tidak kalah penting yaitu
muncul generasi emas anak-anak Indonesia yang tidak hanya
cerdas tetapi juga berakhlak mulia.

Demikian surat dari saya. Saya mohon maaf jika ada salah-salah
kata. Saya akhiri wabillahitaufik wal hidayah wassalamu’alaikum
wr. wb.
82 MRR

Catatan Bersama Ketua Umum IGI

Poetra Joeang

Tanggal 24 juli 2016 Daeng Ramli mendarat di Bandara
Sultan Iskandar Muda, hari itu adalah kali pertama Daeng Ramli
menginjakkan kakinya di tanah rencong. Sosok sang Ketua Umum
IGI yang dimandatkan untuk menahkhodai bahtera bernama IGI
untuk 5 tahun ke depan.

Tidak berlama lama istirahat, di hari itu juga Daeng Ramli
melantik pengurus IGI Wilayah dan IGI Daerah Kabupaten/Kota Se
Aceh dan juga menyampaikan Materi SaguSatab. Esoknya Daeng
Ramli mengisi acara seminar bersama Guru guru di Aceh besar yang
diselenggarakan oleh IGI Aceh Besar.

26 juli 2016,
Setelah menyapa dan merajut silaturrahmi dengan pengurus
IGI Aceh Besar, Daeng Ramli melanjutkan Road show ke pesisir
Aceh, yang menjadi tujuan pertamanya adalah Kabupaten Pidie
dan Kabupaten Pidie Jaya, Dua Kabupaten bertetanggaan itu
menjadi tempat singgahan Daeng dihari itu, disana daeng Ramli
juga melakukan hal yang sama, seminar bersama pengurus IGI dan
guru guru di dua kabupaten tersebut.
Tidak hanya sampai disitu, daeng Ramli melanjutkan
perjalananya menuju kabupaten Bireuen, disana Daeng Ramli di
sambut oleh pengurus IGI Bireun ditemani pengurus KOBAR GB
dan PGRI. program SaGuSaTab (Satu Guru Satu Tablet) laku keras
di Bireuen.
Aceh Utara dan Lhokseumawe merupakan kabupaten kota
yang tidak ditinggalkan oleh Daeng Ramli, IGI aceh utara dan IGI
lhokseumawe berkerjasama menyelenggarakan Seminar Nasional
dengan salah satu pematrinya daeng.

Antologi Bersama 83

Meskipun istirahatnya kurang, Pada tanggal 27 Juli 2016
daeng ramli masih tetap menunaikan janjinya pada IGI Aceh Timur,
program SaGuSaTab dan Seminar Nasional menjadi kegiatan
terakhir di tanah rencong bersama IGI Aceh Timur.

Pukul 11: 30 Wib dihari yang sama ( Hari ini .Red ) daeng Ramli
kami antar ke Bandara Kuala Namu, untuk menuju pulang kembali
ke tanah bugis Makassar.

Selamat Jalan daeng, Terima Kasih sudah menjajaki Tanah
rencong dengan menebarkan inspirasi, Semoga daeng Ramli
selamat sampai tujuan dan diberi kesehatan yang sehingga
seberapa padatpun kegiatan yang harus dihadiri daeng dapat
ditunaikan.

Sampai Jumpa dilain kesempatan Daeng.
@Kuala Namu

84 MRR

Super Hero Pemantik

Relina, S.Pd

Palangkaraya

Sejarah Singkat IGI
Pada awalnya Ikatan Guru Indonesia merupakan organisasi

yang diinisiasi pada tahun 2000 dengan nama KGI (klub guru
indonesia. Dipimpin oleh Ahmad Rizali. Secara resmi KGI disahkan
oleh pemerintah dengan SK Depkumham nomor AHU-125.AH.01.06
Tahun 209 tanggal 26 november 2009. Dalam surat keputusan
tersebut Klub Guru Indonesia berubah nama menjadi Ikatan Guru
Indonesia (IGI). Organisasi ini dipimpin oleh ketua umum Satria
Dharma sekaligus pengagas dan penggerak literasi di surabaya dan
sekitarnya dibantu oleh para ketua igi wilayah seluruh indonesia.

Sukses mengelar kongres I di jakarta, Igi kembali mengelar
kongres II di makasar (sulawesi selatan) pada tanggal 30-31
januari 2016. Muhammad Ramli Rahim sebagai ketua panitia
sekaligus sebagai ketua umum terpilihperiode 2016-2021. Dengan
kehadiranya IGI berharap guru mampu mengubah diri tanpa
menunggu dan bergantung pada pihak lain untuk memprakarsa
diri menjadi penggerak dalam perubahan bagi bangsa.

Bersama MRR, IGI Mengusung Prinsip bahwa para guru
haruslah ‘memberi’ (to share) lebih dahulu agar ia dapat maju dan
berkembang (to grow). Guru tidak ditampilkan dalam posisi pasif
(penerima) belaka namun justru dalam posisi aktif (memberi dan
berbagi dengan sesama).

MRR di mata guru indonesia
Siapa yang tidak mengenalnya?. Gaungnya terkenal di seluruh

pelosok negeri. Kepakan sayapnya merangkul seluruh pendidik.
Dia layak disebut sebagai bapak penggerak. Super hero pemantik

Antologi Bersama 85

semangat para guru. Sepak terjangnya membela guru hingga
titik darah penghabisan. Pernah tidak didukung keluarga namun
kecintannya terhadap IGI tak pernah surut. Muhammad Ramli
Rahim adalah ketua umum Ikatan Guru Indonesia periode 2016-
2021. Beliau terpilih secara aklamasi pada kongres II IGI di makasar.
Selain mengurus program kerjanya mengenai peningkatan
kompetensi guru. Beliau juga tetap melakukan advokasi terhadap
para guru yang memerlukan. Advokasi dilakukan pula oleh
pengurus daerah, wilayah, atau pusat sesuai kepentingannya.

Sejak IGI di bawah kepemimpinan Muhammad Ramli
Rahim, Ikatan Guru Indonesia berkembang pesat terbukti dengan
keberhasilannya mendirikan IGI di 34 provinsi, 1 wilayah luar
negeri, dan IGI daerah 400 kota dan kabupaten di indonesia. MRR
besama IGI tidak hanya mengembangkan IGI wilayah dan daerah
tetapi juga fokus terhadap peningkatan kompetensi guru. Hal
ini dilakukan dengan cara menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
diklat, seminar dan workshop.

Kehadiran IGI melalu motto : sharing and growing together”
IGI berperan sebagai komunitas yang tepat bagi guru perduli
pendidikan. IGi betul-betul merangkul para guru dalam kegalauan
tak tau berbuat apa untuk meningkatkan kompetensi diri.
Mengeluarkan guru dari kemiskinan ilmu menjadi tau. Yang redup
menjadi bercahaya dengan maha karya. Anggota IGI tergabung
dari guru-guru hebat, saling berbagi dan mengali ilmu dengan
rekan anggota yang lain. Mengajak Semua guru yang tergabung
dalam IGi melek IT.

Sebagia salah satu guru Indonesai saya patut berbangga diri
dapat bergabung bersama IGI. Energinya lahir sebagi pemantik
semangat yakni energi gerak yang melahirkan gerakan. Ikatan
Guru Indonesai bukam proyek atau program melainkan gerakan
yang terus bergerak dalam keadaan apapun dan akan terus
mengubah diri kapan saja. Bagaimana tidak dikatakan gerakan

86 MRR

yang menggerakkan IGI telah mengirimkan 300 pelatih yang
bergerak ke pelosok negeri hingga daerah terpencil. Guru tidak
akan berubah jika bukan guru itu sendiri yangmengubahnya.

Saya mengenal IGi melewati sagusaku. Raga yang terbelunggu
dan membeku kini mencair dalam sederatan imajaniasi. Sakusaguu
tak bosan-bosan memfasilitasi guru tanah air untuk berkarya.
Sagusaku IGI sebagai sebagai mesin penggali dan pemupuk bakat
hebat yang terpendam. Hanya IGI yang bergerak dan menggerakkan
tanpa menunggu uluran bantuan dan fasilitas negeri. Ikatan Guru
Indonseia menelusuri negeri dengan biaya sendiri. Dengan ini
diharapkan dapat mengangkat martabat guru lebih tinggi lagi di
mata masyarakat dan dunia.

Kerja keras Muhamaad Ramli Rahim terangkum dalam cita-
cita dan harapan yang hendak diwujudkan. Ketua umum berharap
semangat sharing and growing together semakin menyala. Masih
banyak PR yang harus dikerjakan yakni ingin IGI benar-benar
dimurnikan untuk guru. Dapat mencapai satu juta anggota di
seluruh indonesia. IGI ingin mendapatkan peran besar dalam
kepemerintahan kementrian. Serta memperbaiki kelemahan dalam
bidang adminstrasi. Satu hal yang yang diyakini oleh IGI guru mulya
alah yang melakukan hal-hal penting.

Antologi Bersama 87

Hebat dari mereka yang sukses,

Sukses untuk mereka yang hebat

Srydewiyana Kolly

Menulis adalah hal menyenangkan buatku. Dan ide itu akan
muncul seiring dengan suasana perasan, hati dan kebutuhanku.
Oleh sebab itu tulisanku lebih banyk terinspirasi dari kehidupan
nyata.

Boleh dikatakan tulisanku lebih mirip diary.
“Diary”
Aku pernah memilikinya bahkan kadang-kadang aku sering
berbagai jatah jajanku hanya karena sekedar ingin memiliki buku-
uku cantik dan mungil itu bahkan untuk diari unik yang memiliki
kunci dan selotnya pun aku pernah memilikinya.
Entah apa keuntungannya saaat itu yang kurasa adalah aku
lebih dapat mengatur irama dan emosi jiwa ketika membaca
kembali isi dari lembaran-lembaran diary itu.
Seiring dengan berjalannya waktu dan karirku sebagai
seorang Guru di Daerah, aku mulai menulis Modul dan LKS dalam
rangka memudahkan para siswaku dalam belajar dari akibat terlalu
banyaknya literatur buku yang harus digunakan dari berbagi
macam penerbit.
Mengajar dengan ceramah yang panjang lebar untuk
menjelaskan Negara ini pastilah sangat mejenuhkan untuk anak-
anak SMK yang belajar mata pelajaran PPKn. Modulku merupakan
kumpulan dari beberapa literatur buku yang kupakai mengajar.
Karena kutahu jangankan untuk memfoto copy buku untuk modul
yang isinya beberapa lembar saja sepertinya sangat menyulitkan
untuk anak-anak didikku yang ekonominya menengah kebawah.

88 MRR

Beruntunglah sekarang aku dan mungkin guru-guru yang lain
agak terbantukan dengan diterbitkannnya buku Guru dan Buku
Siswa. Aku tinggal meminta siswaku mendownloadnya dan belajar
bersama mereka untuk menyelesaikan materi yang ada. Tidakhanya
untuk paramuridku tapi juga untuk anakku di rumah.

Sekarang tulisanku lebih banyak kesuasana hatiku saja. Karena
aku tidak punya banyak waktu lagi untuk menulis panjang lebar
manfaatnya juga tidak terlalu banyak dibanding aku mengurus
Suami dan anak-anakku di rumah.

Walau ada beberapa yang aku tuliskan di beranda facebookku
yang menyukai danmengomentarinya jugatidak terlalu antusias,
paling juga kalau ada yang agak menarik hadiahnya adalah emot-
emot jempol, salut atau apalah semacam itu.

Sapaiakhirnya aku membaca status dari salah satu teman
mengajarku di daerah di beranda facebookku di covernya tertulis
Sagusaku IGI.

Kubaca tulisannnya sampai akhirnya aku mengomentari untuk
ikutan. Tak lama dia menjapri aku lewat WA dan membimbingku
untuk bisa bergabung di WAG dan facebook Sagusaku. Meski
belum lama aku merasa sangat beruntung bisa di perkenalkan
dengan Ibu Nurbadriyah dan Ibu Huzaimah.Meski sempat ditegur
masuk ke WAG karena tidak melalui admin tapi aku bersyukur
kedua perempuan hebat itu bisa menerimaku dengan ramah.
Terima kasih Ibu Nurbadriyah dan Ibu Huzaimah aku akan terus
belajar lewat kesuksesan kalian.

Dan satu lagi orang yang memiliki pengaruh besar terhadap
perkembangan IGI.

Aku mengenalnya lewat tema hari ini,karena terus terang
aku bergabung di IGI baru bebarapa hari belakagan. Setelah
mengooglingnya aku mendapat sebagian Informasi tentang
pemngalaman karier dan kesuksesannya sejak sekolah sampai
menjadi Ketua Umum IGI untuk periode 2016-2021.

Antologi Bersama 89

Meski umurnya Cuma beda beberapa bulan saja dari aku, tapi
perkembangan karir yang cepat dan kepeduliannya terhadap para
Guru patut diancungkan dua jempol.

Terima kasih Bapak semoga kalianlah perantara-perantara
hebat yang dikirimkan Allah untuk kami para Guru yang benar-
benar ingin memiliki buku solo. Dan semoga buku-buku kami
menjadi bacaan menginspirasi dan bermanfaat untuk negeri ini.

Sukses Sagusaku IGI berkaryalah terus Guru Indonesia
Selamat Milad Bapak Mohamad Ramli Rahim Wish You All The
Best

90 MRR


Click to View FlipBook Version