The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

by Dewi Rosmalia, SKM, M.Kes, Yustina Sriani etc.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-10-14 01:47:14

Sosiologi Kesehatan Bahan Ajar Keperawatan Gigi

by Dewi Rosmalia, SKM, M.Kes, Yustina Sriani etc.

 Sosiologi Kesehatan 
6. Langkah evaluasi ekonomi pelayanan kesehatan adalah:

a. 1) Perhitungan biaya, 2) Identifikasi biaya, 3) Penilaian dan pengukuran biaya,
4) Penyesuaian biaya untuk waktu yang berbeda

b. 1) Identifikasi biaya, 2) Perhitungan biaya, 3) Penilaian dan pengukuran biaya,
4) Penyesuaian biaya untuk waktu yang berbeda

c. 1) Identifikasi biaya, 2) Penilaian dan pengukuran biaya, 3) Perhitungan biaya,
4) Penyesuaian biaya untuk waktu yang berbeda

d. 1) Identifikasi biaya, 2) Penilaian dan pengukuran biaya, 3) Penyesuaian biaya
untuk waktu yang berbeda, 4) Perhitungan biaya

46

 Sosiologi Kesehatan 

Topik 2
Agama dan Kesehatan

Saudara mahasiswa, Saudara tentu setuju bahwa agama sangat penting perannya bagi
kehidupan manusia. Saudara bisa membayangkan tidak, kalau seandainya dalam kehidupan
ini kita tidak memiliki pedoman atau petunjuk tentang hal yang benar dan yang salah. Bisa-
bisa kita akan kembali ke zaman jahiliah seperti dahulu. Dalam menjalani kehidupan, kita
sebagai manusia memerlukan pedoman dalam membimbing dan mengarahkan kehidupan
agar selalu berada di jalan yang benar, yaitu dengan mengajak kepada kebaikan dan
menjauhi kejahatan serta kemungkaran. Pedoman tersebut dinamakan agama, yang
diturunkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak lain dan tidak bukan untuk kebaikan kita
umat manusia. Dengan agama, manusia dalam kehidupannya memperoleh rambu-rambu
yang jelas, bagaimana cara yang sebenarnya untuk dapat menjalin hubungan dengan
Tuhannya, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam
sekitarnya.

Agama pada hakikatnya bertujuan membina dan mengembangkan kehidupan yang
sejahtera di dunia dan di akhirat. Secara universal agama memberi tuntutan kepada manusia
melakukan yang baik dan menghindari hal-hal yang dilarang oleh agama termasuk masalah
kesehatan. Kita sering mendengar bahwa masyarakat Indonesia dikatakan sebagai
masyarakat religious karena setiap warga masyarakat menganut suatu agama atau
kepercayaan dan menjalankan ajarannya sesuai dengan agama dan kepercayaan yang
dianutnya itu. Sifat yang demikian telah dinyatakan dalam sila pertama Pancasila yaitu
Ketuhanan Yang Maha Esa.

Semua aktivitas manusia yang berkaitan dengan agama berdasarkan pada getaran
jiwa, yang biasa disebut emosi keagamaan atau religious emotion. Agama merupakan salah
satu prinsip yang harus dimiliki oleh setiap manusia untuk mempercayai Tuhan dalam
kehidupan mereka. Tidak hanya itu agama secara individu dapat digunakan untuk menuntun
kehidupan manusia dalam mengarungi kehidupannya sehari-hari.

Agama dalam masyarakat berfungsi dan berperan dalam mengatasi persoalan yang
terjadi di masyarakat, yang pada umumnya tidak dapat dipecahkan secara empiris karena
adanya keterbatasan kemampuan manusia. Oleh sebab itu agama diharapkan berperan
dalam kehidupan masyarakat sehingga mereka akan merasa sejahtera, aman, dan stabil.

A. PENGERTIAN AGAMA

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata
keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah
yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata
"agama" berasal dari bahasa Sanskerta, agama yang berarti "tradisi". Kata lain untuk
menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada
kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang
mengikat dirinya kepada Tuhan.

47

 Sosiologi Kesehatan 

Agama menurut Alwi (2007) adalah sistem yang mengatur tata keimanan
(kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta tata kaidah yang
berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Tafsir (2000)
mengungkapkan bahwa adalah peraturan tentang cara hidup, lahir dan batin. Selanjutnya
definisi agama menurut Durkheim (2003) adalah suatu sistem kepercayaan dan praktik yang
telah dipersatukan, yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus, kepercayaan, dan praktik
yang kemudian bersatu menjadi komunitas moral yang tunggal. Menurut Hendropuspito
(1983) agama adalah sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dan alam semesta yang
berkaitan dengan keyakinan. Selanjutnya, Kobong (2008) mengungkapkan bahwa agama
adalah sumber hidup manusia dalam relasi tiga dimensi, yaitu relasi dengan Allah SWT
sebagai pencipta, dengan sesama manusia dan dengan seluruh ciptaan lainnya (dalam
Sunaryo, 2014)

Nah, saudara mahasiswa dari beberapa definisi yang sudah dijelaskan, dapat
disimpulkan bahwa nilai-nilai agama sudah ada dalam diri tiap manusia, dan nilai-nilai
tersebut sangat mempengaruhi nilai hidup manusianya. Akibatnya, manusia memiliki
kesadaran bahwa di luar dirinya ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih suci dari dirinya.

B. PENTINGNYA AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Sebagaimana kita ketahui bersama, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang
paling sempurna dibanding makhluk lain yang ada di muka bumi ini. Akan tetapi,
kesempurnaan tersebut masih banyak memiliki keterbatasan dalam berbagai hal, seperti
keterbatasan dalam pengetahuan, baik mengenai sesuatu yang konkret maupun yang
abstrak atau gaib. Manusia juga memiliki keterbatasan dalam memprediksi apa yang akan
terjadi pada dirinya dan orang lain. Karena keterbatasan tersebut manusia memerlukan
pedoman dalam membimbing dan mengarahkan kehidupannya agar selalu berada di jalan
yang benar. Pedoman tersebut dinamakan agama yang dapat membantu dan memberikan
pencerahan spiritual pada dirinya.

Manusia membutuhkan agama, tidak hanya kebaikan dirinya dihadapan Tuhan, tetapi
juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, yang terkadang
tidak dapat dipahami dan dipecahkan. Di samping itu, agama juga memberi isyarat kepada
manusia bahwa sebenarnya di luar diri manusia ada zat yang lebih sempurna dan lebih dari
segalanya sehingga manusia perlu bersandar dan berpasrah diri (tawakal) kepada-Nya
melalui perantaraan agama. Manusia perlu bersandar dan berpasrah diri (tawakal) kepada-
Nya melalui perantara agama karena agama menjadi tempat untuk mengadu dan
berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kepada Tuhan berdasarkan pada ajaran bahwa
manusia hanya dapat berusaha, namun Tuhan-lah yang menentukan. Di samping itu dalam
kehidupan sosial, agama diperlukan untuk menjadi dasar dalam menata kehidupan, baik
ekonomi, politik, sosial, budaya maupun aspek lainnya sehingga kehidupannya tercermin
dalam perilaku yang sesuai dengan ajaran agamanya.

48

 Sosiologi Kesehatan 

C. RUANG LINGKUP AGAMA

Durkhem (dalam Sunaryo, 2014) mengungkapkan bahwa secara garis besar ruang
lingkup agama mencakup tiga hal:
1. Hubungan manusia dengan Tuhannya, yang disebut ibadah; tujuan dari ibadah tidak

lain untuk mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya.
2. Hubungan manusia dengan manusia. Agama memiliki konsep dasar mengenai

kekeluargaan dan kemasyarakatan. Konsep dasar tersebut memberikan gambaran
mengenai ajaran agama terkait hubungan manusia dengan manusia, atau disebut pula
sebagai ajaran kemasyarakatan. Misalnya setiap ajaran agama mengajarkan tolong-
menolong terhadap sesama manusia.
3. Hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau lingkungannya. Sebagaimana kita
ketahui bahwa setiap agama mengajarkan manusia untuk selalu menjaga
keharmonisan antara makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya agar manusia dapat
melanjutkan kehidupannya.

D. FUNGSI AGAMA DALAM MASYARAKAT

Menurut Jalaluddin (2007), agama memiliki delapan fungsi penting dalam
masyarakat, yaitu:

1. Fungsi Edukatif
Artinya, ajaran agama secara hukum berfungsi menyuruh dan mengajak pada hal-hal

yang harus dipatuhi untuk dilaksanakan, serta melarang pada hal-hal yang tidak boleh
dilaksanakan. Oleh sebab itu, ajaran agama harus dipatuhi agar pribadi penganutnya menjadi
baik dan benar, dan terbiasa dengan hal-hal yang baik dan benar sesuai ajaran agama yang
dianutnya. Ajaran agama juga memberikan bimbingan dan pengajaran dengan perantara,
seperti nabi, kiai, pendeta, imam, sayaman, dukun, dan guru agama, baik dalam upacara
(perayaan) keagamaan, khotbah, renungan (meditasi) dan pendalaman rohani).

2. Fungsi Penyelamat
Berarti bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik di dunia maupun di

akhirat. Mereka meyakini bahwa jaminan keselamatan ini hanya bisa mereka temukan dalam
agama. Agama membantu manusia dalam mengenal sesuatu yang sakral dan zat yang Maha
tinggi, dan juga membantu dalam berkomunikasi dengan Tuhan-Nya. Dengan demikian
dalam hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Agama
sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah kepada Tuhan dengan jalan
pengampunan dan penyucian batin.

49

 Sosiologi Kesehatan 

3. Fungsi Perdamaian
Melalui tuntutan agama yang dianutnya, seorang atau sekelompok orang yang

bersalah atau berdosa akan mencapai kedamaian batin, yaitu perdamaian dengan dirinya
sendiri, sesama manusia, semesta alam, dan Tuhan. Untuk mencapai kedamaian, dia harus
bertaubat dan mengubah cara hidup yang lama dengan cara hidup yang baru dengan lebih
baik dan benar.

4. Fungsi Kontrol Sosial
Dengan menjalankan ajaran agama dengan baik dan benar, kepekaan sosial yang tinggi

dari individu akan terbentuk. Mereka lebih peka terhadap masalah sosial di sekelilingnya,
seperti keadilan, kemiskinan, kemaksiatan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Dengan
kepekaan sosial yang tinggi ini, mereka tidak akan berdiam diri ketika menyaksikan kebatilan
yang merasuki sistem kehidupan yang ada. Di samping hal tersebut, agama juga berfungsi
meneguhkan kaidah susila dari adat-istiadat yang dipandang baik bagi kehidupan moral
warga masyarakat, serta mengamankan dan melestarikan kaidah moral yang dianggap baik.

5. Fungsi Pemupuk Rasa Solidaritas
Ajaran agama mengajarkan untuk selalu berusaha memupuk persaudaraan, baik

dengan sesama pemeluk agama maupun dengan pemeluk agama lain. Apabila fungsi
pemupuk rasa solidaritas ini dibangun secara serius dan tulus, persaudaraan yang kokoh dan
pilar kehidupan masyarakat akan terbentuk.

6. Fungsi Pembaruan
Artinya, ajaran agama dapat mengubah kehidupan individu atau kelompok menjadi

kehidupan baru yang lebih baik, dan berguna bagi orang lain. Dengan fungsi ini agama
diharapkan akan terus-menerus menjadi agen perubahan, terutama nilai dan moral bagi
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

7. Fungsi Kreatif
Fungsi untuk mendorong dan menopang fungsi pembaruan. Caranya adalah dengan

mengajak umat beragama agar bekerja dengan produktif dan inovatif, yang nantinya
bermanfaat bagi kepentingan diri sendiri dan orang lain.

8. Fungsi Sublimatif
Fungsi sublimatif disebut juga dengan perubahan emosi. Artinya ajaran agama

menyucikan segala usaha manusia, tidak hanya yang bersifat agamawi, tetapi juga yang
bersifat duniawi. Usaha manusia selama tidak bertentangan dengan norma agama, bila
dilakukan atas niat yang tulus, karena untuk Allah SWT, bersifat ibadah.

O’Dea & Thomas,1996 (dalam Sunaryo, 2014) menyebutkan bahwa fungsi agama
dalam masyarakat adalah sebagai pendukung, pelipur lara, dan perekonsiliasi, sarana
hubungan transendental melalui pemujaan dan upacara ibadah, penguat norma dan nilai
yang sudah ada, pengoreksi fungsi yang sudah ada, pemberian identitas diri serta
pendewasaan agama.

50

 Sosiologi Kesehatan 

Sementara itu, Hendropuspito (1983) mengemukakan fungsi agama dalam masyarakat
meliputi fungsi edukatif, penyelamat, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan
transpormatif. Fungsi edukatif berarti bahwa manusia memercayai fungsi edukatif pada
agama yang mencakup tugas mengajar dan membimbing. Keberhasilan pendidikan terletak
pada pendayagunaan nilai rohani yang merupakan pokok kepercayaan agama. Nilai yang
diresapkan antara lain makna dan tujuan hidup, hati nurani, rasa tanggung jawab, dan
konsep Ketuhanan. Fungsi penyelamat mengandung pengertian bahwa agama dengan
segala ajarannya memberikan jaminan kepada manusia keselamatan dunia dan akhirat.

Fungsi pengawasan sosial berarti bahwa agama ikut bertanggung jawab terhadap
norma sosial sehingga menyeleksi kaidah sosial yang ada, mengukuhkan kaidah yang baik
dan menolak kaidah yang buruk agar selanjutnya ditinggalkan dan dianggap sebagai
larangan. Agama juga memberi sanksi yang harus dijatuhkan kepada orang yang melanggar
larangan dan mengadakan pengawasan yang ketat atas pelaksanaannya. Fungsi memupuk
persaudaraan mengandung pengertian bahwa persamaan keyakinan merupakan salah satu
persamaan yang bisa memupuk rasa persaudaraan yang kuat. Manusia dalam persaudaraan
tidak hanya melibatkan sebagian dari diri saja, tetapi juga seluruh pribadinya juga dilibatkan
dalam suatu keintiman yang terdalam dengan sesuatu yang tertinggi yang dipercaya
bersama. Fungsi transformatif berarti bahwa agama mampu melakukan perubahan terhadap
bentuk kehidupan masyarakat lama dalam bentuk kehidupan baru. Hal ini dapat berarti pula
bahwa agama menggantikan nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru.
Transformasi ini dilakukan pada nilai-nilai adat yang kurang manusiawi.

E. PERANAN AGAMA DALAM MASYARAKAT

Saudara mahasiswa, saudara tentu tahu bahwa negara Indonesia merupakan negara
dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Di samping itu, ada agama minoritas yang diakui
pemerintah, dan hidup berdampingan dengan damai. Sebagai negara yang masyarakatnya
beragama, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius, bermoral, dan beradab.
Namun demikian, apakah predikat tersebut hanya sekadar lapisan luarnya saja yang
membungkus keadaan masyarakat kita yang sebenarnya? Bagaimana peran agama, dan
mengapa seolah-olah agama tidak berdaya untuk mengendalikan segala kerusakan yang ada
di sekitar masyarakat? Atau mungkin ajaran agama telah dimanipulasi untuk menjadi
pembenar tindakan yang merusak?

Apabila mengamati kondisi saat ini, lingkungan menjadi semakin tidak nyaman, baik
secara jasmaniah maupun rohaniah. Berbagai kerusakan dapat terjadi setiap hari dan terus
bertambah banyak, seiring dengan perjalanan waktu. Seperti berita yang dimuat di media
sosial dan elektronik, berita kekerasan di berbagai institusi terjadi seperti kekerasan dalam
keluarga, penyalahgunaan wewenang dalam institusi pemerintah. Tindakan korupsi juga
seolah-olah sudah mengakar dan mendarah daging, baik di institusi pemerintah maupun
swasta. Di samping itu remaja sudah biasa melakukan pergaulan bebas, seks bebas, aborsi,
tindakan asusila, dan perusakan lingkungan. Dampaknya adalah terjadinya kerusakan moral
individu yang kemudian akan menjadi kerusakan moral masyarakat.

51

 Sosiologi Kesehatan 

Manusia berperan dan berpengaruh dalam masyarakat. Ada empat kelompok peran
manusia yang terkait dengan agama, (Sunaryo, 2014) yaitu:

1. Orang yang lari dari ajaran agama
Orang yang lari dari ajaran agama pada dasarnya ia tahu ajaran agama, namun mereka

merasa agama hanya mengekang kebebasan individu untuk berekspresi dan tidak membawa
keberuntungan. Pada umumnya orang-orang seperti ini tidak lagi menggubris ajaran agama
sehingga apabila teks agama digunakan untuk mengajak mengerjakan kebaikan atau
meninggalkan kemungkaran, tidak akan lagi mempan. Bahkan, mungkin mereka sudah tidak
takut dengan neraka dan tidak tertarik dengan surga. Mereka cenderung mengutamakan
akal dalam menimbang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

2. Kelompok yang memahami agama dan menyalahgunakannya untuk kepentingan
pribadi atau kelompok
Kelompok ini memahami bahwa ajaran agama menunjukkan dan mengajak manusia

pada jalan kebenaran. Apabila petunjuk itu dilaksanakan, manusia akan dapat menjalani
hidup dengan penuh ketenangan dan ketenteraman, baik secara individu maupun sosial.
Melihat kelompok ini mungkin kita berpikir tentang kelemahan peran agama dalam
melarang manusia dari tindakan negatif dan mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik.

Pada dasarnya agama tidak salah atau lemah, namun manusia yang menyalahgunakan
ajaran agama yang mereka pahami. Pemahaman agama lemah dan salah sehingga tidak
dapat menjangkau apa yang sebenarnya dikehendaki oleh agama. Bahkan mereka sering
tidak menyadari kelemahan itu, dan dengan kepercayaan diri yang tinggi malah
menggunakan tameng agama untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh agama
dan mereduksi ajaran agama itu sendiri.

Kelompok ini secara kasat mata pandai dan mengerti ajaran agama, namun tindakan
mereka tidak mencerminkan ajaran agama yang dia anut. Mereka melakukan tindakan yang
meresahkan atau bahkan merugikan dan mendzalimi masyarakat. Meskipun demikian, ia
masih merasa benar dengan tindakannya itu dan menilainya dengan dalil atau teks agama.
Mereka mengingkari bahwa pada dasarnya agama sama sekali tidak punya kepentingan
dalam visi dan misinya dalam kehidupan makhluk di dunia ini, kecuali untuk membuat suatu
tatanan demi kebaikan makhluk itu sendiri.

3. Orang yang memahami agama dan menjalankannya untuk memperoleh kesalehan
individu
Banyak orang yang memahami dan menjalankan agama, namun hanya untuk dirinya

sendiri. Orang yang seperti ini rajin dan konsisten (istiqomah) menjalankan ibadah mahdhah
(khusus), seperti shalat, puasa, zakat. Akan tetapi orientasi ibadahnya hanya berorientasi
pada keselamatan dirinya sendiri tanpa memedulikan orang lain dan lingkungannya. Secara
individu, orang seperti ini memang cukup saleh, namun secara sosial ia belum pantas disebut
seorang yang shaleh.

52

 Sosiologi Kesehatan 

4. Orang yang memahami agama dan mentransformasikannya baik ke dalam
kehidupan pribadi maupun sosial bermasyarakat
Orang seperti ini memahami agama sebagai perangkat untuk membentuk keshalehan

pribadi dan sekaligus untuk membentuk keshalehan sosial, demi terciptanya masyarakat
yang bermoral. Memang, keshalehan spiritual pribadi saja tidak cukup untuk menciptakan
masyarakat yang aman, nyaman, tenteram dan adil. Keshalehan pribadi harus
ditransformasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat dalam bentuk ibadah sosial.
Sayangnya kelompok ini hanya sedikit di lingkungan kita sehingga kerusakan moral dan
kerusakan lingkungan masih berkembang dan bertambah dengan perjalanan waktu.

Dalam kehidupan bermasyarakat, agama memegang peranan yang besar dan sangat
penting. Keberadaan agama di tengah-tengah masyarakat tidak dapat diabaikan. Agama
mengatur tentang bagaimana membentuk masyarakat yang madani. Agama juga yang
mampu menciptakan kerukunan dalam kultur masyarakat yang majemuk. Seperti yang kita
ketahui tidaklah mudah hidup dalam perbedaan. Setiap perbedaan, terutama perbedaan
pendapat yang ada di masyarakat dapat memicu timbulnya perselisihan. Dalam hai inilah,
agama berperan penting sebagai penegak hukum dan menjaga agar masyarakat saling
menghormati dan tunduk pada hukum yang berlaku.

F. HUBUNGAN AGAMA DAN KESEHATAN

1. Agama dan kesehatan memiliki beberapa pola hubungan, yaitu:
a. Saling berlawanan, agama dan kesehatan berpotensi untuk mengalami
perbedaan dimana, pada pandangan agama tertentu cara pengobatan yang
dilakukan oleh pihak medis melanggar hukum agama, misalnya Islam
beranggapan bahwa terapi dengan urine merupakan sesuatu yang najis tetapi
dalam dunia medis itu tidak apa-apa.
b. Saling mendukung, agama dan ilmu pengetahuan juga berpotensi saling
mendukung, dimana sebagai contoh pada saat calon jemaah haji akan
mendapatkan general check-up supaya perjalanan hajinya dapat berjalan lancar.
c. Saling melengkapi, yang dimaksud disini ialah adanya peranan agama sebagai
pengkoreksi atas praktik kesehatan atau sebaliknya, sebagai contoh dalam Islam
kalau berbuka puasa dianjurkan berbuka dengan memakan makanan yang
manis-manis, tetapi dalam dunia kesehatan itu bukan sebuah keharusan hanya
sebagai pemulihan kondisi tubuh sehingga tidak kaget ketika menerima asupan
yang lebih banyak.
d. Saling terpisah dan bergerak dalam kewenangannya masing-masing, agama dan
ilmu kesehatan juga berpotensi untuk jalan sendiri-sendiri karena tidak adanya
kesesuaian antara konsep agama dan konsep ilmu kesehatan.

53

 Sosiologi Kesehatan 

2. Aspek kesehatan dalam agama
Dalam mengkaji aspek-aspek kesehatan dalam agama ada 2 hal yang perlu
diperhatikan :
a. Ajaran agama secara normatif. Agama memberikan ajaran atau panduan tentang
pentingnya menjaga kesehatan.
b. Ajaran agama yang riil atau tampak dari sisi perilaku nyata ada penganut agama
yang tidak memerhatikan aspek kesehatan.

Contoh: Pengaturan pola makan, larangan makanan yang haram, pelanggaran
makanan yang berlebihan serta anjuran minum madu adalah contoh lain aspek
kesehatan dalam tata aturan makan dalam ajaran agama.

3. Manfaat agama dalam kesehatan
a. Sumber Moral. Agama memiliki fungsi yang strategis untuk menjadi sumber
kekuatan moral baik bagi pasien dalam proses penyembuhan maupun tenaga
kesehatan. Bagi orang beragama, mereka memegang keyakinan bahwa
perlakuan Tuhan sesuai dengan persangkaan manusia kepada-Nya.
b. Sumber Keilmuan. Sejalan dengan agama sebagai sumber moral, agama pun
dapat berperan sebagai sumber keilmuan bagi bidang kesehatan.
Konseptualisasi dan pengembangan ilmu kesehatan atau kedokteran yang
bersumber dari agama, dapat kita sebut kesehatan profetik. Agama pun menjadi
sumber informasi untuk pengembangan ilmu kesehatan gizi (nutrisi) atau
farmakoterapi herbal. Praktik-praktik keagamaan menjadi bagian dari sumber
ilmu dalam mengembangkan terapi kesehatan. Tidak bisa dipungkiri, yoga,
meditasi, adalah beberapa ilmu agama yang dikonversikan menjadi bagian dari
terapi kesehatan.
c. Amal agama sebagai amal kesehatan. Seiring dengan pemikiran yang
dikemukakan sebelumnya, bahwa pola pikir yang dianut dalam wacana ini
adalah all for health, yaitu sebuah pemikiran bahwa berbagai hal yang dilakukan
individu mulai dari bangun tidur, mandi pagi, makan, kerja, rehat sore hari,
sampai tidur lagi, bahkan selama tidur pun memiliki implikasi dan kontribusi
nyata terhadap kesehatan.

Latihan

Untuk memperdalam pemahaman saudara mengenai materi di atas, kerjakanlah
latihan berikut
1. Jelaskan pola hubungan agama dalam kesehatan
2. Jelaskan manfaat agama dalam kesehatan

54

 Sosiologi Kesehatan 

Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk membantu Anda dalam mengerjakan soal latihan tersebut silakan pelajari

kembali materi tentang
1) Pola hubungan agama dan kesehatan
2) Manfaat agama dalam kesehatan

Ringkasan

Agama adalah sumber hidup manusia dalam relasi tiga dimensi, yaitu relasi dengan
Allah SWT sebagai pencipta, dengan sesama manusia dan dengan seluruh ciptaan lainnya.
Nilai-nilai agama sudah ada dalam diri tiap manusia, dan nilai-nilai tersebut sangat
mempengaruhi nilai hidup manusianya. Akibatnya, manusia memiliki kesadaran bahwa di
luar dirinya ada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih suci dari dirinya.

Agama pada hakikatnya bertujuan membina dan mengembangkan kehidupan yang
sejahtera di dunia dan di akhirat, badan sehat sebagai cerminan dari sehat jasmani, hati yang
tenang dan damai sebagai cerminan dari sehat rohani.

Manfaat agama dalam kesehatan:
1. Sumber Moral. Agama memiliki fungsi yang strategis untuk menjadi sumber kekuatan

moral baik bagi pasien dalam proses penyembuhan maupun tenaga kesehatan. Bagi
orang beragama, mereka memegang keyakinan bahwa perlakuan Tuhan sesuai dengan
persangkaan manusia kepada-Nya.
2. Sumber Keilmuan. Sejalan dengan agama sebagai sumber moral, agama pun dapat
berperan sebagai sumber keilmuan bagi bidang kesehatan. Konseptualisasi dan
pengembangan ilmu kesehatan atau kedokteran yang bersumber dari agama, dapat
kita sebut kesehatan profetik. Agama pun menjadi sumber informasi untuk
pengembangan ilmu kesehatan gizi (nutrisi) atau farmakoterapi herbal. Praktik-praktik
keagamaan menjadi bagian dari sumber ilmu dalam mengembangkan terapi
kesehatan. Tidak bisa dipungkiri, yoga, meditasi, dan tenaga prana adalah beberapa
ilmu agama yang dikonversikan menjadi bagian dari terapi kesehatan.
3. Amal agama sebagai amal kesehatan. Seiring dengan pemikiran yang dikemukakan
sebelumnya, bahwa pola pikir yang dianut dalam wacana ini adalah all for health, yaitu
sebuah pemikiran bahwa berbagai hal yang dilakukan individu mulai dari bangun tidur,
mandi pagi, makan, kerja, rehat sore hari, sampai tidur lagi, bahkan selama tidur pun
memiliki implikasi dan kontribusi nyata terhadap kesehatan.

55

 Sosiologi Kesehatan 

Tes 2

1) Agama adalah peraturan tentang cara hidup, lahir dan batin. Definisi agama tersebut
dikemukakan oleh...
A. Kobong
B. Durkheim
C. Tafsir
D. Hendropuspito

2) Fungsi transformatif agama dalam masyarakat menurut Hendropuspito adalah...
A. Agama berfungsi mengajar dan membimbing
B. Agama memberikan jaminan kepada manusia keselamatan dunia dan akhirat
C. Agama bertanggung jawab terhadap norma-norma sosial sehingga menyeleksi
kaidah sosial yang ada, mengukuhkan yang baik, dan menolak kaidah yang buruk
D. Agama mampu melakukan perubahan terhadap bentuk kehidupan masyarakat
lama dalam bentuk kehidupan baru

3) Menurut Jalaluddin (2007), agama memiliki tujuh fungsi, salah satunya bahwa ajaran
agama secara hukum berfungsi menyuruh dan mengajak hal-hal yang harus dipatuhi
untuk dilaksanakan serta melarang hal-hal yang tidak boleh dilaksanakan, yang disebut
fungsi...
A. edukatif
B. perdamaian
C. penyelamat
D. pemupuk rasa solidaritas

4) Ikut bertanggung jawab terhadap norma sosial sehingga menyeleksi kaidah sosial yang
ada, mengukuhkan kaidah yang baik dan menolak kaidah yang buruk agar selanjutnya
ditinggalkan dan dianggap sebagai larangan, merupakan fungsi agama...
A. edukatif
B. pengawasan sosial
C. perdamaian
D. penyelamat

5) Agama dan kesehatan mempunyai beberapa pola hubungan. Peranan agama sebagai
pengkoreksi atas praktik kesehatan atau sebaliknya, merupakan pola hubungan...
A. Saling berlawanan
B. Saling mendukung
C. Saling melengkapi
D. Saling ketergantungan

56

 Sosiologi Kesehatan 

Topik 3
Budaya, Suku Bangsa dan Kesehatan

Saudara mahasiswa, sebagai makhluk yang memiliki kelebihan akal kita manusia
memiliki kemampuan untuk mengolah potensi diri (akal pikiran), interaksi dan mengolah
lingkungan. Dalam mengolah diri manusia melahirkan ilmu dan keyakinan diri. Berinteraksi
melahirkan tata aturan dan norma. Sedangkan mengolah lingkungan, selain melahirkan
organisasi juga melahirkan alat dan teknologi. Keseluruhan dari kemampuan pengolahan
manusia, baik secara individual maupun kolektif, disebut budaya. Dengan kata lain dimana
ada manusia, disana ada masyarakat, dan dimana ada masyarakat di sana ada kebudayaan.
Oleh karena itu, manusia adalah makhluk budaya.

A. PENGERTIAN BUDAYA

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture,
yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga
sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat
(Soekanto, 2014)

Defenisi budaya menurut Schaefer 2012 (dalam Sunaryo, 2014) adalah keseluruhan
dari adat-istiadat, pengetahuan, objek materi, dan perilaku yang dipelajari dan
ditransmisikan secara sosial. Dalam konsep sosiologi, kata budaya tidak hanya mengacu pada
karya seni atau selera intelektual, tetapi juga mengacu pada seluruh objek, ide dalam
masyarakat, bahasa dan musik.
• Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,

yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat.
• Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu
yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
• Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat.
• Kebudayaan adalah segala sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial oleh
para anggota masyarakat. Menurut antropologi kebudayaan adalah seluruh sistem
gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat.

57

 Sosiologi Kesehatan 

• Menurut konsep budaya Leinenger, karakteristik budaya dapat digambarkan sebagai
berikut:
a) Budaya merupakan pengalaman yang bersifat universal sehingga tidak ada dua
budaya yang sama persis.
b) Budaya bersifat stabil, tetapi juga dinamis karena budaya itu diturunkan kepada
generasi berikutnya sehingga mengalami perubahan.
c) Budaya diisi dan ditentukan oleh kehidupan manusianya sendiri tanpa disadari.

Nah, saudara mahasiswa dari berbagai definisi tersebut, dapat kita peroleh pengertian
mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang
terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu
bersifat abstrak.

B. ELEMEN BUDAYA

Elemen budaya membentuk suatu cara bagaimana sebuah masyarakat itu hidup.
Elemen budaya tersebut meliputi empat hal (Sunaryo,2014):
1. Bahasa: Bahasa sangat penting dalam sebuah masyarakat karena bahasa merupakan

alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi
atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, maupun gerakan (bahasa isyarat).
2. Norma: dalam kehidupan bermasyarakat, banyak hal tentang apa yang boleh dilakukan
dan apa yang tidak boleh dilakukan. Sebagai contoh, seseorang tidak diperbolehkan
mengambil barang orang lain, tanpa seizin yang punya. Seseorang boleh minta sesuatu
kepada orang lain selama diizinkan. Norma tidak lain adalah peraturan sosial yang
mengatur tingkah laku individu, baik hal yang boleh dilakukan maupun hal yang tidak
boleh dilakukan. Dengan norma yang berlaku di masyarakat, seseorang terikat oleh
hal-hal yang boleh atau harus dilakukan dan apa yang tidak boleh atau tidak harus
dilakukan.
3. Nilai: Nilai mempengaruhi tingkah laku manusia, dan digunakan sebagai tolak ukur
guna menilai tingkah laku orang lain. Nilai adalah sesuatu yang dianggap penting,
diharapkan, dan perlu dicapai guna mengatur kehidupan bermasyarakat yang lebih
baik. Nilai juga merupakan sistem norma masyarakat, yang memiliki kriteria untuk
menilai tingkah laku yang boleh dilakukan dan ditolak oleh masyarakat. Akan tetapi,
nilai tidak dapat menentukan tingkah laku seseorang, namun normalah yang dapat
menentukan tingkah laku seseorang.
4. Kontrol: Kontrol dapat berupa pujian dan denda atau hukuman terhadap seseorang.
Misalnya, seorang mahasiswa memiliki prestasi akademik yang sangat memuaskan, ia
akan mendapat pujian dari bagian pendidikan dan teman-temannya. Sementara itu,
seorang mahasiswa yang melanggar peraturan lalu lintas, akan ditilang dan dikenakan
denda.

58

 Sosiologi Kesehatan 

C. UNSUR-UNSUR BUDAYA

Kebudayaan memiliki unsur yang bersifat universal. Artinya kebudayaan dapat
dijumpai di mana pun dan di masyarakat apa pun. Beberapa pendapat ahli yang
mengemukakan komponen atau unsur kebudayaan antara lain sebagai berikut.
1. Melville J. Herskovits (2007) menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

a. alat-alat teknologi
b. sistem ekonomi
c. keluarga
d. kekuasaan politik

2. Bronislaw Malinowski (2007) mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
a. sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota
masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
b. organisasi ekonomi
c. alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan
(keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
d. organisasi kekuatan (politik)

3. Kluckhohn 1953, mengungkapkan tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai
cultural universal (Sunaryo, 2014), yaitu:
a. peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat
rumah tangga, senjata, alat-alt produksi, transpor, dan sebagainya);
b. mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian peternakan,
sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya);
c. sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum,
sistem perkawinan;
d. bahasa (lisan maupun tertulis);
e. kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya);
f. sistem pengetahuan (pengetahuan alam, dan fisika);
g. religi (sistem kepercayaan).

Unsur budaya universal dapat dikelompokkan ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil
yang disebut kegiatan kebudayaan (cultural activity). Misalnya unsur budaya universal suatu
masyarakat adalah pencaharian hidup dan ekonomi., kegiatan kebudayaannya adalah
pertanian, peternakan, sistem produksi, dan sistem distribusi. Jika unsur budaya universal
suatu masyarakat adalah kesenian, kegiatan kebudayaannya adalah seni tari, seni rupa, dan
seni suara.

Kegiatan tersebut dapat dirinci menjadi kegiatan yang lebih kecil lagi, yang disebut
kompleks ciri (trait complex). Misalnya dalam kegiatan kebudayaan bertani dengan cara
menetap, terdapat kompleks ciri, seperti sistem irigasi, sistem mengolah tanah dan bajak,
sistem pemilikan tanah, dan sebagainya.

59

 Sosiologi Kesehatan 

Kompleks ciri dapat dipecah lagi menjadi unsur yang lebih kecil, yang disebut ciri
(trait). Misalnya kompleks ciri adalah mengolah tanah dengan bajak, cirinya adalah hewan
yang menarik bajak, dan teknik mengendalikan bajak. Selanjutnya ciri dapat dikelompokkan
menjadi unsur kebudayaan terkecil yang disebut item. Misalnya, cirinya adalah bajak,
itemnya adalah mata bajak, tali pengikat kerbau/sapi, kayu pembuat bajak.

D. WUJUD KEBUDAYAAN

Menurut D. Oneil(2006), wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan,
aktivitas, dan artefak.

1. Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide,

gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak
dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam
pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu
dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan
buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut. Contoh: Konsep manusia
perlu berpakaian. Didasarkan pada rasa susila yaitu manusia malu jika telanjang. Dari konsep
di atas, didapatkan fungsi pakaian yaitu untuk melindungi tubuh dari cuaca panas, dingin dan
tantangan alam, untuk mempercantik diri serta memenuhi norma agama dan etika.

2. Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam

masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri
dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul
dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan.
Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan
didokumentasikan. Contoh: Sebagai aplikasi dari gagasan yang dikemukakan, manifestasi
pelaksanaanya dilakukan kegiatan pabrik tekstil, penjahit, toko pakaian, peragaan busana,
mencuci pakaian dan sebagainya

3. Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan

karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud
kebudayaan. Contoh: Benda hasil budayanya berupa baju seragam, baju olahraga, baju pesta
dan sebagainya.

60

 Sosiologi Kesehatan 

E. KOMPONEN BUDAYA

Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen
utama:

1) Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan manusia atau masyarakat yang

nyata atau konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang
dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk, tanah liat, perhiasan, senjata, dan
seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat
terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

2) Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi

ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

F. RUANG LINGKUP KEBUDAYAAN

Ruang lingkup kebudayaan mencakup berbagai aspek kehidupan, yang seluruhnya
merupakan ungkapan masalah kemanusiaan. Budaya yang dapat didekati dengan
menggunakan pengetahuan budaya akan membentuk beraneka ragam kebudayaan yang
masing-masing sesuai dengan zaman dan tempatnya. Dalam ilmu sosial budaya dasar,
manusia menempati posisi sentral karena manusia menjadi subjek dan sekaligus menjadi
objek pengkajian. Kajiannya meliputi bagaimana hubungan manusia dengan alam, sesama
manusia, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia, dan bagaimana hubungan manusia dengan
Tuhannya.

G. BUDAYA KESEHATAN INDONESIA

Indonesia sebagai Negara agraris, sebagian besar penduduknya bermukim di daerah
pedesaan dengan tingkat pendidikan mayoritas sekolah dasar dan belum memiliki budaya
hidup sehat. Hidup sehat adalah hidup bersih dan disiplin sedangkan kebersihan dan
kedisiplinan itu sendiri belum menjadi budaya sehari-hari. Budaya memeriksakan secara dini
kesehatan anggota keluarga belum tampak. Hal ini terlihat dari banyaknya klien yang datang
ke pelayanan kesehatan untuk memeriksakan keadaan kesehatan sebagai tindakan kuratif
belum didukung sepenuhnya oleh upaya promotif dan preventif, misalnya gerakan 3M pada
pencegahan demam berdarah belum terdengar gaungnya jika belum mendekati musim
hujan atau sudah ada yang terkena demam berdarah.

61

 Sosiologi Kesehatan 

H. PERAN PERAWAT DALAM MENGHADAPI ANEKA BUDAYA
Peran merupakan seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap

seseorang, sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran perawat dipengaruhi oleh
keadaan social baik dari dalam maupun dari luar profesi keperawatan dan bersifat konstan.
Doheny (1982) mengidentifikasi beberapa elemen peran perawat professional meliputi:

1. Care giver
Sebagai pelaku atau pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan

pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien, menggunakan
pendekatan proses keperawatan yang meliputi: melakukan pengkajian dalam upaya
mengumpulkan data dan evaluasi yang benar, menegakkan diagnosis keperawatan
berdasarkan hasil analisis data, merencanakan intervensi keperawatan sebagai upaya
mengatasi masalah yang muncul dan membuat langkah atau cara pemecahan masalah,
melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada, dan melakukan
evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukannya.

2. Client advocate
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antar klien dengan tim

kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan
membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim
kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Selain itu, perawat juga
harus dapat mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, antara lain :
a. Hak atas informasi ; pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan

peraturan yang berlaku di Rumah Sakit/ sarana pelayanan kesehatan tempat klien
menjalani perawatan
b. Hak mendapat informasi yang meliputi antara lain; penyakit yang dideritanya, tindakan
medic apa yang hendak dilakukan, alternative lain beserta risikonya, dll

3. Counsellor
Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap

keadaan sehat sakitnya. Adanya pula interaksi ini merupakan dasar dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya. Memberikan konseling/ bimbingan
kepada klien, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai prioritas

4. Educator
Sebagai pendidik klien perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya melalui

pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medic yang
diterima sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya.

62

 Sosiologi Kesehatan 

5. Collaborator
Perawat bekerja sama dengan tim kesehatan lain dan keluarga dalam menentukan

rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan guna memenuhi kebutuhan kesehatan
klien.

6. Coordinator
Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik materi

maupun kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang
terlewatkan maupun tumpang tindih. Dalam menjalankan peran sebagai coordinator
perawat dapat melakukan hal-hal berikut:
a. Mengoordinasi seluruh pelayanan keperawatan
b. Mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas
c. Mengembangkan system pelayanan keperawatan
d. Memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan keperawatan

pada sarana kesehatan

7. Change agent
Sebagai pembaru, perawat mengadakan inovasi dalam cara berpikir, bersikap,

bertingkah laku, dan meningkatkan keterampilan klien/keluarga agar menjadi sehat. Elemen
ini mencakup perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dalam berhubungan
dengan klien dan cara memberikan keperawatan kepada klien

8. Consultant
Elemen ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan klien terhadap

informasi tentang tujuan keperawatan yang diberikan. Dengan peran ini dapat dikatakan
perawat adalah sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi spesifik lain.

Nilai budaya tidak selalu tampak kecuali jika mereka berbagi secara sosial dengan
orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Saudara mahasiswa, sebagai tenaga kesehatan saudara tentu akan berhadapan dengan
banyak orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda. Saudara akan
dituntut untuk memahami nilai budaya yang ada pada mereka supaya program-program
kesehatan yang saudara kenalkan akan diterima oleh mereka dengan mudah. Nilai budaya
memiliki fungsi, fungsi nilai budaya tersebut adalah dengan memahami nilai budaya seorang
tenaga kesehatan dapat berusaha keras untuk menunjukkan perilakunya supaya sesuai
dengan nilai yang berlaku di masyarakat. Misalnya kalau seorang tenaga medis ditugaskan di
masyarakat yang taat beragama, maka dia harus berusaha untuk menunjukkan penghargaan
terhadap nilai agama yang berlaku, baik dalam tutur kata, pakaian, maupun praktik
pelayanan kesehatan itu sendiri.

Sebagai seorang perawat saudara juga harus memahami etika perawatan dalam
menghadapi masyarakat. Etika keperawatan adalah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang

63

 Sosiologi Kesehatan 

diyakini oleh profesi keperawatan dalam melaksanakan tugasnya yang berhubungan dengan
pasien, dengan masyarakat, hubungan perawat dengan teman sejawat maupun dengan
organisasi profesi. Prinsip-prinsip etika ini oleh profesi keperawatan secara formal
dituangkan dalam suatu kode etik yang merupakan komitmen profesi keperawatan akan
tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat;
a. Seorang perawat tidak membeda-bedakan pasien
b. Mendapatkan persetujuan melakukan tindakan
c. Mengakui otonomi pasien
d. Mendahulukan tindakan sesuai prioritas masalah
e. Melakukan tindakan untuk kebaikan

I. SUKU BANGSA/ETNISITAS DAN KESEHATAN

Saudara mahasiswa, dalam masyarakat kita data mengenai hubungan antar-ras,
etnisitas, dan kesehatan, andaikatapun ada, sukar ditampilkan. Ini disebabkan karena data
kesehatan yang dihimpun tidak memilah-milah penderita penyakit menurut etnisitas atau
rasnya, sejalan dengan kebijaksanaan yang telah ditempuh pemerintah selama beberapa
dasawarsa untuk tidak mengumpulkan informasi mengenai etnisitas dan ras penduduk.
Namun, dalam berbagai masyarakat lain tersedia data mengenai etnisitas dan ras sehingga
data mengenai kesehatan dapat dikaitkan dengan etnisitas dan ras. Data demikian sering
menunjukkan bahwa etnisitas atau ras warga terkait dengan keadaan kesehatan mereka.
Dalam masyarakat demikian, misalnya keadaan kesehatan kelompok mayoritas etnis atau ras
sering lebih baik daripada keadaan kelompok minoritas. Berbagai studi memperlihatkan
bahwa warga kelompok minoritas cenderung mempunyai angka mortalitas dan morbiditas
lebih tinggi, dan harapan hidup lebih rendah daripada warga kelompok mayoritas etnis atau
ras.

Menurut saudara mahasiswa faktor apa sajakah yang menyebabkan perbedaan
kesehatan antara kelompok mayoritas etnis dan ras dengan kelompok minoritas? Salah satu
faktornya adalah kelas sosial; warga minoritas cenderung menduduki kelas sosial lebih
rendah daripada warga mayoritas sehingga kurang mampu menanggulangi masalah
kesehatan yang mereka hadapi.

Temuan lain yang menyangkut perbedaan distribusi penyakit antar-ras ialah hubungan
bahwa jumlah pemuda Kulit Putih yang dinyatakan tidak memenuhi syarat mengikuti wajib
militer karena alasan medis selalu lebih banyak daripada jumlah pemuda Kulit Hitam.
Perbedaan ini diduga disebabkan karena orang Kulit Putih lebih mudah menjalankan peran
sakit daripada orang Kulit Hitam.

Data mengenai keadaan kesehatan kelompok-kelompok minoritas etnik yang menetap
di Inggris menunjukkan lebih tingginya prevalensi morbiditas dan mortalitas tertentu di
kalangan kelompok etnis tertentu daripada di kalangan penduduk setempat.Perbedaan
sistem medis antara kaum migran dan penduduk setempat pun merupakan salah satu faktor
yang menjadi penyebab perbedaan kesehatan.

64

 Sosiologi Kesehatan 

Latihan

Untuk memperdalam pemahaman saudara mengenai materi di atas, kerjakanlah
latihan berikut
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan budaya dan unsur-unsurnya
2. Jelaskan tentang wujud budaya

Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk membantu Anda dalam mengerjakan soal latihan tersebut silakan pelajari

kembali materi tentang
1. Unsur-unsur budaya
2. Wujud budaya

Ringkasan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture,
yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga
sebagai mengolah tanah atau bertani.Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.

Berdasarkan wujudnya, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
1. Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan manusia atau masyarakat yang
nyata atau konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang
dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk, tanah liat, perhiasan, senjata, dan
seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat
terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

2. Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi

ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Ruang lingkup kebudayaan mencakup berbagai aspek kehidupan, yang seluruhnya

merupakan ungkapan masalah kemanusiaan. Budaya yang dapat didekati dengan
menggunakan pengetahuan budaya akan membentuk beraneka ragam kebudayaan yang
masing-masing sesuai dengan zaman dan tempatnya. Dalam ilmu sosial budaya dasar,
manusia menempati posisi sentral karena manusia menjadi subjek dan sekaligus menjadi
objek pengkajian. Kajiannya meliputi bagaimana hubungan manusia dengan alam, sesama
manusia, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia, dan bagaimana hubungan manusia dengan
Tuhannya.

65

 Sosiologi Kesehatan 

Indonesia sebagai Negara agraris, sebagian besar penduduknya bermukim di daerah
pedesaan dengan tingkat pendidikan mayoritas sekolah dasar dan belum memiliki budaya
hidup sehat. Hidup sehat adalah hidup bersih dan disiplin sedangkan kebersihan dan
kedisiplinan itu sendiri belum menjadi budaya sehari-hari. Budaya memeriksakan secara dini
kesehatan anggota keluarga belum tampak. Hal ini terlihat dari banyaknya klien yang datang
ke pelayanan kesehatan untuk memeriksakan keadaan kesehatan sebagai tindakan kuratif
belum didukung sepenuhnya oleh upaya promotif dan preventif, misalnya gerakan 3M pada
pencegahan demam berdarah belum terdengar gaungnya jika belum mendekati musim
hujan atau sudah ada yang terkena demam berdarah.

Dalam masyarakat kita data mengenai hubungan antar-ras, etnisitas, dan kesehatan,
andaikatapun ada, sukar ditampilkan. Ini disebabkan karena data kesehatan yang dihimpun
tidak memilah-milah penderita penyakit menurut etnisitas atau rasnya, sejalan dengan
kebijaksanaan yang telah ditempuh pemerintah selama beberapa dasawarsa untuk tidak
mengumpulkan informasi mengenai etnisitas dan ras penduduk. Namun, dalam berbagai
masyarakat lain tersedia data mengenai etnisitas dan ras sehingga data mengenai kesehatan
dapat dikaitkan dengan etnisitas dan ras. Data demikian sering menunjukkan bahwa etnisitas
atau ras warga terkait dengan keadaan kesehatan mereka. Dalam masyarakat demikian,
misalnya keadaan kesehatan kelompok mayoritas etnis atau ras sering lebih baik daripada
keadaan kelompok minoritas. Berbagai studi memperlihatkan bahwa warga kelompok
minoritas cenderung mempunyai angka mortalitas dan morbiditas lebih tinggi, dan harapan
hidup lebih rendah daripada warga kelompok mayoritas etnis atau ras.

Tes 3

1) Seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam
kehidupan bermasyarakat disebut...
A. Sosiologi
B. Kebudayaan
C. Etik
D. Emik

2) Wujud ideal kebudayaan adalah...
A. kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-
norma, peraturan yang sifatnya abstrak
B. Berbentuk benda nyata
C. Dongeng atau cerita rakyat
D. Barang-barang peninggalan sejarah

66

 Sosiologi Kesehatan 
3) Sistem gagasan dan artefak merupakan...

A. Unsur budaya
B. Perubahan budaya
C. Inovasi budaya
D. Wujud budaya
4) Dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional termasuk ke dalam...
A. Kebudayaan Material
B. Kebudayaan Non Material
C. Unsur kebudayaan
D. Inovasi kebudayaan
5) Temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi
A. Kebudayaan Material
B. Kebudayaan Non Material
C. Unsur kebudayaan
D. Inovasi kebudayaan

67

 Sosiologi Kesehatan 

Topik 4
Gender dan Kesehatan

Saudara mahasiswa, saudara tentu tahu bahwa terdapat banyak perbedaan antara
laki-laki dan perempuan, baik dalam bentuk biologis maupun dalam bentuk peran. Sosiolog
secara tradisional membedakan antara istilah “jenis kelamin” yang secara biologis digunakan
untuk menyebut laki-laki dan perempuan, dan “gender” yang merupakan peranan sosial
yang dipelajari sehingga disebut menjadi maskulin dan feminim (White K., 2011).

Menurut Hillier (1991) jenis kelamin adalah (sex) mengacu pada perbedaan biologis
antara laki-laki dan perempuan. Gejala yang hanya dapat dialami kaum perempuan seperti
menstruasi, kehamilan, melahirkan, abortus, dan menopause dapat kita masukkan dalam
kategori ini. Istilah gender di lain pihak mengacu pada makna sosial yang diberikan pada
perbedaan jenis kelamin. Gambaran mengenai kaum perempuan sebagai makhluk lebih
lemah yang lebih rentan terhadap berbagai penyakit daripada laki-laki sehingga peran yang
dapat diberikan kepada perempuan jauh lebih terbatas daripada peran laki-laki, misalnya
merupakan perbedaan gender. Menurut Waldron faktor sosial (dalam Sunarto, 2014).

Nah, saudara mahasiswa, anda sudah bisa membedakan antara jenis kelamin dan
gender bukan? Jadi, jenis kelamin terberi sebagai substratum biologis laki-laki dan
perempuan, sedangkan gender adalah karakteristik yang dipelajari secara sosial yang selaras
dengan maskulinitas dan feminitas, yakni menjadi laki-laki atau perempuan.

A. KAITAN GENDER DENGAN KESEHATAN

Di bidang kesehatan kita jumpai bahwa adanya perbedaan antara distribusi morbiditas
dan mortalitas antara laki-laki dan perempuan. Cockerham mengatakan bahwa penyebab
kaum laki-laki memiliki harapan hidup lebih pendek dari kaum perempuan salah satunya
disebabkan karena sebagai organisme biologis kaum laki-laki memiliki lebih banyak
kelemahan daripada kaum perempuan yang menjadikan laki-laki lebih rentan terhadap
penyakit dan kelainan sejak masih berada dalam kandungan. Sebagai dampak adanya
kelemahan faaliah pada kaum laki-laki inilah maka pada laki-laki dijumpai angka kematian
sekitar 12% lebih tinggi pada janin sebelum lahir (prenatal) dan sekitar 130% pada bayi baru
lahir (neonatal).

Data Badan Pusat Statistik Indonesia tentang angka kematian bayi berdasarkan Sensus
Penduduk tahun 2000 memperlihatkan bahwa di tiap provinsi angka kematian bayi laki-laki
lebih tinggi daripada angka kematian bayi perempuan. Sedangkan data Badan Pusat Statistik
Indonesia mengenai angka harapan hidup berdasarkan Sensus Penduduk 2003
memperlihatkan bahwa angka harapan hidup laki-laki di tiap provinsi lebih rendah daripada
angka harapan hidup perempuan (lihat Badan Pusat statistik Indonesia, 2008).

Meskipun angka kematian janin dan bayi baru lahir lebih tinggi pada laki-laki, namun
menurut Cockerham di lain pihak ditemukan pula bahwa morbiditas lebih banyak dijumpai

68

 Sosiologi Kesehatan 

di kalangan perempuan sehingga demikian kaum perempuan lebih sering sakit daripada laki-
laki, tetapi kaum laki-laki lebih cepat meninggal dunia. Di samping itu, kaum perempuan
menderita penyakit kronis yang sama dengan laki-laki, tetapi kaum perempuan mulai
menderita penyakit tersebut pada usia lanjut. Menurut Waldron faktor sosial yang
menyebabkan perbedaan mortalitas laki-laki dan perempuan bervariasi sesuai dengan
kebudayaan masyarakat yang bersangkutan (faktor lintas budaya). Selain itu, suatu faktor
sosial dalam suatu masyarakat tertentu juga dapat bervariasi dari waktu ke waktu (faktor
sejarah), (dalam Sunarto, 2014).

Suatu faktor sosial penting yang menyumbang pada perbedaan mortalitas laki-laki dan
perempuan adalah perbedaan sosialisasi peran. Misalnya dalam banyak masyarakat
perempuan disosialisasikan untuk lebih mengutamakan peran sebagai ibu rumah tangga
daripada partisipasi dalam angkatan kerja. Laki-laki, di lain pihak cenderung disosialisasikan
untuk menjadi pencari nafkah bagi keluarga. Oleh karena jumlah laki-laki yang berpartisipasi
dalam angkatan kerja melebihi jumlah perempuan maka laki-laki pun menghadapi risiko
lebih besar untuk berada dalam tempat kerja yang menghadapi berada dalam tempat kerja
yang menghadapkan mereka pada situasi yang membahayakan kesehatan, seperti terpaan
udara lembab, udara tercemar, gas-gsa beracun, dan zat berbahaya (seperti zat penyebab
penyakit kanker).

Perbedaan mortalitas laki-laki dan perempuan juga ditemukan dalam jumlah korban
kecelakaan lalu lintas. Pertama, jumlah laki-laki yang setiap hari berada di jalan raya baik
sebagai pengemudi maupun pengendara kendaraan bermotor pada umumnya lebih besar
daripada perempuan sehingga peluang bagi laki-laki untuk terlibat dalam kecelakaan lalu
lintas lebih besar. Kedua, laki-laki cenderung untuk mengemudi lebih cepat, kurang
memperhatikan faktor keamanan dan lebih sering melanggar peraturan lalu lintas daripada
perempuan sehingga menghadapi risiko lebih tinggi.

Kebiasaan merokok juga merupakan suatu kebiasaan yang dalam banyak masyarakat
lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki daripada kaum perempuan, dan perempuan yang
merokok pun menghabiskan lebih sedikit rokok daripada laki-laki. Menurut data Waldron
(dalam Sunarto, 2014) orang yang berkebiasaan merokok lebih rentan terhadap berbagai
penyakit tertentu, seperti penyakit infeksi saluran pernafasan atas, kanker ganas, dan
penyakit jantung daripada mereka yang tidak merokok. Selain faktor budaya yang
menganggap bahwa laki-laki lebih pantas merokok daripada perempuan, lebih tingginya
frekuensi merokok pada kaum laki-laki terkait pula dengan dihadapinya berbagai masalah di
tempat kerja yang mendorongnya ke kebiasaan merokok.

Pendekatan gender dalam kesehatan mengenali bahwa faktor sosial budaya, serta
hubungan kekuasaan antar laki-laki dan perempuan, merupakan faktor penting yang
berperan dalam mendukung atau mengancam kesehatan seseorang. Hal ini dinyatakan
dengan jelas oleh WHO dalam konferensi perempuan sedunia ke IV di Beijing pada tahun
1995.

69

 Sosiologi Kesehatan 

B. JENIS KELAMIN, GENDER, DAN KESEHATAN

Pola kesehatan dan penyakit pada laki-laki dan perempuan menunjukkan perbedaan
yang nyata. Perempuan sebagai kelompok cenderung mempunyai angka harapan hidup yang
lebih panjang dari pada laki-laki, yang secara umum dianggap sebagai faktor biologis. Namun
dalam kehidupannya perempuan lebih banyak mengalami kesakitan dan tekanan dari pada
laki-laki. Walaupun faktor yang melatarbelakanginya berbeda-beda pada berbagai kelompok
sosial, hal tersebut menggambarkan bahwa dalam menjalani kehidupannya perempuan
kurang sehat dibandingkan laki-laki. Penjelasan terhadap paradoks ini berakar pada
hubungan yang kompleks antara faktor biologis jenis kelamin dan sosial (gender) yang
berpengaruh terhadap kesehatan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berbagai penyakit menyerang laki-laki dan
perempuan pada usia yang berbeda, misalnya penyakit kardiovaskuler ditemukan pada usia
yang lebih tua pada perempuan dibandingkan laki-laki. Beberapa penyakit, misalnya animea,
gangguan makak dan gangguan pada otot serta tulang lebih banyak ditemukan pada
perempuan daripada laki-laki.

Berbagai penyakit atau gangguan hanya menyerang perempuan, misalnya gangguan
yang berkaitan dengan kehamilan dan kanker serviks, sementara itu hanya laki-laki yang
terkena kanker prostat. Kapasitas perempuan untuk hamil dan melahirkan menunjukkan
bahwa mereka memerlukan pelayanan kesehatan reproduksi yang berbeda, baik dalam
keadaan sakit maupun sehat. Perempuan memerlukan kemampuan untuk mengendalikan
fertilitas dan melahirkan dengan selamat, sehingga akses terhadap pelayanan kesehatan
reproduksi yang berkualitas sepanjang siklus hidupnya sangat menentukan kesejahteraan
dirinya.

Kombinasi antara faktor jenis kelamin dan peran gender dalam kehidupan sosial,
ekonomi dan budaya seseorang dapat meningkatkan risiko terhadap terjadinya beberapa
penyakit, sementara di sisi lain memberikan perlindungan terhadap penyakit lainnya.
Perbedaan yang timbul dapat berupa keadaan sebagai berikut :
1) Perjalanan penyakit pada laki-laki dan perempuan.
2) Sikap laki-laki dan perempuan dalam menghadapi suatu penyakit
3) Sikap masyarakat terhadap laki-laki dan perempuan yang sakit.
4) Sikap laki-laki dan perempuan terhadap pengobatan dan akses pelayanan kesehatan.
5) Sikap petugas kesehatan dalam memperlakukan laki-laki dan perempuan.

Sebagai contoh, respons terhadap epidemi HIV/AIDS dimulai dengan pemberian fokus
pada kelompok risiko tinggi, termasuk pekerja seks komersial. Laki-laki dianjurkan untuk
menjauhi pekerja seks komersial atau memakai kondom. Secara bertahap, fokus beralih
pada perilaku risiko tinggi, yang kemudian menekankan pentingnya laki-laki menggunakan
kondom. Hal ini menghindari isu gender dalam hubungan seksual, karena perempuan tidak
menggunakan kondom tetapi bernegosiasi untuk penggunaanya oleh laki-laki. Dimensi
gender tersebut tidak dibahas, sampai pada saat jumlah ibu rumah tangga biasa yang
tertular penyakit menjadi banyak. Dewasa ini, kerapuhan perempuan untuk tertular

70

 Sosiologi Kesehatan 

HIV/AIDS dianggap sebagai akibat dari ketidaktahuan dan kurangnya akses terhadap
informasi. Ketergantungan ekonomi dan hubungan seksual yang dilakukan atas dasar
pemaksaan. Tejadinya tindak kekerasan pada umumnya berkaitan dengan gender. Secara
umum pelaku kekerasan biasanya laki-laki, yang merefleksikan keinginan untuk
menunjukkan maskulinitas, dominasi, serta memaksakan kekuasaan dan kendalinya
terhadap perempuan, seperti terlihat pada kekerasan dalam rumah tangga (domestik).
Karena itu kekerasan terhadap perempuan sering disebut sebagai “kekerasan berbasis
gender”.

C. PENGARUH GENDER TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI

Sehubungan dengan peran gender, laki-laki tidak terlalu tertarik untuk mempelajari
kesehatan seksual dan reproduksinya. Sehingga pengetahuan mereka cenderung terbatas.
Hal ini menyebabkan laki-laki kurang berminat mencari informasi dan pengobatan terhadap
penyakit, misalnya : Infeksi Menular Seksual (IMS).

Menikah pada usia muda bagi perempuan berdampak negatif terhadap kesehatannya.
Namun menikah di usia muda kebanyakan bukanlah keputusan mereka, melainkan karena
ketidakberdayaannya (isu gender). Di beberapa tempat di Indonesia, kawin muda dianggap
sebagai takdir yang tidak bisa ditolak. Perempuan tidak berdaya untuk memutuskan kawin
dan dengan siapa mereka akan menikah. Keputusan pada umumnya ada di tangan laki-laki;
ayah ataupun keluarga laki-laki lainnya.

Salah satu kasus yang terkait dengan masalah gender yaitu : Seorang gadis umur 17
tahun, mengalami perdarahan. Setelah dirawat di sebuah rumah sakit selama dua jam, dia
meninggal dunia. Gadis tersebut merupakan korban aborsi yang dilakukan oleh seorang
dukun. Usaha lain sebelum melakukan aborsi adalah minum jamu peluntur, pil kina, dan pil
lainnya yang dibeli di apotek. Kemudian dia datang ke seorang dokter kandungan. Dokter
menolak melakukan aborsi karena terikat sumpah dan hukum yang mengkriminalisasi aborsi.
Si gadis minta tolong dukun paraji untuk menggugurkannya. Rupa-rupanya tidak berhasil,
malah terjadi perdarahan. Ia masih sempat menyembunyikan ini semua kepada kedua orang
tuanya, selama 4 hari berdiam di kamar dengan alasan sedang datang bulan. Ia tidak berani
bercerita pada siapa-siapa apalagi pada ibu dan bapaknya. Cerita itu berakhir dengan amat
tragis, gadis itu tidak tertolong. Kasus tersebut menggambarkan ketidakberdayaan si gadis.
Ia memilih mekanisme defensif dan menganggapnya sebagai permasalahan dirinya sendiri. Ia
menyembunyikan keadaannya karena malu dan merasa bersalah. Masyarakat akan
menyalahkan karena dia tidak mengikuti apa yang disebut moral atau aturan sehingga ia
memilih mati meskipun tidak sengaja.

Aborsi merupakan dilema bagi perempuan, apa pun latar belakang penyebab
kehamilannya dan apa pun status ekonominya. Untuk menuntut hak reproduksinya dia harus
mendapat dukungan seperti bantuan dari komunitasnya atau dukungan emosional dan
tanggung jawab bersama dari orang yang paling dekat (pacarnya). Dalam konteks ini, maka
jelas bahwa persoalan hak reproduksi pada akhirnya adalah persoalan relasi antara laki-laki
yang berbasis gender serta masyarakat dan negara sebagai perumus, penentu, dan penjaga
nilai bagi realisasi hak reproduksi perempuan.

71

 Sosiologi Kesehatan 

Pada contoh kasus tersebut merupakan bentuk kekerasan yang berbasis gender yang
memiliki alasan bermacam-macam seperti politik, keyakinan, agama, dan ideologi gender.
Salah satu sumber kekerasan yang diyakini penyebab pada kasus tersebut adalah kekerasan
dari laki-laki terhadap perempuan adalah ideologi gender, misalnya perempuan dikenal
lemah lembut, emosional, cantik, dan keibuan.

Sementara laki-laki dianggap lebih kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Bentuk
kekerasan ini merupakan dilanggarnya hak reproduksi akibat perbedaan gender. Perbedaan
gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang.
Perbedaan ini dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan secara sosial dan
budaya. Pada akhirnya perbedaan ini dianggap sebagai ketentuan Tuhan yang tidak bisa
diubah dan dianggap sebagai perempuan.

Kekerasan rumah tangga dalam berbagai bentuk sering terus berlangsung meskipun
perempuan tersebut sedang mengandung. Konsekuensi paling merugikan bagi perempuan
yang menjadi korban kekerasan adalah dampak terhadap kondisi kesehatan mentalnya.
Dampak ini terutama menonjol pada perempuan korban kekerasan seksual. Dalam tindak
perkosaan, misalnya, yang diserang memang tubuh perempuan. Namun, yang dihancurkan
adalah seluruh jati diri perempuan yaitu kesehatan fisik, mental psikologi, dan sosialnya.

Kekerasan domestik biasanya merupakan kejadian yang kronis dalam kehidupan
rumah tangga seorang perempuan. Cedera fisik dapat sembuh setelah diobati, tetapi cedera
psikis mental (seperti insomnia, depresi, berbagai bentuk psikosomatik sakit perut yang
kronis sampai dengan keinginan bunuh diri) akan selalu dapat terbuka kembali setiap saat.
Dampak psikologis yang paling sulit dipulihkan adalah hilangnya kepercayaan kepada diri
sendiri dan orang lain.

Selain itu juga ada kecenderungan masyarakat untuk selalu menyalahkan korbannya.
Hal ini dipengaruhi oleh nilai masyarakat yang selalu ingin tampak harmonis. Bahkan,
walaupun kejadian dilaporkan, usaha untuk melindungi korban dan menghukum para pelaku
kekerasan sering mengalami kegagalan. Kondisi tersebut terjadi karena kekerasan dalam
rumah tangga, khususnya terhadap perempuan, tidak pernah dianggap sebagai masalah
pelanggaran hak asasi manusia.

D. BUDAYA YANG BERPENGARUH TERHADAP GENDER

1. Sebagian besar masyarakat banyak menganut kepercayaan yang salah tentang apa arti
menjadi seorang wanita, dengan akibat yang berbahaya bagi kesehatan wanita.

2. Setiap masyarakat mengharapkan pria dan wanita untuk berpikir, berperasaan, dan
bertindak dengan pola-pola tertentu, dengan alasan hanya karena mereka dilahirkan
sebagai wanita atau pria, contohnya wanita diharapkan untuk menyiapkan masakan,
membawa air dan kayu bakar, merawat anak-anak dan suami, sedangkan pria
diharapkan untuk bekerja di luar rumah untuk memberikan kesejahteraan bagi
keluarga di masa tua dan untuk melindungi keluarga dari ancaman (bahaya).

3. Gender yang di hubungkan dengan jenis kelaminnya tersebut, semuanya adalah hasil
rekayasa masyarakat.

72

 Sosiologi Kesehatan 

4. Kegiatan lain tidak sama dari satu daerah ke daerah lain di seluruh dunia, tergantung
pada kebiasaan, hukum dan agama yang dianut oleh masyarakat tersebut.

5. Peran jenis kelamin bahkan tidak sama di dalam suatu masyarakat, tergantung pada
tingkat pendidikan, suku dan umurnya.

6. Peran gender di ajarkan secara turun temurun dari orang tua ke anak-anaknya. Sejak
anak-anak berusia sangat muda, orang tua memperlakukan anak wanita dan pria
secara berbeda, meskipun kadang-kadang tanpa mereka sadari.

E. PERBEDAAN SEKS DAN GENDER

Saudara mahasiswa, untuk membantu memperjelas pemahaman anda tentang
perbedaan seks dan gender, berikut kita lihat perbedaan diantara keduanya pada tabel di
bawah ini:

Jenis Kelamin Contoh Gender Contoh
Tidak dapat di ubah Alat kelamin Dapat di ubah
Tidak dapat di Jakun pada laki-laki Dapat di Peran dalam kegiatan sehari-
pertukarkan dan payudara pada pertukarkan hari
Berlaku sepanjang perempuan Tergantung Suami bisa menggantikan
masa Status sebagai laki- kepada peran istri dalam mengasuh
laki dan perempuan kebudayaan anak ataupun memasak di
Berlaku dimanapun tidak pernah saat istri berhalangan
berada berubah sampai kita Tergantung pada Pada Zaman penjajahan
mati budaya setempat Belanda kaum perempuan
Merupakan kodrat tidak mendapatkan hak
Tuhan Di rumah, di kampus Bukan merupakan pendidikan. Tetapi setelah kita
Ciptaan Tuhan ataupun di mana kodrat Tuhan merdeka, perempuan memiliki
seorang laki-laki Buatan Manusia kebebasan mengikuti
tetap laki-laki dan pendidikan
perempuan tetap Pembatasan kesempatan di
perempuan bidang pekerjaan terhadap
Ciri utama laki-laki perempuan dikarenakan
berbeda dengan budaya setempat, contohnya
perempuan perempuan lebih diutamakan
Perempuan bisa untuk menjadi perawat, guru
haid, hamil, TK dan mengasuh anak
melahirkan dan Sifat atau mentalitas antara
menyusui sedangkan lelaki dengan perempuan bisa
laki-laki tidak bias saja sama
Laki-laki dan perempuan
berhak menjadi calon ketua
RT, RW, kepala desa bahkan
presiden.

73

 Sosiologi Kesehatan 

Latihan

Untuk memperdalam pemahaman saudara mengenai materi di atas, kerjakanlah
latihan berikut
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perbedaan sosialisasi peran menyumbang pada

perbedaan mortalitas laki-laki dan perempuan
2. Jelaskan perbedaan jenis kelamin dan gender

Petunjuk Jawaban Latihan
Untuk membantu Anda dalam mengerjakan soal latihan tersebut silakan pelajari

kembali materi tentang
1. Perbedaan mortalitas laki-laki dan perempuan
2. Perbedaan jenis kelamin dan gender

Ringkasan

Gender adalah pandangan masyarakat tentang perbedaan peran, fungsi dan tanggung
jawab antara perempuan dan atau laki–laki yang merupakan hasil konstruksi social budaya
dan dapat berubah dan atau diubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Pada prinsipnya konsep gender memfokuskan perbedaan peranan antara pria dengan
wanita, yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan norma sosial dan nilai sosial budaya
masyarakat yang bersangkutan. Gender merujuk kepada perilaku-perilaku yang membatasi
individu-individu sebagai laki-laki atau perempuan dalam konteks sosial budaya tertentu.

Terdapat perbedaan distribusi morbiditas dan mortalitas antara laki-laki dan
perempuan. Salah satu faktor sosial yang menyumbang pada perbedaan mortalitas laki-laki
dan perempuan adalah perbedaan sosialisasi peran. Misalnya dalam banyak masyarakat
perempuan disosialisasikan untuk lebih mengutamakan peran sebagai ibu rumah tangga
daripada partisipasi dalam angkatan kerja. Laki-laki, di lain pihak cenderung disosialisasikan
untuk menjadi pencari nafkah bagi keluarga. Oleh karena jumlah laki-laki yang berpartisipasi
dalam angkatan kerja melebihi jumlah perempuan maka laki-laki pun menghadapi risiko
lebih besar untuk berada dalam tempat kerja yang menghadapi berada dalam tempat kerja
yang menghadapkan mereka pada situasi yang membahayakan kesehatan, seperti terpaan
udara lembab, udara tercemar, gas-gas beracun, dan zat berbahaya (seperti zat penyebab
penyakit kanker.)

74

 Sosiologi Kesehatan 

Tes 4

1. Menurut Hillier jenis kelamin adalah...
A. mengacu pada perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan
B. perbedaan peranan antara pria dengan wanita
C. menjadi laki-laki
D. menjadi perempuan

2. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa berbagai penyakit menyerang laki-laki dan
perempuan pada usia yang berbeda, penyakit yang banyak menyerang perempuan
pada usia tua dibanding dengan laki-laki adalah...
A. anemia
B. kardiovaskuler
C. gangguan otot dan tulang
D. kanker

3. Pada prinsipnya konsep gender memfokuskan pada...
A. perbedaan peranan antara pria dengan wanita
B. perbedaan biologis
C. perbedaan antara laki-laki dan perempuan
D. perbedaan keinginan

75

 Sosiologi Kesehatan 

Glosarium

Istilah : Arti istilah tersebut
Penilaian ekonomi
Economic appraisal : Permintaan/konsumsi
Renungan
demand : Khusus
Konsisten
Meditasi : Semua yang dilakukan memiliki kontribusi terhadap kesehatan
Arti istilah tersebut
Istiqomah : Kepercayaan
Kegiatan kebudayaan
Mahdhah : Kompleks ciri
Angka kematian
all for health : Angka kesakitan
Arti istilah tersebut
Istilah : Janin sebelum lahir
Bayi baru lahir
Religi : Infeksi menular seksual
Susah tidur
Cultural activity :

Trait complex :

Mortalitas :

Morbiditas :

Istilah :

Prenatal :

Neonatal :

IMS :

Insomnia :

76

 Sosiologi Kesehatan 

Kunci Jawaban Tes

Tes 1
1. A
2. B
3. C
4. D
5. A
6. B

Tes 2
1. C
2. D
3. A
4. C
5. B

Tes 3
1. B
2. A
3. D
4. B
5. A

Tes 4
1. A
2. B
3. A

77

 Sosiologi Kesehatan 

Daftar Pustaka

Ritzer G, Goodman JD. 2010. Teori Sosiologi Modern, Edisi ke-6. Jakarta; Kencana
Scott J. 2011. Sosiologi: The Key Concepts. Jakarta: Rajawali Pers
Soekanto S. 2014. Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi revisi; cetakan ke-6. Jakarta: RajawaliPers
Tjiptoherijanti P, Soesetyo B. 1993. Ekonomi Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

White K. 2011. Sosiologi Kesehatan dan Penyakit, Edisi ke-3. Jakarta: Rajawali Pers
Sunaryo, 2014. Sosiologi: Untuk Keperawatan. Jakarta: Bumi Medika
https://ridwanhamid.wordpress.com/2014/04/22/agama-dan-kesehatan/
http://www. scribd.com/doc/55938723/Agama-Dan-Kesehatan
http://id.wikipedia.org/wiki/Agama
Effendy, Ferry. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori Dan Praktik Dalam

Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika
Setiadi, Elly M, dkk. 2006. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta : Kencana
Sudarma, Momon. 2008. Sosiologi untuk Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika
http://leksi-ndolu.blogspot.com/
Fakih, Mansour, DR.1997. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar
Ibrahim, Idi Subandy dan Hanif Suranto, (ed).1998. Wanita dan Media. Bandung: Remaja

Rosdakarya
Illich, Ivan.2009. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Mosse, Julia Cleves.2012. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: Rifka Annisa Women’s

Crisis Center dan Pustaka Pelajar

78

 Sosiologi Kesehatan 

BAB III
NEGARA, POLITIK, KESEHATAN DAN

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Dewi Rosmalia SKM M.Kes

PENDAHULUAN

Saudara mahasiswa, saya yakin saudara mengetahui bahwa negara dan politik
merupakan dua hal yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, tetapi bagaimana
perubahan sosial budaya dapat mempengaruhi kesehatan? Apakah menurut saudara semua
hal itu saling terkait? Untuk membantu saudara memahami tentang hal tersebut, maka
saudara akan dihantarkan dengan materi negara, politik, perubahan sosial dan kesehatan.

Pada prinsipnya negara dan politik tidak dapat dilepaskan dari perubahan sosial dan
masalah kesehatan, karena negara dengan unsur politik memiliki kekuasaan untuk
mengubah masyarakatnya ke arah yang lebih baik untuk tujuan bersama. Politik ini akan
berpengaruh terhadap sosial budaya masyarakat setempat yang akan mempengaruhi
kesehatan masyarakat tersebut. Sosiologi disini akan menjelaskan realitas sosial termasuk
kehidupan bernegara, berpolitik dan masalah kesehatan itu sendiri yang mengacu pada
keragaman konsep.

Saudara mahasiswa tentu mengetahui bahwa setiap manusia selama hidup pasti
mengalami perubahan, perubahan dapat terjadi pada nilai sosial, norma sosial, pola perilaku
organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan
wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Setiap perubahan dalam suatu lembaga
kemasyarakatan akan mengalami perubahan pula pada lembaga kemasyarakatan lainnya
secara timbal balik. Bentuk perubahan ada yang tidak menarik, perubahan yang
pengaruhnya terbatas maupun yang luas, perubahan yang lambat sekali dan perubahan yang
berjalan dengan cepat. Klasifikasi perubahan yang ada pada masyarakat dapat bersifat statis
dan dapat bersifat dinamis, masyarakat yang statis dimaksudkan masyarakat yang sedikit
sekali mengalami perubahan dan berjalan lambat. Masyarakat dinamis adalah masyarakat
yang mengalami perubahan yang cepat, jadi setiap masyarakat pada suatu masa dapat
dianggap sebagai masyarakat yang statis, sementara pada masyarakat lainnya dianggap
sebagai masyarakat yang dinamis. Perubahan bukanlah semata mata berarti suatu kemajuan
(progress) namun dapat pula berarti kemunduran dari bidang tertentu.

Perubahan hanya akan ditemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan
kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan
dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu lampau, misalnya seseorang yang tidak
sempat menelaah susunan dan kehidupan masyarakat desa akan berpendapat bahwa
masyarakat desa bersifat statis, tidak maju dan tidak berubah. Pernyataan demikian
didasarkan pada pandangan sepintas yang kurang mendalam dan kurang teliti karena tidak
ada suatu masyarakat yang terhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa.

79

 Sosiologi Kesehatan 

Perubahan bukanlah semata mata berarti suatu kemajuan (progress) namun dapat
pula berarti kemunduran dari bidang tertentu. Perubahan yang terjadi pada masyarakat
dewasa ini merupakan gejala yang normal. Pengaruhnya dapat menjalar ke dunia lain berkat
adanya komunikasi moderen. Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak zaman
dahulu, namun perubahan tersebut berjalan dengan sangat cepatnya sehingga
membingungkan manusia yang menghadapinya yang sering berjalan secara konstan, tetapi
karena sifatnya yang berantai, perubahan terlihat berlangsung terus, walau diselingi keadaan
dimana masyarakat mengadakan reorganisasi unsur-unsur struktur masyarakat yang terkena
perubahan.

Perubahan sosial pada lembaga kemasyarakatan dapat mempengaruhi sistem sosial,
termasuk nilai, sikap dan pola perilaku diantara kelompok pada masyarakat. Di mana
perubahan ini terkait dengan negara sebagai pembuat kebijakan dalam bentuk suatu politik,
khususnya masalah kesehatan. Untuk membantu mahasiswa memahami materi ini, maka
pada modul ini menjelaskan tentang:
1. Negara, politik dan kesehatan

a. Konsep negara
b. Konsep politik
c. Fungsi politik dalam ekonomi kesehatan
2. Perubahan sosial dan kebudayaan
a. Perubahan sosial
b. Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan
c. Faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan
d. Proses Perubahan Sosial Kebudayaan
e. Arah perubahan

80

 Sosiologi Kesehatan 

Topik 1
Negara, Politik, dan Kesehatan

A. NEGARA

Saudara mahasiswa, apa yang saudara ketahui tentang negara? Apa fungsi negara,
bagaimana politik mempengaruhi kesehatan masyarakat Indonesia? Negara merupakan
salah satu konsep dalam sosiologi yang paling sentral karena negara menjalankan banyak
fungsi dan mengatur hampir seluruh aspek hidup manusia, peran sentralnya membuat
negara sulit untuk dipahami secara tepat dan seberapa luas cakupannya, fungsi khusus
negara adalah memelihara ketentraman dan mengatur hubungan eksternal masyarakat.

Menurut Weber sebuah negara menuntut monopoli, diperbolehkannya penggunaan
kekuasaan fisik dalam wilayah teritorial yang memerlukan pengawasan secara efektif.
Legitimasi diperoleh dari tradisi atau kepemimpinan yang kharismatis. Kedisiplinan dan
tingkat penguasaan birokrasi menjadi alat yang efisien untuk mengatur dan mengendalikan
negara. Martin Albrow dan Zigmunt Bauman menyatakan negara berbangsa tunggal berada
dalam puncak kemunduran seiring munculnya masyarakat global.

Dalam arti formal negara diartikan sebagai organisasi kekuasaan pemerintah pusat
dengan karakteristik kewenangan menjalankan paksa fisik secara syah. Dalam arti material
negara adalah sebagai kelompok masyarakat atau persekutuan hidup. Konsep politik negara
dapat berwujud jika memenuhi unsur wilayah, penduduk, pemerintah dan kedaulatan.
Negara adalah alat masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan
manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala kekuasaan.

Sifat negara antara lain
a. Memaksa, agar peraturan yang berlaku ditaati demi terciptanya ketertiban

masyarakat
b. Monopoli, negara memonopoli dalam menetapkan tujuan bersama, negara memiliki

wewenang untuk melarang hidup dan menyebarluaskan aliran kepercayaan atau aliran
politik yang mengganggu ketertiban umum dan bertentangan dengan tujuan
masyarakat
c. Peraturan perundangan, berlaku untuk semua orang tanpa kecuali.

Fungsi negara yakni untuk perlindungan, penertiban, mengusahakan kesejahteraan
dan kemakmuran, pertahanan, menegakkan keadilan, hal ini harus dilakukan demi
kelangsungan hidup dan kesejahteraan umum yang dipengaruhi oleh kepentingan politik,
ekonomi dan sosial yang ada pada suatu saat. Negara merupakan salah satu konsep sosiologi
yang paling sentral dan sukar dipahami, dikatakan sentral karena negara menjalankan begitu
banyak fungsi dan mengatur hampir seluruh aspek kehidupan rakyatnya. memelihara
ketentraman dan mengatur hubungan eksternal masyarakat adalah fungsi khususnya,
sedangkan sejauh mana negara harus memberikan kemakmuran atau mengatur ekonomi
negara tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan. Tujuan negara menurut Plato adalah
memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi sendiri, menurut Aristoteles tujuan negara
adalah untuk menyelenggarakan hidup yang baik bagi semua warga.

81

 Sosiologi Kesehatan 

Sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai suatu yang baik atau buruk, namun
sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsur yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Kekuasaan tergantung dari hubungan antara yang berkuasa dan yang dikuasai atau dengan
perkataan lain antara pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dan
pihak lain yang menerima pengaruh itu dengan rela maupun terpaksa. Apabila kekuasaan
dijelmakan pada diri seseorang, biasanya orang ini dinamakan pemimpin. Kekuasaan yang
ada pada seseorang atau sekelompok orang yang mendapatkan pengakuan masyarakat
disebut dengan wewenang.

B. POLITIK

Bahasa politik sudah tidak asing lagi kita dengar, apakah menurut saudara politik
berarti berbagai macam kegiatan yang terjadi dalam suatu negara yang berkaitan dengan
proses menetapkan tujuan dan bagaimana mencapai tujuan itu? Apakah sistim politik adalah
berbagai macam kegiatan dan proses dari struktur dan fungsi politik bekerja dalam suatu
unit kesatuan? Benar.

Nah. Berdasarkan hal itu maka dapat diuraikan ciri- ciri sistem politik, yaitu
a. Setiap sistem politik memiliki struktur politik
b. Setiap sistem politik menjalankan fungsi politik yang sama, meski kadarnya berbeda
c. Semua struktur politik melaksanakan banyak fungsi
d. Semua sistem politik adalah sistem campuran.

Sistem politik terdiri dari dua struktur politik, yaitu
a. Suprastruktur (the ruler) atau penguasa yang terdiri dari lembaga legislatif, eksekutif

dan yudikatif
b. Infrastruktur (the ruled) adalah masyarakat beserta organisasi yang dibentuk seperti

organisasi politik, ormas, pers, kelompok kepentingan, kelompok penekan, asosiasi,
LSM dan informal leader.

Sistem politik mempunyai fungsi yang harus dijalankan, yakni
a. Fungsi input yang dilakukan oleh infrastruktur politik, yaitu sosialisasi dan rekrutmen

politik, agensi kepentingan, artikulasi kepentingan serta komunikasi politik
b. Fungsi output yang dilakukan oleh suprastruktur politik, yaitu rule making (pembuatan

peraturan), rule application (pelaksanaan peraturan) dan rule adjudication (peradilan).

Setelah setiap struktur melaksanakan fungsi politiknya, sistem politik akan berproses
mengikuti arah jarum jam, proses politik dapat di mulai dari mana saja, misalnya aktivitas
dimulai dari usulan masyarakat berupa input ke supra struktural, dalam menanggapi usulan
ini supra struktural dapat memilih satu di antara masukan, atau mengkonversi semua
masukan, atau cari alternatif lain. Setelah masukan diolah, supra struktur mengeluarkan
output berupa kebijakan/peraturan/UU untuk didistribusikan kepada masyarakat, ada

82

 Sosiologi Kesehatan 

masyarakat yang menanggapi setuju dengan aturan, jika setuju mereka akan memberi feed
back berupa dukungan dan mungkin masukan berupa tuntutan yang lain. Jika masyarakat
kurang atau tidak setuju, mereka akan memberikan masukan berupa peningkatan tuntutan.
Proses ini akan berlangsung terus. Jika kelompok yang kurang setuju diabaikan, suatu saat
mereka akan menjadi apatis dan tidak mau memberi masukan apapun. Jika ini terjadi sangat
berbahaya bagi kelangsungan suatu sistem, jika tidak ada masukan dari infrastruktur, maka
sistem politik tidak dapat menjalankan fungsinya, sehingga sistem politik dalam keadaan
disfuncion, dan ini harus dihindari.

Sistem politik tidak lain adalah negara dengan segala aktivitasnya, meliputi
berfungsinya struktur politik dan berlangsungnya proses politik. Jika memang itu adalah
negara, mengapa kita harus menggunakan konsep sistem politik? Karena konsep negara
mengandung pengertian statis yang terdiri dari empat unsur, yaitu wilayah, penduduk,
pemerintahan dan kedaulatan.

C. FUNGSI POLITIK DAN EKONOMI KESEHARAN

Saudara mahasiswa, apakah menurut saudara politik dapat dihubungkan dengan
kesehatan? Bagaimana politik pada dunia kesehatan di negara maju? Hal ini akan kita bahas
pada pertemuan ini.

Kesehatan dan kedokteran pada masyarakat kapitalis maju berorientasi pada
pengobatan (curing) melalui penerapan obat-obatan yang canggih dan teknologi berbiaya
tinggi. Yang paradok, penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada masyarakat secara
umum tidak mudah diobati dengan cara pengobatan itu, meski berkurang. Pada saat yang
sama kedokteran membebankan tanggung jawab atas penyakit itu pada individu, dan sejauh
ini terlihat dalam kegiatan preventif disepanjang jalur individu memodifikasi pola gaya hidup
mereka.

Adapun penyebab utama mortalitas dan morbilitas di negara maju sekarang adalah
penyakit jantung, berbagai penyakit kanker, gangguan mental dan syaraf dan penyakit
pernafasan kronis, yang bukan merupakan akibat proses endogen tubuh, melainkan karena
kondisi sosial. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan melalui penggunaan intensif obat-
obatan. Sebenarnya ini bukan hal baru, sebagaimana juga tergambar dalam perkembangan
kedokteran dan dunia kesehatan, karena standar kesehatan sekarang kurang berasal dari
penemuan penemuan dan teknologi baru dibandingkan dari kontrol kesehatan lingkungan
terhadap perubahan, nutrisi dan suplai air.

Dalam karakterisasi umum, pemeliharaan kesehatan dan kedokteran dalam
masyarakat kontemporer sebagai bagian dari mode produksi kapitalis. Menurut Waitzkin
bentuk teknologi pengobatan dikaitkan dengan biaya yang tinggi yang efektivitasnya
meragukan, paling baik jika hanya dianalisis dari perspektif struktural kapitalisme, yakni
meski penggunaan teknologi tampaknya tidak rasional jika dipandang dari kebutuhan akan
pemeliharaan kesehatan, namun menjadi sangat rasional jika dipandang dari kebutuhan
sistem kapitalis, khususnya karena sistem ini mendukung ekspansi monopoli modal dan
upaya meraih keuntungan pribadi dari sektor pemeliharaan kesehatan.

83

 Sosiologi Kesehatan 

Perspektif ini sejalan dengan pendapat Renaud bahwa kebutuhan kesehatan dipenuhi
oleh kedokteran sedemikian rupa sesuai dengan organisasi ekonomi kapitalis, dimana
pendekatan rekayasa dominan mengenai kedokteran ilmiah kontemporer menyetarakan
pengobatan dengan konsumsi, yakni dalam konteks yang lebih umum, kebutuhan kesehatan
dan bentuk komoditas dari pemenuhannya, sehingga melegitimasi dan memfasilitasi
pertumbuhan ekonomi kapitalis meskipun terdapat konsekwensi negatif terhadap
kesehatan.

Dari perspektif tersebut, industri pemeliharaan kesehatan memiliki empat fungsi
ekonomi yang saling berkaitan dalam masyarakat kapitalis, yaitu akumulasi modal,
penyediaan kesempatan investasi, penyerapan tenaga kerja surplus, dan pemeliharaan
angkatan kerja.

Selain itu, pengorganisasian pemeliharaan kesehatan memiliki tiga fungsi ideologi,
yaitu
a. Dengan penyediaan pelayanan kesehatan, organisasi mempertahankan status quo,

bertindak sebagai agen kontrol sosial yang melimpahkan apa yang secara mendasar
merupakan masalah sosial ke tingkat individu.
b. Organisasi pelayanan kesehatan dalam rumusannya tentang pelayanan rumah sakit
dan konsumsi obat-obatan sebagai pelayanan kesehatan, organisasi ini memproduksi
mode produksi kapitalis.
c. Organisasi pelayanan kesehatan mereproduksi struktur kelas kapitalis baik dalam
pengorganisasian pekerja kesehatan maupun dalam pola konsumsi yang dihasilkannya.

Ringkas kata, cara memandang kesehatan dan penyakit ini sejalan dengan lingkungan
kapitalis yang lebih besar karena pandangan ini memodifikasi kebutuhan kesehatan dan
melegitimasi modifikasi ini. Pandangan ini mentransformasi masalah sosial dengan potensi
eksploratif, yakni penyakit dan kematian menjadi komoditas yang dipilah dan dapat diisolasi
dan diintegrasikan ke dalam organisasi ekonomi kapitalis dengan cara yang sama dengan
komoditas lainnya di pasar ekonomi. Dengan kekuatan yang mengejutkan pandangan ini
berhasil memberikan solusi yang bernilai budaya bagi masalah yang ditimbulkan dari
pertumbuhan ekonomi, bahkan membuat solusi pada batas tertentu menguntungkan bagi
akumulasi modal demi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar.

Kelas dominan mendukung konsepsi sakit sebagai gejala individu dan menolak arti
penting struktur sosial dan produksi kesehatan yang buruk. Hal ini disejajarkan dalam ranah
konsumsi pemeliharaan kesehatan, dimana etiologi individualistis mendorong peningkatan
terapi kuratif yang berbasis teknologi yang tidak lain adalah berbasis modal intensif dan
rumah sakit. Dari perspektif ini organisasi pelayanan kesehatan kapitalis yang kontemporer,
secara sistematik mengabaikan produksi kesehatan dan penyakit yang dipengaruhi oleh
lingkungan, pekerjaan dan sosial.

Sebagai contoh, saya rasa saudara sudah mengetahui bahwa pada masa lalu, terdapat
jaminan kesehatan hanya pada kelompok masyarakat tertentu saja, seperti pegawai negeri
dengan program askes (asuransi kesehatan), pegawai swasta dengan program jamsostek

84

 Sosiologi Kesehatan 

(jaminan kesehatan tenaga kerja), dengan adanya politik berupa kebijakan negara, sehingga
sekarang jaminan kesehatan tidak hanya pada golongan tertentu saja, tetapi jaminan
kesehatan sudah berlaku untuk semua masyarakat Indonesia. Artinya dengan adanya
kebijakan politik yang dikeluarkan negara, sehingga biaya yang dikeluarkan masyarakat
sewaktu sakit menjadi lebih kecil. Walaupun hal ini sudah terlaksana, tetapi konsep kapitalis
dalam dunia kesehatan masih tetap berjalan. Walaupun demikian negara yang memiliki
kekuasaan politik tetap melayani masyarakat yang memiliki masalah kesehatan, sehingga
pelayanan kesehatan tidak hanya untuk golongan tertentu, tetapi untuk seluruh
masyarakat.

Latihan 1

1. Jelaskan konsep negara
2. Jelaskan konsep politik
3. Sebutkan fungsi politik dalam ekonomi kesehatan

Petunjuk jawaban latihan
Untuk membantu anda mengerjakan soal latihan tersebut silakan pelajari materi

tentang
a. Konsep negara
b. Konsep politik
c. Fungsi politik dalam ekonomi kesehatan

Ringkasan

Untuk lebih mengingat kembali materi yang telah di uraikan di atas, maka di sini dapat
kita simpulkan bahwa
1. Negara adalah alat masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan

manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala kekuasaan. Negara dapat
berwujud jika memenuhi unsur wilayah, penduduk, pemerintah dan kedaulatan..
Sifat negara adalah memaksa; monopoli, peraturan berlaku untuk semua. Fungsi
Negara untuk perlindungan, penertiban, kesejahteraan dan kemakmuran, pertahanan,
menegakkan keadilan, negara tidak dapat dipisahkan dengan kekuasaan
2. Politik berarti berbagai macam kegiatan dalam suatu negara yang berkaitan dengan
proses menetapkan tujuan dan bagaimana mencapai tujuan itu, politik bekerja dalam
suatu unit kesatuan.
Ciri-ciri sistem politik memiliki struktur, menjalankan fungsi yang sama, melaksanakan
banyak fungsi dan politik adalah sistem campuran.

85

 Sosiologi Kesehatan 

3. Fungsi politik dan ekonomi kesehatan. Masyarakat kapitalis maju berorientasi pada
pengobatan melalui penerapan obat-obatan yang canggih dan teknologi berbiaya
tinggi, penyebab utama mortalitas dan morbilitas di negara maju bukan akibat proses
endogen tubuh, melainkan karena kondisi sosial.

Bentuk teknologi pengobatan dikaitkan dengan biaya yang tinggi yang efektivitasnya
meragukan, tidak rasional jika dipandang dari kebutuhan akan pemeliharaan kesehatan,
sangat rasional jika dipandang dari kebutuhan sistem kapitalis, karena sistem ini mendukung
ekspansi monopoli modal dan upaya meraih keuntungan pribadi dari sektor pemeliharaan
kesehatan.

Tes 1

1. Konsep negara adalah, kecuali….
A. Sifat negara tidak boleh memaksa dan monopoli
B. Alat masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan
manusia dalam masyarakat
C. Menertibkan gejala kekuasaan.
D. Memenuhi unsur wilayah, penduduk, pemerintah dan kedaulatan

2. Konsep politik adalah, kecuali ….
A. berbagai macam kegiatan dalam suatu negara
B. Bekerja dalam beberapa unit kesatuan
C. Berkaitan dengan proses menetapkan tujuan
D. Cara mencapai tujuan

3. Ciri- ciri sistem politik, kecuali….
A. Memiliki struktur
B. Menjalankan fungsi yang sama
C. Menjalankan fungsi yang berbeda
D. Melaksanakan banyak fungsi

4. Fungsi politik dan ekonomi kesehatan adalah, kecuali….
A. Masyarakat kapitalis maju berorientasi pada pengobatan
B. Penerapan obat-obatan yang canggih dan teknologi berbiaya tinggi
C. Penyebab utama mortalitas dan morbilitas di negara maju karena kondisi sosial
D. Penyebab utama mortalitas dan morbilitas di negara maju akibat proses
endogen tubuh

86

 Sosiologi Kesehatan 
5. Bentuk teknologi pengobatan dikaitkan dengan, kecuali….

A. Biaya yang rendah dan efektivitasnya meragukan
B. Biaya yang tinggi dan efektivitasnya meragukan
C. Tidak rasional jika dipandang dari kebutuhan pemeliharaan kesehatan
D. Rasional jika dipandang dari kebutuhan sistem kapitalis

Latihan 2

1. Buat contoh kasus fungsi politik dalam ekonomi kesehatan
2. Negara tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan. Buat contoh kasus kekuasaan negara

dalam hal kesehatan

87

 Sosiologi Kesehatan 

Topik 2
Perubahan Sosial Dan Kebudayaan

A. PERUBAHAN SOSIAL

Saudara mahasiswa, perubahan sosial sudah tidak asing terjadi dalam kehidupan kita,
bagaimana kita memandang perubahan sosial? Tentu hal ini tergantung pada individunya.
Apakah individu memandang perubahan sosial sebagai yang positif atau sebagai hal yang
negatif. Tentu tergantung dari faktor yang mempengaruhinya. Untuk memahami hal ini kita
akan membahas pada pertemuan kali ini. Untuk mengarahkan anda memahami tentang hal
ini, perhatikan perubahan sosial yang terjadi di sekelilingmu!

Perubahan sosial diartikan sebagai perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi
masyarakat, ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur kebudayaan, material maupun
inmaterial. Perubahan sosial ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan
material terhadap unsur inmaterial.

Perubahan sosial sebagai suatu variasi dan cara hidup yang telah diterima, baik karena
perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun
karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat. Secara singkat
perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola kehidupan
manusia yang terjadi karena sebab interen maupun sebab ekstern. Perubahan yang
mempengaruhi sistem sosial adalah nilai, sikap, pola perilaku antar kelompok dalam
masyarakat, hal ini berupa himpunan pokok manusia yang akan mempengaruhi segi-segi
struktur lainnya.

Saudara mahasiswa, setujukah saudara dengan pernyataan bahwa terdapat hubungan
antara perubahan sosial dan perubahan masyarakat? Apakah dapat dipisahkan kedua hal
ini? Bagaimana ciri perubahan sosial? Nah kita akan uraikan tentang hal ini.

Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan dalam
kebudayaan mencakup semua bagian, yaitu kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat
dan lainnya, bahkan perubahan dalam bentuk serta aturan organisasi sosial, sebagai contoh
dikemukakannya perubahan pada logat bahasa Aria setelah terpisah dari induknya, akan
tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Perubahan
tersebut lebih merupakan perubahan kebudayaan dari pada perubahan sosial.

Unsur kebudayaan dapat dipisahkan dari masyarakat, tetapi perubahan dalam
kebudayaan tidak perlu mempengaruhi sistem sosial, artinya perubahan kebudayaan bertitik
tolak dan timbul dari organisasi sosial serta mempengaruhinya. Kebudayaan mencakup
segenap cara pikir dan tingkah laku yang timbul karena interaksi yang bersifat komunikatif
seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolis dan bukan karena warisan yang
berdasarkan keturunan. Jadi kebudayaan adalah suatu kompleks yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum dan adat istiadat, dan setiap
kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat, perubahan kebudayaan
merupakan perubahan dari unsur-unsur tersebut.

88

 Sosiologi Kesehatan 

Memisahkan antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan bukanlah hal
mudah, karena tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya tidak
mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam suatu masyarakat. Tetapi yang pasti
perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama karena saling
berhubungan dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara
suatu masyarakat memenuhi kebutuhannya. Artinya perubahan kebudayaan tidak
menyebabkan terjadinya perubahan sosial.

Contoh: “Perubahan model pakaian dan kesenian dapat terjadi tanpa mempengaruhi
lembaga kemasyarakatan atau sistem sosial, namun sukar dibayangkan terjadi perubahan
sosial tanpa didahului suatu perubahan kebudayaan lembaga kemasyarakatan seperti
keluarga, perkawinan, hak milik, perguruan tinggi atau negara tak akan mengalami
perubahan apapun bila tidak didahului oleh suatu perubahan fundamental dalam
kebudayaan. Suatu perubahan sosial dalam kehidupan tertentu tidak mungkin berhenti pada
satu titik karena perubahan bidang lain akan segera mengikutinya, karena struktur lembaga
masyarakat sifatnya saling terjalin satu sama lain, apabila suatu negara mengubah undang-
undang dasarnya atau bentuk pemerintahannya, perubahan yang kemudian terjadi tidak
hanya sebatas pada lembaga politik saja”

Ciri perubahan sosial:
a. Setiap masyarakat mengalami perubahan yang terjadi secara cepat atau secara lambat
b. Perubahan pada lembaga kemasyarakatan tertentu akan diikuti perubahan lembaga

sosial lainnya, karena lembaga sosial bersifat independen, sehingga sulit mengisolasi
perubahan pada lembaga sosial tertentu saja, proses awal dan proses lanjut
merupakan suatu rantai yang tidak terputus
c. Cepatnya perubahan sosial mengakibatkan disorganisasi yang bersifat sementara
karena berada dalam proses penyesuaian diri. Disorganisasi akan diikuti oleh
reorganisasi yang mencakup pemantapan kaidah dan nilai lain yang baru
d. Perubahan tidak dapat dibatasi pada bidang kebendaan atau spiritual saja, karena
kedua bidang tersebut mempunyai kaitan timbal balik yang sangat kuat.
e. Secara tipologis perubahan sosial dikategorikan menjadi
1) Social process. The circulation of various rewards, facilities and personnel in at

existing structure
2) Segmentation. The proliferation of structural units that do not differ qualitatively

from existing units
3) Structural change. The emerge of qualitatively new complexes of roles and

organization
4) Changes in group structure. The shift in the composition of group, the level of

consciousness of groups, and the relations among the groups in society

Nah. Di sini di ketahui bahwa tidak mudah memisahkan antara perubahan sosial dalam
kehidupan sehari hari dengan kebudayaan, hal ini disebabkan tidak ada masyarakat yang
tidak memiliki kebudayaan yang tidak terjelma dalam suatu masyarakat. Sehingga untuk
kedua hal ini dapat ditemukan hubungan timbal balik sebagai sebab akibat.

89

 Sosiologi Kesehatan 

B. BENTUK PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN

1. Perubahan lambat dan perubahan cepat
Perubahan memerlukan waktu lama dan rentetan perubahan kecil yang saling

mengikuti dengan lambat, hal ini disebut dengan evolusi. Evolusi perubahan terjadi dengan
sendirinya tanpa adanya rencana. Perubahan terjadi karena usaha masyarakat untuk
menyesuaikan diri dengan keperluan, keadaan dan kondisi baru yang timbul sejalan dengan
pertumbuhan masyarakat.

Perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung dengan cepat dan menyangkut
sendi pokok kehidupan masyarakat disebut dengan revolusi. Perubahan yang terjadi dapat
direncanakan atau tidak direncanakan. Revolusi bersifat relatif karena membutuhkan waktu
yang lama.

Apakah menurut saudara untuk terjadinya revolusi membutuhkan syarat? Benar
revolusi membutuhkan syarat sebagai berikut
a. Harus ada keinginan umum untuk perubahan (perasaan tidak puas terhadap keadaan

dan suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan tersebut)
b. Adanya seorang pemimpin yang mampu memimpin
c. Pemimpin yang dapat menampung keinginan masyarakat, merumuskan dan

menegaskan rasa tidak puas menjadi suatu program
d. Pemimpin memiliki tujuan konkret dan dapat dilihat, serta tujuan abstrak untuk

merumuskan suatu ideologi tertentu
e. Memiliki momentum untuk memulai gerakan

2. Perubahan kecil dan perubahan besar
Perubahan kecil terjadi pada struktur sosial tidak membawa pengaruh berarti pada

masyarakat. Proses industrialisasi pada masyarakat agraris membawa pengaruh besar pada
masyarakat.

3. Perubahan yang dikehendaki (Intended-change) atau direncanakan (planned-change)
dan perubahan yang tidak dikehendaki (unintended-change) atau perubahan yang
tidak direncanakan (unplanned-change)
Perubahan yang dikehendaki atau direncanakan merupakan perubahan yang

diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak yang hendak
mengadakan perubahan dalam masyarakat yang dikenal dengan agent of change, yaitu
seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat. Cara-cara
mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu
dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau perencanaan sosial (social planning).

Perubahan sosial yang tidak direncanakan berlangsung di luar jangkauan pengawasan
masyarakat dan dapat menimbulkan akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat. Jika
perubahan yang tidak dikehendaki sejalan dengan perubahan yang dikehendaki, perubahan
mungkin mempunyai pengaruh yang besar terhadap perubahan yang dikehendaki.
Perubahan terjadi tidak hanya akibat dari satu gejala sosial, tetapi dari berbagai gejala sosial
sekaligus.

90

 Sosiologi Kesehatan 

Perubahan yang dikehendaki merupakan suatu teknik sosial yang ditafsirkan sebagai
suatu proses berupa perintah dan larangan, artinya menetralisirkan suatu keadaan krisis
dengan akomodasi untuk melegakan hilangnya keadaan yang tidak dikehendaki atau
berkembangnya suatu keadaan yang dikehendaki, legalisasi tersebut dilaksanakan dengan
tindakan fisik yang bersifat arbitratif.

C. FAKTOR YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN SOSIAL DAN
KEBUDAYAAN

Banyak faktor yang dapat menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan. Di sini
saudara akan mendapatkan materi tentang sumber perubahan dalam masyarakat, faktor
pendorong perubahan masyarakat oleh individu serta pola penemuan hal baru.

Untuk mempelajari perubahan masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari
terjadinya perubahan itu. Sebab terjadinya perubahan mungkin dikarenakan oleh sesuatu
yang tidak lagi memuaskan, faktor baru yang lebih memuaskan, menyesuaikan suatu faktor
dengan faktor lain yang sudah mengalami perubahan terlebih dahulu. Sumber-sumber
perubahan tersebut dapat berasal dari dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang dari luar
masyarakat itu sendiri. Sebab sumber perubahan dalam masyarakat adalah:

1. Bertambah atau berkurangnya penduduk
Perubahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan dalam

struktur masyarakat, terutama lembaga kemasyarakatan. Berkurangnya penduduk
disebabkan terjadinya transmigrasi.

2. Penemuan-penemuan baru
Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, terjadi dalam waktu yang tidak terlalu

lama disebut inovasi, proses tersebut meliputi penemuan baru, jalannya unsur kebudayaan
baru yang tersebar ke lain bagian masyarakat dan cara unsur kebudayaan baru tidak
diterima, dipelajari dan akhirnya dipakai dalam masyarakat yang bersangkutan.

Penemuan-penemuan baru sebab terjadinya perubahan disebut discovery, yaitu
penemuan unsur kebudayaan yang baru berupa alat atau gagasan yang diciptakan oleh
seseorang. Discovery menjadi invention jika masyarakat sudah mengakui, menerima serta
menetralkan penemuan baru.

Faktor pendorong perubahan masyarakat oleh individu adalah:
a. Kesadaran individu akan kekurangan dalam kebudayaan
b. Kualitas ahli dalam suatu kebudayaan
c. Perangsang bagi aktivitas penciptaan dalam masyarakat.

Keinginan dan kualitas juga merupakan pendorong bagi terciptanya penemuan baru,
keinginan untuk mempertinggi kualitas suatu karya merupakan pendorong. Penemuan baru
dalam kebudayaan rohaniah juga dapat menyebabkan perubahan.

91

 Sosiologi Kesehatan 
Penemuan baru seperti pemancar radio akan berpengaruh ke berbagai arah dan
menyebabkan perubahan pada lembaga kemasyarakatan dan adat istiadat.

1

Gambar 1. Pola Penemuan Baru
Perubahan yang menjalar dari satu lembaga ke lembaga kemasyarakatan lainnya.

1 12 3

Gambar 2. Pola Penemuan Baru
Penemuan baru kapal terbang membawa pengaruh terhadap metode peperangan,
yang kemudian kian memperdalam perbedaan antara negara super besar dengan negara
kecil. Beberapa jenis penemuan baru dapat pula mengakibatkan satu jenis perubahan

1
13
1

Gambar 3. Pola Penemuan Baru

92

 Sosiologi Kesehatan 

3. Pertentangan (conflict) masyarakat
Pertentangan dapat terjadi antar individu maupun antar kelompok, masyarakat

Indonesia bersifat kolektif, segala kegiatan didasarkan pada kepentingan masyarakat,
walaupun kepentingan individu diakui, tetapi memiliki fungsi sosial, walau tidak jarang
timbul pertentangan kepentingan individu dengan kepentingan kelompok, sehingga dalam
hal tertentu dapat terjadi perubahan. Pertentangan antar kelompok sering terjadi pada
generasi muda dari pada generasi tua, di mana generasi muda lebih mudah menerima
perubahan-perubahan baru.

4. Terjadi pemberontakan/ revolusi
a. Sebab dari lingkungan alam/ fisik di sekitar, seperti gempa bumi, topan, banjir yang

menyebabkan masyarakat terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Jika mereka
meninggalkan tempat tinggal dan terpaksa tinggal di tempat yang baru sehingga
masyarakat harus menyesuaikan diri dengan alam yang baru tersebut. Hal ini
mengakibatkan timbulnya perubahan pada masyarakat itu sendiri.
b. Peperangan. Hal ini dikarenakan negara yang menang akan memaksakan kebudayaan
pada negara yang kalah
c. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara
dua masyarakat cenderung untuk menimbulkan pengaruh timbal balik. Tetapi jika
hubungan melalui alat komunikasi massa, pengaruh hanya terjadi pada satu pihak
yaitu masyarakat pengguna tanpa dapat memberi timbal balik. Jika pengaruh tidak
diterima dengan paksaan disebut dengan demonstration effect.

Secara umum terdapat faktor yang mempengaruhi proses perubahan, yaitu
1. Faktor pendorong

a. Kontak dengan kebudayaan lain, dikenal dengan difusi. Difusi intra masyarakat
dipengaruhi oleh:
1) Pengakuan bahwa unsur baru memiliki kegunaan
2) Ada tidaknya unsur kebudayaan yang mempengaruhi, diterima atau
tidaknya unsur yang baru
3) Unsur baru bertentangan dengan unsur yang lama, kemungkinan tidak
akan diterima
4) Kedudukan dan peranan sosial dari individu yang menemukan sehingga hal
baru lebih mudah diterima
5) Pemerintah dapat memahami proses difusi tersebut
Difusi antar masyarakat dipengaruhi oleh:
• Adanya kontak antar masyarakat tersebut
• Kemampuan untuk mendemonstrasikan manfaat penemuan baru
• Pengakuan akan kegunaan penemuan baru
• Peranan masyarakat yang menyebarkan penemuan baru
• Paksaan untuk menerima penemuan baru

93

 Sosiologi Kesehatan 

b. Sistem pendidikan formal yang maju memberikan pikiran kepada manusia untuk
berpikir secara ilmiah dan objektif serta menilai apakah kebudayaan masyarakat
akan dapat memenuhi kebutuhan zaman atau tidak

c. Keinginan untuk maju dan menghargai hasil karya orang lain
d. Toleransi terhadap perbuatan yang menyimpang yang bukan delik
e. Sistem terbuka pada lapisan masyarakat memungkinkan adanya gerak sosial

vertikal yang luas, sehingga memberikan kesempatan pada individu untuk maju
atas dasar kemampuan sendiri
f. Penduduk yang heterogen
g. Ketidakpuasan masyarakat pada bidang kehidupan tertentu
h. Orientasi pada masa depan
i. Nilai bahwa manusia harus berikhtiar untuk memperbaiki hidupnya

2. Faktor penghambat
a. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain, karena terasing menyebabkan
masyarakat terkukung pola pemikiran oleh tradisi yang ada
b. Perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat karena terasing dan tertutup atau
karena lama dijajah
c. Sikap masyarakat yang sangat tradisional dan dikuasai oleh golongan konservatif
d. Adanya kepentingan yang telah tertanam dengan kuat
e. Rasa takut akan kegoyahan pada integrasi kebudayaan
f. Sikap tertutup/prasangka terhadap hal baru
g. Hambatan yang bersifat ideologis
h. Kebiasaan
i. Nilai pasrah.

F. PROSES PERUBAHAN SOSIAL KEBUDAYAAN

1. Penyesuaian masyarakat terhadap perubahan, keserasian dan harmoni pada
masyarakat dimaksudkan sebagai suatu keadaan masyarakat yang pokok benar-benar
berfungsi dan saling mengisi, sehingga secara psikologis individu merasakan
ketentraman karena tidak adanya pertentangan dalam norma dan nilai.

2. Saluran perubahan sosial dan kebudayaan merupakan saluran yang dilalui oleh suatu
proses perubahan, umumnya saluran tersebut adalah lembaga kemasyarakatan dalam
bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi dan sebagainya. Lembaga
kemasyarakatan tersebut menjadi titik tolak, tergantung pada culture focus
masyarakat pada masa tertentu.
Lembaga kemasyarakatan pada suatu waktu mendapatkan penilaian tertinggi dari
masyarakat cenderung menjadi saluran utama perubahan sosial dan kebudayaan.
Perubahan lembaga kemasyarakatan membawa akibat pada lembaga kemasyarakatan
lainnya karena lembaga kemasyarakatan merupakan suatu sistem yang terintegrasi.
Lembaga kemasyarakatan tersebut merupakan suatu struktur apabila mencakup

94

 Sosiologi Kesehatan 

hubungan antar lembaga kemasyarakatan yang memiliki pola tertentu dan keserasian
tertentu, artinya saluran tersebut berfungsi agar suatu perubahan dikenal, diterima,
diakui, serta digunakan oleh khalayak ramai atau dengan singkat mengalami proses
institutionalization (pelembagaan).
3. Disorganisasi dan reorganisasi
a. Organisasi merupakan artikulasi dari bagian yang merupakan suatu kesatuan

fungsional. Tubuh manusia misalnya, terdiri dari bagian-bagian yang masing-
masing mempunyai fungsi dalam rangka hidupnya seluruh tubuh manusia
sebagai suatu kesatuan. Apabila seseorang sedang sakit, bisa dikatakan salah
satu bagian tubuhnya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, jadi secara
keseluruhan bagian-bagian tubuh manusia merupakan keserasian yang
fungsional.
b. Suatu keadaan dimana tidak ada keserasian pada bagian-bagian dari suatu
kebulatan, misalnya dalam masyarakat agar berfungsi sebagai organisasi harus
ada keserasian antar bagian. Ketidakserasian di sini disebut disorganisasi.
Kriteria disorganisasi terletak pada persoalan apakah organisasi tersebut
berfungsi secara semestinya atau tidak baik. Disorganisasi dalam masyarakat
dihubungkan dengan moral, yaitu anggapan tentang apa yang baik dan apa yang
buruk.
c. Sistem sosial dalam pertumbuhannya mempengaruhi diri sendiri, sehingga yang
terjadi bukanlah perubahan-perubahan inti tetapi mempengaruhi suasana
masyarakat yang melingkunginya, lingkungan sekitar dapat mempercepat atau
memperlambat pertumbuhan sistem sosial, bahkan dapat menghancurkan
sebagian atau seluruhnya, tetapi tidak mungkin akan berhasil mengubah
sifatnya yang pokok.

Tahap reorganisasi dilaksanakan jika norma dan nilai yang baru telah melembaga
dalam diri warga masyarakat, reorganisasi adalah proses pembentukan norma-norma
dan nilai yang baru agar sesuai dengan lembaga kemasyarakatan yang mengalami
perubahan. Reorganisasi dilaksanakan apabila norma dan nilai-nilai yang baru telah
melembaga dalam diri warga.
Gambaran disorganisasi dan reorganisasi berupa pengaruh dari suatu masyarakat yang
tradisional dan masyarakat yang modern terhadap jiwa para anggota, watak atau jiwa
seseorang merupakan pencerminan kebudayaan masyarakat. Pada masyarakat
tradisional aktivitas seseorang sepenuhnya berada di bawah kepentingan masyarakat,
segala sesuatu didasarkan pada tradisi dari setiap usaha untuk mengubah satu unsur
saja, struktur dianggap sebagai sesuatu yang suci, tidak dapat diubah dengan drastis
dan berjalan dengan lambat sekali. Perubahan masyarakat tradisional menjadi
masyarakat modern akan mengakibatkan pola perubahan dalam jiwa setiap anggota
masyarakat.
Ketidakserasian perubahan dan ketinggalan budaya berupa unsur kebudayaan
kebendaan lebih mudah berubah dari pada unsur kebudayaan rohaniah, apabila

95


Click to View FlipBook Version