SELAYANG PANDANG
Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran
© Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan
Penyusun:
Hery Nugroho
Fira Nurfiani
Vinia R. Primawati
Penyunting:
Hery Nugroho
Desain dan ilustrasi sampul:
Arif L. Hakim
SELAYANG PANDANG
Masjid Agung
H. Achmad Bakrie Kisaran
DAFTAR ISI 1
5
Obsesi Buya Taufan Gama Simatupang 29
Sejarah Pembangunan
Kental dengan Budaya Melayu 39
Perkembangan Masjid Agung H. Achmad 51
Bakrie Kisaran 59
Aktivitas Keagamaan dan Sosial 63
Kini dan Nanti 71
Komitmen Pemkab Asahan 79
Berdirinya Badan Kemakmuran Masjid (BKM) 91
Program-program BKM
Cara Bergabung ke Lembaga Tahfiz
Obsesi Buya
Taufan Gama Simatupang
1
2
Dalam perjalanan hidup, setiap orang selalu memiliki obsesi.
Bagi sementara orang, obsesi adalah bagian penting
dari kehidupan itu sendiri. Demi keberhasilan mencapainya,
seseorang rela berjuang sepenuh tenaga dan sepenuh hidup.
Obsesi yang kuat bahkan bisa digambarkan seperti halnya
tujuan hidup itu sendiri. Jika belum dapat meraih, seakan hidup
itu tidak lengkap karenanya.
Tersebutlah Drs. H. Taufan Gama Simatupang, MAP, yang
dikenal luas dengan sebutan Buya Taufan, Bupati Asahan dua
periode, 2010-2015 dan 2016-2019, berpasangan dengan Wakil
Bupati H. Surya, B.Sc. yang memiliki obsesi untuk membangun
sebuah masjid yang megah di Kabupaten Asahan. Dua orang
pimpinan Asahan inilah yang menginisiasi dan merealisasikan
pembangunan Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran. Mulai
dari masa embrional sampai dengan terwujudnya bangunan
megah itu. Perjalanan pembangunan baitullah ini ternyata
tidaklah mudah. Setelah melalui berbagai macam kendala,
akhirnya terwujudlah obsesi Buya Taufan atas masjid agung
terindah dan termegah di Kabupaten Asahan.
Masjid agung yang megah ini diberi nama “Masjid Agung
H. Achmad Bakrie Kisaran”. Berlokasi di Jl. Lintas Sumatera
Desa Sidomukti, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten
Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Bangunan megah ini tampak
menyolok dan mempesona, karena berada di jantung Kota
Kisaran dan berada tepat di depan gedung Kantor Bupati dan
Wakil Bupati Asahan.
3
4
Sejarah
Pembangunan
5
Sejarah berdirinya Masjid Agung H. Achmad Bakrie
Kisaran, yang kini menjadi salah satu ikon andalan
Kabupaten Asahan, diungkapkan secara rinci oleh Wakil
Bupati Asahan Taufik Zainal Abidin Siregar, salah satu
pelaku sejarah masjid ini. Pada waktu itu (2006), Taufik
masih berstatus sebagai Kepala Bagian Pemerintahan
Setda Kabupaten Asahan, sementara Buya Taufan
menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Asahan.
Suatu sore, selepas jam kantor, Buya Taufan bersama
Taufik duduk-duduk di teras depan kantor bupati.
Dalam bincang-bincang ringan tersebut Buya Taufan
mengungkapkan obsesinya.
6
“Saya berharap suatu saat nanti bisa
membangun masjid yang megah di seberang
kantor bupati ini, sehingga saya bisa bekerja
sambil melihat ‘Masjid Agung’ itu.”
Ya, Buya menyebutnya “masjid agung”, tanpa
menyebutkan nama masjid tertentu.
Rupanya, bincang-bincang ringan itu mengandung firasat
yang tidak ringan. Kalimat yang diucapkan Buya Taufan
itu seperti sasmita akan kuatnya obsesi beliau terhadap
keberadaan sebuah masjid agung yang megah, yang akan
menjadi landmark Kota Kisaran.
7
Tidak lama setelah bincang-bincang sore itu, Taufik
diperintah Buya Taufan untuk membuat proposal
dan surat permintaan kepada PT Bakrie Sumatera
Plantations (BSP) selaku pemilik lahan HGU perkebunan
yang terletak persis di depan kantor bupati. Di atas
lahan perkebunan itulah obsesi Buya Taufan tertambat.
Mewakili Pemkab Asahan, Taufik segera melayangkan
proposal dan surat permohonan dimaksud, lengkap
dengan syarat-syarat administrasi yang diperlukan
terkait pelepasan hak atas lahan itu.
8 Sejarah Pembangunan
Hari berganti hari, pekan berulang pekan, bahkan
bulan pun telah beranjak bulan, pihak PT BSP tidak
segera merespons proposal rencana pembangunan
masjid agung yang diajukan Pemkab Asahan. Setelah
menunggu beberapa lama, balasan surat dari PT BSP pun
tiba. Jawaban surat itu tidak terlalu menggembirakan,
normatif, singkat, padat, dan hemat kalimat. Intinya, PT
BSP tidak menolak proposal itu, hanya waktunya saja
yang dipandang belum tepat.
Sementara itu, Pemkab Asahan sangat berharap rencana
pembangunan masjid agung tersebut segera diwujudkan,
terutama setelah Buya Taufan menjabat sebagai Bupati
Asahan. Sambil menunggu jawaban surat dari PT BSP,
siasat jitu mulai dijalankan Buya Taufan. Taufik kembali
diperintah, kali ini untuk memasang plang di area calon
masjid agung, di atas lahan milik PT BSP tersebut. Bunyi
plang itu cukup menarik perhatian: “Di sini akan
dibangun Masjid Agung dan Hutan Kota Asahan”.
Padatnya jadwal kantor dan menumpuknya pekerjaan
membuat Taufik sejenak lupa dengan perintah atasannya
itu. Sampai sepekan berlalu, pemasangan plang itu pun
belum juga dikerjakan. Terang saja, mengetahui hal itu,
Buya Taufan pun menegur Taufik, diingatkannya kembali
9
perintah itu. Tanpa berlama-lama menunggu, Taufik
segera mencari tukang reklame yang bisa membuat
plang besi dan segera memasangnya.
Begitu plang selesai dipasang, Taufik bertanya kepada
Buya Taufan, sebenarnya strategi apa yang tengah
dimainkan dengan pemasangan plang itu? Buya Taufan
menjawab dengan singkat dan tegas: “Agar dibaca PT BSP
dan segera ada respons, tetapi kita jangan masuk terlalu
dalam, sesuai dengan aturan saja.”
Keesokan harinya, Taufik kembali diminta Buya Taufan
untuk melakukan aksi yang lebih dramatis, mengukur
lahan yang dibutuhkan untuk masjid dan hutan kota,
sekaligus
memasang
patok-
patok
batasnya.
Tanpa
menunggu
peringatan
lagi, Taufik
segera
mengukur
luasan
10 Sejarah Pembangunan
lahan yang dibutuhkan, mulai dari pinggir rel kereta
sampai dengan ujung dekat makam pahlawan. Luas
keseluruhan lahan mencapai 20 hektar!
Lahan seluas 20
hektar itu akan dibagi untuk pembangunan masjid agung,
alun-alun, dan hutan kota. Ini sesuai dengan konsep
penataan kota, di mana setiap pembangunan dengan
luasan tertentu harus ada kawasan hijau. Dibantu
stafnya,Taufik membagi-bagi lahan itu sesuai dengan
rencana teknisnya, dan memasang patok-patok pembatas.
11
Tidak ada yang tahu, plang dan patok-patok itu ternyata
hanya berumur beberapa hari saja, hilang tak tentu
rimbanya, dan tidak diketahui pula siapa pelaku yang
mencopotnya. Untuk ke sekian kalinya Taufik kena
marah Buya Taufan. Atasannya itu mengira kalau yang
mencabut plang adalah dirinya. Barangkali, pihak-pihak
tertentu yang merasa terusik dengan plang itu yang
mencabutnya. Taufik pun kembali memasang plang
dan patok-patok seperti semula, dan ternyata juga tak
berumur lama, hilang lagi. Kejadian ini terus berulang
hingga beberapa kali.
Akhirnya, pimpinan PT BSP memberikan respons dan
menemui pimpinan Pemkab Asahan. PT BSP berterus
terang, sebenarnya mereka tak hendak menolak
permohonan Pemkab Asahan itu, tetapi mereka ingin
mengikuti aturan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Pada awalnya, lahan tersebut memang akan dibeli
oleh Pemkab Asahan. Sayangnya, ternyata kemampuan
keuangan daerah tidak memungkinkan.
Sampai dengan berakhirnya masa jabatan Bupati
Risuddin dan Wabup Taufan Gama, masalah pengadaan
lahan masih belum juga menemukan titik terang. Pada
periode berikutnya, Gama berpasangan dengan Pak
Surya memenangkan Pilkada Asahan.
12 Sejarah Pembangunan
Pasangan Bupati dan Wakil Bupati ini kemudian
melanjutkan pembangunan masjid agung itu. Pantang
menyerah.
Buya Taufan langsung menemui pemilik (owner) dan
sekaligus pendiri PT BSP, Bapak Aburizal Bakrie, mantan
Ketum Partai Golkar, generasi ke-2 dari Kelompok Usaha
Bakrie (KUB).
13
Setelah Buya Taufan
mempresentasikan niat,
tujuan, dan maksud
kedatangan tersebut,
Pak Aburizal Bakrie
tersentuh dan akhirnya
menyetujui sekaligus
merestui pembangunan
masjid agung. Pak Aburizal
berpesan: “Silakan
dibangun, tetapi harus
benar-benar membangun
masjid, jangan sampai
akhirnya nanti lahan itu
digunakan untuk aktivitas
komersial”. Intinya, pembangunan masjid harus menjadi
prioritas, sebelum membangun bangunan lain sebagai
pendukung aktivitas ibadah di masjid itu. Setelah
lampu hijau dari pemilik lahan dikantongi Buya Taufan,
maka Taufik pun segera ditugaskan untuk memimpin
perencanaan sampai dengan pembangunan masjid
agung itu. Untuk meyakinkan pemilik lahan, akhirnya
pembangunan masjid agung pun dimulai.
Setelah perencanaan dan desain detail diselesaikan,
maka dimulailah pembangunan fisiknya. Diawali
14 Sejarah Pembangunan
dengan pembuatan pondasi-pondasi yang peletakan
batu pertamanya dilaksanakan pada 19 Mei 2011.
Dalam kesempatan itu, diundang juga Bapak Aburizal
Bakrie. Kehadiran beliau sangat penting dan strategis
untuk menepis keraguan PT BSP. Sebelumnya PT BSP
memang sempat khawatir, kalau saja tiba-tiba lahan yang
diminta untuk pembangunan masjid itu ternyata tidak
segera direalisasikan. Singkat cerita, karena dana APBD
yang terbatas, maka Pemkab Asahan menganggarkan
15
pembangunan masjid agung itu secara bertahap dengan
pola penganggaran multi years.
Tahap demi tahap pembangunan masjid agung
dilaksanakan dengan lancar. Sampai di sini, Taufik
kembali dibuat kagum dan salut dengan strategi
yang ditempuh Buya Taufan. Beliau telah menyusun
serangkaian strategi jitu supaya lahan yang digunakan
untuk pembangunan masjid agung itu tidak perlu dengan
cara membeli atau pun dengan cara tukar guling.
Untuk keperluan itu, Buya Taufan dan Taufik kembali
menemui Pak Aburizal Bakrie di Jakarta. Beliau
menawarkan rencana penamaan masjid agung yang
tengah dibangun itu dengan nama “Masjid Agung
H. Achmad Bakrie Kisaran”. Mendengar usulan Buya
Taufan, Pak Aburizal sangat tersentuh hatinya. Sebagai
bentuk apresiasi atas ide Buya Taufan itu, maka
keluarga besar Bapak Aburizal
Bakrie akhirnya bersedia
16 Sejarah Pembangunan
menghibahkan tanah seluas 20 hektar tersebut kepada
Pemerintah Kabupaten Asahan, untuk keperluan
pembangunan Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran
beserta bangunan-bangunan pendukung lainnya.
Setelah permasalahan lahan dapat diselesaikan dengan
lancar, Taufik segera melakukan aksi gerak cepat,
langsung terjun mengurus pembangunan masjid itu
sampai dirinya menjabat sebagai Asisten Setda. Tanah
seluas 20 hektar itu akhirnya dihibahkan, tidak jadi
diperoleh dengan pola jual-beli. Taufik ingat betul
dengan apa yang disampaikan keluarga Pak Aburizal saat
itu. Beliau berkata bahwa baru kali inilah keluarga Bakrie
membangun masjid megah di lokasi tanah usahanya atau
tanah perkebunan mereka.
Proses surat menyurat dan administrasi pengalihan
lahan masjid telah selesai diurus. Proses sertifikasi
pun akhirnya juga selesai. Dengan adanya penyelesaian
administrasi pembangunan masjid agung ini, Buya
Taufan berharap masjid agung nantinya akan terlihat
megah, lengkap dengan menaranya. Supaya bisa
dimanfaatkan sebagai tempat beribadah, sekaligus
juga bermanfaat dalam hubungan kemasyarakatan
(habluminannas). Untuk itu, dibangun pula pusat
pendidikan atau sekolah khusus penghafal Alquran
17
(hafiz). Setelah pembangunan masjid agung selesai,
peresmian pada tanggal 1 Juni 2019 dilakukan sendiri
oleh Bapak Aburizal Bakrie, karena pada waktu itu Buya
Taufan tengah terbaring sakit.
Melihat masih adanya kekurangan dalam pembangunan
masjid ini akibat keterbatasan dana APBD Asahan, maka
Pak Aburizal Bakrie memberikan infak senilai Rp 9
miliar yang nantinya digunakan untuk penyempurnaan
pembangunan, di mana teknis penggunaan dana infak
tersebut dikerjakan oleh PT BSP. Dana infak tersebut
akhirnya digunakan untuk pembangunan miniatur
Kabah dan pembangunan lapangan parkir, pembangunan
rumah imam/pengurus, plang masjid dan penambahan
ornamen tembaga pada interior masjid. Akhirnya,
pembangunan masjid agung itu benar-benar tuntas,
termasuk di dalamnya pembangunan alun-alun dan
hutan kota.
Sayang seribu sayang, sebelum dapat melihat hasil
semuanya itu, pada tanggal 22 April 2015 Buya Taufan
berpulang karena sakit. Sebagai bentuk penghargaan dan
wujud terima kasih yang tinggi, oleh Bupati Surya yang
menggantikan almarhum Buya Taufan, hutan kota itu
diberi nama “Hutan Kota Taufan Gama Simatupang”.
Pemberian nama itu juga sekaligus untuk mengingat
18 Sejarah Pembangunan
jasa-jasa almarhum yang begitu besar atas terwujudnya
masjid agung dan hutan kota itu.
Itulah hasil dari impian mulia seorang Buya Taufan
Simatupang, membangun masjid nan megah di Asahan.
Tujuannya agar masyarakat yang melintas di jalan
raya depan masjid agung bisa singgah dan beribadah
di masjid yang indah dan representatif. Di sepanjang
jalan lintas Sumatera memang jarang ditemukan masjid
megah berhalaman luas, terdapat fasilitas manasik haji,
ada pula proses belajar/mengajar anak-anak sekolah
tahfiz Alquran.
19
Cita-cita mulia Buya Taufan tersebut dulu juga
dituangkan dalam visi-misi pasangan Bupati Taufan
dan Wabup Surya. Dalam kampanyenya, pasangan itu
mengusung visi “Terwujudnya Asahan yang Religius,
Sehat, Cerdas, dan Mandiri”.
20 Sejarah Pembangunan
Pembangunan masjid agung pun akhirnya juga menjadi
salah satu program prioritas Pemkab dalam upaya
mewujudkan visi Asahan yang Religius.***
21
Foto-foto proses pembangunan
Masjid Agung H. Achmad Bakrie
22 Sejarah Pembangunan
23
24 Sejarah Pembangunan
25
26 Sejarah Pembangunan
27
28
Kental dengan
Budaya
Melayu
29
Eksistensi sebuah masjid memiliki peran penting dalam
peradaban Islam. Masjid bukan hanya sebagai tempat
beribadah, tapi juga sebagai pusat aktivitas keislaman.
Itulah mengapa ketika Nabi Muhammad saw berhijrah dan
baru tiba di Madinah, yang pertama kali dibangun adalah
masjid.
Indonesia dikenal kaya akan bangunan masjid dengan
berbagai ragam arsitektur uniknya. Selain berfungsi
untuk tempat beribadah, masjid-masjid juga menjadi
tujuan wisata religi. Mengingat Indonesia merupakan
negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia.
30 Kental dengan Budaya Melayu
Jadi tidak mengherankan jika banyak corak bangunan
masjid yang indah dan beragam. Termasuk di antaranya
adalah Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran,
Kabupaten Asahan.
Desain dasar Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran
berbentuk segi empat simetris, memiliki atap bertingkat
dua. Setiap sudut dibangun menara berkubah sebagai
pendamping bagi kubah (dome) induknya. Di antara
menara-menara itu dibangun pula kubah-kubah kecil
yang menegaskan kesan simetris. Kubah dan menara-
menara pendamping itu dibuat ornamen cincin berwarna
emas.
Kubah-kubah itu dibangun dengan menggunakan
konstruksi panel komposit enamel, di mana konstruksi
31
kubah semacam ini menjadi pilihan untuk pembangunan
sejumlah masjid modern. Banyak keunggulan dari
material komposit enamel ini. Di samping ketahanan
terhadap cuaca tropis yang cukup baik, bahan ini juga
relatif ringan dibandingkan dengan konstruksi beton
atau pun baja. Oleh karena itu, saat ini sudah banyak
masjid yang mengganti kubah konvensionalnya dengan
panel komposit enamel semacam ini. Bahan panel
komposit enamel juga memiliki ketahanan warna yang
sangat baik.
Kubah utama Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran
dibuat dengan warna natural seperti bangunan
masjidnya, yaitu berwarna putih bersih dengan aksen
cincin berwarna kuning emas yang dilingkarkan di
bagian bawah kubahnya. Penempatan akses cincin
keemasan ini selain
32 Kental dengan Budaya Melayu
menambah
kesan elegan
dan megah, juga
terlihat sangat
kental dengan
kultur khas
Melayu.
Sebelum rancang
bangun masjid
ini dilaksanakan,
Buya Taufan dan Taufik melakukan studi banding ke
beberapa masjid di Jawa, salah satunya adalah Masjid
Agung “Dian Al-Mahri” (banyak dikenal dengan masjid
Kubah Emas) di Depok, Jawa Barat. Masjid Kubah Emas
kini telah menjadi ikon bagi Kota Depok sekaligus
sebagai destinasi wisata religi yang tak pernah sepi
pengunjung. Nama masjid tersebut diambil dari
nama sahibul bait Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid,
pengusaha asal Banten selaku pemilik lahan dan
penyandang dana pembangunannya.
Secara umum, langgam arsitektur Masjid
Kubah Emas mengikuti tipologi arsitektur
masjid-masjid di Timur Tengah
dengan ciri berupa kubah,
33
minaret (menara), halaman dalam (plaza). Ornamen
pada desain interiornya menggunakan hiasan dekoratif
dengan elemen-elemen geometris dan obelisk. Ornamen
yang identik dengan langgam islamic geometrics. Masjid
ini dirancang oleh arsitek Uke G. Setiawan dari Biro
Arsitek Garisprada, Bandung. Perancangan Masjid Kubah
Emas memakan waktu satu tahun dan pembangunan
hingga tuntas membutuhkan waktu empat tahun.
34 Kental dengan Budaya Melayu
Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran dirancang oleh
arsitek yang sama dengan perancang Masjid Kubah
Emas. Perbedaan utama antara kedua masjid megah itu
terletak pada langgam ornamennya. Jika di Masjid Kubah
Emas sangat kental dengan ornamen berlanggam Timur
Tengah, maka di Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran
lebih kental dengan ornamen-ornamen berlanggam
Melayu. Di antaranya pemilihan warna ornamen yang
35
cenderung pada warna putih dan kuning emas. Filosofi
dari pemilihan warna ini adalah bahwa masjid sebagai
tempat yang bersih, sekaligus melalui masjid pulalah
masyarakat bisa meraih tingkat penghidupan yang layak.
Bangunan utama Masjid Agung H. Achmad Bakrie
Kisaran terdiri dari tiga lantai. Lantai I digunakan
sebagai tempat wudu dan Kantor Badan Kesejahteraan
Masjid (BKM), serta kantor lembaga/ormas Islam
lainnya. Lantai II dan III digunakan sebagai ruang
salat utama. Bagian utama masjid ini terletak di lantai
II, dengan desain interior yang sangat kental dengan
langgam Melayu. Desain masjid ini menjadi semakin
menarik setelah ditambah dengan desain eksterior
berupa lanskap taman, lengkap dengan air mancur di sisi
utara dan barat.
Kentalnya langgam Melayu juga terlihat tegas pada
tangga masuk masjid. Dengan desain tangga yang lebih
lebar dan tinggi, menimbulkan kesan bangunan masjid
ini seperti halnya rumah panggung tradisional Melayu.
Selain itu, perancangan jendela-jendela berukuran besar
lengkap dengan ornamen lengkung berwarna kuning
emas di sekelilingnya semakin memperkuat kesan
Melayu yang ditimbulkan.
36 Kental dengan Budaya Melayu
Bagian interior masjid sengaja dirancang minimalis
dengan sedikit ornamen, hal ini untuk menimbulkan
kesan lebih lega dan fungsional. Hanya bagian mihrab
saja yang dibingkai dengan ornamentasi yang lebih
banyak. Terdapat satu lampu gantung besar yang
menjuntai ke bawah, tepat di bawah kubah utama masjid.
Warna ruang ini didominasi oleh warna putih, dengan
banyak jendela kecil di tembok atas masjid dan jendela-
jendela besar di sekelilingnya. Hal tersebut untuk
meminimalkan penggunaan lampu penerang pada siang
hari. Atap kubah yang tinggi membuat temperatur di
dalam masjid senantiasa sejuk dan teduh.***
37
38
Perkembangan Masjid Agung
H. Achmad
Bakrie
Kisaran
39
Pada tahun 2015 area Masjid Agung H. Achmad Bakrie
Kisaran digunakan sebagai arena utama Musabaqah
Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Provinsi Sumatera Utara
yang dilaksanakan pada 27 Juli sampai dengan 4 Agustus
2015. Pada tanggal 5 Agustus 2015, sehari setelah
pelaksanaan MTQ, Buya Taufan Simatupang meresmikan
penggunaan Masjid Agung. Seusai pelaksanaan MTQ,
bangunan utama arena difungsikan sebagai Gedung
Islamic Centre.
40 Perkembangan Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran
Setahun kemudian, pada tahun 2016, Gedung Islamic
Centre dilanjutkan pembangunannya menjadi dua
lantai untuk digunakan sebagai asrama santri penghafal
Alquran yang berjumlah 50 orang. Lima puluh orang
santri hafiz Alquran tersebut berasal dari seluruh
kecamatan di Kabupaten Asahan. Pendidikan para santri
sepenuhnya dibiayai oleh Pemkab Asahan melalui APBD
Kabupaten Asahan, itu semua sebagai salah satu langkah
dalam mewujudkan program prioritas “Asahan yang
Religius”.
Perkembangan selanjutnya, pada tahun 2016-2017,
Pemkab Asahan melakukan pembangunan lanskap
masjid agung dan lapangan parkir. Pada tahun 2019,
setelah mendapat infak dari keluarga H. Aburizal
Bakrie senilai Rp 9 miliar, dibangunlah miniatur Kabah
dan pelataran untuk manasik haji. Selain itu, dana
infak tersebut juga digunakan untuk melanjutkan
pembangunan lapangan parkir, pembangunan rumah
imam/pengurus, pembangunan plang masjid, dan
penambahan ornamen tembaga pada interior masjid.
Setelah pembangunan selesai secara keseluruhan, pada
1 Juni 2019 Bapak H. Aburizal Bakrie beserta jajaran
pimpinan Pemkab Asahan melakukan peresmian Masjid
Agung H. Achmad Bakrie Kisaran.
41
Setelah Buya Taufan berpulang,
Bupati Asahan dan Wakil Bupati
periode 2021-2026 Bapak H. Surya
dan Bapak Taufik Zainal Abidin
bertekad melanjutkan proses
pembangunan fasilitas masjid
sebagaimana pernah dicita-citakan
almarhum Buya Taufan, yaitu
membangun menara utama setinggi
99 meter.
Menara ini nantinya akan menjadi
salah satu daya tarik wisata religi,
yang dapat menarik perhatian
masyarakat lebih banyak dan
kemudian berkunjung. Dengan
berkembangnya masjid ini, maka
akan dapat membangkitkan
perekonomian masyarakat sekitar
masjid dan masyarakat Asahan pada
umumnya. Itu semua dilakukan dalam
rangka mendukung terwujudnya visi
Pemerintah Kabupaten Asahan yaitu
“Masyarakat Asahan Sejahtera yang
Religius dan Berkarakter.” ***
42
43
Foto-foto peresmian Masjid
Agung H. Achmad Bakrie
44