The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Winda Purba, 2023-05-26 11:52:39

PROJECT BUKU_KSDA _KEL 3 P.GEO E 20

PROJECT BUKU_KSDA _KEL 3 P.GEO E 20

51 “Pasang surut adalah proses naik turunnya muka laut secara hampir periodik karena gayaiitarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan matahari” (Dahuri, 1996). B. DAMPAK KEGIATAN MANUSIA PADA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE Kerusakan Akibat Ulah Manusia Wilayah pantai cukup sering dimanfaatkan manusia dalam berbagai kegiatannya, seperti pertambakan, pertanian, serta keperluan pariwisata.Kegiatan tersebut bisa saja menjadi sumber masalah yang berdampak pada nilai guna pantai baik secara langsung maupun tidak langsung.Meledaknya jumlah populasi manusia serta aktivitasnya di daerah pesisir dan daerah hulu juga merupakan penyumbang berbagai isu yang terjadi pada daerah tersebut (Pariyono, 2006). Pada umumnya, tingkat keterbukaan wilayah hutan mangrove cenderung tinggi.Lokasi hutan juga terbilang dekat dengan berbagai pusat kegiatan perekonomian masyarakat.Hal tersebut membuat kawasan mangrove di Kabupaten Serdang Bedagai memiliki tingkat interaksi sosioekosistem tinggi. Menurut Purwoko & Onrizal (2002), interaksi antara masyarakat dengan kawasan hutan yang tinggi biasanya membawa dampak yang cukup serius terhadap ekosistem kawasan maupun terhadap fungsi dan keunikannya. Di satu sisi, hal tersebut menandakan bahwa tingkat kontribusi sektor kehutanan dalam perekonomian serta pengaruhnya terhadap perekonomian rakyat terbilang intensif.Akan tetapi, akibat degradasi ekosistem mangrove terhadap perekonomian wilayah


52 pesisir dinilai krusial.Mempertimbangkan hal ini, melestarikan ekosistem mangrove adalah mutlak guna mempertahankan peran, fungsi serta keseimbangan ekosistem kawasan pesisir. Kusmana (2003) mengemukakan lima faktor utama yang menyebabkan kerusakan pada kawasan mangrove, yaitu: a. Pencemaran b. Pembangunan dermaga c. Perluasan areal tambak d. Kurangnya perhatian terhadap faktor lingkungan dalam melakukan konversi area mangrove, dan e. Penebangan serta pencemaran yang berlebihan (pencemaran minyak, logam berat.) Konversi lahan juga dilakukan guna budidaya perikanan, pertanian, ekspansi jalan, kawasan industri, pemukiman, pertambangan dan penggalian pasir.Faktor penyebab kerusakan hutan mangrove juga bersifat primer di mana hal penyebabnya dapat terjadi kapan saja dengan wilayah kerusakan yang cukup luas. a. Konversi alih fungsi hutan mangrove, landasan kegiatan konversi ini adalah demi kepentingan ekonomi saja dan mengabaikan fungsi ekologi. Kegiatan ini berdampak pada kerusakan hutan dalam jangka pendek dan bahkan jangka panjang. b. Ekploitasi berlebihan terhadap hutan mangrove guna memanfaatkan kayu pohon dalam berbagai keperluan sehingga merusak ekosistem dan sumber daya alam kawasan tersebut. c. Pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir yang belum terarah. Pengelolaan dan pemanfaatan kawasan pesisir, utamanya wilayah mangrove, belum dilakukan secara serius oleh pemerintah daerah melalui otonomi daerah. d. Penegakkan hukum yang lemah. Beberapa pihak yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya hayati hutan bakau cenderung mengabaikan keadaan ekologi kawasan tersebut. Tindakan hukum yang dilakukan


53 secara tidak tegas memperparah dampak yang ditimbulkan oleh eksploitasi oleh pihak-pihak tersebut. e. Rusaknya vegetasi mangrove diakibatkan berbagai pemanfaatan kayu hutan yang dilakukan secara berlebihan oleh masyarakat. Kerusakan kawasan mangrove juga disebabkan oleh proses tebang pilih yang kurang tepat. f. Konversi hutan mangrove cenderung mengabaikan upaya pelestarian lingkungan sekitar kawasan. g. Pembuangan limbah produksi ataupun rumah tangga seringkali dibuang di kawasan sungai sehingga limbah mengalir ke arah hutan bakau. Bengen (2001) mengemukakan bahwa dampak yang telah disebutkan diakibatkan oleh intervensi yang dilakukan manusia terhadap hutan mangrove, salah satunya peralihan fungsi kawasan mangrove demi keperluan mereka.Hal ini dikarenakan fungsi kawasan mangrove sebagai penyedia sumber daya alam yang berfungsi dalam kehidupan manusia, yakni pemenuhan keperluan rumah tangga serta industri.Dampak yang paling memengaruhi kawasan mangrove adalah hilangnya spesies flora dan fauna kawasan mangrove dalam jangka panjang.Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem mangrove dan pesisir.Oleh karena itu, Bengen (2001) menyarankan agar lebih memerhatikan isu sosial ekonomi, utamanya pemanfaatan hutan mangrove oleh manusia.Beberapa kegiatan industri, yakni budidaya perikanan atau pembuangan limbah, juga harus dipertimbangkan dengan matang. Terkait pengaruh faktor sosial-ekonomi, Dephut (2002) mengemukakan bahwa parameter sosial ekonomi yang sering digunakan untuk mengkaji kerusakan ekosistem mangrove di antaranya jumlah penduduk, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pandangan masyarakat mengenai hutan mangrove.


54 Hal ini mengindikasikan pentingnya pendekatan kelembagaan masyarakat guna menanggulangi kerusakan ekositem mangrove.Dahuri (2001) menyarankan agar kelompok atau lembaga swadaya masyarakat dibentuk untuk mengelola kawasan pesisir secara efektif.Hal ini senada dengan Wantasen (2002) yang mengemukakan bahwa keterlibatan berbagai pihak terkait dalam pengelolaan kawasan mangrove dapat mencegah kerusakan area tersebut.Penelitian yang dilakukan di kawasan Cagar Alam Mutiara Hijau di Teluk Bintuni juga menyimpulkan pentingnya melibatkan lembaga swadaya masyarakat dalam menjaga kawasan mangrove (Sihite, 2005). Ekosistem mangrove menawarkan beragam manfaat kepada manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Hutan mangrove kaya akan sumber daya alam yang membantu beberapa industri serta berperan sebagai habitat beberapa fauna (Zaitunah, 2005). Namun pada kenyataannya, kerusakan pada kawasan mangrove terbilang cukup parah. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor yang telah dibahas sebelumnya serta kecenderungan mengabaikan upaya pelestarian ekosistem.Savitri dan Khazali (1999) mengemukakan bahwa upaya konversi lahan mangrove yang tidak terkendali mengakibatkan terputusnya siklus hidup spesies ikan dan udang pada area tersebut.Hal ini memengaruhi jumlah pendapatan para nelayan kecil yang beroperasi di sekitar pantai. Jika pengelolaan oleh masyarakat terhadap kawasan mangrove tidak segera diperbaiki, potensi manfaat kawasan tersebut akan berkurang dan perlahan menghilang. Beberapa dampak yang ditimbulkan dari permasalahan ini adalah pencemaran yang tidak terkendali dan menurunnya tingkat kesehatan serta ekonomi masyarakat. Tingkat ekonomi yang menurun akan menimbulkan kemiskinan serta tindak kriminal di tengah masyarakat (Siregar dan Purwoko, 2002). Kegiatan Lain akibat Ulah Manusia sebagai berikut:


55 a. Konversi untuk pemukiman Salah satu penyebab terbesar kerusakan ekosistem hutan bakau adalah konversi untuk pemukiman. Terdapat 96% dari total penduduk Indonesia yang tinggal di radius 100 km dari garis pantai. Hal ini disebabkan kemudahan yang diperoleh dari wilayah pesisir bagi aktivitas ekonomi seperti pasar, transportasi (pelabuhan, kapal), aksesibilitas dan rekreasi. Wilayah pesisir berperan penting dalam kelangsungan proses kegiatan ekonomi di Indonesia sehingga kelestariannya patut dijaga. Namun, konversi yang dilakukan demi berbagai kepentingan hanya akan mengancam kelestarian kawasan mangrove di masa yang akan datang. b. Konversi untuk tambak Harga udang windu yang terus meroket di pasaran internasional semakin menambah jumlah lahan pertambakan. Banyak yang menganggap bahwa kawasan hutan bakau sangat sesuai untuk lokasi pertambakan.Luas lahan mangrove dijadikan sebagai patokan mengukur potensi lahan area tambak.Beberapa studi menyarankan agar pembukaan lahan hutan bakau untuk pertambakan tidak melebihi 30% dari luas kawasan.Hal ini bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem kawasan tersebut.Akan tetapi, kegiatan konversi tersebut dilakukan secara sembarangan dan terlalu fokus pada aspek ekonomi sehingga faktor ekologinya terabaikan dan merusak kawasan mangrove. c. Pengambilan kayu Beberapa contoh mangrove berupa pohon kayu adalah bakau, tanjang, api-api, pedada, nyirih, tengar dan butabuta.Beberapa pohon di kawasan hutan bakau memiliki kualitas yang baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan dan kebutuhan rumah tangga (kayu bakar).Akan tetapi, kegiatan ini juga merupakan penyumbang kerusakan ekosistem hutan bakau. Pengambilan


56 kayu menimbulkan gundulnya hutan sehingga abrasi pantai oleh gelombang pasang terjadi dan garis pantai perlahan akan rusak. d. Pencemaran Pencemaran laut adalah rusaknya kondisi laut yang ditimbulkan oleh perbuatan manusia. Lebih dari 80 persen polusi laut disebabkan oleh aktivitas yang terjadi di darat, atau dengan kata lain perbuatan manusia. Beberapa conohnya adalah pengrusakan terumbu karang dan penumpukan sampah sehingga menyebabkan zat kimia berbahaya menumpuk dan meningkatkan suhu permukaan laut.Jutaan ton sampah yang terus dibuang ke sungai dan kebocoran kapal tanker juga disinyalir menjadi sebab kerusakan pada ekosistem laut. Pencemaran minyak di laut memiliki dampak buruk terhadap ekosistem mangrove. Minyak tersebut memengaruhi sistem akar mangrove yang berperan dalam proses pertukaran CO2 dan O2. Minyak akan menutupu akar sehingga kadar oksigen akan berkurang. Endapan minyak dalam jangka panjang akan menimbulkan pembusukan akar mangrove sehingga tanaman tersebut mati. Tumpahan minyak menyebabkan kematian beberapa biota kawasan mangrove lainnya. Hutan mangrove merupakan sumber nutrisi dan tempat pemijah ikan. e. Kerusakan Akibat Faktor Alam Salah satu bentuk ekosistem yang memegang peranan penting di kawasan pesisir Indonesia adalah ekosistem mangrove. Kawasan mangrove di Indonesia diperkirakan memiliki luas 3,5 juta ha sehingga Indonesia dikenal sebagai negara dengan kawasan mangrove terluas di dunia (18-23% dari luas kawasan mangrove dunia). Beberapa negara yang memiliki kawasan mangrove yang luas adalah Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 juta ha). Mangrove terluas di Indonesi terdapat di Papua sekitar 1.350.600 ha (38% dari luas kawasan


57 mangrove di Indonesia), kemudian diikuti Kalimantan 978.200 ha (28 %) dan Sumatera 673.300 ha (19%). Mangrove dapat tumbuh maksimal pada pantai yang terlindungi meskipun di area lain tumbuhan tersebut juga dapat berkembang dan tumbuh dengan baik (Nur, 2006). Tingkat kerusakan sumberdaya pesisir, terutama pada wilayah pesisir dengan pembangunan yang pesat, semakin parah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni Eksploitasi yang tidak terkendali, Pencemaran, Penggunanan teknologi yang tidak ramah lingkungan, Abrasi pantai dan sedimentasi, gelombang laut, arus laut, angin, topografi pesisir, pasang surut, perpindahan muara sungai, dan tsunami. Kerusakan ekosistem pesisir berdampak pada penurunan kualitas habitat perikanan, menghambat populasi ikan untuk berkembang serta berkurangnya fungsi estetika lingkungan tersebut.Kegiatan eksploitasi berlebihan oleh manusia disebabkan kurangnya alternatif dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan. Ekosistem hutan mangrove kaya akan sumberdaya alami yang penuh manfaat. Salah satu contoh peranan kawasan ini adalah meredam dan melindungi kawasan pesisir dari gempuran gelombang.Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh di antara garis pasang surut.Tumbuhan ini hidup di antara kawasan laut dan daratan sehingga hutan mangrove dikenal sebagai hutan pasang.Pantai karang, di mana terdapat karang koral yang mati dan di atasnya terdapat lapisan pasir tipis atau lumpur merupakan tempat yang umum untuk hutan mangrove.Hutan ini juga terdapat pada daerah pantai yang terus menerus terendam air laut atau terkena pasang surut laut.Secara harfiah, hutan mangrove memiliki luas 3 % dari seluruh area hutan dan 25 % dari seluruh hutan mangrove dunia.Akan tetapi, kawasan vegetasi ini pantas dipertimbangkan mengingat peranan yang dimilikinya. Faktor alam


58 merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan mangrove.Namun, kerusakan tersebut bersifat sekunder. Dengan kata lain, penyebab tersebut hanya terjadi sewaktu-waktu dan wilayah yang terdampak relatif sempit. Beberapa faktor tersebut adalah sebagai berikut. 1) Angin topan Angin topan dapat mencabut pohon bakau hingga akarnya atau oleh pengendapan masif atau mengubah salinitas air dan tanah. 2) Gelombang tsunami Gelombang tsunami juga dapat mencabut pohon bakau. 3) Organisme isopoda kecil Isopoda Sphaeroma terebrans melubangi akar bakau sehingga pohon bakau tumbang. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.508 buah pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km (Soegiarto dalam Onrizal, 2002).Sebagian daerah tersebut terdapat hutan mangrove dengan luas yang beragam.Hutan mangrove terluas di dunia dimiliki oleh Indonesia (FAO, 1982).Akan tetapi, kondisi hutan cenderung terus menurun. Kusmana (1995) mencatat bahwa luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1982 adalah 4,25 juta ha. Pada tahun 1993, luasnya turun menjadi 3,7 juta ha. Hal ini dikarenakan 14 perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) telah menyewa 1,3 juta ha dari hutan tersebut. Menurut media Kompas (2000), hutan mangrove di Sumatera Barat memiliki luas 36.550 ha sementara data lain menyebutkan bahwa luas kawasan tersebut mencapai 39.832 ha. Hutan tersebut tersebar di kabupaten Pasaman (3.250 ha) tingkat kerusakan 30%, Kabupaten Pesisir Selatan 325,7 ha tingkat kerusakan 70%, Kabupaten Kepulauan Mentawai 32.600 ha dengan tingkat kerusakan 20%, Kabupaten Agam 55 ha dengan tingkat


59 kerusakan 50%, Kota Padang 120 ha dengan tingkat kerusakan 70%, Kabupaten Padang Pariaman 200 ha dengan tingkat kerusakan 80%. Tingkat kerusakan hutan mangrove di Sumatera Barat mencapai 53,34%. Hal ini mengurangi hasil tangkapan ikan menjadi 8.320 ton/tahun. Berbagai bencana ekologi dapat terjadi akibat rusaknya kawasan mangrove.Salah satu contihnya adalah tumpukan sampah di perairan Teluk Balikpapan.Pendangkalan teluk terjadi akibat sampah tersebut sehingga mengganggu perahu-perahu yang melewati kawasan tersebut.Konversi lahan bakau yang dilakukan pemerintah menyebabkan erosi, sedimentasi, intrusi air laut dan gelombang besar di teluk tersebut serta beberapa sungai di sekitarnya.Gas karbon dan emisi gas rumah kaca di Balikpapan mengurangi pengikatan gas oleh hutan bakau. Efek lain yang ditimbulkan adalah berkurangnya produksi ikan di sekitar teluk secara drastis sehingga memengaruhi kondisi ekonomi nelayan setempat. Permasalahan yang sama juga terjadi di hutan mangrove pada daerah pesisir pantai Pulau Jawa, salah satunya di daerah Jawa Barat, Cilacap, Madura, dan Banten. Oleh karena itu, upaya pelestarian dengan memahami kondisi kerusakannya diperlukan demi mengembalikan fungsi dan manfaat hutan mangrove.Kegiatan tebang habis (clearcutting) terhadap hutan mangrove menimbulkan abrasi secara intensif di sepanjang pantai.Reboisasi alami juga tidak dilaksanakan dengan efektif. Kondisi semacam ini bisa dilihat di sepanjang pesisir indramayu (jawa barat), pantai tawiri (ambon), pesisir pulau lombok barat, pantai Madura, dan pantai waisiley (halmahera). Turunnya daya ekosistem dalam mendegradasi sampah organik, minyak bumi, dan sebagainya.Penurunan keanekaragaman hayati di kawasan pesisir.Peningkatan abrasi pantai.Penurusan sumber makanan, tempat pemijah, serta bertelurnya


60 biota laut.Hal ini mengakibatkan turunnya produksi tangkapan ikan.Turunnya daya ekosistem dalam menahan tiupan angin, gelombang air laut, dan sebagainya.Peningkatan pencemaran pantai.Disamping itu, terdapat dampak lainnya yang mendapatkan imbasnya pada alam. 1. Erosi pantai Erosi pantai adalah salah satu permasalahan serius degradasi garis pantai.Disamping proses-proses alami, semacam angin, arus, hujan, serta gelombang, kegiatan manusia juga menjadi penyebab krusial erosi pantai.Kebanyakan erosi pantai akibat kegiatankegiatan manusia ialah pembukaan hutan pesisir demi kepentingan pemukiman, serta pembangunan infrastruktur, sehingga hal ini sangat mengurangi fungsi dari perlindungan pantai. Gangguan yang lumayan besar akan hutan mangrove mampu memicu erosi pantai karena perlindungan yang diberikan oleh sejumlah pohon mangrove telah lenyap. Pantai pesisir kemudian akan berkurang dan tersisa pantai sempit yang terdiri atas pasir ataupun kolamkolam asin yang tidak dapat dihuni. Dengan demikian, pusat-pusat pemukiman pantai semakin mudah untuk diserang oleh angin topan serta air pasang. 2. Instrusi air laut Kejadian ini ialah masuknya ataupun merembesnya air laut ke arah daratan hingga mengakibatkan air tawar sungai/sumur menurun kualitasnya, bahkan menjadi asin atau payau. Dampak instrusi air laut ini sangatlah penting karena air tawar yang tercemar oleh intrusi air laut nantinya akan menyebabkan keracunan apabila diminum serta dapat merusak akar tanaman. Instrusi air laut ini telah terjadi di hampir sebagian besar kawasan


61 pantai Bengkulu, yang bahkan mencapai lebih dari 1 km di beberapa tempat. kosistem mangrove merupakan lingkungan yang mempunyai ciri khusus karena substrat secara teratur digenangi oleh air yang dipengaruhi oleh salinitas serta fluktuasi ketinggian permukaan air karena adanya pasang surut air laut. Ekosistem mangrove tercatat sebagai ekosistem terproduktif dari ekosistem daratan manapun di dunia. Mangrove berfungsi sebagai penyedia unsur hara, ekosistemnya merupakan tempat pemijahan (spawning grounds), tempat pengasuhan (nursery grounds) dan tempat mencari makan (feeding grounds) berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya (Bengen, 2004). Pertumbuhan mangrove akan menurun jika suplai air tawar dan sedimen rendah. Jenis yang dapat tumbuh pada ekosistem mangrove adalah jenis halofit yaitu tumbuhan yang mampu bertahan pada tanah yang mengandung garam dari genangan air laut. Jenis mangrove yang banyak ditemukan adalah jenis api-api (Avicennia sp), bakau (Rhizophora sp), tancang (Bruguiera sp), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp) merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai.


62 BAB V EKOWISATA MANGROVE Ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah wilayah alami dalam rangka mengkonservasi atau menyelamatkan lingkungan dan memberi penghidupan penduduk local (TIES, 1991). Sementara itu, Wood (2002) mendefinisikan ekowisata sebagai bentuk usaha atau sektor ekonomi wisata alam yang dirumuskan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, United Nations Commision on Sustainable Development (dalam sidang sesi ke 8 tahun 2000) menyatakan bahwa ekowisata adalah sustainable tourismyang: 1. Menjamin partisipasi yang setara, efektif dan aktif dari seluruh stakeholder 2. Menjamin partisipasi penduduk local 3. Mengangkat mekanisme penduduk local dalam hal konsep dan pemelihara A. Perencanaan dan Daya Dukung Ekowisata 1. Karakteristik Ekowisata a. Konsep Ekowisata Ekowisaata merupakan sebuah konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang tujuannya adalah untuk mendukung usaha pelestarian lingkungan (alam dan budaya) serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan, yang nantinya bisa mendatangkan manfaat ekonomi kepada masyarakat dan pemerintah setempat.Istilah ecoturism biasanya dipadankan denganistilah green travel, low impact tourism, village based tourism, naturalbased tourism, sustainable tourism, heritage tourism, cultural tourism, dan natural tourism. Definisi diatas mengisyaratkan 3 dimensi penting dalam ekowisata, yaitu :


63 1. Konservasi 2. Pendidikan 3. Sosial b. Kebijakan Pengembangan Wisata Kebijakan pengembangan ekowisata telah ditetapkan dalam berbagai peraturan pemerintah yang mengatur kebijaksanaan pengembangan ekowisata. Pada dasarnya, kebijaksanaan pengembangan ekowisata itu menganjurkan agar pelaku Ekowisata dapat memenuhi hal-hal berikut : 1. Dalam pembangunan, prasarana dan sarana sangat dianjurkan dilakukan sesuai kebutuhan saja tidak berlebihan dan menggunakan bahan yang terdapat di daerah tersebut. 2. Diusahakan agar meggunakan teknologi dan fasilitas modern seminimal mungkin. 3. Pembangunan dan aktivitas dalam proyek dengan melibatkan penduduk lokal semaksimal mungkin dengan tujuan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. 4. Masyarakat setempat dihimbau agar tetap memelihara adat dan kebiasaanya sehari-hari tanpa terpengaruh kedatangan wisatawan yang berkunjung. 5. Sebagai pedoman dalam penyelenggaraan atau pengelolaan suatu kawasan untuk dijadikan Sebagai kawasan ekowisata, harus memperhatikan 5 unsur yang dianggap paling menentukan, yaitu : a) Pendidikan (education) b) Perlindungan atau Pembelaan (advocacy) c) Keterbatasan Komunitas Setempat (community involvement)


64 d) Pengawasan (monitoring) e) Konservasi (conservation) Relevansi ekowisata permasalahan dengan permasalahan konservasi dalam manajemen kawasan lindung menurut tambayong (2011) ada 4 hal yaitu: 1) kowisata dapat mempromosikan dan membiayai konservasi sekalipun masih dalam skala terbatas, 2) ekowisata bukan sebagai mass tourism yang dapat merusak sumberdaya alam yang tadinya dilindungi, 3) ekowisata dapat mendorong dan membiayai pengembangan ekonomi masyarakat lokal sebagai mass tourism yang dapat merusak sumberdaya alam yang tadinya dilindungi, 4) ekowisata melibatkan banyak stakeholder dan mereka harus bekerja sama dengan satu tim. Adapun menurut Damanik (2006) beberapa karakteristik ekowisata mencakup sebagai berikut: a. menggunakan teknik teknik ramah lingkungan, b. mendukung upaya konservasi, c. menyadari bahwa alam dan budaya merupakan elemen untuk pengalaman pengunjung, d. memberikan nilai edukasi, e. mendukung peningkatan lokal ekonomi, f. menggunakan pemandu/interpreter yang memahami pengetahuan alam, g. memastikan bahwa satwa tidak terganggu, h. menghormati budaya dan tradisi masyarakat lokal.


65 2.Komponen Ekowisata Menurut United Nations Environmental Program (UNEP) (About Ecotourism, 2001) dalam Esperiana (2009), komponen ekowisata terdiri dari : b) memberikan kontribusi terhadap konservasi dan keanekaragaman hayati, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal Memberikan pembelajaran dan pengalaman kepada wisatawan, c) Melibatkan partisipasi masyarakat lokal dalam kepemilikan dan aktivitas pariwisata yang dikembangkan. Sedangkan menurut Ambo Tuwo (2011), ekowisata harus memadukan beberapa komponen sebagai berikut: a. Ekosistem b. Masyarakat c. Budaya d. Ekonomi 3.Prinsip Ekowisata Prinsip ekowisata adalah suatu prinsip yang harus dipenuhi dalam pengembangan dan pengelolaan ekowisata.Medina (2005) menjelaskan dalam (Kiper, 2013) bahwa ekowisata agar dapat berkelanjutan harus mencakup 3 aspek diantaranya aspek sosial, aspek ekonomi dan juga aspek lingkungan.Maksudnya adalah suatu ekowisata harus berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjuntan sehingga harus ekonomis, peka terhadap lingkungan serta sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat. Berikut adalah 3 aspek yang harus dipenuhi dalam mewujudkan ekowisata berkelanjutan menurut Wall (1997) dalam (Kiper, 2013) :


66 a. Keberlanjutan lingkungan ekowisata b. Keberlanjutan sosial budaya ekowisata c. Peberlanjutan ekonomi ekowisata B. Pengelolaan Ekowisata 1. Dimensi dan Pendekatan Pengelolaan Menurut Ambo Tuwo (2011), Pengelolaan berkelanjutan merupakan suatu strategi pemanfaatan kapasitas ekosistem alamiah yang memperhatikan kapasitas dan tidak menganggu sumberdaya alam yang ada di dalamnya serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kehidupan manusia. Empat dimensi pengelolaan secara berkelanjutan menurut Dahuri at al (1996) dalam Ambo Tuwo (2011) yaitu: a. ekologis, b. Sosial- ekonomi- budaya, c. sosial-politik, serta d. hukum dan kelembagaan. Dahuri at al juga menjelaskan empat alasan yang mendasari pentingnya pengelolaan secara terpadu, yaitu: pertama, adanya keterkaitan ekologis antara ekosistem di kawasan pesisir dengan lahan atas dan laut lepas. Sehingga perubahan yang terjadi pada suatu ekosistem akan mempengaruhi ekosistem lainnya. Dua, Adanya lebih dari satu jenis sumberdaya alami, buatan dan jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan.Tiga, adanya suatu kelompok masyarakat yang memiliki keterampilan atau keahlian yang berbeda.Empat, Secara ekologis maupun


67 ekonomis, pemanfaatan kawasan pesisir sangat rentan terhadap perubahan internal maupun eksternal sehingga menyebabkan kerugian. 2 .Kriteria Pengelolaan Ekowisata tidak dapat disamakan dengan pariwisata lainnya.Ekowisata membutuhkan manajemen (pengelolaan) yang spesifik agar dapat mencapai tujuan sustainability dalam aspek ekonomi, social dan budaya.Fokus dari manajemen ekowisata adalah bagaimana memelihara dan melindungi sumberdaya yang tidak dapat tergantikan agar dapat dimanfaatkan untuk generasi sekarang dan generasi M.mmmmendatang. Adapun manajemen ekowisata yang profesional menurut Iwan Nugroho (2011) mencakup: a. Pemasaran (promosi) yang spesifik menuju tujuan wisata. b. Ketrampilan dan layanan kepada pengunjung secara intensif c. Keterlibatan penduduk lokal d. Kebijakan pemerintah dalam melindungi aset lingkungan dan budaya. e. Pengembangan kemampuan penduduk local Di dalam sebuah manajemen kelembagaan, ada beberapa aspek yang perlu ditinjau diantaranya : 2. Organisasi pengelolaan 3. Pelibatan stackchooler 4. Pengelolaan Anggaran 5. Promosi 6. Menegemwn wisatawan 7. Peraturan dan kebijakan pemerintah


68 B. EKOWISATA MANGROVE Hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin (Nybakken, 1992).Ekowisata merupakan paket perjalanan menikmati keindahan lingkungan tanpa merusak eksosistem hutan yang ada.Ekowisata mangrove adalah kawasan yang diperuntuhkan secara khusus untuk dipelihara untuk kepentingan pariwisata.Kawasan hutan mangrove adalah salah satu kawasan pantai yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, karena keberadaan ekosistem ini berada pada muara sungai atau estuaria.Mangrove hanya tumbuh dan menyebar pada daerah tropis dan subtropis dengan kekhasan organisme baik tumbuhan yang hidup dan berasosiasi disana.Potensi ekowisata merupakan semua objek (alam, budaya, buatan) yang memerlukan banyak penanganan agar dapat memberikan nilai daya tarik bagi wisatawan (Damanik dan weber, 2006).Ekowisata saat ini menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan wisata.Potensi yang ada adalah suatu konsep pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam, mangrove sangat potensial bagi pengembangan ekowisata karena kondisi mangrove yang sangat unik serta model wilayah yang dapat di kembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta organisme yang hidup dikawasan mangrove.Beberapa parameter lingkungan yang dijadikan sebagai potensi pengembangan ekowisata mangrove adalah


69 kerapatan jenis mangrove, ketebalan mangrove, spesies mangrove, kekhasan, pasang surut dan objek biota yang ada didalam ekosistem mangrove. ➢ Jenis atau spesies Mangrove Hutan Mangrove meliputi pohon dan semak yang terdiri dari 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia , Sonneratia , Rhizophora, Bruguiera , Ceriops , Xylocarpus , Lumnitzera , Laguncularia , Aegiceras , Aegiatilis , Snaeda dan Conocarpus ) yang termasuk ke dalam delapan famili (Bengen, 2004). Vegetasi hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi, namun demikian hanya terdapat kurang lebih 47 jenis tumbuhan yang spesifik hutan mangrove. Paling tidak di dalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati penting/dominan yang termasuk kedalam empat famili: Rhizophoraceae, (Rhizophora , Bruguiera dan Ceriops), Sonneratiaceae (Sonneratia ), Avicenniaceae (Avicennia ) dan Meliaceae (Xylocarpus ) (Bengen, 2004). ➢ Kerapatan Hutan Mangrove Kerapatan jenis adalah jumlah total individu spesies per luas petak pengamatan dimana luas petak pengamatan adalah jumlah plot atau luas plot 28 misalnya jumlah plot yang diamati ada 10 buah, dengan luas masingmasing plot 10 m x 10 m maka total seluruh petak pengamatan adalah 1000 m (Fachrul M. F., 2006). 3) Biota Hutan Mangrove Menurut Bengen (2004), komunitas fauna hutan mangrove membentuk percampuran antara dua kelompok yaitu : (a) Kelompok fauna daratan / terestrial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas: insekta, ular, primata,


70 dan burung. Kelompok ini tidak memiliki sifat adaptasi khusus untuk hidup di dalam hutan mangrove. (b)Kelompok fauna perairan/akuatik, terdiri atas dua tipe yaitu : Yang hidup di kolom air, terutama barbagai jenis ikan, dan udang; Yang menempati substrat baik keras (akar dan batang pohon mangrove maupun lunak (lumpur), terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis avertebrata lainnya. (c) Komunitas mangal bersifat unik, disebabkan luas vertikal pohon, dimana organisme daratan menempati bagian atas sedangkan hewan lautan menempati bagian bawah. C. STRATEGI PENGEMBANGAN PARIWISATA Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian pengembangan adalah hal, cara atau hasil mengembangkan proses atau cara, perbuatan mengembangkan ke sasaran yang dikehendaki. Dalam UndangUndang R1 No 10 Tahun 2009 Pasal 6 dan 7, tentang pembangunan pariwisata disebutkan bahwa pembangunan pariwisata haruslah


71 memperhatikan keanekaragaman, keunikan dan kekhasan budaya dan alam serta kebutuhan manusia untuk berwisata (Pasal 6). Pembangunan pariwisata meliputi industri pariwisata, destinasi pariwisata, pemasaran dan kelembagaan pariwisata (Pasal 7). Menurut Sunaryo (2013:159) pengembangan pariwisata harus mencakup komponen komponen utama sebagai berikut: (1)Objek dan daya tarik, yang mencakup daya tarik yang biasa berbasis utama pada kekayaan alam, budaya, maupun buatan/artificial, seperti event atau yang sering disebut sebagai minat khusus (special interest). (2)Aksesibilitas, yang mencakup dukungan sistem transportasi yang meliputi: rute atau jalur transportasi, fasilitas terminal, bandara, pelabuhan, moda transportasi lain. (3)Amenitas, yang mencakup fasilitas penunjang dan pendukung wisata yang meliputi: akomodasi, rumah makan (food and beverage), retail, toko cinderamata, fasilitas penukaran uang, biro perjalanan, pusat informasi wisata, dan fasilitas kenyamanan lainnya. (4)Fasilitas pendukung, yaitu ketersediaan fasilitas pendukung yang digunakan oleh wisatawan, seperti bank, rumah sakit, dan sebagainya. (5)Kelembagaan, yaitu keterkaitan dengan keberadaan dan peran masingmasing unsur dalam mendukung terlaksananya kegiatan pariwisata termasuk masyarakat setempat sebagai tuan rumah. Sebuah destinasi dapat dikatakan akan melakukan pengembangan jika sebelumnya sudah ada aktivitas wisata. Ada beberapa strategi dalam pengembangan pariwisata (Nurhadi, dkk:2013): a) Pengembangan sarana dan prasarana Wisatawan adalah orang yang suka bepergian sementara waktu ke tempat atau daerah yang sama sekali masih asing baginya. Oleh karena itu sebelum seorang wisatawan


72 melakukan perjalananya sebaiknya terlebih dahulu disediakannya sarana dan prasarana seperti fasilitas transportasi, fasilitas akomodasi, fasilitas chatering service, objek dan atraksi wisata, aktivitas rekreasi, fasilitas perbelanjaan. b) Strategi promosi Kegiatan promosi merupakan bagian yang tidak boleh lepas dari proses pengembangan pariwisata. Keberhasilan proses pengembangan pariwisata salah satunya dilakukan oleh kepiawaian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam mepromosikan potensi yang dimiliki daerahnya(Shanti, 2010).


73 BAB VI KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA SERTA KEARIFAN LOKAL A. Kesesuaian dan Daya Dukung Ekowisata Analisis daya dukung (carrying capacity ratio) merupakan suatu alat perencanaan pembangunan yang memberikan gambaran hubungan antara penduduk, penggunaan lahan dan lingkungan.Daya dukung wisata adalah jumlah maksimum orang yang boleh mengunjungi satu tempat wisata pada saat bersamaan tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan fisik, ekonomi dan sosial budaya dan penurunan kualitas yang merugikan bagi kepuasan wisatawan (Livina dalam Siswantoro dkk, 2012: 101).Seperti yang diungkapkan oleh Sayan & Atik (2011: 69) untuk menentukan daya dukung wisata dapat menggunakan metode cifuentes dengan menghitung tiga jenis daya dukung yakni daya dukung fisik (luas wilayah), daya dukung riil (ekologi) dan daya dukung efektif (manjerial). Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, daya tarik pada kawasan ekowisata hutan mangrove ini sangat Buruk, dimana tingkat penilaianya dapat kita lihat antara 0-25.Keindahan yang tersaji di tempat ekowisata tersebut dikatakan buruk karena banyaknya sampah-sampah yang beserakan mulai dari pintu masuk tempat tersebut hingga ketempat wisata dan juga banyaknya bangunan yang rusak akibat terbengkalai.Pondok - pondok, jalan kecil yang dibangun di atas air, toilet, tempat jualan bahkan tempat ibadah seperti musolah pun telah mengalami kerusakan baik kerusakan kecil hingga kerusakan besar sehingga mengakibatkan kurangnya kenyamanan bagi para pengunjung yang berwisata ketempat tersebut. Untuk


74 stabilitas air di kawasan ekowisata hutan mangrove tersebut dapat dikatakan baik, hal ini dapat dilihat dari keadaan air yang tersedia dikawasan hutan manhrove cukup terpenuhi/cukup memadai sehingga dapat mengurangi terjadinya kekeringan yang berkepanjangan di kawasan ekowisata hutan mangrove lubuk kertang. Namun jika dilihat dari segi kebersihan air dan lingkungannya itu dapat dikatakan buruk karena airnya yang keruh, dan sedikit berlumut. Sehingga jika digunakan untuk keperluan sehari hari bagi masyarakat setempat akan menimbulkan penyakit. Kegiatan yang berlangsung di Kawasan Ekowisata hutan mangrove di Lubuk Kertang ini tak jauh beda dengan kawasan hutan mangrove lainnya 23 yaitu mencari ikan/menjadi nelayan. Namun kegiatan tersebut tidak begitu banyak ditemukan dikawasan hutan mangrove lubuk kertang ini. Identifikasi Objek dan Daya Tarik Wisata pada penelitian ini membahas terkait 2 variabel diantaranya sumber daya alam dan objek daya tarik wisata.Sumber daya alam terdiri dari beberapa unsur diantaranya flora, fauna, jenis pantai, potensi bencana, binatang berbahaya dan iklim.objek dan daya tarik wisata terdiri dari beberapa unsur diantaranya, objek dan daya tarik di area darat, pantai dan laut serta identifikasi pengembangan objek dan daya tarik wisata. d. Sumber Daya Alam: Terdapat beberapa sumber daya alam yang diidentifikasi diantaranya flora, fauna, jenis pantai, potensi bencana dan binatang berbahaya. Flora: Terdapat 18 jenis mangrove yang telah teridentifikasi dan 3 jenis mangrove yang dimanfaatkan dalam pembuatan beberapa jenis makanan diantaranya putut (brugeira gymnorhiza) pembuatan tepung gandum, kedabu (sonneratia ovata) pembuatan dodol dan sirup dan jeruju (acanthus ilicifolius L.)


75 pembuatan kripik Fauna: Hutan mangrove Desa Sungai Bakau Besar Laut merupakan hutan asli sehingga terdapat beberapa jenis fauna hutan. Selain itu juga terdapat fauna khas kawasan pesisir yaitu ikan mudskiper, kepiting, burung bangau dan burung camar. Jenis Pantai: Jenis pantai di Desa Sungai Bakau Besar Laut ialah pantai berlumpur. Kondisi pantai tersebut sangat kritis sehingga dilakukan penanaman mangrove dan pemasangan kubus pemecah gelombang. e. Objek dan Daya Tarik Wisata: Objek dan daya tarik wisata pada penelitian ini membahas terkait objek wisata berdasarkan area darat, pantai dan laut dengan tujuan mengidentifikasi objek dan daya tarik wisata pada masing-masing area. Identifikasi tersebut sangat penting dalam proses pengembangan Cinta Mangrove Park karena masingmasing area memliki karakter dan ciri khas yang berbeda. Objek dan Daya Tarik di Area Darat: Kegiatan yang dapat dilakukan di darat adalah bersantai dan berkumpul bersama keluarga dan teman, menyusuri hutan, membidik kamera sehingga menghasilkan foto-foto menarik yang dapat diunggah ke akun sosial media atau sebagai kenang-kenangan, menambah pengetahuan terkait mangrove yang dapat dilihat pada salah satu pendopo. Selain sebagai tempat rekreasi, manfaat lainnya yang didapatkan ialah kebugaran yang didapat dari menyusuri jembatan titian dan edukasi yang didapat dari rumah edukasi. Rumah edukasi tersebut memiliki berbagai macam informasi terkait sejarah pesisir di Sungai Bakau Besar Laut dan macam-macam tumbuhan mangrove yang ada. Objek dan Daya Tarik di Area Pantai: Kegiatan yang dapat dilakukan diarea pantai ialah menyusuri pantai berlumpur dengan menggunakan jembatan titian sebagai objek wisata. selain itu juga berjalan-jalan di kubus balok sambil menikmati


76 deburan ombak. Arus permukaan adalah arus yang bergerak di permukaan laut. Faktor pembangkit arus tersebut ialah dipengaruhi oleh tiupan angin diatasnya. Kecepatan dan arah arus permukaan di perairan tersebut ialah 0.1 – 0.55 m/d dengan kondisi arus permukaan relatif rendah hingga tinggi. Kondisi arus yang relatif rendah sangat cocok dijadikan sebagai area pemancingan. Potensi Pengembangan Objek dan Daya Tarik Wisata: Identifikasi pengembangan objek dan daya tarik wisata dilakukan pada masing-masing area diantaranya darat, laut dan pantai berlumpur. Kondisi musim yang sering berubahubah disetiap tahunnya tersebut akan berdampak pada kegiatan ekowisata. Dampak yang akan terjadi ialah jika terjadi masa kekeringan akan berakibat sulitnya mendapatkan sumber air bersih karena air akan payau yang disebabkan terinterupsi air laut. Pada akhir 2018 telah terjadi musim penghujan disertai angin kuat yang menyebabkan air laut naik dan terjadi banjir. Kondisi banjir dan angin kuat akan menghambat kegiatan di kawasan ekowisata dan akan membahayakan pengunjung selain berada di kawasan pesisir pantai juga merupakan kawasan hutan yang memiliki kesan berbahaya. B. Kearifan Lokal Ekowisata merupakan alternatif pembangunan dan pengelolaan kawasan hutan yang diharapkan dapat memberi manfaat ekonomi, budaya, dan sosial secara berkelanjutan terhadap masyarakat sekitar.Lubuk Kertang merupakan tujuan ekowisata berbasis mangrove yang terdapat di dusun II Paluh Tabuhan yaitu ekowisata Bakau Mas.Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan ekowisata mangrove melalui eksplorasi potensi


77 lanskap berupa unsur-unsur biofisik, ekonomi, dan sosial tapak.Kegiatan perencanaan ekowisata tersebut terdiri dari inventarisasi potensi, penilaian ekonomi dan daya dukung, analisis, sintesis, perencanaan konsep, dan perancangan desain tapak.Perencanaan lanskap dikembangkan dengan dua perencanaan melalui pembagian tata ruang wilayah ekowisata hutan mangrove. Ruang ekowisata disediakan seluas 42,20 ha dengan kawasan penyangga seluas 11,46 ha. Pada perencanaan pertama, kawasan ini dilengkapi dengan jalur darat berupa jalan setapak dan boardwalk sepanjang 3628,89 meter dan jalur air sepanjang 1721,13 meter sebagai akses untuk interpretasi kawasan mangrove. Pada perencanaan kedua kawasan dikembangkan dengan interpretasi melalui jalur darat berupa jalan setapak dan boardwalk sepanjang 1703 meter dan jalur air sepanjang 2375 meter. Nilai ekonomi kawasan ekowisata Bakau Mas adalah sebesar Rp 96.972.243,00 pada harga tiket Rp 2.000,00 dengan surplus konsumen mencapai Rp 80.544.113,00. Harga tiket optimal kawasan ekowisata sebesar Rp 16.000,00 dengan nilai manfaat rekreasi sebesar Rp 96.613.402,00. Kawasan ekowisata Bakau Mas dapat menampung 38 orang pada kondisi terkini dan 164 orang pada perencanaan dengan memperhitungkan luas kawasan yang digunakan untuk kegiatan ekowisata serta lama pengunjung melakukan kegiatan ekowisata. Wisata Mangrove Lubuk Kertang merupakan kawasan konservasi mangrove yang dijadikan sebagai objek wisata dan dibuka untuk masyarakat umum yang terletak di Kecamatan Brandan, Kabupaten Langkat. Jika di ukur dari pusat Kota Medan, kita dapat menempuh waktu 2,5 jam untuk sampai kesana jika menggunakan jalan tol. Sementara jika tidak menggunakan jalan tol, bisa menempuh jarak hingga 3-3,5 jam. Berlokasi di Desa Lubuk Kertang, kawasan wisata ini dulunya mengalami kerusakan


78 parah.Maraknya pembalakan liar seluas 100 hektar membuat hutan di Lubuk Kertang seakan terlupakan. Namun, sejak hutan mangrove ini menunjukkan potensi wisata yang besar, dinas setempat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Langkat memperbaiki kualitas lingkungan di pesisir pantai tersebut. Alhasil, Wisata Mangrove Lubuk Kertang diresmikan sebagai kawasan ekowisata yang sangat diperhitungkan.Selain itu, pengembangan budidaya ikan yang dikelola masyarakat juga dihadirkan demi menunjang aktivitas wisata di sini.Di tempat ini, wisatawan bisa menikmati pemandangan hutan mangrove melihat keindahan laut.Yang membuat menarik dari Wisata Mangrove Lubuk Kertang adalah hutan mangrove cantik yang terhampar luas.Di tengah, terdapat jembatan kayu yang memanjang dari pintu masuk menuju bibir pantai. Areal mangrove itu termasuk ke dalam hutan register 8/L pesisir timur Kabupaten Langkat. Dengan demikian, hutan mangrove tersebut berstatus kawasan lindung (L) dan telah ditetapkan sejak zaman kolonial Belanda.Beberapa gangguan hutan mangrove umumnya terkait pada sumur minyak bumi yang merupakan bagian eksploitasi minyak bumi BrandanPangkalan Susu yang sudah ada sejak zaman Belanda.Hutan wisata yang memiliki luas sekitar 100 hektar ini, memiliki cukup banyak spot-spot menarik yang Instagramable.Salah satunya, berupa mercusuar atau gardu. Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup terendam dalam kolom air dan berkembang dengan baik di perairan laut dangkal dan estuari. Tumbuhan lamun terdiri dari daun dan seludang, batang menjalar yang biasanya disebut rimpang (rhizome), dan akar yang tumbuh pada bagian rimpang. Satu atau beberapa jenis lamun yang berada pada suatu luasan disebut padang lamun sedangkan interaksi antara padang lamun dengan biota seperti teripang, gastropoda, ikan baronang yang hidup didalamnya disebut dengan ekosistem padang lamun.


79 Materi ini diberikan dengan tujuan untuk memperkenalkan kepada mahasiswa tentang metode survei lamun, definisi, dan manfaat ekologis, khususnya dari sumber pengetahuan tentang ekosistem perairan, dan peranan dalam mendukung kehidupan biota lain. Penurunan luas padang lamun sudah terjadi sejak awal abad 20. Sebelum tahun 1940, luas padang lamun di seluruh dunia mengalami penurunan sebesar 0,9 % per tahun. Kemudian, laju penurunan meningkat menjadi 7 % per tahun pada tahun 1990-an. Menurut Waycott et al. (2009), sebaran padang lamun global telah hilang sekitar 29% sejak abad ke-19. Penyebab utama hilangnya padang lamun secara global adalah penurunan kecerahan air, baik karena peningkatan kekeruhan air maupun kenaikan masukan zat hara ke perairan. Pada daerah sub tropis (temperate), kehilangan padang lamun disebabkan oleh alih fungsi wilayah pesisir menjadi kawasan industri, pemampatan (deposition) udara, dan banjir dari daratan. Sementara itu, penyebab utama hilangnya padang lamun di daerah tropis adalah peningkatan masukan sedimen ke perairan pesisir akibat pembalakan hutan di daratan dan penebangan mangrove yang bersamaan dengan pengaruh langsung dari kegiatan budi daya perikanan. Pengukuran ekosistem lamun dilakukan untuk mengetahui pola distribusi lamun, komposisi dari spesies lamun, serta kelimpahannya Keterkaitan fungsional dan interaksi dari ketiga ekosistem tersebut yaitu: ekosistem mangrove sebagai pencegah erosi pantai, daerah asuhan dan penghasil zat hara; ekosistem lamun sebagai produsen primer, pengikat sedimen, daerah asuhan, mencari makan dan perkembangbiakkan serta penghasil zat hara atau nutrien; sedangkan ekosistem terumbu karang berfungsi habitat untuk biota laut dalam mencari makan dan perkembangbiakkan, dan memanfaatkan nutrient. Pada umumnya ketiga ekosistem tersebut rentan terhadap aktivitas manusia yang mengakibatkan jasa atau layanan ekosistem tersebut berkurang atau bahkan hilang. Jasa ekosistem dapat diartikan sebagai seluruh manfaat yang diperoleh dari ekosistem. Ekosistem yang berkondisi baik akan memberikan jasa atau layanan yang baik dalam menopang kehidupan biota lainnya baik di dalam maupun di luar ekosistem. Fungsi


80 atau jasa ekosistem lamun terbagi atas lima fungsi (Nybakken, 1992; Bengen, 2002; Dahuri, 2003; Duarte et al., 2013. Ekosistem lamun umumnya berada di daerah pesisir pantai dengan kedalaman kurang dari 5 m saat pasang. Namun, beberapa jenis lamun dapat tumbuh lebih dari kedalaman 5 m sampai kedalaman 90 m selama kondisi lingkungannya menunjang pertumbuhan lamun tersebut (Duarte, 1991). Ekosistem lamun di Indonesia biasanya terletak di antara ekosistem mangrove dan karang, atau terletak di dekat pantai berpasir dan hutan pantai. Penurunan luas padang lamun di Indonesia dapat disebabkan oleh faktor alami dan hasil manusia terutama di lingkungan pesisir. Faktor alami tersebut antara lain gelombang dan arus yang kuat, badai, gempa bumi, dan tsunami. Sementara itu, kegiatan manusia yang berkontribusi terhadap penurunan area padang lamun adalah reklamasi pantai, pengerukan dan penambangan pasir, serta pencemaran. Monitoring adalah pengamatan berulang-ulang pada suatu sistem, biasanya untu mendeteksi perubahan. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk pengelolaan dan perlindungan sumber daya pada sistem tersebut (McKenzie et al., 2003). Kegiatan monitoring padang lamun berperan penting dalam pengelolaan lingkungan pesisir karena dua hal, yaitu kegiatan ini merupakan suatu metode untuk peningkatan praktik pengelolaan dan dapat menyediakan informasi mengenai status dan kondisi padang lamun. Selain itu, data dan informasi mengenai penurunan padang lamun di Indonesia masih terbatas sehingga pengamatan luasan padang lamun yang rusak atau hilang menjadi sangat penting. Parameter utama yang diukur dalam monitoring lamun adalah persentase penutupan lamun. Adapun indikator atau acuan dalam monitoring lamun selama kegiatan berlangsung adalah No Net Loss on Seagrass artinya tidak terjadi penurunan kondisi dan luasan lamun. Nilai persentase penutupan lamun pada tahun 2015 merupakan data awal yang menjadi dasar untuk menilai keberhasilan program pada akhir periode kegiatan (2019). Selama kegiatan berlangsung, kondisi dan luasan lamun diharapkan meningkat atau paling tidak tetap. Dalam ekosistemnya, padang


81 Parameter utama yang diukur dalam monitoring lamun adalah persentase penutupan lamun. Adapun indikator atau acuan dalam monitoring lamun selama kegiatan berlangsung adalah No Net Loss on Seagrass artinya tidak terjadi penurunan kondisi dan luasan lamun. Nilai persentase penutupan lamun pada tahun 2015 merupakan data awal yang menjadi dasar untuk menilai keberhasilan program pada akhir periode kegiatan (2019). Selama kegiatan berlangsung, kondisi dan luasan lamun diharapkan meningkat atau paling tidak tetap. Dalam ekosistemnya, padang lamun memiliki berbagai macam fungsi, antara lain: 1. Sebagai media untuk fi ltrasi atau menjernihkan perairan laut dangkal. 2. Sebagai tempat tinggal berbagai biota laut, termasuk biota laut yang bernilaiekonomis, seperti ikan baronang/lingkis, berbagai macam kerang, rajungan atau kepiting, teripang dll. Keberadaan biota tersebut bermanfaat bagi manusiasebagai sumber bahan makanan. 3. Sebagai tempat pemeliharaan anakan berbagai jenis biota laut. Pada saatdewasa, anakan tersebut


82 BAB VII STATUS EKOSISTEM MANGROVE A. Latar Belakang Hutan mangrove merupakan hutan tumbuhan tingkat tinggi yang beradaptasi dengan sangat baik di wilayah intertidal maupun pada wilayah dengan tinggi permukaan pasang- surut rata-rata sampai pada wilayah dengan pasang tertinggi (Alongi, 2009). Komunitas tumbuhan mangrove tumbuh baik pada wilayah tropis dan mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan yang ekstrem, seperti: suhu tinggi, salinitas tinggi, pasang surut ekstrem, sedimentasi tinggi, serta kondisi substrat tumbuh yang miskin oksigen dan atau tanpa oksigen. Indonesia memiliki luas mangrove yang paling tinggi, yaitu 3,112,989 ha atau 22.6% total luas mangrove dunia bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Australia (7.1%) dan Brazil (7.0%) (Giri et al., 2011). Namun sangat disayangkan yang lebih dari 30% luasan mangrove di Indonesia telah hilang dalam kurun waktu tahun 1980 – 2005 (FAO, 2007). Penurunan kualitas dan kuantitas hutan mangrove dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat pesisir, seperti penurunan hasil tangkapan ikan dan berkurangnya pendapatan nelayan (Mumby et al., 2004). Selain itu, juga dapat merusak keseimbangan ekosistem dan habitat serta kepunahan spesies ikan, dan biota laut yang hidup di dalamnya, serta abrasi pantai (Polidoro et al., 2010). Degradasi mangrove diperparah dengan tidak tegasnya penegakan hukum di Indonesia (Kathiresan & Bingham, 2001). Kondisi kesehatan ekosistem mangrove secara keseluruhan, dapat mempengaruhi kondisi dua ekosistem lainnya di kawasan pesisir, yaitu lamun dan terumbu karang. Secara fisik, sistem perakaran mangrove yang khas memberikan


83 perlindungan bagi lamun dan terumbu karang dari bahaya sedimentasi. Akar mangrove berfungsi menyaring materi- materi berukuran besar yang terbawa oleh aliran sungai dan masuk ke laut. Metode fotografi sudah banyak digunakan untuk penelitian ekologi kawasan khususnya kehutanan (Jenning et al., 1999; Rich, 1990; Ishida, 2004; Korhonen et al., 2006; Schwalbe et al., 2009; Cristin et al., 2014; Nolke et al., 2014; Chianucci et al., 2014). Namun demikian penelitian yang menggunakan teknik fotografi belum banyak dikembangkan dan digunakan untuk melakukan pendekatan ekologi pada penentuan kondisi kesehatan komunitas mangrove. 2. Tujuan Pemantauan Kegiatan pemantauan atau yang lebih dikenal dengan istilah monitoring, merupakan kegiatan pengamatan/pengukuran yang dilakukan dalam rentang waktu tertentu secara berkelanjutan untuk mengetahui perkembangan dan perubahan dari objek yang diamati dari waktu ke waktu. Pada komunitas mangrove, pemantauan bertujuan untuk menghitung persentase tutupan mangrove, dan kemudian menentukan status kondisi hutan mangrove di suatu wilayah kajian. 3. Sasaran Target yang ingin dicapai dari penulisan buku ini adalah agar masyarakat lokal mampu melakukan kegiatan pengamatan dan pemantauan secara mandiri mulai dari persiapan lapangan, pengambilan data, analisis data sampai penyusunan laporan. Selain itu, metode yang disusun untuk kegiatan pemantauan mangrove ini diharapkan juga dapat dimanfaatkan oleh peneliti, akademisi, LSM dan berbagai pemangku kepentingan lainnya di bidang mangrove.


84 B. PERSIAPAN SURVEI 1. Persiapan Tim Pemantauan mangrove tidak membutuhkan sumber daya manusia (SDM) dalam jumlah banyak, minimal dua orang, yang terdiri dari satu orang peneliti/pimpinan grup yang merupakan SDM terlatih dan satu orang teknisi/pembantu teknis. Namun demikian kegiatan pengamatan/survey awal (t0) yang memiliki tahapan pekerjaan yang lebih banyak dibandingkan dengan survey berikutnya (tn), membutuhkan satu orang teknisi tambahan. Tabel 1. Rincian jumlah SDM yang dibutuhkan untuk pemantauan ekosistem mangrove No Fungsi Jumlah SDM Tugas t0 t n 1 Peneliti/te naga terlatih 1 1 Pengambilan foto, identifikasi jenis, pencatatan hasil pengukuran dan pengukuran parameter lingkungan (suhu,salinitas, pH, substrat) 2 Teknisi/te nagalokal 2 1 Pembuatan transek, penandaan lokasi (khusus t0), pemeliharaan tanda, dan pengukuran data kuantitatif. 3 Tukang Perahu 1 1 Transportasi dilapangan


85 2. Persiapan Administrasi dan Perizinan Kelengkapan administrasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pemantauan antara lain surat tugas dari instansi tenaga pemantau/Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) dan surat ijin melakukan penelitian di dalam kawasan yang ditujukan kepada Kepala Desa atau Dusun/Kampung, Kepala instansi terkait atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Bupati. 3. Persiapan Peralatan Peralatan yang digunakan dalam kegiatan pemantauan kondisi mangrove antara lain: 1) Perahu dan atau sampan, digunakan sebagai transportasi menuju stasiun pengamatan. 2) Perlengkapan dasar pribadi, seperti topi rimba, baju pelampung, baju lengan panjang, celana panjang, kaos kaki dan sepatu selam (booties) dengan tapal/ sol yang lebih tebal (Gambar 1). 3) Peta tematik stasiun penelitian: pada survey awal/pertama (t0) peta yang dibawa berupa peta tematik area potensial untuk dijadikan stasiun pemantauan permanen. Sedangkan pada kegiatan pemantauan selanjutnya (tn), digunakan peta lokasi yang sudah memiliki titik-titik lokasi stasiun dan plot permanen. Posisi geografis plot permanen disajikan dalam bentuk tabel pada halaman belakang peta. 4) Buku identifikasi mangrove digunakan untuk mengetahui identitas/nama jenis mangrove yang kita temui dalam area penelitian. Kegiatan baseline/survey awal (t0) yang dilaksanakan mutlak membutuhkan buku identifikasi. Untuk pemantauanselanjutnya (tn), hanya


86 Menggunakan lembar identifikasi jenis mangrove yang telah disusun sebelumnya. 5) Global Positioning System (GPS) receiver digunakan untuk merekam titik koordinat geografis stasiun penelitian pada saat survey t0. Pada saat tn, GPS reciever digunakan untuk mencari/melacak kembali titik/posisi stasiun dan plot permanen yang telah dibuat. GPS reciever yang digunakan lebih baik yang memiliki antena, seperti merk GARMIN GPS Map 60 Cx, Garmin GPS Map 60 Cs atau merek lainnya, karena terbukti mampu menerima signal lebih kuat di dalam area mangrove yang tertutup kanopi. 6) Cat semprot (Pylox) atau merk lainnya yang tahan air untuk memberikan penandaan batas plot/transek lokasi pengambilan data dan foto. Seyogyanya dipilih warna yang terang dan tampak kontras dengan pohon, sehingga terlihat dengan jelas jika dilakukan pengamatan pada waktu selanjutnya. 7) Kamera dengan lensa fish-eye dan kamera saku. Banyak tipe kamera yang bisa menjadi pilihan yang bisa digunakan, yaitu: kamera DSLR/SLR + lensa fish-eye; kamera HP + lensa fish- eye; dan kamera dengan geotagging seperti Garmin Virb Lite. Kamera yang dipilih memiliki layar untuk melihat langsung hasil foto yang dihasilkan. Kamera saku digunakan untuk melakukan dokumentasi kegiatan dan keperluan identifikasi.. 8) Meteran jahit untuk mengukur keliling lingkar batang mangrove. 9) Tali transek dengan panjang 20 meter dengan penanda pada panjang 10 meter. Tali terbuat dari bahan tambang nilon dengan warna cerah. Untuk mempermudah, warna tali pada 10 meter pertama dibedakan dengan 10 meter kedua. Gambar 4. Kamera DSLR + lensa fisheye (atas) ; Kamera handphone + lensa fisheye dan kamera dengan geotagging seperti Garmin Virb Lite.


87 11) Kertas tahan air (Newtop) dan pensil 2B/4B, digunakan untuk mencatat data hasil pengukuran. 12) P3K (Pertolongan Pertama pada kecelakaan) dan obat-obatan 4. PENENTUAN STASIUN DAN PEMBUATAN PETA TEMATIK TEMPORER a. Identifikasi Titik Stasiun Potensial dan Pembuatan Peta Tematik Temporer Stasiun pemantauan hanya ditentukan pada kegiatan survey awal/baseline (t0) sedangkan pada saat survey berikutnya (tn) hanya dilakukan pelacakan/pencarian kembali stasiun penelitian. Adapun langkah-langkah penentuan stasiun pengamatan adalah sebagai berikut: 1) Stasiun pengamatan komunitas mangrove ditentukan berdasarkan hasil klasifikasi citra satelit Landsat 8. Jika melakukan studi konektivitas dengan ekosistem padang lamun dan terumbu karang, maka pemilihan lokasi potensial untuk mangrove harus berdekatan dengan lokasi ekosistem tersebut. 2) Tentukan titik-titik koordinat potensial sebagai stasiun pemantauan kemudian dibuatkan peta tematik lokasi potensial pemantauan mangrove. Penentuan titik potensial ini yang dilakukan sejak dini dapat mempermudah teknis pekerjaan dan mempersingkat waktu pengamatan pada saat t0. 3) Tidak semua stasiun potensial tersebut akan dijadikan stasiun permanen, namun keseluruhan stasiun potensial tesebut akan diverifikasi dan diseleksi berdasarkan beberapa parameter, yaitu: akses masuk yang cukup mudah dan aman untuk pertimbangan keterbatasan waktu dan tenaga selama kegiatan pemantauan selanjutnya.


88 4) Seluruh titik potensial dimasukan ke dalam peta yang disebut dengan peta tematik temporer. 5) Peta tematik temporer disusun dengan menggunakan software pemetaan seperti ArcMap dan Surfer dengan dibantu oleh tim GIS atau pemetaan. Langkah-langkah pembuatan peta secara lengkap disajikan dalam edisi buku pemetaan habitat. b. Penentuan Plot Permanen Pembuatan Plot permanen 1) Pada stasiun penelitian yang disajikan dalam peta tematik temporer yang memenuhi kriteria dan memiliki lebih dari satu stratifikasi dalam klasifikasi citra satelit (Gambar8a), dibuat transek garis tegak lurus garis pantai dari batas pantai hingga daratan. 2) Dibuat plot berukuran 10x10 meter2 dengan menggunakan tali transek, di sepanjang garis transek dimana untuk setiap stratifikasi/zona dibuat tiga plot sebagai ulangan. 3) Jarak antar satu kelompok plot dengan kelompok plot lainnya sekitar 50-100 m. 4) Pada setiap plot, dilakukan perekaman titik koordinat dengan GPS. Penandaan fisik plot dilakukan dengan menggunakan cat semprot berwarna terang dan kontras (merah, kuning, orange, putih) yang disemprotkan pada batang kayu mangrove yang paling dekat untuk setiap ujung-ujung plot dengan lebar ±30 cm. 5) Batasan plot yang bersinggungan dengan garis transek diberikan warna yang lebih kompleks atau lebih dari 1 warna. Lakukan dokumentasi kondisi plot dengan menggunakan kamera saku.


89 6) Pada lokasi yang memiliki komunitas mangrove yang homogen dan atau tidak memiliki batas stratifikasi yang jelas hasil dari analisis klasifikasi citra satelit (Gambar 8b), maka penentuan plot bisa dilakukan secara acak dengan minimal 3 plot ulangan. Hal tersebut juga dilakukan apabila stasiun potensial memiliki ketebalan hutan mangrove kurang dari 50-100 meter (Gambar 8c). c. Penamaan stasiun dan plot permanen Mengingat anggota/tim/orang yang terlibat dalam pemantauan mangrove yang berbeda-beda, maka diperlukan penyeragaman nama stasiun dan plot permanen untuk menyamakan persepsi antar pemantau yang berbeda. Oleh karena itu, dapat disepakati bahwa penamaan stasiun terdiri dari nama kabupaten, nomor urut stasiun dan nomor plot. Sebagai contoh, pemantauan mangrove di lokasi Kabupaten Natuna, maka format penamaan yaitu: NTNM01.01. “NTNM” terdiri dari kode “NTN” = Natuna dan “M” = Mangrove; “01” pertama merupakan urutan stasiun; dan “01” berikutnya sebagai interpretasi penomoran plot pada stasiun. Berikut ini adalah beberapa contoh penamaan stasiun dan plot yang diambil berdasarkan lokasi pemantauan oleh CRITC COREMAP LIPI pada Fase 2 dalam Tabel 2. Tabel 2. Contoh kode penamaan stasiun pemantauan mangrove mengacu pada lokasi CRITC COREMAP LIPI pada fase 2. NO WILAYAH BARAT (ADB) N o WILAYAH TIMUR (WB) Kod e Kabupaten/ Lokasi Kod e Kabupaten/Lokasi 1 NT Natuna 1 PKP Pangkep


90 NM M 2 BT NM Bintan 2 SLY M Selayar 3 BT M M Batam 3 BUT M Buton 4 LG GM Lingga 4 WK TM Wakatobi 5 NIS M Nias Selatan 5 SKK M Sikka 6 MT W M Mentawai 6 BIK M Biak-Numfor 7 RJA M Raja Ampat C. PELAKSANAAN KEGIATAN PEMANTAUAN 1. Gambaran Umum Kegiatan pemantauan untuk ekosistem mangrove dibedakan menjadi pengamatan survey awal (t0) dan pengamatan berikutnya (t1, t2, tn…). Perbedaan tahapan kegiatan antara kedua waktu pengamatan tersebut disajikan pada Tabel 3. Pelaksanaan kegiatan pengamatan dan pemantauan komunitas mangrove dilakukan dengan metode transek garis, dan hemispherical photography.


91 Tabel 3. Matriks tahapan kegiatan pemantauan status kondisi mangrove No Tahapan Kegiatan Surv ey awa l Survey berikutnya t0 t 1 t2 t3 1 Persiapan tim + + + + 2 Persiapan administrasi dan perijinan + + + + 3 Persiapan Peralatan + + + + 4 Penentuan Stasiun & Pembuatan Peta Tematik Temporer + - - - 5 Pelacakan stasiun - + + + 6 Pengukuran data lapangan + + + + 7 Penghitungan persentase tutupan + + + + 8 Analisis data + + + + 9 Intepretasi hasil + + + + 10 Pembuatan laporan + + + + Keterangan : (+) : diperlukan; (-) : tidak diperlukan 2. Pengambilan Data a. Pelacakan lokasi plot permanen


92 Pada saat kegiatan pemantauan dilakukan atau survey tn, diperlukan pelacakan lokasi plot permanen yang telah dibuat pada kegiatan baseline (t0). Pelacakan dilakukan dengan menggunakan menu navigasi pada GPS receiver. Sebelum menuju lokasi plot permanen Dan melakukan kegiatan pemantauan, sebaiknya koordinat geografis seluruh plot dimasukkan terlebih dahulu sebagai “waypoint” dan di simpan dalam GPS receiever pada saat di kantor/penginapan, hal ini untuk mempermudah dalam pelaksanaan pemantauan. Langkah-langkah pencarian kembali stasiun dan plot permanen pada GPS Garmin 60 Cs adalah sebagai berikut: 1) Tekan tombol [FIND] pada GPS receiver yang berguna untuk mencari waypoints yang merupakan titik plot permanen yang telah tersimpan sebelumnya. 2) Pilih [waypoint] dengan tombol [ENTER] 3) Pilih nama waypoint dengan tombol [ENTER] 4) Tahap selanjutnya, pilih [Go to] dengan tombol [ENTER], kemudian GPS receiver akan menunjukkan posisi dan arah stasiun/plot tersebut secara otomatis dari posisi GPS receiver saat ini. 5) Perahu diarahkan ke posisi yang telah ditunjukkan dalam GPS receiver untuk kemudian dilakukan pengambilan data. b. Pengukuran data lapangan 1) Dalam setiap plot, 10x10 m2 dilakukan pengukuran diameter batang pohon mangrove (diameter > 4 cm atau keliling batang > 16 cm) (Ashton & McIntosh, 2002) dengan menggunakan meteran pada variasi letak pengukuran berdasarkan


93 English et al. (1997) dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 201 tahun 2004 tentang Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove yang ditampilkan pada Gambar 10. 2) Pengukuran dilakukan pada seluruh pohon yang berada di setiap plot. 3) Identifikasi jenis dilakukan berdasarkan acuan Tomlinson (1986), Noor et al. (1999), Giesen et al. (2006), dan Kitamura et al. (1999). 4) Apabila terjadi keraguan dalam identifikasi, perlu dilakukan pemotretan bagian tanaman tersebut, yaitu akar, batang, daun, pembungaan dan buah serta lakukan pengambilan sampel untuk diidentifikasi lebih lanjut di laboratorium dengan bantuan literatur atau dengan bantuan pakar identifikasi mangrove. 5) Setiap data yang diperoleh dicatat dalam data sheet yang telah disiapkan pada kertas tahan air. Pencatatan data hasil pengukuran dilakukan berdasarkan data sheet yang dibuat pada Gambar 11 dan Lampiran 1. c. Penghitungan persentase tutupan Persentase tutupan mangrove dihitung dengan menggunakan metode hemisperichal photography (Gambar 12) dibutuhkan kamera dengan lensa fish eye dengan sudut pandang 180o pada satu titik pengambilan foto (Jenning et al., 1999; Korhonen et al., 2008). Teknik ini masih cukup baru digunakan di Indonesia pada hutan mangrove, penerapannya mudah dan menghasilkan data yang lebih akurat. Teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 1) Setiap plot 10x10 m2 dibagi menjadi empat plot kecil yang berukuran 5x5 m2.


94 2) Titik pengambilan foto, ditempatkan di sekitar pusat plot kecil; harus berada diantara satu pohon dengan pohon lainnya; serta hindarkan pemotretan tepat disamping batang satu pohon. 3) Dalam setiap stratifikasi, minimal dilakukan pengambilan foto sebanyak 12 titik dimana setiap plot 10 x 10m2 diambil 4 titik pemotretan (Gambar 12). 4) Posisi kamera disejajarkan dengan tinggi dada peneliti/tim pengambil foto, serta tegak lurus/menghadap lurus ke langit. 5) Dicatat nomor foto pada form data sheet untuk mempermudah dan mempercepat analisis data. 6) Hindarkan pengambilan foto ganda pada setiap titik untuk mencegah kebingungan dalam analisis data. 3. Analisis Data a. Analisis kerapatan pohon mangrove Analisis kerapatan mangrove dihitung untuk setiap jenis sebagai perbandingan dari jumlah individu suatu jenis dengan luas seluruh plot penelitian, kemudian dikonversi menjadi per satuan hektar dengan dikalikan dengan 10.000. Nilai basal area (BA) juga dihitung dan nantinya digunakan sebagai acuan awal untuk melakukan penghitungan persentase tutupan mangrove. Untuk memudahkan penghitungan, telah disediakan form/template analisis dalam perangkat lunak Microsoft Excel. Pemilihan Microsoft Excel sebagai aplikasi analisis data pemantauan mangrove disebabkan karena kemudahan pemakaian dan perangkat lunak Microsoft Excel sudah diketahui dengan cukup baik oleh masyarakat. Berikut merupakan simulasi analisis data hasil pengukuran diameter pohon mangrove:


95 1. Buka file “template50_10x10” pada direktori “analisis data” Masukkan identitas data seperti Lokasi, Stasiun, Tanggal, Total Plot (total plot yang dibuat dalam stasiun tersebut), kemudian isi nama plot sesuai dengan penamaan yang telah disepakati di atas kolom yang mengandung nomor seperti gambar dibawah ini. 2. Masukkan identitas data seperti Lokasi, Stasiun, Tanggal, Total Plot (total plot yang dibuat dalam stasiun tersebut), kemudian isi nama plot sesuai dengan penamaan yang telah disepakati di atas kolom yang mengandung nomor seperti gambar dibawah ini. 3. Sebelum memasukkan data keliling batang hasil pengukuran, dipilih jenis yang hendak dimasukkan datanya. Lihat daftar keseluruhan jenis mangrove dengan menekan dicentang jenis yang diinginkan dan “OK”. Ilustrasinya sebagai berikut, yaitu ketika ingin memasukkan data keliling batang Rhizophora apiculata: 4. Masukkan seluruh angka keliling batang mangrove pada kolom plot sesuai dengan jenis mangrove yang dicatat dan lokasi plot terdapatnya jenis tersebut. 5. Hasil penghitungan kerapatan pohon dan % tutupan mangrove di dalam satu stasiun terhitung otomatis pada sheet (lembar kerja) “vegetasi”. 6. Untuk mempermudah tampilan, filter jenis-jenis yang hanya ditemukan pada stasiun. 7. Simpan file analisis dengan nama yang sesuai dengan nama stasiun dengan langkah- langkah: “FILE” >> “SAVE AS” >> [ganti nama stasiun]. 8. Lakukan langkah 1-7 pada stasiun berikutnya. b. Analisis persentase tutupan mangrove


96 Konsep dari analisis ini adalah pemisahan pixel langit dan tutupan vegetasi, sehingga persentase jumlah pixel tutupan vegetasi mangrove dapat dihitung dalam analisis gambar biner (Ishida 2004, Chianucci et al., 2014). Foto hasil pemotretan, dilakukan analisis dengan menggunakan perangkat lunak ImageJ yang dapat didownload gratis http://imagej.nih.gov/ij/download.html. Berikut ini adalah tahapan analisis untuk setiap foto. 1. Tampilan ImageJ pada Windows 7 64-bit. 2. Pada ImageJ, buka gambar/foto dengan format .jpeg dari direktori/tempat penyimpanan foto hasil pemotretan di lapangan. File >> Open… >> [pilih foto] 3. Ubah foto menjadi 8-bit Image >> Type >> 8-bit 4. Pisahkan langit dan tutupan mangrove Image >> Adjust >> Threshold 5. Pisahkan nilai digital pixel langit dan tutupan vegetasi secara signifikan dan sesuaikan komposisi cahaya untuk memperoleh akurasi ratio dua tipe digital pixel tersebut yang lebih tepat. Pada kotak Threshold, sesuaikan scrool kedua (ke kiri atau kanan) sampai memperoleh komposisi yang tepat, kemudian tekan Apply (Default:B/W). 6. Dihitung banyaknya pixel yang bernilai 255 sebagai intepretasi tutupan mangrove Analyze >> Histogram 7. Persentase tutupan mangrove merupakan perbandingan dari jumlah pixel yang bernilai 255 (P255) dengan jumlah seluruh pixel (∑P) dikali kan100%. % tutupan mangrove = P255/SP x 100% Pada contoh diatas:


97 P255 = 10.845.715 pixel. SP = 12.000.000 pixel Sehingga % tutupan mangrove = 10.845.715/12.000.000 x 100% = 90,381 % Catatan: Tidak semua kamera memiliki jumlah pixel yang sama tergantung dari tipe, merek dan pengaturan awal kamera. Kamera yang memiliki spesifikasi kualitas foto 12 MP, maka pada kondisi pengaturan normal ∑P = 12 juta pixel. Namun apabila diatur ulang kualitas, fotonya menjadi 3 MP, maka ∑P = 3 juta pixel. 8. Untuk mempermudah analisis, telah dibuatkan template yang sudah disimulasikan pada program Microsoft Excel (Gambar 20). Pada template ini, tim pemantau/pengolah data hanya perlu memasukkan jumlah pixel dengan nilai digital 255 (P255) kedalam kolom P255, maka persentase tutupan mangrove pada foto tersebut akan terhitung secara otomatis. Template ini dapat di download secara gratis dari website COREMAP LIPI, http://www.coremap.lipi.go.id atau pengajuan template bisa melalui email ke [email protected]. c. Interpretasi hasil dan penentuan status kondisi mangrove di lokasi penelitian Hasil analisis menghasilkan nilai kerapatan dalam satuan pohon/ha dan persentase tutupan dalam satuan persen (%). Hasil tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan status kondisi hutan mangrove yang dikategorikan menjadi tiga, yaitu jarang, sedang dan padat berdasarkan standar Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 tahun 2004 dalam Tabel 4. Tabel 4. Standar baku kerusakan hutan mangrove berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 201 tahun 2004


98 Kriteria Penutup an (%) Kerapatan (pohon/ha) Baik Padat ≥75% ≥1500 Sedang 50% – 75% 1000 – 1500 Rusak Jarang < 50% <1000 D. PENYUSUNAN LAPORAN PENGAMATAN Dalam buku ini, pemangku kepentingan/surveyor diberikan dua pilihan dalam teknik penyusunan laporan, yaitu laporan singkat (1 lembar) atau laporan lengkap (formatnya bersifat konvensional). 1. Laporan Singkat Laporan sementara berupa satu lembar kertas formulir yang memuat hasil analisis dan interpretasinya secara singkat yang diisi dengan tulis tangan oleh pengambil dan penganalisis data. Formulir kosongnya dilampirkan pada Lampiran 3 dan contoh pengisiannya pada Gambar 21. Jika digunakan oleh instansi pemerintahan ataupun swasta dan bersifat resmi, maka disertakan dengan Kop Surat masing-masing instansi. 2. Laporan Lengkap Kerangka pelaporan lengkap terdiri dari: 1. Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, serta target yang ingin dicapai. Latar belakang memuat informasi dasar, permasalahan dan state of the art dari pemantauan yang akan dilakukan. Target penelitian mengacu kepada target proyek atau instansi masing-masing yang akan melakukan pengamatan.


99 2. Metodologi Penelitian terdiri dari waktu, posisi geografis stasiun pengamatan, alat dan bahan, cara kerja dan analisis data. Bagian waktu memuat tanggal pengamatan dilakukan pada titik-titik koordinat yang telah ditentukan sebelumnya. Proses persiapan dan metode pelaksanaan pemantauan, disampaikan dalam cara kerja. Tahapan pengolahan data yang diperoleh, dicantumkan dalam bagian analisis data. 3. Hasil dan Pembahasan, sesuai namanya memuat tentang hasil pengamatan pada setiap stasiun beserta pembahasannya. Pada saat t0 pembahasan lebih mengacu pada perbandingan hasil yang diperoleh dengan lokasi lainnya. Sedangkan pada saat laporan survey tn, pembahasan dapat dibuat lebih kompleks, yaitu dengan membandingkan hasil yang diperoleh saat ini dengan pengamatanpengamatan tahun/waktu sebelumnya. 4. Kesimpulan dan rekomendasi, merupakan bagian kerangka laporan yang digunakan untuk mengetahui pencapaian tujuan dari kegiatan pemantauan yang telah dilakukan. Rekomendasi sangat dibutuhkan sebagai bahan masukan untuk kegiatan pengelolaan kawasan selanjutnya. 5. Daftar pustaka 6. Lampiran (jika ada).


100 SOAL EVALUASI 1. Pengertian hutan mangrove dalam pengetahuan sosial ialah ..... a) Hutan tropis b) Hutan hujan c) Hutan d) Hutan bakau 2. Penyebab terjadinya kerusakan hutan mangrove : 1. Faktor manusia 2. Faktor alam 3. Faktor air 4. Faktor pantai Faktor terjadinya interaksi keruangan ditunjukkan dengan nomor .... a) 1 dan 2 b) 1 dan 4 c) 3 dan 4 d) 2 dan 4 3. Contoh berikut merupakan dampak dari kerusakan hutan mangrove, yaitu .... a) Pantai menjadi indah b) populasi ikan menuruh c) tanah menjadi subur d) banyak wisatawan 4. Hutan mangrove banyak ditemukan di daerah ... a) Dataran tinggi


Click to View FlipBook Version