The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

10. Modul BHD, Menstabilkan korban di kendaraan, dan Transportasi korban

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pusdiklat.learning, 2021-04-26 21:16:27

Menstabilkan korban di kendaraan, dan Transportasi korban

10. Modul BHD, Menstabilkan korban di kendaraan, dan Transportasi korban

5. Sudah berapa lama anda merasakan hal inf? Anda ingin
mengetahui apabila masalah pasien ini berlangsung tiba-tiba atau
sudah berkembang dalam beberapa hari yang Ialu atau melalui
masa waktu yang lama.

6. Pernahkah hal ini terjadi sebelumnya? Pertanyaan ini penting
ditanyakan kepada pasien dengan kondisi medis. Anda ingin
mengetahui apabila masalah ini pertama kali dirasakan atau
apakah masalah ini adaIah masalah yang kambuhan, atau kronis.
Pertanyaan ini biasanya tidak ditanyakan kepada pasien trauma,
kecuali anda mencurigai masalah yang berulang-ulang. Jika pasien
anda telah tertabrak mobil, tidak perlu bagi anda untuk
menanyakan apakah hal ini pernah teriadi sebelumnya.

7. Apakah saat ini anda memiliki masalah medis? Apakah pasien
anda sudah merasa sakit akhir-akhir ini atau sudahkah dia
berkunjung atau dirawat oleh dokter karena masalah tersebut.

8. Apakah saat ini ada obat yang anda minum secara teratur? Pasien
anda mungkin tidak dapat mengatakan kepada anda nama obat
yang dia minum, terutama iika .ia meminum beberapa obat di saat
yang bersamaan. Dia dapat mengatakan kepada anda kategori
obatnya secara umum, seperti "pil lantung" atau "pil air". Tanyakan
bukan hanya tentang obat resep, tetapi juga mengenati obat yang
dijual bebas. Penggunaan obat yang simpel seperti aspirin dapat
mengubah pengobatan yang diterima pasien dari rumah sakit.
Jangan gunakan kata-kata seperti obat-obatan terlarang. Kata-kata
inl memiliki makna seperti penyalahgunaan. Beberapa pasien akan
berpikir jika anda berusaha mendapatkan bukti kriminal dan
meniadi tidak nyaman. OIeh karena itu, tanyakan saia kepada
pasien iika mereka menggunakan obat-obatan Iainnya. Jika anda
masih merasa pasien tidak memberitahukan semua informasi yang
dibutuhkan, jelaskan perasaan anda kepada teknisi
kegawatdaruratan media yang akan mengambil alih perawatan
pasien. Pastikan bahwa pertimbangan anda dicatat dalam catatan
penilaian pasien dan rekam medis pasien yang digunakan oleh
teknisi kegawatdaruratan medis.

9. Apakah anda memiliki alergi? Rekasi alergi ada bermacam-macam
dari gataI-gatal hingga masalah ialan napas dan syok yang

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 49
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

mengancam nyawa. Mengetahui bahwa pasien alergi terhadap
suatu zat dapat membantu anda untuk menjauhkan zat it dari
pasien anda. Pastikan anda menanyakan alergi terhadap obat-
obatan, plester, dan latex (seperti pada sarung tangan) karena
pasien akan berada dalam kantak dengan zat-zat ini selama
perawatan.
10. Kapankah terakhir anda makan? Hal ini penting ditanyakan jika
pasien anda adalah kandidat untuk operasi. Hal ini iuga adalah
informasi penting pada saat anda menangani pasien yang
mengalami kegawatdaruratan diabetes.

D.4.j Wawancara dengan orang sekitar

Anda akan menemui pasien yang tidak sadar atau tidak dapat menjawab
pertanyaan anda mengenai riwayat pasien tersebut. Pada kasus ini, anda
harus bergantung kepada keluarga atau orang di sekitar pasien untuk
mendapatkan infomasi. Tanyakan pertanyaan yang singkat dan spesifik
untuk memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan
informasi. Pertanyaan untuk orang di sekitar termasuk:

1. Siapakah nama pasien? Jika pasien masih di bawah umur,
tanyakan jika orang tua pasien sudah dihubungi.

2. Apa yang terjadi? Anda menerima informasi penting pada saat
anda menanyakan pertanyaan ini. Jika pasien jatuh dari tangga,
apakah dia tampak pingsan terlebih dahulu? Apakah kepala pasien
mengantam sesuatu? Petunjuk yang anda dapatkan dari
pertanyaan ini tidak ada batasnya.

3. Apakah anda melihat ha! lain? Contohnya, apakah pasien
memegang dadanya pada saat dia iatuh? Hal ini memberikan orang
di sekitar untuk memikirkan hal lain yang dia ingat.

4. Apakah pasien mengeluhkan ha! lain sebelum kejadian ini? Anda
dapat mempelajari adanya nyeri dada, mual, kesulitan bernapas,
bau aneh di mana pasien bekerja, dan petuniuk Iainnya.

5. Apakah pasien memih’kf kondisi medis yang sudah ada
sebelumnya? Keluarga dapat mengetahui masalah, diabetes,
alergi, atau masalah Iain yang menyebabkan perubahan pada
kandisinya.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 50
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

6. Apakah pasien dalam pengobatan? Lagi-lagi, keluarga atau teman
pasien yang mengetahui obat-obatan apa saja yang ia gunakan.
Pada saat berbicara dengan pasien, keluarga, teman, atau orang
sekitar, lngatlah untuk menggunakan kata pengobatan dan bukan
kata obat. Pengobatan dlanggap sebagal obat resep yang sesuai
dengan penggunaan secara medis. Kata obat dapat berartl obat-
obatan terlarang. lngatlah untuk menanyakan pasien apakah dla
menggunakan obat yang dijual bebas.

Perhiasan identifikasl medis

Perhiasan identifikasi medis memberikan informasi penting apabila
pasien tidak sadar dan riwayat pasien tidak dapat diperoleh dari keluarga
atau orang di sekitar. Contoh yang umumnya adalah medali Medic Alert
yang dipakai sebagai kalung atau gelang pada tangan atau kaki. Satu sisi
dan’ medali tersebut terdapat gambar Bintang Kehidupan. lnformasi
mengenai masalah medis pasien tertulis pada sisi yang berlawanan,
beser‘ta dengan nomor telepon untuk informasi tambahan.

Jika anda harus memindahkan pasien atau salah satu
ekstremitasnya, berhatihatilah untuk memeriksa perhiasan identifikasi
medis. Pastikan anda memberitahu teknisi kegawatdaruratan medis yang
mengambil alih perawatan iika pasien memakai perhiasan tersebut, dan
beri tahu kepada mereka informasi apa saia yang ada pada perhiasan
tersebut, seperti diabetes, penyakit jantung, atau alergi penisilin.

D.4.k TANDA-TANDA VITAL

PERTAMA > Tanda vital dapat memberitahu anda mengenai masalah
yang membutuhkan perhatian secepatnya. Diukur pada interval yang
teratur, tanda vital akan membantu anda untuk menentukan apakah
kondisi pasien membaik, memburuk, atau sama saja. Hampir untuk semua
petugas first responder, yang termasuk tanda vital adalah nadi,
pernapasan, dan tanda pada kulit. Beberapa petugas first responder iuga
memasukkan pupil dan tekanan darah sebagai tanda vital. (Mengukur
tekanan darah dijelaskan pada Appendix1).

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 51
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Satu set tanda vital yang pertama diukur disebut sebagai tanda vital
dasar. Bandingkan semua pengukuran tanda vital terhadap tanda vital
dasar. Perbandingan ini membantu untuk menentukan apakah pasien
stabil atau tidak, membaik atau memburuk, dan mendapat keuntungan
atau tidaknya dari perawatan. Contohnya, membandingkan tanda vital
dasar sebelum dan sesudah memberikan oksigen tambahan kepada
pasien dapat memberitahukan teknisi kegawatdaruratan medis yang
mengambil alih pasien informasi objektif mengenai bagaimana intervensi
yang diberikan mempengaruhi kondisi pasien.

Kombinasi beberapa tanda vital dapat menuniukkan kondisi medis
atau trauma yang serius. Contohnya, kulit yang dingin dan lembab, nadi
yang cepat namun Iemah, dan peningkatan frekuensi napas menunjukkan
kemungkinan syok dengan adanya mekanisme cedera yang signifikan.
Kulit yang panas dan kering dengan nadi yang cepat menuniukkan
kegawatdaruratan yang berhubungan dengan panas. Anda dapat
menentukan pasien yang mana yang mendapatkan prioritas tinggi untuk
transportasi sesegera mungkin dengan mengukur tanda vital.

Untuk orang dewasa , frekfensl nadl yang kurang dart 60 detak per
menu atau lebih dari 100 detak per menu; dapat dlkatakan abnormal.
Sepertl layaknya frekuensl nadl, frekuensl napas yang leblh darl 28 napas
per mcnlt atau kurang dart 8 napas per menlt dapat dlakatakan abnormal.
Anda harus mempertlmbangkan tanda vital lni karena ha! lnl dapat
menunlukkan sltuasl yang tldak stabll yang dapat mengancam nyawa.
Menlaga agar paslen tenang dan berlstlrahat, merawat syok, dan
menenangkan paslen yang sadar dapat memberlkan perbedaan pada
hasll perawatan.

Selama anda melakukan penllalan awal pada aslen yang sadar,
and dapat memerlksa nadl radians pada pergelangan tangan paslen.
Untuk paslen yang tidak sadar, nadl karotls pada leher dapat dlgunakan.
Nadl radians adalah nadi yang dlrasakan dart arterl radians yang
dltemukan pada slsl lateral darl tangan pada slsl yang sama dengan lbu
Jarl. Jlka karena alasan apapun anda tfdak dapat merasakan nadl radians,
periksalah nadl karotls. Nadl radians yang hllang pada saat nadi karotis
masih ada menunjukkan kemungklnan syok. Nadi radialls dapat tidak

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 52
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

teraba jika tekanan daran paslen terlalu rendah atau Ilka ada cedera pada
esktremitas yang mengganggu aliran darah ke ulung lengan. Jangan
mulai resusitasi jantung paru hanya berdasarkan tidak adanya nadi
radialis

PERTAMA > Cara mengukur nadi radians:

1. Gunakan tiga jar! tengah pada tangan anda yang sudah
menggunakan sarung tangan. Jangan gunakan ibu jari anda karena
ibu jari memiliki nadi sendiri yang dapat membuat keliru.

2. Letakkan ujung jari pada sisi lateral dari pergelangan tangan bagian
depan pasien, sedlkit di atas lekukan antara telapak tangan dan
pergelangan tangan. Geserkan iari anda darl poslsl In! menuju sisi
ibu jari pada pergelangan tangan (sisi lateral). Tetap letakkan ulung
larl tengah di lekukan antara telapak tangan dan pergelangan
tangan karena hal lnl akan memastikan anda meletakkan ujung jar!
pada tempat nadl radialis.

3. Letakkan penekanan sedang pada detak nadi. Jika nadi lemah,
anda harus memberikan penekanan yang lebih kuat. Penekanan
yang terlalu kuat akan membuat nadl menjadi bertambah lemah.
Dengan menggunakan tiga jari yang menyentuh pergelangan
tangan dan telapak tangan, anda dapat menentukan seberapa
banyak penekanan yang anda gunakan.

4. Begitu anda merasakan nadi, buatlah penghltungan cepat frekuensi
nadi. Apakah nadi terasa normal, cepat, atau lambat?

5. Hltung detak nadi selama 15 atau 30 detik, tergantung dari protokol
atau praktek di daerah anda.

6. Selama anda menghltung, nilal kekuatan dan lramanya.
7. Kalikan hltungan dalam 30 detik dengan angka 2 atau hitungan

dalam 15 detik dengan angka 4 untuk menentukan jumlah nadl per
menit.

Frekuensi nadi normal orang dewasa pada keadaan lstlrahat adalah
antara 60 dan 100 detak per menit. Frekuensi dl atas 100 dlanggap cepat
(taklkardla) dan frekuensi di bawah 60 dikatakan lambat (bradlkardla).
Pada sltuasl gawat darurat, karena kecemasan atau kegemblraan,
biasanya frekuensi nadl dapat mencapal sekitar 100 detak per menit.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 53
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Anda harus memlklrkan bahwa frekuensi nadi di atas 100 atau kurang dari
60 sebagai indikasi dari masalah yang serlus. Satu pengecuailan darl hal
lni adalah atlet yang sudah benar-benar terlatlh dl mana nadl normalnya
pada keadaan istirahat sekitar 50 detak per menit atau kurang.

Bayi yang baru Iahir dapat memiIikI frekuensl nadl sekitar 120
sampai 160 detak per menit. Anak-anak sampai usia 5 tahun
menunlukkan nadi dari 80 sampai 140 detak per menit, tergantung dari
usia mereka. Frekuensi nadi anak-anak dari usia 5 sampai 12 tahun
adalah sekitar 70 sampai 110 detak per menit. Anak remaia biasanya
memiliki frekuensi nadi sekitar 60 sampai 105 detak per menit.

Pengukuran frekuensi nadi secara efisien membutuhkan
pengalaman. Berlatihlah mengukur pada saat istirahat dan frekuensi
setelah istirahat untuk laki-laki dan wanita, orang dewasa dan anak-anak.
Sering-seringlah berlatih. Latihan akan membantu anda untuk
mengembangkan kemampuan anda untuk menilai frekuensi nadi yang
normal atau cepat dengan cepat dan akurat.

TABLE. Penilaian tanda vital Nadi

OBSERVASI KEMUNGKINAN MASALAH

Nadi yang cepat dan kuat Pendarahan internal (stadium awal),

ketakutan, kegawatdaruratan

panas, kelelahan, tekanan darah

tinggi, demam.

Nadi yang cepat dan lemah Syok, Kehilangan darah,

kegawatdaruratan panas,

kegawatdaruratan diabetes,

kegagalan system sirkulasi.

Nadi yang lambat dan kuat Stroke, fraktur tulang kepala,
cedera otak

Tidak ada nadi Henti jantung

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 54
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Pernapasan

Seperti pada nadi, ada beberapa karakteristik yang anda harus
evaluasi iika anda menilai pernapasan seorang pasien : frekuensi,
kedalaman, suara, dan kemudahan bernapas. Satu pernapasan terdiri dari
satu siklus inspirasi dan ekspirasi.

Frekuensi pernapasan adalah perhitungan jumlah pernapasan
pasien dan dikategorikan sebagai normal, cepat, atau Iambat. Pada saat
anda menhitung pernapasan, perhatikan kedalaman napasa, apakah
normal, dangkal, atau dalam. Perhatikan apakah pernapasannya mudah
atau tampak diusahakan dan sulit. Dengarkan suara napas abnormal
selama bernapas seperti mengorok, menggelegak, terengah, mendesah,
atau berkokok. Jika pasien sadar, tanyakan apakah pasien merasakan
nyeri pada saat bernapas. Pasien yang harus berusaha untuk bernapas
iuga mengalami kondisi yang serius.

TABEL. Penilaian tanda vital Pernapasan 7

OBSERVASI KEMUNGKINAN MASALAH

Pernapasan cepat dan dangkal Syok, masalah jantung,

kegawatdaruratan panas,

kegawatdaruratan diabetes, gagal

jantung, pneumonia

Pernapasan dalam, terengah, dan Sumbatan jalan nafas, gagal
berusaha
jantung, serangan jantung, penyakit

paru-paru, cedera dada,

kegawatdaruratan diabetes

Pernapasan melambat Cedera kepala, stroke, cedera
dada, beberapa obat-obatan

Mengorok Stroke, Fraktur tulang kepala,
penyalahgunaan obat atau alcohol,
sumbatan jalan napas pasial.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 55
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Suara seperti gagak Sumbatan jalan napas, cedera jalan
Suara Kumur-kumur napas karena panas
Mengi
Bentuk darah Sumbatan jalan napas, penyakit
paru-paru, cedera paru-paru karena
panas

Asma, Emphysema, sumbatan jalan
napas, gagal jantung

Luka pada dada infeksi dada,
fraktur iga, paru-paru yang tertusuk,
cedera internal.

PERTAMA > Cara-cara untuk menilai pernapasan adalah sebagai berikut:

1. Setelah menyelesaikan penghitungan nadi, biarkan tangan anda di
posisi yang sama pada pergelangan tangan pasien, seperti anda
menghitung nadi. Lakukan hal ini karena jika pasien mengetahui
anda menghitung napasnya, mereka akan mengganti frekuensi
napasnya pada saat orang Iain melihatnya bernapas.

2. Perhatikan pergerakan dada pasien dan dengarkan suaranya.
3. Hitung jumlah napas yang pasien lakukan dalam 15 atau 3o detik.

(Satu napas adalah satu inspirasi dan satu ekspirasi). Untuk
mendapatkan frekuensi napas, kalikan jumlah napas dalam 15 detik
dengan angka 4, atau iumlah napas dalam 30 detik dengan angka
2.
4. Sambil anda menghitung pernapasan, perhatikan kedalaman dan
kemudahan untuk bernapas.

Jika anda tidak dapat menghitung frekuensi napas pasien secara
visual dari melihat pergerakan dada, letakkan tangan anda di atas dada
pasien dekat takik di sternum bagian bawah. Katakan kepada pasien iika
anda akan menyentuh dadanya dan alasannya. Hal ini akan memudahkan
anda untuk merasakan setiap inspirasi dan ekspirasi.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 56
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Frekuensi napas normal orang dewasa adalah antara 12 sampai 20
napas per menit. Orang dewasa yang Iebih tua bernapas Iebih lambat
dibandingkan orang dewasa muda. Untuk orang dewasa, frekuensi napas
Iebih dari 28 napas per menit atau kurang dari 8 napas per menit
menunjukkan kondisi serius.

Bayi bernapas sekitar 25 sampai 50 kali per menit. Jika pasien adalah
seorang anak antara usia 1 hingga 5 tahun, frekuensi di atas 30 napas per
menit atau kurang dari 15 napas per menit menunjukkan kondisi serius
untuk anak-anak usia 6 sampai1o tahun.

Warna kulit, temperatur, dan kelembaban

PERTAMA > Warna kulit, temperature, dan kelembaban dapat dinilai dari
dahi pasien, kecuali hal ini tidak memungkinkan. Perut pasien dapat iuga
digunakan untuk menilai hal lnl. Beberapa peraturan dl daerah yang
berbeda memInta anda untuk luga memeriksa ekstremltas. Gunakan
baglan belakang tangan anda untuk menentukan apakah kulit normal,
panas. atau dlngln. Terkadang, perhatlkan kalau kullt Itu kering atau
Iembab. Carl tanda-tanda merlndlng yang berhubungan dengan kondisi
yang abnormal.

Tabel dlbawah lnl menunlukkan beberapa masalah yang berhubungan
dengan warna kulit, temperatur, dan kelembaban.

TABEL . Penilaian tanda vital Warna kullt

OBSERVASI KEMUNGKINAN PENYEBAB

Merah jambu Normal pada pasien dengan warna
kullt cerah; normal pada bagian
dalam dari kelopak mata, bibir, dan
kuku dari orang yang berkulit gelap.

Pucat Pembuluh darah yang menyempit
yang kemungkinan disebabkan oleh
kehilangan darah, syok, penurunan

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 57
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Biru (sianotik) tekanan darah, beban emosional

Merah Kekurangan oksigen dalam sel
darah merah dan iaringan karena
Kuning pernapasan yang tidak adekuat
Berbintik-bintik atau gangguan jantung.

Pajanan panas, tekanan darah
tinggi, kegembiraan emosional;
warna merah ceri menuniukkan
tingkat akhir dan‘ keracunan karbon
monoksida.

Kelainan hati

Biasanya pada pasien dengan syok.

TABEL. Penilaian tanda vital Tanda-tanda -pada kulit

TANDA PADA KULT KEMUNGKINAN PENYEBAB

Dingin, lembab Syok, serangan jantung,

kecemasan

Dingin, kering Pajanan terhadap dingin,

kegawatdaruratan diabetes

Panas, kering Demam tinggi, kegawatdaruratan
panas, cedera tulang belakang

Panas, lembab Demam tinggi, kegawatdaruratan
panas, kegawatdaruratan diabetes

Merinding dengan gemeteran, gigi Mengigil, penyakit menular, pajanan

yang bergemelutukan, bibir terhadap dingin, nyeri, atau

membiru, dan kulit pucat. ketakutan

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 58
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Tekanan darah

Walaupun penilaian pasien akan meniadi Iebih terpercaya apabila
tekanan darah diukur dan dimonitor, beberapa petugas first responder
tidak membawa peralatan yang dibutuhkan untuk mengukur tanda vital ini.
Jika sistem EMS anda memlnta anda untuk menentukan tekanan darah.

Pupil

Banyak sistem EMS yang meminta petugas first responder mereka untuk
mengukur pupil sebagai tanda vital.

TABEL . Penilaian tanda vital – Pupil

OBSERVASI KEMUNGKINAN MASALAH

Pupil membesar dan tidak bereaksi Syok, henti jantung, pendarahan,
beberapa obat-obatan, cedera
kepala

Pupil mengecil dan tidak beraksi Kerusakan system saraf pusat,
beberapa obat-obatan.

Pupil yang tidak sama Stroke, cedera kepala

E. PEMERIKSAAN FISIK

Jika paslen trauma anda tldak memmkl mekanlsme cedera yang
slgnlfikan dan tampak mengalaml cedeta minor yang didukung oleh
mekanlsme cedera dan cerita pasien, lakukan penllalan trauma terarah
pada lokasl cedera dan seldtamya. Jika pasien mengalaml cedera dengan
mekanlsme yang slgnlfikan. cedera serlus, atau tldak sadar, lakukan
penllalan trauma cepat pada selumh tubuh.

Pemeriksaan fislk paslen dengan kondisi medis dapat menladi
singkat. Jika paslen sadar, lakukan pemedksaan flslk yang terarah
berdasarkan dengan keluhan utama paslen. Ilka paslen tidak sadar,
talcum pemerlksaan flslk cepat pada seluruh tubuh.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 59
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Pada saat anda mennal paslen trauma, anda dapat menggunakan
alat bantu memori, seperti BP-DOC atau DCAP-BTLS, untuk membantu
anda untuk menglngat apa yang anda cad pada pemerlksaan flsik. Humf-
hurufnya adalah singkatan darl:

BP-DOC
B - Bleeding (pendarahan).
P - Pain (nyeri).
D - Deformlties (kelainan bentuk).
O - Open wounds (luka terbuka).
C - Cnepitus (knepitasi)
DCAP-BTLS
D - Deformities (kelainan bentuk)
C - Contusion (kontusio).
A - Abrasion (abrasi).
P - Punctures and penetratiom (penusukan dan penetrasf).
I - Bums (luka bakar).
T - Tenderness (nyeni).
I.- Lacerations (laserasi).
S - Swelling (bengkak)

Catatan

Penting untuk anda untuk mempelalarl dan menghafal satu alat
penllalan tersebut. Hal yang penting adalah agar anda mengertl dan
merasa nyaman untuk menggunakannya secara konsisten.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 60
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Penilaian trauma cepat Pasien trauma dengan mekanisme cedera
signiflkan.

Penilaian trauma cepat adalah pemeriksaan flslk dari kepala hingga
uiung kaki yang tidak memakan waktu lebih dari 90 detik sampai 2 menit.
Penllaian ini dilakukan pada pasien trauma dengan mekanisme cedera
yang signifikan. Pasien ini biasanya mendapatkan prioritas tinggi untuk
ditransportasikan. Anda harus berhati-hati pada saat anda memindahkan
pasien ini kecuali sangat diperlukan. Cedera leher dan tulang belakang
mungkin dialami oleh pasien ini. Untuk menyingkat waktu, petugas first
responder dapat mengukur tanda vital pada saat anda melakukan
pemeriksaan.

Biasanya tidak umum untuk petugas first responder untuk
melepaskan pakaian pada saat melakukan pemeriksaan dari kepala
hingga uiung kaki. Tentu saia, anda dapat melepaskan atau mengatur
pakaian yang mengganggu kemampuan anda untuk memeriksa pasien.
Potonglah, angkat, geser, atau bukalah kacing yang menutupi lokasi
cedera, terutama pada dada, punggung, dan perut, sehingga anda dapat
melihat lokasi dengan jelas. Selain itu, periksa iuga pakaian pasien untuk
mencari bukti-bukti pendarahan.

Curigai adanya cedera dalam apabila pasien sadar menunjukkan
adanya nyeri pada bagian tertentu atau pada saat anda menyentuh
bagian tersebut pada saat pemeriksaan. Jika pasien tidak sadar, anda
dapat membuka atau mengatur pakaian yang menutupi dada, perut dan
punggung agar dapat memeriksa lokasi tersebut dengan lengkap. Jika
anda harus melepaskan atau mengatur pakaian pasien yang sadar,
katakan kepadanya apa yang anda kerjakan dan mengapa. Hormatilah
dan iagalah kesopanan pasien. Selain itu, lindungilah pasien dari kondisi
cuaca yang menyulitkan.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 61
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

56b62aoo

INGAT

Apapun cedera yang dialami pasien, jika anda memiliki pasien yang
tidak sadar, perubahan status metal, prioritas yang tinggi harus
diberikan untuk transportasi secepat mungkin.

Pada saat anda melakukan penilaian trauma cepat, iangan sampai
anda mengkontaminasi luka pasien anda dan memperburuk cederanya.
Pastikan anda melakukan pencegahan dengan melakukan isolasi zat
tubuh.

PERTAMA > Untuk melakukan penilaian anda:

1. Periksa kulit kepala untuk mencari adanya luka dan memar.
Berhati-hatilah agar anda tidak menggerakkan kepala pasien.
Gerakkan iari-iari anda di antara rambut pasien untuk mencari
adanya darah. Rabalah kepala untuk mencari adanya luka,
pembengkakan atau cedera lainnya. Jangan pisahkan rambut di
atas luka pada kulit kepala. Hal ini dapat menyebabkan
pendarahan. Rabalah belakang leher pasien dengan menggunakan
tangan anda yang telah terlapls sarung tangan dan ke atas sampai
ke belakang kepala. Periksa sarung tangan anda untuk adanya
darah.

2. Periksalah tulang tengkorak untuk adanya kelainan bentuk dan
permukaan dan periksalah waiah pasien. Carilah adanya kelainan
permukaan yang menunjukkan adanya cedera pada tulang
tengkorak. Periksalah tulang walah untuk adanya tandatanda atau
gejala untuk fraktur, pembengkakan, perubahan warna, atau
kelainan permukaan pada wajah. Minta pasien untuk tersenyum
dan perhatikan iika otototot wajah bergerak dengan simetris.
Bentuk senyum seharusnya simetris pada kedua sisi waiah.

3. Periksalah mata pasien, periksa kelopak mata, mata, dan pupil.
Carilah adanya luka, obyek yang menusuk, atau tanda-tanda

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 62
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

kerusakan. Mintalah pasien untuk membuka mata, atau bukalah
mata pasien yang tidak sadar dengan perlahan. Periksa ukuran,
kesimetrisan, dan reaksi pada cahaya pada mata. Senter pena
akan sangat membantu untuk pemeriksaan pupil. Jika anda berada
di bawah matahari, tutuplah mata pasien dengan menggunakan
tangan anda. Pindahkan tangan anda dengan cepat dan perhatikan
reaksi pupil terhadap cahaya. Pupil yang membesar atau mengecil
dapat menunjukkan adanya penyalahgunaan obat, syok, atau henti
iantung. Pupil yang tidak simetris menunjukkan adanya cedera
pada otak atau tuIang belakang. Pupil yang bereaksi dengan
lambat menunjukkan adanya syok.
4. Perhatikan permukaan di dalam kelopak mata (konjungtiva).
Jaringan di bawah kelopak mata seharusnya berwarna merah
jambu dan Iembab. Warna yang pucat menunjukkan adanya perfusi
yang buruk.
5. Periksa kedua telinga dan hidung untuk adanya cairan yang keluar,
cairan yang iernih atau berdarah, periksa kedua telinga dan hidung
untuk darah dan cairan. Gunakan senter pena atau sumber cahaya
yang Iain untuk pemeriksaan ini. Darah pada hidung dapat
disebabkan oleh penyebab yang ringan seperti cedera pada
jaringan hidung. Tetapi dapat juga berarti adanya fraktur tulang
tengkorak. Darah pada telinga, baik itu jernih atau berdarah,
seringkali menunjukkan adanya fraktur tulang tengkorak. Selain itu,
periksalah lubang hidung yang kehitaman yang dapat menunjukkan
adanya inhalasi asap yang beracun. Lubang hidung yang
membesar menunjukkan adanya kesulitan bernapas.
6. Periksalah mulut untuk adanya benda asing, pendarahan, dan
kerusakan iaringan (periksa mulut untuk adanya sumbatan,
pendarahan, dan kerusakan jaringan (langkah 6)). Jika pasien
masih tidah sadar, anda harus membuka mulutnya. Pertimbangkan
kemungkinan cedera leher dan tulang belakang pada semua
pasien dengan trauma yang tidak sadar, sehingga bukalah mulut
pasien dengan perlahan tanpa menggerakkan kepala pasien.
Carilah adanya gigi yang rusak, gigi palsu, iembatan dan mahkota
gigi. Periksa adanya permen karet, makanan, muntahan, dan
benda asing lainnya. Pada anak-anak, gunakan perawatan

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 63
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

tambahan untuk mencari adanya mainan, bola, dan obiek lainnya di
dalam mulut dan di belakang tenggorokan. Jika anda menemukan
suatu objek, ikuti pengarahan dari Bab 6. Periksalah mulut untuk
adanya darah dan perhatikan adanya bau napas yang aneh.
Periksalah tulang servikal untuk adanya nyeri atau kelainan bentuk
7. Periksa tulang servikal untuk adanya nyeri dan kelainan bentuk
(langkah 7)). Adanya nyeri atau kelainan bentuk dapat
dipertimbangkan sebagai petuniuk adanya kemungkinan cedera
tulang belakang. Jika anda telah melakukan imobilisasi pada
kepala dan leher pasien, lanlutkanlah pemerlksaan anda. Jika tidak,
hentlkan pemerlksaan dan imobilisasi kepala dan leher pasien
sekarang, sebelum anda melaniutkan pemeriksaan. Berikutnya,
perlksalah dagu pasien untuk adanya perhiasan identifikasi medis.
Jika ditemukan, catatlah apa yang tertulis pada perhiasan tersebut
dan iangan dilepaskan.
8. Periksalah depan leher untuk adanya cedera atau kelainan bentuk
(periksa bagian depan leher untuk cedera dan pembukaan. Juga,
carilah perhiasan identifikasi medis (langkah 8)). Juga perhatikan
apakah pasien memlliki stoma, pembukaan yang dibuat pada
operas! yang dibuat pada bagian depan leher. Perhatikan dan
rabalah leher untuk mencari adanya deviasi pada trakea
(penggeseran trakea ke kanan atau ke kiri). Perhatikan pula adanya
pembuluh vena yang membesar yang iuga dikenal dengan distensi
vena iugularis dan penggunaan otot aksesoris yang menunjukkan
adanya tanda kesulitan bernapas.
9. Periksa dada untuk adanya luka, memar, penetrasi, dan obiek yang
menusuk (periksa dada untuk adanya cedera (langkah 9)). Jika
perlu, bukalah dada dan perut bagian atas. Biarkanlah objek yang
menusuk pada tempatnya. Periksa juga adanya perhiasan
identifikasi medis.
10. Periksa dada untuk kemungkinan adanya cedera tulang selangka
dan tulang dada (periksa tulang selangka dan tukang dada untuk
adanya nyeri dan kelainan bentuk (Iangkah 10)). Rasakan adanya
nyeri dan kelainan bentuk.
11. Periksa adanya kemungkinan fraktur iga (periksa untuk adanya
fraktur iga. Lalu perhatikan adanya ekspansi dada yang simetris

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 64
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

(langkah 11 dan 12). Gunakan penekanan yang berhati-hati pada
kedua sisi dada dengan tangan anda. lngatkan pasien untuk
adanya kemungkinan nyeri. Nyeri menuniukkan adanya
kemungkinan fraktur iga.
12. Perhatikan dan rasakan adanya ekspansi kedua sisi dada yang
simetris. Perhatikan adanya bagian yang tampak melayang atau
bergerak pada arah yang berbeda dengan bagian dada yang lain.
Hal ini dikenal dengan nama pergerakan paradoksikal. Hal ini
menunjukkan adanya cedera yang dikenal dengan nama flail chest
di mana adanya fraktur dua atau Iebih iga pada dua atau Iebih
tempat, yang menyebabkan patahan iga tersebut untuk melayang.
Pada saat anda membuka dada pasien yang perempuan, pastikan
anda memberikan privasi kepada pasien anda.
13. Periksa perut untuk adanya luka, memar, penetrasi, distensi,
rigiditas, dan defans.
14. Raba perut untuk adanya nyeri (periksa perut untuk cedera
(Iangkah 13 dan 14)). Persiapkan pasien untuk adanya
kemungkinan nyeri. Jika pasien mengatakan iika perutnya sudah
sakit, tinggalkan bagian perut tersebut tetapi tanyakan pasien anda
untuk menjelaskan jenis nyerinya dan di mana nyeri itu dirasakan.
Dengan perlahan, tekan bagian perut yang nyeri dengan sisi jari,
perhatikan wilayah perut yang keras, bengkak, atau nyeri. Pada
saat anda menekan perut pasien anda, tanyakan kepada pasien
apakah ada nyeri yang dirasakan. Perhatikan jika nyeri tersebut
hanya lokal (pada satu titik) atau umum (tersebar pada wilayah
yang luas). Periksa setiap kuadran perut dan perhatikan masalah
yang ada pada setiap kuadran.
15. Rasakan bagian punggung bawah untuk adanya nyeri dan carilah
kelainan bentuk (periksa punggung bawah untuk adanya nyeri dan
kelainan bentuk (langkah 15)). Berhati-hatilah agar tidak
menggerakkan pasien. Dengan perlahan, geserkan tangan anda
yang telah menggunakan sarung tangan pada wllayah punggung
belakang yang membentuk lengkung tulang belakang. Perlksalah
sarung tangan anda unmk adanya darah.
16. Rasakan panggul untuk adanya cedea dan kemungklnan fraktur
(periksa panggul untuk adanya cedera dan baglan alat kelamln

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 65
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

(langkah 16 dan 17)). Setelah anda memeriksa punggung bagian
bawah, dengan perlahan, geserkan tangan anda darl punggung ke
arah sayap darl panggul. Ingatkan pasien mengenal adanya
kemungkinan nyeri dan dengan perlahan tekan panggul pasien.
Tekan ke arah dalam dan bawah pada saat yang bersamaan untuk
memeriksa adanya nyeri dan deformitas.
17. Perhatikan adanya cedera pada alat genital. Periksa lika pakaian
pasien basah karena inkontinensia atau pendarahan dan objek
yang menusuk. Jangan membuka wilayah tersebut kecuali anda
benar-benar mencurigai adanya cedera. Pada pasien laki-laki,
periksalah pasien untuk adanya priapismus, yaitu ereksi penis yang
persisten. Jika ada alasan untuk mencurigai cedera tulang belakan
dan pakaian pasien mengahalangi pandangan anda untuk melihat
adanya penis yang ereksi, dengan perlahan gunakan bagian
belakang dari tangan anda untuk merabanya. Pn'apismus
menuniukkan adanya cedera tulang belakang dan seharusnya
dapat dideteksi pada saat pemeriksaan dari kepala hingga uiung
kaki.
18. Periksa kaki dan telapak kaki (periksa kaki dan telapak kaki.
Jangan angkat kaki dan menggerakkannya)). Periksa setiap kaki
dan telapak kaki. Bandingkan satu kaki dengan lainnya untuk
melihat panjangnya, bentuknya, dan adanya pembengkakan atau
deformitas. Jangan angkat kaki atau menggerakannya. Jangan
ubah posisi kaki atau telapak kaki. Perhatikan adanya perubahan
warna, pendarahan, bagian tulang yang keluar, dan deformitas
yang ielas.
19. Periksa nadi pada bagian distal (jika memungkinkan dan tanpa
membahayakan pasien, periksa nadi pada bagian distal (langkah
19)), yang akan memastikan jika sirkulasi darah sampai ke bagian
kaki dan telapak kaki. Yang paling berguna adalah nadi dari
pembuluh darah arteri tibialis posterior yang diraba pada bagian
dalam pergelangan kaki. Jika pasien menggunakan sepatu bot,
iangan lepaskan sepatu botnya jika pasien memiliki kecurigaan
cedera pada kaki dan telapak kaki,obbjek yang menusuk kaki dan
telapak kaki, fraktur kaki atau telapak kaki yang parah, atau

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 66
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

kecurigaan dan kemungkinan cedera tulang belakang, kecuali anda
harus menghentikan adanya pendarahan.

Nadi distal lain yang dapat diperiksa adalah nadi dari pembuluh
arteri dorsalis pedis yang diperiksa pada bagian lateral dari tendon
jan’ iempol kaki. Nadi ini sangat penting untuk diperiksa karena
beberapa pasien tidak memiliki nadi posterior tibialis. Beberapa
sistem EMS tidak memiliki petugas first responder untuk memeriksa
nadi dorsalis pedis dalam pemeriksaan karena mereka harus
melepaskan sepatu pasien untuk merasakan nadi ini.

Yang dapat anda Iakukan untuk masalah sirkulasi adalah minimal.
Jangan menyebabkan cedera tambahan pada pasien hanya untuk
memeriksa nadi distal. Jika memungkinkan, periksa kedua kaki
untuk adanya nadi distal. Anda juga dapat memeriksa pengisian
kapiler untuk pasien anak-anak dan bayi pada saat ini.
20. Periksa telapak kaki untuk mugsi motorlk dan sensasl (perlksa
fungsi motorlk dan sensesi(langkah 20) dan dapatkah pasien
mendorong kakinya melawan telapak tangan anda (langkah 20)).
Sentuh jarl jarl kakl dan tanyakan paslen dapatkah mereka
merasakannya. Anda dapat memegang jarl kaki paslen melalui
sepatu pasien jika anda percaya jika tidak ada cedera pada jarl-jarl
kaki. Mlnta pasien untuk menekan telapak kaki mereka melawan
telapak tangan anda dan dengan tangan anda di atas dari telapak
kakl paslen, mlnta paslen untuk mengangkat telapak kakinya,
memflekslkan kakinya, untuk mengangkat tangan anda. Lalu cubit
bagian atas dari telapak kaki pasien. Lakukan pemeriksaan lnl pada
kedua kaki. Jika pasien tidak merespon pada permeriksaan Inl,
curlgailah adanya kemungkinan cedera tulang belakang. Cari
tanda-tanda adanya bekas lindasan dan perhlasan identifikasi
medis.
21. Periksa ekstremitas atas dari bahu sampai ujung iarl (periksa
lengan dan tangan untuk adanya cedera (langkah 21), periksa nadi
radialis. lngatlah anda melakukan hal ini pada satu lengan untuk
mengukur tanda vital (Iangkah 21), dapatkah pasien anda
mencengkeram tangan anda dengan tangannya? (langkah 21)).

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 67
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Periksa setiap lengan dengan terpisah. Prosedur ini serupa dengan
pemeriksaan pada ekstremitas obiek yang menusuk, deformitas,
bawah.
- Perhatikan adanya luka, memar, pembengkakan, perubahan

warna, atau fraktur yang jelas. Periksa adanya nyeri pada
tempat yang dicurigai adanya fraktus. Jangan sentuh bagian
fraktur yang terbuka.
- Pastikan adanya nadi radialis pada kedua pergelangan tangan.
Jangan ukur frekuensi nadi, hanya pastikan adanya sirkulasi.
Anda iuga dapat mengukur pengisian kapiler pada pasien
pediatrik.
- Periksa fungsi motorik dan sensasi. Jika pasien sadar, mintalah
pasien untuk mengenali jari yang anda sentuh dan
mencengkeram tangan anda. Pada saat memeriksa
cengekeraman, periksalah kedua tangan secara bersamaan
untuk menentukan kekuatan kedua tangan. Mintalah pasien
untuk mencengkeram ibu jari anda, satu di setiap tangan; jika
pasien mencengkeram tangan anda kuat-kuat, anda akan
merasakan sakit. Jika pasien tidak sadar, cubit bagian belakang
dari telapak tangan mereka.
- Carilah bukti untuk adanya tanda-tanda lindasan dan perhiasan
identifikasi medis.
22. Periksalah bagian belakang dari tubuh pasien untuk adanya
pendarahan dan cedera (jika tidak ada cedera pada kepala, Ieher,
tulang belakang, atau ekstremitas, periksalah bagian belakang
pasien (Iangkah 22)). Jangan mengangkat atau menggulingkan
pasien jika ada kecurigaan untuk adanya cedera tulang tengkorak,
Ieher, tulang belakang, atau cedera serius lainnya. Pertimbangkan
semua pasien yang tidak sadar untuk adanya cedera leher.

Penilaian trauma terarah Pasien trauma tanpa mekanisme cedera
yang signifikan

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 68
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Pada pasien trauma tanpa mekanlsme trauma yang slgnlflkan,
langkah-Iangkah untuk melakukan penllalan trauma terarah adalah leblh
dlsederhanakan. Selaln anda memeriksa pasien darl kepala ke ulung kakl,
arahkan pemerlksaan anda pada bagian tubuh pasien yang nyeri atau
anda curlgal mengalaml cedera. Pemerlksaan terdiri dari pemeriksaan fisik,
tanda vltal, dan anamnesis.

Keputusan anda untuk memeriksa baglan tubuh pasien yang mana
tergantung pada apa yang anda lihat dan sebagian dari keluhan utama
pasien. Pastikan anda mempertimbangkan semua kemungkinan cedera
berdasarkan mekanisme cedera. Contohnya, [ika keluhan utama pasien
adalah nyeri pada kakinya setelah teriatuh beberapa anak tangga,
pertimbangkan kemungkinan cedera punggung dan rawat pasien dengan
sesuai. Gunakan alat bantu ingatan DCAP-BTLS untuk membantu anda
melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan fisik cepat Pasien medis yang tidak sadar

Pemeriksaan fisik cepat pada pasien medis yang tidak sadar
adalah hampir serupa dengan penilaian trauma cepat pada pasien dengan
mekanisme cedera signifikan. Anda akan memeriksa kepala, leher, dada,
perut, panggul, ekstremitas, dan bagian belakang pasien dengan cepat.
Selama anda memeriksa setiap area pada bagian tubuh, carilah tanda-
tanda penyakit. Pastikan anda memeriksa:

• Leher. Carilah distensi vena leher dan identifikasi medis.
• Dada. Periksalah adanya dan kualitas suara napas.
• Perut. Periksa adanya distensi, ketegasan, atau rigiditas.
• Panggul. Periksa adanya inkontinensia urin atau faeces.
• Ekstremitas. Periksa sirkulasi, sensasi, dan fungsi motor, dan

adanya perhiasan identifikasi medis.

Pemeriksaan fisik terarah Pasien medis yang sadar

Pemeriksaan fisik yang terarah pada pasien medis yang sadar
biasanya singkat. lnformasi yang terpenting diperoleh dari anamnesis
pasien dan pengukuran tanda vital. Fokuskan pemeriksaan pada bagian
tubuh yang dikeluhkan pasien. Contohnya, iika pasien mengeluhkan nyeri

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 69
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

perut, fokuskan pemeriksaan anda pada bagian tersebut pada tubuh. Alat
bantu ingatan yang dapat digunakan untuk memeriksa pasien dengan
kondisi medis yang responsif adalah dengan menggunakan pemeriksaan
OPQRST. Seperti alat bantu ingatan yang dibuat untuk anamnesis
SAMPLE, setiap huruf mewakili suatu kata yang dapat mengingatkan
anda untuk pertanyaan tertentu. OPQRST terutama akan membantu pada
pasien dengan keluhan nyeri atau kesulitan bernapas.

O - Onset (awal). Huruf ini bertuiuan untuk mempertanyakan apa yang
sedang dilakukan pasien pada saat nyeri mulai dirasakan (kapan
nyertersebut mulai dirasakan). Contohnya, "Apa yang anda lakukan pada
saat nyeri muncul?" atau "Apa yang anda kerjakan pada saat anda mulai
merasakan kesulitan bernapas?"

P - Provocation (pencetus). Tanyakan pertanyaan mengenai apa yang
mencetuskan atau mempengaruhi nyeri. Contohnya, "Apakah ada yang
anda lakukan dapat memperbaiki atau memperburuk nyeri?" atau" Apakah
nyeri jika anda mengambil napas dalam atau ketika saya menekan di
bagian sini?"

Q - Quality (kualitas). Tanyakan mengenal kualltas darl nyeri; cari tahu
apa yang sebenamya dirasakan pada nyeri atau gelala tersebut.
Contohnya, "Blsakan anda menjelaskan bagaimana nyeri yang dirasakan
Itu seperti apa?" atau "Apakah nyeri tersebut tajam atau tumpul?" atau
"Apakah nyeri dirasakan terus-menerus atau hilang timbul?"

R - Region and radiate (wilayah dan penjalaran). Tanyakan di mana nyeri
tersebut berasal dan ke manakah nyeri tersebut menialar. Contohnya,
"Dapatkah anda tuniukkan dengan jari anda di mana nyeri anda dirasakan
paling sakit?" atau "Apakah nyeri anda menialar ke bagian tubuh yang
lain?" atau "Apakah anda merasakan nyeri di tempat lain selain pada
dada?"

S - Severity (keparahan). Tanyakan mengenai keparahan nyeri atau
ketidaknyamanan. Skala 1 sampai 1o dapat digunakan dengan cara
seperti ini, "Dengan Skala 1 sampai 10, dengan 1o nyeri dirasakan
sebagai nyeri yang paling sakit seumur hidup anda, bagaimana anda
menilai nyeri yang anda rasakan sekarang?" dengan menggunakan skala

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 70
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

yang sama, tanyakan iuga kepada pasien keparahan nyeri pada saat
pertama kali nyeri muncul. Setelah anda memulai perawatan pasien,
tanyakanlah keparahan nyeri yang dirasakan pasien untuk memastikan
apakah nyerinya membaik atau memburuk.

T - Time (waktu). Tanyakan kepada pasien, sudah berapa Iamakah pasien
tersebut merasakan nyeri atau ketidaknyamanan. Pertanyaan sederhana
seperti, "Kapankah pertama kalinya anda merasakan nyeri yang anda
rasakan sekarang?" baisanya sudah cukup.

Menyelesaikan pemeriksaan

Ketika anda menyelesaikan pemeriksaan fisik pada pasien, anda
harus mempertimbangkan semua tanda-tanda dan gejala yang
menunjukkan suatu penyakit atau cedera. Beberapa kombinasi antara
tanda-tanda dan gejala dapat mengarahkan ke suatu masalah spesifik.
Penemuan sesederhana nyeri pada bagian tubuh tertentu dapat menjadi
penting. Kekurangan temuan tertentu dapat iuga mengarahkan anda pada
suatu kesimpulan. Contohnya, jika pasien mengalami cedera tetapi tidak
merasakan nyeri pada lokasi cedera, anda harus mempertimbangkan
masalah seperticedera tulang belakang, syok, atau penyalahgunaan obat.

Pada pemeriksaan pasien anda dan melalui waktu yang anda
habiskan untuk perawatan, ingatlah peraturan pertama dari perawatan
kegawatdaruratanz jangan sebabkan cedera tambahan. Pastikan bawah
anda hanya akan melakukan apa yang sudah dilatihkan kepada anda.
(Iihat rangkuman dari pemeriksaan pasien pada Tabel dibawah ini). Nanti
pada pelatihan ini, anda akan belajar mengenai apa yang dapat anda
kalukan berdasarnkan pemeriksaan fisik.

TABEL Peraturan untuk pemeriksaan pasien

1. Jangan berikan nyeri tambahan.

2. Jika pasien sadar dan merasa tidak ada yang benar atau
perilaku yang tedak terampil, pertimbangkan bahwa sesuatu
benar-benar salah.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 71
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

3. Pasien yang awalnya stabil dapat memburuk dengan cepat
sekali. Anda harus menyadari semua perubahan pada kondisi
pasien.

4. Perhatikan adanya perubahan warna kulit.

5. Perhatikan pasien dan perhatikan apa yang tampak salah.

6. Ukur tanda-tanda.

7. Lakukan pemeriksaan dari kepala hingga ujung kaki. Jika ada
yang terlihat, terdengar, tercium atau tampak salah pada diri
anda atau pasien anda, anggaplah bahwa ada sesuatu yang
serius dengan pasien ini.

8. Kegagalan pasien untuk merespon dengan sesuai pada
pemeriksaan untum sesandi atau fungsi motorik pada kaki atau
lengan haris depertimbangkan sebagai tanda dari cedera tulang
belakang.

Pemeriksaan yang berkelaniutan

Pada saat anda melakukan pemeriksaan yang berkelanjutan pada
lokasi kejadian atau pada saat dalam perjalanan menuju rumah sakit,
ulangi penilaian awal, ukur Iagi tanda vital, dan periksa iika suatu
intervensi masih efektif. Periksa ulang pasien, memperhatikan perubahan
pada pasien. Pengulangan pemeriksaan dan mencatat adanya perubahan
pada kondisi pasien. lngatlah iika pasien akan membaik, memburuk, atau
sama sala. Pasien yang mengalami cedera atau penyakit yang parah
harus dinilai kembali setiap Iima menit. Peraturan yang baik untuk diikuti
adalah pada saat anda selesai dengan penilaian berkelanjutan dan' awal
hingga akhir, itulah waktu untuk memulai penilaian berkelanjutan
berikutnya. Pasien yang mengalami cedera atau penyakit yang tidak
terlalu parah diperiksa setiap 15 menit.

F. Serah Terlma kepada teknisi kegawatdaruratan medis

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 72
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Pada saat anggota EMS tambahan tiba di lokasi kejadian,
sangatlah penting bagi anda untuk berkomunikasi dengan mereka.
Ben'kan informasi secara verbal kepada mereka mengenai:

• Nama dan usia
• Keluhan utama
• Status mental
• Jalan napas, pemapasan, dan status sirkulasi
• Penemuan fisik
• Riwayat pasien
• Intervensi yang dilakukan dan respon pasien terhadap intervensi

Beberapa sistem EMS iuga membutuhkan petugas first responder untuk
menyediakan laporan tertulis pada kru teknisi kegawatdaruratan medis.
Biasanya laporan ini berisi hal yang sama seperti laporan verbal. Laporan
tertulis ini akan menjadi bagian dari laporan perawatan pasien kru teknisi
kegawatdaruratan medis. Ketepatan informasi adalah penting dalam
laporan verbal dan tertulis karena perawatan yang diberikan oleh teknisi
kegawatdaruratan medis dan unit gawat darurat mmah sakit akan
berdasarkan pada evaluasi anda terhadap pasien.

TINJAUAN BAB

Ringkasan / Kesimpulan

Penilaian pasien adalah salah satu keterampllan yang pentlng anda
pelalarl sebagai petugas first responder. Walaupun tampak sepertl
membuang waktu, sangat penting bagi anda untuk memeriksa pasien
dengan balk dan menyeluruh Ilka anda akan menentukan perawatan apa
yang dlbutuhkan paslen. Anda harus mendeteksi masalah yang
mengancam nyawa dan menanganlnya secepatnya. Kemudian anda
harus mendeteksi masalah yang dapat menjadl ancaman nyawa jika
dlbiarkan tanpa perawatan. Selalu ingat:

• Kedatangan. Lakukan pengamanan lokasi kejadian. Pastikan lokasi
aman untuk dimasuki. Dapatkan informasi dari lokasi kejadian,

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 73
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

pasien, dan orang sekitar, jika memungkinkan, tentukan sifat dari
penyakit dan mekanisme cedera.
• Penilaian awal. Tentukan iika pasien sadar atau tidak. Jika anda
curiga adanya cedera tulang belakang, jagalah stabilisasi kepala
dan Ieher secara manual. Pastikan iika pasien memiliki ialan napas
yang bebas, pernapasan yang adekuat, dan nadi. Tangani semua
pendarahan yang serius.
• Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah. Perhatikan pasien.
Perhatikan adanya perhiasan identifikasi medis. Kumpulkan
informasi dengan menanyakan pertanyaan dan mendengarkan.
Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik anda terorganisir,
kemungkinan anda untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan
semakin besar. Gunakan alat pemeriksaan SAMPLE, DCAP-BTLS,
dan OPQRST yang sesuai.

Sebagai bagian dari pemeriksaan pasien, ukurlah tanda vital. Ingatlah
bahwa tanda vital dasar dan pengulangan pengukuran tanda vital adalah
sangat penting bagi penolong yang nantinya akan mengambil alih
perawatan pasien. Tentukan frekuensi nadi dan napas beserta
karaktemya. Nilai kulit untuk warna, temperature, dan kelembaban. Di
beberapa area, petugas first responder juga memasukkan ukuran pupil
dan tekanan darah sebagai tanda vital.

Pemeriksaan pasien berbeda-beda, berdasarkan jenis pasien, apakah
pasien trauma atau pasien dengan kondisi medis. Pemeriksaan dari
kepala hingga ujung kaki terdiri dari: Kepala. Periksa kulit kepala untuk
Iuka, memar, dan tulang tengkorak dan tulang wajah untuk adanya
deformitas, depresi, dan tanda cedera lainnya. Periksa kelopak mata, dan
bola mata untuk cedera dan periksa ukuran pupil, kesimetrisan, dan reaksi
terhadap cahaya. Perhatikan warna dari permukaan daIam kelopak mata.
Carilah darah, cairan jernih, atau cairan dengan darah di hidung dan
telinga. Periksa mulut untuk sumbatan, darah, dan bau-bau aneh.

• Leher. Periksa tulang servikal untuk nyeri dan deformitas, Periksa
ulang jika pasien memiliki stoma. Perhatikan adanya cedera dan
cari perhiasan identifikasi medis.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 74
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

• Dada. Periksa dada untuk Iuka, memar, penetrasi, dan objek yang
menusuk. Cari kemungkinan patah iga. Perhatikan ekspansi dada
dan gerakan dada.

• Perut. Periksa perut untuk Iuka, memar, penetrasi, dan objek yang
menusuk. Periksa untuk adanya nyeri yang lokal atau umum.

• Punggung bawah. Rasakan adanya nyeri lokal, deformitas, dan
tanda cedera lainnya. Periksa sisa punggung pada urutan terakhir
dan jika hanya keadaan sudah aman untuk menggulingkan pasien
(tidak ada kecurigaan cedera tulang belakang).

• Panggul. Tekan ke dalam dank e abwah untuk kemungkinan fraktur
dan tanda cedera lainnya.

• Bagian genital. Perhatikan adanya cedera yang ielas. Cari wilayah
yang basah. Perhatikan adanya priapismus pada saat memeriksa
pasien laki-Iaki.

• Ekstremitas. Periksa untuk deformitas, pembengkakan,
pendarahan, perubahan warna, toniolan tulang, dan fraktur yang
jelas. Periksa semua area dengan kecun’gaan fraktur tertutup.
Periksa nadi pada daerah distal. Pada pasien anak, tentukan
pengisian kapiler. Tentukan fungsi motorik dan sensasi. Periksa
adanya perhiasan identifikasi medis.

Walaupun teknisi kegawatdaruratan medis biasanya yang melengkapi
pemeriksaan fisik pada saat perjalanan menuju rumah sakit, pada
beberapa sistem EMS, penolong dapat membantu pengulangan penilaian
awal dan pengukuran tanda vital. Jika anda membantu penilaian
berkelaniutan, catatlah semua perubahan kondisi pasien atau intervensi
tambahan yang diberikan.

lngat dan pikirkan

Penting sekali bagi anda untuk dapat meniniau ulang pendekatan yang
sistematis pada penilaian pasien.

➢ Ambil waktu untuk meninjau peraturan untuk pemeriksaan pasien
pada Tabel. Anda dapat juga menuliskan peraturan inl dalam
bentuk kartu kecil dan menyimpannya untuk membantu anda untuk
mengingat. Pikirkan kepentingan untuk mengukur tanda vital dan

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 75
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

apa yang dapat anda simpulkan mengenai keadaan pasien.

lngatlah:
➢ Pada orang dewasa, frekuensi nadi yang kurang dan‘ 6o detak per

menit atau lebih dari 100 detak per menit dipertimbangkan sebagai

kondisi yang serius.
➢ Pada orang dewasa, frekuensi napas lebih dari 28 kali per menit

atau kurang dari 8 kali per menit dipertimbangkan sebagai kondisi

serius.
➢ Kulit dapat menuniukkan kondisi sen’us seperti syok, serangan

jantung, tekanan darah yang berkurang, dan kegawatdaruratan

panas dan dingin.
➢ lngatlah singkatan yang membantu ingatan seperti DCAP-BTLS,

SAMPLE, dan OPQRST. Beken‘alah dengan rekan anda dan

gunakan singkatan ini dalam scenario yang beragam.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 76
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

BAB III

MENGANGKAT DAN MEMINDAHKAN PENDERITA

Pendahuluan

Setelah menemukan penderita dan melakukan perawatan
sementara, mungkin diperlukan penanganan atau transportasi lebih lanjut.

Yang penting diingat dalam mengangkat dan memindahkan
penderita adalah "Do No Further Harm" (jangan membuat cedera lebih
lanjut). Ada penderita yang dapat langsung diangkat dan dipindahkan, ada
penderita tertentu yang membantu proses pemindahan yang rumit.
Apabila ragu-ragu, lebih baik menanyakan kepada paramedik yang
bertugas, langsung atau lewat radio.

I. MENGANGKAT PENDERITA

Prinsip dasar

Syarat utama dalam mengangkat penderita tentulah keadaan fisik
yang baik, yang juga terlatih dan dijaga dengan baik.

Jika anda melakukan pengangkatan dan pemindahan dengan tidak
benar, maka ini dapat mengakibatkan gejala atau nyeri sementara.
Apabila anda melakukan cara pengangkatan yang tidak benar ini setiap
hari, mungkin akan timbul penyakit yang menetap. Penyakit yang umum
diderita seorang paramedik adalah nyeri pinggang bagian bawah (low
back pain), dan ini dapat timbul pada usia yang lebih lanjut. Karena itu :
pelajarilah bab ini dengan seksama!

Beberapa dasar-dasar yang harus diketahui dalam pengangkatan adalah:

1. Bayangkan bahwa tubuh anda sebuah menara, tentu saja dengan
dasar yang lebih lebar daripada bagian atas. Semakin miring
menara itu, semakin mudah runtuh. Karena itu berusahalah untuk
senantiasa dalam posisi tegak, jangan membungkuk ataupun
miring.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 77
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

2. Gunakan paha untuk mengangkat, bukan punggung. Untuk
memindahkan sebuah benda yang berat, gunakan otot dari tungkai,
pinggul dan bokong, serta ditambah dengan kontraksi otot dari
perut karena beban tambahan pada otot-otot ini adalah lebih aman.
Jadi saat mengangkat, jangan dalam keadaan membungkuk.
Punggung harus lurus !

Gambar. Mengangkat dengan paha, bukan dengan punggung

Gunakan otot di punggung anda selalu dalam keadaan punggung lurus
untuk membantu anda memindahkan atau mengangkat benda yang berat.

3. Gunakan otot fleksor (otot untuk menekuk, bukan otot untuk
meluruskan). Otot fleksor lengan maupun tungkai lebih kuat
daripada otot ekstensor. Karena itu saat mengangkat dengan
tangan, usahakan telapak tangan menghadap ke arah depan.

Gambar. Cara Memegang Tandu

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 78
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

4. Usahakanlah sedapat mungkin agar titik berat beban sedekat
mungkin ke tubuh anda. Cedera punggung mungkin terjadi ketika
anda menggapai dengan jarak yang jauh untuk mengangkat
sebuah benda.

5. Sejauh mungkin pakailah alat untuk mengangkat ataupun
memindahkan penderita. Tandu dan brankar merupakan contoh
alat yang mempermudah pekerjaan anda.

6. Jarak antara kedua lengan dan tungkai.

Saat berdiri sebaiknya kedua kaki agak terpisah, selebar bahu.
Apabila cara berdiri kedua kaki jaraknya terlalu lebar akan
mengurangi tenaga, apabila terlalu rapat akan mengurangi
stabilitas.

Jarak kedua tangan dalam memegang saat mengangkat (misalnya saat
mengangkat tandu), adalah juga selebar bahu. Jarak kedua tangan yang
terlalu rapat akan mengurangi stabilitasnbenda yang akan diangkat, Jarak
terlalu lebar akan mengurang tenaga mengangkat.

Gambar. Jarak saat berdiri dan saat memegang

7. Blasanya kita akan bekerja dengan satu atau beberapa petugas
lain. Dalam keadaan darurat, kerja tim hal yang penting.

Seluruh anggota tim sebaiknya dilatih dengan teknik yang tepat.
Permasalahan dapat terjadi ketika bentuk fisik maupun tenaga fisik
anggota tim sangat tidak sebanding. Rekan yang kuat dapat cedera jika

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 79
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

yang lemah jatuh saat mengangkat. Petugas yang lemahpun dapat cedera
juga jika dia mencoba yang melakukan hal yang berlebihan. Idealnya,
rekan dalam mengangkat dan memindahkan seharusnya mampu dan
sama kekuatan dan tingginya.

Jadi : ketahui kemampuan fisik dan keterbatasan dari anggota tim
anda.
Saat bergerak dalam tim, instruksi yang jelas teramat penting.

Apabila anda pimpinan tim selalu lakukan urutan berikut ini :

= "Semua siap ?" (periksalah bahwa semua anggauta tim memang
siap)

= "Angkat setelah hítungan tiga, satu - dua - tiga"

= Apabila ada yang berseru tanda tidak siap, segera instruksi
"Berhenti !" atau "Stop !", lalu ulangi dari awal.

1. Tempatkan kaki anda pada
jarak yang tepat (se-bahu)
Penolong yang bertubuh tinggi
mungkin berdiri sedikit lebih
lebar.

2. Putar kaki anda agak sedikit
ke arah luar Sebagian besar orang merasa akan lebih stabil dan
nyaman dengan posisi ini.

3. Taruhlah telapak kaki mendatar di atas lantai. Ini akan
menyebabkan posisi tubuh sedikit maju. Punggung harus tetap
lurus!

4. Kencangkan otot punggung dan otot perut anda. Kepala tetap
menghadap ke depan dalam posisi netral.

5. Tempatkan tangan anda pada jarak cukup dari setiap lainnya untuk
memberi keselmbangan pada saat benda diangkat (se-bahu).

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 80
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

6. Genggemlah pegangan tandu dengan baik. Ini berarti seluruh
telapak dan jari tangan anda harus berhubungan dengan benda
dan seluruh jari-jari tangan akan menekuk dengan sudut yang
sama.

7. Selama anda memulai untuk mengangkat, punggung anda harus
tetap terkunci sebagai poros untuk kekuatan kontraksi otot seluruh
tungkal.

8. Saat menurunkan tandu lakukan langkah di atas dalam urutan
sebaliknya.

Memutar penderita dengan "Log Rol"

Kalau dicurigai

cedera tulang belakang kita

tidak dapat memutar

penderita semaunya karena

mungkin akan

mengakibatkan kelumpuhan. Memutar penderita ini dilakukan misalnya

karena penderita muntah banyak, atau akan dipindahkan ke papan tulang

punggung (ada di bagian terakhir bab ini).

Cara memutar/memiringkan penderita adalah sebagal berikut :

1. Memutar/memiringkan penderita dilakukan dengan 3 penolong-
Penolong pertama berlutut di baglan kepala, Penolong ke-z berlutut
setingg dada penderita, penolong ke-3 setinggi panggul.

2. Penolong pertama : dengan ke-2 tangan memegang kepala,
masing-masing pada kedua sisi, kepala penderita. Penolong
pertama akan menjadi pemimpin.

Penolong ke-2: memegang bahu dan panggul penderita, pada sisi
jauhnya.

3. Penolong ke-3: memegang panggul dan lutut penderita, pada sisi
jauhnya.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 81
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

4. Penolong pertama menghitung: Satu, Dua, Tiga!, lalu penderita
diputar ke arah penolong, seolah-olah penderita adalah balok.
Kepala penderita tidak baleh berputar ("menengok"), dan harus
tetap dalam posisi netral dan segaris.

1. MEMINDAHKAN PENDERITA

PRINSIP MEMINDAHKAN PENDERITA

Memindahkan penderita dapat dalam keadaan darurat atau bukan darurat.

Prioritas utama dalam perawatan emergensi adalah untuk
mempertahankan jalan nafas , pernafasan dan peredaran darah.
Bagaimanapun, jika di tempat yang tidak aman, maka terpaksa penderita
dipindahkan terlebih dahulu

Contoh dari keadaan dimana penderita terpaksa dipindahkan secara
darurat adalah :

• Kebakaran atau ancaman dari kebakaran. Kebakaran akan dapat
merupakan sebuah ancaman berat, bukan hanya pada penderíta
tetapi juga pada penolong.

• Ledakan atau ancaman dari ledakan

• Ketidak mampuan untuk melindungi penderita dari bahaya lain di
tempat kejadian. Contoh dari bahaya ini adalah :

→ Bangunan yang tidak stabil

→ Mobil terguling, bensin tumpah

→ Adanya bahan berbahaya (Hazardous Material - Hazmat)

→ Orang sekitar yang berperilaku mengancam

→ Kondisi cuaca yang buruk.

• Terpaksa memindahkan satu penderita agar dapat mencapal
penderita yang lain, misalnya pada kecelakaan bis.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 82
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

• Ketika perawatan gawat darurat tidak dapat diberikan karena lokasi
atau posisi penderlta. Misalnya pada sesorang yang terkena henti
jantung-nafas, RJP hanya dapat dilakukan pada posisi tidur di atas
dasar yang keras.

Bahaya terbesar pada saat memindahkan penderita
cedera (trauma) dalam keadaan darurat adalah kemungkinanan
memburuknya suatu cedera tulang belakang. Pilihlah cara
memindahkan penderita yang seaman mungkin, dengan tetap
memperhatikan kesegarisan tulang belakang dengan kepala
penderita.

Contoh dari cara pemindahan darurat adalah :

Tarikan lengan

Anda berdiri pada sisi kepala. Masukkan lengan
kanan anda di bawah

ketiak kanan penderita dan pegang lengan bawah Gambar. Tarikan
kanan penderita, lakukan hal yang sama dengan ekstremitas
lengan kiri. Silangkan kedua iengan penderita di
depan dada, lalu tariklah penderita ke belakang.
Tentu saja kedua kaki penderita akan terantuk-
antuk, karena itu kalau tidak terpaksa, jangan
lakukan cara ini.

Tarikan bahu

Berlututlah di bagian kepala penderita,
masukkan ke-2 tangan anda di bawah kedua
ketiak penderita, cengkeram, lalu tariklah ke
arah belakang. Sekali lagi, cara ini berbahaya.

Tarikan baju 83

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Untuk melakukan penarikan baju, sebelumnya lakukan hal di bawah ini.

Pertama, mengikat tangan penderita
atau pergelangan dengan longgar
dengan 2 kain segi tiga (mitela) atau
kasa untuk melindungi mereka selama
memindahkan. Kemudian cengkram
bahu dari baju penderita. Menarik baju
bawah kepala penderita untuk
membentuk penyokong. Lalu gunakan ujung baju ini sebagai gagang
untuk menarik penderita kearah anda. Hati-hati untuk tidak mencekik
penderita.

Penarikan baju Ini sebalknya dilakukan dengan baju menarik pada ketiak
penderita, bukan leher. Tarikan baju hanya dapat dilakukan pada baju
yang agak kaku.

Tarikan selimut

Bila penderita sudah tertidur di atas selimut
(atau mantelnya) lipatlah bagian selimut yang
berada di kepala penderita, lalu tariklah
penderita ke belakang. Jangan lupa untuk
menyimpul selimut pada bagian kaki, agar
penderita tidak tergeser ke bawah.

Memindahkan dalam keadaan darurat lainnya

Memindahkan dalam keadaan
darurat lainnya termasuk menggendong
penderita di belakang punggung dengan
satu penolong seperti membawa tas
punggung (ransel), dengan menopang
penderita dari sisinya sambil berjalan oleh
satu penolong, membopong penderita oleh
satu penolong seperti membawa anak kecil,
dan dengan cara mengangkat lalu

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 84
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

membopongnya seperti cara pemadam kebakaran. Di bawah ini gambar
cara mengangkat sepertí pemadam kebakaran.

Memindahkan tidak dalam keadaan darurat Karena tidak dalam
keadaan darurat, ada waktu untuk merencanakan pemindahan serta
meminta tolong untuk bantuan pengangkatan dan pemindahan.

Mengangkat Langsung dari lantai

Mengangkat langsung dari tanah biasanya memerlukan paling sedikit 3
penolong. Cara mengangkat ini bermanfaat kalau tandu tidak dapat
dibawa ke penderita.

Cara ini akan terasa berat bila bobot penderita lebih dari 70-80 kg,
permukaan tanah yang dilalui tidak rata atau penderita tidak mau
bekerjasama.

Beritahukan penderita apa yang anda akan kerjakan, dan usahakan agar
penderita harus tetap tenang demi keseimbangan penolong. Letakkan
lengan penderita di atas dadanya jika memungkinkan.

Untuk melakukan pengangkatan langsung dari tanah, ikuti langkah-
langkah berikut ini :

1. Ke-3 penolong berada pada salah satu sisi penderita, jika
memungkinkan, beradalah pada sisi yang paling sedikit cedera.

2. Berlutut pada posisi awal, lebih baik pada lutut yang sama untuk
semua penolong.

3. Penolong pertama mengunci kepala penderita dengan meletakkan
satu lengan di bawah leher dan bahu. Dia harus meletakkan lengan
yang lain dibawah punggung bawah penderita

4. Penolong kedua meletakkan tangan di bawah punggung dan
bokong.

5. Penolong ketiga meletakkan satu lengan dibawah lutut penderita,
dan lengan lainnya di bawah bokong.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 85
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

6. Penderita siap diangkat (perintah : “Siap angkat ?")

7. Dengan isyarat (perintah : "Angkat ke lutut !"), seluruh penolong
harus mengangkat penderita pada lutut mereka secara bersamaan.

8. Penderita dimiringkan ke arah dada kita (perintah "Siap putar ?,
Putar !"). Lalu, dengan gerakan lembut, putar penderita secara
bersamaan ke arah dada penolong sehingga penderita terletak
miring di lekukan siku anda.

9. Lalu berdiri secara bersamaan (perintah : "Siap berdiri ?, berdiri !).

10. Untuk menurunkan penderita di atas tandu, lakukan urutan
sebaliknya.

Gambar. Pengangkatan lansung dari lantai

Pengangkatan anggota badan
Jangan gunakan cara îni jika penderita mempunyai cedera pada lengan
dan tungkainya, atau ada kemungkinan patah tulang belakang.
Pengangkatan ini dapat dipakai misalnya untuk memindahkan penderita
pingsan dari kursi ke lantai.
Dua penolong cliperlukan untuk melakukan pengangkatan:

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 86
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

1. Penolong pertama mengambil posisi di kepala penderita dari sisi
belakang. Lakukan pengangkatan pada lengan penderita.

2. Penolong yang lain berdiri antara 2 tungkai penderita, menyelipkan
tangan dan mengangkat ke-2 lutut penderita.

3. Dengan isyarat, anda berdua kemudian dapat memindahkan
penderita pada lokasi yang diinginkan.

Mengatur Posisi Penderita

Bagaimana anda mengatur posisi penderita tergantung pada kondisi
penderita.

• Penderita cedera berat sebaiknya posisi netral-segaris

Posisi netral : kepala tidak ditekuk dan tidak diluruskan (tidak
fleksifekstensi}

Posisi segaris : kepala segaris dengan sumbu tubuh.

• Kalau ditemukan penderita trauma (cedera) dalam keadaan darurat
yang mengancam yawa, penderita jangan dipindahkan. Petugas
paramedik akan menilai, menstabilkan dan memindahkan penderita
jika perlu.

Catatan : Bila tidak ada paramedik, lakukan sesuai yang telah diajarkan

• Penderita yang menunjukkan tanda-tanda syok mungkin
ditempatkan pada posisi syok, jika itumtidak memperburuk

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 87
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

memperburuk cedera pada tungkai atau tulang belakang. Ini
dikerjakan dengan penderita terlentang dengan meninggikan
kakinya sekitar 20-30 cm.

Posisi Pulih

Posisi pulih dilakukan pada penderita yang tidak ada cedera tulang
belakang, tidak ada gangguannjalan nafas, dan masih bemafas dengan
baik.

Dengan cara ini, cairan yang ada dalam mulut penderita akan mengalir
keluar sehingga tidak akan mengakibatkan sumbatan jalan nafas.

Caranya adalah sbb.:

1. Tekuk lutut kanan penderita, dan letakkan tangan kiri penderita di
atas pipi penderita.

2. Putar penderita sehingga miring pada sisi kirinya, lalu letakkan
lengan kanan penderita ke depan sehingga dapat menyanggah
tubuh.

Gambar Posisi Pulih 88

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

3. PERALATAN

Ada banyak alat yang tersedia untuk mergangkat dan memindahkan
penderita. Alat mana yang akan dipakai tergantung dari keadaan
penderita ditemukan, dan jenis penyakitnya.

Brankar (cot, "Verno")

Sebuah tandu yang mempunyai kaki-kaki ber-roda. Tandu ini ada yang
dapat dilipat kakinya sehingga dapat masuk ke dalam ambulans ("Verno").

Alat ini harus dilatih dalam pemakaiannya.

Gambar. Brankar

Tandu

Blasanya terbuat dari rangka aluminiumn dengan dasar dari terpal. Mudah
dan murah, namun tidak begitu kokoh dalam melindungi tulang belakang.
Pembersihannya juga sulit.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 89
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Gambar. Tandu

Tandu sekap (Scoop stretcher, orthopaedic stretcher)

Tandu yang terdiri dari 2 (kadang kadang 4) belahan, yang masing
masing diselipkan dari satu sisi penderita, dan kemudian diselipkan
masing-masing di bawah satu sisi penderita, dan kemudian dapat dikunci.
Sangat ideal untuk mengangkat dari ruangan yang sempit.

Tandu sekop harganya mahal, karena itu pada saat mengangkat
penderita sebaiknya 4 penolong, satu di bagian kepala, satu di bagian kaki,
dan masing-masing satu di kiri dan kanan. Ingat : tandusekop hanya
dipakai untuk mengangkat dan memindahkan, bukan untuk transportasi.

Gambar. Tandu sekop
Membuat tandu sendiri
Anda dapat membuat tandu sendiri dengan 2 tongkat dan satu selimut.

1. Bentangkan selimut di atas lantai
2. Tempatkan 1 tongkat sejajar dengan panjang selimut, pada tepi

selimut.
3. Lipatkan tepi selimut di atas tongkat sampai 30 cm. dari tepi selimut.
4. Lakukan pada sisi yang lain.

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 90
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

5. Ketika penderita ditempatkan diatas sellmut, berat dari tubuh akan
mengunci tepi selimut ke tongkat.

6. Tandu juga dapat dibuat dari 3 atau 4 mantel atau jaket. Pertama
menggulung lengan baju secara terbalik lalu kencangkan jaket
dengan lengan baju baglan dalam mantel. Tempatkan tongkat
melalui tiap-tiap lengan baju.

Gambar. Tandu Infrovisasi

Kursi Tangga

Bila kita berlari
membawa penderita turun
dari tangga jelas akan

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 91
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

menambah kemungkinan cedera pada penderita dan cara yang aman
untuk membawa penderita turun adalah memakai kursi. Ada kursi tangga
yarıg khusus dibuat, ada juga tandu yang dapat dilipat sehingga
menyerupai bentuk kursi, namun kita dapat juga memakai kursi biasa
yang ada pegangan tangan di samping.

Sewaktu melakukan pengangkatan kursi, jangan lupa kaidah-kaidah
pengangkatan yang benar. Selesai menuruni tangga, penderita dapat
dipindahkan pada tandu yang biasa.

Sebaiknya ada penolong lain yang bertugas sebagai pengintai. Penolong
ini dapat memberikan aba- aba, ataupun memberitahu masih berapa anak
tangga dsb.

Papan Punggung

Papan punggung ini ("Back board") dapat
pendek atau panjang.

Papan pungggung panjang ("long spine
board") adalah sepanjang tubuh penderita,
dan dipakai bila ada kecurigaan penderita
ada cedera tulang belakang. Setelah
berada di atas papan punggung panjang,
penderita tidak akan dipindah lagi ("yang
dipindah adalah papannya"), sehingga
tidak perlu bolak-balik dipindah, kadang- kadang di RS pun penderita akan
tetap berada di atas papan ini. Papan punggung pendek hanya sampai
pinggul penderita, dan dapat menstabilkan penderita sampai pinggul. Ini
digunakan untuk menstabilkan seorang penderita yang berada pada posisi
duduk dengan kecurigaan ada cedera tulang belakang. Jelas bahwa alat
ini dipakai di praRS, dan bermanfaat untuk misalnya mengeluarkan
pengendara mobil, dari mobilnya yang tabrakan (mengeluarkan penderita

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 92
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

dengan cara yang benar dikenal sebagai ekstrikasi). Biasanya penderita
akan diikat di atas раpan.

REFERENSI

1. Keith J,Karren, Brent Q.Hafen, Daniel Limmer, First Responder, a skill
approach, 5 th Edition Brady

2. Medical First Responder Woork book Program
3. AHA 2015

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 93
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban

Pusdiklat Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta 94
BHD, Menstabikkan korban di kendaraan, dan Tranportasi korban


Click to View FlipBook Version