The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pimbangkom.asn, 2021-12-14 21:54:17

Resensi Buku B5

Resensi Buku B5

mengeksplorasi peran kesederhanaan yang ditemukan dalam
berbagai traidisi spiritual dan bagaimana hal tersebut dapat
berkontribusi pada pemahaman dalam sistem organisasi yang
kompleks.

Kessler dan Nullens menulis dalam bab nya bahwa spiritualitas
dalam kepemimpinan berhubungan dengan pengambilan keputusan
dan bekerja untuk kebaikan bersama. Dalam bab lain fokus pada
bagaimana kepemimpinan yang berwawasan spiritual di dunia
VUCA. Van den Heuvel mengusulkan bahwa pembagian bidang
pekerjaan dapat mempertahankan diri dari pemimpin yang narsis
dan manipulatif yang bersikeras pada komitmen ‘spiritual’ untuk
bekerja dan loyal tanpa memberi karyawan kendali apapun. Jadi
menurut Heuvel ada beberapa pemimpin yang bersikap seakan-akan
memiliki nilai spiritual untuk bekerja dan loyal terhadap organisasi
tetapi karyawan tidak diberikan kendali atau kebebasan untuk
berekspresi. Perpaduan antara mandat teologi dengan apresiasi
konstruktivisme sosial harus dilakukan dalam suatu organisasi. Kok
dan Jordan menggunakan istilah sosial konstruktivis dan
mengenalkan istilah “hermaneutika harapan”, bahwa kesadaran diri
dan pengembangan untuk perubahan sangat penting. Idealnya
bahwa seseorang bergerak dari ketidakmampuan bawah sadar ke
ketidakmampuan sadar, kemudian ke kompetensi sadar, dan
akhirnya ke kompetensi bawah sadar.

Kok dan Jordaan mengeksplorasi metafora terkait dengan
pengalaman fisik, pembelajaran budaya dan peran harapan. Alur
pikir ini dapat diterapkan dan berguna pada komunitas agama.
Bahwa pemimpin adalah mediator yang baik yang memiliki tugas etis
dan spiritual untuk memperjuangkan harapan sebagai ruang suci
potensi perubahan. Dalam nada yang sama, Jordaan juga
menyampaikan pandangannya untuk mengubah ‘mental model’
yaitu cara membangun kepercayaan dengan beralih dari model
kompetitif ke model kolaboratif. Bahwa untuk menjadi organisasi
yang tetap ‘hidup’ di era VUCA ini, pemimpin yang baik adalah

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 90

pemimpin yang dapat menjadikan pegawainya bekerja dengan
kolaboratif bukan kompetitif, walau sebenarnya kompetitif juga tetap
diperlukan. Untuk masalah kepercayaan, Jordaan menuliskan bahwa
kepercayaan pada orang lain didasarkan pada evaluasi tentang
kemampuan, integritas, dan kebajikan. Fokusnya bahwa
kepercayaan tiddak hanya diperoleh dari ‘pengikut’ kepada
pemimpin, tetapi juga pemimpin harus mempercayai ‘pengikut’ dan
ini erat kaitannya dengan metode kolaboratif.

Kepemimpinan difokuskan pada membimbing dan memfasilitasi
hasil dan menjaga kolaboratif, tidak hanya sekedar mengarahkan. Ini
lebih tentang memimpin proses, membuat hubungan antara orang
yang tepat, menjembatani budaya yang beragam dan membuat
anggota terbiasa berbaagi ide, sumber daya, dan kekuasaan lintas
hierarki dan menghilangkan silo-silo. Dengan kata lain,
kepemimpinan yang kolaboratif adalah pemimpin yang
mengedepankan proses daripada sekedar mengarahkan,
menciptakan kondisi dan proses yang akan memaksimalkan sinergi
antara orang-orang/ bawahanya. Jordan berpendapat bahwa
kolaborasi yang baik mencerminkan kepercayaan terhadap
pengelolaan proses dan memungkinkan kebebasan dalam peran
masing-masing orang. Keputusan diambil berdasarkan hsil dialog
dan diskusi sehingga anggota tim akan lebih bersedia menerima
keputusan dan mengambil tanggung jawab untuk
mengimplementsikannya. Dalam kepemimpinan kolabiratif juga
menuntut pemimpin untuk menurunkan ego mereka karena dalam
prosesnya tidak semua anggota tim dapat menerima dan diperlukan
waktu untuk mereka dapatmenyadarinya.

Dalam bab yang lain, Barentsen mengeksplorasi peran perwujudan
untuk menyatukan dua cara berpikir dan membedakan iman
pengalaman melalui praktek dan pengetahuan analitis. Dalam
praktek, kelompok dan hubungan merupakan inti dari pengetahuan
yang menyiratkan proses pembentukan dan pengembangan
masyarakat yang berimplikasi pada kualitas etis seperti kesabaran,

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 91

keterbukaan, rasa hormat dan ketekunan dalam proses
pembentukan pengetahuan. Dengan demikian kepemimpinan
kolabratif adalah dimana kepercayaan bertemu dengan harapan
dengan melahirkan metafora baru dan keterlibatan dalam tujuan.
Dalam isttilah teologis kita dapat mengeksplorasi sejauh mana kita
menganggap Tuhan terlibat dalam kepemimpinan kolaboratif yang
membangun kepercayaan dan menunjukkan kepercayaan pada
manusia, menimbulkan harapan dan memberikan tujuan dan makna
bersama. Dia melanjutkan “seluruh sistem persepsi dan
pengetahuan manusiawi kita selaras tidak hanya untuk mengetahui
dunia dan yang lain, tetapi juga untuk mengenal Tuhan. Oleh karena
itu, kita mungkin juga mempertimbangkan bagaimana kita (bersama-
sama) mengenali kepercayaan dan harapan yang terkandung, dan
bagaimana kita menyeimbangkan pengetahuan berdasarkan
pengalaman (intuisi, kebijaksanaan, phronesis) dengan
pembelajaran formal dan metodologi ilmiah (sosial). Eksplorasi ini
akan memperkaya proses penegasan, membumikannya dalam
pengalaman yang dirasakan, menghargai integritas, dan berbagi
kekuatan. Kepemimpinan kemudian menjadi "kinerja yang rasional,
emosional dan intuitif untuk menciptakan lingkungan yang aman
bagi pengikut terlepas dari ketakutan dan ketidakamanan"

C. Kelebihan dan Kelemahan
 Kelebihan :

Buku ini ditulis dengan perspektif berbeda dari buku lainnya tentang
kepemimpinan di era VUCA. Buku ini menuliskan pendekatan
spritualitas dalam kepemimpinan dimana pendekatan tersebut
berimplikasi juga kepada kepemimpinan yang kolaboratif, pemimpin
yang memposisikan tim sebagai bagian kolaboratif bukan kompetitif.
Jadi walau buku ini berjudul “Leading in a VUCA World (Integrating
Leadership, Discernment and Spirituality)” tapi ternyata mengandung
anrti yang lebih dalam tentang hal-hal yang harus dimiliki oleh
seoarang pemimpin di era VUCA ini.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 92

 Kelemahan
Buku ini belum memberikan contoh yang nyata terkait dengan
implementasinya, misalnya dapat diberikan contoh tokoh/ pemimpin
di negara-negara yang memiliki kepemimpinan sebagaimana yang
disebutkan dalam buku. Atau mungkin contoh pemimpin
perusahaan yang telah berhasil memimpin perusahaannya dengan
menerapkan metode kepemimpinan kolaboratif.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 93

MILLENIALS WHO MANAGE

Mid Rahmalia, SE. MSi
Pusat Pengembangan Kader ASN

[email protected]

A. Identitas Buku

Judul : Millenials Who Manage

Penulis Buku : Chip Espinoza dan Joel Schwarzbart

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tahun Terbit : 2018

Tebal Buku : 186 halaman

B. Isi Buku
Millenials Who Manage merupakan salah satu buku yang diterbitkan
oleh PT. Elex Media komutindo Kompas Gramedia pada tahun 2018.
Buku ini merupakan buku yang memiliki konten utama bagaimana
mengoptimalkan interaksi multi generasi dan bagaimana Millenials
dapat menjadi pemimpin yang hebat.

Buku ini memberikan kontribusi terhadap Millenial dalam
mengembangkan kemampuan memimpin dan memanage dimana
fokus utama pemimpin di era 4.0 dan mulai beralih memasuki era
5.0 adalah pada diri sendiri yang dicerminkan pada sifat dan
kehadiran pemimpin Millenials itu sendiri. Selain ketrampilan teknis
yang merupakan syarat utama dalam memimpin, kemampuan
menegosiasikan, proses emosional dan hubungan merupakan sain

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 94

dan seni yang harus di kuasai agar dapat menjadi Pemimpin yang
memimpin secara efektif.

Konten materi dalam buku Millenials Who Manage disusun dalam
sebelas (11) Bab yang meliputi; 1) Sebuah Apriori, 2) Bertransisi ke
dalam Manajemen, 3) Mengembangkan Prespektif, 4) Menjadi Diri
Anda Sendiri, 5) Jujur kepada orang lain, 6) Perbedaan generasi; 7)
Fakta atau fiksi, 8) Dinamika Angkatan Kerja Multigenerasi, 8) Alasan
Anda akan menjadi pemimpin hebat, 9) Memimpin Milenial, 10)
Memimpin Generasi Baby Boomer – x -dan Pendiam, 11) Mencapai
tingkat selanjutnya.

C. Kelebihan dan Kelemahan
 Kelebihan

Informasi materi yang disajikan dalam Buku Millenials Who Manage
ini memiliki kelebihan dari buku lainnya dikarenakan buku ini
berangkat dari hasil penelitian dan kajian terhadap best-best practice
yang mengasah kemampuan seorang pemimpin millennials
mengelola pekerjaan dan gaya komunikasinya. Dengan gaya
komunikasi dan mengelola pekerjaan yang dikembangkan
berdasarkan asumsi dan nilai yang dimiliki Millenial akan menguji
kemampuannya untuk dapat bekerja secara efektif di era 4.0 ini.

Fokus buku ini terlihat dalam menuntun Millenials untuk mampu
bekerjasama, membangun hubungan dan komunikasi dalam empat
tingkat generasi yang masih ada dilingkungan kerja, unit dan atau
organisasinya. Keempat tingkat generasi tersebut adalah 1. Generasi
baby boomer; 2. Generasi X; 3. Generasi Y dan Generasi Millenials itu
sendiri. melalui pemahaman akan kemampuan mengembangkan
perspektif memimpin dengan mengetahui pola-pola pikir sehingga
hal tersebut sangat berguna. Sebuah perspektif sederhana yang
dikuasai oleh pemimpin Millenials bisa menjadi respon yang sangat
baik bagi pemimpin Millenials tersebut dalam merespon terhadap
kegagalan orang lain atau kemauan bbawahannya untuk mengambil
risiko.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 95

Selain itu, dalam menjalankan perspektif, seorang pemimpin
Millenials akan dihadapkan pada tantangan-tantangan untuk
menjalankan perspektifnya yang berasal dari 5 (lima) pola pikir
seorang manajer yakni Pola pikir reflektif, pola pikir analitis, pola pikir
duniawi, pola pikir kolaboratif dan pola pikir Tindakan.

Sebagai seorang Millenials Pemimpin, buku ini memberikan tuntutan
terhadap kemungkinan tantangan yang dihadapi di tempat kerja
yang biasanya ditemui diantaranya adalah kurangnya pengalaman,
dianggap tidak serius, kurang dihargai, tidak punyak hak, kurang
bersabar, tidak mendapat umpan balik yang berguna, gagal
memahami harapan, salah paham dnegan rekan kerja yang lebih tua,
proses yang kaku. Dan ini membantu Pimpinan Millenials dan
memitigasi resiko memimpinnya.

 Kelemahan
Sebahagian kecil pengamatan yang saya lakukan dalam pelatihan PNS
yakni sebagai ASN Millenial untuk mendapatkan pengembangan
kompetensi jauh lebih cepat dapat dan bisa mendapatkan kompetensi
yang dia butuhkan. Kecepatan akselerasi para pimpinan millennial
merupakan tantangan dan peluang bagi keberhasilan Millenilas dalam
memanage tugas, kegiatan dan kepercayaan yang diberikan
institusinya.

Buku ini berfungsi sebagai penuntun dan pedoman bagaimana
seorang millennial memanage. Kekurangan dari isi buku ini adalah
buku ini perlu dilengkapi dengan self assessment test dari masing-
masing bab atau topik buku ini. Sehingga pendalaman dari masing-
masing Bab bisa langsung mengena pada diri si pembaca. Pembaca
tidak mengira-ngira lagi apakah sasya sudah mampu dan layak atau
belum. Self assessment yang dilakukan dapat membantu pembaca
untuk dapat lebih efektif memahami, mendalami dan termotivasi
untuk mencoba dan mengembangkan kemampuan memanagenya.
Terutama self assessment dalam bentuk soft compentencies sebagai
leadershipnya.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 96

THE NEXT GLOBAL STAGE:
CHALLENGES AND OPPORTUNITIES IN OUR

BORDERLESS WORLD

Desy Maritha, S.E., MSE
Lembaga Administrasi Negara

A. Identitas Buku

Judul : The Next Global Stage: Challenges

And Opportunities In Our Borderless

World

Penulis Buku : Kenichi Ohmae

Penerbit : Wharton School Publishing

Tahun Terbit : 2005

Tebal Buku : 312 halaman

B. Isi Buku
The Next Global Stage: Challenges and Opportunities in Our
Borderless World adalah buku yang ditulis oleh Kenichi Ohmae,
seorang ahli strategi bisnis yang telah menulis banyak buku lain
tentang dunia bisnis. Pada Pendahuluan Buku The Next Global Stage,
mengupas strategi-strategi yang digunakan oleh berbagai organisasi,
pemerintah, dan individu untuk mengatasi persaingan ketat yang
dihadapi oleh mereka di lingkungan global tersebut. Format yang
harus diikuti adalah rangkuman, interpretasi dan pendapat pribadi
atas wacana tersebut. Ini mungkin datang poin demi poin karena
setiap topik memaparkan ide atau tren. Pada bagian akhir akan ada

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 97

bagian penutup yang bisa disebut ringkasan eksekutif. Subjudul yang
berbeda akan digunakan untuk mereview buku dengan rekomendasi
dan resensi.

Philosophizing Idea as All Embracing Kenichi memulai The Next
Global Stage dengan “ide” dalam pengantarnya. Dia secara ringkas
menyajikan ide sebagai imajinasi yang berkembang dipicu oleh
keadaan. Perubahan peristiwa dunia telah menyebabkan para
pemikir mengubah pendirian mereka secara substansial. Semua
aspek usaha manusia terpengaruh - ekonomi, politik, sosial,
perusahaan dan pribadi. Perut dan kesehatan hampir tidak dapat
dipisahkan dan merupakan dua faktor yang membentuk pergolakan
yang dihadapi dunia. Faktor kuat lain yang muncul sebagai akibat dari
upaya untuk memenuhi dua yang pertama adalah politik. Politik
adalah senjata untuk melawan dan memenangkan perang melawan
perut dan kesehatan. Jika semua orang makan dengan baik (yaitu jika
ekonomi dunia memuaskan semua orang, yang tidak mungkin,
meskipun buku melihat kemungkinannya) dan semua orang sehat,
tidak ada yang akan berjuang untuk posisi politik. Penulis telah
melakukan perjalanan jauh dan luas. Pada tahun 2004 ketika buku
ini ditulis penulis telah melakukan perjalanan ke 60 negara. Satu
negara saja, Amerika Serikat, ia telah mengunjungi 400 kali dan Korea
dan Taiwan masing-masing 200 kali sebagai konsultan, pembicara,
dan wisatawan. Dia menyimpulkan bahwa “berjalan-jalan,
mendengarkan, melihat, dan mengajukan pertanyaan masih
merupakan cara terbaik untuk belajar”.

Kenichi Ohmae adalah seorang penduduk asli Jepang. Dia
mengemukakan agar seseorang benar-benar memahami apa yang
terjadi di dunia ini, ia harus bepergian dan bergaul terutama dengan
dunia bisnis. Isi Buku Buku ini dibagi menjadi tiga bagian dengan bab
yang tidak sama. Bagian I memiliki 3 bab yaitu The World Tour;
Malam pembukaan; dan End of Economics. Bagian II memiliki 4 bab.
Ini termasuk Playmaker; Platform untuk Kemajuan; Keluar dan
sekitar; dan Memutus Rantai. Ini mencakup 112 halaman. Bagian III

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 98

memiliki "Script" yang menunjukkan isi dari bab-babnya. Ini memiliki
3 bab dan yang keempat sebagai Postscript. Bab-bab tersebut adalah
Reinventing Government; Pasar Berjangka; dan Postscript. Bagian III
mencakup 81 halaman.

Buku ini mengeksplorasi tren ekonomi dunia, karakteristik ekonomi
global, memeriksa kegagalan ekonomi tradisional, menyelidiki
platform menuju kesuksesan ekonomi global yang berarti, sistem
yang digunakan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Semua tesis
ini melibatkan perubahan dan pergeseran ideologi. Buku ini tidak
hanya mengkaji upaya masa lalu untuk mengubah ekonomi global
dan dampaknya terhadap masyarakat, tetapi juga menyarankan cara
untuk membuat perubahan menjadi kenyataan. Perubahan dan
globalisasi bukan lagi teori atau konsep tetapi sesuatu yang bisa
dipraktikkan. Ini adalah langkah penting yang harus diikuti. Bab satu
The Next Global Stage adalah pertemuan kisah sukses negara-negara
yang memiliki pandangan ke depan tentang apa yang harus
dilakukan. Seorang pemimpin tanpa kejelian seperti kereta malam
tanpa pancaran sinar, pada akhirnya akan tergelincir. Sarana
komunikasi universal adalah salah satu landasan untuk sukses dalam
bisnis. Bahasa Inggris adalah dasar dalam hal ini tetapi tidak terbatas,
karena pengetahuan tentang bahasa asing selain bahasa Inggris
(bagi mereka yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris) diperlukan.
Bahasa Jepang, Cina, Rusia, dan bahkan Korea adalah sarana penting
untuk transaksi bisnis yang efektif. Pendidikan adalah alat di tangan
pembangunan, itu harus ditanggapi dengan serius. Globalisasi atau
ekonomi global adalah apa yang banyak negara dan orang ingin
hindari tetapi telah datang untuk tinggal. Banyak negara telah
memeluknya secara langsung misalnya Jepang, Indonesia, Amerika
Serikat, dan Eropa untuk menyebutkan beberapa. Ada sejumlah
negara lain tidak hanya negara-negara Dunia Ketiga yang paling
dirugikan, tetapi negara lain seperti Rusia, Cina dan India yang belum
sepenuhnya merangkulnya. Berenang melawan arus bukanlah hal
yang mudah. Globalisasi adalah pergerakan dunia. Ini sangat

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 99

sederhana sehingga sedikit pendidikan menempatkan Anda di
tempat kejadian. Ini tanpa batas dan hanya membutuhkan "empat
poin penting: komunikasi, modal, perusahaan, dan konsumen" untuk
mencapai tujuannya.

Faktor lain yang membuat ekonomi global benar-benar global adalah
tidak terlihat, tetapi tidak tertutup. Pembayaran dilakukan secara
digital dan cashless. Ekonomi global terhubung dengan dunia maya
dan juga diukur dalam kelipatan (merger bisa menjadi istilahnya).
Ohmae merangkum ekonomi global pada bukunya sebagai berikut
“Ekonomi global tanpa batas, tidak terlihat, terhubung dengan dunia
maya, dan diukur dalam kelipatan”. Jika Anda tidak dapat
memenangkannya, bergabunglah dengan mereka, itu adalah
pepatah populer yang merangkum tren peristiwa global. Faktor
Global yang Mengikat Uji coba nyata pertama adalah e-commerce
yang, dengan kata lain, adalah ekonomi yang merupakan satu-
satunya keberadaan manusia. Tidak ada yang menghubungkan
orang begitu cepat selain perdagangan. Semua keberadaan manusia
bergantung pada perdagangan atau ekonomi dan setelah percobaan
ini keluar dengan baik semua transaksi lainnya selaras.

Lima istilah utama dalam ekonomi - tanah, tenaga kerja, produksi,
permintaan dan penawaran - adalah inti dari e-commerce.
Pertimbangan efek dari semua faktor ini di satu negara atau yang lain
diambil kesadaran yang menimbulkan alarm ke banyak negara.
Semua alarm ditenangkan ketika sebuah percobaan meyakinkan
banyak orang tentang keberhasilan globalisasi. Dunia telah berubah
secara dramatis. Teori-teori ekonomi tidak lagi berjalan seperti yang
diusulkan. Model ekonomi yang dibangun tidak lagi berjalan seperti
yang direncanakan. Ini karena begitu banyak variabel yang tidak
terduga sedang bekerja. Para ekonom bingung dan bukannya
bekerja dengan ketepatan matematis, mereka tampaknya bekerja
pada probabilitas.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 100

Perubahan didefinisikan sebagai sebuah fenomena yang tak
terelakkan dan perubahan selalu dibutuhkan tetapi tidak mudah
diterima. Perdagangan dengan barter ditampilkan sebagai sarana
perdagangan paling awal. Bentuk lain dari penempatan nilai barang
atau komoditas ditempatkan di berbagai negara yang masing-masing
memiliki keunikannya sendiri. Tak satu pun dari alat-alat pertukaran
ini menunjukkan hasil yang baik selama waktu penggunaannya.
Ketika uang kertas diperkenalkan pada awal abad ke-19, uang kertas
dipandang oleh banyak orang sebagai "perampokan yang disponsori
negara". Orang selalu menolak perubahan tetapi perubahan tidak
bisa dihindari. Banyak orang masih berharap masa lalu menjadi
hidup. Apakah mungkin untuk hidup di masa lalu? Tidak dengan
tubuh fisik atau kenyataan, itu hanya tempat tinggal mental. Setiap
zaman berjuang dengan masalah atau tantangannya.

Setiap periode memiliki masalah yang unik untuk diatasi dan solusi
yang diberikan kemudian menyamakan kebijaksanaan orang-orang
pada periode tersebut. Uang kertas atau koin di masa depan dapat
digantikan oleh kartu ATM plastik untuk transaksi moneter.
Paradigma yang Ada Setiap zaman seperti dikatakan memiliki norma
dan budayanya sendiri. Apa yang sudah ada tidak akan bisa berlanjut
jika tidak maka tidak akan ada kemajuan. Melihat beberapa teori
ekonomi orang menemukan bahwa mereka adalah hasil atau produk
dari lingkungan. Pabrik-pabrik memproduksi sesuai dengan
kebutuhan masyarakat pada saat itu. Para visioner awal melihat jarak
sebagai penghalang. Barang dibuat untuk konsumsi lokal. Setiap
negara bagian atau negara memiliki kebutuhan khusus dan unik yang
perlu dibuat khusus untuk memenuhinya.

Beberapa ekonom abad 16 dan 17 melihat ekonomi sebagai
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan negara atau bangsa
tertentu. Perdagangan sangat bergantung pada tagihan atau
pertukaran. Itu adalah model linier di mana pekerjaan, permintaan,
penawaran, suku bunga dan jumlah uang beredar terkait. Keluar dari
cangkang ini adalah tugas besar yang membutuhkan landasan dan

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 101

palu untuk dihancurkan. Dengan lahirnya teknologi terjadi produksi
barang secara massal sehingga lebih banyak barang daripada
konsumen lokal. Ini membuat orang tidak perlu mencari pasar
sehingga melanggar kandang, penghalang, batas. Ini, internet datang
untuk menjembatani. Interaksi tidak hanya terjadi secara fisik melalui
perbatasan melalui perjalanan tetapi juga melalui komunikasi di
dunia maya.

Setiap jenis informasi ditransfer. Transaksi bisnis lainnya dilakukan
termasuk politik dan agama. Banyak hal yang tidak dipertimbangkan
ketika beberapa ekonom mengemukakan pemikiran mereka.
Contohnya adalah David Ricardo yang mengusung ide Purchase
Power Parity (PPP). “Ini mengajarkan bahwa nilai tukar ditentukan
oleh daya beli relatif mata uang yang bersangkutan. Jadi jika 100 unit
mata uang A diperlukan untuk membeli daftar komoditas di pasar A,
sedangkan kelompok komoditas yang sama dapat dibeli hanya
dengan 150 unit mata uang B di pasar asalnya, nilai tukar antara
mata uang A dan B adalah 1 menjadi 1:5”. Menurut teori PPP, ketika
nilai tukar bersifat fluktuatif, nilai tukar antara dua mata uang dalam
jangka panjang akan ditentukan oleh daya beli masing-masing di
negara mereka sendiri. tidak mempertimbangkan fitur yang dapat
menjelaskan perbedaan harga antara kedua pasar. Mungkin juga ada
perbedaan antara kedua pasar pada hari yang berbeda tergantung
pada permintaan dan penawaran. Juga tidak ada pertimbangan jenis
komoditi apakah yang bergerak seperti pakaian, radio, pulpen dll
atau yang tidak bergerak seperti rumah dan tanah.

Kita tidak dapat terus melakukan hal-hal dengan cara yang sama
selalu dan pada saat yang sama berharap untuk menghasilkan hasil
yang berbeda. Untuk menghasilkan hasil yang berbeda, harus ada
perubahan paradigma. Pergeseran inilah yang membawa globalisasi.
Kita tidak boleh lupa bahwa kebiasaan yang terbentuk tidak mudah
dihilangkan. Untuk menghentikannya kebiasaan lain harus dibentuk.
Tidak mudah untuk mendetoksifikasi seorang pemabuk. Perlu
proses yang konsisten dan bertahap. Tekad adalah peran kunci yang

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 102

juga harus ditunjukkan agar suatu perubahan dapat terwujud
dengan baik. Berani Dan Dapatkan! Jepang menerima perubahan. Itu
tidak mudah tetapi kemauan politik dan ekonomi ada di sana.
Pemerintah harus siap dengan perubahan. Organisasi harus siap
menerima perubahan. Individu harus mematuhi dan memiliki pola
pikir untuk perubahan.

Globalisasi berarti keluar untuk memperoleh lebih banyak
pengetahuan, lebih banyak kebijaksanaan, lebih banyak sarana, lebih
banyak cara untuk melakukan sesuatu secara menguntungkan.
Globalisasi berarti keterpaparan dan keterbukaan terhadap dunia.
Globalisasi: Penangkal Pertengkaran Banyak masalah terjadi ketika
negara-negara berusaha melindungi kedaulatan mereka. Semua
jenis undang-undang dibuat untuk menutupi sebagian besar negara
bagian dengan merugikan orang lain terutama jika "yang lain" bukan
koloni Anda. Bahkan koloni dikenakan pajak yang tinggi dan dalam
banyak kasus harus ada perang sebelum pembebasan. Dengan
kolaborasi, yang bisa menjadi kata lain untuk globalisasi, akan ada
integrasi. Tidak ada satu negara pun yang dapat memproduksi
semua yang dibutuhkannya. Setiap negara tidak diberkahi dengan
setiap sumber daya yang mungkin dibutuhkannya. Di sisi lain, tidak
ada satu negara atau negara bagian yang memiliki semua teknologi
yang dibutuhkannya. Jika anda memiliki tenaga kerja yang cukup,
anda mungkin memerlukan orang lain untuk melatih mereka dalam
teknologi yang tidak Anda miliki. Kita juga harus ingat bahwa sama
seperti desa tumbuh menjadi kota dan kota menjadi kota besar,
demikian pula negara bagian tumbuh dalam populasi dan
berkembang atau bubar. Keluhan marjinalisasi dan perawatan yang
tidak tepat mungkin muncul.

Landasan yang Harus Dimiliki dalam Perekonomian Global Ini Adalah
satu hal untuk merencanakan apa yang harus dilakukan dan hal lain
terkait pemberdayaan. Termasuk dalam hal ini adalah komunikasi
dan teknologi untuk digunakan. Ada aturan dan peraturan yang
harus diadopsi yang harus dipatuhi oleh badan-badan yang

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 103

berpartisipasi. Platform mungkin tidak sama kata demi kata tetapi
harus memiliki prinsip yang sama. Seseorang menyesuaikannya
dengan lingkungannya untuk memecahkan masalah kehidupan
nyata. Perubahan menjadi konstan tidak eksklusif dari platform.
Platform yang dikenal dan mendunia adalah internet dengan
adaptasi perangkat lunak komputer yang sesuai. Platform harus
cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan kondisi lokal dan bagian.
Di mana ini tidak berhasil berarti kembali ke paradigma yang
ditinggalkan. Penyeberangan perbatasan tidak lagi menjadi masalah
dengan saluran telepon optik siber dan Teknologi World Wide Web.
Ada kebutuhan akan merek global dan inilah yang dilakukan banyak
perusahaan saat ini. Anda mungkin memiliki Sony (China) Sony
(India), Sony (Jerman) dan seterusnya. Dianjurkan untuk bergabung
dengan kereta musik! Bagaimana Cara Membayar Identifikasi apa
yang harus dibeli adalah salah satu langkah selanjutnya adalah
bagaimana cara membayarnya. Pertanyaan ini berbatasan dengan
metode, mata uang, dan pengiriman uang ke penerima. Sebelum
mendalami hal ini, sebaiknya dicatat bahwa menjelajah Internet
untuk membeli barang memberikan lebih banyak jaminan pembelian
pelanggan daripada di window shopping. Jadi ada kecenderungan
bahwa pelanggan terikat untuk membeli produk karena merek
tertentu yang memprakarsainya.

Perhatian sekarang adalah tentang bagaimana mengirimkan uang
dan mata uang perdagangan. Kekhawatiran berikutnya adalah
pengiriman barang yang dibeli melalui internet atau telepon.
Beberapa perusahaan teknologi telah memecahkan masalah ini
tetapi globalisasi belum ada di sana. Sebagai penulis buku ini, Ohmae
melaporkan, Jepang memimpin dalam hal ini. Negara-negara maju
dapat mengikuti dan secara bertahap yang lain mengikuti. Kombinasi
tiga mata uang dalam satu kartu kredit merupakan inovasi yang seru
dan patut ditiru. “EDY (euro-dollar-yen) Sony adalah teknologi
berbasis kartu IC non-kontak di mana jarak tempuh penerbangan
dan uang asli dapat disimpan dalam chip prabayarnya.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 104

Ini adalah salah satu cara pembayaran dalam e-commerce yang
sangat berbeda dari mata uang satuan. Ini memiliki kenyamanan
yang dibangun di dalamnya karena tidak hanya digunakan untuk
membayar ongkos kereta api, tetapi juga dapat digunakan untuk
membeli koran atau permen di dalam gedung. Contoh tersebut
adalah realitas pembayaran e-commerce. Ini telah dimulai tidak ada
jalan untuk kembali.

Sebuah inovasi penting dalam barang/pengiriman telah dilakukan
oleh kolaborasi Dell dengan Fed Ex, sebuah perusahaan pos
independen terkenal. Dengan korporasi ini birokrasi order taking,
pengadaan, vendor, dan subkontraktor dihilangkan sehingga
memungkinkan kelancaran bisnis. Mengikuti pengaturan ini
merupakan nilai tambah bagi ekonomi global. DHL adalah
perusahaan jasa kurir terkemuka lainnya yang sedang digunakan.

Keuntungan Globalisasi Individu daripada pemerintah (karena
mungkin tidak ada cukup kekuatan untuk pemerintah) berdiri untuk
mendapatkan dalam satu dunia yang bersatu. Kemiskinan akan
menjadi masa lalu karena akan ada variasi yang tersedia. Barang dan
makanan dari berbagai negara di seluruh dunia siap membantu
Anda. Dunia menjadi tanpa batas dan oleh karena itu akan ada
kombinasi fisik manusia dan kreativitas ide, pengetahuan, teknologi,
budaya, agama dan banyak lagi. Apa yang mempengaruhi satu akan
mempengaruhi yang lain. Tidak akan ada pertengkaran, tidak ada
kemarahan yang diperparah dan tidak ada kegilaan kekuasaan
nantinya. Jika dikelola dengan baik, dunia akan menjadi utopia.
Benua tidak akan sejauh sekarang. Bersatu kita teguh, bercerai kita
runtuh adalah pepatah yang harus kita serap dalam pendirian ini
untuk koeksistensi global. Tidak ada jalan mundur dalam globalisasi.
Sadar atau tidak sadar dunia menjadi satu kesatuan yang tak
terpisahkan kecuali oleh warna dan politik.

Secara ekonomi, dunia, ketika disatukan menjadi satu, akan
mendapatkan banyak keuntungan. Ketika jembatan ketidaksetaraan

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 105

runtuh akibat berbagi bersama, kedamaian, persatuan, toleransi,
dan cinta akan terwujud. Ketika jurang pemisah antara si kaya dan si
miskin dijembatani, kemiskinan akan merajalela dan malnutrisi,
kematian akibat kemiskinan, buta huruf, perampokan, kebencian,
dan segala macam kekejaman akan berkurang drastis jika tidak
diberantas. Segala sesuatu yang baik yang membawa kebaikan dan
keharmonisan akan mengakar. Utopia yang dilukiskan di atas adalah
mungkin meskipun beberapa orang melihatnya dengan mata
ketidakmungkinan.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 106

GOVERNANSI NUSANTARA: JEJAK KOSMOPOLITAN
DALAM SEJARAH KEPEMERINTAHAN DI INDONESIA

Yasniva
Puslatbang KHAN LAN
[email protected]

A. Identitas Buku

Judul : Governansi Nusantara: Jejak

Kosmopolitan Dalam Sejarah

Kepemerintahan Di Indonesia

Penulis Buku : Anwar Sanusi dan Fadillah Putra

Penerbit : LP3ES

Tahun Terbit : 2020

Tebal Buku : 280 halaman

B. Isi Buku
“Think globally, act locally, think tribally, act universally”, merupakan
ungkapan terkenal John Naisbitt dalam menghadapi paradoks
globalisasi. Ungkapan ini kurang lebih bermakna: berpikir secara
global, bertindak secara lokal, berpikir secara kesukuan, bertindak
secara universal.” Sebuah pilihan sikap yang dianjurkan dalam
menghadapi fenomena globalisasi.

Agaknya pemikiran kosmopolitan John Naisbitt selaras dengan
gagasan dalam buku Governasi Nusantara, yang ditulis oleh Anwar
Sanusi dan Fadillah Putra. Kepakaran dan pengalaman kedua

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 107

penulis teruji dalam penulisan buku ini. Anwar Sanusi, Ph.D adalah
Sekretaris Jenderal Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi RI. Anwar pernah menjadi Kepala Pusat
Pembinaan Analis Kebijakan LAN RI dan berpengalaman sebagai
konsultan lepas di lembaga-lembaga internasional seperti UNDP,
USAID, JICA dan lain sebagainya. Sedangkan Fadhilah Putra, Ph.D
adalah Dosen Kebijakan Publik pada Fakultas Ilmu Admistrasi
Universitas Brawijaya (FIA UB), yang juga Wakil Direktur Bidang
Akademik Pascasarjana Universitas Brawijaya yang aktif menulis
berbagai buku tentang Administrasi Publik dan kebijakan publik.

Melalui 9 bab yang disajikan, para-penulis tidak saja memberikan
pemahaman tentang urusan publik, namun juga mengungkapkan
kritiknya terhadap Good Governance (GG) dan New Public Management
(NPM), dua konsep yang menurut penulis bersifat dogmatis dan lebih
berorientasi melayani pasar, serta Sound Governance (SC) dan New
Public Governance (NPG), yang dipandang hanya mampu menjawab
persoalan pada waktu dan tempat tertentu saja. Sebagai solusi,
penulis menawarkan gagasan cosmopolitan governance, yaitu konsep
pengelolaan tata pemerintahan yang berorientasi pada penemuan
nilai-nilai yang bisa diterima secara universal.

Nilai-nilai universal tersebut, sebagaimana yang dijabarkan oleh
para-penulis, adalah sebagai berikut:

1. Equal worth and dignity, semua manusia pada dasarnya memiliki
kehormatan dan harga diri yang harus dijunjung tinggi oleh
sesamanya.

2. Active agency, tidak ada satupun kelompok manusia yang boleh
mengklaim diri mereka lebih tahu tentang kehidupan
dibandingkan yang lain.

3. Personal responsibility dan accountability, semua manusia sudah
seharusnya sadar dan bertanggung jawab atas segala
konsekuensi dari tindakan yang diambilnya.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 108

4. Consent, semua orang pada dasarnya berhak untuk turut serta
dalam perbincangan global dalam menentukan arah peradaban
tanpa diliputi rasa takut ataupun inferioritas.

5. Collective decision-making about public matters through voting
procedures, menekankan pengambilan keputusan secara
bersama dan kolektif.

6. Inclusiveness and solidarity, mengedepankan pentingnya
kesempatan bagi semua orang untuk ikut mempengaruhi
kebijakan demi terjaganya prinsip-prinsip inklusivitas dan
solidaritas.

7. Avoidance of serious harm, mengutamakan keselamatan bersama
dalam mengatasi konflik.

8. Sustainability, memperhitungkan dampak tindakan pada masa
yang akan datang.

Para-penulis mengungkapkan, agar dapat diterima secara universal,
maka nilai-nilai tersebut harus dibangun dari bawah dan tersebar.
Upaya yang dilakukan berangkat dari tingkat lokal (budaya daerah
dan sejarah), yang selanjutnya diangkat ke tingkat global secara
bertahap.

Penulis memandang cosmopolitan governance sebagai konsep yang
sesuai untuk menjawab tantangan globalisasi, demi mewujudkan
pemerintahan serta kehidupan masyarakat yang ideal. Untuk itu
penulis berfokus kepada 5 hal utama yang menjadi menjadi prioritas
cosmopolitan governance, yaitu: (1) Pelayanan publik berbasis
teknologi informasi, (2) Pelayanan publik di sektor pendidikan, (3)
Pelayanan publik di sektor ekonomi digital, (4) Pelayanan publik di
sektor media sosial dan (5) Penataan desa.

C. Kelebihan dan Kelemahan
 Kelebihan buku

Governansi Nusantara merupakan karya “out of the box” yang penting
bagi perkembangan studi administrasi publik dan pemerintahan.
Buku ini sangat direkomendasikan bagi para mahasiswa dan praktisi
administrasi publik, juga bagi siapapun yang ingin mempelajari

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 109

admnistrasi publik dan pemerintahan. Struktur penulisan yang
sistematis, serta gaya penulisan yang mengalir seperti bertutur,
membuat buku ini menjadi enak dibaca dan mudah dipahami oleh
pembaca dari berbagai latar belakang keilmuan. Dunia administrasi
publik disajikan secara lengkap, mulai dari konsep dasar; kritik
terhadap GG dan NPM yang selama ini dianut sebagai kebenaran
mutlak dalam dunia governansi; dan memberikan solusi alternatif,
sebuah gagasan baru yang diangkat dari sejarah governansi bangsa
Indonesia di masa lampau.
 Kelemahan buku
Sebagai buku yang bertajuk “governansi nusantara”, penulisan buku
ini perlu mengeksplorasi budaya dan sejarah pemerintahan di luar
Pulau Jawa. Perspektif kosmopolitan akan lebih kaya jika digali bukan
saja dari sejarah Majapahit, namun juga dari kerajaan-kerajaan lain
di Indonesia. Selanjutnya, maka ilustrasi pada sampul depan buku
dapat dibuat menjadi lebih “menusantara”. Sampul buku bagian
belakang yang berwarna merah gelap, terlihat tidak kontras dengan
tulisan bewarna hitam, sehingga pesan pada sampul belakang
menjadi sulit dibaca.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 110

LEARNING 5.1 :
DULUAN TIBA DI MASA DEPAN

Amrillah M
Pusat Inovasi Manajemen Pengembangan Kompetensi ASN

[email protected]

A. Identitas Buku

Judul : Learning 5.1: Duluan Tiba di Masa

Depan

Penulis Buku : Dr. Alex Denni dan Triaji Prio

Pratomo, MBA.

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Tahun Terbit : 2020

Tebal Buku : 201 halaman

B. Isi Buku

Kesan pertama yang didapat dari buku ini adalah keberanian
penulis dalam memberikan gagasan dan argumentasinya terkait
dengan pembelajaran atau learning yang visioner jauh ke masa
depan. Diskursus tentang revolusi 4.0 justru terkesan hampir
usang ketika kita mulai menyelami kembali apa yang menjadi
argumentasi penulis. Pada bagian awal buku ini, penulis mencoba
menyadarkan kembali kepada pembaca arti penting dan definisi
dari sebuah learning. Menurut penulis learning adalah proses
memperoleh pengetahuan, prilaku, keterampilan, atau nilai-nilai

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 111

yang baru atau berbeda. Kata kunci yang menarik pada definisi
tersebut yaitu ada pada kata “baru atau berbeda”. Learning
dihadapkan kepada kondisi untuk berubah dan “memaksa”
pembelajar untuk bisa mendapatkan hal-hal baru dan berbeda.
Hal ini selaras sebenarnya dengan cerita selanjutnya bahwa
periodisasi Era Revolusi Industri 0.0 hingga ke Revolusi 5.0 dewasa
ini, tidak lepas dari kebaruan dan perbedaan tiap eranya akibat
perubahan mindset, skillset, dan toolset. Poin menarik pada bagian
awal ini justru pada “sentilan” penulis terhadap orang-orang yang
gagal unlearn dan masih terjebak dengan mindset, skillset, dan
toolset lama padahal orang-orang ini hidup di Era yang sudah jauh
berlari kencang.

Setelah penggambaran dan pembabakan Era Revolusi, penulis
mengajak pembaca masuk ke Era Revolusi 5.0 dengan menarik titik
berat kepada aspek learning. Perubahan mindset, skillset, dan
toolset ini juga terjadi di dunia learning. Mulai dari Learning 1.0
dengan konteks ditemukannya mesin uap dan industrialisasi awal,
maka institusi formal pendidikan pun masih sedikit ketika itu,
sehingga pembelajaran memang bertujuan untuk mencetak
pengetahuan untuk bisa bekerja dan sangat terbatas. Lalu Learning
2.0 yang ditandai dengan ditemukannya listrik. Efisiensi semakin
tinggi, akhirnya menuntut adopsi standardisasi kurikulum dan
kesamaan. Pada akhirnya siswa-siswa diluar kurikulum itu
dianggap “nakal” dan tidak fit dengan kondisi. Sedangkan Learning
3.0 menuntut adanya spesialisasi spesifik dan ahli. Hal ini
sebenarnya tidak lepas dari ditemukannya teknologi komputer,
pemanfaatan e-learning dan model-model pembelajaran mulai
beragam tidak lagi text book. Namun, spesialisasi ini merujuk
kepada silo mentality bahwa orang-orang terlalu spesifik sehingga
keberagaman pengetahuan pun terkotak-kotak. Learning 4.0
sebenarnya membongkar silo tadi, dengan hadirnya internet dunia
pembelajaran semakin terbuka, kotak-kotak tadi seolah hilang bisa
didobrak karena materi pembelajaran bisa dengan mudah
didapatkan. Learning 5.0 justru lebih “gila” lagi, dengan hadirnya

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 112

Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning (MI) membuka
peluang bagi pembelajar untuk bisa belajar apapun sesuai dengan
yang disukainya tetapi yang diperlukannya.

Keberanian penulis kembali dibuktikan sebenarnya dengan
argumentasi bahwa ke depan Learning 5.1 adalah upaya
menembus batas. Tambahan angka .1 menjadi penanda
menembus batas tersebut melalui perbuahan pola pikir.
Argumentasi Learning 5.1 secara sederhana adalah perubahan
mindset pembelajaran dari yang semula traning ke learning.

Training Learning
Teacher focused Learner focused
Teacher role is expert Teacher role is
coach/facilitator
One-way Two-way
One to many Many to many
Scheduled Anytime
Experience (post Experiment (future
knowledge) knowledge)
Ad-hoc Continous
Clasroom oriented Learning environment
Memorised Critical thinking,
problem solving
Test retention creativity, innovation
Test application

Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari tabel tersebut adalah
perubahan fokus pembelajaran yang tadinya pasif menjadi aktif,
yang tadinya kaku menjadi luwes, yang tadinya terbatas kini bebas.
Cakupan learning 5.1 tidak hanya memanfatkan teknologi yang
memang menjadi konsekuensi perubahan Era, tetapi juga lebih
kepada penciptaan lingkungan pembelajar.

Dunia VUCA (volatile, uncertain, complex, ambigious) akhirnya
memaksa manusia-manusianya untuk cepat beradaptasi dengan
pola-pola yang baru. Konsep Corporate University (CorpU) bahkan
menurut penulis sebagai konsep yang sudah mulai ditinggalkan

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 113

oleh banyak korporasi besar dunia. Konsep CorpU dikritisi bukan
hanya penyiapan dalam hal infrastruktur ataupun sumber daya
saja, tetapi harus lebih berfokus kepada membangun lingkungan
pembelajar (learning environment). Institusi pembelajar menjadi
mutlak agar CorpU tidak hanya jargon dan simbolisasi semata.
Penulis juga memberikan konsep Reverse Learning Delivery dengan
menerapkan pembelajaran di tempat kerja dengan bimbingan
mentor dengan fokus utama pada pembelajar untuk bisa secara
mandiri mencari sumber pengetahuan. Tugas CorpU kini pun akan
bergeser menjadi penjamin sekaligus penyedia akses
pengetahuan yang dibutuhkan, sekaligus sebagai penghubung
setiap orang untuk saling mengajar dan berbagi pengetahuan.

Perubahan yang cepat ini yang kemudian menghasilkan dunia
yang kompetitif. Tidak bisa dipungkiri bahwa batas-batas Human
Capital (HC) di dunia kini sudah lebih luwes menerima dan
memperkerjakan talenta luar batas-batas negara. Kuncinya adalah
speed, speed, speed! Pengulangan kata speed sampai tiga kali
memiliki makna tersendiri, speed pertama yaitu kecepatan dalam
belajar. Speed kedua yaitu kecepatan dalam mencoba dan menguji
coba. Speed ketiga yaitu kecepatan dalam menerapkan atau
implementasi. Selain itu, kecepatan lain yang kembali diulang oleh
penulis adalah kemampuan unlearn faster. Tidak bisa dipungkiri
bahwa perubahan sekecil apapun akan menghasilkan reaksi
kurang nyaman. Menanggalkan keahlian yang telah dikuasai,
mengubah pola yang sudah terlanjut ahli menjadi tantangan untuk
bisa terus berkembang.

Pada bagian selanjutnya penulis membahas terkait dengan
bagaimana learning itu. Terdapat tiga metode yang dibahas yaitu
dengan 70:20:10, dinamic curriculum, dan learn how to learn (BE
FAST). Pertama yaitu 70:20:10 yaitu metode yang sudah sering
dijelaskan oleh penulis-penulis lainnya, bahwa metode ini
mengedepankann 70 dan 20% aspek pembelajaran di tempat kerja
yang terintegrasi dengan pekerjaan sehari-hari. Sedangkan porsi

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 114

10% lainnya merupakan refleksi masa lalu berupa kelas formal.
Metode kedua yaitu dinamic curriculum, penulis memberikan
ilustrasi gambar pada bukunya dengan sejumlah jenis hewan yang
berbeda-beda, tetapi diminta untuk memanjat pohon. Kita tahu
bahwa hanya kera yang akan bisa ahli melakukan hal tersebut,
tidak dengan sapi atau bahkan ikan.

Gambaran tersebut yang sekaligus menjadi kritik bahwa
kurikulum sudah seharusnya dinamis, menyesuaikan apa yang
menjadi kebutuhan dari pembelajar. Metode ketiga, penulis
mengutip dari pakar manajemen, Peter Drucker bahwa
kemampuan satu-satunya yang dapat menjamin seseorang tetap
relevan adalah kemampuan learn how to learn. Sedangkan BE
FAST merupakan akromin sitir dari Jim Kwik yaitu Belive, Exercise,
Forget, Active, State, dan Teach.

Selanjutnya pada sepertiga bagian akhir bukunya, penulis
mencoba mengonseptualisasikannya dengan kondisi praktis di
lapangan, khususnya pada dunia bisnis. Penulis menggabarkan
bahwa sebuah bisnis yang “peduli” terhadap pengembangan HC
yaitu dengan filosofi keseimbangan. Konsep keseimbangan ini
pula yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah bangunan
Human Capital Architecture (HCA). Filosofi utamanya adalah
harmoni antara hak dan kewajiban, tujuan dan kinerja, strategi
dan kapabilitas, budaya dan prilaku, dan seterusnya. Poin penting
dari keseimbangan ini adalah dengan menempatkan trust
dibanding fear. Menyingkirkan rasa takut dalam sebuah institusi
penting karena umpama seorang murid tidak mau bersekolah
justru karena rasa takut, atau seorang anak yang menjauh dari
orang tuanya karena rasa takut. Sebaliknya, kepercayaan yang
diberikan justru membuat murid atau anak akan lebih
bertanggung jawab terhadap pilihan dan keinginannya. Termasuk
di dalam pembelajaran, rasa takut dalam pembelajaran harus
disingkirkan jauh-jauh. Selain itu, poin penting lainnya adalah
learning agility, lagi-lagi yaitu kemampuan beradaptasi dengan

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 115

cepat dan kemauan untuk belajar hal-hal baru. Orang-orang
seperti ini lah yang kemudian akan bertahan.

Ide lain yang menjadi sebuah tawaran dari penulis adalah dengan
konsep learning wallet. Konsep ini sebenarnya mirip dengan yang
sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa titik berat dari pembelajaran
adalah si pembelajar itu sendiri. Pada akhirnya, ke depan
pembelajaran perlu diberikan kepercayaan kepada masing-
masing individu pembelajar untuk bisa mengembangkan
khazanah ilmu dan hal-hal baru dalam pengalamannya.
Mempercayakan bahwa pembelajar adalah individu yang sudah
matang sebagai adult learner. Kepercayaan institusi terhadap
pembelajar ini yang perlu diubah, ketika ada top talenta, misalnya
C.Ronaldo atau Messi yang menjadi andalan klubnya maka
investasi untuk mengembangkan dan fasilitas yang diberikan pun
sudah sewajarnya diberikan kepada top talenta tersebut. Pada
bagian akhir sekali buku ini juga menjelaskan bahwa belajar lah
dari hal-hal yang kecil dan sederhana, tetapi perlu konsisten. Micro
learning bisa menjadi solusi latihan tiap hari bagi pembelajar agar
tidak dibebani oleh materi-materi yang belum tentu relevan dan
sesuai dengan karakter si pembelajar.

C. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan dari segi substansi buku ini adalah argumentasi visioner
penulis yang berhasil memberikan gambaran kepada pembaca
bahwa dunia pembelajaran/learning juga mengalami perubahan
yang signifikan. Alur penulisan yang mudah dipahami menjadi nilai
tambah juga, artinya penulis bisa membaca diskursus buku ini
hampir ke semua kalangan, tidak hanya kepada kelompok orang
yang memang concern terhadap dunia pembelajaran dan human
capital. Selain itu, secara teknis penerbitan buku ini sangat
menarik dengan ilustrasi-ilustrasi yang memudahkan pembaca
untuk bisa lebih memahami hal-hal yang kompleks. Penyajian juga

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 116

memudahkan bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut
melalui rujukan-rujukan yang ada dengan cara scan QR Code. Hal
membuktikan juga bahwa penulis dan penerbit memikirkan every
details tentang kenyamanan bagi pembaca agar argumentasi
penulis pun sampai dengan mudah.
Namun, buku ini bukan berarti sebuah barang yang tidak dapat
dikritisi pula. Secara alur pandangan dan argumentasi yang sudah
cukup lengkap ini masih kurang pada kontekstualisasinya dengan
kondisi HC atau lingkungan pembelajar di Indonesia. Akan lebih
baik jika penulis juga bisa memberikan gambaran pembelajar di
Indonesia. Diharapkan pembaca akan lebih bisa mengambil pesan
urgensi yang lebih lagi ketika konteks di Indonesia dapat bisa
dikaitkan. Mungkin bisa mengambil contoh atau best practice dari
perusahaan yang memang sudah matang atau pun sebaliknya.
Selain itu, konteks HC di pemerintahan atau birokrasi bisa menjadi
sangat relevan dan menarik pula jika dapat ditambahkan. Konteks
birokrasi tentunya juga tidak lepas dengan ease of doing business
dan konteks pembelajaran secara umum yang akhirnya
memengaruhi satu dengan lainnya.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 117

TRANSFORMASI MENUJU CORPORATE UNIVERSITY
GENERASI BERIKUT

Amrillah M
Pusat Inovasi Manajemen Pengembangan Kompetensi ASN

[email protected]

A. Identitas Buku

Judul : Transformasi Menuju Corporate

University Generasi Berikut

Penulis Buku : Anna Maria, Ph.D.

Penerbit : PT. Wahana Tatar Wirakelola

Tahun Terbit : 2021

Tebal Buku : 432 halaman

B. Isi Buku

Terdapat empat jargon yang menjadi keunggulan buku ini
diantaranya (1) mengupas tuntas tentang Corporate University di
Era Digital (Next-Gen CorpU), (2) memaparkan hasil survei Digital
Learner Voice dari berbagai institusi, (3) acuan transformasi
menuju Next-Gen CorpU, dan (4) case study tujuh organisasi.
Keempat keunggulan tersebut yang kemudian dibahas secara
mendalam di buku ini yang dibagi ke dalam tujuh bab. Setiap bab-
nya mengantarkan pembaca untuk bisa memahami secara runtut
CorpU dan dinamika perubahan, serta pergeseran cara

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 118

pandangnya. Selain itu, buku ini juga sangat menarik untuk dibaca
sekaligus memperbarui cakrawala pembaca soal perkembangan
CorpU yang baru.

Anna Maria sebagai penulis sudah menyadari sejak awal-awal bab
buku ini, bahwa perkembangan human capital dalam konteks
pengembangan kompetensi pegawai sangat lah penting dan terus
berdinamika. Dinamika ini ditangkap dengan respon yang akurat
bahwa CorpU yang sejak awal mula inisiasinya di tahun 1950-1970-
an. Lahirnya CorpU generasi pertama tersebut tentunya sudah
sangat berubah jauh dibandingkan dengan CorpU yang ada
dewasa ini. Kita ketahui bersama pula perkembangan dunia sosial,
ekonomi, hingga politik pun turut berpengaruh dengan cara kita
belajar dan beradaptasi. Konteks VUCA (Volatile, Uncertainty,
Complex, Ambiguity) semakin mendesak CorpU untuk bisa tetap fit
in di dunia pembelajar.

Mengutip definisi CorpU menurut Anna Maria dalam bukunya
adalah “strategis yang dirancanguntuk menciptakan integrasi yang
kuat antara pengembangan manusia dan tantangan atau
permasalahan yang dihadapai organisasi agar tidak terjadi gap.” (hal.
7). Berdasarkan definisi tersebut sebenarnya pembaca bisa
mengambil dua poin penting sebagai gambaran utama CorpU
yaitu strategi integrasi dan permasalahan gap. CorpU didesain
sebagai “mesin” penggerak organisasi dalamkontek pembelajaran
dan pengembangan manusia. Gap pengetahuan dan kompetensi
sudah barang pastiyang akan ada dan selalu ada di dalam sebuah
organisasi. Namun, mengecilkan gap tersebut tentunya menjadi
tantangan sekaligus peluang yang sangat besar bagi organisasi
untuk dapat memaksimalkan potensinya.

CorpU sebagai tentunya juga strategi akan bertransformasi
dengan berkembangnya lingkungan strategis. Budaya Learning
Agility menjadi konsep yang perlu diterapkan agar bisa terus
sesuai.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 119

“Learning Agility = Speed x Accuracy”

Rumus di atas sebenarnya sudah sangat menggambarkan apa
yang seharusnya dilakukan organisasi dalam membudayakan
kecepatan belajar ini. Speed atau kecepatan menjadi poin penting
yang “dikawinkan” dengan akurasi dari sebuah pembelajaran.
Tidak hanya cepat tetapi juga akurat. Selain itu, learning agility ini
pula, tidak lepas dari learn, un-learn, dan re-learn. Ungkapan atau
konotasi ini sebenarnya sudah sangat sering kita dengan yaitu
belajar haruslah dengan konteks mengisi gelas yang masih
kosong. Belajar hal yang baru tentunya membutuhkan kecepatan
untuk bisa un-learn dan re- learn. Bagaikan sebuah siklus yang tidak
ada henti-hentinya. Hal ini lah yang kemudian menjadi budaya
learning agility dalam CorpU.

Pada bagian selanjutnya, buku ini juga tidak abai dengan
perkembangan lingkungan strategis. Anna berhasil melihat hal
tersebut, bahwa perkembangan dunia digital dan industri 4.0
sangat bersinggungan langsung dengan mekanisme CorpU.
Transformasi kini sudah harus sampai memikirkanhingga level 5.
Secara singkat bahwa organisasi pembelajar perlu meningkatkan
learning value chain- nya, mulai dari sisi admin, learning needs
diagnosis, design & development, delivery, deployment, dan
evaluation. Arah perkembangan level 1 misalnya yang hanya
memanfaatkan kelas secara manual, tidak ada memanfaatan
teknologi sama sekali. Lalu pada level 2 dan 3 mulai
memanfaatkan cloud dengan sistem blended 70:30. Selanjutnya
level 4 yang sudah secara penuh memanfaatkan pembelajaran
berbasis cloud. Terakhir yaitu level 5 yaitu level STAR TREK dengan
pemanfaatan artificial intelligence.

Setelah transformasi dan pemanfaatan teknologi digital,
selanjutnya buku ini melanjutkan fokusnya kepada model dan
metode yang dapat diaplikasikan bagi insitusi pembelajar dalam
menjalankan CorpU. Sebuah institusi pembelajar perlu

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 120

membangun atau mendesai learning journey masing-masing.
Makna dari learning journey adalah sebuah petunjuk yang menjadi
arahan besar bagi institusi pembelajar dalam mencapai business
result yang diharapkan oleh pemangku kepentingan, maupun
goals besar dari institusi itu sendiri. Misalnya moldel pembelajaran
70:20:10 yang menitikberatkan kepada pembelajaran di tempat
kerja, menjadi focus untuk mencapai business result. Artinya
pembelajaran yang ada bisa langsung digali sekaligus
diimplementasikan dalam pekerjaan.

Sebelum itu, desain learning journey sendiri dapat dijelaskan
menjadi sebuah alur, yang bermula dari dukungan teknologi,
analisis kebutuhan materi pembelajar, keaktifan stakeholders,
kebutuhan peserta, ekspektasi manajemen, dan focus pada
performa bisnis. Pada dasarnya transformasi CorpU telah
disepakati dengan pemanfaatan dan dukungan dari teknologi
Informasi. Setelah itu, perlu ada analisis kebutuhan materi yang
menjadi kurikulum yang juga disesuaikan dengan kebutuhan
lingkungan strategis, serta stakeholders. Pelaksanaan desain
learning journey ini tidak dapat berjalan lancar apabila tidak ada
peran aktif mulai dari level senior, level menengah, hingga level
pegawainya sendiri. Sehingga, kebutuhan akan pelatihan dan
pembelajaran mutlak perlu. Kita sudah sangat familiar dengan
instilah Training Need Analysis bahwa setiap kebutuhan perlu
dipetakan guna mencapai tujuan yang tepat. Poin utamanya justu
ada pada ekspektasi menajemen. Top Manager sangat
berkepentingan dalam menentukan sekaligus memastikan
berjalannya desain pembelajaran ini. Keterlibatan aktif dan
tentunya memberikan masukan serta evaluasi terhadap desain
learning journey ini dalam Corpu. Pada ujungnyaperforma bisnis
pun dapat diekspektasikan naik.

Pada bagian akhir buku ini secara komprehensif membahas cukup
banyak best practice dari berbagai institusi pembelajar, mulai dari
sektor swasta, BUMN, hingga pemerintahan. Penulis cukup

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 121

tertarik dengan best practice yang diberikan pada sektor
pemerintahan. Keunikan sektor pemerintahan,tentunya berbeda
apa yang menjadi business goals yang dijalankan. Perbaikan
pelayanan tentunya menjadi hal yang utama dibandingkan sektor
swasta atau BUMN dengan target profit atau kenaikan performa
bisnis. Kemenkeu CorpU diambil sebagai contoh berhasilnya
CorpU di pemerintahan. Poin utama berjalannya CorpU di sana
adalah kepedulian yang tinggi dari pimpinan, dalam hal ini Ibu Sri
Mulyani sebagai Menteri dan pucuk pimpinan. Adanya Advisory
Board yang dipimpin langsung oleh beliau dapat ditangkap
sebagai sebuah dukungan sekaligus harapan yang dapat dijadikan
sebagai ekspektasi manajemen dan image apa yang akan
dikembangkan ke masyarakat. Selain itu pemaksimalan Knowledge
Management System (KMS) dan Learning Management System (LMS)
yang berbasis digital semakin menguatkan pembelajaran dapat
terbuka dan dapat diakses kapan saja.

C. Kelebihan dan Kekurangan

Buku ini sangat menarik dan memberikan banyak sekali perspektif
terkait dengan CorpU. Isinya sangat komprehensif dan mendetail
mulai dari awal mula CorpU, perkembangannya, langkah-langkah,
hingga best practices di berbagai institusi dan perusahaan. Buku ini
sangat cocok sebagai handbook bagi seluruh institusi pembelajar
mulai dari sektor swasta, BUMN, hingga pemerintahan. Contoh-
contoh yang sangat variatif dari berbagai perusahaan di berbagai
negara juga menjadi penambah perspektif sekaligus wawasan
bagi pembaca untuk melihat perkembangan, serta kisah sukses di
balik CorpU perusahaan ternama.

Namun, buku ini memang tidak ditujukan bagi seorang awam
terkait dengan dunia CorpU atau pengembangan human capital.
Menurut hemat pembaca, buku ini sangat mendetail dan
menggunakan istilah-istilah yang memang spesifik dengan
terminologi yang bukan awam. Sehingga, agak disayangkan ketika

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 122

buku ini hanya menjadi konsumsi terbatas saja. Perlu ada
“pembumian” dan memperbanyak analogi-analogi sederhana
yang dapat memudahkan pembaca mengerti, serta memahami
konteks CorpU dalam buku ini.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 123

PROFIL PERESENSI BUKU

Yasniva lahir di Tangerang pada tanggal 17 Juli 1977.
Menamatkan pendidikan dasar hingga sekolah
menengah atas di Jakarta, S1 Teknologi Pendidikan
Universitas Negeri Jakarta, S2 Ilmu Ekonomi Universitas
Syiah Kuala, dan masih menempuh pendidikan S3
Jurusan Ilmu Manajemen di Universitas Syiah Kuala,
Banda Aceh.
Pernah bekerja sebagai relawan kemanusiaan, guru, jurnalis, pegawai
perusahaan swasta, staf, project officer dan program manager LSM, serta
pernah menjadi Asisten Koordinator suatu divisi pada sebuah Komisi
Nasional di Jakarta sebelum bergabung dengan Lembaga Administrasi
Negara. Saat ini Yasniva merupakan widyaiswara Puslatbang KHAN LAN
di Aceh.

Ahmad Sukarno, S.IP, M.Adm. SDA lahir di Tangerang
pada Ujung Pandang 24 April 1980. Menamatkan
pendidikan jenjang sekolah dasar SD 4 Kalenrunge
Kabupaten Soppeng, kemudian jenjang sekolah
menengah di SMP 1 Kabupaten Soppeng, dan SMA 1
Kabupaten Soppeng. Setelah itu melanjutkan
pendidikan tinggi tingkat sarjana di Universitas
Hasanuddin jurusan Hubungan Internasional UNHAS, dan magister
administrasi Publik di STIA LAN Makassar.

Selama bekerja pernah terlibat dalam beberapa kegiatan seperti
fasilitator evaluasi kelembagaan, juri inovasi, evaluator pelayanan public,
fasilitator Latsar, asesor SDM Aparatur, dan lainnya. Saat ini merupakan
Peneliti Muda di Puslatbang KMP Makassar.

Mid Rahmalia, S.E., M.Si. bekerja sebagai Widyaiswara Ahli Madya /
Koordinator Penyelenggaraan Pengembangan Kader ASN di Pusbang
Kader LAN RI

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 172

Marsono, SE., MM, adalah Peneliti Ahli Madya Pusat
Teknologi Pengembangan Kompetensi Lembaga
Administrasi Negara RI Jakarta, dengan bidang
kepakaran Administrasi Publik dengan spesialisasi
performance manajemen, pelayanan publik,
tatalaksana dan standar kompetensi ASN.
Menyelesaikan Pendidikan S1 Ekonomi Manajemen dan S2 Manajemen
Keuangan di Jakarta. Beberapa pelatihan yang pernah diikuti antara lain:
(1) Diklat Kepemimpinan Tingkat IV; (2) Diklat Metodologi Riset; (3) Diklat
Training Need Analysis (TNA); (4) Diklat Sistem Akuntansi Pemerintah
(SAP); (5) Diklat Analisis Kebijakan Publik; (6) Diklat Professional Writing;
(7) Diklat TrainingOf Fasilitator (TOF) Pelayanan Publik; (8) Diklat
Pengadaan Barang Jasa Pemerintah; (9) Diklat Master Trainer Diklatpim
Tk. IV; (10) Diklat Asessor Sertifikasi Widyaiswara; (11) Diklat TrainingOf
Fasilitator (TOF) Standar Pelayanan Minimal (SPM); (12) Diklat Master
Trainer Champion Innovation; (13) Diklat English Public Speaking; (14)
Workshop Pengembangan Conten E-Learning.
Pernah mengajar di STIA -LAN RI Jakarta sejak tahun 2013–2018. Menjadi
anggota tim penyusunan Standar Kompetensi ASN dibeberapa
Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. Menjadi Nara Sumber
Penyusunan Tatalaksana (Bisnis Proses), Standar Pelayanan Publik,
Standar Operasional Prosedur, Standar Pelayanan Minimal, Survey
Kepuasan Masyarakat dan Pengembangan Inovasi Administrasi Negara
di Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah dan Pemerintah Timor
Leste.

Ilham Khalid, SH lahir di Sigli pada 15 Mei 1988.
Menyelesaikan pendidikan terakhir di jurusan Ilmu
Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Saat ini
merupakan seorang analis kebijakan ahli pertama di
Puslatbang KHAN LAN di Aceh dengan pangkat Penata
Muda Tk-I.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 173

Muskamal, S.Sos, M.Si lahir di Ujung Lamuru pada
tanggal 21 Juni 1982. Menamatkan pendidikan jenjang
sekolah dasar di SD Negeri Kalase’rena Kab. Gowa,
kemudian jenjang sekolah menengah di SMP Negeri 1
Polombangkeng Utara Kabupaten Takalar dan SMA 02
Tinggimoncong Kab. Gowa. Setelah itu melanjutkan
pendidikan tinggi tingkat sarjana di Universitas Hasanuddin jurusan Ilmu
Administrasi Negara Universitas Hasanuddin dan jenjang magister
Administrasi Pembangunan di pasca sarjana Universitas Hasanuddin.
Saat ini bekerja sebagai Peneliti Muda di Puslatbang KMP Makassar
dengan pangkat terakhir penata muda Tk-I.

Dr. Neneng Sri Rahayu, S.T., M.Si. lahir di Garut pada
tanggal 08 Agustus 1971. Menamatkan pendidikan
dasar hingga sekolah menengah atas di Garut, dan
melanjutkan pendidikan tinggi S1 UNISBA Bandung
jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, kemudian S2
di UNPAD Bandung jurusan Kebijakan Publik, dan S3 di
IPDN jurusan Ilmu Pemerintahan.
Pernah bekerja sebagai Kasubag Administrasi Akademik dan Kerjasama,
Kabag Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan, Pembantu Ketua III
Bidang Kemahasiswaan dan saat ini sebagai Wakil Direktur II Bidang
Umum. Telah melahirkan banyak Publikasi, dengan judul Transformation
of Innovation Values and Culture: Innovation Analysis of Regional
Planning System in Special Region of Yogyakarta, Indonesia. Kemudian
Power Relations In The Management Of Village-Owned Enterprises In
Rural Java (Case Study Of Bumdes Tirta Mandiri, Ponggok Klaten), dan
juga Inovasi E-Government Dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
(Efektivitas E-Musrenbang di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta)

Riris Elisabeth, SH., M.Hum bekerja sebagai Analis Kebijakan Ahli
Pertama di P3K BANGKOM ASN

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 174

Budi Fernando Tumanggor, S.S., MBA adalah seorang
Dosen di Politeknik STIA LAN Jakarta, dan saat ini
dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Sekretaris
Prodi Manajamen Sumber Daya Manusia Aparatur
(MSDMA) di kampus yang berada di bawah naungan
Lembaga Administrasi Negara (LAN) tersebut.
Sebagaimana nama Prodi yang menjadi home base-nya
beliau memiliki spesialisasi dan kepakaran di bidang Manajemen Sumber
Daya Manusia Aparatur. Lahir di Medan, tanggal 23 Januari 1983,
menyelesaikan pendidikan Sarjana pada tahun 2008 di Fakultas Teologi,
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dan menyelesaikan pendidikan
Magister di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Organisasi
pada tahun 2011 di Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. Beliau sebelumnya sudah berkarier di beberapa perusahaan
swasta dan BUMN dari sejak 2011 sampai dengan 2017 di bidang SDM
sebagai HR Manager sampai akhirnya mulai berkarier sebagai PNS di LAN
sejak tahun 2018. Sesuai dengan bidang kepakaran dan spesialisasi yang
dimiliki beliau ada beberapa pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang
sudah beliau raih sampai saat ini diantaranya: Certified Human Resource
Manager dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Pelatihan
Manajemen Kinerja dan Manajemen Talenta dari Kedai Karir, Pelatihan
Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI), dan lain
sebagainya.

Siti Tunsiah, SIP. bekerja sebagai Analis Kebijakan Ahli Muda /
Subkoordinator Pengembangan Kompetensi dan Sertifikasi di Pusbin JF
Bangkom ASN LAN RI

Amrillah M, bekerja sebagai peneliti di Pusat Inovasi Manajemen
Pengembangan Kompetensi ASN

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 175

Citra Permatasari, S.IP. lahir di Surakarta pada 14
September 1989. Bersekolah di SD Marsudirini
kemudian lulus pada tahun 2001, melanjutkan ke
jenjang menengah pertama di SMP Negeri 14
Surakarta kemudian lulus pada tahun 2004,
meneruskan ke jenjang sekolah menengah atas di
SMA Negeri 1 Surakarta dan lulus di tahun 2007. Setelah tamat SMA, di
Tahun yang sama Citra melanjutkan sekolah perguruan tinggi di
Universitas Diponegoro, Semarang dengan mengambil jurusan Ilmu
Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan gelar Sarjana
Ilmu Politik di Tahun 2011. Bekerja dalam dunia perbankan kurang lebih
6 tahun membuktikan bahwa menimba ilmu apapun berguna dalam
semua bidang pekerjaan nantinya. Saat ini mengabdi sebagai ASN di
Puslatbang Khan LAN dalam jabatan Peneliti Ahli Pertama. Beberapa
artikel ditulis untuk mengakat isu kebijakan pemerintah yang berperan
besar bagi kemanfaatan masyarakat luas. Semoga referensi ini
memberikan manfaat bagi para pembaca.

Heni Kusumaningrum, S.Sos., MPA lahir di Magelang
pada 28 Februari 1992. Menyelesaikan pendidikan
terakhir di jenjang magister jurusan Manajamen
Kebijakan Publik. Saat ini merupakan Widyaiswara Ahli
Pertama di unit kerja Pusbangkom TSK ASN.

Desy Maritha, SE, Ak, MA, MSE lahir di Banda Aceh pada
tanggal 28 Maret 1987. Menamatkan pendidikan dasar di
SDN 04 Banda Aceh, hingga sekolah menengah di SMPN
02 Banda Aceh dan SMUN 03 Banda Aceh. Setelah itu
melanjutkan pendidikan tinggi S1 Universitas Syah Kuala
jurusan Ekonomi Akuntansi dan memperoleh Double
degree Bappenas dan Stuned Scholarship untuk jenjang S2 di Ilmu
Ekonomi Universitas Indonesia dan Development Studies ISS, Erasmus
University The Hague, The Netherlands. Saat ini bekerja sebagai analis
kebijakan ahli muda di Puslatbang KHAN Aceh.

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 176

RESENSI BUKU: Administrasi Negara Kontemporer 177


Click to View FlipBook Version