1
BAB I
KAJIAN TEORI
1. Konsep Reggio Emilia Approach
Anak Usia Dini (AUD) memiliki
karakterisitik yang berbeda dengan orang dewasa
dalam berperilaku. Dengan demikian dalam hal
belajar AUD juga memiliki karakteristik yang tidak
sama pula dengan orang dewasa. Karakteristik cara
belajar AUD merupakan fenomena yang harus
dipahami dan dijadikan acuan dalam merencanakan
dan melaksanakan pembelajaran untuk AUD. Untuk
itu diperlukan suatu Perangkat Pembelajaran yang
dapat menjembatani kebutuhan anak dengan tahapan
perkembangannya. Perangkat Pembelajaran adalah
pola yang digunakan guru dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran dalam rangka membantu
anak mencapai hasil belajar tertentu. Salah satu
pendekatan pembelajaran yang dibahas dalam
penelitian ini adalah Pendekatan Regio Emilia
(REA).
2
Loris Malaguzzi (Cagliari, dkk, 2016)
mendirikan "Pendekatan Reggio Emilia di sebuah
kota di Italia Utara disebut Reggio Emilia.
Pendekatan Reggio Emilia ini dikembangkan untuk
pengasuhan anak di kota dan program pendidikan
melayani anak-anak dirancang untuk semua anak-
anak sejak lahir sampai usia enam tahun. Anak-
anak dilihat memiliki sikap kompeten,
berwawasan, ingin tahu, imajinatif, inventif dan
memiliki keinginan untuk berinteraksi dan
berkomunikasi dengan orang lain.
Metode atau pendekatan pendidikan,
terutama untuk anak usia dini, yang berbeda dari
pendekatan lainnya, yaitu Pendekatan REA ini
berkomitmen “menciptakan kondisi pembelajaran
yang akan mendorong dan memfasilitasi anak
untuk membangun kekuatan berpikirnya sendiri
melalui penggabungan seluruh bahasa ekspresif,
komunikatif, dan kognitifnya” (Edwards, 1998).
REA ini adalah sistem yang kompleks, namun
sangat menarik perhatian dunia pendidikan anak
usia dini selama 50 tahun terakhir.
3
Pendekatan Reggio Emilia dapat dipandang
sebagai sumber atau inspirasi untuk membantu
pendidik, orang tua, dan anak-anak ketika mereka
bekerja sama untuk mengembangkan program
pendidikan mereka sendiri.
Pendekatan Reggio Emilia percaya bahwa
anak usia dini belajar melalui interaksi dengan
orang lain, termasuk orangtua, dan masyarakat.
Pendekatan Reggio Emilia melihat anak-anak
mempunyai sikap berdaya saing, kreatif, ingin
tahu, imaginatif, intensif dan mempunyai
keinginan untuk berinteraksi dan berkomunikasi
dengan orang lain. Filosofi dari Reggio Emilia
adalah sebuah pendekatan untuk mengajar, belajar
dan advokasi untuk anak-anak. Dalam bentuk yang
paling dasar, itu adalah cara untuk mengamati apa
yang anak-anak tahu, ingin tahu tentang apa dan
menantang mereka (Kelemen, 2013). Guru
mencatat pengamatan ini untuk merefleksi cara-
cara yang sesuai dengan tahapan perkembangan
anak untuk membantu mengembangkan potensi
akademik dan sosial anak. Proyek jangka panjang
4
menghubungkan bidang akademik inti dalam dan
keluar dari kelas
Inti kurikulum Reggio Emilia
(Edwards,dkk, 1998) adalah perencanaan proyek
sebagai hasil dari ketertarikan anak pada suatu hal.
Proyek ini tumbuh dari pengalaman pertama yang
direncanakan oleh guru untuk membantu anak-
anak mengeksplorasi adat budaya mereka atau
lingkungan fisik sekitar mereka atau hasil dari
kejadian spontan seperti ide anak atau pertanyaan
pada guru. Hampir setiap pengalaman yang
membangkitkan minat anak dapat menjadi dasar
proyek. Proyek dilakukan secara mendalam dan
mendetail, menggunakan variasi dalam metode
penyelidikan dan sebuah gambaran pilihan dan
sebuah bentuk grafik.
Pada setiap langkah aktivitas, guru-guru
mengobservasi, mendiskusikan dan menafsirkan
bersama hasil observasi mereka, yang selanjutnya
membuat pilihan-pilihan baru untuk ditawarkan
pada anak-anak. Dengan mendiskusikan dalam
kelompok dan menilik ulang pengalaman-
5
pengalaman dan ide-ide anak-anak akan tumbuh
dengan pemahaman mereka. (Dengan catatan
bahwa banyak hal terjadi di dalam kelas selain
mengerjakan proyek, sementara proyeknya sendiri
memerlukan sebagian waktu dalam sehari. Waktu
lain dihabiskan dalam aktivitas prasekolah
tradisional, misalnya permainan dramatik dalam
ruang realistik, permainan balok, waktu membaca,
menulis, bermain dengan penuh semangat,
tanggung jawab di sekolah dan hanya berbicara
dengan teman-teman).
2. Konsep Budaya Lokal
Budaya lokal merupakan ciri khas atau
keunggulan yang dimiliki setiap wilayah yang dapat
dimanfaatkan untuk membangun peradaban manusia
Indonesia. Nilai-nilai budaya lokal dapat dijadikan
sebagai basis bagi pendidikan karakter di sekolah.
Wahab (2012) mengatakan bahwa masyarakat
pendukung nilai-nilai budaya dan beberapa
diantaranya dapat dikategorikan sebagai local genius
atau local knowledge dapat menjadi sumber nilai
6
bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai budaya
yang sudah dianggap baik berupa budaya lokal
dijadikan materi atau sumber materi pendidikan.
Budaya lokal dapat dipahami sebagai
gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana,
penuh kearifan, bernilai baik yang tertanam dan
diikuti oleh anggota masyarakatnya. Beberapa
daerah di Sulawesi Selatan yang masih menegang
teguh sifat-sifat kebijaksanaan dari para sesepuh
yang pernah hidup ditengah pusaran budayanya.
Secara garis besar prinsip Siri’na Pacce adalah
pandangan hidup yang mendominasi masyarakat di
Sulawesi Selatan secara umum dan suku Bugis
Makassar secara khusus.
Budaya lokal hadir karena adanya sikap
saling menghormati terhadap sesama, terhadap
alam dan terutama kepada Yang Maha Pencipta.
Di Sulawesi Selatan sendiri sumber utama
kebijaksanaan tersebut terdapat pada Sure’ Galigo
yang membahas tentang kebijaksanaan hidup pada
masa Sawerigading.
7
Menurut (Rahim, 2019) adapun nilai-nilai
utama yang terdapat dalam kebudayaan Bugis
Makassar yang dapat ditanamkan pada Anak Usia
Dini diantaranya :
a. Lempu (Kejujuran)
b. Macca (Pintar)
c. Assitinajang (Kepatutan)
d. Getteng (Keteguhan)
e. Reso (Berusaha)
f. Sipakatau (saling memanusiakan)
g. Abulo Sibatang
h. Sipatuo Sipatokkong
i. Barani
j. Taro ada Taro Gau
k. Siri’
Kearifan dan budaya lokal tersebut bernilai
tinggi karena didalamnya terkandung nilai-nilai etik
dan moral serta norma-norma yang sangat
mengedepankan pelestarian nilai-nilai yang menyatu
dalam kehidupan masyarakat sehingga sangat
mudah untuk diimplementasikan.
8
Kearifan budaya lokal yang menunjukkan
identitas dan karakter budaya lokal terlihat secara
jelas dalam konsep ketahanan budaya lokal yang
mestinya nilai kearifan budaya lokal tetap terjaga
dan menjadi nilai yang tetap ada untuk
memperkokoh ketahanan budaya lokal. Untuk
menuju kearah ketahanan budaya lokal dan
pelestarian “esensi” dan pengembangan
“substansi” unsur-unsur budaya universal, maka
perlu sejak dini diperkenalkan kepada anak
sehingga menjadi suatu pembiasaan dalam
kehidupan sehari-hari.
Fungsi Budaya lokal
Wagiran (2010) menyatakan budaya lokal
paling tidak menyiratkan beberapa konsep yaitu :
1) Budaya lokal adalah sebuah pengalaman
panjang yang diendapkan sebagai petunjuk
perilaku seseorang;
2) Budaya lokal tidaklepas dari lingkungan
pemiliknya
9
3)Budaya lokal bersifat dinamis,lentur, terbuka
dan senantiasa menyesuikan dengan jaman.
Berlandaskan hal diatas makan dapat
dikatakan bahwa budaya lokal merupakan sebuah
budayaatau gagasan setempat yang bersifat
bijaksana, penuh karifan dan bernilaibaik yang
tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.
Budaya lokal berjuwud dalam gagasan, perilaku
dan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat
dalam menjawab berbagai kebutuhan hidup
mereka.
Budaya lokal seperti menjadi salah satu
wadah dalam menguatkan kebersamaan atau
nuansa kolektifitas, dimana hal yang seperti itu
sudah sangat sulit dijumpai terutama dikota-kota
besar sepeti Makassar. Dengan adanya budaya
lokal masa secara tidak langsung harga diri dari
masyarakat juga terjaga. Karena budaya lokal ini
adalah ciri khas yang dimiliki setiap masyarakat
yang mendiami daerahnya masing-masing.
10
3. Mengapa Pembelajaran Budaya Lokal Perlu ?
Salah satu prinsip pembelajaran untuk anak usia
dini yang harus diperhatikan adalah pembelajaran harus
terkait atau berhubungan langsung dengan kehidupan
nyata mereka. Pembelajaran dirancang sesuai konteks
kehidupan, menghargai budaya anak, serta melibatkan
orang tua dan komunitas sebagai mitra. Prinsip tersebut
menggambarkan bahwa pembelajaran yang dirancang
harus berbasis pada nilai budaya di mana anak tinggal
dan budaya yang sesuai dengan identitas anak tersebut.
Pembelajaran yang dirancang tidak mencabut anak dari
konteks daerah, budaya dan bahasa di mana anak tinggal.
Hal ini sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila
sebagai visi besar, cita-cita, tujuan utama pendidikan,
sekaligus komitmen penyelenggara pendidikan dalam
membangun sumber daya manusia Indonesia yang
memiliki karakter berkebinekaan global tanpa
kehilangan identitas atau jati dirinya. Sebelum memiliki
kesiapan berinteraksi dengan budaya lain, anakanak
11
perlu memiliki kemampuan-kemampuan dasar
mempertahankan budaya luhur, lokalitas, dan
identitasnya sebagai suatu bangsa.
Pembelajaran yang berakar pada konteks daerah,
budaya, dan bahasa yang dekat dengan kehidupan anak
akan melahirkan pembelajaran bermakna dan
meningkatkan bentuk partisipasi keluarga dan
masyarakat. Pembelajaran yang bermakna dan
melibatkan keluarga serta masyarakat ini akan
mendukung semakin besarnya peluang membangun
Capaian Pembelajaran anak secara holistik dan
berkelanjutan karena dibangun dalam sebuah program
pembelajaran di lembaga dan dilanjutkan di lingkungan
keluarga dan masyarakat melalui pembiasaan, aktivitas
rutin di rumah dan teladan orang dewasa di sekitar anak.
Secara konkret, implementasi pembelajaran yang
berbasis pada konteks daerah, budaya dan bahasa dapat
diwujudkan dengan memilih tema, cerita, lagu, proyek-
proyek bahkan penggunaan bahasa Ibu atau bahasa
daerah sebagai bahasa pengantar di lembaga PAUD.
12
4. Mengapa Reggio Emilia Approach?
Pendekatan Reggio Emilia memiliki prinsip-prinsip
pembelajaran yang hampir mirip dengan Kurikulum
terbaru yaitu Kurikulum Merdeka.
Adapun prinsip-prinsipnya ialah :
Berpusat Pada
Anak
Studio Belajar Kolaborasi dan
Interaksi
Sinergitas Guru dan Lingkungan sebagai
Orang Tua tempat Belajar
Dokumentasi
1) Berpusat Pada Anak
Pembelajaran bertujuan untuk menggali potensi
anak dengan cara anak saling bertukar pikiran
dengan teman-temannya.
2) Kolaborasi dan Interaksi
13
Sistem pembelajaran dirancang agar guru, anak
dan orang tua saling terhubung dalam proses
pembelajaran
3) Studio Belajar
Ciri khas reggio Emilia ialah Atlier atau studio
tempat anak melakukan berbagai macam
eksperimen yang dilengkapi dengan berbagai
macam alat main yang bersifat alami.
4) Lingkungan sebagai tempat Belajar
Lingkungan terdiri atas lingkungan sekolah,
lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat.
Lingkungan menjadi bagian penting dalam
proses pembelajaran sehingga dipandang perlu
segala pembelajaran saling terhubung dan
mampu mengeksplorasi kemampuan anak.
Lingkungan mengajarkan anak untuk mengenal
jati dirinya, sehingga dipandang perlu
membangun dan menerapkan nilai budaya lokal
sesuai dengan nilai-nilai yang ada didalam
masyarakat, agar anak mampu membawa diri
dalam lingkungan sekitarnya.
14
5) Sinergitas Guru dan Orangtua
Guru memiliki peran sebagai Kontruktur,
peneliti, dokumentator dan advokat untuk anak
dari perannya tersebut diharapkan sinergi orang
tua dalam memberikan penguatan pengetahuan
yang telah diberikan guru dalam lingkungan
keluarga dan masyarakat
6) Dokumentasi
Dokumentasi sebagai sarana dalam
mengumpulkan informasi dan melihat sejauh
mana perkembangan kemampuan anak.
5. Penerapan Reggio Emilia Approach Berbasis
Budaya Lokal
Dalam menerapkan Modul Proyek Reggio
Emilia Approach Berbasis Budaya Lokal (Mirabel)
dilakukan melalui kegiatan secara langsung, dimana
anak terlibat aktif dalam memainkan perannya.
Pendekatan Reggio Emilia banyak diadopsi sebagai
program pra-sekolah. Prinsip-prinsip Reggio Emilia
yang berpusat pada anak antara lain :
15
a) Anak-anak harus memiliki kontrol atas arah
belajar mereka;
b) Anak-anak harus dapat belajar melalui
pengalaman menyentuh, bergerak,
mendengarkan, melihat, dan mendengar;
c) Anak-anak harus memiliki hubungan yang
dekat dengan anak-anak lain
d) Anak-anak harus memiliki kesempatan untuk
mengekspresikan diri.
Inti kurikulum Reggio Emilia ( Edwards,
1998) adalah perencanaan proyek sebagai hasil
dari ketertarikan anak pada suatu hal. Proyek ini
tumbuh dari pengalaman pertama yang
direncanakan oleh guru untuk membantu anak-
anak mengeksplorasi adat budaya mereka atau
lingkungan fisik sekitar mereka atau hasil dari
kejadian spontan seperti ide anak atau pertanyaan
pada guru. Hampir setiap pengalaman yang
membangkitkan minat anak dapat menjadi dasar
proyek. Proyek dilakukan secara mendalam dan
mendetail, menggunakan variasi dalam metode
16
penyelidikan dan sebuah gambaran pilihan dan
sebuah bentuk grafik.
Wurm (2005) menjeaskan Ada 4 Jenis
Proyek dalam Reggio Emilia Approach
diantaranya :
1. Proyek berdasarkan Tema
Contoh : Proyek teori warna dimana anak-
anak saling berdiskusi untuk
mengeksplorasi dan menciptakan
pemahaman mereka tentang warna. Proyek
bertukar pesan melalui saling bertukar
symbol sampai pada ke huruf dan pada
akhirnya kalimat.
2. Proyek Tentang Lingkungan
Proyek ini dibuat berdasarkan lingkungan
tinggal anak ataupaun lingkungan sekolah.
Proyek Proyek ini dapat dilakukan
berdasarkan hasil pengamatan anak dari
lingkungan mereka. Contoh proyek yang
dapat dilakukan adalah kegiatan kerja bakti
17
yang biasa terlihat di lingkungan
masyarakat.
3. Proyek Tentang Kehidapan Sehari-hari
Proyek ini muncul dari kehidupan sehari-
hari anak. Bisa dalam hal tentang aktivitas
yang dilakukan dirumah, di sekolah atau
lingkungan masyarakat. Proyek ini dapat
mengarah kemana saja tergantung pada apa
yang diamati dan dihipotesiskan oleh anak.
4. Proyek Yang Dikelola Sendiri
Proyek ini ialah proyek yang dapat
dilakukan dalam jangka waktu singkat atau
proyek jangka waktu lama. Proyek ini bisa
dilakukan sebelum mereka ke sekolah, atau
sambil menunggu jemputan atau proyek
ketika pulang dari sekolah. Proyek ini
disekola sendiri oleh anak dan dapat
disesuikan dengan waktu anak. Lingkungan
sebagai guru dan mendukung interaksi
belajar anak, proyek ini sebagai sarana anak
saling bersosialisasi, mengobrol atau
bekerja sama . Contoh kegiatan proyek
18
ialah kegiatan bercocok tanam, menenun,
atau membuat sebuah karya.
Pemilihan proyek dilakukan guru
berdasarkan hasil diskusi bersama anak-anak.
Proses pemilihan proyek dimulai dengan :
1. Memulai proyek dengan melakukan
diskusi dan pertanyaan
2. Mengembangkan Ide Proyek
3. Melaksanakan Proyek
4. Mendokumentasikan Proyek
Dalam pelaksanaan proyek inilah kemudian
Nilai-nilai Budaya lokal diselipkan dalam proses
berjalannya kegiatan proyek. Pada tahapan ini kita
jelaskan terlebih dahulu budaya lokal yang akan
dikenalkan dan di implementasikan kepada anak
didik. Pengertian budaya lokal didapatkan
berdasarkan hal analisis literatur dan wawancara
dengan tokoh masyarakat bugis Makassar. Adapun
budaya lokal yang dimaksud ialah :
19
1. Reso
Reso adalah berasal dari bahasa Makassar
yang artinya bekerja keras, etos kerja, banting
tulang, peras keringat untuk mendapatkan sesuatu
yang halal dan baik, tanpa Reso maka tidak akan
terwujud. Reso muncul pada diri seseorang yang
mempunyai sifat kemandirian. Mereka yang
ingin selalu berusaha sekuat tenaga untuk
menghasilkan sesuatu, sehingga dari hasil
usahanya tersebut mereka mampu menjadi
manusia yang mandiri. Mereka yang memiliki
sifat selalu giat bekerja atau “akkareso” dapat
membantu orang lain.
Banyak contoh orang-orang yang berhasil
dikarenakan menanamkan sifat Reso dalam
dirinya yaitu sifat selalu bekerja keras
bermodalkan semangat dan malu meminta pada
orang lain, etos kerja yang tinggi dan disiplin
membuat mereka berjuang dan bangga
menghasilkan sesuatu dari kerja kerasnya sendiri
dan dari kerja kerasnya mereka dapat menolong
dan membantu orang lain. Menikmati hasil kerja
20
sendiri jauh lebih nikmat dibandingkan
menikmati hasil pemberian orang lain karena
merasa iba.
Sebaik-baik manusia ialah mereka yang
bermanfaat bagi orang lain, sebaik-baik
pemberian ialah sesuatu yang dapat digunakan
oleh orang lain, sehingga dengan Makkareso kita
dapat menghasilkan sesuatu dari kerja keras kita,
dan hasilnya dapat kita gunakan dan manfaatkan
untuk menolong orang lain. Seperti kata pepatah
bersusah-susah dahulu bersenang-senang
kemudian, dengan reso maka akan muncul
sebuah kebahagiaan tersendiri.
Resopa Tumanini Namalasai Dewatai,
kerja keraslah kamu pasti Tuhan akan
membalasnya dengan pembelasan yang jauh
lebih baik, lebih banyak dan lebih bermanfaat.
2. A’bulo Sibatang
A’bulo sibatang artinya membangun
kesepahaman untuk dituangkan dalam bentuk
kerjasama yang saling bahu-membahu sehingga
pekerjaan tersebut dapat terujud dan memiliki
21
manfaat untuk kepentingan bersama. A’bulo
Sibatang juga dapat diartikan membangun
solidaritas demi membangkitkan semangat dan
jiwa kebersamaan untuk membela atau
memperjuangkan sesuatu yang bersifat
kepentingan bersama. A’bulo Sibatang
mendorong, memotivasi dan mengikat semangat
kebersamaan antar satu sama lain untuk
memperjuangkan satu cita-cita mulai baik yang
bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
A’bulo Sibatang merupakan semboyan
Persatuan yang berasal dari sastra Makassar yang
kalimatnya adalah “A’bulo Sibatang Accera
Sitongka-Tongka Siri’na Pacce”. Jika semboyan
ini sudah diterapkan dalam satu kelompok untuk
diarahkan pada satu cita-cita perjuangan bersama,
maka tidak ada yang bisa mengingkarinya, jika
ada diantaranya yang ingkar maka sama halnya
dengan penghianat. Begitu besar makna dan
pengaruh kata A’bulo Sibatang ini. A’bulo
Sibatang dpat disinonimkan dengan kalimat
solidaritas, dalam bahasa perjuangan disimbolkan
22
dengan kalimat “lebih baik mati berkalang tanah
daripada hidup terjajah lagi” inilah A’bulo
Sibatang yang bermakna Persatuan dan Kesatuan,
Satu Rasa, Satu Cita-cita. Dengan A’bulo
Sibatang pula nilai-nilai Assipakatau,
Sipakalebbi, Sipakainga, Sipamase-mase
semakin diperkuat.
3. Sipakatau
Sipakatau adalah kalimat yang berasal
dari sastra Makassar yang memberikan
pengertian memberi satu rasa antar satu sama lain
yang menjungjung tinggi rasa saling
menghormati, saling menyayangi serta saling
merangkul sehingga tidak ada kalimat atau
gerakan yang dapat menciderai, melukai perasaan
satu sama lain meskipun berbeda suku, rasa dan
bahasa. Sipakatau adalah menghilangkan rasa
perbedan dengan mengisi rasa kebersamaan,
meskipun ragam bahasa, suku, bangsa bahkan
agama. Sipakatau dapat melahirkan toleransi
antar setiap manusia. Sipakatau dapat
menjauhkan rasa berbeda dan menguatkan rasa
23
kebersamaan untuk saling menghormati, saling
merangkul, saling melindungi dan saling
menyayangi tanpa membedakan suku, bangsa,
agama, warna kulit semua telah terbingkai dalam
satu asas, satu sama lain, tenggang rasa.
Kebesaran satu bangsa tidak diukur
dengan jumlah yang besar penduduknya tetapi
kebesaran bangsa diukur dari rasa persatuan dan
kesatuan yang terbingkai dalam asas
kemanusiaan yang beradab, tentu mereka yang
menjunjung tinnggi persahabatan, kekeluargaan
dan persaudaraan yang mana semua itu terwujud
dengan sikap Sipakatau.
24
BAB II
MODUL INSPIRASI PROYEK
REGGIO EMILIA APPROACH
BERBASIS BUDAYA LOKAL
(MIRABEL)
1. Proyek Makanan Sehat
Informasi Umum
1. Anak mampu menghargai sesama manusia dengan berbagai
perbedaannya sebagai bentuk toleransi dan kasih saying
terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
2. Anak mampu mengetahui sebab akibat terkait pemecahan
masalah dalam kehidupan sehari-hari
3. Anak mampu mengendalikan emosi secara bertahap agar anak
dapat berekspresi secara sehat dan positif baik terhadap diri
sendiri maupun terhadap orang lain dan lingkungan
1. Membuat Proyek Salad Buah
2. Anak mampu menyebutkan jenis-jenis buah
3. Anak mampu mengetahui manfaat buah-buahan
4. Anak mampu menerapkan nilai budaya Sipakatau
Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak
Mulia, Berkebhinekaan Global, Bergotong Royong, Berpikir Kritis
Pada kegiatan ini anak diajak untuk membuat suatu proyek yang
berkaitan dengan makanan sehat. Kegiatan diawal dengan menggali
pengetahuan awal anak tentang makanan sehat, melakukan penelitian
25
secara mendalam dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah
didapatkan ke dalam bentuk karya.
180 menit dengan model pembelajaran Tatap Muka
Buah-buahan, Media Konstruktif, Alat Tulis, Media Mewarnai dan
Loose Parts
Ruang Kelas, Halaman Sekolah dan Lingkungan
Buah-Buahan
Jenis-Jenis Buah Manfaat Buah
Mendengarkan cerita tentang pentingnya makanan sehat
Mewarnai Gambar Buah-Buahan
Mengelompokkan Jenis-Jenis Buah
Bermain Peran Jualan Buah
Mengunjungi Wisata Kebun / Supermarket
26
Tahapan Proyek Urutan Ragam Kegiatan
Permulaan
Memantik ide anak
Pengembangan
Penyimpulan Mendengarkan cerita tentang
Pelibatan Orang 1 makanan sehat
Tua
Melakukan kegiatan menggambar
dan mewarnai
Menceritakan hasil karya
Permainan tebak jenis-jenis
makanan sehat
2 Mengamati jenis- jenis makanan
sehat
Berkunjung ke lapangan
Melakukan Tanya jawab
3 Mencari buah untuk dibawa ke
sekolah
Membuat Proyek Makanan Sehat
Mengirimkan pesan yang berisi informasi
tentang kegiatan yang ada di sekolah dan apa
yang dapat anak lakukan dirumah dengan
dukungan orang tua.
Mengundang orangtua untuk datang kesekolah
dalam proses pembuatan proyek membuat
makanan sehat
27
2. Proyek Kerja Bakti
Informasi Umum
1. Anak Mampu berinteraksi dan berkolaborasi sebagai fondasi
membangun kemampuan prososial.
2. Anak mampu menggunakan motoric kasar, motoric halus dan
taktik dalam kehidupan sehari-hari guna untuk mengembangkan
diri
3. Anak mampu mengendalikan emosi secara bertahap agar anak
dapat berekspresi secara sehat dan positif baik terhadap diri
sendiri maupun terhadap orang lain dan lingkungan
1. Melakukan Kegiatan Kerja Bakti
2. Anak mampu mengetahui manfaat menjaga lingkungan
3. Anak mampu mengetahui akibat jika lingkungan tidak terjaga
4. Anak mampu menerapkan nilai budaya A’buloSibatang
Bergotong Royong, Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan Berakhlak Mulia, Berkebhinekaan Global, Mandiri
Pada kegiatan ini anak diajak untuk membuat suatu proyek yang
berkaitan dengan kebersihan lingkungan. Kegiatan diawal dengan
menggali pengetahuan awal anak tentang kebersihan lingkungan,
melakukan penelitian secara mendalam dan mengaplikasikan
pengetahuan yang telah didapatkan ke dalam bentuk karya
180 menit dengan model pembelajaran Tatap Muka
28
Sapu, Tempat Sampah, Media Konstruktif, Alat Tulis, Media Mewarnai
dan Loose Parts
Ruang Kelas, Halaman Sekolah dan Lingkungan
Manfaat Kerja Kerja Bakti Sapu
Bakti Skop Sampah
Peralatan kerja Tempat Sampah
bakti
Menonton Video Tentang Lingkungan
Menyanyikan lagu tentang lingkungan
Menyusun Gambar Bencana Banjir
Mengelilingi lingkungan kampus
29
Tahapan Proyek Urutan Ragam Kegiatan
Permulaan
Memantik ide anak
Pengembangan
Mendengarkan cerita tentang
Penyimpulan
Pelibatan Orang 1 kebersihan lingkungan
Tua Menonton video lingkungan yang
sehat dan bersih
Menyanyikan lagu tentang
lingkungan bersih
2 Membuat alat kebersihan
menggunakan media konstruktif
Melakukan kegiatan menyusun
gambar tentang kebersihan
lingkungan
Berkunjung ke lapangan
Melakukan Tanya jawab
3 Melaksanakan proyek kerja bakti
Mengirimkan pesan yang berisi informasi
tentang kegiatan yang ada di sekolah dan apa
yang dapat anak lakukan dirumah dengan
dukungan orang tua.
Mengundang orangtua untuk datang kesekolah
dalam proses pembuatan proyek membuat
makanan sehat
30
3. Proyek Membuat Pesta Ulang Tahun
Informasi Umum
1. Anak Mampu berinteraksi dan berkolaborasi sebagai fondasi
membangun kemampuan prososial.
2. Anak mampu mendapatkan informasi melalui percakapan,
interaksi, kolaborasi, media, serta eksplorasi fakta dan objek
secara langsung dibawah bimbingan orang dewasa.
3. Anak mampu mengembangkan kreativitas melalui imajinasi, ide,
perasaan dan kaarya di tumbuhkan secara bertahap melalui
kegiatan sehari-hari.
1. Melakukan Simulasi pesta ulang tahun
2. Anak mampu bekerja sama dengan teman sebaya
3. Anak mampu mengelola emosinya dengan baik
4. Anak mampu menerapkan nilai budaya Reso
Bergotong Royong, Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan Berakhlak Mulia, Berkebhinekaan Global, Mandiri
Pada kegiatan ini anak diajak untuk membuat suatu proyek yang
berkaitan dengan membuat pesta ulang tahun. Kegiatan diawal
dengan menggali pengetahuan awal anak tentang pesta ulang tahun,
melakukan penelitian secara mendalam dan mengaplikasikan
pengetahuan yang telah didapatkan ke dalam bentuk karya
180 menit dengan model pembelajaran Tatap Muka
31
Balon, kertas krep, kertas karton , slotip, doubletip, Media Konstruktif,
Alat Tulis, Media Mewarnai dan Loose Parts
Ruang Kelas, Halaman Sekolah dan Lingkungan
Persiapan Pesta Ulang Alat Bahan
Tahun
Topi
Menyiapkan Tempat Goodiebag
Menyiapkan Kursi Hiasan Dinding
Menyiapkan Perlengkapan
Mendengarkan cerita tentang pertambahan usia
Membuat Undangan Ulang Tahun
Menghubungkan Gambar
Berkunjung Ke KFC
32
Tahapan Proyek Urutan Ragam Kegiatan
Permulaan
Memantik ide anak
Pengembangan
Bercerita tentang pesta ulang
Penyimpulan
1 tahun
Pelibatan Orang
Tua Menonton video mendekor
ruangan untuk pesta ulang tahun
Membuat Topi ulang tahun dan
hiasan dinding
2 Membuat Topi Ulang Tahun dan
Goodie Bag
Melakukan dekorasi pesta ulang
tahun di sekolah
3
Mengirimkan pesan yang berisi informasi
tentang kegiatan yang ada di sekolah dan apa
yang dapat anak lakukan dirumah dengan
dukungan orang tua.
Mengundang orangtua untuk datang kesekolah
dalam proses pembuatan proyek membuat
makanan sehat
33
4. Proyek Berkemah
Informasi Umum
1. Anak Mampu berinteraksi dan berkolaborasi sebagai fondasi
membangun kemampuan prososial.
2. Anak mampu menggunakan motoric kasar, motoric halus dan
taktik dalam kehidupan sehari-hari guna untuk mengembangkan
diri
3. Anak mampu mengendalikan emosi secara bertahap agar anak
dapat berekspresi secara sehat dan positif baik terhadap diri
sendiri maupun terhadap orang lain dan lingkungan
1. Melakukan Kegiatan Kemah
2. Anak mampu mengetahui temapt-tempat berlibur
3. Anak mampu mengetahui apa saja yang diperlukan untuk
berlibur
4. Anak mampu menerapkan nilai budaya A’bulo Sibatang
Bergotong Royong, Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan Berakhlak Mulia, Berkebhinekaan Global, Mandiri
Pada kegiatan ini anak diajak untuk membuat suatu proyek yang
berkaitan dengan liburan dalam hal ini berkemah. Kegiatan diawali
dengan menggali pengetahuan awal anak tentang berkemah,
melakukan penelitian secara mendalam dan mengaplikasikan
pengetahuan yang telah didapatkan ke dalam bentuk karya
180 menit dengan model pembelajaran Tatap Muka
34
Tenda, Tikar, Bahan Makanan, Kayu, Korek Api,Media Konstruktif, alat
tulis, alat mewarnai dan Loose Parts
Ruang Kelas, Halaman Sekolah dan Lingkungan
Liburan
Tempat Liburan : Perlengkapan :
Pantai, Gunung, Topi, Pakaian Ganti,
Hutan, Taman Tikar, Tenda, Kotak
P3K, Bahan Makanan,
Hiburan
Ransel
Transportasi :
Mobil, Motor, Bus,
Kereta, Pesawat
Menonton Video Tentang Berkemah
Bercerita tentang pengalaman liburan
Menggambar peralatan berkemah
Berkunjung Ke Pantai
35
Tahapan Proyek Urutan Ragam Kegiatan
Permulaan
Memantik ide anak
Pengembangan
Menonton video tentang
Penyimpulan
1 berkemah
Pelibatan Orang
Tua Bercerita tentang liburan
Tanya jawab peralatan yang
diperlukan saat berkemah
2 Menggambar alat-alat berkemah
Tanya Jawab
Membuat kegiatan berkemah di
sekolah
3 Refleksi Bersama
Mengirimkan pesan yang berisi informasi
tentang kegiatan yang ada di sekolah dan apa
yang dapat anak lakukan dirumah dengan
dukungan orang tua.
Mengundang orangtua untuk datang kesekolah
dalam proses pembuatan proyek membuat
makanan sehat
36
5. Proyek Bercocok Tanam
Informasi Umum
1. Anak mampu menghargai sesama dengan berbagai perbedaan
sebagai bentukkasih sayang dan toleransi terhadap ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa
2. Anak mampu mengetahui sebab akibat terkait pemecahan
masalah dalam kehidupan sehari-hari.
3. Anak mampu mengembangkan kretitivitas melalui imajinasi, ide,
perasaan dan karya mellaui kegiatan sehari-hari
1. Melakukan Kegiatan Bercocok Tanam
2. Anak mampu mengetahui manfaat bercocok tanam
3. Anak mampu mengetahui perlengkapan bercocok tanam
4. Anak mampu menerapkan nilai budaya Sipakatau
Bergotong Royong, Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan Berakhlak Mulia, Berkebhinekaan Global, Mandiri
Pada kegiatan ini anak diajak untuk membuat suatu proyek yang
berkaitan dengan bercocok tanam. Kegiatan diawal dengan menggali
pengetahuan awal anak tentang apa itu menanam, melakukan
penelitian secara mendalam dan mengaplikasikan pengetahuan yang
telah didapatkan ke dalam bentuk karya
180 menit dengan model pembelajaran Tatap Muka
37
Bibit, pupuk, tannah, media konstruktif dan Loose Parts
Ruang Kelas, Halaman Sekolah dan Lingkungan
Manfaat Bercocok Bibit
Bercocok Tanam Pupuk
Tanam Tanah
Peralatan Alat Semai
Bercocok Tanam
Menggambar Pohon
Becerita tentang tanaman yang dimiliki di rumah
Mengunjungi tempat pembibitan
38
Tahapan Proyek Urutan Ragam Kegiatan
Permulaan
Memantik ide anak
Pengembangan
Penyimpulan Bercerita tentang tanaman
Pelibatan Orang 1 Menggambar Pohon
Tua
Merencanakan Kunjungan ke
tempat pembibitan
Kunjungan Kelapangan
Tanya jawab dengan Narasumber
2 Menceritakan pengalaman
Membawa alat bercocok tanam ke
sekolah
3 Melakukan kegiatan bercocok
tanam
Refleksi Bersama
Mengirimkan pesan yang berisi informasi
tentang kegiatan yang ada di sekolah dan apa
yang dapat anak lakukan dirumah dengan
dukungan orang tua.
Mengundang orangtua untuk datang kesekolah
dalam proses pembuatan proyek membuat
makanan sehat
39
BAB III
PELAKSANAAN MIRABEL
Penerapan setiap perangkat pembelajaran
akan memberikan manfaat baik bagi anak didik,
guru, maupun bagi proses kegiatan kelas,
manfaatnya akan dapat diperoleh bila
pelaksanaannya sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan. Dalam pelaksanaan proyek Reggio
Emilia Approach berbasis Budaya Lokal ada
beberapa langkah yang perlu diperhatikan, termasuk
tahap permulaan tahap pelaksanaan dan tahap
evaluasi kegiatan proyek Reggio Emilia Approach
berbasis Budaya Lokal. Berikut langkah-langkah
proyek Reggio Emilia Approach berbasis Budaya
Lokal yang dilaksanakan yaitu:
1. Membangun pengetahuan dan pemahaman anak.
40
2. Mendorong agar anak mengeluarkan ide-ide dan
cara pemecahan masalah.
3. Guru didorong untuk memfasilitasi anak belajar
dengan kegiatan perencanaan dan pembelajaran
berdasarkan kepentingan anak, mengajukan
pertanyaan untuk lebih memahami dan secara aktif
terlibat dalam kegiatan bersama anak.
4. Mengatur kelas dan benda-benda yang ada dikelas
agar menjadi tempat yang menyenangkan.
5. Mengatur jenis-jenis barang dikelas agar dapat
membantu anak membuat keputusan mengenai
benda-benda yang akan digunakan.
6. Mendokumentasikan perkembangan anak melalui
visual, video dan portofolio.
7. Membantu anak melihat hubungan yang ada antara
pembelajaran dan pengalaman yang didapatnya.
41
8. Guru perlu aktif untuk saling berpartisipasi dalam
kegiatan untuk membantu memastikan anak bahwa
mereka memahami dengan jelas apa yang di
ajarkan.
9. Membantu anak mengekspresikan pengetahuan
yang mereka dapatkan atau miliki melalui bentuk
presentasi.
B. Langkah-langkah Proyek Reggio Emilia
Approach berbasis Budaya Lokal
1. Proyek Membuat Salad Buah
a) Guru menyusun dan menyiapkan skenario, alat serta
media yang digunakan dalam kegiatan proyek.
Kegiatan awal yang perlu dilakukan oleh guru
adalah mempersiapkan segala hal yang diperlukan
sebelum dilaksanakannya kegiatan proyek yang
42
memungkinkan digunakan oleh guru disekolah.
Seperti yang telah dijelaskan di bab sebelumnya,
anak akan diajak untuk melakukan kegiatan proyek
untuk menanamkan nilai-nilai budaya lokal.
b) Menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan dan
Tujuan Kegiatan
Proyek pada pertemuan ini adalah membuat Salad
buah. Guru memberikan petunjuk awal bagaimana
cara pembuatan salad buah dan kompetensi yang
ingin dicapai, dalam hal ini penanaman budaya
lokal pada anak. Setelah guru memberikan
petunjuk awal dan penjelasan tentang kegiatan,
selanjutnya anak dibagi kedalam beberapa
kelompok sesuai ketertarikan dan minat anak.
Pembagian kelompok diantaranya ialah kelompok
mengupas buah, kelompok memotong buah dan
43
kelompok mencampurkan buah. Sehingga setiap
anak memiliki tugas dan tanggungjawabnya
masing-masing secara berkelompok.
c) Pelaksanaan Proyek
Setiap anak berkumpul bersama teman
kelompoknya, setelah itu melaksanakan tugas yang
telah mereka pilih. Kelompok 1 bertugas
mengupas buah, sehingga setiap anak bertugas
mengupas buah yang akan digunakan untuk
pembuatan salad buah. Setelah kelompok 1 telah
selesai,dilanjutkan oleh kelompok 2 yang bertugas
memotong buah menjadi bagian-bagian kecil,
selanjutnya setelah selesai diberikan kepada
kelompok 3 yang bertugas mencampurkan buah
dan bahan-bahan lainnya menjadi produk yaitu
salad buah.
44
d) Menyiapkan pengamat, dan pengamat dari
kegiatan ini adalah semua anak yang tidak
melakukan permainan tersebut
Anak yang belum dan telah melakukan
tugasnya diminta mengamati kegiatan temannya
yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran.
Tugasnya membantu mengarahkan jika terjadi
kesalahan yang dilakukan pada anak yang sedang
melakukan kegiatan belajar.
e) Diskusi dan evaluasi. Setelah selesai bermain
peran guru menanyakan kembali peristiwa atau
kejadian yang dialami anak selama terlibat dalam
kegiatan proyek.
Kegiatan ini berguna untuk melatih daya ingat
dan daya tangkap yang sebelumnya telah
dilakukan kegiatan bermain. Agar anak dapat
45
mengetahui apa saja yang telah mereka pelajari
ketika melakukan kegiatan tersebut.
2. Proyek Kerja Bakti
a) Guru menyusun dan menyiapkan skenario, alat
serta media yang digunakan dalam kegiatan
proyek.
Kegiatan awal yang perlu dilakukan oleh guru
adalah mempersiapkan segala hal yang diperlukan
sebelum dilaksanakannya kegiatan proyek yang
memungkinkan digunakan oleh guru disekolah.
Seperti yang telah dijelaskan di bab sebelumnya,
anak akan diajak untuk melakukan kegiatan proyek
untuk menanamkan nilai-nilai budaya lokal.
b. Menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan dan
Tujuan Kegiatan
46
Proyek pada pertemuan ini adalah
melaksanakan kegiatan kerja bakti. Guru
memberikan petunjuk awal seperti seperti apa
kegiatan kerja bakti dan mengapa orang
melakukan kerja bakti, selanjutnya dijelaskan pula
kompetensi yang akan dicapai dalam kegiatan
kerja bakti dalam hal ini penanaman budaya lokal
pada anak. Setelah guru memberikan petunjuk
awal dan penjelasan tentang kegiatan, selanjutnya
anak dibagi kedalam beberapa kelompok sesuai
ketertarikan dan minat anak. Pembagian kelompok
diantaranya ialah kelompok menyapu, mengangkat
sampah dan membuang sampah. Sehingga setiap
anak memiliki tugas dan tanggungjawabnya
masing-masing secara berkelompok.
c. Pelaksanaan Proyek
47
Setiap anak berkumpul bersama teman
kelompoknya, setelah itu melaksanakan tugas yang
telah mereka pilih. Kelompok 1 bertugas menyapu
dan membersihkan halaman sekolah lalu
mengumpulkan sampah kedalam satu tumpukan
yang kemudian akan di angkat sampahnya oleh
kelompok dua. Setelah tempat sampah terisi penuh
maka selanjutnya tugas dari kelompok tiga
mengangkat tempat sampah tersebut ke tempat
pembuangan akhir atau ke bak sampah besar
sampai lingkungan sekolah menjadi bersih dari
sampah dan indah.
d. Menyiapkan pengamat, dan pengamat dari
kegiatan ini adalah semua anak yang tidak
melakukan permainan tersebut
48
Anak yang belum dan telah melakukan
tugasnya diminta mengamati kegiatan temannya
yang sedang melakukan kegiatan pembelajaran.
e. Diskusi dan evaluasi. Setelah selesai melaksanakan
kegiatan, peran guru menanyakan kembali
peristiwa atau kejadian yang dialami anak selama
terlibat dalam kegiatan proyek.
Kegiatan ini berguna untuk melatih daya ingat
dan daya tangkap yang sebelumnya telah
dilakukan kegiatan bermain. Agar anak dapat
mengetahui apa saja yang telah mereka pelajari
ketika melakukan kegiatan tersebut.
3. Proyek Membuat Pesta Ulang Tahun
a) Guru menyusun dan menyiapkan skenario, alat
serta media yang digunakan dalam kegiatan
proyek.
49
Kegiatan awal yang perlu dilakukan oleh guru
adalah mempersiapkan segala hal yang diperlukan
sebelum dilaksanakannya kegiatan proyek yang
memungkinkan digunakan oleh guru disekolah.
Seperti yang telah dijelaskan di bab sebelumnya,
anak akan diajak untuk melakukan kegiatan proyek
untuk menanamkan nilai-nilai budaya lokal.
b) Menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan dan
Tujuan Kegiatan
Proyek pada pertemuan ini adalah
melaksanakan kegiatan membuat acara ulang
tahun. Guru memberikan petunjuk awal seperti
bagaimana itu pesta ulang tahun, apa saja yang
perlu disiapkan saat ingin merayakan acara ulang
tahun, selanjutnya dijelaskan pula kompetensi
yang akan dicapai dalam kegiatan membuat acara
50