The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook Andragogy Education (Oleh Asri & Hilma)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by asririskawati696, 2021-07-16 04:02:16

Ebook Andragogy Education (Oleh Asri & Hilma)

Ebook Andragogy Education (Oleh Asri & Hilma)

PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Pendidikan Masyarakat
Semester 2

Dosen Pembimbing :
Rahmi Alendra Yusiyaka, M.Pd.

UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR

Welcome to the book on Adult Education!

Hallo sahabat! Pernahkah kalian terbesit pertanyaan “bagaimana cara orang dewasa belajar?” atau “apakah
teori belajar orang dewasa dibutuhkan bagi kegiatan pendidikan?” lalu “mengapa teori belajar orang dewasa
dibutuhkan?”. Jika demikian, sahabat tidak perlu khawatir karena buku ini hadir untuk menjawab semua pertanyaan
di atas.

Buku yang berjudul “Pendidikan Orang Dewasa” ini disusun dan didesign oleh segenap mahasiswa
PENMAS UIKA semester 2. Selain guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah, buku ini tidak lain bertujuan untuk
memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai apa itu pendidikan orang dewasa (andragogy).

Andragogy diartikan sebagai sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Orang dewasa sebagai siswa
dalam kegiatan belajar tidak dapat diperlakukan seperti anak didik pada umumnya. Karena pada dasarnya, mereka
memiliki prinsip-prinsip sendiri dalam kegiatan pendidikan. Sehingga orang dewasa memerlukan pendidikan khusus,
konsep, metode, dan strategi yang didasarkan pada asumsi atau pemahaman orang dewasa sebagai siswa.

“Mengapa masyarakat harus merasa bertanggung jawab hanya untuk pendidikan anak-anak, dan bukan untuk pendidikan semua
orang dewasa dari segala usia?” - Erich Fromm

Berbanding lurus dengan pernyataan di atas, bapak teori andragogi, Malcolm S. Knowles mengatakan bahwa
teori belajar orang dewasa adalah sesuatu yang dilupakan karena teori belajar saat ini lebih menekankan pada teori
belajar behavioristik dan kognitif, sedangkan untuk teori belajar orang dewasa atau biasa disebut teori belajar
humanistik masih sangat kurang. Padahal, tidak seharusnya pendidikan selalu berorientasi pada murid sekolah yang
berusia relatif muda karena kenyataan dilapangan, tidak sedikit orang dewasa yang harus mendapat pendidikan, baik
melalui pendidikan informal maupun non formal. Dengan demikian, maka pendidikan sebagai suatu proses transmisi
pengetahuan sudah tidak lagi dirumuskan sebagai upaya untuk mentransformasian pengetahuan, tetapi dirumuskan
sebagai proses penemuan sepanjang hayat terhadap apa yang dibutuhkan untuk diketahui. (Zainudin Arif, 1984:1)

Untuk lebih jauhnya, buku ini menggunakan teori andragogy dalam memperjelas dan meningkatkan
pemahaman mengenai pembelajaran orang dewasa sebagai salah satu usaha merealisasikan pencapaian cita-cita
pendidikan seumur hidup (life long education) yang dapat diupayakan melalui dukungan konsep teoritis tentang
pendidikan orang dewasa.

Buku ini membahas secara detail konsep dari pendidikan orang dewasa yang di dalamnya dikaji beberapa
aspek yang mungkin dilakukan dalam upaya membelajarkan orang dewasa (andragogy), mulai dari pengertian
pendidikan orang dewasa sampai dengan evaluasi pendidikan orang dewasa.

Sistem pendidikan yang bijaksana setidaknya akan mengajarkan kita betapa sedikitnya yang belum diketahui
oleh manusia, seberapa banyak yang masih harus ia pelajari.

PENMAS UIKA Semester 2

BAB I

PENGERTIAN DAN KONSEP PENDIDIKAN ORANG DEWASA

A. Konsep dan Sejarah Andragogi

1) Konsep Andragogi
Sifat belajar orang dewasa bersifat subyektif dan unik, hal itulah yang membuat orang dewasa

berupaya semaksimal mungkin dalam belajar, sehingga apa yang menjadi harapan dapat tercapai.
Andragogi lahir dari dasar pemikiran bahwa orang dewasa memiliki karakteristik sendiri dalam
belajar, sehingga teori-teori mengenai pembelajaran yang selama ini berlaku untuk anak-anak dan
dewasa, tidak relevan untuk digunakan khusus pada pendidikan orang dewasa.

Andragogi merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Alexander Kapp seorang guru Jerman,
dan dipopulerkan oleh Malcolm Knowles. Menurut Knowles dalam (Sujarwo, 2015)5 “
Andragogy is therefore, the art and science of helping adults learn”. Andragogi adalah suatu ilmu
dan seni dalam membantu orang dewasa belajar. Knowles dalam bukunya“ The modern practice
of Adult Education”, mengatakan bahwa semula ia mendefinisikan andragogi sebagai seni dan
ilmu membantu orang dewasa belajar. Dilihat dari segi epistemologi, andragogi berasal dari
bahasa Yunani dengan akar kata:”Aner” yang artinya orang dewasa dan agogus artinya
memimpin. Istilah lain yang kerap kali dipakai sebagai perbandingan adalah pedagogi yang ditarik
dari kata “paid/paed” artinya anak dan agogus artinya memimpin. Maka secara harfiah pedagogi
berarti seni dan pengetahuan mengajar anak. Karena itu, pedagogi berarti seni atau pengetahuan
mengajar anak sehingga apabila memakai istilah pedagogi untuk orang dewasa jelas kurang tepat
karena mengandung makna yang bertentangan. Sementara itu, menurut (Kartono, 1992)6 bahwa
pedagogi (lebih baik disebut sebagai androgogi, yaitu menuntun/mendidik manusia; aner, andros
= manusia; agoo= menuntun, mendidik) adalah ilmu membentuk manusia, yaitu membentuk
kepribadian seutuhnya agar ia mampu mandiri di tengah lingkungan sosialnya.
Kalau ditarik dari pengertian pedagogi, maka akhirnya andragogi secara harfiah dapat diartikan
sebagai seni dan pengetahuan mengajar orang dewasa. Namun, karena orang dewasa sebagai
individu yang dapat mengarahkan diri sendiri, maka dalam andragogi yang lebih penting adalah
kegiatan belajar dari siswa bukan kegiatan mengajar guru. Oleh karena itu, dalam memberikan

definisi andragogi lebih cenderung diartikan sebagai seni dan pengetahuan membelajarkan orang
dewasa.

Pada banyak praktek, mengajar orang dewasa dilakukan sama saja dengan mengajar anak.
Prinsip- prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi
kegiatan pendidikan orang dewasa. Hampir semua yang diketahui mengenai belajar ditarik dari
penelitian belajar yang terkait dengan anak. Begitu juga mengenai mengajar, ditarik dari
pengalaman mengajar anak-anak misalnya dalam kondisi wajib hadir dan semua teori mengenai
transaksi guru dan siswa didasarkan pada suatu definisi pendidikan sebagai proses pemindahan
kebudayaan. Namun, orang dewasa sebagai pribadi yang sudah matang mempunyai kebutuhan
dalam hal menetapkan daerah belajar di sekitar problem hidupnya.
2) Sejarah Andragogi

Alexander Kapp, seorang guru di Jerman adalah orang pertama yang memperkenalkan
istilah andragogy. Kapp mulai memperkenalkan istilah andragogy pada tahun 1833. Pada abad 18
sekitar tahun 1833 tersebut Alexander Kapp menggunakan istilah pendidikan orang dewasa untuk
menjelaskan teori pendidikan yang dikembangkan dan dilahirkan ahli-ahli filsafat seperti Plato.
Kapp menekankan pentingnya andragogy dalam pendidikan orang dewasa. Istilah ini telah
digunakan selama lebih dari 85 tahun. Demikian halnya ahli pendidikan orang dewasa bangsa
Belanda Gernan Enchevort membuat studi tentang asal mula penggunaan istilah andragogy. era
Kapp, pada abad 19 tepatnya tahun 1919, Adam Smith memberi sebuah argumentasi tentang
pendidikan untuk orang dewasa “pendidikan juga hanya untuk anak-anak, tetapi pendidikan juga
untuk orang dewasa”. Tiga tahun setelah Adam Smith tepatnya tahun 1921, Eugar Rosentock
menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa menggunakan guru khusus, metode khusus dan
filsafat khusus.

Pada tahun 1926 The American For Adult Education mempublikasikan bahwa pendidikan
orang dewasa mendapat sumbangan dari: 1) Aliran ilmiah seperti Edward L Thorndike. Dan 2)
Aliran artistic seperti Edward C Lindeman. Edward Lendeman menerbitkan buku “Meaning of
adult education” yang pada intinya buku tersebut berisi tentang : (1) Pendekatan pendidikan orang
dewasa dimulai dari situasi, (2) Sumber utama pendidikan orang dewasa adalah pengalaman
belajar. Ia juga menyatakan ada 4 asumsi utama pendidikan orang dewasa, yaitu 1) orang dewasa
termotivasi belajar oleh kebutuhan pengakuan, 2) orientasi orang dewasa belajar adalah berpusat
pada kehidupan, 3) pengalaman adalah sumber belajar, 4) pendidikan orang dewasa
memperhatikan perbedaan bentuk, waktu, tempat dan lingkungan. Pada perkembangan selanjutnya
Edward C. Lindeman menerbitkan Journal of adult Education. Pada tahun 1957 publikasi
andragogi di Eropa diawali oleh seorang guru Jerman bernama Franz Poeggler yang menulis buku
berjudul: Introduction to Andragogi -Basic Issues in Adult education. Pada tahun 1968 Malcolm

Knowless mempublikasikan untuk pertama kalinya sebuah artikel yang sangat provokativ dengan
judul “Andragogi, not Pedagogi‟. Pada tahun 1981, Mezirow mempublikasikan konsepnya
tentang andragogy dalam sebuah artikel berjudul “Acritical Theory of Adult Learning and
Education.”

A. Pengertian Pendidikan Orang Dewasa
Pendidikan orang dewasa mempunyai beberapa definisi :

 Menurut UNESCO (Townsend Coles, 1997 dalam Lanundi, 1982) Mendefinisikan pendidikan
orang dewasa sebagai berikut.
“ Keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apapun isi, tingkatan, metodenya, baik
formal atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah,
akademi dan universitas serta latihan kerja yang membuat orang dianggap dewasa oleh
masyarakat mengembangkan, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan
mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap
perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan
budaya yang seimbang dan bebas.”

 Menurut Bryson, Reeves, Fansler, dan Houle (Morgan, Bartin, et al. 1976). Bryson menyatakan
bahwa pendidikan orang dewasa adalah semua aktivitas pendidikan yang dilalukan oleh orang
dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang hanya menggunakan sebagian waktu dan tenaganya
untuk mendapatkan tambahan intelektual. Sedangkan Reves, Fansler, dan Houle menyatakan
bahwa pendidikan orang dewasa adalah suatu usaha yang ditujukan untuk pengembangan diri
yang dilakukan oleh individu tanpa paksaan legal, tanpa usaha menjadikan bidang utama
kegiatannya.

C. Jenis-jenis Pendidikan Orang Dewasa
1. Pendidikan Berkelanjutan (Continuing Education), yang mempelajari pengetahuan dan
keterampilan lanjutan sesuai dengan perkembangan kebutuhan belajar pada diri orang
dewasa. Pendidikan berkelanjutan ini ditujukan pada kegiatan untuk memperbaiki dan
meningkatkan kemampuan pengetahuan, dan keterampilan serta profesi, sehingga dapat
dijadikan fasilitas dalam peningkatan diri dan produktivitas kerja. Misalnya Pelatihan-
pelatihan, Penataran, dan Lokakarya.
2. Pendidikan Perbaikan (Corrective Education), adalah kesempatan belajar yang disajikan
bagi orang dewasa yang mulai memasuki usia tua dengan tujuan agar mereka dapat mengisi
kekurangan pendidikannya yang tidak sempat diperoleh pada usia muda. Misalnya : Kursus-
kursus pengetahuan dasar termasuk pemberantasan tuna aksara, latihan berorganisasi, dan
keterampilan yang berhubungan dengan pekerjaan dan usaha.

3. Pendidikan Populer (Popular Education), adalah kesempatan belajar yang disediakan bagi
orang dewasa dan orang tua dengan tujuan agar mereka dapat mengenal perubahan dan
variasi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pergaulan dengan orang lain, rekreasi, dan
pendidikan yang berkaitan dengan kepuasan hidup.

4. Pendidikan Kader, adalah kegiatan pendidikan yang diselenggarakan pada umumnya oleh
lembaga, organisasi atau perkumpulan yang giat dibidang politik, ekonomi, kepemudaan,
kesehatan, dll. Tujuannya untuk membina dan meningkatkan kemampuan kelompok tertentu
yaitu kader, demi kepentingan, misi lembaga yang bersangkutan di masyarakat.

5. Pendidikan Kehidupan Keluarga (Family Life Education), suatu cabang pendidikan orang
dewasa yang kegiatannya berkaitan secara khusus dengan nilai-nilai, prinsip-prinsip, dan
kegiatan kehidupan keluarga. Tujuannya ialah memperluas dan memperkaya pengalaman
anggota keluarga untuk berpartisipasi dengan terampil dalam kehidupan keluarga sebagai
satu kesatuan kelompok. Misalnya : Hubungan dalam keluarga; pemeliharaan anak;
kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat;

BAB II

PRINSIP - PRINSIP PENDIDIKAN ORANG DEWASA

A. Prinsip Pendidikan Orang Dewasa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), andragogi adalah ilmu tentang cara orang

dewasa belajar. Andragogi juga memiliki pengertian lain yaitu, sebagai sebuah konsep
pembelajaran orang dewasa yang telah dirumuskan dan diorganisasikan secara sistematis sejak
tahun 1920. Pendidikan orang dewasa adalah suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk
bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup. Bagi orang dewasa belajar
berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya dan mencari
jawabannya (Pannen dalam Suprijanto, 2008).

Dengan kata lain, andragogi adalah segala hal yang berkaitan dengan pembelajaran orang
dewasa dan pendidikan orang dewasa. Orang dewasa sebagai peserta didik sangat unik dan
berbeda dengan anak usia dini dan anak remaja. Proses pembelajaran orang dewasa akan
berlangsung jika dia terlibat langsung, idenya dihargai dan materi ajar sangat dibutuhkannya atau
berkaitan dengan profesinya serta sesuatu yang baru bagi dirinya. Permasalahan perilaku yang
sering timbul dalam program pendidikan orang dewasa yaitu mendapat hal baru, timbul
ketidaksesuaian (bosan), teori yang muluk (sulit dipraktikkan), resep/petunjuk baru (mandiri),
tidak spesifik, dan sulit menerima perubahan (Yusnadi, 2004).

Prinsip pendidikan orang dewasa sebagaimana dinyatakan Knowles, juga mementingkan
keterlibatan intelektual dan emosional peserta didik dalam proses pembelajarannya. Dalam hal ini,
peserta didik tidak hanya diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat dan gagasan pemikiran
dalam memperkaya sumber dan pengalaman belajar, tetapi juga ikut terlibat secara emosional
dalam pembelajaran, seperti sikap dan perilaku untuk mendukung dan bertanggung jawab dalam
mencapai kesuksesan belajar. Agar terwujudnya pelibatan intelektual dan emosial peserta didik,
maka dalam penyelenggaraan pendidikan orang dewasa perlu diterapkan “perencanaan
partisipatori”, yakni melibatkan peserta didik dalam merumuskan rancangan pembelajaran,
sehingga program dan tujuan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Proses pendidikan orang dewasa relevan dengan penerapan konsep pendidikan dalam
„paradigma pembebasan‟ sebagaimana yang dikemukakan Paulo Freire, bahwa pendidik harus
mempraktikkan pendidikan ko-intensional, maksudnya para pendidik dan peserta didik “sama-sama
menjadi subjek” yang saling terlibat untuk menemukan dan menciptakan pengetahuan. Dengan
demikian peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya semaksimal mungkin,

tidak seperti peserta didik yang semu, namun menjadi peserta didik yang memiliki keterlibatan
penuh dalam membangun komitmen terhadap proses pendidikan.

Dalam pendidikan orang dewasa terdapat hubungan timbal balik di dalam interaksi
pembelajaran, di mana hubungan pendidik dan peserta didik adalah hubungan yang saling
membantu. Karena itu dalam prinsip pendidikan orang dewasa, hubungan peserta didik terhadap
pendidik/fasilitatornya tidak terdapat ketergantungan (dependent), terlebih lagi hubungan yang
bersifat memerintah dari pendidik/fasilitator terhadap peserta didik. Pada sisi lain, dalam
pendidikan orang dewasa, komunikasi multiarah dipergunakan oleh pendidik/fasilitator dan
peserta didik sebagai warga belajar, di mana pengalaman dari semua yang hadir dijadikan sebagai
sumber untuk belajar. Dengan kata lain, prinsip yang terdapat dalam pendidikan orang dewasa
tidak menghendaki terjadinya komunikasi satu arah antara pendidik/fasilitator dan peserta didik
yang cenderung didominasi oleh pendidik/fasilitator. Selain itu dalam pendidikan orang dewasa,
dikenal prinsip berbagi pengalaman antara pendidik/fasilitator dan peserta didik, dan pengalaman
pendidik/fasilitator bukan sebagai sumber utama untuk belajar.

Malcolm Knowles (1986), menyebutkan prinsip pembelajaran orang dewasa, yakni:
1. Orang dewasa perlu terlibat dalam merancang dan membuat tujuan pembelajaran. Mereka
mesti memahami sejauh mana pencapaian hasilnya.
2. Pengalaman adalah asas aktivitas pembelajaran. Menjadi tanggung jawab peserta didik
menerima pengalaman sebagai suatu yang bermakna.
3. Orang dewasa lebih berminat mempelajari perkara-perkara yang berkaitan secara langsung
dengan kerjadan kehidupan mereka.
4. Pembelajaran lebih tertumpu pada masalah (problem-centered) dan membutuhkan
dorongan dan motivasi.
Sedangkan Miller (1904), menyebutkan prinsip pembelajaran bagi orang dewasa, adalah:
1. Peserta didik perlu diberikan motivasi bagi mengubah tingkah laku. Peserta didik perlu

sadar tingkah laku yang tidak diingini dan mempunyai gambaran jelas berkenaan dengan
tingkah laku yang diingini.
2. Peserta didik mempunyai peluang mencoba tingkah laku yang baru.
3. Peserta didik membutuhkan bahan-bahan pembelajaran yang dapat membantu
kebutuhannya.

Proses belajar bagi orang dewasa memerlukan kehadiran orang lain yang mampu berperan
sebagai pembimbing belajar bukan cenderung digurui, orang dewasa cenderung ingin belajar
bukan berguru. Orang dewasa tumbuh sebagai pribadi dan memiliki kematangan konsep diri,
mengalami perubahan psikologis dan ketergantungan yang terjadi pada masa kanak-kanak

menjadi kemandirian untuk mengarahkan diri sendiri, sehingga proses pembelajaran orang dewasa
harus memperhatikan karakteristik orang dewasa.

Karakteristik orang dewasa menurut Knowles (1986) berbeda asumsinya dibandingkan
dengan anak-anak. Asumsi yang dimaksud adalah:

1. Konsep dirinya bergerak dari seorang pribadi yang bergantung kearah pribadi yang
mandiri.
2. Manusia mengakumulasi banyak pengalaman yang diperolehnya sehingga menjadi sumber
belajar yang berkembang.
3. Kesiapan belajar manusia secara meningkat diorientasikan pada tugas perkembangan
peranan sosial yang dibawanya.
4. Perspektif waktunya berubah dari suatu pengetahuan yang tertunda penerapannya menjadi
penerapan yang segera, orientasi belajarnya dari yang terpusat pada pelajaran beralih menjadi
terpusat pada masalah.
Terdapat beberapa pengandaian pembelajaran orang dewasa yang diberikan oleh Knowles
(1986), yakni:
1. Orang dewasa perlu tahu mengapa mereka perlu belajar. Orang dewasa ingin dan
berkecenderungan bertindak sesuai dengan keinginan sendiri apabila mereka semakin matang,
walaupun ada saatnya mereka bergantung pada orang lain.
2. Orang dewasa perlu belajar melalui pengalaman. Pengalaman orang dewasa adalah sumber
pembelajaran yang penting. Pembelajaran mereka lebih berkesan melalui teknik-teknik
berasaskan pengalaman seperti perbincangan dan penyelesaian masalah.
3. Orang dewasa belajar berdasarkan pemusatan masalah. Orang dewasa sadarakan
kebutuhan pembelajaran secara khusus melalui masalah-masalah kehidupan yang sebenarnya.
Oleh karena itu, program-program pendidikan orang dewasa sepatutnya dirancang sesuai
kebutuhan hidupnya dan disusun dengan melibatkan mereka.
4. Orang dewasa belajar dengan lebih berkesan apabila topic itu bernilai. Orang dewasa
belajar bersungguh-sungguh bagi menguasai suatu pengetahuan ataupun keterampilan bagi
kebutuhan hidup. Oleh karena itu, pembelajaran orang dewasa berpusat pada target pencapaian.
Kesungguhan orang dewasa menguasai suatu keterampilan ataupun pengetahuan adalah
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Model Andragogi dibentuk berdasarkan andaian-andaian
di atas.
5. Kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Orang dewasa perlu tahu mengapa mereka
perlu belajar, Tough (1979) mendapati apabila orang dewasa berkemampuan untuk belajar dan
memperoleh manfaat dari pada pembelajarannya dan menyadari keburukan apabila tidak

mempelajarinya. Peranan fasilitator di sini adalah untuk menyadarkan peserta didik tentang
kebutuhan untuk memenuhi rasa ingin tahu, "need to know".
6. Kebutuhan untuk menyempurnakan dirinya. Orang dewasa mempunyai kemampuan dalam
menilai diri sendiri, menentukan keputusan dan menentukan arah hidup mereka sendiri, orang
dewasa juga mampu membangunkan kondisi psikologi mereka untuk mendapatkan perhatian dan
penghargaan dari orang lain.
7. Peranan pengalaman. Orang dewasa memiliki pengalaman yang berbeda-beda, sesuai
dengan latar belakang, cara pembelajaran, kebutuhan, pencapaian dan minat. Kaidah pembelajaran
yang sering digunakan adalah perbincangan kumpulan, penyelesaian masalah dan bertukar
pengalaman.
8. Kesediaan belajar. Orang dewasa bersedia untuk belajar pada perkara yang perlu diketahui
dan dipelajari oleh mereka dan mengaitkan apa yang dipelajari dengan realitas kehidupan.
Kesediaan belajar ini penting bagi diri sendiri.
9. Orientasi pembelajaran. Orang dewasa belajar berdasarkan orientasi kehidupan, berbeda
dengan anak-anak yang tertumpu pada pelajaran atau berpusatkan subjek. Setiap perkara yang
dipelajari adalah berkaitan dengan hidup mereka.
10. Peranan motivasi. Orang dewasa mendapat motivasi dari dorongan luar (seperti kenaikan
pangkat, gaji tinggi), tetapi faktor pendorong dari dalam lebih berpengaruh (seperti kualitas
kehidupan, penghargaan).

Berdasarkan ringkasan prinsip-prinsip yang diberikan oleh beberapa tokoh di atas, dapat
disimpulkan bahwa prinsip pembelajaran orang dewasa adalah:
1. Pembelajaran orang dewasa sangat berbeda dengan pembelajaran anak-anak. Kaidah
pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran orang dewasa adalah perbincangan
kumpulan, penyelesaian masalah dan bertukar pengalaman.
2. Orang dewasa belajar dengan lebih baik apabila mereka terlibat secara aktif dalam proses
merancang, menilai dan melaksanakan proses pembelajaran yang mereka ikuti.
3. Orang dewasa belajar dengan lebih berkesan apabila topic itu bernilai, serta mampu
membantu permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan dan pekerjaan mereka sehari- hari.
4. Orang dewasa belajar dengan baik apabila mereka mempunyai motivasi berubah, self-
discovered atau mempunyai keterampilan dan strategi spesifik.
B. Hukum Belajar

Bagaimana orang belajar dan kondisi yang dapat meningkatkan hasil belajar sering disebut
dengan istilah law of learning yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu hukum
belajar. Ada beberapa hal pokok yang harus disetujui oleh sebagian besar pengarangnya yang
dapat sebagai pedoman. Hukum belajar tersebut terdiri atas beberapa unsur, yaitu:

(1) keinginan belajar
Keinginan beajar merupakan hal yang sangat pentingyang dapat meningkatkan efeltivitas

belajar. Keinginan belajar dapat timbul karena rasa tertarik yang mendalam terhadap suatu objek.
(2) pengertian terhadap tugas

Pengertian terhadap tugas memperoleh pengertian yang jelas tentang apa yang harus di
pkerjakan untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
(3) hukum latihan
(4) hukum akibat
(5) hukum asoiasi

Hukum asosiasi menghubungkan ide atau fakta dengan ide atau fakta lain, cenderung dapat
menghasilkan ingatan yang lebih permanen daripada apabila tdak menghubungkannya.
(6) rasa tertarik
(7) kesiapan hati

Ketetapan hati sangat menentukan apakah seorang akan tetap melanjutkan aktivitasnya atau
tidak sama sekali.
(8) pengetahuan atas keberhasilan dan kegagalan.

Pengetahuan atas keberhasilan dan kegagalan seorang peserta dalam pendidikan orang
dewasa tidak akan memperoleh kemajuan dalam proses belajarnya kecuali jika ia mengetahui hal
apa saja yang ia berhasil dengan baik atau dengan hal apa aja ia gagal.
C. Penetapan Tujuan

Kunci keberhasilan dalam pendidikan orang dewasa adalah mempunyai tujuan khusus
tentang perilaku maupun performansi yang jelas dan bergerak menuju ke tujuan tersebut secara
konsisten.
a. Tujuan umum

Tujuan umum pendidikan orang dewasa sangat bervariasi tergantung pada visi dan misi
lembaga yang menyelenggarakannya. Tujuh prinsip utama yang diambil dari artikel yang berjudul
what knowledge is of mot worth karangan filsuf terkenal Herbert spencer adalah sebagai berikut:
1) Kesehatan : fisik,mental dan keselamatan
2) Anggota keluarga yang berguna
3) Pekerja: bimbingan, latihan, dan efisiensi ekonomi
4) Pendidikan kewarganegaraan: prinsip demokrasi yang benar
5) Pemanaatan waktu luang: rekreasi jasmani
6) Etika: nilai moral jiwa pelayanan
7) Penguasaan pengetahuan dasar
b. Tujuan khusus

Untuk tujuan khusus ini terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan yaitu:
1) Ciri tujuan khusus yang baik
2) Tipe tujuan khusus
3) Menentukan tujuan khusus untuk kegiatan pendidikan khusus
Ciri ciri tujuan khusus yang baik adalah:
1) Harus ada sasaranya
2) Harus menunjukan perubahan perilaku yang spesifik, jelas, dapat dicapai, dan dapat diukur
3) Harus diterima oleh sasaran
4) Harus mengarah ke tujuan umum
5) Biasanya dinyatakan dalam istiah pengetahuan
D. Mengembangkan Sikap, Idealisme, Dan Minat

Sikap, idealisme, minat dan selera adalah dasar tujuan khusus ranah afektif dan merupakan
suatu kualitas emosi yang penting. Tidak ada salahnya dengan emosi ini, jika dikendalikan dan
diarahkan dengan baik. Kenyataan bahwa ada aspek yang sangat pen- ting, namun sering
diabaikan yaitu kegagalan dalam mengem- bangkan respons emosional yang terkendali terhadap
situasi yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Emosi adalah faktor yang sangat penting
dalam pendidikan karena emosi cenderung menentukan apa yang dilakukan orang terhadap suatu
hal. Emosi juga memberikan warna, semangat, dan kebahagiaan hidup. Sikap, idealisme, dan
minat, ketiganya termasuk ranah afektif.
1. Sikap

Istilah sikap di sini berarti perasaan seseorang terhadap orang lain, ide, lembaga, fakta, dan
lainnya. Program pendidikan pada umumnya mengembangkan sikap positif terhadap hal yang baik
menurut norma yang berlaku di masyarakat. Sebaliknya, mencoba mengembangkan sikap negatif
terhadap tindakan amoral, pelanggaran hukum, kekejaman, ketidakjujuran, hipokrit, dan perilaku
antisosial lainnya. Sikap tidak dapat diajarkan secara langsung seperti fakta, namun biasanya
diajarkan secara tidak langsung melalui contoh, bacaan, dan kegiatan yang baik. Hukum akibat
mungkin dapat diterapkan dalam mengembangkan sikap ini.

Pendidik yang ahli akan segera mengenal bahwa pengembangan sikap (perasaan tertarik,
idealisme, dan penghargaan) tidak dapat diremehkan begitu saja. Kualitas emosional ini tidak
timbul denjgan sendirinya ketika pembimbing memberikan informasi sekadarnya. Pengembangan
sikap ini harus dimasukkan ke dalam tujuan khusus yang ada dalam setiap unit pengajaran dan
perencanaan. yang jelas harus direncanakan dengan baik sehingga tujuan khusus yang telah
ditetapkan tersebut dapat dicapai. Hal ini dapat dikerjakan melalui:
a. seleksi materi
b. metode mengajar yang digunakan

c. aktivitas yang harus dilakukan oleh peserta
d. perlengkapan dan alat yang tersedia.

Pendidik yang menguasai bidangnya akan menunjukkan kualitas mengajar sebaik mungkin
dan ia akan berusaha menciptakan suasana yang kondusif untuk menumbuhkan sikap tersebut
dalam diri peserta didik.
2. Idealisme

Idealisme adalah suatu standar kesempurnaan yang diterima oleh individu atau kelompok.
Idealisme cenderung bersifat subjektif, tetapi nyata dan sangat penting dalam pendidikan anak-
anak maupun orang dewasa. Hampir dalam setiap hal yang dilakukan oleh manusia terdapat
standar kesempurnaan.

Ada idealisme berpikir, berbicara, menulis, dan mendengar. Ada idealisme kesehatan,
kebersihan, kerapian, kekuatan fisik, dan keindahan. Ada idealisme terhadap pekerjaan, pengrajin,
dan pekerjaan lain. Ada utama dalam mengajarkan idealisme adalah bahwa peserta didik harus
mengetahui idealisme melalui bacaan, diskusi, pengamatan, dan bimbingan. Idealisme yang sangat
perlu ditanamkan pada generasi muda Indonesia adalah kejujuran, kedisiplinan, etos kerja, dan
kebersihan yang dirasa masih belum diresapi sepenuhnya.
3. Minat

Minat merupakan keinginan yang datang dari hati nurani untuk ikut serta dalam kegiatan
belajar. Makin besar minatnya, makin besar semangat dan makin besar hasil kerjanya. Minat yang
bersifat sementara akan mempertahankan perhatian dan mendorong keaktifan orang dewasa lebih
banyak. Minat yang permanen merupakan hasil yang paling bernilai dalam semua pendidikan.
Saran berikut ini akan sangat membantu dalam mengembangkan minat sementara maupun minat
permanen.
a. Pembimbing atau pendidik harus menunjukkan antusias yang tulus untuk menyukseskan
kursus dan kegiatan pendidikan lain.
b. Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengetahui secara jelas melalui jalan
pikirannya sendiri tentang subjek yang dipelajari, kegiatan yang dilakukan akan membantu
mereka secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari atau membantu masyarakat secara
keseluruhan.
c. Peserta didik harus memperoleh pengetahuan pokok yang berhubungan dengan topik yang
dipelajari dan harus mempunyai pengertian yang jelas mengenai hubungan antara topik dengan
pengetahuan utama tersebut.
d. Pengetahuan yang terkait tersebut harus dibiarkan berkembang.
e. Rasa tertarik yang tinggi harus dipertahankan di setiap pertemuan kelompok

f. Pendidik atau pembimbing harus membantu peserta didik untuk mengukur kemajuan
mereka sendiri.
g. Pendidik harus menunjukkan rasa senang terlibat dalam proses belajar bersama peserta didik
daripada menonjolkan pendapatan pribadinya.
h. Suasana belajar pada setiap pertemuan harus akrab, gembira, senang, sopan, dan demokratis.
E. Mengajar Pengetahuan

Pengetahuan yang banyak jumlahnya tidak mungkin diajarkan semuanya. Sebaliknya,
rumus yang rumit, daftar nama yang panjang, table yang banyak, dan data yang jarang digunakan
biasanya dapat ditemukan pada buku pedoman, ensiklopedia, kamus, tidak perlu diingat secara
permanen, Peserta didik cukup mempelajari di mana memperolehnya dan bagaimana
menggunakannya informasi semacam itu.

Oleh karena itu seleksi ar yang relevan untuk mecapai tujuan khusus program pendidikan
yang sedang dijalankan, itulah yang dipilih. Pengetahuan kemudian dibagi menjadi dua bagian
(Morgan, et al., 1976): (1) pengetahuan yang harus dipelajari secara mendetail dan harus diingat
secara permanen, dan (2) pengetahuan yang dipelajari untuk mengetahui di mana memperolehnya
dan bagaimana menggunakannya.

Ingatan yang permanen dapat diperoleh dengan cara berikut:
a. Kembangkan rasa tertarik yang kuat dan bertahan lama terhadap suatu subjek secara
keseluruhan maupun pada bagian pentingnya.
b. Dapatkan pengertian sejelas mungkin dari setiap bagian subjek tersebut.
c. Tempatkan proses belajar sejalan dengan pola pikir peserta sedapat mungkin.
d. Berikan problema atau pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal yang dapat diterapkan.
Praktikkan jika memungkinkan, sampai dengan tingkat pengembangan kemampuan yang nyata.
Tujuan khusus dari ranah kognitif tidak hanya menghafal pengetahuan, tetapi memahami dan
menggunakannya dalam analisis, sistesis, dan evaluasi.
e. Pertahankan pengetahuan yang telah dipelajari dengan sekali- kali menanyakan dan
menerapkannya dalam situasi baru.
f. Berikan ilustrasi visual atau gambar tentang apa yang diajarkan. Tinakat kemamnuan di atas
adalah mengingat pengetahuan.
F. Mengembangkan Kemampuan

Pendidik atau pembimbing harus tahu tipe kemampuan apa yang diinginkan oleh peserta
didik. Di sini akan dijelaskan secara garis besar bagaimana mengembangkan: (1) kemampuan
menilai atau mempertimbangkan, (2) kemampuan psikomotor atau keterampilan, dan (3)
kemampuan berpikir atau mempertimbangkan.

1. Mengembangkan Kemampuan Menilai atau Memper- timbangkan Kebutuhan untuk
mengembangkan kemampuan menilai atau mempertimbangkan

Kebutuhan untuk mengembangkan kemampuan menilai atau mempertimbangkan sering
timbul sebagai bagian dari situasi belajar. Peserta didik akan mencapai kemajuan belajar lebih
banyak jika mereka dapat menilai kualitas yang mereka kerjakan. Dalam mengembangkan
kemampuan menilai atau mempertimbangkan, tahapan berikut ini sebaiknya digunakan (Morgan,
et al., 1976).
a. Pilih situasi tertentu yang akan dinilai dan dianalisis.
b. Persiapkan peserta didik atau pelajar: (a) kembangkan pengenalan terhadap kebutuhan, dan
untuk memperoleh kemampuan.
c. Tentukan kriteria dan standarnya, beri bobot pada masing- masing kriteria.
d. Peserta didik kemudian harus menggunakan kriteria tersebut terhadap sejumlah kasus dan
beritahukan cara menilainya. setelah peserta didik selesai menilai, pembimbing harus
memeriksanya dan tekankan mana yang sudah benar dan mana yang masih salah.
e. Instruktur maupun peserta didik harus selalu ingat bahwa latihan dalam
menilai/mempertimbangkan tanpa pengertian dan penerapan prinsip adalah sia-sia.
f. Minta peserta didik berlatih membuat penilaian di bawah bimbingan instruktur, sampai ia
mampu membuat penilaian dengan baik.

Sejalan dengan Morgan, er al. (1976), Seeperesad & Henderson (1984) menyatakan urutan
evaluasi sebagai berikut: (1) menentukan kebutuhan akan evaluasi, (2) menetapkan kriteria, (3)
melakukan observasi, dan (4) melákukan penilaian. Dalam mengembangkan kemampuan menilai,
hal yang sangat penting adalah membuat peserta didik mengalami menilai sesuatu kasus yang
telah ditetapkan di bawah bimbingan pendidik sampai peserta didik benar-benar memperoleh
kemampuan itu.
G. Cara Membentuk Kebiasaan

Membentuk dan mengakhiri suatu kebiasaan adalah salah satu hasil pendidikan orang
dewasa yang penting. Membentuk dan mengakhiri kebiasaan tidak merupakan pengalaman baru
bapi peserta didik jika setiap orang dewasa telah terbiasa membentuk dan mengakhiri kebiasaan
sejak dilahirkan. Tidak juga merupakan pekerjaan seorang bayi untuk membentuk kebiasaan baru
yang bermanfaat atau untuk mengakhiri kebiasaan yang jelek secara sadar. Bagaimanapun, tidak
ada orang yang mempermasalahkan umur berapa seseorang baru mampu melakukan hal itu atau
berkeinginan untuk mementingkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Aturan umum yang tertulis di
bawah ini dapat membantu bagaimana membentuk kebiasaan baru yang baik dan meninggalkan
kebiasaan lama yang jelek (Morgan et al., 1976).

1. Temukan konsep kebiasaan baru yang ingin dikembang- kan sejelas mungkin. Jika Anda
tidak mengetahui ke mana Anda pergi maka Anda tidak akan sampai ke tempat tujuan.
2. Mulailah kebiasaan baru dengan kemauan yang kuat. Jika Anda ingin mendayung sampan,
Anda harus mendorong sampan ke dalam air dengan kuat. Apabila Anda ingin memulai kebiasaan
baru, Anda harus memulainya dengan dorongan yang kuat.
3. Jangan biarkan pengecualian terjadi sampai kebiasaan baru tersebut benar-benar berakar.
Contoh, seandainya Anda ingin mencoba mengakhiri kebiasaan Anda merokok; berhentilah sama
sekali pada suatu saat, lakukan terus dan jangan pernah memutus kebiasaan baru itu.
4. Latihlah kebiasaan baru itu pada setiap kesempatan, walaupun dalam keadaan sibuk, carilah
kesempatan untuk berlatih.
5. Latihan dengan selang waktu yang agak lama akan lebih baik daripada latihan secara
intensif dalam waktu yang relatif singkat. Contoh, jika Anda ingin bermain tenis dengan baik,
Anda akan belajar lebih banyak dengan cara bermain satu jam per hari dalam waktu 100 hari
daripada bermain sepuluh jam per hari dalam waktu sepuluh hari.
6. Latihan hendaknya dilakukan sesempurna mungkin. Contoh, kita semua telah banyak
menulis, tetapi tulisan kita tidak meningkat malahan sering menjadi buruk. Masalahnya kita tidak
berlatih dengan benar.
7. Situasi dan kondisi hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga menyenangkan. Kita
cenderung mengulangi respons yang menyenangkan dan menghentikan respons yang tidak
menyenangkan.
8. Pembentukan kebiasaan baru hendaknya sebagai hasil dari dorongan dirinya sendiri, bukan
dari orang lain. Apa yang dikerjakan seseorang karena disuruh orang lain tidak akan lebih banyak
daripada apa yang dikerjakan tanpa disuruh, untuk mengembangkan dirinya.

Dalam perkembangannya, kebiasaan (folkways) ini dapat menjadi tata kelakuan (mores),
adat istiadat (custom), dan akhirnya dapat menjadi norma kemasyarakatan jika telah mengalami
pelembagaan (Soekanto, 1993). Jika kebiasaan yang baik seperti disiplin, jujur, kerja keras, tepat
waktu, dan lain-lain dapat dikembangkan di antara remaja, pemuda, bahkan orang tua di Indonesia
maka kehidupan di Indonesia bukan tidak mungkin akan lebih baik dari keadaan saat ini. Keadaan
yang lebih baik akan tercapai, jika kebiasaan yang baik dapat dilembagakan menjadi norma
kemasyarakatan.

BAB III

ASUMSI PEDAGOGI DAN ANDRAGOGI
SERTA IMPLIKASINYA

A. Pengertian dan Konsep Pendidikan Orang Dewasa (Andragogy)

Sifat belajar orang dewasa bersifat subyektif dan unik, hal itulah yang membuat orang
dewasa berupaya semaksimal mungkin dalam belajar, sehingga apa yang menjadi harapan
dapat tercapai. Andragogi lahir dari dasar pemikian bahwa orang dewasa memiliki karakteristik
sendiri dalam belajar, sehingga teori-teori mengenai pembelajaran yang selama ini berlaku
untuk anak-anak dan dewasa, tidak relevan untuk digunakan khusus pada pendidikan orang
dewasa.

Andragogi merupakan istilah yang diperkenalkan oleh Alexander Kapp seorang guru
Jerman, dan dipopulerkan oleh Malcolm Knowles. Menurut Knowles dalam (Sujarwo, 2015)5 “
Andragogy is therefore, the art and science of helping adults learn”. Andragogi adalah suatu
ilmu dan seni dalam membantu orang dewasa belajar. Knowles dalam bukunya

“ The modern practice of Adult Education”, mengatakan bahwa semula ia mendefinisikan
andragogi sebagai seni dan ilmu membantu orang dewasa belajar. Dilihat dari segi
epistemologi, andragogi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata:”Aner” yang artinya
orang dewasa dan agogus artinya memimpin. Istilah lain yang kerap kali dipakai sebagai
perbandingan adalah pedagogi yang ditarik dari kata “paid/paed” artinya anak dan agogus
artinya memimpin. Maka secara harfiah pedagogi berarti seni dan pengetahuan mengajar anak.
Karena itu, pedagogi berarti seni atau pengetahuan mengajar anak sehingga apabila memakai
istilah pedagogi untuk orang dewasa jelas kurang tepat karena mengandung makna yang
bertentangan. Sementara itu, menurut (Kartono, 1992)6 bahwa pedagogi (lebih baik disebut
sebagai androgogi, yaitu ilmu menuntun/mendidik manusia; aner, andros = manusia; agoo=
menuntun, mendidik) adalah ilmu membentuk manusia, yaitu membentuk kepribadian
seutuhnya agar ia mampu mandiri di tengah lingkungan sosialnya.

Kalau ditarik dari pengertian pedagogi, maka akhirnya andragogi secara harfiah dapat
diartikan sebagai seni dan pengetahuan mengajar orang dewasa. Namun, karena orang dewasa
sebagai individu yang dapat mengarahkan diri sendiri, maka dalam andragogi yang lebih
penting adalah kegiatan belajar dari siswa bukan kegiatan mengajar guru. Oleh karena itu,
dalam memberikan definisi andragogi lebih cenderung diartikan sebagai seni dan pengetahuan

membelajarkan orang dewasa. Pada banyak praktek, mengajar orang dewasa dilakukan sama
saja dengan mengajar anak. Prinsip- prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak
dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan orang dewasa. Hampir semua yang
diketahui mengenai belajar ditarik dari penelitian belajar yang terkait dengan anak. Begitu juga
mengenai mengajar, ditarik dari pengalaman mengajar anak-anak misalnya dalam kondisi
wajib hadir dan semua teori mengenai transaksi guru dan siswa didasarkan pada suatu definisi

pendidikan sebagai proses pemindahan kebudayaan. Namun, orang dewasa sebagai pribadi
yang sudah matang mempunyai kebutuhan dalam hal menetapkan daerah belajar di sekitar
problem hidupnya.

B. Sejarah Perkembangan Andragogy

Alexander Kapp, seorang guru di Jerman adalah orang pertama yang memperkenalkan
istilah andragogy. Kapp mulai memperkenalkan istilah andragogy pada tahun 1833. Pada abad
18 sekitar tahun 1833 tersebut Alexander Kapp menggunakan istilah pendidikan orang dewasa
untuk menjelaskan teori pendidikan yang dikembangkan dan dilahirkan ahli-ahli filsafat seperti
Plato. Kapp menekankan pentingnya andragogy dalam pendidikan orang dewasa. Istilah ini
telah digunakan selama lebih dari 85 tahun. Demikian halnya ahli pendidikan orang dewasa
bangsa Belanda Gernan Enchevort membuat studi tentang asal mula penggunaan istilah
andragogy. Setelah era Kapp, pada abad 19 tepatnya tahun 1919, Adam Smith memberi sebuah
argumentasi tentang pendidikan untuk orang dewasa “pendidikan juga tidak hanya untuk anak-
anak, tetapi pendidikan juga untuk orang dewasa”. Tiga tahun setelah Adam Smith tepatnya
tahun 1921, Eugar Rosentock menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa menggunakan guru
khusus, metode khusus dan filsafat khusus.

Pada tahun 1926 The American For Adult Education mempublikasikan bahwa pendidikan
orang dewasa mendapat sumbangan dari: 1) Aliran ilmiah seperti Edward L Thorndike. Dan 2)
Aliran artistic seperti Edward C Lindeman. Edward Lendeman menerbitkan buku “Meaning of
adult education” yang pada intinya buku tersebut berisi tentang : (1) Pendekatan pendidikan
orang dewasa dimulai dari situasi, (2) Sumber utama pendidikan orang dewasa adalah
pengalaman belajar. Ia juga menyatakan ada 4 asumsi utama pendidikan orang dewasa, yaitu 1)
orang dewasa termotivasi belajar oleh kebutuhan pengakuan, 2) orientasi orang dewasa belajar
adalah berpusat pada kehidupan, 3) pengalaman adalah sumber belajar, 4) pendidikan orang
dewasa memperhatikan perbedaan bentuk, waktu, tempat dan lingkungan. Pada perkembangan
selanjutnya Edward C. Lindeman menerbitkan Journal of adult Education. Pada tahun 1957
publikasi andragogi di Eropa diawali oleh seorang guru Jerman bernama Franz Poeggler yang
menulis buku berjudul: Introduction to Andragogi -Basic Issues in Adult education. Pada tahun
1968 Malcolm Knowless mempublikasikan untuk pertama kalinya sebuah artikel yang sangat
provokativ dengan judul

„Andragogi, not Pedagogi‟. Pada tahun 1981, Mezirow mempublikasikan
konsepnya tentang andragogy dalam sebuah artikel berjudul “Acritical Theory of Adult
Learning and Education.”

C. Kebutuhan Belajar Orang Dewasa

Pendidikan orang dewasa dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang
diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan
dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka
kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat
kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa mampu
mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan,
meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan
kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengembangankan pribadi secara utuh dan
dapatmewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonomi, dan
teknologi secara bebas, seimbang, dan berkesinambungan. Dalam hal ini, terlihat adanya

tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangankan dalam aktivitas kegiatan di
lapangan. Pertama untuk mewujudkan pencapaian perkembangan setiap individu, dan kedua
untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dari
setiap individu yang bersangkutan. Tambahan pula, bahwa pendidikan orang dewasa mencakup
segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa, baik pria maupun wanita,
sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing. Dengan demikian hal itu
dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran orang dewasa yang tampak pada
adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan/keterampilan yang
memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar
bersama dengan penuh keyakinan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai
kegiatan, merupakan hasil dari adanya perubahan setelah adanya proses belajar, yakni proses
perubahan sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi perubahan kepercayaan diri secara
penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya.

Perubahan perilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau
keterampilan serta adanya perubahan sikap mental yang sangat jelas. Dalam hal pendidikan
orang dewasa tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus dibekali
juga dengan rasa percaya diri yang kuat dalam pribadinya. Pertambahan pengetahuan saja tanpa
kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif berupa
adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata, menyeluruh dan
berkesinambungan. Perubahan perilaku bagi orang dewasa terjadi melalui adanya proses
pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam hal ini,
sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan
kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain, disebabkan produktivitas
yang lebih meningkat. Bagi orang dewasa pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar,
sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih ke arah usaha pemenuhan kebutuhan
lain yang lebih masih diperlukannya sebagai penyempurnaan hidupnya. Dalam kaitannya
dengan pemenuhan kebutuhan yang fundamental, penulis mengacu pada teori Maslow tentang
piramida kebutuhan sebagaimana Gambar 1 berikut.

Gambar 1

Piramida Kebutuhan menurut Teori Maslow
Setiap individu wajib terpenuhi kebutuhannya yang paling dasar (sandang dan pangan),
sebelum ia mampu merasakan kebutuhan yang lebih tinggi sebagai penyempurnaan kebutuhan
dasar tadi, yakni kebutuhan keamanaan, penghargaan, harga diri, dan aktualisasi dirinya. Bilamana
kebutuhan paling dasar yakni kebutuhan fisik berupa sandang, pangan, dan papan belum
terpenuhi, maka setiap individu belum membutuhkan atau merasakan apa yang dinamakan sebagai
harga diri. Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka setiap individu perlu rasa aman jauh dari
rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya, sebab ketidakamanan hanya
akan melahirkan kecemasan yang berkepanjangan. Kemudian kalau rasa aman telah terpenuhi,
maka setiap individu butuh penghargaan terhadap hak azasi dirinya yang diakui oleh setiap
individu di luar dirinya. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai
harga diri. Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan jati
dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajarnya.
Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta kegiatan
pendidikan/pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar yang
harus diciptakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode apa yang cocok
digunakan.
Menurut (Lunandi, 1987)8 yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa
yang dipelajari pelajar, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir yang dinilai adalah
apa yang diperoleh orang dewasa dari suatu pertemuan pendidikan/pelatihan, bukan apa yang
dilakukan pengajar atau pelatih atau penceramah dalam pertemuan itu.
D. Perinsip Pendidikan Orang Dewasa
Pertumbuan orang dewasa dimulai pertengahan masa remaja (adolescence) sampai dewasa,
di mana setiap individu tidak hanya memiliki kecenderungan tumbuh kearah menggerakkan diri
sendiri tetapi secara aktual dia menginginkan orang lain memandang dirinya sebagai pribadi yang
mandiri yang memiliki identitas diri. Dengan begitu orang dewasa tidak menginginkan orang
memandangnya apalagi memperlakukan dirinya seperti anak-anak. Dia mengharapkan pengakuan
orang lain akan otonomi dirinya, dan dijamin ketentramannya untuk menjaga identitas dirinya
dengan penolakan dan ketidaksenangan akan setiap usaha orang lain untuk menekan, memaksa,

dan manipulasi tingkah laku yang ditujukan terhadap dirinya. Tidak seperti anak- anak yang
beberapa tingkatan masih menjadi objek pengawasan, pengendalian orang lain yaitu pengawasan
dan pengendalian orang dewasa yang berada di sekeliling, terhadap dirinya.

Dalam kegiatan pendidikan atau belajar, orang dewasa bukan lagi menjadi obyek sosialisasi
yang seolah-olah dibentuk dan dipengaruhi untuk menyesuaikan dirinya dengan keinginan
memegang otoritas di atas dirinya sendiri, akan tetapi tujuan kegiatan belajar atau pendidikan
orang dewasa tentunya lebih mengarah kepada pencapaian pemantapan identitas dirinya sendiri
untuk menjadi dirinya sendiri; atau, dalam istilah Rogers dalam Knowles (1979),9 kegiatan belajar
bertujuan mengantarkan individu untuk menjadi pribadi atau menemukan jati dirinya. Dalam hal
belajar atau pendidikan merupakan process of becoming a person. Bukan proses pembentukan
atau process of being shaped yaitu proses pengendalian dan manipulasi untuk sesuai dengan orang
lain. Menurut Maslow (1966),10 belajar merupakan proses untuk mencapai aktualiasi diri(self-
actualization).

Uraian di atas sesuai dengan konsepsi Rogers dalam (Knowles, 1970)11 mengenai belajar
lebih bersifat client centered. Dalam pendekatan ini Roger mendasarkan pada beberapa hipotesa
berikut ini :

1) Setiap individu hidup dalam dunia pengalaman yang selalu berubah dimana dirinya
sendiri adalah sebagai pusat, dan semua orang mereaksi seperti dia mengalami dan
mengartikan pengalaman itu. Ini berarti bahwa dia menekankan bahwa makna yang
datang dari makna yang dimiliki. Dengan begitu, belajar adalah belajar sendiri dan yang
tahu seberapa jauh dia telah menguasai sesuatu yang dipelajari adalah dirinya sendiri.
Dengan hipotesa semacam ini maka dalam kegiatan belajar, keterlibatan siswa secara
aktif mempunyai kedudukan sangat penting dan mendalam.

2) Seseorang belajar dengan penuh makna hanya apabila sesuatu yang dia pelajari
bermanfaat dalam pengembangan struktur dirinya. Hipotesa ini menekankan pentingnya
program belajar yang relevan dengan kebutuhan siswa, yaitu belajar yang bermanfaat
bagi dirinya. Dan tentunya ia akan mempersoalkan kebiasaan belajar dengan mata
pelajaran yang dipaksakan atas dirinya, sehingga seolah-olah dirinya tidak berarti.

3) Struktur dan organisasi diri kelihatan menjadi kaku dalam situasi terancam, dan akan
mengendorkan apabila bebas dari ancaman. Ini berarti pengalaman yang dianggap tidak
sesuai dengan dirinya hanya dapat diasimilasikan apabila organisasi diri itu dikendorkan
dan diperluas untuk memasukkan pengalaman itu. Hipotesa ini menunjukkan realitas
bahwa belajar kerap kali menimbulkan rasa tidak aman bagi siswa (siswa merasa
tertekan). Untuk itu, dianjurkan pentingnya pemberian iklim yang aman, penerimaan, dan
saling bantu dengan kepercayaan dan tanggung jawab siswa.

4) Perbedaan persepsi setiap siswa diberikan perlindungan. Ini berarti di samping perlunya
memberikan iklim belajar yang aman bagi siswa juga perlu pengembangan otonomi
individu dari setiap siswa.

E. Kondisi Pembelajaran Orang Dewasa

Pembelajaran yang diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat
pada ingatannya), bilamana pembimbing (pelatih, pengajar, penatar, instruktur, dan sejenisnya)
tidak terlalu mendominasi kelompok kelas, mengurangi banyak bicara, namun mengupayakan
agar individu orang dewasa itu mampu menemukan alternatif-alternatif untuk mengembangkan
kepribadian mereka. Seorang pembimbing yang baik harus berupaya untuk banyak mendengarkan

dan menerima gagasan seseorang, kemudian menilai dan menjawab pertanyaan yang diajukan
mereka. Orang dewasa pada hakekatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana seseorang mampu
menggerakkan/ menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam upaya ini, diperlukan
keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut. Di samping itu,
orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas
pembelajaran, terutama apabila mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang
membuat mereka merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Artinya,
orang dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan akan lebih
senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide pikirannya, daripada
pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri kepada mereka.

Oleh karena sifat belajar bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik, maka terlepas
dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu
dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan
mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula
mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai
kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaandiri tersebut, maka suasana belajar yang
kondusif tak akan pernah terwujud. Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda,
mempunyai pendapat dan pendirian yang berbeda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka
akan dapat mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun
mereka saling berbeda pendapat. Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa dalam
suasana/situasi belajar yang bagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat
salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan, pemecatan, cemoohan, dll).
Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam
mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan
untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan gagasan, akan berdampak baik bagi
kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Di samping itu, harus dihindari segala bentuk akibat
yang membuat orang dewasa mendapat ejekan, hinaan, atau dipermalukan. Jalan terbaik hanyalah
diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga berbagai alternatif kebebasan
mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan.

Dalam hal lainnya, tidak dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar secara khas dan
unik. Faktor tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui
sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama dengan
pribadi orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama dalam pribadi, sebab
akan sangat membosankan kalau saja suasana yang seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa
adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu, latar belakang pendidikan,
latar belakang kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi
warna yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil. Bagi orang dewasa, terciptanya suasana
belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku
baru, berani tampil beda, dapat berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru
yang mereka peroleh. Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan,
namun kesalahan, dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dari belajar.

Pada akhirnya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi
orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan
demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok dirasakannya

berharga untuk bahan renungan, di mana renungan itu dapat mengevaluasi dirinya dari orang lain
yang persepsinya bisa saja memiliki perbedaan.

F. Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Andragogi

Kegiatan pendidikan baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah memiliki daerah dan
kegiatan yang beraneka ragam. Pendidikan orang dewasa terutama pendidikan masyarakat bersifat
non-formal sebagian besar dari siswa atau pesertanya adalah orang dewasa, atau paling tidak
pemuda atau remaja. Oleh sebab itu, kegiatan pendidikan memerlukan pendekatan tersendiri.
Dengan menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha pembelajaran orang dewasa dalam
kerangka pembangunan atau realisasi pencapaian cita-cita pendidikan seumur hidup dapat
diperoleh dengan dukungan konsep teoritik atau penggunaan teknologi yang dapat
dipertanggungjawabkan.

Andragogi memiliki kelemahan, salah satunya adalah bahwa bagaimana mungkin seorang
siswa yang tidak terlalu memahami tentang luasnya ilmu kemudian dibebaskan memilih apa yang
mereka sukai? Seolah sistem Andragogy hanya sebagai suatu sistem yang mengembirakan
siswanya saja dan melupakan untuk tujuan apa sebenarnya sebuah pendidikan itu dilakukan? Dan
bagaimana pula bisa dilakukan -penjagaan terhadap ilmu-ilmu yang sudah ada? jika sebuah ilmu
tersebut tidak diminati oleh siswa, tentu saja satu waktu ilmu tersebut akan hilang. Dan bagaimana
siswa dibiarkan memilih jika ada persyaratan kemampuan yang memang mesti dimiliki
seandainya siswa mau belajar ilmu tertentu. Tak mungkinlah siswa SD dibiarkan memilih mata
pelaharan Integral Diferensial sebelum mereka menguasai dulu perkalian, jumlah, kurang bagi, dll.

BAB IV

STRATEGI DAN IMPLIKASI KONSEP ANDRAGOGI
DALAM PEMBELAJARAN

A. Metode Pendidikan Orang Dewasa

Metode yang dapat digunakan dalam Pendidikan Orang Dewasa (POD) sangat banyak, hal
tersebut dapat dilihat dari dua sudut panjang, contohnya; rangkaian proses belajar dan jenis
pertemuan yang dilakukan dalam pendidikan orang dewasa.

1. Rangkaian proses belajar sebagai dasar metode POD

Dasar metode pendidikan orang dewasa baiknya dipilih sesuatu tujuan pendidikan, yang dibagi
menjadi dua, yaitu;

Membantu orang menata masa lalu yang dimilikinya melalu cara baru,

Memberikan pengetahuan atau keterampilan baru.

Sifat pengalaman belajar dalam rangkaian proses belajar dapat mempengaruhi beberapa
hal berikut ini:
1.Persiapan dan orientasi bagi proses belajar

2.Suasana dan kecepatan belajar

3.Peran dan sikap pembimbing

4.Peran dan sikap anak didik

5.Metode yang diterapkan agar usaha belajar berhasil

2. Pemilihan Jenis Pertemuan

Metode yang biasa digunakan dalam pendidikan orang dewasa adalah metode pertemuan.

 Jenis Pertemuan, Jenis-jenis pertemuan umum dilakukan dalam pendidikan orang dewasa, yaitu:

1. Institusi

Dalam suatu institusi diharapkan akan diberikan informasi dan instruksi, begitupun
identifikasi masalah dan pemecahannya. Namun terdapat beberapa kekurangan dari institusi, yaitu
; tujuan dari institusi tersebut tidak tercapai dikarenakan waktu yang terbatas.

2. Konvensi

` Makna dari konvensi sendiri hamper sama dengan institusi, kumpulan dari peserta. Hanya
saja peserta dating dari kelompok lokal, organisasi orangtua yang berasal dari tingkat kabupaten,
provinsi ataupun nasional. Tujuan dasarnya adalah untuk membicarakan dan memikiirkan ide-ide
yang mungkin dapat memperkuat organisasiotangtua murid(Mogran, et al., 1976

Manfaat utama dari konvensi adalah memberikan peserta secara individual kesempatan
melihat organisasi sebagai badan penting di mana ia mengidentifikasikan dirinya. Sedangkan
kelemahan pertemuan dalam jenis konvensi ialah jika pelaksaan dilaksanakan kurang baik, maka
tidak dapat memotivasi peserta.

3. Konferensi

Maksud dari pertemuan jenis konferensi adalah pertemuan yang diadakan dalam kelompok
besar maupun kelompok kecil. Ciri khusus dari konferensi adalah diikuti dengan kata sebutan
yang menunjukkan tema konferensi.

Teknik diskusi yang umum digunakan, seperti pertemuan meja bundar, diskusi yang
berlanjut dengan makan siang dan bankuet, panel dan lainnya. Disisi lain, keterbatasan dari
konferensi adlah ketidakpastian kehadiran peserta, lalu sulitnya mengevaluasi apa yang telah
dicapai dalam konferensi dan apa yang dikerjakan sebagai tindak lanjut.

4. Lokakarya (Workshop)

Pengertian dari lokakarya adalah pertemuan orang yang bekerja dalam kelompok kecil,
umumnya dibatasi pada masalah yang berasal dari peserta sendiri. Beberapa jenis teknis dapat
diaplikasikan dalam workshop. Karena itu, informalitas diperlukan untuk mendorong partisipasi
peserta. Dikarenakan kelompok kecil, maka pertemuan yang intensif dapat dilakukan. Durasi
workshop menyesuaikan pada besarnya tugas yang harus diselesaikan, antara tiga hari hingga tiga
minggu.

Disisi lain, efektivitas program akan sangat terbatas, kecuali jika peserta dapat terus hadir
dari awal hingga selesai.

5. Seminar

Seminar atau yang biasa dikenal sebagai lembaga belajar. Tujuan dari seminar adalah
untuk mempelajari subjek dibawah seorang pimpinan yang menguasai bidang yang diseminarkan.
Seminar sering berhubngan dengan riset atau penelitian. Jika peserta tertarik maka partisipasi
setiap peserta harus diatur sebaik mungkin.

Namun disisi lain, seminar memiliki kekurangan dalam bagian durasi waktu yang pendek,
sekitar satu atau dua jam,

6. Kursus Kilat

Kursus kilat ialah institusi yang sangat intensif selama satu hari atau lebih tentang
beberapa jenis subjek khusus. Institusi ini lebih sederhana dan kurang konsemtrasi jika
dibandingkan dengan pelajaran dalam universitas. Kursus kilat terbatas dalam bidang khusus,
untuk mendapatkan tambahan pekajaran dalam bidang khusus dengan kelompok khusus yang
berhubungan dengan bidang tersebut.

7. Kuliah Bersambung

Pertemuan dalam jenis kuliah bersambung adalah satu rangkaian yang diberikan oleh
dosen dengan waktu satu kali per hari, satu kali per minggu ataupun satu kali per bulan. Peranan
hadirin adalah mendengarkan dan menerima pesan dan inspirasi dari dosen. Keterbatasan dari
kuliah bersambung adalah dosen harus bekerja keras untuk mempersiapkan materinya.
Disebabkan kuliah bersambung menekankan kelangsungan jalan pikiran, mereka yang sering tidak
hadir maka akan kehilangan kelangsungan tersebut.

8. Kelas Formal

Kelas formal dalam pendidikan orang dewasa umumnya digabungkan dengan program
sekolah. Mereka yang hadir telah menjelaskan minat mereka dan telah mendaftarkan diri,
membayar pendaftaran dan setuju dengan aturan program institusi. Antara kelas formal
pendidikan orang dewasa dan kelas formal di fakultas dan sekolah menengah terdapat perbedaan.

9. Diskusi Terbuka

Hal tersebut dianggap sebagai salah satu jenis pendidikan orang dewasa termasuk sangat
penting. Pentingnya diskusi terbuka adalah terciptanya lingkungan yang sesuai untuk
meningkatkan kebebasan mengeluarkan pendapat.

3. Merencanakan Pertemuan

Tanpa memandang jenis pertemuan yang digunakan, seseorang harus memikirkan rencana
untuk melakukan pertemuan. Adapun tahap-tahap dalam pertemuan yaitu:

1. Prapertemuan

Pada tahap ini yaitu kita membahas apa saja yang akan dikerjakan, siapa peserta, serta
alternatif metode yang akan digunakan.

2. Penerimaan paserta

Menerima peserta yang datang yaitu harus ada orang yang menyambut didepan pintu
masuk.

3`. Prosedur pertemuan

Prosedur pertemuan dilakukan dengan cara yang baik dan santai,salin itu juga harus
mengingat metode terbaik yang diterapkan untuk mencapai tujuan tersebut.

4. Evaluasi

Pertemuan harus dievaluasi, baik melalui angket reaksi pasca pertemuanataupun dengan
analisis sendiri yang hati-hati. Menurut Florers,et al. (1983) pertemuan memiliki beberapa manfaat
yakni, dapat manjangkau banyak orang, sesuai untuk semua pokok bahasan,mengenal alasan dasar
kontak sosial danindividu, psikologi kelompok memotivasi tindakan kelompok, mempunyai
kesempatan besar memperoleh berita, efektif untuk mempengaruhi adopsi dengan biaya.

4. Metode Dalam Pertemuan

Berikut merupakan teknik penting yang bisa digunakandalam pendidikan orang dewasa
antara lain:

1. Penyajian formal, Semua berlangsung satu arah dari pembicara kepada peserta. Adapun
contonya yaitu ceramah, simposium, diskusi panel, dan kolokium.

2. Teknik diskusi, yang meliputi diskusi terbuka, diskusi kelompok dengan wakil pemimpin, dan
sesi buzz, teknik philips, tim pemimpin, tim pendengar, bermain peran, curah pendapat, diskusi
informal, serta debat.

3. Demonstrasi dan laboratorium, yang meliputi Demonstrasi metode, Demonstrasi hasil, dan
prosedur laboratorium.

4. Karyawisata

5. Audiovisual

6. Komunikasi tertulis

5. Penyajian formal

Merupakan penyajian yang bersifat searah dari pembicara kepada peserta tanpa ada umpan
balik dari peserta kepada pembicara. Masing-masing metode akan diuraikan sebagai berikut:

1. Ceramah atau kuliah
Ceramah atau kuliah adalah penyajian secara lisan dari pembicara dengan menggunkan

pemikiran dan ide yang terorganisasi. Dengan ceramah dapat diharapkan ide dapat dicetuskan,
masalah dapat didefinisikan, dan pendengar dapat dimotivasi untuk bertindak.
2. Simposium

Simposium digunakan untuk mengumpulka informasi tingkat profesional (Kang dan Song,
1984). Dalam simposium disajikan banyak pandangan dari suatu subjek utama, membantu untuk
mengunkapkan semua aspek dari topik yang dibicarakan dihadapan peserta.

3. Diskusi panel
Merupakan kelompok kecil yang biasanya terdiri dari 6 orang duduk dibelakang mimbar

berhadapan, dengan pendengar yang hadir dan mendiskusikan topik tertentu yang mereka kuasai.
4. Kolokium

Pada kolokium beberapa peserta menghangatkan diskusi dengan menyajikan beberapa
persoalan kepada sekelompok ahli yang duduk dimimbar, selanjutnya para ahli tersebut
memberikan komentar kepada mereka.
5. Variasi penyajian formal

Merupakan sebagai penyajian panelis mimbar dengan memberikan kesempatan kepada
anggota pendengar untuk mengajukan pertanyaan dan memberikan komentar.

B. Implikasi Konsep Andragogi Dalam Pembelajaran

Konsep Andragogi didasarkan pada sedikitnya 4 asumsi tentang karakteristik warga
belajar yang berbeda dari asumsi yang mendasari pedagogi tradisional,yaitu: 1) konsep diri
mereka bergerak dari seseorang dengan pribadi yang tergantung kepada orang lain kearah
seseorang yang mampu mengarahkan diri sendiri. 2) Mereka telah mengumpulkan segudang
pengalaman yang selalu bertambah yang menjadi sumber belajar yang semakin kaya. 3) Kesiapan
belajar mereka menjadi semakin berorientasi kepada tugas-tugas perkembangan dari peranan
sosial mereka. 4) Perspektif waktu mereka berubah dari penerapan yang tidak seketika dari
pengetahuan yang mereka peroleh kepada penerapan yang segera, dan sesuai dengan itu orientasi
mereka kearah belajar bergeser dari yang berpusat kepada mata pelajaran beralih kepada yang
berpusat pada penampilan. Usaha-usaha ke arah penerapan teori andragogi dalam kegiatan
pendidikan orang dewasa telah diuji coba oleh beberapa ahli, berdasarkan empat asumsi dasar
orang dewasa yang di atas yaitu: konsep diri, akumulasi pengalaman, kesiapan belajar, dan
orientasi belajar.

Asumsi dasar tersebut dijabarkan dalam proses perencanaan kegiatan pembelajaran dengan
langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menyiapkan Iklim Belajar yang Kondusif Faktor lingkungan berpengaruh terhadap
keberhasilan belajar. Oleh karena itu, dalam pembelajaran model Andragogi langkah pertama
yang harus dikerjakan adalah menyiapkan iklim belajar yang kondusif. Ada tiga hal yang perlu
disiapkan agar tercipta iklim belajar yang kondusif itu. Pertama, penataan fisik seperti ruangan
yang nyaman, udara yang segar, cahaya yang cukup, dan sebagainya. Termasuk di sini adalah
kemudahan memperoleh sumber-sumber belajar baik yang bersifat materi seperti buku maupun
yang bukan bersifat materi seperti bertemu dengan fasilitator. Kedua, penataan iklim yang bersifat
hubungan manusia dan psikologis seperti terciptanya suasana atau rasa aman, saling menghargai,
dan saling bekerjasama. Ketiga, penataan iklim organisasional yang dapat dicapai melalui
kebijakan pengembangan SDM, penerapan filosofi manajemen, penataan struktur organisasi,
kebijakan finansial, dan pemberian insentif.

2. Menciptakan Mekanisme Perencanaan Bersama Perencanaan pembelajaran dalam model
Andragogi dilakukan bersama antara fasilitator dan peserta didik. Dasarnya ialah bahwa peserta
didik akan merasa lebih terikat terhadap keputusan dan kegiatan bersama apabila peserta didik
terlibat dan berpartisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

3. Menetapkan Kebutuhan Belajar Dalam proses pembelajaran orang dewasa perlu diketahui lebih
dahulu kebutuhan belajarnya. Ada dua cara untuk mengetahui kebutuhan belajar ini adalah dengan
model kompetensi dan model diskrepensi.

Model kompetensi dapat dilakukan dengan mengunakan berbagai cara seperti penyusunan
model peran yang dibuat oleh para ahli. Pada tingkat organisasi dapat dilakukan dengan
melaksanakan analisis sistem, analisis performan, dan analisis berbagai dokumen seperti deskripsi
tugas, laporan pekerjaan, penilaian pekerjaan, analisis biaya, dan lain-lain. Pada tingkat
masyarakat dapat digunakan berbagai informasi yang berasal dari penelitian para ahli, laporan
statistik, jurnal, bahkan buku, dan monografi. Model dikrepensi, adalah mencari kesenjangan.
Kesenjangan antara kompetensi yang dimodelkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh peseta
didik. Peseta didik perlu melakukan self assesment.

4. Merumuskan Tujuan Khusus (Objectives) Program Tujuan pembelajaran ini akan menjadi
pedoman bagi kegiatan-kegiatan pengalaman pembelajaran yang akan dilakukan. Banyak terjadi
kontroversi dalam merumuskan tujuan pembelajaran ini karena perbedaan teori atau dasar
psikologi yang melandasinya. Pada model Andragogi lebih dipentingkan terjadinya proses self-
diagnosed needs.

5. Merancang Pola Pengalaman Belajar Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perlu
disusun pola pengalaman belajarnya atau rancangan programnya. Dalam konsep Andragogi,
rancangan program meliputi pemilihan problem areas yang telah diidentifikasi oleh peserta didik
melalui self-diagnostic, pemilihan format belajar (individual, kelompok, atau massa) yang sesuai,
merancang unit-unit pengalaman belajar dengan metode-metode dan materi-materi, serta
mengurutkannya dalam urutan yang sesuai dengan kesiapan belajar peserta didik dan prinsip
estetika. Rancangan program dengan menggunakan model pembelajaran Andargogi pada dasarnya
harus dilandasi oleh konsep self-directed learning dan oleh karena itu rancangan program tidak
lain adalah preparat tentang learning-how-to-learn activity.

6. Melaksanakan Program (Melaksanakan Kegiatan Belajar) Catatan penting pertama untuk
melaksanakan program kegiatan belajar adalah apakah cukup tersedia sumber daya manusia yang
memiliki kemampuan membelajarkan dengan menggunakan model Andragogi.

Proses pembelajaran Andragogi adalah proses pengembangan sumber daya manusia.
Peranan yang harus dikembangkan dalam pengembangan sumber daya manusia adalah peranaan
sebagai administrator program, sebagai pengembang personal yang mengembangkan sumber daya
manusia. Dalam konteksi pelaksanaan program kegiatan belajar perlu dipahami hal-hal yang
berkaitan dengan berbagai teknik untuk membantu orang dewasa belajar dan yang berkaitan
dengan berbagai bahan-bahan dan alat-alat pembelajaran.

7. Mengevaluasi Hasil Belajar dan Menetapkan Ulang Kebutuhan Belajar Proses pembelajaran
model Andragogi diakhiri dengan langkah mengevaluasi program. Pekerjaan mengevaluasi
merupakan pekerjaan yang harus terjadi dan dilaksanakan dalam setiap proses pembelajaran.
Tidak ada proses pembelajaran tanpa evaluasi. Proses evaluasi dalam model pembelajaran
Andragogi bermakna pula sebagai proses untuk merediagnosis kebutuhan belajar. Untuk
membantu peserta didik mengenali ulang model-model kompetensi yang diharapkannya dan
mengasses kembali diskrepensi antara model dan tingkat kompetensi yang baru
dikembangkannya. Pengulangan langkah diagnosis menjadi bagian integral dari langkah evaluasi

Dalam khasanah proses evaluasi terdapat empat langkah yang diperlukan untuk
mengefektifkan assessment program yaitu evaluasi reaksi yang dilaksanakan untuk mengetahui
bagaimana peserta didik merespon suatu program belajar; evaluasi belajar dilaksanakan untuk
mengetahui prinsip-prinsip, fakta, dan teknik-teknik yang telah diperoleh oleh peserta didik;
evaluasi perilaku dilaksanakan untuk memperoleh informasi perubahan perilaku peserta didik
setelah memperoleh latihan; dan evaluasi hasil dilaksanakan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan program.

Aplikasi yang diutarakan di atas sebenarnya lebih bersifat prinsip-prinsip atau rambu-
rambu sebagai kendali tindakan membelajarkan orang dewasa. Oleh karena itu, keberhasilannya
akan lebih benyak tergantung pada setiap pelaksanaan dan tentunya juga tergantung kondisi yang
dihadapi. Jadi, implikasi pengembangan teknologi atau pendekatan andragogi dapat dikaitkan

terhadap penyusunan kurikulum atau cara mengajar terhadap warga belajar. Namun, karena
keterikatan pada sistem lembaga yang biasanya berlangsung, maka penyusunan program atau
kurikulum dengan menggunakan andragogi akan banyak lebih dikembangkan dengan
menggunakan pendekatan ini. Sebagai orang dewasa merasakan bahwa konsep diri seseorang
dapat berubah. Mereka mulai melihat peranan sosial mereka dalan hidup tidak lagi sebagai warga
belajar “full time”.

Mereka melihat diri mereka semakin sebagai penghasil atau pelaku. Sumber utama
kepuasan diri mereka sekarang adalah penampilan mereka sebagai pekerja, suami/isteri, orang tua,
dan warga negara. Orang dewasa memperoleh status baru, di mata mereka dan orang-orang lain,
dari tanggung jawab yang non-pendidikan ini. Konsep diri mereka menjadi sebagai pribadi yang
mengarahkan dirinya sendiri. Mereka melihat diri mereka sendiri sebagai mampu membuat
keputusan-keputusan mereka sendiri dan menghadapi akibat-akibatnya, mengelola hidup mereka
sendiri.

Dalam hal itu mereka juga mengembangkan satu kebutuhan psikologis yang dalam untuk
dilihat orang lain sebagai orang yang mampu mengarahkan diri sendiri. Orang dewasa
menemukan bahwa mereka dapat bertanggung jawab bagi pembelajaran mereka sendiri,
sebagaimana mereka lakukan bagi segi-segi lain kehidupan mereka, mereka mengalami perasaan
lega dan gembira. Kemudian mereka akan memasuki kegiatan belajar dengan keterlibatan-diri
yang mendalam, dengan hasil yang seringkali mengejutkan bagi mereka sendiri dan para fasilitator
mereka.
C. Strategi Pembelajaran Orang Dewasa

(Andragogi) Dalam kegiatan pembelajaran, pendidik dituntut memiliki kemampuan
pendekatan pembelajaran yang tepat. Kemampuan tersebut sebagai sarana serta usaha dalam
memilih dan menentukan pendekatan pembelajaran untuk menyajikan materi pembelajaran yang
tepat dan sesuai dengan program pembelajaran. Untuk menentukan atau memilih pendekatan
pembelajaran, hendaknya berangkat dari perumusan tujuan yang jelas. Setelah tujuan
pembelajaran ditentukan, kemudian memilih pendekatan pembelajaran yang dipandang efisien dan
efektif. Pemilihan pendekatan pembelajaran ini hendaknya memenuhi kriteria efisien dan efektif.
Suatu pendekatan pembelajaran dikatakan efektif dan efisien apabila startegi tersebut dapat
mencapai tujuan dengan waktu yang lebih singkat dari pendekatan yang lain. Kriteria lain yang
perlu diperhatikan dalam memilih pendekatan pembelajaran adalah tingkat keterlibatan peserta
didik dalam proses pembelajaran.

Strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih pendidik dalam proses pembelajaran
yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan
yang telah ditetapkan. Strategi pembelajaran terdiri atas dua kata, strategi dan pembelajaran.
Istilah strategi (strategy) berasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani , “stratego” yang berarti
merencanakan (to plan).

Strategi adalah suatu pola yang direncanakan dan ditetapkan secara sengaja untuk
melakukan kegiatan atau tindakan. Strategi mencakup tujuan kegiatan yang terlibat dalam
kegiatan, isi kegiatan, proses kegiatan dan sarana penunjang kegiatan. Strategi yang diterapkan
dalam kegiatan pembelajaran disebut strategi pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya sistematis
dalam membantu warga belajar dalam mengembangkan potensinya secara optimal melalui
kegiatan belajar. Strategi pembelajaran mencakup penggunaan pendekatan, metode dan teknik,
bentuk media, sumber belajar, peserta didik, untuk mewujudkan interaksi edukasi antara pendidik

dengan peserta didik dengan lingkungannya. Tujuan strategi pembelajaran adalah untuk
mewujudkan efisiensi, efektivitas dan produktifitas kegiatan pembelajaran.

Adapun isi kegiatan pembelajaran adalah bahan/materi pembelajaran yang bersumber dari
kurikulum yang telah disusun dalam program pembelajaran. Proses kegiatan pembelajaran
merupakan langkah-langkah atau tahapan yang harus dilalui oleh pendidik dan peserta didik dalam
pembelajaran. Sumber pendukung kegiatan pembelajaran mencakup fasilitas dan alat-alat bantu
pembelajaran (Sudjana, 2005) Menurut Dick dan Carey (1990 : 1) strategi pembelajaran adalah
suatu pendekatan dalam mengelola secara sistematis kegiatan pembelajaran sehingga warga
belajar dapat mencapai isi pelajaran atau mencapai tujuan seperti yang diharapkan. Lebih lanjut
Dick dan Carey (1990: 1) menyebutkan lima komponen umum dari strategi instruksional sebagai
berikut: 1) kegiatan pra instruksional, 2) penyajian informasi, 3) partisipasi peserta didik, 4) tes,
dan 5) tindak lanjut. Gagne dan Briggs dalam Atwi Suparman (1996: 156) mengemukakan
sembilan urutan kegiatan instruksional, yaitu: 1) memberikan motivasi atau menarik perhatian, 2)
menjelaskan tujuan instruksional kepada peserta didik, 3) mengingatkan kompetensi prasyarat, 4)
memberi stimulus (masalah, topik, dan konsep), 5) memberikan petunjuk belajar, 6) menentukkan
penampilan peserta didik, 7) memberi umpan balik, 8) menilai penampilan, 9) menyimpulkan.

Strategi pembelajaran orang dewasa pada pendidikan keaksaraan fungsional terdiri dari lima
langkah kegiatan, yaitu menulis, membaca, berhitung, diskusi dan aksi/penerapan. Langkah-
langkah tersebut, bukan berarti langkah yang baku/kaku atau harus berurutan. Tetapi bisa saja
dilakukan secara acak, misalnya dimulai dari diskusi, kemudian belajar membaca, menulis dan
seterusnya. Hal ini tergantung dari situasi dan kondisi serta kesepakatan di dalam kelompok
belajar. Namun demikian, kebiasaan yang ditemui adalah melalui diskusi terlebih dahulu baru
dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Bisa juga dimulai dari masalah yang ditemui
(aksi) peserta didik, kemudian didiskusikan di kelompok belajar, menulis, membaca dan
seterusnya. Keefektifan kegiatan belajar, sangat bergantung pada kemampuan tutor dalam
mengarahkan, dan membimbing peserta didik di dalam kegiatan belajarnya.

Pengalaman juga menunjukkan bahwa, kegiatan menulis perlu didahulukan dan pada
kegiatan membaca. Karena melalui kegiatan belajar menulis, peserta didik sedikit demi sedikit
langsung belajar membaca. Sebaliknya apabila peserta didik didahulukan belajar membaca, maka
cenderung kurang terampil dalam hal menulis. Kegiatan pembelajaran partisipatif sebagai upaya
pembelajaran yang mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Menurut
Sudjana (2005:155) keikutsertaan peserta didik diwujudkan dalam tiga tahapan kegiatan
pembelajaran, yaitu: perencanaan program pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian
pembelajaran.

Partisipasi dalam perencanaan merupakan bentuk keterlibatan peserta didik dalam kegiatan
mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan dan menentukan prioritas masalah, sumber-
sumber atau potensi yang tersedia,. Hasil dari identifikasi digunakan sebagai dasar dalam
menentukan tujuan pembelajaran.dan penetapan program kegiatan pembelajaran. Partisipasi dalam
pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim pembelajaran yang
kondusif. Iklim belajar yang kondusif ditandai dengan 1) kedisiplinan peserta didik, 2) terjadi
hubungan antar peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik yang akrab, terbuka,
terarah, saling menghargai, saling membantu dan salingbelajar, 3) Interaksi pembelajar yang
sejajar. Kegiatan pembelajaran lebih ditekankan pada peran peserta didik (student centered).

Peserta didik diberikan kesempatan secara luas dalam kegiatan pembelajaran, peran
pendidik membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Banyak pendekatan
pembelajaran yang dapat diterapkan dalam menciptakan iklim pembelajaran kondusif, misalnya:
pendekatan tematik, descoveri-inkuiri, kontektual, cooperative learning, konstruktruk vistik,
meaningfull learning, dan sebagainya. Adapun metode pembelajaran yang diterapkan, misalnya;
metode diskusi, tanya jawab, problem solving, discovery-inkuiri, simulasi, brainstorming, role
playing, games, siklus belajar berbasis pengalaman, demonstrasi, kooperatif, dan sebagainya.
Partisipasi dalam evaluasi pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menghimpun
informasi mengenai pengelolaan pembelajaran dan perubahan yang dirasakan selama mengikuti
proses pembelajaran. Dalam partisipasi evaluasi pembelajaran ini, pendidik memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk memberikan penilaian pada seluruh komponen
pembelajaran (refeksi pembelajaran) dan suasana diri (moood meter) dalam mengikuti
pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan pendidik dalam menerapkan strategi
pembelajaran partisipatif adalah:

1) Melakukan asesment kebutuhan belajar, merumuskan tujuan, mengidentifikasi hambatan, dan
menetapkan prioritas yang akan digunakan untuk mengelola kegiatan pembelajaran.

2) Memilih tema/pokok bahasan dan/atau tugas yang harus dilakukan dalam pembelajaran dan
menentuka indicator pencapaian tujuan pembelajaran.

3) Mengenai dan mengkaji karakteristik peserta didik sebagai bahan masukan dalam menyusun
rencana pembelajaran.

4) Mengidentifikasi isi/materi atau bahan pelajaran/rincian tugas pembelajaran.

5) Merumuskan tujuan pembelajaran.

6) Merancang kegiatan pembelajaran, dengan memilih metode, media pembelajaran yang
digunakan secara tepat dan pengelolaan waktu.

7) Memilih fasilitas pembelajaran dan sumber bahan yang mendukung proses pembelajaran.

8) Mempersiapkan sistem evaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran.

9) Mempersiapkan tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

Menurut Tom Nesbit, Linda Leach & Griff Foley (2004) bahwa ada enam prinsip dalam
praktek pembelajaran orang dewasa agar dapat diterapkan secara efektif, yaitu: 1) adanya
partisipasi secara sukarela, 2) adanya perasaan respek secara timbal balik, 3) Adanya semangat
berkolaborasi dan kooperasi, 4) adanya aksi dan refleksi, 5) tersedianya kesempatan refleksi kritis
dan 6) adanya iklim pembelajaran yang kondusif untuk belajar secara mandiri. Prinsip tersebut
sangat berkaitan dengan karakteristik orang dewasa yang telah memiliki konsep diri dan
pengalaman yang cukup banyak. Konsep diri orang dewasa telah mandiri dan bergantung
sepenuhnya kepada orang lain dalam menentukan pilihan atau keputusan Pembelajaran Orang
Dewasa 11 pemecahan masalah. Pengalaman merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi
orang dewasa. Setiap peserta memiliki pengalaman yang bervariasi, tingkat pendidikan,
kematangan dan lingkungan yang berbeda pula. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1) Peserta sebagai sumber belajar, oleh karena itu teknik pembelajaran yang diterapkan
diorientasikan pada upaya penyerapan pengalaman mereka melalui; diskusi kelompok, curah
pendapat, bermain peran, simulasi, curah pendapat, demonstrasi, focus broup discussion.

2) Penekanan pada aplikasi praktis, pengetahuan baru, konsep-konsep, dan pengalaman baru dapat
dijelaskan melalui pengalaman praktis yang pernah dialami peserta didik. Hasil dari pembelajaran
dapat dimanfaatkan secara langsung dalam kehidupannya.

3) Materi pembelajaran dirancang berdasarkan pengalaman dan kondisi peserta didik.

BAB V

PERENCANAAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA

A. Komponen Perencanaan Pendidikan

Andragogi selalu dihubungkan dengan pendidikan untuk orang dewasa, hal itu dipertegas
oleh Aeby & Aeby (2013) bahwa Andragogi dilihat sebagai karakteristik pembelajaran orang
dewasa. Sebagaimana telah disebutkan oleh Knowles, Holton III & Swanson (2005) bahwa
andragogi merupakan sebuah seni yang mengarahkan orang dewasa belajar. Selama ini
andragogi dikaitkan dengan pendidikan orang dewasa, hal ini dikarenakan andragogi lebih
membahas mengenai cara untuk membelajrkan orang dewasa.

Herod (2012) mengemukakan salah satu alasan bahwa andragogi telah dikenal sebagai
“pembelajaran orang dewasa”, andragogi memandang bahwa orang dewasa umumnya cenderung
menjadi lebih jauh daripada anak-anak dalam hal pengembangan intelektual mereka, atau
setidaknya dianggap lebih mampu.

Andragogi merupakan salah satu pilar pendidikan orang dewasa. Berdasarkan hal itulah
maka pembahasan mengenai andragogi lebih banyak mengungkap mengenai pendidikan orang
dewasa.

Perencanaan merupakan langkah awal dari suatu kegiatan, seperti yang telah dijabarkan oleh
Kowalski (1998) yaitu perencanaan adalah prosedur formal yang digunakan untuk membuat
program. Itu berorientasi ke masa depan dan merupakan langkah pertama dalam menciptakan
program. Kegiatan pembelajaran juga haruslah memiliki prosedur perencanaan yang tepat agar
kegiatan pembelajaran berhasil.

Adapun langkah yang meski ditempuh dalam kegiatan perencanaan kegiatan pembelajaran
orang dewasa, London (Kowalski, 1998) membagi langkah perencanaan tersebut menjadi lima,
di antaranya adalah a) Menentukan kebutuhan peserta didik; b) Meminta partisipasi mereka; c)

Merumuskan tujuan yang jelas; d) Merancang sebuah program; e) Merencanakan dan
melaksanakan sistem evaluasi.

Komponen perencanaan pendidikan luar sekolah menurut Rahman (1989) dapat dianggap
sebagai komponen perencanaan pendidikan orang dewasa. Komponen tersebut adalah sebagai
berikut.

1. Peserta didik. Dalam pendidikan luar sekolah (termasuk pendidikan orang dewasa) harus
mempertimbangkan kondisi peserta didik, seperti perbedaan umur, kelamin, sosial, ekonomi,
latar belakang, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya.

2. Tujuan belajar. Pendekatan nya lebih berat pada peningkatan kemampuan dan keterampilan
praktis dalam waktu sesingkat mungkin untuk mencukupi keperluan hidupnya.

3. Sumber belajar (pembimbing). Diupayakan sumber belajar ini diambil dari warga
masyarakat setempat sendiri. Hal ini karena warga masyarakat biasanya sudah mengenal
keadaan masyarakat nya sendiri secara rinci.

4. Kurikulum. Kurikulum untuk pendidikan luar sekolah ( termasuk pendidikan orang dewasa)
biasanya sangat sederhana dan sesuai kebijakan pemerintah setempat. Mengandung pengetahuan
dasar dan praktis.

5. Organisasi pelaksanaan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam organisasi pelaksanaan
adalah siapa pelaksananya, apa kegiatannya, bagimana susunan personalianya, apa perlengkapan
nya, dari mana sumber dananya, dan siapa penanggungjawab nya.

6. Kondisi masyarakat setempat. Dalam menyusun rencana pembelajaran perlu
dipertimbangkan kondisi masyarakat setempat. Harus dihindari rencana yang muluk-muluk
karena dapat menimbulkan ketidaksesuaian dengan kondisi masyarakat setempat.

7. Memanfaatkan langsung. Isi program pendidikan harus berhubungan atau sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.

8. Struktur organisasi. Struktur organisasi diupayakan sesederhana mungkin, perlu dihindari
organisasi yang rumit dan berbelit-belit.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pendidikan, antara lain:

1. Penemuan yang telah ada sebelumnya.
2. Perlunya penelitian keadaan lokasi.
3. Perkiraan kebutuhan.
4. Penyusunan skala prioritas.

5. Penyusunan tujuan dan strategi.
6. Rancangan implementasi.
7. Penetapan waktu pelaksanaan.
8. Penilaian.
B. Perencanaa Partisipatif

Dalam perkembangannya pendidikan orang dewasa saat ini lebih banyak menggunakan
metode partisipatif, dimana semua pihak yang terkait dalam pendidikan dilibatkan dalam proses
pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya.

1. Prinsip Perencaan Partisipatif

Prinsip perencanaan partisipatif adalah sebagai berikut (Pidarta, 1988).

a. Hubungan dengan masyarakat. Antara lembaga pendidikan dan masyarakat perlu ada
hubungan yang harmonis, saling kerjasama, saling memberi, dan saling menerima.

b. Partisipan. Pihak yang layak diikutsertakan dalam perencanaan pendidikan harus memenuhi
syarat sebagai berikut.

1) Tertarik akan masalah-masalah pendidikan.
2) Mau belajar dari ahli perencanaan pendidikan.
3) Memiliki kemampuan intelektual sebagai perencanaan.
4) Paham masalah pendidikan.
5) Merupakan anggota kelompok yang dapat bekerja efektif.
c. Teknik kerja kelompok. Tiga teknik kerja kelompok yang dianjurkan: (1) pertemuan
kelompok, (2) proses kelompok nominal, (3) teknik Delphi.

d. Ramalan dan pembuatan program. Ramalan (forcasting) mempunyai arti: (1) ramalan yang
terbatas, yakni perkiraan yang akan terjadi di organisasi pendidikan atau dalam masyarakat
lingkungan lembaga pendidikan, dan (2) ramalan yang lebih luas, yakni perkiraan kegiatan atau
program organisasinya sesuai dengan hasil ramalan terhadap lingkungannya.

e. Pengambilan keputusan. Dalam hal ini yang berwenang mengambil keputusan adalah
manajer tertinggi, tim manajer, atau pejabat lain yang ditunjuk.

2. Prosedur Perencaan Partisipatif

Prosedur Perencaan partisipatif menurut Pidarta (1988) sebagai berikut:

a. Menentukan kebutuhan atas dasar antisipasi terhadap perubahan lingkungan
b. Melakukan ramalan dan menetukan program, tujuan, misi perencanaan prioritas.

c. Menspesifikasi tujuan.
d. Menentukan standar performansi.
e. Menentukan alat/metode/alternatif pemecahan.
f. Melakukan implementasi dan menilai.
g. Mengadakan review.
C. Peristiwa Pengajaran

Dalam perndidikan orang dewasa, terdapat proses belajar mengajar diantara peserta didik
dan pendidikannya. Dari sudut pandang pendidik, proses itu disebut dengan peristiwa
pengajaran. Menurut Gangerti & Briggs (1974) peristiwa pengajaran adalah dirancang untuk
membuat peserta didik bergerak dari “dimana ia berada” pada saat awal pengajaran menuju
pencapaian kemampuan yang telah ditetapkan dalam tujuan khusus pengajaran.
Fungsi peristiwa pengajaran sebagai berikut.

1. Memperoleh perhatian peserta didik.
2. Memberitahu tujuan khusus pengajaran kepada peserta didik.
3. Membantu peserta didik mengingat kembali pengetahuan yang telah dimiliki.
4. Menyajikan materi pelajaran.
5. Memberi bimbingan belajar.
6. Memperoleh performansi.
7. Memberi umpan balik tentang perbaikan performansi (jika performansi peserta didik salah).
8. Menilai performansi peserta didik.
9. Meningkatkan retensi dan transfer.
D. Rancangan Pengajaran
1. Identifikasi Tujuan Umum Pengajaran

Menurut Winecoff (1988), tujuan umum pengajaran mewakilkan tingkat umum
pembelajaran peserta didik yang diharapkan dan sering mencakup ketiga ranah dan dimensi
akademik serta keterampilan. Tujuan umum adalah target yang masih bersifat umum yang
ditujukan oleh pengajaran dan pembelajaran. Tujuan ini memberi arah, tetapi rumusannya tidak
dapat diukur dan tidak dinyatakan dalam istilah performansi.
2. Melakukan Analisis Pengajaran

Analisis pengajaran biasanya dilakukan dengan membuat diagram. Prosedur analisis
pengajaran terdiri atas dua langkah, yakni (1) mengklarifikasi tujuan umum kedalam domain
pengajaran, dan (2) menentukan langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan umum tersebut.

3. Identifikasi Tingkah Laku Dasar dan Ciri-Ciri Peserta Didik

Identitas peserta didik dapat dijelaskan dalam dua hal, yakni ciri umum dan tingkah laku
dasar. Tingkah laku yang dimaksud adalah keterampilan khusus yang harus di peragakan oleh
setiap peserta didik pada saat awal kegiatan pengajaran, dan harus dirumuskan sebagai sub
keterampilan dalam analisis pengajaran. Sebaliknya, Ciri-ciri umum meliputi aspek yang lebih
luas. Ciri umum yang penting adalah kemampuan intelektual.

4. Merumuskan Tujuan Performansi

Tujuan performansi peserta didik ini sebenarnya merupakan penjabaran dari tujuan umum
pengajaran yang telah di tetapkan sebelumnya. Tujuan performansi terdiri atas tiga ranah
(kawasan), yakni (a) ranah kognitif, (b) ranah afektif, (c) ranah psikomotor.

5. Mengembangkan Butir-butir Tes Acuan Patokan

Tes acuan patokan adalah untuk mengukur hasil belajar peserta didik. Tanpa tes ini, rencana
pengajaran yang telah disusun tidak akan banyak manfaatnya, karena tidak dapat mengetahui
hasil belajar peserta didik. Membagi tes acuan patokan menjadi empat jenis tes, sebagai berikut.

a. Tes masuk (entry behavior test). Item tes masuk ini harus sesuai dengan keterampilan yang
harus dimiliki peserta didik untuk memulai proses belajar.
b. Tes awal (pretest). Item tes ini mengukur keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang akan
diajarkan.
c. Tes kemajuan (embedded test). Item tes ini memberikan informasi kepada pendidik atau
pembimbing tentang apakah peserta didik mampu mempergunakan keterampilan baru atau tidak.
d. Tes akhir (post test). Tes ini harus menilai tujuan khusus keterampilan, pengetahuan yang
diperoleh peserta didik.
6. Mengembangkan Strategi Pengajaran

Strategi pengajaran adalah rencana dan gara-gara membawakan pengajaran agar semua
prinsip dasar dapat terlaksana dan semua tujuan pengajaran dapat di capai (Gulo, 2002).

Terdapat lima komponen utama dalam strategi pengajaran berikut ini.

a. Aktivitas prapengajaran (pendahuluan)
b. Pengajian informasi
c. Partisipasi peserta didik
d. Testing
e. Lanjutan
7. Mengembangkan dan Memilih Materi Pengajaran

Dalam mengembangkan dan memilih materi pengajaran perlu diperhatikan komponen yang
terdapat dalam setiap satuan acara pengajaran. Komponen tersebut menurut Hartatik antara lain:

(1) petunjuk pengajaran, (2) materi pengajaran, (3) tes, dan (4) petunjuk bagi pendidik atau
pembimbing.

Berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengembangan materi pengajaran, yakni
(1) lingkungan pengajaran, (2) tingkat penguasaan pendidik atau pembimbing, (3) materi yang
tersedia, (4) ruang lingkup pengajaran, (5) perorangan atau kelompok, (6) Ciri-ciri dan besar
kelompok sasaran, dan (7) personal, fasilitas, dan aparat.

8. Merancang dan Melakukan Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif adalah suatu proses untuk memperoleh data yang digunakan untuk
meyakinkan bahwa materi pengajaran efisien dan efektif. Evaluasi formatif ini terfokus pada
pengumpulan data sehingga data tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki dan membuat
seefektif mungkin materi pengajaran. Evaluasi formatif dapat dilaksanakan dengan tiga langkah,
yakni (1) evaluasi perorangan atau evaluasi klinik, (2) evaluasi kelompok kecil, dan (3) evaluasi
lapangan.

9. Merevisi Materi Pengajaran

Tabel yang paling baik untuk mengerjakan revisi awal, dan tes akhir dari setiap peserta
didik yang terlibat dalam evaluasi formatif kelompok kecil. Nilai tersebut dapat berbentuk
persentase jumlah objektif yang tercapai dibanding dengan jumlah total objektif yang telah
ditetapkan.

10. Merancang dan Melakukan Evaluasi Sumatif

Evaluasi sumatif adalah suatu proses evaluasi versi final satuan acara pengajaran,
pengumpulan data untuk menentukan efisiensi dan efektivitas satuan acara pengajaran itu.

Penilaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) persiapkan instrumen evaluasi
yang akan digunakan untuk mengidentifikasi keberhasilan peserta didik; (2) catat nilai dari
semua peserta didik dan simpulkan; (3) dengan menggunakan metode identifikasi value yang
telah di pilih sebelumnya, nilai diubah menjadi value (penjelasan kualitas, misalnya baik,
sedang, kurang, jelek).

BAB VI

PENDAMPINGAN DALAM PENDIDIKAN ORANG DEWASA

A. Fungsi Pendidik

Pendidik merupakan tenaga propesional yang berfungsi untuk merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan
pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Memerhatikan bahwa
belajar bagi orang dewasa akan menghasilkan perubahan perilaku, baik dalam hal pengetahuan,
keterampilan maupun sikap, maka fungsi pendidik (pembimbing) dapat dikatakan sebagai: (1)
penyebar pengetahuan; (2) pelatih keterampilan; dan (3) perancang pengalaman belajar kreatif
(Lunandi,1981).

Dilihata berdasar fungsinya tersebut, pendidik orang dewasa memiliki beberapa sebutan,
antara lain tutor, fasilitator, pelancar belajar, sumber belajar. Istilah tutor digunakan dalam
pelaksanaan pembelajaran masyarakatyang menggunakan metode permainan simulasi, istilah
fasilitator dipakai dalam program KEJAR, sedangkan istilah sumber belajar dipakai oleh Roger
(1963) (Soedomo, 1989).

Jika disimpulkan maka fungsi pendidik antara lain:

1. Penyebar pengetahuan;

2. Pelatih keterampilan;

3. Perancang pengalaman belajar;

4. Pelancar proses belajar;

5. Sumber belajar;

6. Pemimpin kegiatan belajar;

7. Penjelas tujuan belajar;

8. Tutor simulasi;

9. Fasilitator KEJAR

Sebagai pendidik, guru harus memenuhi standar kualitas pribadi tertentu, antara lain :

a. Penuh rasa tanggung jawab

b. Berwibawa

c. Dewasa dan mandiri

d. Kedisiplinan

e. Berdedikasi dalam melaksanakan pekerjaan gurusebagai panggilan

II. SIKAP PENDIDIK

Sikap Pendidik dalam menghadapi persoalan baik dalam menghadapi anak didik, teman-
teman sesama guru, dan sekolah itu sendiri akan dilihat, diamati dan dinilai oleh peserta didik.

Cara guru berpakaian, berbicara, berjalan dan bergaul juga merupakan penampilan
kepribadian yang lain, yang mempunyai pengaruh terhadap peserta didik. Termasuk pula dalam
masalahan kepribadian guru itu, sikap dan pandangan terhadap fungsinya bagi peserta didik.
Apakah ia sebagai pemimpin, menyuruh, memerintah dan mengendalikan? Sedangkan peserta
didik adalah yang dipimpin harus patuh menurut dan menerima. Ataukah ia sebagai pembimbing
yang mengerti dan menyiapkan suasana bagi peserta didik, ia hidup dan ikut aktif dalam
kegiatannya.

Berikut adalah beberapa sikap yang harus dimiliki oleh seorang guru:

1. Tegas Berwibawa

Sikap tegas dan berwibawa sangat dibutuhkan seorang guru. Guru adalah seorang pendidik,
tidak hanya sebagai penyampai materi saja. Guru juga menjadikan peserta didik pintar dan harus
berkepribadian baik. Dalam bersikap pun guru harus tegas karena jika tidak, akan disepelekan oleh
peserta didiknya. Wibawa itu penting agar guru dihormati siswa, sehingga apa yang disampaikan
tidak disepelekan.

2. Memberi Contoh dengan Tindakan

Seorang guru mengajar dengan metode ceramah saja tidaklah cukup. Baik itu dalam
menyampaikan materi atau mendidik perilaku peserta didik. Kalau ceramah saja akan sulit diingat,
bagaimana mungkin sesuatu yang hendak ditanamkan akan membekas dan mempengaruhi
kehidupannya nanti.

3. Percaya diri

Dalam menyampaikan ilmu, seorang guru harus dapat meyakinkan anak didiknya. Jika
seorang guru menyampaikan materi dengan penuh percaya diri, maka peserta didik akan percaya
diri pula, mengikuti gurunya.

4. Konsisten

Konsisten adalah sikap yang dituntut untuk tidak berubah-ubah atau plin plan. Guru yang
selalu berubah-ubah dalam membuat aturan akan mengurangi rasa hormat para peserta didiknya.
Apabila seorang guru akan menerapkan disiplin positif, guru hendaknya menerapkan aturan yang
sudah dibuat dan memberlakukan konsekuensi negatif bagi yang melanggarnya.

5. Memahami Kejiwaan Peserta Didik

Seorang guru ibarat seorang dokter, mengobati jiwa anak didiknya, membentuk akhlak yang
baik. Untuk itu dibutuhkan pendidik yang mengerti akan sifat dasar jiwa manusia, kelemahan dan
cara mengobatinya.

Ki Hajar Dewantara merumuskan seorang pendidik itu hendak mempunyai kepribadian: di
depan menjadi teladan, di tengah membangun karsa, dan di belakang memberi dorongan.
Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong
belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

III. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP DAN FUNGSI PENDIDIK

Menurut Lippit (Lunandi, 1982), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi sikap
pendidik, antara lain :

1) Karakteristik Program Pendidikan

Tujuan dan Rancangan Pendidikan. Jika tujuannya akan mneyampaikan pengetahuan baru,
fungsi pendidik lebih sebagai penceramah, sedangkan jika tujuannya ingin peningkatakn
efektivitas kerja sama dalam organisasi, fungsi pembimbing lebih kepada konsultan.

Lama Pendidikan. Bagi program pendidikan yang pendek (misalnya satu atau dua hari),
pendidik harus dapat merangsang atau mengarahkan proses belajar peserta didik dengan
menciptakan pengalaman belajar yang tepat, seperti penggunaan alat peraga, uraian tertulis, dan
metode latihan atau ceramah. Pada program yang lebih lama (misalnya satu atau dua minggu),
pendidik dapat menggunakan metode yang memerlukan analisis mendalam seperti permainan
peran, diskusi kelompok, atau studi kasus.

Harapan Penyelenggara. Pendidikan orang dewasa dapat diselenggarakan oleh berbagai
organisasi, seperti instansi pemerintah atau swasta, perusahaan, kelompok profesi, kelompk sosial,
kelompok agama, dan lain-lain yang mempunyai harapan dan tujuannya sendiri. Harapan dan
tujuan dari lembaga penyelenggara ini harus diperhatikan sehingga pendidik dapat menentukan
gaya, fungsi , dan sikapnya dalam proses belajar mengajar.

2) Karakteristik peserta didik

Komposisi Peserta Didik. komposisi peserta didik, seperti status, umur, latar belakang, jenis
kelamin, tingkat pendidikan, cara belajar, dan lain-lain juga mempengaruhi sikap pendidik.
Semuanya harus diperhatikan sehingga pendidik dapat mengambil sikap yang tepat. Contoh,
menghadapi peserta didik yang mempunyai status sosial yang tinggi, lebih tua umurnya, lebih
rendah tingkat pendidikannya, lebih lambat belajarnya, atau lebih pendiam sifatnya, pendidik
harus lebih sabar.

Harapan Peserta Didik. orang dewasa yang ikut serta dalam program pendidikan biasanya
datang harapan tertentu. Peserta didik biasanya berharap dapat meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan lain-lain. Pendidik sebaiknya mengetahui apa yang menjadi harapan
peserta didik. harapan peserta didik kadang-kadang terlalu tinggi sehingga kurang proporsional.
Oleh karena itu, pendidik perlu mendudukkan harapan itu sesuai dengan kewajaran dan
melaksanakannya kepada peserta didik.
3) Karakteristik Pendidik

Profesi Pendidik. Pendidik sebagai pribadi mempunyai latar belakang, profesi, hobi,
pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan tertentu. Hal itu semua akan menentukan sikap
sebagai pendidik. Sebagai contoh, seorang guru sekolah dasar ang mengajar pendidikan orang
dewasa perlu waktu lama untuk mengubah sikap dan gaya guru sekolah dasarnya. Seorang sarjana
psikologi klinik akan memfokuskan perhatiannya pada proses belajar individual, sedangkan
sarjana psikologi sosial akan memfokuskan perhatiannya pada proses belajar kelompok. Dengan
mempelajari metode dan prinsip pendidikan orang dewasa, pendidik akan mampu mengubah gaya
dan fokus perhatiannya.

Keadaan Pendidik. Keadaan pendidik seperti kecapaian, kekhawatiran, kemarahan dan
kebingungan akan dapat mempengaruhi aktivitas dalam memberikan didikan (bimbingan). Oleh
karena itu, perlu dihindari mendidik (membimbing) kelompok belajar langsung setiba dari
perjalanan. Di samping itu, diperlukan kemampuan untuk melupakan persoalan di luar kelas yang
mengganggu pikirannya selama mendidik (membimbing).

BAB VII

EVALUASI PENDIDIKAN ORANG DEWASA


Click to View FlipBook Version