MENSTABILKAN DAN
MERMINDAHKAN KORBAN
DARI KENDARAAN
PUSDIKLAT PENANGGULANGAN KEBAKARAN DAN PENYELAMATAN
PROVINSI DKI JAKARTA
PUSDIKLAT PENANGGULANGAN KEBAKARAN DAN PENYELAMATAN
PROVINSI DKI JAKARTA
TAHUN 2020
Menstabilkan dan Memindahkan Korban dari Kendaraan
E-BOOK
MENSTABILKAN DAN MERMINDAHKAN
KORBAN DARI KENDARAAN
PUSDIKLAT PENANGGULANGAN KEBAKARAN
DAN PENYELAMATAN PROVINSI DKI JAKARTA
TAHUN 2021
PusdiklatPenanggulanganKebakarandanPenyelamatan Prov. 1
DKI Jakarta
BAB I
BANTUAN HIDUP DASAR
(BASIC LIFE SUPPORT)
A. Pengertian
Adalah usaha yang dilakukan untuk mempertahankan
kehidupan pada saat penderita mengalami keadaan yang
mengancam nyawa sebagai "bantuan hidup" (Life Support)
Bila usaha bantuan hidup ini dilakukan tanpa memakai cairan intra vena,
obat ataupun kejutan listrik maka dikenal sebagai bantuan hidup dasar
(basic life support), sebaliknya dikenal sebagai bantuan hidup lanjut
(Advanced Life Support).
I. AIRWAY
1. Umum
Jalan nafas dimulai dari mulut dan
hidung, ke faring lalu ke laring (tempat
pita suara) dan trachea. Pada orang
dewasa mudah bernafas melalui mulut
tetapi pada Bayi kesulitan bernafas
melalui mulut, sehingga bila hidung
tersumbat akan ada kesan seolah-olah
sesak nafas.
2. Obstruksi Jalan Nafas
Obstruksi jalan nafas merupakan pembunuh tercepat, lebih cepat
dibandingkan gangguan breathing dan circulation. Lagi pula perbaikan
breathing tidak mungkin dilakukan bila tidak ada airway yang paten.
OBSTRUKSI DAPAT TERJADI SECARA PARTIAL DAN TOTAL
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 1
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
a. Obstruksi Total
Pada obstruksi tctal mungkin penderita ditemukan masih sadar atau
dalam keadaan tidak sadar. Pada obstruksi total yang akut, biasanya
disebabkan oleh tertelan benda asing yang menyangkut dan menyumbat
pangkal laring (kerongkongan). Bila terjadi obstruksi total yang timbul
perlahan (insidious) ini disebabkan karena berawal dari obstruksi parsial
yang kemudian menjadi total.
Foreign Body Alrway Obstruction (FBAO) / Sumbatan karena benda
asing pada jalan nafas
Pada Orang Dewasa
Kematian yang diakibatkan oleh FBAO jarang terjadi tetapi
penyebabnya dapat dicegah. Pada umumnya dilaporkan bahwa FBAO
pada orang dewasa disebabkan saat penderita sedang makan. Kejadlan
penderita tersedak biasanya terdapat saksi dan melakukan tindakan saat
penderita masih sadar.
Mengenali sumbatan karena benda asing pada jalan nafas / FBAO
Pada Orang Dewasa
Bila ada yang mengalami tersedak petugas
harus segera menolong dengan tanda-tanda :
penderita terlihat kurangnya pertukaran udara dan
meningkatnya kesulitan bernafas seperti batuk yang
tidak bersuara, sianosis (kebiruan) atau tidak dapat
bersuara atau bernafas. Penderita memegang leher
yang menampakkan tanda umum tersedak, segera
anda tanyakan "apakah anda tersedak?" jika
penderita mengisyaratkan "ya" dengan mengangguk
tanpa berbicara, ini menandakan penderita
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 2
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
mempunyai sumbatan jalan nafas berat.
Membebaskan Sumbatan Karena Benda Asing
Pada Orang Dewasa
1) Lakukan hemlich maneuver pada
penderita sampai benda asing keluar
atau penderita jatuh tidak sadar
2) Pada penderita obesitas dan wanita
hamil lakukan dengan chest thrust
3) Minta Bantuan
4) Bila benda terlihat lakukan sapuan jari untuk mengeluarkan benda
asing tersebut.
5) Bila korban jatuh tidak sadar, lakukan prosedur resusitasi jantung
paru (RJP).
Foreign Body Airway Obstruction (FBAO) / Sumbatan Karena Benda
Asing Pada Jalan Nafas Pada Anak dan Bayi
Lebih dari 90% kematian dari benda asing karena aspirasi sering
terjadi pada anak usia < 5 tahun, 65% korbannya adalah bayi. Cairan
merupakan sumbatan yang paling sering terjadi pada bayi. Fenyebab
sumbatan pada anak biasanya adalah benda-benda kecil yang
berserakan di lantai seperti balon, makanan kecil, permen dll.
Tanda-tandanya adalah gangguan pernafasan yang tiba-tiba
disertai dengan batuk, tersedak, stridor (ada bunyi nafas saat korban
menarik nafas , wheezing (ada bunyi nafas saat korban mengeluarkan
nafas). Dengan ciri-ciri tersebut dapat membedakan dengan penyakit
infeksi yang ditandai dengan tanpa adanya panas atau gangguan
syndrome pernafasan.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 3
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Membebaskan Sumbatan Karena Benda Asing
Pada Anak dan Bayi
Sumbatan jalan nafas dapat terjadi ringan ataupun
berat. Saat sumbatannya ringan, anak masih dapat batuk
dan bersuara. Tetapi pada saat sumbatannya berat
penderita sama sekali tidak dapat batuk ataupun bersuara.
• Jika sumbatan yang terjadi ringan jangan
melakukan apapun, biarkan penderita
membersihkan jalan nafasnya sendiri dengan
batuk sementara anda mengobservasi tanda-
tanda FBAO yang berat.
• Jika sumbatannya berat (penderita tidak dapat bersuara sedikitpun)
Untuk anak lakukan hemlich maneuver sampai bendanya keluar
atau jatuh tidak sadar. Untuk bayi lakukan 5 x back blows diikuti
dengan 5 x chest thrust berulang-ulang sampai bendanya keluar
atau penderita jatuh tidak sadar. Pada bayi tidak
direkomendasikan abdominal thrust karena dapat merusak
organ dalam yang tidak terlindungi.
Chest Trust Pada bayi
- Jika penderita jatuh tidak sadar segera lakukan RJP (CPR)
sebelum melakukan ventilasi petugas harus melihat apakah
terdapat bendanya atau tidak pada mulut penderita. Jika anda
melihat bendanya keluarkan. Petugas tidak direkomendasikan
untuk melakukan sapuan jari bila bendanya tidak tampak pada
faring, karena dapat mendorong bendanya masuk ke dalam
orofaring dan dapat menyebabkan kerusakan pada organ tersebut.
Bila tampak boleh dilakukan sapuan jari. Bila bendanya tidak
tampak berikan ventilasi diikuti dengan kompresi dada.
b. Obstruksi Parsial
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 4
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Obstruksi parslal dapat disebabkan berbagai hal. Biasanya penderita
masih dapat bernafas sehingga timbul beraneka ragam suara, tergantung
penyebabnya:
Cairan (darah, secret, aspirasi lambung dan sebagainya)
Timbul suara "gurgling", bunyi nafas bercampur suara cairan. Dalam
keadaan ini harus dilakukan penghisapan ("slimjuigen", suction).
Pangkal lidah yang jatuh ke belakang
Keadaan ini dapat terjadi karena keadaan
tidak sadar (koma) atau patahnya tulang
rahang bilateral.
Timbul suara mengorok (snoring) yang harus
diatasi dengan perbaikan airway secara
manual atau dengan alat.
Penyempitan di Laring Atau Trachea
Dapat disebabkan edema karena berbagal hal (luka bakar, radang, dsb)
ataupun desakan heoplasma, Timbul suara "crowing" (suara serak) atau
stridor respiratoir (suara serak saat menghirup nafas), Keadaan ini hanya
dapat diatasi dengan perbalkan airway dengan peralatan advance / lebih
canggih dan biasanya dliakukan oleh tenaga profeslonal (dokter umurm
ataupun spesialis).
Pengelolaan Jalan Napas
Bila ada sumbatan Jalan napas, jelas bahwa sumbatan tersebut
harus diatasl. Walaupun demikian dalam keadaan tertentu, misalnya
penderita dengan koma, tetap dilakukan pemasangan alat jalan napas,
karena sumbatan dalam keadaan ini sangat mengancam nyawa
korban/penderita (impending).
a. Penghisap (Suction)
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 5
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Alat Yang Dipakai
Suction dapat dilakukan dengan kateter suction (kateter lunak, soft /
flexible tipped) atau alat suction khusus seperti yang dipakai di kamar
operasi (rigid tip, tonsil tip atau yankauer
tip).
Untuk cairan (darah, secret, dan
sebagainya) dapat dipakai soft tip, tetapi
untuk materi yang kental (sisa makanan,
dan sebagainya) sebaiknya memakai
tipe yang rigid.
Soft tip kateter dapat dipakai untuk melakukan suction daerah hidung atau
naso-faring serta dapat dimasukkan melalui tube endo-trakheal.
Rigid Tip dapat menyebabkan timbulnya refleks muntah bila tersinggung
dinding faring atau bahkan dapat menimbulkan perdarahan.
Walaupun demikian rigid tip lebih disukai karena manipulasi alat lebih
mudah dan suction lebih efisien.
= Cara melakukan suction
Bila memakal rigid tip, maka ujung tip harus selaku terihat (jangan suction
membuta), Bla memakal soft tip, boleh sompal masuk secara berhati hati
ke belakang pangkal lidah.
Bila memakal soft tip masuk ke arah
naso-faring harus selalu diukur, Jangan
sampal terlalu jauh. Pada fraktur basis
kranil alat yang dimasukkan lewat
hidung selalu ada kemungkinan masuk
rongga tergkorak.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 6
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Catatan : Bila penderita muntah dan nampaknya suction tidak akan
menolong, maka kepala harus dimiringkan. Bila penderita trauma, maka
jangan mencoba memiringkan kepala saja, seluruh badan penderita harus
dimiringkan dengan "log off"./Log Rol
= Lamanya Suction
Prosedur suction akan juga menghisap oksigen yang ada dalam jalan
napas, karena Itu lamanya suction maksimal 15 detik pada orang dewasa
(5 detik pada anak kecil).
Buka Jalan Nafas (Airway) Manual
Buka jalan napas
dengan
maneuver head
tilt chin lift bila
tidak ada trauma
kepala atau leher.
Bila petugas mencurigai adanya trauma servikal, buka jalan napas dengan
maneuver jaw thrust tanpa ekstensi kepala.
c. Jalan Napas Sementara
Dengan alat dimasukkan lewat hidung
(naso-pharyıngeal airway) atau lewat mulut
(oropharyngeal airway) = oro-pharyngeal airway)
Alat ini lebih populer sebagai "guedel", walaupun ada tipe yang lain
seperti misalnya type Mayo atau Willam. Satu hal yang harus diperhatikan
adalah bahwa oropharyngeal airway tidak boleh dipasang pada penderita
sadar atau penderita setengah sadar yang berusaha menolak alat ini.
Pemaksaan pemasangan alat ini akan menimbulkan "gag reflex"
atau muntah airway dihitung dari sudut mulut ke angulus mandibula (sudut
rahang Sudut bawah).
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 7
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Pemasangan alat ini dapat dengan 2 cara :
Cara Pertama : mulut dibuka lalu dimasukkan terbalik. Bila sudah
mencapai palatum molle (langit - langit mulut) lalu dilakukan rotasi.
Cara Kedua : mulut dibuka dengan tong spatel, lalu dengan berhati-hati
dimasukkan ke belakang. Pada anak kecil sebaiknya pakal cara kedua,
karena proses rotasi mungkin menyebabkan patahnya gigi atau kerusakan
faring.
Naso Pharyngeal Airway
Alat ini tidak boleh
dipasang bila ada kemungkinan
fraktur basis kranii anterior
(patah tulang dasar tengkorak
bagian depan) ditandai dengan
keluar darah dari hidung atau mulut, kebiruan pada mata disebut juga "bril
hematom", dan sebagainya), karena mungkin masuk rongga otak.
Pada keadaan ini pemasangan hanya boleh dilakukan oleh dokter
(dengan memakai stylet/mandarin). Besar tube diukur berdasarkan jari
kelingking penderita. Panjang tube yang dapat dihítung dari pangkal
cuping hidung sampai cuping telinga.
Cara pemasangan : Selalu usahakan masuk lubang hidung kanan,
walaupun lubang kiri juga boleh. Tube dilakukan pelumasan, lalu
dimasukkan perlahan ke belakang. Bila ada hambatan, langsung dítarik
keluar dan dicoba sebelahnya.
II. BREATHING DAN PEMBERIAN OKSIGEN
Bila Jalan nafas (alrway) sudah baik, belum tentu pernafasan akan baik
sehingga perlu selalu dilakukan pemeriksaan apakah permafasan
penderita sudah kuat, adekuat atau belum.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 8
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
1. Pemeriksaan fisik penderita
a. Pernafasan normal
Kecepatan bernafas manusia adalah:
- Dewasa : 12-20 kali/menit (20)
- Anak-anak : 15-30 kali/menit (30)
- Bayi baru lahir : 30-50 kali/menit (40)
- Pada orang dewasa abnormal bila pernafasan > 30 atau <10
kali/menit.
b. Sesak nafas (dyspnoe)
Sesak nafas dapat terlihat atau mungkin juga tidak. Bila terlihat maka
mungkin akan ditemukan:
- Penderita mengeluh sesak
- Bernafas cepat (tachypnoe)
- Pernafasan cuping hidung
- Pemakaian otot pernafasan (tulang iga / costa) tambahan:
- Mungkin ditemukan sianosis (adanya kebiruan)
C. Pemeriksaan fisik
- Inspeksi (melihat)
Rate, ritme dan bentuk pernafasan. Juga diperiksa peranjakan paru,
apakah simetris atau tidak dan adanya tanda dispnu (sesak).
- Mendengar adakah suara nafas yang terdengar
- Meraba bagian dada apakah ada pergerakan atau peranjakan dada
2. Pemberian oksigen
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 9
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Pemberian oksigen selalu diperlukan bila keadaan penderita buruk.
Indikasi pemberian oksigen adalah antara lain :
- Pada saat resusitasi jantung paru (RJP)
- Setiap penderita trauma berat
Konsentrasi Oksigen menurut cara pemberian:
Udara Bebas 21%
Kanul hidung dengan O2 2 liter/menit (LPM) 24%
Kanul hidung dengan O2 6LPM 44%
Face Mask (rebreathing, 6-10 LPM) 35-60%
Non rebreading mask (8-12 LPM) 80-90%
Tabel 1
Pengelolaan breathing (pernafasan)
Penderita dengan nafas tidak adekuat (tidak cukup) dan henti nafas.
Telah dijabarkan diatas bahrwa bila penderita tidak sadar belum tentu
henti nafas dan henti jantung, oleh karena itu penting untuk memeriksa
pernafasan dengan meimbuka jalan nafas dengan maneuver yang tepat.
Sambil mempertahankan jalan nafas terbuka, lihat, dengarkan, dan
rasakan (raba) adanya nafas, atau tidak. Bila anda memeriksa penderita
selama 10 detik dan mendapati penderita tidak bernafas berikan nafas
bantuan 2 kali.
Pemberian pernafasan Bantuan (Resaue Breaths)
Berikan 2 kali nafas bantuan, tiap satu kali
nafas lebih dari satu detik, dengan volume yang
cukup sampai terlihat dada mengembang (naik).
Rekomendasi untuk durasi satu (1) detik untuk
membuat dada mengembang (naik) ini harus
dilakukan untuk semua bentuk dalam pemberian
ventilasi yaitu pemberian ventilasi selama tindakan RJP (CPR), dan juga
termasuk vantilasi
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 10
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
- Setiap nyeri dada
- Gangguan paru seperti asthma.
- Gangguan jantung seperti decompensatio cordis, dan sebagainya.
Pemberian oksigen tidak perlu disertai alat pelembab (humidifier)
karena pemberian singkat
Pengelolaan Breathing (Pernafasan) Penderita Masih Bernafas
Cara pemberian oksigen dapat dengan :
a. Kanul hidung (Nasal Canule)
Kanul hidung lebih dapat ditolerir oleh anak-anak, face mask akan
ditolak, karena merasa "dicekik". Orang dewasa juga kadang-
kadang menolak face mask karena dianggap "mencekik".
Kekurangan kanul hidung adalah dalam konsentrasi oksigen yang
dihasilkan (tabel 1).
Pemberian Oksigen melalui kanul tidak bisa lebih dari 6 liter/menit
karena tidak berguna untuk meningkatkan konsentrasi oksigen dan
iritasi untuk penderita.
b. Face Mask (Rebreathing Mask) Masker dengan lubang pada
sisinya.
Pemakalan face mask dalam pemberian oksigen lebih baik
dibandingkan kanul hidung, karena konsentrasi oksigen yang
dihasilkan lebih tinggi (tabel 1).
c. Non Rebreathing Mask
Pada face mask dipasang reservoir oksigen yang mempunyai katup.
Bila diinginkan konsentrasi oksigen yang tinggi, maka non-
rebreading mask paling baik (tabel 1).
Mulut ke Mulut, Ventilasi Bag-Mask dan ventilasi melalul Airway Definitive
(Jalan nafas tingkat lanjut) baik dengan maupun tanpa oksigen.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 11
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Tujuan dari ventilasi adalah untuk mempertahankan oksigenisasi
yang adekuat (cukup).
Berikut adalah rekomendasi umum yang dibuat;
1. Penolong tidak boleh memberikan Hyperventilasi (terlalu banyak
bantuan nafas atau terialu dalam (besar) dalam pemberian
volumenya).
2. Hindari pemberian tiupan yang terlalu besar atau terlalu kuat.
Tiupan diatas atau bantuan nafas tersebut tidak diperlukan dan
dapat menyebabkan distensi lambung sehingga terjadi komplikasi.
Berikut merupakan panduan yang memberikan rekomendasi sederhana
untuk pemberian pernafasan bantuan selama henti jantung;
• Berikan nafas bantuan lebih dari 1 detik
• Berikan jumlah (tidal volume) yang cukup (dengan pernafasan
mulut -mulut, atau bag mask, dengan atau tanpa tambahan oksigen)
sebagai parameternya dada mengembang atau naik.
• Hindari pernafasan yang terlalu kuat dan dalam.
Pernafasan Mulut ke Mulut
Bantuan pernafasan melalui mulut - mulut
memberikan oksigen dan ventilasi kepada penderita.
Caranya buka jalan nafas penderita, jepit hidung
penderita, buatlah tutup rapat mulut penderita
dengan mulut anda dengan rapat, berikan tiupan
diatas 1 detik.
Penyebab sulitnya
pemberian ventilasi adalah jalan nafas yang
terbuka tidak sempurna. Jadi jika dada penderita
tidak mengembang/ naik dengan nafas bantuan
yang pertama, buka jalan nafas dengan manuver
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 12
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
head tilt chin lift dan berikan nafas bantuan kedua.
III. CIRCULATION
Jantung, Paru-paru, dan Otak bekerjasama untuk mempertahankan
kehidupan. Fungsi dari ketiganya saling ketergantungan. Bila salah satu
mengalami gangguan dua organ lainnya akan mengalami gangguan pula.
Bila salah satu organ tersebut mengalami kegagalan fungsi, maka kedua
organ lainnya akan mengalami hal yang sama segera.
Saat Jantung berhenti berdenyut
Kematian klinis terjadi pada penderita dalam henti nafas dan Henti
Jantung.
RJP segera dilakukan untuk mengembalikan keadaan penderita tanpa
kerusakan. Kematian klinis terjadi selama 4-6 menit, sel otak mulal
mengalami kematian. Setelah 8-10 menit tanpa denyut nadi, kerusakan
yang irreversible terjadi pada otak.
Ingat!"
Bila penderita henti Nafas Belum tentu Henti Jantung
Bila Penderita Henti Jantung secara otomatis Penderita mengalami
Henti Nafas Lakukan RJP Segera !
Banyak alasan kenapa jantung dapat berhenti, dapat disebabkan
oleh penyakit jantung, kejang, stroke, reaksi alergi, diabetes dan penyakit
lainya. Jantung juga dapat berhenti karena cedera yang berat. Pada bayi
masalah pernafasan yang berat dapat menyebabkan henti nafas – henti
Jantung. Kesemuanya berakhir pada satu hasil akhir yakni kegagalan
oksigenisasi sel, terutama otak dan Jantung.
Penentuan denyut nadi
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 13
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Pada orang dewasa dan anak-anak denyut
nadi diraba pada a.karotis, yakni medial
arteri m.sterno-kleidomastoideus/ dekat
dengan jakun atau adam's apple.
Pada bayi meraba denyut nadi adalah pada
a.brachialis, yakni pada sisi medial lengan
atas.
1. Resusitasi Jantung Paru
American Heart Association menggunakan 5 Akses rantai penyelamatan
untuk menggambarkan bahwa waktu merupakan hal yang sangat penting
dalam penyelamatan. Tiga dari 5 rantai ini juga relevan untuk penderita
dengan henti nafas henti jantung. Rantai penyelamatan sebagal berikut:
• Cepat menghubungi Bantuan
• Cepat melakukan RJP. RJP segera dapat memberikan kesempatan
dua atau tiga kali lipat penderita dengan VF SCA selamat.
• Cepat melakukan Defibrilasi : RJP dan Defibrilasi pada penderita
dapat meningkatkan tingkat penyelamatan 45% - 75%
• Cepat membawa korban
• Cepat memberikan Bantuan Hidup Lanjut
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 14
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Anda dapat mengetahui penderita membutuhkan tindakan RJP dengan
memastikan penderíta tidak sadar, tidak bernafas, dan nadi tidak berdeyut.
Kompresi dada berhasil karena menekan jantung diantara sternum /
tulang dada dan tulang belakang yang miemaksa darah keluar. Bukti
terbaru mengindikasikan bahwa mereka menghasilkan perubahan
tekanan didalam rongga dada. Tekanan ini yang bertanggung jawab untuk
meningkatkan sirkulasi ke seluruh tubuh.
RJP (CPR) harus dimulai segera mungkin dan dilakukan terus menerus
sampai:
• Petugas kelelahan
• Penderita telah diserahterimakan pada petugas kesehatan lain atau
petugas Rumah Sakit.
• Penderita sedang diresusitasi.
• Penderita telah dinyatakan meninggal oleh pihak yang berwenang
(dokter)
Tahapan RJP (CPR)
Langkah - langkah dari bantuan hidup dasar merupakan serangkaian dari
penilaian dan tindakan yang bertahap yang digambarkan pada algorithme
BHD. Tujuan dari gambaran algorithme adalah untuk menghadirkan
langkah - langkah secara logika dan mudah untuk dilakukan,
Sebelum mendekati penderita, penolong harus memastikan
TKP aman
Cek Kesadaran
Setelah penolong memastikan tempat kejadian aman, penolong
harus memeriksa kesadaran penderita. Caranya dengan memanggil
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 15
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
sambil menepuk pundak penderita dan tanyakan "Apakah anda balk-balk
saja?". Jika penderita masih berespon tetapi terluka atau membutuhkan
bantuan medis segera menghubungi nomer darurat? Atau SPGDT lokal,
kemudian kembali lagi segera dan periksa kembali penderita
Aktifkan SPGDT (EMS)
Jika penolong menemukan penderita dalam keadaan tidak sadar
(contoh tidak ada pergerakan atau respon saat dirangsang), penolong
harus segera menghubungi nomer darurat dan kembali lagi kermudian
lakukan RJP dan Defibrilasi jika perlu. Saat dua penolong atau lebih
datang, satu penolong harus memulai tahapan RJP sementara satu
penolong yang lain dapat menghubungi SPGDT/ Minta bantuan.
Pemeriksaan Nadi
Petugas harus memeriksa nadi dan pernafasan secara bersamaan tidak
boleh lebih dari 10 detik (10 detik), jlka tidak teraba dan nafas tdk
terdeteksi petugas harus memulai dengan kompresi dada.
Buka Jalan Nafas (Airway) dan Periksa Pernafasan (Breathing)
Untuk persiapan RJP, letakkan penderita pada posisi terlentang.
Jika penderita dalam posisi telungkup ubah posisi penderita pada posisi
terlentang. Buka jalan nafas dengan manuver Head Tilt Chin Lift bila tidak
ada trauma kepala atau leher.
Bila petugas mencurigai adanya trauma servikal, buka jalan nafas
dengan manuver jaw thrust tanpa ekstensi kepala. Karena menjaga
patensi jalan nafas dan memberikan ventilasi
yang adekuat merupakan prioritas dalam RJP
(CPR).
Periksa Pernafasan (Breathing)
Sambil mempertahankan jalan nafas terbuka,
lihat adanya nafas atau tidak dengan cara:
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 16
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
1. Lihat : apakah ada pergerakan dadanya;
2. Dengar: apakah ada suara nafasnya;
3. Rasakan: apakah ada hembusan nafasnya
Bila anda merndapati penderita tidak bernafas berikan nafas bantuan 2
kali.
Pemberian pernafasan Bantuan (Rescue Breaths) Berikan 2 (dua) kali
nafas bantuan, tiap satu kali nafas lebih dari satu detik, dengan volume
yang cukup sampai terlihat dada mengembang (naik).
Selama tindakan RJP tujuan dari ventilasi adalah untuk mempertahankan
oksigenisasi yang adekuat (cukup). Berikut adalah rekomendasi umum
yang dibuat:
1. Dalam menit pertama penderita dengan VF SCA (gangguan irama
jantung), bantuan nafas mungkin tidak begitu penting dibandingkan
dengan kompresi dada, karena level oksigen dalam darah masih
tinggi dalam beberapa menit setelah henti jantung. Pada henti
jantung awal, pemberian oksigen myocardial dan cerebral (otak)
lebih dibatasi oleh aliran darah cardiac output daripada kurangnya
oksigen dalam darah. Selama RJP (CPR) aliran darah dibuat oleh
kompresi dada. Penolong harus melakukan kompresi dada dengan
efektif dan meminimalkan penghentian (interupsi) pada kompresi
dada.
2. Ventilasi dan Kompresi, keduanya sangat penting untuk penderita
dengan VF SCA yang lama, (prolonged VF SCA), saat oksigen
pada darah digunakan.
Bantuan Pernafasan tanpa Kompresi Dada
Jika pendenita orang dewasa dengan nadi teraba hanya
membutuhkan ventilasl tambahan. Berikan bantuan nafas pada tempo 10
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 17
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
- 12 kali per menit atau t1 tiupan tiap 5-6 detik. Tiap tiupan/satu kali nafas
bantuan harus diberikan lebih dari satu detik walaupun telah terpasang
airway definitive. Tiap tiupan atau bantuan ventilasi harus dapat
menyebabkan dada mengembang / naik. Selama pemberian permafasan
bantuan, nilai kembali nadi tiap 2 menit tetapi saat pengecekan ulang nadi
tidak boleh lebih dari 10 detik.
Kompresi Dada
Kompresi dada terdiri dari
tindakan penekanan dada (kompresi
dada) di bagian bawah pada
pertengahan sternum / tulang dada
(tulang dada) secara teratur (rhythmic).
Kompresi ini menghasilkan aliran
darah dengan meningkatkan tekanan
intra thoraks dan langsung menekan
jantung. Walaupun kompresi dada
yang dilakukan secara tepat dan baik
dapat memaksimalkan tekanan systolic arterial 60 – 80 mmHg, dan
tekanan diastolic rendah dan tekanan rata - rata pada artery carotis jarang
melebihi 40 mmHg.
Aliran darah dialirkan oleh kompresi dada yang memberikan jumlah
oksigen yang sedikit dan dialirkan ke otak dan myocard (otot Jantung).
Pada korban dengan henti jantung, kompresi dada meningkatkan angka
keberhasilan. (sama seperti pemberian defribilasi). Kompresi dada sangat
penting jika kejut listrik (shock) pertama diberikan 2 4 menit setelah
penderita jatuh tidak sadar. Penelitian tentang kompresi dada ini
dihasilkan dari penelitian consensus 2005 yang menyimpulkan bahwa:
1. Kompresi dada yang "efektif" sangat penting dalam mmenyediakan
aliran darah selama RJP (CPR).
Untuk memberikan kompresi dada yang "etektif", tekan dengan
keras dan cepat" tekan dada pencerita pada kecepatan/ tempo :
100 - 120 x/menit, dengan kedalaman sampai 2 incci (15 cm), yang
membuat dada kembali pada saat ekspirasi setelah kompresi dada
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 18
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
dilakukan, dan membuat waktu kompresi dan relaksasi sama /
seimbang. Dengan melakukan kompresi dada yang efektif dapat
mengumpulkan darah ke dalam jantung secara maksimal sehingga
saat dilakukan kompresi aliran darah ke seluruh tubuh akan
maksimal.
2. Minimalkan penghentian (interupsi) pada kompresi dada.
Teknik
Untuk memaksimalkan keefektifan
kompresi dada adalah:
1) Dengan meletakan penderita
pada posisi terlentang pada
alas yang keras, (contah :
diletakan diatas papan keras
(back board) atau lantai)
2) Penolong berlutut disamping penderita sejajar dengan thoraks/dada
penderita.
3) Penolong harus menekan pada pertengahan bagian bawah
sternum / tulang dada penderita diantara puting susu.
4) Letakkan tumit tangan diatas sternum / tulang dada pada bagian
tengah dan letakan tangan kedua diatasnya.
5) Tekan sternum / tulang dada ±2
inci (+ 5 cm) dan kemudian
biarkan dada kembali pada
posisi normal. Dada yang
kembali pada posisi semula
membuat aliran darah dari vena
balik ke jantung,merupakan hal
yang penting untuk RJP (CPR)
dan harus ditekankan pada pelatihan.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 19
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Catatan :
• AHA merekomendasikan bahwa penderita tidak boleh dipindahkan
pada saat RJP sedang dilakukan kecuali penderita pada tempat
yang berbahaya atau penderita sangat membutuhkan dilakukan
tindakan surgical. RJP (CPR) lebih baik dliakukan dengan
penghentian (dalam kompresi dada) lebih sedikit saat dilakukan
resusitasi dimana saat penderita ditemukan.
• Penelitian pada boneka dan binatang menunjukan bahwa pada
saat kompresi yang merupakan bagian dari siklus menunjukan
bahwa 20% - 50% meningkatkan perfusi otak dan coranaria saat
tempo / kecepatan kompresi ditingkatkan menjadi 130 - 150
kompresi permenit.
• Tempo (rate) kompresi mengacu pada kecepatan kompresi bukan
jumlah dari kompresi yang dilakukan permenit.
AED (Automatic Ekternal Defibrilasi)
a. Alat ini merupakan alat bantu dalam memfungsikan kembali jantung
pada pasien dengan kasus kasus serangan jantung. Alat ini
memang dibuat untuk orang awam dan diletakan pada tempat
publik seperti supermarket, bandara dan lain lain. Terdesign ringan
dan mudah dibawa. Alat ini untuk mendeteksi apakah korban atau
pasien tsb perlu diberikan kejut jantung atau tidak.
b. Kriteria Gambaran irama jantung yang dapat dihantarkan arus listrik
adalan gambar VF (FIbrilasi Ventrikel) dimana gambarannya seperti
rumput atau benang yang kusut.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 20
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Gambar. Irama VF
Dengan diberikan kejut listrik diharapkan irama jantung pasien
dapat kembali normal. Ingat AED dapat meningkatkan survival rate
lebih tinggi pada pasien dengan serangan jantung.
Gambar irama jantung normal dan terdapat denyut nadi normal
c. Pada prinsipnya AED merupakan alat yang memberikan instruksi
kepada penolong untuk tindakan pemberlan kejut listrik.
d. Langkah- langkah penggunaan AED
1. Nyalakan alat AED
2. Pasang Pad
3. Jangan sentuh pasien saat akan menganalisa irama jantung
pasien. (ikuti instruksi)
4. Setelah teranalisa gambaran irama jantung dan diberikan
rekomendasi untuk kejut listrik maka penolong harus
menekan tombol kejut listrik.
5. Setelah itu ikuti instruksi selanjutnya.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 21
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Gambar penggunaan AED
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan AED
▪ Bila dada dalam keadaan basah harus dikeringkan, karena pad
tidak akan efektif dalam keadaan basah
▪ Bila dada terdapat bulu, harus dicukur/ dibersihkan agar pad AED
dapat membaca irama jantung pasien
▪ Jangan menyentuh korban saat AED menilai / menganalisa irama
jantung pasien karena bisa jadi yang terekam irama jantungnya
adalah irama jantung penolong.
▪ Jangan menyentuh korban saat energi listrik dihantarkan alat AED
tersebut karena dapat menghentikan irama jantung bagi orang
yang menyentuh korban tersebut.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 22
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
BAB II
lnitial Asessment, (Penilaian Awal)
PENILAIAN PENDERITA
A. Pendahuluan
Banyak slstem EMS/SPGDT menggunakan slstem pendekatan
dengan menggunakan penilaian untuk Memberikan perawatan kepada
pasien. Hal Inl berart responder dilatih untuk mengenali, memprioritaskan,
dan merawat tanda-tanda dan gejala yang lebih banyak diternukan.
Mereka.tidak akan mencoba untuk mendiagnosls pasien berdasarkan
masalah pasien yang spesifik. Contohnya, seorang petugas first
responder harus berusaha memastikan agar pasien dengan kesulitan
bernapas untuk mendapatkan jab" napas yang bebas dan tambahan
oksigen. Dia tidak akan membuang waktu untuk mencari tahu dasar
permasalahan dari kesulitan pasien tersebut. Begitu semua masalah
yang mengancam nyawa telah diselesaikan, seorang petugas first
responder aman melakukan penilaian yang lebih seksama terhadap
pasien tersebut, untuk mengenali geiala dan tanda-tanda yang tidak
begitu ielas, dan untuk mengumpulkan riwayat medis pasien.
B. KEAMANAN LOKASI KEJADIAN
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 23
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Bagian-bagian dari penilaian pasien dan urutan di mana mereka
dikerjakan dapat berbeda beda untuk tiap pasien dengan masalah yang
berbeda pula. Tetapi, sebelum anda mempelajari bagian-bagian tersebut,
anda harus mempertimbangkan masalah yang berhubungan dengan
keamanan lokasi keiadian.
Kondisi yang aman dalam suatu lokasi kejadian akan memastikan
bahwa seorang penolong untuk meraih dan memberikan perawatan
kepada pasien dengan aman. Suatu lokasi kejadian yang tidak aman
adalah tempat yang memberikan bahaya baik secara langsung atau yang
merupakan suatu potensi bahaya. Contohnya, pada suatu lokasi
kecelakaan mobil, biasanya anda dapat menemukan kendaraan atau
barang-barang yang dapat bergerak atau berpindah posisi (mobii yang
terbalik dan kaca yang pecah merupakan bahaya langsung). Selain itu,
api dapat keluar dari bahan bakar dan cairan lain yang bocor dan
meningkatkan bahaya yang menyebabkan lokasi menjadi tidak aman. Hal
ini merupakan contoh dari potensi bahaya.
C. KOMPONEN PENILAIAN
Untuk hampir semua pasien, penilaian seorang petugas first
responder harus dimulai seperti di bawah ini:
1. Lakukan pemeriksaan umum lokasi kejadian sehingga anda dapat
memastikan keamanan diri anda dan keamanan pasien.
2. Lakukan penilaian awal untuk mengenali dan merawat hal-hal yang
secara langsung mengancam nyawa,agar dapat memberikan
tindakan yang dapat menyelamatkan nyawa pasien tersebut.
Prosedur penilaian awal adalah suatu rangkaian prosedur yang dilakukan
untuk mendeteksi dan memperbaiki masalah yang mengancam nyawa.
Komponen lainnya dari penilaian pasien dapat sedikit berubah dengan
setiap ienis pasien: pasien dengan penyakit responsif dan tidak responsif,
dan pasien trauma dengan mekanisme cedera yang signifikan dan tanpa
mekanisme cedera yang signifikan.
Terkadang, jenis pasien yang anda rawat tidah dapat
diklasifikasikan dengan ielas. Contohnya, seorang pasien yang mengalami
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 24
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
kondisi medis dapat iatuh dan melukai dirinya sendiri, atau suatu kondisi
medis dapat menyebabkan kecelakaan mobil. Penilaian pasien anda
dapat memasukkan bagian-bagian dari kegawatdaruratan medis dan
trauma. Yang menjadi pedoman anda adalah masalah pasien yang lebih
serius.
C.1 Pasien medis
Untuk pasien medis yang sadar, anda akan :
1. Menilai lokasi kejadian. Masuk hanya jika kondisi aman.
2. Melakukan penilaian awal. Rawat kondisi yang mengancam nyawa
terleblh dahulu.
3. Melakukan anamnesis (tanya lawab / pengkalian) dan pemeriksaan
fisik berdasarkan keluhan utama pasien. Ukurlah tanda vital dasar.
4. Lakukan penilaian berkelanjutan sesering mungkin, tergantung darl
kondisi pasien.
Pasien Medis dalam kondisi sadar lakukan :
• Lakukan penilaian lokasi kejadian dan penilaian awal.
• Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah
berdasarkan keluhan utama pasien.
• Ukur tanda vital dasar.
• Lakukan pemeriksaan fisik yang lengkap sesuai dengan
kebutuhan. Lakukan penilaian berkelaniutan, ten'nasuk
memeriksa ulang tanda vital pasien untuk mengetahui
perubahan kondisi pasien.
Untuk pasien medis yang tidak sadar, anda akan :
1. Menilai lokasi keiadian. Masuk hanya iika kondisi aman. Jika tidak,
kirim permintaan untuk bantuan tambahan.
2. Lakukan penilaian awal. Rawat kondisi yang mengancam nyawa
tedebih dahulu.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 25
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
3. Lakukan pemeriksaan fisik dengan cepat untuk mencari tanda-
tanda penyakit. Ukur tanda vital dasar.
4. Lakukan penilaian berkelanjutan sesering mungkin, tergantung dari
kondisi pasien.
Untuk pasien medis yang tidak sadar anda akan:
• Lakukan penilaian lokasi keiadian dan penilaian awal.
Rawat kondisi yang mengancam nyawa terlebih
dahulu.
• Lakukan pemeriksaan fisik dengan cepat untuk
mencari tanda-tanda penyakit.
• Ukur tanda vital dasar.
• Coba untuk bertanya kepada keluarga pasien atau
orang di sekitar lokasi untuk menentukan keluhan
utama pasien dan sifat dari penyakit.
• Lakukan pemeriksaan fisik yang |engkap sesuai
kebutuhan.
• Lakukan penilaian berkelaniutan termasuk tanda vital
untuk mengetahui perubahan kondisi pasien.
C. 2 Pasien trauma
Untuk pasien trauma tanpa mekanisme cedera yang signifikan, anda akan
1. Lakukan penilaian lokasi.
2. Lakukan penilaian awal.
3. Periksa pasien berdasarkan keluhannya. Lakukan
anamnesls/pengkajian (tanya lawab), ukur tanda vital dasar, dan
lakukan pemeriksaan flslk yang Iengkap sesual dengan kebutuhan..
4. Lakukan penilaian berkelanjutan seserlng mungkln, tergantung darl
kondlsl pasien.
Pasien Trauma:
• Lakukan penilaian Iokasl dari penilaian awal. Llhat 26
sekitar lokasl untuk menentukan mekanisme cedera.
• Lakukan pemeriksaan flslk berdasarkan keluhan utama
pasien.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
• Ukur tanda vital dasar.
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
• Lakukan pemeriksaan fisik secara lengkap sesual
dengan kebutuhan.
• Lakukan penilaian berkelanjutan, termasuk pengukuran
ulang tanda vital untuk mengetahui perubahan kondlsi
pasien.
Untuk pasien trauma dengan mekanisme cedera yang signifikan, anda
akan :
1. Menilai Iokasi. Tentukan mekanisme cedera. Masuk hanya jika
kondisi aman.
2. Melakukan penilaian awal. Amankan kepala dan leher pasien
secara manual. Pada saat yang sama, periksa jika ialan napas
bebas, pernapasan adekuat, dan adanya pendarahan serius,
lakukan anamnesis.
3. Lakukan pemeriksaan fisik cepat untuk mendeteksi adanya cedera
yang serius. Ukur tanda vital dasar. Lakukan pemeriksaan fisik
yang lengkap.
4. Lakukan penilaian berkelanjut
Pasien trauma dengan mekanisme cedera yang signifikan :
• Lakukan penilaian trauma secara cepat untuk mencari
cedera serius. Pada saat yang bersamaan, mulailah
bertanya kepada keluarga dan orang sekitar mengenai
keiadian. .
• Ukur tanda vital dasar.
• Lakukan pemeriksaan fisik yang lengkap iika waktu
memungkinkan.
• Lakukan peniiaian berkelanjutan, termasuk pemeriksaan
tanda vital ulang untuk
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 27
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
D. PERAWATAN BERDASARKAN PENILAIAN
PERTAMA > Pemeriksaan pasien biasanya terdiri dari tujuh komponen.
Walaupun hanya beberapa bagian yang berpengaruh terhadap seorang
petugas first responder, anda harus mengenali semua bagian tersebut
sehingga anda dapat berkomunikasi dengan personel EMS lainnya
dengan baik. Tuiuh komponen itu adalah :
• Penilaian Iokasi. Komponen ini adalah tinjauan dari lokasi keiadian
untuk mengenali bahaya yang ada dan potensi bahaya lainnya.
• Penilaian awal. Bagian ini ada!ah suatu penilaian cepat mengenai
ABC pasien untuk mengena“ dan memperbaiki masalah yang
mengancam nyawa.
• Anamnesis/ pengkaiian (tanya iawab) dan pemeriksaan flslk yang
terarah atau penilaiantrauma cepat.
➢ Pasien trauma. Untuk paslen dengan cedera, bagian lnl
adalah pemerlksaan fisik yang berdasarkan informasl darl
pasien dan mekanisme cedera. Tanda vital diukur dan jika
memungkinkan, anamnesis darl pasien, keluarga, dan orang
sekitar dilakukan.
➢ Pasien medis. Untuk paslen yang sakit, bagian inl terdirl darl
anamnesis, pemeriksaan fisik yang diperlukan, dan tanda
vital.
➢ Pemeriksaan fisik yang lengkap. Jika waktu dan kondisi
pasien mengizinkan, pemeriksaan yang lengkap dari kepala
hingga ujung kaki diperlukan untuk semua Pasien
➢ Pemeriksaan berkelanjutan. Memonitor pasien untuk
mengenali perubahan dalam kondisinya, termasuk dalam
komponen ini adalah pengulangan dari penilaian awal
(biasanya dilakukan selama perjalanan menuju rumah sakit),
memperbaiki masalah yang mengancam nyawa, mengulangi
pengukuran tanda vital, dan mengevaluasi dan memperbaiki
tindakan yang sudah dilakukan, seperti memperbaiki posisi
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 28
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
pasien atau meningkatkan oksigen tambahan. Anda akan
melihat bahwa kondisi pasien akan membaik, tetap sama,
atau memburuk.
➢ Komunikasi. Informasi pasien diberikan kepada penyedia
perawatan yang lebih tinggi yang akan mengambil alih
perawatan pasien.
➢ Dokumentasi. Semua laporan dan formulir diisi dengan
lengkap dan akurat.
D.1 Penilaian lokasi kejadian
Keamanan adalah tujuan utama dari penilaian lokasi kejadian. Penilaian
lokasi kejadian dimulai dari mengumpulkan informasi dari pengirim
sebelum anda tiba di lokasi keajadian. Selama perjalanan, bayangkan
deskripsi mengenai lokasi kejadian dari pengirim. Pikirkanlah jenis-jenis
cedera dan bahaya yang dapat anda temui pada lokasi tersebut, atau
tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada pasien dalam kondisi
kegawatdaruratan tersebut.
PERTAMA > Begitu anda tiba di lokasi kejadian, pakai APD lengkap dan
pastikan lokasi kejadian aman untuk dimasuki. Setelah lokasi sudah aman
untuk dimasuki, tetaplah berjaga jaga dan lanjutkan evaluasi keamanan
lokasi. Berikutnya, carilah mekanisme cedera pada panggilan untuk
pasien. Kenalilah sifat dari penyakit pada kegawatdaruratan medis.
Perhatikan jumlah pasien yang ada, dan antisipasi kebutuhan tambahan
yang diperlukan.
Untuk mengulang kembali, setiap penilaian pasien dimulai dengan
penilaian lokasi kejadian yang termasuk:
• MemakaiAPD lengkap.
• Tentukan jika lokasi kejadian sudah aman untuk diri anda,
penolong lain, pasien, dan orang di sekitarnya.
• Tentukan mekanisme cedera dan sifat penyakit.
• Tentukan jumlah pasien.
• Tentukan kebutuhan tambahan yang diperlukan.
MELAKUKAN PENCEGAHAN ISOLASI ZAT TUBUH
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 29
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Selalu lakukan pencegahan lsolasl zat tubuh pada saat menilai dan
merawat pasien] Pakai APD lengkap. Pallng tidak, gunakanlah sarung
tangan sekall pakal. Gunakan pelindung mata, dan perlengkapan proteksl
dirl tambahan lainnya yang dlbutuhkan, tergantung dari masalah pasien.
lngatlah, pencegahan isolasi zat tubuh berfungsl untuk melindungi anda
dan pasien anda, sehingga lakukanlah pencegahan sebelum anda
melakukan kontak dengan pasien.
Penilaian lokasi keiadian
Begitu anda mendekati pasien trauma:
• Pakai APD Lengkap/ Lakukan pencegahan isolasi zat tubuh yang
sesuai.
• Tentukan iika lokasi sudah aman untuk diri anda, pasien, dan orang
di sekitar. Kenali dan evaluasi mekanisme cedera.
• Tentukan jumlah pasien yang ada.
• Tentukan iika ada kebutuhan tambahan, seperti ambulans,
pemadam kebakaran, penegak hukum, helikopter, atau perusahaan
lainnya.
• Pertimbangkan kebutuhan untuk imobilisasi tulang belakang.
Begitu anda mendekati pasien dengan kondisi medis:
• Lakukan pencegahan isolasi zat tubuh yang sesuai.
• Tentukan iika lokasi sudah aman untuk diri anda, pasien, dan orang
di sekitar.
• Kenali dan evaluasi sifat dari penyakit.
• Tentukan jumlah pasien.
• Tentukan iika ada kebutuhan tambahan, seperti ambulans,
pemadam kebakaran, penegak hukum, helikopter, atau perusahaan
lainnya.
MEMASTIKAN KEAMANAN LOKASI KEJADIAN
Kesalahan yang berbahaya dan terkadang fatal adalah memasuki
lokasi kejadian yang tidak aman dan berbahaya. Janganlah anda
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 30
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
berasumsi iika lokasi kejadian tersebut aman. Gunakanlah waktu untuk
berhenti dan menilai dengan hati-hati lokasi keiadian untuk diri anda. Jika
lokasi tidak aman, jangan masuki lokasi tersebut. Contohnya, iika lokasi
memiliki potensi bahaya untuk kekerasan dan anda bukanlah petugas
penegak hukum, jangan masuki lokasi sampai ada petugas penegak
hukum yang mengatakan bahwa lokasi tersebut sudah aman. Jika ada
potensi bahaya yang berhubungan dengan zat-zat, jagalah jarak anda dari
lokasi. Jika tidak aman bagi anda untuk memasuki lokasi, anggota tim
yang lebih terlatih dan yang dilengkapi dengan peralatan untuk zat
berbahaya akan membawa pasien kepada anda setelah dibersihkan.
Contoh dari lokasi yang tidak aman adalah lokasi yang melibatkan
kecelakaan, pelapasan zat beracun, kekerasan atau kejahatan, senjata,
dan permukaan yang tidak aman. Carilah juga tanda-tanda gangguan
lokal, bahaya listrik, potensi kebakaran atau ledakan, dan anjing penjaga
dan binatang yang buas. Gunakanlah semua.panca indra anda untuk
mendeteksi lokasi yang tidak aman. Jagalah iarak anda dari lokasi untuk
memastikan keamanan anda dan orang Iain dari bahaya.
Sebagai peraturan penting yang harus diingat: janganlah
menambah korban di lokasi kejadian. Setiap tahun, banyak penolong yang
terluka dan bahkan terbunuh oleh kendaraan yang melewati lokasi
kejadlan. Dalam beberapa kasus, penolong tidak terlihat dan bahkan
terlalu dekat dengan lalu lintas. Untuk memastlkan keamanan di lokasi
keiadian, gunakanlah pencahayaan yang adekuat dan posisikan
kendaraan kegawatdaruratan anda di lokasi yang balk. Ingatlah iuga
bahwa kondisi cuaca, seperti jalan yang penuh es, harus menjadi
pertimbangan seorang penolong. Belajarlah untuk selalu menghubungkan
penemuan penilaian lokasi dengan keamanannya. Jika penilaian lokasi
anda baik, semakin baiklah kemampuan anda untuk mengenali dan
menanganl lokasi kejadian yang tidak aman.
D.2 MENGENALI MEKANISME CEDERA DAN SIFAT PENYAKIT
Selama penilaian lokasi kejadian, kenalilah mekanisme cedera
untuk pasien trauma dan sifat penyakit untuk pasien dengan kondisi medis.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 31
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
lnformasi dapat diperoleh dari pasien, keluarga, atau orang di sekitar
lokasi, dan dengan melihat lokasi untuk petuniuk-petunjuk.
Mekanisme cedera terdiri dari kombinasi beberapa gaya yang
menyebabkan cedera. Apakah pasien ini terjatuh? Adakah luka tusuk?
Apakah dia terlibat dalam tabrakan kendaraan? Contohnya, setir mobil
yang rusak dapat membantu anda untuk berpikir mengenai kemungkinan
cedera pada dada. Kaca depan mobil yang pecah dapat mengindikasikan
adanya cedera kepata. Pertimbangkanlah cedera tulang belakang pada
pasien yang teriatuh.
Mengenali sifat penyakit sama dengan mengenali mekanisme
cedera. Dalam banyak contoh, sifat penyakit dapat berhubungan langsung
dengan keluhan utama pasien. Sifat penyakit yang umum adalah nyeri
dada, kesulitan bernapas, dan perubahan status mental. Lihat pasien dan
di mana dia merasakan adanya masalah. Apakah pasien terlihat seperti
dalam kesulitan yang berat? Apakan posisi tubuhnya menunjukkan di
mana dia merasakan nyeri atau tidak nyaman? Apakah ada obat atau
adakah perlengkapan oksigen rumah? Apakah anda merasakan adanya
bau, seperti bau muntah atau kencing? Walaupun mendiagnosis masalah
pasien dengan tepat adalah tidak perlu, sifat dari penyakit tersebut dapat
mengarahkan anda kepada perawatan yang sesuai.
Mekanisme cedera pada pasien trauma dan sifat penyakit pada
pasien dengan kondisi medis dapat membantu anda untuk memikirkan
komplikasi yang belum terjadi. Contohnya, iika pasien mengeluhkan nyeri
dada, pikirkanlah kemungkinan mengenai masalah jantung dan
kemungkinan henti jantung. Selalu bersiap sedia.
Penilaian mengenai mekanisme cedera dan sifat penyakit
membantu anda untuk mengenali masalah ayng mengancam nyawa dan
memberikan anda tinjauan umum mengenai kondisi pasien. Kemudian,
pada saat anda berada di sisi pasien, anda dapat menilai mekanisme
cedera dan sifat penyakit dengan Iebih seksama. Selalu siap sedia untuk
mengubah kesan umum anda mengenai kondisi pasien pada saat anda
mengumpulkan infomasi.
D.3 TENTUKAN JUMLAH PASIEN DAN KEBUTUHAN TAMBAHAN
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 32
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Bagian terakhlr dart penilaian lokasi keladlan adalah untuk
menentukan lumlah pasien dan menilai apakah anda sudah memlllkl
semua kebutuhan yang diperlukan untuk memenuhi panggilan.
Mempertlmbangkan semua pasien yang ada adalah sangat penting.
Berapa banyak orang di dalam kendaraan? Apakah ada orang yang pergi
dari lokasi kecelakaan? Apakah pasien terlempar keluar darl kendaraan?
Begitu anda yakin mengenai iumlah pasien yang ada pada saat
gawat darurat tersebut, anda harus menilai perlunya bantuan tambahan.
Lebih dari satu unit teknisi mungkin akan dibutuhkan untuk menangani
beberapa pasien. Bahkan, ada mungkin membutuhkan bantuan
tamabahan dalam menangani satu pasien saia. Anda mungkin akan
membutuhkan bantuan tambahan untuk mengangkat pasien yang berat
yang harus diturunkan melalui tangga. Anda mungkin akan membutuhkan
bantuan pemadam kebakaran untuk membebaskan pasien dari ieratan
atau untuk mengamankan lokasi tabrakan. Pasien iuga mungkin
membutuhkan bantuan transportasi udara untuk dipindahkan ke fasilitas
yang lebih spesialis seperti sentra trauma.
Bagian penting dari penilaian lokasi keiadian adalah mengenali
kebutuhan untuk bantuan tambahan dan memanggil mereka lebih cepat.
Jika anda malas untuk menelpon untuk mendapat bantuan, anda akan
meniadi terlalu terlibat dalam perawatan pasien sehingga akan melupakan
untuk memanggil sampai akhimya sudah terlambat.
D.4 TIBA DI SISI PASIEN
Pada saat anda tiba di sisi pasien, mulailah dengan
memperkenalkan diri anda walaupun pada awalnya pasien tampak tidak
responsif. Jika anda memakai seragam, seperti seragam polisi atau
pemadam kebakaran, hampir semua orang di sekitar dan pasien dapat
memperbolehkan anda untuk mengambil alih lokasi tanpa
mempertanyakan diri anda. Jika anda tidak memakai seragam,
memperkenalkan diri anda secara verbal adalah sangat penting untuk
memudahkan anda melakukan tugas anda. Hanya dengan mengatakan
nama anda dan kemudian sebutlah, "Saya seorang petugas first
responder dan saya telah terlatih untuk memberikan perawatan
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 33
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
kegawatdaruratan medis." Walaupun tidak banyak orang yang tahu
apakah petugas first responder itu, penyataan itu dapat memudahkan
anda untuk meraih paSIen dan bekeria sama dengan orang di sekitar
lokasi kejadian.
Pernyataan anda berikutnya seharusnya dikatakan kepada pasien:
"Bolehkah saya membantu anda?", dengan meniawab "Ya" pada
pertanyaan ini, pasien telah memberikan anda izin untuk memulai
penilaian dan perawatan. Pasien dapat juga tidak menjawab "Ya" pada
pertanyaan anda, tetapi tetap diam dan memperbolehkan anda untuk
memberikan perawatan. Pasien yang sadar dan tidak menolak perawatan
anda dapat dikatakan telah memberikan izin kepada anda.
D.4. a Penilaian Awal
Penilaian awal dibuat untuk membantu petugas flrst responder
untuk mendekteksi dan memperbalkl semua ancaman nyawa. Keadaan
yang mengancam nyawa biasanya berhubungan dengan ABC pasien, dan
setlap ditemukan, Iangsung diperbaiki. Penilaian awal dimulai begitu anda
dapat meralh pasien.
PERTAMA > Penilaian awal memilik! enam komponen, yaitu:
• Membuat kesan umum pasien tersebut.
• Menilai status mental pasien. Awalnya, ha! in! menentukan apakah
pasien ini responsif atau tidak responsif.
• Menilai jalan napas pasien.
• Menilai pemapasan pasien.
• Menilai sirkulasi pasien (nadi dan perdarahan).
• Membuat keputusan mengenai prioritas dan kepentingan pasien
untuk dipindahkan.
PERTAMA > Pada saat melakukan penilaian awal, anda akan melihat
masalah yang mengancam nyawa pada tiga wilayah penting, yaitu: '
• Airway (ialan napas). Apakah jalan napas pasien bebas? '
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 34
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
• Breathing (pemapasan). Apakah pasien bernapas dengan
adekuat?
• Circulation (sirkulasi). Apakah pasien memiliki nadi yang adekuat
untuk mensirkulasi darah? Apakah pasien kehilangan banyak darah
sebelum anda tiba?
Penilaian ini dan tindakan yang dilakukan dikenal dengan sebutan
perawatan kegawat daruratan ABC, yang merupakan singkatan dari:
A - Airway (jalan napas)
B - Breathing (pemapasan)
C - Circulation (sirkulasi)
Selama penilaian awal, jika masalah yang mengancam nyawa
terdeteksi, adalah sangat penting untuk memulai tindakan yang terfokus
pada perawatan ABC. Contohnya, seorang pasien trauma membutuhkan
stabilisasi kepala dan Ieher dan pada saat yang bersamaan, anda
membebaskan jalan napasnya, memberikan ventilasi, dan mengatur
pendarahan. Seorang pasien dengan kondisi medis mungkin
membutuhkan anda untuk menilai status mentalnya pada saat yang
bersamaan anda mengukur nadinya dan menilai pernapasannya.
Tindakan yang dilakukan di waktu yang bersamaan dapat terIihat sulit.
Sangat penting untuk anda untuk dapat menilai ABC pasien dan
bagaimana anda dapat memberikan perawatan berhubungan dengan
masalah yang mengancam nyawa.
D.4.b MEMBUAT KESAN UMUM PASIEN
Begitu anda mendekati pasien dan melakukan penilaian awal anda,
anda iuga akan membentuk kesan umum pasien dan lingkungannya.
Kesan umum anda adalah penHaian informal anda terhadap kondisi
umum pasien. Kesan umum membantu anda untuk menentukan deraiat
keseriusan kondisi pasien berdasarkan tingkatan kesulitan dan status
mental I tingkat kesadaran. Anda juga akan diberikan informasi oleh
pasien dan orang d! sekltar pada saat Inl, seperti mengapa slstem
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 35
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
FMS/SPGDT dipanggil. Dalam hamplr semua kasus, EMS dipanggil
berdasarkan dari keluhan utama pasien.
Petugas first responder selalu memberlkan kesan umum pada saat
mereka pertama melihat pasien, walaupun mereka tidak sengala
menyadarl hal lnl. Dengan melalui banyak pengalaman berhadapan
dengan pasien, anda akan membentuk suatu perasaan itu. Anda akan
melihat Ilka pasien tampak sangat saklt, pucat, atau slanotik (kulit
berwarna keblruan). Anda [uga akan melihat tanda tanda yang tidak blasa
seperti bau, suhu, dan kondisi hidup. Anda akan langsUng melihat cedera
yang serlus atau Jika pasien tampak stabll. Kesan yang terbentuk akan
member! arahan sebagaimana seriusnya penyakit atau cedera seorang
pasien.
Keputusan anda untuk memlnta pemlndahan pasien secara
Iangsung atau melaniutkan panilaian terhadap seorang pasien ditentukan
oleh kesan umum anda.
D.4.c PEMERIKSAAN STATUS MENTAL/TINGKAT KESADARAN
Penilaian anda dimulai dengan menentukan sebagaimana
responsifnya pasien tersebut. Jika anda tidak mencurigai adanya trauma,
terutama pada kasus cedera tulang belakang, periksalah tingkat responsif
pasien dengan menekan bahu pasien dan berteriak, "Apakah anda tidak
apa-apa?" Bicaralah dengan sedikit kencang untuk membangunkan
pasien jika dia hanya tertidur.
Tentukan tingkat status mental / tingkat kesadaran dengan
menggunakan skala AVPU, huruf-huruf tersebut adalah singkatan dari
alert (sadar penuh), verbal (sadar terhadap perkataan), painful (sadar
terhadap nyeri), dan unresponsive (tidak responsif).
A - Alert (sadar penuh). Pasien yang sadar penuh akan terbangun,
responsif, berorientasi, dan berbicara kepada anda.
V - Verbal (sadar terhadap perkataan). Pasien ini akan tampak tidak sadar
pada awalnya tetapi akan merespon terhadap kata-kata yang diucapkan
dengan lantang dari anda.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 36
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
P - Painful (sadar terhadap nyeri). Jika pasien tidak merespon terhadap
stimulus katakata, dia akan merespon kepada nyeri seperti nyeri pada
tulang dada iika ditekan atau dicubit pada bahunya. Hati-hati untuk tidak
melukai pasien pada saat memberikan stimulus nyeri. Jangan cubit
kulitnya dengan kuat-kuat. Jangan tusukkan benda tajam kepada pasien.
U - Unresponsive (tidak responsif). Jika pasien tidak merespon terhadap
stimulus perkataan atau nyeri, ia dikatakan tidak responsif.
Perhatikan iika kata verbal di sini tidak berarti pasien meniawab
pertanyaan atau memulai pembicaraan. Akan tetapi, pasien dapat
berbicara atau hanya mendengkur, mengeluh, atau berkata "huh", atau
hanya melihat anda sebagai respon terhadap stimulus verbal yang anda
berikan. Mungkin saja pasien mengalami kondisi medis seperti stroke atau
masalah yang berhubungan dengan trauma seperti cedera kepala. Salah
satu contoh ini dapat menyebabkan pasien untuk kehilangan
kemampuannya untuk berbicara. Dalam kasus yang iarang, suatu kondisi
yang sudah ada sebelumnya dapat membuat pasien tidak dapat berbicara
sebelum adanya kegawatdaruratan. Seringkali, pada saat kondisi tersebut
ada pada pasien, mereka hanya memiliki kartu identifikasi atau perhiasan
seperti gelang atau kalung. Periksalah dengan orang sekitar. Mereka
dapat mengetahui pasien tersebut dan dapat memberl tahu anda masalah
yang dimilikinya.
D4.d PENILAIAN JALAN NAPAS DAN PERNAPASAN
Jika pasien tidak sadar, stabilkan kepala dan lehemya dan gunakan
manuver Jaw thrust untuk memastikan ialan napas terbuka. Jika anda
tidak mencurlgai adanya cedera tulang belakang, posisikan pasien
dengan datar pada punggungnya dan diri anda pada sisi tubuhnya.
Gunakan manuver head-tllt, chin-h‘ft untuk membuka ialan napas. Ingatlah,
pada pasien dengan kecurigaan cedera tulang belakang, gunakan
manuver iaw-thrust.
Kemudian periksalah pemapasan pasien. Dengan ialan napas yang
terbuka, letakkan telinga anda di atas hidung dan mulut pasien, dan
perhatikanlah gerakan dada. Jika pasien tersebut bernapas, anda akan
mendengar dan merasakan adanya udara yang keluar pada telinga anda,
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 37
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
dan anda akan melihat gerakan dada yang naik dan turun pada setiap
pemapasan. Dengarkan kualitas suara pemapasannya. Apakah ada
suara-suara yang menuniukkan adanya sumbatan napas?
Menentukan status pemapasan semestinya tidak mengambil waktu
lebih dari 1o detik. Pasien tidak bernapas iika tidak ada gerakan dada,
walaupun anda dapat mendengar adanya suara dari mulut pasien.
Pemapasan yang tidak beraturan dikenal dengan sebutan pemapasan
atonal. Mereka biasanya teriadi sebelum kematian.
Jika pasien tidak bernapas dengan adekuat, anda harus memeriksa
adanya nadi. Tergantung dari apa yang anda temukan, anda perlu untuk
melakukan tindakan langsung untuk memperbaiki masalah tersebut.
D.4.e PENILAIAN SIRKULASI DARAH
Memerlksa nadi
Jika pasien tidak bernapas, periksalah nadi karotis pada leher untuk
menentukan Jika darah bersirkulasi. Nadi pada leher dianggap lebih dapat
dipercaya dibandingkan dengan nadi pada pergelangan tangan. Jika
pasien bernapaas, anda dapat memeriksa nadi pada karotis atau nadi
radial pada pergelangan tangan. Nadi radial pada pergelangan tangan
dapat tidak teraba jika pasien dalam keadaan syok. Jika anda memeriksa
nadi radial terlebih dahulu dan temyata tidak teraba, Ialu coba periksa nadi
karotis.
Untuk memeriksa nadi karotis, pertama Iokasikan tulang rawan
tiroid pasien (Adam's apple). Letakkan uiung iari telunjuk dan jari tengah
langsung di tengah tulang ini. Lalu, geserkan uiung iari pada sisi leher
yang terdekat dengan anda. Jangan geserkan ujung jari anda pada sisi
yang berlawanan karena hal ini dapat memberikan penekanan pada ialan
napas dan menutupnya. Jangan mencoba untuk merasakan nadi karotis
pada dua sisi leher pada saat yang bersamaan. Hal ini akan menganggu
aliran darah ke otak. Anda harus dapat mendeteksi nadi pada lekuk di
antara trakea dan otot yang besar di samping leher. Hanya gunakan
penekanan yang tidak terlalu besar di atasnya untuk merasakannya.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 38
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Rasakan nadl karotls selama 5 sampai 1o detik. Dengan banyak berlatih,
keterampilan lnl akan menladl sangat mudah.
Pemeriksaan untuk pendarahan serius
Langkah berikutnya dalam melakukan penilaian awal adalah untuk
memeriksa adanya pendarahan yang serius. Walaupun pendarahan
apapun yang tidak terkontrol akan mengancam nyawa, anda akan
ter'fokuskan pada pendarahan hebat pada saat penilaian awal. Darah
yang terlihat merah terang dan memuncrat mungkin keluar dari pembuluh
arteri.karena darah dari arteri memiliki tekanan yang tinggi, darah dalam
iumlah yang banyak dapat hilang dalam waktu singkat. Darah yang
mengalir tetapi terlihar lebih gelap merupakan darah yang mengalir dari
pembuluh darah vena. Walaupun pendarahannya lebih lambat,
pendarahan dari vena dapat mengancam nyawa iika pasien telah
berdarah daiam waktu yang iama. Lihat iumiah darah yang hilang di
permukaan tanah, pada pakaian, dan pada rambut. Pertimbangan anda
adalah iumlah total darah yang telah hilang, bukan hanya cepat atau
lambatnya pendarahan tersebut.
Penilaian sirkulasi darah dapat sedikit berubah pada saat anda
melihat adanya pendarahan hebat. Pada kasus ini, coba untuk tangani
pendaraha secepat mungkin setelah ditemukan. Lakukan apa yang ada
dapat Iakukan untuk menanganinya, namun iangan telantarkan penilaian
jalan napas dan pernapasan pasien.
CATATAN
Pada beberapa sistem EMS, pemeriksaan sirkulasi darah juga
memasukkan pemeriksaan pada kulit seperti warna, suhu, dan
kelembaban. Penemuan yang abnormal seperti; pucat, dingin,
kulit Iembab dapat menunjukkan masalah sirkulasi yang serius
seperti syok.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 39
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
D.4.f MENENTUKAN PRIORITAS PASIEN .
lnformasi yang anda berikan kepada pengirim dapat menentukan
prioritas pasien untuk transportasi. Pasien dengan prioritas tinggi harus
dipindahkan secepatnya dengan sedikit waktu yang terbuang di lokasi
kejadian. Kondisi dengan prioritas tinggi adalah kondisi seperti kesan
umum yang buruk, tidak responsif, kesulitan bernapas, pendarahan hebat
atau syok, kesulitan dalam melahirkan, nyeri dada, dan nyeri hebat
Iainnya.
D.4.g PERTIMBANGAN KHUSUS UNTUK ANAK-ANAK DAN BAYI
Penilaian anda terhadap seorang bayi atau anak berbeda dengan
penllalan anda terhadap orang dewasa dalam beberapa hal. Pentlng
untuk anda sadari bahwa anakanak bukanlan orang dewasa yang kecil.
Mereka bereaksl kepada penyaklt dan cedera dengan cara yang berbeda.
Contohnya:
• Bayi dan anak-anak biasanya pemalu dan tldak mempercayal
orang asing. Pada saat memeriksa status mental bayi yang
responsif, bicaralah kepadanya dan coba sentuh telapak kakinya.
Bayi atau anak yang responsif yang tidak memperhatikan anda
atau apa yang anda lakukan mungkin saja sedang sakit yang
serius.
• Membuka jalan napas bayi memerlukan anda untuk menggerakkan
kepala bayi ke posisi netral, tidak terlalu mengangkatnya ke
belakang seperti pada orang dewasa. Membuka jalan napas anak-
anak membutuhkan sedikit ekstensi kepala.
• Pernapasan dan frekuensi nadi pada anak-anak dan bayi adalah
Iebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa. Nadi yang diperiksa
pada bayi atau anak kecil adalah nadi brachial. Nadi ini dirasakan
pada pembuluh arteri brakhialis pada lengan atas, bukan pada
leher atau pergelangan tangan.
Tambahan dalam memeriksa sirkulasi darah anak-anak dan bayi
adalah pengisian kapiler. Pada saat ujung dari kuku seorang anak ditekan
dengan lembut, kuku akan berubah menjadi putih karena aliran darah
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 40
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
meniadi sempit. Pada saat tekanan dilepaskan, kuku kembali menjadi
berwama merah jambu, biasanya dalam waktu kurang dari dua detik. Hal
ini merupakan cara yang baik untuk menilai sirkulasi darah pada bayi dan
anak. Jika pengisian kapiler membutuhkan waktu Iebih dari dua detik
untuk kembali menjadi berwama merah jambu atau kuku tidak kembali
meniadi berwama merah jambu lagi, kemungkinan anak tersebut
mengalami masalah sirkulasi darah seperti syok atau kehilangan darah.
Jika kuku bayi terlalu kecil, anda mungkin harus melakukan penilaian yang
sama di atas kaki atau punggung tangan. Untuk menilai jumlah waktu
yang dibutuhkan untuk darah mengalir kembali, hitunglah, "satu-seribu,
dua-seribu," atau hanya dengan mengatakan, "pengisian kapiler."
Biasanya, jika seorang pasien dewasa mengalami masalah yang
serius, mereka memburuk secara perlahan. Perburukan ini biasanya dapat
dideteksi tepat pada waktunya sehingga tindakan dapat dilakukan. Akan
tetapi, pada anak-anak dan bayi, tubuh mereka dapat melakukan
kompensasi dengan baik sehingga iika ada masalah seperti kehilangan
darah, anak-anak dapat tampak stabil untuk beberapa waktu, dan
kemudian memburuk dengan tiba-tiba. Anak~anak dapat menjaga
tekanan darah yang dekat dengan nilai normal pada saat hampir setengah
dari iumlah darah mereka telah hilang. Karena alasan inilah tekanan darah
bukanlah merupakan penilaian yang baik untuk sirkulasi darah pada anak-
anak. Memeriksa pengisian kapiler merupakan pengukuran yang Iebih
dapat dipercaya.
Sangat penting untuk seorang petugas first responder untuk mengenali
keparahan penyakit atau cedera seorang anak secara dini, sebelum
terlambat.
D.4.h INFORMASI PUSAT KOMUNIKASI (DISPATCH)
Tergantung pada apa yang anda temukan pada lokasi kejadian,
temadang penting untuk memberitahu pusat komunikasi (Dispatch)dan
memberikan informasi
terbaru kepada mereka mengenal lokasi keladlan. Contohnya, anda akan
merasa perlu untuk memastikan lokasi, memlnta bantuan tambahan, dan
memastlkan lumlah pasien yang ada.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 41
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Informasi yang anda berikan kepada pusat komunlkasl akan
menentukan ienis dan tingkatan respons yang dikirimkan. Banyak pusat
komunlkasi (Dispatch)yang menggunakan sistem pengiriman
kegawatdaruratan medis atau pengiriman berdasarkan prioritas. Sistem ini
menentukan Jika pertolongan penyelamatan nyawa dasar atau laniutan
perlu dilakukan atau kombinasi darl keduanya. Sistem ini iuga
menentukan ienis respons yang digunakan, seperti "dingin" (kode 2) tanpa
Iampu atau sirine atau "panas" (kode 3) dengan Iampu atau sirine.
Jika anda telah menelpon untuk meminta bantuan tambahan
seperti ambulans atau helikopter, akan sangat membantu jika anda
memberikan informasi terbaru mengenai kondisi pasien. lnformasi baru
anda harus juga memberikan informasi mengenai status mental, usia,
ienis kelamin, keluhan utama, status ialan napas dan pernapasan, status
sirkulasi darah, dan intervensi yang dilakukan dan hasilnya.
Anamnesis/pengkajian (Tanya jawab) dan pemeriksaan fisik yang
terarah
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah harus dilakukan
setelah penilaian awal. Harus dipertimbangkan jika semua masalah yang
mengancam nyawa telah ditemukan dan ditangani. Jika anda memiliki
pasien dengan masalah yang mengancam nyawa, anda harus
memberikan perawatan secara terus-menerus (melakukan resusitasi
iantung paru pada pasien dengan henti jantung, contohnya), anda tidak
perlu melakukan komponen penilaian ini.
Tujuan utama dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah
adalah untuk mengetahui dan memberikan perawatan kepada cedera dan
penyakit pasien secara khusus. Hal ini merupakan pendekatan yang
sistematis dalam melakukan penilaian pasien. Hal ini juga memastikan
pasien, keluarga, dan orang sekitar, iika ada pertimbangan terhadap
pasien dan sesuatu sedang dilakukan untuk merawat pasien secepatnya.
Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah termasuk
melakukan pemeriksaan fisik yang terfokus pada cedera atau keluhan
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 42
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
medis yang khusus, atau dapat berupa pemeriksaan cepat dari seluruh
tubuh. Hal ini juga mendapatkan riwayat pasien dan mengukur tanda vital.
Urutan dari langkah ini dilakukan berdasarkan jenis kegawatdaruratan
pasien tersebut.
TABEL . Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah
PASIEN TRAUMA PASIEN MEDIS
Mekanisme cedera yang Pasien medis yang tidak sadar
signifikan
• Melakukan penilaian trauma • Melakukan Pemeriksaan fisik
cepat. cepat.
• Mengukur tanda vital • Mengukur tanda vital
• Mengumpulkan riwayat • Mengumpulkan riwayat
pasien. pasien
Tanpa mekanisme cedera yang Pasien dengan kondisi medis
signifikan yang sadar
• Melakukan penilaian trauma • Mengumpulkan riwayat
terarah. pasien.
• Mengukur tanda vital. • Melakukan pemerikasaan
fisik terarah.
• Mengumpulkan riwayat • Mengukur tanda vital.
pasien.
PERTAMA > Beberapa lstilah pentlng yang berhubungan dengan
penilaian pasien diperkenalkan pada daftar dl bawah lnl. Setlap lstllah alnl
akan dlbahas lebih dalam berikutnya dalam bab inl. Istilah ini adalah:
• Riwayat pasien. Riwayat pasien adalah semua lnformasl yang
berhubungan dengan keluhan atau kondisi pasien saat lni, dan juga
informasi mengenai masalah medis yang sudah lalu yang dapat
berhubungan dengan masalah saat ini.
• Penilaian cepat. lni adalah penilaian dari kepala ke ujung kaki yang
cepat yang tidak terlalu lengkap untuk pasien yang kritis.
• Penilaian terarah. Penilaian ini dilakukan pada pasien yang stabil.
Penilaian difokuskan pada cedera atau keluhan medis yang
khusus.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 43
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
• Tanda vital. Yang termasuk dalam tanda vital adalah nadi,
pernapasan, tanda pada kulit, dan pupil. Pada beberapa daerah,
petugas first responder iuga memasukkan pemeriksaan takanan
darah. Rangkaian tanda vital pertama juga disebut sebagai tanda
vital dasar. Semua pengukuran tanda vital berikutnya harus
dibandingkan dengan tanda vital dasar untuk melihat adanya
perubahan.
• Gejala. Dilaporkan oleh pasien sebagai hal-hal yang dirasakan oleh
pasien, seperti nyeri dada, pusing, dan mual. Mereka juga disebut
sebagai penemuan subjektif.
• Tanda-tanda. Hal-hal ini adalah semua yang anda Iihat, rasa,
dengar, dan cium pada saat anda memeriksa pasien, seperti kulit
yang dingin dan lembab atau pupil yang tidak sama. Tanda-tanda
adalah merupakan temuan objektif.
Temuan objektif dapat diiihat, dirasakan, dan dapat diukur secara
ilmiah. Temuan subjectif dipengaruhi oleh orang yang melaporkannya,
dalam hal ini pasien, keluarga, atau orang sekitar yang melaporkan gejala
tersebut. Bagian obiektif dari penilaian pasien dipertimbangkan sebagai
bagian dari ilmu kedokteran; bagian yang subjektif dipertimbangkan
sebagai bagian dari seni kedokteran.
Banyak dari geiala dan tanda-tanda yang anda temukan dalam
pemeriksaan fisik adaiah hasil dari tubuh yang mencoba untuk
mengkompensasi stres yang diaIami oleh tubuh. Contohnya, untuk
mengatasi kehilangan darah, tubuh akan meningkatkan frekuensi nadi dan
pernapasan dan menutup atau menyempitkan pembuluh darah pada
ekstremitas dan hasilnya adalah kulit yang pucat, dingin, dan lembab.
Semua hal ini duakukan o\eh tubuh agar darah yang telah dioksigenisasi
dapat bersirkulasi dalam tubuh ke organ-organ vital. A‘iran darah yang
teroksigenisasi yang adekuat ke seluruh tubuh dikenal dengan sebutan
perfusi. Aliran darah yang tidak adekuat dapat menyebabkan syok.
PEMERlKSAAN PASIEN TRAUMA
Seorang pasien trauma adalah pasien yang mengalami cedera fisik.
Penilaian anda terhadap pasien trauma terdiri dari pemeriksaan fisik,
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 44
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
tanda vital, dan anamnesis.Jenis pemeriksaan flsik yang anda lakukan
dan urutan dimana Iangkah-Iangkahnya dilakukan berdasarkan
mekanisme cedera.
Pasien trauma dapat dikategorikan dalam ienis pasien yang
mengalami mekanisme cedera yang tldak signifikan (mungkin tidak
menyebabkan cedera serius) atau mengalami mekanisme cedera yang
signifikan (mungkin menyebabkan cedera serius). Penilaian pasien akan
berbeda untuk setiap ienis pasien.
Untuk menilai pasien trauma tanpa mekanisme cedera yang
signifikan, lakukan penilaian trauma yang terarah pada area cedera yang
dikatakan pasien. Ukur‘ah tanda vital dan kumpulkan riwayat pasien.
Sediakan perawatan selama penilaian berkelaniutan. (Biasanya
pemeriksaan fisik yang lengkap tidak periu dilakukan pada pasien tanpa
mekanisme cedera yang signifikan).
Untuk mendeteksi dan merawat pasien dengan cedera serius
karena mekanisme cedera yang signifikan, lakukan penilaian trauma cepat
terhadap seluruh tubuh. Ukur tanda vital dan kumpulkan riwayat pasien.
Lalu, iika waktu memungkinkan, lakukan pemeriksaan fisik yang lengkap.
Berikan perawatan selama peni|aian berkelaniutan.
Yang termasuk dalam mekanisme cedera yang signifikan adalah:
• Terlempar keluar dari kendaraan.
• Kematian dari satu atau Iebih penumpang kendaraan yang sama
dengan pasien. I Jatuh dati ketinggian Iebih dari 20 kaki.
• Tabrakan kendaraan yang terbalik.
• Tabrakan kendaraan dalam kecepatan tinggi.
• Tabrakan antara kendaraan dan peialan kaki.
• Tabrakan sepeda motor.
• Tidak responsif atau dengan perubahan status mental. I Penetrasi
pada kepala, Ieher, dada, atau perut.
• Amputasi di atas pergelangan tangan atau kaki.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 45
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Yang termasuk mekanisme cedera yang signifikan pada anak-anak
adalah:
• Jatuh Iebih dari 1o kaki atau dua atau tiga kali tinggi pasien
• Tabrakan sepeda.
• Tabrakan kendaraan dengan kecepatan sedang.
CATATAN
Banyak penelitian kedokteran selama bertahun-tahun yang
menuniukkan bahwa banyak orang akan cedera karena iatuh dari
ketinggian sekitar tiga kali tinggi pasien. Cedera mungkin serius
dalam iatuh yang lebih pendek, tergantung dari sifat permukaan ‘ di
mana pasien mendarat dan bagaimana pasien mendarat.
Berdasarkan has“ penelitian, petugas first responder harus
mempertimbangkan semua kasus iatuh sebagai kasus yang serius.
PEMERIKSAAN PASIEN MEDIS
Anamnesia dan pemeriksaan flslk yang terarah pada paslen dengan
kondisi medis dan pasien trauma adalah sama, tetapl urutan dan
penekanannya berbeda. Untuk pasien dengan kondisi medis, anda akan
leblh mempertlmbangkan riwayat medis pasien.
Untuk pasien dengan kondisi medis yang tldak responsif, lakukan
pemeriksaan fisik yang cepat untuk menentukan adanya tanda-tanda
penyakit. Ukur tanda vital dasar. Kumpulkan riwayat paslen, llka
memungkinkan. Sediakan perawatan sesuai dengan kebutuhan. Untuk
pasien dengan kondisi medis yang responsif, kumpulkan riwayat pasien,
perhatikan geiala dan tanda-tanda sambil anda bertanya mengenai
riwayat penyakit tersebut. Keluhan utama paslen membantu anda untuk
menanyakan arah dari anamnesis anda. Lakukan pemeriksaan fisik yang
terarah berdasarkan area dari masalah pasien. Ukur tanda vital pasien.
Sediakan perawatan sesuai dengan kebutuhan. Berikan perawatan
berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 46
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
Perawatan iuga diberikan selama melakukan penilaian
berkelaniutan. Pasien dengan kondisi medis jarang sekali membutuhkan
pemeriksaan fisik yang lengkap, dan jika diperlukan, biasanya terdapat
mekanisme cedera yang signifikan atau penolong percaya bahwa ada
potensi untuk cedera di mana pasien dengan kondisi medis mengalami
jatuh.
CATATAN
Anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien dapat dilakukan
bersamaan. Tidak perlu anda menunggu untuk mengukur tanda
vital setelah anamnesis selesai. Anda dapat mengumpulkan
riwayat pasien sambil melakukan pemeriksaan fisik pada pasien
atau sambil menangani pendarahan dari perlukaan. Anda dapat
melakukan keduanya di saat yang bersamaan.
D.4.i RIWAYAT PASIEN
Wawancara dengan pasien
Pasien yang sadar penuh adalah merupakan sumber informasi yang
terbaik. Tanyakan
pertanyaan dengan jelas dengan kecepatan yang normal dan dengan
menggunakan nada bicara yang normal. Jauhi pertanyaan yang
mengarahkan iawaban pasien. Jangan salah menenangkan pasien.
Jangan katakan hal-hal seperti "Semuanya akan baik-baik saja" atau
"Santai saja, semua baik-baik saja". Pasien mengetahui iika hal ini tidak
benar dan akan kehilangan kepercayaan kepada anda lika anda
memberikan ketenangan palsu. Kalimat seperti "Saya di sini untuk
membantu anda" atau "Saya melakukan apa yang saya bisa untuk
membantu anda" akan lebih tepat diucapkan.
PERTAMA > Pada saat mewawancarai pasien yang sadar penuh,
tanyakah pertanyaan pertanyaan di bawah ini:
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 47
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban
1. Siapakah nama anda? lni adalah informasi yang penting. Hal ini
menunjukkan bahwa anda peduli terhadap pasien anda sebagal
seorang manusia. Ingatlah namanya dan gunakanlah sesering
mungkln. Selaln ltu, Ilka status mental pasien anda menurun, anda
dapat memanggilnya dengan menggunakan namanya untuk
melihat respon.
2. Umur berapakah anda? Sebagai penolong kagawatdaruratan
medis, anda tidak perlu mengetahui lebih dari usia secara umum
darl pasien dewasa anda. Tetapi usia pasien anak-anak adaIah
sangat penting untuk menentukan jenis perawatan yang diberikan.
Tanyakan semua anak-anak usia mereka. Penting iuga untuk
menanyakan usia anak remaja untuk memastikan bahwa mereka
masih di bawah umur. Tanyakan iuga pada pasien yang di bawah
umur: Bagaimana saya dapat menghubungi orang tua anda? Anak-
anak mungkin sudah merasa sedih dirinya telah terluka atau sakit
tanpa adanya orang tua di sekitarnya untuk membantunya. Selalu
yakinkan mereka bahwa seseorang akan menghubungi orang tua
mereka.
3. Apakah keluhan anda? Biasanya jawabannya adaIah keluhan
utama pasien. Apapun pennasalahannya, tanyakan kepada pasien
apakah ada rasa nyeri. Jika salah satu ekstremitas yang meniadi
masalahnya, tanyakan apakah ada rasa baal, menusuknusuk, atau
rasa terbakar pada kaki. Salah satu dari hal ini dapat menunjukkan
adanya cedera saraf atau tulang belakang. Semakin anda
mempelajari banyak penyakit dan cedera, anda akan mempelaiari
banyak pertanyaan tambahan untuk ditanyakan kepada pasien.
4. Bagaimana cedera ini teriadi? Pada saat anda merawat pasien
trauma, mengetahui bagaimana pasien mencederai dirinya dapat
mengarahkan anda kepada masalah yang mungkin awalnya tidak
terlalu jelas bagi anda atau pasien. Jika pasien terlentang, tentukan
jika pasien memposisikan dirinya sendiri atau dia roboh, iatuh, atau
teriempar. Lakukan hal yang sama pada pasien dengan kondisi
medis. lngatiah, cedera pada pasien mungkin saja adaIah hasil dari
masalah medis. Informasi yang didapat dari pertanyaan ini dapat
menuniukkan kemungkinan cedera tulang belakang atau
pendarahan internal.
Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 48
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban