The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by waskithoasmaraadi, 2022-03-14 02:19:27

MODUL EVALUASI BK

MODUL EVALUASI BK

Modul Evaluasi Program BK

c. Pertumbuhan akan terhenti setelah tercapai kematangan
d. Digunakan untuk perubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek

psikis atau rohani dan aspek social
e. Memiliki tempo dan irama sehingga perkembangannya kadang

cepat kadang lambat
6. Komponen layanan bimbingan dan konseling komprehensif terdiri dari

empat elemen dasar, kecuali …
a. Layanan perencanaan program
b. Layanan dasar
c. Layanan responsive
d. Layanan perencanaan individual
e. Dukungan sistem
7. Pengembangan materi tugas-tugas perkembangan menjadi tanggung
jawab guru BK dalam bentuk …
a. Catatan anekdot dan observasi
b. Observasi, survey, wawancara
c. Panduan layanan bimbingan klasikal
d. Penelitian
e. Buku paket, modul, brosur, booklet, poster
8. Komponen dukungan sistem meliputi beberapa kegiatan yakni:
a. Dukungan stake holder, pembiayaan dan pemenuhan sarana

prasarana.
b. Adanya team work yang kuat, profesional dan berkompeten.
c. Penelitian tindakan bimbingan dan konseling, bibliokonseling dan

pembimbingan.
d. Pengembangan jejaring (networking), kegiatan manajemen, riset dan

pengembangan.
e. Kesempatan pengembangan diri dan melanjutkan studi.
9. Komponen layanan dasar dalam layanan bimbingan dan konseling
komprehensif memiliki tujuan untuk …

38

Modul Evaluasi Program BK

a. Membantu konseli memperoleh perkembangan yang normal,
memiliki mental yang sehat, memperoleh keterampilan dasar
hidupnya dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.

b. Membantu konselor dalam menyusun program bimbingan dan
konseling agar sesuai dengan aturan yang berlaku.

c. Memberikan layanan bimbingan dan konseling secara merata
kepada seluruh peserta didik.

d. Mengoptimalkan peran guru BK dalam melaksanakan layanan
bimbingan dan konseling.

e. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik dalam
menerima layanan bimbingan dan konseling.

10. Bantuan kepada konseli agar mampu merumuskan dan melakukan
aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan
pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman
akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya disebut …
a. Konseling individu
b. Konsultasi
c. Diskusi
d. Bimbingan individu
e. Perencanaan individual

H. Umpan Balik
Cocokan jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif yang berada
diakhir dalam pokok bahasan ini. Tes sebaiknya dikerjakan tidak lebih dari
20 menit. Setelah dikerjakan lalu hitunglah perolehan skor dengan rumus
dibawah ini:
Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban benar x 100 %
Jumlah soal
Keterangan:
90% - 100% : baik sekali
80% - 89% : baik

39

Modul Evaluasi Program BK

70% - 79% : cukup
60% - 69% : sedang
< 59% : kurang

I. Tindak Lanjut
Apabila Anda telah mencapai tingkat penguasaan lebih dari 80% keatas,
maka Anda dapat meneruskan dengan mempelajari materi kegiatan belajar
pada bab selanjutnya. Tetapi jika tingkat penguasaan Anda belum mencapai
80%, maka Anda harus mengulangi mempelajari materi kegiatan belajar bab
tersebut terutama pada bagian yang anda belum kuasai.
Kunci Jawaban

Nomor Kunci Nomor Kunci
Soal Jawaban Soal Jawaban
1. 6.
B A

2. A 7. E

3. D 8. D

4. C 9. E

5. D 10. B

40

Bab 3

Modul Evaluasi Program BK

A. Deskripsi Isi Bab
Evaluasi program bimbingan dan konseling merupakan segala upaya atau
tindakan yang dilakukan konselor untuk mengukur, menilai, dan mengambil
keputusan terhadap keberhasilan program bimbingan dan konseling yang
dilakukan. Kegiatan evaluasi program dilakukan melalui pengumpulan data,
pengolahan serta analisa program BK melalui serangkaian prosedur yang
mengacu pada kriteria tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki program.
Oleh karena itu, dalam penyelenggaraan evaluasi program bimbingan dan
konseling perlu diperhatikan prinsip-prinsip dasar serta tahapan-tahapan
agar mendapatkan hasil yang efektif.

B. Indikator Capaian Kompetensi
1. Guru BK mampu mengkonsepkan pentingnya evaluasi program
bimbingan dan konseling di sekolah.
2. Guru BK dapat menyimpulkan tujuan diselenggarakannya evaluasi
bimbingan dan konseling di sekolah.
3. Guru BK mampu memerinci prinsip-prinsip dasar evaluasi program
bimbingan dan konseling.
4. Guru BK dapat memerinci langkah-langkah evaluasi program bimbingan
dan konseling.

C. Petunjuk Penggunaan Modul
Modul ini disusun untuk dapat dipergunakan sebagai acuan dalam
mempelajari materi tentang evaluai bimbingan dan konseling. Anda perlu
membaca secara keseluruhan pokok materi agar memberikan gambaran
mengenai evaluasi bimbingan dan konseling secara utuh. Di dalam modul ini
juga ada pembahasan tentang pengenalan evaluasi bimbingan dan konseling
serta langkah-langkah melaksanakannya. Pada bagian akhir pembahasan,
disajikan lembar evaluasi sebagai media latihan mengukur kemampuan
menguasai materi serta disajikan umpan balik dan tindak lanjut.

41

Modul Evaluasi Program BK

EVALUASI
PROGRAM BK

1.1 Definisi Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling
Stuffelebeam (2003) et.al menyatakan,

evaluation is process of delineating, obtaining,
and providing useful information for judging
decision alternatives. Evaluasi adalah proses
menggambarkan, memperoleh, dan memberikan
informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan. Pandangan
Stuffelebeam ini memberikan pengertian bahwa pengukuran dan penilaian
dalam evaluasi dapat dilakukan untuk mencari dan memperoleh informasi
dalam membuat keputusan.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Widoyoko (2012: 4) yang
menyatakan evaluasi sebagai suatu proses menyediakan informasi yang
dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa,
tujuan yang dicapai, desain, implementasi, dan dampak untuk membantu
membuat keputusan, membantu pertanggungjawaban dan meningkatkan
pemahaman terhadap fenomena. Sedangkan, Djaali dan Muljono (2004: 1)
berpendapat bahwa evaluasi adalah proses penilaian sesuatu berdasarkan
kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang diteruskan dengan
pengambilan keputusan atas objek yang dievaluasi.

Berkaitan dengan evaluasi program, Briekerhoff et-al (1983: 2)
mendefinisikan evaluasi program sebagai suatu proses menemukan
sejauhmana tujuan dan sasaran program atau proyek telah terealisasi,

42

Modul Evaluasi Program BK

memberikan informasi untuk pengambilan keputusan, membandingkan
kinerja dengan standar atau patokan untuk mengetahui adanya kesenjangan,
penilaian harga dan kualitas serta penyelidikan sistematis tentang nilai atau
kualitas suatu objek. Pandangan lain disampaiakan oleh Tyler dalam
Arikunto dan Jabar (2009: 5) mendefinisikan evaluasi program sebagai
proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan telah terealisasikan.
Selanjutnya, Cronbach dan Stufflebeam (dalam Arikunto dan Jabar, 2009:
5), menyatakan bahwa evaluasi program adalah upaya menyediakan
informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disintesiskan bahwa
evaluasi merupakan sebuah proses tindakan untuk mengumpulkan,
mendapatkan, memperoleh informasi tentang realisasi atau implementasi
dari suatu kebijakan berupa deskriptif kualitatif maupun kuantitatif, yang
terkait dengan suatu program dalam suatu organisasi yang telah ditetapkan
sebelumnya, dengan mempertimbangkan kebutuhan biaya, serta melibatkan
peran sekelompok orang guna pengambilan keputusan serta stake holder
yang terkait, dalam upaya menentukan penilaian dan hasil dari rangkaian
kegiatan yang telah disusun sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil
keputusan, guna mencapai tujuan demi kelangsungan program selanjutnya.

Pada dasarnya, evaluasi program bimbingan dan konseling dapat
membantu konselor untuk menentukan layanan-layanan mana yang
memberi dampak positif kepada para peserta didik dan mengidentifikasi
hambatan-hambatan yang menggangu kesuksesan peserta didik. Serta
menuntun konselor dalam merancang program layanan bimbingan dan
konseling yang efektif bagi peserta didiknya.

Dalam kaitan dengan upaya perbaikan program, evaluasi program
merupakan langkah awal dalam perencanaan, maksudnya perencanaan
untuk perbaikan program harus dimulai sejak kegiatan evaluasi. Atas dasar
itulah maka model evaluasi diawali dengan needs assessment, sebagai

43

Modul Evaluasi Program BK

komponen pertama. Fakta dan data empiris yang diperoleh dari hasil
analisis needs assessment dapat dijadikan masukan substantif yang berharga
untuk sebagai dasar dalam penyusunan program bimbingan dan konseling
pada tahun berikutnya (Sumarno, dkk, 2002; dan Rahman, 2014).

Penjelasan di atas dapat dimaknai bahwa evaluasi program bimbingan
dan konseling merupakan serangkaian kegiatan atau tindakan yang
dilakukan oleh konselor untuk mengetahui tingkat keberhasilan program
yang dilakukan dengan cara mengukur, menilai, dan mengambil keputusan
terhadap program bimbingan dan konseling yang dilakukan, melalui
pengumpulan data, pengolahan serta analisa program bimbingan dan
konseling melalui langkah-langkah prosedur yang mengacu pada kriteria
tertentu yang bertujuan sebagai upaya dalam memperbaiki program.

Salahudin (2010: 220-221) mengungkapkan ada dua macam aspek
kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan, yaitu penilaian proses dan
penilaian hasil. Penilaian proses dimaksudkan untuk mengetahui sejauh
mana keefektifan layanan bimbingan dilihat dari aspek prosesnya.
Sedangkan penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi
keefektifan layanan bimbingan dilihat dari aspek hasilnya. Beberapa aspek
yang dinilai, baik penilaian proses maupun penilaian hasil diantaranya:
a) kesesuaian antara program dan pelaksanaan, b) keterlaksanaan program,
c) hambatan-hambatan yang dijumpai, d) dampak layanan bimbingan
terhadap kegiatan belajar mengajar, e) respon peserta didik, personil
sekolah, orang tua, dan masyarakat terhadap layanan bimbingan dan f)
perubahan kemajuan peserta didik dilihat dari pencapaian tujuan layanan
bimbingan, pencapaian tugas perkembangan-perkembangan dan hasil
belajar, dan keberhasilan peserta didik setelah menamatkan sekolah, baik
pada studi lanjutan maupun pada kehidupan di masyarakat.

44

Modul Evaluasi Program BK

1.2 Tujuan Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling
Menurut Ermis (2010: 234), pelaksanaan evaluasi program bimbingan

dan konseling secara umum bertujuan untuk: a) mengetahui kemajuan
evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling dan b) mengetahui
tingkat efisiensi dan efektifitas strategi pelaksanaan program bimbingan dan
konseling yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu.

Sedangkan menurut Tohirin (2013: 185) secara khusus
penyelenggaraan evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan konseling
bertujuan untuk:
1. Mengetahui apakah layanan bimbingan dan

konseling sudah diberikan atau belum kepada
peserta didik di sekolah.
2. Mengetahui efektivitas dan efisiensi layanan
yang diberikan apakah telah memenuhi kebutuhan-kebutuhan semua
individu di sekolah dan di luar sekolah.
3. Mengetahui sejauhmana kontribusi atau sumbangan program bimbingan
dan konseling terhadap program pendidikan secara keseluruhan.
4. Mengetahui sejauhmana program yang digunakan berjalan secara efektif
dalam mencapai tujuan bimbingan.
5. Mengetahui aspek-aspek lainnya yang dapat dimasukkan dalam program
bimbingan untuk perbaikan layanan yang diberikan.
6. Membantu kepala sekolah, guru-guru, guru pembimbing atau konselor
dalam memahami dan memenuhi kebutuhan tiap-tiap peserta didik.
7. Mengetahui bagian manakah dari program bimbingan yang perlu
dilakukan perbaikan-perbaikan.
8. Mendorong semua personil bimbingan dalam mengembangkan program
bimbingan.
9. Menunjukkan sejauhmana sumber-sumber lainnya dimasukkan dalam
program bimbingan dan konseling yang telah diperbaiki.

45

Modul Evaluasi Program BK

Pandangan yang hampir sama juga disampaikan oleh Salahudin (2010:

219-220) bahwa secara umum pelaksanaan evaluasi program bimbingan

dan konseling bertujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui kemajuan program bimbingan dan konseling atau
subjek yang telah memanfaatkan layanan bimbingan dan
konseling.

2. Mengetahui tingkat efisiensi dan efektivitas strategi
pelaksanaan program bimbingan dan konseling yang telah
dilaksanakan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

3. Secara operasional, penyelenggaraan evaluasi pelaksanaan
program bimbingan dan konseling ditujukan untuk:
a) Meneliti secara berkala hasil pelaksanaan program
bimbingan dan konseling.
b) Mengetahui tingkat efisien dan efektivitas layanan
bimbingan dan konseling.
c) Mengetahui jenis layanan yang sudah atau belum
dilaksanakan atau perlu diadakan perbaikan dan
pengembangan.
d) Mengetahui sampai sejauh mana keterlibatan semua pihak
dalam usaha menunjang keberhasilan pelaksanaan
program bimbingan dan konseling.
e) Memperoleh gambaran sampai sejauh mana peranan
masyarakat terhadap pelaksanaan program bimbingan dan
konseling.

Sukardi (2008: 219) menjelaskan tentang tujuan evaluasi program

bimbingan dan konseling di sekolah, sebagai berikut: 1) untuk membantu

pengembangan kurikulum sekolah agar sesuai dengan kebutuhan peserta

didik, 2) membantu guru-guru dalam memperbaiki cara mengajar di kelas,

dan 3) memungkinkan program bimbingan dan konseling berfungsi lebih.

Paparan tujuan evaluasi di Sekolah tersebut menunjukan betapa kegiatan

evaluasi mampu mendorong performa guru BK dan program BK

berkembang menjadi lebih baik.

Beberapa pandangan yang telah diuraikan makin menguatkan bahwa

tujuan dari evaluasi program bimbingan dan konseling adalah untuk

mengetahui tingkat keterlaksanaan kegiatan dan ketercapaian tujuan dari

46

Modul Evaluasi Program BK

program yang telah ditetapkan, dengan cara menelaah program pelayanan
BK yang telah dan sedang dilaksanakan yang hasilnya dapat menjadi dasar
bagi guru BK untuk mengembangkan dan memperbaiki program BK di
sekolah bersangkutan. Dengan demikian, pelaksanaan evaluasi program
bimbingan dan konseling di sekolah dapat berguna dalam: 1) membantu
menumbuhkembangkan kurikulum sekolah ke arah kesesuaian dan
kebutuhan peserta didik; 2) membantu guru-guru memperbaiki cara
mengajar di kelas; dan 3) memungkinkan program bimbingan dan
konseling berfungsi lebih efektif.

Berdasarkan beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa
tujuan dari dilaksanakannya evaluasi program bimbingan dan konseling
adalah untuk mengetahui sejauh mana program bimbingan dan konseling
memberikan kontribusi bagi konseli yang telah mengikuti kegiatan
bimbingan, serta untuk mengetahui efektifitas program bimbingan dan
konseling yang sudah dilaksanakan. Pada bagian lain, tujuan evaluasi
program yakni untuk melakukan pengkajian dalam memperbaiki strategi
dan metode yang dianggap kurang relevan untuk kemudian menggantinya
dengan strategi dan metode yang lebih efektif dan efisien sehingga
pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dapat
terselenggara dengan optimal.
1.3 Hambatan-Hambatan dalam Evaluasi Program Bimbingan dan

Konseling
Pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling tidak dapat
berjalan sebagaimana mestinya. Mashudi (2015: 41-42) mengungkapkan
bahwa beberapa hambatan-hambatan yang muncul berkaitan dengan
evaluasi program bimbingan dan konseling di sekolah yaitu:
1. Pelaksaanaan bimbingan di sekolah tidak mempunyai waktu yang
cukup memadai untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan program
bimbingan dan konseling.

47

Modul Evaluasi Program BK

2. Pelaksana bimbingan dan konseling memiliki latar belakang
Pendidikan yang bervariasi, baik ditinjau dari segi jenjang maupun
program, sehingga kemampuanya dalam mengevaluasi pelaksanaan
program BK pun sangat bervariasi, termasuk dalam menyusun,
membakukan dan mengembangkan instrumen evaluasi.

3. Belum tersedianya alat-alat atau instrumen evaluasi pelaksanaan
program bimbingan dan konseling di sekolah yang valid, reliabel dan
objektif.

4. Belum diselenggarakanya penataran, pendidikan atau pelatihan khusus
yang berkaitan tentang evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan
konseling pada umumnya, penyususnan dan pengembangan instrumen
evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.

5. Penyelenggara evaluasi membutuhkan banyak waktu dan uang. Oleh
karena itu untuk mulai mengadakan evaluasi diperlukan biaya yang
cukup mahal dan banyak.

6. Belum adanya guru, konselor atau ahli instrumen BK yang ahli dalam
bidang evaluasi pelaksanaan program BK di sekolah. Sampai saat ini,
kebanyakan ahli yang terlibat dalam bidang ini adalah dari guru,
konselor, konselor yang sudah tentu konsep kerjanya dan tidak
berorientasi pada kepentingan sekolah.

7. Sampai saat ini, belum ada perumusan kriteria keberhasilan evaluasi
pelaksanaan bimbingan yang tegas dan baku.
Di samping itu Winkel dan Hastuti (2004) mengemukakan beberapa

hambatan yang mengakibatkan evaluasi program bimbingan dan konseling
kurang terlaksana yaitu:
1. Guru bimbingan dan konseling kurang mempunyai waktu untuk

melaksanakan evaluasi program bimbingan dan konseling.

48

Modul Evaluasi Program BK

2. Guru bimbingan dan konseling menganggap dirinya kurang
berkompeten untuk melakukan evaluasi program bimbingan dan
konseling.

3. Perubahan prilaku yang terjadi sulit untuk diukur dengan menggunakan
alat yang tersedia sampai sekarang.

4. Dana yang dialokasikan hanya cukup untuk melakukan kegiatan
bimbingan sedangkan evaluasi membutuhkan biaya sendiri.

5. Data untuk melakukan evaluasi tidak lengkap.
6. Guru bimbingan dan konseling sulit menentukan kriteria dalam

melaksanakan evaluasi program bimbingan dan konseling.
7. Guru bimbingan dan konseling menganggap dirinya orang lapangan

bukan ahli riset.
1.4 Prinsip Dasar Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling

Menurut Badrujaman (2011: 20), ada tujuh prinsip dalam evaluasi
program Bimbingan Konseling yaitu meliputi: 1) Evaluasi yang selektif
yang membutuhkan pengenalan atas tujuan-tujuan program; 2) Evaluasi
yang efektif membutuhkan kriteria pengukuran yang valid; 3) Evaluasi
yang efektif tergantung pada pelaksanaan pengukuran yang valid terhadap
kriteria; 4) Program evaluasi harus melibatkan semua yang berpengaruh; 5)
Evaluasi yang bermakna membutuhkan umpan balik; 6) Evaluasi harus
direncanakan dan terus menerus dilakukan agar bisa mencapai tujuan yang
diinginkan dan 7) Evaluasi menekankan pada kepositifan.

Secara umum, prinsip-prinsip evaluasi program dirangkum oleh
Cronbach dan Paton sebagaimana dikutip Arikunto dan Jabar (2009:78)
sebagai berikut:
1. Evaluasi program adalah suatu seni. Tidak ada satupun saran untuk

rancangan yang paling tepat bagi kegiatan evaluasi, tetapi untuk
evaluasi program sebaiknya tidak menggunakan rancangan eksperimen.

49

Modul Evaluasi Program BK

2. Evaluator program tidak memiliki wewenang untuk memutuskan hasil
program, tetapi sekedar memberikan bantuan data atau informasi
kepada pengambil keputusan.

3. Tidak seorang pun di antara evaluator program berhak memberikan
pertimbangan kepada pengambil keputusan. Evaluasi program adalah
tanggung jawab sebuah tim.

4. Jika wilayah dari program yang dievaluasi luas, evaluator secara
individual tidak berhak beranggapan bahwa dirinya memiliki hak atas
bagian, tetapi seluruh tim memiliki hak yang sama atas semua bagian.

5. Rancangan evaluasi program bukan sesuatu yang sifatnya kaku dan
statis, melainkan merupakan sesuatu yang berproses yaitu fleksibel,
dapat dimodifikasi dan diperbaiki selama dalam proses kegiatan.

6. Sebuah program bukan hanya perlakuan tunggal tetapi juga jamak
maksudnya suatu program memiliki banyak dimensi. Misalnya
program pembelajaran maka memiliki dimensi-dimensi jamak yang
dapat dievaluasi dari aspek pendidik, aspek peserta didik, aspek
materi/kurikulum, aspek media/sumber dan sebagainya.

7. Aspek sikap dan keterampilan sebaiknya tidak dihindari dalam proses
pengumpulan data, perlu adanya keseimbangan antara data aspek
pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kelemahan umum yang ada
dalam evaluasi adalah bahwa data yang dikumpulkan hanya kognitif
atau dominan pada kognitif.

8. Mengevaluasi program sebaiknya tidak hanya memusatkan sasaran
perhatian pada hasil atau dampak saja, tetapi semua gejala proses
pelaksanaan perlu ditelusuri.
Berdasarkan pendapat pakar di atas, dalam penyelenggaraan evaluasi

program bimbingan dan konseling perlu diperhatikan prinsip-prinsip dasar
agar mendapatkan hasil yang efektif. Memahami tujuan awal penyusunan
program merupakan fondasi utama dalam melakukan evaluasi program

50

Modul Evaluasi Program BK

bimbingan dan konseling. Lebih daripada itu, membuat kriteria pengukuran
yang jelas dengan melibatkan unsur-unsur terkait akan mendapatkan umpan
balik dalam kegiatan tindak lanjut dari evaluasi program yang telah
dilaksanakan. Dengan demikian, evaluasi program bimbingan dan
konseling hendaknya dilakukan secara terencana dan berkesinambungan,
bukan kegiatan yang bersifat insidental melainkan kegiatan yang sistematis
dan berkesinambungan.
1.5 Langkah-Langkah Evaluasi Program Bimbingan Konseling

Menurut Supriatna (2011: 83) dalam melaksanakan evaluasi program,
ada beberapa hal yang harus ditempuh yaitu sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan. Pertanyaan ini

menyangkut dengan yang dievaluasi yaitu: tingkat keterlaksanaan
program (aspek proses), tingkat ketercapaian tujuan program (hasil).
2. Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data. Untuk
memperoleh data yang diperlukan yaitu mengenai tingkat
keterlaksanaan dan ketercapaian program, konselor harus menyusun
instrumen yang relevan dengan kedua aspek tersebut, diantaranya
angket, pedoman wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.
3. Mengumpulkan analisis data. Setelah diperoleh, data harus dianalisis
yaitu telaah apa saja yang telah dan belum dilaksanakan, serta tujuan
mana saja yang telah dan belum tercapai.
4. Melakukan tindak lanjut (follow up). Berdasarkan temuan yang
diperoleh, dapat dilakukan kegiatan tindak lanjut. Kegiatan ini meliputi
dua kegiatan yaitu: memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang
tepat atau relevan dengan tujuan yang ingin dicapai dan
mengembangkan program dengan cara mengubah atau menambah
beberapa hal yang dipandang perlu untuk meningkatkan efektivitas atau
kualitas program.

51

Modul Evaluasi Program BK

Langkah 1 Langkah 2 Langkah 3 Langkah 4

•Merumuskan •Menyusun •Menganalisis •Tindak lanjut
masalah instrumen data

Gambar 7. Langkah-Langkah Evaluasi Program BK

Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan
evaluasi program bimbingan dan konseling ada tahapan-tahapan yang
seyogyanya dilakukan. Diawali dengan merumuskan masalah, evaluasi
program diharapkan dapat berhasil dan sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai. Tahap selanjutnya adalah menyusun instrumen evaluasi program
yang akan dipakai evaluator dan disertai dengan cara atau metode yang
tepat guna dalam pelaksanaanya. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisa
guna mengetahui pencapaian program yang telah disusun. Langkah terakhir
adalah melakukan tindak lanjut dengan memperbaiki hal-hal yang
dipandang kurang serta mengembangkan program lanjutan.

Dalam pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling,
setidaknya ada tiga fase kegiatan yang dapat dilaksanakan:
1. Fase Pelaksanaan Kegiatan Evaluasi

Pada fase ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh evaluator (guru
BK) berupa:
a. Persiapan pelaksanaan kegiataan evaluasi bimbingan dan

konseling.
b. Melaksanakan kegiatan evaluasi sesuai dengan jadual yang telah

ditetapkan.
2. Fase mengolah dan menganalisis hasil evaluasi

Dalam fase analisis atau pengelolaan data hasil evaluasi ini dilakukan
mengacu pada jenis datanya. Langkah-langkah yang dapat
dilaksanakan yakni:

52

Modul Evaluasi Program BK

a. Tabulasi data
b. Analisis hasil pengumpulan data melalui statistik atau non statistik.
3. Fase penafsiran (interpretasi) dan pelaporan hasil evaluasi
Pada fase ini dilakukan kegiatan membandingkan hasil analisa data,
dengan kriteria penilaian keberhasilan dan kemudian diinterpretasikan
dengan memakai kode-kode tertentu, untuk kemudian dilaporkan serta
digunakan dalam rangka perbaikan program pelayanan bimbingan dan
konseling.
1.6 Model-Model Evaluasi Program
Menurut Kaufman dan Thomas dalam Arikunto dan Jabar (2009:5),
terdapat delapan model evaluasi untuk melakukan suatu evaluasi program
yaitu:
1. Goal Oriented Evaluation Model
Model evaluasi program ini dikembangkan oleh Tyler. Goal oriented
evaluation model merupakan model yang pertama kali diperkenalkan.
Objek evaluasi dari model ini adalah tujuan dari program yang telah
ditetapkan jauh sebelum program dilaksanakan. Metode evaluasi
program ini diselenggarakan secara berkesinambungan, terus-menerus,
guna mengetahui seberapa jauh tujuan tersebut tercapai.
2. Goal Free Evaluation Model
Dijelaskan oleh Michael Scriven, dalam melakukan evaluasi program,
tujuan program tidak perlu diperhatikan oleh evaluator. Fokus perhatian
dalam evaluasi program adalah mekanisme kerja sebuah program,
melalui pengidentifikasian penampilan-penampilan yang terjadi, yang
meliputi hal-hal positif maupun negatif.
3. Formatif Summatif Evaluation Model
Evaluasi program fomatif dikembangkan oleh Michael Scriven. Model
ini merupakan evaluasi yang dilaksanakan pada saat berlangsungnya
program tersebut. Evaluasi program formatif bertujuan untuk

53

Modul Evaluasi Program BK

mengetahui seberapa jauh program yang telah direncanakan dapat
berlangsung.
4. Countenance Evaluation Model
Evaluasi program model ini dikembangkan oleh Stake. Model evaluasi
ini memberikan penekanan pada pelaksanaan dua hal pokok, yaitu (1)
deskripsi (description) dan (2) pertimbangan (judgment). Di satu sisi
juga membedakan adanya tiga tahap dalam evaluasi program, yaitu (1)
anteseden (antecedents/context), (2) traksaksi (transaction/process) dan
(3) keluaran (output – outcomes).
5. Responsive Evaluation Model
Evaluasi program responsif juga dikembangkan oleh Stake. Model
evaluasi ini merupakan model evaluasi yang bersifat kualitatif.
Pendekatannya dilakukan dengan fleksibel, mampu menerima
pandangan dari beragam perspektif yang berbeda. Evaluasi ini bersifat
informal dan terkadang mempertaruhkan idealisme dalam
pengukurannya.
6. CSE-UCLA Evaluation Model
CSE merupakan singkatan dari Center for the Study of Evaluation,
sedangkan UCLA merupakan singkatan dari University in Los Angeles.
Ciri dari model CSE-UCLA adalah terdapatnya lima tahap yang
dilaksanakan dari evaluasi yakni perencanaan, pengembangan,
implementasi, hasil dan dampak.
7. CIPP Evaluation Model
CIPP Evaluation Model dikembangkan oleh Stufflebeam. CIPP
merupakan sebuah singkatan dari: Context Evaluation (evaluasi terhadap
konteks); Input Evaluation (evaluasi terhadap masukan); Process
Evaluation (evaluasi terhadap proses) dan Product Evaluation (evaluasi
terhadap hasil).

54

Modul Evaluasi Program BK

8. Discrepancy Model
Discrepancy Model dikembangkan oleh Provus. Secara harfiah
discrepancy dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi
“kesenjangan”. Model evaluasi ini memberikan penekanan terhadap
pandangan adanya kesenjangan dalam suatu pelaksanaan program.
Evaluator akan mengukur besarnya kesenjangan yang ada di setiap
komponen dalam melakukan evaluasi program.
Selain model evaluasi program yang dijelaskan di atas, ada model

evaluasi yang dikembangkan oleh Kirkpatrick. Model ini dikenal dengan
istilah “Kirpatrick Four Levels Evaluation Model” (Ananda dan Rafida,
2017: 49). Model Kirkpatrick mengevaluasi program pelatihan. Evaluasi
program terhadap efektivitas program pelatihan menurut Kirpatrick
mencakup empat level evaluasi yakni: (a) Level 1: reaction; (b) Level 2:
learning; (c) Level 3: behavior; dan (d) Level 4: result. Kirkpatrick juga
menjelaskan bahwa untuk memperoleh gambaran yang komprehensif
terkait dengan evaluasi program pelatihan maka minimal harus terdapat tiga
komponen yang dijadikan objek evaluasi yakni: (1) desain program
pelatihan, (2) implementasi program pelatihan, dan (3) hasil yang akan
dicapai. Dan model lain adalah Gysberg dan Henderson Evaluation Model
yang akan di bahas pada bab IV modul ini.
D. Rangkuman

Evaluasi merupakan sebuah proses tindakan untuk mengumpulkan,
mendapatkan, memperoleh informasi tentang realisasi atau implementasi
dari suatu kebijakan berupa deskriptif kualitatif maupun kuantitatif.
Kegiatan evaluasi dilaksanakan dengan mempertimbangkan kebutuhan
biaya, serta melibatkan peran sekelompok orang guna pengambilan
keputusan serta stake holder yang terkait.

Tujuan diselenggarakannya evaluasi program bimbingan dan konseling
adalah untuk mengetahui sejauh mana program bimbingan dan konseling

55

Modul Evaluasi Program BK

memberikan kontribusi bagi konseli yang telah mengikuti kegiatan
bimbingan, serta untuk mengetahui efektifitas program bimbingan dan
konseling yang sudah dilaksanakan. Pada bagian lain, tujuan evaluasi
program yakni untuk melakukan pengkajian dalam memperbaiki strategi
dan metode yang dianggap kurang relevan untuk kemudian menggantinya
dengan strategi dan metode yang lebih efektif dan efisien.

Dalam penyelenggaraan evaluasi program bimbingan dan konseling
perlu diperhatikan prinsip-prinsip dasar agar mendapatkan hasil yang
efektif. Memahami tujuan awal penyusunan program merupakan fondasi
utama dalam melakukan evaluasi program bimbingan dan konseling. Lebih
daripada itu, membuat kriteria pengukuran yang jelas dengan melibatkan
unsur-unsur terkait akan mendapatkan umpan balik dalam kegiatan tindak
lanjut dari evaluasi program yang telah dilaksanakan.

Pelaksanaan evaluasi program bimbingan dan konseling diawali
dengan merumuskan masalah, evaluasi program diharapkan dapat berhasil
dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tahap selanjutnya adalah
menyusun instrumen evaluasi program yang akan dipakai evaluator dan
disertai dengan cara atau metode yang tepat guna dalam pelaksanaanya.
Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisa guna mengetahui pencapaian
program yang telah disusun. Langkah terakhir adalah melakukan tindak
lanjut dengan memperbaiki hal-hal yang dipandang kurang serta
mengembangkan program lanjutan.

Terdapat beberapa model evaluasi program yang dapat dipakai. Ada
model Goal Oriented Evaluation Model, Goal Free Evaluation Model,
Formatif Summatif Evaluation Model, Countenance Evaluation Model,
Responsive Evaluation Model, CSE-UCLA Evaluation Model, CIPP
Evaluation Model dan Discrepancy Model. Selain itu juga masih ada model
evaluasi lain seperti Kirpatrick Four Levels Evaluation Model dan juga
Gysberg dan Henderson Evaluation Model.

56

Modul Evaluasi Program BK

E. Daftar Pustaka
Ananda, Rusydi. & Rafida, Tien. (2017). Pengantar Evaluasi Program
Pendidikan. Medan: Perdana Publishing.
Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safruddin Abdul Jabar. (2009). Evaluasi
Program Pendidikan: Pedoman Teoretis Praktis bagi Mahapeserta
didik dan Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Badrujaman, Aip. (2011). Teori dan Aplikasi Program Bimbingan dan
Konseling. Jakarta: PT Indeks.
Brinkerhoff, R.O., Brethower, D.M., Hluchyj, T., et al. (1983). Program
Evaluation: A Practitioner’s Guide for Trainers and Educators.
Boston: Kluwer Nijhoft Publishing.
Djaali dan Muljono, Pudji. (2004). Pengukuran dalam Bidang Pendidikan.
Jakarta: Grasindo.
Ermis, Suryana. (2010). Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Palembang:
Grafika Telindo Press.
Mashudi, Farid. (2015). Pedoman Lengkap Evaluasi & Supervisi Bimbingan
Konseling. Yogyakarta: Diva Press.
Rahman, Fathur. (2014). Modul Ajar Pengembangan dan Evaluasi Program
BK. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Salahudin, Anas. (2010). Bimbingan dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia.
Stufflebeam, D.L. (2003). The CIPP Model For Evaluation, The Article
Presented At The 2003 Annual Conference Of The Oregon Program
Evaluators Network. Diambil pada tanggal 25 Juni 2019, dari
http://www.wmich.edu/evalctr/cippmodel.
Sukardi, Ketut Dewa. (2008). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan
Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Sumarno, dkk. (2002). Pengembangan Model Akreditasi Sekolah tingkat
SLTP dan SMU. Jurnal Kependidikan, 2:23, 249-268.

57

Modul Evaluasi Program BK

Supriatna, Mamat. (2011). Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi.
Jakarta: Rajawali Pers.

Tohirin. (2013). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah.
Jakarta: PT.Grafindo Persada.

Widoyoko, Eko Putro. (2012). Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Winkel, W.S. dan Sri Hastuti. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

58

Modul Evaluasi Program BK

F. Lembar Kerja
Untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman Anda tentang penguasaan
materi evaluasi program bimbingan dan konseling, maka susunlah satu peta
konsep (mind mapping) topik yang di bahas pada bab ini!

G. Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat!
1. Evaluasi bimbingan dan konseling memiliki tujuan khusus, kecuali …
a. Meneliti secara berkala hasil program yang telah di capai.
b. Memperoleh informasi tentang tingkat efektivitas dan efisiensi
program.
c. Mengetahui kepedulian partisipan terhadap program.
d. Memperoleh informasi yang cermat dan memadai.
e. Membantu mengembangkan kurikulum.
2. Laporan hasil evaluasi program bimbingan dan konseling disusun dalam
rangka …
a. Memenuhi tugas dan tanggung jawab kerja.
b. Pertanggungjawaban tugas yang diberikan.
c. Menilai keberhasilan peserta didik.
d. Mengetahui keberhasilan layanan yang diberikan guru pembimbing.
e. Mengetahui ketercapaian tugas perkembangan
3. Salah satu tujuan dilaksanakannya evaluasi program bimbingan dan
konseling dimaksudkan untuk …
a. Mengetahui sejauhmana derajat keberhasilan pelayanan.
b. Memperoleh umpan balik terhadap keefektifan program.
c. Memperbaiki dan menetapkan langkah-langkah lebih lanjut.
d. Memperbaiki dan mengembangkan program selanjutnya.
e. Mendorong terciptanya program yang akuntabel.

59

Modul Evaluasi Program BK

4. Secara operasional yang bukan tujuan diselenggarakannya evaluasi
program bimbingan dan konseling adalah …
a. Meneliti secara berkala hasil pelaksanaan program bimbingan dan
konseling.
b. Menjawab tuntutan kerja sebagai bagian dari upaya penigkatan
profesionalisme.
c. Mengetahui tingkat efisien dan efektivitas layanan bimbingan dan
konseling.
d. Mengetahui jenis layanan yang sudah atau belum dilaksanakan atau
perlu diadakan perbaikan dan pengembangan.
e. Mengetahui sampai sejauh mana keterlibatan semua pihak dalam
usaha menunjang keberhasilan pelaksanaan program bimbingan dan
konseling.

5. (a) Evaluasi yang selektif membutuhkan pengenalan tujuan-tujuan
program.
(b) Evaluasi program dikerjakan apabila dibutuhkan.
(c) Evaluasi yang efektif membutuhkan kriteria pengukuran yang valid.
(d) Program evaluasi harus melibatkan semua yang berpengaruh.
(e) Evaluasi yang bermakna membutuhkan umpan balik.
(f) Evaluasi menekankan pada kepositifan.
Beberapa prinsip-prinsip dalam evaluasi program bimbingan dan
konseling kecuali …
a. (a), (c), (d)
b. (a), (c), (e)
c. (c), (d), (e)
d. (a), (b), (d)
e. (c), (e), (f)

6. Sebuah evaluasi program memiliki makna bukan hanya perlakuan
tunggal tetapi juga jamak, yakni …

60

Modul Evaluasi Program BK

a. Program terdiri atas berbagai komponen dan disusun berdasarkan
kebutuhan.

b. Penyusunan program tidak dapat dilakukan secara individu tetapi
harus melibatkan pihak-pihak terkait.

c. Program disusun agar dapat dipergunakan oleh semua stake holder
yang ada.

d. Evaluasi program harus dilaksakan pada akhir waktu yang telah
diprogramkan sejak awal penyusunan.

e. Suatu program memiliki banyak dimensi yang dapat dievaluasi dari
aspek pendidik, aspek peserta didik, aspek materi/kurikulum, aspek
media/sumber dan sebagainya.

7. (1) Mengumpulkan analisis data.
(2) Mengembangkan atau menyusun instrumen pengumpul data.
(3) Merumuskan masalah atau beberapa pertanyaan.
(4) Melakukan tindak lanjut (follow up).
Dalam melaksanakan evaluasi program, langkah-langkah yang harus
ditempuh adalah …
a. (3), (2), (1), (4)
b. (1), (3), (2), (4)
c. (2), (3), (1), (4)
d. (4), (2), (3), (1)
e. (1), (2), (3), (4)

8. Pengumpualn data dalam evaluasi program dapat digali melalui
penggunaan instrumen, kecuali …
a. Angket
b. Software aplikasi evaluasi
c. Pedoman wawancara
d. Pedoman observasi
e. Studi dokumentasi

61

Modul Evaluasi Program BK

9. Memperbaiki hal-hal yang dipandang lemah, kurang tepat atau relevan

dengan tujuan yang ingin dicapai dan mengembangkan program dengan

cara mengubah atau menambah beberapa hal yang dipandang perlu
untuk meningkatkan efektivitas atau kualitas program disebut sebagai …

a. Evaluasi program

b. Revisi program

c. Tindak lanjut

d. Efektifitas

e. Pengembangan program

10. Hasil analisis evaluasi program bimbingan dan konseling digunakan
kecuali untuk …

a. Sebagai bahan pertimbangan untuk pemberian layanan kepada

peserta didik dan pengembangan program selanjutnya.

b. Menilai kemampuan peserta didik.

c. Memperkirakan keberhasilan upaya khusus pengentasan masalah.

d. Upaya dalam mengembangkan program selanjutnya agar makin

berkualitas.

e. Bahan pertimbangan dalam peningkatan kemampuan guru BK.

H. Umpan Balik

Cocokan jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif yang berada

diakhir dalam pokok bahasan ini. Tes sebaiknya dikerjakan tidak lebih dari

20 menit. Setelah dikerjakan lalu hitunglah perolehan skor dengan rumus

dibawah ini:

Tingkat penguasaan = Jumlah jawaban benar x 100%
Jumlah soal

Keterangan:

90% - 100% : baik sekali

80% - 89% : baik

70% - 79% : cukup

62

Modul Evaluasi Program BK

60% - 69% : sedang

< 59% : kurang

I. Tindak Lanjut

Apabila Anda telah mencapai tingkat penguasan lebih dari 80% keatas, maka

Anda dapat meneruskan dengan mempelajari materi kegiatan belajar pada

bab selanjutnya. Tetapi jika tingkat penguasaan Anda belum mencapai 80%,

maka Anda harus mengulangi mempelajari materi kegiatan belajar bab

tersebut terutama pada bagian yang anda belum kuasai.

Kunci Jawaban

Nomor Kunci Nomor Kunci
Soal Jawaban Soal Jawaban
1. 6.
C E
7.
2. B A
8.
3. A B
9.
4. B C
10.
5. D B

63

Bab 4

Modul Evaluasi Program BK

A. Deskripsi Isi Bab
Model evaluasi program Gysberg dan Henderson merupakan prosedur yang
digunakan untuk menentukan atau menggambarkan sejauh mana program
bimbingan dan konseling yang dilaksanakan dapat berfungsi dengan baik.
Dalam melakukan evaluasi program Model Gysberg dan Henderson perlu
disusun instrumen guna mengetahui keterlaksanaan pelaksanaan program
BK di suatu sekolah. Penyusunan instrumen tersebut selalu diawali dengan
penyusunan kisi-kisi. Kemudian pengembangan kisi-kisi instrumen evaluasi
program terdapat tiga istilah yang berkaitan yaitu variabel, indikator dan
kriteria.

B. Indikator Capaian Kompetensi
1. Guru BK mampu menyimpulkan konsep evaluasi program bimbingan
dan konseling model Gysbers dan Henderson.
2. Guru BK dapat menganalisis teknik-teknik dalam melaksanakan
evaluasi program bimbingan dan konseling.
3. Guru BK mampu menyusun menyusun instrumen evaluasi program
bimbingan dan konseling.
4. Guru BK dapat melaksanakan kegiatan evaluasi program bimbingan dan
konseling.

C. Petunjuk Penggunaan Modul
Modul ini disusun untuk dapat dipergunakan sebagai acuan dalam
mempelajari materi tentang model evaluai program Gysberg dan Henderson.
Untuk menguasi modul ini, Anda perlu membaca secara keseluruhan pokok
materi agar memberikan gambaran mengenai evaluasi program Gysberg dan
Henderson secara utuh. Di dalam modul ini juga ada pembahasan tentang
teknik evaluasi program Gysberg dan Henderson serta langkah-langkah
menyusun kisi-kisi instrumen dan instrumen evaluasi program Gysberg dan
Henderson yang bisa dipergunakan. Pada bagian akhir pembahasan, disajikan
lembar evaluasi serta disajikan umpan balik dan tindak lanjut.

64

Modul Evaluasi Program BK

Evaluasi Teknik Instrumen Pelaporan
Program BK Evaluasi Evaluasi Evaluasi
Program BK Program BK Program BK
Model Model Model
Gysbers dan Gysbers dan Gysbers dan
Henderson Henderson Henderson

1.1 Evaluasi Program BK Model Gysbers dan Henderson
Evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan

dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan suatu program. Kegiatan
ini biasanya dilakukan untuk kepentingan pengambil kebijakaan dalam
menentukan kebijakan selanjutnya. Melalui evaluasi program, langkah
evaluasi bukan hanya dilakukan dengan sekedarnya saja tetapi sitematis,
rinci, dan menggunakan prosedur yang sudah diuji secara cermat. Dengan
menggunakan metode-metode tertentu maka akan diperoleh data yang
handal dan dapat dipercaya. Penentuan kebijakan akan tepat apabila data
yang digunakan sebagai dasar pertimbangan tersebut benar, akurat, dan
lengkap (Arikunto, 2004; Rahman, 2014).

Model evaluasi program ada beberapa macam. Dalam ilmu bimbingan
dan konseling, salah satu model evaluasi yang sering digunakan adalah
model evaluasi program Gysbers dan Henderson. Hasil pemikiran Gysbers
dan Henderson merupakan pemikiran yang sering digunakan sebagai dasar
pengembangan program BK. Pemikiran mereka diikuti karena hasil
pemikirannya ditulis dengan lengkap dari dasar pengadaan program, cara
pelaksanaan dan cara melakukan evaluasi (Yuwono dan Asni, 2017: 55).

Model evaluasi Gysbers dan Henderson menekankan pada tiga aspek
evaluasi yaitu evaluasi personil, evaluasi proses dan evaluasi hasil. Yuwono
dan Asni (2017: 55-56) menjelaskan bahwa evaluasi model Gysbers dan
Henderson dibagi berdasarkan tujuan. Evaluasi personil tujuannya untuk
mengevaluasi konselor sekolah. Evaluasi ini apabila diamati lebih jauh
dapat dikatakan sebagai evaluasi pada aspek input. Evaluasi program yang

65

Modul Evaluasi Program BK

dilakukan untuk melihat kesesuaian program dengan standar program yang
ditetapkan. Evaluasi program disebut juga evaluasi proses. Evaluasi hasil
berisi mengenai dampak dari kegiatan dan layanan program yang diberikan
kepada peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Evaluasi ini dengan kata
lain merupakan evaluasi dampak.

Evaluasi personil adalah prosedur yang sering digunakan untuk menilai
efektivitas pekerjaan dari seorang konselor sekolah yang bekerja dalam
kerangka bimbingan dan konseling komprehensif. Penilaian dibuat
mengenai keefektifan konselor sekolah dengan menggunakan standar
performansi personel dan kriteria-kriteria standar.

Standar performansi personel adalah ukuran-ukuran yang diakui
tingkatan perbandingannya yang digunakan dalam penilaian hasil pekerjaan
di lingkup sekolah dalam sebuah program yang komprehensif. Seperti
apakah standar performansi personel, kriteria-kriteria dan deskriptor, untuk
menggambarkannya di bawah ini ada sebuah contoh standar dengan 2
kriteria dan beberapa deskriptor diambil dari pedoman untuk performaansi
berdasarkan dari evaluasi konselor sekolah professional. Konselor sekolah
professional melaksanakan komponen kurikulum bimbingan melalui
kegunaan dari keterampilan-keterampilan instruktional yang efektif dan
perencanan struktur yang teliti dan seksama.

Kriteria pertama, konselor sekolah yang professional mengajar unit-
unit bimbingan secara efektif dengan cara: (1) mengorganisasikan unit-unit
bimbingan untuk penguaasaan peserta didik berdasarkan pada kebutuhan
peserta didik, (2) menggunakan strategi instruktional yang strategis, dan (3)
menciptakan lingkungan yang kondusif untuk proses belajar peserta didik
menggunakan teknik manajemen kelas yang efektif.

Sedangkan kriteria yang kedua, konselor sekolah professional
mendorong keterlibatan staf sekolah untuk memastikan keefektifan
implementasi dari kurikulum Bimbingan dengan cara: (1) kolaborasi

66

Modul Evaluasi Program BK

dengan atau membantu guru-guru lain dalam mengembangkan dan atau
mengajar unit bimbingan secara efektif, (2) bertindak sebagai sumber daya
untuk bahan-bahan bimbingan yang sesuai dengan unit-unit bimbingan
yang diberikan, dan (3) menyediakan jasa layanan pelatihan untuk para
guru yang ada hubungannya dengan materi-materi bimbingan dan
metodologi instruksi bimbingan.

Evaluasi program adalah prosedur yang digunakan untuk menentukan
tingkatan dari sebuah program bimbingan dan konseling di sekolah apakah
telah berfungsi sesuai dengan posisinya dan berfungsi secara semestinya.
Penilaian dibuat berdasarkan standar-standar dan kriteria-kriteria evaluasi
program yang secara langsung di buat dari kerangka bimbingan dan
konseling komprehensif. Untuk setiap standar dan kriteria yang di buat
harus mewakili sebuah program bimbingan dan konseling yang
komprehensif.

Evaluasi hasil adalah prosedur yang digunakan untuk menjawab
pertanyaan, apa dampak dari program bimbingan dan konseling yang
menyeluruh baik aktivitas dan layanannya terhadap kesuksesan peserta
didik terutama pada prestasi akademik mereka. Kegiatan ini
direkomendasikan untuk konselor sekolah dalam mengembangkan dan
menyelesaikan sebuah evaluasi berdasarkan hasil sebagai bagian dari
keseluruhan implementasi program bimbingan dan konseling.

Sebuah rencana evaluasi hasil dapat difokuskan pada aktivitas atau
layanan bimbingann dan konseling yang spesifik. Dalam merancang
rencana evaluasi hasil terdapat beberapa tipe data yang dapat dipergunakan,
yakni:
1. Data proses, yakni data yang menggambarkan bagaimana aktivitas dan

layanan bimbingan dan konseling telah dilaksanakan. Data proses
memberikan bukti bahwa aktivitas dan layanan bimbingan dan
konseling telah benar-benar diselenggarakan.

67

Modul Evaluasi Program BK

2. Data persepsi, yakni data tentang dampak yang dirasakan pada peserta
didik, orangtua, guru dan staf administrasi dari layanan bimbingan dan
konseling.

3. Data hasil, yakni tingkah laku yang nyata dari para peserta didik yang
dapat diukur dari rata-rata kehadiran masalah disiplin, rata-rata skor
tes, dan lainnya. Data ini sangat bermanfaat untuk memastikan dampak
dari program bimbingan dan konseling komprehensif terhadap tingkah
laku peserta didik.
Gysbers (2008) menjelaskan bahwa evaluasi program merupakan

prosedur yang digunakan untuk menentukan atau menggambarkan sejauh
mana program bimbingan dan konseling dilaksanakan dan berfungsi dengan
baik oleh konselor. Penilaian/evaluasi program dapat digunakan sebagai
prosedur penelitian diri untuk mengetahui bagaimana program saat ini
berfungsi sebelum melakukan perbaikan.

Selanjutnya Gysbers dan Henderson (2012) mengemukakan bahwa
para pemimpin dihadapkan pada tugas dan tantangan untuk menentukan
aktivitas dan pelayanan program bimbingan dan konseling yang
komprehensif. Konselor dapat mengembangkan instrumen evaluasi
program dan prosedur yang diperlukan yang dapat diadopsi, diadaptasi atau
dibuat baru untuk melakukan evaluasi program bimbingan dan konseling.
Kegiatan evaluasi ini dapat dilakukan bergantung pada tujuan yang dicapai.
Gysbers (2008) memaparkan bahwa kapan dan seberapa sering pelaksanaan
evaluasi program bergantung pada tujuan yang dicapai.

Namun demikian, untuk tujuan penelitian diri (self-study) ASCA
(dalam Gsybers, 2008) merekomendasikan bahwa evaluasi program
dilakukan ketika program didesain dan setahun setelah itu. Evaluasi
program layanan konseling juga bisa menyediakan sumber informasi yang
dibutuhkan untuk memverifikasi kekuatan program layanan konseling.
Konselor yang melaksanakan evaluasi program layanan bimbingan dan

68

Modul Evaluasi Program BK

konseling, akan membantu konselor dalam menginformasikan praktek dan
meningkatkan pelayanan konseling.

Evaluasi program merupakan alat yang berharga untuk konselor
sekolah karena dianggap sebagai jenis penelitian tindakan yang diarahkan
untuk memonitoring dan memperbaiki program/layanan. Evaluasi ini dapat
dilakukan pada skala yang lebih kecil, dapat direncanakan dan dilaksanakan
oleh praktisi, dan dapat digunakan untuk mengkomunikasikan dampak
program terhadap prestasi belajar peserta didik dan variabel lain yang
berkaitan. Evaluasi program merupakan prosedur yang digunakan untuk
menentukan atau menggambarkan sejauh mana program bimbingan dan
konseling direncanakan dengan baik oleh konselor.

Lebih daripada itu, evaluasi program dapat digunakan sebagai prosedur
penelitian diri untuk mengetahui bagaimana program yang disusun
memenuhi kaidah-kaidah penyusunan program bimbingan dan konseling
atau tidak, sudah baik atau belum dan sebagainya. Dengan demikian maka
cakupan penilaian program meliputi apakah program disusun berdasarkan
produk hukum, berdasar pada visi dan misi, bidang bimbingan (pribadi,
sosial, belajar, dan karir), berdasarkan kebutuhan, apakah ada tujuan, dan
sejumlah layanan yang diberikan oleh konselor yang meliputi layanan
dasar, layanan perencanaan individual, layanan responsif, dan dukungan
sistem.
1.2 Teknik Evaluasi Program BK Model Gysbers dan Henderson

Evaluasi program bimbingan dan konseling merupakan suatu proses
sistematis untuk mengumpulkan dan menganalisa informasi tentang
efisiensi, efektivitas, dan pengaruhnya terhadap program dan layanan
(Boulmetis & Dutwin, 2000; Coker, Astramovich & Hoskins, 2005).
Sedangkan menurut Gysberg dan Henderson (2004) evaluasi sebagai
komponen penting dari perkembangan program bimbingan dan konseling
dan meyakinkan akuntabilitas yang bertujuan untuk menentukan nilai dari

69

Modul Evaluasi Program BK

program, kegiatan, dan personel untuk membuat keputusan atau mengambil
tindakan di masa depan.

Evaluasi program layanan konseling juga bisa menyediakan sumber
informasi yang dibutuhkan untuk memverifikasi kekuatan program layanan
konseling. Guru pembimbing/Konselor yang melaksanakan evaluasi
program layanan bimbingan dan konseling, dapat memperoleh informasi
mengenai peningkatan pelayanan konseling yang dilaksanakannya.

1. Mengkaji 8. Rencana 9.
produk hukum operasional Pengembangan
yang berlaku
tema

2. Menyusun 7. Komponen 10.
visi dan misi program Pengembangan

RPL

3. Personil 6. Tujuan 11. Evaluasi

4. Bidang 5. Deskripsi 12. Biaya
pengembangan kebutuhan

Gambar 8. Perencanaan Evaluasi Program BK

Dalam perencanaan evaluasi program bimbingan dan konseling
sekurang-kurangnya mencakup beberapa hal pokok sebagai berikut:
1. Mengkaji produk hukum yang berlaku

Mengkaji produk hukum yang berlaku, adalah dalam penilaian
perencanaan program bimbingan dan konseling akan ditelusuri dasar
hukum penyelenggaraaan bimbingan dan konseling di sekolah. Dalam
hal ini dapat dianalisis produk hukum seperti peraturan pemerintah
dalam hal ini Depdikbud tentang pelaksanaan bimbingan dan
konseling, kurikulum bimbingan dan konseling dan aturan lain yang
digunakan dalam perencanaan program bimbingan dan konseling.

70

Modul Evaluasi Program BK

Berdasarkan telusuran tersebut dapat diketahui bahwa program
bimbingan dan konseling yang disusun bukan mengada-ada melainkan
merupakan program yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
2. Menyusun visi dan misi
Penyusunan visi dalam bimbingan dan konseling arah pandangan ke
depan apa yang diharapkan atau dicita-citakan atau yang ingin dicapai
oleh aktivitas program bimbingan dan konseling dalam kurun waktu
tertentu. Berdasarkan visi tersebut dikembangkan misi atau yang
merupakan penjabaran lebih operasional yang berupa serangkaian
aktivitas konselor/ guru pembimbing dalam pencegahan, pengentasan
dan pemecahan masalah. Terkait dengan visi dan misi tersebut maka
fokus dalam penilaian adalah untuk mengetahui apakah program
bimbingan dan konseling sudah berdasarkan pada visi dan misi
bimbingan dan konseling atau belum. Berdasarkan hasil penilaian
tersebut dapat disimpulkan apakah dalam perencanaan program
bimbingan dan konseling sudah sesuai dengan visi dan misi bimbingan
dan konseling yang telah ditetapkan atau belum.
3. Personil
Evaluasi personil adalah prosedur yang sering digunakan untuk menilai
efektivitas pekerjaan dari guru BK yang bekerja dalam kerangka
bimbingan dan konseling komprehensif. Penilaian dibuat mengenai
keefektifan guru BK dengan menggunakan standar performansi
personel dan kriteria-kriteria standar yang ditetapkan. Selain itu akan
dinilai juga dampak layanan kepada personil lain seperti peserta didik,
guru mapel dan pihak terkait lainnya.
4. Bidang pengembangan
Dalam perencanaan program bimbingan dan konseling hendaknya
memuat empat bidang pengembangan yaitu pribadi, sosial, akademik,

71

Modul Evaluasi Program BK

dan karir. Pengembangan keempat bidang tersebut diarahkan pada
pencapaian kompetensi yang sesuai dengan tugas perkembangan.
5. Deskripsi kebutuhan
Merupakan hasil identifikasi dari kebutuhan/masalah peserta didik dan
lingkungan. Untuk memperoleh informasi tentang kebutuhan peserta
didik dapat digunakan beberapa hasil instrument baik tes maupun non
tes. Sedangkan untuk mengetahui kebutuhan lingkungan (orang tua,
guru, kepala sekolah) digunakan wawancara, angket, dan/atau
observasi.
6. Tujuan
Pada aspek ini komponen-komponen yang akan diungkap adalah
apakah rumusan tujuan dalam program bimbingan dan konseling sudah
menggambarkan pencapaian ranah kognitif, afektif dan konatif. Ranah
kognitif terkait dengan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik.
Pada ranah afektif yaitu bagaimana sikap peserta didik setelah
mengikuti layanan bimbingan dan konseling di sekolah, dan ranah
konatif terkait dengan kemandirian peserta didik dalam
mengaktualisasikan diri baik dalam kehidupan di sekolah, keluarga dan
di masyarakat.
7. Komponen program
Pada aspek ini penilaian difokuskan apakah dalam perencanaan
program bimbingan dan konseling telah mencakup berbagai komponen
seperti layanan dasar, layanan responsif, layanan perencanaan
individual, dan layanan dukungan sistem. Apabila sudah mencakup
keempat komponen layanan tersebut berarti perencanaan sudah bagus.
8. Rencana operasional
Pada tahap ini penilaian difokuskan untuk mengetahui apakah rencana
opreasional telah dikembangkan berdasarkan hasil tugas perkembangan
dan sejumlah kompetensi yang harus dikuasai peserta didik. Demikian

72

Modul Evaluasi Program BK

pula dalam penilaian rencana operasional akan dilihat bagaimana
rencana dan agenda program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan
dan harian. Pada tahap ini penilaian difokuskan tentang materi, waktu
pemberian layanan, petugas, bentuk dan strategi layanan, teknik, dll.
9. Pengembangan tema
Fokus penilaian pengembangan tema adalah apakah tema yang
dikembangkan sudah berdasarkan pada analisis kebutuhan dan
kompetensi yang harus dicapai peserta didik atau belum. Mengapa
tahap ini penting dinilai karena dengan pengembangan tema yang
sesuai dengan kebutuhan peserta didik disamping sesuai dengan yang
diharapkan peserta didik juga mengacu pada sejumlah kompetensi yang
harus dicapai peserta didik.
10. Pengembangan RPL (Rencana Pelaksanaan Layanan)
Pengembangan RPL (Rencana Pelaksanaan Layanan) merupakan
bagian dari serangkaian program yang telah disusun. Terkait
pengembangan satuan layanan ini pertanyaan yang muncul adalah: (a)
siapa yang menjadi sasaran layanan, (b) siapa yang memberikan, (c)
pada kelas mana materi layanan diberikan, (d) kapan diberikan dan
dimana layanan diberikan, (e) apa yang menjadi tujuan layanan, (f)
teknik dan strategi termasuk media apa yang digunakan untuk
mencapai tujuan.
11. Evaluasi
Fokus evaluasi perencanaan program bimbingan dan konseling lebih
bersifat penilaian formatif yaitu penilaian yang bertujuan untuk
mendiagnosis berbagai kekurangan dalam perencanaan program BK.
Hasil diagnosis ditelaah secara cermat dan dianalisa untuk
mendapatkan sebuah kesimpulan. Sehingga hasilnya dipakai untuk
penyempurnaan perencanaan program yang akan dilaksanakan di
sekolah.

73

Modul Evaluasi Program BK

12. Biaya
Gysbers dan Henderson (2012) menyatakan bahwa biaya atau
keuangan meliputi anggaran, bahan/materi, perlengkapan dan fasilitas.
Komponen anggaran merupakan komponen penting dalam
pelaksanakan program bimbingan dan konseling. Hal ini dapat
dimaknai bahwa program bimbingan dan konseling akan terlaksana
dengan baik apabila mendapat bantuan biaya yang mencukupi. Sebaik
apapun program yang telah disusun tidak akan mampu mencapai tujuan
apabila tidak didukung oleh biaya yang cukup. Komponen
bahan/materi yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling
antara lain dapat berupa inventori, modul, buku-buku sumber, media
bimbinan dan lain-lain. Komponen perlengkapan dan fasilitas berupa
ruangan bimbingan kelompok, ruang konseling, ruang audiovisual dan
fasilitas lainnya.

1.3 Instrumen Evaluasi Program BK Model Gysbers dan Henderson
Dalam pengembangan instrumen evaluasi program terdapat tiga istilah

yang berkaitan yaitu variabel, indikator dan kriteria. Variabel merupakan
aspek atau masalah tertentu yang akan diteliti atau dinilai. Setiap variabel
dapat dikembangkan menjadi indikator-indikator dan deskriptor sehingga
dapat diukur dan menghasilkan data yang diinginkan.

Pengembangan indikator dan deskriptor berdasarkan teori-teori atau
konsep ilmiah tentang variabel tersebut atau menggunakan fakta empiris
berdasarkan pengamatan lapangan. Selanjutnya indikator dan deskriptor
dikembangkan menjadi instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur
variabel.

Penyusunan kisi-kisi instrumen evaluasi program bimbingan dan
konseling dapat disajikan sebagai berikut:

74

Modul Evaluasi Program BK

Tabel 2.

Kisi-Kisi Instrumen Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling

Variabel Indikator Kriteria

Evaluasi Program Mengkaji produk hukum Adanya kesesuaian

Bimbingan dan yang berlaku dengan pencapaian

Konseling kompetensi peserta

didik

Visi dan Misi Ada tidaknya visi dan

misi bimbingan

konseling

Personil Semua individu yang

terkait dalam

pelaksanaan program

Bidang pengembangan Adanya 4 bidang

bimbingan dan

konseling

Kebutuhan individu Adanya kesesuaian

antara tujuan dengan

permasalahan peserta

didik

Tujuan program Adanya kesesuaian

antara tujuan dengan

perkembangan peserta

didik

Komponen program Adanya kesesuaian

antara keempat layanan

Rencana operasional Adanya rencana

operasional yang jelas

Pengembangan tema Apakah pengembangan

tema berdasarkan

kebutuhan

Pengembangan RPL Ada tidaknya RPL

75

Modul Evaluasi Program BK

(Rencana Pelaksanaan (Rencana Pelaksanaan

Layanan) Layanan)

Evaluasi atau Rencana Ada evaluasi atau

Penilaian rencana penilaian

Biaya/Anggaran Ada tidaknya anggaran
kegiatan BK

Berdasarkan kisi-kisi di atas, maka dapat disusun instrumen evaluasi

program bimbingan dan konseling sebagai berikut:

Tabel 3.

Instrumen Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling

No. Aspek Program Skor
1. Mengkaji produk hukum yang berlaku

a. Berpijak pada kebijakan pendidikan nasional 1 2 3 4 5
5
dan sistem pendidikan nasional. 5

b. Menunjang pencapaian tujuan institusi 1 2 3 4 5
sekolah. 5
5
c. Mengacu pada hasil evaluasi 1 2 3 4
penyelenggaraan layanan BK sebelumnya.

2. Visi dan Misi

a. Berpijak pada visi dan misi sekolah. 12 3 4

b. Bersifat ideal dan secara realistis dapat 1 2 3 4

dicapai.

c. Sesuai dengan kekuatan dan kelemahan 1 2 3 4
sekolah.

3. Personil
a. Guru BK berlatar belakang pendidikan
Sarjana Bimbingan dan Konseling

b. Keterlibatan warga sekolah dalam
perencanaan program BK.

c. Tingkat partisipasi warga sekolah dalam
pelaksanaan program BK.

d. Tersedianya job disc personil guru BK.

76

Modul Evaluasi Program BK

4. Bidang pengembangan
a. Memuat empat bidang pengembangan yaitu 1 2 3 4 5
pribadi, sosial, akademik, dan karir.
b. Keseimbangan layanan antara pribadi, sosial, 1 2 3 4 5
belajar dan karir.
c. Mengarah pada pencapaian kompetensi yang 1 2 3 4 5
sesuai dengan tugas-tugas perkembangan
peserta didik.

5. Kebutuhan individu
a. Terdapat dokumen instrumen need 1 2 3 4 5
assessment baik tes maupun non tes.
b. Terdapat dokumen identifikasi kebutuhan dan 1 2 3 4 5
permasalahan peserta didik.
c. Menggambarkan kebutuhan layanan seluruh 1 2 3 4 5
peserta didik.
d. Mengarah pada pencapaian perkembangan 1 2 3 4 5
peserta didik secara optimal.

6. Tujuan program
a. Ketepatan perumusan tujuan program 1 2 3 4 5
bimbingan dan konseling.
b. Relevansi tujuan dengan kebutuhan peserta 1 2 3 4 5
didik.
c. Menggambarkan pencapaian ranah kognitif, 1 2 3 4 5
afektif dan konatif.

7. Komponen program
a. Perencanaan program bimbingan dan 1 2 3 4 5
konseling telah mencakup komponen
program secara komplit.
b. Kesesuaian antara komponen program secara 1 2 3 4 5
keseluruhan.

8. Rencana operasional

a. Rencana operasional telah dikembangkan 1 2 3 4 5

77

Modul Evaluasi Program BK

berdasarkan hasil tugas perkembangan dan
sejumlah kompetensi yang harus dikuasai
peserta didik.
b. Melaksanakan Program sesuai dengan 1 2 3 4 5
jadwal.
c. Terdapat program tahunan, semesteran, 1 2 3 4 5
bulanan, mingguan dan harian.
9. Pengembangan tema

a. Tema yang dikembangkan sudah berdasarkan 1 2 3 4 5

pada analisis kebutuhan dan kompetensi yang

harus dicapai peserta didik.

b. Relevan dengan tujuan dan bidang layanan. 1 2 3 4 5

c. Menggambarkan kekinian yang 1 2 3 4 5

memungkinkan diapresiasi peserta didik.

d. Ditunjang dengan perlengkapan dan media 1 2 3 4 5

yang memadai.

10. Pengembangan RPL (Rencana Pelaksanaan Layanan)

a. Pelaksanaan layanan bimbingan dan 1 2 3 4 5

konseling sesuai dengan perencanaan dalam

RPL BK.

b. Kelengkapan RPL BK (sumber 1 2 3 4 5

materi/referensi, dukungan alat bantu,

dukungan data/pemetaan kebutuhan konseli).

c. Orisinalitas dan kreativitas dalam melakukan 1 2 3 4 5

persiapan/menyusun RPL BK.

11. Evaluasi atau Rencana Penilaian

a. Evaluasi BK dilakukan terhadap program, 1 2 3 4 5

proses dan hasil layanan.

b. Memiliki kejelasan metode dan waktu 1 2 3 4 5

evaluasi.

c. Melibatkan personel yang memiliki keahlian 1 2 3 4 5

dan kewenangan.

78

Modul Evaluasi Program BK

d. Dijadikan sebagai bahan pengembangan 1 2 3 4 5
program BK selanjutnya.
5
12. Biaya/Anggaran 5
a. Kejelasan kebutuhan anggaran dan sumber 1 2 3 4
pembiayaannya.
b. Penyusunan anggaran disesuaikan dengan 1 2 3 4
kebutuhan program bimbingan dan konseling.

Analisis data hasil penggunaan instrumen evaluasi program bimbingan

dan konseling di atas menggunakan analisis data kuantitatif. Dalam

melakukan analisis data kuantitatif, guru BK melaksanakannya dengan

menghitung skor maksimal dan minimal dari instrumen evaluasi program

bimbingan dan konseling. Setelah skor maksimal dan minimal diketahui

maka langkah selanjutnya adalah menentukan norma atau kategori guna

mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian program bimbingan dan

konseling yang dilaksanakan.

Penentuan norma atau kategori didasarkan pada langkah-langkah

sebagai berikut:

1) Menentukan skor tertinggi dan terendah

Skor tertinggi = 5 x 38 = 190

Skor terendah = 1 x 38 = 38

2) Menentukan kategori

Skor tertinggi – Skor terendah = 190 – 38 = 38
44
Tabel 4.

Penetapan Norma Keberhasilan Evaluasi Program BK

No. Interval Kategori
1. 152 – 190 Sangat Baik
2. 114 – 151
3. 76 – 113 Baik
4. 38 – 75 Cukup
Kurang

79

Modul Evaluasi Program BK

1.4 Pelaporan Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling
Laporan evaluasi program bimbingan dan konseling merupakan

gambaran yang lengkap dari hasil evaluasi layanan yang telah dilaksanakan.
Kegiatan pelaporan disusun menggunakan desain rancangan, hasil dan
kesimpulan serta saran. Untuk itu, sebuah laporan evaluasi program
bimbingan dan konseling minimal berisi gambaran hasil evaluasi, desain
evaluasi yang digunakan, hasil evaluasi, kesimpulan dan rekomendasi.

Kegiatan laporan evaluasi program bimbingan dan konseling
merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh guru BK sebagai
rangkaian kegiatan utuh pembimbingan yakni merencanakan, melaksanakan
dan mengevaluasi. Laporan evaluasi program bimbingan dan konseling
selanjutnya disampaikan kepada kepala sekolah di satuan pendidikan
masing-masing.

Berikut bagian-bagian yang perlu disusun dalam laporan evaluasi
program bimbingan dan konseling:
1. Deskripsi Program

Bagian ini melaporkan secara rinci mengenai program bimbingan dan
konseling yang akan dievaluasi. Hal-hal yang hendak di evaluasi
dideskripsikan sebagai bentuk pembatasan supaya evaluasi program
yang dilakukan memiliki acuan yang jelas.
2. Rancangan Evaluasi Program
Tahap ini menjelaskan prosedur yang dilakukan dalam evaluasi program
bimbingan dan konseling. Dijelaskan juga instrumen evaluasi program
yang dipergunakan serta bagaimana cara menganalisasinya.
3. Hasil Evaluasi
Pada bagian ini disampaikan laporan dari hasil evaluasi program
bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan. Laporan tersebut
disusun secara lengkap dan terperinci.

80

Modul Evaluasi Program BK

4. Kesimpulan dan Saran
Sebagai bagian akhir disusun kesimpulan sebagai hasil dari kegiatan
evaluasi program bimbingan dan konseling yang telah dilaksanakan.
Dalam bagian ini juga disampaikan kelebihan dan kekurangan dari
program bimbingan dan konseling yang telah dievaluasi. Selanjutnya,
dari hasil tersebut disusun saran sebagai masukkan dalam menyusun
program bimbingan dan konseling pada tahun pelajaran selanjutnya.

D. Rangkuman
Evaluasi program merupakan alat yang berharga untuk guru BK karena

dapat berfungsi sebagai penelitian tindakan yang diarahkan untuk
memonitoring dan memperbaiki program/layanan. Evaluasi program BK
dapat dilakukan pada skala yang lebih kecil serta dapat direncanakan dan
dilaksanakan oleh praktisi. Juga dapat digunakan untuk memberikan
gambaran dampak program terhadap prestasi belajar peserta didik dan
variabel lain yang berkaitan. Evaluasi program merupakan prosedur yang
digunakan untuk menentukan atau menggambarkan sejauh mana program
bimbingan dan konseling direncanakan dengan baik oleh guru BK.

Evaluasi model Gysbers dan Henderson dibagi berdasarkan tujuan.
Evaluasi personil tujuannya untuk mengevaluasi konselor sekolah. Evaluasi
ini apabila diamati lebih jauh dapat dikatakan sebagai evaluasi pada aspek
input. Evaluasi program yang dilakukan untuk melihat kesesuaian program
dengan standar program yang ditetapkan. Evaluasi program disebut juga
evaluasi proses. Evaluasi hasil berisi mengenai dampak dari kegiatan dan
layanan program yang diberikan kepada peserta didik, sekolah, dan
masyarakat. Evaluasi ini dengan kata lain merupakan evaluasi dampak.

Evaluasi program merupakan prosedur yang digunakan untuk
menentukan atau menggambarkan sejauh mana program bimbingan dan
konseling dilaksanakan dan berfungsi dengan baik oleh konselor.
Penilaian/evaluasi program dapat digunakan sebagai prosedur penelitian

81

Modul Evaluasi Program BK

diri untuk mengetahui bagaimana program saat ini berfungsi sebelum
melakukan perbaikan.

Dalam setiap aktivitas apapun termasuk dalam aktivitas bimbingan dan
konseling selalu diawali dengan kegiatan perencanaan. Perencanaan dalam
bimbingan dan konseling merupakan seperangkat kegiatan yang akan
dilakukan untuk mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Dalam
perencanaan program bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya
mencakup: (1) mengkaji produk hukum yang berlaku, (2) menyusun visi
dan misi, (3) personil, (4)bidang pengembangan, (5) deskripsi kebutuhan,
(6) tujuan, (7) komponen program, (8) rencana operasional, (9)
pengembangan tema, (10) pengembangan RPL, (11) evaluasi, dan (12)
biaya.

Dalam pengembangan instrumen evaluasi program terdapat tiga istilah
yang berkaitan yaitu variabel, indikator dan kriteria. Variabel merupakan
aspek atau masalah tertentu yang akan diteliti atau dinilai. Setiap variabel
dapat dikembangkan menjadi indikator-indikator dan deskriptor sehingga
dapat diukur dan menghasilkan data yang diinginkan. Pengembangan
indikator dan deskriptor berdasarkan teori-teori atau konsep ilmiah tentang
variabel tersebut atau menggunakan fakta empiris berdasarkan pengamatan
lapangan. Selanjutnya indikator dan deskriptor dikembangkan menjadi
instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur variabel.

Sebagai bagian akhir dalam melaksanakan evaluasi program bimbingan
maka perlu disusun laporannya. Kegiatan pelaporan evaluasi program
dirumuskan minimal meliputi beberapa bagian sebagai berikut: 1) Deskripsi
Program; 2) Rancangan Evaluasi Program; 3) Hasil Evaluasi dan 4)
Kesimpulan dan Saran.

82

Modul Evaluasi Program BK

E. Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. (2004). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek
(Edisi Kelima). Jakarta: Rineka Cipta.
Boulmetis, John and Phyllis Dutwin. (2000). The ABCs of Evaluation:
Timeless Techniques for Program and Project Managers. 2 nd edition.
San Francisco: Jossey-Bass.
Coker, Astramovich & Hoskins, W. J. (2005). Training School Counselors in
Program Evaluation. Professional School Counseling. 9 (1): 49-54).
Gysbers, N. C. (2008). Evaluating School Guidance and Counseling
Programs: Past, Present, and Future dalam Coleman, H. L. K. & Yeh,
C. (Ed.), Handbook of School Counseling New York. London:
Routledge. P: 739-749.
Gysbers, N. J. dan P. Henderson. (2004). Developmental Guidance and
Counseling. Belmont: Brooks and Cole.
_______. (2012). Developing and Managing Your School Guidance and
Counseling Program Fourth Edition. Alexandria: American
Counseling Assosiation.
Rahman, Fathur. (2014). Modul Ajar Pengembangan dan Evaluasi Program
BK. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Yuwono, Sudharno Dwi dan Asni. (2017). Evaluasi Program Bimbingan dan
Konseling. Jakarta: Universitas Muhammadiayah Prof Dr. HAMKA.

83

Modul Evaluasi Program BK

F. Lembar Kerja
Buatlah laporan evaluasi program bimbingan dan konseling dengan
instrumen evaluasi yang telah disediakan. Kemudian berikan tanggapan dari
evaluasi program yang telah Anda lakukan.

G. Uji Kompetensi
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat!
1. Model evaluasi program Gysbers dan Henderson menekankan pada tiga
aspek evaluasi yaitu …
a. Evaluasi proses, evaluasi hasil dan evaluasi program.
b. Evaluasi proses, evaluasi personil dan evaluasi sistem.
c. Evaluasi personil, evaluasi proses dan evaluasi hasil.
d. Evaluasi personil, evaluasi tim dan evaluasi proses.
e. Evaluasi hasil, evaluasi proses dan evaluasi tim.
2. Evaluasi program yang tujuannya untuk mengevaluasi konselor sekolah
atau guru pembimbing disebut …
a. Evaluasi kinerja
b. Evaluasi personil
c. Evaluasi proses
d. Evaluasi hasil
e. Evaluasi personal
3. Mengkaji produk hukum merupakan salah satu kajian dalam evaluasi
program bimbingan dan konseling. Yang bukan kajian produk hukum
adalah …
a. Peraturan Presiden
b. Peraturan Menteri
c. Kurikulum
d. Hasil musyawarah MGBK
e. Kajian ilmiah

84

Modul Evaluasi Program BK

4. Arah pandangan ke depan apa yang diharapkan atau dicita-citakan atau
yang ingin dicapai oleh aktivitas program bimbingan dan konseling
dalam kurun waktu tertentu disebut sebagai …
a. Visi dan Misi
b. Tujuan layanan
c. Konsep dasar
d. Deskripsi operasional
e. Target kerja

5. Perencanaan program bimbingan dan konseling hendaknya memuat
empat bidang pengembangan yaitu …
a. Pribadi, kelompok, akademik dan sosial
b. Sosial, belajar, antar pribadi dan karir
c. Pribadi, sosial, belajar dan keluarga
d. Belajar, pribadi, karir dan profesi
e. Pribadi, sosial, belajar dan karir

6. Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik dalam layanan bimbingan
dan konseling sering disebut sebagai…
a. Ranah konatif
b. Ranah kognitif
c. Ranah afektif
d. Ranah psikomotorik
e. Ranah prestasi

7. Kemandirian peserta didik dalam mengaktualisasikan diri baik dalam
kehidupan di sekolah, keluarga dan di masyarakat disebut sebagai …
a. Ranah sosial
b. Ranah kognitif
c. Ranah konatif
d. Ranah afektif
e. Ranah psikomotorik

8. Yang bukan menjadi fokus evaluasi program khususnya dalam hal
pengembangan RPL adalah …

85


Click to View FlipBook Version