Hal. 90 Tabel 3.4 Arti angka pada NFPA 704 (Merah dan Putih)
Hal. 91 Gambar 3.4 Arti simbol NFPA 704. Tujuan NFPA Diamond dipasang adalah memberi informasi atau tanda untuk perlindungan terhadap tim tanggap darurat, termasuk juga untuk membantu dalam pemilihan taktik dalam penanganan operasi pengendalian darurat. Selain itu label ini dapat membantu para engineer, pemilik area maupun tim HSE dalam mengevaluasi bahaya dari material yang berada di areanya (Wikipedia, 2017).
Hal. 92 Topik 2 : Karakteristik Bahan Kimia 1. Explosive (Mudah Meledak) Gambar 3.5. Simbol explosive Bahan kimia yang diberi simbol seperti gambar diatas adalah bahan yang mudah meledak (explosive). Ledakan pada bahan tersebut bisa terjadi karena beberapa penyebab, misalnya karena benturan, pemanasan, pukulan, gesekan, reaksi dengan bahan kimia lain, atau karena adanya sumber percikan api. Ledakan pada bahan kimia dengan simbol ini kadang kali bahkan dapat terjadi meski dalam kondisi tanpa oksigen. Beberapa contoh bahan kimia dengan sifat explosive misalnya TNT, ammonium nitrat, dan nitroselulosa. 2. Oxidizing (Mudah Teroksidasi) Gambar 3.6. Simbol oxidizing Bahan kimia yang diberi simbol seperti gambar di atas adalah bahan kimia yang bersifat mudah menguap dan mudah terbakar melalui oksidasi (oxidizing). Penyebab terjadinya kebakaran umumnya terjadi akibat reaksi bahan tersebut dengan udara yang panas, percikan api, atau karena raksi dengan bahan-bahan yang bersifat reduktor. Adapun beberapa contoh bahan kimia dengan sifat ini misalnya hidrogen peroksida dan kalium perklorat. Bila suatu saat Anda bekerja dengan kedua bahan tersebut, hindarilah panas, reduktor, serta bahan-bahan mudah terbakar lainnya.
Hal. 93 3. Flammable (Mudah Terbakar) Gambar 3.7. Simbol flammable Simbol bahan kimia di atas menunjukan bahwa bahan tersebut bersifat mudah terbakar (flammable). Bahan mudah terbakar dibagi menjadi 2 jenis yaitu Extremely Flammable (amat sangat mudah terbakar) dan Highly Flammable (sangat mudah terbakar). Bahan dengan label Extremely Flammable memiliki titik nyala pada suhu 0 derajat Celcius dan titik didih pada suhu 35 derajat Celcius. Bahan ini umumnya berupa gas pada suhu normal dan disimpan dalam tabung kedap udara bertekanan tinggi. Bahan dengan label Highly Flammable memiliki titik nyala pada suhu 21 derajat Celcius dan titik didih pada suhu yang tak terbatas. Pengaruh kelembaban pada terbakar atau tidaknya bahan ini sangat besar. Oleh karena itu, mereka biasanya disimpan pada kondisi kelembaban tinggi. Adapun beberapa contoh bahan bersifat flammable dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Zat terbakar langsung. Contohnya : aluminium alkil fosfor. Keamanan : hindari kontak bahan dengan udara. b. Gas amat mudah terbakar. Contohnya : butane dan propane. Keamanan : hindari kontak bahan dengan udara dan sumber api. c. Cairan mudah terbakar. Contohnya: aseton dan benzene. Keamanan : jauhkan dari sumber api atau loncatan bunga api. d. Zat sensitive terhadap air, yakni zat yang membentuk gas mudah terbakar bila kena air atau api.
Hal. 94 4. Toxic (Beracun) Gambar 3.8. Simbol Toxic Simbol bahan kimia diatas menunjukan bahwa bahan tersebut adalah bahan beracun. Keracunan yang bisa diakibatkan bahan kimia tersebut bisa bersifat akut dan kronis, bahkan bisa hingga menyebabkan kematian pada konsentrasi tinggi. Keracunan karena bahan dengan simbol di atas bukan hanya terjadi jika bahan masuk melalui mulut. Ia juga bisa meracuni lewat proses pernafasan (inhalasi) atau melalui kontak dengan kulit. Beberapa contoh bahan kimia bersifat racun misalnya arsen triklorida dan merkuri klorida. 5. Harmful Irritant (Bahaya Iritasi) Gambar 3.9. Simbol Harmfull dan Irritant. Simbol bahan kimia diatas sebetulnya terbagi menjadi 2 kode, yaitu kode Xn dan kode Xi. Kode Xn menunjukan adanya risiko kesehatan jika bahan masuk melalui pernafasan (inhalasi), melalui mulut (ingestion), dan melalui kontak kulit, contoh bahan dengan kode Xn misalnya peridin. Sedangkan kode Xi menunjukan adanya risiko inflamasi jika bahan kontak langsung dengan
Hal. 95 kulit dan selaput lendir, contoh bahan dengan kode Xi misalnya ammonia dan benzyl klorida. 6. Corrosive (Korosif) Gambar 3.10. Simbol corrosive. Simbol bahan kimia di atas menunjukan bahwa suatu bahan tersebut bersifat korosif dan dapat merusak jaringan hidup. Karakteristik bahan dengan sifat ini umumnya bisa dilihat dari tingkat keasamaannya. pH dari bahan bersifat korosif lazimnya berada pada kisaran < 2 atau >11,5. Beberapa contoh bahan dengan simbol ini misalnya belerang oksida dan klor. Jangan menghirup uap dari bahan ini, jangan pula membuatnya kontak langsung dengan mata dan kulit Anda. 7. Dangerous for Enviromental (Bahan Berbahaya bagi Lingkungan) Gambar 3.11. Simbol Dangerous for Enviromental Simbol bahan kimia pada gambar di atas menunjukan bahwa bahan tersebut berbahaya bagi lingkungan (dangerous for environment). Melepasnya langsung ke lingkungan, baik itu ke tanah, udara, perairan, atau ke mikroorganisme dapat menyebabkan kerusakan ekosistem. Beberapa contoh bahan dengan simbol ini misalnya tetraklorometan, tributil timah klorida, dan petroleum bensin.
Hal. 96 Topik 3 : Persyaratan Menyimpan Bahan Kimia Sesuai MSDS Bahan kimia harus ditempatkan pada fasilitas penyimpanan secara tertutup seperti dalam cabinet, loker, dan sebagainya. Tempat penyimpanan harus bersih, kering dan jauh dari sumber panas atau kena sengatan sinar matahari. Di samping itu tempat penyimpanan harus dilengkapi dengan ventilasi yang menuju ruang asap atau ke luar ruangan. Berikut ini merupakan panduan umum untuk mengurutkan tingkat bahaya bahan kimia dalam kaitan dengan penyimpanannya: Bahan Radioaktif > Bahan Piroforik > Bahan Eksplosif > Cairan Flammable> Asam/basa Korosif > Bahan Reaktif terhadap Air > Padatan Flammable > Bahan Oksidator > Bahan Combustible > Bahan Toksik > Bahan yang tidak memerlukan pemisahan secara khusus Bahan kimia cair yang berbahaya harus disimpan dalam wadah sekunder seperti baki plastik untuk mencegah timbulnya kecelakaan akibat bocor atau pecah. Wadah sekunder yang diperlukan harus didasarkan atas ukuran wadah yang langsung diisi bahan kimia, tidak atas dasar volume bahan cair yang ada dalam wadahnya. Ukuran wadah bahan primer yang perlu disediakan wadah sekundernya yaitu: Cairan radioaktif ketika wadah berukuran 250 mL Semua cairan berbahaya lain untuk wadah 2,5 L Wadah bahan kimia dan lokasi penyimpanan harus diberi label yang jelas. Label wadah harus mencantumkan nama bahan, tingkat bahaya, tanggal diterima dan dipakai. Alangkah baiknya jika tempat penyimpanan masingmasing kelompok bahan tersebut diberi label dengan warna berbeda. Misalnya warna merah untuk bahan flammable, kuning untuk bahan oksidator, biru untuk bahan toksik, putih untuk bahan korosif, dan hijau untuk bahan yang bahayanya rendah.
Hal. 97 Gambar 3.12. Label wadah sesuai tingkat bahayanya. Topik 4. Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kimia industri atau industri yang berbasis kimia merupakan salah satu industri yang menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan, baik limbah padat, cair maupun gas. Bagi industriindustri besar, seperti industri obat-obatan, teknologi pengolahan limbah yang digunakan mungkin sudah memadai, namun tidak demikian bagi industri kecil atau sedang. Namun demikian, mengingat tingginya potensi pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah yang tidak dikelola dengan baik maka diperlukan pemahaman dan informasi mengenai pengelolaan limbah secara benar. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah kebanyakan limbah yang dihasilkan dalam industri kimia merupakan limbah dalam kategori bahan berbahaya dan beracun (B3), walaupun ada sebagian limbah yang termasuk limbah non B3. Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakan lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
Hal. 98 manusia serta mahluk hidup lain. Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemari lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia. Menurut RCRA (Resource Conservation and Recovery Act), Limbah B3 adalah limbah (Solid) atau gabungan berbagai limbah dengan jumlah dan konsentrasinya, atau karena karakteristik fisik, kimia dan daya infeksiusnya bersifat : Dapat mengakibatkan timbulnya atau menyebabkan semakin parahnya penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau penyakit yang melumpuhkan, Menyebabkan timbulnya gangguan atau berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kesehatan manusia atau lingkungan, apabila tidak diolah, disimpan, diangkut, dibuang atau dikelola dengan baik. Tujuan penanganan limbah B3 adalah untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan,serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali. Dari hal ini jelas bahwa setiap kegiatan/usaha yang berhubungan dengan B3, baik penghasil, pengumpul, pengangkut, pemanfaat, pengolah dan penimbun B3, harus memperhatikan aspek lingkungan dan menjaga kualitas lingkungan tetap pada kondisi semula. Oleh karena itu, apabila terjadi pencemaran akibat tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3, harus dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan kembali kepada fungsi semula (Rodiani, 2016).
Hal. 99 1. Identifikasi dan Karakterisasi Limbah B3 Identifikasi dan karakteristik limbah B3 merupakan hal yang penting dan mendasar dalam pengelolaan limbah B3. Didalam pengelolaan limbah B3, prinsip pengelolaan tidak sama dengan pengendalian pencemaran air dan udara yang upaya pencegahannya pada sumber pencemarannya saja, karena pengelolaan limbah B3 harus dimulai sejak dari dihasilkannya limbah B3 sampai dengan ditimbun/ dikubur (dihasilkan, dikemas, digudangkan, ditransportasikan, didaur ulang, diolah, dan ditimbun). Pada setiap fase pengelolaan limbah B3 ditetapkan upaya pencegahan pencemaran terhadap lingkungan dan yang menjadi perhatian penting adalah karakteristiknya, hal ini karena setiap usaha pengelolaannya harus dilakukan sesuai dengan karakteristiknya. menurut PP 18 Tahun 1999 tentang pengelolaan limbah B3, semua limbah dapat dikatakan sebagai limbah B3, kecuali bila limbah tersebut dapat mentaati peraturan tentang pengendalian air dan atau pencemaran udara. Misalnya limbah cair yang mengandung logam berat tetapi dapat diolah dengan water treatment dan dapat memenuhi standar effluent limbah yang dimaksud, maka limbah tersebut tidak dikatakan sebagai limbah B3 tetapi dikategorikan limbah cair yang pengawasannya diatur oleh Pemerintah. Limbah B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu berdasarkan sumbernya dan karakteristiknya. a. Berdasarkan sumbernya 1). Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap 2). Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi 3) Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengan lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut. Digested
Hal. 100 sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik. b. Berdasarkan Karakteristiknya Karakteristik Limbah B3 menurut PP No. 18 tahun 1999 hanya mencantumkan 6 (enam) kriteria, yaitu: 1). Limbah Mudah Meledak Gambar 3.13. Simbol limbah mudah meledak. Pada suhu dan tekanan standar (25 0C, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya. Bahan ini dapat berupa zat padat, cair atau campuran keduanya, akibat suatu reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan besar, serta suhu yang tingg,i sehingga bisa menimbulkan peledakan. Contoh : Trinitrotoluen (TNT), nitrogliserin, amonium nitrat. Campuran eksplosif (mudah meledak) dapat terjadi pula akibat pencampuran beberapa bahan terutama bahan oksidator dan reduktor dalam suatu reaktor maupun dalam penyimpanan (Tabel 6). Debu-debu seperti debu karbon dalam industri batu
Hal. 101 bara, zat warna diazo dalam pabrik zat warna, dan magnesium dalam pabrik baja adalah debu-debu yang sering menimbulkan ledakan. Tabel 3.5. Contoh Campuran Eksplosif Oksidator Reduktor Asam Nitrat Etanol Kalium perklorat Karbon, belerang Kalium permanganat Gliserol Krom Trioksida Hidrazin Letusan, Ledakan, Detonasi Campuran yang dapat menyala, seperti udara dengan gas, udara dengan butir-butir cairan atau udara dengan bahan padat berupa serbuk akan terbakar oleh adanya nyala dan menghasilkan panas dan tekanan. Laju pembakaran dan akibat reaksi pembakaran tersebut dapat bermacam-macam. Letusan, ledakan, dan detonasi dapat dibedakan berdasarkan kenaikan laju pembakaran tersebut. Letusan :bidang api dan bidang tekanan berjalan dengan kecepatan hampir sama (sampai dengan kira-kira 100 m/s). Contoh: Campuran debu/udara yang menyala dalam bejana atau ruang terbuka. Ledakan :gelombang tekanan berjalan di depan bidang api (kira-kira 100 - 300 m/s). Contoh: Campuran uap pelarut dan udara dalam ketel tertutup. Detonasi :gelombang-gelombang tekanan yang berjalan di depan bidang api menghasilkan lagi bidang api selanjutnya, sehingga mengakibatkan kecepatan yang sangat tinggi (lebih dari 300 m/s melebihi kecepatan suara). Contoh: Campuran gas dengan udara yang menyala dalam saluran pipa yang panjang.
Hal. 102 2) Limbah Mudah Terbakar (Flammable) Gambar 3.14. Label limbah Bahan Mudah Terbakar Limbah yang mudah terbakar, mempunyai salah satu sifat sebagai berikut : a. Berupa cairan mengandung alkohol kurang dari 24% volume dan atau pada titik nyala tidak lebih dari 600C akan menyala apabila terjadi kontak dengan api, percikan api atau sumber nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg. b. Bukan berupa cairan yang pada temperatur dan tekanan standar dengan mudah menyebabkan kebakaran, tetapi melalui gesekan, penyerapan uap air, atau perubahan kimia secara spontan dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus. c. Limbah yang bertekanan yang mudah terbakar. d. Merupakan limbah pengoksidasi (oxidizers) : bersifat eksplosif karena sangat reaktif atau tidak stabil. Mampu menghasilkan oksigen dalam reaksi atau penguraiannya sehingga dapat menimbulkan kebakaran selain ledakan. e. Dapat terbakar pada suhu normal, contoh : Gasoline dan Methyl Ethyl Ketone.
Hal. 103 Tabel 3.6. Penggolongan Bahan kimia yang mudah terbakar sesuai dengan tingkat bahayanya Kelas Bahaya Titik Nyala oC Nama Bahan Titik Sulut oC I < 21 Bensin 250 II 21 – 55 Benzena, Amoniak 580 780 III 55 – 100 Naftalen Eter 575 186 IV > 100 Gas bumi - (Rodiani, 2016) 3) Limbah Reaktif a. Bahan reaktif terhadap air Beberapa bahan kimia dapat bereaksi hebat dengan air, apabila bercampur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Hal ini disebabkan zat-zat tersebut bereaksi secara eksotermik (mengeluarkan panas) yang besar atau gas yang mudah terbakar. Berikut adalah contoh bahan kimia yang reaktif terhadap air : a) alkali (Na, K) dan alkali tanah (Ca), b) logam halida anhidrat (aluminium tribromida), c) logam oksida anhidrat (CaO), d) oksida non-logam halida (sulfurilklorida). Zat-zat tersebut harus dijauhkan dari air atau disimpan dalam ruang yang kering dan bebas kebocoran bila hujan. Contoh bahan kimia yang sangat reaktif bila berkontak dengan air atau uap air di udara, diantaranya adalah Asam sulfat, Soda api (NaOH), Senyawa phosphor .
Hal. 104 b. Bahan reaktif terhadap asam Bahan-bahan yang reaktif terhadap air juga reaktif terhadap asam. Selain itu ada bahan-bahan lain yang dapat bereaksi dengan asam secara hebat. Reaksi yang terjadi adalah eksotermis dan menghasilkan gas-gas yang mudah terbakar atau eksplosif. Contoh : kalium klorat/perklorat (KCIO3), kalium permanganat (KMnO4), asam kromat (Cr2O3). Dengan sendirinya bahan-bahan ini dalam penyimpanan harus dipisahkan dari asam, seperti asam sulfat dan asam asetat. Limbah Sianida, Sulfida, atau Amoniak yang pada kondisi pH antara 2 dan 12.5 dapat menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. c. Bahan kimia tidak stabil Bahan kimia reaktif merupakan bahan kimia yang tidak stabil, dapat mengalami perubahan berbahaya pada kondisi suhu dan tekanan biasa. Semua bahan peledak termasuk golongan yang tidak stabil. Beberapa bahan kimia yang tidak stabil bila cara penyimpanannya tidak tepat dapat menimbulkan panas yang tinggi. Ada juga yang dapat mengembang sehingga memecahkan kontainernya. Contoh: styrene, nitro glycerine. Gambar 3.15. Label limbah Bahan Reaktif
Hal. 105 4) Limbah Beracun Limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia atau lingkungan dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit, atau mulut. Pencemar beracun ini dapat masuk kedalam air tanah, sehingga dapat mencemari sumur penduduk disekitarnya dan berbahaya bagi penduduk yang menggunakan air tersebut. Selain itu, debu dari limbah ini dapat terhirup oleh para petugas dan masyarakat disekitar lokasi limbah. Limbah beracun juga dapat terserap kedalam tubuh pekerja melalui kulit. Gambar 3.16. Label limbah Bahan Beracun Limbah dikatakan beracun apabila limbah tersebut dapat langsung meracuni manusia atau mahluk hidup lain, salah satu contohnya adalah pestisida, limbah yang mengandung logam berat atau mengandung gas beracun. Limbah beracun ini biasanya didefinisikan sebagai senyawa kimia yang beracun bagi manusia atau lingkungan hidup, baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Contoh limbah beracun, antara lain: 1) Pestisida, sebagian besar pestisida yang sudah tidak diijinkan untuk digunakan bersifat beracun seperti DDT, Aldrin dan Parathion. 2) Bahan farmasi, sebagian bahan-bahan farmasi yang sudah
Hal. 106 tidak memenuhi spesifikasi atau tidak terpakai dapat bersifat beracun seperti obat anti kanker atau narkotika. 3) Pelarut Halogen, pelarut seperti Perchloroethylene dan Methylene Chloride yang digunakan untuk pembersihan lemak dan proses lain. 4) Sludge/lumpur dari pengolahan limbah pada kegiatan electroplating dan sludge/lumpur dari pengolahan air limbah pada kegiatan yang menggunakan logam berat dan sianida. 5) Logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Cd dihasilkan dari lumpur dan limbah industri kimia tertentu sedangkan Hg dihasilkan dari industri kloralkali, industri cat, kegiatan pertambangan, industri kertas, serta pembakaran bahan bakar fosil. Pb dihasilkan dari peleburan timah hitam dan accu. Logam berat pada umumnya bersifat racun sekalipun dalam konsentrasi rendah. (Rodiani, 2016). 5) Limbah B3 Infeksius Limbah infeksius biasanya adalah limbah laboratorium medis atau lainnya. Limbah ini berbahaya karena mengandung kuman penyakit seperti Hepatitis dan Kolera yang ditularkan pada pekerja dan masyarakat di sekitar lokasi pembuangan limbah. Limbah ini didefinisikan sebagai bagian tubuh manusia dan atau cairan dari tubuh orang yang terkena infeksi atau limbah dari laboratorium yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular, meliputi: Cairan tubuh manusia seperti darah dari rumah sakit/klinik.
Hal. 107 Bangkai hewan yang ditemukan (dinyatakan resmi) terinfeksi. Darah dan jaringan sebagai contoh dari laboratorium. Gambar 3.17. Label Limbah B3 Infeksius 6) Limbah Korosif Limbah korosif yaitu limbah yang memiliki salah satu dari sifat berupa : a. Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit. b. Menyebabkan proses pengkaratan pada lempeng baja. c. Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk limbah bersifat asam atau lebih besar dari 12.5 untuk yang bersifat basa. Gambar 3.18. Label limbah bahan Korosif
Hal. 108 Topik 5 : Persyaratan Penanganan Limbah B3 Pengelolaan limbah B3 meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan, pemanfatan, pengolahan dan penimbunan. Setiap kegiatan pengelolaan limbah B3 harus mendapatkan perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan setiap aktivitas tahapan pengelolaan limbah B3 harus dilaporkan ke KLH. Untuk aktivitas pengelolaan limbah B3 di daerah, aktivitas kegiatan pengelolaan selain dilaporkan ke KLH juga ditembuskan ke Bapedal setempat. Pengolahan limbah B3 mengacu kepada Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Nomor Kep03/BAPEDAL/09/1995 tertanggal 5 September 1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Persyaratan Pengolahan limbah B3 diantaranya adalah: lokasi pengolahan B3 dapat dilakukan di dalam lokasi penghasil limbah atau di luar lokasi penghasil limbah. Syarat lokasi pengolahan di dalam area penghasil limbah harus daerah bebas banjir, jarak dengan fasilitas umum minimum 50 meter. Syarat lokasi pengolahan di luar area penghasil harus : daerah bebas banjir, jarak dengan jalan utama/tol minimum 150 m atau 50 m untuk jalan lainnya, jarak dengan daerah beraktivitas penduduk dan aktivitas umum minimum 300 m, jarak dengan wilayah perairan dan sumur penduduk minimum 300 m, jarak dengan wilayah terlindungi (seperti: cagar alam,hutan lindung) minimum 300 m (Rodiani, 2016).
Hal. 109 Topik 6. Penanganan Limbah B3 Setiap limbah B3 harus diidentifikasi dan dilakukan uji analisis kandungan guna menetapkan prosedur yang tepat dalam pengolahan limbah tersebut. Setelah uji analisis kandungan dilaksanakan, barulah dapat ditentukan metode yang tepat untuk melakukan pengolahan limbah tersebut sesuai dengan karakteristik dan kandungan limbah. Limbah B3 yang telah diolah harus memiliki tempat khusus pembuangan akhir limbah B3 dan dilakukan pemantauan di area tempat pembuangan akhir tersebut dengan jangka waktu 30 tahun setelah tempat pembuangan akhir habis masa pakainya atau ditutup. Perlu diketahui bahwa keseluruhan proses pengelolaan, termasuk penghasil limbah B3, harus melaporkan aktivitasnya ke KLH dengan periode triwulan (setiap 3 bulan sekali). 1. Metode Penanganan Limbah B3 Pekerjaan dan percobaan di laboratorium kimia seperti titrasi, sintesis, distilasi, dan ekstraksi selalu menghasilkan bahan kimia sisa pakai yang perlu dibuang. Kadang-kadang terdapat pula bahan kimia yang telah rusak atau tumpahan bahan kimia yang harus dibuang. Adapun metode Umum Penanganan Limbah B, adalah sebagai berkut: a. Proses penanganan limbah secara kimia : 1) Netralisasi 2) Reaksi reduksi-oksidasi. 3) Elektrolisa 4) Presipitasi / pengendapan 5) Penukaran ion
Hal. 110 b. Proses penanganan limbah secara fisika : 1) Pembersihan gas : elektrostatik presipitator, penyaringan partikel, wet scrubbing, dan adsorpsi dengan karbon aktif. 2) Pemisahan cairan dengan padatan : sentrifugasi, koagulasi, filtrasi, flokulasi, flotasi, sedimentasi, dan thickening. 3) Penyisihan komponen-komponen yang spesifik : Adsorpsi, Kristalisasi, Dialisa, Elektrodialisa, Leaching, Osmosis balik, Solvent extraction, dan Stripping c. Proses pengolahan secara biologi Proses pengolahan limbah B3 secara biologi yang telah berkembang yaitu bioremediasi dan fitoremediasi. 1) Bioremediasi 2) Fitoremediasi d. Cara Penanganan Limbah Laboratorium 1) Penetralan dan pengendapan Bahan kimia yang bersifat asam atau basa, sebelum dibuang sebaiknya dinetralkan terlebih dahulu. Sisa-sisa asam sulfat (H2 SO4 ), asam klorida (HCI), dan asam nitrat (HNO3 ) dapat dinetralkan dengan air kapur dan dilakukan pengecekan pH-nya dengan menggunakan kertas pH. Sisa bahan kimia yang bersifat basa seperti NaOH dan amonia dinetralkan dengan asam asetat atau asam karbonat. Setelah netral, bahan kimia dapat dibuang dalam bak pembuangan yang dihubungkan dengan septik tank. 2). Pengendapan/sedimentasi, koagulasi dan flokulasi Sisa bahan kimia yang mengandung zat-zat logam berat yang beracun seperti Pb, Hg, As dan Cd dilakukan pengendapan terlebih dahulu sebelum dibuang. Kontaminan logam berat dalam cairan diendapkan dengan tawas/FeCl3, Ca(OH)2/CaO karena dapat
Hal. 111 mengikat As, Zn, Ni. Mn dan Hg. Endapan yang terkumpul kemudian dibakar di dalam insenerator atau dibawa ke tempat pengolahan limbah berbahaya dan beracun (B3). Sedangkan cairan bagian atas dinetralkan terlebih dulu sebelum dibuang ke bak pembuangan atau wastafel yang dihubungkan dengan septik tank. 3) Reaksi Reduksi Oksidasi Zat organik toksik dalam limbah dapat dilakukan reaksi reduksi oksidasi (redoks) sehingga terbentuk zat yang kurang/tidak toksik. 4) Penukaran ion Ion logam berat nikel, Ni dapat diserap oleh kation, sedangkan anion beracun dapat diserap oleh resin anion. 5) Pembakaran dalam insenerator Untuk zat-zat yang toksik atau zat-zat yang apabila dibakar di tempat terbuka dapat menghasilkan zat-zat toksik, maka pembakaran akan lebih aman apabila dilakukan di dalam insenerator. Peralatan tersebut secara otomatis dapat membakar pada suhu ± 1000°C sehingga terjadi pembakaran sempurna dan dilengkapi dengan penyaring (filter) gas. 6) Penimbunan dan pengumpulan di tempat tertentu Limbah padat yang reaktif atau beracun dapat ditimbun di dalam tanah dengan perlindungan tertentu. Perlindungan dimaksudkan agar zat-zat beracun tidak merembes ke dalam sumur atau mata air, dan zat-zat eksplosif tidak menimbulkan bahaya ketika dilakukan pengolahan tanah di masa datang. Tempat penimbunan harus jauh dari sumber air (sumur, sungai, danau), terhindar dari sinar matahari, dan dibuat dari beton supaya tidak terjadi perembesan serta diberi tanda bahaya yang jelas (Rodiani, 2016).
Hal. 112 2. Sarana Pembuangan Limbah Bahan Kimia Sarana pembuangan limbah bahan kimia cair di laboratorium dirancang secara khusus. Sarana pembuangan tersebut terdiri dari tempat pencucian, saluran pembuangan berupa pipa anti korosi dan pelarut organik, bak beton untuk pengendapan berjumlah minimal dua dan tempat resapan. Sarana pembuangan ini berbeda dengan sarana pembuangan umum yang dirancang seperti sarana pencucian biasa yang hanya terdiri dari: tempat pencucian, saluran atau pipa pembuangan, dan bak resapan. Karena kebanyakan limbah cair mengandung sisa bahan kimia, maka sarana pembuangan yang ada di laboratorium kimia dirancang secara khusus. Saluran atau pipa harus anti korosi dan tahan terhadap pelarut organik sehingga digunakan jenis paralon tertentu. Bak pengendapan minimal dua, karena jika pengendapan pada bak pertama belum sempurna maka dilanjutkan pengendapan pada bak kedua. Bak pengendapan ini harus berdinding beton supaya tidak terjadi peresapan bahan-bahan kimia yang berbahaya ke dalam tanah. Sarana pembuangan limbah bahan kimia lainnya adalah insenerator. Alat ini digunakan untuk pembakaran sempurna karena dapat mencapai 1000°C dan dilengkapi dengan filter penyaringan (Rodiani, 2016). 3. Penerapan Sistem Pengolahan Limbah B3 Penerapan sistem pengolahan limbah harus disesuaikan dengan jenis dan karakterisasi dari limbah yang akan diolah dengan memperhatikan 5 hal sebagai berikut : 1) Biaya pengolahan murah, 2) Pengoperasian dan perawatan alat mudah 3) Harga alat murah dan tersedia suku cadang 4) Keperluan lahan relatif kecil 5) Bisa mengatasi permasalahan limbah tanpa menimbulkan efek samping terhadap lingkungan.
Hal. 113 Beberapa langkah nyata untuk mengurangi limbah di laboratorium adalah: a. Penggunaan kembali limbah laboratorium berupa bahan kimia yang telah digunakan, setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai contoh: (hal ini paling sesuai untuk pelarut yang telah digunakan) Pelarut organik seperti etanol, aseton, kloroform, dan dietil eter dikumpulkan didalam laboratorium secara terpisah dan dilakukan destilasi. b. Sebelum melakukan reaksi kimia, dilakukan perhitungan mol reaktan- yang bereaksi secara tepat sehingga tidak menimbulkan residu berupa sisa bahan kimia. Selain menghemat bahan yang ada, hal ini juga akan mengurangi limbah yang dihasilkan. c. Pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahanbahan kimia yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan terlebih dahulu kemudian baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, dilakukan pengendapan terlebih dahulu kemudian endapannya harus dipisahkan selanjutnya bagian cairan dinetralkan dan dibuang. d. Dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat diterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk. e. Pembakaran dalan insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yangbersifat toksik.
Hal. 114 f. Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun. (Rodiani, 2016). Topik 7 : Material Safety Data Sheet (MSDS) Material safety data sheet (MSDS) atau dalam SK Menteri Perindustrian No 87/M-IND/PER/9/2009 dinamakan Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB) adalah lembar petunjuk yang berisi informasi bahan kimia meliputi sifat fisika, kimia, jenis bahaya yang ditimbulkan, cara penanganan, tindakkan khusus dalam keadaan darurat, pembuangan dan informasi lain yang diperlukan. Sebuah MSDS adalah dokumen yang berisi informasi mengenai potensi bahaya (kesehatan, kebakaran, reaktifitas dan lingkungan) dan cara bekerja yang aman dengan produk kimia. Ini adalah titik awal yang penting untuk pengembangan program keselamatan dan kesehatan yang lengkap. MSDS juga berisi informasi tentang penggunaan, penyimpanan, penanganan dan prosedur darurat semua yang terkait dengan material. MSDS berisi lebih banyak informasi tentang materi daripada label. MSDS dipersiapkan oleh pemasok atau produsen bahan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi tahu apa bahaya dari produk, cara menggunakan produk dengan aman, apa yang akan terjadi jika rekomendasi tidak diikuti, apa yang harus dilakukan jika terjadi kecelakaan, bagaimana mengenali gejala overexposure, dan apa yang harus dilakukan jika insiden terjadi. MSDS dimaksudkan untuk dibaca oleh hygienists dan profesional K3. Sekarang MSDS dibaca juga oleh pengusaha, pekerja, supervisor, perawat, dokter, petugas darurat. Untuk memastikan bahwa pengguna MSDS dapat dengan cepat menemukan informasi yang mereka butuhkan, informasi dalam MSDS harus mudah dibaca dan ditulis dalam format yang jelas, tepat dan dapat dimengerti.
Hal. 115 Bagi kebanyakan orang yang bekerja dengan produk dikendalikan, ada beberapa bagian dalam MSDS yang lebih penting daripada yang lain. Anda harus selalu membaca nama kimia, tahu bahayanya, memahami penanganan dan penyimpanan yang aman petunjuk, serta memahami apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Berdasarkan peraturan pemerintah no.74 tahun 2001 tentang pengelolaan B3 pasal 11 yang berbunyi setiap orang yang memproduksi B3 wajib menyediakan MSDS. Pada pasal 12 menyatakan setiap penanggungjawab pengangkutan, penyimpanan, dan pengedaran B3 wajib menyertakan MSDS. Selalu ketahui bahaya dari suatu produk sebelum anda mulai menggunakannya. Anda harus melihat pada MSDS, cocokkan nama kimia pada wadah dengan nama bahan yang ada di MSDS, ketahui bahayanya, pahami petunjuk penanganan dan penyimpanan yang aman, serta memahami apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Isi dari sebuah MSDS menurut Kepmenaker No.187/MEN/1999 tentang pengendalian bahan kimia berbahaya di tempat kerja yaitu: 1. Identitas bahan dan nama perusahaan; 2. Komposisi bahan; 3. Identifikasi bahaya 4. Tindakan P3K 5. Tindakan penanggulangan kebakaran 6. Tindakan mengatasi tumpahan dan kebocoran 7. Penyimpanan dan penanganan bahan 8. Pengendalian pemajanan dan alat pelindung diri 9. Sifat fisika dan kimia 10. Stabiliatas dan reaktifitas bahan 11. Informasi toksikologi 12. Informasi ekologi 13. Pembuangan limbah 14. Pengangkutan bahan
Hal. 116 15. Informasi peraturan perundangan yang berlaku 16. Informasi lain yang diperlukan Semua bahan kimia berbahaya diwajibkan memiliki MSDS, hal ini diatur dalam berbagai peraturan seperti keputusan menteri Kesehatan nomor 472 tahun 1996, keputusan menteri tenaga kerja nomor 187 tahun 1999, PP 74 tahun 2001 tentang B3 dan keputusan menteri perindustrian no 87 tahun 2009 tentang global harmonize system (GHS). Sebagian besar MSDS berbahasa Inggris terutama MSDS bahan kimia yang diimport dari Negara lain, meskipun dalam peraturan pemerintah sudah ditetapkan bahwa semua MSDS harus menggunakan bahasa Indonesia, ini berarti para pemasok dan importir bertanggung jawab menterjemahkan MSDS tersebut kedalam bahasa Indonesia. Penggunaan MSDS dalam bahasa Indonesia memang lebih tepat mengingat sebagian besar pengguna bahan kimia dilapangan (para pekerja) tidak bisa berbahasa Inggris. Jika MSDS yang disediakan dilapangan berbahasa Inggris dan para pekerja tidak memahaminya maka MSDS tersebut menjadi tidak berguna. Maka sebaiknya pihak perusahaan meminta kepada pihak pemasok untuk menyediakan MSDS dalam bahasa Indonesia, jika tidak mungkin maka perusahaan sebaiknya menterjemahkan sendiri MSDS tersebut kedalam bahasa Indonesia sebelum diberikan kepada pengguna dilapangan (Imrohatuddin, 2016). Tujuan MSDS atau LDKB menurut Canadian Center for Occupational Health and Safety (CCOHS) terdiri dari 4 hal: a. Identifikasi terhadap produk dan pembuat b. Bahaya terkait dengan bahaya fisik (kebakaran dan reaktivitas) dan kesehatan c. Pencegahan terkait dengan hal-hal yang harus dilakukan untuk berkerja dengan aman, mengurangi atau mencegah pajanan atau hal yang dilakukan dalam sebuah keadaan darurat.
Hal. 117 d. Respons yang sesuai untuk dilakukan dalam berbagai situasi (misalnya kecelakaan, kebakaran dan situasi yang memerlukan pertolongan pertama). (Supriyadi, 2021). Latihan/Kasus/Tugas Jawablah soal-soal di bawah ini (Percaya diri dan jujur adalah kunci kesuksesaan, Jadi berlatihlah dari sekarang. Kerjakan soal secara mandiri tanpa melihat pekerjaan teman Anda) 1. Jelaskan jenis-jenis bahaya di area kerja yang mungkin terjadi akibat bahan kimia! 2. Informasi apa saja yang secara umum terdapat dalam label/ kemasan bahan kimia ? 3. Apa yang dimaksud dengan kode R dan kode S pada label/ kemasan bahan kimia! berikan contohnya ! 4. Jelaskan bagaimana prosedur membuang limbah cair/padat bahan kimia agar tidak membahayakan masyarakat dan lingkungan ! 5. Sebutkan macam-macam cara penanganan limbah bahan kimia di laboratorium! 6. Jelaskan pengertian dan fungsi MSDS! 7. Cari dari literatur dua contoh MSDS baha kimia dan tulis di buku Anda! Evaluasi Diri Tulislah di buku Anda tentang hal-hal yang sulit kalian fahami dan jelaskan alasannya
Hal. 118 DAFTAR PUSTAKA KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 Anonim, 2017. Artikel online berjudul : “NFPA 704”. Diakses tanggal 12 Juni 2021 pada halaman web : https://id.wikipedia.org/wiki/NFPA_704. Imrohatuddin, ST. 2016. Modul : “MSDS”. Banten : Dinas Lingkungan Hidup. Rodiani, M.Si, Teny. 2016. Modul Guru Pembelajar : “Mata Pelajaran Teknik Dasar Pekerjaan Laboratorium Kimia (K3 Laboratorium) Sekolah Menengah Kejuruan (Smk). Kimia Analisis Kelompok Kompetensi C”. Cianjur : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Pertanian Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Pedoman Keselamatan Keja Laboratorium Kimia STTN-BATAN, Yogkakarta. Suprayitno, Ph. D., Totok. 2011. Panduan Teknis Peralatan Laboratorium Kimia SMA.Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Pendidikan dan Kebudayaan. Supriyadi, M.K.K.K., Agung. 2021. Artikel online berjudul: “MSDS : Definisi, Bagian dan Contoh”. Dibaca tanggal 9 Juni 2021 pada halaman web : https://katigaku.top/2021/01/07/msds-definisi-bagian-contoh/
Hal. 119 EVALUASI Jawablah pertanyaan ini dengan benar! 1. Peralatan yang secara otomatis akan menyemprotkan air ke seluruh ruangan apabila terdeteksi adanya api dalam ruangan disebut A. Water sprinkler B. Smoke detector C. fire alarm D. Fire extinguisher 2. Jenis bahan alat pemadam api ringan (APAR) yang khusus digunakan untuk menanggulangi kebakaran kelas D (disebabkan oleh logam misalnya magnesium) adalah.... A. Busa (foam) B. Tepung kimia kering C. Karbon dioksida D. Tepung logam kering 3. Alat pelindung diri ini digunakan ketika .... A. Teknisi/pekerja ingin melindungi kepala dari kejatuhan benda B. Teknisi/pekerja ingin melindungi diri dari kebisingan C. Teknisi/pekerja ingin melindungi kepala sekaligus pendengarannya D. Teknisi/pekerja ingin melindungi diri dari panas di lingkungan kerja 4. Alat pelindung diri yang wajib digunakan ketika bekerja di laboratorium untuk mencegah mata terkena uap, cipratan, kabut atau semprotan zat kimia berbahaya yaitu ....
Hal. 120 A. B. C. D. 5. Kebakaran di laboratorium akibat hubungan arus pendek listrik dapat dipadamkan dengan cara .... A. Memutuskan sumber listrik yang mengalir B. Menyemprotkan apar berbahan CO2 ke sumber kebakaran C. Menyemprotkan air dengan segera D. Menyemprotkan apar berbahan busa ke sumber kebakaran 6. Salah satu kelebihan dari pengolahan limbah secara insinerasi adalah .... A. Limbah terurai menjadi bentuk lain yang lebih bermanfaat B. Mampu menghasilkan hasil samping yang bermanfaat bagi lingkungan C. Proses pengolahan membutuhkan energi yang kecil D. Limbah dapat berkurang dengan cepat 7. Bahan kimia yang bersifat oksidator seperti perklorat dan permanganat, disimpan pada tempat atau ruangan dengan kondisi.... A. Jauh dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik B. Jauh dari bahan yang bersifat korosif C. Dipisahkan dari bahan yang bersifat racun
Hal. 121 D. Tempat atau ruangan tersebut kedap air 8. Peralatan yang bermanfaat untuk membantu melindungi Keselamatan dan Kesehatan Kerja praktikan yang sedang bekerja di laboratorium adalah .... A. rambu K3 B. lambang K3 C. gambar K3 D. poster K3 9. Tujuan dari penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium adalah A. menghentikan timbulnya cacat akibat resiko kerja B. mencegah terjadinya kecelakaan kerja C. meniadakan terjadinya kecelakaan kerja D. menghambat terjadinya penyakit akibat pekerjaan 10.Pemadaman api dengan sistem isolasi merupakan prinsip kerja dari APAR berbahan jenis A. air B. karbon dioksida C. busa D. sodium bikarbonat 11. APAR dengan konstruksi berupa isi tabung dan gas penekan berada dalam satu tabung adalah jenis... A.bertekanan tinggi B.bertekanan rendah C.tabung gas D.bertekanan tetap 12. Jenis bahan alat pemadam api ringan (APAR) yang efektif digunakan untuk menanggulangi kebakaran kelas A (disebabkan oleh benda padat selain logam) adalah.... A. busa (foam) B. air
Hal. 122 C. tepung kimia kering D. karbondioksida 13. Ketika bekerja di laboratorium, tangan yang akan digunakan untuk memegang benda yang berminyak, bagian-bagian mesin atau bahan logam lainnya harus memakai alat pelindung diri berupa .... A. sarung tangan karet B. sarung tangan asbes C. sarung tangan kulit D. sarung tangan kain 14. Jenis bahan alat pemadam api ringan (APAR) yang digunakan untuk menanggulangi kebakaran kelas C (disebabkan oleh peralatan listrik bertegangan tinggi) adalah.... A. karbondioksida B. busa C. air D. tepung logam kering 15. Respirator pemurni udara berfilter warna kuning menunjukkan bahwa respirator tersebut mampu menyerap .... A. gas karbon monoksida B. gas asam sianida C. gas asam dan uap organik D. gas ammonia 16. Sarung tangan asbes yang memiliki fungsi untuk .... A. Melindungi tangan dari ketajaman sudut alat atau mesin B. Meindungi tangan dari bahaya terbakar karena zat asam C. melindungi tangan dari bahaya pembakaran api D. Melindungi tangan dari benda yang berminyak 17. Jika di dalam laboratorium kimia terjadi kecelakaan seperti terkena tumpahan atau cipratan asam sulfat pada kulit maka tindakan pertolongan pertama yang harus segera dilakukan adalah ....
Hal. 123 A. Mengoleskan obat luka bakar dengan segera B. Mengompres kulit dengan es batu atau handuk dingin C. Merendam kulit yang terkena cipratan dengan air dingin D. Membasuh kulit dengan air mengalir selama 10-20 menit 18. Jika di dalam laboratorium terjadi kebakaran akibat cairan seperti alkohol maka tindakan pemadaman yang harus segera dilakukan adalah .... A. Mengisolasi sumber kebakaran dengan menyemprotkan APAR berisi foam B. Menyingkirkan bahan kimia yang dapat memicu meluasnya kebakaran C. Membunyikan alarm tanda kebakaran D. Mencari sumber air terdekat 19. Apabila baju kerja praktikan tersambar api dan terbakar maka tindakan pertama yang segera dilakukan adalah ... A. Mencari apar dan menyemprotkan ke praktikan tersebut B. Berusaha memadamkan api dengan berguling-guling di lantai C. Berteriak meminta tolong D. Membawa praktikan ke sumber air terdekat 20. Kontainer tempat penyimpan limbah B3 harus memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya .... A. Semua kontainer harus tertutup rapat sehingga tidak ada udara masuk B. Seluruh limbah B3 yang dihasilkan disimpan ke dalam 1 kontainer besar C. Bahan kontainer harus berbahan baja sehingga tidak mudah tembus D. Bagian dasar kontainer harus kedap air untuk menghindari meresapnya ceceran atau bocoran 21. Proses pengolahan limbah secara kimia dimana limbah ditambahkan Al2SO4 atau Fe2Cl3 untuk membentuk gumpalan besar sehingga mudah disaring dan diendapkan disebut ... A.flokulasi
Hal. 124 B.presipitasi C. destabilisasi D.koagulasi 22. Bahan kimia yang mudah terbakar seperti benzena, aseton dan eter disimpan pada tempat dengan kondisi.... A. Jauh dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik B. Jauh dari bahan yang bersifat korosif C. Dipisahkan dari bahan yang bersifat racun D. Tempat atau ruangan tersebut kedap air 23. Bahan kimia yang bersifat reaktif seperti sianida dan hidrida disimpan pada tempat atau ruangan dengan kondisi... A. dihindarkan dari gesekan mekanis B. Tempat atau ruangan tersebut kedap air C. Jauh dari sumber api, panas dan asam D. Jauh dari bahan yang bersifat korosif 24. Noda tinta di papan tulis sangat sulit dihilangkan dengan pelarut biasa. Bahan pembersih yang sesuai adalah…. A. Air B. Aseton C. Natrium Hidroksida D. Fenol 25. Bahan kimia yang mudah terbakar seperti benzena, spirtus, aseton dan eter disimpan pada tempat dengan kondisi.... A. Jauh dari sumber api atau panas, terutama loncatan api listrik B. Jauh dari bahan yang bersifat korosi C. Dipisahkan dari bahan yang bersifat racun D. Tempat atau ruangan tersebut kedap air 26. Yang bukan merupakan syarat-syarat APD yaitu... A. Dapat memberikan perlindungan terhadap bahaya B. Memenuhi ketentuan dari standar yang ada
Hal. 125 C. Berbobot berat D. Dapat dipakai secara fleksibel 27. Yang bukan merupakan tujuan dari P3K adalah... A. Memberikan perlindungan terhadap bahaya B. Mencegah terjadinya penurunan kondisi korban dan bahaya lanjut C. Meningkatkan resiko kecelakaan kerja D. Mempertahankan daya tahan korban sampai pertolongan lebih baik diberikan 28. Salah satu fasilitas laboratorium yang berfungsi sebagai tempat mereaksikan berbagai jenis reaksi kimia, terutama dalam mereaksikan zat-zat yang berbahaya, beracun, maupun dalam mereaksikan zat-zat yang menghasilkan gas berbahaya adalah... A. safety shower B. blower C. ruang asam D. exhaust fan 29. Salah satu jenis alat pemadam kebakaran yang memiliki sistem pengkabutan air dan mampu memadamkan kebakaran pada cairan yang mudah terbakar serta memberikan efek cooling pada sasaran permukaan panas adalah... A. Miniature circuit breaker B. Circuit alarm system C. Water sprinkler D. Head detector 30. Fasilitas keselamatan kerja yang tepat ketika mata praktikan terkena percikan zat kimia yaitu... A. Safety shower B. Eye washer C. Ruang asam D. Exhaust fan
Hal. 126