Kado Ultah untuk Sang Pemuka IGI
Siti Romelah
I. MRR di mata Guru
Siapa yang tidak kenal MRR, beliau adalah ayam jantan dari
Timur serta orang nomor satu di organisasi IGI, begitulah aku
menyebutnya. Muhammad Ramli Rahim adalah sosok pria tangguh
dengan segudang prestasi dan segudang jabatan dari Sulawesi
Selatan. Beliau adalah Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia
(IGI) periode 2016-2021. Muhammad Ramli Rahim yang biasa
disapa MRR ini terpilih secara aklamasi pada Kongres II IGI yang
berlangsung tangal 30-31 Januari 2016 di Kota Makassar.
Beliau tergolong anak yang cerdas dan mudah bergaul. Masa
kecil Muhammad Ramli Rahim berlalu di kampung halaman, Maros,
salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan.
Maros adalah tempat beliau menuntut ilmu dari pendidikan
dasar hingga menengah. Setelah menamatkan pendidikan
menengah, beliau juga melanjutkan ke pendidikan tinggi di Kota
Makassar, Universitas Hasanuddin atau Unhas.
Jiwa kepemimpinan Muhammad Ramli Rahim mulai terlihat
ketika mengenyam studi di Universitas Hasanuddin. Di Kampus
yang terletak di ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan ini, beliau tercatat
pernah menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat
Fakultas MIPA Unhas, Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas
MIPA Unhas, Ketua HMI Cabangan Makassar Timur, Ketua Parlemen
Mahasiswa Unhas, Ketua Dewan Kader Himpunan Mahasiswa Kimia
Unhas, Ketua Dewan Kader Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas
MIPA Unhas, serta beberapa jabatan lain terkait mahasiswa di luar
Universitas Hasanuddin.
Selepas dari studi di Universitas Hasanuddin, Ramli mendirikan
Grup Ranu, yakni perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan,
perumahan, dan pertambangan. Di bawah bendera Grup Ranu ini,
Ramli mendirikan PT. Ranu Prima College, PT. Ranu Niaga Prima, PT.
Ranu Globalindo Investama, PT. Ranu Transporindo Indonesia, PT.
Antologi Bersama 91
Ranuland Indonesia, PT. Ranu NusantraInsfrastruktur, serta Yayasan
Ranu Prima. Selain itu, Ramli juga aktif mengajar sebagai guru tetap
yayasan di SMK Widya Nusantara Maros serta menjadi dosen tamu
di Universitas Hasanuddin dan Universitas Islam Timur Makassar.
Itulah sekelumit tentang profil Muhammad Ramli Rahim yang saya
baca di tautan dan di youtube atau media lainnya.
Muhammad Ramli Rahim di mata guru Indonesia, beliau bak
pemberi minum di tengah kehausan. Apalagi hausnya di tengah
padang pasir. Beliau juga sangat memikirkan kepentingan guru
agar terus dapat meningkatkan kreatif dan inovatifnya di tengah
pandemi ini. Terobosan-terobosan jitu selalu disuguhkan. Beliau
juga sangat peduli dengan guru, selalu membaca ke depan, apa
yang kira-kira diperlukan guru dan dapat dilakukan guru secara
bertahap. Beliau juga merupakan tokoh inspirati dan inovatif.
Apalagi pembelajaran yang baru diusulkan oleh IGI, yaitu
Blended learning yaitu pembelajaran campuran yang dapat jadi
solusi pada era normal baru. Siswa hanya dua minggu sekali ke
sekolahdan cukup empat jam dengan sistem guru piket, sehinga
siswa cukup bertemu guru mata ppelajarannya 10-25 menit
dalam bentuk konsultasi kesulitan yang dialami selama seminggu
menjalani pembelajaran dalam jaringan. Seluruh pelajaran guru
seharusnya sudah dapat diakses anak didik melalui aplikasiyang
dibuat sendiri oleh guru sebelum pembelajaran daring, sehingga
saat daring guru lebih mudah menjelaskan materinya . Pokoknya
super keren.
II. IGI di bawah kepemimpinan MRR
Kiprah Muhammad Ramli Rahim di kepengurusan Ikatan
Guru Indonesia diawalinya ketika terpilih menjadi Ketua Ikatan
Guru Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan. Saat masih menjadi
Ketua IGI Wilayah inilah, Ikatan Guru Indonesia menyelenggarakan
kongres di Makassar. Pada Kongres II IGI tersebut MRR terpilih
secara aklamasi sebagai Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia
periode 2016-2021.
Setelah disahkan sebagai orang nomor satu di IGI, sosok yang
pernah masuk dalam bursa calon Bupati Maros ini bertekad untuk
tetap pada program peningkatan kompetensi guru seperti yang
92 MRR
telah dilakukannya ketika memimpin IGI Sulsel. Oleh karena itu,
pada masa kepemimpinannya, IGI akan menjalin kerjasama dengan
berbagai lembaga terkait peningkatan kompetensi ini.
Kendati fokus terhadap peningkatan kompetensi guru, di
bawah kepemimpinan sosok yang sering dipanggil MRR ini IGI juga
tetap melakukan advokasi terhadap para guru yang memerlukan.
Advokasi dilakukan oleh pengurus daerah, wilayah, atau pusat
sesuai kepentingan.
Aktivitasnya dalam mengelola bisnis dan organisasi kemasyaratan
membawa Muhammad Ramli Rahim menerima beberapa
penghargaan. Penghargaan tersebut antara lain Tokoh Penggerak
Pembangunan dari Harian Berita Kota Makassar (2013 dan 2015)
serta Tokoh Pemuda Inspiratif dari Majalah Makassar Terkini (2016).
Selain dirinya secara personal, perusahaan yang dikelola Ramli
bersama istri, Nurul Fitriany Andi Alimuddin, juga tercatat beberapa
kali menerima penghargaan. Pengharaan tersebut di antaranya The
Best Tutoring Highly Recommended of The Year dari Indonesia
Achievment Center. Penghargaaan yang ditandatangani Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhammad Nuh,
tersebut diberikan kepada Prima Ranu College tanggal 7 Februari
2014 di Grand Inna Hotel Bali. Masih pada tahun yang sama, Prima
Ranu College mendapat penghargaan The Best Favorite Collegeof
The Year 2014 pada ajang Leading Excellent Innovation Award di
Grand Sahid Hotel Jakarta tangal 5 Desember 2014. Tahun 2015,
Prima Ranu College kembali mendapat penghargaan dari Indonesia
Achievment Center sebagai The Best Leading Education of The Year
2015. Penghargaan ini diberikan di Grand Clarion Hotel tanggal 5
Juni 2015.
Tahun 2017 Muhammad Ramli Rahim mendapat penghargaan
dari Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo. Penghargaan
tersebut terkait usaha dan prestasinya dalam meningkatkan
kompetensi guru di Sulawesi Selatan bersama Ikatan Guru
Indonesia Sulawesi Selatan.
Antologi Bersama 93
IGI di Negeri Hamparan Kelapa
Titin Triana, MH
KETUA BIDANG ADVOKASI INHIL
Organisasi penggerak adalah program pemberdayaan
masyarakat secara masif melalui dukungan pemerintah untuk
peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasarkan model-
model pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar siswa.
Salah satu organisasi penggerak, di Negeri Hamparan Kelapa
Dunia, Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Indragiri Hilir, telah
banyak melaksanakan beberapa kegiataan yang berkaitan dengan
literasi, kegiatan yang pernah saya ikuti diantaranya:
1. Peluncuran Buku Karya Guru dan Siswa, bekerja sama dengan
Dewan Pendidikan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri
Hilir, tanggal 19 Desember 2018, bertempat di Telaga Puri
Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir.
2. Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri
Hilir, dalam pameran buku karya guru-guru di Indragiri Hilir
dalam acara Mellenial Road Safety Festival tanggal 24 Februari
2019, bertempat di Lapangan Gajah Mada Tembilahan
Kabupaten Indragiri Hilir.
3. Pelatihan Pembuatan PTK bekerja sama dengan Dinas
Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir, dengan menghadirkan
pembicara, Ketua Redaksi Jurnal ilmiah Cendekia dan Penulis
Forum Lingkar Pena dan Guru SMA Cendana Pekanbaru,
Bapak Bambang Kariyawan Ys,S.Pd,M.Pd, tanggal 30-31 Maret
2019, bertempat di Aula SMP Negeri 1 Tembilahan Kota,
Kabupaten Indragiri Hilir.
94 MRR
4. Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Guru Kreatif,
bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri
Hilir, Dompet Dhuafa Riau, KPLS Inhil dengan menghadirkan
Koordinator Sekolah Jaringan Literasi Indonesia dan Ketua
Muwahid Dompet Dhuafa Pendidikan, Ibu Febri Refiani,
tanggal 26 April 2019 di Yayasan Ziqra Tembilahan Kabupaten
Indragiri Hilir.
5. Forum Grup Discusion, bekerja sama dengan SMA PGRI
Tembilahan, Posmetro Indragiri, dengan pemateri dari
Posmetro Indragiri Hilir Arfan SH, Dekan Fakultas Agama
Islam UNISI, Bapak Dr. Ridhoul Wahidi, dan dari IGI Inhil, Bapak
Guslaini S.Si,M.Pd, tanggal 27 April 2019, bertempat di SMA
PGRI Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir.
6. Workshop Pembuatan Blog Pembelajaran, dengan pemateri,
Bapak Tri Goesma M.Pd, National Coach Sagusblog, tanggal 26
April 2019, di Yayasan Ziqra Tembilahan Kabupaten Indragiri
Hilir.
7. Lawyer Masuk Sekolah di SMA Negeri 1 Tempuling, bersama
pemateri, IGI Inhil Ibu Wirdayane, S.Pd dan Ibu Titin Triana,
SH,MH, di Kecamatan Tempuling Kabupaten Indragiri Hilir.
8. Bersama KPLS Inhil ,Membangun Kampung dalam Gerakan
Literasi bersama pemateri, Ibu Dr. Maya Rahmayani M.Si
Dosen Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Ibu Resti Yektyastuti,
M.Pd, Dosen Universitas Juanda Bogor, dan Bapak Fadzul
Azmi, S.Psi,M.P.si, Dosen Universitas Negeri Jambi, tanggal 2
Juni 2019 di Mts Negeri Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir.
9. Bedah buku dan Launching buku “Inspirasi Dari Langit” karya
Titin Triana, SH.,MH bekerja sama dengan IGI Inhil, Posmetro
Indragiri, Rabbani Tembilahan, tanggal 16 Juni 2019,
bertempat di SMA PGRI Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir.
Antologi Bersama 95
10. Sharing Together, bekerja sama dengan IGI Inhil, KPLS Inhil
dengan tema Semangat Mengalahkan segalanya dengan
pemateri Bapak Fadzul Azmi, S.Psi,M.P.si, Dosen Universitas
Negeri Jambi tanggal 20 Juni 2019, bertempat di SMA PGRI
Tembilahan Indragiri Hilir.
11. MembangunLiterasiSekolahbekerjasamadenganKomunitas
Penggiat Literasi Inhil dan SMP Negeri 1 Kecamatan Batang
Tuaka, tanggal 25 Juni 2019, di Kecamatan Batang Tuaka
Kabupaten Indragiri Hilir.
12. Kegiataan Hari Anak bekerja sama dengan Dinas Pendidikan
Indragiri Hilir, Komunitas Penggiat Literasi Inhil, Dompet
Dhuafa Riau, tanggal 27 Juli 2019 bertempat di Aula Dinas
Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir.
13. Silaturahmi ke Bupati Indragiri Hilir, H. M. Wardan, tanggal 28
Oktober 2019, bertempat di kediamaan Bupati Indragiri Hilir.
14. Seminar Pendidikan, Perlindungan Guru dan Pendidikan Era
Diigital 4.0 bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten
Indragiri Hilir, Dewan Pendidikan tanggal 14 November 2019,
bertempat di Telaga Puri Tembilahan, Kabupaten Indragiri
Hilir.
15. Silaturahmi Ke Sekretaris Daerah Kabupaten Indragiri Hilir,
Said Syarifuddin, SE.,MP, tanggal 10 November 2019.
16. Peluncuran Buku Guru & Siswa dalam Semarak Gerakan
Literasi Sekolah, tanggal 23 November 2019, di Pustaka
Wilayah Pekanbaru Riau.
17. Pelatihan PTK, Gelombang I, bekerja sama dengan Dinas
Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir, tanggal 17 Februari
2020, di Aula SMP Negeri 1 Tembilahan-Indragiri Hilir.
96 MRR
18. Pelatihan PTK, Gelomban II, bekerja sama dengan Dinas
Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir, tanggal 8 Maret 2020,
bertempat di Aula SMP Negeri 1 Tembilahan Kota Kabupaten
Indragiri Hilir.
19. Wisata Literasi di Sungai Ara, Kecamatan Kempas Kabupaten
Indragiri Hilir.
Alhamdulillah saat ini saya dipercayai sebagai Ketua Bidang
Advokasi di Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Indiragiri Hilir.
Dan pernah di beri kesempatan sebagai Narasumber dalam acara
Seminar Pendidikan, Perlindungan Guru dan Pendidikan Era Diigital
4.0 bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri
Hilir, Dewan Pendidikan tanggal 14 November 2019, bertempat di
Telaga Puri Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir.
Satu kebangaan bisa bergabung dengan organisasi penggerak
Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang terus berinovasi untuk
mengembangkan kompetensi guru terutama di bidang literasi.
Jayalah Ikatan Guru Indonesia (IGI).
Antologi Bersama 97
MRR Figur Berdarah Putih Biru
Hj. Tuti Alawiyah, M.Pd.I
IGI Kab. Pandeglang-Banten
Satu-satunya cara untuk membuat pendidikan kita lebih
baik adalah menghasilkan kualitas guru yang baik. Dan satu-
satunya cara untuk menghasilkan kualitas guru yang baik adalah
menjadikan guru yang mampu meningkatkan kompetensi
secara terus-menerus dan mandiri. Itu sepenggal kalimat yang
selalu dilontarkan oleh seorang Muhammad Ramli Rahim dalam
mengedukasi dan memotivasi para guru di tanah air, beliau tak
segan menembus peloksok negeri, mulai dari Sabang sampe
Merauke, demi membawa misi pendidikan di Indonesia yang jauh
lebih bermartabat.
MRR bertekad untuk tetap konsisten pada program
peningkatan kompetensi guru. Kendati fokus terhadap peningkatan
kompetensi guru, MRR juga tetap melakukan advokasi terhadap
para guru yang memerlukan, termasuk memperjuangkan hak-hak
guru honorer yang ada di Indonesia.
Perjuangan MRR tak henti sampai disana, beliau
mendedikasikan jiwanya, untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
Telah banyak guru yang merasakan manfaatnya, ribuan guru kini
terbantu membuat inovasi pembelajaran berbasis IT, dengan
berbagai kanal pelatihan-pelatihan yang disiapkan, sehingga
bukan hanya guru tapi kini siswa pun sudah melek teknologi pula.
Bukan hanya itu MRR juga fokus pada pendidikan anti korupsi
di sekolah, sehingga diharapkan pembelajaran di sekolah tidak
hanya terhenti pada tataran kompetensi, tetapi siswa diharapkan
98 MRR
memiliki nilai-nilai anti korupsi hingga tertanam dalam kehidupan
sehari-hari.
Jika IGI identik dengan putih biru, sosok MRR adalah figur yang
berdarah PUTIH BIRU, yang bukan hanya patut ditiru, tapi membawa
nama guru Indonesia menjadi lebih maju. Terimakasih MRR atas
dedikasimu, semoga semangat juangmu dalam meningkatkan
kualitas Pendidikan terus mengalir untuk negeri Indonesia tercinta
ini
Antologi Bersama 99
Ide Brilian Sang Inovator
Tuti Sumandani
Siapa Yang tak kenal dengan Ketua Umum Ikatan Guru
Indonesia (IGI) ? sosok guru inovatif yang memiliki ide-ide brilian
demi kemajuan dunia pendidikan. Berdirinya IGI di Indonesia tak
lepas atas peran dan perjuangan yang tidak mudah bagi sosok
yang murah senyum ini. Bagi M. Ramli guru adalah garda terdepan
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu beliau
selalu berada di pihak guru tanpa memandang status. Guru dibekali
dengan berbagai pengetahuan melalui program-programnya
yang berbasis teknologi dan karya, diantaranya Sagusanov ( satu
guru stu inovasi), sagusaku ( satu guru satu satu buku) dan banyak
lagi yang lainnya. Mengapa kami menjuluki Sang Inovator? Karena
inivasi-inovai muncul dari pemikirannya. seperti guru diajak
untuk melek teknoligi dengan mengadakan pelatihan-pelatihan
dengan pemanfaatan media baik laoptop maupun android.
Beliau mengenalkan berbagai aplikasi pembelajaran yang sangat
membantu dan memudahkan guru dalam proses pembelajaran.
Sangat bermanfaat dan digunakan terlebih dimasa pandemic
covid ini.
Ide-ide brilian dan gerakan-gerakannya dapat memotivasi
para guru baik di daerah maupun diperkotaan untuk terus dan
terus mengembangkan potensi dirinya dalam berkarya. Beliau
menjadikan guru biasa menjadi luar biasa. Banyak diantara guru
yang awalnya tidak dapat berkarya kini menjadi guru-guru yang
hebat dan dapat menularkan ilmunya ke guru lain. Satu yang perlu
diteladani dari sosok M. Ramli ini dan ternilai mulia oleh dunia
umun, bahwa para guru yang berada dalam organisasi IGI ketika
berbagi dengan teman sejawat ataupun dalam pelatihan-pelatihan
100 MRR
bersifat suka rela tanpa pamrih, artinya kita tidak mengkomersilkan
ilmu pengetahuan yang ditularkan kepada orang lain. Sesuai
dengan selogan IGI yaitu sharing and growing together.
Organisasi IGI selalu berkibar baik di tingkat daerah ataupun
nasional melaui pelatihan-pelatihan membekali guru di nusantara.
Terbukti dengan setahun IGI berhasil melakukan workshop dan
diklat yang melibatkan 156.000 guru dengan 575 pelatih dan 17
kanal pelatihan guru. Data ini menunjukkan betapa hebatnya
organisasi guru Indonesia dapat meningkatkan kompetensi para
guru Indonesia. (citus online igi.or.id ).
IGI, Teruslah membuat cerdas guru-guru Indonesia hingga semua
guru menghasilkan karya nyata demi anak bangsa !
Antologi Bersama 101
Berlian dari Maros
Yarni N, S.Pd,SD
Guru SDN 032 Tembilahan
Muhammad Ramli Rahim pria kelahiran Maros, Sulawesi
Selatan pada tanggal 23 Mei 1978. Berprofesi sebagai seorang
guru SMK Kehutanan Widya Nusantara. Dia juga Ini juga Presiden
Direktur Ranu Corp, gugus perusahaan yang bergerak di bidang
pendidikan, real estate, distribusi, dan pertambangan. Pria gagah
bertubuh subur ini menghabiskan masa sekolahnya sampai
sekolah menengah di Maros. Kemudian melanjutkan kuliah ke
Universitas Hasanudin di Makasar. Pemuda bersuku Bugis ini dari
masa sekolah sudah menunjukkan jiwa kepemimpinannya. Di
masa kuliah banyak sekali memegang jabatan sebagai pemimpin,
diantaranya menjadi Ketua Himpunan Islam, ketua Senat
Mahasiswa, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan masih banyak
lagi yang lainnya.
Pria hebat ini seorang yang memiliki pandangan yang luar
biasa untuk dunia pendidikan. Berbagai kegiatan yang dia lakukan
demi meningkatan kompetensi guru yang ada di Indonseia.
Kehidupan bapak yang memiliki 6 orang anak dan isteri yang
bernama Nurul fitriany Andi Alimudin ini sangat mampan dari
segi materi dari bisnis yang di kelolo. Memiliki anak buah yang
membantunya menjalankan usahanya. Sehingga dia memiliki
waktu untuk melakukan berbagai kegiatan di luar demi dunia
pendidikan. Pria yang berkulit sawo matang ini sering menjadi
narasumber di sekolah-sekolah. Dia sangat terkenal di daerah
kelahirannya juga di daerah lainnya. Dia memiliki masa guru yang
luar biasa banyaknya. Yang nantinya sangat mendukung dalam
kepemimpinan pria yang memiliki senyum yang sangat simpatik
ini.
102 MRR
Pada tahun 2000 berdiri suatu organisasi yang bernama
Klub Guru Indonesia yang dipimpin oleh Ahmad Rizali. Kemudian
pada tahun 2009 sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Hukum
dan HAM berberubah nama menjadi Ikatan Guru Indonesia (IGI)
yang dipimpin oleh Satria Dharma. Kemudian pada tanggal 30-31
Januari 2016 IGI melaksanakn kongres II di Makasar pada saat ini
pria hebat dari Moras Muhammad Ramli Rahim terpilih menjadi
Ketua Umum untuk periode 2016-2021. Sebagai seorang yang
memiliki pandangan maju dan berkwalitas sungguh suatu hal yang
yang luar biasa terjadi pada dunia pendidikan dengan terpilihnya
pria ramah dan murah senyum ini.
Di masa kepemimpinan dia banyak sekali terobosan-terobasan
yang dilakukan dalam meningkatkan kompetensi guru. Pelatihan,
seminar, workshop, diklat sampai simposium diberikan pada guru.
Pada masa awal kepemimpinan menurut beliau pada acara Advance
Training Online yang diadakan pada tanggal 23 Mei mengatakan,”
hampir tiap hari dia menghabiskan waktunya untuk melakukan
kegiatan ke luar daerah demi mengembangkan IGI. Banyak yang
dia korbankan dari tenaga, keluarga sampai finansial. Anaknya
sakit pun dia tidak bisa menjaganya. Bisnis perumahan yang dia
geluti mengalami penurunan. Dalam satu minggu kadang-kadang
melaksanakan tiga kali penerbangan. Suatu kerja keras yang patut
kita acungkan jempol. Pernah dia setelah melaksanakan perjalanan
langsung dirawat di rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang
menurun karena kelelahan.
Kerja keras yang sangat berhasil. IGI berkembang pesat di
bawah kepemimpinannya. Untuk wilayah Sulawesi Selatan hampir
90% guru menjadi anggota IGI. Begitu juga untuk daerah lainnya.
Dia berhasil mendirikan IGI di 34 propinsi, 1 wilayah luar negeri, dan
di 400 kota dan kabupaten di Indonesia. Dari awal kita sudah tahu
bahwa dia memiliki masa guru yang luar biasa banyaknya. Sehingga
banyak yang mendukung kegiatan yang dia lakukan. Di samping itu
Antologi Bersama 103
beliau juga mempunyai orang-orang hebat yang terlibat di dunia
pendidikan yang selalu membantu dan mensuport. Wajar sekali dia
mendapatkan penghargaan dari banyak pihak diantaranya sebagai
Tokoh Penggerak Pembangunan dan mendapat penghargaan dari
Gubenur Sulawesi Selatan karena prestasinya dalam meningkatkan
Kompetensi di Sulawesi Selatan melalui Ikatan Guru Indonesia.
Begitu sekelumit cerita tentang Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum IGI. Ketauladan yang patut kita contoh dari sepak
terjang beliau dalam memimpin dan meningkatankan kompetensi
guru.
KADO UNTUK NEGERI
Benar kata pepatah “tak kenal maka tak sayang, sekali
kenal langsung jatuh hati” itulah yang saya rasakan. Bermula kenal
pada bulan 09 September 2017 pada saat mengikuti pelatihan
Sagusaku yang di adakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI)
Kabupaten Indragiri Hilir. Pandangan pertama begitu mengoda.
Materi dan motivasi yang disampaikan oleh Bu Yulismar dan Pak
Mustakim membius saya. Sehari setelah pelatihan dengan resmi
saya menjadi anggota IGI. Pandangan saya berubah, menulis itu
tidak sulit yang penting ada kemauan. Dari tidak suka menjadi
menikmati kegiatan menulis. Apalagi selalu mendapat dukungan
dari semua sahabat yang tergabung dalam IGI. Sedikit demi sedikit
saya menulis, Mulai dari laman Facebook, blog IGI, koran lokal dan
berlanjut dengan menulis buku solo yang berjudul Tangga Nol
bergenre non fiksi. Saya sadar mungkin buku yang saya tulis tidak
dibaca orang tapi motto dari Bu Yulismar selalu memotivasi saya. “
Menulislah Walau pun Kita Sendiri yang Membacanya”.
Karya saya yang pertama itulah yang membawa saya
mengikuti acara di Global Eductional Supliess and Solutions
(GESS) di Jakarta Conventiom Center. Di sana diadakan louncing
buku oleh 200 penulis dan saya salah satunya. Sekembali dari dari
104 MRR
sana banyak apresiasi yang di dapat dari pihak sekolah dan dinas
pendidikan. Kegiatan menulis semakin bergelora dalam di diri saya.
Berbagai kegiatan saya laksanakan. Bergabung dengan teman-
teman Gelis turun ke sekolah-sekolah membimbing siswa untuk
menulis. Berpartisipasi dalam Spektakuler Sagusaku IGI Serentak
Menulis 100 Titik dalam rangka menyambut hari Hardiknas tahu
2019. Dan saya berhasil membimbing siswa di sekolah sendiri
menghasilkan 2 antologi hasil karya mereka.
Semua kegiatan yang berhubungan dengan literasi dan
menulis saya ikuti baik tatap muka maupun online. Apalagi saat
bergabung dengan Grup Sagusaku Menulis Smart (SMS) banyak
sekali manfaatnya yang saya dapatkan. Di samping menulis tiap hari
dan berbagai tantangan tentang menulis kami disuguhi dengan
materi-materi yang berguna dalam dunia tulis menulis dan dunia
kami sebagai seorang pendidik. Pak Munif Chatib narasumber
yang memberikan materi tentang Merdeka Belajar itu Guru kreatif,
Pak Munawar Aziz memberikan materi tentang Holistic Character
mengenal karakter orang lain khususnya siswa kita. Dan paling
hebat lagi juga dikenalkan aplikasi Lark yang sangat efektif sekali
penggunaannya karena pengabungan berbagai aplikasi. Juga
dikenalkan dengan Kipin.
PJ Sagusaku Bu Nur Badriyah memang luar biasa banyak
sekali terobosan-terobasan yang dia lakukan. Dia mampu merangkul
orang-orang hebat dalam yang dimanfaatkan untuk meningkatkan
kompetensi guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran jarak
jauh di masa pandemi Covid-19. Dia bisa menghadiri Ketua Umum
IGI Muhammad Ramli Ramli, Satria Darma dan Ahmad Rizali pada
tanggal 23 Mei 2020 di webek room. PJ Sagusaku berhasil mengaet
AQLISTV pada kegiatan Pentas Literasi Kado Untuk Negeri. Anggota
Sagusaku Menulis Smart tampil secara live menyampaikan kado
untuk negeri yang mereka alami. Sekarang tiap hari Selasa dan Kamis
di AQLISTV akan diisi oleh IGI. Tidak salah pilihan saya bergabung
Antologi Bersama 105
dengan Sagusaku IGI. Sudah saya rasakan sekali manfaatnya dalam
dunia menulis dan dunia pendidikan.
Terima kasih Bu Nur Badriyah yang sudah memfasilitasi
kegiatan Kodo Untuk Negeri. Ingat selalu motti IGI. Tingkatkan
Kompetensi Raih Sejuta Prestasi. Saya akhiri dengan pantun:
Anak dara pergi mengaji
Mengaji di rumah guru Sapat
Sungguh hebat guru IGI
Setiap hari memberi manfaat
Sudah banyak grup yang aku ikuti
Tapi belum ada yang berkesan dihati
Grup Sagusaku memang menawan hati
Sekali masuk aku langsung cinta mati
***
106 MRR
MRR menjadikan Guru Bermartabat
Yusfiarni
Bergabungan dengan Ikatan Guru Indonesia, tahun 2017,
dengan menggikuti pelatihan perdana Sagusaku di kabupaten
Indragiri Hilir, provinsi Riau. Dengan nara sumber Bunda Yulismar
(yuli S’ lalu Smart) dan Pak Mustakim (Sejarah lokal), dari beliau
berdua, saya mendengar nama Penanggung Jawab Sagusaku, Ibuk
Nurbadriyah dan Muhammad Ramli Rahim (MRR) sebagai ketua
IGI. Sebagai pendatang baru di IGI. Dari selayang pandang tentang
IGI mulai berdiri dan perkembangan IGI dari tahun ke tahun,
sampai sangat ini, saya semakin yakin tentang organisasi profesi
ini, organisasi yang bisa meningkatkan kompetensi guru-guru
Indonesia untuk menghadapi tantangan pendidikan ke depannya
yang menuntut guru-guru untuk tangkap dengan perubahan dan
tidak gaptek.
Setelah saya tergabung dengan IGI, berita-berita yang
bersangkutan dengan IGI selalu saya ikuti. Mengapa demikian? saya
mempunyai prinsip, sesuatu yang sudah dipilih, akan dicintai dan
dipertahankan. Untuk mencintai sesuatu kita harus mengenalnya
lebih jauh, dengan cara mencari informasi dan selalu mengikuti
program-program yang sudah dirancang dan diputuskan oleh IGI.
Muhammad Ramli Rahim, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI)
periode 2016-2021. Terpilih secara aklamasi pada Kongres II IGI
yang berlangsung tangal 30-31 Januari 2016 di kota Makasar.
Beliau bertekad untuk peningkatan kompetensi. Saya yakin di
masa kepemimpinan Putra Hebat dari Makasar IGI akan menjalin
kerjasama dengan berbagai lembaga terkait demi peningkatan
kompetensi guru-guru Indonesia.
Orang no satu di IGI ini, mengaku kasihan melihat nasib guru
honorer karena pemerintah tidak bisa memberikan solusi terbaik
Antologi Bersama 107
kepada guru honorer, Menurut Rami, ini jauh lebih baik daripada
mempekerjakan guru honorer dalam waktu lama tetapi tidak mau
mengangkat statusnya karena alasan kompetensinya rendah.
Selama ini, IGI mendengar pemerintah keberatan mengangkat
honorer menjadi PNS maupun PPPK (pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja) karena kualitasnya rendah. Sementara belasan
hingga puluhan tahun, tenaga mereka diperas dengan gaji
supermurah sehingga (jpnn.com).
Saya setuju dengan pendapat Pak MRR, tentang ketidak
jelasan status guru honor, dari tahun ke tahun di kasih janji-janji
manis yang tidak pernah di rasakan manisnya malah tambah kabur.
Guru honor sangat membantu keberadaannya di sekolah-sekolah,
demi terlaksananya proses pembelajaran. Sudah bertahun-tahun
tidak ada pengangkatan khusus untuk guru honor. Mereka sudah
ada yang mendekati 10 tahun menjadi tenaga honor. Kalau
masalah kemampuan yang rendah IGI bisa mengatasinya, ada 86
kanal yang sudah siap membantu bapak ibu dalam meningkatkan
kompeteninya sebagai guru yang bermatabat. Di bawah ini ada
Sebagian contoh kanal-kanal IGI yang bisa kita manfaatkan
bersama tanpa berbayar.
Daftar Kanal Kegiatan IGI
1. SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi)
2. SAGUSAMIK (Satu Guru Satu Komik Pembelajaran)
3. SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku)
4. SAGUSABLOG (Satu Guru Satu Blog)
5. SAGUSAKTI (Satu Guru Satu Karya Tulis Ilmiah)
6. METODE MENEMU BALING (Menulis Dengan Mulut, Mendengar
Dengan Telinga)
7. SADAR (Sarasehan Dalam Jaringan) dan SIDARING (Diskusi
Matematika Dalam Jaringan)
8. SAGUSAE (Satu Guru Satu Ebook)
9. SAGUSAKA (Satu Guru Satu Aplikasi Koreksi LJK Berbasis Android)
108 MRR
10. SAGUDELTA (Satu Guru Dua Evaluasi Digital)
…
86. Sagusabar (satu guru satu barcode), Penanggungjawab: A’irin
Nurwidyastuty.
Di masa pandemi covid-19, IGI langsung tanggap, menggunakan
kesempatan ini dengan menyelenggarakan pelatihan secara
daring, tersebar hampir seluruh kabupaten/kota di seluruh
Indonesia. Karena IGI berharap, setelah pelatihan, kemampuan
guru-guru tentang IT bertambah, sehingga mampu menjalankan
pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan berkualitas
dengan menggunakan berbagai aplikasi dan menggabungkannya
dengan video, game, komik, dan berbagai inovasi lain yang
menghadirkan pembelajaran Daring yang menyenangkan dan
berkualitas.
Untuk menghadapi tahun pelajaran baru, IGI juga tidak tinggal
diam selalu memberi solusi sebagai acuan oleh pemerintah.
Dengan menggabungkan daring dan luring ditambah penyiapan
materi lebih awal sebagai bekal daring, maka diyakini bahwa
pembelajaran akan jauh lebih efektif bahkan dibanding era normal.
IGI selalu mencari peluang-peluang untuk berkerjasama dengan
lembaga lain untuk meningkatkan kompetensi guru-guru. Seperti
belakangan ini IGI aplikasi webex, sangat membantu guru-guru
dalam pelatihan Daring. IGI semakin jaya dan berkembang di bawah
pimpinan dari Bapak Muhammad Ramli Rahim yang sangat jitu
mencari celah-celah untuk mempersiapkan guru-guru yang berada
di bawah naungan payung IGI untuk selalu berkreaktif, inopatif,
dalam meningkatkan konpetisi demi menghadapi tantangan
pendidikan di zaman milenial.
Antologi Bersama 109
Kibaran Bendera KGI
Abdul Halim Rahmat
(Ketua IGI Prov. Kalsel Pertama/2010 - 2013)
“Ini mantap, harus segera kita bentuk di Kalsel”, ungkap Gusti
Surian dengan semangat. Tangannya tak henti membolak-balik
5 lembar kertas print out yang saya sodorkan. Tampak wajahnya
berbinar dan penuh semangat, membayangkan bagaimana
gerakan organisasi yang akan dibentuk.
Di akhir 2009, berawal dari kebiasaan saya berselancar di
dunia maya, saya menemukan satu komunitas pendidikan yang
selalu aktif berdiskusi. Saya bergabung dalam sebuah mailing
list yahoo.group dengan diskusi yang hangat dan bernas. Segala
macam persoalan pendidikan yang lagi hangat dibicarakan tak
luput dari materi diskusi di group ini. Banyak guru, dosen, praktisi
dan pengamat pendidikan yang bergabung, sehingga topik yang
diskusi menjadi ramai karena masing-masing akan melihat dari
sudut pandang yang berbeda. Saya menyukai diskusi di komunitas
ini karena semua terbuka terhadap perbedaan pendapat, namun
semua tetap bisa cair dalam balutan homur dan goyunan.
“Pertengkaran” pak Nanang (A.Rizali), cak Satria, pak Ihsan, pak
Sururi dan anggota lainnya pun menjadi santapan sehari-hari
dalam diskusi group, tapi saya “menikmatinya”. Bahwa berbeda
pendapat itu wajar dan terkadang kita bisa sepakat untuk tidak
sepakat.
Seingat saya, ketika itu di beberapa daerah sudah berdiri
KGI (Klub Guru Indonesia/nama sebelum berubah menjadi IGI).
Di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI, NTB, dan beberapa
daerah lainnya sudah berdiri KGI. Hingga kemudian memotivasi
saya untuk mendirikan KGI di Kalimantan Selatan.
110 MRR
Satu hal yang menarik dari para pengurus (pusat) KGI ini,
mereka tidak membentuk secara massif kepengurusan di daerah-
daerah.Tidak seperti partai politik yang bergerak dengan terstruktur
membentuk pengurus-pengurus partai di provinsi, kabupaten/
kota, hingga sampai ke kecamatan. Mereka “membiarkan” inisiatif
muncul dari bawah (daerah) dan kepengurusan tumbuh dengan
alami. Memang akan terkesan lambat, tapi pola ini ternyata
berefek positif. Para guru dan aktivis pendidikan yang tertarik, akan
membentuk kepengurusan di provinsi/daerah dari niatnya sendiri,
bukan diminta menjadi pengurus. Jika pun ada yang diminta,
para pengurus pusat tidak menyiapkan segala sesuatunya untuk
pendirian, semua diserahkan kepada inisiator pendirian. Pola ini
secara tidak langsung melahirkan aktivis-aktivis pergerakan yang
tangguh. Mereka memahami visi dan misi komunitas ini dan bisa
bergerak dengan sendirinya.
Setelah mencermati visi dan misi komunitas ini kemudian
saya minta izin kepada Ketua pak Satria dan Sekjen mas Ihsan
untuk membentuk KGI di Kalimantan Selatan. Berbagai keperluan
administrasi saya minta ke mereka. Setelah dirasa cukup, saya pun
mencoba membuka diskusi dan mengkomunikasikan dengan
kawan-kawan guru dan aktivis pendidikan di Banjarmasin.
Gusti Surian adalah orang pertama yang saya temui ketika
akan membentuk KGI di Kalsel. Mengapa Gusti Surian?, karena
sebelumnya dalam beberapa bulan kami berdua cukup intens
berkomunikasi dalam berbagai hal. Proyek terakhir kala itu adalah
sukses menggawangi pembentukan pengurus baru Assosiasi Guru
Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Provinsi Kalimantan
Selatan.
Saya mengenal Gusti Surian sejak awal kuliah di IAIN Antasari
Banjarmasin. Satu Angkatan di Fakultas Tarbiyah dengan jurusan
yang sama, Pendidikan Agama Islam. Sama-sama menjadi aktivis
Antologi Bersama 111
sejak awal menjadi mahasiswa, baik internal maupun ekstrenal
kampus. Sama-sama aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
membuat kami sudah saling memahami karakter masing-
masing. Selain itu, masing-masing juga sudah memahami seluk
beluk dan tata cara mengelola sebuah organisasi. Berdiskusi dan
berdemonstrasi pun tak luput pula dari aktivitas kami. Kala itu
masih berada di zaman Orde Baru. Penyampaian pendapat tidak
bisa terbuka seperti sekarang. Kepemimpinan masih bergaya
otoriter dan sentralistik, hingga dalam satu momen demonstrasi
mendesak Rektorat mengusut kasus korupsi di internal kampus,
teman saya ini harus menerima skorsing karena terlibat dalam
demonstrasi tersebut. Itulah pergerakan, apapun yang terjadi harus
diterima sebagai sebuah konsekuensi dari sebuah perjuangan.
Tahun 1997 saya dipilih menjadi Ketua Umum Senat
Mahasiswa Institut (SMI) IAIN Antasari Banjarmasin, istilah sekarang
bisa disebut Presiden Mahasiswa. Gusti Surian saya minta dan saya
masukkan di kepengurusan. Namun diakhir-akhir masa kuliah
itu, Dia tidak bisa aktif secara penuh di organisasi mahasiswa ini.
Dia lebih fokus ke dunia usaha, menjadi bos kayu di Kalimantan
Tengah. Sejak itu kami jarang bertemu, hingga sekitar tahun 2003
dia menjadi guru di Banjarmasin dan komunikasi kami pun terjalin
kembali.
Di akhir tahun 2009 saya mendatangi Gusti Surian,
menyodorkan sebuah organisasi guru bernama KGI. Sambutannya
diluar perkiraanku waktu itu, Gusti ternyata lebih bersemangat
dari saya, seperti anak yang dapat mainan baru. Sejak itu mulailah
kami mendiskusikan formula dan gerakan-gerakan apa yang akan
dibuat dalam organisasi guru ini ke depan.
Berdiskusi dengan Gusti Surian ini seperti memasangkan
puzzle-puzzle yang berserakan, menjadi satu dan mulai tergambar
bentuknya. Saya bertipe konseptor, sedang Gusti bertipe gerakan
112 MRR
lapangan. Sehingga apa yang ada di kepala masing-masing bisa
menjadi satu ketika keduanya dicurahkan. Perbedaan tipe ini
pulalah yang kemudian menjadikan Gusti Surian lebih dikenal
daripada saya. Gusti lebih senang bekerja di lapangan, sedangkan
saya lebih senang bekerja di belakang layar. Tapi kami sama-sama
enjoy menikmati dua peran ini.
Setelah mendapat lampu hijau dari pengurus KGI Pusat
untuk mendirikan di Kalimantan Selatan, mulailah kami menyusun
kepengurusan. Saya meminta Gusti Surian menjadi Ketua, namun
dia menolak dan meminta saya yang menjadi ketua. Dia hanya
mau menjadi orang kedua, sekretaris. Saya sebenarnya lebih
senang bekerja di belakang layar, tidak perlu dikenal dan muncul
ke permukaan. Menurutku Gusti lebih cocok memegang komando
organisasi ini, namun teman satu ini tetap menolak. Setelah lama
berdebat dengan argumentasi masing-masing, akhirnya saya
terima untuk mengetuai organiasasi baru ini.
Pada masa itu sebenarnya saya sudah berada pada masa
antiklimak di organisasi. Dulak kata orang Banjar. Sejak pelajar
dan mahasiswa selalu aktif di organisasi. pengurus OSIS, menjadi
Presiden Mahasiswa IAIN, Ketum HMI Cabang Banjarmasin, hingga
Ketum HMI Badko Kalimantan. Pasca menamatkan kuliah S1 saya
selalu menolak ketika diajak aktif ke berbagai organisasi, hanya
aktif di satu LSM yang berkiprah di dunia pendidikan, Lembaga
Kajian Agama dan Masyarakat (LkAM) Banjarmasin. Lembaga kajian
keagamaan dan pelatihan bagi guru-guru madrasah.
Hingga kemudian saya mengenal satu organisasi/komunitas guru
bernama KGI, keinginan berorganisasi itu mulai muncul kembali.
Namun demikian, seandainya respon Gusti tidak meyakinkan ketika
itu, bisa jadi tak akan berdiri KGI/IGI di Kalsel.
Tonggak awal berdirinya IGI Kalimantan Selatan
Di awal tahun 2010, Saya dan Gusti Surian mulai
mengumpulkan kawan-kawan guru yang sebagian besar adalah
Antologi Bersama 113
mantan aktivis kampus. Mereka diberi penjelasan dan pemahaman
tentang visi dan misi KGI, organisasi guru yang akan menjalankan
misinya dalam peningkatan kompetensi guru. Memberikan
gambaran kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan KGI pusat
dan daerah-daerah lainnya. Alhamdulillah, respon kawan-kawan
semuanya positif. Mereka menyambut dengan semangat dan siap
bergerak melalui organisasi baru ini.
Berkaca dari pengalaman aktivis KGI di beberapa daerah
kala itu. Dalam pendirian dan aktivitas mereka kerap mendapat
gangguan dan resistensi dari organisasi guru lain yang sudah lama
berdiri. Kami pun mulai memikirkan dan mempersiapkan acara
lounching pendirian KGI Kalsel ini agar smart, tidak mendapat
gangguan dari mana pun. Tidak tanggung-tanggung, Rudy Ariffin,
Gubernur Kalsel waktu itu langsung kami dapuk menjadi Ketua
Dewan Penasehat. Melalui salah satu kawan aktivis kampus yang
aktif di partainya pak Gubernur waktu itu bisa menghubungkan
kami. Alhamdulillah, pak Gubernur bersedia menjadi Dewan
Pembina/Penasehat KGI Prov. Kalsel dan kemudian kami buatkan
Kartu Anggota Kehormatan kepada beliau.
Pada kepengurusan KGI periode pertama, selain pak
Gubernur, Saya juga meminta kesediaan Kepala Dinas Pendidikan
dan Kebudayaan serta Kepala Kanwil Kemenag Prov. Kalsel duduk
di Dewan Penasehat. Selain itu, ada pula pak Fauzan Shaleh,
Kabag Biro Kesra Pemprov. Kalsel, pak Sutarto Hadi, seorang dosen
progresif waktu itu (sekarang sudah menjabat sebagai Rektor ULM
Banjarmasin dua periode) duduk di Dewan Pembina/Penasehat.
Pada bagian Dewan Konsultan Ahli ada Ersis Warmansyah Abbas,
dosen ULM dan penulis produktif, Radius Ardanias Hadariah
birokrat yang selalu kritis terhadap perubahan, serta Ani Cahyadi,
Dosen IAIN Antasari/ahli teknologi pendidikan.
Susunan pengurus telah lengkap, langkah selanjutnya adalah
114 MRR
merencanakan pelantikan pengurus KGI. Dalam sebuah rapat calon
pengurus KGI Kalsel, kami memutuskan pelaksanaan di tanggal
8 Maret 2010. Kita juga menyepakati bahwa tempat lounching
dan pelantikan pengurus harus di Gubernuran. Gedung Mahligai
Pancasila, aula pertemuan resmi kegiatan-kegiatan Gubernur pun
akhirnya dipastikan bisa kita pakai.
Untuk menarik minat guru-guru mengikuti acara lounching
dan pelantikan pengurus KGI Kalsel, kegiatan kemudian dikemas
dalam sebuah Seminar Nasional Pendidikan dengan target peserta
1.000 orang. Bukan itu saja, Pak Gubernur Kalsel, Rudy Ariffin pun
kita minta untuk memberi sambutan, menjadi keynote speaker
kegiatan lounching. Gubernur juga bersedia menyiapkan konsumsi
untuk 1.000 orang. Sungguh menjadi berkah dan dukungan beliau
yang luar biasa, sesuai dengan apa yang kami harapkan.
Tempat dengan fasilitas dan konsumsi yang bagus serta
dihadiri ribuan orang tidak akan berarti apa-apa jika tidak
dipublikasikan dengan baik. Berbagai media cetak dan elektronik
pun kita undang untuk menghadiri dan mempublikasikan louncing
pendirian organisasi ini. Secara khusus saya menemui pimpinan
redaksi Radar Banjarmasin, pak Toto biasa dia dipanggil. Dari
pertemuan ini Radar Banjarmasin bersedia menyediakan 2 halaman
penuh korannya untuk diisi materi kegiatan seminar beserta profil
KGI dan susunan pengurus. Saya siasati ini selain untuk publikasi
juga untuk menghemat biaya copy handout materi seminar, cukup
baca koran hari itu saja, beres.
Satu lagi yang menggembirakan saya waktu itu. Agar
organisasi baru ini bisa dikenal luas di masyarakat, maka harus
ada media penghantar informasi kepada khalayak ramai, terutama
kepada guru-guru di Kalimantan Selatan. Waktu itu medsos belum
berkembang pesat, belum sebanyak seperti sekarang ini. Sehingga
pilihan paling mungkin adalah menggunakan media cetak koran
ini untuk publikasi. Saya dan pihak redaksi Radar Banjarmasin
Antologi Bersama 115
akhirnya menyepakati untuk mengisi 1 halaman penuh koran ini
bertajuk “Untukmu Guru” yang terbit setiap minggu sekali. Isinya
adalah artikel, opini, pemberitaan yang terkait dengan pendidikan.
Selain itu ada pula kolom sharing interaksi pembaca yang dikelola
melalui SMS dan diterbitkan di kolom tersebut setiap minggunya.
Pihak redaksi Radar Banjarmasin mempercayakan sepenuhnya
kepada Tim KGI/IGI untuk mengelola halaman ini. Mereka hanya
melakukan layout dan penerbitan setiap minggunya. Jadilah
media ini sebagai sarana informasi KGI/IGI waktu itu.
Hingga tulisan ini dibuat, kerjasama IGI Kalsel dengan Radar
Banjarmasin tetap berlanjut. Jika dihitung sejak pertama kali terbit
hingga sekarang, tidak kurang dari 500 edisi “Untukmu Guru”
sudah diterbitkan.
Tibalah hari yang ditunggu, pelantikan pengurus KGI
pertama di Kalimantan Selatan tanggal 8 Maret 2010. Hari itu
saya menerima kabar ada perubahan nama dari KGI menjadi IGI.
Memang SK Menkumham tercatat keluar di bulan Nopember 2009,
namun kami baru mengetahui perubahan nama itu baru pada hari
pelaksanaan pelantikan, ketika disampaikan secara langsung oleh
pak Satria Dharma, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI).
Jadilah lounching dan pelantikan IGI Kalsel pertama ini dihiasi
dengan logo backdrop dan bendera KGI. Sebelumnya, kami sudah
mencetak ratusan bendera berlogo KGI dan memasangnya di
dipinggir jalan arena Gedung Mahligai Pancasila. Kibaran bendera
KGI ini memang menjadi perhatian orang-orang yang lalu lalang di
depan Gedung, bahkan ada yang bertanya, “Ada peresmian partai
baru ya pak?”.
Kegiatan lounching dan pelantikan pengurus IGI Kalsel yang
dibalut dengan Seminar Nasional Pendidikan sukses dilaksanakan,
tidak kurang dari 1000 orang guru memadati gedung pertemuan.
Dihadiri pak Gubernur Rudy Ariffin, pak Satria Dharma dan Mas
Muhammad Ihsan selaku narasumber Seminar Nasional.
116 MRR
Pergerakan Awal IGI Kalsel
Lounching IGI Kalsel telah sukses dilaksanakan. Langkah
selanjutnya adalah mengisi kegiatan-kegiatan IGI dengan program
kegiatan. Masa-masa awal gerakan IGI di Kalimantan Selatan saya
fokuskan pada program sosialisasi, mengenalkan organisasi guru
baru ini ke tengah masyarakat terutama pada guru. Halaman Koran
Radar Banjarmasin bertajuk “Untukmu Guru” sudah mulai berjalan
setiap minggunya sejak April 2010. Kita juga menggandeng
operator telekomunikasi “Flexi” yang bisa memuat 500 anggota
dalam satu group komunikasi via sms. Satu pesan yang dikirim bisa
langsung masuk ke 500 handphone anggota. Saat itu belum ada
WA, telegram, dan aplikasi group medsos seperti sekarang ini.
Komunikasi dengan para pengambil kebijakan di daerah juga
bisa berjalan baik. Dukungan dari mereka sangat diharapkan untuk
bisa mengembangkan organisasi menjadi lebih baik, memajukan
pendidikan dan kualitas guru-guru di daerah. Dukungan pak
Gubernur memang sangat baik waktu itu. Dalam satu Seminar
Nasional yang kita selenggarakan, ketika kita minta sampel tanda
tangan Pak Gubernur yang akan discan untuk sertifikat peserta,
malah dia minta tanda tangan asli semua sertifikat. Seribu sertifikat
peserta pun bertandatangan asli pak Gubernur, hingga satu peserta
berseloroh, seperti mendapat SK PNS katanya.
Kegiatan workshop dan seminar sengaja diprogramkan
bersifat massif, mengundang banyak orang. Bahkan dalam satu
even seminar pernah dihadiri hingga 3.000 peserta bertempat di
Gelanggang Olah Raga Hasanuddin HM Banjarmasin. Berbagai
media pun digunakan untuk sosialisasi keberadaan IGI Kalsel
dengan visi dan misinya. Selain media cetak, media elektronik
dalam lingkup daerah seperti TVRI Kalsel dan RRI pun kita pakai
untuk sosialisasi mengenalkan IGI di daerah.
Antologi Bersama 117
Dalam rentang waktu 2010 – 2013, berhasil terbentuk 6
kepengurusan IGI Daerah di Kalsel dari 13 Kabupaten Kota yang
ada. Saya memang tidak membentuk secara massif di semua
kabupaten/kota, tetapi membiarkannya tumbuh secara alami,
digerakkan oleh inisiator dari mereka sendiri. Harapannya adalah
tumbuh aktivis-aktivis IGI dengan pergerakan yang kuat dan
memahami visi dan misi organisasinya.
Tahun 2013 digelar Kongres I IGI di Jakarta. Saya lupa berapa
orang utusan IGI Kalsel yang berangkat. Seingat saya, guru-guru
Kalsel yang berangkat jumlahnya hampir menyamai utusan
Sulsel yang paling banyak mengirimkan perwakilan gurunya.
Disinilah saya pertama kali bertemu dengan daeng Ramli, ketua
IGI Sulsel saat itu. Terutama, ketika penentuan tempat Kongres II
mengerucut pada dua tempat Kalsel dan Sulsel, keduanya ngotot
siap melaksanakan Kongres II. Difasilitasi oleh Sekjen Mas Ihsan,
dilakukan mediasi dari dua utusan. Akhirnya kita menyepakati
Kongres II di Makassar, Sulsel dan Pra Kongres II di Banjarmasin,
Kalsel. Hasil pembicaraan ini kemudian disepakati pula oleh semua
utusan dari berbagai wilayah yang berhadir. Kongres I Jakarta juga
menyepakati adanya penambahan masa kepengurusan IGI wilayah,
semua berakhir sampai berlangsungnya kongres II Makassar.
Berdasar SK IGI Pusat, Saya dilantik mengemban amanah
menjadi ketua IGI Kalsel sejak 2010 dan berakhir di tahun 2013.
Tiga tahun bagi saya sudah cukup waktu dalam mengelola IGI,
dari merintis pendirian, menyosialisasikan dan mengenalkan IGI
di Kalsel. Selanjutnya harus diteruskan oleh generasi yang lebih
cakap dan progresif dalam gerakannya.
Pasca Kongres I Jakarta, saya mengumpulkan kawan-kawan
pengurus IGI Kalsel dan menyampaikan keinginan saya untuk
tidak melanjutkan lagi “periode tambahan” hasil kongres I. Saya
meminta kepada Gusti Surian untuk meneruskan tampuk ketua
IGI Kalsel sampai dilangsungkannya Kongres II Makassar. Selain
118 MRR
karena periode kepengurusan saya sebenarnya “sudah habis”,
alasan untuk fokus menyelesaikan studi Pascasarjana saya juga
menjadi pertimbangan. Akhirnya kawan-kawan pengurus IGI Kalsel
dan Daerah pun mengamini keputusan ini dan menyepakati Gusti
Surian sebagai Ketua IGI Wilayah Prov. Kalsel periode kedua (2013
– 2016).
Sesudah itu, saya jarang aktif lagi di kegiatan IGI. Hanya pada
moment seminar dan pra kongres IGI di Martapura saja saya bisa
hadir. Hingga saat Kongres IGI II tahun 2016 di Makassar saya bisa
menghadirinya. Saat itu saya lihat perkembangan IGI sudah luar
biasa, berkembang hingga ke beberapa daerah di Indonesia. Pasca
Kongres II, Gusti Surian yang masuk di tim inti kepengurusan IGI
Pusat meminta saya agar juga masuk di PP. IGI. Awalnya saya tolak,
karena alasan pekerjaan dan sebagainya, tapi akhirnya saya iya
kan saja dengan syarat dijadikan anggota saja di Pengurus Pusat
dan bidangnya adalah literasi sesuai dengan passion saya. Kalau
ada susunan pengurus bagian paling bawah, nah disitu saja saya
diletakkan, pinta saya pada Gusti Surian. Akhirnya saya diletakkan
menjadi wasekjen bidang literasi dan publikasi karya guru, dan itu
adalah bagian paling bawah pada kepengurusan IGI periode 2016
– 2021. Setelah beberapa kali terjadi reshuffle kepengurusan, saat
ini saya diberi amanah menjadi Ketua Bidang Publikasi dan Sosial
PP. IGI.
Saya menjadi Ketua IGI wilayah Kalsel pada periode 2010-
2013, kemudian dilanjutkan oleh Gusti Surian pada periode 2013
– 2016. Saat ini Ketua IGI Kalsel dipegang oleh Adnani, periode
2016 – 2021. Kini di 13 Kabupaten/Kota di provinsi Kalsel sudah
berdiri kepengurusan IGI Daerah, walau sebagian kecil ada juga
yang masih vakum. Pada bulan Juni 2020 ini, di Sistem Informasi
Keanggotan IGI (Sisfo IGI) tercatat ada lebih dari 3.000 guru sudah
bergabung menjadi anggota IGI Kalsel.
Antologi Bersama 119
Ikatan Guru Indonesia adalah organisasi profesi guru yang
bercorak gerakan. Motto sharing and growing together menjadi
urat nadinya, menjadi benang merah dalam setiap gerakan-
gerakannya. Sehingga tidaklah mengherankan jika organisasi ini
bisa survive dan berkembang sedemikian rupa walau tak ada dana
iuran bulanan anggota dan tak pakai dana APBD/APBN dalam
membiayai kegiatannya. Jiwa kreatifitas dan inovatif pengurusnya
akan mampu melambungkan IGI menjadi lebih tinggi lagi di masa
depan. Menjadi organisasi profesi guru yang diminati dan disukai
oleh para pendidik. Insya Allah.
Banjarmasin, 1 Juni 2020
Ketua IGI Wilayah Kalsel I (2010 – 2013)
Abdul Halim Rahmat
120 MRR
Antologi Bersama 121
122 MRR
Antologi Bersama 123
124 MRR
Antologi Bersama 125
Sejarah Berdirinya Ikatan Guru Indonesia (IGI)
Ikatan Guru Indonesia (IGI) saat ini semakin mengepakkan
sayap dan berkembang dengan memiliki banyak cabang di
beberapa wilayah di Indonesia. Mulai Jabodetabek, Jawa Timur,
Jawa Tengah, Jawa Barat, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Riau NTB, hingga
Kupang (NTT). Saat ini Ikatan Guru Indonesia (IGI) telah berdiri di 15
propinsi di Indonesia dan masih akan terus melebarkan sayapnya
hingga ke seluruh Nusantara. Dengan motto dan komitmen
untuk growing and sharing together IGI akan terus berusaha untuk
membuka cabang di seluruh Indonesia. Tentunya, visi, misi, dan
apa yang telah dicapai Ikatan Guru Indonesia hingga berkembang
pesat seperti saat ini tidak lepas dari peran penting para tokoh
yang membidani lahirnya IGI yang sebelumnya bernama Klub
Guru Indonesia (KGI) sebagai lembaga yang peduli terhadap mutu
dan profesionalitas guru di Indonesia.
IGI semula memang bernama Klub Guru Indonesia karena
memang semula hanya dirancang untuk menjadi semacam
pelatihan bagi para guru. Bahkan sebelum nama Klub Guru dipakai
nama yang pertamakali muncul adalah Indonesia Teachers Club.
Karena usulan dari Pak Bagiono maka namanya diubah menjadi
Klub Guru Indonesia.
Siapa sangka bahwa lahirnya Klub Guru bermula dari diskusi
di maling list (milis) CFBE (Centre for the Betterment of Education).
Dan salah seorang tokoh sentral yang menggelindingkan ide
pembentukan sebuah wadah bagi para guru untuk bersinergi
tersebut –dan akhirnya terwujud– adalah Direktur CBE Satria
Dharma bersama partner setianya Ahmad Rizali atau yang lebih
dikenal dengan nama Pak Nanang.
Berikut tulisan Satria Dharma seperti dikutip dari http://groups.
yahoo.com/group/cfbe/message/24551 yang melahirkan ide
pembentukan cikal bakal Ikatan Guru Indonesia.
126 MRR
Indonesian Teachers Club
Satria Dharma
Dear all,
Kemarin di Jakarta saya bertemu dengan guru-guru hebat. Dua
diantaranya adalah Pak Jalu dan Pak Sopyan yang kebetulan
sama-sama mengajar di Madania Parung, dan Pak Agung Wibowo
yang nyantri sama Susan Stengel. Mereka masih muda dan punya
semangat, motivasi, dan kompetensi yang hebat dalam pendidikan.
Seandainya saja kita memiliki ribuan guru seperti mereka maka
kita tidak perlu kuatir mengenai masa depan Indonesia. Kami
punya kesamaan dengan para anggota milis ini yaitu keinginan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara nyata dengan
jalan berbagi (sharing), memberikan apa yang kami miliki kepada
sesama guru, dan bersinergi dengan sesama guru Indonesia agar
dapat meningkatkan kompetensi para guru Indonesia. Kami punya
keinginan untuk membentuk suatu lembaga profesi yang kami beri
nama kira-kira Indonesian Teachers Club. Club ini bertujuan untuk
menjadi wadah para guru dalam mengembangkan profesinya agar
menjadi lebih kompeten dan professional.
Selama ini Depdiknas punya program MGMP tapi sayang bahwa
klub guru dalam MGMP ini tidak begitu efektif. Saya lihat MGMP
memang ‘subject to fail’. Lha wong namanya aja ‘Musyawarah’.
Musyawarah kan untuk mencari penyelesaian permasalahan. He..
he.. ITC ini bertujuan untuk memberikan wadah bagi sesama guru
dan trainers untuk berbagi dalam pengetahuan, ketrampilan, alat
dan sumber belajar untuk meningkatkan professionalisme mereka
dalam kegiatan-kegiatan seperti : seminar, tutorial, workshop, demo,
Antologi Bersama 127
diskusi, dll. Jadi tujuannya sama dengan MGMP tapi ITC ini akan
dikelola secara professional. Nantinya ITC ini akan mengundang
para guru dan trainers yang ingin berbagi ttg ‘best practices’ di
kelas yang selama ini mereka kembangkan. Saya mengenal banyak
guru hebat yang telah mengembangkan materi KBMnya menjadi
materi pengajaran yang efektif dan menyenangkan dan ingin
berbagi dengan guru-guru lain tapi tidak punya wadah untuk itu.
Beberapa dari mereka bahkan telah menyatakan kesediaannya
untuk mengisi kegiatan ini jika telah berdiri.
Saya berharap dari kegiatan-kegiatan ini akan muncul guru-guru
hebat dan trainers andal yang dapat menjadi trainers professional
di berbagai daerah yang membutuhkan jasa mereka. Jadi ITC ini
bisa menjadi semacam training field mereka sebelum menjadi
trainers professional. Karena kegiatan ini dari guru untuk guru maka
mungkin nantinya akan free of charge dan pemateri juga tidak akan
mendapat honor selain kartu ucapan terima kasih. Meski demikian
ITC akan menghadirkan pembicara/trainer professional untuk
mengisi acara sebulan sekali dengan pengenaan biaya minimum
dan peserta akan mendapatkan sertifikat kesertaan mereka.
Manfaat dari Klub ini adalah: bagi guru, mereka akan mendapatkan
wahana untuk pengembangan profesionalisme mereka secara
rutin dan murah. Mereka akan dapat memilih dan menentukan
sendiri apa materi dan bentuk kegiatan yang mereka butuhkan
untuk pengembangan profesionalisme mereka. Ide ini sempat saya
lemparkan secara tersirat pada beberapa milis dan ternyata banyak
guru profesional yang tertarik untuk mengisi acara tersebut. Saya
juga menawarkan pada beberapa orang guru yang menawarkan
workshop di milis untuk mengisi dan mereka menjadi antusias.
Bahkan ada yang telah mengirimkan curriculum vitae mereka yang
sangat mengesankan bagi saya. Ini akan menjadi suatu kegiatan
128 MRR
yang akan sangat bermanfaat bagi guru, baik yang menjadi nara
sumber maupun yang mengikutinya. Bagi nara sumber kegiatan
ini akan menjadi ajang latihan baginya untuk menjadi trainer
profesional. Pelatihan yang ia berikan akan menambah ‘jam
terbang’nya sebelum ia melangkah menjadi trainer profesional.
Bagi para guru, kegiatan ini akan menjadi tempat yang paling baik
bagi mereka untuk mendapatkan berbagai pelatihan berkualitas
yang ia mereka butuhkan untuk menjadi guru profesional dengan
biaya yang sangat ringan. Mereka bisa mengikuti pelatihan
dan workshop sebanyak yang mereka butuhkan ataupun
inginkan. Kegiatan ini memang direncanakan gratis, dan jikalau
dikenakan biaya hanyalah sekedar untuk pengganti fotokopi
atau sertifikat. Syukur-syukur kalau ada sponsor yang akan
mendanai kegiatan ITC ini. Selain akan menjadi ajang belajar dan
mengajar bagi para guru profesional, kegiatan ini juga akan dapat
dikembangkan menjadi ajang untuk sharing informasi, dokumen,
alat dan sumber belajar, dan segala hal yang berkaitan dengan
pembelajaran. Jadi jika ada guru yang telah mengembangkan
sebuah ‘Lesson Plan’ yang menarik untuk mata pelajaran yang ia
ajarkan ia akan dapat menaruh dokumennya di kantor ITC agar
guru-guru lain dapat memperoleh kopinya dengan memintanya ke
ITC.
Lesson plan tersebut akan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh guru
lain dan hasilnya juga dapat disimpan di ITC. Saya membayangkan
seorang guru PPKN yang dapat mengembangkan pengajarannya
dengan sangat menarik dan efektif akan dapat mengajarkan
kepada sesama guru PPKN bagaimana membuat pengajaran
mereka menjadi menarik. Saya membayangkan ada guru agama
Islam yang dapat mengembangkan modul tentang pengajaran
materi “Toleransi Beragama” dengan menggunakan pendekatan
Antologi Bersama 129
proyek kelompok dan hasilnya dapat dibagikan kepada sesama
guru agama di tempat ini. Saya juga membayangkan seorang
petugas perpustakaan dapat berbagi dengan sesama pustakawan
sekolah tentang bagaimana ia mengelola perpustakaan sehingga
dapat menjadikan perpustakaannya benar-benar menjadi
sumber belajar yang efektif bagi siswa di sekolahnya. Saya juga
membayangkan seorang trainer ‘character building’ profesional
akan membagikan ilmu dan ketrampilannya dalam membuat
program pembentukan karakter yang kuat bagi anak dan remaja
kepada para guru Bimbingan dan Penyuluhan sekolah dalam
bentuk pelatihan berkala secara gratis. Best Practice and Knowledge
Sharing adalah inti dari program yang akan dikelola oleh ITC ini.
Melalui milis ini saya mengajak para anggota milis yang kebetulan
berprofesi sebagai guru untuk masuk dalam club ini. Untuk
teknis pembentukan club ini saya serahkan pada Pak Jalu dan
Pak Sopyan. Jika bersedia kami akan mengundang para calon
anggota Indonesian Teachers Club ini untuk membicarakan teknis
pembentukannya.
Saya tunggu.
Satria Dharma
22 Juni 2006
Respons
Setelah e-mail yang terkirim pada 22 Juni 2006 tersebut, banyak
respons yang menanggapi secara antusias ide dari Satria
Dharma tentang pembentukan Indonesia Teachers Club (Klub
Guru Indonesia). Diskusi lantas merebak dan mengembang
untuk menindaklanjuti pembentukan Indonesia Teachers Club.
Bagaimana tanggapan-tanggapan itu? Berikut seperti dikutip dari
mailing list (milis) CFBE.
Re: [cfbe] Indonesian Teachers Club
Pak SD yang Saya hormati:
130 MRR
Bagaimana kalau Teachers Club Anda sekalian saja dijadikan asosiasi
profesi yang berbadan hukum? Bukankah memang merupakan
asosiasi profesi? Bahkan TC akan lebih profesional daripada
organisasi ‘profesi’ guru besssooooaaar yang para pengurusnya
sebagai besar bukan guru sekolah dan anggotanya banyak birokrat
pendidikan yang tidak mengajar? Dalam UU Guru dan Dosen dan
dalam RPP tidak ada aturan tentang asosiasi profesi yang harus
diikuti oleh para guru. Maka daripada repot-repot memilik asosiasi
profesi mana yang harus diikuti mendingan bikin dulu, toh tidak
menyalahi peraturan.
Selamat,
EP
Purwono@...
22 Juni 2006
(Eko Purwono, Dosen Arsitektur ITB)
Re: [cfbe] Indonesian Teachers Club
Pak, Saya pernah menghadiri satu kovensi yang diadakan oleh NCSS
(National Council for Social Studies) atau Dewan Nasional Guru-
guru IPS di Amerika Serikat. Dalam konvensi ini ada acara seminar,
praktik terbaik proses pembelajaran, penggunaan media dan alat
peraga, dan sebagainya. Penyajinya adalah para guru TK, SD, dan
SMP yang outstanding sudah tentu. Bagaimana kalau di Indonesia
MGMP menjadi embrio untuk membentuk lembaga seperti itu.
Salah satu kegiatannya bisa menampilkan guru yang berprestasi
hasil lomba guru berprestasi?
Suparlan
bsuparlan@...
(Suparlan, mantan guru Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur,
Malaysia)
-----
Satria Dharma <satriadharma2002@...> wrote:
Rencananya memang begitu Pak Eko. Sementara ini kami
mengumpulkan para
guru yang mau bergabung dulu. We will need your help of course.
Antologi Bersama 131
Re: [cfbe] Indonesian Teachers Club
Pak Satria,
Sebelum saya berangkat ke AS, saya telah ketemu dengan
pak Jalu di kedutaan AS Jakarta dan sempat sharing
dengan beliau. Pak Jalu adalah alumni angkatan pertama
dari program yang saya ikuti saat ini. Saya memang
janji sama beliau kalau sekembalinya kami dari AS
nanti kami akan secara bersama-sama menggalang
berbagai kegiatan pengembangan pendidikan paling
tidak di masing-masing daerah dimana kami bertugas.
Saya sudah punya beberapa ‘master plan’ program
pengembangan profesionalisme guru di Balikpapan. Syukur-
syukur kalau saya dipercaya menjadi anggota di wadah yang pak
Satria dan kawan-kawan lainnya gagas sehingga saya bisa sharing
tidak hanya dengan teman-teman guru di Balikpapan tetapi juga
di berbagai wilayah lainnya di Indonesia. Saya sangat mendukung
gagasan tersebut !
salam hangat dari Amherst, USA !
zarnuji syamsul
(Guru di Balikpapan)
szarnuji@...
22 Juni 2006
Re: [cfbe] Indonesian Teachers Club
MAJU TERUS PANTANG MUNDUR PAK...... SAYA PASTI IKUT
MAKMUM SAMA SAMPEYAN....
Re: [cfbe] Indonesian Teachers Club... AWAS !!!
Great..
Tetapi hati hati, jika TC ini anggotanya adalah guru yg
masih perlu “dibebaskan”, sebagaimana guru jenis 3
spt yg kuuraikan dibawah, jangan heran jika bernasib
sama dengan MGMP (yg Cak SD bilang).
132 MRR
Berdasarkan dari hasil pengalaman saya, sangat subyektif, guru di
Indonesia terbagi menjadi 3 jenis:
1) Guru merdeka, ciri: jarang protes, selalu berfikir memperbaiki
diri, pede tinggi, bersemangat dan umumnya bekerja di
Sekolah Nasional Plus.
2) Guru baru merdeka: sedang semangat2nya untuk menuntut
semua haknya, senang demo, seringkali ingin perbaiki diri,
tetapi karena jadi tokoh kritis, waktunya sempit, pede sangat
tinggi, umumnya bekerja sebagai PNS yg tdk mau mengikuti
aturan yg berlaku (misal: dulu, kalo disuruh jadi anggota PGRI,
menolak), umumnya bekerja di sekolah negeri favorit.
3) Guru terbelenggu: sangat pendiam, pede rendah, jarang
mengomel bahkan tdk menuntut hak, tdk mudah
tersinggung, nerimo (tetapi jika tersinggung akibatnya
dahsyat), patuh kepada kepsek, jarang berfikir tentang
peningkatan profesi, patuh dengan juklak dan kurikulum
bahkan satpel yg sdh ada, tdk ada minat untuk neko neko,
umumnya guru PNS kita dan guru sekolah swasta gurem.
Nah, Cak,... TC harusnya mayoritas beranggotakan guru
jenis 1 (yg ready to form, ibarat besi, sdh membara,
tinggal ditempa jadi Po Kiam guna mempedalam Kiam
Sut), tetapi jika TC anggotanya guru jenis 3, itu masih
berbentuk bijihbesi (msh panjang untuk jadi Po
Kiam)... Tapi,kalo lweekang sampeyan sehebat mpu
gandring dulu, mudahlah bijih itu jadi keris sakti.
Nanang
(Ahmad Rizali, Direktur di Pertamina Foundation)
nanang60@...
22 Juni 2006
Re: [cfbe] Indonesian Teachers Club... AWAS !!!
Pak Satria,
Saya punya dua usulan.
Pertama, organisasi ini harus terbuka pada semua guru. Jangan
ekslusif. Jangan ada blok-blokan. Jangan ada grup-grupan.
Antologi Bersama 133
Apalagi kalau dalam elemen-elemen penggerak lokomotifnya
dibagi-dibagi menjadi guru merdeka, baru merdeka,
terbelenggu, tertindas, terzalimi, etcetra.. etcetra.. Biarlah hal itu
berbaur secara alami tanpa ada penonjolan ‘status
level/class’ secara formal. Kalau ini terjadi saya
khawatir organisasi ini hanya akan menjadi ‘pajangan’
yang hanya orang-orang tertentu saja punya akses untuk
menyentuhnya apalagi memilikinya. Dengan demikian
‘mass trust’tidak akan pernah kita peroleh. Ketika hal
ini terjadi maka fondasi yang telah dibangun lambat
laun akan retak dan tinggal waktu saja yang akan
menentukan kehancurannya. Saya jadi teringat apa yang
pernah dikatakan oleh salah seorang profesor yang memberi
mata kulyah manajemen dan komunikasi suatu hari pada
saya “Sebagus dan sekuat apapun organisasi yang anda
jalankan, ketika ‘self belonging’ dan ‘mass trust’ komunitas yang
mendukungnya hilang, maka tunggulah saat kehancurannya”.
Soal selektifitas rekrutmen motor penggeraknya saya kira tidak
bisa ditawar-tawar lagi. Itu harus ! Tapi acuannya tidak dalam
konteks ‘status level/class’ yang saya sebutkan di atas. Harus ada
acuan baku yang terukur dan bisa dibuktikan secara obyektif. Itu
idealnya. Kalau ini nggak bisa kita lakukan, ya sudah penggagas-
penggagasnya duduk bareng, sepakati siapa yang mau
mengerjakan apa dan spo kerjanya. Kami-kami siap kok jadi
makmum :).
Kedua, soal nama, menurut saya tergantung dari tingkat
‘keseriusan’ kita dalam artian apakah organisasi ini
hanya sebatas kelompok diskusi, sharing pendapat atau
forum kajian saja. Kalau hanya itu, Indonesian
Teachers Club saya kira udah cukup. Tetapi kalau kita,
melalui organisasi ini, berkeinginan memiliki akses
134 MRR
dan power yang lebih dalam tataran kebijakan-kebijakan
publik dalam lingkup pendidikan, saya kira kita perlu
nama (baik dalam penyebutan maupun bahasa yang
dipakai) yang bisa dilegalkan secara hukum. Nah soal
ini saya nggak tau apa boleh dalam bahasa Inggris.
Kalau boleh, saya usul ‘Indonesian Teachers Union’.
Kalau nggak boleh, bisa saja nama lain asalkan jangan PGRI :) . Itu
saja pak. Saya keburu tlat nih.
salam
syamsul - 22 Juni 2006
Re: [cfbe] Indonesian Teachers Club... AWAS !!!
Salam,
Saya cukup lama nge-ROM di milist ini, bukan guru, dan tidak
bersekolah di pendidikan guru.. Saya ingin sedikit memberikan
masukan, yang sepertinya tampak sepele... Berhubungan dengan
apa yang disampaikan Pak Syamsul, tentang nama, apakah tidak
sebaiknya digunakan bahasa indonesia saja Pak Satria...? Walaupun
masih sekedar wacana, tampaknya nama juga jangan sampai
dilupakan bukan..? Bukankah kita semua sepakat bahwa apa
yang telah, sedang, dan yang akan kita tuliskan di milist adalah
peningkatan kualitas bangsa indonesia, yang salah satunya dari
segi bahasa...:)? Orang Jepang saja, berusaha menterjemahkan
seluruh buku teks asing menjadi bahasa jepang, apalagi ini
sekedar nama..:), ingat kata Aa Gym, mulailah dari hal yang kecil...:)
Saya kira cukup sekian,
Mohon maaf jika kurang berkenan,
Salam,
-Iqbal-
Januar Iqbal
ibenk@...
23 Juni 2006
Antologi Bersama 135
Re: [cfbe] Re: Brain storming ITC (Indonesian Teachers Club),
terpenting NGUMPUL...dan Grak...Jalan ! !!
Goooood.
Make it happens. It will be very strong, I think. It will be the think
tank
for teachers and for our educations. Many teachers hope it comes
true.
Best regards
Tabrani Yunis
(Tokoh Pendidikan di Aceh)
Undangan telah habis? Re: [cfbe] Undangan Seminar dan
Pelatihan Gratis dan Soft launch Indonesian Teachers Club
Sumber: http://groups.yahoo.com/group/cfbe/message/25323
Pak Hotben.
Saya juga baru saja diberitahu lewat SMS bahwa kuota untuk
undangan telah habis.
Saya juga tidak tahu bahwa undangan bisa habis begitu cepat.
Mungkin ada yang memborong barangkali. :-). Saya juga tidak bisa
membantu dalam hal ini karena untuk undangan dilakukan secara
terpusat pada mbak Manda. Coba saya cc-kan surat ini ke mbak
Manda.
Salam
Satria
--- Hotben Situmorang <benn@...> wrote:
136 MRR
Pa’ Satria ada ngga’ jalur untuk mengikuti Softlounching dari
Indonesian Teachers Club ? Soalnya mendaftar melalui telpon
ternyata sudah penuh. Jika tidak mungkin jangan lupa informasi
perkembangannya.
Salam hormat
benn
Re: [cfbe] CBE_BARU
Dan ada ahli provokasi juga Mas Riswan. :-) Just to add the
information, Selain milis, CBE kini juga merupakan lembaga
advokasi di bidang pendidikan dengan ‘jam terbang’ sebanyak
tujuh tahunan. Jadi ya memang sudah cukup lama dan dulunya
sering mengadakan acara Dialog Pendidikan dengan mengundang
para member milis CBE. Jadi kami memang saling kenal cukup
lama. Saat ini CBE mulai bergerak sebagai lembaga KONSULTAN
pendidikan dengan melakukan berbagai kegiatan yang bermaksud
untuk membantu lembaga-lembaga yang membutuhkan
pelayanan seperti:
- Training (berbagai training baik itu berupa pelatihan penyusunan
KTSP, paedagogi, metodologi, motivasi guru dan murid, maupun
peningkatan penguasaan materi)
- School assessment, untuk mengetahui kondisi sekolah dan
bagaimana meningkatkan performancenya
- Facilitator dalam berbagai kegiatan kependidikan
- Menawarkan program penguatan kurikulum seperti Reading
School (pembudayaan minat membaca pada siswa dan guru),
Accountable School (program akunting/keuangan berbasis
yayasan), dll.
- Lain-lain yang berhubungan dengan kebutuhan sekolah seperti
pelatihan pembuatan website dan weblog, kegiatan outbound, dll
- Seminar dan pelatihan guru gratis melalui Forum Guru
Antologi Bersama 137
“Indonesian Teachers Club” yang akan diadakan secara rutin.
Saat ini kami menangani beberapa pekerjaan di Yayasan
Pendidikan Medco, Depdiknas (Biro PKLN), Yayasan Airlangga di
Balikpapan, dan membantu Univ Paramadina dalam penjajagan
kerjasama dengan universitas di New Zealand untuk mendirikan
School of Teacher.
Itu kira-kira yang dilakukan oleh CBE sekarang ini. Saya kebetulan
ikut di dalamnya bersama Mas Nanang, Pak Bambang Sumintono
PhD (perlu saya tulis soalnya beliau memang baru lulus dari New
Zealand), Mas Sopyan Kosasih, Mas Riswan, Mbak Pangesti PhD
(meski belum aktif ), mas Bowo, Mas Tri, dll. yang baru bergabung.
Lembaga ini masih membutuhkan banyak tenaga yang bersedia
untuk ikut membangun pendidikan yang lebih baik. Ia terbuka
bagi para profesional yang mau bergabung, baik secara full-timer
maupun sebagai part-timer (istilahnya Mas Agi Rahmat ‘struktural
dan non-struktural’). Banyak teman yang ikut secara‘non-struktural’
sebagai konsultan dan kami sebut sebagai “Assistant Consultant”.
Ada beberapa locianpwe di bidang pendidikan dengan reputasi
nasional dan internasional yang juga ingin bergabung. Melalui milis
ini saya mengundang teman-teman lain yang ingin bergabung
dengan CBE, struktural maupun non. Tak perlu merasa kecil hati
dengan nama-nama besar yang ada nantinya karena setiap orang
pasti bisa menyumbangkan sesuatu dalam lembaga ini.
CBE memiliki kantor di Jl Jati Padang di Jakarta Selatan. Alamat
lengkapnya saya tidak hapal. Tapi kalau mau bergabung bisa
menghubungi mas Riswan di <riswan_cbe@...> atau Kang Sopyan
di <sopyan_mk@...>.
Sekian pemberitahuan (sekalian iklan hehehe...) tentang CBE.
Salam
Satria
138 MRR
--- riswan_cbe <riswan_cbe@...> wrote: http://groups.yahoo.com/
group/cfbe/message/27026
Kenapa di sebut CBE Baru? karena pertama, kini ‘crew’
CBE lebih beragam, ada jebolan sekolah lokal sampai
luar negeri hingga ahli kurikulum dan ahli fasilitasi
training. karena kedua, kini CBE memberikan layanan Konsultasi
Pendidikan disamping Advokasi, dan karena ketiga, kini CBE pindah
markas dari Mampang Prapatan X/7 ke JALAN JATIPADANG RAYA
NO.23 PASAR MINGGU, JAKARTA SELATAN 12540 INDONESIA. T/F
+6221 7883 6778.
Kami selalu terbuka jika anda mau bergabung dan menunggu
kunjungan anda ke markas CBE.
salam
riswan
utk CBE
Re: AYO TANYA PGRI Re: Re: [cfbe] Jika Para Guru Menolak
Kecurangan Ujian Nasional
Sebetulnya CBE sudah berinisiatif untuk membuat ‘PGRI Tandingan’,
yaitu Indonesian Teachers Club (ITC). Kami tidak bermaksud untuk
menjadikan lembaga baru ini sebagai lembaga advokasi. Lembaga
ITC tersebut sepenuhnya akan diarahkan kepada pengembangan
keilmuan atau kompetensi para guru semata. Jadi kalau untuk
menjadi lembaga yang bersifat advokasi dan gerakan memang
sebaiknya ada ‘tandingan’ bagi PGRI yang memang mlempem
tersebut. Tapi kan ada FAGI dan FGII yang bisa mulai melakukan
advokasi bagi guru-guru tersebut. Saya bersedia untuk membantu
if needed.
Salam
Satria
Antologi Bersama 139
--- Nanang <nanang60@...> wrote:
Temans
Ibarat Parpol, PGRI itu persis sama dengan Golkar... kadernya
ada yg hebat dan ada yg sampah, tetapi berharap organisasi
yg sdh sangat mapan ini berubah tanpa didorong dari dalam,
agak musykilan (kata orang arab Surabaya). Oleh sebab itu,
bagi yang tahan, masuklah ke PGRI dan kuasai dan ubah
menjadi lebih baik. Jika lebih suka “njahit pakaian baru”, bikin
organisasi Guru sendiri dan tawarkan sesuatu yg PGRI tdk
mampu memberi, aku yakin pelan tapi pasti PGRI akan tergerus
oleh organisasi ini.
Mhn maaf, buatku, teriak teriak diluar sistem, seringkali memang
asyik (bisa masuk koran, masuk TV dll), tetapi jarang bisa mengubah
sesuatu, kecuali sebuah gerakan sangat besar (menurunkan
Soeharto, misalnya). Masuk sistem, meskipun AdHoc, seringkali
lebih efektif, seperti beberapa teman di milis ini, aku tau mereka
sangat aktif di BSNP dan jadi vokalis disana dan tetap diajak BSNP.
Ada pula yg sering silaturahim ke Fraksi di DPR dan ngoceh disana...
yg diperlukan konsistensi (istiqomah kata orang arab..), siap ?...
Wassalam,
Nanang
140 MRR