ASIH SETYO WINNAHYU, S.Pd
2021
Penulis : Asih Setyo Winnahyu, S.Pd
Editor : Haryatun, S.Pd
Tata Letak : Faiez
Sampul : el-Fawaz
Penerbit : Al-Anwar 2 Press
Alamat
: Jl.Raya Surabaya-Sarang No 17 Belakang
Masjid Jien Bajing Jowo sarang
Telpon / WA : 085159437667
Email : [email protected]
Cetakan Pertama : 2021
Hak Cipta dilindungi Undang-undang, dilarang meperbanyak atau
mengutip sebagian atau seluruhnya isi buku ini dalam bentuk
apapun tanpa seijin penulis dan penerbit.
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah
memberikan kesehatan dan kebahagiaan kepada kita.
Sholawat serta salam semoga terlimpahkan pada Nabi
Muhammad SAW, keluarga dan sahabat. Buku
Kumpulan Cerpen dengan judul Hitam Putih Cinta, berisi
10 judul kisah pendek, kami susun sebagai bahan literasi
siswa Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah
Atas atau Kejuruan bahkan untuk umum. Buku ini kami
kemas dengan bahasa yang ringan dan sederhana.
Semoga hadirnya buku ini membawa manfaat bagi
semua pihak serta memperkaya khasanah pustaka dan
sastra Indonesia.
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Rembang, Maret 2021
Penulis
Asih Setyo Winnahyu, S.Pd
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................. i
KATA PENGANTAR........................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................... iii
UNGKAPAN RASA.............................................................. 1
PLESTER CINTA ................................................................ 5
JEALOUS .............................................................................. 9
JAUH.................................................................................... 15
KEJUTAN ........................................................................... 21
KESERIUSAN CINTA....................................................... 26
SETIA .................................................................................. 31
TAK INGIN PERCAYA .................................................... 38
TERSIKSA .......................................................................... 43
KANDAS.............................................................................. 46
BIOGRAFI
SINOPSIS
iii
UNGKAPAN RASA
Bagas masih terlihat asyik ngobrol dengan ibu di
ruang tengah. Kondisi ibu sedang kurang sehat saat itu.
Sementara Ayu keluar masuk rumah sibuk
membersihkan sampah yang berserakan. Sesekali Ayu
menghampiri mereka dan ikut nimbrung dengan
obrolan mereka. Ibu sangat terhibur dengan kehadiran
Bagas ke rumah.
“Nduk, siapin sesuatu buat Mas Bagas. Kasihan
dia sudah menemani Ibu dari tadi. Pasti dia haus,” kata
Ibu.
Ayu mengangguk dan segera pergi ke dapur
menyiapkan minuman untuk Bagas. Tak lama kemudian
Ayu muncul dengan minuman dan sepiring buah pepaya
kupas di tangannya.
“Mas, minum dulu,” kata Ayu menawarkan.
Mereka duduk di ruang tamu berdua. Bagas
meraih gelas yang di sodorkan Ayu kepadanya. Dia
tersenyum lalu meminumnya sambil mencubit kecil pipi
Ayu. Ayu kaget mendapat perlakuan itu. Namun Ayu
tersenyum. Bagas bagi Ayu bukan orang lain lagi.
Mereka sudah saling kenal lama. Ayu sudah
menganggapnya seperti kakak sendiri. Selama ini Bagas
1
banyak memberikan support kepada Ayu yang sedang
mengurus ibunya yang sakit.
“Ayu, boleh Mas ngomong sesuatu?” Tanya
Bagas.
Ayu mengangguk.
“Ayu, tahu nggak kalau selama ini Mas ingin
ngomong sesuatu tapi selalu tertahan?”
Ayu menggelengkan kepalanya.
“Mas pengen ngomong apa sih? Jangan bikin
Ayu penasaran,” jawab Ayu.
Bagas menghela nafas seakan mengumpulkan
kekuatan untuk berbicara.
“OK. Ayu tahu kalau selama ini kita dekat. Mas
sering menemani Ayu kemanapun pergi, makan
bersama, ngobrol bareng dengan Ibu. Mas pengen bisa
lebih dari itu dengan Ayu. Mas pengen kita lebih dekat
lagi. Ayu mau kan jadi kekasih Mas?”
Ayu terdiam tidak percaya dengan apa yang
baru saja di dengarnya. Namun Ayu merasa bahagia
mendengar ucapan Bagas itu. Wajahnya berubah
memerah seketika tersipu malu. Bagas tersenyum
melihat Ayu tersipu. Diraihnya garpu dan disuapinya
2
Ayu dengan buah kupas di hadapannya. Ayu tak kuasa
menolaknya.
“Jadi gimana, Ayu mau kan jadi kekasih Mas?”
Ayu yang masih belum selesai mengunyahpun
tersenyum. Bagas menggenggam erat tangan Ayu. Ayu
diam saja tak menolaknya. Ayu selama ini memang
nyaman bersama dengan Bagas. Ada sosok kakak yang
tak pernah dia punya dalam diri Bagas. Bagas adalah
tempatnya bermanja selama ini. Sebenarnya Ayu juga
sangat menyukainya. Namun dia tak pernah punya
keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
“Ayu mau,” jawab Ayu malu-malu.
Bagas meraih pundak Ayu dan memeluknya erat.
Sesaat mereka terhanyut dalam perasaan bahagia.
Debar jantung mereka terdengar satu dengan yang lain.
Ayu begitu menikmati kehangatan pelukan Bagas. Ada
kedamaian di sana. Ayu merasakan perasaan tulus
Bagas kepadanya. Bagas mengelus lembut rambut Ayu
dan mencium kecil keningnya. Perasaan yang selama ini
terpendam akhirnya terungkapkan dan bersambut
bahagia. Bagas tak ingin melepaskan genggaman
tangannya. Diciumnya tangan Ayu berkali-kali. Namun
tiba-tiba terdengar suara ibu memanggil mereka.
3
“Nduk, tolong ambilkan Ibu minum!” Ibu
meminta.
Ayu dan Bagas yang mendengar suara ibu segera
beranjak menemui ibu. Bagas duduk di samping ibu.
Ayu bergegas membuat minuman hangat untuk ibu.
Segelas jahe hangat dibawanya untuk ibu.
“Ibu minum dulu,” kata Ayu.
Bagas membantu ibu duduk di tempat tidurnya.
Mereka akhirnya ngobrol dengan ibu. Bagas
menceritakan semua yang baru saja dia ungkapkan
kepada Ayu. Mereka meminta restu kepada ibu untuk
bisa hidup bersama. Ibu tersenyum bahagia.
Dipandanginya wajah Ayu dan Bagas bergantian. Ibu
memberikan restunya kepada mereka.
Bagas duduk bersimpuh di hadapan ibu dan
mencium tangan ibu. Dia berjanji akan membahagiakan
Ayu di sepanjang hidupnya. Ayu yang menyaksikan
semua itu hanya terdiam dan merasa lega. Pria yang di
hadapannya ternyata sungguh-sungguh mencintai
dirinya. Ibu memeluk keduanya dan berharap mereka
bisa bersama selamanya dalam kehidupan yang
bahagia.
4
PLESTER CINTA
Semilir angin pantai menambah suasana hati
semakin damai. Dua insan yang tengah dilanda asmara
itu tak memperdulikan kehadiran orang yang ada di
sekitarnya. Ayu dan Bagas tengah menikmati liburan
mereka. Weekend ini sangat mereka nantikan setelah
hampir dua minggu mereka dipisahkan oleh kesibukan
pekerjaan.
Bagas dan Ayu duduk di pantai beralaskan tikar.
Ayu merebahkan tubuhnya di pangkuan kekasihnya.
Canda dan tawa kecil sesekali terdengar dari mulut
mereka. Dua buah kelapa muda dan beberapa makanan
ringan menemani bincang mereka.
“Sayang, kapan kita ke rumah Ibu kamu?” Tanya
Bagas.
“Kangen Ibu ya Mas?” Ayu balik bertanya.
“Iya, kangen ibu. Lama kita gak mengunjungi Ibu
bersama,” jawab Bagas.
“Minggu depan aja ya. Semoga bisa,” jawab Ayu.
Bagas mengangguk tanda setuju.
5
Ayu bangkit dari pangkuan Bagas dan turun ke
pantai. Dia berjalan telanjang kaki menyusuri pantai.
Sesekali riak ombak menyapu kakinya. Ayu memandang
lautan lepas di depannya. Entah mengapa ada
kegalauan dalam benaknya. Ayu teringat ibunya ketika
mendengar ajakan Bagas untuk mengunjunginya.
Maklum, karena ibu Ayu sudah lama sakit dan hanya
tinggal sendiri di rumah bersama dengan adik
bungsunya. Ayu terus berjalan menjauh.
Bagas yang melihat Ayu terus berjalan, akhirnya
berlari menyusul Ayu. Ditangkapnya tubuh Ayu dari
belakang dan memeluknya erat. Ayu kaget dan terdiam.
Keduanya membisu dalam pelukan. Hanya debar
jantung keduanya yang seakan berbicara, berdegup
kencang tak beraturan. Rambut Ayu terurai oleh
kencangnya angin laut dan menyapu wajah Bagas.
Bagas makin mengencangkan pelukannya.
“Mas, lepasin aku. Malu dilihat orang,” bisik Ayu.
Bagas tersenyum dan melepaskan pelukannya.
Dipandangnya wajah Ayu yang kemerahan karena malu.
Ayu berlari menjauh dari Bagas. Bagas
mengejarnya. Namun tiba-tiba terjadi sesuatu dengan
Ayu. Ayu terjatuh. Kakinya terperosok ke dalam lubang.
Bagas bergegas menolong Ayu. Kaki Ayu terluka. Banyak
goresan dan berdarah. Rupanya pasir pantainya ambles
6
dan di dalamnya banyak batu karang dan serpihan
cangkang kerang yang tajam. Ayu merintih kesakitan
menahan perih.
“Sayang, kamu gak papa kan?” Tanya Bagas
cemas.
“Aku gak papa,” jawab Ayu meringis.
“Ayo kita kembali. Kamu harus diobati,” kata
Bagas.
Ayu bangkit namun hanya bisa berjalan tertatih.
Bagas tak berpikir panjang lagi. Digendongnya Ayu
kembali ke tempat mereka duduk tadi. Bagas
menggendong Ayu di punggungnya. Ayu berpegangan
erat dengan merangkul pundak Bagas. Dada Ayu
bergemuruh, jantungnya berdetak kencang.
Kedekatannya dengan Bagas selalu membuatnya tak
bisa menguasai diri.
“Apakah benar aku mencintainya?” Tanya Ayu
dalam hati.
Mereka akhirnya tiba di tempat mereka duduk
semula. Ayu duduk meluruskan kedua kakinya. Bagas
segera mencari pertolongan. Tak lama kemudian Bagas
datang membawa obat merah dan beberapa plester.
Bagas membersihkan luka Ayu dengan kapas dan
7
mengoleskan obat merah di beberapa bagian kakinya.
Ayu merintih kesakitan. Bagas meniup luka Ayu
berharap bisa mengurangi sakitnya. Bagas
menempelkan beberapa plester di kaki Ayu. Tangan Ayu
meraih tangan Bagas.
“Mas, Mas beneran sayang sama Ayu?” Ayu tiba-
tiba bertanya.
Bagas menatap Ayu dan tersenyum.
“Mas sayang sama Ayu,” jawab Bagas.
“Bohong,” jawab Ayu sambil tersenyum.
“Kamu gak percaya? Coba tanya sama plester ini.
Dia tahu semua isi hati Mas. Dia nempel di sini atas
nama cinta Mas,” jawab Bagas menggoda.
Merekapun tertawa bersama.
8
JEALOUS
Mentari pagi mulai memancarkan sinarnya. Hari
yang cerah menambah semangat Ayu memulai
aktifitasnya. Ayu membuka ponsel dan membaca satu
pesan WA dari seorang yang dia sayang. Hanya sebuah
kalimat yang menanyakan kabarnya hari itu, namun
kedahsyatannya sungguh luar biasa, serasa mampu
menggantikan ratusan liter bahan bakar motornya.
Ayupun semangat membalas pesan itu. Wajahnya
begitu ceria. Bagi Ayu, perhatian kecil itu adalah bukti
kasih sayang yang sangat luar biasa dari seorang yang
selama ini dia cinta.
Ayu berangkat bekerja seperti biasanya. Dengan
cekatan dia mengendarai sepeda motornya ke tempat
kerja.
Siang itu Ayu merencanakan makan siang
bersama Bagas kekasih hatinya. Sebuah rumah makan di
perbatasan kota dipilihnya sebagai tempat makan. Tak
lama setelah Ayu mengirim pesan, Bagas muncul
menjemputnya. Mereka meluncur ke tempat tujuannya.
Selama perjalanan, mereka asyik ngobrol tentang
aktifitas pagi mereka.
Bagas begitu menyayangi Ayu. Sepanjang
perjalanan, tangan Bagas tak pernah lepas
9
menggenggam jemari Ayu yang lembut. Bagas sesekali
memandang Ayu yang duduk di sampingnya. Ayu
tersenyum dan tersipu malu melihat kekasihnya itu.
Sesekali Bagas sengaja menggoda Ayu. Dikuatkannya
genggaman tangannya hingga membuat Ayu berpaling
menatapnya.
“Mas, sakit ini,” kata Ayu dengan rona wajah
memerah dan suara manja. Bagas hanya tersenyum
tanpa melihat Ayu. Mobil terus melaju membawa
mereka berdua.
“Ikan bakar dua ya Mbak, minumnya kopi dan
jus jambu saja,” kata Ayu kepada seorang waitress.
Sambil menunggu pesanan datang, Ayu dan Bagas
berbincang.
“Mas kangen kamu, padahal dua hari lalu kita
baru ketemu ya,” ucap Bagas.
“Ah, Mas bohong,” jawab Ayu singkat.
“Bener Sayang. Mas kangen senyummu itu,
manjamu itu, gak ada duanya deh,” Bagas menggombal.
Ayu tertawa mendengar gombalan kekasihnya.
Namun Bagas tetap saja nerocos melanjutkan
gombalannya. Mereka tertawa bersama. Bagas dan Ayu
10
begitu menikmati hubungan mereka. Seakan dunia ini
hanya ada kesenangan saja.
Tiba-tiba ponsel Bagas berdering. Sebuah video
call dari seorang wanita. Ayu terdiam. Bagas menatap
Ayu sesaat sebelum mengangkat ponselnya.
“Halo...apa kabar Mas? Sehat selalu kan? Lagi
ngapain nih?” Tanya wanita itu runtut.
“Alhamdulillah kabar baik, sehat selalu,” jawab
Bagas.
Ayu yang diam di samping Bagas hanya bisa
mengamati kekasihnya itu ngobrol dengan wanita itu
tanpa bersuara dan memperlihatkan wajahnya.
Rupanya Ayu juga mengenal wanita yang menelpon
kekasihnya itu. Dua puluh menit sudah panggilan video
itu, namun belum juga ada tanda-tanda berakhir. Ayu
mulai cemberut.
Ayu menyantap makanan yang mulai dingin di
hadapannya. Beberapa kali Ayu memberi kode kepada
Bagas untuk mengakhiri percakapannya, namun Bagas
menolak. Dengan kesal Ayu makan sendiri. Makanan tak
lagi terasa nikmat. Hilang sudah selera makannya.
Ayu tak lagi berkata sepatah katapun kepada
Bagas. Wajahnya mulai memerah menahan marah. Ayu
11
menganggap Bagas sudah keterlaluan. Mengapa tidak
ada rasa pekewuh sedikit saja kepadanya. Pikirannya
mulai berkecamuk. Bukankah ketika sedang berdua
seharusnya mereka fokus kepada urusan berdua saja
dan tidak membiarkan orang lain mengganggunya. Ayu
menghela nafas panjang dan beranjak dari tempat
duduknya. Namun tangan Bagas buru-buru menggapai
tangannya. Ditariknya tangan Ayu dan menahannya dari
langkahnya. Ayu tak ingin menoleh ke arah Bagas.
“Selamat makan ya Mas, maaf sudah
mengganggu. See you...bye,” terdengar wanita itu
mengakhiri percakapan telponnya.
Ayu masih bertahan di posisinya dan tak ingin
lagi duduk bersama Bagas.
“Sayang...maafin Mas ya. Jangan marah. Dia
bukan siapa-siapa. Dia hanya teman bagi Mas,” kata
Bagas dengan nada rendah.
“Duduk sama Mas Sayang. Kita makan sama-
sama ya. Mas suapin ya,” Bagas merayu kekasihnya.
Ayu tak bergeming. Bagas yang melihat
kekasihnya masih marah segera beranjak dari
duduknya. Dipeluknya Ayu dengan kuat. Ayu tak
membalas pelukan Bagas. Tubuhnya berdiri kaku dan
12
dingin membiarkan saja kekasihnya itu memeluk
dirinya.
“Masih marah sama Mas? Senyum dong. Maafin
Mas Sayang. Mas janji gak akan ulangi itu lagi,” Bagas
meminta maaf.
“Mas tega, Mas keterlaluan,” jawab Ayu kesal.
Ayu melepaskan dirinya dari pelukan Bagas.
“Ayu cemburu ya?” Tanya Bagas sambil
menahan senyum.
“Iiihhh, siapa yang cemburu...enggak lah,” jawab
Ayu ketus.
“Itu kenapa masih marah begitu? Duduk
Sayang,” rayu Bagas.
Bagas menarik tangan Ayu dan mengajaknya
duduk kembali. Kali ini Ayu menuruti kekasihnya. Bagas
membelai lembut rambut Ayu dan tersenyum melihat
wajah Ayu yang masih cemberut.
“Maem yuk,” kata Bagas lembut dengan
sesendok nasi di tangannya.
“Buka mulutnya Sayang. Mas suapi Ayu.”
13
Ayu membuka mulutnya dan membiarkan Bagas
menyuapinya. Rona wajahnya mulai berubah. Suasana
hatinya mulai cair. Emosinya menurun.
“Maafin Mas ya Sayang,” Bagas meminta maaf
sekali lagi.
“Aku gak pengen melihat Mas ngobrol dengan
wanita itu lagi. Mas tahu kan dia dengan Ayu itu
gimana? Di depan Ayu dia pura-pura baik, tapi nyatanya
di belakang Ayu gimana? Dia selalu telponin Mas selama
ini kan? Untuk apa?” Ayu meluapkan emosinya.
“Maafin Mas Sayang. Mas janji gak akan
pedulikan dia lagi. Mas sayang sama Ayu. Mas gak
pengen Ayu marah,” jawab Bagas.
“Awas ya,” Ayu mengancam.
Bagas mengangguk. Disuapinya Ayu lagi.
Suasana telah kembali mencair. Bagas merasa lega
melihat Ayu tidak marah lagi. Dalam hati dia bersyukur
melihat Ayu yang begitu cemburu dengan peristiwa
tadi. Meski tak pernah terucap dari bibir Ayu, baginya
itu sebuah bukti jika Ayu mencintai dan menyayanginya.
14
JAUH
Hari masih gelap. Mentari pagi belum muncul
dari peraduannya. Deru mesin bus pariwisata sudah
terdengar di depan sebuah kantor. Hari itu Bagas dan
seluruh pegawai kantor tempatnya bekerja akan
melakukan perjalanan ke luar kota dalam sebuah acara
studi banding. Mereka berkumpul di depan kantor. Kali
ini Yogyakarta adalah tujuannya.
“Mohon perhatian, seluruh peserta di mohon
untuk naik bus sekarang,” seru pimpinan rombongan.
Seluruh peserta studi banding beranjak dari
tempat duduknya dan segera memasuki bus masing-
masing. Bagas duduk sendiri di kursi dekat pintu
belakang bus. Tempat duduk sengaja tidak diisi penuh
agar peserta lebih leluasa.
Roda bus mulai bergerak meninggalkan posisi
semula. Bagas terdiam sesaat, berdoa kepada Tuhan
semoga perjalanannya kali ini diberikan keselamatan
serta dimudahkan dalam melaksanakan kegiatan nanti.
Bagas meraih ponselnya dan menelpon Ayu.
“Doain Mas Sayang, Mas berangkat dulu ya,”
kata Bagas lirih.
15
Bagas menelpon Ayu untuk berpamitan. Dia
harus keluar kota selama tiga hari. Perasaan gelisah
mulai menyerangnya. Entah apa yang akan terjadi saat
dia jauh dari Ayu. Ini adalah pertama kali Bagas pergi
jauh dari Ayu untuk waktu yang cukup lama. Angannya
melambung jauh membayangkan hari-harinya nanti
jauh dari Ayu.
Riuh sorak sorai teman-teman Bagas
membuyarkan lamunannya. Alunan musik membuat
suasana semakin hangat dan energik. Bagas masih saja
terdiam di tempat duduknya. Dinginnya AC
membuatnya enggan melepas jaket.
Dua jam sudah perjalanan menuju ke
Yogyakarta. Bus memasuki sebuah restoran. Mereka
beristirahat untuk makan pagi.
“Kopi Mas,” kata seorang lelaki muda.
Bagas terhenyak.
“Oh, makasih ya Dik,” sahut Bagas.
Seorang teman Bagas menghampirinya dengan
membawa secangkir kopi untuknya. Mereka duduk dan
menikmati makan pagi bersama.
Bagas membuka ponselnya. Dia kirimkan
beberapa foto dirinya kepada Ayu. Ayu membalasnya
16
dengan mengirim foto dirinya yang sedang tersenyum
bersiap untuk pergi bekerja.
Bus kembali melaju dan tiga jam kemudian
mereka tiba di tujuan. Hari itu kegiatan sangat padat.
Menjelang malam, kegiatanpun usai. Bus membawa
mereka ke hotel untuk beristirahat.
Bagas memasuki kamar dengan langkah gontai.
Hari itu dia merasa lelah sekali. Makan malampun tak
disantapnya dengan lahap, hanya sebagai syarat
pengganjal perut saja. Bagas merebahkan tubuhnya ke
atas kasur. Beberapa saat dia terdiam di sana.
Dipandanginya langit-langit kamar. Yang muncul
hanyalah wajah Ayu saja. Benaknya berkecamuk
memikirkan Ayu yang jauh darinya. Ada perasaan beda
ketika dia berada jauh dari Ayu. Bagas merasa sepi dan
sendiri.
“Ah, bukankah Yogya tidak jauh. Hanya
beberapa jam saja. Toh juga tidak akan lama aku di sini,”
gumam Bagas.
Bagas bangkit dan menuju ke kamar mandi. Dia
basahi seluruh tubuhnya dengan air hangat berharap
lelahnya hilang dan bisa lebih rileks.
Malam semakin larut. Mata Bagas tak kunjung
terpejam. Bagas mengirim beberapa pesan dan foto
17
kepada Ayu. Ayu pun membalasnya. Untuk beberapa
saat mereka chat bersama.
Jarum jam terus bergerak ke kanan. Bagas masih
saja tak bisa tidur. Rasa mengantuk hilang entah
kemana. Ditariknya selimut dan membenarkan posisi
bantalnya. Bagas memejamkan matanya.
“Ya Tuhan, mengapa selalu ada wajahmu Ayu?”
Bagas bertanya pada diri sendiri.
Pikirannya gelisah, rasa rindu tiba-tiba datang
menyerang. Ingin rasanya malam itu dia pulang. Bagas
tak ingin berlama-lama jauh dari Ayu.
“Ya Tuhan, ada apa denganku? Bantu aku
melewati malam ini,” doa Bagas.
Tak mau berpikir panjang lagi, Bagas akhirnya
menelpon Ayu lewat video call. Bagas tersenyum
melihat wajah Ayu yang polos tanpa make up. Bagas
sangat suka dengan wajah Ayu yang alami.
“Mas kangen banget sama Ayu Sayang, Mas
pengen pulang. Mas gak bisa jauh darimu Ayu,” kata
Bagas dalam video call nya.
“Ih...Mas. Kayak anak kecil saja,” jawab Ayu.
18
Empat puluh menit berlalu dan mereka belum
juga mengakhiri video call nya. Bagas tak ingin berpisah
dengan Ayu. Mereka terus saja ngobrol malam itu.
Sinar mentari masuk ke kamar Bagas lewat sela-
sela tirai jendela kamar hotel yang terbuka. Bagas
membuka matanya. Ponsel masih berada di tangannya.
“Oh my God, aku ketiduran semalam,” ucap
Bagas lirih.
Bagas melihat jam dan bergegas membersihkan
dirinya. Sholat subuhnya kesiangan.
Di luar kamar, teman-teman Bagas tengah
bersiap untuk sarapan. Bagas bergegas menyusul
mereka. Hari itu agenda sangat padat, tidak boleh
terlambat.
Hari terasa berjalan lebih cepat. Seharian
mereka melakukan kegiatan. Menjelang malam mereka
kembali ke hotel dan beristirahat. Ini adalah malam
terakhir mereka di Yogyakarta.
Bagas merasa lebih tenang malam itu. Seperti
malam sebelumnya, dia menelpon Ayu hingga larut.
Bagas merasa tak begitu sedih karena esok hari dia akan
pulang dan kembali bertemu Ayu. Malam itu Bagas tidur
dengan nyenyak.
19
Rombongan mulai meninggalkan hotel. Hari
terakhir hanya ada sedikit kegiatan. Sisanya, mereka
akan mengunjungi Malioboro pusatnya Yogyakarta.
Ibu-ibu sudah heboh ketika bus mulai memasuki
kawasan parkir Malioboro. Mereka sudah tidak sabar
untuk meluapkan hasrat belanjanya. Bagas berjalan
menyusuri pertokoan. Matanya menyapu bersih setiap
dagangan yang dipajang di lapak. Dia ingin membelikan
sesuatu untuk Ayu. Bukan barang yang mewah dan
mahal, namun yang sederhana dan hanya sekedar oleh-
oleh saja.
Sebuah sandal dan dompet wanita bertuliskan
nama Ayu dipesannya dari pedagang. Beberapa bungkus
makanan khas Yogyakarta juga tak lupa dibelinya. Tak
terasa tiga jam berlalu. Merasa cukup, Bagas dan
teman-temannya bergegas kembali ke tempat parkir.
Bus melaju kencang meninggalkan Yogyakarta.
Tak ada kehebohan dalam bus, semua lelah dan
memilih beristirahat.
Perjalanan malam itu lancar. Mereka tiba di
rumah masing-masing dengan selamat. Bagas merasa
lega karena esok hari akan bertemu kembali dengan
kekasihnya.
20
KEJUTAN
Bagas, Ayu dan seorang teman Ayu sedang
makan siang di sebuah warung makan tak jauh dari
tempat kerja mereka. Seperti hari-hari biasanya, Ayu
selalu terlihat ceria menikmati kebersamaannya dengan
Bagas. Siang itu mereka sedang membicarakan hal yang
agak serius tentang pekerjaan Bagas. Rupanya Bagas
sedang mengalami masalah dengan rekan kerjanya.
Namun itu tak menyurutkan niat Bagas untuk tetap
bekerja dengan baik di kantornya. Ayu dan temannya
memberikan beberapa masukan kepada Bagas dan itu
sangat berarti untuk Bagas. Bagas semakin yakin dan
mantap dalam mengambil keputusan. Support Ayu
adalah penyemangat Bagas dalam berkarir.
“Makasih Sayang, tanpamu aku gak tahu lagi
harus gimana mengambil sikap,” ungkap Bagas lega.
Ayu hanya tersenyum. Dia juga ikut lega bisa
memberikan solusi untuk seorang yang dicintainya.
Ayu pamit sebentar ke toilet. Bagas dan Amalia
melanjutkan obrolan mereka.
“Sebentar lagi Ayu ulang tahun. Kado apa yang
cocok ku berikan untuknya Am?” Tanya Bagas.
21
“Menurutku, berikan dia sesuatu yang selalu
dipakai dan bermanfaat buat dia juga untuk yang
memberikan kado itu,” jawab Amalia.
“Apa itu?” Bagas penasaran.
“Gimana kalo kamu beri dia sebuah mukena? Dia
pasti akan selalu memakainya. Bermanfaat buat dia,
kamu juga akan mendapat kebaikannya karena dia
memakainya untuk beribadah,” jawab Amalia.
“Wow...that’s a good idea. Idemu cemerlang.
Makasih ya,” sahut Bagas.
“Tapi, gimana belinya? Biar dia yang pilih sendiri
saja,” kata Bagas sambil melirik ke arah tas Ayu yang
ada di sampingnya.
Ayu telah kembali dari toilet. Makan siang usai
dan mereka bergegas kembali ke tempat kerja masing-
masing.
Ayu dan Amalia tidak langsung bekerja. Mereka
singgah dulu ke mushola untuk melaksanakan sholat
dhuhur. Usai mengambil wudlu, mereka masuk mushola
bersama. Betapa kagetnya Ayu saat membuka tas dan
menarik mukenanya keluar. Tiba-tiba saja lembaran
uang kertas lima puluh ribuan berhamburan dari dalam
tas mukenanya dan berserakan di lantai mushola.
22
“Haa...apa ini?”
Amalia juga kaget melihatnya.
“Kok ada uang dalam tas mukena?” Tanya
Amalia.
“Aku juga gak tahu,” jawab Ayu.
Mereka segera memungut uang itu, takut ada yang
melihatnya. Belum selesai mereka mengambilnya, tiba-
tiba ponsel Ayu berdering. Ada sebuah pesan untuknya.
Ayu segera membuka dan membaca pesan itu.
“Ya Allah...,” ucap Ayu dengan nada tak percaya.
“Ada apa? Pesan dari siapa Yu?” Tanya Amalia
penasaran.
Ayu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Amalia semakin penasaran melihat Ayu.
“Pesan dari Bagas Am. Dia bilang ada uang
dalam tas mukenaku. Itu dari dia sebagai kado ulang
tahunku nanti. Dia pengen aku beli mukena dengan
uang itu,” kata Ayu menerangkan isi pesan WA dari
Bagas.
Amalia tertawa kecil mendengar penjelasan Ayu. Dia
sudah mengetahui semua karena itu saran dari dia. Tapi
yang dia heran, kapan Bagas memasukkan uangnya ke
23
dalam tas Ayu. Amalia sama sekali tidak mengetahuinya.
Tapi dia senang, sahabatnya itu telah mendengarkan
saran darinya.
“Kok kamu malah tertawa Am?” Tanya Ayu.
“Gak papa kok. Aku senang Bagas perhatian
banget sama kamu, sayang banget sama kamu. Tapi
caranya itu yang bikin aku geli. Masukin uang dalam tas
mukenamu. Haduh..sama sekali gak kepikiran,” jawab
Amalia.
“Betul juga kamu,” jawab Ayu.
Mereka tertawa bersama. Mereka kembali
memunguti uang itu. Ayu menghitungnya dan
memasukkannya kembali ke dalam tas.
Usai sholat, Ayu menelpon Bagas untuk
mengucapkan terima kasih kepadanya. Ayu
menceritakan bahwa dirinya sangat terkejut melihat apa
yang Bagas lakukan untuknya. Bagas hanya menjawab
bahwa itu bukan hal aneh. Sudah seharusnya dia
memikirkan kado yang pas untuk kekasihnya. Bagas juga
mengatakan kalau ide membeli mukena itu datang dari
Amalia sahabatnya, namun dia tidak mengatakan telah
menaruh uang dalam tas mukena Ayu.
Ayu mencubit tangan Amalia.
24
“Dasar kamu...tapi makasih ya Am. Kamu
sahabatku yang terbaik pokoknya,” kata Ayu tersenyum.
“Iya deh...jangan lupa traktirannya nanti di hari
ultahmu,” jawab Amalia menggoda Ayu.
“Beres...,” jawab Ayu.
Merekapun tertawa. Ayu dan Amalia bergegas
kembali bekerja. Di sela-sela bekerja, Ayu dan Amalia
masih saja membahas soal uang dari Bagas. Ayu
meminta Amalia untuk menemaninya membeli barang
yang diamanatkan Bagas sebagai hadiah ulang
tahunnya. Ayu juga berharap kelak mendapatkan
mukena sebagai mahar pernikahannya.
Pertemanan yang indah diantara Ayu dan Amalia
telah terjalin lama. Tak ada niat sedikitpun diantara
mereka untuk saling menguasai. Semua berjalan apa
adanya dengan niat yang tulus.
25
KESERIUSAN CINTA
Ayu sibuk berkaca di kamarnya. Beberapa stel
baju berserakan di atas tempat tidurnya. Entah sudah
berapa baju yang dia coba kenakan, namun masih saja
belum merasa pas. Ayu ingin terlihat cantik hari itu di
depan Bagas. Hari ini dia ingin tampil istimewa karena
hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sapuan tipis bedak
di wajahnya menambah ayu penampilannya. Ayu
terlihat segar.
Deru mobil terdengar memasuki halaman
rumahnya. Bagas menjemput Ayu. Siang itu mereka
pergi bersama teman-teman mereka.
“Wow...cantik banget,” kata seorang teman Ayu.
Ayu tersenyum dan segera masuk ke mobil. Mereka
berlima pergi untuk merayakan ulang tahun Ayu.
Sampailah mereka di sebuah rumah makan.
Kejutan telah menanti di sana. Sebuah kue ulang tahun
dengan lilin telah disiapkan di meja.
“Taraaa...selamat ulang tahun Ayu,” seru mereka
kompak.
“Makasih buat semua. Tapi kenapa aku merasa
seperti anak kecil ya?” Jawab Ayu.
26
Ayu merasa terharu dengan apa yang dilakukan
oleh mereka. Seumur hidup Ayu jarang sekali
merayakan ulang tahun dengan memotong kue dan
meniup lilin. Dalam keluarganya hanya ada
kesederhanaan. Semasa kecil, Ayu dan saudaranya
dibuatkan tumpeng kecil lengkap dengan lauk pauknya
oleh ibu. Memotong tumpeng, berdoa dan makan
bersama bapak ibu serta adiknya sangatlah
membahagiakan bagi Ayu. Bapak selalu mengajarkan
untuk hidup sederhana meskipun kita berpunya.
Ayu senang dan menghargai semua yang telah
diberikan Bagas dan teman-temannya. Bagi Ayu
kebersamaan mereka adalah yang utama. Kepercayaan
adalah harga mutlak dalam sebuah ikatan cinta dan
persahabatan. Semua berharap bisa bersahabat untuk
selamanya.
“Sayang, kamu pengen kado apa lagi dari Mas,”
tanya Bagas.
Ayu tak menjawab dan hanya mengernyitkan dahinya.
Bagas tersenyum. Melihat Bagas dan Ayu mulai intim
bicara, teman-teman mereka segera kabur dari
pandangan mereka. Mereka sengaja memberikan waktu
untuk Bagas dan Ayu berdua. Bagas menuntun Ayu ke
taman di sudut ruangan. Kedua tangan Ayu
digenggamnya. Matanya menatap dan menyapu seluruh
27
wajah Ayu tak terlewat sedikitpun. Tangan Bagas mulai
membelai rambut, pipi dan bibir Ayu. Ayu memejamkan
matanya merasakan sensasi sentuhan Bagas.
Jantungnya berdetak kencang, keringat mulai
membasahi tubuhnya dan nafasnya mulai tak
beraturan.
“Mas cinta kamu Ayu. Mas sayang kamu.
Maukah kamu jadi pendampingku Sayang?” Bagas
berbisik lembut di telinga kekasihnya.
Ayu membuka matanya dan menatap Bagas.
“Mas serius?” Ayu balik bertanya.
Bagas menatap mata Ayu dan hanya mengangguk tak
berkata. Ayu tak pernah menyangka kekasihnya akan
melamarnya di hari ulang tahunnya.
“Mau kan Sayang?” Bagas mengulang
pertanyaannya.
“Ayu mau Mas,” jawab Ayu lirih.
Mereka masih saling menatap hingga beberapa saat.
Bagas merapatkan tubuhnya. Dibelainya pipi Ayu. Bagas
mendekatkan bibirnya mecium pipi dan melumat bibir
kekasihnya. Keduanya larut dalam rasa. Gemuruh yang
ada dalam dada mereka tak terbendung lagi. Darah
serasa mengalir cepat. Jantung yang berontak dan nafas
28
yang tersengal mewarnai kedekatan mereka beberapa
saat itu.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki
mendekat. Bagas dan Ayu melepaskan pelukan mereka.
Seorang pelayan mengantarkan minuman lagi. Mereka
kembali ke meja dan duduk bersama dengan teman-
teman mereka lagi.
Bagas mengeluarkan sesuatu dari saku
celananya.
“Kawan, hari ini kalian semua jadi saksi. Hari ini
aku melamar Ayu untuk jadi pendampingku,” kata Bagas
dengan penuh percaya diri.
“Wow...selamat ya,” jawab mereka spontan
dengan penuh rasa tak percaya.
Sebuah cincin emas dipersembahkannya untuk Ayu. Ayu
terkejut dan merasa sangat bahagia. Bagas
memasangkan cincin itu ke jari manis Ayu dan mencium
tangan kekasihnya dengan lembut.
“Selamat ya buat kalian berdua. Semoga lancar
sampai ke hari pernikahan nanti,” kata Amalia.
Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan
Ayu. Kado yang istimewa di hari istimewa adalah sebuah
29
keseriusan cinta. Harapannya untuk hidup bersama
dengan Bagas kian nyata.
30
SETIA
Siang itu tampak seorang pria berada di sebuah
rumah makan. Dia sedang menunggu kehadiran
seseorang. Semilir angin dan suara deburan ombak di
pantai menghanyutkannya dalam sebuah lamunan.
Matanya jauh menatap luasnya lautan.
Andai saja waktu bisa kembali ke masa lalu, tak
akan pernah semua rasa ini ditanggungnya. Kegalauan
kerap berkecamuk menguasai batinnya. Hatinya berkata
bahwa rasa cintanya memang benar adanya. Tapi
keadaan yang memaksanya tak bisa membiarkan rasa
cintanya tumbuh dan bersemi layaknya mereka yang
sedang jatuh cinta. Irfan menghela nafas, merasakan
beban berat jatuh cinta kepada seorang wanita.
“Tuhan, mengapa Kau berikan rasa ini
kepadaku?”
Suara langkah kaki terdengar makin mendekat.
Irfan menoleh ke arah jalan masuk. Sesaat kemudian,
tampak seorang yang cantik berjalan melenggang ke
arahnya. Senyumnya serasa menyejukkan suasana.
Dialah seseorang yang ditunggunya.
“Mas Irfan sudah lama menungguku ya? Maaf
terlambat,” sapanya.
31
“Tidak masalah. Makasih Ayu dah mau datang
menemui Mas,” jawabnya.
Mereka duduk berhadapan dan saling menatap
untuk beberapa saat. Ada perasaaan tersimpan yang tak
bisa terungkap di antara keduanya.
“Ayu mau pesan apa?” tanya Irfan
membuyarkan tatapan mereka.
“Apa aja terserah Mas,” jawab Ayu lembut.
Irfanpun memesan minuman dan makanan
untuk mereka.
Beberapa saat tak ada percakapan di antara
mereka. Sesekali Irfan mencuri pandang menatap wajah
cantik Ayu. Ayu merasa salah tingkah. Jantungnya
berdetak cepat, darahnya mengalir deras. Berkali-kali
Ayu menghela nafas panjang mencoba menguasai
dirinya.
“Ayu...Ayu. Kau memang sungguh cantik. Pria
mana yang gak jatuh cinta kepadamu,” batin Irfan.
Ayu duduk diam di hadapannya. Matanya jauh
menatap lautan luas. Angin laut menerpa wajah
lembutnya, menyibak ujung gaunnya. Ayupun buru-
buru membenahinya. Sikapnya yang tenang seolah tak
menyimpan kegundahan hati. Namun yang sebenarnya,
32
apa yang dirasakan Irfan dirasakan juga oleh Ayu. Ayu
sembunyi dari perasaannya dengan memandang lautan
lepas. Hatinya bergetar melihat Irfan yang masih
sesekali menatapnya. Ingin rasanya ia berteriak melepas
semua rasa yang ada, tapi tak bisa.
“Ini pesanannya Mas, selamat menikmati,” kata
seorang waitress membuyarkan kebisuan mereka.
“Makasih Mbak,” jawab Ayu sambil tersenyum.
Suasana mulai mencair. Irfan dan Ayu mulai
saling melempar senyum dan membicarakan awal kisah
pertemuan mereka. Mereka bertemu dalam sebuah
acara keluarga. Sejak saat itu mereka berteman.
Pertemuan yang jarang membuat mereka sering
berkomunikasi lewat telpon. Walau hanya ngobrol
lewat pesan singkat, mereka akhirnya bisa saling
mengenal lebih dalam. Irfan semakin tertarik dengan
Ayu. Di matanya, Ayu adalah seorang wanita yang
sempurna. Parasnya yang cantik, sikapnya yang lembut,
tutur kata yang halus, kedewasaan berpikirnya,
membuat Irfan terpesona.
Tak bisa seharipun Irfan mengawali harinya
tanpa menyapa Ayu terlebih dahulu. Seakan merasakan
hal yang sama, Ayu juga selalu menantikan hal itu.
Mereka semakin dekat. Mereka menyadari ada sesuatu
di antara mereka. Namun apakah itu, mereka tak bisa
33
menjelaskannya. Mereka saling menyapa, merasa
nyaman membahas sesuatu bersama. Cara berpikir dan
cara pandang yang sama semakin mengukuhkan
kebersamaan mereka. Hanya sesekali saja mereka
bertemu dalam sebuah acara.
Apakah ini yang namanya jatuh cinta?
Pertanyaan itu selalu muncul di hati Irfan. Irfan dan Ayu
tak lagi sendiri saat mereka dipertemukan keadaan.
Keduanya sama-sama telah mempunyai kekasih. Irfan
dengan kehidupannya, Ayu juga sama. Keduanya
bahagia dengan kehidupan mereka. Namun takdir
Tuhan mempertemukan mereka, hingga tumbuh
perasaan istimewa diantara keduanya. Salah siapa jika
rasa cinta dan sayang mulai hadir diantara mereka.
“Ayu, aku sangat sayang padamu,” kata Irfan
memberanikan diri berucap.
Bibirnya gemetar menahan perasaannya. Ayu kaget dan
menatap Irfan. Tak disangkanya kalimat itu terucap dari
bibir Irfan. Ayu tersipu dan cepat-cepat mengalihkan
pandangannya. Wajahnya tertunduk malu. Belum hilang
rasa kaget dan malu, Ayu tiba-tiba mendengar Irfan
bertanya.
“Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?”
34
Kalimat kedua Irfan sungguh membuat Ayu
semakin salah tingkah. Dia bingung harus bagaimana.
Ayu terdiam dan hanya menatap mata Irfan berharap
Irfan mampu membaca isi hatinya.
“Aku...aku...,” jawab Ayu tak mampu
menyelesaikan kalimatnya.
“Ya. Kamu juga sayang aku kan?” Sahut Irfan.
Keduanya saling menatap. Menyadari bahwa
memang ada perasaan istimewa diantara mereka.
“Tapi itu tidak mungkin,” kata Ayu.
Terdengar helaan nafas panjang keduanya.
“Aku tahu, tak seharusnya semua ini kita
bicarakan. Namun aku ingin kamu tahu semua yang
kurasakan padamu adalah benar. Aku sayang dan cinta
padamu Ayu,” kata Irfan.
“Aku minta maaf. Apapun yang ada diantara kita
tak mungkin terwujud. Aku dan kamu punya kehidupan
masing-masing yang tak mungkin ditinggalkan bukan?”
Jawab Ayu.
Irfan mengangguk setuju. Keduanya berusaha
saling mengerti. Namun tetap saja tak bisa
menyembunyikan kepedihan hati. Tak bisa juga
35
menyalahkan Tuhan yang telah menganugerahkan rasa
cinta diantara keduanya.
Irfan mengambil sepotong makanan di
hadapannya. Di suapinya wanita pujaan hatinya.
“Ayu, ijinkan aku tetap menyanyangimu,” kata
Irfan meminta.
Ayu menganggukkan kepala. Matanya berkaca-
kaca menahan perasaannya. Bulir air matapun mulai
menetes di pipinya. Irfan mengusapnya dengan lembut.
Dia tak ingin wanita pujaan hatinya larut dalam
kesedihan. Digenggamnya tangan Ayu dengan erat
seakan tak ingin dilepasnya.
“Hai, mengapa menangis? Bukankah semestinya
kita merayakan perasaan kita? Senyum dong,” goda
Irfan.
Ayu tersipu manja. Irfan menyuapinya lagi dan
Ayu menyambutnya.
“Tempe ya?” Tanya Ayu.
Irfan mengangguk. Mereka tertawa bersama.
Debur ombak saksi kebersamaan mereka. Angin pantai
membawa serta harapan mereka terbang jauh ke awan.
Tak ada harapan, tak ada keinginan memiliki, yang ada
hanyalah cerita yang akan dijalani. Cinta yang datang
36
tanpa pernah direncanakan, dan akan tetap ada di hati,
walau tak mungkin bersemi, tapi tak perlu dibunuh
mati.
Dua jam kebersamaan mereka terasa sangat
singkat. Waktu harus memisahkan mereka. Entah kapan
mereka bertemu kembali. Irfan harus keluar kota untuk
waktu yang cukup lama.
Di ujung jalan mereka berpisah. Irfan menatap
kepergian wanita pujaan hatinya hingga tak terlihat lagi.
Perasaan sedih dan senang berbaur menjadi satu. Sedih
karena harus berpisah dengan Ayu. Senang karena isi
hatinya telah terungkapkan, meskipun takdir tak
mengijinkan mereka bersama.
Jauh melaju dengan motornya, Ayu berhenti
sejenak di pinggir jalan. Dibukanya helm yang menutup
wajahnya. Diusapnya air mata yang sedari tadi
membasahi pipinya. Semua yang dirasakaanya saat ini
adalah bagian dari takdir Ilahi. Tak perlu disesali. Pilihan
tetap ada, dan Ayu memilih untuk tetap setia kepada
Bagas kekasihnya.
37
TAK INGIN PERCAYA
Mendung hitam bergulung di angkasa, angin
mulai bertiup kencang. Senja itu langit seakan murka.
Ayu buru-buru memasukkan sepeda motornya ke
garasi. Dan tidak lama kemudian hujanpun turun
dengan lebatnya. Dingin seketika merasuk hingga ke
tulang.
Hujan yang tak kunjung reda membuat Ayu
malas. Tak ada teman bicara malam itu. Ayu mencoba
menghangatkan dirinya dengan secangkir coklat panas
dan beberapa potong pisang goreng buatannya.
Tiba-tiba ponselnya berdering, seseorang
menelponnya. Terdengar beberapa kali Ayu bertanya
dengan lawan bicaranya. Ayu menutup pembicaraan
dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Dinyalakannya
televisi yang sejak kemarin diam tak ada peminatnya.
Pikirannya menerawang jauh, terngiang semua cerita
temannya di telepon tadi.
Tak ingin percaya dengan semua yang dikatakan
oleh temannya, Ayu mengirim pesan kepada Bagas. Dia
ingin memastikan jika kekasihnya itu baik-baik saja saat
ini dan masih setia kepadanya. Menunggu beberapa
saat, pesan itu belum terbaca juga. Ayu mulai gelisah.
Kepalanya mulai diisi dengan hal-hal buruk tentang
38
Bagas. Benarkah Bagas seperti yang diceritakan
temannya tadi? Teman Ayu melihat Bagas bersama
dengan wanita lain dan terlihat sangat akrab dan mesra
kemarin.
Ayu melirik ke arah ponselnya, berharap
mendapat balasan pesan dari Bagas. Namun ponsel
diam tak ada bunyi. Ayu menepis semua prasangka
buruknya kepada Bagas. Dia tak ingin memikirkan hal
buruk tentang hubungan asmaranya bersama Bagas.
Hanya tinggal selangkah lagi hubungan mereka sampai
ke pernikahan. Ayu merasa yakin semua akan baik-baik
saja.
Malam kian larut, hujan telah reda menyisakan
suara katak bersahutan di sekitar rumah. Ponsel
berdering. Sebuah pesan diterima Ayu. Malam itu Bagas
baru membalas pesan Ayu. Bagas bilang jika dirinya
sedang ada acara bersama dengan teman-teman
kantornya malam ini. Sebuah hal yang aneh bagi Ayu,
tak biasanya Ayu terlewatkan oleh kabar Bagas. Ayu tak
ingin berpikir lebih buruk lagi. Kali ini dia maafkan Bagas
yang tak memberinya kabar tentang kegiatannya malam
ini.
Hari berganti pagi. Mentari mulai bersinar terang
menghangatkan pagi yang masih basah sisa hujan
39
semalam. Ayu semangat mengawali hari. Berangkat
bekerja seperti hari-hari biasa ke kantornya.
Pagi ini Bagas tidak mengirim pesan
mengabarkan keadaannya. Ayu mulai merasakan
perbedaan sikap kekasihnya itu sejak seminggu yang
lalu. Namun Ayu tetap tak ingin berprasangka buruk. Dia
yakin kalau kekasihnya itu sedang sibuk dengan
pekerjaannya akhir-akhir ini. Ajakan makan siang
bersama juga beberapa kali di tolak Bagas dengan
alasan sibuk kerja.
“Bu Ayu, ada tamu,” kata pak Satpam.
Ayu berdiri dari tempat duduknya dan bergegas
menemui tamunya. Ternyata Sinta, teman Ayu yang
juga teman dekat Bagas di kantor.
“Hai, apa kabar?” Sapa Ayu.
“Aku baik-baik saja,” jawab Sinta.
“Bisakah kita ngobrol sebentar? Ada sesuatu
yang ingin kubicarakan sama kamu. Kita keluar cari
makan yuk,” ajak Sinta.
Ayu melihat jam di tangannya. Waktu sudah
masuk jam istirahat makan siang. Ayu mengambil tas
dan pergi bersama Sinta.
40
“Gimana hubunganmu sama Bagas?” Tanya
Sinta.
“Ya beginilah. Kami baik-baik saja. Tapi sekarang
dia lagi sibuk, jarang menghubungi dan memberi kabar
aku,” jawab Ayu.
“Maaf ya Yu. Bukan maksudku ingin ikut campur
tangan hubungan kalian. Aku hanya ingin kamu tau satu
hal,” kata Sinta.
Sinta membuka ponselnya dan menunjukkan
beberapa foto mesra Bagas dengan wanita lain. Ayu
terperanjat kaget tak percaya. Mungkinkah Bagas telah
mengkhianati dirinya. Wajahnya memerah marah. Api
cemburu menguasai dirinya.
“Dimana Bagas sekarang?” Tanya Ayu.
“Dia di kantor,” jawab Sinta.
Sinta bercerita bahwa Bagas sering video call
dengan seorang wanita ketika berada di kantor. Kata-
katanya mesra seperti orang pacaran. Foto-foto yang
Sinta dapatkan adalah kiriman dari seorang temannya
yang kebetulan sedang melihat Bagas berduaan dengan
wanita itu.
Bagai disambar petir Ayu melihat dan
mendengar semua yang dikatakan Sinta. Tak terasa air
41
mata menetes di pipinya. Tak bisa berkata apa-apa, Ayu
hanya menangis. Tak pernah terbayangkan Bagas akan
mengkhianati cintanya.
Hari itu Ayu pulang dengan perasaan kecewa
dan sakit. Ingin rasanya dia bertemu dengan Bagas dan
menanyakan semua yang didengarnya. Berkali-kali Ayu
mengirim pesan namun tak terbaca. Hatinya semakin
hancur. Sikap Bagas seakan menguatkan semua cerita
Sinta tentangnya.
Bagas tak lagi menelpon dan mengirim pesan
kepada Ayu. Dia hilang bagai ditelan bumi. Ayu
mencoba mencari tahu kabar Bagas dari teman-
temannya. Mereka semua mengatakan kalau Bagas
baik-baik saja dan bekerja seperti biasa di kantor. Hanya
saja sekarang mereka jarang bicara. Bagas datang dan
pergi tanpa berkata. Benar-benar sebuah kenyataan
yang menyakitkan bagi Ayu.
Dua minggu telah berlalu. Masih juga tak ada
berita tentang Bagas. Kini nomor ponsel Ayu telah
terblokir oleh Bagas. Ayu begitu kecewa dengan Bagas.
Hatinya teriris perih. Rasa tak terima diperlakukan Bagas
seperti itu benar-benar menyakiti hatinya. Dia tak
pernah menyangka Bagas akan memperlakukan dirinya
seperti saat ini, meninggalkan dirinya dengan cara yang
menyakitkan, tanpa kata dan penjelasan apapun.
42
TERSIKSA
Kata orang rindu itu indah, namun bagi Ayu
rindu itu menyiksa. Satu jam sudah Ayu duduk sendiri di
bangku taman tempat dia sering bertemu Bagas berdua.
Hati Ayu dipenuhi kegelisahan. Menunggu kabar dari
orang tersayang. Bagas hilang bagai ditelan bumi.
Jalinan kasihnya selama ini bersama dengan Bagas tidak
memiliki kejelasan status lagi. Bagas pergi dengan sejuta
misteri. Meninggalkannya sendiri untuk waktu yang
lama. Tiga bulan telah berlalu sejak saat itu. Ayu
terombang ambing dalam ketidakpastian cinta.
Ayu membuka ponsel dan melihat foto-foto
Bagas bersama dirinya. Air mata mengucur deras
mengingat kebersamaan mereka. Di pandangnya
sebuah cincin emas yang masih setia melingkar di jari
manisnya. Terbayang kembali kala Bagas melamar
dirinya kala itu. Untaian kata sayang dan usapan lembut
tangannya masih bisa dirasakannya hingga sekarang.
Ayu masih tak ingin percaya dengan semua
cerita teman-temannya tentang Bagas yang telah
mendua. Bagaslah yang seharusnya mengatakan sendiri
tentang perasaannya saat ini, meski kenyataan perih
yang akan dia terima nanti. Itu lebih baik dari pada
tanpa kejelasan sama sekali. Ayu merasa itu lebih adil.
43
Ayu termenung. Ingatannya kembali terbang ke
masa lalu yang indah bersama Bagas. Mereka telah dua
tahun bersama. Harapan hidup bersama telah
terpampang di depan mata. Restu dari kedua orang tua
telah mereka dapatkan. Namun semua masih tak cukup.
Komitmen tanpa kesetiaan adalah hal yang sia-sia.
Ayu menghela nafas mencoba melepas semua
yang menghimpit di dada. Rasa rindu yang selama ini
melandanya perlahan berubah menjadi luka.
“Sanggupkah aku hidup tanpa dia?” Ayu
bertanya pada diri sendiri.
Dalam hati Ayu masih sangat mencintai Bagas.
Ayu masih menginginkan Bagas kembali kepadanya. Ayu
masih berharap cintanya akan kembali bersemi. Andai
Bagas muncul saat ini di hadapannya, Ayu akan senang
menerimanya. Sejuta maaf sanggup dia berikan untuk
seorang yang sangat dicintainya. Apapun rela dia
korbankan demi rasa sayang. Ketulusan cintanya kepada
Bagas benar-benar nyata.
Angin bertiup kencang. Mendung hitam
bergulung mendekat. Langit tak lagi ramah siang itu.
Butiran hujan mulai turun membasahi bumi. Ayu masih
terdiam dan enggan beranjak dari duduknya. Rambut
dan gaunnya mulai basah oleh hujan.
44
“Ya Tuhan, aku masih mencintainya. Salahkah
aku jika masih mengharapkan dia?” Teriak Ayu dalam
derasnya hujan.
Ayu tak mempedulikan dirinya kuyub. Hujan
menjadi saksi kepedihan hatinya. Hujan membasuh luka
yang ada. Bunga di taman meliuk, terombang ambing
sapuan angin seakan ikut merasakan kepedihan yang
sama. Derai air mata bercampur air hujan. Ayu
menangis meluapkan emosi jiwanya.
45
KANDAS
Ayu berubah menjadi seorang pendiam. Senyum
tak lagi menghiasi bibirnya. Semenjak kepergian Bagas,
Ayu merasa sangat kecewa. Segala usaha telah dicoba
Ayu untuk bisa berkomunikasi dengan Bagas. Namun
Bagas mengacuhkannya. Telepon sering tak diangkat,
pesanpun dijawab sekedarnya saja. Keadaan telah
benar-benar berubah. Tak ada lagi pembicaraan tentang
cinta mereka berdua. Ayu merasa kini cintanya telah
bertepuk sebelah tangan. Apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa Bagas berubah dan mengacuhkannya? Apa
kesalahan yang telah diperbuat hingga ia diperlakukan
seperti sekarang ini? Pertanyaan –pertanyaan itu belum
terjawab.
Tangis Ayu kembali pecah ketika rasa rindu
datang menghampirinya. Terlalu banyak kenangan yang
tak mudah dilupakan. Untaian kata sayang dulu
menghiasi hari-harinya. Belaian lembut tangan kekasih
bagai energi yang tak pernah habis menyemangati dia
bekerja. Kini, tak ada lagi pesan yang menanyakan
kabarnya disetiap pagi buta. Tak ada lagi makan seporsi
berdua, saling menyuapi, saling menatap, saling
memberi support dan bercanda disela-sela
pembicaraan.
46