Sistem Pengendalian Banjir
Banjir yang terjadi sangat merusak dan menimbulkan
kerugian yang besar. Untuk mengurangi risiko yang
diakibatkan oleh banjir, secara umum dapat dilakukan
pengendalian dalam tata guna lahan dan perencanaan untuk
menghindari lokasi yang rawan terhadap bahaya banjir.
Bangunan tanggul di sepanjang sungai atau pantai juga
dapat mengatasi melimpahnya air yang menyebabkan banjir,
tetapi perlu diperhatikan dalam perencanaan muka air
maksimum yang mungkin terjadi. Bila perencanaan kurang
memadai, maka akan tetap muncul bencana banjir bandang
terjadi karena air yang melimpas di atas puncak tanggul
akan mengakibatkan jebolnya bangunan tanggul tersebut.
Bangunan waduk dapat menampung limpasan air yang
berlimpah, kemudian dilepaskan dengan pengelolaan
pengaturan air yang sesuai, sehingga mengurangi risiko
terjadinya banjir.
Kodoatie dan Sjarief (2005) mengemukakan 2 metode
pengendalian banjir yaitu metode struktur dan metode non-
struktur. Pengendalian banjir dengan metode struktur lebih
diutamakan pada masa lalu, namun sekarang disadari
bahwa metode non-struktur lebih efektif dalam pengendalian
banjir, seperti pengelolaan tata guna lahan yang tepat lebih
berpengaruh terhadap debit limpasan permukaan dari pada
pengendalian banjir dengan metode struktur seperti
normalisasi sungai. Beberapa contoh pengendalian banjir
dengan metode struktur dan non-struktur dijelaskan dalam
Tabel 3.1 berikut ini.
86 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Tabel 3.1 Metode pengendalian banjir dengan skala prioritasnya
Skala Metode Pengelolaan
prioritas banjir
Metode non-struktur
I menuju
Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS)
II Pengendalian
Pengaturan tata guna lahan banjir
III
Pemberlakuan peraturan/undang-undang
Pengendalian erosi di DAS
Pengaturan dan pengembangan daerah banjir
Metode struktur: Bangunan pengendali banjir
Bendungan (dam)
Kolam retensi
Pembuatan check dam (penangkap sedimen)
Bangunan pengurang kemiringan sungai
Groundsill
Retarding basin
Pembuatan polder
Metode struktur: Perbaikan dan pengaturan sistem
Sistem jaringan sungai
Pelebaran/pengerukan sungai (normalisasi)
Perlindungan tanggul
Tanggul banjir
Sudetan
Floodway
Sumber: Kodoatie dan Sjarief, 2005
Metode struktur hanya memberikan
penurunan/pengurangan debit jauh lebih kecil bila
dibandingkan dengan peningkatan debit akibat perubahan
tata guna lahan atau penurunan kualitas lingkungan. Metode
struktur dapat dikatakan sebagai usaha pengendalian banjir,
sedang usaha non-struktur lebih pada pengelolaan banjir.
Maka sistem pengendalian banjir yang diterapkan akhir-akhir
ini lebih pada gerakan dari pengendalian banjir menuju
pengelolaan banjir. Kegiatan pengendalian banjir biasanya
berhubungan dengan instansi/lembaga yang menangani
kegiatan tersebut. Di Indonesia terdapat berbagai
instansi/lembaga yang berkaitan dengan rencana kegiatan-
kegiatan pengendalian banjir. Tabel 3.2 menjelaskan
peranan lembaga-lembaga yang ada dalam rencana
kegiatan-kegiatan pengendalian banjir yang dapat dilakukan,
beserta rentang waktu yang diperlukan.
87 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Tabel 3.2 Lembaga, rencana kegiatan dan jangka waktu
Lembaga Rencana kegiatan Waktu (jangka)
Balitbang Kajian Pola Pengembangan Menengah,
panjang
Bappeda Sumber Daya Air (PSDA) Menengah,
Kajian Kelembagaan Pola PSDA panjang
Dinas PSDA Kajian Finansial Pola PSDA Menengah,
(Pengairan) Kajian Pengendalian Banjir panjang
Pendek,
Kehutanan sebagai bagian SDA menengah
Pertambangan Panjang
Perencanaan menyeluruh secara
Panjang
komprehensif Menengah
Rencana induk untuk setiap Pendek
Pendek
pembangunan dan
pengembangan sistem Menengah,
Perkiraan biaya panjang
Perencanaan organisasi dan Menengah,
lembaga panjang
Perencanaan peningkatan sistem Pendek,
yang ada menengah
Evaluasi dan review SWS dan Pendek
DAS Pendek
Pengelolaan Sumber Daya Air Pendek
dan pengendalian banjir Pendek,
Evaluasi & review sistem menengah
Pendek
pengendalian banjir tiap DAS
Pemetaan daerah-daerah banjir Pendek
Pemetaan daerah-daerah rawan Menengah,
panjang
longsor Menengah,
Upaya-upaya perbaikan daerah panjang
banjir dan longsor Pendek
Pelaksanaan pembangunan yang Menengah,
panjang
diprioritaskan Menengah,
Sistem peringatan banjir (flood
warning system)
Review sistem pengelolaan hutan
di hulu DAS
Perubahan kebijakan
pengelolaan hutan
Masterplan eksploitasi sumber
daya hutan
Review kebijakan penambangan
galian C
Pemetaan daerah penambangan
galian C
88 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Kabupaten/kota Pemetaan daerah rawan longsor panjang
termasuk Evaluasi dam review sistem DAS Pendek
lembaga dan
dinas terkait di wilayah Kab./kota Pendek,
Koordinasi dan review sistem menengah
Pendek
DAS antar wilayah Kab./kota
Evaluasi RTRK atau RTRW Pendek,
Kompensasi kawasan terbangun menengah
Pendek
untuk mengembalikan resapan air Pendek
Pendek
sebelum diubah Pendek
Perkiraan biaya Pendek,
Perencanaan organisasi dan menengah
lembaga
Pemetaan daerah-daerah banjir
Pemetaan daerah-daerah rawan
longsor
Pelaksanaan pembangunan yang
diprioritaskan
Sumber: Kodoatie dan Sjarief, 2005.
3.2 Praktik-praktik Konservasi Air
Konservasi air dan tanah sangat erat hubungannya
satu sama lain. Usaha konservasi air pada dasarnya juga
merupakan usaha konservasi tanah. Dalam buku Seri
Sumber Daya Air No. 81: Konservasi air – Sebuah Panduan
Peningkatan Kesadaran Masyarakat (Puslitbang SDA, 2001)
dituliskan bahwa konservasi air mengacu pada tindakan
yang diambil supaya air dimanfaatkan secara bijaksana dan
efisien, yaitu dengan cara mengurangi pemakaian
berlebihan, kehilangan air, dan pemborosan. Konservasi air
terdiri atas dua bagian: (1) konservasi sumber daya air –
pengelolaan yang efisien, penyimpanan, alokasi dan
penyaluran air baku di sumberdaya, dan (2) konservasi
suplai air – distribusi dengan kehilangan air minimum dan
penghematan air.
Narayana dan Ram Babu (1985) dalam Norman –
FAO (1987) menyatakan ada tiga pendekatan konservasi air
yang mempertimbangkan perbandingan antara jumlah curah
hujan dan kebutuhan air untuk tanaman:
89 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
1. Jumlah curah hujan lebih kecil dari pada kebutuhan
air untuk tanaman. Strategi konservasi air termasuk
pengolahan tanah untuk meningkatkan limpasan air
permukaan ke areal tanah yang ditanami,
membiarkan tanah tidak ditanami (bero) untuk
konservasi air, dan menanam tanaman yang
mempunyai toleransi terhadap kekeringan.
2. Jumlah curah hujan sama dengan kebutuhan air untuk
tanaman. Strategi konservasi air berupa konservasi
lokal curah hujan, memaksimalkan penampungan air
pada profil tanah, dan menampung kelebihan
limpasan air permukaan untuk dimanfaatkan
kemudian.
3. Jumlah curah hujan lebih besar dari pada kebutuhan
air untuk tanaman. Strategi konservasi meliputi usaha
mengurangi erosi tanah akibat air hujan,
mengeringkan kelebihan limpasan air dan
menampungnya untuk dimanfaatkan kemudian.
Pendekatan di atas mempunyai kelemahan, karena
faktor utama yaitu curah hujan sangat bervariasi dan susah
diprediksi. Variasi kelangkaan ataupun kelebihan lengas air
sangatlah luas. Saat musim kering yang panjang mungkin
terjadi di antaranya hujan badai dan banjir sehingga terjadi
waterlogging yang menurunkan produksi tanaman, sedang di
musim hujan terjadi periode kekeringan yang dapat
menyebabkan gagal panen.
Usaha konservasi air meliputi penanganan masalah-
masalah pokok yang berkaitan dengan apa yang terjadi pada
air hujan yang turun dan menjadi limpasan air permukaan
(Run off), hilang sebagai penguapan (Evaporation –
Evapotranspiration), perkolasi, dan usaha mengeringkan
90 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
kelebihannya dalam sistem drainase. Dari sini muncul
praktik-praktik konservasi air berupa:
1. Usaha menurunkan kehilangan air akibat limpasan air
permukaan meliputi praktik pertanian secara kontur,
sistem terasering, penyebaran air pada lahan
pertanian, penggunaan sisa tanaman untuk menutupi
lahan dan menyerap limpasan air permukaan,
peningkatan struktur tanah dan bangunan-bangunan
penampungan air (Gambar 3.7 – 3.18).
2. Usaha mengurangi kehilangan penguapan dari air
terbuka dalam waduk atau kolam penampung,
maupun kehilangan penguapan lewat tanaman
(transpirasi), penguapan air dalam tanah. Penutupan
lahan dengan tanaman atau sisa tanaman, batu-batu
dan kerikil, atau plastik, dapat mengurangi kehilangan
air akibat penguapan dan juga meningkatkan laju
infiltrasi air ke dalam tanah.
3. Usaha mengurangi kehilangan air akibat perkolasi
dapat dilakukan dengan jalan melapisi dasar waduk
atau kolam penampung dengan tanah lempung yang
kedap air atau bahan sintetis kedap air.
4. Usaha mengeringkan kelebihan air dalam tanah
dengan sistem drainase dan menampungnya ke
dalam kolam penampung pada lahan.
91 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.7 Teras datar di Bhutan (Norman - FAO, 1987)
Gambar 3.8 Teras bangku di Yemen (H. Vogel dalam Norman - FAO,
1987)
Gambar 3.9 Teras curam (Norman - FAO, 1987)
92 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.10 Tanggul secara kontur untuk menangkap tanah dan air
(Norman - FAO, 1987)
Gambar 3.11 Terasering pada lembah (Norman - FAO, 1987)
Gambar 3.12 Sawah teras di Bali (andylim.com dalam Heru dkk, 2005)
93 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.13 Kolam-kolam penampung air pada lahan teh di Malawi
(Shaxson – FAO, 2003)
Gambar 3.14 Penghambat limpasan air terdiri dari batu-batu dan ranting
di Ethiopia
(H. Hurni dalam Normal - FAO, 1987)
94 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.15 Barisan batu-batu pada kontur dekat Omahigowa, Burkina
Faso
(OXFAM dalam Norman - FAO, 1987)
Gambar 3.16 Tanggul kontur di Ethiopia dengan cekungan dan
perkuatan batu
(H. Hurni dalam Norman - FAO, 1987)
95 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.17 Bangunan sederhana untuk menangkap limpasan air
permukaan
penangkap setengah lingkaran (Norman - FAO, 1987)
Gambar 3.18 Bangunan sederhana untuk menangkap limpasan air
permukaan
lubang-lubang penangkap trapesium (Norman - FAO, 1987)
96 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.19 Cekungan-cekungan kecil digunakan untuk menangkap
dan menampung air pada perkebunan teh di Malawi (Norman - FAO,
1987)
97 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.20 Sistem pertanian secara limpasan permukaan di Kenya
(Charnock, 1985 dalam Norman - FAO, 1987)
3.2.1 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Usaha konservasi air melalui pengelolaan DAS dapat
dikatakan sebagai usaha pengelolaan terpadu dari
kuantitas/jumlah dan kualitas air. Hal ini diaplikasikan dalam
(1) pengoperasian waduk, (2) penggunaan air tanah, (3)
penggunaan gabungan air permukaan dan air tanah, (4)
pengelolaan irigasi dan drainase, dan (5) sistem operasional
di tingkat DAS. Tujuan dari pengelolaan kualitas air meliputi
pemantauan kualitas air di hilir, memelihara kualitas air tanah
dan pemantauan salinitas di lahan pertanian serta aliran-
aliran balik (return flows). Kerangka sistem pengelolaan
kuantitas dan kualitas air pada skala DAS digambarkan
98 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
secara lengkap dalam Gambar 3.21. Seluruh pengelolaan
DAS dilakukan atas instruksi lembaga dan dorongan
ekonomi. Pada cekungan sungai perlu diperhatikan
mengenai aliran air, dan keseimbangan serta transportasi
garam. Jenis-jenis keputusan meliputi: pelepasan air waduk,
pemompaan air tanah, pengambilan air di cabang-cabang
sungai/waduk, dan kebutuhan aliran di hilir. Ada tiga
kelompok penggunaan air: (1) penggunaan untuk rumah
tangga dan industri, (2) penggunaan untuk irigasi, dan (3)
penggunaan di saluran. Ketiga kelompok ini memberikan
keuntungan dan kerusakan/kerugiannya tersendiri, yang
secara keseluruhan dievaluasi sebagai keuntungan sosio-
ekonomi dan menjadi informasi (dorongan sosio – ekonomi)
untuk instruksi lembaga selanjutnya.
99 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.21 Kerangka sistem pengelolaan kuantitas dan kualitas
air pada skala DAS
(Sumber: McKinney et.al, 1999)
100 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi
Triweko
3.2.2 Penyimpanan Air Ke dalam Tanah
Dalam situasi kritis kelangkaan air, tugas penting
untuk mengatasi ketersediaan pangan yang berkelanjutan
adalah (1) mengelola penggunaan air hujan dan irigasi
secara efisien melalui pengaturan lengas air dalam tanah
dan pengendalian dalam keterbatasan lahan yang dapat
ditanami, (2) mengoptimalkan efisiensi penggunaan air
secara terpadu oleh tanaman, dan (3) meningkatkan secara
terus menerus hasil panen dari tiap meter kubik penggunaan
air.
Pengelolaan penggunaan air hujan secara efisien
dapat dilakukan dengan jalan mengendalikan limpasan air
permukaan pada lahan kosong dan menampungnya dalam
kolam tampungan kecil yang mengumpulkan air hujan dari
lahan kosong tersebut agar dapat dimanfaatkan untuk lahan
pertanian. Tangkapan air hujan pada lahan dapat
dikembangkan juga pada lahan pertanian di daerah kering
dengan tanaman tadah hujan. Beberapa contoh praktik
penyimpanan air ke dalam tanah dijelaskan dalam Gambar
3.17 – 3.20.
Limpasan air hujan ditangkap oleh bangunan
sederhana setengah lingkaran atau trapesium, yang
menampung air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah
untuk mengisi lengas air dalam tanah, terutama pada daerah
perakaran sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman
secara efisien. Cekungan-cekungan kecil berbentuk
lingkaran seperti ditunjukkan dalam Gambar 3.20, berfungsi
sebagai penangkap air hujan yang terserap ke dalam tanah
di antara tanaman.
101 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
3.2.3 Bangunan-bangunan untuk Konservasi Air
Beberapa bangunan untuk konservasi air antara lain
embung, situ, telaga, ranu dan waduk. Istilah embung
sebagai bentuk kolam penampungan air yang berlebih pada
musim hujan untuk digunakan pada musim kemarau,
sebenarnya telah dikenal sejak beberapa ratus tahun yang
lalu di Indonesia. Istilah umum memperkirakan kata embung
berasal dari “mbung”, kata asli Pulau Lombok di Nusa
Tenggara Barat yang memang dikenal sebagian besar
daerahnya mempunyai curah hujan kecil, dan potensi
sumber daya air relatif kecil. Sampai sekarang banyak
anggota masyarakat daerah tersebut menenggarai
penyediaan air musim kemarau dengan pembuatan kolam
yang mereka sebut embung. Teknologi modern mempunyai
istilah “rain harvesting reservoir” untuk istilah embung yang
berarti kolam atau telaga kecil untuk menyimpan air (hujan),
guna dialirkan dan dimanfaatkan pada musim kemarau, baik
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, untuk ternak
bahkan untuk tanaman di kebun. Istilah embung umumnya
digunakan untuk kolam tampungan air hujan yang dibangun
pada lahan di luar aliran sungai “off stream” bukan pada “in
stream”.
Beberapa contoh embung yang ada dapat
dikelompokkan dalam: (1) embung yang berfungsi sebagai
kolam penyimpan misalnya embung rakyat Rau Belik di
Pulau Lombok dan embung Oeltua di Kupang (Gambar 3.22
dan 3.23), (2) embung yang berfungsi sebagai kolam
resapan untuk pengisian kembali air tanah, yang lebih
dikenal dengan embung konservasi Naioni di Kupang
(Gambar 3.25), (3) embung yang berfungsi sebagai kolam
penahan limpasan air permukaan yang berlebihan sehingga
menyebabkan banjir, misalnya embung Mijen di Semarang
(Gambar 3.26).
102 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Embung rakyat adalah embung yang dibuat rakyat
pada masa lalu yang dilakukan secara swadaya oleh
perorangan dan dimiliki secara pribadi, untuk memenuhi
keperluannya sendiri, atau oleh sekelompok masyarakat
untuk keperluan bersama. Konstruksi embung rakyat amat
sederhana merupakan kolam tampungan air hujan pada
lokasi cekungan, tanpa bangunan-bangunan pelengkap.
Gambar 3.22 Embung Rakyat Rau Belik di Pulau Lombok (Heru dkk,
2005).
Berbeda halnya dengan Embung Oeltua yang
merupakan embung penyimpan dengan dimensi yang lebih
besar. Air hujan yang disimpan selama musim hujan,
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,
minum dan mandi ternak, kebutuhan air untuk pertanian dan
tanaman di pekarangan rumah. Konstruksi embung ini terdiri
dari bangunan bendung urugan batu, dilengkapi dengan
bangunan pelimpah (spillway) untuk melimpaskan air pada
saat muka air dalam embung hampir melebihi elevasi puncak
bendung, bangunan pengambilan (intake), tempat minum
dan mandi ternak. Sketsa letak bangunan-bangunan yang
ada pada Embung Oeltua nampak dalam Gambar 3.24.
103 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.23 Embung Oeltua di Kabupaten Kupang (Heru dkk, 2005)
Kolam embung
Tubuh bendung Bangunan pelimpah
(spillway)
Pipa pengambilan
(intake)
Bak penampung
Tempat minum dan
mandi ternak
Gambar 3.24 Sketsa letak bangunan-bangunan pada Embung Oeltua
104 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Embung konservasi yang merupakan kolam resapan
untuk memasukkan air kembali ke dalam tanah (recharge)
agar muka air tanah meningkat. Pada umumnya konstruksi
embung konservasi sangat mirip dengan embung kecil yaitu
berupa cekungan, tubuh bendung menggunakan tipe
timbunan tanah dengan inti, bangunan pelimpah
menggunakan pasangan batu, namun permukaan kolam
embung justru harus lolos air. Pembuatan embung dilakukan
dengan pertimbangan curah hujan rata-rata maksimal,
daerah aliran cukup luas, serta elevasi embung lebih tinggi
dari elevasi pemukiman, dengan harapan bahwa sumur-
sumur dangkal milik penduduk mendapatkan rembesan dari
embung tersebut.
Proses pembangunan embung konservasi sering
menemui kendala karena sebelumnya dimengerti bahwa
pembuatan embung dimaksudkan untuk menampung air dan
langsung dapat diambil dengan pipa, namun untuk embung
konservasi, pengambilan air bukan merupakan tujuan utama
karena air embung diharapkan meresap ke dalam lapisan
tanah. Permasalahan ini memerlukan usaha sosialisasi
kepada masyarakat dan para penentu keputusan dalam
kaitannya dengan anggaran pembangunan dan koordinasi
instansi. Hasil wawancara dengan penduduk yang
mempunyai sumur dangkal di hilir lokasi embung adalah
pada waktu akhir musim kemarau (November) sumurnya
tidak pernah kering lagi, yang sebelumnya tidak pernah
terjadi.
105 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.25 Embung Konservasi Naioni di Kupang (Heru dkk, 2005)
Embung Mijen yang berlokasi dikomplek
Pengembangan Bukit Semarang Baru (BSB) di Kecamatan
Mijen Kabupaten Semarang, merupakan embung yang
mempunyai fungsi utama untuk pengendalian banjir Kali
Beringin, oncoran untuk tanaman padi milik masyarakat
petani di sekitarnya, mempertahankan tinggi muka air tanah
dan dimasa depan akan dikembangkan untuk rekreasi.
Dalam pemanfaatan embung, telah terjalin hubungan baik
dengan masyarakat petani sehingga intensitas tanam
mencapai angka 300 % dan tanpa ditarik iuran pemakaian
air. Petani hanya bertanggung jawab dalam pemeliharaan
saluran tersier, sedangkan pengelola embung bertanggung
jawab terhadap biaya operasi dan pemeliharaan.
106 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.26 Embung Mijen di Semarang (Heru dkk, 2005)
Pada dataran tinggi banyak didapatkan tampungan air
berupa situ di Jawa Barat (Gambar 3.27), telaga di Jawa
Tengah (Gambar 3.28) dan ranu di Jawa Timur (Gambar
3.29). Tampungan air tersebut digunakan sebagai tempat
menahan air, sehingga debit banjir di sungai dapat tereduksi
dan juga dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk
setempat pada musim kemarau. Sedangkan pada dataran
rendah dibuat tampungan air berupa embung untuk
mengatasi kekeringan.
107 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.27 Situ Ciater di Jawa Barat (Heru dkk, 2005)
Telaga Gandok yang terletak di Kecamatan Rongkop,
Kabupaten Gunung Kidul, mempunyai suatu keunikan yaitu
terdapat sebuah sumur di tengah telaga. Sebelum telaga ini
direhabilitasi, pada musim hujan sumur ini terendam akibat
telaga penuh dengan air. Pada saat pemerintah akan
merehabilitasi telaga ini, sumur di tengah telaga akan
ditutup. Kemudian masyarakat sekitar mengusulkan agar
sumur tersebut dibuatkan dinding dengan ketinggian muka
air pada saat elevasi telaga penuh air. Usulan tersebut dapat
diterima, kemudian dibuatkan dinding sumur seperti dapat
dilihat pada Gambar 3.28. Kualitas air pada sumur lebih baik
dibandingkan dengan kualitas air telaga yang berada di
sekeliling sumur. Di sini sumur berfungsi sebagai sistem
penjernih air. Gagasan ini dapat dikembangkan di beberapa
telaga untuk meningkatkan kualitas air bagi pemenuhan
kebutuhan air minum penduduk.
108 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Sumur di tengah
telaga
Gambar 3.28 Telaga Gandok di Gunung Kidul (Heru dkk, 2005)
Ranu Pakis terletak di Desa Pakis dengan jarak ±
20,5 km di sebelah utara Kota Lumajang, mempunyai
ketinggian ± 600 m di atas permukaan laut dengan luas
danau 50 ha dan kedalaman air 26 m. Ranu ini masih dilatar
belakangi Gunung Lamongan dan nampak lebih dekat, serta
kondisi alam yang masih perawan akan menjadi daya tarik
bagi pecinta lingkungan atau wisatawan yang membutuhkan
udara segar. Selain rekreasi dapat pula menikmati ikan
segar yang dijual di warung-warung sederhana. Ikan
setempat hasil budi daya masyarakat pada Ranu Pakis
menggunakan sistem karamba jaring apung, dengan jenis
ikan antara lain mujair dan nila.
109 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.29 Ranu Pakis Lumajang
(lumajang.go.id dalam Heru dkk, 2005)
Waduk Notopuro (Gambar 3.30) terletak di Desa
Durenan, Kecamatan Pilang Kenceng, Kabupaten Madiun.
Waduk ini dibangun pada alur Kali Notopuro dengan tinggi
tanggul 9,00 m serta volume tampungan ± 2.490.000 m3.
Waduk ini direncanakan untuk irigasi tanaman palawija di
daerah Kecamatan Pilang Kenceng. Pengelola waduk ini
dilakukan oleh Dinas PU Pengairan. DAS Waduk Notopuro
saat ini mengalami kerusakan karena penebangan liar
pohon-pohon dan perubahan tata guna lahan,
mengakibatkan terjadinya erosi dan sedimentasi yang
menyebabkan volume tampungan waduk berkurang.
110 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Gambar 3.30 Waduk Notopuro Madiun (Heru dkk, 2005)
Bangunan untuk konservasi air yang lain dapat
berupa tangki-tangki penampung air pada lahan dengan
konstruksi seperti pada Gambar 3.31.
Gambar 3.31 Contoh konstruksi tangki penampung air pada lahan
(Intermediate Technology Development Group, dalam Norman - FAO,
1987)
111 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
112 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
BAB IV
ASPEK SOSIAL-EKONOMI DARI
KONSERVASI TANAH DAN AIR
4.1 Aspek Sosial dari Konservasi Tanah dan Air
Frank dan Barbara (1986) menuliskan bahwa praktik
konservasi tanah dan air mempunyai aspek sosial -
psikologis yang mempunyai dua kategori, yaitu
karakteristik dan macam-macam sikap individu petani.
Karakteristik petani dalam hal ini termasuk umur, lamanya
bertani, latar belakang pendidikan, situasi sebagai buruh
tani, atau partisipasi sosialnya yang ditunjukkan dalam
organisasi petani yang ada.
Umur petani mempengaruhi keinginan atau kemauan
untuk mengadopsi praktik konservasi tanah dan air (Nowak
and Korshing, 1981). Petani muda lebih dapat mengadopsi
teknik bercocok tanam yang direduksi, sementara petani
yang lebih tua lebih senang mengadopsi praktik konservasi
tanah dan air secara struktur atau praktik konservasi secara
pertanaman lajur. Beberapa studi mengindikasikan bahwa
lamanya bertani mempunyai faktor positif dan berarti,
sehubungan dengan penerapan praktik konservasi (Adb-Ella,
1981). Sedang Miranowski et.al.(1981) menunjukkan bahwa
petani yang berpengalaman lebih senang memakai praktik
bercocok tanam yang tradisional.
113 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Latar belakang pendidikan, berpengaruh pada
kemampuan untuk mengadopsi praktik konservasi yang
cocok bagi situasi dan masalah yang dihadapi. Petani yang
mengerjakan pertanian sebagai buruh tani mempunyai
pengaruh negatif terhadap praktik konservasi karena kurang
adanya rasa memiliki lahan pertanian. Buruh tani yang
profesional akan lebih mudah mengadopsi praktik konservasi
karena biasanya mempunyai latar belakang pendidikan yang
cukup. Partisipasi sosial yang ditunjukkan dalam suatu
organisasi petani mendorong tanggung jawab sosial untuk
bersama-sama mengusahakan praktik konservasi tanah dan
air. Dengan adanya organisasi petani yang kuat dan
kompak, akan memudahkan akses informasi dalam gerak
tindakan bersama.
Meskipun macam-macam sikap petani dikategorikan
terpisah dari karakteristik individu petani, namun kedua
kategori ini masih erat hubungannya. Macam-macam sikap
dalam hal ini, berarti suatu kecenderungan awal untuk
melakukan tindakan. Beberapa petani mungkin mempunyai
sikap keras akan usaha konservasi, tetapi tidak
menerapkannya karena berbagai hambatan seperti biaya,
ekonomi ataupun kurangnya informasi.
Frank dan Barbara (1986) menyebutkan empat
macam-macam sikap, dalam hubungannya dengan
penggunaan praktik konservasi berupa sikap, yaitu (1) mau
mengurus, (2) orientasi risiko, (3) orientasi ekonomis
terhadap pertanian, dan (4) ketergantungan pada campur
tangan pemerintah. Sikap mau mengurus, mempunyai
pengaruh positif terhadap usaha konservasi karena
keinginan untuk terlibat dalam usaha tersebut. Sikap
orientasi risiko, juga mempunyai pengaruh positif karena
pertimbangan akan risiko yang timbul dalam isu lingkungan,
maka terdorong untuk melakukan usaha pencegahan
dengan menggunakan praktik konservasi. Sikap orientasi
114 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
ekonomis terhadap pertanian juga mempunyai pengaruh
positif yang secara langsung dapat dirasakan oleh petani
melalui usaha konservasi. Sikap kebergantungan pada
campur tangan pemerintah mengakibatkan kurang
terlibatnya petani dalam usaha-usaha praktik konservasi.
4.2 Aspek Ekonomi dari Konservasi Tanah dan Air
Biaya konservasi tanah dan air biasanya cukup jelas,
tetapi keuntungan dari usaha konservasi tidak mudah
diidentifikasi, khususnya bila konservasi kurang memberi
hasil potensial, dan mungkin juga akan hilang. Praktik
konservasi tanah sering memberikan keuntungan dalam
jangka panjang dengan imbalan biaya yang segera. Praktik
konservasi yang termasuk mempunyai keuntungan dalam
jangka pendek akan mudah untuk dipromosikan daripada
yang kaku dalam jangka panjang. Bahkan beberapa praktik
konservasi seperti terasering akan tetap dipakai meskipun
dibutuhkan waktu panjang untuk menutup biayanya, karena
hasil yang diperoleh dapat segera dirasakan (Troeh et.al.,
1991). Perubahan dalam praktik bercocok tanam, termasuk
cocok tanam sistem kontur, sistem reduksi dan sistem tanpa
pengolahan tanah, biasanya lebih menguntungkan, tetapi
adopsinya diperlambat oleh faktor-faktor penampilan dan
kecocokan serta masalah hama.
Penekanan ekonomis dari konservasi, telah bergeser
dari nilai hasil produksi dalam jumlah ton tiap panen, pada
biaya publik kerusakan akibat sedimenentasi. Kedua aspek
tersebut penting, tetapi masalah sedimentasi banyak
diabaikan sampai keprihatinan akan lingkungan mejadi isu
publik. Penekanan akan nilai hasil produksi dalam jumlah ton
tiap panen berupa kehilangan pada lahan dapat
diminimalkan dengan menggunakan pupuk.
115 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Keuntungan dari konservasi tanah dan air antara lain:
(1) meningkatkan hasil bersih dari tanah, (2) menyimpan
hasil potensial, (3) mengurangi kehilangan dalam erosi, (4)
mengurangi kerusakan akibat sedimentasi dan (5)
keuntungan lingkungan. Beberapa praktik konservasi
menghasilkan keuntungan segera, beberapa mengacu pada
keuntungan yang tertunda, dan beberapa lagi tidak
menghasilkan keuntungan secara moneter tetapi dipakai
untuk menciptakan keindahan atau alasan tidak ekonomis
lainnya. Beberapa praktik konservasi biasanya mengacu
pada pengelolaan yang baik dari pada usaha konservasi itu
sendiri karena dapat meningkatkan keuntungan.
Praktik konservasi untuk meningkatkan hasil bersih
dari tanah dapat berupa: (1) konservasi sistem cocok tanam,
(2) konservasi air, (3) sistem drainase tanah, (4) sistem
irigasi, dan (5) pengendalian hama. Konservasi sistem
bercocok tanam dapat berupa sistem bercocok tanam yang
direduksi, sistem tanpa pengolahan tanah, sistem mulsa
(mulching), akan mengurangi erosi tanah, sehingga tanah
subur tidak hilang dan air mampu terserap ke dalam tanah,
dan hasil panen akan meningkat. Usaha konservasi air akan
menyediakan air bagi tanaman pada musim kering, sehingga
tanaman tetap dapat tumbuh dengan baik dan memberikan
hasil yang optimal.
Bila lengas air dalam tanah terlalu besar atau tanah
dalam kondisi jenuh dan basah, maka akan berakibat pada
penurunan hasil panen atau tanaman akan mati. Untuk
mengatasi situasi ini diperlukan sistem drainase tanah
sehingga kelebihan air dalam profil tanah dapat dialirkan dan
ditampung untuk dimanfaatkan pada musim kering ketika air
kurang. Sistem irigasi lebih memberikan jaminan akan
tersedianya air yang dibutuhkan oleh tanaman, sehingga
dapat meningkatkan frekuensi tanam (intensitas pertanian)
menjadi berlipat ganda. Meningkatnya intensitas pertanian
116 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
akan memunculkan masalah baru, yaitu serangan hama
tanaman, sehingga perlu usaha pengendalian hama dengan
melakukan tata tanam secara rotasi atau campuran.
Serangan hama dapat meningkatkan laju erosi tanah, karena
mengurangi tanaman yang menutup tanah, sehingga
pengendalian hama juga perlu dilakukan dalam usaha
konservasi.
4.2.1 Biaya-biaya dari Praktik Konservasi
Troeh et.al (1991) menyebutkan bahwa biaya-biaya
yang termasuk dalam praktik konservasi antara lain berupa:
(1) biaya-biaya langsung dan tidak langsung, (2) biaya
praktik konservasi sebagai investasi, dan (3) biaya
pengendalian kehilangan tanah. Hampir semua praktik
konservasi memerlukan biaya-biaya langsung maupun tidak
langsung. Biaya langsung diperlukan, misalnya untuk
membangun teras-teras. Rendahnya hasil bruto dari tanah
merupakan biaya tidak langsung yang harus dibayar untuk
suatu usaha konservasi. Menanam tanaman pelindung untuk
mengendalikan erosi tanah sangat diperlukan dalam usaha
konservasi, meskipun tanaman tersebut tidak memiliki nilai
ekonomis yang tinggi.
Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk
mengembalikan biaya-biaya dari praktik konservasi
merupakan suatu investasi. Misalnya, pembangunan sistem
irigasi dan drainase, pembangunan waduk, dan sebagainya,
membutuhkan biaya besar yang merupakan investasi karena
pengembalian biaya-biaya tersebut memakan waktu yang
lama. Usaha pengendalian kehilangan tanah akibat erosi
juga memerlukan biaya langsung, berupa biaya
pembangunan konstruksi, maupun tidak langsung karena
berkurangnya hasil lahan untuk bangunan konstruksi.
117 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
4.2.2 Pembayaran untuk Praktik Konservasi
Pembayaran biaya praktik konservasi dapat dilakukan
oleh pribadi/petani/masyarakat, suatu kelompok organisasi
masyarakat atau lembaga dan partisipasi dari pemerintah
melalui lembaga pemerintah, pemerintah daerah ataupun
pemerintah pusat. Masyarakat/individu biasanya mau
membayar biaya praktik konservasi yang menghasilkan
keuntungan dalam jangka pendek. Praktik konservasi lain
yang membutuhkan jangka panjang kurang menarik, apalagi
bila membutuhkan investasi yang besar. Kadang-kadang
suatu kelompok seperti organisasi petani atau organisasi
masyarakat mau membayar biaya konservasi yang dapat
dirasakan hasilnya oleh kelompok tersebut. Dalam hal ini
biaya yang diperlukan masih dapat dijangkau oleh kelompok
tersebut, dan dibutuhkan suatu perencanaan yang baik.
Untuk praktik konservasi yang membutuhkan investasi besar
maka biasanya tanggung jawab pembayaran ada pada
pemerintah daerah, pemerintah propinsi ataupun pusat.
Usaha konservasi di daerah hulu, akan memberikan
keuntungan pada daerah hilir. Dapat terjadi pula bahwa erosi
yang terjadi di daerah hulu mengakibatkan sedimentasi di
daerah hilir yang merupakan keuntungan karena tanah di
daerah hilir menjadi subur oleh sedimentasi tersebut. Tetapi
penggundulan hutan di daerah hulu, juga dapat
mengakibatkan bencana banjir di daerah hilir pada musim
hujan dan bencana kekeringan pada musim kemarau.
Demikianlah usaha konservasi yang dibayar oleh daerah
hulu memberikan keuntungan juga di daerah hilir selain
memberikan keuntungan di daerah hulu berupa menurunnya
kehilangan tanah akibat erosi.
118 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
BAB V
KONSERVASI TANAH DAN AIR DI
BERBAGAI NEGARA
5.1 Konservasi Tanah dan Air di India
Daerah kering di India mempunyai karakteristik hujan
yang singkat dan musim kemarau yang panjang,
sehingga pertanian hanya dimungkinkan selama 2
bulan setiap tahun dan sangat berisiko (Walker &
Ryan, 1990 dalam Bouma et.al, 2004). Untuk pemakaian
sumber daya air yang berkelanjutan, perlu investasi besar
guna menangkap air hujan dan menyimpannya ke dalam
tanah, membangun waduk air tanah dan air permukaan.
Lembaga pemerintah maupun LSM telah melakukan
investasi besar-besaran dalam usaha konservasi tanah dan
air dalam dekade akhir-akhir ini, pada hampir semua daerah
aliran sungai (DAS) di daerah kering ini. Dampak dari
investasi untuk konservasi tanah dan air yang panjang ini
telah mengecewakan, meskipun pemakaian sumber daya
secara berkelanjutan dan distribusi keuntungan dari sumber
daya serta jangka panjang produktivitas tanah dan sumber
air juga meningkat (Kerr, 2002, Batchelor et.al, 2003).
119 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Untuk meningkatkan efektivitas investasi dalam
konservasi tanah dan air, lembaga pemerintah dan LSM,
mencoba melibatkan masyarakat dengan lebih baik dalam
perancangan dan penerapan (Farrington et.al, 1999). Oleh
karena itu, di tingkat daerah dibentuk suatu lembaga-
lembaga secara terpisah, untuk mengkoordinir pemakaian
tanah dan sumber air, dan tanggung jawab operasional dan
pemeliharaan dilimpahkan pada kelompok-kelompok
masyarakat. Kelompok masyarakat ini berusaha dengan
keras untuk bertanggung jawab akan operasional dan
pemeliharaan dari bangunan-bangunan konservasi, namun
alokasi sumber air yang ditampung tidak dilakukan secara
berkelanjutan (Batchelor et.al, 2003).
Banyak penelitian telah dilakukan sehubungan
dengan masalah-masalah yang menyertai dalam
pengelolaan sumber daya masyarakat (Wade, 1988, Ostrom,
1990, Baland & Platteau, 2000), dan masalah-masalah
khusus yang menyertai pengelolaan DAS (Knox et.al, 2001).
Masalah-masalah koordinasi yang menyertai investasi dalam
konservasi sumber daya juga diteliti dalam pustaka
konservasi tanah (Barbier, 1990, Pender & Kerr, 1998,
Heerink et.al, 2001). Sebagian pustaka mengaplikasikannya
pada masalah-masalah yang menyertai konservasi air, yang
berbeda dengan konservasi tanah, karena hak guna air
kurang jelas ditetapkan. Air adalah sumber yang tidak tetap,
banyak faktor-faktor luar muncul yang memerlukan
koordinasi antar pengguna pada skala yang berbeda (Das
Gupta, 1982). Kerjasama lokal dalam menuai air hujan dan
konservasi tanah dan air, sangatlah mendukung dalam
pengelolaan DAS kering di India (Bouma et.al, 2004).
Konservasi tanah dan air di India merupakan
tanggung jawab dari Departemen Teknologi Pertanian
(Agricultural Engineering Department – AED). Misi
pemerintah dalam departemen ini adalah memantapkan
120 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
tujuan-tujuan penyimpanan setiap tetes air hujan,
penyediaan air yang cukup untuk pertanian, konservasi
tanah dan air yang mendukung sistem kehidupan melalui
strategi pengelolaan DAS dan pengelolaan air irigasi (SPC,
download 2005). Strategi pengelolaan DAS mempunyai
tujuan untuk:
1. Mencegah erosi tanah dan konservasi kelembaban
tanah (soil moisture)
2. Mempromosikan teknik-teknik menuai air untuk
menampung air limpasan dan ketersediaan air pada
lahan.
3. Mencegah berkembangnya tanah terbuang yang
semakin besar, dengan memproteksi tanah dari erosi
dan mempromosikan pemakaian tanah yang
memadai, sesuai dengan kapasitasnya.
4. Merenovasi tambak-tambak di desa, penampung
tradisional (Ooranies), tangki-tangki rumah ibadat dan
penampung air secara tradisional yang lain.
5. Mengurangi pencemaran dengan mengendalikan
sedimen yang membawa pencemar.
Strategi pengelolaan air irigasi mempunyai tujuan untuk:
1. Mengoptimalkan pemakaian air dan menjamin
distribusi air secara adil, dan memaksimalkan
produksi.
2. Menciptakan organisasi petani untuk pengelolaan air
yang berkelanjutan dalam areal terkait.
3. Menciptakan fasilitas irigasi yang baik dan
menstabilkan fasilitas yang ada.
4. Mengkonservasi air dalam kondisi irigasi yang baik
dengan sistem irigasi tetes dan siram (drip and
sprinkler irrigation system) untuk mempromosikan
tanaman hortikultur, tebu, dan coklat, dan
memperluas areal teririgasi dengan hasil yang
meningkat.
121 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Strategi pengelolaan DAS didasarkan pada
pendekatan partisipatoris, yang menjamin keberlanjutan dari
pengelolaan, mulai dari perencanaan, penerapan,
pemeliharaan, pengawasan dan pembiayaan maupun
keuntungan bersama. Peran AED adalah menyediakan
pendampingan teknis dan memfasilitasi penerapan
pengelolaan DAS sebagai konservasi tanah dan air oleh
masyarakat. Proyek ini akan mengadopsi biaya yang rendah
dan keterlibatan petani yang bersahabat, terarah pada
konservasi tanah dan air secara di tempat.
Rencana kerja pengembangan DAS mikro,
memasukkan konservasi kelembaban tanah, pengendalian
erosi tanah, penuaian air limpasan dan penuaian air hujan di
lahan. Setiap perencanaan DAS mikro akan memperhatikan
potensi dari DAS yang terhubung dengan kapasitas tanah,
tipe tanah, kedalaman tanah, ketersediaan air tanah dan
pilihan-pilihan yang ditunjukkan oleh petani. Perencanaan
DAS mikro akan memperlihatkan kebutuhan masyarakat
dalam DAS, dan akan mempunyai masukan teknologi dari
departemen-departemen dan stasiun penelitian regional
yaitu Universitas Pertanian Tamil Nadu. Perhatian khusus
diberikan pada masalah tanah, yaitu salinitas dan tanah
alkali, khususnya tanah hitam. Berdasarkan percobaan
penelitian, rencana kerja DAS mikro daerah dengan tanah
hitam akan dikembangkan untuk mengatasi masalah
drainase dan tekanan kelembaban. Metode khusus penuaian
air, seperti sumur resapan, akan dikerjakan untuk
memfasilitasi pengisian kembali air tanah.
Dalam komisi perencanaan negara (State Planning
Commission – SPC, download 2005) dibuat program
pengembangan konservasi tanah dan air tiap tahun maupun
tiap dekade. Perencanaan jangka panjang dalam 25 tahun
telah dimulai pada tahun 1997. Beberapa program
konservasi tanah dan air yang direncanakan dan
122 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
dilaksanakan dalam rencana tahunan 2004 – 2005 antara
lain:
1. Program konservasi yang meliputi penuaian air hujan
dengan membangun kolam-kolam pertanian dan
merenovasi sumur-sumur yang terlantar dan tak
digunakan.
2. Konservasi tanah di area Tribal untuk meningkatkan
status ekonomi petani Tribal di atas garis kemiskinan.
Pengembangan area Tribal secara terpadu dengan
pendekatan multi sektor di perbukitan Kolli, Yercaud,
Kalrayan, Aranuthumalai, Pachamalai, Jawadhu dan
Sitheri. Dalam program ini juga dilakukan rencana
tindakan berupa perataan tanah, pembuatan kontur dan
tanggul dengan tanaman serta cekdam. Program ini
menyediakan ketahanan hidup masyarakat Tribal dengan
membangkitkan lapangan kerja dan hasil tanaman.
3. Konservasi tanah dan air di lembah DAS Vaigai yang
mempunyai masalah dengan sedimentasi dalam waduk
sehingga kapasitas tampung waduk untuk irigasi dan
pembangkit tenaga menjadi masalah yang serius.
Sehubungan dengan hal tersebut dilakukan studi untuk
33 waduk di Tamil Nadu yang menunjukkan kehilangan
kapasitas tampung lebih dari 50 % untuk 2 waduk dan
lebih dari 30 % untuk 8 waduk. Konservasi tanah
dilakukan di daerah tangkapan Vaigai dan Pennaiyar
selatan.
4. Pekerjaan konservasi tanah di daerah tangkapan Kundah
dan lembah hilir sungai Bhavani untuk mencegah
sedimen yang masuk dalam waduk-waduk. Konservasi
tanah didasarkan pada curah hujan, erosi alam, tekstur
tanah, kemiringan dan topografi daerah tangkapan.
5. Konservasi tanah dan air di bawah program
pengembangan daerah Ghats bagian barat yang meliputi
distrik Coimbatore, Erode, Dindigul, Theni, Virudhunagar,
123 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Tirunelveli dan Kanyakumari. Program ini menggarap 605
ha tanah untuk dikonservasi.
6. Konservasi tanah dan air di bawah program
pengembangan daerah perbukitan yang diterapkan di
distrik Nilgris. Distrik ini dibuat menjadi 75 DAS
berdasarkan peta DAS yang dikeluarkan oleh pemerintah
India. Dari DAS ini dipilih DAS yang paling rusak dan
perlu dikonservasi
7. Menciptakan sistem informasi grafis (GIS) untuk
mengawasi pengembangan DAS di distrik Theni
sehingga ketersediaan data yang meliputi banyak hal
dapat membantu dalam perencanaan, pengawasan dan
evaluasi.
5.2 Konservasi Tanah dan Air di Afrika
Konservasi tanah dan air di Afrika yang akan dibahas
dalam tulisan ini antara lain: (1) praktik konservasi tanah dan
air di Zambia, (2) kebijakan dan praktik konservasi di Sahel,
(3) konservasi tanah dan air di daerah semi kering Sub
Saharan dan (4) praktik konservasi secara tradisional di
daerah Yatenga – Burkina Faso dan di daerah Tahoua –
Niger.
5.2.1 Praktik Konservasi Tanah dan Air di Zambia
Chomba (2004) menuliskan beberapa praktik
konservasi tanah dan air yang dipromosikan di antara para
petani dapat dikategorikan dalam tiga kelompok: (1)
konservasi pengolahan tanah, (2) peningkatan kesuburan
tanah, dan (3) pengendalian erosi. Praktik konservasi
pengolahan tanah meliputi pengurangan pengolahan tanah,
pengolahan tanah yang minimal, tanpa pengolahan tanah,
pengolahan tanah dengan mulsa dan pengolahan tanah
secara lajur. Praktik peningkatan kesuburan tanah mengacu
124 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
pada praktik konservasi tanah yang secara langsung
menyediakan nutrisi dalam tanah seperti sisa-sisa tanaman
melalui kompos organik. Pupuk kompos organik ini
meningkatkan hasil panen dan mengurangi penggunaan
pupuk kimia. Termasuk dalam praktik ini juga sistem
pertanaman secara rotasi, secara campuran dan
meningkatkan kualitas tanah melalui masa bero (tanpa
tanaman). Praktik pengendalian erosi dapat berupa sistem
terasering, sistem kontur dan pembuatan tanggul. Praktik
konservasi pertanian juga dikembangkan seperti teknik
lubang tanaman (pot holing) yang meningkatkan hasil panen
dalam waktu singkat.
5.2.2 Kebijakan dan Praktik Konservasi di Sahel
Mazzucato et.al. (2001) melakukan penelitian tentang
praktik konservasi tanah dan air di Sahel. Setelah proyek
konservasi tanah dan air di Afrika berkembang, maka
kebijakan-kebijakan baru dalam praktik konservasi sangat
diperlukan. Petani perlu memiliki kepedulian yang baik dalam
proses kerusakan tanah dan bagaimana mengatasinya
dengan memakai teknik konservasi tanah dan air secara
luas, diterapkan secara fleksibel dan sesuai. Sementara
petani mengusahakan konservasi tanah dan air, juga
diusahakan suatu jaringan sosial yang memberikan akses
fleksibel pada sumber daya yang diperlukan untuk pertanian
dan konservasi.
Tipe-tipe jaringan sosial yang dibentuk untuk
mendukung praktik konservasi tanah dan air di Sahel
meliputi:
1. Jaringan kepemilikan tanah yang menyediakan
peminjaman tanah untuk pertanian dengan perjanjian
peminjaman yang tidak memberatkan petani pada masa
tanah tidak ditanami atau masa bero, sehingga
125 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
memungkinkan diterapkannya praktik konservasi tanah
dan air dengan sistem masa bero.
2. Jaringan buruh yang menyediakan sumber tenaga
sewaktu-waktu dibutuhkan dan saling mengisi kebutuhan
dengan sistem peminjaman tenaga, sehingga
memungkinkan diterapkannya praktik konservasi tanah
dan air dengan sistem intensifikasi sumber tenaga untuk
pertanian secara tepat waktu.
3. Jaringan perempuan yang berhubungan dengan tempat
kelahirannya dan berpengaruh pada kegiatan tanam bibit
atau panen yang dilakukan oleh kaum perempuan.
Dengan adanya jaringan ini memudahkan untuk akses
tanah yang diperlukan dalam penerapan praktik
konservasi tanah dan air.
4. Jaringan pemilik peternakan yang membantu penyediaan
ternak untuk pengolahan tanah, mengurangi risiko
kerusakan tanaman atau perumputan yang berlebihan
akibat penggembalaan ternak, sehingga membantu
penerapan praktik konservasi tanah dan air.
5. Jaringan teknologi yang membantu penerapan teknik-
teknik konservasi tanah dan air dengan menyediakan
konsultasi, peralatan pengolahan tanah dengan bebas
biaya. Kadang-kadang peminjam memberikan hadiah
berupa hasil panen.
6. Jaringan yang menyediakan uang tunai untuk digunakan
bagi yang membutuhkan. Peserta mempunyai kewajiban
untuk memberikan iuran secara teratur pada jaringan
sehingga uang tunai yang terkumpul dapat dipakai oleh
yang membutuhkan. Hal ini membantu penerapan
praktik konservasi tanah dan air dalam masa di mana
mereka tidak dapat menerima hasil panen karena
menerapkan sistem bero.
126 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
Melalui jaringan-jaringan sosial yang dibentuk,
masyarakat Sahelian mengadaptasi teknik-teknik konservasi
tanah dan air secara fleksibel dan sesuai dengan keadaan
masyarakat lokal dengan segala sumber daya dan
kapasitasnya. Lewat jaringan-jaringan sosial ini pula mereka
mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh penerapan praktik
konservasi tanah dan air, terutama bila harus menerapkan
sistem bero di mana mereka tidak dapat menerima hasil
panen, tetapi masih dapat menerima penghasilan dengan
jalan bekerja sebagai buruh tani di daerah lain yang tidak
dalam masa bero.
5.2.3 Konservasi Tanah dan Air di Daerah Semi Kering
Sub Saharan
Boyd et.al. (2000) dalam penelitiannya tentang
peranan dari teknik konservasi tanah dan air pada lapangan
pekerjaan yang berkelanjutan di daerah semi kering Sub
Saharan mengambil dua daerah studi kasus di Tanzania dan
Uganda. Dua desa di Tanzania, yaitu Hedaru dan Mgwazi
yang diambil sebagai studi kasus, mempunyai bukit-bukit
yang tersebar di kaki gunung Pare.
Pada dataran tinggi yang mempunyai banyak sumber
air dan arus aliran air, mempunyai potensi akan terjadinya
erosi alur atau erosi selokan terutama karena kurangnya
tumbuh-tumbuhan pada dataran ini. Di daerah studi kasus ini
mempunyai empat sistem pertanian yaitu (1) Jagung –
kacang-kacangan – sayuran, umumnya terdapat pada lereng
atas, (2) Jagung – kacang-kacangan, banyak ditanam pada
lereng tengah dengan kemiringan sedang, (3) Jagung –
peternakan, umumnya terdapat pada daerah rendah, dan (4)
Peternakan – perikanan – padi, dominan terdapat di daerah
rendah dan kaki lembah. Adopsi praktik konservasi tanah
dan air sangat penting pada sistem pertanian pertanaman,
jagung – kacang-kacangan – sayuran, di daerah lereng atas
127 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
dengan kemiringan yang curam dan sangat berpotensi
terjadi kerusakan tanah.
Ada 11 teknik konservasi diterapkan di daerah ini,
yang merupakan proses perkembangan usaha mengatasi
kerusakan tanah dan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam
mengadopsi teknik konservasi tanah dan air:
1. Pagar tanaman hidup yang diperkenalkan selama masa
penjajahan dan segera diabaikan setelah kemerdekaan
(1961) karena politisasi isu konservasi tanah dan air.
Pagar tanaman hidup ini dimaksudkan untuk mengatasi
erosi tanah.
2. Sistem irigasi tambahan yang tetap bertahan sejak jaman
sebelum penjajahan (1900) dan memungkinkan
pertanaman jagung sampai sekarang.
3. Pengolahan tanah secara dalam yang diperkenalkan
selama masa sesudah deklarasi Arusha (1968) sebagai
akibat dari proyek peminjaman traktor secara umum.
4. Pembuatan tanggul pada daerah cekungan dengan
tujuan menampung air untuk pertanaman padi.
5. Penanaman pohon yang diperkenalkan selama masa
penjajahan (1906 – 1961) dan diperluas sesudah
deklarasi Arusha (1968 – 1985) dan masa liberal (1985
sampai sekarang) mengacu pada kampanye dan
program kelanjutan serta pemantapan pembibitan pohon
untuk konservasi tanah dan air melalui sistem
penghijauan kembali.
6. Tanggul-tanggul batu yang merupakan bagian dari sistem
irigasi tambahan dan diperluas selama masa liberal
dengan disertai peningkatan produksi sayuran, untuk
mengatasi erosi tanah.
7. Pengalihan saluran drainase atau tanggul-tanggul kontur,
yang diperkenalkan selama masa penjajahan tapi segera
diabaikan setelah kemerdekaan karena politisasi isu
konservasi tanah dan air, untuk mengatasi erosi tanah.
128 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
8. Sistem terasering yang diperkenalkan selama masa
penjajahan tetapi secara luas diabaikan, karena biaya
yang cukup besar.
9. Lajur-lajur daun kering dan ranting untuk mengurangi
daya rusak air hujan yang jatuh, tetapi tidak bertahan
setelah masa deklarasi Arusha, dan sekarang tidak
dipakai lagi karena pertimbangan munculnya binatang-
binatang perusak dari tumpukan daun kering dan hama
tanaman yang lain.
10. Perlindungan hutan dan semak di mana untuk hutan
makro tetap terlindung tetapi hutan mikro di lahan rumah
tangga telah hilang selama masa liberal karena
longgarnya peraturan.
11. Perencanaan tata guna lahan secara tradisional termasuk
alokasi ladang rumput, perlindungan daerah aliran sungai
dan puncak bukit dari pertanaman dan perumputan, yang
secara tradisional diatur oleh pemimpin lokal. Teknik
konservasi ini hilang selama masa liberal karena
longgarnya peraturan.
Di Uganda diambil 5 desa sebagai studi kasus yaitu
desa Atete, Acuna, Moru, Otuko dan Orisai yang merupakan
bagian terkering dari daerah Teso – Uganda bagian Timur
Laut dengan kondisi iklim yang tidak menentu menyebabkan
bencana kekeringan atau banjir. Di daerah studi kasus ini
mempunyai empat sistem pertanian yaitu (1) Umbi-umbian –
biji-bijian – kacang-kacangan yang merupakan sistem paling
umum terdapat di daerah ini. Praktik konservasi tanah dan
air yang paling banyak adalah sistem rotasi tanaman, jalur-
jalur rumput, pengolahan tanah dalam dan pengolahan tanah
secara kontur, (2) Biji-bijian – kacang-kacangan yang
ditanam untuk memenuhi konsumsi lokal, (3) Biji-bijian –
kapas yang merupakan sumber penghasilan kontan dari
masyarakat, dan (4) Peternakan – perikanan – padi yang
129 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
merupakan komponen penting dari pemerintahan Teso.
Adopsi teknik konservasi tanah dan air di Uganda sangat
berbeda dengan daerah studi di Tanzania. Tidak semua
petani di Uganda mempraktikkan teknik konservasi tanah
dan air karena bagi petani masalah erosi bukanlah masalah
yang serius. Beberapa teknik konservasi tanah dan air yang
diterapkan di daerah ini:
1. Pembatasan tanah untuk pertanaman, perumputan
(khususnya sekitar rawa dan sepanjang tepi sungai
karena sumber air minum bagi ternak) dan daerah
pemukiman, yang tetap dilaksanakan sampai sekarang,
sebagai upaya pengelolaan DAS untuk mencegah
terjadinya erosi dan banjir.
2. Pertanian semi ladang berpindah yang diijinkan dalam
masa sebelum penjajahan, tetapi kemudian dilarang
selama masa penjajahan dan dipromosikan untuk
menggunakan bentuk pertanian yang lebih tetap, untuk
mencegah berkurangnya areal hutan yang dapat
menyebabkan erosi dan banjir.
3. Perlindungan hutan-hutan dan puncak bukit dari
penggunaan untuk acara ritual, yang diterapkan selama
masa penjajahan, untuk mencegah terjadinya kerusakan
hutan.
4. Sistem mulsa yang dipraktikkan selama masa sebelum
penjajahan dan dipromosikan selama masa penjajahan,
untuk meningkatkan daya serap air ke dalam tanah, dan
mengurangi daya rusak air hujan yang jatuh maupun
limpasan air permukaan.
5. Pertanaman sistem campuran yang terutama diakibatkan
oleh tidak diijinkannya membuka lahan baru untuk
pertanian. Sistem ini memberikan keuntungan tambahan
karena mengurangi risiko, meningkatkan hasil panen per
hektar lahan dan menghilangkan kebutuhan tenaga untuk
pembersihan rumput liar.
130 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
6. Sistem bero yang dipraktikkan sejak masa sebelum
penjajahan dan dipromosikan selama masa penjajahan,
untuk memberi kesempatan akan pulihnya kembali unsur-
unsur hara dalam tanah.
7. Penggunaan tanaman kacang-kacangan yang diterapkan
sejak masa sebelum penjajahan sampai sekarang, untuk
meningkatkan kandungan nutrisi dalam tanah.
8. Sistem rotasi yang diperkenalkan dan dipromosikan
selama masa penjajahan, untuk mencegah penyerangan
hama tanaman dan mengurangi laju erosi tanah.
9. Penghentian perumputan yang diperkenalkan selama
masa penjajahan, sehingga tanah tetap terlindung dari
daya rusak air yang menyebabkan erosi.
10. Pengolahan tanah dan selokan-selokan secara kontur,
yang diperkenalkan selama masa penjajahan, untuk
mengatasi erosi.
5.2.4 Praktik Konservasi secara Tradisional di Daerah
Yatenga – Burkina Faso dan di Daerah Tahoua –
Niger
Kabore dan Reij (2004) dalam makalahnya tentang
mendesaknya penyebaran praktik konservasi tanah dan air
di Burkina Faso, menuliskan bagaimana praktik konservasi
tanah dan air secara tradisional yang dikenal sebagai zai
mulai muncul, berkembang dan menyebar. Sekitar tahun
1980, Yatenga menjadi terkenal sebagai daerah yang paling
rusak di Burkina Faso. Kekeringan, kemiskinan, kelaparan
dan kerusakan lingkungan mendorong para petani di daerah
tersebut pergi ke daerah lain yang lebih baik, atau harus
belajar bagaimana mengatasi masalah ini. Berbagai proyek
besar konservasi tanah dan air secara mekanis diusahakan
di Yatenga, tetapi tidak berjalan, karena petani tidak
memeliharanya dan kadang-kadang merusak bangunan
tersebut karena tujuan dari proyek adalah memperbaiki
131 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
tanah dan bukan tanah pertanian yang diusahakan oleh
masyarakat desa. Tahun 1977 Rural Development Fund
(FDR II) mulai membangun tanggul-tanggul tanah di Yatenga
pada petak-petak kecil lahan pertanian di desa (30 – 60 ha)
dengan tujuan untuk menyimpan air hujan dan mengurangi
erosi. Usaha ini juga gagal, karena pemeliharaan yang
kurang dan beberapa tanggul dirusak oleh petani untuk
mencegah limpasan air mengalir dari lahan kosong masuk
ke lahan pertanian.
Dalam konteks kesulitan seperti ini, petani dan teknisi
NGO mulai melakukan eksperimen teknik konservasi tanah
dan air. Petani memusatkan perhatiannya pada peningkatan
cara menanam secara tradisional pada lubang yang dikenal
dengan zai dan teknisi NGO memusatkan perhatian pada
teknik konservasi dengan membuat tanggul dari batu secara
kontur. Kombinasi dari kedua teknik ini memberikan hasil
yang sangat efisien dalam memperbaiki tanah yang rusak
berat. Mulainya intensifikasi pertanian ditingkatkan di daerah
ini dengan teknik konservasi yang sederhana dan dapat
dilakukan dengan mudah oleh semua petani, dan segera
meningkatkan hasil panen.
Sekitar tahun 1980 petani-petani di desa Gourga,
yang terletak dekat dengan ibu kota Ouahigouya, mulai
melakukan eksperimen menanam secara tradisional pada
lubang yang disebut zai. Secara tradisional sistem zai
digunakan pada skala kecil untuk memperbaiki tanah batu
keras di mana air hujan tak dapat cepat meresap. Lubang
digali dengan diameter yang biasanya 10-15 cm ditingkatkan
menjadi 20-30 cm dan kedalaman sekitar 20 cm. Kemudian
pupuk kandang dimasukkan dalam lubang, sehingga air dan
nutrisi terkonsentrasi dalam satu tempat. Lubang ini digali
selama musim kering dan bahan-bahan organik yang dipakai
mengakibatkan munculnya binatang-binatang kecil yang
berperan memperbaiki tanah dengan membuat saluran-
132 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
saluran kecil dalam tanah, sehingga nutrisi dengan lebih
mudah tersedia bagi tanaman yang ditanam dalam lubang.
Petani yang merupakan penemu kunci sistem zai ini adalah
Yacouba Sawadogo. Ia terdesak kesulitan akan rusaknya
tanah, tetapi ingin tetap tinggal dan mengolah tanah nenek
moyangnya, maka ia berusaha untuk berbuat sesuatu
mengatasi kerusakan tanah. Ia menanam sorgum dan milet
pada tanah yang sebelumnya tidak menghasilkan apa-apa
dan hal ini ditiru oleh petani lain di daerahnya di desa
Gourga.
Organisasi OXFAM yang semula mencoba teknik
konservasi lain dalam proyeknya di Yatenga menyadari
potensi sistem zai ini dan mulai mempromosikan teknik ini
dengan membawa petani Yatenga ke desa Gourga. NGO
yang lain, proyek-proyek dan lembaga pemerintahan dengan
cepat mulai peduli akan teknik zai yang potensial ini. Maka
teknik zai ini segera menyebar di daerah Yatenga, di mana
mereka sering mengkombinasikan teknik ini dengan teknik
pembuatan tanggul batu secara kontur yang mengurangi
daya rusak oleh limpasan air permukaan dan mencegah
rusaknya lubang tanaman.
Yacouba Sawadogo mulai membuat suatu
perkumpulan untuk mempromosikan sistem zai. Ia melatih
petani-petani dari banyak desa dengan mengaturnya tiap
tahun sebagai perkumpulan yang disebut pasar zai (zai
market). Petani lain yang merupakan peran kunci sistem zai
ini adalah Ousseni Zorome yang tinggal di desa Somyaga
dekat ibukota Ouahigouya. Ia mempunyai perusahan kecil
yang meminjam sebidang tanah yang sangat rusak di mana
hanya 9 pohon yang bertahan hidup. Secara teratur ia
memperbaiki tanah dengan sistem zai dengan memulai
pekerjaannya pada lahan yang paling rendah, dengan
demikian secara sistematik melindungi pertumbuhan kembali
secara alami pohon-pohon dan semak-semak, sehingga
133 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
akhirnya ia memiliki 2000 pohon di atas lahannya. Ousseni
menciptakan sekolah zai (zai school) di mana kelompok-
kelompok petani belajar (Sawadogo et.al, 2001).
Daerah di Burkina Faso yang diperbaiki dengan
sistem zai ini meliputi daerah-daerah yang secara intensif
menggunakan sistem zai dan daerah potensial untuk
diterapkan sistem zai seperti nampak dalam Gambar 5.1.
Gambar 5.1 Penyebaran sistem zai di Burkina Faso (Kabore dan Reij,
2004)
Banyak petani mengadopsi sistem zai karena sistem
tersebut mempunyai beberapa keuntungan selain kerugian
yang ditimbulkannya. Beberapa keuntungan sistem zai ini:
134 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko
1. Petani terbiasa memperbaiki tanah yang rusak berat di
mana merupakan daerah penting dengan kepadatan
penduduk yang tinggi pada sumber daya yang terbatas.
Sistem ini memungkinkan petani memperluas lahan
pertaniannya dan mengerjakan tanah yang sebelumnya
tak ada tanaman dapat tumbuh. Dengan sistem zai dalam
pengolahan lahan, dapat menghasilkan 300-400 kg
sorgum/ha/tahun dalam kondisi hujan yang rendah,
sampai 1500 kg/ha/tahun dalam kondisi hujan yang baik.
2. Penanaman model dalam konservasi tanah dan air
secara konvensional akan memberikan keuntungan
dalam jangka menengah atau jangka panjang. Teknik
penuaian air seperti zai memberikan hasil sejak tahun
pertama.
3. Sistem zai adalah sistem padat karya, tetapi mereka
dapat menggali dengan cepat selama musim kering
tergantung ketersediaan tenaga dalam keluarga atau
buruh tani.
4. Banyak air meresap dalam lubang dan kapasitas
ketahanan air dalam tanah meningkat, sehingga tanaman
menderita lebih sedikit selama masa kering.
5. Pupuk kandang terkonsentrasi dalam lubang sehingga
lebih ekonomis terpakai, sehingga menarik bagi petani
yang memiliki sedikit ternak. Lubang-lubang juga dapat
menangkap tanah yang terbang akibat erosi angin
(Ouegraogo dan Kabore, 1996).
6. Tanah disiapkan selama musim kering dan petani dapat
segera menyebar benih dengan zai ketika hujan datang.
Mereka tidak perlu mengolah tanah lagi, bahkan kadang-
kadang petani menanam beberapa hari lebih awal
sebelum hujan turun.
7. Banyak air yang dituai dan disimpan, juga bahan organik
dipakai dalam lubang-lubang, maka kondisi tanah akan
135 │Konservasi Tanah dan Air - Susilawati Cicilia Laurentia & R.Wahyudi Triweko