101 b) Pantai berpasir putih c) Pasang surut d) Dataran rendah 5. Apa Fungsi ekologis dari hutan mangrove ? a) Sebagai penghasil keuntungan bagi masyarakat sekitar b) Sebagai tempat wisata yang indah bagi wisatawan c) Sebagai pelindung dari adanya gempa bumi d) Sebagai habitat atau tempat hidup binatang laut 6. Hutan mangrove termasuk ke dalam jenis hutan . . . . a) Hutan tropis b) Hutan hujan tropis c) Hutan pesisir d) Hutan pasang surut air laut 7. Fungsi ekonomis hutan mangrove ialah dapat di gunakan sebagai bahan kayu bakar, akan tetapi dapat juga di jadikan sebagai . . . . e) Bahan pembuat makanan f) Bahan pembuat kertas g) Bahan pembuat tisu h) Bahan pembuat tikar 8. Persebaran hutan mangrove di Indonesia di antaranya ialah . . . . a) Pantai utara pulau Jawa dan pesisir barat pulau Sumatera b) Pantai selatan pulau Jawa dan Pesisir barat pulau Sumatera c) Pesisir selatan Papua dan sebagian pesisisr Kaliamantan
102 d) Pesisir selatan Papua dan Maluku 9. Dahuri (2003), menyatakan ekosistem hutan mangrove di Indonesia memiliki tingkat keanekaragaman jenis yang tinggi, sejauh ini tercatat 202 jenis tumbuhan mangrove yang terdiri dari: a) 89 jenis pohon, 4 jenis palem, 21 jenis liana, 43 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 b) jenis sikas, 2. 90 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 43 jenis epifit dan 1 c) jenis sikas, 3. 88 jenis pohon, 5 jenis palem, 20 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 d) jenis sikas. 4. 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas. 10. Bengen (2004), menyebutkan bahwa dari 202 jenis tersebut hanya 47 jenis yang merupakan mangrove sejati (true mangrove), paling tidak di dalam hutan mangrove terdapat salah satu jenis tumbuhan sejati yang termasuk kedalam 4 famili, yaitu: a) Rhizophoraceae, Sonneratiaceae, Avicenniaceae, Meliaceae. b) Bruguiera, Avicenniaceae, Sonneratiaceae, Meliaceae, c) Sonneratiaceae. Meliaceae, Xylocarpus. Avicenniaceae, d) Avicenniaceae, Bruguiera. Meliaceae, Xylocarpus. 11. Salah satu adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, pohon mangrove memiliki perakaran yang khas untuk mengambil oksigen dari udara, dengan: a) Memiliki pneumatofora pada tipe cakar ayam.
103 b) Mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horizontal yang lebar. c) Secepatnya mengeluarkan garam yang masuk ke dalam sistem pepohonan melalui pori2 daun. d) Menyaring melalui bagian akarnya. 12. Berikut ini berbagai adaptasi pohon mangrove terhadap kadar garam tinggi, kecuali: a) Menumpuk kelebihan garam pada kulit batang pohon dan daun tua yang akan terlepas dan jatuh dari pohon tersebut, b) Berdaun kuat dan mengandung banyak air, c) Memiliki lentisel pada tipe penyangga/tongkat, misalnya: Rhizhopora, d) Memiliki banyak jaringan penyimpanan internal dan kosentrasi garam tinggi. 13. Salah satu bentuk/tipe akar pohon mangrove adalah akar togkat atau penyangga. Ciri-ciri dari tipe akar tersebut adalah: a) Akarnya tebal, posisinya tegak atau pipih. b) Berbentuk strutur jaringan kabel melebar, dan mencuat dari batang bercabang-cabang bawah permukaan lumpur dan menggantung. c) Tumbuh mendatar dan bergelombang di atas dan di bawah permukaan air, akarnya mencuat ke atas permukaan tanah dan kemudian masuk kembali menancap ke tanah. d) Tumbuh berpencar dengan anak akar muncul di permukaan air seperti tombak yang diberdirikan yang mencuat dari bawah ke atas.
104 14. Yang tidak termasuk ke dalam tipe akar pada pohon mangrove adalah: a) Tipe cakar ayam atau alar pasak, b) Tipe akar lutut, c) Tipe akar bercabang (branching), d) Tipe akar papan. 15. Secara umum komunitas fauna hutan mangrove membentuk pencampuran antara dua kelompok, yaitu: a) Kelompok mobile dan kelompok sessile, b) Epifauna dan Infauna, c) Fauna terrestrial dan Fauna akuatik, d) Acropora palifera dan Acropora subglaba.
105 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Wisata Mangrove Lubuk Kertang merupakan kawasan konservasi mangrove yang dijadikan sebagai objek wisata dan dibuka untuk masyarakat umum yang terletak di Kecamatan Brandan, Kabupaten Langkat. Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, Daya tarik pada kawasan ekowisata hutan mangrove ini sangat Buruk, dimana tingkat penilaianya dapat kita lihat antara 0-25. Keindahan yang tersaji di tempat ekowisata tersebut dikatakan buruk karena banyaknya sampahsampah yang beserakan mulai dari pintu masuk tempat tersebut hingga ketempat wisata dan juga banyaknya bangunan yang rusak akibat terbengkalai. Pondokpondok, jalan kecil yang dibangun di atas air, toilet, tempat jualan bahkan tempat ibadah seperti musolah pun telah mengalami kerusakan baik kerusakan kecil hingga kerusakan besar sehingga mengakibatkan kurangnya kenyamanan bagi para pengunjung yang berwisata ketempat tersebut. Keberadaan ekowisata mangrove adalah komitmen anggota Kelompok Mekar. Mereka bersepakat bahwa menjaga hutan memberikan banyak manfaat bagi kelompok dan masyarakat di sekitar hutan mangrove, antara lain pelestarian lingkungan, pengembalian ekosistem kawasan pesisir, dan berdampak dampak ekonomi bagi masyarakat.dalam keadaan sekitar kawasan mangrove tersebut banyak yang perlu diperhatikan oleh pemerintah salah satunya jalan menuju kawasan tersebut yang sangat dapat dikatakan tidak layak untuk dijalani,kemudian dalam kawasan terdapat sebuah pabrik susu,pada mata pencarian disekitar wilayah tersebut kemungkinan besar berkerja di sebuah pabrik susu tersebut serta ruang dalam pengunjung wisata tersebut sangat buruk.
106 B. Saran Sebaiknya wisata Mengrove Lubuk Kertang ini harus di perhatikan lebih lagi oleh Pemerintah. Agar kerusakan-kerusakan serta akses jalan menuju wisata Mengrove Lubuk Kertang diperbaiki. Karena sebenarnya wisata tersebut sangat bagus karena mangrove nya yang benar-benar banyak dan bagus, sangat di sayangkan kalau tidak di manfaatkan sebagai tempata wisata, karena juga lokasi nya mendukung untuk dijadikan tempat wisata. Hanya saja akses jalannya yang susah dan sangat tidak layak. Maka itu kelompok kami juga sarankan agar Pemerintah bisa menyediakan transportasi ke dalam menuju Wisata Mangrove Lubuk Kertang tersebut.
107 DAFTAR PUSTAKA Djamaluddin, R. (2018). Mangrove Biologi, Ekologi, Rehabilitasi, dan Konservasi. Manado: Unsrat Press. Malik, A. (2019). PARIWISATA DAN PENGEMBANGAN EKOWISATA MANGROVE. Yanti, D. I. (2022). EKOWISATA MANGROVE : Bioekologi Mangrove, Keberlanjutan, dan Perencanaan Strategis Pengembangan Kawasan Ekowisata Mangrove Jeflio, Kabupaten Sorong. Sorong. Dharmawan, Wayan I dan Pramudji. 2014. Panduan Monitoring Status Ekosistem Mangrove. Jakarta: CRITC COREMAP CTI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). http://eprints.undip.ac.id/48404/3/6_BAB_II_TINJAUAN_PUSTAKA.pdf https://dlhk.bantenprov.go.id/upload/article/2021/Mangrove_dan_Manfaatnya.pdf https://pdfcoffee.com/soal-mangrove-pdf-free.html