The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by guswid83, 2023-10-29 03:49:45

Pilar-2-Modul-SPAB-2023-1

Pilar-2-Modul-SPAB-2023-1

Keywords: Modul SPAB

Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 40 TeƌdaƉaƚ Ɖendekaƚan lain͕ LJang biaƐa diƐebƵƚ Ɛebagai ͞caƌa Ɖengajaƌan alƚeƌnaƚif͟ LJang dapat dipertimbangkan. Di antaranya adalah: 1. Bersatuan pendidikan-di-rumah (home-schooling) dalam konteks COVID-19 guru keliling atau guru kunjung. 2. Belajar mandiri melalui penugasan 3. Pendidikan teman sebaya (peer-to-peer) ataupun belajar berkelompok 4. Program akselerasi pendidikan 5. Pendidikan melalui (siaran) radio 6. Pembelajaran berbasis TIK Gambar 11. Contoh Pembelajaran di tenda darurat Sumber: Instagram SMKN 1 Cugenang Selain mempertimbangkan bagaimana mengajarkan kurikulum seperti biasa, selama situasi darurat dan pasca-bencana, ketika peserta didik dan guru menghadapi berbagai ketidakberuntungan, adalah penting untuk menyediakan waktu bagi kegiatan yang membantu orang untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak normal ini, memperkuat keterkaitan dan kesinambungan dalam hidup mereka, membangun ketahanan dan memberdayakan mereka. Kegiatan bermain mandiri dan yang dipandu, aktivitas fisik, waktu tenang, istirahat, bersenang-senang, musik, kesempatan untuk mengekspresikan rasa duka dan harapan, belajar tentang pengurangan risiko bencana, berpartisipasi dalam kegiatan pemulihan yang sesuai dengan umur mereka penting bagi ketahanan dan pemulihan, dan akan membantu mendukung pencapaian jangka panjang pendidikan mereka.


41 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Terbatasnya penggunaan satuan pendidikan karena digunakan sebagai hunian sementara seringkali satuan pendidikan merupakan bangunan terkuat di lingkungannya. Karenanya, dan juga karena ukurannya dan karena dikenal baik, seringkali bangunan satuan pendidikan dipilih sebagai hunian sementara untuk evakuasi yang aman, saat terdapat peringatan dini untuk sebuah bahaya. Namun, penggunaan satuan pendidikan sebagai hunian sementara seringkali termasuk memberikan naungan bagi orang-orang yang terpaksa mengungsi karena bencana, sehingga mereka tidak bisa kembali ke rumah. Hal ini dapat menimbulkan tantangan serius bagi kelangsungan pendidikan, jika tidak direncanakan dengan baik sebelumnya. Prinsip-prinsip di bawah ini dapat membatasi penggunaan satuan pendidikan sebagai hunian sementara: 1. Hindari menggunakan satuan pendidikan sebagai tempat penampungan sementara melalui kebijakan nasional penanggulangan bencana, perencanaan penanggulangan bencana daerah, dan manajemen bencana satuan pendidikan sebelum terjadinya bencana. 2. Jika satuan pendidikan direncanakan untuk menjadi hunian sementara, maka rancang, lengkapi dan rencanakan satuan pendidikan untuk dapat memenuhi persyaratan sebuah hunian sementara (tempat pengungsian) fasilitas untuk kebersihan, toilet, dan usahakan untuk mengelolanya untuk melindungi investasi pendidikan. 3. Jika satuan pendidikan diharapkan untuk dapat digunakan sebagai hunian sementara, pastikan keberlangsungan pendidikan di dalam lingkungan yang aman dengan penggunaan ganda fasilitas satuan pendidikan yaitu untuk hunian sementara dan untuk pendidikan, atau dengan menggunakan ruang belajar sementara. 4. Satuan pendidikan tidak boleh digunakan sebagai tempat berlindung bagi kepentingan militer atau dikuasai oleh kekuatan pihak yang bertikai. 5. Saat fasilitas pendidikan digunakan sebagai hunian sementara, dalam rangka memperkecil gangguan terhadap pendidikan maka para pemangku kepentingan harus membuat persetujuan kapan waktunya (tanggal perkiraan) para penghuni hunian sementara akan direlokasi dan satuan pendidikan kembali ke fungsi normalnya.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 42 6. Saat fasilitas pendidikan digunakan sebagai hunian sementara, penting untuk melindungi aset satuan pendidikan, termasuk di antaranya buku-buku, perpustakaan, perabot, catatan satuan pendidikan dan alat rekreasional. Penting juga untuk memastikan bahwa bangunan satuan pendidikan, fasilitas air dan toilet dijaga dan ditinggalkan dalam keadaan tetap berfungsi dengan baik. 7. Personel satuan pendidikan dan pengelola hunian sementara harus bekerja sama untuk memastikan bahwa siapapun yang menggunakan fasilitas satuan pendidikan tetap mematuhi peraturan umum untuk menjaga satuan pendidikan setiap harinya: menjaga agar ruang kelas tetap bersih dan rapi, memilih tempat pembuangan sampah yang sesuai, memasak hanya di dapur atau di luar bangunan, melindungi perabot satuan pendidikan, menggunakan toilet dan tidak melakukannya di tempat terbuka, menjaga agar toilet tetap bersih dengan memikirkan orang lain, dan menghargai kebutuhan, privasi dan budaya pihak lain, serta hak mendapatkan pendidikan bagi peserta didik. 8. Terdapat contoh yang baik di mana hunian sementara untuk tempat evakuasi komunitas dibangun di halaman satuan pendidikan sehingga satuan pendidikan bisa menggunakannya sebagai tambahan fasilitas dan merawatnya agar tetap siap digunakan saat kedaruratan. Hal ini harus dipertimbangkan dalam perencanaan jangka panjang. 2. Fasilitas belajar sementara dan lokasi alternatif Jika bangunan satuan pendidikan rusak berat, tidak dapat diakses, atau harus digunakan sebagai tempat pengungsian sementara, Anda mungkin harus mengatur lokasi atau sarana alternatif agar kegiatan belajar mengajar dapat terus berlangsung. Pertimbangkan baik ruang kelas maupun area bermain. Bisa berada di dalam bangunan yang sudah ada atau di tempat belajar sementara: 1) Yang berada di halaman satuan pendidikan 2) Berbagi dengan satuan pendidikan lain 3) Bertempat di bangunan fasilitas umum atau bangunan tempat ibadah atau di halamannya 4) Dapat bertempat di bangunan milik swasta atau lembaga usaha 5) Bertempat di rumah-rumah warga sekitar satuan pendidikan


43 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Gambar 12. Tenda belajar darurat di halaman sekolah sumber : Direktorat SMK Pedoman berikut ini dapat membantu dalam mempertimbangkan pilihan terbaik bagi fasilitas belajar sementara dengan komunitas Anda, dan untuk mencari penyelesaian yang kreatif dan aman. Jika bertempat di dalam bangunan, pastikan bahwa struktur bangunan dalam kondisi baik. 1. Pastikan bahwa tempat itu: x Bebas dari benda-benda berbahaya, seperti batu tajam, logam, gelas, atap dari logam yang hampir lepas, bahaya listrik dan dari pohon atau cabangnya yang bisa mengakibatkan kerusakan. x Memiliki tempat teduh (ada atapnya) dan melindungi dari angin, hujan dan debu. x Berlokasi jauh dari jalan utama dan titik distribusi (barang bantuan). x Berlokasi jauh dari air yang menggenang, tempat drainase yang kotor. x Berlokasi dekat dengan tempat tinggal mayoritas peserta didik, terutama anak atau remaja perempuan dan anak berkebutuhan khusus. x Memiliki rute akses yang aman antara tempat belajar sementara dengan tempat tinggal peserta didik.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 44 2. Menyediakan akses ke sanitasi dan layanan air bersih. Yang berarti akses terhadap air bersih untuk mengimplementasikan perilaku bersih dan sehat (PHBS) 3. Akses terhadap air minum yang aman. 4. Drainase air dirancang, dibangun dan dirawat dengan baik. 5. Toilet harus terletak jauh dari sumber air dan harus memperhitungkan arah angin. 6. Toilet terpisah untuk anak perempuan dan anak laki-laki serta dibuat dengan memperkecil ancaman terhadap pengguna dan menawarkan privasi. Toilet harus ditempatkan di lokasi yang aman, nyaman, sesuai dengan budaya dan mudah diakses, termasuk bagi mereka dengan kebutuhan khusus. 7. Untuk lingkungan satuan pendidikan, 1 toilet digunakan bagi 30 anak perempuan dan 1 toilet digunakan oleh 60 anak laki-laki. 8. Toilet berlokasi tidak melebihi 50 meter dari hunian ataupun tempat belajar sementara. 3. Transportasi Sistem transportasi (bus, angkutan kota, dsb.) mungkin tidak ada, terutama di wilayah pedesaan yang terpencil. Yang tadinya tersedia, mungkin menjadi terganggu, dihentikan, atau menjadi tidak memadai selama masa krisis. Kendaraan seringkali tidak bisa digunakan oleh para penumpang yang memakai kursi roda, kruk atau alat bantu mobilitas lainnya, dan mungkin akan membuat kendaraan menjadi penuh sesak sehingga tidak memungkinkan untuk duduk dengan nyaman. Alat-alat transportasi lokal atau tradisional, seperti sepeda, kereta, mobil atau keledai mungkin dibutuhkan untuk tugas-tugas lain saat banyak komunitas membangun kembali, merekonstruksi atau memindah lokasi tempat tinggal mereka. Aset-aset seperti itu mungkin juga telah hilang, rusak atau hancur, sehingga menghadirkan sebuah tantangan bagi orang-orang dengan disabilitas yang sebelumnya mengandalkan alat-alat tersebut. 4. Pemindahan Sebuah masa darurat bisa berarti bahwa sebuah komunitas berpindah ke tempat lain dengan sebuah satuan pendidikan atau ruang pembelajaran baru, atau satuan pendidikan komunitas mungkin secara sementara atau permanen dipindah ke tempat yang lebih aman. Untuk peserta didik dan remaja yang mengalami kesulitan mobilitas,


45 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan penglihatan, pendengaran atau lainnya, sebuah rute yang tidak biasa menuju satuan pendidikan dan di sekitar lokasi satuan pendidikan baru mungkin menyebabkan bertambahnya kesulitan. Mereka yang memiliki kelemahan intelektual mungkin tidak tahu bagaimana berhadapan dengan orang-orang asing yang mereka temui di jalan. Para orang tua kemungkinan menjaga agar peserta didik mereka tetap di rumah, karena khawatir mereka akan tersesat. 5. Kapasitas Guru dan Tenaga Pendidik Dalam hal kesinambungan pendidikan guru dan tenaga pendidik harus memiliki beberapa kemampuan. Beberapa kemampuan yang harus dimiliki yaitu: 1. Fasilitasi pendidikan pada situasi darurat 2. Mental health dan psikososial support 3. Kaji cepat kebutuhan 4. Penyusunan modul ajar darurat Satuan pendidikan perlu melakukan pemetaan terhadap kapasitas yang dimiliki. Tujuan dari pemetaan tersebut yaitu untuk mengetahui kebutuhan peningkatan kapasitas yang dibutuhkan oleh Guru dan tenaga kependidikan (GTK). Satuan pendidikan dapat menyerahkan hasil pemetaan kapasitas kepada pemerintah yang mengurusi bidang pendidikan dan juga lembaga non pemerintah atau dapat menggunakan resource yang dimiliki oleh Satuan pendidikan untuk dapat melakukan kegiatan pemetaan kapasitas. 6. Koordinasi dalam Kesinambungan Pendidikan Dalam kesinambungan pendidikan, satuan pendidikan perlu melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mendapatkan dukungan dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Pihak-pihak yang perlu dikoordinasikan yaitu Komite sekolah, Sekber SPAB daerah, Dinas pendidikan, pengawas, lembaga non pemerintah yang fokus pada isu pendidikan, perangkat desa.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 46 7. Pemetaan Sumber Daya Pemetaan sumberdaya merupakan langkah untuk mengumpulkan kepemilikan dari para pihak termasuk yang dimiliki oleh satuan pendidikan itu sendiri. Tujuan pemetaan ini yaitu untuk mengetahui potensi yang dimiliki dan potensial kolaborasi dengan pihak lain. Pemetaan sumberdaya daya internal yaitu: Tabel 3 Contoh pemetaan sumber daya internal satuan pendidikan Sumberdaya yang dimiliki Jumlah Kondisi Guru terlatih pengurangan risiko bencana 15 orang Perempuan : 10 Laki-laki : 5 terakhir mengikuti pelatihan tahun 2020 Meubelair 80 meja 67 kursi Semua dalam kondisi baik tenda tidak ada - Lemari 3 Baik Buku 100 exemplar 59 baik 40 terbawa banjir/hilang 1 tidak diketahui Daftarnya dapat ditambahkan sesuai dengan apa yang dimiliki oleh satuan pendidikan. Sumber daya external yaitu: Tabel 4 Contoh pemetaan sumber daya eksternal satuan pendidikan Nama Lembaga/Organisasi Contoh sumberdaya yang dimiliki Jumlah yang dimiliki (Jika ada) Puskesmas/Poskesdes Obat-obatan, fasilitas kesehatan (tanyakan pada pihak terkait mengenai ketersediaan sumber daya)


47 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Komite Dana komite (tanyakan pada pihak terkait mengenai ketersediaan sumber daya) Desa Dana desa kelompok masyarakat desa peduli (tanyakan pada pihak terkait mengenai ketersediaan sumber daya) Dinas Pendidikan Buku bacaan anak, Tenda Darurat, Perangkat Schoolkit, Program Dukungan Psikososial, Kebijakan pembelajaran dalam situasi darurat bencana, Dana Alokasi Khusus Fisik. (jika memungkinkan, tanyakan pada pihak terkait mengenai ketersediaan sumber daya) Forum PRB Desa/Kabupaten Tenaga terlatih (jika memungkinkan, tanyakan pada pihak terkait mengenai ketersediaan sumber daya) Dinas Kesehatan Obat-obatan, tandu, ambulance (jika memungkinkan, tanyakan pada pihak terkait mengenai ketersediaan sumber daya) Lembaga Non Pemerintah Tenaga terlatih untuk pelatihan (jika memungkinkan, tanyakan pada pihak terkait mengenai


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 48 ketersediaan sumber daya) Kementerian/Lembaga Pusat Buku bacaan anak, Tenda Darurat, Perangkat Schoolkit, Program Dukungan Psikososial, dan Bantuan Sosial Lainnya. (jika memungkinkan, tanyakan pada pihak terkait mengenai ketersediaan sumber daya) 8. Isu Lintas Sektor a. Anak dan Remaja dengan disabilitas Semua anak dan remaja memiliki hak terhadap pendidikan yang berkualitas baik. Kekurangan satuan pendidikan, dikarenakan penutupan atau kerusakan selama masa darurat, mungkin membuat banyak anak dan remaja harus menempuh jarak yang jauh dan menghadapi lebih banyak rintangan atau kesulitan dalam perjalanan mereka. Hal ini mempengaruhi siapa saja ʹ terutama saat jalan-jalan yang mereka lalui atau kondisi cuaca yang buruk ʹ namun akan secara khusus menjadi sulit bagi mereka yang menghadapi tantangan mobilitas atau yang tidak bisa bepergian seorang diri. Bahaya kemungkinan meningkat di lokasi satuan pendidikan selama masa darurat, khususnya setelah bencana alam, lingkungan satuan pendidikan seringkali penuh dengan bahaya seperti puing-puing, bangunan yang tidak stabil dan material yang berbahaya (seperti kaca, blok semen, batu-bata, pohon yang tumbang, mobil yang rusak, reruntuhan batu dan sebagainya). Kekerasan yang sedang berlangsung mungkin menambah risiko bagi orang yang bepergian terutama risiko terhadap ancaman fisik atau pelecehan seksual. peserta didik dan remaja dengan disabilitas, terutama peserta didik perempuan, mungkin akan merasa kurang aman. Orang tua/ wali siswa atau pengasuh mereka mungkin merasa bahwa lebih aman untuk menjaga mereka tetap di rumah atau di dalam wilayah di mana keluarganya berada.


49 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Guru dan tenaga pendidik perlu memahami bahwa kebutuhan anak perempuan dan laki-laki termasuk disabilitas berdeda. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam situasi darurat dan juga pasca bencana perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak tersebut. b. Disabilitas baru Dalam banyak bencana alam atau konflik, banyak anak dan remaja tiba-tiba memiliki disabilitas yang diakibatkan oleh masa darurat tersebut. Banyak gempa bumi dan bencana alam lain yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus disabilitas yang besar pada anak dengan disabilitas jangka panjang maupun pendek. Anak atau remaja tersebut dan keluarga mereka harus menghadapi tantangan seperti yang diuraikan di atas, tanpa memiliki waktu untuk mengembangkan strategi untuk mengelola kondisi disabilitas mereka yang baru. Hal ini, digabungkan dengan akibat langsung dari cedera, dapat mengakibatkan kebanyakan peserta didik dan remaja dengan disabilitas yang baru diperoleh memilih untuk tinggal di rumah sementara teman-teman sebaya mereka kembali ke satuan pendidikan. c. Perlindungan anak dan kesetaraan Gender Bencana dan kedaruratan menciptakan kondisi yang meningkatkan kerentanan peserta didik. Penting untuk memikirkan dan mempertimbangkan ancamanancaman yang ada dan melakukan perencanaan sebelumnya, bagaimana mengurangi (dampak) bahaya-bahaya ini. Ancaman utama dari bencana dan kedaruratan adalah: 1. Kerugian fisik 2. Terpisah dari keluarga 3. Eksploitasi (kekerasan berdasarkan gender, tenaga kerja anak, dan perdagangan manusia) 4. Penyangkalan terhadap akses pendidikan 5. Tekanan psikososial 6. Rekrutmen ke dalam grup atau kelompok bersenjata


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 50 7. Peningkatan risiko terjadinya penyalahgunaan dan penelantaran karena tekanan keluarga dan kegiatan pemulihan. Mekanisme perlindungan anak yang paling penting biasanya adalah: keluarga, satuan pendidikan dan komunitas. Hal ini penting ketika mekanisme sosial berada di bawah tekanan untuk memikirkan bagaimana cara mengatasinya agar peserta didik tetap aman. Sebagai contoh: 1. Perencanaan satuan pendidikan maupun perencanaan keluarga mengenai penyatuan kembali peserta didik dengan keluarganya 2. Mengidentifikasi satuan pendidikan sebagai tempat aman bagi peserta didik dan rencanakan 3. untuk memiliki tenaga kependidikan di lokasi untuk menyambut dan melindungi peserta didik 4. MenLJediakan ͞ƌƵang ƌamah anak͟ di ƐaƚƵan Ɖendidikan dan di ƚemƉaƚ lain͕ serta memiliki pengurus yang dapat dipercaya untuk berbagi tugas terkait keselamatan dan pengawasan 5. Mengingatkan orang tua dan peserta didik mengenai bahayanya jika para pelaku perdagangan manusia ataupun grup bersenjata beroperasi di area sekitar. 2.5 Standar Operasional Prosedur dan Rencana Kedaruratan Bencana Sub Pilar SOP Kedaruratan Bencana dan Rencana Kedaruratan Rencana kedaruratan bencana adalah rencana atau rangkaian kegiatan dan langkah-langkah yang disusun untuk menyikapi keadaan darurat bencana tertentu, berisi tindakan kesiapsiagaan, pembagian peran/tugas siapa, melakukan apa dan bagaimana, dimana, kapan/waktu yang diperlukan untuk saat keadaan darurat bencana terjadi. Berikut ini adalah tindakan - tindakan yang dilakukan sesuai dengan ancaman masing-masing: a. Ancaman Kekerasan Insiden kekerasan di sekolah tidak terjadi secara impulsif, acak, ataupun epidemik. Di banyak kejadian, sebelum terjadi insiden, si penyerang menginformasikan orang lain mengenai ide ataupun rencananya. Tidak ada profil yang akurat dari seorang penyerang. Banyak dari mereka, tetapi tidak semua, merupakan peserta didik memiliki kesulitan


51 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan sosial, dan terdapat banyak motivasi bagi terjadinya kekerasan. Pencegahan dapat dicapai dengan membangun iklim rasa percaya dan menghargai antara peserta didik dan orang dewasa. Sekolah harus menyediakan ruang untuk diskusi terbuka di mana keragaman dan perbedaan diperbolehkan, serta komunikasi didorong dan didukung. Perhatian harus diberikan pada kebutuhan sosial dan emosional peserta didik, selain kebutuhan akademik. Setiap kali sebuah ancaman dilakukan, jangan abaikan, dan jangan juga bereaksi berlebihan. Ancaman kekerasan bisa: langsung ʹ tindakan khusus terhadap sasaran khusus diidentifikasikan dalam tingkah laku yang jelas dan gamblang; tidak langsung ʹ kekerasan yang samar, tidak jelas, ambigu maupun tersirat; terselubung ʹ ancaman tersirat tapi tidak secara eksplisit; kondisional ʹ peringatan, jika persyaratan tidak terpenuhi (misalnya pemerasan). Tim kajian yang terlatih secara profesional mungkin perlu mengevaluasi apakah ancaman tersebut berisiko rendah, menengah ataupun tinggi, dengan mempertimbangkan perilaku peserta didik, kepribadiannya, sekolah, sosial, dan dinamika keluarganya. x Jika ada orang yang mencurigakan atau tidak dikenal: Jika dirasa merupakan ancaman, minta seorang rekan untuk segera membantu. Jika Anda merasa terancam, percayalah pada perasaan Anda. Jaga jarak. Gunakan bahasa verbal yang asertif dan bahasa tubuh yang kuat. Panggil polisi jika diperlukan. Minta untuk segera dilakukan Penguncian-diri (lockdown) jika diperlukan. x Jika menghadapi penindasan (bullying): Budaya sekolah tidak boleh mentoleransi penindasan dan siapapun yang menyaksikan atau mengalami penindasan harus merasa nyaman untuk melaporkannya dan paham bahwa orang dewasa akan melakukan upaya tindak lanjut. Intervensi dukungan dari keluarga mungkin diperlukan baik untuk korban maupun pelaku penindasan. Untuk informasi lebih lanjut, lihat http://www.stopbullyingnow.hrsa.gov/kids/ atau http://id.theasianparent.com/si-penindas-di-kelas/ x Jika terjadi perkelahian di antara peserta didik: Panggil atau kirim seseorang ke Ruang Kepala Sekolah atau Ruang Guru. Anda tidak diharuskan untuk memisahkan secara fisik. Identifikasi (sebut nama) diri Anda dan instruksikan pihak yang berkelahi untuk berhenti. Panggil nama mereka, instruksikan para penonton untuk menyingkir. Ingat kejadiannya untuk laporan yang runtut. Kirim tenaga kependidikan untuk mengendalikan dan membubarkan para penonton.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 52 x Jika ada orang yang membawa senjata: Hubungi atau kirim seseorang ke Ruang Kepala Sekolah atau Ruang Guru. Anda tidak diharuskan untuk mengintervensi secara fisik. Jaga untuk tetap tenang. Usahakan untuk tidak bertindak apapun yang dapat memicu penembakan aktif. Ancaman bisa berisiko tinggi, menengah ataupun rendah tergantung oleh banyak faktor. Seorang tenaga kependidikan harus menghubungi polisi dan menjelaskan situasinya: misalnya kondisi statis (penyusup terhalang di suatu area) atau dinamis (penyusup bergerak bebas), apakah terdapat tenaga kependidikan atau peserta didik yang terluka, jumlah, lokasi dan deskripsi mengenai penyusup. Juga laporkan peralatan yang mencurigakan, dengan deskripsi dan lokasinya. x Jika terdapat ancaman bom: Tetap tenang. Jaga agar penelpon ancaman tetap berbicara. Jangan membuat penelpon menjadi jengkel. Indikasikan kemauan Anda untuk bekerjasama. Jangan mengaktifkan tanda bahaya kebakaran. Beri isyarat tanpa suara kepada rekan kerja untuk segera memanggil polisi. Buat agar si penelpon untuk berbicara sebanyak mungkin tanpa interupsi. Catat apapun yang dikatakan oleh penelpon termasuk observasi terhadap suara latar, karakteristik suara, bahasa, dll. Tanyakan pertanyaan yang spesifik sebanyak mungkin. Saat akan menutup telpon segera aktifkan pelacak nomor telpon (caller ID) jika tersedia. Bicara ke polisi. Tulis semuanya. Polisi akan memberikan saran jika evakuasi dari bangunan harus dilakukan. Jika harus dilakukan, bagian administrasi harus mengumumkan Evakuasi dari Bangunan. Tenaga kependidikan harus melakukan pemeriksaan secara visual terhadap ruang kelas atau daerah sekitar. Apapun yang sepertinya mencurigakan harus segera dilaporkan tapi jangan disentuh. Siapapun di sekolah tidak boleh memegang, mencari, atau memindahkan benda yang dicurigai sebagai bom. Guru kelas harus segera melakukan evakuasi dari benda atau area yang dicurigai. Jangan gunakan radio, HT/ walkie-talkie atau ponsel untuk mencegah terpicunya perangkat ledak secara tidak sengaja. Tenaga kependidikan yang berada di dekat kompor, peralatan dan pipa gas harus segera mematikan atau menutupnya. Jangan kembali ke bangunan sekolah sampai polisi, personel pemadam kebakaran atau bagian adminiƐƚƌaƐi membeƌikan ƚanda ͞KŽndiƐi Aman͘͟ x Saat sedang dalam perjalanan: Saat sedang menuju ke atau dari sekolah untuk mengurangi kerentanan terhadap kemungkinan terjadinya kekerasan, tenaga kependidikan dan peserta didik sebaiknya menggunakan rute yang terbuka dan tidak berbahaya. Berjalanlah secara asertif dan selalu waspada dengan situasi di


53 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan sekeliling, dan terutama di malam hari selalu berjalan bersama seorang teman atau pendamping. Terdapat beberapa situasi khusus di mana pihak berwenang menyarankan orang-orang untuk memvariasikan rute perjalanan mereka, untuk menghindari dari dijadikan sasaran penyerangan. Hindari bahaya dengan berjalan cepat. Berteriaklah dengan keras untuk meminta bantuan. Bermacam jenis patroli profesional maupun patroli lingkungan bisa meningkatkan keamanan personal. b. Kebakaran x Jika Anda melihat kebakaran: Matikan api kecil dengan pemadam kebakaran yang tersedia atau tutupi sumber api dengan selimut. Untuk perangkat pemadam kebakaran yang modern, ingat langkah ini: Tarik komponen pengaman dari pegangannya. Arahkan ke dasar kobaran api. Tekan tombol pemicu. Arahkan perangkat dari sisi satu ke sisi lainnya di dasar kobaran api. Tutup sumber pemicu kebakaran jika aman untuk dilakukan (misalnya gas). Aktivasi tanda bahaya kebakaran. Beritahu yang lain. Hubungi nomor telepon darurat dan laporkan lokasi kebakaran. Evakuasi dari bangunan. Tutup pintu dan jendela. x Jika mendengar tanda bahaya kebakaran: Anggap bahwa bunyi tersebut memang untuk kejadian darurat yang benar terjadi. Ikuti prosedur evakuasi dari bangunan. Jangan membuka pintu tertutup tanpa memeriksa apakah hawa panas. Jangan membuka pintu yang panas. x Jika terperangkap dalam asap: Berlututlah dan merangkak ke luar. Ambil nafas pendek melalui hidung. Tahan nafas selama mungkin. Gunakan lap basah untuk menutup mulut dan hidung. x Jika terperangkap dalam ruang karena kebakaran di luar ruang: Halangi masuknya asap dengan menggunakan lap basah yang disumpal ke bawah (di sela) pintu. Lakukan terhadap pintu-pintu lain. Beri isyarat dan informasikan lokasi Anda melalui telepon. x Jika seseorang atau bajunya terbakar: Berhenti di tempat Anda berada. Segera jatuhkan diri ke lantai. Berguling. Jika orang lain yang terbakar, dorong mereka ke lantai, gulingkan mereka dan/ atau tutupi dengan selimut, karpet atau mantel.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 54 c. Gempa Selama gemƉa beƌlangƐƵng͗ Saaƚ gemƉa mƵlai ƚeƌjadi͕ inƐƚƌƵkƐikan dengan keƌaƐ ͞PŽƐiƐi gempa: Berlutut, Lindungi dan Bertahan͘͟ ;Di daeƌah dengan ƌiƐikŽ ƚƐƵnami͕ mƵlailah berhitung ʹ LJang dimakƐƵd dengan beƌhiƚƵng ͞ƐaƚƵ ʹ seribu, dua ʹ seribu, tiga ʹ ƐeƌibƵ͙͟ yang dihitung adalah lamanya guncangan untuk memeriksa apakah gempa tersebut gempa besar). Saat guncangan berhenti, lakukan evakuasi ke luar bangunan, menjauh dari bangunan. x Di kelas: orang yang terdekat dengan lokasi pintu harus segera membuka pintu lebar-lebar. Siapapun yang berada dekat dengan sumber kobaran api harus mematikannya. JATUH berlutut dan buat diri Anda sekecil mungkin. LINDUNGI kepala, leher dan muka Anda. POSISI-kan di bawah meja yang kokoh untuk melindungi kepala dan leher dan juga sebanyak mungkin bagian tubuh anda. BERTAHAN-lah sambil berpegangan pada benda yang melindungi Anda. Menjauhlah dari perabot atau peralatan yang tinggi dan berat, dan yang membuat lebih panas lagi. x Untuk kursi roda: kƵnci ƌŽdanLJa dan ambil ͞ƉŽƐiƐi beƌƚahan͟ dengan melindƵngi kepala dan leher. Jika berada di tempat duduk di stadion, ambil posisi bertahan di kursi Anda. x Di laboratorium dan di dapur matikan kompor dan tutup tempat material berbahaya dan/ atau pindahkan dari lokasi berbahaya: Menjauhlah dari kompor panas, lemari yang menjadi panas dan dari materi berbahaya yang mungkin dapat tumpah. x Di tempat terbuka di mana tidak ada tempat berlindung: bergeraklah menuju dinding dalam dan menjauh dari bahaya kejatuhan dan bahaya di atas kita. Berlutut, Lindungi dan Bertahan, lindungi kepala dan leher dengan lengan Anda. x Di perpustakaan, bengkel, tempat pertunjukkan dan di dapur, menjauhlah dari lemari: (tumpukan) buku-buku dan peralatan lain jika memungkinkan. x Di tempat duduk di stadion: Ambil ͞ƉŽƐiƐi beƌƚahan͟ ƐamƉai gƵncangan beƌhenƚi͘ Ikuti instruksi pemandu untuk proses evakuasi yang teratur. x Di luar: menjauhlah dari bangunan, dinding, kabel listrik, pohon, tiang listrik dan bahaya lain. Berlututlah dan lindungi kepala dan leher Anda. x Di dalam kendaraan antar jemput sekolah: pengemudi harus menepi dan menghentikan kendaraan, menjauh dari bahaya yang terdapat di atas kepala. Ambil ͞ƉŽƐiƐi beƌƚahan͟


55 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan x Saat guncangan lanjutan sedang terjadi: Ambil tindakan perlindungan yang sama dengan tindakan perlindungan saat guncangan awal. x Saat guncangan sudah berhenti: Dalam kasus gempa dengan skala sedang atau berat, sebelum meninggalkan ruangan, periksa sekeliling Anda untuk melihat apakah ada yang terluka. Lakukan pertolongan untuk menyelamatkan nyawa (buka saluran nafas, menghentikan pendarahan, dll.). Minta peserta didik untuk membantu merawat yang terluka ringan. Jika ada yang terluka parah ataupun terperangkap di reruntuhan, buat agar mereka menjadi lebih nyaman. Beri mereka peluit dan benda yang membuat mereka nyaman, dan tentramkan mereka dengan menginformasikan bahwa team SAR akan segera membantu mereka. Jika tinggal di tempat ternyata membahayakan, orang-orang yang terluka dan tidak dapat berjalan harus dipindahkan dengan hati-hati. Buatlah api unggun kecil. Lihat sekeliling selama 10 detik dan buatlah catatan di dalam hati mengenai kerusakan dan bahaya untuk kemudian dilaporkan. Beri tanda di pintu kelas Anda dengan ƚƵliƐan hijaƵ ͞SemƵa SƵdah Di LƵaƌ͟ aƚaƵ ƚƵliƐan meƌah ͞TOLONGͬ BERBAHAYA͘͟ Tinggalkan ruang kelas tanpa dikunci. Periksa rute keluar yang aman dan dengan hati-hati lakukan evakuasi dari bangunan, menjauh dari bangunan. d. Tsunami x Untuk tsunami yang terjadi dalam jarak dekat: Peringatannya berupa gempa yang sangat kuat guncangannya, tidak seperti gempa yang pernah Anda alami. x Untuk tsunami yang terjadi dalam jarak menengah: Peringatannya berupa gempa yang guncangannya berlangsung sekitar 40 detik atau lebih. x Untuk tsunami yang terjadi dalam jarak jauh: Peringatannya datang dari lembagalembaga internasional dan sistem peringatan dini nasional melalui TV, radio, pengeras suara, dan megafon. Perhatikan/ simak peringatan ini sampai ada pengumuman bahwa peringatan sudah dicabut atau bahaya sudah lewat. Di semua kasus: segera lakukan evakuasi ke tempat yang lokasinya lebih tinggi yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai tempat aman di lokasi yang tinggi dan jauh dari bibir pantai, atau ke tempat evakuasi vertikal. e. Badai Ikuti instruksi peringatan dini. Berlindung-di-Tempat. ͻ Jika berada di dalam ruangan: Jauhkan diri dari semua telepon. Jalur telepon dapat menghantarkan listrik. Cabut kabel TV, komputer dan perangkat lain. Petir dapat


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 56 menyebabkan lonjakan daya listrik dan mengalir melalui jalur listrik. Menjauhlah dari air yang mengalir dari keran, bak cuci dan bak mandi. Listrik dari petir dapat masuk melalui saluran perpipaan. Tutup jendela, dan menjauhlah dari jendela. Dengarkan peringatan cuaca melalui radio yang menggunakan baterai. Segera patuhi saran. ͻ Jika berada di luar ruang/ bangunan: Lakukan perencanaan sebelumnya. Tahu ke mana harus pergi jika topan badai terjadi tanpa diharapkan. Pantau kondisi cuaca dan bersiaplah untuk melakukan tindakan secepatnya untuk mencapai tempat aman sebelum topan badai tiba. Jika sedang berperahu atau berenang, segera kembali ke daratan, jauhi pantai dan cari tempat aman secepatnya. Jauhkan diri dari air, yang dapat menghantarkan listrik dari petir. Berlindunglah di tempat yang lebih permanen dan tertutup, seperti misalnya bangunan yang diperkuat. Jika tidak ada bangunan yang strukturnya diperkuat, masuk ke dalam mobil atau bis, jaga agar jendela tertutup. Jaga agar tangan Anda tetap berada di pangkuan dan kaki tidak menyentuh lantai. Jika sedang berada di hutan, cari area yang terlindung oleh rumpunan pohon yang rendah. Jangan berdiri di bawah pohon besar yang tumbuh sendirian di tempat terbuka. Sebagai tindakan terakhir, tujulah dataran yang rendah dan terbuka. Jangan berdiri di bawah benda yang tinggi ʹ pohon, menara, pagar, tiang telepon atau tiang listrik. Waspada terhadap potensi banjir di daerah dataran rendah. ͻ Dalam kasus hujan es: Tempat paling aman adalah dengan berada di dalam bangunan, jauh dari jendela, dengan penutup yang terkunci. Jika berada di dalam kendaraan, tetaplah berada di dalam kendaraan dan jauhkan diri sebisa mungkin dari jendela. Merunduklah dan tutupi kepala dengan lengan. Jika berada di luar, gunakan lengan dan tas untuk melindungi kepala dan bergeraklah ke tempat terlindung. ͻ Jika merasakan atau melihat kilat: (Catatan: jika Anda merasa bahwa rambut menjadi berdiri, kilat akan segera terjadi.) Berjongkok serendah mungkin dengan bertumpu di tumit kaki sehingga muatan listrik dapat kembali mengalir ke tanah. Tutupi telinga dengan tangan Anda dan merunduklah. Buat diri Anda sekecil mungkin. Jangan berbaring di tanah! ͻ Jika petir menyambar seseorang: Minta pertolongan. Minta seseorang untuk memanggil pertolongan medis. Seseorang yang terkena sambaran petir memerlukan perhatian medis secepat mungkin. Berikan pertolongan pertama. Jika orang tersebut berhenti bernafas, langsung berikan nafas buatan (jika Anda


57 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan terlatih). Jika detak jantung orang tersebut berhenti, orang lain yang sudah terlatih untuk memberikan resusitasi jantung dan paru-paru (RJP atau CPR) harus melakukannya. Lihat dan rawat luka-luka yang mungkin terjadi dan periksa apakah terjadi luka bakar. Pindahkan korban ke tempat yang lebih aman. Ingat, orang yang tersambar petir tidak membawa listrik, dan mereka dapat ditangani dengan aman. f. Banjir Ikuti instruksi peringatan dini. Lakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi atau lakukan Perlindungan-di- Tempat. ͻ Banjir yang terjadi dengan lambat: Memberikan waktu untuk melakukan evakuasi sebelum banjir datang, menyimpan dan melindungi catatan/ dokumen penting dan peralatan elektronik sebaik mungkin. Ambil tindakan normal untuk evakuasi dari bangunan dan tujulah tempat aman. ͻ Banjir yang datang dengan tiba-tiba atau banjir bandang: Lakukan evakuasi secepat mungkin. Relokasi atau pindah ke tempat aman di bagian tertinggi dari bangunan dengan membawa Tas-Siap-Bawa ataupun Kotak-Siap-Bawa dan Clipboard atau Buku Catatan Darurat. JANGAN mencoba untuk mengarungi banjir dengan ketinggian berapa pun. JANGAN mencoba meninggalkan bangunan dengan menggunakan mobil. Jika harus melakukan evakuasi, pakailah jaket-penyelamat (yang bisa menjadi pelampung) ataupun peralatan pelampung lainnya. g. Pelepasan Bahan Berbahaya Lakukan evakuasi dengan melawan angin ke Tempat Aman atau Berlindung-di-Tempat, tutup dan sumbat jendela serta saluran udara. ͻ Tumpahan bahan kimia atau bahan mencurigakan lainnya: Jika memungkinkan, batasi tumpahan dari sumbernya dan tampung tumpahannya. Matikan peralatan. Lakukan evakuasi segera ke daerah sekitar. Jika bahaya meluas melebihi daerah sekitar, aktifkan tanda bahaya kebakaran dan ikuti Prosedur Evakuasi dari Bangunan dan Berkumpul. Orang yang menjadi saksi pertama dari tumpahnya materi berbahaya dapat menelpon nomor darurat dan memberikan informasi mengenai materi tersebut dan lokasi kejadian, berikut jumlah orang di tempat kejadian. ͻ Kebocoran gas: Jangan nyalakan tanda bahaya kebakaran ʹ karena dapat menyebabkan ledakan. Tinggalkan lokasi dan hubungi nomor telepon darurat. Keluarkan peringatan dengan menggunakan sistem pengumuman bagi umum atau


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 58 dengan cara mengumumkan dari pintu-ke-pintu. Lakukan evakuasi dengan mengikuti Prosedur Evakuasi dari Bangunan dan Berkumpul. ͻ Ledakan: Jatuhkan diri dan berlindung di bawah meja atau perabot lain yang dapat melindungi diri dari potongan kaca dan reruntuhan yang terbang. Begitu dirasa aman, hubungi nomor darurat dan segera laporkan terjadinya ledakan. Buka pintu untuk memberikan jalan keluar, jika bangunan rusak. Jauhkan diri dari tembok luar dan area dimana terdapat potongan kaca yang besar dan/ atau benda berat yang ditopang ala kadarnya. Bersiaplah untuk instruksi lebih lanjut yang diberikan oleh komandan kejadian. Standar Operasional Kedaruratan (SOP) Standar Operasional Prosedur (SOP) Kedaruratan Bencana adalah serangkaian kegiatan yang terstruktur dan disepakati oleh seluruh pihak terkait tentang siapa berbuat apa pada saat kapan, dimana, mengapa dan bagaimana metode pelaksanaannya. Tujuan umum dari prosedur tetap kedaruratan bencana di satuan pendidikan adalah seluruh warga satuan pendidikan mampu menyelamatkan diri saat terjadi bencana. Secara khusus prosedur tetap kedaruratan bencana di satuan pendidikan bertujuan: x Untuk mengetahui tindakan dan langkah apa yang dilakukan, oleh siapa, kapan, bagaimana dan dimana pada saat sebelum kejadian, di saat kejadian, dan setelah kejadian. x Untuk mengetahui peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam situasi darurat (termasuk untuk simulasi/gladi), serta memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas terkait. a. SOP Peringatan Dini Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya (ancaman) bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang (UU 24/2007 Pasal 1 ayat 8). Pemerintah, melalui lembaga khusus telah menyediakan informasi peringatan dini bagi masyarakat. Namun peringatan dini oleh lembaga berwenang tersebut seringkali gagal dipahami dan direspon menjadi langkah penyelamatan. Membangun ketangguhan bencana pada satuan Pendidikan termasuk mengembangkan sistem peringatan dini tepat guna. Suatu sistem peringatan dini tepat guna ditentukan oleh empat unsur prinsip meliputi:


59 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 1. Pengetahuan tentang risiko 2. Pemantauan dan layanan peringatan 3. Penyebarluasan dan komunikasi 4. Kemampuan merespon PEMANTAUAN DAN LAYANAN PERINGATAN Sistem peringatan dini efektif memerlukan adanya pusat peringatan dini yang terpercaya, rutin melakukan pemantauan ancaman, dan pada saat yang tepat mampu mengambil keputusan untuk menyebarkan peringatan kepada masyarakat di kawasan berisiko. Beberapa jenis ancaman semacam tsunami dan gunung api misalnya sudah dilakukan BMKG dan BPPTKG. Namun untuk sebagian jenis ancaman yang lain masih bergantung pada upaya pemantauan oleh warga sekolah sendiri. Misalnya jenis ancaman kebakaran, puting beliung, banjir genangan dan longsor. Hal ini menuntut satuan pendidikan untuk membuat kesepakatan agar melakukan pemantauan terhadap ancaman secara rutin, menentukan parameter atau ukuran tingkat bahayanya untuk disampaikan kepada semua warga sekolah saat bertindak waspada, siaga atau evakuasi. Sumber informasi dapat berasal dari interpretasi umum yang mengartikan tanda-tanda alam, pengalaman, kajian ilmiah, pusat peringatan dini pemerintah. Masingmasing jenis bahaya mempunyai tingkatan dan arti peringatan. PENYEBARLUASAN DAN KOMUNIKASI Satuan Pendidikan perlu memiliki beragam alat penyebaran peringatan yang disepakati untuk mengingatkan warga sekolah waktu yang tepat untuk melakukan evakuasi. Alat-alat komunikasi untuk penyebaran peringatan kepada warga sekolah harus dijaga dan dirawat agar selalu berfungsi. Jenis alat komunikasi untuk penyebaran peringatan ini perlu mempertimbangkan kemudahan dalam pembuatan, pengoperasiaan dan perawatan yang dapat dilakukan oleh warga sekolah secara mandiri. Karenanya alat yang berasal dari kearifan lokal disarankan untuk digunakan, misalnya kentongan, lonceng, alat tiup / pukul lain. Alat komunikasi berteknologi tinggi atau yang bergantung pada catu daya listrik PLN terkadang tidak selalu handal, misalnya sirine. Alat dengan suku cadang yang didatangkan dari luar daerah juga kadang membuat ketergantungan untuk perawatannya. Setiap warga haruslah mempunyai pemahaman yang sama tentang isi dan arti peringatan yang disepakati untuk dipatuhi bersama.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 60 Konsep rantai peringatan dirancang sependek mungkin untuk mempercepat penyebaran peringatan dari hulu ke hilir. Para perantara pemegang kewenangan penyebaran peringatan di setiap rantai harus bersepakat dan dipastikan saling terhubung untuk memberi layanan informasi/peringatan. Perlu diupayakan menggunakan beberapa jenis alat komunikasi penyebaran peringatan untuk memastikan agar i) bila satu alat penyebaran peringatan gagal ada alat komunikasi lain yang dapat digunakan, ii) peringatan dapat diterima oleh lebih banyak masyarakat, dan iii) untuk memperkuat pesan peringatan. Alat penyebaran peringatan perlu ada di tempat-tempat berkumpulnya warga di kawasan berisiko, antara lain permukiman, sekolah, kantor, pasar, rumah sakit, lokasi wisata. KEMAMPUAN MERESPON Setelah memperoleh informasi peringatan dini, warga sekolah harus melakukan tindakan yang sesuai dengan ancaman. Untuk itu warga sekolah harus memiliki prosedur yang mengatur tentang; 1. Siapa menerima informasi peringatan dini, 2. Mekanisme menetapkan tindakan sesuai tingkat ancaman, 3. Rencana evakuasi dan strategi pemberian bantuan evakuasi apabila tingkat ancaman membahayakan. Prosedur ini harus disepakati dan dipatuhi. Tetapi prosedur yang tepat guna memiliki syarat; 1. Berbahasa tegas sehingga tidak menimbulkan kebingungan, 2. Sederhana sehingga mudah dipahami, 3. Mudah diingat dan 4. Masuk akal dilakukan. 5. Memiliki alternatif komunikasi bagi penyandang disabilitas (tuna rungu, tuna grahita) Langkah penyusunan sistem peringatan dini meliputi: 1. Penetapan pemantauan dan peringatan bahaya; tatacara melakukan pemantauan atau memperoleh informasi bahaya. 2. Penetapan penyebarluasan peringatan bahaya; menentukan tata cara penyebarluasan peringatan bahaya kepada masyarakat. 3. Penetapan respon/tindakan terhadap peringatan.


61 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Langkah Penyusunan Sistem Peringatan Dini Tabel 5 Lembar kerja menyusun sistem peringatan dini di satuan pendidikan Jenis ancaman ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Sekolah ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Kecamatan ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Kabupaten/Kota ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Provinsi ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Pemantauan dan Peringatan Bahaya Sumber peringatan bahaya Bentuk peringatan bahaya Cara pemantauan bahaya Cara penyampaian bahaya Cara penyampaian peringatan bahaya Cara memastikan kebenaran peringatan Penyebarluasan Peringatan Bahaya Penyampai peringatan Sasaran peringatan Cara penyampaian peringatan umum dan khusus difabel Bentuk peringatan Respon/Tindakan Terhadap Peringatan Siswa Tenaga Pendidik


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 62 Contoh sistem peringatan dini banjir Tabel 6 Contoh sistem peringatan dini di satuan pendidikan Jenis ancaman ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Banjir Sekolah : ͙͙͙͙͙͙͘͘ Kecamatan ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Kabupaten/Kota ͗ ͙͙͙͙͙͙͘͘ Provinsi : ͙͙͙͙͙͙͘͘ Pemantauan dan Peringatan Bahaya Sumber peringatan bahaya Petugas yang diberi tugas oleh warga sekolah : x Masyarakat di bantaran sungai x Forum PRB Desa Bentuk peringatan bahaya x Informasi adanya peningkatan debit dan tinggi muka air x Informasi peningkatan tinggi muka air sungai Cara pemantauan bahaya x Pengamatan tinggi dan volume muka air dan sungai x Pemantauan curah hujan Cara penyampaian peringatan bahaya x Masyarakat di sekitar sungai melaporkan tanda-tanda banjir ke sekolah x Melalui grup Whatsapp Group x Menggunakan pengeras suara Cara memastikan kebenaran peringatan x Menghubungi masyarakat yang berada disekitar sungai. Penyebarluasan Peringatan Bahaya Penyampai peringatan x Kepala Sekolah x Ketua Tim Siaga Bencana Sekolah Sasaran peringatan x Warga sekolah Cara penyampaian peringatan umum dan khusus difabel x Melalui lonceng sekolah x Melalui Whatsapp Group Bentuk peringatan x Seluruh warga sekolah diminta untuk tidak panik x Seluruh warga sekolah untuk segera mengamankan barang berharga. x Seluruh masyarakat melakukan evakuasi Respon/Tindakan Terhadap Peringatan Siswa x Mempersiapkan diri melakukan evakuasi Tenaga Pendidik x Mengevakuasi siswa menuju tempat evakuasi


63 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan b. SOP Kedaruratan/Evakuasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Kedaruratan Bencana adalah serangkaian kegiatan yang terstruktur dan disepakati oleh seluruh pihak terkait tentang siapa berbuat apa pada saat kapan, dimana, mengapa dan bagaimana metode pelaksanaannya. Tujuan umum dari prosedur tetap kedaruratan bencana di satuan pendidikan adalah seluruh warga satuan pendidikan mampu menyelamatkan diri saat terjadi bencana. Secara khusus prosedur tetap kedaruratan bencana di satuan pendidikan bertujuan: x Untuk mengetahui tindakan dan langkah apa yang dilakukan, oleh siapa, kapan, bagaimana dan dimana pada saat sebelum kejadian, di saat kejadian, dan setelah kejadian. x Untuk mengetahui peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam situasi darurat (termasuk untuk simulasi/gladi), serta memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas terkait. Penyusunan prosedur tetap (protap) kedaruratan bencana disusun berdasarkan kajian risiko yang telah dilakukan sebelumnya dan kesepakatan tugas tugas tim siaga bencana. Protap disusun secara partisipatif oleh perwakilan warga satuan pendidikan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas siapa, tindakan-tindakan apa yang dilakukan, kapan, dan di mana, baik sebelum kejadian, di saat kejadian, dan setelah kejadian. Protap TanggaƉ DaƌƵƌaƚ Bencana SaƚƵan Ɖendidikan menjamin ΗKŽŽƌdinaƐiїƐiaƉa melakƵkan aƉa͖ indiǀidƵ aƚaƵ ƚimΗ dan ΗKŽmƵnikaƐiї jalƵƌ kŽŽƌdinaƐi͗ ǁeǁenang dan tanggung jawab". Protap juga membantu untuk mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap-tiap posisi dalam situasi darurat (termasuk untuk simulasi/ gladi), serta memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas terkait.


65 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan PROSEDUR PENANGANAN GEMPA BUMI SD MUHIKA BANTUL, DIY Diperbaharui tanggal: Maret 2023 Tanggal uji coba setelah diperbaharui: (belum diujicoba) Tabel 7 Contoh Prosedur Kedaruratan Gempa Bumi Satuan Pendidikan Siapa Apa Kapan Dimana Jika terjadi gempa bumi maka Semua warga sekolah yang sedang berada di dalam kelas/ruangan (termasuk guru tanpa terkecuali) Tindakan penyelamatan diri sendiri (berlutut, merunduk/ masuk kolong meja dan berpegangan pada kaki meja) Saat gempa Di ruang kelas Semua warga sekolah yang berada di luar ruangan Tindakan penyelamatan diri sendiri (berlutut, menunduk dan tetap melindungi kepala), hindari benda yang bisa runtuh/melukai kita Saat gempa Di ruang kelas/ di lapangan Setelah gempa selesai/berhenti Bidang peringatan dini/siapa saja yang dekat alat peringatan dini Memukul Tiang Basket Mematikan saklar listrik Diluar kelas Koordinator Menuju titik kumpul untuk menyambut anak-anak Lapangan


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 66 Guru kelas (Bidang Evakuasi) Menginstruksikan anak tetap tenang, dan evakuasi ke luar kelas dengan tertib, Menutup pintu kelas jika kelas sudah kosong. Keluar kelas paling akhir Menutup pintu dan atau meletakkan kursi di depan kelas tanda kelaƐ ͞CLEAR͟ Setelah gempa (5 menit) Di kelas Ketua kelas/Tim Evakuasi Kelas Keluar kelas paling awal dan membawa teman temannya ke titik kumpul Di kelas Anak-anak Evakuasi keluar kelas dengan tertib menuju titik kumpul sesuai dengan barisan kelas saat upacara Di sekolah SETELAH BERKUMPUL DI TITIK KUMPUL Guru kelas Menghitung jumlah murid Memeriksa kondisi siswanya. Jika jumlah PAS, menginstruksikan anak-anak untuk duduk Jika masih kurang, menginstruksikan anak-anak untuk tetap berdiri Jika kurang, melaporkan ke coordinator 5 Menit Titik Kumpul Anak-anak Tetap di lapangan sesuai dengan kelompoknya Mengikuti arahan guru kelas Titik Kumpul


67 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Koordinator Menenangkan anak-anak Memberikan pengarahan (mengajak, berdoa, dan mengajak bernyanyi) Titik Kumpul Tim peringatan dini Memeriksa kondisi ruangan apakah ada kerusakan atau tidak Melaporkan jika ada yang terluka. Melaporkan kepada kepala sekolah untuk keputusan lebih lanjut Area Sekolah JIKA ADA YANG TERLUKA Bidang Pertolongan Pertama Membawa korban ke tempat aman (utara kantor) Memberikan pertolongan pertama Membawa ke puskesmas jika diperlukan Titik Kumpul KESEPAKATAN TAMBAHAN: භ Keputusan KBM dilanjutkan atau dihentikan tergantung dampak gempa bumi (kondisi bangunan sekolah, kondisi bangunan di kampung dan atau kondisi psikologis anak) භ Jika keputusan KBM dihentikan, maka wali kelas mengontak orang tua murid masing-masing. භ Alat peringatan tanda bahaya HANYA BOLEH dibunyikan apabila kondisi darurat Satuan pendidikan sebaiknya memiliki prosedur tetap penanganan darurat yang memuat prosedur evakuasi, prosedur komunikasi, prosedur penanganan pertolongan pertama, prosedur pemulangan warga satuan pendidikan, prosedur penyisiran bangunan, prosedur penutupan satuan pendidikan, prosedur pembukaan kembali satuan pendidikan. Protap yang telah disepakati diuji coba melalui kegiatan simulasi.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 68 c. SOP Penutupan Satuan Pendidikan Penutupan sekolah dilaksanakan apabila satuan pendidikan mengambil keputusan untuk menghentikan KBM dalam kurun waktu tertentu setelah terjadi bencana/ kondisi darurat. keputusan penutupan sekolah dapat diambil dengan mempertimbangkan: - kondisi warga satuan pendidikan - kondisi bangunan satuan pendidikan - arahan pemerintah setempat Tata cara penutupan satuan pendidikan: - observasi dampak kejadian terdapat warga satuan pendidikan dan fasilitas satuan pendidikan - tim siaga bencana melakukan pemeriksaan secara cepat terhadap fasilitas satuan pendidikan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan warga satuan pendidikan. - hasil pemeriksaan tim siaga bencana menjadi pertimbangan bagi kepala sekolah untuk memutuskan penutupan sementara satuan pendidikan - jadwal pembukaan kembali satuan pendidikan diserahkan kepada satuan pendidikan dan arahan dari pemerintah setempat - selama satuan pendidikan ditutup satuan pendidikan tetap memberikan layanan pendidikan dalam situasi darurat mengikuti panduan penyelenggaraan pendidikan dalam situasi darurat. Contoh SOP Penutupan Sekolah dalam Situasi Darurat Jika fasilitas sekolah terdampak bencana, dan KBM tidak bisa dilanjutkan sebagaimana biasanya, maka: Tabel 8 Contoh SOP Penutupan Satuan pendidikan dalam Situasi Darurat Memprioritaskan Keselamatan seluruh warga sekolah adalah yang utama. Seluruh warga sekolah harus tetap berada di titik kumpul sampai adanya arahan dari kepala sekolah bahwa fasilitas aman dan dapat digunakan kembali.


69 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Keputusan · Berdasarkan keputusan yang dikeluarkan Kemdikbud Ristek/ Dinas Pendidikan Bantul/Dikdasmen PDM Bantul tentang penutupan sekolah. · Melakukan koordinasi dan konsultasi dengan PCM Kasihan. · Melakukan koordinasi dengan Kepala dusun/ Ketua RT dalam pelaksanaan di lapangan. Pelaporan terhadap penutupan 1. Koordinasi dan Memberitahukan pada Korwil Kasihan dan PCM Kasihan. 2. Melaporkan kepada Ketua RT. 3. Memberitahu seluruh GTK. 4. Memberitahu pemangku kepentingan lainnya. Tindakan Penutupan Sementara · Persiapan · Mengikutsertakan Tim Siaga Bencana · Merencanakan rencana penutupan sementara dengan para pemangku kepentingan · Menyiapkan komunikasi yang dibutuhkan Kedaruratan · Memonitor peristiwa dan tetap terinformasikan · Menjaga komunikasi dengan forum PRB setempat dan petugas keamanan setempat. · Menunggu sampai aman untuk memobilisasi GTK ke lokasi untuk mengecek situasi · Mengecek fasilitas untuk mengidentifikasi kerusakan. · Melaporkan kerusakan ke Kepala Sekolah. · Menilai status seluruh warga sekolah dan mendukung kebutuhan yang diperlukan. · Melakukan penilaian yang diperlukan untuk membantu pengambilan keputusan dalam membuka kembali fasilitas atau tidak.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 70 Perbaikan darurat · Membuat jadwal gotong royong bersama dengan pengelola SEKOLAH dan Tim Siaga Darurat Bencana sekitar sekolah. · Mendukung dan mengatur masalah kebutuhan dasar GTK. · Memonitor aktivitas kelanjutan kegiatan. Pertimbangan Khusus Pembukaan Kembali 1. Koordinasi dan Memberitahukan pada Korwil Kasihan dan PCM Kasihan. 2. Melaporkan kepada Ketua RT. 3. Memberitahu seluruh GTK. 4. Memberitahu pemangku kepentingan lainnya. Prinsip Umum · Jika ada kejadian bencana maka sesegera mungkin melakukan tindakan kesiapsiagaan. · KBM akan segera dilakukan secepatnya setelah kejadian dan apabila sudah dikatakan aman. Komunikasi · Jika evakuasi memerlukan waktu lebih lama kepala sekolah/ bidang evakuasi menghubungi orang tua dan pemangku kepentingan. d. SOP Pertolongan Pertama Pertolongan pertama adalah pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cidera atau kecelakaan yang membutuhkan penanganan medis dasar (sumber: PMI). Pelaku pertolongan pertama adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar. Langkah langkah melakukan pertolongan pertama: - Tetap tenang jangan panik - Pemberi pertolongan pertama haruslah orang yang memiliki keterampilan untuk melakukan pertolongan pertama. untuk itu tim siaga bencana satuan pendidikan harus mendapatkan pelatihan pertolongan pertama. - Tim siaga bencana bidang PP melakukan cek situasi korban


71 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan - Pastikan lokasi korban tidak ada bahaya lain. berikan pertolongan pertama di tempat yang aman. jika lokasi tidak aman, lakukan evakuasi darurat dengan memperhatikan tanda vital korban. - Lakukan KRABC: keselamatan, respon, airways (jalur nafas korban), breathing (pernafasan), circulation (sirkulasi darah) - Jika terdapat korban lebih dari 1 atau banyak lakukan TRIAGE - Bila korban luka ringan, berikan pertolongan pertama segera, bila korban luka berat berikan pertolongan pertama segera dan rujuk ke fasilitas kesehatan terdekat - Ketika memberikan pertolongan pertama harus memperhatikan prosedur keselamatan penolong: gunakan Alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan karet medis, kacamata pelindung, helm. - Apabila orangtua/wali berada jauh dari satuan pendidikan maka proses penanganan pertolongan pertama dan atau rujukan diserahkan sepenuhnya kepada satuan pendidikan Untuk tata cara melakukan pertolongan pertama, silahkan pelajari modul pertolongan pertama di https://pustaka.pmi.or.id/ Gambar 14. Simulasi penanganan pertolongan pertama Sumber foto: WVI


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 72 e. SOP Pemulangan Siswa Prosedur pemulangan peserta didik saat situasi bencana atau darurat dimaksudkan untuk memastikan bahwa peserta didik dan keluarga benar-benar bisa bertemu kembali dengan aman, setelah sebelumnya terjadi kondisi tidak aman atau tidak biasa. Di saat terjadinya suatu kondisi darurat atau bencana, semua peserta didik tidak boleh meninggalkan area satuan pendidikan/titik aman sebelum dijemput oleh orangtua/wali. peserta didik tingkat menengah atas dapat kembali ke rumah tanpa dijemput oleh orangtua/wali dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan pihak keluarga dan apabila kondisinya memungkinkan. Proses penjemputan dilakukan di tempat yang telah disepakati oleh pihak sekolah dan orangtua/wali. hal ini perlu dikomunikasikan lebih awal, termasuk durasi tunggu penjemputan dan mekanisme pemulangannya. Bagi warga satuan pendidikan yang mengalami cedera dan dirujuk ke fasilitas kesehatan maka proses penyerahan dilakukan di fasilitas kesehatan tersebut (tidak dibawa ke satuan pendidikan kembali) Orang tua peserta didik: Berikan dan perbarui Daftar Kontak Darurat untuk anak Anda. Daftar ini harus berisi orang tua peserta didik maupun wali siswa dan dua sampai tiga anggota keluarga ataupun teman keluarga yang dipercayai yang tinggal dekat atau yang dapat menjemput peserta didik saat kondisi darurat. Saat terjadi keadaan darurat ataupun bencana, peserta didik hanya akan diserahkan kepada orang yang namanya ada di dalam daftar tersebut atau diberi kewenangan oleh orang yang berada di dalam daftar tersebut. Administrasi: Pastikan bahwa Daftar Kontak Darurat untuk setiap peserta didik sudah diperbaharui oleh orang tua peserta didik di awal tahun ajaran baru, dan dapat diperbaharui lagi oleh orang tua peserta didik kapan saja. Simpan salinan Kontak Darurat peserta didik di Kotak-Siap-Bawa (Go-Box) dan setiap awal tahun ajaran baru di Kotak Perlengkapan Darurat Sekolah. Guru: Pastikan bahwa baik peserta didik maupun orang tua peserta didik paham betul akan prosedur pelepasan (pemulangan) peserta didik di kondisi darurat dan bencana. Tim Penyatuan Kembali (Reunifikasi): Sambut orang tua peserta didik dan mereka yang namanya ada di dalam kontak darurat di gerbang (sekolah) yang sudah ditentukan, dan berikan kepada mereka Form Penyatuan Kembali Peserta Didik dengan Keluarga (Ijin untuk Melepaskan/ Memulangkan Peserta Didik) untuk diisi. Lakukan verifikasi untuk memastikan bahwa orang dewasa yang menjemput memang tercatat di dalam Daftar


73 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Kontak Darurat dan juga lakukan verifikasi terhadap identitas penjemput. Simpan salinan Form Penyatuan Kembali Peserta Didik dengan Keluarga untuk menanggapi permintaan apapun. Organisasikan fungsi permohonan dan penyatuan kembali demi efisiensi dan keamanan yang maksimum. f. SOP Pengecekan Bangunan Setelah semua warga satuan pendidikan berhasil dievakuasi, maka perlu dilakukan pengecekan dampak untuk menentukan keputusan apakah KBM akan dilanjutkan atau dihentikan. 1. Tim siaga bencana yang telah ditunjuk melakukan pemeriksaan seluruh ruangan di area satuan pendidikan, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan warga satuan pendidikan. 2. Pengecekan dilakukan oleh minimal 2 orang. 3. Gunakan format terlampir untuk pengecekan dan pencatatan dampak. 4. Berikan tanda pada bangunan yang rusak. 5. Memberikan laporan hasil pengecekan kepada ketua tim siaga bencana dan atau kepala sekolah.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 74 BAB III INDIKATOR KETERCAPAIAN Pilar dua berbicara mengenai perencanaan yang berfokus pada kesetaraan untuk kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan anak-anak untuk kesinambungan pendidikan dalam kaitannya dengan semua ancaman bahaya dan risiko bagi anak-anak dan tenaga kependidikan di sektor pendidikan. Fokusnya adalah pada pengembangan kapasitas antisipatif, absortif, adaptif dan transformatif untuk resiliensi melalui partisipasi dan akuntabilitas yang berarti bagi penduduk yang terkena dampak. Setiap tahapan dalam penyelenggaraan pilar 2 SPAB terdapat parameter yang harus dicapai beserta indikator-indikator dan uraian verifikasinya. Parameter merupakan standar minimum yang bersifat kualitatif dan menentukan tingkat minimum yang harus dicapai dalam pemberian respon pendidikan. Indikatoƌ meƌƵƉakan ͞Ɖenanda͟ LJang menƵnjƵkkan aƉakah standar telah dicapai. Indikator memberikan cara mengukur dan mengkomunikasikan dampak, atau hasil dari suatu program, sekaligus juga proses, atau metode yang digunakan. Indikator bisa bersifat kualitatif atau kuantitatif. Sedangkan verifikasi adalah bukti yang telah ditetapkan untuk menunjukkan indikator. Berikut adalah matriks uraian tahapan, parameter, indikator, dan verifikasi ketercapaian pilar manajemen bencana di satuan pendidikan: Tabel 9 Indikator ketercapaian pilar 2 CAPAIAN & SUBPILAR PARAMETER INDIKATOR VERIFIKASI Perlindungan Fisik, Lingkungan dan Sosial, dan psikososial Penilaian Mandiri Satuan Pendidikan perangkat penilaian mandiri, analisa hasil dan penggunaan hasil untuk mendukung pelaksanaan SPAB *Tim Siaga Bencana mampu melakukan penilaian mandiri satuan pendidikan; *hasil penilaian mandiri dapat dianalisa untuk menyusun rencana kerja lanjutan SPAB Dokumentasi hasil penilaian mandiri satuan pendidikan Penyediaan Fasilitas Kesiapsiagaan Mobilisasi sumberdaya Tersedianya Fasilitas Kesiapsiagaan Satuan Fasilitas kesiapsiagaan dalam kondisi baik,


75 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Pendidikan yang disiapkan untuk kegiatan penanggulangan bencana di satuan pendidikan. terpasang di tempatnya dan siap digunakan. Kaji Cepat Dampak Bencana Bidang Pendidikan perangkat kaji cepat dampak, analisa hasil, penggunaan hasil dan diseminasi informasi adanya perangkat atau alat kaji cepat yang dapat diakses dan mudah digunakan, analisa hasil, penggunaan dan diseminasi hasil laporan kaji dampak bencana Kaji Kebutuhan Bidang Pendidikan perangkat kaji kebutuhan, analisa hasil, penggunaan hasil dan diseminasi informasi adanya perangkat kaji kebutuhan yang dapat diakses dan mudah digunakan oleh warga sekolah untuk mendata kebutuhan pendidikan dalam situasi darurat, proses analisa hasil, penggunaan dan diseminasi hasil untuk mendukung penyusunan rencana respons pendidikan guna menghindari tumpang tindih laporan kaji kebutuhan dan diseminasi laporan publik Peningkatan Kapasitas dan Keterampilan Saat Darurat Simulasi Penanggulangan Bencana Satuan Pendidikan sikap dan tindakan * Simulasi masuk kedalam program rutin satuan pendidikan dan terlaksana secara rutin; *Pelibatan warga satuan pendidikan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi simulasi; Dokumen rencana kerja satuan pendidikan yang mencantumkan simulasi; Dokumentasi dan laporan kegiatan simulasi; Skenario simulasi satuan pendidikan yang terintegrasi dengan


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 76 *Simulasi di satuan pendidikan yang terhubung dengan simulasi DESTANA/KATANA skenario simulasi DESTANA dan KATANA Manajemen Risiko Yang Partisipatif Kajian Risiko Bencana Satuan Pendidikan Partisipatif Sikap dan tindakan Kajian risiko bencana di Satuan Pendidikan melibatkan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, serta menunjukkan partisipasi aktif dan melibatkan warga di lingkungan sekolah. Terlaksananya kegiatan kajian risiko bencana di satuan pendidikan Dokumentasi kegiatan (foto atau video) pengkajian risiko sekolah yang melibatkan warga sekolah Tim Siaga Satuan Pendidikan Perencanaan kesiapsiagaan Mengkaji dokumen risiko bencana satuan pendidikan Melibatkan warga dan pemangku kepentingan satuan pendidikan dalam mengkaji dokumen risiko bencana di satuan pendidikan Tersedianya dokumen hasil kajian dokumen risiko bencana satuan pendidikan Pelibatan warga dan pemangku kepentingan satuan pendidikan dalam mengkaji dokumen risiko sekolah Rencana Aksi SPAB Sikap dan tindakan Memiliki dokumen rencana aksi program mitigasi bencana di Satuan Pendidikan Melakukan sosialisasi rencana aksi program mitigasi bencana di Satuan Pendidikan Dokumen rencana aksi program mitigasi bencana di Satuan Pendidikan Terlaksananya sosialisasi rencana aksi program mitigasi bencana di Satuan Pendidikan


77 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Tim Siaga Satuan Pendidikan Kebijakan satuan pendidikan Tersedianya struktur Tim Siaga Satuan Pendidikan yang jelas, meliputi peran dan fungsi yang ditetapkan untuk setiap komponen dalam satuan pendidikan. struktur organisasi yang memperlihatkan posisi, tugas dan tanggung jawab setiap anggota Tim siaga Satuan Pendidikan. Deskripsi tugas yang menguraikan peran dan tanggung jawab setiap anggota dalam pengelolaan SPAB. Penunjukan resmi atau SK (Surat Keputusan) yang menetapkan peran dan fungsi masing-masing personalia Tim Siaga Satuan Pendidikan.. Penganggaran Mobilisasi sumber daya Tersedianya anggaran tahunan atau sisipan kegiatan pada anggaran kegiatan Satuan Pendidikan yang dialokasikan untuk kegiatan penanggulangan bencana/SPAB sekolah aman bencana. Dokumen anggaran tahunan Satuan Pendidikan (RKAS) yang mencantumkan alokasi dana untuk kegiatan penanggulangan bencana, seperti pelatihan, infrastruktur aman bencana, atau pengadaan peralatan keamanan. Kebijakan Kebijakan dan sistem pendukung *adanya kebijakan terkait SPAB di satuan pendidikan dan dinas pendidikan (contoh: kebijakan sekretariat bersama SPAB dalam bentuk SK/peraturan kepala daerah, kebijakan program SPAB di satuan pendidikan, kebijakan kesinambungan Dokumentasi implementasi kebijakan dan capaian Data yang dapat diakses


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 78 pendidikan, kebijakan/keputusan kepala sekolah memasukkan materi SPAB atau kebencanaan di kegiatan intra dan atau ekstrakurikuler) *adanya data dinas pendidikan yang mencantumkan antara lain: satuan pendidikan berisiko tinggi, satuan pendidikan penyangga (sister school) sebagai lokasi potensial pendidikan darurat, lokasi evakuasi dan pengungsian sementara jika bencana terjadi pada jam sekolah Pengelolaan Data & Informasi Perangkat, proses, analisa dan penggunaan data dan informasi adanya perangkat yang dapat diakses dan digunakan untuk identifikasi kebutuhan implementasi SPAB, adanya proses pengambilan data secara inklusif yang mencakup informasi, penggunaan data dan informasi untuk mendukung implementasi dan perbaikan laporan hasil pengumpulan data dan informasi pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan penerapan Program Satuan Pendidikan Sikap dan tindakan Terlaksana kegiatan pemantauan, evaluasi dan pelaporan program SPAB yang dilakukan satuan pendidikan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Laporan/ dokumentasi pemantauan,evaluasi dan pelaporan yang tercatat dan terdokumentasi.


79 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Tersedianya dan tersusun dokumentasi informasi hasil pemantauan, evaluasi dan pelaporan penerapan Program SPAB Rencana Kesinambungan Pendidikan Perencanaan Kesinambungan Pendidikan Perencanaan Kesiapsiagaan Tersedianya rencana kesinambungan pendidikan di masa darurat yang diperbaharui setiap tahun yang telah mempertimbangkan faktor: Materi ajar yang sesuai Penyandang disabilitas Akses transportasi Keamanan peserta didik dan warga lainnya Relokasi Alternatif lokasi dan fasilitas pembelajaran sementara Jadwal dan metode pengajaran alternative Kemungkinan satuan pendidikan dijadikan tempat pengungsian Tersusunnya dokumen rencana kesinambungan Pendidikan di masa darurat Terlaksananya sosialisasi rencana kesinambungan pendidikan Standar Operasional Prosedur (SOP) Kedaruratan Bencana & Rencana Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 80 Tersusunnya dokumen SOP Kedaruratan dan Rencana Kesiapsiagaan di satuan pendidikan: SOP tanggap darurat Jalur evakuasi sekolah Jalur evakuasi per kelas Struktur pelaksana operasi/situasi darurat Terlaksananya sosialisasi Protap Kedaruratan di satuan pendidikan. dokumen SOP Kedaruratan dan Rencana Kesiapsiagaan satuan pendidikan dokumentasi kegiatan sosialisasi Protap Kedaruratan


81 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan LAMPIRAN Lampiran 1 Lembar Kerja. - Penilaian Mandiri Awal Kapasitas Sekolah Lembar Kerja SPAB.01 ʹ PENILAIAN MANDIRI AWAL KAPASITAS SEKOLAH (Mengidentifikasi Kebutuhan) Tabel 10 Lembar Kerja. - Penilaian Mandiri Awal Kapasitas Sekolah INDIKATOR SUB INDIKATOR NO PERTANYAAN KUNCI JAWABAN Ya Tidak Lokasi aman dari bencana Sejarah Bencana Alam 1 Terdapat garis sempadan bangunan di sekolah/madrasah kami. 2 Sekolah/madrasah kami tidak terletak di lahan bekas pembuangan sampah akhir (TPA) dan daerah bekas pertambangan 3 Bangunan sekolah/madrasah kami tidak pernah rusak akibat bencana alam. 4 Bangunan sekolah/madrasah kami belum dibangun kembali/diperkuat setelah kerusakan terjadi. Kondisi Sekolah/ madrasah Terhadap Paparan 5 Bangunan sekolah/madrasah kami dirancang untuk tahan terhadap gempa. 6 Pintu kelas dan gerbang sekolah/madrasah kami cukup lebar untuk penyelamatan saat gempa


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 82 Bencana Gempa Bumi 7 Sekolah/madrasah kami sudah memiliki penanda jalur evakuasi jika terjadi gempa bumi 8 Sekolah/madrasah kami sudah memiliki penanda tempat berkumpul jika terjadi gempa bumi 9 Sekolah/madrasah kami tidak berada pada wilayah rawan ancaman gempa bumi 10 Sekolah/madrasah kami tidak berlokasi di daerah yang pernah terkena gempa bumi besar sebelumnya 11 Sekolah/madrasah kami tidak memiliki vegetasi pohon yang membahayakan jika terjadi gempa bumi. Kondisi Sekolah/ madrasah Terhadap Paparan Bencana Tsunami 12 Sekolah/madrasah kami tidak berada pada wilayah yang rawan terjadinya kejadian bencana alam tsunami 13 Sekolah/madrasah kami tidak berlokasi di daerah yang pernah terkena bencana alam tsunami sebelumnya 14 Rancangan sekolah/madrasah kami sudah memiliki rancangan yang aman dari tsunami 15 Sekolah/madrasah kami sudah memiliki penanda jalur evakuasi jika terjadi tsunami


83 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 16 Sekolah/madrasah kami sudah memiliki penanda tempat berkumpul yang aman saat kejadian tsunami Kondisi Sekolah/ madrasah Terhadap Paparan Bencana Gunung Berapi 17 Sekolah/madrasah kami tidak berada pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api 18 Sekolah/madrasah kami tidak berlokasi di daerah yang dekat dengan aliran lahar dingin yang dapat meluap 19 Sekolah/madrasah kami tidak pernah mengalami dampak erupsi gunung api sebelumnya 20 Rancangan sekolah/madrasah kami sudah memperhitungkan resiko terpapar dampak erupsi gunung api Kondisi Sekolah/ madrasah Terhadap Paparan Bencana Longsor 21 Sekolah/madrasah kami tidak berada pada daerah berlereng curam yang sewaktu-waktu bisa longsor 22 Sekolah/madrasah kami tidak berlokasi di daerah yang pernah terkena bencana tanah longsor sebelumnya 23 Sekolah/madrasah kami jauh dari lokasi pusat kejadian bencana tanah longsor sebelumnya


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 84 24 Rancangan sekolah/madrasah kami sudah memperhitungkan ancaman tanah longsor yang ada di sekitar Kondisi Sekolah/ madrasah Terhadap Paparan Bencana Kebakaran 25 Rancangan sekolah/madrasah kami sudah memperhitungkan resiko bencana kebakaran 26 Pintu kelas dan gerbang sekolah/madrasah kami cukup lebar untuk penyelamatan saat kebakaran 27 Sekolah/madrasah kami sudah memiliki penanda jalur evakuasi jika terjadi kebakaran 28 Sekolah/madrasah kami sudah memiliki penanda tempat berkumpul jika terjadi kebakaran 29 Sekolah/madrasah kami tidak berada pada wilayah permukiman padat yang rawan kebakaran Kondisi Sekolah/ madrasah Terhadap Paparan Bencana Bencana Lain 30 Sekolah/madrasah kami tidak berada dalam wilayah rawan terhadap bencana lain. (.......................................................................................... ........................................................................................... ........................................................................................... ..................................) STRUKTUR BANGUNAN Pondasi 31 Ada sistem pondasi di bawah bangunan sekolah/madrasah.


85 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Balok 32 Bangunan memiliki balok sloof/balok ikat pondasi. 33 Bangunan sekolah/madrasah memiliki balok ring. 34 Balok terbebas dari kerusakan (retak, pecah, lepas dari ikatannya). 35 Sambungan pembesian (tulangan) tersambung secara kuat dan baik. Kolom 36 Bangunan sekolah/madrasah memiliki kolom. 37 Semua kolom terbebas dari kerusakan (retak, pecah, lepas dari ikatannya). 38 Tiap sudut kolom yang terbuat dari kayu di atasnya mempunyai sokong diagonal. Dinding 39 Dinding bangunan sekolah/madrasah terbuat dari bahan yang ringan. 40 Dinding sekolah/madrasah bebas dari keretakan. 41 Terdapat paku untuk mengkoneksikan dinding dengan kayu kusen. Atap 42 Atap bangunan terbuat dari material yang ringan.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 86 43 Penutup atap dihubungkan dengan baik pada rangka atap. DESAIN DAN PENATAAN KELAS Dinding Partisi 44 Dinding partisi sudah diikatkan pada komponenkomponen terdekat. Langit- Langit 45 Plafon atau kisi-kisi sudah diikatkan dengan kuat ke sistem atap. Pintu dan Jendela 46 Pintu kelas terbuka keluar ruangan. 47 Jendela yang berkaca telah diberi ikatan silang antar sudutnya sebagai pengikat lateral pada struktur atau pada kaca dilapisi dengan plastik pengaman kaca sehingga saat terjadi gempa, pecahan kaca tidak akan membahayakan? Ornamen tetap 48 Benda-benda yang menggantung di langit-langit sudah dipastikan tidak akan bertabrakan satu sama lain ketika terjadi gempa? 49 Lampu-lampu sudah dipasang dengan kuat dan tepat pada tempatnya? 50 Tiang bendera sudah tertanam dengan baik dan kuat pada tempatnya? 51 Papan petunjuk di kawasan sekolah/madrasah sudah diikatkan dengan baik? 52 Genteng sudah dikaitkan dengan baik pada struktur atap?


87 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan Penataan tempat duduk 53 Apakah terdapat jarak yang memadai antara kursi dan meja siswa? 54 Apakah terdapat jarak yang memadai antar kursi siswa? 55 Apakah posisi duduk siswa berkebutuhan khusus telah memudahkannya untuk evakuasi? 56 Apakah tempat duduk siswa dan guru jauh dari bendabenda yang mungkin membahayakannya, missal lemari, rak buku, dll? Tangga 57 Apabila ada tangga, pegangan tangga sudah dijangkarkan dengan kuat dan dijangkarkan dengan baik? Aksesibilitas 58 Terdapat ramp untuk mendukung kemandirian mobilitas warga sekolah pengguna kursi roda termasuk kemandirian saat evakuasi dalam situasi bencana? 59 Terdapat guiding block untuk mendukung kemandirian mobilitas warga sekolah dengan kesulitan penglihatan termasuk kemandirian saat evakuasi dalam situasi bencana? Lantai dan Keramik 60 Lantai terbebas dari keretakan. 61 Keramik lantai masih dalam kondisi utuh. Sekitar 62 Terdapat tempat evakuasi atau lapangan terbuka.


Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 88 63 Jalur evakuasi aman dari benda yang berjatuhan. 64 Pohon mati atau rapuh sudah ditebang sehingga tidak akan jatuh/patah saat gempa terjadi. DUKUNGAN SARANA DAN PRASARANA Peralatan Listrik (telepon, televisi, komputer, lampu, kipas angin, dll) 65 Peralatan yang penting sudah diikatkan dengan baik untuk menghindari peralatan tersebut bergeser dari atas rak atau meja. 66 Telepon yang diletakkan di atas meja sudah cukup jauh dari tepi sehingga telepon tersebut tidak akan terjatuh. 67 Speakers /pengeras suara, computer, dan alat-alat elektronik lain sudah diikatkan dengan baik sehingga tidak menghambat jalur evakuasi saat terjadi bencana. 68 Informasi penting yang berada di dalam komputer sudah disimpan secara periodik ditempat lain sebagai cadangan. Perabotan 69 Rak-rak buku, filling cabinet sudah diangkurkan dengan baik pada dinding atau lantai. 70 Kondisi rak-rak buku, rak, filing cabinet masih dalam keadaan yang baik (tidak lapuk)?. 71 Rak-rak buku sudah dilengkapi dengan penyangga atau kabel di tepi, untuk menjaga buku yang jatuh.


89 Modul Pilar 2: Manajemen Penanggulangan Bencana dan Kesinambungan Pendidikan 72 Barang-barang yang dapat pecah sudah berada pada tempat yang cukup stabil dan aman. 73 Rak-rak yang menyimpan peralatan P3K terletak pada tempat yang mudah diakses dan tidak mudah rusak. 74 Rak-rak yang beroda sudah ditahan/di-block untuk menghindari rak tersebut meluncur saat gempa. 75 Meja terbuat dari bahan yang cukup kuat untuk menahan jatuhnya reruntuhan. 76 Sudut-sudut meja sudah diratakan dan dibuat tumpul untuk menghindari adanya cedera 77 Terdapat tas siaga berisi tas perlengkapan darurat termasuk perlengkapan pertolongan pertama di setiap kelas? 78 Di dalam setiap kelas terdapat denah jalur evakuasi? 79 Terdapat pemadam kebakaran di setiap kelas? Gambar dan Papan 80 Gambar, papan, dan hiasan dinding sudah dipasang dengan kuat pada dinding dan terletak pada lokasi yang tidak membahayakan.


Click to View FlipBook Version