The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by asihsetyowinnahyu, 2021-07-08 02:48:31

HITAM PUTIH CINTA

KUMPULAN CERPEN

Keywords: Asih Setyo Winnahyu

Ayu menatap cincin emas yang melingkar di jari
manisnya. Cincin yang dulu Bagas berikan kepadanya
sebagai tanda keseriusan cinta. Ayu tak percaya,
masihkan cincin itu mempunyai arti yang sama sekarang
ini? Untuk apa masih memakainya, jika yang
memberikannya sudah tak lagi menghiraukan
perasaannya.

Di sudut kamar Ayu duduk terdiam. Tatapannya
menembus gelapnya malam di luar jendela. Dingin
angin dan derasnya hujan tak mampu usir posisinya.
Diusapnya air mata kepiluan hati yang menetes .

“Aku harus bisa temui dia...harus temui dia,”
ucap Ayu.

Jika semua memang harus berakhir, Ayu telah
siap. Setidaknya ada kepastian yang dia dapatkan
setelah bertemu dengan Bagas.

Hari berganti pagi. Suara burung di teras rumah
riuh bercuit seakan tak mempedulikan hati Ayu yang
sedang pedih. Ayu bergegas pergi ke kantor. Pagi
berselimut kabut, dingin terasa menusuk. Ayu
menghibur diri bernyanyi kecil sepanjang perjalanan ke
kantor. Tiba-tiba Ayu ingat sesuatu. Dia harus mampir
ke minimarket untuk membeli stok minuman dan
makanan ringan untuknya di kantor.

47

Ayu memarkir motornya. Ayu kaget melihat
mobil Bagas yang baru saja meninggalkan area parkir
minimarket. Bagas bersama dengan seorang wanita.
Ayu merasa semakin yakin jika Bagas telah
mengkhianatinya.

Perasaan cemburu, benci dan dendam
menguasai hati Ayu. Seharian dia tampak begitu gelisah.
Ayu ingin mengusir semua perasaan yang membuatnya
tidak nyaman. Ayu hanya ingin sendiri dan tak ingin ada
orang lain mengganggunya.

Sepulang dari kantor, Ayu tidak langsung ke
rumah. Ayu mampir ke taman tempat dia dan Bagas
sering bertemu. Sore itu taman sepi. Hanya ada
beberapa orang saja duduk di bangku menikmati senja.
Ayu berjalan menuju ke sebuah bangku di ujung taman
dimana dia sering duduk berdua. Ayu melihat ada
seorang wanita duduk di sana sendirian. Ayu
mengurungkan niatnya duduk di bangku itu dan
memilih duduk di bangku yang tak jauh dari wanita itu.

Ayu duduk sendiri, diam tanpa kata.
Disandarkannya bahu di bangku seakan ingin
melepaskan beratnya beban yang selama ini dia pikul.
Ayu memejamkan mata. Tiba-tiba terdengar suara
langkah kaki mendekat dan melewatinya.

48

“Sayang, kubawakan ini untukmu,” kata seorang
pria sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada
wanita itu.

Ayu membuka matanya. Ayu mengenal suara itu.
Suara itu adalah suara Bagas kekasihnya. Ayu bangkit
dari posisi duduknya dan melihat ke arah wanita yang
duduk di dekatnya. Betapa kagetnya dia. Ayu benar-
benar melihat Bagas di depannya bersama dengan
wanita itu.

Beberapa saat Ayu hanya diam menahan amarah
melihat Bagas bercengkrama dengan wanita itu. Bagas
tak menyadari kehadiran Ayu di dekatnya. Hati Ayu
terasa semakin tergerus melihat kemesraan mereka.
Emosinya mulai naik dan tak bisa terbendung lagi.

Ayu berjalan ke arah mereka.

“Mas, siapa dia?” Tanya Ayu membuyarkan
percakapan mereka.

Bagas terperanjat melihat Ayu ada di
hadapannya.

“Siapa dia?” Ayu mengulang pertanyaannya
dengan suara keras.

“Kamu di sini?” Bagas balik bertanya.

49

Bagas menarik tangan Ayu namun Ayu
menepisnya.

“Jadi selama ini Mas bohongi aku. Mas selingkuh
dengan wanita lain,” kata Ayu berapi-api.

“Apa salahku Mas? Tega kamu sakiti aku.”

“Dengerin Mas dulu. Dia saudaraku,” kata Bagas
mencoba memberi penjelasan.

Ayu menatap Bagas dengan sinis. Berulang kali
ditepisnya tangan Bagas yang ingin merengkuhnya.
Bagas mulai terpancing emosinya.

“OK. Dia memang kekasihku dan aku sangat
mencintai dia,” kata Bagas dengan suara keras
mengakui semua.

Orang-orang mulai memperhatikan Bagas dan
Ayu yang sedang bertengkar.

“Selama ini aku hanya pura-pura saja mencintai
kamu. Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu.
Aku hanya ingin uangmu.”

Ayu masih menatap Bagas dengan sorot mata
yang tajam. Dadanya bergetar hebat mendengar kata-
kata Bagas. Ayu tak pernah menyangka bahwa semua
cerita diantara mereka hanyalah sebuah kepalsuan saja.

50

“Sekarang kamu mau apa?” Tanya Bagas.
Pertanyaan Bagas seakan menantang Ayu. Ayu spontan
mengangkat tangan kanannya.

Plaakk...

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Bagas.
Bagas terkejut. Dia tak pernah menyangka Ayu akan
menamparnya di hadapan banyak orang yang sedang
memperhatikan mereka.

“Penipu. Tuhan pasti membalasmu,” kata Ayu
sambil melemparkan cincin yang dilepas dari jari
manisnya ke muka Bagas.

Bagas menggandeng tangan wanita itu dan pergi
meninggalkan Ayu. Ayu duduk lemas di bangku taman.
Tangisnya pecah seketika. Hatinya hancur. Rasa kecewa
dan sakit begitu dalam dia rasakan. Selama ini dia telah
banyak berkorban untuk Bagas. Cintanya yang tulus
ternyata hanya dipermainkan oleh Bagas.

“Sabar ya mbak,” kata seorang wanita di dekat
Ayu.

“Makasih mbak,” jawab Ayu sambil menghapus
air mata.

Suasana hening. Angin seakan enggan bertiup.
Bunga dan rumput yang membisu menjadi saksi

51

kepedihan hati Ayu. Tuhan tuliskan kisah ini dalam
kehidupannya agar dia bisa mengambil hikmah dari
semua.

Dalam kepedihan hatinya, Ayu tetap bersyukur
karena Tuhan telah tunjukkan kepadanya siapa Bagas
yang sebenarnya. Seorang yang tak layak mendampingi
hidupnya kelak tak perlu dipertahankan. Akan datang
seorang yang lebih baik dan lebih pantas untuknya
suatu saat nanti.

52

BIOGRAFI

ASIH SETYO WINNAHYU, S.Pd
Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Sedan Rembang
sejak tahun 2009. Gemar membaca dan menulis.
Dorongan untuk guru menulis serta banyaknya
permasalahan dalam kehidupan orang-orang di sekitar
telah memunculkan ide dan menjadi motivasi untuk
melahirkan sebuah karya.

53

SINOPSIS

Ayu dan Amalia tidak langsung bekerja. Mereka
singgah dulu ke mushola untuk melaksanakan sholat
dhuhur. Usai mengambil wudlu, mereka masuk mushola
bersama. Betapa kagetnya Ayu saat membuka tas dan
menarik mukenanya keluar. Tiba-tiba saja lembaran
uang kertas lima puluh ribuan berhamburan dari dalam
tas mukenanya dan berserakan di lantai mushola.

Andai saja waktu bisa kembali ke
masa lalu, tak akan pernah semua rasa
ini ditanggungnya. Kegalauan kerap
berkecamuk menguasai batinnya. Hatinya
berkata bahwa rasa cintanya memang
benar adanya. Tapi keadaan yang
memaksanya tak bisa membiarkan rasa
cintanya tumbuh dan bersemi layaknya
mereka yang sedang jatuh cinta.

54


Click to View FlipBook Version