The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fiksipkhunj, 2022-08-15 04:20:59

Antologi Esai Festival Inklusi 2.0

Antologi Esai Festival Inklusi 2.0

Kata Pengantar Panitia

Inklusi merupakan sebuah pendekatan untuk membangun lingkungan yang terbuka
untuk siapa saja dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda-beda. Untuk mendukung
pendekatan tersebut pemerintah Indonesia telah memiliki perangkat undang-undang dan
aturan turunan untuk mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas agar mereka dapat
menikmati lingkungan yang lebih inklusi di antaranya melalui UU Nomor 8 Tahun 2016
yang di dalamnya membahas berbagai kebijakan untuk disabilitas. Regulasi tersebut juga
merupakan bentuk kepedulian pemerintah dalam menjamin perlindungan dan pemenuhan
hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia.

Kebijakan ini perlu didorong oleh peranan masyarakat luas yang paham terkait hak-
hak penyandang disabilitas sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesetaraan dan
menghentikan diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas. Untuk itu, sebagai
sumbangsih dalam mendukung kebijakan-kebijakan yang sudah ada, maka Departemen Seni
dan Olahraga bersama Departemen Pendidikan Badan Eksekutif Mahasiswa Prodi
Pendidikan Khusus Universitas Negeri Jakarta (BEMP PKh UNJ) merancang sebuah
program kerja yang diharapkan dapat ikut menciptakan lingkungan inklusi untuk disabilitas
yaitu lomba esai nasional FIKSI (Festival Inklusi) 2022.

Sasaran lomba esai nasional FIKSI (Festival Inklusi) 2022 tertuju pada para pelajar
SMA/SMK/Sederajat dan mahasiswa dengan tujuan sebagai sarana untuk melihat
pandangan pelajar dan mahasiswa mengenai inklusivitas dan bagaimana mereka akan
menerapkannya di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Tema dari lomba esai
FIKSI 2022 adalah “Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif”. Tema ini diusung dengan
harapan dapat melahirkan gagasan-gagasan yang mampu menjadi salah satu alternatif dalam
mewujudkan kehidupan yang inklusif di Indonesia.

Setelah melalui penilaian para juri selanjutnya esai yang ditulis para pelajar
SMA/SMK/Sederajat dan mahasiswa ini akan dipublikasikan dalam bentuk antologi esai.

1

Ucapan terimakasih dan apresiasi kami sampaikan kepada seluruh peserta, seluruh dewan
Juri dan seluruh panitia serta seluruh pihak yang turut berkontribusi dan menyukseskan
pelaksanaan lomba esai nasional FIKSI (Festival Inklusi) 2022 ini. Semoga Tuhan Yang
Maha Esa merestui upaya kita bersama untuk mendorong masyarakat indonesia yang lebih
inklusif.

Jakarta, Agustus 2022
Panitia

2

Daftar Isi

Kata Pengantar Panitia ...................................................................................................................1
Daftar Isi........................................................................................................................................3
WELFARE: Inovasi Smartwatch Berbasis Artificial Intelligence dengan Fitur Smart Assistant
Sebagai Upaya Mewujudkan Inklusivitas dan Kesejahteraan Mental Disabilitas Penyandang
Tunanetra.......................................................................................................................................5
Wildan Madani dan Rifa Madyana Putri
Harapan dalam Sunyi: Pendidikan Inklusi di Kedai Kopi..............................................................15
Sayf Muhammad Alaydrus
BRAITH.COM: Inovasi Program Peningkatan Konsentrasi Belajar Pada Siswa Disabilitas
Psikososial Guna Mendorong Terciptanya Masyarakat Yang Inklusif...........................................22
Dwina Fitriani Dharmawan
Bandar Madani Menuju Masyarakat Inklusi .................................................................................28
Linda Indriani
Substansi Pendidikan Inklusif untuk Anak-Anak Indonesia ..........................................................32
I Made Punia Darmika
Perhatian Pemerintah di Masa Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif Pada Fasilitas Sektor PRATA:
Pariwisata Ramah Disabilitas .......................................................................................................36
Wanda Haura Salsabiella dan Sya Syaa Rizqya Surya Dibalik Keterbatasan Terdapat Perjuangan
Mempertahankan Hak-Hak Kemanusiaan dan Kehidupan ............................................................41
Anggie Anindhita Maharani dan Sausan Fauziah Zahra
Colant: Aplikasi Pengenalan Budaya Berbasis Reward System Pada Kelompok Penyandang
Disabilitas Guna Menuju Masyarakat Inklusif ..............................................................................46
Nabila Prasetya Kartika Utami dan Fitriana Al Hidayah

3

“APRES” Sarana Meraih Prestasi Sebagai Wujud Kontribusi Generasi Muda Dalam Mewujudkan
Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif Berbasis Aplikasi.............................................................54
Achmad Thoiful Romdhoni

4

WELFARE: Inovasi Smartwatch Berbasis Artificial Intelligence dengan Fitur
Smart Assistant Sebagai Upaya Mewujudkan Inklusivitas dan Kesejahteraan

Mental Disabilitas Penyandang Tunanetra

Wildan Madani dan Rifa Madyana Putri

Salah satu ciri khas dari Negara Indonesia adalah banyaknya keunikan dan
keberagaman. Keberagaman tersebut tentu menjadi suatu hal yang melekat pada jati diri
bangsa Indonesia karena selaras dengan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa
Indonesia (Lestari, 2016). Tentunya, dari keberagaman tersebut masyarakat Indonesia
diharapkan dapat saling terbuka untuk saling memahami, menghargai, memiliki sikap
toleransi dan penerimaan akan segala keunikan dan perbedaan agar tercipta lingkungan yang
inklusif (Rifai & Humaedi, 2020). Salah satu bentuk keberagaman yang terkadang dilupakan
oleh masyarakat Indonesia adalah keberagaman abilitas (Furqan, 2019). Salah satu bentuk
perbedaan terkait abilitas adalah adanya penyandang disabilitas.

Disabilitas merupakan ketidakmampuan individu melakukan suatu aktivitas tertentu
(Widinarsih, 2019). Penyebab seseorang mengalami disabilitas bisa disebabkan oleh
kecelakaan, penyakit, penuaan ataupun secara genetik (Nilawaty, 2021). Sama seperti
halnya masyarakat pada umumnya, penyandang disabilitas memiliki keterbatasan dan
potensi yang perlu dipahami dan diberikan apresiasi, bukan dilupakan. Bentuk apresiasi
penghargaan keberagaman bagi disabilitas dapat diwujudkan melalui pemenuhan hak bagi
para disabilitas (Sholihah, 2016). Sehingga, para penyandang disabilitas dapat berpartisipasi
aktif dalam masyarakat, tidak semata hanya menjadi objek belaka dan diperlakukan secara
diskriminatif.

Berdasarkan data kajian yang dihimpun oleh Susenas (2018), total jumlah penduduk
penyandang disabilitas di Negara Indonesia adalah sebanyak 14,2% atau mencapai 30,38
juta jiwa dari total keseluruhan lebih dari 250 juta penduduk Indonesia (Ansori, 2020).
Penyandang disabilitas yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah penyandang
disabilitas netra (Brebahama & Listiyandini, 2016). Hal tersebut selaras dengan apa yang
ditemukan oleh Wiyono (2016), bahwa terdapat lebih dari 3,5 juta penduduk Indonesia yang

5

menyandang disabilitas netra dan menjadi negara dengan jumlah disabilitas netra kedua
terbanyak di dunia. Banyaknya penyandang disabilitas netra di Indonesia seharusnya
menjadi perhatian khusus bagi pemerintah karena keterbatasan penglihatan menjadikan
mereka sering mengalami hambatan dan kesulitan dalam menangani permasalahan
kehidupan.

Secara pengertian, penyandang disabilitas netra atau tunanetra merupakan individu
yang memiliki hambatan dalam kemampuan melihat dan mengalami disfungsi visual
(Chacia, 2013). Persatuan Tunanetra (Pertuni) (2017), membagi tunanetra menjadi dua jenis,
yaitu: (1) buta secara total, dimana mereka tidak memiliki penglihatan sama sekali; dan (2)
penglihatan lemah, dimana masih mempunyai sisi penglihatan namun perlu mendapat
bantuan berupa kaca mata (low vision). Hambatan yang sering ditemui oleh para penyandang
tunanetra adalah mereka mengalami kesulitan dalam menerima dan memproses sebuah
informasi sehingga berakibat terhadap terhambatnya proses dan tugas
perkembangannya termasuk secara sosial sehingga mengalami kesulitan menyesuaikan diri
(Mangunsong, 2009). Lebih lanjut, Dewi (2016) menjelaskan disabilitas netra juga
mengalami kesulitan dalam orientasi dan mobilitas, tidak dapat membaca dan menulis, dan
kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

Permasalahan lain yang sering ditemukan pada disabilitas netra namun kurang
mendapat atensi adalah terkait kondisi kesehatan mental mereka yang rentan mengalami
gangguan. Penelitian menunjukkan bahwa secara emosional dan penyandang disabilitas
kemungkinan 5 kali lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental (Syarifah, 2022).
Reaksi emosional yang timbul akibat dari keterbatasan yang dimiliki adalah perasaan
minder, merasa tidak percaya diri dan rendah diri, bahkan sampai melakukan penarikan diri
dari lingkungan sosial (Mambela, 2018). Beberapa penelitian menunjukan bahwa disabilitas
netra cenderung rendah dalam aspek kondisi resiliensi dan kesejahteraan psikologis
(Zeeshan & Aslam, 2013). Mereka mengalami kecenderungan stres yang lebih tinggi,
bahkan sampai pada tahap depresi dan percobaan bunuh diri, dan yang mengenaskan bahkan
sampai ada yang benar-benar mengakhiri hidupnya (Rois, 2021; Zai, 2017; Wahono, 2012).
Kesejahteraan psikologis dan kesehatan mental sangat penting karena akan menunjang

6

kesehatan yang baik, meningkatkan usia harapan hidup, serta meningkatkan kualitas hidup
(Diener, dkk, 2009).

Melihat kondisi tersebut, pemerintah dan masyarakat perlu memiliki peran aktif
dalam upaya peningkatan kesejahteraan mental para penyandang tunanetra dengan
memberikan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas termasuk aksesibilitas,
kemudahan mobilitas, serta perwujudan inklusivitas disabilitas. Sebetulnya, pemerintah
sudah cukup baik dalam memberikan perhatian terhadap disabilitas, sudah ada undang-
undang yang menjamin pemenuhan hak dan perlindungan disabilitas, namun pemerintah
masih cukup lamban dalam melakukan implementasi kebijakan untuk dapat memberikan
solusi praktis dan tepat guna (Ugm.ac.id, 2021).

Memasuki era Revolusi Industri 4.0, teknologi dapat membantu manusia dalam
menghasilkan solusi inovatif terhadap berbagai permasalahan, salah satunya menjadi solusi
terhadap upaya peningkatan inklusivitas disabilitas penyandang tunanetra. Melihat peluang
dan urgensi permasalahan yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis memberikan tawaran
solusi berupa inovasi pengembangan smartwatch. Smartwatch menjadi pilihan yang tepat
untuk dapat memberikan aksesibilitas terhadap tunanetra, karena penggunaannya lebih
praktis dan aman karena tidak rawan jatuh. Pemilihan inovasi ini efektif dalam membantu
tunanetra untuk dapat lebih mandiri saat melakukan mobilitas dalam kondisi dan
keadaan yang lebih leluasa. Saat ini, sudah saatnya kita dapat mewujudkan teknologi
yang ramah bagi para disabilitas sebagai wujud keadilan sehingga hak mereka
dapat terpenuhi untuk memperoleh kesejahteraan secara mental dan sosial. Inovasi tersebut
penulis beri nama WELFARE.

WELFARE merupakan inovasi jam tangan pintar (smartwatch) yang terintegrasi
dengan konsep Artificial Intelligence dan fitur unggulan Smart Assistant yang ditujukan bagi
para disabilitas penyandang tunanetra dengan memberikan kemudahan akses untuk dapat
melakukan aktivitas harian tanpa hambatan. Artificial Intelligence (AI) merupakan sistem
yang dapat melakukan aktivitas layaknya manusia secara rasional (Acting Rationally) seperti
menjawab pertanyaan dengan mengeluarkan suara, melaksanakan perintah, atau
memberikan rekomendasi terhadap pengguna (Batubara, 2020). WELFARE jika dalam
bahasa indonesia berarti kesejahteraan, nama tersebut dipilih atas pertimbangan karena

7

inovasi smartwatch yang dirancang ini memang memiliki fitur lengkap yang bertujuan untuk
meningkatkan kualitas kesejahteraan secara psikologis dan sosial dari para disabilitas
penyandang tunanetra.

WELFARE merupakan akronim dari Well-Being, Education and learning, Live to
the fullest, Friendly, Acceptable, Responsif dan Excellent. Setiap huruf dari akronim
WELFARE memiliki makna, value, tujuan dan harapan. Filosofi dan value dari akronim
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Berikut

Tabel 1. Filosofi dan Value WELFARE

Fitur-Fitur yang terdapat dalam smartwatch ini berbasis Smart Assistant yang
merupakan pengaplikasian dari teknologi Artificial Intelligence dimana semua fitur
diletakkan di halaman utama sehingga fitur dapat dengan mudah diakses dengan cepat oleh
pengguna. Pengguna dapat memilih sendiri menu atau fitur yang akan dipilih dengan tinggal
mengikuti panduan berbasis suara (Assistant). Fitur fitur yang dapat diakses dapat dilihat
pada Tabel 2. Berikut.

Tabel 2. Fitur Smartwatch

8

Dalam penggunaan fitur tersebut pengguna dapat dengan cepat mengakses fitur

hanya dengan

melakukan perintah suara (speech recognition) secara langsung sambil mengarahkan
smartwatch ke arah wajah (face detection). Smartwatch ini juga dapat memiliki bluetooth
yang dapat dihubungkan dengan headset nirkabel/wireless. Dalam upaya
mengimplementasikan ide inovasi dapat dilakukan dengan beberapa tahapan kegiatan yang
dapat dilihat dalam Tabel 3. Berikut.

Tabel 3. Tahapan Implementasi

9

Konsep inovasi ini dirancang menggunakan pendekatan analisis SMART. Analisis
SMART dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Analisis SMART

Selanjutnya juga telah dilakukan analisis komparatif terhadap smartwatch yang
sudah ada sebelumnya. Analisis komparatif dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Analisis Komparatif

Agar inovasi ini dapat berhasil tercapai, tentunya diperlukan keterlibatan dari semua
pihak. Sebetulnya, Indonesia memiliki modal yang cukup dalam menghasilkan ide

10

cemerlang dengan adanya perkembangan teknologi dan bonus demografi. Keduanya apabila
dikelola dengan tepat dengan keberanian inovasi dan kolaborasi maka akan menghasilkan
sesuatu yang bermanfaat secara berkelanjutan. Pengembangan inovasi smartwatch
WELFARE diharapkan memperoleh dukungan dari pemerintah berupa komitmen dan juga
kolaborasi dengan pihak swasta, khususnya perusahan yang bergerak dibidang teknologi dan
AI.

Hadirnya inovasi ini menjadi solusi bagi para disabilitas penyandang tunanetra untuk
dapat hidup seutuhnya layaknya manusia pada umumnya. Sehingga mereka dapat memiliki
kepercayaan diri untuk berbaur dengan lingkungan sosial, tidak merasa minder dan dapat
lebih mandiri dalam beraktivitas. Inovasi ini dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap
disabilitas penyandang tunanetra yang tetap kuat dan bertahan ditengah keterbatasan.
Melalui pengembangan smartwatch WELFARE ini diharapkan dapat mewujudkan
aksesibilitas bagi para disabilitas sehingga dapat terbentuk lingkungan dan masyarakat yang
inklusif, ramah disabilitas anti diskriminatif.

Pengembangan inovasi Smartwatch WELFARE sangat relevan dengan kondisi Era
Revolusi Industri 4.0, dimana solusi yang ditawarkan berbasis inovasi dan pendekatan
teknologi. Penerapan fitur Artificial Intelligence dan Smart Assistant dapat membantu
memudahkan aktivitas manusia menjadi lebih cepat dan efisien, terlebih bagi para
penyandang disabilitas tunanetra. Smartwatch WELFARE mendukung upaya perwujudan
komitmen global yaitu SDGs yang mencakup 17 pembangunan utama sebagai upaya
menjaga kondisi kesehatan mental masyarakat dan mewujudkan kesejahteraan. Fokus dari
aplikasi ini adalah mendukung SDGs poin ketiga yaitu kehidupan yang sehat dan sejahtera,
dimana kehidupan yang sehat tidak hanya ditinjau dari aspek kesehatan fisik saja melainkan
juga kesehatan mental yang berkorelasi kuat dengan kesejahteraan. Kami, Wildan Madani,
Rifa Madyana Putri bersama lebih dari 3,5 juta penyandang disabilitas netra Indonesia siap
menjadi masyarakat yang inklusif dan sehat secara mental.

11

Daftar Pustaka

Ansori, A. 2020. Jumlah Penyandang Disabilitas di Indonesia Menurut Kementerian Sosial.

liputan6.com. Tersedia di:

https://www.liputan6.com/disabilitas/read/4351496/jumlah-penyandang-disabilitas-

di-indonesia-menurut-kementerian-sosial [Diakses pada tanggal 22 Jul. 2022].

Batubara, M.H., 2020. Penerapan Teknologi Artificial Intelligence dalam Proses Belajar
Mengajar di Era Industri 4.0 dan Sociaty 5.0. Kampus Merdeka Seri 1: Menilik
Kesiapan Teknologi Dalam Sistem Kampus, p.53.

Brebahama, A. & Listyandini, R.A., 2017. Gambaran tingkat kesejahteraan psikologis
penyandang tunanetra dewasa muda. Mediapsi, 2(1), pp.1-10.

Cachia, A. 2013. Talking blind: disability, access, and the discursive turn. Disability Studies
Quarterly, 33(3), pp.1-20.

Dewi, D.S., 2016. Kajian tentang psychological well being pada anak tunanetra di sekolah
menengah atas luar biasa. Psychology & Humanity.

Diener, E., 2009. Subjective well-being. The science of well-being, pp.11-58. Furqan, R.
2019. Disabilitas: Keberagaman yang Dilupakan. Asumsi. Tersedia di:
https://asumsi.co/post/3665/disabilitas-keberagaman-yang-dilupakan [Diakses pada
tanggal 22 Jul. 2022].

Lestari, G. 2016. Bhinnekha tunggal ika: Khasanah multikultural indonesia di tengah
kehidupan SARA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, 28
(1).

Mambela, S., 2018. Tinjauan umum masalah psikologis dan masalah sosial individu
penyandang tunanetra. Buana Pendidikan: Jurnal Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Unipa Surabaya, 14(25), pp.65-73.

12

Mangunsong, F., 2009. Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus, jilid kesatu.
Depok: LPSP3.

Nilawaty, C. P. 2021. Disabilitas Mesti Dipandang Sebagai Keanekaragaman Biologis.

Tempo. Tersedia di: https://difabel.tempo.co/read/1521697/disabilitas-

mesti-dipandang-sebagai-keanekaragaman-biologis [Diakses pada tanggal 22 Jul.

2022].

Pertuni (2017). Siaran Pers: Peran Strategis Pertuni Dalam Memberdayakan Tunanetra Di
Indonesia. Persatuan Tunanetra Indonesia. Tersedia di: https://pertuni.or.id/siaran-
pers-peran-strategis-pertuni-dalam-memberdayakan-tunanetra-di-indonesia/
[Diakses pada tanggal 22 Jul. 2022].

Rifai, A. A. & Humaedi, S. 2020. Inklusi Penyandang Disabilitas Dalam Situasi Pandemi
Covid-19 Dalam Perspektif Sustainable Development Goals (Sdgs). Prosiding
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 7(2), p.449.

Rois, M. 2021. Jadi Tunanetra, Wanita ini Pilih Gantung Diri. PANTURA7.com | Referensi
Berita Jalur Utara. Tersedia di:
https://www.pantura7.com/2021/01/11/jadi-tunanetra-wanita-ini-pilih- gantung-
diri/ [Diakses pada tanggal 22 Jul. 2022].

Sholihah, I. 2016. Kebijakan Baru: Jaminan Pemenuhan hak bagi penyandang disabilitas.
Sosio Informa: Kajian Permasalahan Sosial dan Usaha Kesejahteraan Sosial, 2(2).

Syarifah, F. 2022. Remaja Difabel Berisiko 5 Kali Lipat Menderita Gangguan Kesehatan

Mental. liputan6.com. Tersedia di:

https://www.liputan6.com/disabilitas/read/4877817/remaja-difabel-berisiko-5-kali-

lipat-menderita-gangguan-kesehatan-mental [Diakses pada tanggal 22 Jul. 2022].

Ugm.ac.id. 2021. Pakar UGM Sebut Mindset Terhadap Disabilitas Harus Diubah |
Universitas Gadjah Mada. Tersedia di: https://ugm.ac.id/id/berita/22045-pakar-ugm-
sebut-mindset-terhadap-disabilitas-harus-diubah [Diakses pada tanggal 22 Jul.
2022].

13

Wahono, T. 2012. Pemuda Tunanetra Ditemukan Gantung Diri. KOMPAS.com. Tersedia
di: https://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/28/1853205/~Megapolitan~News
[Diakses pada tanggal 22 Jul. 2022].

Widinarsih, D. 2019. Penyandang disabilitas di indonesia: perkembangan istilah dan
definisi. Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial, 20(2), pp.127-142.

Wiyono, H., 2016. Buku Ensiklopedia Braile Hewan Mamalia Endemik Pulau Jawa
(Disertasi Doktor, Universitas Mercu Buana).

Zai. 2017. Diduga Stres, Pemuda Tuna Netra Gantung Diri. Heta News. Tersedia di:
https://www.hetanews.com/article/106163/diduga-stres-pemuda-tuna-netragantung-
diri [Diakses pada tanggal 22 Jul. 2022].

Zeeshan, M. & Aslam, N. (2013). Resilience and Psychological Wellbeing among
Congenitally Blind, Late Blind and Sighted Individuals. Peak Journals. 1(1).

14

Harapan dalam Sunyi: Pendidikan Inklusi di Kedai Kopi

Sayf Muhammad Alaydrus

Seperti berbagai fenomena sosial budaya lainnya, tradisi mengonsumsi kopi di
masyarakat Indoensia pun mengalami perubahan yang berarti. Dahulu, konsumsi kopi
cenderung diidentikkan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua, sedangkan dewasa
ini, budaya tersebut lebih lekat dengan imaji remaja-remaja kota. Selain itu, lokasi, tempat,
dan pola interaksi sosial yang dimiliki oleh warung kopi juga bergerak mengikuti
modernisasi, misalnya penggunaan media sosial sebagai strategi pemasaran produk dan
desain bangunan yang sesuai dengan tren terkini (biasanya antara minimalis, rustic, edgy,
dan lain sebagainya). Perubahan pola interaksi sosial tersebut pada akhirnya mulai
membentuk budaya baru yang berkembang di masyarakat. Akibatnya, muncullah ruang-
ruang dan nilai-nilai baru yang diadaptasi di lingkungan kedai kopi.

Kegemaran para pemuda untuk nongkrong di kedai kopi dilatarbelakangi oleh
beberapa alasan, antara lain untuk mengikuti gaya hidup kelas sosial tertentu memenuhi
nafsu belaka, mencari suasana baru, hingga sebagai proses aktualisasi diri. Pada akhirnya,
terbentuklah suatu hubungan timbal balik antara gaya hidup dan budaya nongkrong di coffee
shop. Dengan kata lain, budaya tersebut memengaruhi gaya hidup masyarakat dan gaya
hidup suatu masyarakat juga memengaruhi populernya suatu budaya.

Adapun ruang-ruang sosial yang terdapat di kedai kopi yaitu ruang rekreasi (tempat
hiburan), ruang relaksasi (ambience), dan ruang edukasi (belajar). Coffee shop sebagai ruang
edukasi dapat dipahami sebagai dimanfaatkannya lokasi kedai kopi sebagai tempat untuk
berbagi dan menerima ilmu pengetahuan. Hal tersebut dapat dicontohkan dengan
sekelompok mahasiswa yang berdiskusi dan mengerjakan tugas kelompok di café. Contoh
nyata dari penggunaan coffee shop sebagai ruang edukasi juga tercermin pada suatu coffee
shop dengan konsep yang unik, yaitu Sunyi Savory and Brewery.

Merk yang lebih dikenal dengan Sunyi Coffee atau Sunyi House of Coffee and Hope
adalah usaha kedai kopi yang didirikan pada tahun 2019 oleh Mario Gultom, Almas Nizar,
Yo Renno, Fernaldo Garcia, dan Irfan Alvianto. Saat ini, Sunyi Coffee sudah memiliki empat

15

cabang yang tersebar di Jakarta, Tangerang Selatan, Bekasi, dan Yogyakarta. Keunikan dari
Sunyi Coffee adalah komitmennya untuk tidak hanya untuk menyajikan kopi dan hidangan
yang lezat, tetapi juga untuk membantu menciptakan kesetaraan di masyarakat melalui kedai
kopinya. Dalam arti lain, kedai kopi ini lahir atas kepedulian akan kurangnya
pemahaman masyarakat mengenai isu-isu disabilitas serta mendorong individu difabel
untuk mengambil tempat yang setara di ruang-ruang publik. Para pendiri dari usaha
ini berpendapat bahwa dengan meningkatnya popularitas budaya ngopi di
masyarakat, diharapkan kedai kopi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang yang inklusif
dan edukatif.

Mengingat bahwa pemberdayaan individu difabel adalah konsep utama dari usaha
ini, maka tentu tidak mengejutkan bahwa seluruh barista yang bekerja di Sunyi Coffee
adalah individu tuli dan/atau daksa. Walaupun pernah terjadi kesalahpahaman antara
pengunjung awam dan barista—konsumen tidak mengetahui bahwa para barista Sunyi
adalah tuli—sejauh ini tidak ditemukan suatu permasalahan yang berarti dalam hal
pelayanan dari individu difabel kepada individu nondifabel. Kehadiran para barista yang
aktif bekerja dan berinteraksi dengan para konsumen membuktikan bahwa teman-teman
difabel juga memiliki keahlian dan kompetensi yang setara dengan nondifabel.

Selain dari segi sumber daya manusia, Sunyi Coffee juga menghadirkan fitur-fitur
pelayanan dan lanskap yang ramah difabel. Fitur-fitur ramah difabel yang disediakan oleh
Sunyi Coffee antara lain adanya instruksi visual yang jelas untuk memesan, tulisan atau
poster dalam huruf braille, guiding blocks, ruang yang cukup luas untuk kursi roda, serta
poster yang memperkenalkan abjad Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Selain
mengakomodasi individu difabel dengan baik, hadirnya lanskap dan fitur tersebut tentu
dapat secara tidak langsung mengedukasi individu yang belum mengetahui tentang isu
disabilitas. Maka, dapat diartikan bahwa kehadiran Sunyi Coffee menyebabkan
meningkatnya pemahaman konsumen perihal inklusivitas yang seharusnya diterapkan di
masyarakat.

Pendidikan inklusi secara langsung juga dilakukan oleh pihak Sunyi Coffee, yaitu
dengan mengadakan Akademi Sunyi. Akademi Sunyi adalah suatu program pendidikan

16

ketrampilan dan pengembangan diri yang gratis bagi individu difabel. Hal ini dilakukan
agar individu difabel bisa mengasah ketrampilannya dengan cara unik masing-masing.
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah berkembangnya pengetahuan dan
ketrampilan individu difabel untuk berdaya dan mandiri dalam menjalankan kehidupannya
di masyarakat. Program pemberdayaan ini tentu suatu hal yang sangat positif, mengingat
adanya diskriminasi, stigmatisasi, dan keterbatasan akses bagi kaum disabilitas. Oleh karena
itu, diharapkan program tersebut dapat membantu memperlihatkan bahwa individu difabel
sama berdayanya dengan individu nondifabel.

Hadirnya Sunyi Savory and Brewery sebagai bentuk pendidikan inklusi di kedai kopi
tentu merupakan suatu hal yang sangat positif bagi perkembangan masyarakat Indonesia.
Mengingat popularitas budaya coffee shop dewasa ini, tentu diharapkan adanya peningkatan
konsumen potensial mengenai isu disabilitas dalam rangka mewujudkan Indonesia yang
inklusif. Selain itu, dengan populernya coffee shop di kalangan pemuda, muncullah suatu
harapan bahwa pendidikan inklusi tersebut akan berlanjut dalam sebuah proses menuju
pemahaman kolektif dari masyarakat secara holistik. Besar pula harapan bagi para konsumen
untuk membagikan berita baik dan ilmu pengetahuan yang diperolehnya melalui pendidikan
inklusi di coffee shop.

Walaupun tidak mudah untuk dilaksanakan, tetapi hadirnya ruang-ruang inklusif
tersebut amat sangat dibutuhkan. Secara praktis, tidak perlu tindakan yang akbar untuk
menjadi individu yang inklusif. Mencontoh dari kelahiran Sunyi Coffee itu sendiri,
terkadang yang diperlukan dari seorang individu untuk bersikap inklusif adalah dengan
membuat perubahan-perubahan kecil yang lahir dari pengetahuan mengenai kesetaraan dan
inklusi. Setelah munculnya kepedulian, tanpa disadari aksi-aksi yang kita lakukan dalam
kehidupan sehari-hari ternyata sudah mencerminkan inklusi—contoh paling sederhananya
adalah tidak menghakimi teman-teman difabel.

Ke depannya, diharapkan akan muncul berbagai inovasi-inovasi baru di Indonesia
yang turut memberdayakan dan menyuarakan kesetaraan dan inklusi. Harapan besar juga
ditujukan kepada pemerintah Indonesia untuk menciptakan ruang-ruang publik yang

17

inklusif. Dengan demikian, bukan mustahil bahwa suatu saat nanti, Indonesia dapat menjadi
negara dengan masyarakat yang inklusif.

18

Daftar Pustaka

Bahagia, B., Wibowo, R., Rifay, M., Pauziah, S., & Kartika, T. (2021). Tradition and Social
Value of Drinking Coffee. EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 3(6), 3715–
3720. https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i6.988

Baity, N. (2018). Hangout Pada Masyarakat Urban: Studi Gaya Hidup dan Ersatz Pada
Konsumen Starbucks Coffee Shop di Kota Surabaya. In Universitas Airlangga
Respository. Universitas Airlangga.

Fauzi, M. H. (2021). Strukturasi Pemberdayaan Disabilitas (Studi Kasus : Tuna Rungu
Wicara Pada Sunyi Coffee House and Hope Jakarta Selatan) [Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah].
https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/60644/1/MALVIRA
HUTAMI FAUZI.FISIP.pdf

Herlyana, E. (2012). Fenomena Coffee Shop Sebagai Gejala Gaya Hidup Baru Kaum Muda.
Thaqafiyyat : Jurnal Bahasa, Peradaban, Dan Informasi Islam, 13(1), 188–204.
http://ejournal.uin- suka.ac.id/adab/thaqafiyyat/article/view/43/42

Lorenssa, B. A., Astuti, M., & Husniati, R. (2020). Kepuasan Konsumen Sunyi House of
Coffee and Hope. Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan, 8(3), 249–260.
https://doi.org/10.37641/jimkes.v8i3.360

Nestiti, L. G., Yusuf, Y., & Resdati. (2022). Budaya Konsumsi Kopi sebagai Gaya Hidup
The Leisure Class pada Generasi Z di Coffee Shop Ugoku.co dan Titik Kumpul
Coffee Brewers Kecamatan Sekupang Kota Batam. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 1(10),
2599–2608. https://www.bajangjournal.com/index.php/JCI/article/view/2591/1828

Novita, J., & Winduwati, S. (2021). Marketing Communication Strategy of Sunyi House of
Coffee and Hope in Branding Image as a Difabel Friendly Cafe. Proceedings of the
International Conference on Economics, Business, Social, and Humanities (ICEBSH
2021), 570, 716–721. https://doi.org/10.2991/assehr.k.210805.113

19

Putri, G. J. E. (2013). Fungsi Coffee Shop Bagi Masyarakat Surabaya [Universitas
Airlangga]. In Universitas Airlangga Respository.
http://repository.unair.ac.id/id/eprint/16200

Putri, S. D. (2020). Budaya Hangout Kaum Milennials di Coffee Shop dalam
Mengaktualisasikan Diri [Universitas Bakrie].
http://repository.bakrie.ac.id/4048/1/00. Cover.pdf

Salendra, S. (2014). Coffee Shop As a Media for Self-Actualization Today’s Youth. Jurnal
The Messenger, 6(2), 49–58.
https://doi.org/10.26623/themessenger.v6i2.192

Solikatun, Kartono, D. T., & Demartoto, A. (2015). Perilaku Konsumsi Kopi Sebagai
Budaya Masyarakat Konsumsi: Studi Fenomenologi Pada Peminum Kopi di Kedai
Kopi Kota Semarang. Jurnal Analisa Sosiologi, 4(1), 60–74.
https://doi.org/10.20961/jas.v4i1.17410

Subandi, Z. E., & Febianca, C. (2020). Tindak Komunikasi Sumber Daya Manusia

Tunarungu (Studi Kasus Pada Sunyi House of Coffee and Hope). IKON: Jurnal

Komunikasi, 25(2), 157–175. https://journals.upi-

yai.ac.id/index.php/IKON/article/view/1804/1487

Surya, N. K. A. R. (2019). Social opportunity on coffee shop. International Journal of Life
Sciences & Earth Sciences, 2(1), 13–18. https://doi.org/10.31295/ijle.v2n1.74

Suryani, N., & Pratama, F. M. (2019). Perubahan Makna Interaksi Sosial pada Kedai Fore
Coffee. Lakar: Jurnal Arsitektur, 2(2), 133–139.
https://doi.org/10.30998/lja.v2i2.5415

Widjayanto, R. D., & Nugroho, C. (2020). Budaya Nongkrong di Kedai Kopi (Studi Kasus
pada Pelanggan Kozi Coffee 2.0 Bandung). E-Proceeding of Management,7(2),
7017–7027.
https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/files/162891/jurnal_eproc/buday

20

a-nongkrong-di-kedai-kopi-studi-kasus-pada-pelanggan-kozi-coffee-2-0bandung-
.pdf
Yuliati, R. (2021). Budaya Nongkrong Sebagai Gaya Hidup Para Perempuan Penikmat Kopi
di Sidoarjo (Studi Kasus Pada Coffee Shop Sehari Sekopi di Kawasan Sekitar
Transmart Sidoarjo) [Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya]. In Digital
Library UIN Sunan Ampel Surabaya. http://digilib.uinsby.ac.id/51156/2/Rina
Yuliati_I73217041.pdf
Zahra, S. T., Setia, E., & Zein, T. (2021). Linguistic landscape on coffee shop signboards in
Medan. Budapest International Research and Critics Institute- Journal (BIRCI-
Journal), 4(3), 5445–5457. https://doi.org/http://doi.org/10.33258/birci.v4i3.2335

21

BRAITH.COM: Inovasi Program Peningkatan Konsentrasi Belajar Pada Siswa
Disabilitas Psikososial Guna Mendorong Terciptanya Masyarakat Yang Inklusif

Dwina Fitriani Dharmawa

“Disability rights are human rights.”

Kita sering mendengar istilah inklusif bagi penyandang disabilitas. Inklusif
dapat dimaknai sebagai persepsi terkait penghargaan atas keberadaan serta
penghormatan atas perbedaan dan keragaman. Penyandang disabilitas harus diperlakukan
dengan hormat dan santun, serta tidak boleh bersifat diskriminatif atau memperlakukannya
sewenang-wenang. Dengan demikian, masyarakat inklusif didefinisikan sebagai masyarakat
yang dapat menerima berbagai bentuk keragaman dan perbedaan, serta mengakomodasinya
ke dalam berbagai tatanan ataupun infrastruktur yang ada di masyarakat.

Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang inlusif, siswa berkebutuhan
khusus, seperti penyandang disabilitas psikososial juga berhak mendapatkan pendidikan
yang optimal dengan optimalisasi kesehatannya melalui peningkatan konsentrasi. Orang
dengan disabilitas psikososial adalah orang yang mengalami gangguan mental. Mereka
cenderung memiliki gangguan fungsi pikir, perilaku, dan emosi yang membuat mereka
terhambat dalam melakukan proses kognisi di kehidupan sehari-hari. Beberapa peneliti telah
mengembangkan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi
belajar pada anak salah satunya yaitu terapi Neurobehavior.

Upaya ini merupakan prosedur penilaian dan pengobatan yang
menangani mekanisme biologis dari gangguan perilaku psikologis yang mendasarinya.
Dengan kata sederhana, banyak masalah perilaku dan psikologis, seperti
kesulitan konsentrasi, hiperaktivitas, kesulitan belajar, impulsif, dan reaktivitas
berlebihan yang mungkin disebabkan oleh ketidakteraturan dalam fungsi otak pada
siswa disabilitas psikososial. Dewasa ini, seiring dengan kemajuan teknologi dalam

22

ilmu saraf, menjadi mungkin untuk manusia mengidentifikasi penyimpangan otak
dan mengembangkan perawatan neurobehavioral dengan beberapa penyesuaian.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan suatu upaya
untuk meningkatkan konsentrasi siswa dalam belajar. Dalam hal ini, penulis
menginisiasi suatu inovasi berbasis web yaitu Braith.com terkait terapi neurobehavior
yang diharapkan mampu membantu meningkatkan konsentrasi belajar pada siswa disabilitas
psikososial. Kata “Braith” merupakan singkatan dari Brain Therapy.

Web Braith.com ini memanfaatkan teknologi informasi yang terintegrasi dengan
Google. Ya, seiring berkembangnya zaman, perkembangan teknologi sudah tidak asing bagi
masyarakat Indonesia karena pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Melansir
laman Tnews.Com, per Januari 2022, Indonesia memiliki 204,7 juta pengguna internet,
termasuk penggunanya adalah anak-anak. Tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai
73,7 persen dari total populasi pada awal tahun 2022. Oleh karena itu, Braith.com yang
berbasis web ini diharapkan dapat membantu meningkatkan konsentrasi belajar pada anak
dengan efektif.

Konsentrasi adalah suatu keadaan pikiran yang diaktifkan oleh sensasi rileks
dan suasana yang menyenangkan di dalam tubuh. Ketika keadaan tegang, pikiran menjadi
kosong dan siswa disabilitas psikososial tidak dapat menggunakan otak secara optimal.
Begitupun dalam belajar, siswa harus rileks supaya bisa berkonsentrasi dengan baik
sehingga mereka memperoleh hasil sesuai dengan capaian pembelajaran.

Braith.com memungkinkan orang tua dan tenaga pendidik untuk
mendeteksi kekuatan konsentrasi pada anak disabilitas. Dalam web ini, disajikan beberapa
kuesioner yang harus diisi anak mengenai kebiasaannya belajar untuk mengukur seberapa
besar konsentrasinya pada saat belajar. Kemudian, sebagai bentuk terapinya, pada laman
Braith.com, siswa akan diarahkan ke tiga fitur, yakni Braith for pshsiycs, Braith for relaxing,
dan Braith for mood, yang nantinya akan direkomendasikan oleh sistem sesuai dengan
tingkat permasalahan konsentrasi yang dialami siswa tersebut.

23

Braith for pshsiycs adalah fitur yang berisi rekomendasi teknis yang dapat
meningkatkan kemampuan siswa untuk fokus secara terkoordinasi dengan melakukan
gerakan-gerakan sederhana. Upaya ini membantu otak untuk membuka bagian-bagian yang
sebelumnya tertutup dan terhalang, sehingga kegiatan belajar bisa maksimal menggunakan
seluruh otak atau whole brain. Ya, faktanya, otak adalah organ terpenting dalam tubuh
manusia dan merupakan sistem saraf otonom yang mengontrol semua aktivitas fisik. Otak
tersusun dari kumpulan neuron yang mengantarkan pesan listrik melalui sistem saraf dan
otak. Braith for physics bekerja dengan merangsang gelombang otak melalui gerakan ringan
dan permainan olah tangan serta kaki. Hal ini, dapat meningkatkan kemampuan belajar dan
konsentrasi pada siswa karena seluruh bagian otaknya digunakan dalam proses belajar.
Setiap gerakan yang ada di laman tersebut memiliki sistem kerja dan dimensi tersendiri.

Terapi yang kedua yaitu rekomendasi laman Braith for relaxing. Menurut data
Health Direct, relaksasi adalah suatu kondisi di mana kita merasa tenang dan
dapat mengelola stress atau kecemasan. Relaksasi dapat dicapai salah satunya
dengan penggunaan aromatheraphy humidifier. Hal ini, selaras dengan penelitian
yang dilakukan oleh Puspitasari (2015) yang menyatakan bahwa pemberian aroma therapy
tertentu, efektif untuk meningkatkan konsentrasi belajar dan peningkatan memori jangka
pendek pada siswa kelas V di SDN Growok I Bojonegoro. Oleh karena itu, aroma terapi ini
dijadikan salah satu intervensi pada laman Braith for relaxing di web Braith.com.

Beberapa jenis rekomendasi Aroma therapy pada laman ini akan disesuaikan dengan
hasil jawaban dari kuesioner sebelumnya (di laman utama). Di samping itu, disediakan pula
informasi mengenai kegunaan dan tata cara penggunaan aroma terapi sehingga bisa mudah
dipahami dan terimplementasikan dengan baik. Oleh karena itu, orang tua dan/atau siswa
yang bersangkutan bisa memilih jenis aroma therapy yang sesuai dengan kebutuhannya serta
mengikuti tata cara pemberian aroma therapy tersebut sesuai panduan yang ada di laman
web.

Intervensi terakhir pada fitur terapi di Braith.com yaitu Braith for mood. Terapi
musik merupakan salah satu perawatan yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kemampuan koginitif anak. Musik ialah segala sesuatu yang

24

bersifat menyenangkan, mendatangkan keceriaan, mempunyai irama (ritme), melodi, timbre
(tone colour) tertentu untuk membantu tubuh dan pikiran saling bekerja sama (Dwi Andita,
2019). Demikian pula, ada angapan yang berkembang di masyarakat bahwa musik dapat
membantu perkembangan psikososial seseorang. Salah satu jenis musik yang sering
digunakan dalam situasi pembelajaran adalah musik klasik. Terapi musik klasik dinilai
memiliki daampak yang signifikan terhadap perkembangan kognitif anak retardasi mental.
Musik klasik memiliki irama lambat yang cenderung dapat memberikan perasaan tenang dan
damai.

Pada pelaksanaannya, pemberian terapi musik ini pun akan disesuaikan dengan genre
musik yang disukai oleh siswa bersangkutan. Untuk pengerjaan terapinya pada siswa
disabilitas psikososial, lebih bersifat fleksibel dan dapat menyesuaikan waktu luang, serta
kebutuhan penggunanya. Siswa dapat didampingi orang tua, tenaga pendidik, atau bahkan
mengerjakannya sendiri. Orang tua dan tendik (Tenaga Pendidik) untuk membantu
mengarahkan hal apa yang harus anak kerjakan terutama pada anak usia sekolah dasar
sehingga bisa melaksanakan terapi dengan baik dan memperoleh hasil yang optimal. Setelah
berhasil melakukan terapi sesuai modul yang disarankan, setiap satu bulan sekali siswa
tersebut akan kembali mengisi kuesioner untuk mengevaluasi adakah perbaikan konsentrasi
belajarnya setelah menggunakan intervensi dari web Braith.com.

Di samping keunggulannya, Braith.com juga memiliki kekurangan
disebabkan inovasi ini berbasis web sehingga pengguna harus memiliki kuota internet
untuk dapat mengakses lamannya. Selain itu, penggunaan web ini terutama pada siswa
sekolah dasar membutuhkan bimbingan langsung dari orang tua dan tendik. Meskipun
Braith.com memiliki kekurangan, tetapi web ini masih diperkirakan efektif digunakan untuk
membantu orang tua meningkatkan kembali konsentrasi belajar anak dan membantu siswa
sekolah dasar dan menengah yang mengidap disabilitas psikososial untuk tetap dapat
melangsungkan pembelajarannya dengan konsentrasi penuh.

Indonesia telah meratifikasi hasil konvensi “United Nations Convention on the
Rights of the Person with Disabilites” (UNCRPD) dalam Undang-Undang No. 19 Tahun
2011 tentang hak penyandang disabilitas. Namun, terkait implementasi dari hukum tersebut

25

masih sangat disayangkan oleh sebagian besar aktivis disabilitas, akademisi dan penyandang
disabilitas hingga saat ini. Infrastruktur publik, layanan lembaga negara, dan sikap
masyarakat masih dinilai segregatif dan kurang aksesibel. Padahal, Indonesia secara teoritis
mampu mentransformasikan isu disabilitas dan masyarakat inklusif ke dalam kebijakan
dengan sangat baik. Akan tetapi, dalam konstelasi praksis, Indonesia berada dalam stagnasi
karena tidak ada progresivitas yang signifikan.

Partisipasi masyarakat -Orang tua dan tenaga pendidik (tendik)-
merupakan komponen yang sangat penting bagi keberhasilan pendidikan inklusif.
Karena upaya ini membutuhkan kolaborasi antara masyarakat dan guru demi tercipta
dan terjaganya komunitas kelas yang hangat, merangkul keragaman, dan
menghormati perbedaan. Keterlibatan masyarakat sangat penting diwujudkan dalam
implementasi pendidikan kebutuhan khusus, karena masyarakat memiliki berbagai sumber
daya yang dibutuhkan sekolah. Tujuan pendidikan untuk kesejahteraan akan tercapai jika
peran serta masyarakat dapat dimaksimalkan untuk mendukung pendidikan inklusif. Dengan
demikian, peningkatan konsentrasi belajar pada siswa disabilitas psikososial diharapkan
dapat mendukung kehidupan yang inklusif di Indonesia pada puncak bonus demografi yang
dicanangkan akan terjadi pada tahun 2045, tepat saat Indonesia berusia 100 tahun.

Inovasi berbasis web ini, memiliki peluang untuk bisa direalisasikan
melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak terkait untuk membuat website ramah
disabilitas psikososial sehingga bisa dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan konsentrasi
belajar pada siswa. Sejalan dengan hal tersebut, diperlukan dukungan penuh
dari pemerintah, tenaga pendidik, psikolog, dan orang tua untuk menjadikan gagasan
ini sebagai alternatif pengoptimalisasian kegiatan belajar mengajar yang
melibatkan kontribusi aktif dari masyarakat sekitar juga. Dengan demikian,
pergerakan masyarakat sebagai subjek pembangunan secara regulatif mempu
mewujudkan masyarakat Indonesia yang inklusif.

26

Daftar Pustaka

Dinsos, A. (2019, Februari 6). Mari Ciptakan Indonesia yang Inklusif dan Ramah
Disabilitas. Retrieved from Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Buleleng.

Gutama, P. P., & Widiyahseno, B. (2020). INKLUSI SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN
DESA. unitri.ac.id, 71-76.

Hidayat, A. H. (2018). Mengenal Anak Dengan Disabilitas Psikososial: Panduan Dasar
bagi Orang Tua dan Keluarga. Jakarta Pusat: Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak.

Huda, A. N. (n.d.). Studi Disabilitas dan Masyarakat Inklusif: Dari Teori Ke Praktik (Studi
Kasus Progresivitas Kebijakan dan Implementasinya di Indonesia).
doi:https://doi.org/10.14421/jkii.v3i2.1207

Khotimah, K. (2021). Konsep Brain Gym Paul Edennison Terhadap Perkembangan
Kecerdasan Spiritual Pada Anak Usia Dini. 15–32.

Maftuhin, A. (2017). Mendefinisikan Kota Inklusif: Asal-Usul, Teori Dan Indikator, 93–
103. Https://Doi.Org/10.14710/Tataloka.19.2.93-103

Saputro, 2015, Sulistyo et, al. Analisis Kebijakan Pemberdayaan dan Perlindungan Sosial
Penyandang Disabilitas, Surakarta: Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan
Kemiskinan dan Perlindungan Sosial.

Siti Hajah Nuraeni, H. A. (2016). Partisipasi Masyarakat dalam Mendukung Pelaksanaan
Pendidikan Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Prosiding Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat. doi:https://doi.org/10.24198/jppm.v3i2.13653

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan
Convention on the Rights of Persons with Disabilities.

27

Bandar Madani Menuju Masyarakat Inklusi

Linda Indriani

Dalam suatu tempat pastinya memiliki keberagaman yang setiap bentuknya unik dan
wajib untuk dihormati oleh penduduknya. Apalagi negeri Indonesia adalah negeri yang
sangat terkenal akan hal itu, dengan dasar itulah masyarakat Indonesia sudah dibiasakan
untuk menghargai segala bentuk perbedaan. Salah satu daerah atau kota di Indonesia yang
biasa dikenal sebagai kota industri maupun bandar madani ini juga memiliki beragam jenis
masyarakat di dalamnya.

Membahas tentang keberagaman tidak akan ada habisnya, tetapi perlu diketahui
keberagaman bukan hanya dalam bentuk ras, suku, agama, warna kulit, dll. Tapi juga dalam
hal bentuk atau keadaan fisik dan juga intelektual. Sebagaimana yang kita ketahui tidak
semua individu memiliki keadaan fisik dan intelektual yang normal seperti kebanyakan
orang lainnya. Tetapi perlu ditekankan walaupun mereka sedikit berbeda dari yang lainnya,
itu tidak menghalangi kaum disabilitas untuk mendapatkan hak sebagaimana yang orang
normal lainnya terima. Oleh sebab itu hendaknya masyarakat mulai melirik kehidupan yang
berdampingan sebagai masyarakat yang inklusi.

Berbicara tentang masayarakat inklusi, perlu kita pahami kembali apa itu
“masyarakat inklusi”. Masyarakat inklusi dapat diartikan sebagai masyarakat yang mampu
menerima berbagai bentuk keberagaman dan perbedaan setiap individu dengan cara
menghormati dan dapat mengakomodasikan kebutuhan mereka dalam bentuk tatanan atau
sistem, maupun fasilitas umum lainnya dalam lingkungan bermasyarakat maupun
pemerintahan.

Tetapi dalam menyikapi hal ini khususnya di kota Batam tidaklah semudah yang
dipirkan, tentunya hal ini memiliki berbagai kendala dalam prosesnya. Seperti yang dapat
dilihat dari keadaan ini beberapa tahun silam, masih banyak ditemui masyarakat disabilitas
yang sulit untuk mendapatkan haknya ataupun mendapat tempat dihati masyarakat. Seperti
sulitnya mendapatkan pendidikan yang ramah untuk disabilitas, karena minimnya jumlah

28

sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, sehingga banyak anak-anak dengan hambatan
fisik atau intelektual yang dibiarkan berada disekolah umum yang tidak paham akan keadaan
mereka dan yang lebih mirisnya mereka tidak disekolahkan. Keadaan ini terjadi selain
karena minimnya sekolah untuk disabilitas juga karena faktor masih banyaknya orang tua
yang belum paham akan kondisi anaknya, dan menganggap anaknya hanya “bodoh dan
malas”. Padahal mereka membutuhkan penanganan yang sesuai dan pengertian yang lebih
besar dari anak lainnya.

Selain dalam bidang pendidikan, hal ini juga terlihat pada penggunaan transportasi
umum seperti trans batam. Memang benar trans batam sudah menyediakan tempat duduk
untuk orang dengan berkebutuhan khusus, tetapi masih banyak dijumpai orang-orang yang
tetap dengan sengaja menduduki tempat tersebut, sehingga dinilai tidak tepat sasaran.

Selain itu, biasanya di tempat-tempat publik terdapat toilet yang ditepatkan untuk
orang dengan kebutuhan khusus, tetapi masih banyak dijumpai sejumlah oknum yang tidak
berkebutuhan khusus yang menggunakannya, hal ini dinilai karena mereka tidak ingin lelah
dan lama mengantre untuk menggunakan toilet, tentu saja hal ini sangat salah. Dan masih
banyak kasus-kasus serupa, dengan ketidak peduliannya masayarakat terhadap
menggunakan fasilitas yang tidak ditujukan untuknya.

Faktor utama yang meyebabkan hal yang telah disebutkan diatas terjadi adlah karena
kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya saling mengerti dan membantu
pengakomodasian untuk masyarakat dengan disabilitas. Hal ini dapat ditangani dengan
pemberian sosialisasi oleh pemerintah maupun masyarakat yang paham akan hal ini. Satu
gerakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama tentu akan menunjukkan perubahan yang
baik.

Seiring berjalannya waktu, teknologi pun semakin terdepan, segala bentuk hal pun
dapat didemokan di berbagai media sosial. Hal inilah yang dapat digunakan untuk
memberikan secercah cahaya untuk masyarakat agar mampu memahami tentang disabilitas
dan menuju masyarakat yang inklusi. Perkembangan teknologi membuat sumber informasi
terkait orang dengan berkebutuhan khusus tersedia banyak. Mulai dari penanganan, hingga

29

kisah-kisah orangtua yang menangani anak mereka yang berkebutuhan khusus. Hal ini
disambut sangat baik oleh masyarakat dan dinilai efektif.

Dengan berbagai gerakan yang telah dilakukan, sekarang dapat dilihat Batam bandar
madani sudah mulai menjadi kota dengan masyarakat yang inklusi. Hal ini dapat dilihat dari
beberapa hal dasar, yaitu:

1. Transportasi ramah disabilitas
Sekarang disetiap transportasi umum seperti busway (trans batam) memiliki tempat
duduk untu orang dengan berkebutuhan khusus, dan hal baiknya yaitu masyarakat
sekarang sudah mulai paham bahwa kursi tersebut memiliki prioritas dan tidak boleh
sembarang diduduki, sehingga hal ini sudah tepat sasaran dan mulai efektif.

2. Sekolah untuk disabilitas bertambah
Dengan mulai terbukanya pemahaman para orang tua tentang kondisi anaknya dan
bagaiamana cara yang tepat untuk memberikan kebutuhan yand adil dan baik. Maka
banyak orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas mulai menyekolahkan
anaknya di tempat yang tepat. Hal ini mengakibatkan banyaknya dibutuhkan
sekolah-sekolah khusus untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini lah yang
menggerakkan pemerintah dan aktivis-aktivis mendirikan banyak sekolah luar biasa
yang tersebar diberbagai tempat agar tujuan penyerataan pendidikan untuk anak
berkebutuhan khusus terpenuhi.

3. Masjid dengan fasilitas untuk berkebutuhan khusus
Di sejumlah masjid-masjid, khususnya masjid besar di kota Batam sudah banyak
ditemui tempat wudhu yang ramah untuk disabilitas, yang menyediakan tempat
duduk untuk berwudhu, terdapat juga toilet khusus, serta memiliki kursi yang dapat
digunakan disabilitas fisik atau orang yang tidak kuat untuk sholat berdiri, sehingga
dapat sholat dengan duduk di kursi yang telah disediakan di shaf pinggir. Hal ini
tentu sangat bagus untuk mengaomodasikan kebutuhan orang dengan kebutuhan
khusus.

4. Pelayanan publik yang ramah disabilitas

30

Pelayanan publik sangat beragam, tetapi khususnya hal ini terlihat saat pemberian
vaksin. Orang dengan disabilitas dapat didahulukan prosesnya, dan juga diberikan
arahan yang jelas dan baik untuk mengikuti langkah- langkahnya.
5. Pusat perbelanjaan dengan fasilitas untuk berkebutuhan khusus
Sekarang sudah banyak dijumpai pusat perbelajnaan yang memikirkan fasilitas yang
dapat membantu disabilitas sehingga belanja lebih menyenangkan. Seperti lift
ataupun travelator atau marga laju yang tentunya memudahkan disabilitas yang
menggunakan kursi roda untuk melakukan mobilisasi.

Dengan adanya upaya perbaikan dan kemauan masyarakat untuk dengan senang hati
dan berpikiran terbuka untuk masyarakat dengan kebutuhan khusus mendapatkan hak dan
akomodasi fasilitas, serta mobilisasi yang adil maka tak heran sekarang kota bandar madani
ini sudah menjadi kota yang masyarakatnya inklusi terhadap beragam perbedaan. Memang
tidaklah mudah dan instan tetapi dengan kerjasama berbagai pihak, media massa, maupun
orang yang selalu berbagi cerita dan tips di media sosial tentang pentingnya hal ini maka
banyak masyarakat yang sudah bisa mensikapi bagaimana cara hidup berdampingan dengan
masyarakat dengan kebutuhan khusus. Sudah jarang terdengar anak-anak spesial yang tidak
pergi sekolah ataupun yang dikurung dirumah karena gunjingan tajam tetangga yang
menyebut mereka idiot. Kepedulian dan saling menghargai sudah mulai tertanam dalam diri
masyarakat, walaupun memang tidak bisa menjamin semua masyarakat berpikiran terbuka
tetapi minimal gerakan kecil untuk saling membantu sudah mulai terlihat dan dapat
dirasakan.

Pandangan tentang semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama dan adil
dimata hukum menjadi landasan hal ini. Perlu ditekankan, adil bukan berarti harus mirip dan
seragam, adil adalah dimana kebutuhan setiap orang yang berbeda-beda dapat terwujud
dengan cara yang beragam tanpa menyakiti yang lainnya. Semoga apa yang telah dicapai
masyarakat kota bandar madani ini untuk menjadi masyarakat yang inklusi dapat terus
terlaksana dan menjadi lebih baik, dari segi pandang masyarakat, pemerintah, maupun
pemerataan fasilitas.

31

Substansi Pendidikan Inklusif untuk Anak-Anak Indonesia

I Made Punia Darmika

Pendidikan adalah jalan untuk meningkatkan kualitas dalam diri manusia. Semua
orang membutuhkan pendidikan untuk bisa menemukan jati dirinya dan membuka
pandangan yang lebih luas tentang lingkungan sekitarnya dan dunia luar. Melalui jalan
pendidikan anak-anak dapat menumbuhkan rasa toleransi dan saling menghargai antar
sesama tanpa mempermasalahkan perbedaan sehingga tercapainya masyarakat inklusif.
Pendidikan inklusif sendiri merupakan sistem pendidikan yang memberikan kesempatan
kepada semua anak yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa untuk dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan
secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Sistem pendidikan ini harus
dapat menyediakan sarana dan prasarana, pendidik, tenaga kependidikan dan kurikulum
yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik.

Inklusif memang bukan kata yang banyak orang kenal. Inklusif berasal dari kata
“inclusion” yang bearti mengajak masuk atau mengikutsertakan. Inklusif disini memiliki arti
mampu menerima berbagai bentuk keberagaman dan keberbedaan serta mengakomodasinya
ke dalam berbagai tatanan maupun infrastruktur yang ada dalam pendidikan. pendidikan
inklusif merupakan sistem penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dengan
mengakomodasi semua peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus, pendidikan
layanan khusus dan peserta didik lainnya tanpa adanya diskriminatif dengan cara belajar
bersama.

Pendidikan inklusif memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan yang seluas-
luasnya kepada seluruh peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental dan
sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mendapatkan
pendidikan yang bermutu sesuai dengan kemampuannya dan apa yang mereka butuhkan.
Pendidikan inklusif merupakan upaya mewujudkan pelaksanaan pendidikan yang
menghargai keanekaragaman dan tidak adanya diskriminatif untuk semua peserta didik.

32

Pendiddikan inklusif secara khusus bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
dalam pembelajaran, meningkatkan perolehan hasil belajar anak, meningkatkan
pemberdayaan nilai-nilai budaya lokal, dan meningkatkan peran tiga komponen yaitu orang
tua, masyarakat, dan pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan.

Menurut Darma dan Rusyid (2013), terdapat beberapa model/bentuk dari sekolah
inklusif. Model yang pertama yaitu kelas reguler (inklusi penuh). Pada kelas ini anak
berkebutuhan khusus belajar bersama anak normal sepanjang hari di kelas reguler dengan
menggunakan kurikulum yang sama. Model yang kedua yaitu kelas reguler dengan kluster.
Anak yang berkebutuhan khusus belajar bersama anak-anak normal di kelas reguler dengan
kelompok khusus. Model selanjutnnya yaitu kelas reguler dengan kluster dan pull out, anak
yang berkebutuhan khusus belajar bersama anak normal di kelas reguler dalam kelompok
khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke kelas lain untuk belajar
dengan guru pembimbing khusus. Selain itu juga ada kelas khusus dengan berbagai
pengintegrasian. Dalam kelas ini anak berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus
pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama dengan
anak-anak normal di kelas reguler. Yang terakhir adalah kelas khusus penuh, yaitu anak
berkebutuhan khusus belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.

Dalam penelenggaraan pendidikan ini kurikulum harus disesuaikan dengan
kebutuhan peserta didiknya. Penyesuaian kurikulum dalam pendidikan inklusif lebih
menekankan pada bagaimana memberikan perhatian penuh terhadap keperluan peserta
didik, sehing perlu adanya penyesuaian kurikulum berkaitan dengan waktu penguasaan
terhadap sejumlah materi pelajaran. Fleksibilitas kurikulum harus dijadikan prioritas utama
untuk memberikan kemudahan pada para peserta didik yang belum mendapatkan layanan
pendidikan yang baik demi menunjang karier dan masa depanya. Contohnya yaitu dengan
memberikan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka dan berkaitan dengan
keterampilan serta potensi anak yang belum berkembang.

Dalam sebuah kelas inklusif pastinya akan terdapat peserta didik yang beragam salah
satunya dalam hal kemampuan untuk memahami materi pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam
pelaksanaan pendidikan inklusif seorang pendidik harus dapat mencari dan menggunakan

33

pendekatan yang mampu mengakomodasi seluruh peserta didik tanpa menyulitkan peserta
didik dengan berkebutuhan khusus sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Penilaian dalam pendidikan inklusif akan disesuaikan dengan kebutuhan peserta
didik termasuk untuk anak dengan kebutuhan khusus. Pendidik harus dapat memperhatikan
keseimbangan kebutuhan antara peserta didik dengan berkebutuhan khusus dan peserta didik
normal lainya. Pembelajaran yang ramah dan menyenangkan sangat diperlukan demi
mendorong kelancaran dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Para peserta didik
dengan berkebutuhan khusus memerlukan dukungan dan motivasi lebih yang mampu
mendorong mereka untuk dapat mempelajari dan berinteraksi dengan lingkungan.

Pendidikan inklusif memberikan beragam manfaat bagi anak-anak yang sedang
menempuh pendidikan. Anak-anak akan mampu mengembangkan pertemaan, persahabatan,
dan belajar berinteraksi satu sama lain melalui kegiatan pembelajaran dan permainan.
Pendidikan inklusif akan melatih anak untuk dapat menghargai dan merangkul perbedaan
dengan menghilangkang diskriminatif. Para peserta didik akan didorong untuk menjadi lebih
berakal, kreatif, dan kooperatif. Selain itu peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus
memiliki kesempatam untuk belajar keterampilan baru dengan mengamati dan meniru
peserta didik lain.

Pendidikan inklusif tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta ddik tetapi juga
kepada pihak lainnya. Pendidikan inklusif membantu anak berkebutuhan khusus untuk
berkembang menjadi lebih siap dan bertanggung jawab atas hak-hak kehidupan masyarakat.
Pendidikan inklusif mampu membuat para pendidik berkembang secara professional dengan
belajar keterampilan baru dan memperluas pandangan mereka tentang perkembangan anak.
Selain itu para pengajar juga dapat membangun hubungan yang kuat dengan para orang tua.
Hal ini membuat orang tua lebih mengetahui sistem belajar di sekolah dan juga akan
meningkatkan kepercayaan para orang tua terhadap guru dan sekolah.

Pendidikan merupakan proses dasar yang harus ditempuh anak untuk memulai tahap
kehidupan selanjutnya. Kualitas pendidikan yang baik akan menjadi pondasi yang kuat
untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menuju masyarakat inklusif. Pendidikan inklusif

34

tidak hanya tentang anak berkebutuhan khusus saja, tetapi memiliki makna yang lebih luas
dan mendalam. Pendidikan yang baik harus mampu membangun rasa toleransi terhadap
keberagaman yang ada di tanah air. Anak-anak generasi muda bangsa tidak hanya belajar
tentang lingkungan sekitar tempat tinggalnya saja, tetapi harus dapat mengenal berbagai
keberagaman budaya yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat Indonesia
yang majemuk mengharuskan kita dapat saling mengenal dan memahami satu sama lain
sehingga mudah untuk timbul rasa empati. Selanjutnya melalui rasa empati akan melahirkan
rasa toleransi.

Mempelajari kebudayaan/kebiasaan dan adat istiadat daerah lain bukan berarti kita
tidak mencintai kebudayaan daerah sendiri. Justru dengan mempelajari kebudayaan daerah
lain akan memperluas wawasan kita tentang Nusantara dan meningkatkan rasa toleransi.
Toleransi tidak hanya tentang perbedaan kebudayaan tetapi juga dalam perbedaan ras,
agama, dan juga pendapat atau pandangan. Melalui pendidikan pendidkan inklusif akan
mamu memberikan ruang seluas-luasnya bagi anak untuk mengenal keberagaman yang ada
tanpa adanya diskriminasi baik itu fisik, status sosial, warna kulit, maupun agama. Setiap
anak akan mendapatkan hak yang setara untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sikap
saling menghargai harus ditanamkan sejak dini demi mewujudkan masyarakat inklusif.
Inklusif tidak hanya sekedar pernyataan yang dibuat-buat tanpa tujuan, melainkan sebuah
cita-cita yang haru direalisasikan dengan tindakan nyata dari seluruh warga negara
Indonesia.

35

Perhatian Pemerintah di Masa Indonesia Menuju Masyarakat Inklusif
Pada Fasilitas Sektor PRATA: Pariwisata Ramah Disabilitas

Wanda Haura Salsabiella dan Sya Syaa Rizqya Surya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pariwisata memiliki pengertian yaitu
berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi; pelancongan; turisme. Indonesia memiliki
banyak kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai objek pariwisata. Maka dari itu,
pariwisata di Indonesia diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan terbesar kedua setelah
pajak (DPR, 2019). Sektor ini terlihat menjanjikan dikarenakan kegiatan pariwisata dapat
dilakukan oleh siapapun dan yang berasal dari golongan manapun. Selain itu, sektor
pariwisata bisa juga dijadikan sebagai salah satu sumber perekonomian utama di Indonesia,
karena berpeluang untuk menciptakan lapangan kerja. Pariwisata juga memiliki peran untuk
dapat memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke seluruh dunia yaitu mengenalkan budaya,
suku, adat, pakaian, makanan, sumber daya alam dan keindahan alam yang ada di Indonesia
(Kesami, et al, 2021). Namun, hal ini menimbulkan sebuah praduga bahwa sejauh mana
pariwisata di Indonesia sudah ramah bagi para disabilitas saat ini.

Terdapat salah satu contoh suara yang terdengar bahwa para disabilitas masih merasa
dijadikan anak tiri di ibukota, hal itu disampaikan oleh Ketua Persatuan Penyandang
Disabilitas Indonesia (PPDI) Leindert Hermeinadi pada tahun 2020, beliau mengatakan
bahwa masih banyak fasilitas umum yang belum ramah untuk disabilitas terutama bagi
pengguna kursi roda, contohnya Transjakarta Koridor Lebak Bulus-Kota. Selain itu, terdapat
fasilitas umum yang masih belum menyediakan akses untuk kursi roda dan tidak
menyediakan lahan parkir untuk kendaraan khusus disabilitas (motor roda tiga tidak diterima
di parkiran motor/mobil) (Pradianto, 2020).

Selain transportasi umum terdapat objek pariwisata yang masih perlu mendapatkan perhatian
dalam hal aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Tempat pariwisata pertama yang dapat
diangkat sebagai contoh belum ramah disabilitas adalah Situ Cangkuang yang berlokasi di
Garut, Jawa Barat. Hal ini diakui oleh Bapak Helmi Budiman seorang Wakil Bupati Garut,
menurut pernyataannya pada awak media tahun 2019, Situ Cangkuang masih sulit diakses

36

oleh disabilitas karena kurangnya fasilitas yang memadai. Selain Situ Cangkuang, ada juga
Pantai Pangandaran yang masih belum ramah disabilitas, hal itu disampaikan oleh ketua
DPRD Kabupaten Pangandaran Bapak Asep Noordin, diakui bahwa Taman Pangandaran
Sunset belum menyediakan fasilitas disabilitas untuk akses kursi roda dan trotoar. Hal yang
dapat menjadi faktor tempat wisata alam masih kekurangan fasilitas yang ramah bagi
disabilitas adalah karena wilayah tersebut memiliki medan yang terjal sehingga sulit untuk
membuat akses di area tersebut (Fadilah, 2022).

Selain itu, terdapat fenomena yang tidak jarang terjadi yaitu oknum pedagang kaki
lima yang memakai trotoar sebagai tempat berjualan, hal tersebut sangat mengganggu bagi
para penyandang disabilitas terutama penyandang hambatan penglihatan dan pedestrian
yang ingin menggunakan fasilitasnya. Peneliti juga masih sering melihat banyak pengguna
transportasi umum yang menempati kursi khusus disabilitas sedangkan fasilitas tersebut
bukanlah haknya. Contoh di atas menjadi hal lumrah yang dapat dilihat secara nyata pada
kehidupan sehari-hari. Padahal transportasi merupakan salah satu hal yang penting jika ingin
berwisata, jika tidak memiliki kendaraan pribadi maka transportasi umum dapat menjadi
sebuah solusi. Akan tetapi banyaknya hambatan pada fasilitas umum yang tersedia serta
pengetahuan masyarakat yang rendah terhadap hak para penyandang disabilitas bisa menjadi
salah satu faktor timbulnya rasa kurang nyaman dan hilangnya minat penyandang disabilitas
untuk beraktifitas di luar rumah. Faktor tersebut dapat mengakibatkan lingkungan inklusif
yang diharapkan kehadirannya belum dapat terwujud.

Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa terdapat tempat wisata atau fasilitas umum
yang sudah memadai dan memperhatikan hak serta kebutuhan penyandang disabilitas.
Adapun beberapa contoh tempat wisata yang sudah ramah disabilitas, yaitu Monumen
Nasional. Monumen Nasional merupakan tempat wisata edukasi yang terletak di Jakarta
Pusat yang telah menyediakan fasilitas seperti toilet khusus disabilitas, lift, dan ramp atau
jalur landai yang memudahkan pengguna kursi roda.

Selain itu terdapat Masjid Istiqlal yang merupakan rumah ibadah umat Muslim yang
berlokasi di pusat Ibukota. Masjid Istiqlal menyediakan lift dengan suara untuk memudahkan
penyandang hambatan penglihatan. Pada tahun 2020, Masjid Istiqlal dicanangkan akan

37

menyediakan Juru Bahasa Isyarat dan layar besar agar saat ada kajian para penyandang
disabilitas dapat turut menyimak materi melalui layar yang tersedia (Agam, 2020).

Tidak hanya di Ibukota saja, tetapi di daerah luar Jakarta juga sudah siap membuat
perubahan pariwisata ini menjadi pariwisata inklusif. Di daerah Yogyakarta juga sudah
memiliki beragam tempat wisata yang ramah disabilitas. Dikutip dari laman resmi
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif hal ini membuat kota yang terkenal dengan
kuliner khas gudeg itu disebut menjadi kota paling inklusif di Indonesia. Hal ini terbukti dari
tempat wisata yang sangat beragam tetapi tetap memperhatikan fasilitas untuk disabilitas.
Destinasi tersebut antara lain ialah Keraton, Malioboro, Benteng Vredeburg, Gembira Loka,
Pantai Sili, Gunung Kidul, Taman Pelangi Monjali dan Taman Pintar.

Pada Museum Benteng Vredeburg juga disebut sebagai destinasi wisata ramah
disabilitas karena penyediaan fasilitasnya. Area tersebut juga memiliki guiding block untuk
memudahkan penyandang hambatan penglihatan, selain itu juga tersedianya kursi roda dan
ramp. Selain Benteng Vredeburg, Taman Pintar juga menjadi salah satu wisata edukasi yang
ramah disabilitas. Hal ini terbukti dari tersedianya fasilitas khusus disabilitas dan
menggratiskan tiket masuk bagi pelajar disabilitas. Kemudian beralih dari Jogja, kota
selanjutnya adalah Malang. Kota ini telah menyediakan fasilitas umum yang ramah
disabilitas salah satunya ialah Jatim Park 2, tempat pariwisata yang terletak di kota Batu ini
merupakan tempat wisata yang juga sudah ramah disabilitas. Terlihat dari tersedianya toilet
khusus disabilitas, ramp dan menyediakan kursi roda yang bisa dipinjam oleh pengunjung.

38

Setelah melihat kekurangan dan kelebihan dari fasilitas atau tempat pariwisata bagi
disabilitas yang ada di Indonesia, peneliti ingin menyampaikan opini dan saran untuk
mewujudkan lingkungan yang inklusif. Setelah melakukan penelitian melalui pengisian
formulir daring pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), sebanyak 4 (empat) dari 8
(delapan) siswa yang menjadi objek penelitian menunjukkan tanda bahwa pengetahuan dari
beberapa siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) terhadap fasilitas dan aksesibilitas bagi para
disabilitas masih kurang di Indonesia, sebagian dari mereka belum mengetahui nama dan
fungsi fasilitas tersebut, padahal seharusnya hal ini dapat diatasi dengan melakukan edukasi
yang dimulai dari lingkungan rumah dan lingkungan pendidikan, agar semua orang
memahami bahwa fasilitas tersebut disediakan untuk teman-teman disabilitas.

Oleh dari itu, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
bersama dengan beberapa Kementerian terkait dapat lebih menggaungkan dan
mengkampanyekan destinasi wisata ramah disabilitas. Dalam ranah ini pariwisata dapat
berperan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat Indonesia bahwa mereka para disabilitas
juga memiliki hak yang sama seperti kita dalam menikmati fasilitas umum terutama pada
tempat pariwisata. Sehingga tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap teman-
teman penyandang disabilitas dapat terus meningkat seperti yang telah dijelaskan pada
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disebutkan bahwa
setiap warga negara termasuk penyandang disabilitas mempunyai hak untuk mendapatkan
fasilitas di sektor kebudayaan dan pariwisata.

Jadi sudah saatnya Indonesia membenahi fasilitas yang tersedia agar penyandang
disabilitas lokal maupun mancanegara yang sedang berwisata dapat merasa aman dan
nyaman. Sehingga harapan dan cita-cita terwujudnya lingkungan yang inklusif pada
masyarakat Indonesia yang dicanangkan mendapat bonus demografi pada tahun 2045 dapat
terwujud tanpa terkecuali bagi teman-teman disabilitas yang memiliki potensi luar biasa.

39

Daftar Pustaka

Agam, M. (2020). Masjid Istiqlal Bakal Lebih Ramah Disabilitas [daring]. Tersedia pada
https://umma.id/post/masjid-istiqlal-bakal-lebih-ramah-disabilitas-786197?lang=id
(diakses pada 22 Juli 2022)

Dewan Perwakilan Rakyat RI. (2019). Pariwisata Berikan Kontribusi Pada Pendapatan

Negara [daring]. Tersedia pada

https://www.dpr.go.id/berita/detail/id/24852/t/Pariwisata+Berikan+Kontribusi+pada+P

endapatan+Negara (diakses pada 22 Juli 2022)

Fadilah, A. (2021). Objek Wisata Pantai Pangandaran Belum Ramah Disabilitas [daring].
Tersedia pada https://www.detik.com/jabar/wisata/d-6009756/objek-wisata-pantai-
pangandaran-belum-ramah-disabilitas (diakses pada 23 Juli 2022)

Kesami, P., Arismayanti, N., Sari, N. (2021). Peran dan Hambatan Stakeholder dalam
Penyediaan Fasilitas dan Aksesibilitas Pariwisata Bagi Wisatawan Disabilitas Di Kota
Denpasar. Jurnal Kepariwisataan dan Hospitalitas. 5(1).

Pemerintah Indonesia. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang
Disabilitas. Sekretariat Negara. Jakarta.

Pradianto, F. (2020). Penyandang Disabilitas Merasa Dianaktirikan [daring]. Tersedia pada
https://rm.id/baca-berita/megapolitan/56521/fasilitas-umum-diskriminatif-
penyandang-disabilitas-merasa-dianaktirikan (diakses pada 24 Juli 2022)

40

Dibalik Keterbatasan Terdapat Perjuangan
Mempertahankan Hak-Hak Kemanusiaan Dan Kehidupan

Anggie Anindhita Maharani dan Sausan Fauziah Zahra

A. Satu dalam keberagaman

Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam. Mulai dari budaya, suku, daerah,
bahasa, flora dan fauna. Masyarakatnya pun memiliki keberagaman akan karakter dan fisik.
Ada orang yang normal dengan fisik, mental dan intelektual yang memadai. Namun, ada
juga orang dengan keterbatasan fisik, mental, maupun intelektualnya yang membuat mereka
mengalami kesulitan akan rintangan hidupnya. Tapi atas segala perbedaan tersebut
seharusnya tidak menjadi penghalang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai inklusif pada
diri masyarakat.

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna. Diluar sana masih banyak yang
mempunyai masalah dalam kebebasan hidup. Penyandang disabilitas menjadi salah satu
kelompok yang rentan akan ketidakberdayaan, mirisnya hingga saat ini masih banyak
tanggapan negatif dan perlakuan tidak baik terhadap mereka.

Dalam konteks ini, lingkungan mempunyai peran penting dalam
menentukan pendamping dan penyesuaian bagi penyandang disabilitas agar tercapainya
nilai inklusif. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih dalam tahap pembangunan dan
perencanaan. Suatu hal yang perlu kita perhatikan saat ini, banyak pembangunan
infrastruktur yang nyaman, tetapi tidak untuk fasilitas yang ramah disabilitas, sebab masih
jauh dari kata merata.

Sebagai makhluk sosial, kita hidup secara berdampingan, ketergantungan maupun
berkesinambungan. Mengingat kembali teks pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea 2 dan
4 yang mengamanatkan untuk menciptakan rasa “besatu, berdaulat, adil dan makmur” serta
mampu “memajukan kesejahteraan umum”. Di lingkungan yang kita tempati agar terbebas
dari sekat penghalang dengan mahluk sosial lainnya.

Layanan rehabilitasi sosial dan aksesibilitas terhadap penyandang disabilitas belum
sepenuhnya dapat terwujud di Indonesia. Seorang penyandang disabilitas sulit memperoleh
hak layanan fasilitas publik, baik akses pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan,
perlindungan hukum, akses informasi, komunikasi, serta layanan politik dan hukum.
Pemerintah merupakan instrumen penting dalam mewujudkan tujuan bernegara diantaranya
mensejahterakan dan memakmurkan kehidupan bangsa. Tujuan tersebut sejatinya dapat
terwujud apabila pondasi bernegara dapat dijaga dan dijalankan dengan baik, sesuai yang
telah diatur oleh Undang-Undang Dasar NRI.

41

Pemerintah mengatur jalannya proses berkehidupan sesuai dengan amanat konstitusi
tanpa membedakan hak-hak warga negara satu dengan yang lainnya. Hak-hak warga negara
merupakan hal yang vital untuk diperhatikan, negara menjamin hak warganya melalui
kebijakan-kebijakan yang telah diatur ataupun diperjelas oleh pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah. Menjawab persoalan yang ada, kami akan memberikan sederet
pemahaman dan solusi agar terciptanya masyarakat dengan rasa inklusif terhadap sesama.

B. Satu naungan dalam keterbatasan

Seperti yang kita ketahui sebelumnya, bahwa pemerintah berperan penting dalam
memenuhi berbagai fasilitas untuk seluruh rakyatnya. Namun, sudah seharusnya
memperhatikan bagaimana kondisi para penyandang disabilitas. Sebab, fasilitas khusus
penyandang disabilitas belum sepenuhnya merata dan terpenuhi. Dan nyatanya banyak dari
penyandang disabilitas yang belum bisa menikmati fasilitasnya, misalnya trotoar yang
terlalu tinggi, tanjakan yang curam, dan beberapa fasilitas di jalanan seperti guiding block,
dot tactile alumunium cor, portal S, dan keramik difabel yang tidak merata dan tidak terawat.
Karena hal itu, mereka merasa kesulitan untuk beraktivitas di ruang publik apalagi jika tidak
ada pendampingnya.

Kepekaan dan kepedulian masyarakat sekitar juga perlu diperhatikan, akan percuma jika
yang ambil peran hanya dari pihak pemerintah tanpa adanya partisipasi relawan dari pihak
masyarakat. Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
Telah mengakomodir semua keperluannya, mulai dari pelayanan, pemenuhan dan hak
penyandang disabilitas. Hak penyandang disabilitas tidak hanya pendidikan, pekerjaan,
aksesibilitas dan kesejahteraan sosial, tetapi seluruh hak yang menyangkut hajat hidup
manusia secara universal.

C. Perbedaan menjadi perpecahan

Penyandang disabilitas menjadi salah satu kelompok yang kerap mengalami masalah
diskriminasi, ketersisihan dan keterlantaran. Semua hal itu dapat terjadi karena tidak adanya
sifat inklusif pada diri masyarakat. Hal ini sangat membawa infek kepada kesehatan mental
mereka. Mirisnya mereka akan meresa tidak percaya diri karena kekurangannya itu dan lebih
parahnya lagi dapat mendorong mereka melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri
bahkan dapat mengancam nyawa mereka. Hanya karena mereka berbeda, timbul
berbagai tindakan diskriminasi yang tertuju pada mereka. Entah di sekolah, lingkungan
sekitar, maupun di tempat kerja.

Saat menempuh pendidikan, banyak sekolah yang tidak dapat menerima penyandang
disabilitas, walaupun sekolah telah menerima, tetapi tidak untuk siswanya, kemungkinan
besar penyandang disabilitas mendapatkan perlakuan buruk, seperti bullying, hate comment
dan masih banyak lagi. Sebagimana halnya data mengatakan dalam Profil Anak Indonesia

42

2020, ada 0,79% atau 650.000 anak penyandang disabilitas dari 84,4 juta anak Indonesia.
Diketahui sebanyak 110 penyandang disabilitas yang kerap kali mengalami kekerasan. Baik
secara fisik, psikis, maupun seksual. Hal itu membuat masalah baru bagi penyandang
disabilitas, yang pada akhirnya mereka memilih untuk putus sekolah saja. Padahal selaku
pelajar seharusnya sudah mengerti akan rasa empati dan simpati.

Di lingkungan sekitar pun, kerap kali menjadi bahan gunjingan khalayak ramai, contoh
kecilnya banyak yang memandang secara enggan, seolah sedang melihat kotoran. Sampai
ada salah satu berita, yaitu tindakan kriminalitas di NTT terkait penyandang disabilitas yang
bisu mengalami pelecehan seksual. Sungguh miris ketika muncul berita-berita seperti itu.
Seharusnya, masyarakat bisa membuka mata dan hatinya untuk saling membantu dan saling
toleransi atas segala macam perbedaan dan kekurangan yang orang lain miliki.

Sama halnya dengan pekerjaan, hanya setitik harapan untuk bekerja dengan segala
kekurangan yang ada, banyak yang meragukan kemampuan mereka, walaupun mereka
memiliki kemampuan yang luar biasa, tetap saja banyak yang enggan untuk menerima atas
kekurangan yang dimiliki. Pertikaian yang terjadi karena mempersoalkan perbedaan
menjadikan rentannya perpecahan jika terus dibiarkan. Dan juga, berdampak bagi kesehatan
mental mereka yang lambat laun bisa menjadi taruhannya. Tidak semua orang memiliki
kondisi yang sama dalam menghadapi permasalahan mereka. Sama pentingnya kita juga
harus memiliki yang namanya rasa inklusif agar bisa membuat mereka merasa ditirima
dimanapun mereka berada.

D. Menjadi relawan bagi yang membutuhkan

Berbagai situasi dan kondisi membuat para penyandang disabilitas harus menghadapi
segala rintangan. Dari segala permasalahan, adapun segelintir orang yang memiliki rasa
inklusif yang tinggi, menuangkannya dalam beberapa tindakan untuk membantu para
penyandang disabilitas.

Mereka menghargai para penyandang disabilitas dan membawanya untuk melakukan
berbagai cara maupun tindakan untuk membantu penyandang disabilitas. Banyak organisasi
yang menyuarakan dan membantu mereka, contohnya saja organisasi ternama yaitu
UNICEF, yang bekerja keras untuk semua anak termasuk penyandang disabilitas agar
mempunyai kesempatan yang sama dalam belajar.

Adapun perlombaan yang inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas, atas dasar
untuk membuat mereka merasa termotivasi, karena mereka merasa bahwa ada kesempatan
untuk maju walaupun dengan segala kekurangannya. Dan tahukah kalian? Ada pula drama
Korea terbaru berjudul “Extraordinary Attorney Woo” yang mengkisahkan tentang
seseorang menyandang disabilitas. Tetapi, dengan kekurangannya itu dia dapat menjadi
seorang pengacara disebuah firma hukum karena kepiawaiannya dalam bertindak dan

43

berfikir cerdas serta memiliki daya ingat yang luar biasa. Dengan dibuatkannya drama
tentang penyandang disabilitas membuktikan bahwa masih ada yang dapat menghargai dan
peduli terhadap mereka penyandang disabilitas demi memberikan semangat serta
memotivasi, bahwasanya mereka mampu menjadi seorang yang hebat, jika mereka
bersemangat dan bertekad untuk menggapainya.

Tak lupa pula dari segi pendidikan, LPDP turut menyelenggarakan seleksi penerimaan
beasiswa bagi semua penyandang disabilitas yang diharapkan mampu memotivasi untuk bisa
lebih baik dan tetap bersemangat menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

Lalu apa yang dapat kita lakukan selaku pelajar?

Kita bisa bergabung dengan forum ataupun organisasi yang dasarnya bergerak dibidang
kepedulian sosial maupun kesejahteraan sosial. Bahkan dibeberapa sekolah terdapat ekstra
kulikuler yang turut serta memberantas tindakan diskriminasi. Contohnya PIK-R yang
bertugas untuk memberi sanksi bagi siapapun yang berani menimbulkan kegaduhan dan
ketidaknyamanan siswa. Ada juga SRA atau sering dikenal Sekolah Ramah Anak dan masih
banyak organisasi hebat lainnya. Dengan potensi ini, tindakan diskriminasi dapat
ditanggulangi dengan perlahan, hal ini sangatlah bagus untuk dikembangkan. Yang kita
perlukan adalah SDM untuk mempromosikan dan mengembangkannya lebih besar lagi agar
mampu mengajak orang lebih banyak, sehingga terciptalah masyarakat di lingkungan
sekolah yang inklusif.

E. Kesimpulan dan saran

Salah satu kelompok masyarakat yang terpresentasikan dalam sebuah masyarakat
inklusif adalah masyarakat disabilitas, penyandang disabilitas sebagai masyarakat inklusif
mempunyai perbedaan dari segi fisik dan kemampuan berfikir karena mempunyai
kekurangan. Dengan gambaran tersebut dapat kita simpulkan bahwasannya masyarakat yang
inklusif itu sangat berhubungan erat dengan masyarakat itu sendiri. Bagaimana kita
bertindak dan bagaimana kita menyikapi.

Dari penggambaran beberapa kasus maupun kondisi diatas, diperlukannya edukasi
mendasar bagi seluruh masyarakat terkait pentingnya menjadi masyarakat yang inklusif.
Dengan diberikannya penyuluhan secara berkala, setidaknya kita turut ambil bagian penting
untuk mencegah timbulnya kejadian yang tidak diinginkan dengan cara menghargai
sesama.

Dengan mendirikannya forum lingkungan menandakan bahwasanya keterbatasan
bukan menjadi hambatan menjadi seorang yang terkalahkan. Kita bisa menjadi relawan kecil
untuk menyumbang secerca harapan bagi semua orang yang membutuhkan, contohnya
seperti penyandang disabilitas.

44

Daftar Pustaka
Spa-pabk.kemenpppa.go.id. (2019). Pengertian, jenis dan hak penyandang disabilitas. https://spa-

pabk.kemenpppa.go.id/index.php/perlindungankhusus/anak-penyandang-disabilitas/723-
penyandang-disabilitas. Diakses pada tanggal 23 Juli 2022.
Databoks.katadata.co.id. (2020). Sebanyak 33 anak Indonesia dalam kondisi
disabilitas. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/12/03/sebanyak-33-anak
indonesia-dalam-kondisi-disabilitas. Diakses pada tanggal 24 Juli 2022.
Unicef.org (2019). Anak dengan disabilitas dan pendidikan.
https://www.unicef.org/indonesia/id/documents/anak-dengan-disabilitas dan-pendidikan.
Diakses pada tanggal 23 Juli 2022.
Bahri, D. P. (2018). Definisi penyandang disabilitas. Kemensos.

45

Colant: Aplikasi Pengenalan Budaya Berbasis Reward System Pada Kelompok
Penyandang Disabilitas Guna Menuju Masyarakat Inklusif

Nabila Prasetya Kartika Utami dan Fitriana Al Hidayah

1. Latar Belakang

Menurut penggalan lagu ciptaan Yura Yunita dan Donne Maula tersebut, seseorang
penyandang disabilitas harus kuat dan percaya bahwa keterbatasan yang mereka miliki
bukanlah suatu penghalang untuk terus melangkah dan meraih mimpi. Menurut Undang-
undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, penyandang disabiltas
yaitu seseorang dengan keterbatasan fisik, intelektual, mental, atau sensorik dalam jangka
panjang yang pada saat interaksi dengan lingkungannya akan menemukan hambatan ataupun
kesulitan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak. Terdapat
berbagai faktor penyebab timbulnya disabilitas diantaranya: penyakit kronis, masalah
kesehatan sejak lahir dan cedera, baik akibat kecelakaan, kebakaran, maupun yang lainnya.
Orang penyandang disabilitas memiliki cakupan yang luas, antara lain cacat fisik,
kemampuan IQ (Inteligence Quotient) rendah, dan orang yang memiliki permasalahan
kompleks sehingga mengakibatkan penurunan fungsi kognitif (Avicenna, 2019).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) persentase penyandang
disabilitas mencapai angka 10% -15% di tiap negara dunia, artinya di Indonesia terdapat
sekitar 23 juta orang. Seseorang penyandang disabilitas memiliki kehidupan dan
karakteristik yang berbeda. Merujuk pada dua permasalahan tersebut sangat diperlukan
penanganan khusus bagi mereka guna memenuhi hak-haknya seperti orang lain
pada umumnya.

Menurut Rudy (2014) berbagai masalah tentang aspek mendasar dalam kehidupan
telah mereka hadapi seperti aspek sosial dan aspek pendidikan. Pada aspek sosial biasanya
penyandang disabilitas kerap mendapatkan hinaan, pungucilan atau perlakuan diskriminatif
lainnya dari masyarakat di kehidupan sehari-hari, dengan kata lain penyandang disabilitas
tidak terlepas dari pandangan buruk masyarakat terhadap seseorang (Adugna, 2015). Hal ini
mengakibatkan orang tersebut jarang berinteraksi dengan orang lain sehingga akan
menimbulkan rasa bosan dan kesepian. Sedangkan dalam aspek pendidikan, pemerintah
telah melakukan berbagai upaya untuk penyandang disabilitas guna mengatasi masalah yang
mereka alami seperti, penyediaan fasilitas dan sarana prasarana belajar bagi penyandang
ketunaan, mengadakan kegiatan pengenalan budaya seperti pertunjukan tari daerah dan
pembelajaran alat musik daerah. Namun, upaya tersebut masih dinilai kurang efektif karena
tidak semua daerah menerapkan program yang serupa dan hal tersebut belum sesuai dengan
target terutama tentang pengetahuan budaya yang ada di Indonesia.

46

Budaya berasal dari kata buddhayah yang merupakan jamak dari buddhi
(Sansekerta) yang berarti akal atau budi. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
kebudayaan adalah suatu hasil aktivitas dan ciptaan pikiran manusia seperti kepercayaan,
kesenian, dan adat istiadat. Perwujudan dari sebuah kebudayaan dapat berupa bahasa,
pola perilaku, organisasi sosial, seni, religi, dll yang tujuannya untuk membantu
kelangsungan hidup manusia.

Kondisi geografis Indonesia mendukung negara ini memiliki banyak keberagaman
budaya yang sampai saat ini keberadaannya masih dipertahankan dan dijaga. Menurut
Yayan Bagus (2021) hasil aktivitas ribuan suku pribumi yang tinggal di kawasan tertentu
merupakan asal mula munculnya keberagaman budaya. Budaya yang berkembang
dalam tiap-tiap daerah berbeda, karena setiap daerah memiliki ciri khas masing masing.
Contoh budaya yang telah berkembang di Indonesia antara lain: tari piring, koteka,
angklung, rumah joglo, dll. Banyaknya budaya yang berkembang di Indonesia, sangat
dianjurkan bagi masyarakat untuk mempelajari, mengenal dan menjaga, terutama budaya
pada daerahnya sendiri. Meskipun banyak perbedaan tiap budaya, tetapi warga
negara Indonesia sudah seharusnya menerima keberagaman tersebut sebagai simbol
pemersatu bangsa, seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Akan tetapi, di era sekarang ini
tidak jarang masyarakat yang masih minim pengetahuan dan peduli tentang pentingnya
memahami budaya bangsa.

Berdasarkan uraian pemasalahan diatas, penulis berinisiatif mengembangkan sebuah
karya berjudul “Colant: Aplikasi Pengenalan Budaya Berbasis Reward System Pada
Kelompok Penyandang Disabilitas Guna Menuju Masyarakat Inklusif”. Inovasi ini bertujuan
sebagai langkah awal untuk meningkatkan pengetahuan dan rasa cinta penyandang
disabilitas terhadap keberagaman budaya di Indonesia.

2. Isi

Colant berasal dari singkatan colere nusantara yang artinya budaya nusantara. Colant
merupakan aplikasi game edukasi berbasis reward system sebagai media pembelajaran bagi
penyandang disabilitas dalam upaya peningkatan pengetahuan budaya di Indonesia,
meskipun demikian game ini juga dapat dimainkan oleh orang lain pada umumnya. Game
edukasi ini berisi materi tentang berbagai macam budaya yang ada di Indonesia termasuk
yang belum dikenal masyarakat, tujuannya untuk memperkenalkan keberagaman yang ada
kepada generasi penerus. Colant dirancang secara menarik dan simpel. Menarik, karena
game ini berbasis reward system berupa poin, sehingga user akan berusaha
mengumpulkan poin sesuai target guna mendapatkan reward. Selain itu, desain menarik dari
colant diharapkan dapat membuat user tidak mudah bosan saat bermain, karena semakin
tinggi levelnya maka wawasan budaya Indonesia yang diterima juga semakin banyak.
Simpel, karena game ini menggunakan fitur-fitur sederhana dan mengutamakan unsur
edukasi sehinga cocok digunakan sebagai media pembelajaran bagi penyandang disabilitas.
Colant terdiri dari 6 menu utama, yaitu menu mulai, petunjuk, pengaturan, profil, kerjakan

47

misi, dan sesuaikan. Adapun desain dan ancangan Colant secara ringkas dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Halaman Splash Screen

Halaman splash screen merupakan tampilan awal yang pertama kali dilihat oleh
user saat menjalankan aplikasi colant. Gambar peta Indonesia tersebut merupakan logo
dari aplikasi colant. Tampilan halaman splash screen seperti ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Tampilan halaman splash screen coolant
Halaman splash screen adalah halaman pembuka setelah aplikasi di eksekusi, dimana
pada halaman ini terjadi proses loading komponen-komponen yang dibutuhkan saat aplikasi
digunakan.
b. Halaman Menu Utama
Setelah proses loading, maka akan muncul halaman menu utama. Halaman menu
utama merupakan halaman yang berisi beberapa pilihan menu yang dapat dipilih user dengan
menekan tombol pilihan yang tersedia. Tombol pilihan yang tersedia berupa mulai,
lanjutkan, petunjuk, pengaturan, profil, kerjakan misi, dan sesuaikan. Tampilan halaman
menu utama dapat dilihat pada Gambar 2.

48

Gambar 2. Tampilan Halaman Menu Utama aplikasi Colant
Uraian pilihan-pilihan pada menu utama adalah sebagai berikut:

1. Mulai
Pada menu mulai, user dihadapkan dengan pilihan level, bagi pengguna baru harus
memulai dari level 1. Tampilan menu level dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Tampilah Pilihan Level
Setelah user menekan tombol level maka akan muncul soal dengan materi budaya
yang ada di Indonesia. Jika user sudah merasa lelah, mereka dapat menekan
tombol keluar yang terdapat pada bagian kanan atas. Tampilan soal dapat dilihat
pada Gambar 4.

Gambar 4. Tampilan Soal
Setelah user yakin dengan pilihannya, maka user menekan salah satu pilihan
ganda. Selanjutnya akan muncul feedback terhadap jawaban yang dipilih.
Feedback tersebut berupa komentar jawaban benar atau salah. Tampilan jawaban
benar dapat dilihat pada Gambar 5. Tampilan jawaban salah dapat dilihat

49


Click to View FlipBook Version