The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MODUL AKD_SEMESTER 1 & 2 _ EVANIA LESTARI

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by evanialestari.2022, 2023-01-24 09:36:55

MODUL AKD_SEMESTER 1 & 2 _ EVANIA LESTARI

MODUL AKD_SEMESTER 1 & 2 _ EVANIA LESTARI

Hal. 40 2. Aliran Listrik Penggunaan peralatan dengan daya yang besar akan memberikan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain: Pemakaian safety switches yang dapat memutus arus listrik jika penggunaan melebihi limit/batas yang ditetapkan oleh alat. Pemasangan peralatan listrik harus memperhatikan standar keamanan dari peralatan. Penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi kerja sangat diperlukan untuk menghindari kecelakaan kerja. Berhati-hati dengan air. Jangan pernah meninggalkan pekerjaan yang memungkinkan peralatan listrik jatuh atau bersinggungan dengan air. Begitu juga dengan semburan air yang langsung berinteraksi dengan peralatan listrik. Berhati-hati dalam membangun atau mereparasi peralatan listrik agar tidak membahayakan pengguna yang lain dengan cara memberikan keterangan tentang spesifikasi peralatan yang telah direparasi. Bahan kimia dapat merusak peralatan listrik maupun isolator sebagai pengaman arus listrik. Sifat korosif bahan kimia dapat menyebabkan kerusakan pada komponen listrik. Perhatikan instalasi listrik jika bekerja pada atmosfer yang mudah meledak. misalnya pada lemari asam yang digunakan untuk pengendalian gas yang mudah terbakar. Pengaturan suhu dari peralatan listrik akan memberikan pengaruh pada bahan isolator listrik. Temperatur sangat rendah menyebabkan isolator akan mudah patah dan rusak. Isolator yang terbuat dari bahan polivinil clorida (PVC) tidak baik digunakan pada suhu di bawah 0 0C. Karet silikon dapat digunakan pada suhu -50 0C. Batas maksimum pengoperasian alat juga penting untuk diperhatikan. Bahan isolator dari


Hal. 41 polivinil clorida dapat digunakan sampai suhu 75 0C, sedangkan karet silikon dapat digunakan sampai suhu 150 0C. 3. Radiasi Sumber radiasi dapat berasal dari peralatan semacam difraksi sinar X atau radiasi internal yang digunakan oleh material radioaktif yang dapat masuk ke dalam badan manusia melalui pernafasan, atau serapan melalui kulit. Radiasi seperti ultraviolet, infra merah, frekuensi radio, laser, dan radiasi elektromagnetik serta medan magnet juga harus diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai sumber kecelakaan kerja. 4. Mekanik Walaupun laboratorium modern lebih didominasi oleh peralatan yang terkontrol oleh komputer, namun demikian kerja mekanik masih harus dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, penggantian peralatan habis pakai, masih harus dilakukan secara manual, sehingga kesalahan prosedur kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Peralatan keselamatan kerja seperti pelindung kepala,pelindung badan, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain perlu mendapatkan perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini. 5. Bahan Mudah Terbakar Hampir semua laboratorium menggunakan bahan kimia dalam berbagai variasi penggunaan termasuk proses pembuatan, formulasi atau analisis. Cairan mudah terbakar yang sering digunakan dalam laboratorium adalah hidrokarbon. Bahan mudah terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol, etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan lain-lain. Orang yang bekerja di laboratorium harus berusaha mengenali dan mengerti dengan informasi yang terdapat dalam Material Safety Data Sheets (MSDS). Dokumen MSDS memberikan penjelasan tentang tingkat bahaya dari


Hal. 42 setiap bahan kimia, termasuk di dalamnya tentang kuantitas bahan yang diperkenankan untuk disimpan secara aman. sumber api lain dapat berasal dari senyawa yang dapat meledak atau tidak stabil. Banyak senyawa kimia yang mudah meledak sendiri atau mudah meledak jika bereaksi dengan senyawa lain. Senyawa yang tidak stabil harus diberi label pada penyimpanannya. Gas bertekanan juga merupakan sumber kecelakaan kerja. 6. Suara (kebisingan) Sumber kecelakaan kerja yang satu ini pada umumnya terjadi pada hampir semua industri, baik industri kecil, menengah, maupun industri besar. Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin, atau mesin pembuat vakum, merupakan sekian contoh dari peralatan yang diperlukan dalam industri. Peralatan tersebut berpotensi mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan kerja. Selain angka kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin, para pekerja harus memperhatikan berapa lama mereka bekerja dalam lingkungan tersebut. Pelindung telinga dari kebisingan juga harus diperhatikan untuk menjamin keselamatan kerja. (Rodiani,2016). Topik 4: Faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan Berikut ini beberapa faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan di laboratorium kimia, yaitu sebagai berikut: a. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman mengenai bahan kimia dan proses-proses serta perlengkapan atau peralatan yang digunakan b. Petunjuk kegiatan laboratorium tidak jelas dan kurang pengawasan c. Kurangnya bimbingan terhadap personil (analis, siswa/ mahasiswa) yang sedang bekerja di laboratorium


Hal. 43 d. Tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan pelindung untuk bekerja e. Tidak mengikuti petunjuk atau aturan yang seharusnya ditaati f. Tidak menggunakan perlengkapan pelindung atau menggunakan peralatan/ bahan tidak sesuai. Tidak berhati-hati pada saat bekerja. Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di laboratorium : 1. Terpeleset, biasanya karena lantai licin. Akibat : Ringan : memar Berat : fraktura, dislokasi, memar otak, dll. Pencegahan : Pakai sepatu anti slip Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, tali sepatu longgar Hati-hati bila berjalan pada lantai yang basah atau licin. Konstruksi lantai rata. Pemeliharaan lantai dan tangga 2. Cedera anggota badan Akibat : cedera pada punggung Pencegahan : Beban jangan terlalu berat Jangan berdiri terlalu jauh dari beban Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok Pakaian yang digunakan jangan terlalu ketat sehingga menghambat pergerakan tubuh. 3. Resiko terjadi kebakaran Sumber : bahan kimia, kompor, bahan desinfektan yang mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun. Kebakaran terjadi bila


Hal. 44 terdapat 3 unsur bersama-sama yaitu: oksigen, bahan yang mudah terbakar dan panas. Akibat : Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai berat kematian Timbul keracunan akibat kurang hati-hati. Pencegahan : Konstruksi bangunan yang tahan api Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran Sistem tanda kebakaran Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda bahaya dengan segera Otomatis yang menemukan kebakaran dan memberikan tanda secara otomatis Tersedia jalur evakuasi jika terjadi kebakaran Perlengkapan penanggulangan kebakaran Penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman. Berikut tindakan Pencegahan (Preventif) yang dapat dilakukan agar tidak terjadi kecelakaan diantaranya adalah : 1. Desain dan penataan ruangan harus memenuhi persyaratan 2. Mengetahui lokasi perlengkapan darurat 3. Menggunakan perlengkapan keselamatan pada saat bekerja 4. Memahami sifat bahan dan memahami kemungkinan bahaya yang terjadi 5. Memberikan tanda/ peringatan pada bahan/alat 6. Bekerja dengan izin dan prosedur yang benar 7. Membuang sisa kegiatan sesuai prosedur pada tempat yang disediakan


Hal. 45 8. Membersihkan sisa bahan yang tercecer. (Rodiani,2016). Topik 5: Jenis-jenis SOP di laboratorium kimia 1. Penanganan bahan kimia Bila anda bekerja dengan bahan kimia maka diperlukan perhatian dan kecermatan dalam penanganannya. Adapun hal umum yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut : a. Hindari kontak langsung dengan bahan kimia b. Hindari menghirup langsung uap bahan kimia c. Dilarang mencicipi atau mencium bahan kimia kecuali ada perintah khusus (cukup dengan mengkibaskan ke arah hidung) d. Bahan kimia dapat bereaksi langsung dengan kulit menimbulkan iritasi (pedih dan gatal). 2. Memindahkan Bahan Kimia Seorang laboran pasti melakukan pekerjaan pemindahan bahan kimia pada setiap kerjanya. Ketika melakukan pemindahan bahan kimia maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Baca label bahan sekurang kurangnya dua kali untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan bahan misalnya antara asam sitrat dan asam nitrat. b. Pindahkan sesuai jumlah yang diperlukan c. Jangan menggunakan bahan kimia secara berlebihan d. Jangan mengembalikan bahan kimia ke tempat botol semula untuk menghindari kontaminasi, meskipun dalam hal ini kadang terasa boros.


Hal. 46 2.1 Memindahkan Bahan Kimia Cair Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat memindahkan bahan kimia yang wujudnya cair adalah : a. Tutup botol dibuka dengan cara dipegang dengan jari tangan dan sekaligus telapak tangan memegang botol tersebut. b. Tutup botol jangan ditaruh diatas meja karena isi botol bisa terkotori oleh kotoran yang ada diatas meja. c. Pindahkan cairan menggunakan batang pengaduk untuk menghindari percikan. d. Pindahkan dengan alat lain seperti pipet ukur sehingga lebih mudah. 2.2 Memindahkan Bahan Kimia Padat Pemindahan bahan kimia padat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Gunakan spatula/sendok atau alat lain yang bukan berasal dari logam. b. Jangan mengeluarkan bahan kimia secara berlebihan. c. Gunakan alat yang bebas dari kontaminasi untuk memindahkan bahan kimia padat. Hindari satu spatula/sendok digunakan untuk bermacam-macam keperluan. (Rodiani,2016 3. Pemanasan bahan kimia Pada saat bekerja di laboratorium kimia sering kali dilakukan pemanasan bahan. Pemanasan bisa dilakukan dengan tabung reaksi atau alat gelas kimia lain. Apabila melakukan pemanasan harus diperhatikan hal-hal berikut ini : a. Tabung reaksi 1) Isi tabung reaksi sebagian saja, sekitar sepertiganya. 2) Api pemanas terletak pada bagian bawah larutan.


Hal. 47 3) Goyangkan tabung reaksi agar pemanasan merata. Arah mulut tabung reaksi pada tempat yang kosong agar percikannya tidak mengenai orang lain. b. Gelas kimia 1) Gunakan kaki tiga sebagai penopang gelas kimia tersebut. 2) Letakkan batang gelas atau batu didih pada gelas kimia untuk menghindari pemanasan mendadak. 3) Jika gelas kimia tersebut berfungsi sebagai penangas air, isikan air seperempatnya saja supaya tidak tumpah. (Rodiani,2016). 4. Penyimpanan Bahan Kimia Penyimpanan bahan kimia tergantung pada beberapa faktor, hal umum yang harus diperhatikan di dalam penyimpanan dan penataan bahan kimia diantaranya meliputi aspek pemisahan (segregation), tingkat resiko bahaya (multiple hazards), pelabelan (labeling), fasilitas penyimpanan (storage facilities), wadah sekunder (secondary containment), bahan kadaluarsa (outdate chemicals), inventarisasi (inventory), dan informasi resiko bahaya (hazard information). Penyimpanan dan penataan bahan kimia berdasarkan urutan alfabetis tidaklah tepat, pengurutan secara alfabetis akan lebih tepat apabila bahan kimia sudah dikelompokkan menurut sifat fisis, dan sifat kimianya terutama tingkat bahayanya. Banyak bahan kimia yang memiliki sifat lebih dari satu jenis tingkat bahaya. Penyimpanan bahan kimia tersebut harus didasarkan atas tingkat risiko bahaya yang paling tinggi. Misalnya benzena memiliki sifat flammable dan toxic. Sifat dapat terbakar dipandang memiliki resiko lebih tinggi daripada timbulnya karsinogen. Oleh karena itu penyimpanan benzena harus ditempatkan pada wadah tempat menyimpan zat cair flammable daripada disimpan pada wadah bahan toxic.


Hal. 48 Berikut ini merupakan panduan umum untuk mengurutkan tingkat bahaya bahan kimia dalam kaitan dengan penyimpanannya: Bahan Radioaktif > Bahan Piroforik > Bahan Eksplosif > Cairan Flammable> Asam/basa Korosif > Bahan Reaktif terhadap Air > Padatan Flammable > Bahan Oksidator > Bahan Combustible > Bahan Toksik > Bahan yang tidak memerlukan pemisahan secara khusus Bahan kimia yang tidak boleh disimpan dengan bahan kimia lain, harus disimpan secara khusus dalam wadah sekunder yang terisolasi. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah pencampuran dengan sumber bahaya lain seperti api, gas beracun, ledakan, atau degradasi kimia. Bahan kimia demikian harus disimpan secara terpisah. Tabel 1.2 menunjukkan bahan kimia pada kolom A bila kontak dengan zat kolom B akan menghasilkan racun (kolom C). Tabel 1.2 Contoh bahan kimia yang menghasilkan racun bila dicampur. Kolom A Kolom B Kolom C Senyawa berbahaya yang timbul bila dicampur Sianida Asam Asam sianida Hipoklorit Asam Klor dan Asam Hipoklorit Nitrat Asam Sulfat Nitrogen dioksida Asam Nitrat Tembaga, logam berat Nitrogen dioksida Nitrit Asam Asam nitrogen oksida Asida Asam Hidrogen Asida Senyawa Arsenik Reduktor Arsen Sulfida Asam Hidrogen sulfida Untuk keperluan pekerjaan rutin di laboratorium, membutuhkan bahan kimia dalam bentuk pereaksi/reagen yang disimpan dalam botolbotol pereaksi/reagen. Pelabelan pada botol pereaksi/reagen juga sangat penting. Informasi yang harus dicantumkan pada botol reagen diantaranya: 1) Nama kimia dan rumusnya 2) Konsentrasi 3) Tanggal penerimaan 4) Tanggal pembuatan


Hal. 49 5) Nama orang yang membuat reagen 6) Lama hidup / kadaluarsa 7) Tingkat bahaya 8) Klasifikasi lokasi penyimpanan Penyimpanan bahan kimia sebaiknya ditempatkan pada fasilitas penyimpanan secara tertutup seperti dalam cabinet, loker, dsb. Tempat penyimpanan harus bersih, kering dan jauh dari sumber panas atau terkena sinar matahari. Di samping itu tempat penyimpanan harus dilengkapi dengan ventilasi yang cukup. Bahan kimia cair yang berbahaya harus disimpan pula dalam wadah sekunder seperti baki plastik untuk mencegah timbulnya kecelakaan akibat bocor atau pecah. Beberapa contoh bahan berbahaya yang memerlukan wadah sekunder diantaranya adalah: 1) Cairan flammable dan combustible serta pelarut terhalogenasi misalnya alkohol, eter, trikloroetan, perkloroetan dsb. 2) Asam-asam mineral pekat misalnya asam nitrat, asam klorida, asam sulfat, asam florida, asam fosfat dsb. 3) Basa-basa pekat misalnya amonium hidroksida, natrium hidroksida, dan kalium hidroksida. 4) Bahan radioaktif Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah lamanya waktu penyimpanan. Eter, paraffin cair, dan olefin membentuk peroksida karena kontak dengan udara dan cahaya. Semakin lama disimpan semakin besar jumlah peroksida. Isopropileter, etil eter, dioksan, dan tetrahidro furan adalah zat-zat yang sering menimbulkan bahaya akibat terbentuknya peroksida dalam penyimpanan. Zat sejenis eter, tak boleh disimpan melebihi satu tahun, kecuali ditambah "inhibitor". Eter yang telah terbuka, harus dihabiskan selama enam bulan, atau sebelum dipakai, dites lebih dahulu kadar peroksidanya dan bila positif, peroksida tersebut dipisahkan atau dihilangkan secara kimia.


Hal. 50 Kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan bahan kimia : 1) Simpanlah botol-botol yang berisi bahan kimia pada rak atau lemari yang disediakan khusus. Botol-botol besar disimpan pada bagian bawah tempat penyimpanan. 2) Jangan menyimpan botol yang berisi zat yang berbahaya atau korosif (terutama cairan) di tempat yang lebih tinggi dari bahu orang dewasa. 3) Jangan mengisi botol-botol sampai penuh 4) Jangan menggunakan tutup dari kaca untuk botol yang berisi larutan basa, karena lama kelamaan tutup itu akan melekat pada botolnya dan susah dibuka. 5) Semua wadah yang berisi bahan kimia harus diberi label yang menyatakan nama bahan itu. Khusus untuk wadah yang berisi larutan harus pula dinyatakan konsentrasi, dan tanggal pembuatan larutan. Bila mungkin hendaknya dituliskan pula bahaya apa yang dapat ditimbulkannya. Agar label ini tahan lama hendaknya dilapisi dengan lilin cair. 6) Untuk memudahkan pencarian dan menjaga keamanan, penyimpanan bahan kimia hendaknya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok cairan / larutan dan kelompok zat padat kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi kelompok asam, basa, garam, indikator atau pereaksi khusus serta senyawa organik. 7) Fosforus kuning harus disimpan (direndam bersama wadahnya) dalam air . 8) Natrium, kalium dan litium harus disimpan dalam kerosin (minyak tanah) 9) Rak-rak penyimpanan harus kuat 10) Ruang penyimpanan bahan kimia hendaknya dilengkapi dengan ventilasi yang memadai 11) Bahan-bahan kimia yang sangat beracun dan berbahaya hendaknya


Hal. 51 dibeli dalam jumlah kecil, dan tanggal pembeliannya dicatat. Demikian pula bagi bahan kimia yang mudah rusak bila disimpan. 12) Saat membeli bromin sebaiknya dibungkus dalam amplop/wadah kertas dan diperkirakan dapat habis dalam satu percobaan. 13) Semua persediaan bahan kimia secara teratur diteliti, jika ada label yang rusak harus segera diganti. Jika ada zat yang rusak, zat itu harus dilakukan penanganan khusus sesuai karakteristiknya sebelum disingkirkan/ dibuang. (Rodiani,2016). 5. Penanganan Limbah Bahan Kimia Limbah laboratorium adalah limbah yang berasal dari kegiatan laboratorium. Limbah ini memiliki sifat khas yang berbeda dengan limbah yang berasal dari kegiatan industri karena biasanya memiliki keragaman jenis limbah yang sangat tinggi walaupun dari setiap macam bahan yang dibuang tersebut jumlahnya tidak banyak. Artinya limbah laboratorium kimia meskipun volumenya masih relatif kecil dibandingkan dengan limbah industri, namun justru mengandung jenis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang sangat bervariasi dengan konsentrasi yang relatif tinggi. Oleh karena itu, limbah ini harus dikelola secara benar agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat. Limbah laboratorium dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu: Bahan baku yang sudah kadaluwarsa Bahan habis pakai Produk proses di dalam laboratorium Produk upaya penanganan limbah, misalnya jarum suntik sekali pakai setelah di autoklaf. Limbah bahan kimia secara umum meracuni lingkungan, oleh karena itu perlu penanganan khusus : 1. Limbah bahan kimia tidak boleh dibuang langsung ke lingkungan . 2. Buang pada tempat yang disediakan


Hal. 52 3. Limbah organik dibuang pada tempat terpisah agar bisa didaur ulang. 4. Limbah padat (kertas saring, korek api, endapan) dibuang ditempat khusus. 5. Limbah yang tidak berbahaya (misal: detergen) boleh langsung dibuang dengan pengenceran air yang cukup banyak 6. Buang segera limbah bahan kimia setelah pengamatan selesai. 7. Limbah cair yang tidak larut dalam air dan beracun dikumpulkan pada botol dan diberi label yang jelas. (Rodiani,2016) Topik 6 : Alat pelindung Diri (APD) Setiap pekerja diwajibkan memakai alat pelindung diri (APD) karena pada dasarnya APD merupakan sistem pengaman terakhir untuk pekerja. Alat Pelindung Diri (APD) di tempat kerja harus dilihat dalam konteks sebagai pengaman pekerja untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, termasuk alat pelindung diri di laboratorium demi menunjang terciptanya kenyamanan orang yang melakukan pekerjaan di laboratorium. Secara sederhana yang dimaksud dengan Alat Pelindung Diri (APD) atau yang dalam istilah Bahasa Inggris disebut sebagai Personal Protective Equipment (PPE) adalah “seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja”. APD merupakan suatu alat yang dipakai tenaga kerja dengan maksud menekan atau mengurangi resiko masalah kecelakaan akibat kerja yang akibatnya dapat timbul kerugian bahkan korban jiwa atau cedera. Alat pelindung diri sesuai dengan istilahnya, bukan sebagai alat pencegahan kecelakaan namun berfungsi untuk memperkecil tingkat cederanya. APD harus memiliki fungsi untuk melindungi pemakainya dalam melaksanakan pekerjaan sehingga dapat mengisolasi tubuh atau bagian tubuh dari bahaya serta dapat memperkecil akibat/resiko yang mungkin timbul. Alat pelindung diri yang telah dipilih hendaknya memenuhi ketentuan sebagai berikut:


Hal. 53 1) Dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya 2) Berbobot ringan 3) Dapat dipakai secara fleksibel (tidak membedakan jenis kelamin) 4) Tidak menimbulkan bahaya tambahan 5) Tidak mudah rusak 6) Memenuhi ketentuan dari standar yang ada 7) Pemeliharaan mudah 8) Penggantian suku cadang mudah 9) Tidak membatasi gerak 10) Rasa “tidak nyaman” tidak berlebihan (rasa tidak nyaman tidak mungkin hilang sama sekali, namun diharapkan masih dalam batas toleransi) APD harus dipakai secara benar ketika kita bekerja di laboratorium terutama jika kita bekerja menggunakan bahan kimia yang berbahaya. Alas kaki seperti sandal tidak diperbolehkan dipakai di dalam laboratorium. Memakai sandal berarti membuat beberapa bagian kaki menjadi terbuka, sehingga hal ini memungkinkan kaki terkena bahan kimia berbahaya. Berikut ini adalah fungsi dan jenis alat pelindung diri sesuai yang tertera pada Lampiran dalam Permenaker No. 8 tahun 2011. 1. Alat pelindung kepala Gambar 2.1. Alat pelindung kepala. Alat pelindung kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda keras yang melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas, api, percikan bahan-bahan kimia, jasad renik


Hal. 54 (mikroorganisme), suhu yang ekstrim, serta menjaga kebersihan kepala dan rambut. Jenis alat pelindung kepala terdiri dari helm pengaman (safety helmet), topi atau tudung kepala, penutup atau pengaman rambut, dan lain-lain. Contoh alat pelindung kepala standar ditunjukkan pada Gambar 2.1. 2. Alat pelindung mata dan muka Alat pelindung mata dan muka adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya, paparan partikel-partikel yang melayang di udara dan di badan air, percikan benda-benda kecil, panas, uap panas, radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak mengion, pancaran cahaya, benturan atau pukulan benda keras atau benda tajam. Jenis alat pelindung mata dan muka terdiri atas kacamata pengaman (spectacles), goggles, tameng muka (face shield), serta tameng muka dan kacamata pengaman dalam kesatuan (full face masker). a. Perisai wajah Perisai wajah (Face Shield) dibutuhkan ketika terdapat potensi adanya paparan zat kimiawi, benda-benda berterbangan dan juga sinar UV terhadap wajah kita ketika bekerja. Contoh Face shield ditunjukkan pada Gambar 2.2. Gambar 2.2. Alat Pelindung Muka Face Shield Penggunaan perisai wajah bukan merupakan pengganti dari pelindung mata (safety glasses), oleh karena itu akan lebih baik bila pemakaian perisai wajah disertai dengan pemakaian safety glasses


Hal. 55 b. Safety Glasses Safety Glasses (Gambar 2.3) merupakan perlindungan paling minimum untuk mata ketika bekerja di dalam laboratorium dari benda-benda yang berterbangan. Gambar 2.3. Alat Pelindung Mata Safety Glasses c. Safety Goggles Safety goggles (Gambar 2.4) dibutuhkan ketika bekerja di laboratorium yang terdapat kemungkinan mata terkena uap, cipratan, kabut ataupun semprotan dari zat kimia berbahaya yang bisa mengenai mata. Gambar 2.4. Alat Pelindung Mata Safety googles


Hal. 56 3. Alat pelindung telinga Gambar 2.5. Alat Pelindung Telinga Ear plug (kiri) dan Ear muff (kanan). Alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan atau tekanan. Jenis alat pelindung telinga terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga (ear muff). APD ini disarankan untuk dipakai apabila tempat anda bekerja memiliki tingkat kebisingan diatas normal yaitu level kebisingan yang mencapai di atas 85 dB atau lebih. Sedangkan APD ini wajib dipakai ketika tingkat kebisingan sudah mencapai 90 dB. Untuk mengetahui seberapa tingkat kebisingan disuatu daerah atau tempat maka dilakukan suatu pengukuran dengan suatu alat yang antara lain dengan Sound Level Meter. Untuk masa sekarang ini bisa ditemukan APD kepala sekaligus pendengaran yang disebut dengan Cap-mounted ear muff (Gambar 2.5). APD ini berbentuk helm dengan ear muff di bagian telinga sehingga akan memudahkan pengguna ketika ingin melindungi kepala sekaligus pendengarannya. Gambar 2.6. Cap-mounted earmuff


Hal. 57 4. Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya Gambar 2.7. Masker Sebagaimana diketahui bahwa sumber penyakit/bahaya bukan hanya menimpa bagian tubuh tapi dapat juga menimpa bagian dalam yang datangnya melalui pernapasan atau mulut. APD ini berfungsi melindungi bagian dalam tubuh melalui pernapasan hidung dan mulut dari pengaruh oksigen yang terkontaminasi dengan partikel debu, gas, uap yang dapat merusak atau setidaknya mengganggu pernapasan. Alat pelindung pernapasan beserta perlengkapannya adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dengan cara menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring cemaran bahan kimia, mikroorganisme, partikel yang berupa debu, kabut (aerosol), uap, asap, gas/ fume, dan sebagainya. Jenis alat pelindung pernapasan dan perlengkapannya terdiri dari masker, respirator, kanister, Re-breather, Airline respirator, Continues Air Supply Machine=Air Hose Mask Respirator, tangki selam dan regulator (SelfContained Underwater Breathing Apparatus /SCUBA), Self-Contained Breathing Apparatus (SCBA), dan emergency breathing apparatus. Secara berturut-turut, contoh masker dan respirator diperlihatkan pada Gambar 2.7 dan 2.8.


Hal. 58 Gambar 2.8. Respirator Ada beberapa jenis respirator bergantung jenis dan kadar pencemarnya, yaitu respirator pemurni udara dan respirator pemasok udara/ oksigen. a. Respirator pemurni udara Jenis ini memakai filter yang dapat menyerap kontaminan dalam udara. Jenis filter berbeda-beda bergantung jenis gasnya dan diberi warna yang berbeda sesuai dengan kemampuan penyerapan gas. Gas asam : putih Gas asam sianida : putih dengan strip hijau Gas klor : putih dengan strip kuling Uap organik : hitam Gas ammonia : hijau Gas karbon monoksida : biru Gas asam dan uap organik : kuning b. Respirator pemasok udara/oksigen Jenis ini dipakai untuk bekerja dalam ruang yang berkadar oksigen rendah seperti ruang tertutup atau berpolusi berat, seperti adanya gas apiksian (N2, CO2) atau apiksian kimia (NH3, CO, HCN) pada konsentrasi tinggi. Gambar 2.9 menunjukkan berbagai jenis respirator dan filter.


Hal. 59 Gambar 2.9. Berbagai jenis respirator dan filter 5. Alat pelindung tangan Pelindung tangan (sarung tangan) adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari api, suhu panas, suhu dingin, radiasi elektromagnetik, radiasi mengion, arus listrik, bahan kimia, benturan, pukulan dan tergores, terinfeksi zat patogen (virus, bakteri) dan jasad renik. Jenis pelindung tangan terdiri dari sarung tangan yang terbuat dari logam, kulit, kain kanvas, kain atau kain berpelapis, karet, dan sarung tangan yang tahan bahan kimia. Sarung tangan tangan berfungsi untuk melindungi tangan dari bahaya tajam, panas, kasar, berduri, dingin, radiasi, arus llistrik, bahan-bahan kimia dan elektromagnetik, serta menjaga kebersihan tangan. Alat pelindung tangan (sarung tangan) terbuat dari bermacam-macam bahan disesuaikan kebutuhan. Beberapa sarung tangan yang sering dijumpai adalah: a. Sarung tangan kain Gambar 2.10. Sarung tangan kain


Hal. 60 Digunakan untuk memperkuat pegangan. Hendaknya dibiasakan bila memegang benda yang berminyak, bagian-bagian mesin atau bahan logam lainnya. b. Sarung tangan asbes Gambar 2.11. Sarung tangan asbes Sarung tangan asbes (Gambar 2.11) digunakan terutama untuk melindungi tangan terhadap bahaya pembakaran api. Sarung tangan ini digunakan bila setiap memegang benda yang panas, seperti pada pekerjaan mengelas dan pekerjaan menempa. c. Sarung tangan karet Sarung tangan ini menjaga tangan dari bahaya pembakaran asam atau melindungi dari cairan pada bak dimana pekerjaan tersebut berlangsung terutama pada pekerjaan pelapisan logam seperti pernikel, perkhrom dsb. Sarung tangan karet (Gambar 2.12) digunakan pula untuk melindungi kerusakan kulit tangan karena hembusan udara pada saat membersihkan bagian-bagian mesin dengan menggunakan kompresor.


Hal. 61 Gambar 2.12 Sarung tangan karet 6. Alat pelindung kaki Gambar 2.13 Alat pelindung kaki (sepatu) Alat pelindung kaki (Gambar 2.13) berfungsi untuk melindungi kaki dari tertimpa benda berat, keras atau berbenturan dengan benda-benda berat, tertusuk benda tajam, terkena cairan panas atau dingin, uap panas, suhu yang ekstrim, terkena bahan kimia berbahaya dan jasad renik, tergelincir. Banyak jenis sepatu keselamatan, diantaranya adalah : 1. Sepatu latex/karet, sepatu ini tahan bahan kimia dan memberikan daya tarik extra pada permukaan licin 2. Sepatu buthyl, sepatu buthyl melindungi kaki terhadap ketone, aldehyde, alcohol, asam, garam, dan basa. 3. Sepatu vinyl, tahan terhadap pelarut, asam, basa, garam, air, pelumas dan darah.


Hal. 62 4. Sepatu Nitrile, sepatu nitrile tahan terhadap lemak hewan, oli, dan bahan kimia. 7. Pakaian pelindung Gambar 2.14. Jas laboratorium Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi sebagian atau seluruh bagian badan dari bahaya temperatur panas atau dingin yang ekstrim, paparan api dan benda-benda panas, percikan bahan-bahan kimia, cairan dan logam panas, uap panas, benturan dengan mesin, peralatan dan bahan, tergores, radiasi, binatang, mikroorganisme patogen dari manusia, binatang, tumbuhan dan lingkungan seperti virus, bakteri dan jamur. Pakaian pelindung merupakan pakaian yang menutupi sebagian atau seluruh bagian badan. Salah satu jenis APD badan yang dikenakan selama bekerja di laboratorium adalah jas laboratorium (Gambar 2.14). Untuk beberapa eksperimen biasa, cukup mengenakan jas laboratorium berlengan panjang yang terbuat dari bahan tidak mudah meleleh (disarankan dari katun atau kain campuran poliester dan katun). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan jas laboratorium antara lain kancing jas laboratorium harus dalam kondisi terkancing dengan benar dan ukuran jas laboratorium pas dengan ukuran


Hal. 63 badan pemakainya. Jas lab yang baik adalah jas yang mampu melindungi sebagian besar tubuh namun tetap tidak mempersulit gerakan tubuh ketika kita bekerja. Jas laboratorium merupakan pelindung badan dari tumpahan bahan kimia dan api sebelum mengenai kulit pemakainya. Jika jas laboratorium anda terkontaminasi oleh tumpahan bahan kimia, lepaslah jas tersebut secepatnya. (Rodiani,2016) Topik 7 : Alat Pemadam Kebakaran (APAR) Gambar 2.15. Segi tiga API Terjadinya kebakaran biasanya disebabkan oleh 3 unsur utama yang sering disebut sebagai segitiga API, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.15. Segitiga Api merupakan pengetahuan tambahan bagi kita untuk mengetahui bagaimana kebakaran dapat terjadi. Dari segitiga api kita dapat mengetahui bahwa Api dapat menyala bila terdapat bahan yang mudah terbakar, adanya panas yang cukup yang dapat memicu terjadinya kebakaran, serta adanya oksigen yang mendukung terbentuknya pembakaran. Kebakaran dalam laboratorium banyak terjadi karena pemanasan, ekstraksi, atau destilasi pelarut organik. Prinsip utama dalam penanggulangan kebakaran adalah bahwa api sebelum membesar harus segera dapat dipadamkan. Semakin besar api semakin sukar dikuasai karena suhu yang lebih tinggi akan mempercepat proses kebakaran. Selama api masih kecil harus segera dipadamkan dengan kain atau sarung basah atau selimut basah (fire blanket). Keterangan : A : Adanya bahan yang mudah terbakar P : adanya Panas yang cukup I : adanya Ikatan Oksigen di sekitar bahan.


Hal. 64 Pencegahan kebakaran yang dapat dilakukan antara lain : 1. Menurunkan suhu bahan yang terbakar 2. Mengurangi kontak dengan oksigen 3. Mengurangi radikal penyebab reaksi berantai Pencegahan dan penanggulangan kebakaran adalah semua tindakan yang berhubungan dengan pencegahan, pengamatan dan pemadaman kebakaran untuk perlindungan jiwa dan perlindungan harta kekayaan. Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran adalah dengan menyediakan instalasi alat pemadam kebakaran. Alat pemadam kebakaran merupakan salah satu pendukung strategis dalam upaya menjamin aset bangunan, fasilitas dan peralatan dari bahaya kebakaran yang ditimbulkan baik faktor eksternal maupun internal. Pemilihan dan penggunaan jenis, bahan serta sistem peralatan pemadam kebakaran perlu mendapat perhatian utama. Pemilihan yang salah atas pengunaan jenis dan macam bahan pemadam akan sangat merugikan. Penggunaan yang tidak sesuai dan salah penempatan dalam penentuan sistem peralatan pemadam kebakaran akan berdampak pada resiko kerugian yang besar akibat kebakaran. 1. Klasifikasi Kebakaran berdasarkan sumbernya Kelas A Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda padat kecuali logam, misalnya kayu, plastik, karet busa dan lain lain. Media pemadam kebakaran ini berupa air, pasir, karung goni yang dibasahi, dan alat pemadaman kebakaran racun api tepung kimia. Kelas B. Kebakaran yang disebabkan oleh benda-benda yang mudah terbakar berupa cairan, misalnya bensin, solar, minyak tanah, spritus, alkohol dan lain-lain. Media pemadaman ini berupa pasir, dan alat pemadam racun api tepung kimia kering, dilarang memakai air untuk


Hal. 65 jenis ini karena berat jenis air lebih berat dari pada berat jenis bahan yang terbakar sehingga apabila dipergunakan air maka kebakaran akan menjalar kemana-mana. Kelas C Kebakaran yang disebabkan oleh listrik. Media pemadaman kebakaran ini berupa alat pemadam kebakaran racun api tepung kimia kering. Matikan dahulu sumber listrik agar aman dalam memadamkan api. Perlu diperhatikan dalam memilih jenis media pemadam yaitu yang tidak menghantar listrik untuk melindungi orang yang memadamkan kebakaran dari aliran listrik. Kelas D Kebakaran kelas D yaitu kebakaran bahan logam, seperti: aluminium, magnesium, kalium, dan lainnya yang sejenis dengan itu. 2. Peralatan penanggulangan bahaya kebakaran : a. Fire Extinguisher / racun api Peralatan ini merupakan peralatan reaksi cepat multi guna karena dapat dipakai untuk kebakaran jenis A, B dan C. Peralatan ini mempunyai ukuran beratnya yang sesuai dengan besar kecilnya resiko kebakaran yang mungkin timbul di daerah tersebut. Bahan yang ada dalam tabung pemadam api tersebut ada yang dari bahan kimia kering, foam busa dan CO2 , untuk bahan Halon tidak mendapat ijin digunakan di Indonesia. b. Hydrant Hydrant adalah sebuah alat perlindungan api yang disediakan di sebagian wilayah perkotaan, pinggiran kota, dan perdesaan yang memiliki ketersediaan (pasokan) air yang cukup yang memungkinkan petugas pemadam kebakaran untuk menggunakan pasokan air tersebut untuk membantu memadamkan kebakaran. Hydrant ini terdiri dari hydrant gedung, hydrant halaman, hydrant


Hal. 66 kota yang biasanya mempunyai lokasi sangat dekat dengan titik api. Gambar 2.16. Hydrant c. Fire alarm (alarm kebakaran) Fire alarm merupakan alat yang akan berbunyi ketika terjadi kebakaran dan berfungsi untuk memberikan tanda bahaya (alert) bila terjadi potensi kebakaran atau kebocoran gas. Cara Kerja Fire Alarm System adalah alat ini akan mendeteksi potensi-potensi kebakaran seperti gumpalan asap (smoke detector), temperatur tinggi (heat detector), dan adanya gas yang berbahaya (gas detector), ketika alat ini mendeteksi potensi kebakaran maka alat ini akan secara otomatis memberikan tanda bahaya (alert) seperti membunyikan bell menyalakan lampu, dan lainnya sehingga orang sekitar dapat mengetahui kalau ada potensi kebakaran di sekitar tempat tersebut. (Rodiani,2016) 3. Jenis-jenis alarm pemadam kebakaran Fire alarm protection (alarm kebakaran) merupakan salah satu alat pemberi peringatan terjadinya kebakaran yang akan berbunyi ketika terjadi kebakaran. Semua komponen dari alarm kebakaran harus diperiksa secara teratur untuk memastikan peralatan tersebut bekerja dengan baik. Bagian-bagian yang terdapat pada alarm kebakaran, antara lain: 1) Pendeteksi (Detektor) 2) Bel dan suara/sirine 3) Lampu tanda (healthy indicator and fire indicator) 4) Sinyal pengendali (remote signalling)


Hal. 67 5) Tombol reset 6) Name plate berisi spesifikasi dari alarm kebakaran tersebut Beberapa jenis alarm kebakaran yang sering digunakan adalah: 1. Rotary Hand Bell Gambar 2.17. Rotary Hand Bell Jenis alarm ini ideal digunakan di dalam gedung, taman kota,dan tempat penumpukan barang di luar ruangan. Jika terjadi kebakaran maka kaca penutup tombol alarm harus dipecah dan sirine tanda kebakaran akan berbunyi. Maka dengan demikian insiden atau peristiwa kebakaran akan segera diketahui dan siapapun didalam ruangan atau bangunan dimana terjadi kebakaran akan segera memadamkan api semaksimal mungkin. 2. Smoke detectors Gambar 2.18. Smoke Detector


Hal. 68 Jenis alarm ini lebih tahan lama dibanding alat lain. Kekuatan suara hingga 85 db, mampu bertahan hingga 2 tahun, dengan suplai baterai sekitar 9 volt. Detektor asap memiliki dua sensor yang berbeda. Pertama yang berhubungan dengan mata detektor, dan yang kedua melalui ionisasi. Adanya asap akan dideteksi melalui mata detektor menggunakan inframerah untuk mendeteksi partikel unsur/butir di dalam atmosfir, sedangkan ionisasi detektor menggunakan komponen elektrik untuk menentukan kehadiran asap. Apabila semuanya telah terdeteksi dengan adanya asap yang keluar dari detektor maka kita harus segera bertindak untuk mematikan api sesegera mungkin dari sumbernya, dengan cara itu maka kebakaran yang lebih besar akan bisa dihindari. 3. Stand Alone Alarm Kekuatan suara hingga 105 db dan dilengkapi strobe biru ekstra terang (cahaya/ ringan). Biaya lebih rendah. Stand Alone Alarm ini ideal digunakan untuk tempat kerja dan gudang terisolasi. Gambar 2.19. Stand Alone Alarm Penggunaan alarm kebakaran biasanya disesuaikan dengan jenis ruangan dan fungsi ruangan yang akan diamankan dari bahaya kebakaran.


Hal. 69 4. Jenis-jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR) Gambar 2.20. Alat Pemadam Api Ringan APAR atau alat pemadam api ringan adalah alat yang ringan (dengan berat maksimal 16 kg) serta mudah ditangani oleh satu orang untuk memadamkan api pada awal terjadinya kebakaran (Gambar 29). Tabung APAR harus diisi ulang sesuai dengan jenis dan konstruksinya. Jenis APAR meliputi: jenis air (water), busa (foam), serbuk kering (dry chemical) gas halon dan gas CO2, yang berfungsi untuk menyelimuti benda terbakar dari oksigen di sekitar bahan terbakar sehingga suplai oksigen terhenti. Zat keluar dari tabung karena dorongan gas bertekanan. APAR memiliki dua tipe konstruksi (Depnaker, 1995), antara lain: 1) Tipe Tabung Gas (Gas Container Type) Adalah suatu pemadam yang bahan pemadamnya di dorong keluar oleh gas bertekanan yang dilepas dari tabung gas. 2) Tipe Tabung bertekanan tetap (Stored Preasure Type) Adalah suatu pemadam yang bahan pemadamnya didorong keluar gas kering tanpa bahan kimia aktif atau udara kering yang disimpan bersama dengan tepung pemadamnya dalam keadaan bertekanan.


Hal. 70 Gambar 2.21. Bagian-bagian APAR dan fungsinya. Beberapa jenis Alat Pemadam Api Ringan (APAR) 1) Jenis Air (water) Sejak dulu air digunakan untuk memadamkan kebakaran dengan hasil yang cukup efektif dan ekonomis karena pada umumnya harga relatif murah, mudah diperoleh, aman dipakai, mudah disimpan dan dipindahkan. APAR jenis air terdapat dalam bentuk stored pressure type (tersimpan bertekanan) dan gas cartridge type (tabung gas). Sangat baik digunakan untuk pemadaman kebakaran kelas A. 2) Jenis Busa (foam) Jenis busa adalah bahan pemadam api yang efektif untuk kebakaran awal minyak. Biasanya digunakan dari bahan tepung aluminium sulfat dan natrium bicarbonat yang keduanya dilarutkan dalam air. Hasilnya adalah busa yang volumenya mencapai 10 kali lipat. Pemadaman api oleh busa merupakan sistem isolasi, yaitu untuk mencegah oksigen agar tidak ikut dalam reaksi. 3) Jenis Tepung Kimia Kering (Dry Chemical Powder) Bahan pemadam api serbuk kimia kering (Dry Chemical Powder) efektif untuk kebakaran B dan C bisa juga untuk kelas A. Tepung


Hal. 71 serbuk kimia kering berisi dua macam bahan kimia, yaitu: a) Natrium Bikarbonat b) Gas CO2 atau Nitrogen sebagai pendorong Khusus untuk pemadaman kelas D (logam) seperti magnesium, titanium, zarcanium, dan lain-lain digunakan metal-dry-powder yaitu campuran dari Sodium, Potasium dan Barium Chloride. 4) Jenis Halon Alat Pemadam Api Ringan (APAR) jenis Halon efektif untuk menanggulangi kebakaran jenis cairan mudah terbakar dan peralatan listrik bertegangan (kebakaran kelas B dan C). Bahan pemadaman api gas Halon biasanya terdiri dari unsur-unsur kimia seperti: chlorine, flourine, bromide dan iodine. Berdasarkan Tabel 2,2, pemilihan jenis APAR harus memperhatikan kelas kebakaran dan juga tempat APAR tersebut akan digunakan. Pemilihan APAR yang tepat akan mempermudah anda untuk memadamkan api. (Rodiani,2016) Tabel 2.1. Pemilihan jenis pemadam api Tipe kebakara n Zat Kimia Kering (Dry Chemical) CO2 Halo n Air Zat kimia basah (Wet Chemical) Serba guna NaHCO3 Purple K CO2 Halo n 1211 Air bertekanan Tanki & pompa Busa bertekanan A Ya Tdk Tdk Tdk Tdk Ya Ya Ya B Ya Ya Ya Ya Ya Tdk Tdk Ya C Ya Ya Ya Ya Ya Tdk Tdk Tdk Ket. Bekerja dengan cepat, disarankan tersedia gudang bahan bakar minyak dan gas, mobil serta bahan mudah terbakar lainnya Bahan ini tidak meninggalk an bekas, sesuai untuk alat elektronik dan gudang bahan makanan Murah sesuai untuk bahan bangunan rumah, gedung, sekolah, perkantoran dsb Sesuai untuk lab dan tempat bahan kimia


Hal. 72 5. Prosedur Pengoperasian Alat Pemadam Api Walaupun berbeda bentuk dan ukuran, namun berbagai merk Alat Pemadam Api Ringan umumnya memiliki cara kerja yang hampir sama. Di dalam bahasa inggris terdapat singkatan untuk memudahkan kita mengingat cara menggunakan alat pemadam api ringan, yaitu P.A.S.S. 1) Pull atau Tarik kunci pengaman hingga terlepas. Kunci berfungsi sebagai pengaman handle atau pegangan dari penekanan yang tidak disengaja. Gambar 2.22. Cara membuka/menarik kunci APAR 2) Aim atau arahkan nozzle atau ujung hose yang kita pegang ke arah pusat api. Gambar 2.23. Cara mengarahkan nozzle 3) Squeeze atau Tekan handle atau pegangan untuk mengeluarkan/ menyemprotkan isi tabung. Pada beberapa merk handle penyemprot terletak dibagian ujung nozzle.


Hal. 73 Gambar 2.24. Cara menekan handle APAR 4) Sweep atau Sapukan nozzle yang kita pegang kearah Kiri dan Kanan api, agar media yang disemprotkan merata mengenai api yang sedang terbakar Gambar 2.25. Cara menyapukan nozzle ke sumber api Perlu diingat setiap jenis alat pemadam api ringan memiliki kemampuan jangkauan yang berbeda, disamping itu perhatikan arah angin sebelum kita mulai menyemprotkan isi tabung pemadam api ringan. Jangan sampai posisi kita berdiri berlawanan dengan arah angin, karena angin akan meniup kembali media yg kita semprotkan kearah kita berdiri. Sebaiknya kita berdiri diposisi membelakangi arah angin selain untuk menghindari tiupan hawa panas juga menghindarkan kita dari media yg kita semprotkan kembali ke arah kita. (Rodiani,2016)


Hal. 74 6. Perawatan Alat Pemadam Api Alat pemadam api ringan (fire extinguisher) atau APAR adalah alat yang sangat penting. Karena itu APAR berfungsi mematikan api pada saat pertama kali muncul. Penggunaan APAR yang efektif akan mampu mencegah terjadinya bahaya kebakaran. Ada banyak faktor mempengaruhi efektifitas pencegahan kebakaran di tempat kerja. Bukan saja pemilihan jenis alat pemadam api yang harus tepat, akan tetapi harus diperhatikan pula faktor pemasangan dan pemeliharaannya. Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per-04/MEN/1980 bahwa: 1) Ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas, mudah dicapai dan diambil, serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan. 2) Tinggi pemberian tanda pemasangan adalah 125 cm dari dasar lantai tempat di atas satu atau kelompok alat pemadam api ringan yang bersangkutan. 3) Pemasangan APAR harus sesuai dengan jenis dan penggolongan kebakaran. 4) Penempatan antara APAR yang satu dengan yang lain tidak boleh lebih dari 15 m. 5) Semua APAR harus dipasang menggantung pada dinding dengan penguatan sengkang atau ditempatkan dalam lemari/box yang tidak dikunci. 6) Semua warna tabung sebaiknya merah. 7) Lemari/box dapat dikunci dengan syarat bagian depannya harus diberi kaca pengaman dengan tebal maksimum 2 mm. 8) Ukuran panjang dan lebar bingkai kaca pengaman harus disesuaikan dengan yang ada dalam lemari atau box sehingga mudah dikeluarkan. 9) APAR tidak boleh di pasang di ruangan di mana suhu melebihi 49 0C


Hal. 75 atau suhu sampai minus 44 0C kecuali apabila APAR tersebut dibuat khusus suhu di luar batas tersebut diatas. 10) Penempatan APAR di alam terbuka harus dilindungi dengan tutup pengaman. Alat Pemadam Api Ringan ( APAR ) harus ditempatkan di tempat-tempat yang memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Setiap Jarak 15 meter. 2) Ditempat yang mudah di jangkau dan dilihat. 3) Pada jalur keluar arah refleks pelarian. 4) Memperlihatkan suhu sekitarnya. 5) Tidak terkunci. 6) Memperhatikan jenis dan sifat bahan yang dapat terbakar. 7) Intensitas kebakaran yang mungkin terjadi seperti jumlah bahan bakar, ukurannya, kecepatan menjalarnya. 8) Orang yang akan menggunakannya. 9) Kemungkinan yang mungkin timbulnya reaksi kimia. 10) Efek terhadap keselamatan dan kesehatan orang yang menggunakannya. Pemeliharaan alat pemadam api adalah sebagai berikut: 1) APAR harus diperiksa 2 kali dalam setahun, yaitu pemeriksaan jangka 6 bulan dan pemeriksaan jangka 12 bulan. 2) Cacat pada alat perlengkapan APAR yang ditemui pada waktu pemeriksaan harus segera diganti dengan yang tidak cacat. Pemeriksaan jangka 6 bulan, meliputi hal-hal: 1) Berisi atau tidaknya tabung, berkurang atau tidaknya tekanan dalam tabung, rusak atau tidaknya segi pengaman cartridge atau tabung bertekanan dan mekanik penembus tabung. 2) Bagian-bagian luar dari tabung tidak boleh cacat termasuk handle dan


Hal. 76 label harus selalu dalam keadaan baik. 3) Mulut pancar tidak boleh tersumbat dan pipa pancar yang terpasang tidak boleh retak atau menunjukkan tanda-tanda rusak. 4) Untuk APAR cairan atau asam soda, diperiksa dengan cara mencampur sedikit larutan sodium bicarbonat dan asam keras diluar tabung, apabila reaksi cukup kuat, maka alat pemadam api ringan tersebut dapat dipasang kembali. 5) Untuk alat pemadam api ringan jenis busa, diperiksa dengan cara mencampur sedikit larutan sodium bicarbonat dan aluminium sulfat diluar tabung, apabila reaksinya cukup kuat, maka alat pemadam api ringan tersebut dapat dipasang kembali. 6) Untuk alat pemadam api ringan hidrokarbon berhalogen kecuali jenis tetrachloride diperiksa dengan cara menimbang, jika beratnya sesuai aslinya dapat dipasang kembali. 7) Untuk alat pemadam api carbon tetrachloride, diperiksa dengan cara melihat isi cairan didalam tabung dan jika masih memenuhi syarat dapat dipasang kembali. 8) Untuk alat pemadam api jenis carbon dioxide harus diperiksa dengan cara menimbang serta mencocokan beratnya dengan berat yang tertera pada alat pemadam api tersebut, apabila terdapat kekurangan berat sebesar 10%, tabung pemadam api itu harus diisi kembali sesuai dengan berat yang ditentukan. 9) Cara untuk isi ulang alat pemadam kebakaran biasanya disetiap kota kabupaten ada perusahaan yang melayani pengisian. Hal-hal yang perlu diperhatikan bila terjadi kebakaran adalah : a. Jangan panik b. Segera bunyikan alarm tanda bahaya.


Hal. 77 c. Identifikasi bahan yang terbakar (kelas A, B atau C), padamkan dengan kelas pemadam yang sesuai (Contoh: kebakaran kelas B (bensin, minyak tanah) tidak boleh disiram dengan air) d. Hindari menghirup asap secara langsung, gunakan masker atau tutup hidung dengan sapu tangan. e. Tutup pintu untuk menghambat api membesar dengan cepat. f. Cari Bantuan Pemadam Kebakaran (Rodiani,2016) Topik 8 : Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) di laboratorium Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah upaya memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada orang lain atau laboran/praktikan ketika kita berada di laboratorium yang mengalami sakit atau cidera. Kecelakaan terjadi bisa diakibatkan karena penyebab tunggal atau penyebab yang majemuk karena suatu musibah dapat terjadi karena satu faktor tetapi kebanyakan kecelakaan terjadi karena banyak faktor. Faktor-faktor penyebab kecelakaan diantaranya adalah manusianya sendiri dalam hal ini pengalaman, tingkah laku dan budi pekerti (attitude), respon/instingnya, peralatan yang digunakan, metode/cara kerja, material yang digunakan dalam bekerja, dan faktor yang terakhir adalah lingkungan dimana orang tersebut bekerja. Kondisi lingkungan bekerja seringkali tidak dapat diduga dan sangat mungkin terjadi kecelakaan yang tidak kita harapkan. Sedangkan tenaga medis, sarana dan prasarana kesehatan sulit untuk dijangkau. Maka satu-satunya pilihan adalah mencoba melakukan pertolongan sementara pada korban sebelum dibawa kerumah sakit atau dokter terdekat. Maksud P3K adalah untuk memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan ditempat kejadian dengan cepat dan tepat sebelum tenaga medis datang atau sebelum korban dibawa kerumah sakit agar kejadian yang lebih buruk dapat dihindari. Tujuan P3K adalah:


Hal. 78 1) Menyelamatkan jiwa korban 2) Meringankan penderitaan korban 3) Mencegah terjadinya penurunan kondisi korban dan bahaya lanjut atau cacat yang mungkin timbul akibat kecelakaan 4) Mempertahankan daya tahan korban sampai pertolongan lebih baik diberikan 5) Membawa korban pada tim medis terdekat Kecelakaan kerja bisa saja terjadi meskipun telah bekerja dengan hatihati. Untuk menanggulangi keadaan darurat maka sebelum bekerja di laboratorium, kita harus mengetahui bagaimana cara penanggulangan atau tindakan pertama yang perlu kita lakukan saat terjadi kecelakaan. Berikut ini adalah tindakan dasar yang harus diketahui : a. Terkena bahan kimia Jangan panik. Mintalah bantuan teman yang berada didekat anda. Lihat data MSDS. Bersihkan bagian yang mengalami kontak langsung tersebut (cuci bagian yang mengalami kontak langsung tersebut dengan air Bila kulit terkena bahan kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar. Bawa ketempat yang cukup oksigen. Hubungi paramedik secepatnya (dokter, rumah sakit). b. Kebakaran Jangan panik. Ambil tabung gas CO2 apabila api masih mungkin dipadamkan. Beritahu teman anda. Hindari menggunakan lift. Hindari menghirup asap secara langsung. Tutup pintu untuk menghambat api membesar dengan cepat (jangan dikunci).


Hal. 79 Hubungi pemadam kebakaran. (Rodiani,2016) 1. Petunjuk Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Luka bakar a. Untuk luka bakar asam pekat, cukup diguyur dengan air mengalir atau dengan larutan soda kue 5 %. b. Untuk basa pekat, diguyur dengan air dan beri juga larutan cuka dapur untuk menetralkan basa penyebabnya. Luka di mata a. Lakukan investigasi awal kepada korban mengenai zat kimia yang terkena sambil usahakan menenangkannya. b. Bagian mata yang terkena segera disiram dengan air bersih sebanyak mungkin. c. Jika korban terkena percikan zat kimia namun tidak menemukan teman yang bisa menolong. Maka segera mata ditutup kemudian cari tempat air untuk segera membasuh matanya. Lakukan dengan hati-hati. Menghirup gas beracun a. Lakukan evakuasi terhadap korban ke lingkungan luar yang sejuk dengan hati-hati. b. Korban ditelentangkan dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. c. Periksa pernafasan korban, dan denyut nadinya. d. Jika telah siuman segera beri minum susu untuk menetralkan racunnya. e. Jika shock berlanjut segera hubungi rumah sakit terdekat. Luka tersayat a. Lakukan pencucian luka dengan air bersih dan antiseptik untuk membuang kalau ada zat kimia yang ikut masuk ke dalam luka. b. Jika keluar darah, ambil perban dan pada bagian luka ditekan untuk mengurangi pendarahan. c. Angkat bagian luka ke posisi yang lebih tinggi.


Hal. 80 d. Perban dengan diberi obat antiseptik. Jas laboratorium terbakar a. Segera jas laboratorium yang terbakar dilepas. b. Korban segera mengguling-guling di lantai untuk mematikan api yang mungkin masih ada. c. Salah seorang penolong mengambil handuk basah dan segera dibungkuskan kepada korban. d. Jika luka bakar kecil segera diberi obat luka bakar. e. Pastikan penyebab kebakarannya telah padam dan ruangan telah aman kembali. Luka tulang retak akibat terpeleset a. Lakukan pertolongan awal dengan memindahkan korban ke tempat yang tenang. b. Jangan menarik atau mencoba untuk memijat tangan yang terluka. c. Segera tangan yang terluka dibalut dengan perban yang telah dijepitkan dengan kayu untuk menahan agar tangan tidak berpindah tempat. d. Segera korban dibawa ke poliklinik terdekat untuk pertolongan lebih lanjut. 3. Peralatan P3K yang harus tersedia Plester Pembalut berperekat Pembalut steril (besar, sedang dan kecil) Perban gulung 13 Perban segitiga Kain kasa Pinset Gunting Peniti, dll.


Hal. 81 Latihan / Kasus / Tugas / Tes Formatif Jawablah soal-soal di bawah ini (Percaya diri dan jujur adalah kunci kesuksesaan, Jadi berlatihlah dari sekarang. Kerjakan soal secara mandiri tanpa melihat pekerjaan teman Anda) 1. Apa yang dimaksud dengan keselamatan dan kesehatan kerja? 2. Sebutkan sumber-sumber penyebab kecelakaan kerja! 3. Sebutkan tujuan melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan! 4. Sebutkan tujuan penerapan K3 di laboratorium! 5. Sebutkan cara mencegah kecelakaan kerja! 6. Sebutkan jenis dan fungsi dari alat pelindung diri (APD) di laboratorium! 7. Sebutkan ketentuan yang harus dipenuhi dalam memilih alat pelindung diri (APD)! 8. Jelaskan tujuan dan syarat penggunaan alat pelindung diri (APD) ! 9. Jelaskan klasifikasi kebakaran berdasarkan sumbernya! 10. Sebut dan jelaskan jenis-jenis APAR! 11. Jelaskan secara urut bagaimana prosedur pengoperasian alat pemadam api ringan! 12. Sebutkan jenis-jenis alarm kebakaran yang sudah biasa digunakan! 13. Apakah perbedaan antara smoke detector dan stand alone alarm? 14. Jelaskan apa yang Anda lakukan jika terjadi kebakaran ! 15. Jelaskan 2 tipe konstruksi tabung APAR ! Evaluasi Diri Tulislah di buku Anda tentang hal-hal yang sulit kalian fahami dan jelaskan alasannya


Hal. 82 Daftar Pustaka Kegiatan Pembelajaran 2 Pedoman Keselamatan Keja Laboratorium Kimia STTN-BATAN, Yogkakarta. Rodiani, M.Si, Teny. 2016. Modul Guru Pembelajar : “Mata Pelajaran Teknik Dasar Pekerjaan Laboratorium Kimia (K3 Laboratorium) Sekolah Menengah Kejuruan (Smk). Kimia Analisis Kelompok Kompetensi C”. Cianjur : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Pertanian Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Sunarto. 2017. Modul : “ Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Laboratorium Kimia”. Yogyakarta : Pendidikan Kimia FMIPA UNY. Suprayitno, Ph. D., Totok. 2011. Panduan Teknis Peralatan Laboratorium Kimia SMA.Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Pendidikan dan Kebudayaan.


Hal. 83 Kegiatan Pembelajaran 3. Pengelolaan Bahan Kimia dan Limbah B3 sesuai MSDS A. Kompetensi Dasar 3.4 Menerapkan prinsip penanganan bahan berdasarkan tanda bahaya bahan kimia sesuai MSDS 3.5 Menganalisis MSDS bahan kimia 3.6 Menerapkan prinsip penggunaan material dan bahan kimia sesuai SOP B. Tujuan Setelah menyelesaikan pembelajaran ini, peserta didik mampu memahami dan mengelola bahan kimia dan limbah B3 di laboratorium kimia sesuai MSDS. C. Indikator Pencapaian Kompetensi 3.4.1 Menentukan arti macam-macam lambang bahaya bahan kimia 3.4.2 Mengklasifikasikan jenis-jenis bahan kimia yang berbahaya 3.4.3 Menentukan pengertian dan kegunaan dari MSDS 3.4.4 Menentukan teknik penanganan bahan berdasarkan tanda bahaya bahan kimia sesuai MSDS 3.5.1 Memerinci informasi yang ada di dalam MSDS mengenai bahan kimia 3.5.2 Mengaitkan informasi bahan kimia dengan teknik penanganan bahan tersebut 3.5.3 Menyimpulkan teknik penanganan bahan kimia berdasarkan informasi yang diperoleh dari MSDS 3.6.1 Menerapkan prinsip penggunaan material sesuai SOP 3.6.2 Menerapkan prinsip penggunaan bahan kimia sesuai SOP


Hal. 84 3.6.3 Menggali informasi mengenai SOP penggunaan material dan bahan kimia C. Uraian Materi Sumber bahaya terbesar di laboratorium berasal dari bahan kimia terutama bahan kimia yang mudah bereaksi, atau yang dapat menyebabkan bahaya lain seperti kebakaran, iritasi, keracunan, atau penyebab bahaya penyakit lainnya. Oleh sebab itu diperlukan pemahaman mengenai jenis – jenis bahan kimia agar siapapun yang bekerja dengan bahan-bahan tersebut dapat lebih berhati-hati dalam penggunaannya dan yang lebih penting lagi tahu cara menanggulanginya jika sampai terjadi kecelakaan akibat kesalahan penggunaan bahan kimia tersebut. Selain itu yang harus diperhatikan juga adalah limbah bahan kimia sisa percobaan harus dibuang dengan cara yang tepat agar tidak menyebabkan pencemaran pada lingkungan. Oleh karena itu pada kegiatan pembelajaran 3 ini akan dipaparkan beberapa topik yaitu : Topik 1 : Informasi label bahan kimia Topik 2 : Karakteristik bahan kimia Topik 3 : Persyaratan menyimpan bahan kimia sesuai MSDS Topik 4 : Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Topik 5 : Persyaratan Penanganan Limbah B3 Topik 6 : Penanganan Limbah B3 Topik 7 : Material Safety Data Sheet (MSDS) Topik 1. Informasi Label Bahan Kimia Identifikasi bahan kimia merupakan suatu cara untuk mempelajari karakteristik bahan tersebut dengan cara mengamati label bahan kimia, bentuk, warna, bau, dan sifatnya. Cara mudah mengidentifikasi bahan kimia dapat dilakukan dengan cara mempelajari informasi yang tertera pada label kemasan (Gambar 3.1). Beberapa bahan kimia pada labelnya tidak tercantum informasi lengkap, misalnya hanya tercantum nama dan kode produksinya


Hal. 85 saja. Informasi yang umumnya dapat diperoleh dari label bahan kimia adalah : 1) Nama Bahan Kimia Nama bahan kimia disertai rumus kimia tertera pada label bagian tengah. 2) Kemurnian Bahan Kimia Tulisan “pro analysis” (p.a.) diatas tulisan nama menunjukan kualitas bahan kimia yang bersangkutan mempunyai kemurnian tinggi (≥99%). Jika kemurniannya rendah dikenal dengan istilah “teknis”. Informasi yang tertera pada label bahan kimia dengan kualitas teknis tidak selengkap kualitas pro analysis. Identitas kemurnian lainnya dinyatakan dengan tulisan Analar (AR) atau Guaranted Reagent for Analysis Work (GR) atau American Chemical Society (ACS). Gambar 3.1. Label Bahan Kimia 3) Simbol Bahan Kimia Simbol yang ditampilkan pada label menunjukan sifat bahaya dari bahan kimia yang bersangkutan (Gambar 35). Penjelasan tentang simbol tertulis dalam berbagai bahasa yaitu Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Denmark, Spanyol dan Portugis. Hal tersebut


Hal. 86 dimaksudkan agar siapa saja yang menggunakan bahan kimia tersebut dapat memahami peringatan yang tertulis pada label, sehingga resiko bahaya dapat dicegah sekecil mungkin. Gambar 3.2. Simbol bahaya bahan kimia 4) Tindakan keamanan/keselamatan Informasi ini biasa diperoleh pada label bahan kimia yang juga ditulis dalam berbagai bahasa. 5) Kode R dan S Kode R (Hazard Warning for Dangerous Chemical) merupakan peringatan bahaya untuk bahan kimia berbahaya. Sedangkan S (Safety Precaution for Dangerous Chemical) menunjukkan tindakan pencegahan atau sarana penyimpanan untuk bahan-bahan kimia berbahaya. Kode R biasanya diikuti dengan angka dibelakangnya. R1 misalnya, berarti bahan kimia yang bersangkutan dapat meledak di tempat kering/panas. Seringkali dijumpai kode R tercantum dalam bentuk kombinasi, misalnya R1/2 artinya sifat bahan kimia yang bersangkutan adalah R1 dan R2 yaitu dapat meledak di tempat kering/panas serta bila terkena benturan, gesekan dan api. Kode R untuk bahan-bahan kimia berbahaya ditunjukkan pada Tabel 3.1. Begitu pula dengan kode S, S2 misalnya, maka bahan kimia tersebut harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak. Kode S juga sering ditemukan tampil kombinasi, contohnya S3/7/9 artinya tindakan untuk keselamatan bahan kimia tersebut meliputi S3, S7 dan S9 yaitu kemasan dijaga dalam kondisi tertutup rapat dan disimpan di tempat dingin dengan ventilasi ruangan yang baik. Kode S untuk bahan-bahan kimia berbahaya ditunjukkan pada Tabel 3.2.


Hal. 87 Tabel 3.1. Kode R (Hazard Warning) untuk Bahan-bahan Kimia Berbahaya Kode R Keterangan Kode R Keterangan R1 Dapat meledak di tempat kering / panas R22 Berbahaya terhadap kesehatan bila tertelan R2 Meledak bila kena benturan, gesekan, api R23 Meracuni bila dihirup R3 Mudah meledak bila kena benturan, gesekan, api R24 Meracuni / beracun bila kena kulit (meracuni kulit) R4 Sangat sensitif dan mudah meledak R25 Meracuni bila ditelan R5 Meledak bila kena panas R26 Sangat meracuni bila dihirup R6 Meledak jika kelebihan udara dan kekurangan udara R27 Sangat meracuni kulit R7 Dapat menyebabkan kebakaran R28 Sangat meracuni bila ditelan R8 Menimbulkan api jika kontak dengan bahan yang mudah terbakar R29 Dapat mengembang / membentuk gas racun bila kontak dengan air R9 Resiko ledakan bila dicampur dengan bahan yang mudah terbakar R30 Kemungkinan bisa mengakibatkan kebakaran bila digunakan R10 Mudah terbakar R31 Membentuk gas racun bila dicampur dengan asam R11 Agak mudah terbakar R32 Membentuk gas sangat beracun bila kontak dengan asam R12 Sangat mudah terbakar R33 Resiko bila ditimbun R13 Mencair, sangat mudah terbakar R34 Menyebabkan korosi dan luka bakar R14 Memberi reaksi keras terhadap air R35 Menyebabkan korosi keras R15 Jika bereaksi dengan air membentuk gas yang mudah terbakar R36 Iritasi terhadap mata R16 Meledak bila dicampur dengan bahan yang mudah terbakar R37 Iritasi terhadap organ pernapasan R17 Terbakar langsung di udara R38 Iritasi terhadap kulit R18 Dapat meledak dan terbakar (tergantung pemakaian) R39 Resiko serius / cacat tetap R19 Dapat membentuk peroksida yang mudah meledak R40 Resiko serius cepat sekali R20 Merusak paru-paru bila terhirup/ tertelan (berbahaya terhadap kesehatan bila terhirup) R41 Sensitif bila dihirup R21 Melukai kulit / berbahaya terhadap kulit R42 Sensitif / peka terhadap kulit


Hal. 88 Tabel 3.2. Kode S (Safety Precautions) untuk Bahan-bahan Kimia Berbahaya Kode S Keterangan Kode S Keterangan S1 Simpan di tempat terkunci S14 Jauhkan dari bahan kimia yang bertentangan S2 Jauhkan dari jangkauan anakanak S15 Lindungi dari panas S3 Simpan di tempat yang sejuk S16 Jauhkan dari sumber api, jangan merokok S4 Jauhkan dari ruang / kamar tempat tinggal S17 Jauhkan dari bahan-bahan yang mudah terbakar S5 Jauhkan dari cairan S18 Buka kemasan dengan hati-hati S6 Jauhkan dari gas S20 Jangan makan dan minum di saat kerja S7 Simpan di tempat tertutup rapat S42 Pakai sarung tangan dan respirator ketika melakukan sesuatu yang menghasilkan gas / uap berbahaya S8 Simpan di wadah / tempat yang kering S43 Gunakan pemadam kebakaran S9 Simpan di tempat yang berventilasi cukup balk S44 Mintalah nasehat dokter apabila anda merasa ragu S10 Hindarkan dari uap air S45 Panggil dokter bila terjadi kecelakaan atau bila anda merasa tidak sehat S11 Cegah udara masuk S12 Jangan tutup rapat S13 Jauhkan dari makanan dan minuman 6) Label NFPA 704 Gambar 3.3. Contoh Label NFPA 704 dari Natrium borohidrida. NFPA 704 adalah standar yang diterapkan oleh National Fire Protection Association dari Amerika Serikat. Mereka menetapkan label yang digunakan oleh personel darurat dengan cepat dan mudah mengidentifikasi risiko yang ditimbulkan dari material berbahaya. Label


Hal. 89 ini berguna untuk menentukan peralatan khusus yang harus digunakan, prosedur yang harus dilakukan, atau pencegahan apabila terjadi situasi darurat. Label NFPA 704 memiliki empat bagian yang masing-masing dilambangkan dengan warna, yaitu warna biru sebagai bahaya kesehatan, merah sebagai kemudahan terbakar, kuning adalah tingkat reaktivitas, dan putih untuk peringatan khusus. Tingkat bahaya kesehatan, terbakar dan reaktivitas dihitung dari skala 0 (tidak berbahaya) sampai 4 (sangat berbahaya). Tabel 3.3 Arti angka pada NFPA 704 (Biru dan Kuning)


Click to View FlipBook Version