The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Dr. Ir. Susilawati Cicilia Laurentia etc.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Brawijaya E-Books, 2022-06-11 00:31:31

Konservasi Tanah dan Air

Dr. Ir. Susilawati Cicilia Laurentia etc.

meningkat untuk menggunakan pupuk mineral yang
dapat meningkatkan hasil panen dan produksi biomas.
8. Pupuk kandang yang dimasukkan dalam lubang
mengandung benih-benih pohon atau semak yang tidak
tercerna oleh ternak, akan membantu persemaiannya.
Benih-benih muda juga memperoleh keuntungan dari air
dan pupuk kandang yang terkonsentrasi (Roose et.al,
1999).

Beberapa kerugian dari sistem zai:
1. Membutuhkan banyak tenaga untuk menggali lubang

(sekitar 300 tenaga per jam tiap ha), tetapi tergantung
dari jenis tanah. Kebutuhan tenaga untuk pemeliharaan
lubang juga tergantung jenis tanah. Lubang yang digali
pada tanah berlempung dan mempunyai gaya geser
tinggi atau banyak batu, membutuhkan tenaga
pemeliharaan yang lebih sedikit dibandingkan dengan
lubang yang digali pada tanah berpasir.
2. Pengerjaan secara mekanis adalah tidak mungkin.
Lubang digali dan dipelihara dengan tangan.

Di daerah Tahoua, Niger dikembangkan juga teknik
konservasi tanah dan air secara tradisional yang mirip
dengan sistem zai, disebut tassa (Reij, 2001). Lubang
tanaman secara tradisional yang disebut tassa ini dipakai
oleh beberapa desa untuk memperbaiki tanah yang rusak.
Lubang-lubangnya kecil, tanah galian diletakkan di sekeliling
pinggir lubang, dan tidak dimasukkan pupuk kandang di
dalam lubang itu. Sampai suatu ketika dalam program
konservasi tanah dan air di Badaguichiri yang dibiayai oleh
International Agricultural Development (IFAD) mulai tahun
1988, diaturlah suatu studi lapangan untuk 15 petani (3 di
antaranya adalah wanita) untuk mengunjungi daerah
Yatenga di Burkina Faso, di mana mereka belajar

136 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

bagaimana mengembangkan teknik konservasi tanah dan air
secara tradisional yang berkembang di Yatenga dengan
sistem zai. Maka sekembalinya dari Yatenga ke daerahnya
di distrik Illela, beberapa petani meningkatkan sistem tassa
yang dimilikinya. Mereka mengubah ukuran lubang dengan
diameter 25-40 cm, kedalaman 15-30 cm dan jarak tiap
lubang 80-100 cm. Tanah galian tidak diletakan di sekeliling
lubang lagi untuk memungkinkan limpasan air terkumpul
dalam lubang, dan mereka menambahkan pupuk kandang
ke dalam lubang. Dalam tahun 1989 petani-petani
memperbaiki 3 ha lahan dengan sistem tassa yang
diperbaiki, dan sejak itu tassa dengan cepat diadopsi oleh
petani lain.

Beberapa contoh praktik konservasi tanah dan air lain
yang diterapkan di Morocco, Ethiopia dan Tanzania, Afrika
dapat dilihat dalam Gambar 5.2 – 5.4.

Gambar 5.2 Konservasi tanah dan air di Morocco dengan sistem teras
bangku dan tanggul batu (Foto Liniger dalam Liniger et.al., 2002)

137 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.3 Konservasi tanah dan air di Etiopia dengan sistem tanggul,
selokan dan jalan air

(Foto Hurni dalam Liniger et.al, 2002)

Gambar 5.4 Konservasi tanah dan air di Tanzania dengan sistem lajur
rumput vetiver sepanjang kontur (Foto Liniger dalam Liniger et.al, 2002)

138 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

5.3 Konservasi Tanah dan Air di Philipina dan Cina
Noordwijk dan Verbist (2000) menuliskan kembali

dalam studi kasus di Philipina tentang teknik penghijauan
lajur secara alami (Natural Vegetative Strip – NVS) – suatu
paradigma yang mungkin membantu perubahan konservasi
lahan tropis “tanpa biaya” yang ditulis oleh Garrity et.al.
(1999). Teknologi yang mudah diadopsi harus memiliki biaya
minimal bagi petani dan mudah dikembangkan pada
sejumlah besar petani.

Akhir tahun 1995 ICRAF didekati oleh petani-petani
Pilipina untuk membantu dalam mencegah erosi tanah
dengan sistem lajur secara kontur. Ilmuwan ICRAF
menanggapi permintaan ini dengan membentuk tim terdiri
dari 3 individu petani yang disebut CHET (Contour Hedgerow
Extension Team) dan memberi pendampingan pada mereka.
Selanjutnya diadakan kegiatan pelatihan untuk kelompok
yang melibatkan 5-7 peserta tiap desa dari 7 desa yang
dipimpin oleh tim CHET. Sebelum berakhir pelatihan para
peserta memutuskan untuk mengatur sendiri konservasi
pertanian mereka (self-help organisation for conservation
farming). Dipilih seorang pemimpin dan organisasi ini dikenal
sebagai the Claveria Land Care Association (CLCA), yang
mengembangkan dan membagikan secara efektif dalam
mewujudkan pertanian yang berkelanjutan melalui teknologi
penyebaran informasi. Pendekatan ini berkembang menjadi
gerakan yang dinamis yang mempunyai banyak cabang,
dengan lebih dari 2000 anggota di Claveria. Mereka
menerapkan praktik konservasi tanah dan air dengan sistem
NVS, yang juga berkembang di daerah sekitarnya seperti
Lantapan dan Bukidnon.

Meskipun petani bersyukur atas peran dari NVS
dalam mengendalikan erosi tanah, mereka tetap ingin
mengoptimalkan jarak lajur semak (hedgerow space).
Mereka ingin menanam pohon kayu dan pohon buah-buahan

139 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

pada NVS. Maka dikembangkan jenis pohon Eucalyptus
deglupta yang kayunya mempunyai pasaran yang tinggi.
Organisasi CLCA mengembangkan pembibitan dan ICRAF
menyediakan bibit unggul. Akhirnya berkembanglah praktik
wanatani di antara ribuan petani dataran tinggi, yang
merupakan gerakan konservasi tanah dan air.

Wu Bin (download 2005) menampilkan beberapa
praktik konservasi tanah dan air di Cina, khususnya di
dataran Loess yang merupakan daerah dengan erosi tanah
terbesar di dunia. Tanah erosi masuk ke sungai Kuning
(Yellow River) dan menaikkan dasar sungai Kuning (Gambar
5.5).

Gambar 5.5 Dataran Loess dan air yang kuning (Wu Bin, download 2005)

Topografi dataran Loess terdiri dari “yuan” atau
puncak tebing yang datar, “liyang” atau bukit-bukit, “mao”
atau tebing-tebing dan “gou” atau lembah-lembah, seperti
diperlihatkan dalam Gambar 5.6. Jenis-jenis erosi yang
terjadi di dataran ini berupa erosi hidrolis (erosi karena
tetesan air hujan, erosi permukaan, erosi alur dan erosi
selokan), erosi angin, erosi buatan yang disebabkan oleh
aktivitas manusia dan erosi karena gaya gravitasi (aliran
lumpur, longsoran, dan erosi terowongan) seperti
diperlihatkan dalam Gambar 5.7.

140 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.6 Topografi dataran Loess (Wu Bin, download 2005)

Gambar 5.7 Erosi yang terdapat pada dataran Loess (Wu Bin, download
2005)

Konservasi tanah dan air pada daerah ini diterapkan
dalam unit-unit cekungan yang kecil (dengan luas kurang
dari 30 km2) yang mempertimbangkan banyak hal seperti
kondisi alam, ekonomi, sosial dan kondisi lain yang ada
dalam daerah cekungan tersebut. Teknik konservasi tanah
dan air meliputi sistem penghijauan, sistem teknik atau

141 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

mekanis (sistem teras, perlindungan lereng, cek dam dan
bendung) dan konservasi pertanian.

Sistem penghijauan atau penghutanan kembali di
daerah yang mempunyai masalah dengan kelangkaan
lengas tanah dilakukan dengan sistem mempersiapkan
lubang-lubang untuk meningkatkan lengas tanah yang
dikenal dengan lubang-lubang sisik ikan (fish scale pits).
Lubang-lubang yang digali berbentuk setengah lingkaran dan
tanah galian dimanfaatkan untuk membentuk dinding di
sekeliling lubang sehingga mencegah air lari ke luar. Fungsi
dari lubang sisik ikan ini adalah menampung air sehingga
meresap ke dalam tanah. Pohon-pohon ditanam dalam
lubang-lubang tersebut (Gambar 5.8).

Gambar 5.8 Sistem lubang sisik ikan (fish-scale pits),
disebut demikian karena dari kejauhan nampak seperti sisik ikan (Wu

Bin, download 2005)

Sistem lain yang diterapkan dalam usaha
penghutanan kembali adalah sistem tangga datar (level
steps) untuk lereng yang sedang. Selokan-selokan digali di
sepanjang kontur dan tanah galian dimanfaatkan untuk
membentuk dinding di samping selokan. Air dan tanah akan
tertampung dalam selokan-selokan dan pohon-pohon

142 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

ditanam didalamnya seperti pada sistem lubang sisik ikan
(Gambar 5.9).

Gambar 5.9 Sistem tangga-tangga datar (level steps) (Wu Bin, download
2005)

Usaha penghijauan kembali daerah aliran sungai ini dapat
dilaksanakan dengan metode penutupan gunung dalam jangka
waktu tertentu sampai daerah menjadi hijau seperti nampak dalam
Gambar 5.10.

Gambar 5.10 Penghijauan kembali daerah aliran sungai dengan metode
penutupan gunung

(Wu Bin, download 2005)

143 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Lahan terasering diterapkan pada lereng sedang yang
berfungsi untuk mencegah limpasan air permukaan dan erosi
tanah. Contoh lahan terasering yang terdapat di dataran
Loess ini dapat dilihat dalam Gambar 5.11.

Gambar 5.11 Lahan terasering di dataran Loess (Wu Bin, download 2005)

Beberapa bentuk bendung perlindungan lereng
diciptakan dalam lembah-lembah dataran Loess yaitu dalam
selokan-selokan akibat erosi (gully). Bentuk-bentuk bendung
tersebut meliputi bendung dinding batu, bendung tanah,
bendung beton, bendung bronjong, cek-dam kantong isi
tanah, bendung dari tanah halus diperkuat dengan kayu,
bendung jaringan dari kayu dan bentuk lain tergantung dari
bahan yang dipakai. Bentuk-bentuk bendung ini dapat dilihat
dalam Gambar 5.12 – 5.14.

Gambar 5.12 Cek-dam tanah, bendung tanah dan tanah pertanian pada endapan
sedimen (Wu Bin, download 2005)

144 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.13 Bendung pasangan bata, bendung beton dan bendung
bronjong

(Wu Bin, download 2005)

Gambar 5.14 cek-dam dengan perkuatan kayu
(Wu Bin, download 2005)

145 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Beberapa usaha dilakukan untuk memantapkan
penyebaran informasi akan konservasi tanah dan air yang
sangat mendesak melalui kebijakan, dengan ditetapkannya
undang-undang konservasi tanah dan air rakyat Republik
Cina (Pemerintah Cina, 1991), dan pelatihan teknis atau
pendidikan lewat media TV, surat kabar, serta media lain
yang membuat masyarakat peduli akan teknik pertanian,
teknik konservasi tanah dan air lebih lanjut.

Akhirnya dataran Loess menjadi hijau seperti nampak
dalam Gambar 5.15.

Gambar 5.15 Dataran Loess setelah praktik konservasi tanah dan air
(Wu Bin, download 2005)

Praktik konservasi tanah dan air melalui usaha tani
konservasi yang dilakukan di Cina misalnya di provinsi Fujian
memakai sistem campuran dengan terasering di mana
bagian datar ditanami pohon buah, bagian puncak ditanami
lajur rumput dan bagian bukit ditanami kentang (Gambar
5.16)

146 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.16 Usaha tani konservasi dengan sistem campuran di provinsi
Fujian Cina

(Foto Liniger dalam Liniger et.al, 2002)

5.4 Konservasi Tanah dan Air di Australia
Di Australia bagian selatan dan timur dengan banyak

terdapat padang terbuka sangat potensial terjadi erosi.
Usaha konservasi tanah dan air di daerah ini dilakukan
dengan sistem biologis yaitu menyebarkan tanaman sejenis
lumut dan ganggang, tumbuh di atas tanah yang lembab,
yang dikenal sebagai lichen, mosse dan liverwort (Eldridge,
1998). Tanaman ini menutupi permukaan tanah lapisan atas
sehingga menjadi keras dan stabil terhadap erosi air maupun
erosi angin. Tanaman ini juga meningkatkan kadar nutrisi
tanah, mempengaruhi aliran air melalui tanah karena
meskipun keras tetapi tembus air dan sangat berguna
sebagai indikator lahan yang sehat. Kerak tanah yang
didominasi lichen memenuhi area di Australia bagian selatan
nampak dalam Gambar 5.17.

147 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

daerah yang ditutupi lichen

Gambar 5.17 Daerah dengan kerak tanah penuh lichen di Australia
bagian selatan

(diadaptasi dari Roger, 1982 dalam Eldridge David, 1998)

Di daerah dekat Maralinga yang merupakan daerah
kering di Australia bagian selatan telah berkembang dengan
baik lapisan atas tanah berupa kerak tanah yang ditutupi
oleh lichen yang tumbuh dengan stabil.

Gambar 5.18 Kerak tanah yang berkembang baik di Maralinga (Eldridge
David, 1998)

148 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Untuk melindungi dan menstabilkan tanah juga
dikembangkan rumput vetiver yang diterapkan pada jalan
untuk menghindari hembusan lalu lintas, pada kaki bendung
untuk menstabilkannya, untuk perbaikan kembali bekas
penambangan batu bara, pada daerah bantaran untuk
mengendalikan erosi banjir, pada jalan air di ladang tebu
untuk menangkap sedimen, untuk pengendalian limpasan air
permukaan dan pengendalian erosi dan sedimen (Gambar
5.19 – 5.22).

Gambar 5.19 Rumput vetiver pada tepi jalan dan kaki bendung (Truong &
Pease, download 2005)

149 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.20 Rumput vetiver pada bekas tambang batu bara dan pada
bantaran

(Truong & Pease, download 2005)

150 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.21 Rumput vetiver pada lading tebu dan untuk pengendalian
limpasan air permukaan (Truong & Pease, download 2005)

151 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.22 Rumput vetiver untuk pengendalian erosi dan sedimentasi
(Truong & Pease, download 2005)

152 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

5.5 Konservasi Tanah dan Air di Amerika
Konservasi tanah dan air di Amerika sudah muncul

sejak tahun 1930 sebagai tanggapan akan masalah erosi
yang menjadi keprihatinan nasional. Konggres dan
masyarakat memberikan kebebasan penuh untuk usaha
pengembangan sistem konservasi tanah dan air, yang
kemudian menjadi model bagi negara-negara di seluruh
dunia (Troeh et.al, 1991).

Pada mulanya Miller dan Duley (1917) dari
Universitas Missouri mengadakan penelitian lapangan yang
pertama untuk menemukan alasan mengapa produktifitas
tanah menurun. Penelitian ini dimulai pada tahun 1917 dan
hasilnya dipublikasikan pada tahun 1923. Kemudian
konggres secara resmi memberikan perintah dan dana untuk
membuat 10 stasiun percobaan erosi tanah dan 10 lahan
pembibitan tanaman. Tahun 1933 terjadi pengangguran
besar-besaran, maka pemerintah mempekerjakan 3 juta
orang dan sebagian besar dipekerjakan pada proyek-proyek
konservasi tanah dan air. Muncullah kelompok konservasi
sipil (CCC – Civilian Conservation Corps). Pada tahun yang
sama didirikan lembaga pelayanan erosi tanah (SES – Soil
Erosion Service). Lembaga ini bekerjasama dengan
pemerintah lokal agar mengijinkan CCC menanam pohon,
rumput, kacang-kacangan pada tanah yang mudah tererosi
dan membangun bendung-bendung pengendali erosi pada
gully ataupun jalur aliran drainase lain. Sebanyak 40 proyek
pengendali erosi tanah telah dibangun melalui kerjasama ini.

SES bertahan dalam waktu 2 tahun, kemudian pada
tahun 1935 lembaga ini diganti dengan lembaga pelayanan
konservasi tanah (SCS – Soil Conservation Service) yang
tetap ada sampai sekarang. SCS menyediakan
pendampingan langsung secara formal maupun tidak
langsung secara informal dalam konservasi tanah dan air

153 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

dalam jangkauan nasional maupun internasional yang
meliputi pendampingan-pendampingan:

1. pada distrik-distrik konservasi
2. kepada para pemilik tanah dan operator
3. untuk mereklamasi bekas pertambangan/galian
4. tentang sumber daya air
5. tentang sumber daya konservasi
6. dalam program konservasi Great Plain
7. tentang konservasi tata guna lahan
8. pada negara-negara yang menghadapi masalah

konservasi tanah dan air khususnya bagi negara-
negara berkembang.
Lembaga-lembaga konservasi tanah dan air yang ada di
Amerika antara lain meliputi distrik-distrik konservasi
(Conservation Districts), Agricultural Stabilisation and
Conservation Service, USDA-Forest Service, Corps of
Engineers, Bureau of Land Management, Bureau of
Reclamation, Bureau of Indian Affairs, Environmental
Protection Agency, Tennessee Valley Authority. Sejak tahun
1946 terbentuk juga suatu organisasi yang disebut Soil and
Water Conservation Society (SWCS).

5.6 Konservasi Tanah dan Air di Eropa
Produksi pertanian sering memberikan dampak

negatif pada lingkungan, seperti juga diprihatinkan tentang
praktik penggunaan tanah secara konvensional yang
berkelanjutan pada lahan subur di Eropa bagian utara dan
tengah. Beberapa studi mendemonstrasikan kerusakan
lingkungan yang akan mengakibatkan ketidakberlanjutannya
sumber daya tanah, khususnya dalam praktik pertanaman
yang tidak sesuai. Meskipun laju kehilangan tanah di Eropa
pada umumnya lebih rendah dibandingkan pada daerah
tropis dan subtropis, tetapi muncul keprihatinan tentang
pengaruh limpasan permukaan dan transportasi sedimen

154 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

pada sumber daya air. Penyiapan lahan secara
konvensional dan penanaman tanaman membutuhkan
operasi-operasi lahan, khususnya untuk tanaman sereal
pada musim dingin di Inggris dan gula bit di Belgia. Hal ini
diikuti dengan gemburnya tanah yang cukup berarti dalam
peningkatan erosi tanah, daya rekat permukaan tanah yang
menambah jumlah limpasan air permukaan. Kombinasi
proses ini meningkatkan kehilangan tanah, konsentrasi
sedimen dan jumlah limpasan permukaan. Erosi sedimen
yang mengandung bahan kimia, mencemari kualitas air dan
ekosistem air (Lynden and Lane, 2004).

Suatu proyek baru yang besar, disebut SOWAP (Soil
and Water Protection Using Conservation Tillage in Northern
and Central Europe), muncul dari pertanian konvensional
yang mengacu pada masalah lingkungan, ekonomi dan
sosial. SOWAP mempunyai misi untuk menemukan dan
mendemonstrasikan cara-cara pengelolaan tanah yang lebih
baik. Proyek ini dimulai di Inggris, Belgia dan Hongaria untuk
periode 3 tahun (2003 – 2006), dicobakan pada suatu
padang dengan metode pengelolaan tanah yang khusus,
berdasarkan pada konsep konservasi pengolahan tanah. Hal
ini menguji masalah ekonomi operasional pengolahan tanah,
pengaruhnya pada erosi tanah, limpasan air yang
mengandung pestisida dan pupuk. Juga pengaruhnya pada
burung-burung, panas bumi dan kehidupan di air yang
merupakan indikator penyelidikan proyek. Proyek ini
melibatkan organisasi-organisasi, lembaga-lembaga dengan
segala latar belakang, dari lembaga komersial, akademi,
organisasi lingkungan, organisasi pemerintah dan non
pemerintah, serta petani. Proyek ini didukung dengan
struktur komunikasi internet yang kompak, dan pertemuan
dua kali setahun untuk mendiskusikan perkembangan dan
masalah-masalah yang dihadapi. SOWAP mendefinisikan
konservasi pengolahan tanah sebagai praktik-praktik khusus

155 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

yang bertujuan untuk mengurangi kerusakan tanah selama
penyiapan lahan. Tujuannya untuk meningkatkan struktur
dan kestabilan tanah. SOWAP akan dibangun di antara kerja
dari WOCAT (The World Overview of Conservation
Approaches and Technologies Programme).

5.7 Konservasi Tanah dan Air di Indonesia
Inon Beydha (2002) menyebutkan bahwa pengamatan

yang cermat atas kenyataan yang berlangsung di dalam
penanganan konservasi tanah dan air sangat diperlukan
untuk dapat merumuskan suatu konsep sebagai perkakas
pembangunan menuju harapan di masa depan yang lebih
cerah dalam pembangunan pertanian, khususnya yang
menyangkut pengembangan sumber daya alam terutama
upaya konservasi tanah dan air. Berbagai program/proyek
pengelolaan DAS telah dilaksanakan di Indonesia, antara
lain adalah proyek Citanduy II, Ciamis, Jawa Barat yang
dimulai sejak tahun 1983 dan proyek pengelolaan DAS
Serang dengan memperkenalkan konservasi dan pertanian
dataran tinggi (Upland Agriculture and Conservation Project
– UACP) (Sinukaban Naik, 1999).

Proyek konservasi dan pengelolaan DAS nasional
memang banyak menghadapi kendala. Dalam berbagai
proyek itu, banyak yang berubah, tetapi banyak pula yang
tidak berubah. Organisasi dan administrasi Inpres
Penghijauan dan Reboisasi termasuk di dalam kegagalan
upaya nasional dalam pembangunan dan pengelolaan DAS
nasional. Kegagalan ini terutama nampak dari dua hal yang
kurang dipahami para perencana dan pelaksana, yakni
organisasi dan lembaga. Dalam pengorganisasian terlihat
banyak instansi yang berperan dan merasa bertanggung
jawab, di antaranya: BAPPENAS, BAPPEDA, PU,
Kehutanan, DEPDAGRI, DEPTAN, DEPTRANS dan PPH,
bahkan pemerintah kecamatan dan desa, juga organisasi di

156 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

tingkat petani seperti LSM, kelompok tani, kelompencapir,
dan sebagainya.

Masalah konservasi tanah dan air di Indonesia
merupakan tugas berat bagi Bangsa Indonesia mengingat
luasnya lahan kritis dan menuju kritis, yang bahkan
bertambah setiap tahun, dan tingkat kesulitan penanganan
yang tinggi termasuk dalam upaya perbaikan kehidupan tani
di wilayah tersebut. Tantangan yang berat di Indonesia
adalah luas wilayah Indonesia yang tidak kurang dari 195
juta hektar, dan diperkirakan 147 juta hektar atau 76 persen
merupakan hutan dalam program penghutanan kembali dan
rehabilitasi lahan, terdapat tidak kurang dari 80 DAS, di
mana 36 buah di antaranya mendapat prioritas (Inon
Beydha, 2002).

Bank Dunia telah menjadi pendukung aktif upaya-
upaya pemerintah Indonesia dalam proyek konservasi tanah.
Selama lebih dari 15 tahun bank ini telah mendukung 4
proyek dengan total biaya lebih dari U$ 100 juta (Bank
Dunia, 1990) dan kini sedang melakukan kerjasama dengan
Pemerintah dalam Proyek Konservasi Nasional dan
Manajemen Daerah Aliran Sungai yang mungkin
memerlukan pinjaman sebesar U$ 60 juta lebih. Bank
tersebut akan terus membantu Indonesia untuk berfokus
kepada tujuan konservasinya dan menginvestasikan secara
lebih efektif, termasuk turut berperan serta dalam
implementasi ilmiahnya.

Pada masa yang lalu Bank Dunia telah bekerja sama
dengan Pemerintah Indonesia terutama melalui proyek-
proyek seperti Proyek Pengembangan Pedesaan
Yogyakarta, Proyek Pertanian Dataran Tinggi dan
Konservasi, serta Proyek Wonogiri. Semua Proyek tersebut
umumnya telah sukses dan layak ditinjau dari sifat
eksperimental intervensi tersebut, di mana Pemerintah dan
Bank Dunia tengah mencoba untuk menetapkan serta

157 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

memperbaiki cara-cara bekerja dengan masyarakat desa,
mengidentifikasi dan mendaur ulang teknologi,
mengorganisir serta mengkoordinasi agensi-agensi dan
merencanakan fungsi-fungsinya. Ketika Indonesia beralih
pada penekanan menjadi desentralisasi, Pemerintah dan
Bank Dunia harus mengeksplorasikan metode pendekatan
baru untuk memanfaatkan sumber daya yang diberikan Bank
untuk mendukung proyek konservasi tersebut. Untung saja,
Indonesia kini merupakan tempat di mana program
konservasi tanah nasional menjadi prioritas penting Inpres
Penghijauan dan Penghutanan kembali yang telah
berlangsung selama 18 tahun, kini telah menghasilkan
sumber daya kepada pemerintah daerah setempat melalui
pemerintah pusat.

Beberapa usaha konservasi yang telah dilakukan di
berbagai daerah dalam upaya mengatasi erosi dan
meningkatkan ekonomi pertanian antara lain dengan pola
diversifikasi atau menganekaragamkan tanaman seperti
menanam tanaman kopi di sela-sela tanaman tembakau di
Temanggung (Liputan 6 SCTV, 17/07/2003 14:40).

Gambar 5.23 Tanaman kopi di antara tembakau (Liputan 6 SCTV, 2003)

158 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Tanaman kopi tersebut ditanam di sela-sela pohon
tembakau yang luasnya mencapi 12 ribu hektare.
Diversifikasi ini ternyata bukan saja dapat menghasilkan
tambahan untuk petani, tapi juga dapat mengurangi erosi
lereng pegunungan Sindoro dan Sumbing. Berdasarkan hasil
penelitian Badan Pengendalian Lingkungan Daerah
(Bapedalda) setempat, diversifikasi ini dapat menahan erosi
55 ton tanah per hektare. Itulah sebabnya, pola ini
rencananya akan dikembangkan di daerah lainnya.

Di Sumatera Barat, Aceh dan provinsi Bengkulu
misalnya, dilaksanakan program Rehabilitasi Lahan dan
Konservasi Tanah (RLKT). Meskipun program RLKT di
Sumatera Barat dan Aceh dianggap gagal diduga berkaitan
dengan kesalahan pelaksanaannya sehingga mengakibatkan
banjir yang melanda kawasan tersebut (Liputan 6 SCTV,
03/12/2000 08:05), namun program RLKT di provinsi
Bengkulu dirasakan keberhasilannya (Liputan 6 SCTV,
25/04/2001 04:37).

Unit Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah
Provinsi Bengkulu mengembangkan program wanatani.
Penghidupan petani yang mengikuti program tersebut pun
meningkat. Unit RLKT setempat yang menjalankan program
tumpang sari. Sebetulnya, wanatani adalah kombinasi dari
program tanaman pohon dengan tanaman semusim.
Program ini untuk pertama kali dikembangkan di Desa
Sindang Jaya, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten
Rejang Lebong, Bengkulu. Caranya, dengan
mengkombinasikan tanaman aren dan jagung hibrida C-7
yang ditanami di areal seluas satu hektare. Dalam sekali
panen, areal tersebut dapat menghasilkan jagung basah
seberat 7.500 kilogram. Dari hasil penjualan itu, para petani
bisa meraup keuntungan mencapai Rp 2,8 juta. Tentu saja,
bila harga jual jagung masih Rp 600 per kilogram. Selain itu,

159 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

para petani juga dapat menghasilkan gula aren. Sebab,
tanaman jagung tak mengganggu pertumbuhan pohon aren.

Selain wanatani, para petani juga mengembangkan
program wanafarma: kombinasi tanaman pohon dengan
tanaman obat. Sejak akhir tahun 2000, program ini
dikembangkan di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bengkulu
Selatan. Areal yang digunakan untuk mengembangkan
program tersebut seluas 50 hektare.

Usaha konservasi tanah dan air juga diwujudnyatakan
dalam program penghijauan dan penghutanan kembali
seperti misalnya di berbagai Taman Nasional (TN) antara
lain di TN Gede Pangrango yang digalakkan oleh pemerintah
(Liputan 6 SCTV, 15/01/2006 14:48) dan penanaman aneka
pohon dilakukan oleh siswa-siswi MI Al-Ikhlas Cianjur yang
peduli pada konservasi alam (ANTARA News, Jan 16, 2006,
09:33).

Gambar 5.24 Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen
Kehutanan menanam pohon di TN Gede Pangrango (Liputan 6 SCTV,

15/01/2006 14:48)

160 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Pemerintah mulai menggalakkan reboisasi di Taman
Nasional Gede Pangrango di Cianjur, Jawa Barat. Direktur
Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen
Kehutanan, Adi Susmianto baru-baru ini mengatakan bahwa
pemerintah juga tengah mendata beberapa lokasi yang perlu
direhabilitasi.

Wilayah selatan Gunung Putri di Kabupaten Cianjur
itu sebenarnya kawasan hutan lindung. Namun kawasan itu
juga dimanfaatkan warga sekitar sebagai lahan untuk
menanam sayuran. Lahan yang merupakan bagian dari
Taman Nasional Gede Pangrango pun kini terancam rusak.
Untuk menyelamatkan lahan tersebut, dilakukan penanaman
pohon berbatang keras guna menghindari ancaman banjir
dan tanah longsor. Penghijauan ini terus digalakkan dalam
tiga tahun terakhir oleh Direktorat Konservasi Alam bersama
klub pecinta alam Jepang.

Sekolah Madarasah Ibtidaiyah (MI) "Al-Ikhlas",
Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, dengan kepedulian
yang cukup tinggi pada ikhtiar konservasi, mendapat
penghargaan masyarakat internasional, yakni dengan
dilibatkannya sekolah itu dalam program aksi reboisasi
maupun pendidikan ketrampilan hidup lainnya.

Bantuan dari Direktur Utama Gunma Safari Park
Jepang, Kunihiko Takahasi, yang bersama 20 warga Jepang
lainnya diberikan bagi kepentingan penanaman kembali
sebanyak 2.500 tanaman beraneka jenis, di kawasan
Gunung Putri, Balai TN Gede Pangrango. Sebagai bentuk
kepedulian untuk menyelamatkan kelestarian hutan di
Indonesia, "Gunma Safari Park" Jepang, melalui
penggalangan dana dari "charity box" "Festival Indonesia"
2005 di Jepang, berhasil mengumpulkan dana senilai 500
ribu Yen.

Usai acara resmi pemberian bantuan, Kunihiko
Takahasi disertai Direktur Konservasi Keanekaragaman

161 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Hayati Direktorat Jenderal PHKA (Pelestarian Hutan dan
Keanekaragaman Hayati) Departemen Kehutanan (Dephut),
Adi Susmianto, Kepala Balai TNGP, Novianto Bambang
Wawandono, disaksikan Direktur Lembaga Konservasi "Ex-
Situ" Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua-Bogor, Frans
Manansang, bersama puluhan siswa/siswi MI Al-Ikhlas
melakukan pendakian untuk mencapai resor Gunung Putri,
untuk menanam aneka pohon (ANTARA News, 2006).

Untuk mendapatkan tanaman yang menunjang
program penghijauan dan penghutanan kembali, sejumlah
lembaga penelitian swasta dan pemerintah mencoba
mengembangkan tanaman jati alternatif, Jati Genjah. Jati
alternatif ini berasal dari pembibitan kultur jaringan jati eks-
Thailand (Liputan 6 SCTV, 06/10/2001 05:27).

Gambar 5.25 Kebun pembibitan Jati Genjah (Liputan 6 SCTV, 2001).

Keunggulan jati alternatif ini antara lain pertumbuhan
per tahun lebih cepat yakni minimal berdiameter dua
sentimeter, bentuk batang lebih lurus dan silindris, serta
bebas kontaminasi hama penyakit. Tanaman yang bisa
dipanen pada umur lima hingga sepuluh tahun ini mampu

162 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

melindungi lingkungan hidup secara seimbang. Hal ini
karena kemampuannya menjaga konservasi tanah, pematah
angin, maupun perbaikan kesuburan tanah. Tanaman ini
juga bisa menjadi intercrop atau sistem tumpang sari pada
perkebunan kopi, kakao, dan karet.

Dalam skala global, usaha konservasi tanah dan air
yang telah diterapkan di pelbagai negara dengan berbagai
sistemnya dapat dilihat dalam Gambar 5.26.

163 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 5.26 Usaha konservasi tanah dan air dalam skala dunia
(Schwilch et.al, 2004)

164 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

BAB VI
PEMBAHASAN DAN DISKUSI

Pembahasan dan diskusi tentang konservasi tanah dan
air yang diusahakan di Indonesia, meliputi: (1) ruang
lingkup konservasi tanah dan air, (2) lembaga-
lembaga yang terkait, (3) pembiayaan, (4) pelajaran
dari negara lain, dan (5) penataan kembali konservasi tanah
dan air.
6.1 Ruang Lingkup Konservasi Tanah dan Air di
Indonesia

Sejauh dapat ditemukan dari berita, informasi melalui
akses situs yang ada di internet dan studi literatur, jenis-jenis
kegiatan konservasi tanah dan air di Indonesia dapat
dikelompokkan dalam:

1. Sistem pengelolaan DAS, dalam kategori-kategori
DAS prioritas dan bukan prioritas, perencanaan RLKT
– Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah jangka
panjang, pendek dan tahunan

2. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA),
melalui pengelolaan Taman Nasional, Taman Wisata
Alam dan Taman Hutan Raya, serta program GN-RHL
– Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan

165 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

3. Pengelolaan tanah untuk bercocok tanam, meliputi
perencanaan tata tanam dan pola tanam oleh instansi
terkait dan organisasi petani, sistem pengolahan
tanah untuk pertanaman, pertanaman dengan sistem
terasering, pertanaman dengan sistem mulsa alang-
alang, pertanaman tumpang sari dan sebagainya

4. Proyek-proyek konservasi tanah dan air, seperti
proyek pembangunan embung, waduk, dan
sebagainya
Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam

kegiatan konservasi tanah dan air ini dapat disebutkan dari
kegiatan pengelolaan DAS dalam gerakan PROKASIH
(Proyek Kali Bersih), kegiatan perlindungan hutan dan
konservasi alam dalam program GN-RHL dan pembangunan
proyek-proyek konservasi tanah dan air.

Dalam rapat kerja PROKASIH – November 2000
disebutkan permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan
DAS (MNLH, 2000) antara lain disebabkan karena:

1. tumpang tindihnya peraturan perundangan antar
sektor

2. adanya perbedaan visi, misi, persepsi dan tujuan
antara pihak-pihak terkait

3. adanya ego sektoral masing-masing pihak terkait
4. tidak adanya Rencana Induk Pengelolaan Sumber

Daya Alam dalam DAS sebagai rujukan
5. adanya penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan

peruntukan
6. tidak adanya Sistem Pengelolaan Informasi terpadu
7. kurangnya partisipasi masyarakat dalam

mengaplikasikan teknik-teknik konservasi sumber
daya alam dan rendahnya kondisi sosial ekonomi
8. keterbatasan dana dalam pelaksanaan konservasi,
rehabilitasi lahan, pemeliharaan sarana dan
prasarana pengairan.

166 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Dalam program PROKASIH visi 2005 selanjutnya,
peningkatan kualitas air sungai tidak hanya meliputi
penurunan masukan beban pencemaran ke sungai tetapi
diperluas sampai pada peningkatan kapasitas konservasi air
dan fungsi kedayagunaan dan kemanfaatan sungai (MNLH,
download 2006). Dari pengalaman permasalahan yang
ditemukan, dan visi yang semakin dipertajam ini,
bagaimanakah peningkatan pengelolaan DAS yang lebih
terpadu dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan lebih
kompak oleh semua pihak terkait? Inon Beydha (2002) juga
melihat tumpang tindihnya berbagai pihak terkait yang
merasa bertanggung jawab dalam usaha konservasi tanah
dan air di Indonesia ini sehingga banyak proyek
direncanakan dan dilaksanakan, tetapi berhenti setelah
proyek berakhir.

DITJEN – PHKA (download 2006) menginformasikan
sejumlah besar kawasan konservasi, taman nasional, taman
wisata alam, cagar alam dan hutan lindung yang sudah sejak
lama ditetapkan, namun banyak kawasan menjadi kritis
karena praktik penebangan liar pohon-pohon yang ada
dalam kawasan. Hal ini terjadi karena praktik kolusi dari
oknum lembaga pelindung kawasan dengan oknum
kalangan bisnis yang tidak bertanggung jawab. Menjadi
pertanyaan, apakah usaha GN-RHL – Gerakan Nasional
Rehabilitasi Hutan dan Lahan mampu memulihkan kembali
kawasan yang rusak?

6.2 Lembaga-lembaga yang Terkait dalam Gerakan
Konservasi

Dalam Tabel 3.2 (halaman 60) disebutkan lembaga-
lembaga pemerintah yang terkait dalam usaha konservasi
tanah dan air di Indonesia antara lain: Balitbang, Bappeda,
Dinas PSDA (Pengairan), Dinas Kehutanan, Dinas
Pertambangan, Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota). Untuk

167 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

kegiatan perlindungan hutan dan konservasi alam
melibatkan lembaga DITJEN – PHKA yang berada di bawah
MNLH (Menteri Negara Lingkungan Hidup). Disamping itu
masih banyak lembaga-lembaga bukan pemerintah seperti
LSM yang ikut terlibat dalam gerakan konservasi di
Indonesia, misalnya WALHI (Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia), Conservation International – Indonesia, dan
sebagainya. Koordinasi antar lembaga-lembaga yang terkait
dalam konservasi tanah dan air tersebut sangat lemah,
bahkan saling tumpang tindih dalam kegiatannya sehingga
menimbulkan konflik baru. Tiap-tiap lembaga merancangkan
kegiatan konservasi tanah dan air sebagai proyek-proyek
yang mendatangkan keuntungan bagi pejabat lembaga
tersebut, dengan tanpa mempertimbangkan kajian pada
dampak proyek bagi masyarakat luas maupun usaha
konservasi.

6.3 Pembiayaan untuk Konservasi Tanah dan Air di
Indonesia

Sumber pembiayaan untuk konservasi tanah dan air
di Indonesia sebagian besar dibebankan pada pemerintah
yang mengusahakan dana pinjaman pada luar negeri atau
Bank Dunia. Partisipasi masyarakat dalam pembiayaan ini
sangat kecil atau bahkan tidak ada, hanya sebatas pada
sumber tenaga dalam pelaksanaan, misalnya untuk kegiatan
penanaman pohon pada kawasan konservasi. Biaya tidak
langsung yang dirasakan oleh masyarakat untuk konservasi
tanah dan air ini dapat dilihat dari kerelaan masyarakat
melepaskan tanah yang dimilikinya untuk menjadi suatu
kawasan konservasi yang ditangani oleh lembaga
pemerintah. Biaya tidak langsung ini juga dapat ditemukan
dari hilangnya penghasilan masyarakat dari sumber daya
yang ada di kawasan konservasi, karena kawasan tersebut
menjadi terlarang bagi kegiatan masyarakat.

168 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

6.4 Pelajaran dari Negara-negara Lain

Belajar dari pengalaman negara India dalam usaha
konservasi tanah dan air, yang terencana secara terpadu
meliputi lembaga-lembaga pemerintahan dan LSM yang
terlibat sejak perancangan dan penerapan, dalam suatu
program jangka panjang dan tahunan yang dikendalikan oleh
satu komisi perencanaan negara (SPC – State Planning
Comission), dengan sistem informasi yang terpadu pula,
kiranya dapat menjadi inspirasi dalam usaha konservasi
tanah dan air di Indonesia. Demikian pula usaha konservasi
secara tradisional yang dikembangkan di Afrika seperti
sistem zai di Burkina Faso dan tassa di Niger juga dapat
menjadi inspirasi bagi usaha konservasi di Indonesia, karena
tradisi dan kebudayaan masyarakat di Indonesia dengan
segala kearifan lokalnya yang kaya sangat terbuka luas
untuk dikembangkan. Seperti misalnya Endang (2005) dalam
tulisannya tentang konservasi hutan dan pola pertanian
tradisional masyarakat Baduy di Banten, menjelaskan
bagaimana tradisi pengelolaan hutan, pengelolaan pertanian,
pengolahan tanah pertanian, dengan segala aturan adat
istiadatnya mencegah bahaya erosi dan meningkatkan
usaha konservasi tanah dan air. Di Bali juga dikenal dengan
sistem subak dan pertanian terasering yang merupakan
usaha konservasi tanah dan air secara tradisional.

6.5 Penataan Kembali Konservasi Tanah dan Air di
Indonesia

Arah ke depan suatu usaha konservasi tanah dan air
di Indonesia rupanya dapat diilustrasikan seperti dalam
Gambar 6.1.

169 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Gambar 6.1 Ilustrasi arah ke depan usaha konservasi tanah dan air di
Indonesia

170 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Tiga kelompok usaha konservasi tanah dan air yang

dapat direncanakan dan diterapkan:

1. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), dicanangkan

dalam strategi pengelolaan DAS terpadu yang

berkelanjutan (menurut Kennet & Karlyn, 2000). Strategi

ini dirancang dengan didukung oleh: (a) penyelidikan
sosio – ekonomi untuk pengembangan budaya dan

kearifan lokal yang mendukung usaha konservasi,

sehingga strategi yang dirumuskan bersumber pada

kapasitas masyarakat yang ada, (b) sistem informasi

terpadu yang memungkinkan penyebaran

informasi/publikasi secara tepat dan cepat, dan (c) sistem

kelembagaan yang kompak dan terpadu, tidak tumpang

tindih. Lembaga terkait yang bertanggung jawab dalam

pengelolaan DAS ini dapat dari lembaga PU dan

Lingkungan Hidup.

2. Pengelolaan pertanian yang meliputi usaha pertanian

terpadu dan konservasi pengolahan lahan. Usaha

pertanian terpadu meliputi penutupan lahan terbuka baik

dengan cara vegetasi atau mulsa, dan pengelolaan

tanaman dalam sistem tata tanam atau pola tanam.

Sedangkan konservasi pengolahan lahan dapat dilakukan

dengan cara pertanaman secara kontur, guludan, atau

pengolahan tanah minimun atau bahkan tanpa

pengolahan tanah (zero tillage). Lembaga yang

171 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

bertanggung jawab dalam hal ini adalah Departemen
Pertanian.
3. Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA),
dengan dicanangkannya GN-RHL – Gerakan Nasional
Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Departemen Kehutanan
bertanggung jawab atas sejumlah besar kawasan
konservasi, taman nasional, taman wisata alam, cagar
alam, hutan raya, hutan lindung dan hutan rakyat.

172 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

Beberapa kesimpulan dapat diberikan sebagai hasil
studi tentang konservasi tanah dan air dalam buku ini,
yaitu:

1. Usaha konservasi tanah dan air pada dasarnya
merupakan suatu usaha mengurangi terjadinya erosi
tanah, sampai pada batas yang dapat ditolerir, dan usaha
pengelolaan kekeringan atau pengendalian banjir. Ruang
lingkup usaha ini dapat berupa: (a) pengelolaan DAS, (b)
perlindungan hutan dan konservasi alam, dan (c)
pengelolaan pertanian.

2. Hal-hal yang penting dari usaha konservasi tanah, untuk
mengurangi terjadinya erosi tanah, adalah mengurangi
daya rusak air hujan yang jatuh di atas tanah terbuka dan
daya rusak angin yang mampu mengoyak tanah. Untuk
itu perlu dijaga agar lahan/tanah tidak terbuka telanjang,
tetapi ditutupi oleh tanaman, mulsa, atau penutup
lainnya. Tanah yang tertutup, selain mengatasi daya
rusak air atau angin, juga meningkatkan daya resap air
ke dalam tanah, yang berarti juga sebagai usaha
konservasi air dan pengendalian banjir, karena

173 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

berkurangnya jumlah limpasan air permukaan. Hal ini
penting untuk kegiatan konservasi dalam pengelolaan
pertanian.
3. Hal-hal yang penting dari usaha konservasi air adalah
bagaimana menangkap/menuai setiap tetes air hujan
yang jatuh, menampung dan memanfaatkannya pada
musim kering. Hal ini berarti sebagai suatu usaha
pengelolaan kekeringan, berkaitan dengan kegiatan
pengelolaan DAS.
4. Banyaknya lembaga-lembaga yang merasa bertanggung
jawab akan usaha konservasi tanah dan air di Indonesia,
lemahnya koordinasi antar lembaga tersebut dengan
segala kepentingan ego sektoralnya, dan anggapan
bahwa tiap kegiatan merupakan proyek yang
mendatangkan keuntungan, maka yang terjadi bukan
konservasi tetapi kerusakan yang semakin meluas.
5. Kurangnya atau bahkan tidak adanya partisipasi
masyarakat dalam pembiayaan usaha konservasi tanah
dan air secara langsung, menjadikan masyarakat tidak
peduli akan usaha konservasi ini, bahkan terjadi merusak
bangunan konservasi karena tidak memberikan
keuntungan secara langsung pada masyarakat.
6. Belajar dari negara-negara lain dalam usaha konservasi
tanah dan air, maka teknik konservasi tanah dan air akan
mudah diadaptasi bila dikembangkan berdasarkan situasi
budaya, sosial, dan kearifan lokal, serta secara ekonomi
keuntungannya dapat dirasakan oleh masyarakat.

174 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

DAFTAR PUSTAKA

Abd-Ella, Mokhtar M., Eric Hoiberg and Richard D. Warren,

1981. Adoption Behavior in Family Farm Systems: An

Iowa Study. Journal of Rural Sociology. 46:42-61.

Download at:

http://ruralsociology.org/pubs/RuralSociology/index.html

. Januari 2006

ADB RETA, 2003. Catchment Approach to Managing Soil

Erosion in Asia. Technical Assistance (TA) Completion

Report (September 1998 to December 2003). Download

at: http://

203.209.62.201/msecweb/res/publications/reports/annu

al/2002.pdf. Oktober 2005

ANTARA News, Jan 16, 2006, 09:33. MI AL-IKHLAS

CIANJUR PEDULI PADA KONSERVASI ALAM.

Download at:

http://www.antara.co.id/seenws/index.php?id=26192.

Januari 2006

Baland, J.M. & J.P Platteau, 2000. Halting degradation of

natural resources. Is there a role for rural communities?

Oxford University Press, Oxford. Download at:

http://www.

oxfordscholarship.com/oso/public/content/economicsfin

ance/0198290616/toc.html atau

http://www.fao.org/documents/show_cdr.asp?url_file=/d

ocrep/x5316e/x5316e00.htm Januari 2006

Barbier, E., 1990. The farm-level economics of soil

conservation – the uplands of Java. Land Economics

66:199-211. Download at:

175 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

http://www.wisc.edu/wisconsinpress/journals/

journals/le.html. Januari 2006

Batchelor, C, Rama Mohan Rao and Manohar Rao, 2003.

Watershed development: A solution to water shortages

in semi-arid India or part of the problem? LUWRR 3:1-

10. Download at:

http://www.luwrr.com/uploads/paper03-03.pdf . Januari

2006

Bouma Jetske, Erwin Bulte and Daan van Soest, 2004. Local

cooperation in rainwater harvesting and soil & water
conservation in India’s semi-arid watersheds. Download

at:

http://www.ictp.trieste.it/~eee/workshops/smr1558/Bou

ma.pdf . November 2005

Boyd Charlotte and Cathryn Turton, N. Hatibu, H. F. Mahoo,

E. Lazaro and F.B. Rwehumbiza, Peter Okubal and

Med Makumbi, 2000. THE CONTRIBUTION OF SOIL

AND WATER CONSERVATION TO SUSTAINABLE

LIVELIHOODS IN SEMI-ARID AREAS OF SUB-

SAHARAN AFRICA.

http://www.odi.org.uk/agren/papers/agrenpaper_102.pdf

. Oktober 2005

Browning, G.M., C.L. Parish and J.A. Glass, 1947. A method

for determining the use and limitation of rotation and

conservation practices in the control of soil erosion in

Iowa. Journal American Society Agronomy 39:65-73.

Download at: http://agron.scijournals.org/ Januari 2006

Chepil, W.S and Milne, R.A, 1941. Wind Erosion of Soil in

Relation to Roughness of Surface. Soil Science 52:417-

431. Download at: http://soil.scijournals.org/ . Januari

2006
Chomba G.N, 2004. Factors Affecting Smallholder Farmers’

Adoption of Soil and Water Conservation Practices in

Zambia. MSc Thesis. Download at:

http://www.aec.msu.edu/

agecon/fs2/zambia/chomba_thesis_updated_version.pd

f . November 2005

Dasgupta, P., 1982. The control over resources. Harvard

176 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

University Press. Download at:

http://www.hup.harvard.edu/catalog/DASCON.html.

Januari 2006

Departemen Kehutanan, download 2006. INDIKASI LOKASI

REHABILITASI HUTAN & LAHAN. Download at:

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/INTAG/GIS/RHL/R

HL_02.htm

DITJEN PHKA, download 2006. Kawasan Konservasi -

Taman Wisata Alam Direktorat Jenderal Perlindungan

Hutan dan Konservasi Alam. Download at:

http://www.ditjenphka.go.id/ kawasan/twa.php. Januari

2006

Eldridge David, download Desember 2005. Lichens and

mosses and liverworts?. Download at: http://www.soil-

water.org.au/acrobat/eldridge.pdf
Eric Roose, 1996. Land husbandry – Components and

strategy. FAO Soils Bulettin 70, Rome, Italy. Download

at:

http://www.fao.org/documents/show_cdr.asp?url_file=/d

ocrep/T1765E/ T1765E00.htm. September 2005

Farrington J, Cathryn Turton and AJ James, 1999.

Participatory watershed development. Oxford University

Press. Download at:

http://www.bagchee.com/BookDisplay.aspx?Bkid=B116

79. Januari 2006

FiBL (Forschungsinstitut für biologischen Landbau),

download Oktober 2005. Sign for Soil Erosion.

Download at:

http://www.fibl.net/english/publications/training-

manual/pdf/Tran_3-4.pdf

Flanagan, D.C., Renschler, C.S. and Cochrane, T.A, 2000.

Application of the WEPP model with digital geographic

information. 4th International Conference on Integration

of GIS and Environmental Modeling: Problems,

Prospects and Research needs. Download at:

http://www.agteca.com/publications/GIS-EM4%20-

%20WEPP_modeling.pdf. Januari 2006

Fort Ord Ordnance and Explosives Risk Assessment

177 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Protocol, 2002. Universal Soil Loss Equation and Wind

Erosion Equation Summary. Download at:

http://www.fortordcleanup. com/adminrec/ar_pdfs/AR-

OE-0402G/Appendices/Appendix_F.pdf. Oktober

2005.

Foster G.R., and L.J. Lane, 1987. (Compilers) User

Requirements: USDA Water Erosion Prediction Project

(WEPP). NSERL Rep.1. National Soil Erosion Research
Laboratory, USDA – ARS, West Lafayette, IN.

Download at: http://topsoil.nserl.purdue.edu/nserlweb/

weppmain/docs/bibliography.htm. Januari 2006

Frank, C. and Barbara, T., 1986. SOCIOLOGICAL

ASPECTS OF THE ADOPTION OF CONSERVATION

PRACTICES. SCS, Washington, DC. Download at:

http://www.ssi.nrcs.

usda.gov/publications/2_Tech_Reports/T014_Adoption0

1Main.PDF. Desember 2005

Fryrear, D.W, Shuterland, P.L, Davis, G., Hardee, G., and

Dollar, M., 2000. Wind Erosion Estimates with RWEQ

and WEQ. Download at: http://topsoil.nserl.purdue.edu/

fpadmin/isco99/pdf/ISCOdisc/SustainingTheGlobalFarm

/P120-Fryrear.pdf. Oktober 2005

Fryrear, D.W., A. Saleh, J.D. Bilbro, H.M. Schomberg, J.E.

Stout, and T.M. Zobeck, 1998. Revised Wind Erosion

Equation (RWEQ). Wind Erosion and Water
Conservation Research Unit. USDA – ARS. Download

at: http://www.fryreardustsamplers.com/RWEQ.htm atau

http://www.csrl.ars.usda.gov/wewc/rweq/rweq.htm.

Januari 2006

Gaffney, F.B. and D.W. Lake, 2003. REVISED UNIVERSAL

SOIL LOSS EQUATION (RUSLE). Download at:

http://www.dec.state.ny.us/website/dow/toolbox/escstan

dards/3rusle.pdf. Oktober 2005

Garrity D, Stark M, Mercado A., 1999. Natural vegetative
strip technology: A “NO COST” paradign that may help

transforms tropical smallholder conservation. Paper

presented on Bioengineering meeting. Download at:

http://www.worldagroforestry.org/sea/ph/02_pubs/

178 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

papers/03_cons/nat_01.pdf. Januari 2006

Gebrekirstos Teklehaimanot, 2003. Use of simple field tests

and revised MMF model for assessing soil erosion:

Case study Lom Kao Area, Thailand. MSc Thesis, ITC,

Enschede, The Netherlands. Download at:

http://www.itc.nl/library/Papers_2004/n_p_conf/shrestha

_ass_acrs.pdf. Januari 2006

Heerink et.al. (eds), 2001. Economic policy and sustainable

land use- Recent advances in quantitative analysis for

developing countries. Springer Verslag, Berlin.

Download at:

http://www.campusi.com/isbn_3790813516.htm. Januari

2006

Heru J.Marsudi, Soetopo T, Syaiful Mahdi, Darmono, Soenar

Wirtoyoso, Priambodo S., 2005. Sejarah Embung di

Indonesia. Tidak dipublikasikan.

Inon Beydha, 2002. Konservasi Tanah dan Air di Indonesia.

Download at: http://library.usu.ac.id/

download/fisip/komunikasi-Inon3.pdf. Desember 2005

Jianguo Ma, 2001. Combining the USLE and GIS/ArcView

for Soil Erosion Estimation in Fall Creek Watershed in

Ithaca, New York. Download at:

http://www.css.cornell.edu/courses/

620/fpresent/ma.ppt. Oktober 2005.

Kabore, D and Reij Christ, 2004. THE EMERGENCE AND

SPREADING OF AN IMPROVED TRADITIONAL SOIL

AND WATER CONSERVATION PRACTICE IN

BURKINA FASO. EPTD Discussion Paper No. 114.

Download at: http://www.ifpri.org/divs/eptd/dp/papers/

eptdp114.pdf. Oktober 2005

Kenneth N. Brooks and Karlyn Eckman, 2000. Global
Perspective of Watershed Management. Download at:
http://www.fs.fed.us/rm/pubs/rmrs_p013/rmrs_p013_01
1_020.pdf. November 2005

Kerr, J, 2002. Watershed development, environmental
services and poverty alleviation in India. World
Development 30 (8):1387-1400. Download at:

179 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

http://www.sciencedirect.com/ science/article/B6VC6-

45TTKFD-5/2/fe175768bae8c054c2d704d3d64c65c1.

Januari 2006

Knisel, W.G.(Ed), 1980. CREAMS: A field scale model of

Chemical, Runoff, and Erosion from Agricultural

Management Systems. Conservation Report 26.

Science and Education Administration, USDA,

Washington, D.C. Download at: http://www.wiz.uni-

kassel.de/ model_db/mdb/creams.html. Januari 2006

Knox, A, B. Swallow & Johnson, 2001. Conceptual and

methodological lessons for improving watershed

management and research. Capri policy brief, CGIAR.

Download at:

http://www.capri.cgiar.org/pdf/polbrief_03.pdf. Januari

2006

Kodoatie Robert J. dan Sjarief Roestam, 2005. Pengelolaan

Sumber Daya Air Terpadu. Penerbit Andi Offset,

Yogyakarta
Kodoatie Robert J. Dan Sugiyanto, 2002. BANJIR –

Beberapa penyebab dan metode pengendaliannya

dalam perspektif Lingkungan. Penerbit Pustaka Pelajar,

Yogyakarta

Liniger H.P., Dennis Cahill, Will Critchley, Donald Thomas,

G.W.J. van Lynden, Gudrun Schwilch, 2002.
Categorization of SWC Technologies and Approaches –

a global need? Download at:

http://www.wocat.net/MATERIALS/ISCOswc.pdf.

November 2005

Liniger, H.P, Dennis Cahill, Will Critchley, Donald Thomas,

G.W.J.van Lynden, Gudrun Schwilch, download

Desember 2005. Categorization of SWC Technologies
and Approaches – a global need ?. Download at:

http://www.wocat.net/MATERIALS/ISCOswc.pdf

Liputan 6 SCTV, 03/12/2000 08:05. Menhut menuding

Pemda Sumbar dan Aceh. Download at:

http://www.liputan6.com/view/7,4607,1,0,1139288728.ht

ml. Januari 2006

Liputan 6 SCTV, 06/10/2001 05:27. Jati Genjah sebagai

180 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Tanaman Alternatif. Download at: http://

www.liputan6.com/view/7,21252,1,0,1139288408.html.

Januari 2006

Liputan 6 SCTV, 15/01/2006 14:48. Reboisasi di Gede

Pangrango. Download at: http://www.

liputan6.com/view/7,115933,1,0,1139286658.html.

Januari 2006

Liputan 6 SCTV, 17/07/2003 14:40.Tembakau di

Temanggung Ditanam Campur dengan Kopi. Download

at:

http://www.liputan6.com/view/0,58560,1,0,1139288101.

html. Januari 2006

Liputan 6 SCTV, 25/04/2001 04:37. Lewat Wanatani,

Pendapatan Petani Bengkulu Meningkat. Download at:

http://www.liputan6.com/view/0,11867,1,0,1139291612.

html. Januari 2006

Lorenz Sutherland, P., Tibke, G. and Sporcic, M., 2003. Wind
Erosion Equation – Use of Microsoft Excel Spreadsheet

Model. Download at:

http://efotg.nrcs.usda.gov/references/ public/

CO/CO_Excel_WEQ_Guidance.pdf. Oktober 2005

Lynden G.W.J. van and M. Lane, 2004. SOIL AND WATER

PROTECTION USING CONSERVATION TILLAGE IN

NORTHERN AND CENTRAL EUROPE. ISCO – 2004,

13th. Download at:

http://www.wocat.net/MATERIALS/ISCOsowap04.pdf.

Oktober 2005

Mazzucato V., David Niemeijer, Leo Stroosnijder and Niels

Röling, 2001. Social Networks and the Dynamics of Soil

and Water Conservation in the Sahel. Download at:

http://www.iied.org/NR/

agbioliv/gatekeepers/documents/GK101.pdf Oktober

2005

McKinney Daene C., Ximing Cai, Rosegrant Mark W.,

Claudia Ringler and Christopher A. Scott, 1999.

Modeling Water Resources Management at the Basin

Level: Review and Future Directions. SWIM Paper 6.

Colombo, Sri Lanka. International Water Management

181 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Institute. Download at:

http://www.iwmi.cgiar.org/pubs/SWIM/SWIM06.PDF.

Agust. 2005
Michigan’s Soil Erosion and Sedimentation Control Program

(SESC), download Oktober 2005. Soil Erosion &

Sedimentation Control. Download at:

http://www.deq.state.mi.us/documents/ deq-ess-cm-ftg-

partii-soilerosion.pdf. November 2005

Miranowski, John, Michael Monson, James Shortle and Lee

D. Zinser, 1981. Effect of Agricultural Land Use

Practices on Stream Water Quality: Economic Analysis.

Iowa State University, Ames, Iowa. Download at:

http://www.econ.iastate.edu/research/publications/

viewabstract.asp?pid=11149. Januari 2006
MNLH – Menteri Negara Lingkungan Hidup, 2000. Rapat

Kerja Teknis Prokasih – November 2000. Download at:

http://www.menlh.go.id/airnet/ProsedNov2000_02B.htm.

Pebruari 2006
MNLH – Menteri Negara Lingkungan Hidup, download 2006.

PROKASIH Visi 2005. Download at:

http://www.menlh.go.id/airnet/Prokasih2005.htm.

Pebruari 2006

Morgan, R.P.C., Morgan, D.D.V. and Finney, H.J. 1984. A

predictive model for the assessment of erosion risk.

Journal Agricultural Engineering Research 30: 245-253.

Download at:

http://www.wamis.org/agm/pubs/agm8/Paper-15.pdf.

Januari 2006

Muzgrave, G.W., 1947. The quantitative evaluation of factors

in water erosion: A first approximation. Journal Soil

Water Conservation 2:133-138

Noordwijk Meine van and Verbist Bruno, 2000. Soil and
Water Conservation – Lecture Note 3. Bogor –

Indonesia. Download at:

http://www.worldagroforestry.org/sea/Products/Training/

Materials/lecture%20notes/LecNotes-Eng/3%20SWC-

LN.pdf. Oktober 2005

Norman W. Hudson, 1987. Soil and water conservation in

182 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

semi-arid areas. FAO Soils Bulletin 57. Rome, Italy.

Download at:

http://www.fao.org/documents/show_cdr.asp?url_file=/d

ocrep/ T0321E/T0321E00.htm. September 2005

Nowak, Peter J. and Peter F. Korshing. 1981. Social and

Institutional Factors Affecting the Adoption and

Maintenance of Agricultural BMP'S. Journal paper No.

J-10379, Iowa Agriculture and Home Economics

Experiment Stations, Iowa State University, Ames,

Iowa.

NRCS, 2002. Universal Soil Loss Equation and Wind Erosion

Equation Summary. Download at:

http://www.fortordcleanup.com/adminrec/ar_pdfs/AR-

OE-0402G/Appendices/Appendix_F. pdf. Oktober 2005

ODPEM, download September 2005. DROUGHT ALERT.

Download at: http://www.odpem.org.

jm/pdf/DROUGHT%20ALERT.pdf. Oktober 2005

Ostrom, E., 1990. Governing the Commons - the evolution of

institutions for collective action. Cambridge University

Press, Cambridge. Download at:

http://www.amazon.com/gp/product /0521405998/103-

2499740-3503047?v=glance&n=283155. Januari 2006

Ouédraogo, M. and V.Kaboré, 1996. The zaï: a traditional

technique for the rehabilitation of degraded land in the

Yatenga, Burkina Faso. In Sustaining the soil:

Indigenous soil and water conservation in Africa, ed.

Reij, C., I Scoones and C.Toulmin. London, Earthscan.

Download at:

http://shop.earthscan.co.uk/ProductDetails/mcs

/productID/455. Januari 2006
Pender, J & J.Kerr, 1998. Determinants of farmers’

indigenous soil and water conservation investments in

semi-arid India. Agricultural Economics 19. Download

at: http://www. sciencedirect.com/science/article/B6T3V-

3V4KMG7-F/2/b81219b9702ff7951cc1f5ee46948 876.

Januari 2006
Puslitbang SDA, 2001. Konservasi air – Sebuah Panduan

Peningkatan Kesadaran Masyarakat. Seri Sumber Daya

183 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

Air No. 81. Download at: http://www.pusair-

pu.go.id/isi/utama/ konservasi-air.pdf. Oktober 2005

Rasmussen, K., download September 2005. Soil & Water

Conservation Passport. Download at:

http://www.relia.net/~thedane/soil_water.html

Reij Chris, Ian Scoones and Calmilla Toulmin, 1996.

Sustaining the soil: Indigenous soil and water

conservation in Africa. Download at:

http://shop.earthscan.co.uk/ProductDetails/mcs

/productID/455. Januari 2006
Reij, Chris, 2001. Improving tassa planting pits – using

indigenous soil and water conservation techniques to

rehabilitate degraded plateaus in the Tahoua region of

Niger. Download

at: http://www.unesco.org/most/bpik10.htm atau

http://www.ik-pages.net/viewarticle.asp?

articleID=348&item_id=002.010.042.&allarticles.

Desember 2005

Renard et.al (1994). RUSLE revisited: Status, questions,

answer, and the future. Journal of Soil and Water

Conservation, Vol 49 (3), p 213-220

Renard, K.G., Foster, G.R., Lane, I.J. and Laflen, J.M., 1996.

Soil loss estimation. In Soil Erosion, Conservation and

Rehabilitation; Agassi, M. (ed.). Marcel Dekkar, New

York. Download at:

http://www.soilsci.com/pt/re/soilsci/fulltext.00010694-

199612000-00008.htm

Roose, E., Kaboré V. and C.Guenat, 1999. Zaï practice: A

West African traditional rehabilitation system for semi-

arid degraded lands: a case study in Burkina Faso. Arid

Soil Research and Rehabilitation, 13: 343-355.

Download at: http://www.ingentaconnect.com/content/

tandf/uasrold/1999/00000013/00000004/art00004 atau

http://www.mpl.ird.fr/SeqBio/

Archives/FichesPerso/roose.htm. Januari 2006

Saha, S.K., download Oktober 2005. Water and Wind

Induced Soil Erosion Assessment and Monitoring using

Remote Sensing and GIS. Download at:

184 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko

http://www.wamis.org/agm/ pubs/agm8/ Paper-15.pdf.

Sawadogo, H., Hien,F., Sohoro,A. and Kambou, F., 2001.

Pits for trees: How farmers in semiarid Burkina Faso

increase and diversify plant biomass. In Farmer

innovation in Africa: A source of inspiration for

agricultural development, ed. Reij,C. and A. Waters-

Bayer. London, Earthscan Publications Ltd. Download

at: http://shop.earthscan.co.uk/Product

Details/mcs/productID/182/groupID/6/categoryID/3/v/.

Januari 2006

Schwilch G., H.P. Liniger , G.W.J. van Lynden, 2004.

TOWARDS A GLOBAL MAP OF SOIL AND WATER

CONSERVATION ACHIEVEMENTS: A WOCAT
INITIATIVE. ISCO – 2004, 13th. Download at:

http://www.wocat.net/MATERIALS/ISCOMap04.pdf.

Oktober 2005

Shaxson Francis and Richard Barber, 2003. Optimizing Soil

Moisture for Plant Production. The Significance of Soil

Porosity. FAO Soils Bulletin 79, Rome, Italy. Download

at: ftp://ftp.fao.org/agl/agll/docs/sb79.pdf. Oktober 2005

Sinukaban Naik, 1999. Impact of Upland Agriculture and

Conservation Project (UACP) on Sustainable.

Agriculture Development in Serang Watershed,

Indonesia Download at:

http://topsoil.nserl.purdue.edu/fpadmin/isco99/pdf/ISCO

disc/SustainingTheGlobalFarm/P259-Sinukaban.pdf.

Desember 2005

Smith, D.D, 1941. Interpretation of soil conservation data for

field use. Agricultural Engineering 22:173-175

Soil and Water Conservation Society, 1993. RUSLE user's

guide. Soil and Water Conservation Society. Ankeny,

IA. 164pp. Download at:

http://bioengr.ag.utk.edu/rusle2/publications.

asp?keyword=rusle&external=true. Januari 2006

SPC (State Planning Commission), download Oktober 2005.
Annual Plan 2003 – 2004 Chapter 9.4 Soil and Water

Conservation. Download at:

http://www.tn.gov.in/spc/annualplan/ chapter9-4.htm

185 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko


Click to View FlipBook Version